• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Kebijakan Kurikulum Tingkat. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implementasi Kebijakan Kurikulum Tingkat. doc"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN EKSEKUTIF

Implementasi Kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Sekolah Dasar Negeri Di Kabupaten Tapin

Oleh:

Dr.H. Sarbaini, M.Pd, dkk

KERJASAMA

PUSLITJAK BALITBANG KEMDIKNAS DENGAN

JARLIT KABUPATEN TAPIN RANTAU

(2)

Peningkatan mutu pendidikan di era otonomi ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor sumber daya pendidikan dan faktor manajemen pendidikan. Faktor sumber daya pendidikan berkaitan dengan pendanaan, kesiapan kualitas guru dan media pembelajaran. Sementara itu faktor manajemen pendidikan berkaitan dengan kinerja, mekanisme dan wewenang kerja dari masing-masing komponen pendidikan di daerah. Faktor sumber daya pendidikan dan faktor manajemen pendidikan telah cukup beralasan untuk melihat fenomena guru di Indonesia.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikkan (KTSP) dinilai merupakan pilihan yang tepat dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan nasional. Konsep KTSP memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar kepada sekolah dan guru untuk mengelola pembelajaran dan mengembangkan pendidikan berdasarkan prinsip-prinsip otonomi dan akuntabilitas. Di era desentralisasi pendidikan, Drost mengatakan, di berbagai sekolah banyak guru tidak siap dengan penerapan pembelajaran kompetensi. Dalam prakteknya guru sendiri masih bingung bagaimana pembelajaran dengan model KTSP bahkan para guru cenderung belum memahami landasan filosofi dan landasan paedagogis dari KTSP.

KTSP telah diimplementasikan di tingkat sekolah secara bertahap mulai sejak tahun 2006, dan mulai tahun 2008 semua sekolah sudah melaksanakan KTSP untuk semua tingkat kelas. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi sejauh mana pelaksanaan KTSP di sekolah-sekolah.

(3)

Kepustakaan yang menjadi acuan adalah berkaitan dengan posisi Guru sebagai Tenaga Profesional, Kemampuan Guru dalam Pelaksanaan Kurikulum, Konsep Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Evaluasi Pelaksanaan KTSP, dan Kajian Hasil-hasil Penelitian yang Relevan. Dari kajian kepustakaan, maka kerangka pikir yang disusun adalah keberhasilan dan kegagalan pembelajaran disekolah sangat ditentukan oleh sejauhmana kemampuan guru dalam membuat dan melaksanaan KTSP. Sebab antara guru dan kurikulum tidak bisa dipisahkan. KTSP sebagai konsep strategi pembelajaran dan guru sebagai pelaksana dari konsep itu. Sebagai indikator dari kemampuan guru dalam menyusun kegiatan pembelajaran adalah terindikasinya PBM dalam RPP yang sesuai dengan prinsip KTSP, menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode deskriptif-eksploratif. Lokasi penelitian adalah SD di Kabupaten Tapin yang diasumsikan relatif maju, sedang dan rendah dengan kriteria; terletak di ibu kota kabupaten, ibu kota kecamatan, dan di luar ibu kota kecamatan. Sampel sekolah ditentukan berdasarkan teknik proporsional strata random sampling, sebanyak 27 SDN. Populasi dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru kelas 4,5 dan 6 SD di Kabupaten Tapin dengan responden 27 Kepala sekolah dan 81 Guru kelas. Pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner digunakan untuk menggali data terhadap kepala sekolah dan guru, kondisi RPP dan pelaksanaan PBM bermuatan KTSP berbasis evaluasi diri. Data dianalisis dengan menggunakan teknik prosentase.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa :

1. Implementasi Kebijakan KTSP Di Sekolah Menurut Kepala Sekolah

a. Upaya peningkatan kualitas pendidikan anak sebagai langkah penerapan KSTP di sekolah lebih banyak diwujudkan dalam bentuk menyusun program tahunan, program semester, silabus, RPP dan KKM.

(4)

dilabelkan kepada siswa masih sebagai objek. Peran orang tua dan peran komite telah mencerminkan peran yang dikehendaki bagi penerapan KTSP. Peran yang amat penting untuk disosialisasikan, ditingkatkan dan dikembangkan lebih lanjut adalah peran tokoh masyakarat dan dunia usaha. Peran pemerintah dalam pembinaan dan supervisi, layak juga diketahui kepala sekolah.

c. Penerapan KTSP di sekolah bervariasi. Pemahaman kepala sekolah terhadap RPS sudah memadai, bahwa RPS terdiri dari rencana jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Namun masih terdapat yang belum memenuhinya. Dalam menyusun KTSP kebanyakan menggunakan analisis SWOT, namun ditemukan kesamaan-kesamaan SWOT, padahal setiap SWOT sekolah tidaklah sama. Evaluasi keterlaksanaan KTSP telah dilakukan, namun belum jelas dalam cara mengevaluasi keterlaksanaan KTSP di sekolah. Prosentase keterlaksanaan KTSP kebanyakan 75%. d. Pengembangan KTSP dalam RAPBS sudah terakomodasi, khususnya mengenai

sumber dana, strategi penggaliannya, dan melibatkan komponen yang beragam, termasuk orang tua dan pihak UPT kecamatan. Peran sentral tetap pada kepala sekolah sebagai pemimpin dan penanggung jawab, serta guru sebagai pemberi informasi aktual dan sebagai pelaksana tugas di sekolah.

e. RAPBS yang disusun terlaksana dengan prosentasi mencapai 100% dan 75%. Komponen RAPBS yang tidak terlaksana dengan prosentase yang rendah hanya pendidikan kecakapan hidup, perbaikan sarana dan prasarana fisik, dan kegiatan ekstrakurikuler. Kendala dihadapi berupa anggaran yang dibuat sering tidak sesuai, sehingga ditempuh skala prioritas dan penyesuaian dengan kegiatan yang relevan; pendanaan; dan pencairan dana yang tidak tepat waktunya. Beberapa cara mengatasi kendala adalah pendanaan, diatasi dengan talangan dari pihak ketiga atau uang sendiri; pembuatan laporan, diatasi dengan bertanya kepada orang yang sudah memahaminya; dan pelaksanaan ekstrakurikuler, siswa tidak bisa hadir pada waktu sore, karena mengikuti pendidikan di pesantren, belum ada solusi. Evaluasi dan peninjauan kembali secara berkala RAPBS telah dilakukan oleh kepala sekolah kebanyakan setiap triwulan dan setiap tahun sekali.

f. Implementasi KTSP dalam Kegiatan Pembelajaran di kelas telah diterapkan di sekolahnya oleh sekitar 10 orang.

2. Implementasi Kebijakan KSTP Di Sekolah Menurut Guru

(5)

adalah silabus, RPP, KKM dan PBM. Komponen yang tidak terlaksana berdasarkan urutan prosentase adalah Pengembangan diri, karena kurang tahu dan belum menguasai tujuan yang sesuai dengan kondisi sekolah; Kurikulum Muatan Lokal belum disusun; Ekstrakurikuler, kurang tenaga pengajar, Seni Budaya dan Keterampilan, belum menguasai tujuan yang sesuai dengan kondisi sekolah; RPP belum selesai: Life skill, karena tidak ada guru yang ahli melaksanakannya; Pengawasan proses pembelajaran; Analisis tingkat kesukaran dan daya beda tes; Penggunaan media yang sesuai.

b. Peran guru dalam proses penyusunan RAPBS kebanyakan sebagai anggota. RAPBS yang telah disusun telah dilaksanakan melalui komponen yang berdasarkan urutan prosentase adalah semua kegiatan belajar mengajar, penunjang KBM, sarana pembelajaran dan kebersihan sekolah, dan pengembangan profesional guru. Komponen RAPBS yang tidak terlaksana hanya muatan lokal, karena kurikulumnya belum disusun. Dalam proses evaluasi dan peninjauan kembali RAPBS, hanya sebagian kecil dilibatkan.

c. Penerapan KTSP dan kegiatan pembelajaran Di kelas. Guru telah mampu menerapkan prinsip KTSP dalam pembelajaran pada semua bidang studi setiap hari. Namun masih terdapat mata-mata pelajaran yang belum disusun sesuai dengan prinsip KTSP, yaitu Muatan Lokal, Seni Budaya dan Keterampilan, Baca Tulis Al Qur’an Baca, Bahasa Inggeris dan Pengembangan Diri.

d. Kendala penerapkan KTSP untuk kegiatan pembelajaran berdasarkan urutan prosentase adalah keterbatasan media/alat peraga, ketidakterampilan menggunakan media/alat peraga, keterbatasan sarana dan prasarana sekolah, buku pelajaran sesuai KTSP tidak lengkap, keterbatasan waktu dalam pertemuan, keterbatasan pengelolaan kelas, keterbatasan kemampuan siswa dan keterbatasan dana, keterbatasan penguasaan materi, keterbatasan dalam penilaian dan keterbatasan pelaksanaan pengembangan diri.

(6)

f. Fasilitas pendukung untuk penerapan proses belajar mengajar di sekolah sesuai dengan KTSP berdasarkan urutan prosentase adalah media dan alat peraga; buku pegangan dan buku pelajaran; lingkungan dan sarana prasarana sekolah; perpustakaan; laboratorium; dan perangkat KTSP.

g. Materi yang dibahas dalam KKG termasuk pengembangan KTSP, ada, tetapi kebanyakan guru tidak menyebutkan materi yang dibahas. KKG dianggap berperan untuk peningkatan profesionalisme guru.

h. Model pembelajaran dalam pembelajaran di kelas kebanyakan telah dilaksanakan. Dari model-model pembelajaran yang dikemukakan para guru, ternyata masih ada guru yang belum bisa membedakan antara model dengan metode, bahkan belum mengerti sama sekali apa yang dimaksud dengan model pembelajaran.

3. Kondisi RPP dan PBM Sesuai Prinsip KTSP Di Sekolah

a. Guru dalam melaksanakan PBM selalu menggunakan RPP, dengan model yang kurang inovatif, tujuan hanya memuat 2 ciri dan kegiatan pembelajaran memuat 5 ciri yang mengindikasikan PBM sesuai dengan prinsip KTSP, sehingga hanya mencakup 75% dari seluruh tujuan pembelajaran. Media yang digunakan hanya mencakup 3 ciri saja. Evaluasi yang dibuat hanya mencakup 75% indikator.

b. Pelaksanaan PBM sesuai dengan RPP bermuatan KTSP hanya 75% yang sesuai, sehingga hanya mampu memunculkan 3 ciri saja. Kebanyakan guru mampu menguasai penggunaan media dengan baik, dan telah menggunakan fasilitas luar kelas, yaitu 2-3 kali seminggu.

c. Agar masyarakat berpartisipasi untuk mendukung KTSP, guru kebanyakan belum pernah melaksanakan, meskipun sudah direncanakan. Secara keseluruhan guru pernah melibatkan nara sumber dalam PBM urutan prosentase, yaitu 1 kali dalam 6 bulan;1 kali dalam 3 bulan; dan 1 kali dalam 1 bulan.

Rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini

(7)

dilacak pengetahuan dan kemampuan kepala sekolah dalam mengevaluasi, dan memberikan petunjukan tentang komponen yang dievaluasi dan cara mengevaluasi. Dinas Pendidikan perlu memberikan pelatihan kepada kepala sekolah tentang evaluasi keterlaksanaan KTSP di sekolah, sehingga menghasilkan pemahaman dan penerapan yang sama dalam melakukan evaluasi keterlaksanaan KTSP disekolahnya.

2. Dinas pendidikan juga perlu melacak dan menganalisis latar belakang prosentase keterlaksanaan KTSP yang kebanyakan hanya mencapai 75%. Namun temuan di lapangan berkaitan dengan keterbatasan kemampuan guru dalam menerapkan KTSP ke dalam mata-mata pelajaran tertentu, baik dalam pengembangan materi, metode, media maupun evaluasi. Dinas Pendidikan sebaiknya memberikan pelatihan atau penyegaran terhadap kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum pada mata-mata pelajaran tertentu, seperti Seni, Budaya dan Keterampilan, Muatan Lokal, Pengembangan Diri maupun keterampilan yang berkaitan dengan analisis soal dan penggunaan media IPA.

3. Cara mengevaluasi dan peninjauan kembali secara berkala RAPBS oleh sekolah yang beragam perlu ditinjau kembali. Dinas Pendidikan hendaknya memberikan pelatihan melakukan evaluasi berkala RAPBS sehingga menghasilkan pemahaman dan penerapan yang sama berdasarkan standar pemeriksaan keuangan sekolah yang sebenarnya menurut ketentuan-ketentuan normatif keuangan.

4. Dalam proses evaluasi dan peninjauan kembali, maka peran guru perlu ditentukan secara normatif oleh dinas pendidikan dalam bentuk ketentuan atau peraturan, sehingga asas akuntabilitas dan partisipasi dalam terlaksana sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban sekolah kepada publik.

5. Salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah menciptakan suasana kompetisi secara positif melalui lomba bidang studi. Ke depan Dinas Pendidikan hendaknya melaksanakan lomba-lomba studi bekerja sama dengan perguruan tinggi, untuk menciptakan suasana kompetisi dan kualitas pembelajaran, sekaligus memberikan penghargaan kepada guru, siswa dan sekolah pemenang, diikuti pemantauan pengaruhnya terhadap kinerja guru, kinerja sekolah dan kualitas sekolah yang bersangkutan.

(8)

menjadi kebutuhan-kebutuhan para guru untuk dibahas, dan disusun berdasarkan skala prioritas. Bagi guru yang tidak aktif dan tidak berpartisipasi, perlu diberikan tindakan yang sifatnya mengingatkan. Sebaliknya yang aktif dan berpartisipasi diberikan penghargaan, yang dilakukan oleh UPT dan Dinas Pendidikan atas usul dari pengelola KKG.

Referensi

Dokumen terkait

(This is also an instrumental a priori estimate in [23].) Similarly, the Brownian intersection exponent ξ (2 , 1) = 2 can be easily determined [9], and a direct proof also works

Melihat dari produk dan potensi pasar maka pelaksanaan usaha ini memiliki peluang yang tidak ada matinya dan memiliki nilai berkelanjutan.Apalagi usaha “bola jamur kismis”

Setelah melaksanakan kegiatan, ternyata 100% mitra kerja dapat membuat produk keripik dan dodol tape singkong dengan baik yaitu secara fisik dan rasa keripik dan

Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh terhadap pH, tetapi tidak ada pengaruh penambahan ekstrak green tea terhadap karakteristik fisik dan nilai SPF. Kata kunci:

[r]

Meski telah berpendidikan menengah (SMA), namun responden masih banyak yang mengalami kecemasan sedang yang dapat disebabkan karena kurangnya informasi mengenai efek

Komunikasi verbal yang terjadi baik antar jemaat maupun majelis dengan jemaat secara langsung juga bersifat informal, karena dalam pertukaran pesan antara yang

Untuk cara yang lebih mendetail akan diulas pada postingan berikutnya, seperti merubah warna grafik, memberi data pada grafik, memberi judul, mengatur legend