• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Paradigma Pembangunan pada Des

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Paradigma Pembangunan pada Des"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS INDIVIDU

PENERAPAN PARADIGMA PEMBANGUNAN

PADA DESA

OLEH :

LUKMAN HAKIM

P02 421 2507

KONSENTRASI MANAJEMEN PERENCANAAN

(2)

2012

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Paradigma merupakan cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif) dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai dan praktek yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya dalam disiplin intelektual. Sedangkan pembangunan adalah proses perubahan ke arah kondisi yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana. (Kartasasmita, 1997).

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, paradigma pembangunan dapat didefinisikan sebagai cara pandang terhadap suatu persoalan pembangunan yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pembangunan baik pembangunan dalam arti sebagai proses maupun sebagai metode yang bertujuan untuk mencapai peningkatan kualitas kehidupan manusia dan kesejahteraan rakyat. Teori pembangunan pun dalam perkembangannya semakin kompleks yang tidak terikat pada satu disiplin ilmu. (Bjorn, 1982)

Sebuah desa pun tidak luput dari perubahan paradigma pembangunan, hal ini merupakan suatu konsekuensi adanya dinamika pembangunan yang telah merubah kondisi kehidupan masyarakat desa. Hal ini disebabkan karena desa dipandang sebagai dinamika yang memposisikan desa sebagai entitas yang bergerak yang mengalami proses dari waktu ke waktu secara mengalir.

Desa yang selama ini kita anggap hanya sebuah entitas statis, ternyata di dalamnya tersimpan sebuah fenomena yang sangat kompleks. Desa tidak dapat lagi hanya dipandang sebagai objek yang simpel dan penuh dengan keteraturan, melainkan penuh dengan fenomena ketidak teraturan bahkan dapat mengalami kekacauan (chaos) selama dalam perubahannya.

Banyaknya kontributor yang terlibat dalam dinamika perubahan desa, baik negara, lembaga donor, peneliti, investor maupun prakarsa dari desa itu sendiri. Beragam program atau metode ditawarkan pada desa. Interaksi yang terus menerus inilah yang menyebabkan kompleksitas dalam sebuah keteraturan desa. Tiap-tiap kontributor membawa teori dan paradigmanya masing-masing untuk dapat diterapkan pada suatu desa.

Desa dengan berbagai macam karakteristik bentang wilayahnya baik dataran rendah, dataran tinggi maupun pesisir pun menjalankan paradigma yang ditawarkan oleh para kontributor tersebut, bahkan ada juga sebuah desa yang mengalami perubahan yang disebabkan oleh pandangan dari masyarakat desa itu sendiri yang didasarkan pada pengalaman atau pengetahuan yang dimiliknya.

(3)

Tulisan ini merupakan sebuah ikhtisar dari buku yang berjudul “Sosiologi Desa” dengan sub judul Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas sebuah hasil karya Prof. Dr. Darmawan Salman. Buku ini menjelaskan kompleksitas yang ada di berbagai tipe desa dengan berbagai paradigma yang mengiringi perubahannya.

Tujuan

Adapun tujuan penulisan ini adalah :

(4)

1. Revolusi Hijau di Indonesia dan Perubahan Desa Persawahan dan Dataran Rendah

Pembangunan adalah suatu perubahan yang direncanakan secara sistematis terhadap suatu negara atau bangsa. Istilah pembangunan ini dicetuskan pertama kali oleh Presiden Amerika Serikat saat itu Hendry Truman pada tahun 1950-an saat mengumpulkan para ilmuwan sosial setelah terjadinya Perang Dunia ke II. Saat itu Amerika Serikat merasa berperan dalam hal perbaikan dan akselerasi negara berkembang dan juga negara-negara korban perang. Semenjak itulah istilah pembangunan terus berkembang. Pada tahun 1946/1947 pemerintah Amerika Serikat membuat kebijakan program ekonomi yang dikenal dengan Rencana Marshall atau

Marshall Plan. Program ekonomi skala besar ini memiliki tujuan untuk membantu negara-negara Eropa pasca perang dan juga negara berkembang untuk memperbaiki keadaan ekonomi negaranya. Saat itu pemerintah AS membentuk 2 (dua) lembaga yang bertugas dalam membantu negara-negara Eropa dan negara berkembang yaitu

World Bank dan International Monetary Funds (IMF).

Masalah yang mendasar dalam pembangunan adalah adanya ketertinggalan dan keterbelakangan suatu masyarakat. Ketertinggalan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tatanan yang ada dan berkembang selama ini di dalam suatu masyarakat, juga nilai-nilai atau norma yang dianut yang biasanya disebut dengan tradisionalisme. Salah satu jalan keluar untuk mengatasi ketertinggalan dan keterbelakangan itu adalah dengan melakukan modernisasi.

Modernisasi mengandung 3 makna, yang pertama makna yang sangat umum meliputi seluruh perubahan sosial yang progresif dimana masyarakat bergerak maju. Sedangkan yang kedua bermakna historis menyangkut transformasi sosial, politik, ekonomi, kultural dan mental yang dialami Barat sejak abad ke-16 dan mencapai puncaknya di abad 19 dan 20. Makna yang kedua ini sering disebut dengan “modernitas” yang meliputi proses industrialisasi, urbanisasi, rasionalisasi, birokratisasi, demokratisasi, pengaruh kapitalisme, individualisme dan motivasi untuk berprestasi, meningkatnya pengaruh akal dan sains. Makna modernisasi yang ketiga paling khusus dan hanya mengacu pada masyarakat terbelakang atau tertinggal dan berupaya untuk mengejar ketertinggalan dari masyarakat yang lebih maju terlebih dahulu (Sztompka, 1993: 149).

(5)

Salah satu tokoh penganut paham modernisasi adalah Walt Rostow. Peneliti kelahiran Rusia ini telah melakukan penelitian tentang tahapan perkembangan ekonomi negara maju yang disampaikannya dalam sebuah buku The Stage of Economic Development dengan subjudul A Non-Communist Manifesto. Dalam hal ini Rostow menjelaskan adanya 5 (lima) tahapan perkembangan yang dilalui oleh negara maju. Tahapan tersebut adalah :

a. Tahap masyarakat tradisional (Traditional Society Stage)

b. Tahap prakondisi lepas landas (Precondition for Take Off Stage) c. Tahap Lepas Landas (Take-Off Stage)

d. Tahap gerak menuju kematangan (Drive for Maturity Stage) e. Tahap konsumsi massa tinggi (High Mass Consumption Stage)

Menurut Rostow tahapan dalam perkembangan masyarakat tradisional sampai kepada tahap konsumsi tingkat tinggi secara alami berlangsung selama 300 tahun. Rostow kemudian memberi saran pada pemerintah dengan melakukan akselerasi perkembangan dari 300 tahun menjadi 50 tahun terhadap negara-negara berkembang yaitu dengan memberikan bantuan pinjaman melalui World Bank dan IMF yang digunakan dalam investasi suatu negara karena syarat utama untuk menuju perubahan yang dicita-citakan adalah modal dan lembaga tersebut (IMF dan World Bank) merupakan salah satu sumber modal. Filosofi dari Teori Rostow ini adalah memberikan saran kepada pemerintahan negara berkembang untuk dapat membuka “keran” investor melalui pihak swasta dalam mengelola Sumber Daya Alam yang kelak dikemudian hari dikenal dengan istilah liberalisasi.

Tahapan-tahapan pembangunan menurut teori Rostow inilah yang suatu hari diterapkan pada negara-negara berkembang di Amerika Latin, Afrika dan Asia Tenggara. Indonesia sendiri saat itu tidak menjalankan teori Rostow karena sistem pemerintahan yang dijalankan pada masa Presiden Soekarno menerapkan kebijakan untuk tidak melakukan pinjaman luar negeri. Saat kepemimpinan Presiden Soekarno juga terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan asing untuk dijadikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Penerapan teori Rostow baru dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto pada tahun 1970an. Pada saat itu dikenal dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 25 tahun yang dibagi menjadi Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).

Dalam Repelita tersebut mulai dari RPJPT I (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama), revolusi hijau merupakan wacana yang dominan. Dalam revolusi hijau tersebut desa persawahan memiliki nilai yang strategis karena menjadi pusat revolusi tersebut.

(6)

penduduk berjalan lebih cepat dibandingkan dengan tingkat produksi pertanian. Menurut Malthus, pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung.

Revolusi hijau pada saat itu didorong oleh belum terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat salah satunya yaitu terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pangan. Permasalahan pembangunan yang utama adalah belum terpenuhinya kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar inilah yang merupakan tanggung jawab negara kepada rakyatnya karena terpenuhinya kebutuhan dasar adalah hak yang harus didapatkan oleh rakyat. Pada saat itu Indonesia diambang ancaman revolusi sosial yang diakibatkan oleh krisis pangan pada awal masa pembangunan. Selain krisis pangan, masyarakat pedesaan terutama Jawa menghadapi krisis sosial terkait peristiwa pemberontakan G 30 S PKI. Indonesia juga dihadapkan pada ancaman ledakan populasi akibat pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Jalan keluar dalam menghadapi kondisi yang terjadi saat itu adalah dengan melakukan inovasi untuk mengakselerasi produk hasil pertanian dalam hal ini padi melalui apa yang disebut dengan revolusi hijau agar kebutuhan masyarakat akan pangan dapat terpenuhi.

Dalam pelaksanaannya revolusi hijau dimasukkan dalam program Pelita, terutama untuk meningkatkan hasil produksi tanaman pertanian dan perkebunan. Sasaran Pelita I yang dilaksanakan pada periode 1 April 1969 – 31 Maret 1974 adalah terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pangan, sandang, perbaikan sarana dan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja dan kesejahteraan rohani. Titik berat pembangunan saat itu adalah pembaharuan bidang pertanian melalui proses pembaharuan bidang pertanian, karena mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian. Metode-metode khusus yang ditempuh oleh pemerintah antara lain Bimbingan Massal (bimas); Intensifikasi massal (inmas); Intensifikasi khusus (insus), yang kemudian ditingkatkan menjadi "supra insus" dan Sapta Usaha Tani. Saat itulah para petani mengalami perubahan pengetahuan serta keterampilannya dalam mengelola lahan pertanian. Hal ini terjadi karena semakin intensifnya komunikasi antara para petani dengan penyuluh dan juga lembaga penelitian terkait masalah inovasi pertanian baik cara pengolahan lahan maupun teknologi yang digunakan. Lembaga penelitian baik skala nasional maupun internasional bersama ribuan penyuluh saling bahu-membahu dalam menghantarkan pengetahuan baru kepada petani sehingga mendorong terjadinya perubahan. Nilai-nilai ketradisionalan yang selama ini dipegang oleh petani menjadi terpinggirkan.

Peraihan tertinggi revolusi hijau di Indonesia adalah tercapainya swasembada beras dan desa persawahan muncul sebagai basis swasembada beras di Indonesia. Pemerintahan saat itu memilih swasembada beras sebagai narasi besar dalam menggerakkan spirit perubahan terencana dan membebaskan masyarakat dari ancaman kelaparan. Desa persawahan menjadi primadona dari perayaan keberhasilan swasembada beras ini. Adapun inti dari swasembada beras adalah meningkatnya produksi dan produktivitas padi sawah berlipat-lipat sebagai hasil (outcomes) dari penggunaan bibit unggul, pemberian pupuk sintetis dan aplikasi pestisida.

(7)

mengatasi permasalahan utama yang mendasar terpenuhinya kebutuhan pangan ratusan juta penduduk yang tersebar dalam berbagai wilayah, di sisi lain meneguhkan pilihan untuk menerima modernisasi dan menerapkan kapitalisme sebagai narasi besar dalam mengakselerasi perubahan yang dilakukan secara terencana.

Berdasarkan fenomena yang terjadi saat itu adalah revolusi hijau erat kaitannya dengan paradigma pembangunan liberal dalam hal ini adalah teori modernisasi yang ditandai dengan adanya inovasi teknologi dalam pengelolaan pertanian terutama di desa persawahan. Pembangunan di Indonesia yang saat itu dibagi menjadi program yang di sebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun) juga sedikit banyak mengadopsi teori yang disampaikan oleh Walt Rostow melalui 5 (lima) tahap perkembangan masyarakat. Revolusi hijau juga didorong oleh adanya teori kebutuhan dasar di mana kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, sandang dan perumahan merupakan hak rakyat yang harus dipenuhi oleh negara dan hal tersebut tertuang dalam program Pelita I yang menitikberatkan pembangunan pada pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan perumahan.

2. Revolusi Senyap Desa Pedalaman dan Dataran Tinggi (Sebuah Penerapan Teori Marxis dan Teori Post-Strukturalisme)

Desa pedalaman, pinggir hutan dan dataran tinggi memiliki rentang teritorial yang panjang dan ragam komunitas yang banyak. Desa ini mulai terentang dari pinggiran kota dataran rendah, masuk ke inti pedalaman lalu mendaki kaki bukit di atas gunung, selanjutnya merambah ke pinggir dan dalam hutan. Pada sepanjang teritori itu hidup berbagai komunitas peladang dan perkebun menetap, komunitas tebas-bakar dan perladang berpindah, komunitas pemburu dan peramu, komunitas peternak/pastoralis, komunitas agroforestry di pinggir hutan, komunitas adat terpencil bahkan komunitas penghuni hutan.

Desa pedalaman, pinggir hutan dan dataran tinggi memiliki produk komoditas yang bermacam-macam. Dari desa ini dihasilkan tanaman pangan dan hortikultura jagung, sayur mayur, buah-buahan dan ternak yang menyuplai kebutuhan kota dan desa dataran rendah. Dari desa ini dihasilkan cengkih, kakao, kopi, teh dan vanili yang mengisi pasar ekspor.

Ketika desa dataran rendah dan persawahan sedang merayakan swasembada beras melalui revolusi hijaunya, desa pedalaman, desa pinggir hutan dan desa dataran tinggi tetap dengan ketertinggalannya. Ketika jalan raya sudah terhubung antara desa dataran rendah dan kota dan seluruh fasilitas sudah dirasakan oleh para masyarakat persawahan, desa dataran tinggi dan pinggir hutan tetap dengan kebersahajaannya.

(8)

pengelolaan tebas-bakar yang disertai pembukaan hutan, sistem agroforestry baik sederhana maupun yang kompleks dan juga peladangan berpindah.

Jika desa dataran rendah dan persawahan mengalami perubahan melalui revolusi hijau yang diperoleh dari pengetahuan luar seperti dari pemerintah melalui penyuluh pertanian, lembaga donor dan juga para akademisi, desa pedalaman dan dataran tinggi juga mengalami perubahan meskipun tidak membahana seperti desa persawahan. Jika desa persawahan memperoleh inovasi yang didominasi dari luar (pemerintah, lembaga donor, akademisi), maka inovasi perubahan yang dialami oleh desa dataran tinggi justru berasal dari masyarakat itu sendiri hasil dari pengalaman dan interaksi dengan pihak lain.

Jika revolusi hijau pada desa persawahan kental sekali dengan aroma modernisasi atau liberalisasi karena adanya modernisasi teknologi pengolahan maupun pemupukan berupa penggunaan pupuk sintetis yang dibawa oleh para kontributor dari luar masyarakat desa, desa dataran tinggi dan pedalaman justru meraih perubahan dari akumulasi pengetahuan masyarakatnya sendiri.

Kasus perkembangan kakao dalam bentuk kebun rakyat di Sulawesi adalah contohnya. Kakao di Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya merupakan inovasi itu sendiri. Dari kakao itulah berbagai inovasi terpresentasikan. Awal adopsi kakao bukanlah karena proyek besar seperti yang terjadi pada revolusi hijau padi persawahan, ia lebih merupakan hasil dari proses belajar masyarakat sendiri.

Berdasarkan teori yang termasuk dalam pendukung Teori Marxis, kasus Kakao di Desa Tampumea ini termasuk dalam Theory of Participatory Approach. Adapun tahapan dalam pembelajaran sosial (Social Learning) adalah planning,

implementation, reflection dan conceptualization. Sebelum para petani mulai menanam Kakao, mereka terlebih dahulu telah menanam padi, tembakau dan kedelai. Mereka sebenarnya telah mengetahui tentang Kakao berdasarkan informasi yang diperoleh dari pasukan DI/TII. Jika dalam kasus revolusi hijau desa persawahan didominasi oleh proyek resmi pemerintah seperti Bimas, Inmas dan Insus, pihak yang terlibat dalam inisiasi penanaman kakao berasal dari multipihak seperti pedagang, penyelundup, perkebunan besar bahkan pihak militer.

Petani kebun Kakao memperoleh pengetahuannya berdasarkan Experience Based Learning Proccess yaitu dari hasil interaksi antara petani, pedagang, penyelundup dan pihak militer saat itu yang dijadikannya sebagai pengalaman kemudian diterapkannya dalam bentuk penanaman Kakao.

(9)

Jika pada masyarakat desa persawahan telah mengenal dan menggunakan pestisida dalam membasmi hama tanaman padi, tidak demikian dengan masyarakat desa dataran tinggi dan pedalaman. Mereka menggunakan pengetahuan mereka untuk menghadapi serangan Perusak Batang Kakao (PBK). Di Halmahera Utara pada 1990-an, para petani menggunakan semut merah, membuat api kecil dari daun kelapa, membakar rumput atau ban bekas di antara baris tanaman kakao menjelang matahari terbenam atau mengecat buah kakao dengan minyak. Selain itu metode perladangan berpindah secara parsial juga merupakan inovasi yang dilakukan para petani dalam menghadapi PBK. Di Sulawasi Tengah pada 1999, petani menumpangsarikan kakao dengan kelapa sebagai strategi mengatasi serangan PBK. Selain sebagai metode untuk menghadapi serangan PBK, kelapa juga dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan jika pendapatan dari kakao menurun.

Para petani di desa sebenarnya memiliki pengetahuan dalam menganalisis permasalahan yang terjadi meskipun itu secara sederhana. Dalam hal penanggulangan serangan Perusak Batang Kakao (PBK), para petani memiliki teknik untuk menghadapi serangan hama tersebut. Pengetahuan yang dimiliki petani inilah yang biasa kita sebut dengan indigenous knowledge dan juga suatu bentuk kearifan lokal (local wisdom). Indigenous knowledge dan local wisdom inilah suatu bentuk pemikiran posmodernisme. Ketika para petani di desa persawahan telah menggunakan pupuk sintetis dalam mengendalikan hama, para petani kakao di beberapa daerah seperti Halmahera dan Sulawesi Tengah menggunakan pengetahuan asli yang dimilikinya untuk mengendalikan serangan Perusak Batang Kakao (PBK).

3. Inovasi Multipihak pada Pengelolaan Hutan di Konawe Selatan

Desa pinggir hutan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap hutan sebagai sumber matapencahariannya. Sebagian besar dari warganya meramu rotan dan damar, mengambil air nira, memenuhi bangunan rumah dan kayu bakar, menangkap ternak dan burung serta berladang-berpindah di dalam hutan.

Para komunitas di desa pinggir hutan pun menggunakan kearifan lokal yang dimilikinya untuk menjaga keeksistensian serta keberlanjutan hutan agar sumber mata pencahariannya tetap ada.

Seiring berjalannya waktu populasi penduduk di desa pinggir hutan mengalami pertumbuhan. Angka kelahiran yang tinggi dan migrasi penduduk yang keluar rendah merupakan pemicu pemadatan populasi desa pinggir hutan. Izin HPH yang terus bermunculan menjadikan hutan semakin mengalami keterancaman. Saat itulah angka laju deforetasi semakin meningkat. Pengelolaan hutan yang serampangan dan dilarangnya masyarakat desa hutan untuk mencari pendapatan di dalam hutan menjadikan konflik antara pengelola HPH dan masyarakat semakin tajam.

Berbagai upaya pun dilakukan oleh pemerintah untuk menjembatani pihak-pihak yang saling bertikai tersebut. Paradigma pengelolaan hutan pun berubah dari

(10)

pengelolaan hutan tersebut bertujuan untuk melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hutan, masyarakat ikut dilibatkan dalam usaha pengelolaan hutan bukan sebagai pihak yang dikeluarkan atau dipinggirkan dari pengelolaan hutan.

Program-program pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat ini diselenggarakan oleh banyak pihak seperti pihak pemerintah, LSM, Perguruan Tinggi.

Pelibatan berbagai pihak dalam pengelolaan hutan ini merupakan aplikasi dari Teori Pembebasan Marxis yaitu antara lain Teori Pengembangan Masyarakat atau Community Development. Pengembangan masyarakat didefinisikan sebagai suatu proses yang dirancang untuk menciptakan kemajuan kondisi ekonomi dan sosial bagi seluruh warga masyarakat dengan partisipasi aktif dan sejauh mungkin menumbuhkan prakarsa masyarakat itu sendiri.

Dalam hal masyarakat pinggir hutan, pemberdayaan masyarakat dapat dilihat pada kasus pengelolaan hutan di Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Konawe Selatan memiliki potensi hutan jati seluas 38.959 ha yang tersebar pada empat kecamatan dan 46 desa. Masalah utama pengelolaan hutan pada tahun 1990-an adalah illegal logging yang mengancam kelestarian hutan. Sehingga pada tahun 2002 diperkenalkanlah program Social Forestry (SF) yang intinya adalah melibatkan peran masyarakat dalam pengelolaan hutan. Social Forestry merupakan suatu alat pendekatan dalam mengatasi konflik yang terkait dengan pengelolaan hutan yang ada di daerah.

Kemudian Social Forestry mulai dikenalkan di Kendari yang disosialisasikan oleh BPDAS Sampara dan Radio Suara Alam Kendari. Setelah itu pada tahun 2003 dilatihlah 20 orang calon fasilitator Social Forestry (SF) dari LSM dan Dinas Kehutanan. Fasilitator inilah yang nantinya akan mendampingi masyarakat untuk ikut aktif terlibat dalam pengelolaan hutan jati di Konawe Selatan.

Pelibatan masyarakat ini antara lain dalam hal pembuatan peta partisipatif menggantikan peta kawasan sebelumnya yang bertujuan untuk mengatasi konflik dalam hal penentuan batas area kelola. Pemetaan partisipatif ini didukung oleh JICA-Dephut yang kemudian melahirkan peta kelola kawasan untuk setiap kelompok dan dikompilasi oleh BPDAS Sampara.

Berdasarkan tahapan dalam teori Community Development, kegiatan pembuatan peta partisipatif ini termasuk dalam tahap Technical Assistance Approach. Maksudnya adalah para fasilitator yang telah dilatih oleh P3AE-UI ini mendampingi masyarakat yang tujuannya adalah melakukan peningkatan kemampuan teknis komunitas. Jika kemampuan teknis telah dimiliki oleh masyarakat, diharapkan dalam masyarakat tersebut akan tumbuh sifat kemandirian (Self-Help Approach).

(11)

Pemberdayaan masyarakat terus dilakukan antara lain dengan diikutkannya para masyarakat yang terlibat dalam KSF tersebut dalam pelatihan-pelatihan pengelolaan hutan secara berkelanjutan seperti pelatihan inventarisasi hutan, magang GIS serta kunjungan shared-learning.

Dalam hal keikutsertaan pada berbagai pelatihan pengelolaan hutan merupakan suatu bentuk aplikasi dari Teori Community Empowerment. Masyarakat menjadi bertambah pengetahuannya dalam hal pengelolaan hutan.

4. Multi Paradigma Pembangunan pada Desa Pantai dan Pesisir

4.1 Modernisasi Alat Tangkap dan Pembuatan Perahu

Sebagian besar kota di Indonesia merupakan kota pantai, akan tetapi sebagian besar isi pantai dan pesisir itu adalah desa. Pada tahun 2011 terdapat 10.630 desa berciri pantai dan pesisir dengan penduduk sekitar 7,8 juta jiwa yang penghasilannya kurang dari $1/hari. (Bakti News, 2011).

Dahulu sejarah tentang kemaritiman Indonesia begitu membahana, akan tetapi semua itu telah berubah. Desa pesisir dan pantai semakin termarjinalkan. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah belum dapat menyentuh desa pesisir dan pantai. Kebijakan yang dilakukan pemerintah melalui kementerian dan juga perencanaan belum dapat merubah kondisi masyarakat desa pesisir dan pantai ke arah yang lebih baik.

Di saat pembangunan di daratan sudah semakin maju, desa pantai dan pesisir semakin jauh mengalami ketertinggalan. Daerah-daerah yang dahulu terkenal akan kejayaan kemaritimannya kini telah memudar. Banjarmasin yang peradaban sungainya telah dikenal luas kini mengalami kemunduran akibat pelaksanaan pembangunan yang berorientasi pada daratan.

Desa pantai dan pesisir tengah berada dalam kerentanan akan bencana, di mana rumah-rumah mereka rawan akan tiupan angin kencang dan ombak yang begitu kencang. Komunitas nelayan yang memiliki formasi sosial komersial semi kapitalis yang telah menggunakan teknologi modern dan perahu bermesin yang bekerjasama dengan para pemilik modal telah terjadi kesenjangan yang begitu besar dalam hal pendapatan antara pemilik modal dan pekerja.

Keterpencilan desa pantai dan pesisir yang menjadikan fasilitas-fasilitas umum serasa begitu jauh seperti keberadaan guru, paramedis baik suster maupun dokter.

(12)

Jika revolusi hijau pada desa persawahan terasa begitu jelas terlihat, sebenarnya desa pantai dan pesisir juga pernah mengalami hal yang serupa yaitu yang disebut dengan revolusi biru meskipun tidak segegap gempita desa persawahan. Jika desa persawahan mengalami modernisasi dalam pengelolaan pertanian seperti penggunaan pupuk sintetis dan pestisida, begitu juga yang terjadi dengan desa pantai dan pesisir. Modernisasi alat tangkap dan juga perahu telah dialami oleh para penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Modernisasi pada desa pantai dan pesisir terjadi pada tahun 1980-an. Transformasi yang ingin dijalankan dari nelayan tradisional-subsisten menjadi nelayan modern-komersial adalah salah satu bentuk modernisasi. Perubahan alat tangkap yang sederhana menjadi yang lebih canggih sehingga dapat menjangkau laut dalam. Begitu juga dengan penggunaan perahu layar bertonase kecil yang hendak bertransformasi menjadi kapal bertonase besar dengan menggunakan mesin. Kelembagaan yang bersifat patron-klien yang hendak ditransformasikan menjadi kelembagaan formal dalam ikatan ekonomi-rasional.

Contoh inovasi yang terjadi pada desa pantai dan pesisir adalah yang terjadi pada nelayan di Kelurahan Tanah Jaya, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sampai dengan tahun 1970-an, alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan adalah berupa panah, tombak, pancing, jala dan sero. Perahu yang perubahan teknolgi alat tangkap yaitu bagan, kelembagaan juga akhirnya terbentuk yang disebut dengan pungkaha-sahi (yang memimpin-anggota) yaitu antara si pemilik modal pemilik bagan yang juga memiliki kemampuan manajerial dengan pekerja.

Inovasi teknologi bagan dan juga kelembagaan pungkaha-sahi inilah yang menjadikan produktivitas tangkapan nelayan kecamatan Kajang mulai meningkat.

Inovasi alat tangkap terjadi kembali pada tahun 1977 dari hasil interaksi dengan nelayan dari Kajang yang bekerja pada kelompok nelayan panja Bone yaitu adanya teknologi rompong dan panja (gill-net). Peningkatan produksi pun terjadi sehingga mendorong lahirnya kelompok pedagang ikan serta usaha ikan asap dan ikan pindang.

(13)

Pada tahun 1995 pemancing tuna dari Bone memperkenalkan rompong Taiwan yang memang merupakan buatan perusahaan asing Taiwan. Perahu pun didesain untuk merepon penggunaan rompong Taiwan ini yang menyediakan ruang penyimpanan es balok agar ikan tetap segar.

Modernisasi juga terjadi pada proses pembuatan perahu, salah satu contohnya adalah komunitas pembuat perahu pinisi di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang berasal dari Desa Ara dan Kelurahan Tanalemo. Dahulu desa ini masyhur akan pandai perahunya. Perahu yang mereka buat banyak digunakan oleh saudagar Konjo, Makassar dan Bugis hingga tahun 1970-an. Kemunduran terjadi saat pemerintah menerapkan regulasi modernisasi pelayaran dan saudagar Tionghoa mengambil alih bisnis perkapalan dengan menggunakan kapal bermesin.

Inovasi peralatan, bahan produksi dan cara kerja yang tradisional mulai dilakukan oleh para komunitas pandai perahu dari Desa Ara dan Tanaberu saat peralihan pasar dari perahu pinisi tradisional menjadi pasar kapal bermesin. Perkembangan terutama terjadi antara sebelum dan sesudah pertengahan tahun 1970-an. Saat itu terjadi perubahan pasar dari saudagar pelayaran lokal ke pengusaha Tionghoa dan pembeli dari luar negeri. Inovasi teknologi yang dilakukan merupakan suatu bentuk strategi dalam merespons peningkatan volume kerja, baik karena ukuran perahu yang makin besar, bertambahnya komponen perahu maupun adanya peningkatan permintaan.

Perkembangan teknologi tersebut mendorong adanya peningkatan kemampuan kerja sehingga volume kerja yang lebih besar dapat terselesaikan. Peralatan yang digunakan oleh para pandai perahu sebelum pertengahan 1970-an merupakan peralatan yang sederhana, manual dan diproduksi dengan memanfaatkan pengetahuan lokal asli seperti gergaji bantam, gergaji pemotong, gergaji dorong, gergaji kecil, kampak dan cangkul kayu.

Selain peralatan yang sederhana, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan perahu juga menggunakan bahan yang tradisional seperti pasak dari kayu. Lem yang digunakan sebagai perekat pun berasal dari alam yaitu berasal dari kulit kayu yang ditumbuk bersama air. Ada juga perekat yang menggunakan bahan dasar kerak pelepah enau yang dikeringkan kemudian ditumbuk, dempul yang berasal dari kapur dan minyak yang kemudian dikentalkan.

Peralatan elektronik mulai dikenal pada pertengahan tahun 1970-an yaitu penggunaan mesin bor, ketam listrik, chain saw, amplas listrik yang kesemuanya menggantikan alat-alat tradisional. Pasak kayu yang dahulu digunakan kemudian berganti dengan bahan-bahan sintetis seperti baut atau mur besi. Perekat alami telah berganti dengan lem sintetis yang dapat dibeli di toko.

(14)

Modernisasi yang dialami masyarakat desa penangkap ikan dan pembuat perahu telah mentransformasikan pengetahuan mereka. Produktivitas dan efektifitaspun terjadi di kedua desa tersebut. Revolusi biru pun terjadi, akan tetapi transformasi tersebut belum dapat menggerakkan masyarakat nelayan menjadi masyarakat industri pengolahan ikan. Begitu juga dengan masyarakat pembuat kapal, revolusi yang terjadi berupa perubahan penggunaan peralatan dan bahan pembuat kapal belum cukup menjadikan masyarakat tersebut menjadi masyarakat industri perkapalan.

4.2 Program Pemberdayaan Masyarakat Desa pantai dan Pesisir

Selain modernisasi yang terjadi pada komunitas desa pengkap ikan dan pembuat kapal yang erat dengan pembangunan paradigma ala Liberalisme, desa pantai dan pesisir juga ternyata mengimplementasikan paradigma pembangunan marxis yaitu adanya program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat pantai dan pesisir ini dapat dilihat pada adanya 2 (dua) kegiatan besar yaitu Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP).

PEMP merupakan satu bentuk program pemberdayaan masyarakat yang memiliki tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pengembangan kegiatan ekonomi, peningkatan kualitas SDM dan penguatan kelembagaan sosial ekonomi dengan mendayagunakan sumberdaya kelautan dan perikanan secara optimal dan berkelanjutan. Penerima manfaat PEMP adalah masyarakat pesisir yang berusaha sebagai nelayan, pembudidaya ikan, pedagang hasil perikanan, pengolah ikan, pengusaha jasa perikanan, pengelola pariwisata bahari serta usaha/kegiatan lainnya yang terkait dengan kelautan dan perikanan seperti pengadaan bahan dan alat perikanan serta bahan bakar minyak (solar packed dealer) atau depot BBM yang tergolong skala usaha mikro dan kecil.

Dalam Teori Community Development terdiri dari bebrapa bagian yaitu

(15)

Dalam Teori Pendidikan Pembebasan yang dicetuskan oleh Paulo Freire, pendidikan merupakan suatu cara untuk menumbuhkan kesadaran kritis individu tentang situasi lingkungannya dalam hal ini pendidikan harus dapat menyentuh kesadaran masyarakat. COREMAP merupakan program pemberdayaan masyarakat yang tujuannya adalah melakukan rehabilitasi dan pemeliharaan terumbu karang. Komponen pertama dari tujuan program ini adalah peningkatan kesadaran publik (public awareness) mengenai pentingnya kepedulian atas pelestarian terumbu karang. Cara-cara yang dilakukan untuk dapat menumbuhkan rasa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberadaan dan kelestarian terumbu karang antara lain dengan melalui berbagai instrumen seperti : penyebaran buku, brosur, leaflet, seminar, pelatihan dan workshop, pembuatan pondok dan papan informasi, pengembangan kurikulum muatan lokal, pemberitaan, diskusi dan iklan radio dan TV lokal, lomba tulis, foto dan cerdas cermat, penyebaran poster-baju-topi, penguatan jurnalis lingkungan, pameran, pemilihan duta karang dan sebagainya. Publikasi tentang penyelamatan terumbu karang juga merupakan bagian dari upaya untuk merubah pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya terumbu karang dan ini merupakan bagian dari teori Community Empowerment (Penguatan Masyarakat).

Pengelolaan bersama masyarakat atau Community Based Management juga diterapkan pada proyek COREMAP ini yaitu dengan dibentuknya Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Selain itu, dibentuk juga kelompok masyarakat (pokmas) dan kelompok gender serta kelompok masyarakat pengawas. (pokmaswas).

Dalam teori Participatory Approach, pendampingan yang dilakukan oleh institusi atau lembaga haruslah mengadopsi pengalaman masyarakat setempat. Begitupun yang terjadi pada program COREMAP ini, melalui LPSTK desa pesisir membuat Rencana Pengelolaan Terumbu Karang secara partisipatif. Di dalamnya mereka menentukan daerah perlindungan laut bagi wilayahnya yang kemudian disepakati lokasi terumbu karang yang harus dipelihara bersama.

4.3 Representasi Identitas Masyarakat Desa Pantai dan Pesisir (Aplikasi Teori Post-Srukturalisme)

Secara terminologi Post-Strukturalisme berasal dari terminologi Strukturalisme yang diberi prefiks ‘post’, yang berarti bahwa Post-strukturalisme merupakan dekonstruksi dari konsep Strukturalisme. Strukturalisme sendiri adalah sebuah perspektif yang mengkaji mengenai konstruksi sosial budaya struktur-struktur yang dapat memberi makna terhadap kehidupan kita serta membentuk perilaku kita. Sedangkan Post-Strukturalisme menganalisa struktur yang membentuk makna-makna sosial. Artinya, konsep mengenai identitas yang memberi makna-makna terhadap suatu objek merupakan suatu aspek penting bagi Post-Strukturalisme (Campbell, 2007).

(16)

barat dan negara-negara berkembang pun mengakuinya. Pemenangan wacana oleh dunia barat ini didukung oleh adanya faktor kuatnya pengetahuan mereka sehingga mereka (dunia barat) berani untuk memproduksi wacana dalam hal ini wacana tentang pembangunan.

Hal yang seharusnya dilakukan oleh negara-negara berkembang adalah dengan melakukan penguatan pengetahuan (empowering knowledge) sehingga suatu saat akan ikut dalam kontestasi wacana.

Pandangan poststrukturalis dalam ruang lingkup yang lebih kecil dapat dilihat pada fenomena adanya pemekaran daerah di beberapa daerah di Indonesia. Perspektif poststrukturalis yang fokusnya adalah representasi diri dan perjuangan identitas merupakan keberkahan tersendiri dari adanya pemekaran daerah.

Representasi identitas setidaknya kita dapat lihat pada sekumpulan desa pantai dan pesisir pada pulau kecil seperti Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang kita kenal dengan dengan Kabupaten Wakatobi (Sulawesi Tenggara). Wakatobi menunjukkan identitasnya sebagai kawasan yang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang ada di bawah laut. Representasi identitas itu dinyatakan dalam visi daerahnya yaitu “Mewujudkan Surga Nyata Bawah Laut di Simpang Tiga Karang Dunia” yang kemudian dicanangkanlah visi jangka panjangnya untuk menjadi “Pusat Biodiversitas Dunia”.

(17)

PENUTUP

Berdasarkan pembahasan tulisan di atas, dapat disimpulkan bahwa desa yang selama ini kita anggap hanya sebuah realitas yang statis ternyata tersimpan begitu banyak kompleksitas. Banyak paradigma yang terhimpun di dalamnya, karena begitu banyak kontributor yang terlibat dalam dinamika perubahan pada tiap-tiap desa tersebut.

Paradigma pembangunan baik Liberal, Marxis maupun Post-Strukturalis ternyata telah terepresentasikan pada tiap-tiap desa. Revolusi pun terjadi baik yang membahana maupun yang gerilya. Inovasi yang dilakukan oleh masyarakat tiap-tiap tipe desa ikut membawa perubahan. Desa persawahan mengalami perubahan dengan Revolusi Hijaunya yang kemudian terkenal dengan Swasembada beras, desa dataran tinggi yang mengaplikasikan penanaman Kakao dari hasil interaksi dengan berbagai pihak, desa pinggir hutan yang mengimplementasikan teori Community Development

dalam pengelolaan hutan jati bahkan paradigma post-strukturalis yang mulai digemakan oleh masyarakat Wakatobi dan Raja Ampat.

Kesemua paradigma yang diterapkan pada berbagai tipe desa tersebut merupakan hasil dari pertarungan wacana pengetahuan yang dibawa oleh berbagai pihak.

(18)

Isu Desa

Paradigma Liberal/Modernisme Marxis2 dan Post-strukturalis3 Marxis Liberal1, Marxis2 dan

Post-strukturalis3

Teori Pendukung Teori Kebutuhan Dasar, Modernisme

Theory of Participatory Approach2

Community Development2 Modernisme1, Community

Development2, Pendidikan

2.Teknik penanggulangan PBK3 Kelompok Social Forestry 1. Pembuatan alat tangkap dan bahan pembuat

perahu yang modern1

(19)

Daftar Pustaka

Campbell, David., 2007. Poststructuralism, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 203-228.

Salman, D., 1995. Arah Perubahan Sosial di Pedesaan Pasca Revolusi Hijau, Analisis, Januari-Februari. Jakarta : CSIS

Gambar

Tabel Perbandingan Penerapan Paradigma Pembangunan pada tiap Tipe Desa

Referensi

Dokumen terkait

TAHUN ANGGARAN 2014 URUSAN PEMERINTAHAN ORGANISASI : : 1.08. Berdasarkan

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyeleksaikan penelitian dan menulis laporan skripsi

My retroductive codes (Ragin 1994 ) focused on indicators of the post-gay era (e.g., deductive codes that referenced assimilation and the recession of sexual identity) along

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan karbon aktif adalah tempurung kelapa yang memiliki sifat – sifat sebagai berikut :. Sifat

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) rata-rata skor kemampuan Mahasiswa Pendidikan Fisika FMIPA UNM menyelesaikan soal UN Mata Pelajaran

Pancasila sebagai ideologi nasional dapat diartikan sebagai suatu pemikiran yang memuat pandangan dasar dan cita-cita mengenai sejarah, manusia, masyarakat, hukum dan Negara

Program Pemberian Pinjaman Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan kepada masyarakat miskin Kelurahan tidar Utara Kecamatan magelang selatan dianalisis berdasarkan 3

“ Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Perekonomian Wilayah Bagian Aceh Timur (Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tamiang)” , dengan melihat