• Tidak ada hasil yang ditemukan

Standar Akuntansi Keuangan sekto (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Standar Akuntansi Keuangan sekto (2)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

ED SAK EMKM disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah. Undang-Undang No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dapat digunakan sebagai acuan dalam mendefinisikan dan memberikan rentang kuantitatif EMKM.

ED SAK ditujukan untuk digunakan oleh entitas yang tidak atau belum mampu memnuhi persyaratan akuntansi yang diatur dalam SAK ETAP.

ED SAK EMKM berlaku efektif tanggal 1 Januari 2018

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Entitas Mikro Kecil & Menengah: Terobosan IAI

Pada tahun 2014, salah satu fokus IAI dalam mendukung program kerakyatan adalah untuk mendampingi aparat desa dalam melakukan pengelolaan dan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang baik. Bukti keseriusan ini bisa di tengok dengan diluncurkannya program “Akuntan Masuk Desa”. Program ini sebetulnya diluncurkan dengan harapan agar akuntansi dapat dipahami oleh para pelaku di desa. Sebagai organisasi profesi akuntan yang senantiasa mengubah tantangan menjadi peluang bagi kemajuan profesi akuntan dalam dunia bisnis, pada pertengahan tahun 2015 IAI menyisipkan satu program kerja baru untuk menyusun pilar Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang lebih sederhana dari SAK ETAP. Usulan nama untuk pilar SAK tersebut adalah SAK Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM).

Lalu, apa dasar pertimbangan IAI dalam penyusunan pilar SAK ini? Menurut data statistik dari Kementerian Koperasi dan UKM, pada tahun 2013 total UMKM di Indonesia mencapai 57.895.721. Beberapa riset yang pernah dilakukan juga menemukan bahwa masih banyak UMKM di Indonesia yang belum mampu menyusun laporan keuangan dengan baik karena standar akuntansi yang ada masih terlalu sulit sehingga belum dapat diterapkan oleh UMKM. Puncak pertimbangan penyusunan SAK ini sesungguhnya adalah penerbitan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang mewajibkan agar LKM dapat menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Berdasarkan survei yang dilakukan, Direktorat Lembaga Keuangan Mikro (DLKM) OJK, yang mengawasi kegiatan operasional LKM, mendapatkan bahwa masih banyaknya LKM yang menggunakan dasar kas dengan sistem pencatatan manual dan mengusulkan agar IAI dapat menyusunkan standar akuntansi khusus untuk LKM. Namun, perlu untuk diketahui bahwa sejak tahun 2009, IAI tidak lagi memberikan pengaturan akuntansi untuk suatu industri tertentu sebagai dampak dari konvergensi ke standar akuntansi internasional (IFRS).

Dasar pengembangan dan penyusunan SAK EMKM

(2)

demikian, prinsip pengembangan standar akuntansi keuangan untuk entitas mikro, kecil, dan menengah dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Prinsip Pengembangan SAK

Gambar 1. Flow Pengembangan dan Penyusunan SAK EMKM

Pengembangan dan penyusunan SAK EMKM ini berangkat dari SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP) sehingga diharapkan pengaturan yang ada dalam SAK EMKM ini akan jauh lebih sederhana. Namun, terdapat beberapa referensi yang dijadikan acuan dalam penyusunan dan pengembangan SAK EMKM misalnya FRS 105 tentang The Financial Reporting Standard applicable to the Micro-entities Regime yang diterbitkan oleh regulator independen Inggris dan Irlandia yang menyusun standar untuk standar pelaporan dan tata kelola perusahaan, Financial Reporting Council. Referensi utama lain yang digunakan adalah Pedoman Umum Pencatatan Transaksi Keuangan (‘Pedoman Umum’), yang merupakan produk hasil kerja sama Ikatan Akuntan Indonesia dan Bank Indonesia. Pedoman Umum ini pada dasarnya terbagi atas dua pengaturan sebagaimana tercermin dalam Gambar 2 berikut ini.

(3)

Gambar 2. Pedoman Umum Pencatatan Transaksi Keuangan

Perbedaan utama yang harus dipahami adalah bahwa usaha kecil yang berbentuk badan usaha yang tidak berbadan hukum dapat memenuhi definisi entitas pelapor (reporting entity) sehingga menggunakan pedoman umum untuk usaha kecil badan usaha yang tidak berbadan hukum. Asumsi dasar yang digunakan dalam pedoman ini adalah dasar akrual dan kelangsungan usaha. Sedangkan usaha kecil berbentuk perorangan serta usaha mikro berbentuk perorangan dan badan usaha perorangan tidak memenuhi definisi entitas pelapor karena dianggap belum mampu memisahkan kekayaan pribadi dan usahanya sehingga dalam pencatatan transaksinya akan menggunakan pedoman umum untuk usaha mikro dan kecil perorangan. Asumsi dasar yang digunakan adalah dasar kas, sehingga pencatatan hanya diakui ketika terdapat penerimaan dan pengeluaran kas saja.

Sejak Agustus 2015 hingga saat ini bisa dibilang adalah masa-masa paling sibuk, khususnya bagi Lianny Leo, John Hutagaol, Singgih Wijayana dan Indra Wijaya, sebagai tim kecil DSAK IAI yang mengarungi penyusunan SAK EMKM ini. Karena akan menjadi program nasional, maka rapat pun hampir dilakukan beberapa kali dalam satu bulan oleh tim kecil tersebut. Dan untuk mendapatkan akseptabilitas yang tinggi atas produk ini, IAI juga telah membentuk working group yang beranggotakan regulator, asosiasi perbankan dan asosiasi UMKM terkait lainnya seperti Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (Hipmikindo), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bidang UMKM, Koperasi dan Industri Kreatif.

(4)

aset tetap, persediaan, dan pendapatan). Suasana diskusi beberapa kali berubah menjadi sengit karena beberapa anggota working groupmenyuarakan ketidaksetujuannya atas usulan yang disampaikan, khususnya yang terkait dengan asumsi dasar akrual; mempertimbangkan ruang lingkup yang dicakup terlalu luas, sehingga mengkhawatirkan posisi entitas yang masuk dalam ruang lingkup SAK ini sama sekali belum mampu menerapkan SAK ini. IAI telah mempertimbangkan masukan-masukan yang disampaikan anggota working group dan berupaya memberikan lebih banyak relaksasi untuk mempermudah EMKM dalam menerapkan SAK ini. Rencananya, pada April 2016, IAI akan mengadakan konsinyering bersama dengan anggota working group untuk lebih memantapkan draf SAK EMKM ini sebelum disahkan menjadi eksposur draf dalam Pleno DSAK IAI. Eksposur Draf (ED) SAK EMKM ini diperkirakan akan menjadi produk standar perdana yang dikeluarkan oleh DSAK IAI pada tahun 2016 ini. Pastilah akan lebih seru untuk didiskusikan setelah ED SAK EMKM ini diterbitkan pada Kuartal I 2016.

Gambar

Gambar 1. Flow Pengembangan dan Penyusunan SAK EMKM
Gambar 2. Pedoman Umum Pencatatan Transaksi Keuangan

Referensi

Dokumen terkait

AL Desember 2017, Dana APBN yang pada Satuan Kerja digunakan maka domine dari Pengembangan Sistem pelaksanaan dan pengentasan masalah Penyehatan Lingkungan penyehatan lingkungan

Dengan berkembangnya sistem pukat, masyarakat Lamalera dan sekitarnya semakin terbiasa dengan pereonomian uang. Pertukaran barang dengan sistem barter masih dilakukan.

Faktor transkripsi adalah urutan khusus asam amino yang mampu berikatan dengan DNA untuk mengontrol proses penempelan RNA polymerase pada DNA sehingga akan mengontrol

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner mengenai variabel reputasi perusahaan dan citra merek terhadap kinerja pemasaran pada Celebes TV di kota

Pertumbuhan dan Perkembangan Mengumpulkan Data Eksperimen/Ekplorasi  Mendiskusikan rancangan dan usulan penelitian tentang faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka penulis merumuskan masalah yang akan diteliti yaitu : “Bagaimanakah Proses Komunikasi di dalam

Dengan latar belakang masalah di atas maka penelitian ini akan membahas tentang BMT HARAPAN UMAT PATI dengan judul penelitian “ Upaya Meningkatkan Kualitas

kepolisian, TNI, Bea Cukai, Perpajakan, atas dugaan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh pihak kapal dalam hal ini termasuk tapi tidak terbatas pada yang dilakukan