• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterkaitan PRB API dan Pembangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keterkaitan PRB API dan Pembangunan"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Keterkaitan PRB, API dan Pembangunan:

Bencana Lingkungan Semakin Meningkat

oleh Djuni Pristiyanto*

Mataram, 9 Oktober 2013

“Ke depan dampak risiko bencana yang berinteraksi dengan

perubahan iklim, kerusakan lingkungan hidup, pembangunan dan pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat dan menjadi

tantangan bagi pembangunan manusia. Untuk itu dibutuhkan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan pengurangan

risiko bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim (API) dan pemulihan lingkungan hidup, “demikian kesimpulan Valentinus

Irawan, analisis penanggulangan bencana United Nations

Development Programme (UNDP) di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rabu,

9 Oktober 2013 siang di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kesimpulan Valentinus Irawan ini dipaparkan dalam “Konsultasi Nasional Forum Pengurangan

Risiko Bencana se-Indonesia” yang diadakan oleh Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kegiatan ini

diikuti oleh lebih dari 150 orang wakil dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di seluruh Indonesia, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota; Badan Penanggulangan

Bencana Daerah (BPBD), lembaga non pemerintah nasional dan internasional, serta para praktisi kebencanaan. Kegiatan Konsultasi Nasional ini merupakan salah satu rangkaian dalam

acara Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2013 pada tanggal 7-11 Oktober 2013 di Mataram dan sekitarnya.

Menurut Valentinus Irawan, dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, Indonesia negara keempat terpadat di dunia. Posisinya yang

berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), membuat Indonesia rawan letusan gunungapi, gempa bumi, tsunami dan longsor Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia – dengan sekitar 80.000 kilometer garis pantai dan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki banyak

kawasan pemukiman padat penduduk di pesisir, yang rawan terhadap pengaruh perubahan

(2)

iklim seperti banjir, kenaikan permukaan laut, kekeringan, dan peningkatan frekuensi kejadian-kejadian cuaca ekstrim.

Sebagai negara berkembang, Indonesia tengah giat membangun dan mengembangkan industri, yang dengan pertumbuhan penduduk memberi tekanan berlebihan pada lingkungan

hidup. Deforestasi dan kerusakan lingkungan hidup menjadi tantangan besar bagi Indonesia, sebagai konsekuensi dari jalan pembangunan yang ditempuhnya. Hal ini dapat memperburuk

dampak perubahan iklim. Risiko bencana dan dampak perubahan iklim terus mempengaruhi kesehatan, pendidikan dan mata pencaharian penduduk, mengancam keaneka-ragaman hayati serta perekonomian, posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia (121) jauh di bawah

Palestina (110).

Valentinus Irawan menegaskan bahwa tantangan 20 tahun ke depan, Indonesia akan

menghadapi hal-hal berikut ini:

• Diproyeksikan risiko bencana dan kerugian akibat bencana akan semakin meningkat. • Semakin banyak orang tinggal di kota-kota yang rawan (urbanisasi tak terkendali,

Indonesia 54% di kota), secara global penduduk urban diperkirakan 80% pada 2050.

• Semakin banyak infrastruktur dibangun di kawasan terpapar ancaman (akibat pembangunan yang tidak sensitif terhadap risiko).

• Dampak perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana – banjir kian sering dan lama.

• Bencana menghambat pertumbuhan ekonomi, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, menghambat pengentasan kemiskinan.

(3)

 

• Bencana alam dan perubahan iklim kian mengancam hasil-hasil pembangunan, sehingga harus menjadi salah satu pertimbangan utama dalam agenda pembangunan

pasca-2015.

Dalam hal ini yang dimaksud dengan pengurangan risiko bencana (PRB) adalah sebuah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, menilai dan mengurangi risiko bencana,

termasuk dengan mengurangi keterpaparan terhadap ancaman dan kerentanan masyarakat serta aset; pengelolaan lahan dan lingkungan berkelanjutan; dan peningkatan kesiapsiagaan

terhadap bencana. Contoh pendekatan PRB adalah perencanaan pembangunan dan spasial peka risiko; pemetaan ancaman dan risiko; pendidikan kebencanaan bagi masyarakat,

termasuk pelatihan kesiapsiagaan; sistem peringatan dini; asuransi bencana; dll.

Sementara itu yang dimaksud dengan adaptasi perubahan iklim (API) adalah penyesuaian

dalam ekosistem atau dalam sistem manusia sebagai reaksi terhadap perubahan iklim, baik dengan meminimalkan tingkat perusakan maupun mengembangkan peluang-peluang yang

menguntungkan sebagai reaksi terhadap iklim yang berubah atau bencana yang akan terjadi terkait dengan iklim. Contoh pendekatan API antara lain merubah pola tanam dan varietas

tanaman pangan yang lebih sesuai perubahan iklim; memindah lokasi ladang dan kebun; merancang ulang struktur rumah untuk hadapi banjir; mata pencaharian alternatif; menanam

bakau untuk hadapi kenaikan paras muka laut, dll.

Ke depan antara PRB, API dan pembangunan menghadapi tantangan yang sangat berat. Valentinus Irawan menegaskan, “Program-program PRB, API dan pemulihan lingkungan hidup

cenderung masih berjalan sektoral. Planas PRB berpotensi untuk menjadi forum tempat

bertemu para pemangku kepentingan PRB dan API, menjadi katalis dalam membangun sinergi

antara berbagai instansi pemerintah, akademisi, LSM dan semua pelaku lain dalam mendorong agenda PRB-API.”

Sebagai catatan, Valentinus Irawan menambahkan bahwa implementasi PRB-API terpadu dalam pembangunan sudah dicanangkan melalui Deklarasi Yogyakarta, yang merupakan hasil

AMCDRR (Pertemuan Tingkat Menteri PB se-Asia-Pasifik) ke-5 di Yogyakarta 22-25 Oktober 2012 lalu. --- dp ---

Dimuat di Website BNPB, 10 October 2013 07:38.

(4)

 

* Djuni Pristiyanto adalah pegiat di bidang kebencanaan dan lingkungan serta penulis dan editor lepas. Djuni juga mengelola Milis Bencana

(https://groups.google.com/forum/?hl=id#!forum/bencana) yang merupakan milis kebencanaan dengan jumlah anggota mencapai 4500 serta Milis Lingkungan

(http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/) dengan anggota mencapai 4300.

Kontak:

• Email: [email protected]

• Facebook: https://www.facebook.com/djuni.pristiyanto • Twitter: https://twitter.com/DjuniP

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi ini dapat membantu Kopimade dalam mengelola data persediaan barang, data permintaan antar outlet dan data pemesanan ke supplier. Aplikasi ini

Kisaran ukuran jantan yang matang pada penelitian ini mirip dengan hasil penelitian White (2007) yang mencatat Hemitriakis indroyonoi jantan yang belum berisi zat kapur (

Rata-rata volume perdagangan saham beberapa perusahaan lainnya cenderung menurun sesudah melakukan stock split seperti yang dialami oleh perusahaan dengan kode

Dalam kimia, ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antar molekul yang terjadi molekul yang terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan pularitas yang berlawanan walaupun

• Bila keluhan pelanggan mengenai produk yang dijual tidak dapat diselesaikan, maka Supervisor toko harus dipanggil untuk mencoba menyelesaikan

dapat dilihat bahwa dengan adanya penambahan kredit investasi sebesar 1% maka akan menyebabkan ke- naikan laba operasional sebesar 2,801%, dan koefi- sien determinasi (R²)

Mulai saat itu saya menulis masalah sastra, teater, dan persoalan kesenian pada umumnya, dan tulisan hanya dimuat pada hari Minggu, sehingga saya mulai

Ekstraksi terhadap masing-masing bahan dilakukan secara bertingkat menggunakan alat refluks, pemantauan kandungan senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), pengujian