• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAKEKAT BELAJAR PEMBELAJARAN DAN TEORI B (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HAKEKAT BELAJAR PEMBELAJARAN DAN TEORI B (1)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

HAKEKAT BELAJAR PEMBELAJARAN DAN TEORI BELAJAR

Disusun guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Pengembangan PKn SD Dosen Pengampu : Fitria Dwi Prasetyaningtyas, S.Pd. M.Pd.

Disusun oleh :

1. Ana Hanalia (1401414143) 2. Nurul Hikmah Nurkhasanah (1401414145) 3. Tri Wahyuni (1401414149) 4. Vita Nur Fatimah (1401414152) 5. Ulya Ghufroni (1401414156)

Rombel 04

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Di dalam proses belajar dan mengajar ada berbagai kendala. Kendala tersebut bisa berupa kondisi pembelajaran yang membosankan, siswa yang kurang memperhatikan dan tidak mau mendengarkan penjelasan gurunya,serta anak didik yang bandel. Bagi guru semua peristiwa tersebut adalah peistiwa yang sangat menjengkelkan,sehingga guru menganggap kelas tersebut menjadi kelas yang bandel,sulit di diurus dan lain sebagainya.

Guru yang demikian tidak bisa dikatakan sebagai guru yang bijak karena hal-hal yang membosankan pada proses pembelajaran dikelas dipicu oleh guru tersebut yang tidak mampu mengkondisikan kelas senyaman mungkin bagi siswanya disaat proses belajar dilaksanakan. Ketika mengajar guru tidak berusaha mencari informasi,apakah materi yang telah diajarkannya telah dipahami siswa atau belum.Ketika proses belajar dan pembelajaran guru tidak berusaha mengajak siswa untuk berpikir.Komunikasi terjadi hanya pada satu arah,yaitu dari guru kesiswa.Guru berpikir bahwa materi pelajaran lebih penting daripada mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.Lalu guru menganggap peserta didik sebagai tong kosong yang harus diisi dengan sesuatu yang dianggap penting.Hal-hal demikian adalah kekeliruan guru dalam mengajar.Oleh karena itu makalah yang membahas mengenai teori belajar ini disusun agar para pendidik mampu mengetahui dan memahami secara teoritis perubahan perilaku peserta didik dalam proses belajar dan pembelajaran sehingga proses belajar tersebut bisa berjaalan secara maksimal berdasarkan tujuan awal pembelajaran itu sendiri.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang dimaksud hakikat belajar dan hakikat pembelajaran? 2. Apa yang dimaksud dengan teori belajar Thorndik ?

(3)

5. Apa yang dimaksud dengan teori belajar Piaget ? 6. Apa yang dimaksud dengan teori belajar Bruner? 7. Apa yang dimaksud dengan teori belajar Ausubel?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui hakikat belajar dan hakikat pembelajaran? 2. Untuk mengetahui teori belajar Thorndik ?

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 1. Pengertian Belajar

Setiap orang, baik disadari ataupun tidak, selalu melaksanakan kegiatan belajar. Kegiatan harian yang dimulai dari bangun tidur samapai dengan tidur kembali akan selalu diwarnai oleh kegiatan belajar. Seseorang yang tiba-tiba melihat petani sedang mencangkul di sawah, misalnya, kemudian di dalam otaknya terlintas pikiran betapa beratnya kehidupan petani dalam menghasilkan bahan makanan, sehingga muncul perasaan menghargai hasil jerih payah petani. Ilustrasi ini telah menunjukkan adanya pengalaman belajar dan telah menghasilkan perubahan perilaku berupa tindakan menghargai karya petani pada diri orang tersebut.

Efektivitas belajar yang dilakukan oleh peserta didik di sekolah tidak semata-mata ditentukan oleh derajat pemilikan potensi peserta didik yang bersangkutan, melainkan juga lingkungan, terutama pendidik yang profesional. Ada kecenderungan bahwa sikap menyenangkan, kehangatan, persaudaraan, tidak menakutkan, dan sejenisnya dipandang sebagian orang sebagai pendidik yang baik. Pendidik yang profesional dituntut memiliki karakteristik yang lebih dari aspek-aspek tersebut, seperti kemampuan untuk menguasai bahan belajar, keterampilan peserta didikan, dan evaluasi peserta didikan. Dengan demikian profesionalitas pendidik merupakan totalitas perwujudan kepribadian yang ditampilkan sehingga mampu mendorong peserta didik untuk belajar efektif.

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang, dan belajar itu mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi seseorang. Oleh karena itu dengan menguasai konsep dasar tentang belajar, seseorang mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologis.

(5)

a. Gage dan Barliner (1983 : 252) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman.

b. Morgen et.al. (1986 : 140) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktek atau pengalaman.

c. Slavin (1994 : 152) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman.

d. Gagne ( 1977 : 3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan.

Dari keempat pengertian tersebut, tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur utama yaitu :

a. Belajar berkaitan dengan perubahan tingkah laku

Perilaku mengacu pada suatu tindakan. Untuk mengukur apakah seseorang telah belajar atau belum belajar diperlukan adnya perbandingan antara perilaku sebelum dan setelah mengalami kegiatan belajar. Apabila terjadi perbedaan perilaku, maka dapat disimpulkan bahwa orang tersebut telah belajar.

b. Perubahan perilaku terjadi karena didahului oleh proses pengalaman Pengalaman dapat membatasi jenis-jenis perubahan perilaku yang dipandang mencerminkan belajar. Pengalaman dalam pengertian belajar dapat berupa pengalaman fisik, psikis dan sosial.

c. Perubahan perilaku karena belajar bersifat permanen

Lamanya perubahan perilaku terjadi pada diri seseorang adalah sukar sukar untuk diukur. Perubahan perilaku itu dapat berlangsung selama satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Ketika seseorang bangun tidur,makan pagi dan mulai memikirkan apa yang akan dikerjakan pada hari itu, kegiatan itu selalu diikuti oleh tindakan belajar. Cara seseorang bangun tidur, makan pagi, dan memikirkan sesuatu merupakan akibat dari belajar yang berlangsung di masa lalu.

(6)

Belajar adalah memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu (Fudyartanto dalam Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, 2010:13).

2. Pengertian Pembelajaran

Proses tindakan belajar pada dasarnya adalah bersifat internal, namun proses itu dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Perhatian peserta didik dalam pembelajaran, misalnya, dipengaruhi oleh susunan rangsangan yang berasal dari luar. Ketika seorang peserta didik membaca buku, perhatiannya acapkali terpusat pada kata-kata tercetak tebal, gambar-gambar, dan informasi menarik lainnya. Oleh karena itu di dalam pembelajaran, pendidik harus benar-benar mampu mencurahkan seluruh energinya sehingga dapat seperti yang diharapkan.

Pembelajaran artinya suatu proses belajar yang terjadi karena adanya guru sebagai pengajar dan pendidik dan adanya murid atau peserta didik sebagai yang diajar atau sebagai penerima ilmu pengetahuan atau keterampilan. Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24).

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dan tugas guru adalah mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.

(7)

salah satu bentuk pembelajaran. Unsur utama dari pembelajaran adalah pengalaman anak sebagai seperangkat event sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian pendidikan, pengajaran dan pembelajaran mempunyai hubungan konseptual yang tidak berbeda, kalau toh dicari perbedaannya pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas yaitu mencakup baik pengajaran maupun pembelajaran, dan pengajaran.

Gagne (1981) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa eksternal peserta didik yang dirancang untuk mendukung proses internal belajar. Peristiwa belajar ini dirancang agar memungkinkan peserta didik memproses informasi nyata dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perolehan tujuan belajar sebetulnya juga dapat dilakukan secara alamiah bilamana peserta didik membaca buku-buku, majalah, surat kabar atau mengamati peristiwa di lingkungannya. Namun dalam aktivitas belajar yang dirancang, disebut dengan pem-belajaran, maka perolehan tujuan belajar itu akan dapat dicapai secara efektif dan efisien jika aktivitas belajar itu dirancang secara baik. Tujuan belajar tersebut memberikan arah terhadap proses belajar. Setiap komponen pembelajaran hendaknya saling berhubungan dan berkaitan dengan proses internal belajar peserta didik agar terjadi peristiwa belajar. Untuk mencapai tujuan tersebut belajar, pendidik hendaknya benar-benar menguasai cara –cara merancang belajar agar peserta didik mampu belajar optimal.

Hakekat Belajar dan Pembelajaran

Dari pengertian belajar dan pembelajaran di atas yaitu belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya dan Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi dapat diketahui bahwa belajar adalah panggilan hidup dan memerlukan instrumen-instrumen dalam proses belajar dan Pembelajaran.

3 . Unsur-Unsur Belajar

(8)

1. Peserta Didik

Peserta didik yaitu seseorang yang melakukan kegiatan belajar. 2. Rangsangan (Stimulus)

Rangasangan yaitu peristiwa yang merangsang penginderaan peserta didik. Beberapa stimulus di sekitar seseorang, seperti : suara, sinar, warna, panas, dingin, tanaman, gedung, dsb. Peserta didik memfokuskan stimulus tertentu yang diminati agar dapat belajar optimal.

3. Memori

Memori berisi berbagai kemampuan berupa pengetahuan, ketrampilan, sikap yang dihasilkan dari kegiatan belajar sebelumnya.

4. Respon

Respon merupakan tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori. Respon peserta didik ditandai perubahan perilaku atau kinerja pada akhir proses belajar.

4. Ciri-ciri Perilaku Belajar

a) Perubahan tingkah laku terjadi secara sadar

Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku menyadari terjadinya perubahan tersebut atau sekurang-kurangnyamerasakan adanya suatu perubahan dalam dirinyamisalnya menyadari pengetahuannya bertambah. Oleh karena itu perubahan yang terjadi karenamabauk atau dalam keadaan tidak sadar tidak termasuk dalam pengertian beajar.

b) Perubahan bersifat kontinue dan fungsional.

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secarakesnambungan dan tidak statis. Satu perubahan berikutnya dan selanjutnya akan berguna bagi kehidupan atau bagi proses belajar berikutnya. Misalnya, jika seorang anak belajar membaca, iaakan mengalami perubahan dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca. Perubahan ini akan berlangsung terus sampai kecakapan membacanya mmenjadi cepat dan lancar. Bahkan dapat membaca berbagai macam bentuk tulisan maupun berbagai tulisan diberagam media.

(9)

Dikatakan positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperolehsesuatu yang lebih bai dari sebelumnya. Perubahan bersifat aktif berarti bahwa perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri. Oleh karena itu perubahantingkah laku karena proses kematangan yang terjadi karena sendirinya karena dorongan daridalam tidak termasuk perubahan dalam pengertin belajar. d) Perubahan bersifat permanen.

Perubahan yang terjadi karena belajar bersifat menetap. Misalnya, seorang anak dalam bermain sepepeda setelah belajar tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki bahkan akan makin berkembang jika terus dilatih.

e) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.

Adanya tujuan yang akan dicapai oleh perilaku belajar dan terarah kepada perubahantingkah laku yang benar-benar disdari. Misalnya belajar mengetik, sebelumnya telah menetapkanapa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik.

f) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalaui proses belajar sesuatu, sebagaihasilnya ia akan mengalami perubahan keseluaruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalamsikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

a) Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar .Contoh : faktor jasmani ( faktor kesehatan dan cacat tubuh) dan faktor psikologi (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif dan laini-lain).

(10)

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran adalah sebagai berikut :

a) Faktor Kecerdasan

Yang dimaksud dengan kecerdasan ialah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan berfikir yang bersifatnya rumit dan abstrak. Kecerdasan adalah suatu kemapuan yang dibawa dari lahir sedangkan pendidikan tidak dapat meningkatkannya, tetapi hanya dapat mengembangkannya.

b) Faktor Belajar

Yang dimaksud dengan faktor belajar adalah semua segi kegiatan belajar, misalnya kurang dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran yang sedang dihadapi, tidak dapat menguasai kaidah yang berkaitan sehingga kurang menguasai cara-cara belajar efektif dan efisien.

c) Faktor Sikap

Sikap dapat menentukan kualitas belajar seseorang. Diantara sikap yang dimaksud di sini adalah minat, keterbukaan pikiran, prasangka atau kesetiaan. Sikap yang positif terhadap pelajaran merangsang cepatnya kegiatan belajar.

d) Faktor Kegiatan

Faktor kegiatan ialah faktor yang ada kaitannya dengan kesehatan, kesegaran jasmani dan keadaan fisik seseorang.

e) Faktor Emosi dan Sosial

Faktor emosi seperti tidak senang dan rasa suka dan faktor sosial seperti persaingan dan kerja sama sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar. Ada diantara faktor ini yang sifatnya mendorong terjadinya belajar tetapi ada juga yang menjadi hambatan terhadap belajar efektif. f) Faktor Lingkungan

Yang dimaksud faktor lingkungan ialah keadaan dan suasana tempat seseorang belajar. Selain kenyamanan tempat belajar, hubungan yang kurang serasi dengan teman juga dapat menganggu kosentrasi dalam belajar.

(11)

Kepribadian guru, hubungan guru dengan siswa, kemampuan guru mengajar dan perhatian guru terhadap kemampuan siswanya turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Guru dapat menimbulkan semangat belajar yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar yang sungguh-sungguh. Siswa yang baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan perhatian kepada bahan pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya.

B. TEORI BELAJAR MENURUT THORNDIKE

Berdasarkan teori stimulus-respon, Thorndike menyatakan bahwa cara belajar manusia dan binatang pada dasarnya sama, karena belajar pada dasarnya terjadi melalui pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon, Menurut Thorndike, terjadinya asosiasi stimulus dan respon berdasarkan tiga hukum, yaitu:

a. Hukum kesiapan, yang mempunyai tiga ciri: (1) Jika seseorang berkeinginan untuk bertindak dan keinginan tersebut dilaksanakan, maka dia akan puas dan tidak melakukan tindakan yang lain. (2) Jika seseorang berkeinginan untuk bertindak dan keinginan itu tidak dilaksanakan, maka dia tidak puas dan akan melakukan tindakan yang lain. (3) Jika seseorang tidak mempunyai keinginan untuk bertindak, tetapi dia melakukan tindakan itu, maka dia merasa tidak puas dan akan melakukan tindakan lain.

b. Hukum latihan, yang berprinsip utama pada latihan (pengulangan). Oleh karena itu, jika guru sering memberi latihan (S) dan siswa menjawabnya (R), maka prestasi belajar siswa pada pelajaran tersebut akan meningkat. Thorndikemenyatakan bahwa pengulangan tanpa ganjaran tidak efektif, karena asosiasi S dan R hanya diperkuat oleh ganjaran. Jadi hukum latihan ini mengarah pada banyaknya pengulangan, yang biasa disebut drill.

c. Hukum akibat, yang menunjukkan bahwa jika suatu hubungan dapat dimodifikasi seperti halnya hubungan antara stimulus dan respon, dan hubungan tersebut diikuti oleh peristiwa yang diharapkan, maka kekuatan hubungan yang terjadi semakin meningkat. Sebaliknya, jika kondisi peristiwa yang tidak diharapkan mengikuti hubungan tersebut, maka kekuatan hubungan yang terjadi semakin berkurang.

(12)

seseorang tidak melaksakan pekerjaan tersebut. Jika dikaitkan dengan pembelajaran PKn, teori ini cocok diterapkan pada anak kelas satu, karena mereka merasa senang apabila memperoleh hadiah dari gurunya.

C. TEORI BELAJAR MENURUT SKINNER

Menurut pandangan B. F. Skinner (1958), belajar merupakan suatu proses atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progressif. Pengertian belajar ialah suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respons. Skinner berpendapat bahwa ganjaran merupakan salah satu unsur yang penting dalam proses belajar, tetapi istilahnya perlu diganti dengan penguatan. Ganjaran adalah sesuatu yang menggembirakan, sedangkan penguatan adalah sesuatu yang mengakibatkan meningkatkatnya suatu respon tertentu. Penguatan tidak selalu berupa hal yang menggembirakan, tetapi dapat terjadi sebaliknya.

Penguatan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif adalah sesuatu yang cenderung meningkatkan pengulangan tingkah laku, sedangkan penguatan negatif adalah sesuatu yang jika dihapuskan cenderung menguatkan tingkah laku. Sebagai contoh penguatan positif adalah memberikan pujian terhadap siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik, atau menunjukkan raut muka cemberut kepada siswa yang tidak dapat menyelesaikan tugas. Pujian dan raut muka cemberut tadi merupakan penguatan positif karena akan mendorong siswa belajar lebih giat lagi. Pada saat guru bercerita tentang kisah seorang petani melerai anak-anaknya (kakak beradik) yang sedang bertengkar, para siswa mendengarkan dengan serius. Saat itu ada beberapa siswa di luar kelas sedang ramai bergurau sehingga mengganggu perhatian siswa yang serius mendengarkan cerita guru tadi. Guru berhenti cerita dan keluar sebentar, tak lama kemudian siswayang bergurau tadi diam dan pergi menjauhi kelas. Guru meneruskan cerita, siswa dapat lebih konsentrasi mengikuti jalan cerita yang disampaikan guru tersebut. Menghilangkan suara gaduh di luar kelas itu merupakan salah satu contoh penguatan negatif.

Skinner membedakan respon menjadi dua macam, yaitu respondent conditioning

(13)

selesaikan tadi. Dalam hal ini, Hudoyo (1990) menyatakan bahwa stimulus berupa masalah itu dapat diibaratkan sebagai makanan yang dapat menimbulkan keluarnya air liur. Hudoyo (1990) selanjutnya mengatakan bahwa stimulus yang demikian pada umumnya mendahului respon yang ditimbulkan. Belajar dengan respondent conditioning

ini hanya efektif jika suatu respon timbul karena kehadiran stimulus tertentu.

Seorang siswa belajar dengan sunguh-sungguh sehingga saat ulangan dia bisa menyelesaikan hampir semua soal yang diberikan sehingga mendapatkan nilai yang bagus. Dengan nilai yang bagus ini dia merasa sangat senang dan dalam hatinya ia berniat untuk belajar lebih giat lagi. Dalam hal ini, nilai yang bagus itu merupakan

operant coditioning. Jadi operant conditioning adalah suatu respon terhadap lingkungannya yang diikuti oleh stimulus-stimulus tertentu.

Perlu Anda ketahui bahwa Teori Skinner sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan, khususnya dalam lapangan metodologi dan teknologi pembelajaran. Program- program inovatif dalam bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasarkan teori Skinner (Sudjana dan Rivai, 2003). Dengan demikian teori belajar menurut Skinner hampir sama dengan teori yang sampaikan Thorndike, hanya istilah ganjaran perlu diganti dengan penguatan, yang dibedakan menjadi dua yaitu penguatan positip dan penguatan negatif. Sesuai dengan contoh tersebut kiranya tidak sukar bagi Anda untuk memanfatkan teori ini dalam pembelajaran yang anda lakukan.

D. TEORI BELAJAR MENURUT ROBERT M. GAGNE

Sejalan dengan Thorndike dan Skinner, Gagne juga salah satu tokoh penganut aliran psikologi Stimulus-Respon (S-R). Gagne berpendapat bahwa terjadinya belajar seseorang karena dipengaruhi faktor dari luar dan faktor dari dalam diri orang tersebut dimana keduanya saling berinteraksi (Nasution, 2000:136). Faktor dari luar (eksternal) yaitu stimulus dan lingkungan dalam acara belajar, dan faktor dari dalam (internal) yaitu faktor yang menggambarkan keadaan dan proses kognitif siswa. Keadaan internal menunjukkan pengetahuan dasar (yang berkaitan dengan hahan ajar), sedangkan proses kognitif menunjukkan bagaimana kemampuan siswa mengolah/mencerna bahan ajar.

(14)

kognitif siswa” dan “stimulus dan lingkungan”; (2) proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar yang terdiri atas informasi verbal, ketrampilan intelek, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap. Informasi verbal merupakan kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa. Keterampilan intelek merupakan ketrampilan yang berfungsi untukberhubungan dengan lingkungan hidupnya. Strategi kognitif adalah kemampuan untuk mengarahkan aktivitas kognitifnya. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi. Sikap merupakan kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.

Menurut Gagne, ada tiga tahap dalam belajar yaitu (1) persiapan untuk belajar dengan melakukan tindakan mengarahkan perhatian, pengharapan, dan mendapatkan kembali informasi; (2) pemerolehan dan unjuk perbuatan (performansi), yang digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik, pembangkitan kembali, respon, dan penguatan; dan (3) alih belajar yaitu pengisyaratan untuk membangkitkan dan memberlakukan secara umum (Dimyati dan Mudjiono, 1999:12). Dengan demikian menurut Gagne hasil belajar merupakan hasil interaksi stimulus dari luar dengan pengetahuan internal siswa. Dalam pembelajaran PKn, kegiatan seperti performansi dan alih belajar yang dicontohkan di atas sangat diperlukan.

E. TEORI BELAJAR MENURUT PIAGET

Jean Piaget, psikolog-kognitif dari Swiss ini, berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan bertahap dari berpikir intelektual kongkrit ke abstrak secara berurutan melalui empat tahap. Urutan tahapan itu tetap bagi setiap orang, tetapi usia kronologis bagi setiap orang yang memasuki tiap tahap berpikir berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing individu. Keempat tahap tersebut adalah: (1) tahap sensori motor pada usia 0-2 tahun, (2) tahap pra-operasional pada usia 2-7 tahun, (3) tahap periode operasi kongkrit pada usia 7-12 tahun, dan (4) yang terakhir adalah tahap operasi formal pada usia 12 tahun ke atas. Istilah “operasi” di sini dimaksudkan suatu proses berfikir logis yang merupakan aktivitas mental (bukan aktivitas sensori motor).

(15)

sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dibandingkan dengan pada saat pada tahap sebelumnya.

Piaget berpendapat bahwa proses belajar terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap asimilasi, tahap akomodasi dan equilibrasi/penyeimbangan (Sukmaningadji, S. 2006) Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung diintegrasikan dan menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. Akomodasi, adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai suatu akibat adanya pengalaman atau adanya informasi baru. Sedangkan penyeimbangan adalah penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Dengan demikian, belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman saja, tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lamanya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman baru tersebut.

Dengan demikian teori Piaget menunjukkan bahwa pikiran manusia mengalami perkembangan yang mempengaruhi proses berpikirnya, sehingga dalam melaksanakan pembelajaran guru perlu memikirkan tingkat perkembangan intelektual siswa. Saat siswa belajar dalam diri siswa terjadi interaksi antara pengamatan atau pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimiliki, yang diberi istilah asimilasi dan akomodasi. Pembelajaran dalam PKn sedapat mungkin diusahakan munculnya asimilasi dan akomodasi kognitif.

F. TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER

Dalam teori belajarnya, Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan teori belajar menjadi tiga tahap. Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru, (2) tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain, dan (3) evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.

(16)

pendidikan dengan intuisi, (4) motivasi atau keinginan siswa untuk belajar, dan kemampuan guru untuk memotivasinya.

Bruner menegaskan bahwa mata pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif dengan kejujuran intelektual, bahkan dalam tahap perkembangan manapun. Bruner beranggapan bahwa anak kecilpun akan dapat mengatasi permasalahannya, asalkan dididik berdasarkan kurikulum yang berisi tema-tema hidup, yang dikonseptualisasikan untuk menjawab tiga pertanyaan, yaitu: (1) Apa yang menjadi ciri khas manusia itu? (2) Bagaimana manusia mendapatkan ciri khas itu? dan (3) Bagaimana ciri khas manusia itu dibentuk?

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam teori belajar Bruner terdapat tiga tahap proses belajar, yaitu informasi, trasformasi, dan evaluasi. Lama tidaknya masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak informasi, motivasi, dan minat siswa. Pembelajaran PKn seyogyanya juga dapat memberikan informasi yang jelas dan evaluasi hasil belajar siswa.

G. TEORI BELAJAR MENURUT AUSUBEL

David Ausubel merupakan salah satu tokoh ahli psikologi kognitif yang berpendapat bahwa keberhasilan belajar siswa sangat ditentukan oleh kebermaknaan bahan ajar yang dipelajari. Suatu bahan ajar, informasi, atau pengalaman baru seseorang akan bermakna jika pengetahuan yang baru dikenal itu dapat disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Jika demikian, orang tersebut dapat dengan mudah mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Hudoyo, H (1990:54) menyatakan bahwa Ausubel menggunakan istilah “pengatur lanjut” (advance organizers) dalam penyajian informasi yang dipelajari oleh peserta didik, agar belajar tersebut menjadi bermakna. “Pengatur lanjut” itu terdiri dari bahan verbal di satu pihak, dan sesuatu yang sudah diketahui peserta didik di pihak lain.

(17)

bermakna dari pada kegiatan belajar. Dengan ceramahpun, asalkan informasinya bermakna bagi peserta didik, apalagi penyajiannya sistimatis, akan memperoleh hasil belajar yang baik pula.

Ausubel mengidentifikasikan empat kemungkinan tipe belajar, yaitu (1) belajar dengan penemuan yang bermakna, (2) belajar dengan ceramah yang bermakna, (3) Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna, dan (4) belajar dengan ceramah yang tidak bermakna. Dia berpendapat bahwa menghafal berlawanan dengan bermakna, karena belajar dengan menghafal peserta didik tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Dengan demikian bahwa belajar itu akan lebih berhasil jika materi yang dipelajari bermakna. Dari empat kemungkinan tipe belajar Ausubel yang disebutkan di atas, dua tipe belajar pertamalah yang akan memberikan hasil yang baik. Sejalan dengan ini, pembelajaran PKn SD perlu memperhatikan kebermaknaan.

BAB III

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Rifa’i, Achmad & Catharina Tri Anni . 2012. Psikologi Pendidikan. Unnes Press : Semarang. Ruminiati. 2007. Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan SD. Jakarta: Direktorat

Referensi

Dokumen terkait

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi yaitu variabel dependen dalam hal ini keputusan pembelian dan variabel independen dalam hal

Tujuan : Mengetahui hubungan persepsi mahasiswa terhadap peran tutor pada tutorial dengan prestasi belajar di Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Dan Ilmu

Posisi Kabupaten Dharmasraya sangat strategis yaitu berbatasan langsung dengan Provinsi yang menjadi pusat pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia untuk

SG.1 If a is the smallest positive integer which gives remainder 1 when divided by 3 and is a multiple of 5, find the value of a.. Find the value of

dan dengan fitur tersebut bisa memberikan kesan dan pesan pada pengguna lainnya. Setelah itu facebook muncul pada tahum 2004 namun facebook baru banyak pengguna ketika

Bakri (2009) menerangkan bahwa usaha untuk menurunkan emisi karbon yang merupakan salah satu unsur gas rumah kaca tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai

o Kurangkan NOx khusus yang dilepaskan daripada kilang pulpa dan kertas kita sebanyak 5% menjelang tahun 2025 berbanding dengan tahun dasar 2020 o Kurangkan beban cecair buangan

Selaras dengan penelitian T Dwi Utomo (2013), menunjukkan hubungan signifikan dengan hasil r hitung = 0,925 lebih besar dibanding dengan r tabel yaitu 0,632, .akan