• Tidak ada hasil yang ditemukan

RELEVANSI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RELEVANSI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA I"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

“RELEVANSI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA INDONESIA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA”

Bangsa yang maju tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, teknologi canggih, atau kekayaan alamnya, tetapi yang terutama adalah dorongan semangat dan karakternya. Di Indonesia akhir-akhir ini dijumpai fenomena sosial, antara lain penyimpangan yang dilakukan pelajar seperti seks bebas, tawuran, maupun ditemukannya beberapa video porno. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan masyarakat mengenai kegagalan pendidikan. Pendidikan selama ini lebih cenderung memberikan porsi yang berlebih pada penanaman aspek-aspek kompetensi hard skills dan kurang memberi porsi yang layak pada penanaman soft skills.

Kondisi nyata lainnya yang kita hadapi berkaitan dengan pendidikan bahasa Indonesia atau pembelajaran bahasa Indonesia di kalangan pelajar dan masyarakat Indonesia pada umumnya adalah (a) tidak tumbuhnya sikap positip terhadap bahasa Indonesia, (b) belum ditemukannya strategi pembelajaran bahasa Indonesia yang baik, (c) kurangnya usaha-usaha terutama yang bersifat individual untuk memahiri bahasa Indonesia, (d) belum tumbuhnya kepercayaan diri dengan bahasa Indonesia, dan (e) sikap merasa tidak perlu mempelajari bahasa Indonesia.

Dewasa ini, kondisi-kondisi seperti yang dikemukakan di atas semakin menguat dengan kehadiran telepon selular. Komunikasi lisan yang nonstandar yang telah merajalela di tengah-tengah masyarakat semakin menguat dengan praktik ber-SMS. Praktik keseharian itu menyebabkan kebanyakan pengguna bahasa Indonesia tidak teliti berbahasa. Dunia akademis yang menuntut penggunaan bahasa tulis yang tertib dan bersistem mengalami kesulitan yang mengkibatkan kurang berkembangnya pengetahuan dan pemikiran yang tertib dan bernalar. Hal ini menurut Felicia (2001 : 1), karena dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.

(2)

pendidikan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Agar kita dapat belajar dan mengetahui bagaimana cara kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terutama bagi calon pendidik, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dirasakan memang sangat penting. Karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya, ia harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, maka akan dicontoh oleh anak-anak didiknya dan itu akan mengakibatkan peran bahasa dan sastra dalam dunia pendidikan berkurang

Kondisi ini menggambarkan bahwa Bahasa Indonesia seperti yang dikatakan Keraf dalam Kunarto (2007) bahwa “bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial”, menjadi lemah fungsinya di tengah-tengah masyarakat Indonesia masa kini.

Dalam hal ini, pendidikan sastra dan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting didalam dunia pendidikan. Dalam penanaman pendidikan karakter yang utama adalah keteladanan. Orang tua memberikan contoh perilaku yang positif kepada anak-anaknya, guru memberi contoh kepada anak didiknya. Sementara itu, para pemimpin memberikan teladan karakter yang baik kepada masyarakat. Nilai dan perilaku itu dinamis dan berkembang, arah perkembangannya yang perlu di arahkan. Anak muda harus disodori contoh. Bangsa adalah bukan merupakan suku ataupun daerah melainkan kesadaran untuk bersatu.

(3)

merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang mampu membuat suatu keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya. “Karakter juga adalah identitas yang membedakan dan pencerahan dirinya melalui agamanya serta sebagai hidden kurikulum berdasarkan proses pembiasaan dan pemberian contoh” menurut Mantan Sekretaris Jenderal Kemenag, Bahrul Hayat, Ph.D.

Pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada pembentukan karakter bangsa itu dapat diwujudkan melalui pengoptimalan peran sastra. Untuk membentuk karakter bangsa ini, sastra diperlakukan sebagai salah satu media atau sarana pendidikan kejiwaan. Hal itu cukup beralasan sebab sastra mengandung nilai etika dan moral yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sastra tidak hanya berbicara tentang diri sendiri (psikologis), tetapi juga berkaitan dengan Tuhan (religiusitas), alam semesta (romantik), dan juga masyarakat (sosiologis). Sastra mampu mengungkap banyak hal dari berbagai segi. Banyak pilihan genre sastra yang dapat dijadikan sarana atau sumber pembentukan karakter bangsa.

Berkaitan dengan karakter, Saryono (2009:52—186) mengemukakan bahwa genre sastra yang dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter bangsa, antara lain, genre sastra yang mengandung nilai atau aspek (1) literer-estetis, (2) humanistis, (3) etis dan moral, dan (4) religius- sufistis-profetis. Keempat nilai sastra tersebut dipandang mampu mengoptimalkan peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa. Melalui bahasa kita dapat mengetahui budaya dan pola pikir suatu masyarakat. Karakter seseorang tampak dari perilaku berbahasanya, sebagaimana ditegaskan oleh Effendi (2009: 75) bahwa cara berpikir seseorang tercermin dalam bahasa yang digunakannya. Jika cara berpikir seseorang itu teratur, bahasa yang digunakannya pun teratur pula.

(4)

Ketika seseorang menciptakan karya sastra, pikiran kritisnya dikembangkan, imajinasinya dituntun ke arah yang positif sebab ia sadar karya sastra harus indah dan bermanfaat. Penulis akan menuangkan imajinasinya sesuai dengan kaidah genre sastra yang dipilihnya. Ia akan memilih diksi, menyusun dalam bentuk kalimat, menggunakan gaya bahasa yang tepat, dan sebagainya. Sementara itu, pada benak pengarang terbersit keinginan untuk menyampaikan amanat, menanamkan nilai-nilai moral, baik melalui karakter tokoh, perilaku tokoh, ataupun dialog. Dalam penulisan karya sastra orisinalitas sangat diutamakan. Pengarang berusaha akan berusaha menghindari penjiplakan apalagi plariarisme. Dengan demikian, nilai-nilai kejujuran sangat dihargai dalam karang- mengarang.

Penguasaan terhadap keterampilan berbahasa juga dapat menunjukkan karakter seseorang sebagai orang yang berkepribadian utuh atau tidak. Seseorang yang berkarakter tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengar. Cerdas menentukan apa yang harus dibicarakan dan cerdas memilih apa yang harus didengar. Selanjutnya keterampilan berbahasa juga diperlukan seimbang, ada saatnya seseorang sangat serius dalam reseptive (mendengarkan dan membaca), tetapi pada saat yang berbeda ia sungguh-sungguh dalam productive (berbicara dan menulis). Memperlakukan keempat keterampilan berbahasa ini secara porporsional dapat menggambarkan yang bersangkutan memiliki karakter yang utuh atau tidak.

Di dalam memfungsikan keterampilan berbahasa perlu diperhatikan perlakuan norma bahasa sebagai komoditas budaya, sebagai kemampuan intelektual, sebagai kebajikan moral, dan ideologi politik memberikan motivasi kuat untuk pembicara agar sesuai dengan standar dan hal itu berkaitan dengan perbaikan perasaan, kecerdasan, pendidikan, karakter, dan komitmen untuk persatuan nasional atau nilai-nilai politik yang utama. (Battistell, 2005: 13).

Semua keterampilan berbahasa memerlukan bahasa sebagai medianya dan beberapa dari unsur bahasa tersebut harus dikuasai dengan baik dan penguasaan yang baik akan menjadikan orang yang menggunakannya berprilaku sopan seperti

mengucapkan sesuatu secara benar, memilih kata yang tepat, menyusun pikiran dalam kalimat yang lengkap dan menyampaikan makna secara reprsentatif. Terampil

(5)

Kenyataan ini menunjukkan bahwa sastra sangat relevan dengan pendidikan karakter. Karya sastra sarat dengan nilai-nilai pendidikan akhlak seperti dikehendaki dalam pendidikan karakter. Cerita rakyat ”Bawang Putih Bawang Merah” mengandung nilai pendidikan tentang kemanusiaan. Cerita binatang ”Pelanduk Jenaka” mengandung pendidikan tentang harga diri, sikap kritis, dan protes sosial. Sementara itu, bentuk puisi seperti pepatah, pantun, dan bidal penuh dengan nilai pendidikan.

Referensi :

http://uny.ac.id/berita/peran-pendidikan-dalam-pembangunan-karakter-bangsa.html diakses pada tanggal 15 Oktober 2014

http://bahasakudansastraku.blogspot.com/2011/10/peran-bahasa-dan-sastra-dalam.html diakses pada tanggal 15 Oktober 2014

http://ikadebunny.blogspot.com/2012/04/pembentukan-karakter-melalui.html diakses pada tanggal 15 Oktober 2014

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/323 diakses pada tanggal 15 Oktober 2014

http://www.infodiknas.com/peran-sastra-dalam-pembentukan-karakter-bangsa.html diakses pada tanggal 15 Oktober 2014

Referensi

Dokumen terkait

kependidikan yang mampu menyiapkan insan akademik dalam bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, yakni insan yang mampu mengembangkan ilmu pendidikan dan keguruan

Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pelajar asing yang belajar bahasa Indonesia di UM menunjukkan sikap negatif dan sikap positif ketika

Seperti yang telah kita ketahui, di sejumlah universitas di Indonesia terdapat beberapa program studi (pendidikan) bahasa asing seperti Inggris, Prancis,

Kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk memaksimalkan pencitraan diri jurusan di masyarakat,

Widya Utami Lubis, Dina Hidayati Hutasuhut Sosialisasi Pentingnya Peran Orang Tua terhadap Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 159

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 160 penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif untuk mengungkap strategi dan implementasi pendidikan karakter yang sudah

JPBSI 3 1 2014 Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jpbsi PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KEMBALI DENGAN BAHASA SENDIRI MELALUI

Buku ajar untuk Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kelas rendah Sekolah