• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN THYPOID DI RUANG MAWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN THYPOID DI RUANG MAWA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

DI RUANG MAWAR RSUD CIBABAT CIMAHI

Nama Kelompok :

Dara Lintang Umbaran 211114043

Eneng Susi Susanti 211114044

Novi Septianti Rosadi 211114046

Wulandari 211114047

Sani Adi Nugraha 211114048

Hesti lestari 211114060

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN D-III

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDRAL

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah. SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta memberikan perlindungandan kesehatan sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul ” Asuhan Keperawatan Typoid ”.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penyusunan makalah ini masih banyak menemui kesulitan dikarenakan keterbatasan referensi dan keterbatasan penulis sendiri. Dengan adanya kendala dan keterbatasan yang dimiliki penulis maka penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah dengan sebaik-baiknya.

Sebagai manusia penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya, Amin.

Cimahi,1 Mei 2016

(3)
(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Demam thypoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemis di Asia, Afrika, Amerika latin, Karibia, Oceania dan jarang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Menurut data WHO, terdapat 16 juta hingga 30 juta kasus thypoid di seluruh dunia dan diperkirakan sekitar 500,000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Asia menempati urutan tertinggi pada kasus thypoid ini, dan terdapat 13 juta kasus dengan 400,000 kematian setiap tahunnya.

Kasus thypoid diderita oleh anak-anak sebesar 91% berusia 3-19 tahun dengan angka kematian 20.000 per tahunnya. Di Indonesia, 14% demam enteris disebabkan oleh Salmonella Parathypii A. Demam tifoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan rendah,cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik dibandingkan daerah berhawa dingin. Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan untuk orang dewasa. Penyebabnya adalah kuman sallmonela thypi atau sallmonela paratypi A, B dan C.

Penyakit typhus abdominallis sangat cepat penularanya yaitu melalui kontak dengan seseorang yang menderita penyakit typhus, kurangnya kebersihan pada minuman dan makanan, susu dan tempat susu yang kurang kebersihannya menjadi tempat untuk pembiakan bakteri salmonella, pembuangan kotoran yang tak memenuhi syarat dan kondisi saniter yang tidak sehat menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit typhus.

Dalam masyarakat, penyakit ini dikenal dengan nama thypus, tetapi didalam dunia kedokteran disebut dengan Tyfoid fever atau thypus abdominalis, karena pada umumnya kuman menyerang usus, maka usus bisa jadi luka dan menyebabkan pendarahan serta bisa mengakibatkan kebocoran usus.

1.2. Rumusan Masalah

Apa konsep medik dan asuhan keperawatan pada penyakit demam thypoid ?

1.3. Tujuan

a. Tujuan umum :

Mahasiswa dapat mengetahui dan mencegah terjadinya Demam Thypiod serta mengimplementasikan asuhan keperawatan demam thypoid di lapangan.

(5)

b. Tujuan khusus :

Mengetahui konsep medik dan asuhan keperawatan pada penyakit Demam Thypoid

1.4 Manfaat Penulisan

a. Mendapatkan pengetahuan tentang penyakit Demam Thypoid

(6)

BAB II PEMBAHASAN

II. KONSEP MEDIK

2.1 Definisi

Tifus Abdominalis (demam tifoid enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang

besarnya tedapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu,

gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (FKUI, 1985)

Tifus abdominalis adalah infeksi yang mengenai usus halus, disebarkan dari kotoran

ke mulut melalui makanan dan air minum yang tercemar dan sering timbul dalam wabah.

(Markum, 1991).

2.2 Etiologi

Tyfus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhosa, basil gram negatif, bergerak

dengan bulu getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurngnya 3 macam antigen yaitu

antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen

Vi. Dalam serum penderita terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam antigen

tersebut.

2.3 Patofisiologi

Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna, bersama makanan dan

minuman, sabagian besar akan mati oleh asam lambung HCL dan sebagian ada yang lolos

(hidup), kemudian kuman masuk kedalam usus (plag payer) dan mengeluarkan endotoksin

sehingga menyebabkan bakterimia primer dan mengakibatkan perdangan setempat, kemudian

kuman melalui pembuluh darah limfe akan menuju ke organ RES terutama pada organ hati

dan limfe.

(7)

Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang tidak difagosif

akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh darah sehingga menyebar ke organ lain,

terutama usus halus sehingga menyebabkan peradangan yang mengakibatkan malabsorbsi

nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga terjadi diare. Pada hipotalamus akan menekan

termoregulasi yang mengakibatkan demam remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh

akibatnya tubuh menjadi mudah lelah.

Selain itu endotoksin yang masuk kepembuluh darah kapiler menyebabkan roseola

pada kulit dan lidah hipermi. Pada hati dan limpa akan terjadi hepatospleno megali.

Konstipasi bisa terjadi menyebabkan komplikasi intestinal (perdarahan usus, perfarasi,

peritonitis) dan ekstra intestinal (pnemonia, meningitis, kolesistitis, neuropsikratrik).

2.4 Manifestasi Klinis

Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan

penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi

melalui makanan, sedangkan yang terlama 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama

masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodomal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu,

nyeri kepala, pusing dan tidak bersamangat kemudian menyusul gejala klinis sbb:

a. Demam

Berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak terlalu tinggi.

Selama minggu pertama duhu berangsur-angsur meningkat, biasanya turun pada pagi

hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Pada minggu ke-2 penderita terus

demam dan minggu ke-3 penderita demamnya berangsur-angsur normal.

b. Gangguan pada saluran pencernaan

Nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah putih kotor (coated

tongue) ujung dan tepi kemerahan, perut kembung, hati dan limpa membesar. disertai

(8)

5

c. Gangguan kesadaran

Kesadaran menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu apatis sampai samnolen.

Disamping gejala-gejala tersebut ditemukan juga pada penungggungdan anggota

(9)

2.6 Diagnosa Keperawatan

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d arbsorpsi nutrisi

2. Hipertermi b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus

3. Resiko tinggi kurang volume cairan b/d kehilangan cairan sekunder terhadap

diare

4. Intoleransi aktivitas b/d peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder

terhadap infeksi akut

5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi b/d kesalahan interpretasi informasi,

kurang mengingat

2.7 Focus Intervensi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d arbsorpsi nutrisi

(10)

7

b. Anjurkan istirahat sebelum makan

Rasional:

Menenangkan peristaltic dan meningkatkan energi makan

c. Berikan kebersihan oral

Rasional :

Mulut bersih dapat meningkatkan nafsu makan

d. Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan

Rasional:

Lingkungan menyenangkan menurunkan stress dan konduktif untuk makan

e. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat

Rasional:

Nutrisi yang adekuat akan membantu proses

f. Kolaborasi pemberian nutrisi, terapi IV sesuai indikasi

Rasional:

Program ini mengistirahatkan saluran gastrointestinal, sementara memberikan

nutrisi penting.

6. Hipertermi b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus

Tujuan:

Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal

Intervensi:

a. Pantau suhu klien

Rasional:

Suhu 380 C sampai 41,10 C menunjukkan proses peningkatan infeksius akut

b. pantau suhu lingkungan, batasi atau tambahkan linen tempat tidur sesuai dengan

indikasi

Rasional:

(11)

Suhu ruangan atau jumlah selimut harus dirubah, mempertahankan suhu mendekati

normal

c. Berikan kompres mandi hangat

Rasional :

Dapat membantu mengurangi demam

d. Kolaborasi pemberian antipiretik

Rasional:

Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus

7. Resiko tinggi kurang volume cairan b/d kehilangan cairan sekunder terhadap

diare

Tujuan:

Mempertahankan volume cairan adekuat dengan membran mukosa, turgor kulit baik,

kapiler baik, tanda vital stabil, keseimbangan dan kebutuhan urin normal

Intervensi:

a. Awasi masukan dan keluaran perkiraan kehilangan cairan yang tidak terlihat

Rasional:

Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan dan elektrolit penyakit usus

yang merupakan pedoman untuk penggantian cairan

b. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa turgor kulit dan pengisian

kapiler

Rasional:

Menunjukkan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi

c. Kaji tanda vital

Rasional :

Dengan menunjukkan respon terhadap efek kehilangan cairan

(12)

9

Rasional:

Kalau diistirahkan utnuk penyembuhan dan untuk penurunan kehilangan cairan usus

e. Kolaborasi utnuk pemberian cairan parenteral

Rasional:

Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan cairan untuk mempertahankan

kehilangan

8. Intoleransi aktivitas b/d peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder

terhadap infeksi akut

Tujuan:

Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas

Intervensi:

a. Tingkatkan tirah baring dan berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung

Rasional:

Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan

b. Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik

Rasional:

Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu

untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan

c. Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi

Rasional :

Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan karena keterbatasan aktifitas yang

menganggu periode istirahat

d. Berikan aktifitas hiburan yang tepat (nonton TV, radio)

Rasional:

Meningkatkan relaksasi dan hambatan energi

(13)

9. Kurang pengetahuan mengenai kondisi b/d kesalahan interpretasi informasi,

kurang mengingat

Tujuan:

Dapat menyatakan pemahaman proses penyakit

Intervensi:

a. berikan nformasi tentang cara mempertahankan pemasukan makanan yang

memuaskan dilingkungan yang jauh dari rumah

Rasional:

Membantu individu untuk mengatur berat badan

b. Tentukan persepsi tentang proses penyakit

Rasional:

Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu

c. Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan

gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung

Rasional :

Faktor pencetus/pemberat individu, sehingga kebutuhan pasien untuk waspada

terhadap makanan, cairan dan faktor pola hidup dapat mencetuskan gejala

2.8 Komplikasi

Dapat terjadi pada:

1. Usus halus, Umumnya jarang terjadi, akan tetapi sering fatal yaitu:

a. Perdarahan usus bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan

tinja dengan benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila

berat dapat disertai perasaan nyari perut dengan tanda-tanda rejatan

(14)

11

c. Peritonitis ditemukan gejala abdomen akut yaitu: nyeri perut yang hebat,

diding abdomen dan nyeri pada tekanan

2. Diluar anus, Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterimia)

yaitu meningitis, kolesistitis, ensefelopati. Terjadi karena infeksi sekunder yaitu

bronkopneumonia

2.9 Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium antara lain sebagai

berikut:

a. Pemeriksaan darah tepi

b. Pemeriksaan sumsum tulang

c. Biakan empedu untuk menemukan salmonella thyposa

d. Pemeriksaan widal digunakan untuk membuat diagnosis tifus abdominalis

yang pasti

e. Tubex TF, spesifik mendeteksi Ig M antibody S thypiii 09 LPS antigen Sthypii

dan salmonella sero group D bakteri

f. Uji Widal : untuk mendeteksi adanya bakteri Salmonella Thypi

g. Pemeriksaan darah tepi : untuk melihat tingkat leukosit dalam darah, adanya

leukopenia, etc

h. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya bakteri Salmonella Thypi dan

leukosit

i. Pemeriksaan feses : untuk melihat adanya lendir dan darah yang dicurigai

akan bahaya perdarahan usus dan perforasi

j. Pemeriksaan sumsum tulang : untuk mendeteksi adanya makrofag

k. Serologis : untuk mengevaluasi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi

(aglutinin)

(15)

m. Pemeriksaan SGOT dan SGPT

n. SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi

dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

2.10 Penatalaksanaan

1. Perawatan

a. Bedrest kurang lebih 14 hari : mencegah komplikasi perdarahan usus

b. Mobilisasi sesuai dengan kondisi

c. Posisi tubuh harus diubah setiap 2 jam sekali untuk mencegah decubitus

2. Diet

Dimasa lampau, penderita diberi makan diet yang terdiri dari bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan penderita. Beberapa peneliti menganjurkan makanan padat dini yang wajar sesuai dengan keadaan penderita. Makanan disesuaikan baik kebutuhan kalori, protein, elektrolit, vitamin maupun mineralnya serta diusahakan makan yang rendah/bebas selulose, menghindari makanan yang iritatif. Pada penderita gangguan kesadaran maka pemasukan makanan harus lebih di perhatikan

3. Obat-obatan

Obat pilihan adalah kloramfenikol, hati-hati karena mendepresi sum-sum tulang, dosis 50-100 mg/kgBB dibagi 4 dosis, efek sampingnya adalah Anaplastik anemia

Obat lain : - Kotrimoksazol ( TMP 8-10 mg/kgBB dibagi 2 dosis) a. Ampisilin

b. Amoxicillin

Pengobatan/penatalaksaan pada penderita typus abdominalis adalah sebagai berikut: a. Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian dan ekskreta

b. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi c. Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu

(16)

13

(17)

3.1 Pengkajian

1. Identitas

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. registrasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, TB, BB, dan tanggal masuk RS.

2. Riwayat Keperawatan a. Keluhan utama

Demam lebih dari 1 minggu, gangguan kesadaran : apati sampai somnolen, dan gangguan saluran cerna seperti perut kembung atau tegang dan nyeri pada perabaan, mulut bau, konstipasi atau diare, tinja berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan muntah.

b. Riwayat penyakit sekarang.

Ingesti makanan yang tidak dimasak misalnya daging, telur, atau terkontaminasi dengan minuman.

c. Riwayat penyakit dahulu.

Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun. d. Riwayat kesehatan keluarga.

Tifoid kongenital didapatkan dari seorang ibu hamil yang menderita demam tifoid dan menularkan kepada janin melalui darah. Umumnya bersifat fatal.

e. Riwayat kesehatan lingkungan.

f. Demam tifoid saat ini terutama ditemukan di negara sedang berkembang dengan kepadatan penduduk tinggi serta kesehatan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Pengaruh cuaca terutama pada musim hujan sedangkan dari kepustakaan barat dilaporkan terutama pada musim panas.

3. Pola-pola Fungsi Keperawatan

a. Pola pesepsi dan tatalaksana kesehatan

Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya.

b. Pola nutrisi dan metabolism

Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah.

c. Pola aktifitas dan latihan

Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.

d. Pola eliminasi

Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

e. Pola reproduksi dan sexual

Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah menikah akan terjadi perubahan.

(18)

14

Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.

Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, puccat, mual, perut tidak enak, anorexia.

b. Kepala dan leher

Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering, lidah kotor, ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.

c. Dada dan abdomen

Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.

d. Sistem respirasi

Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping hidung.

e. Sistem kardiovaskuler

Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh. f. Sistem integument

Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat. g. Sistem eliminasi

Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N ½ -1 cc/kg BB/jam.

h. Sistem muskuloskolesal

Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan. i. Sistem endokrin

Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil. j. Sistem persyarafan

Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita penyakit thypoid.

(19)

A. Kesimpulan

Demam tifoid adalah suatu infeksi akut pada usus kecil yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800/100.000 penduduk per tahun, tersebar dimana-mana, dan ditemukan hampir sepanjang tahun.

Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar, umur 5-9 tahun. Dengan keadaan seperti ini, adalah penting melakukan pengenalan dini demam tifoid, yaitu adanya 3 komponen utama : Demam yang berkepanjangan (lebih dari 7 hari), Gangguan susunan saraf pusat / kesadaran.

B. Saran

Dari uraian makalah yang telah disajikan maka kami dapat memberikan saran untuk selalu menjaga kebersih lingkungan , makanan yang dikonsumsi harus higiene dan perlunya penyuluhan kepada masyarakat tentang demam tifoid

EVALUASI

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang

menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi pada tahap evaluasi adalah masalah dapat diatasi, masalah teratasi sebagian, masalah belum teratasi atau timbul masalah yang baru. Evaluasi dilakukan yaituevaluasi proses dan evaluasi hasil.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J (1997). Buku Saku Keperawatan. Edisi VI.EGC: Jakarta

Doengoes M.E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III. EGC : Jakarta

Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi XII. EGC : Jakarta

Staf Pengajar IKA (1995). Ilmu Kesehatan Anak. EGC : Jakarta

mansjoer. A (2000). Kapikta Selekta kedokteran. edisi IV. EGC: Jakarta

Sarwana (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. FKUI: Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hukum Gauss memberikan kemudahan dalam mencari E atau D untuk Hukum Gauss memberikan kemudahan dalam mencari E atau D untuk distribusi muatan yang simetris

Yaitu program yang digunakan untuk menerjemahkan instruksi-instruksi yang ditulis dalam bahasa pemrograman ke dalam bahasa mesin agar dapat dimengerti komputer.. Perangkat

Oleh karena itu, ANIMA CONSULTING hadir sebagai solusi yang tepat bagi semua orang yang membutuhkan mitra yang handal dan dapat dipercaya dalam menghadapi berbagai

-- Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan reaksi inflamasi akut dinding Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan reaksi inflamasi

Setelah proses kliping Berita Nasional, Regional dan Kota Cimahi dipindahkan ke komputer, lalu penulis mendistribusikan ke bagian terkait seperti : Asisten

SQL Server 7.0 merupakan aplikasi DBMS yang sangat berguna bagi user yang memerlukan informasi dari suatu perusahaan atau departemen tertentu yang terkait dengan aplikasi ini.SQL

Peralatan Oven terkalibrasi dengan ketelitian 1 °C; Neraca analitik terkalibrasi dengan ketelitian 0,1 mg; Panangas air; Desikator berisi desikan; Cawan, terbuat dari gelas

Tutkimukseni varsinaisia tapauksia on viisi ja ne käsittävät suomalaisten tekijöiden vuosi- na 1995–2018 tekemiä toteutuksista, joista osa on olemassa vieläkin. Tutkimukseni