Manajemen Keuangan
Keluarga Muslim
Modul 4
Untuk Para Calon Suami, Calon Istri, Suami atau Istri
Oleh
Khoiril Arief Saleh
Mensucikan Harta Dengan Zakat
Oleh : Khoiril Arief Saleh
Jl. Bolavoli 18 Arcamanik, Bandung. Telp. (022)7102411
Minimal ada tiga hal yang wajib dicermati oleh keluarga muslim dalam mengatur harta atau uang. Tiga hal penting tersebut adalah:
1. Mencari harta dengan cara yang baik. 2. Membersihkan harta.
3. Membagi penggunaan harta sesuai porsi yang benar.
Dalam tulisan ini difokuskan pada pembersihan harta. Harta yang diperoleh dengan cara halal dianggap masih tercampur dengan hak orang lain. Untuk itu perlu disucikan dengan cara membayar zakat. Penjelasan rinci tentang pelaksanaan pembayaran zakat (zakat harta) disajikan dengan mengetengahkan dasar-dasar hukumnya dan detil pelaksanaannya. Selain itu diterangkan pula wacana tentang perlunya zakat pada barang-barang mewah yang dimiliki keluarga muslim.
1. Landasan Utama Tentang Kewajiban Membayar Zakat
Penjelasan global tentang kewajiban zakat diterangkan dalam ayat-ayat Al-Quran yang artinya sebagai berikut:
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.
(Qs. 2:43)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu):" Janganlah kamu
menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Qs. 2:83)
Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan
bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Qs. 2:110)
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Qs. 2:277)
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah
tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari takutnya. Mereka berkata: "Ya Rabb kami, mengapa engkau wajibkan berperang kepada kami Mengapa tidak engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi "Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun". (Qs. 4:77)
Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin,
mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (Qs. 4:162)
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami
angkat di antara mereka orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjamkan yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Ku-masukkan kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir diantaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus "(Qs. 5:12)
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (Qs. 5:55)
Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; Sesungguhnya kami
kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksaku akan Ku-timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami". (Qs. 7:156)
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin di
mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan
zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. 9:5)
Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menuaikan zakat, maka (mereka itu) adalah
saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (Qs. 9:11)
Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi
penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. 9:71)
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs. 9:103)
Dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, (Qs. 19:31)
Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang
di ridhai di sisi Rabbnya. (Qs. 19:55)
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah, (Qs. 21:73)
(yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya
mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Qs. 22:41)
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah
memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Qs. 22:78)
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (Qs. 23:1), (yaitu) orang-orang
yang khusyu' dalam shalatnya (Qs. 23:2), dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (Qs. 23:3), dan orang-orang yang menunaikan zakat (Qs. 23:4),
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (Qs. 24:37). (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Qs. 24:38)
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi
Thaa Siin. (Surat) ini adalah ayat-ayat al-Qur'an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan
(Qs. 27:1). untuk menjadi petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman (Qs. 27:2), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (Qs. 27:3)
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia,
maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat
yang kamu maksudkan untuk mencari keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (Qs. 30:39)
Inilah ayat-ayat al-Qur'an yang mengandung hikmat (Qs. 31:2), menjadi petunjuk dan
rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (Qs. 31:3). (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (Qs. 31:4)
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (Qs. 33:33)
Katakanlah: "Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan
kepadaku bahwasannya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya (Qs. 41:6), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (Qs. 41:7)
Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum
pembicaraan dengan Rasul Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. 58:13)
Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasannya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua
pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. 73:20)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
Hampir sebagian besar ayat-ayat tertulis diatas menjelaskan tentang kewajiban untuk melaksanakan zakat beserta sangsi dan pahalanya. Hal itu mengisyaratkan bahwa zakat adalah suatu kewajiban yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan.
Surat 9 ayat 60 khusus menjelaskan tentang siapa-siapa yang berhak menerima zakat yang artinya sebagai berikut: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
Ayat-ayat tersebut diatas secara umum menjadi landasan dasar diwajibkannya zakat atas orang muslim. Penjelasan diatas belum cukup untuk melaksanakan zakat secara benar, hal-hal rincinya ditunjukkan dalam hadis-hadis Rasulullah yang akan diuraikan dalam penjelasan selanjutnya.
2. Penjelasan Rinci Tentang Pelaksanaan Zakat
Sebagai rukun Islam yang ketiga, zakat mempunyai cirri yang sangat khusus dibanding lainnya. Tidak ada orang dimarahi karena tidak mau membaca syahadat, tidak ada orang dimasukkan penjara karena tidak melakukan salat, tidak ada orang dipukuli karena tidak berpuasa, dan tidak ada pula orang dimaki-maki karena tidak melaksanakan haji. Bagaimana dengan zakat?.
Orang tidak mau membayar zakat, benar-benar diperangi pada zaman sahabat. Pernah terjadi dimana zakat diambil dengan paksa. Hal ini sesuai perintah Al-Quran dalam surat 9 ayat 103 yang artinya sebagai berikut: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Oleh sebab itu zakat adalah suatu kewajiban yang benar-benar harus dilaksanakan. Bila belum dilaksanakan, artinya pembayar zakat dianggap masih berhutang. Secara rinci kewajiban zakat dapat dikelompokkan menjadi beberapa masalah antara lain pada:
1. Kepemilikan simpanan emas, perak, uang dan barang berharga lainnya 2. Usaha perdagangan
3. Usaha pertanian 4. Usaha pertambangan 5. Usaha kehutanan
6. Usaha pemanfaatan sumber daya perikanan dan budi daya ikan 7. Kepemilikan barang temuan
8. Usaha mengambil binatang liar, madu, sarang burung dan sejenisnya 9. Binatang ternak besar
10. Binatang ternak unggas dan binatang kecil lainnya 11. Profesi
12. Kepemilikan barang mewah
2.1. Zakat Untuk Simpanan Emas, Perak, Uang Dan Barang Berharga
Zakat untuk barang-barang simpanan seperti emas, perak, uang atau barang berharga lainnya (intan, batu permata ainnya, mutiara, dan sejenisnya) dikenakan setelah berlangsung selama satu tahun dan besarnya telah melampaui nisab. Besar nisab uang dan barang lainnya ditentukan setara dengan nilai emas murni seberat 94 gram (menurut Sulaiman), sedang nisab perak seberat 350 gram. Ada dua pendapat mengenai nisab barang-barang tersebut. Sebagian berpendapat bahwa nisab dihitung dari total emas, uang dan barang simpanan lainnya. Sebagian lagi berpendapat bahwa nisab dihitung dari tiap-tiap jenisnya, artinya nisab baru terpenuhi bila berat simpanan emas sebesar 94 gram, simpanan uang setara dengan 94 gram, dan simpanan barang-barang berharga lainnya setara dengan emas 94 gram.
Bila jumlah barang tersebut diatas telah melebihi nisab dan waktunya telah mencapai setahun, maka wajiblah untuk dikeluarkan zakatnya sebesar 2.5 % setiap tahun. Bentuk zakatnya dapat berupa emas, perak atau uang yang setara dengan perhitungannya.
2.2. Zakat Untuk Usaha Perdagangan
Sebuah usaha perdagangan dengan nilai melebihi nisab dan telah berjalan selama satu tahun harus dikeluarkan zakatnya. Nisab zakat perdagangan ini setara dengan nisab emas, yaitu 94 gram emas. Tidak terjadi perbedaan pendapat dari para ulama tentang nisab usaha perdagangan.
Jumlah zakat yang harus dikeluarkan untuk mensucikan usaha perdagangan adalah sebesar 2.5 % setiap tahun dalam bentuk uang. Dihitung dari manakah nilai 2.5 % tersebut?. Dalam hal ini terjadi dua pendapat ulama. Sebagian ulama menghitung dari total nilai usahanya (total asetnya), sebagian ulama menghitung dari nilai labanya.
Mereka yang menghitung dari total asetnya didasarkan atas hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud sebagai berikut: “Rasulullah memerintahkan kami agar mengeluarkan sedekah dari segala yang kami maksud untuk dijual”. Kata “memerintahkan” berarti wajib, maka kata “sedekah” dalam hal ini berarti zakat. Dalam kalimat tersebut terkandung maksud dihitung dari total aset.
2.3. Zakat Untuk Usaha Pertanian
Perhitungan zakat pertanian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu: 1. Golongan usaha pertanian yang menggunakan lahan tadah hujan. 2. Golongan usaha pertanian yang menggunakan lahan irigasi.
3. Golongan usaha pertanian yang hampir semuanya diolah dengan teknologi hasil kerja manusia. Usaha ini bisa berupa usaha pemuliaan benih, penelitian tanaman, pertanian hidroponik, dan sejenisnya).
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Umar, Rasulullah SAW. bersabda: “Yang diairi oleh air hujan, mata air, atau air tanah, zakatnya 10 %, sedangkan yang diairi penyiraman, zakatnya 5%”. Menurut Jabir Rasulullah SAW. bersabda: “Yang diairi dengan sungai atau hujan, zakatnya 10 %, sedangkan yang diairi dengan pengairan 5 %”.
Usaha pertanian golongan ketiga, lebih bernuansa usaha perdagangan. Tidak bersangkutan dengan lahan irigasi maupun tadah hujan. Zakat dari usaha ini dianalogikan dengan usaha perdagangan, yaitu sebesar 2.5 % tiap tahunnya bila nilai asetnya melebihi nisab perdagangan (setara dengan 94 gram emas).
2.4. Zakat Untuk Usaha Pertambangan
Usaha pertambangan dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Golongan pertambangan dengan eksplorasi dan pengolahan yang sulit dan berisiko tinggi, misalnya minyak, gas bumi, panas bumi, dan sebagainya.
2. Golongan pertambangan dengan eksplorasi dan pengolahan yang sangat mudah dan berisiko rendah, misalnya tambang pasir, gamping, batu bara, dan sebagainya.
Golongan pertama dikenakan zakat sebesar 2.5 % (menurut Sulaiman Rasyid), sedang golongan kedua dikenakan sebesar 10 % dari jumlah yang diambil bila diperkirakan dalam setahun nilainya melebihi nisab emas (94 gram emas). Pembayaran zakatnya tidak perlu menunggu hingga berlangsung setelah satu tahun tetapi bersamaan dengan waktu pengambilannya.
Pembanyarannya bisa diganti dalam bentuk uang yang setara dengan nilai zakatnya.
2.5. Zakat Untuk Usaha Kehutanan
Zakat usaha kehutanan hampir sama dengan usaha pertambangan, dalam hal ini juga dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Golongan usaha kehutanan dengan melakukan penanaman dan perawatan hutan secara cermat.
2. Golongan usaha kehutanan dengan tidak melakukan hal-hal yang dilakukan golongan pertama.
Golongan pertama dikenakan zakat sebesar 5 % dari hasil yang diambil sebagaimana zakat pertanian beririgasi, zakat tersebut dibayarkan pada saat selesai mengambilnya dan tidak perlu ditunggu hingga satu tahun. Golongan kedua dikenakan sebesar 10 % sebagaimana zakat pertanian tadah hujan. Nisab kedua golongan tersebut diperhitungkan dengan perkiraan pengambilannya selama setahun dan nilainya dianalogikan dengan nisab emas (94 gram emas).
Pembayarannya bisa ditukar dengan uang yang bernilai setara dengan besar zakatnya.
2.6. Zakat Untuk Usaha Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Dan Budi Daya Ikan
Zakat usaha pemanfaatan sumber daya perikanan (mengambil ikan, mutiara, rumput laut dan hasil-hasil lainnya di air laut) dan budi daya ikan dikenakan zakat sebesar 10 % setiap mengambilnya. Nilai nisabnya dihitung dari perkiraan hasilnya dalam setahun dan disetarakan dengan nisab emas (94 gram emas). Pembayarannya tidak perlu menunggu setelah berlangsung satu tahun tetapi dilakukan pada saat mengambil hasilnya.
Bila budi daya ikan itu dilakukan dengan mengerahkan teknologi, memberi makan dan dengan perawatan yang sulit nilai zakatnya dianalogikan dengan pertanian beririgasi, yaitu sebesar 5 % setiap kali mengambil hasilnya.
Pembayarannya bisa ditukar dengan uang yang bernilai setara dengan besar zakatnya.
2.7. Zakat Untuk Barang Temuan
tertentu, dan sejenisnya. Barang temuan dan segala sesuatu pendapatan yang dapat disetarakan dengannya, dikenakan zakat sebesar 20 %. Zakat ini tidak bernisab dan dikeluarkan pada saat menemukannya dan telah menjadi miliknya. Pembayarannya bisa ditukar dengan uang yang bernilai setara dengan besar zakatnya.
2.8. Zakat Usaha Mengambil Binatang Liar, Madu, Sarang Burung Dan Sejenisnya
Hasil mengambil madu baik dari lebah bebas ataupun yang dipelihara dikenakan zakat sebesar 10 % dari hasil pengambilannya. Demikian juga dengan pengambilan sarang burung dan sejenisnya dikenakan zakat sebesar 10 % dari hasil pengambilannya. Dibayarkan pada saat selesai mengambil hasilnya.
Selain itu, mengambil binatang atau hasil dari binatang liar lainnya, misalnya buaya, kijang, gajah dan sebagainya, juga dikenakan zakat sebesar 10 % dari hasilnya.
Pembayarannya bisa ditukar dengan uang yang bernilai setara dengan besar zakatnya.
2.9. Zakat Binatang Ternak Besar
Dalam hal ini binatang ternak adalah binatang yang diternakkan untuk diambil daging, kulit, bulu, susu atau lainnya. Bukan binatang yang dipergunakan untuk bekerja, perang, penelitian dan sejenisnya. Binatang ternak ini bisa berupa kambing, sapi, kerbau, kuda, unta, dan seterusnya.
2.10. Zakat Binatang Ternak Unggas Dan Binatang Kecil-Kecil Lainnya
Usaha ternak unggas dan binatang kecil-kecil lainnya dianalogikan dengan usaha perdagangan. Hal ini disebabkan biasanya ternak hewan ini memerlukan perawatan yang intensif, memberi makan, memberi minum, memberi obat, mengkandangkan dan seterusnya yang kesemuanya itu memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Zakat usaha ini sebesar 2.5 % sesuai usaha perdagangan. Ketentuan-ketentuan lainnya juga sama seperti usaha perdagangan.
2.11. Zakat Untuk Profesi
Pada zaman Rasulullah SAW. zakat ini belum ada. Berdasarkan ijtihat beberapa ahli agama profesi merupakan hal yang layak untuk dizakati.
Zakat profesi ini dikenakan pada profesi yang dapat menghasilkan uang, misalnya dokter, konsultan, ahli keuangan, ahli hukum dan seterusnya. Dalam hal ini termasuk segala sesuatu pekerjaan yang menghasilkan gaji (pegawai swasta atau pemerintah). Nisab zakat ini dianalogikan dengan nisab emas (94 gram emas). Perhitungan nisab ini diberlakukan pada total pendapatan selama satu tahun. Zakat ini juga dikenakan setelah bekerja selama satu tahun dan nilainya sebesar 2.5 % dari total pendapatan setiap tahun.
Dalam menentukan total pendapatan setahun, masih terjadi perbedaan pendapat. Sebagian ulama menghitung dari pendapatan kotor selama setahun dan sebagian ulama menghitung dari pendapatan bersih selama setahun.
2.12. Zakat Untuk Kepemilikan Barang Mewah
Belum ada ketentuan zakat tentang hal tersebut pada zaman Rasulullah SAW. Rasulullah SAW. selalu mencontohkan untuk hidup sederhana dan tidak melampaui batas. Beliau melarang laki-laki menggunakan emas dan sutera, melarang orang minum menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari perak dan sejenisnya. Berikut ini disajikan beberapa ayat Al-Quran yang menjelaskan bahwa Allah SWT. tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas:
…………(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Qs. 2:190)
…………Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Qs.
7:55)
Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. (Qs. 20:81)
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu
dan dianggap sebagai simpanan. Sesuai aturan zakat, maka barang simpanan berupa 2 rumah tipe 70 m dianalogikan sebagai simpanan uang atau emas, sehingga dikenakan zakat sebesar 2.5 % setiap tahunnya. Dilain pihak ada seseorang memiliki rumah berukuran 500 m, mereka tinggal di rumah itu. Menurut hukum zakat, mereka tidak dikenakan zakat atas rumah tersebut meskipun nilai rumahnya jauh lebih mahal dari 3 rumah tipe 70 m yang telah dijelaskan. Adilkah ini?.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas maka sebaiknya barang-barang mewah yang dianggap melampaui batas dikenakan zakat seperti zakat barang simpanan, yaitu 2.5 % setiap tahunnya. Masalahnya sekarang adalah menentukan kriteria barang mewah yang dianggap melampaui batas tersebut. Memang sulit untuk menentukannya, karena sangat relatif. Dalam hal ini kriterianya diserahkan kepada pemilik barang itu sendiri, berbicaralah dengan hati nurani mereka sendiri. Bila mengalami kesulitan, disarankan untuk membandingkan dengan kondisi lingkungan dimana mereka tinggal, kelebihan nilai dari lingkungan, dapat dianggap sebagai nilai kemewahan.
Bila anda membenarkan apa yang telah dijelaskan diatas, silahkan mengikutinya, bila anda tidak membenarkannya, silahkan untuk tidak melaksanakannya.
3. Sangsi Kepada Mereka Yang Tidak Membayarkan Zakat
Bukan suatu hal ringan sangsi yang dikenakan pada merekan yang tidak melaksanakan membayar zakat. Beberapa hadis yang menjelaskan tentang sangsi zakat dituliskan sebagai berikut:
Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah dalam hadis sebagai berikut: Rasulullah bersabda: “Siapa yang dikaruniai Allah kekayaan tetapi tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti ia akan didatangi oleh seekor ular jantan gundul, yang sangat berbisa dan sangat menakutkan dengan dua bintik diatas kedua matanya, lalu melilit dan mematuk lehernya sambil berteriak, saya adalah kekayaanmu, saya adalah kekayaanmu yang kau timbun-timbun dulu. Nabi kemudian membaca ayat: Janganlah orang-orang yang kikir sekali dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka itu mereka mengira bahwa tindakannya itu baik bagi mereka. Tidak, tetapi buruk bagi mereka; segala yang mereka kikirkan itu dikalungkan dileher mereka nanti pada hari kiamat”.
Selain hadis diatas diriwayatkan pula oleh Muslim bahwa Nabi SAW. bersabda: “Pemilik emas atau perak yang tidak menunaikan kewajibannya, maka emas atau perak itu nanti pada hari kiamat dijadikan seterikaan, lalu dipanaskan dengan api neraka, kemudian digosokkan kerusuk, muka dan punggungnya selama lima puluh ribu tahun, sampai selesai perhitungannya dengan orang-orang lain, untuk melihat ia masuk surga atau neraka. Dan pemilik lembu atau kambing yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka nanti pada hari kiamat binatang-binatang itu akan menginjak-injaknya dan menandukinya setelah selesai seekor datang seekor lagi berbuat hal yang sama sampai selesai perhitungannya dengan orang-orang lain, selama lima puluh tahun menurut perhitungan tahun kalian, untuk melihat apakah ia masuk surga atau masuk neraka”.
Sehubungan dengan sangsi yang sangat berat, maka janganlah kita lalai membayar zakat.
4. Penjelasan Tentang Penerima Zakat
Telah dijelaskan diatas pada surat 9 ayat 60 tentang orang-orang yang berhak menerima zakat. 8 (delapan) golongan orang yang berhak menerima zakat, yaitu orang-orang:
2. Miskin 3. Amil
4. Mu'allaf yang dibujuk hatinya