• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Model Pembelajaran Asuhan b

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengembangan Model Pembelajaran Asuhan b"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Model Pembelajaran Asuhan bayi, Balita dan Prasekolah terintegrasi pada pendidikan Kebidanan

Bayu Irianti, Mahasiswa Program Studi Magister Kebidanan, fakultas kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung-Indonesia;

Abstrak

Rendahnya kualitas asuhan yang diterima oleh masyarakat merupakan salah satu hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan di institusi pendidikan. Institusi pendidikan harus mampu menghasilkan peserta didik yang mumpuni dan kompeten dalam memberikan asuhan sesuai kewenangan. Pembelajaran merupakan kesatuan proses sinergis antara perencanaan dan pelaksanaan belajar dan mengajar. Tercapai tidaknya suatu kompetensi ditentukan oleh kerangka pembelajaran yang disusun. Kerangka pembelajaran dalam bentuk model pembelajaran harus mampu memenuhi standar luaran pendidikan serta sesuai kebutuhan masyarakat. Metode penulisan artikel dengan menggunakan pendekataan studi literatur, untuk memaparkan tahap pengembangan model asuhan bayi balita dan prasekolah terintegrasi. Pengembangan Model asuhan bayi, balita dan prasekolah dengan memasukan nilai agama, budaya, komunikasi, psikologi dan softskill mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Model menggambarkan kerangka pembelajaran secara utuh tanpa terpisah-pisah sehingga membentuk pemahaman mahasiswa secara utuh dan menyeluruh.

(2)

Development Baby Toodler and Preschool Care Integrating Moduls in Midwifery Education Diploma

Bayu Irianti, Midwifery Master Program Student, Departemen of Midwifery Master Program, Faculty of Medicine, Padjadjaran University, Bandung, West Java -Indonesia

Abstract

A lower quality care access which people gain its become one of the several educations learning outcome. Education institution has to produce competence and capable person which serve authority care. Learning is amount of systematic process, between planning and doing in learning and teaching. Lesson pla n is the important thing in competence achievement “if we lose in planning we plan lose”. Lesson plan in learning models has plan by an appropriate goals, which is achieve a profile outcome and people needs. This is an articles written by literature study, which aim to explain the step of arrange baby toddler and preschool integration models care. The developing models by integrating a value of religion, social culture, communication, psychology and soft skill in baby toddler and preschool care subject to gain student competencies and fulfill people needs. The model is explaining about structure in learning process without separated value. Its make student understand with comprehend and holistic.

(3)

Pendahuluan

Rendahnya kepuasan masyarakat dalam menerima asuhan tenaga kesehatan khususnya bidan menjadi salah satu faktor tidak terpenuhinya program pemerintah dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan. Kepuasan masyarakat erat kaitannya dengan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan data kementrian kesehatan, didapatkan kualiatas kompetensi lulusan bidan di Indonesia di bawah 70%, yang mengakibatkan permasalahan kesehatan ibu dan anak (KIA) di Indonesia masih tergolong tinggi. 1-3

Kualitas lulusan bidan dipengaruhi oleh sistem pendidikan tinggi yang dijalankan, khususnya pendidikan kebidanan. Jumlah institusi kebidanan yang mengalami peningkatan (tahun 2013 tercatat sebanyak 660 institusi), menjadikan pengontrolan

terhadap mutu pendidikan kurang, sehingga kualitas lulusan rendah. 4-5 Pembelajaran merupakan salah satu unsur terpenting untuk menilai kualitas luaran institusi

pendidikan. Pembelajaran yang disusun sesuai dengan arahan tujuan pembelajaran, menjadi penentu tercapainya kompetensi lulusan yang handal. 6-11

Pembelajaran merupakan proses interaksi antara proses belajar dan proses mengajar yang melibatkan kurikulum dan instruksional didalamnya. 2, 6, 10, 12-14 setiap proses pembelajaran yang berlangsung memerlukan suatu kerangka konsep yang menggambarkan lingkungan, materi ajar dan media pembelajaran sehingga proses yang dilakukan terarah dan mencapai tujuan pembelajaran. 6-11. Dikenal dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pembelajaran yang berpusat pada keaktifan siswa (student centered learning-pembelajaran siswa aktif) dan pembelajaran yang menjadikan guru sebagai pusat dalam proses belajar (teacher centered learning). 2, 10, 14-15

(4)

kelas dan berdampak pada peningkatan pencapaian kompetensi yang dimiliki peserta didik.

Pembelajaran dapat terarah dan dilaksanakan sesuai dengan tujuan jika disajikan dalam langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Langkah praktis yang dibuat dijabarkan dalam bentuk dokumen silabus dan Rancangan perencanaan pembelajaran (RPP) sebagai dokumen penuntun dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Dokumen silabus dan RPP merupakan bagian dari modul dalam model pembelajaran yang menjadi arahan dalam setiap langkah belajar dan mengajar. 10,2,3, 8

Model pembelajaran dalam membangun asuhan bayi, balita dan anak prasekolah terintegrasi merupakan model pembelajaran yang dibuat dengan mengintegrasikan nilai-nilai pembangun kompetensi asuhan sesuai dengan hasil studi pengetahuan. Nilai yang

dibangun merupakan nilai agama, budaya, psikologi, etika dan hukum, softskill (hasil studi pendahuluan pada penelitian mengenai model pembelajaran terintegrasi) yang

diintegrasikan pada asuhan inti bayi, balita dan prasekolah, sehingga mampu membentuk pemahaman mahasiswa secara holistik dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Metode

Pemaparan mengenai pengembangan model pembelajaran asuhan bayi, balita dan prasekolah terintegrasi menggunakan pendekatan studi literatur dengan pendalam materi melalui pelatihan mengenai pembuatan model pembelajaran terintegrasi (silabus dan RPP). Pembahasan dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber yang kemudian dilakukan analisis dan sintesa bahan kajian.

Hasil dan diskusi

a. Pembelajaran Terintegrasi

Pembelajaran terintegrasi dikenal dengan beberapa istilah yaitu pembelajaran interdisipliner, multidisipliner, tematik atau pembelajaran sinergis. Pembelajaran terintegrasi dapat diartikan sebagai proses pendidikan yang terdiri dari proses belajar dan mengajar dengan meramu beberapa aspek keilmuan terkait keadaan nyata dilingkungan, serta membentuk keterkaitan berarti dalam suatu bidang ilmu. 22-25

(5)

sebenarnya sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar peserta didik.2, 10, 23-24 Pembelajaran terintegrasi bukan hal baru dalam pendidikan, pembelajaran ini telah dikenal sejak tahun 1938 yang dipengaruhi oleh aliran filsafat John Dewey dan Aiken pada tahun 1942. Pembelajaran terintegrasi merupakan pengembangan dari aliran progresivisme, dan filsafat konstruktivisme, yaitu memaknai proses pembelajaran sebagai sesuatu yang membentuk peserta didik untuk berfikir cerdas dan kreatif dalam memecahkan permasalahan.2, 14, 25

Proses pembelajaran yang terjadi memfokuskan pada keterlibatan aktif peserta didik dengan memberikan pengalaman langsung sesuai dengan keadaan nyata di masyarakat dengan menggabungkan beberapa konsep keilmuan sehingga dapat terhindar daritumpang tindih pengetahuan dan menimbulkan kebermaknaan. 14, 22, 24, 26

Selama beberapa dekade terakhir, pengembangan model pembelajaran

terintegrasi menjadi salah satu sorotan dalam pendidikan, penelitian mengenai hal ini banyak dilakukan, salah satunya oleh Robin Fogarty (1991), yang dikenal sebagai salah satu tokoh dalam model pembelajaran terintegrasi.2, 23-26 Menurutnya pembelajaran terintegrasi memiliki 10 model, yaitu: 2, 23, 25-26

a) Fragmented/Celluler, yaitu mengintegrasikan suatu topik atau tema bahasan dalam mata ajaran yang saling terpisah, suatu topik diintegrasikan pada setiap mata ajaran, tanpa menghubungkannya secara langsung (masih terpisah-pisah). Model ini disebut dengan model integrasi tradisional.

b)Connected, pembelajaran ini menghubungkan satu topik dengan topik lainnya, satu konsep dengan konsep lain, begitu juga dengan penugasan yang diberikan pada mata ajaran yang sama. Model ini memungkinkan peserta didik untuk memahami suatu konsep secara mendalam, namun tidak mengintegrasikan dengan keilmuan lain yang berkaitan dengan pelajaran inti.

(6)

ditanamkan meliputi keterampilan sosial, keterampilan berfikir dan keterampilan spesifik-konten.

d)Sequenced, proses pembelajaran dilakukan dengan mengajarkan topik yang hampir sama dan saling berikatan pada mata ajar yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Pembelajaran dilakukan dengan team teaching, namun terkadang setiap pengajar tidak memiliki hak otoritas penuh.

e) Shared, proses pembelajaran dilakukan bersamaan di antara mata ajar yang memiliki topik yang saling berkaitan, sehingga jika terdapat topik yang sama maka akan dibahas bersamaan sehingga menghindari terjadinya tumpang tindih materi.

f)Webbed/tematik, proses pembelajaran yang mengaitkan suatu tema utama dengan beberapa mata ajar, sehingga satu topik sangat mungkin dibahas dari berbagai sisi keilmuan. Namun perlu adanya patokan tujuan pembelajaran, sehingga

menghindari perluasan pembahasan dan menyimpang dari tujuan pembelajaran. g)Threaded, proses pembelajaran dengan pendekatan metakulikuler, yaitu peserta

didik dilatih untuk mengasah keterampilan berfikir, keterampilan sosial, kecerdasan multipel, teknologi dan keterampilan melalui berbagai disiplin ilmu. Pada model ini peserta didik diajak untuk memahami perlunya mempelajari suatu ilmu sehingga dapat meningkatkan motivasi.

h)Integrated, pembelajaran terpadu dengan menggunakan pendekatan antar bidang studi (mata pelajaran) memperjelas topik-topik dan konsep-konsep yang sedang dipelajari, sehingga menjadi suatu kesatuan yang saling berkaitan dan menghindari terjadinya tumpang tindih. Perencanaan yang matang dan kesiapan dari semua elemen proses pembelajaran menjadi hal yang penting, sehingga dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendekati ideal, lebih fokus dan efisien. i) Immersed, pembelajaran ini membagi peserta didik untuk mempelajari sub topik

dari topik utama, yang satu sama lain saling berkaitan secara spesifik. Model ini mengutamakan kebutuhan peserta didik, yaitu setiap topik diintegrasikan sesuai kebutuhan dan peminatan peserta didik.

(7)

Berdasarkan sifat keterpaduannya, sepuluh model integrasi dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:27-28

a. Model dalam satu desain ilmu (within single disciplines) yang meliputi model connected dan nested

b. Model antar bidan studi (across several disciplines) yang meliputi model sequenced, model shared, model webbed, model threaded dan model integrated c. Model lintas siswa (within and across learners) yang meliputi model immersed

dan model networked

Drake (1993) melakukan penelitian mengenai pembelajaran terintegrasi berdasarkan model Fogary dan James untuk menghilangkan batasan-batasan dalam pembelajaran terintegrasi, yaitu dengan mengelompokkannya dalam tiga pendekatan, multidisipliner

(intradisipliner dan fusi), interdisipliner, dan transdisipliner. Keseluruhan pendekatan yang disebutkan berdasar pada tingkat materi yang diintegrasikan. 24, 26

Keuntungan dari pembelajaran terintegrasi diantaranya: a) Fokus perhatian peserta didik akan suatu tema lebih mudah; b) Peserta didik dapat mengembangkan berbagai pengetahuan dan kompetensi dasar dari berbagai ilmu yang saling terkait; c) Pemahaman akan suatu materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; d) Kompetensi dasar dapat berkembang karena dikaitkan bidang keilmuan lain dengan pengalaman peserta didik; e) Manfaat dari setiap proses pembelajaran dapat dirasakan oleh peserta didik; f) Meningkatkan motivasi peserta didik selama proses pembelajaran; g) Dapat mengefektifkan waktu pembelajaran karena beberapa keilmuan diintegrasikan dalam satu waktu. 7, 10, 24-26

Karakteristik pembelajaran terintegrasi menyajikan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, memberikan pengalaman langsung pada peserta didik, pemisahan mata pelajaran tidak kentara, materi dibahas dengan menggunakan berbagai sudut pandang keilmuan, bersifat fleksibel dalam memilah bidang keilmuwan yang akan diintegrasikan, hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik, prinsip pembelajaran kreatif dan menyenangkan. 7, 10, 14, 24

(8)

b. Asuhan Bayi, Balita dan Prasekolah Terintegrasi

Keberhasilan dalam pembelajaran terintegrasi dipengaruhi oleh persiapan yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan potensi peserta didik. Pembelajaran terintegrasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu (hardskills dan softskills) pada asuhan bayi, balita dan anak prasekolah. Proses integrasi dilakukan dengan menggunakan model fusi (nested Fogarty).2, 23, 25-26 Nilai yang dimasukan pada mata kuliah inti merupakan nilai pada bahan kajian pendukung (ilmu budaya, agama, psikologi, komunikasi, gizi dan etika) untuk membangun pemahaman, keterampilan dan sikap secara utuh sehingga dapat memenuhi kebutuhan ibu. Berikut merupakan gambaran integrasi yang dilakukan:

Bagan 2.2. Integrasi kebutuhan ibu dengan mengaitkan nilai dari beberapa bahan kajian dan memasukan karakter secara hidden curriculum dengan model nested

Gambar 1. Model integrasi asuhan bayi balita dan anak prasekolah, dengan mengambil dasar model nested Fogarty

Asuhan bayi, balita dan anak prasekolah terintegrasi menyatukan kebutuhan ibu ke

dalam kompetensi dasar asuhan bayi, balita dan anak prasekolah. Kebutuhan yang dimaksud merupakan kesatuan utuh (holistik-menyeluruh) dari aspek fisiologis, psikologis, sosial-budaya, spiritual serta pengharapan ibu. 17, 31,32

Bidan harus mampu memberikan asuhan sesuai kebutuhan ibu dan anak sebagai pusat asuhan. Ibu merupakan makhluk holistik yang memiliki sifat dan karakter berbeda, sehingga bidan harus mampu memberikan asuhan sesuai dengan harapan dan kebutuhan. 33-35 Fokus asuhan bidan dalam bayi, balita dan anak prasekolah adalah memastikan kesehatannya, yaitu melalui upaya deteksi dini pertumbuhan

Nilai

Nilai

Nilai

Kebutuhan Ibu Nilai

Asuhan Bayi, Balita dan anak prasekolah terintegrasi

Memasukan nilai pada bahan kajian budaya, agama, psikologi, komunikasi, dan

etika yang membentuk karakter secara nested untuk

membangun kebutuhan Memasukan kebutuhan ibu

(9)

perkembangan, deteksi dini masalah yang terjadi pada bayi, balita dan anak prasekolah, serta imunisasi (hardskills). 17, 31, 36 Selain asuhan bayi, balita dan anak prasekolah, softskills menjadi tuntutan ibu yang harus dimiliki oleh seorang bidan dalam memberikan asuhan.

Softskills merupakan atribut yang melekat pada seseorang untuk dapat berinterakasi secara inter maupun intrapersonal, sebagai pelengkap hardskills yang dimiliki. Softskills dapat dilihat melalui prilaku keseharian, yaitu berupa cara berfikir, berkata, bertindak dan bersikap (karakter). Kualitas softskills seseorang dapat ditingkatkan melalui pelatihan diri, pengalaman nyata dan pelatihan.16, 37-38

Saat ini pendidikan memasukan elemen softskills sebagai atribut kompetensi yang harus ditanamkan, karena pengaruh softskills sangat besar dalam kehidupan.38 Studi di Harvard menunjukkan bahwa 80% keberhasilan seseorang dalam bekerja dipengaruhi oleh kualitas softskills.16, 37-39 Proses integrasi softskills dalam pembelajaran tidak dapat diberikan secara langsung seperti penyampaian pada hardskills.16, 38 Penyampaian softskills dapat dilakukan dengan pengajar sebagai teladan (Lecturer role model).16, 38, pesan moral (Message of the week).16, dan tertanam dalam kurikulum (Hidden curriculum)16, 40

Atribut softskills yang dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan ibu, yaitu berupa kemampuan bidan dalam memberi penjelasan, kemampuan memahami, empati, ramah tamah, dan kemampuan berkomunikasi (data primer, 2013).16 Softskills yang akan diintegrasikan meliputi kemampuan bekerjasama (teamwork), kemampuan mencari sumber informasi dan berfikir kritis (information gathering), kemampuan memahami permasalahan (problem definition), kreatifitas (idea generation), kemampuan mengevaluasi dan mengambil keputusan (evaluation and decision making), serta kemampuan komunikasi (communication) dengan mengintegrasikan bidang keilmuan yang sesuai secara fleksibel. 2, 7, 10, 40-45

Pembelajaran menggambarkan keseluruhan aktifitas yang dilakukan oleh pengajar dan peserta didik untuk mencapai tujuan (kompetensi) yang ditetapkan.46 Perencanaan proses pembelajaran dijabarkan dalam bentuk:

1) Silabus

(10)

pembelajaran. Silabus mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi/pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. 7, 12, 47-51

Silabus haruslah memenuhi prinsip pengembangan: a) Ilmiah, yaitu seluruh isi silabus memiliki dasar keilmuan; b) Relevan, memiliki tingkat kedalaman, kesulitan dan keluasan yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik peserta didik; c) Sistemastis, di antara pokok materi memiliki keterkaitan yang sinergis; d) Konsisten, adanya harmonisasi antara kompetensi dasar, indikator hingga alat ukur dalam evaluasi; e) Memadai, yaitu materi haruslah memenuhi pencapaian kompetensi; f) Aktual dan kontekstual, materi harus relevan dengan kebutuhan dan kemajuan IPTEK; g) Fleksibel, keseluruhan silabus dapat diterapkan dan diikuti oleh seluruh civitas

akademika; h) Menyeluruh, silabus harus dapat mencakup ketiga aspek dalam kompetensi. 7, 12, 48

Langkah dalam penyusunan silabus asuhan bayi, balita dan anak prasekolah terintegrasi meliputi: 2, 7, 10, 12, 22, 24, 50

a) Identifikasi mata kuliah, yaitu dengan menentukan asuhan bayi, balita dan anak prasekolah sebagai mata kuliah yang akan diorganisasikan;

b)Perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar (tujuan pembelajaran), perumusan dilakukan berdasarkan standar kompetensi lulusan bidan yang ditentukan oleh Pusdiklatnakes, kompetensi ICM, undang-undang dan peraturan perundang-undangan sebagai aspek legal praktik bidan dan kebutuhan ibu sebagai pengguna.

(11)

pemberdayaan masyarakat dalam asuhan bayi, balita dan anak prasekolah.18, 22, 34-35, 48, 52-53

Berdasar pada kompetensi yang harus dipenuhi oleh seorang bidan dalam asuhan bayi, balita dan anak prasekolah, akan direalisasikan dalam bentuk pembelajaran terintegrasi, yaitu menjembatani kebutuhan ibu (hasil studi pendahuluan) dan kompetensi lulusan dengan berpedoman pada skema Bloom.2, 7, 10, 42-44

c) Menentukan materi pokok dan uraian materi pokok, langkah ini dilakukan dengan studi jurnal penelitian mengenai kebutuhan masyarakat terkait asuhan bayi, balita dan anak prasekolah untuk membangun kompetensi dasar (tema ajar) yang telah diintegrasikan oleh nilai-nilai yang diharapkan. Adapun tema yang dibentuk yaitu:

(a) Pola pengasuhan di masyarakat yang memengaruhi kesehatan bayi, balita dan anak prasekolah dengan mengintegrasikan psikologi perkembangan bayi, balita

dan anak prasekolah, nilai agama dan budaya mengenai pola asuh anak (pandangan mengenai gizi), kemampuan berkomunikasi serta memahami batasan kewenangan sebagai seorang bidan (komunikasi dan etik);54-61

(b) Asuhan imunisasi pada bayi, balita dan anak prasekolah sesuai kewenangan (etik) dengan memperhatikan dan memahami (kemampuan komunikasi) pandangan agama serta budaya yang melekat di masyarakat;62,63,64,65

(c) Asuhan bayi, balita dan anak prasekolah dengan masalah kesehatan sesuai kewenangan (etik) dan kebutuhan ibu, yaitu dengan memahami (komunikasi) nilai budaya mengenai gejala yang terjadi pada anak dan pengobatan awal yang dilakukan;66,102,103;

(d) Serta asuhan pertumbuhan dan perkembangan pada bayi, balita dan anak prasekolah sesuai kewenangan (etik dan kemampuan komunikasi) 67-71

Nilai yang diintegrasikan pada setiap tema berbeda dengan tema lainnya dan disesuaikan dengan kebutuhan ibu serta kompetensi yang harus dicapai.

(12)

e) Menentukan indikator dalam penilaian pencapaian kompetensi; berdasarkan kompetensi dasar yang ada, akan diturunkan menjadi satuan indikator sebagai panduan dalam mencapai tujuan pembelajaran serta memudahkan dalam membuat alat evaluasi (sebagai panduan evaluasi)

f) Menjabarkan indikator pada instrumen penilaian; penjabaran evaluasi yang dilakukan dengan menyesuaikan pencapaian level pengetahuan, keterampilan dan sikap berdasarkan pencapaian taksonomi pembelajaran Bloom, yaitu :

(a) Cognitive/Pengetahuan

Pengetahuan merupakan pengalaman belajar yang didapatkan seseorang meliputi pengetahuan dasar dan prinsip pengembangan ilmu secara

berkelanjutan. Pada taksonomi Bloom, tahapan penerimaan pengetahuan meliputi: i) Mengingat (knowledge), yaitu kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari; ii) Pemahaman (comprehension), yaitu memahami, menerjemahkan dan menafsirkan fakta hingga dapat memprediksi akibat yang mungkin ditimbulkan; iii) Penerapan (application), yaitu kemampuan menggunakan konsep yang dipahami pada situasi baru; iv) Analisis (analysis), yaitu kemampuan menguraikan, mengidentifikasi dan menyatukan konsep yang didapatkan; v) Sintesis (synthesis), yaitu kemampuan membuat suatu kesimpulan utuh sehingga mampu menyelesaikan permasalahan dan penilaian (evaluation), yaitu kemampuan menilai sesuatu berdasar pada kriteria yang telah dipahami secara menyeluruh (Bloom revisi); vi) Penciptaan (create) mencipta, menghasilkan sesuatu yang baru berdasarkan pemahaman yang telah dimiliki. 50, 72 Level pengetahuan yang ingin dicapai pada pembelajaran asuhan bayi, balita

dan anak prasekolah terintegrasi mencapai level sintesa dan evaluasi yaitu C5 pada taksonomi Bloom revisi.

(b) Afective/sikap

(13)

Penanggapan (responding), yaitu memberikan tanggapan secara mandiri terhadap sesuatu dengan ikut serta; iii) Penghargaan terhadap nilai (value), yaitu memahami nilai akan sesuatu; iv) Pengorganisasian (organization), yaitu memahami dan dapat mengaitkan suatu nilai dan menggunakannya dalam membuat suatu konsep; v) Internalisasi dalam karakter (characterization), yaitu nilai yang diyakininya akan tertanam dan terlihat dari sikap dan gaya hidup.50, 73 Level sikap yang ingin dibentuk pada model asuhan bayi, balita dan anak prasekolah terintegrasi adalah level pengorganisasian (A5).

(c) Psikomotor/keterampilan

Keterampilan merupakan aspek kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan menampilkan (perform) suatu keterampilan sesuai kriteria unjuk kerja yang ingin dicapai. Bloom membaginya menjadi: i) Meniru (imitative), yaitu tahap mengikuti apa yang dicontohkan; ii) Manipulasi (manipulation), yaitu siap melakukan tanpa adanya contoh secara langsung dan dilakukan dengan bimbingan; iii) Presisi (precision), yaitu mulai belajar dengan komplek dan dapat melakukan dengan lancar disertai bimbingan; iv) Artikulasi (articulation), yaitu dapat melakukan tindakan dengan kompleks, tepat dan lancar tanpa adanya bimbingan; v) Adaptasi (adaptation), yaitu dapat melakukan tindakan dengan baik dan sesuai dengan kondisi yang ada; vi) Naturalisasi (naturalization), yaitu melakukan secara terpola tanpa adanya keraguan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. 50, 73 Level keterampilan yang ingin dibentuk pada model asuhan bayi, balita dan anak prasekolah terintegrasi yaitu mahasiswa mampu melaksanakan keterampilan dengan benar tanpa adanya bantuan dengan lancar (P4).

g)Menentukan alokasi waktu; penentuan waktu pembelajaran berdasar pada jumlah satuan kredit semester (SKS) pada mata kuliah asuhan neonatus bayi dan balita, yaitu sebanyak 4 SKS yang terdiri atas 2 SKS teori (setara dengan 2 x 50 menit pembelajaran) dan 2 SKS praktik (setara dengan 4 x 50 menit pembelajaran) dengan total pembelajaran 300 menit dalam satu minggu.

h)Menentukan sumber, alat, bahan atau media pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran (kompetensi dasar dan indikator pembelajaran).

(14)

Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun oleh pengajar untuk memudahkan pelaksanaan proses pengajaran yang telah ditentukan pada silabus. Sehingga dikatakan bahwa RPP merupakan bagian khusus dari silabus yang memuat perencanaan proses pembelajaran pada setiap materi pokok. 2, 7, 10, 12, 51 Pada RPP terdapat langkah kegiatan pembelajaran, berupa uraian rencana kegiatan yang akan dilakukan pengajar dalam proses belajar, sehingga proses tersebut dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. 2,10, 12,51

c. Hasil Pengujian

Setelah melalui beberapa tahap penyusunan silabus dan RPP (modul) terintegrasi, selanjutnya dilakukan pengujian dalam proses pembelajaran di kelas. Tujuan penelitian

yang dilakukan untuk menganalisis apakah pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan modul pembelajaran asuhan bayi, balita dan anak prasekolah terntegrasi

mampu meningkatkan kompetensi asuhan yang di evaluasi pda tatanan kelas dan praktik klinik laboratorium (skill lab).

Pengujian dilakukan dilakukan pada 36 responden di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang, Prodi D III Kebidanan semester II, untuk melihat pencapaian kompetensi mahasiswa dalam asuhan bayi, balita dan prasekolah terintegrasi. Penilaian kompetensi yang dilakukan merupakan keseluruhan penilaian pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai mahasiswa setelah 6 kali pertemuan, dengan waktu 300 menit setiap sesinya.

Daftar Pustaka

1. Hermanto D. Pengaruh persepsi Mutu Pelayanan Kebidanan terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Kebidanan di RSUD Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Bulungan Kalimantan Timur [Penelitian]. Semarang: Diponegoro; 2010.

2. Majid A. Strategi pembelajaran. 1 ed. Bandung: Remaja Rosdakarya; 2013.

(15)

4. Moeloek NF, editor. Peran Pofesi dalam Mewujudkan Human Capital yang Unggul untuk Pembangunan Menuju Bangsa Cerdas. Pertemuan Ilmiah Bidan II; 2013; Universitas Padjadjaran.

5. Suseno U, editor. Pemberdayaan Bidan Dalam Menjawab Tantangan MDGs Dan Kaitannya Dengan Penerapan SJSN. Pertemuan Ilmiah Bidan II; 2013; Universitas Padjadjaran.

6. Indriana D. Mengenal Ragam Gaya Pembelajaran Efektif. Jogjakarta: DIVA press; 2011.

7. Trianto. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara; 2012.

8. Amri S. Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pustaka Karya; 2013.

9. Suprijono A. Cooperative Learning. 9 ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2013.

10. Rusman. Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme Guru. 5 ed. Jakarta: Rajawali Pers; 2012.

11. Joyce B, Weil M, Calhoun E. Models Of Teaching. 8 ed. Edition I, editor. Canada: Pearson; 2011.

12. Hanafiah N, Suhana C. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama; 2012.

13. Mulyasa E. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya; 2010.

14. Sumardi K. Pengembangan Model-Model Pembelajaran. Universitas Pendidikan Indonesia. 2012:1-21.

15. Asmani JMm. 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Jogjakarta: DIVA Press; 2011.

16. Sailah I. Pengembangan Softskill di Pendidikan Tinggi. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi; 2010.

17. Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 369/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan, 2007.

18. Kemenkes. Kurikulum Inti Pendidikan Diploma III Kebidanan. In: BPPSDM, editor. Jakarta: Kemenkes RI; 2011.

19. Barrett T, Moore S. New Aproaches To Problem-Based Learning Revitalising Your Practice In Higer Education. New York: Routledge; 2011.

(16)

21. Alavia C. Problem Based Learning in Health Sciences curriculum New York: Routledge; 2002.

22. Malik AS, Malik RH. Twelve Tips for Developing an Integrated Curricum. Medical Teacher. 2011;33:99-105.

23. Fogarty R. How To Integrate The Curricula. California: SAGE ltd; 2009.

24. Drake SM, Burns RC. Meeting Standards Through Integrated Curriculum. United State: ASCD; 2004.

25. Lake K. Integrated Curriculum. School Improvement Research Series. 2000;16:14.

26. Drake SM. Creating Standards-Based Integrated Curriculum : The Common Core State Standard 3ed. Standar MKtyB, editor. Jakarta Barat: Indeks; 2013.

27. Majid A. Strategi Pembelajaran. Kuswandi E, editor. Bandung: Remaja Rosdakarya; 2013.

28. Fogarty R. Ten Ways to Integrate Curriculum. Educational Leadership. 1991:61-5.

29. Collins G, Dixon H. Integrated Learning-Planned Curriculum Units. Gosford: Bookshelf Publishing Australia; 1991.

30. Fogarty R. How to Integrate The Curricula. Noblitt JE, editor. Palatine, Illinois: IRI/ Skylight Publishing; 1991.

31. Peraturan Mentri Kesehatan republik Indonesia no. 1464/Menkes/Per/X/2010, 2010.

32. Ruhimat T. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada; 2012.

33. Midwives ACo. Philosophy for Midwifery. 2011.

34. ICM. Global Standard International Confederation of Midwives United Kingdom. 2010 Contract No.: 1

35. ICM. International Confederation of Midwives. Essential Competencies for Basic Midwifery Practice. United Kingdom: ICM; 2013. 1-19.

36. ICM. Curriculum Mapping Tool. Concordance of Midwifery Curriculum With ICM Essensial Competencies for Basic Midwifery Practice. United Kingdom2013. 28.

37. Muqowim. Pengembangan Softskill Guru. Yogyakarta: Pedagodia; 2012.

38. Schulz B. The Important of Soft Skills: Education beyond academic knowledge. Journal of Language and Communication. 2008:10.

(17)

40. Woodward BS, Sendall P, Ceccucci W. Integrating Soft Skill Competencies Through Project-based Learning Across the Information Systems Curriculum. Information Systems Education Journal. 2010;8(8):15.

41. Welsh M, Kechagias K, Waglund P, Luca S, Plompen S, dkk. Teaching and Assessing Soft Skills. Thessaloniki: Neapolis; 2011.

42. Woodward BS, Sendall P, Ceccucci W. Integrating Soft Skill Competencies Trough Project Based Learning Across the Information curriculum. Information System Education Journal. 2010;8(8):1-13.

43. Mai RC, Simkin K, Cartledge D. Developing Soft Skill in malaysia Polythechnics. La trobe university. 2012.

44. UTAR. Program for May-September 2013. In: competency dos, editor. Malaysia2013.

45. Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Kesehatan Nomor: HK-02.05/I/III/2/0879/2011 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Diploma III Kebidanan, HK-02.05/I/III/2/0879/2011 2011.

46. Sumardi K. Pengembangan Model-model Pembelajaran2012.

47. DIKTI. Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. In: Nasional P, editor. Jakarta: Kemendikbud; 2006.

48. MKDP t. Kurikulum dan pembelajaran. Depok: Rajawali Pers; 2012.

49. Rusmilati A. Model Kurikulum terintegrasi pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di SMA Negeri 3 Madiun [penelitian]. Malang: Muhammadyah; 2007.

50. Cartono. Evaluasi Hasil Belajar Berbasis Standar. 2 ed. Bandung: Prisma Press; 2010.

51. Penyusunan Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Workshop Penyusunan GBPP dan SAP22 Juli.2010.

52. WHO. Strengthening Midwifery Toolkit. Switzerland: WHO library; 2011.

53. Collage BV. Learning for Life: An ESL Literacy Curriculum Framework. Stage I : Understand Needs. Canada: Bow Valley Collage; 2011. 31.

54. Eka F, Setiyaningsih A. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 1-3 Tahun. jurnal Kebidanan. 2012;IV(2):1-14.

(18)

56. Apriastuti DA. Analisa Tingkat Pendidikan dan Pola Asuh Orangtua Dengan Perkembangan Anak Usia 48-60 Bulan. Jurnal Ilmiah Bidan. 2013;4(1):1-14.

57. Yuswono L, Wurandiati E. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkembangan Personal Sosial, Motorik dan Bahasa Anak Prasekolah di Paud Al-Hidayah. PPNI. 2012.

58. Hidayati F, Kaloeti DVS, Karyono. Peran Ayah dalam Pengasuhan anak. Jurnal Psikologi Undip. 2011;9(1):1-10.

59. Anapratiwi D, Handayani SSD, Kurniawati Y. Hubungan Antara Kelekatan Anak Pada Ibu dengan kemampuan Sosialisasi Anak Usia 4-5 Tahun (Studi Pada Ra Sinar Pelangi dan Ra Al Iman Kecamatan Gunungpati, Semarang). Early Childhood Education Paper. 2013;2(1):23-30.

60. Khasanah N. Dampak Persepsi Budaya Terhadap Kesehatan Reproduksi Ibu dan Anak di Indonesia. Muwazah. 2011;3(2).

61. Putri VD. Praktik Pengasuhan Anak Pada Keluarga Petani Peserta Bina Keluarga Balita (BKB) Melati 3 Di Desa Nguken Kecamatan Pdangan Kabupaten Bojinegoro. Journal Early Childhood Education Paper. 2012;1(1):1-11.

62. Proverawati A. Imunisasi dan Vaksinasi. Yogyakarta: Nuha Offset; .2010.

63. Marimbi H. Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar Pada Balita. Yogyakarta: Nuha Medika.; 2010.

64. Hidayat AA. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. . Jakarta. : Salemba Medika. ; 2008.

65. O’Keefe A, Frederick J, Bonnie Harmon. Update on Vaccine-Derived Polioviruses.

Morbidity and Mortality Weekly Report. 2012;16:741-6.

66. Siregar SP. Faktor Atopi dan Asma Bronkial pada Anak. Sari Pediatrik. 2000;2(1):23-9.

67. Lubis FY. Aspek Kognitif Pada Anak Usia 0-7 tahun. Parenting; 14 Maret 2009; Bandung: Unpad; 2009. 1-8.

68. Hirzi AT. Mengomunikasikan Musik Kepada Anak. Mediator. 2005;8(2):201-11.

69. Sari A, Hubeis VS, Mangkuprawira S, Saleh A. Pengaruh Pola Komunikasi keluarga dalam fungsi Sosialisasi Keluarga terhadap Perkembangan Anak. Jurnal komunikasi Pembangunan. 2010;8(2).

70. Tine N. Keluarga dan Peranannya Dalam Pembentukan kecerdasan Emosional anak. 2008.

(19)

72. WHO. Strengthening Midwifery Toolkit-Competencies for midwifery practice (Module 4). Geneva: WHO; 2011.

Gambar

Gambar 1. Model integrasi asuhan bayi balita dan anak prasekolah, dengan mengambil dasar model nested Fogarty

Referensi

Dokumen terkait

Kurikulum yang disusun disesuaikan dengan kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus, dengan memperhatikan model-model pembelajaran apa saja yang cocok untuk diterapkan baik

Sesuai target yang ingin dicapai pada tahap pertama, maka dalam laporan hasil penelitian ini diperoleh data sebagai berikut: (1) Rumusan kompetensi dan tujuan pembelajaran

1) Tujuan pembeajaran yang ingin dicapai. Pemilihan media harus sesuai agar setidaknya satu atau dua kompetensi inti pembelajaran tercapai, baik dari ranah kognitif,

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan guru kelas III SD untuk memiliki perangkat pembelajaran daring pada materi Perkembangan Teknologi tema 7

inti, dan akhir. a) Kegiatan awal disampaikan guru secara klasikal, seperti salam pembuka, bernyanyi, berdoa, bercerita pengalaman anak, penjelasan tema materi, dan

hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para pelajar pada tujuan yang diharapkan. Sedangkan dampak pengiring adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan

Wayang Kartun dibuat sebagai media untuk kegiatan bercerita, sehingga tokoh wayang telah disesuaikan dengan buku cerita yang dibuat berdasarkan tema pada

Capaian Pembelajaran merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus Pengembangan Interaksi Sosial, Komunikasi, dan Perilaku Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dengan