• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan Penunjang Imunologi (immunoassay)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemeriksaan Penunjang Imunologi (immunoassay)"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Definisi

I mmunoassay

I mmunoassay adalah tes atau uji yang digunakan untuk mengukur adanya antigen atau antibodi pada sampel (spesimen bilogikal)

I mmunoassay dapat digunakan mendeteksi analyte

yang ingin diukur

Analyte  sesuatu yg diukur dengan tes

laboratorium  dapat berupa Ag atau Ab dalam serum

(3)

Prinsip

I mmunoassay

Prinsip immunoassay

reaksi ikatan spesifik

Ab-Ag

membentuk kompleks Ag-Ab

Utk deteksi Antigen : digunakan Antibodi (monoklonal ataupun polikonal ) sehingga membentuk kompleks I mun (Ag-Ab)

kompleks imun dapat diukur secara kualitatif atau

kuantitatif

Serology : metode utk mendeteksi dan mengukur titer antibodi dalam serum darah dengan

menambahkan Ag spesifiknya

(4)

Pembuatan Antibodi monoklonal

Sel B

(5)

Antibodi Poliklonal

J ika hewan coba diimunisasi dengan

pr ot ein X (Ag) yg memiliki banyak epit op

t er hadap ant ibodi

klon sel B

mempr oduksi

ant ibodi

t hd pr ot ein X

Ant ibodi

mungkin akan membent uk

sej umlah par at op pr ot ein yang ber beda

Campur an Ab yg dipr oduksi oleh r espon

(6)

• Sampel yang diuji dapat berasal dari : – Antigen sample

• Cairan tubuh yang mengandung mikroba

penginfeksi dan toksin mikroba (mengandung Ag) Cth : Urine, feces, blood, skin, pus, swab, cairan

amnion, mucous, etc. – Blood antiserum sample

• Antiserum/ antisera darah mengandung Ab

terhadap infeksi tertentu  jika pasien terinfeksi oleh patogen yang dicurigai maka pada serumnya akan mengandung Ab terhadap patogen tsb.

(7)

T iter

• T iter : sejumlah Ab yang terdapat pada antiserum

 Dapat digunakan untuk menentukan sejauh mana suatu penyakit mengalami peningkatan pada

infeksinya

• T es Aglutinasi Direct dapat digunakan untuk mendeteksi titer Ab pada seseorang

• Kondisi dimana seseorang tidak memiliki Ab sama sekali lalu Ab meningkat 

(8)

Komponen Penting Dalam

I mmunoassay

a. Spesifisitas Antibodi b. Valensi Antibodi

c. Aviditas Antibodi

(9)

a. Spesifisitas Antibodi

• I katan Ag-Ab  spesifik  key-lock

• Namun terkadang terjadi reaksi silang  Ab

berikatan dengan Ag lain yg memiliki struktur mirip

 terjadi jika kemurnian Ag rendah

Ab yang sangat spesifik : yang memiliki binding site

yang hanya dimiliki oleh Ag dg struktur molekul yang unik

Spesifisitas Ag-Ab dipengaruhi :

1. Spesifisitas Ab yang ditambahkan pd sampel 2. Kemurnian Ag (tidak ada Ag lain yg

(10)

b. Valensi Antibodi

Jumlah binding site yang potensial dari Ab terhadap Ag yg spesifik

(11)

c. Aviditas Antibodi

Ukuran kekuatan Ab untuk mengikat Ag

Ab dg Aviditas besar

kecenderungan mengikat Ag yang banyak

(12)

d. Ukuran Kuantitas Reaksi Ag-Ab

Derajat imunitas, kadar Antibodi atau bahan tertentu dalam serum harus dapat diukur

dinyatakan dalam suatu satuan/ unit tertentu

Beberapa cara penentuan :

1. Kualitatif : ada atau tidak adanya suatu

bahan, baik Ab atau Ag dalam serum (uji + atau - )

(13)

2. Semikuantitatif : kadar Ab atau Ag pada serum

dengan cara pengenceran serum secara progresif

Kuantitas Ab dinyatakan dalam titer

Cth : uji W idal

3. Kuantitatif : kadar Ab ditentukan dengan membuat kurva baku standar terlebih

dahulu terhadap kekeruhan (OD)

didapat nilai korelasi

(14)

Macam I mmunoassay

T erdapat beberapa metode yang digunakan utk mendeteksi Ag-Ab, antara lain :

I mmunoassay tak berlabel : a. Uji Presipitasi

b. Uji Aglutinasi

c. Uji H emaglutinasi d. Lisis I mun

(15)

I mmunoassay berlabel :

a. Berlabel Flouresens b. Berlabel Radioisotop

(16)

I mmunoasay tak berlabel

a. Uji presipitasi

 Bila suatu Ag terlarut bereaksi dg Abnya

 Beberapa macam cara/ uji presipitas yg sering dipakai : 1. Uji presipitasi lempeng/ slide

cth : uji VDRL mikro 2. Uji presipitasi tabung

3. Uji presipitasi tabung kapiler cth : uji CRP

4. Uji presipitasi cincin

(17)
(18)

b. Uji Aglutinasi

• Reaksi antara Ab-Ag seluler atau Ag permukaan sel

• M acam-macam uji Aglutinasi :

1. Uji Aglutinasi lempeng

cth : uji W idal Lempeng deteksi Ab thd S. Paratyphi

2. Uji Aglutinasi tabung

- Dipakai jika aglutinasi berlangsung lambat 3. Uji H ambatan Aglutinasi

 utk menentukan Ag larut yg tdk diketahui

identitasnya

(19)

Uji aglut inasi : keberadaan Staphylococcus (ant igen) direaksikan dengan IgG t hd Staphylococcus

(20)

c. Uji H emaglutinasi

• Merupakan Uji Aglutinasi dari sel darah merah

• Sel darah diaglutinasikan karena antigen yang ada pada darah

• Mendeteksi Ab thd antigen sel darah merah

• Sel darah merah yag diuji merupakan Ag pada tes agutinasi

Cth : uji penentuan golongan darah

• Jika darah memiliki Ag bergolongan A 

(21)

d. Lisis imun dan Fiksasi Komponen

Kompleks imun tidak selalu terjadi antara Abx terhadap Ag pada permukaan sel

Kompleks imun baru terbentuk jika ditambahkan anti-imunoglobulin/ Ab thd Abx

 Sebagai ganti anti-imunoglobulin yaitu komplemen  lisis sel

 Macam uji lisis imun : Uji Fiksasi Komplemen

(22)
(23)

I mmunoassay berlabel

1. Berlabel flourescent

• Uji immunoflourescent (I FA)  ikatan/ kompleks

Ag-Ab divisualisasikan dg adanya perpendaran flouresen dibawah mikroskop

• I mmunoflourecent :

1. Direct immunoflourescent :

• Ab dilabel dg marker flourescent  Ab secara

langsung diberikan pada jaringan yg diinginkan

2. I n-direct immunoflourescent

• M enggunakan Ab yg tdk berlabel thd Ag yg diuji dengan Ab sekunder yang berlabel (yang

berikatan spesifik dg Ab pertama)

(24)
(25)

ant igen

Frozen t issue sect ion

Fluorescent marker

ant ibody

(26)

Indirect immunofluorescece

2nd ant ibody w it h label

(27)

2. Berlabel radioisotop

uji laboratoris yg sensitif

utk penentuan kadar beberapa bahan (hormon)

Diperlukan sampel dg bahan yg sedikit

sudah dpt terdeteksi

Cth : Uji RI A (Radioimmunoassay)

Pelabelan dengan Radioisotop yg dipakai pada uji RI A : 3H , 14C, 57Co, 75Se, 125I , 131I

(28)

3. Berlabel luminescent

 uji immunoluminescent (LI A) prinsip sama dg RI A dan I FA, hanya pada LI A label pada reaksi

Ag-Ab menggunakan luminescent

 luminescent : a. bioluminescent : kunang2 b. chemiluninescent

4. Berlabel enzim

 pemberian label enzim pada Ag (ELI SA)

• Menggunakan enzim (ligan) yang membuat produk reaksi berwarna (chromogen) – intensitas warna

(29)

ELISA

Enzyme Linked I mmunosorbent Assay

• Prinsip menggunakan reaksi perubahan warna (Colorimetric assay)

• Enzim yg ditambahkan akan bereaksi dengan substrat  memproduksi produk yg berubah warna

• Direct

- cth. Pada test kehamilan / test pack (hormon hCG)

• I ndirect

(30)
(31)

ELISA

Micro-plate reader

Positive result

(32)

I munohistokimia

I mmunohistochemistry (I H C) mengkombinasikan teknik histologi, imunologi dan biokimia 

identifikasi komponen jaringan tertentu dg reaksi spesifik Ag atau Ab yang dapat divisualisasikan dg penempelan label

• Label : flourescent, enzym, hapten, radioaktif

• Ab mengikat Ag secara spesifik

• Menunjukkan lokasi tertentu sel atau protein pada jaringan/ organ di preparat/ slide

(33)

Human ovarian Tumor, HE staining

Apoptotic cell Sediaan t umor ovarium

pada obyek glass

Pada sediaan, ingin dilihat sel yg apopt osis

Pada sel yg apopt osis t rdpt prot ein Fas L

(sebagai Ag)

Di inkubasi dengan ant i prot ein FasL (sebagai Ab)

label

(34)

Aplikasi

immunoassay

1. Det eksi hormon polipept ida ; ct h : insulin and glucagon, hCG

2. Det eksi hormon st eroid

3. Det eksi agen t herapeut ic  pada pemant auan t erapi obat ; dan penyalahgunaan obat

4. Pengukuran enzim , prot ein dan komponen

t erlarut dalam darah lainnya; ct h : pengukuran prot ein plasma, komplemen

(35)

Keunt ungan menggunakan imunoasay :

• sensit if unt uk jumlah sampel yg rendah (ug/ L (ppb)

• pemeriksaan cepat

• pemeriksaan relat if mudah dilakukan

• Pemeriksaan dapat dilakukan dimana saja (dg alat penunjang)

Kelemahan menggunakan imunoasay :

• reaksi silang / cross react ion – Ab mungkin dapat berikat an silang dg st rukt ur Ag yg serupa

(36)

Vaksinasi

• Vaksinasi adalah aplikasi dari pirinsip imunoassay yang

populer  mengandung ant igen dari suat u

mikroorganism (pat ogen)

• Adanya paparan 1st Ag menginduksi sel B dan Sel T : respon adapt if

• Paparan 2nd Ag  menimbulkan respon yg lebih efekt if dan cepat dibanding respon primer

(37)

Jika indvidu belum pernah t erpapar Ag dari pat ogen X lalu diberikan vaksin (X)

t erjadi ekspansi sel memory dan peningkat an Ab

spesifik t hd pat ogen X

mampu melindungi dari bahaya Ag serupa (X) pada paparan

berikut nya

Vaksin : berisi organisme hidup/ organisme yg t elah mat i

sama2 bersifat ant igenik

Ant igen pd vaksin dapat dibuat secara sint et ik at au kloning gen dr organisme t erkait

(38)

Treatment of the disease by Inducing, Enhancing or Suppressing the Immune System.

Active Immunotherapy:

-It stimulates the body’s own immune system to fight the disease.

Passive Immunotherapy:

-It does not rely on the body to attack the disease, instead they use the immune system

components ( such as

antibodies) created outside the body.

(39)
(40)

Pustaka

Baratawijaya, 2



9, I munologi dasar, edisi 9, UI Press.

Bush, RK., Diagnostic T est and Allergy-Chapter 1

H andojo, I ., 2003, Pengantar I munoasai Dasar, Airlangga University Press, Surabaya

(41)

Referensi

Dokumen terkait

Suatu currency call optionmenyediakan hak untuk membeli suatu valuta tertentu dengan harga tertentu (yang dinamakan strike price atau exercise price dalam suatu

Berdasarkan hal tersebut, diasumsikan bahwa penggunaan instrumen dan teknik peer assessment ini belum sepenuhnya efektif untuk digunakan karena terdapat beberapa

Akuisisi Admedika merupakan bagian dari rangkaian upaya perseroan untuk menjadikan Metra sebagai perusahaan multimedia yang fokus pada bisnis adjacent setelah sebelumnya

Hendaknya pelaksanaan Program Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP) di Desa Pancakarsa 1 Kecamatan Taluditi Kabupaten Pohuwato ini dapat dilanjutkan untuk masa

Klaten 15031022010073 754 SUHARI SMK (STM) YAYASAN PENDIDIKAN DELANGGU Pendidikan Jasmani dan Kesehatan PENJAS.04 MENGULANG KE-1 OBJEKTIF, URAIAN.. AZIZ SMP ISLAM INTEGRAL LUQMAN

Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.. Radhakrishnan, Sarvepalli dan

Judul Tesis : HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI DAN INTAKE ZAT GIZI DENGAN TINGGI BADAN ANAK BARU MASUK SEKOLAH (TBABS) PADA DAERAH ENDEMIS GAKY DI KECAMATAN PARBULUAN

Aktivitas- aktivitas yang dilakukan antara lain adalah manajer HR melakukan penilaian wawancara dan menerima bentuk laporan hasil penilaian, calon karyawan hanya