• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KRITIS CONTOH KASUS KEPEMIMPINA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KRITIS CONTOH KASUS KEPEMIMPINA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KRITIS CONTOH KASUS KEPEMIMPINAN ORGANISASI (PENDIDIKAN) DALAM KONTEKS PERPOLITIKAN INDONESIA MUTAKHIR

GENDER DALAM KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

Dicky Dwi Wibowo/ 20171024021100 Kiki Maharani/ 201710240211006 Ruli Alfi Mei Rosyida/ 201710240211015

Widyasari Usman/ 20171024021100

Program Studi Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan

Abstrak:

Secara teori pemimpin muncul karena faktor genetis (keturunan, takdir), sosial, ekologis (bakat dan diklat). Dalam kenyataan atau realitanya pemimpin ini muncul karena faktor simbolis (sebagai simbol/ tanda), formal (karena surat keputusan) dan fungsional (karena kemampuan diakui kelompok). Sebagai bakat alamiah maka jiwa kepemimpinan seseorang adalah suatu karunia yang diperoleh dari sang pencipta. Dalam dunia kepemimpinan munculah persoalan gender yang akhir-akhir ini sedang menjadi wacana publik yang hangat diperbincangkan banyak kalangan. Persoalan ini menyangkut tentang kemitraan dan keadilan peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Dalam sudut pandang gender, terdapat stigma bahwa laki-laki dianggap lebih unggul dari pada perempuan. Maka dari itu kepemimpinan perempuanlah yang sering menjadi isu publik yang selalu diperbincangkan dan telah memancing polemik dan debat antara pro dan kontra terhadap suatu kepemimpinan. Pada dasarnya antara laki-laki maupun perempuan bisa menjadi seorang pemimpin, karena seorang pemimpin yang baik adalah mereka mampu mensejajarkan lembaga yang dipimpin dengan lembaga yang unggul lainnya dengan demikian maka yang dibutuhkan seorang pemimpin adalah sosok yang profesional, memiliki wawasan yang luas, pengalaman, rasa tanggungjawab, komitmen, mampu bekerja sama dengan siapa saja, kerja keras, seorang yang cermat dan teliti.

Pendahuluan

Kepemimpinan seseorang mulai dapat terlihat sejak kanak-kanak. Dalam bahasa dan sifat khas anak-anak para pemimpin cilik tersebut mampu mengatur teman-temannya misalnya untuk bermain. Pada usia sekolah sifat kepemimpinan semakin terlihat jelas. Hal ini nampak pada sosok ketua kelas, ketua pramuka, pemimpin klub olahraga, dan sebagainya.

(2)

membedakan sosok karakter pemimpin dari orang-orang lain yang dipimpinnya. Terdapat empat unsur yang menimbulkan kepemimpinan yaitu ada orang yang mempengaruhi, ada orang yang dipengaruhi, ada kegiatan untuk mencapai tujuan bersama, dan ada tujuan yang diperjuangkan.

Dalam dunia kepemimpinan munculah persoalan gender yang akhir-akhir ini sedang menjadi wacana publik yang hangat diperbincangkan banyak kalangan. Persoalan ini menyangkut tentang kemitraan dan keeadilan peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Dalam sudut pandang gender, terdapat stigma bahwa laki-laki dianggap lebih unggul dari pada perempuan. Maka dari itu kepemimpinan perempuanlah yang sering menjadi isu publik yang selalu diperbincangkan dan telah memancing polemik dan debat antara pro dan kontra terhadap suatu kepemimpinan. Salah satunya budaya patriarkhi yang mempengaruhi terbentuknya struktur dan sosial politik yang timpang di masyarakat, sehingga perempuan yang pada posisi lemah hanya bisa bertahan dalam ruang domestik. Namun dalam kenyataan pada kepemimpinan seorang perempuan sering dijumpai Leader Woman, karakter yang bersifat feminim ternyata terbukti juga mapu memberikan kesuksesan dalam memimpin. Perempuan pemimpin tidak perlu khawatir dengan karakter feminin yang dimilikinya, karena tidak sedikit hasil penelitian berdasarkan fakta di lapangan yang menunjukan bahwa gaya kepemimpinan feminin juga dapat meraih kesuksesan, tanpa harus merubah kodratnya sebagai wanita.

Pembahasan

A. Kepemimpinan Pendidikan

Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, yang dimaksud pemimpin adalah semua orang yang bertanggungjawab dalam proses perbaikan yang berada pada semua level kelembagaan pendidikan. Semua level yang dimaksud disini adalah semua bagian-bagian yang ada dalam lembaga pendidikan, karena kepemimpinan merupakan yang mengatur dan mengawasi semua jalannya lembaga. Untuk itu maka para pemimpin membagi tugas-tugasnya kepada anggotanya, dengan memberikan gaji atau insentif, serta menampilkan keteladanan. (Ikmal, gender dan kepemimpinan dalam pendidikan islam)

(3)

pengalaman, tanggung jawab, komitmen, bisa bekerjasama dengan siapa pun bisa menjadi pemimpin di lembaga pendidikan.

Salah satu kunci yang sangat menentukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya adalah kepala sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mencapai tujuannya secara dominan ditentukan oleh keandalan manajemen sekolah yang bersangkutan, sedangkan keandalan manajeman sekolah sangat dipengaruhi oleh kapasitas kepemimpinan kepala sekolahnya. (Husaini usman, 2006:302)

Kepemimpinan kepala sekolah menurut teori mutakhir (anonim, 2002) haruslah memiliki 25 kompetensi, yaitu:

1. Penyusunan program sekolah; 2. Monitoring dan evaluasi; 3. Manajemen kelembagaan; 4. Kompetensi manajerial;

5. Manajemen sarana dan prasarana; 6. Pengembangan diri;

7. Manajemen hubungan sekolah; 8. Wawasan kependidikan;

9. Memahami sekolah sebagai sistem; 10. Manajemen tenaga kependidikan; 11. Supervisi pendidikan;

12. Manajemen kesiswaan;

13. Memberdayakan sumber daya; 14. Manajemen waktu;

15. Manajemen bimbingan dan konseling;

16. Laporan akuntabilitas kinerja sekolah (LAKIS); 17. Jiwa kepemimpinan;

18. Koordinasi;

19. Memahami budaya sekolah;

20. Menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah; 21. Sistem informasi manajemen;

22. Proses pengambilan keputusan; 23. Akreditasi sekolah;

24. Manajemen keuangan;

(4)

Menurut Burhanuddin (1994:67) ada tiga klasifikasi fungsi kepemimpinan pendidikan sebagai berikut : 1) Fungsi yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai. Artinya pemimpin berusaha membantu kelompok untuk meru - muskan tujuan pendidikan yang meme nuhi syarat agar dapat dijadikan pedoman dalam menentukan kegiatan-kegiatan pendidikan; 2) Fungsi yang berkaitan dengan pengarahan pelaksanaan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Artinya bagaimana pemimpin mampu menggerakkan bawahan agar serangkaian kegiatan pendidikan dapat terlaksana dengan baik. Teknik yang digunakan meliputi actuating, leading, directing, motivating dan staffing; 3) Fungsi yang berhubungan dengan penciptaan suasana kerja yang mendukung proses kegiatan administrasi berjalan dengan lancar, penuh semangat, sehat dan kreativitas yang tinggi. Artinya pemimpin harus menciptakan iklim organisasi yang mampu mendorong peningkatan produktivitas pendidikan yang tinggi dan kepuasan kerja yang maksimal.

B. Pengaruh Gender dalam Kepemimpinan Pendidikan

Gender adalah suatu konsep yang merunjuk pada sistem peranan dan hubungannya antar perempuan dan lelaki yang tidak ditentukan oleh perbedaan biologi, akan tetapi ditentukan oleh lingkungan sosial, politik, dan ekonomi. Salah satu bahasan isu yang menarik dalam kepemimpinan gender adalah pengaruh keragaman gender dalam kepemimpinan. Dalam sudut pandang gender, terdapat stigma bahwa laki-laki dianggap lebih unggul daripada perempuan. Stigma tersebut menempatkan perempuan sebagai warga masyarakat kelas dua, termasuk dalam hal kepemimpinan. Dikarenakan stigma tesebut, kemudian muncul pandangan bahwa kekuasaan dan kepemimpinan merupakan domain laki-laki yang terwujud dalam identitas maskulin. Sebagai akibatnya, berkembanglah resistensi terhadap kepemimpinan perempuan. Hingga saat ini, masyarakat masih cenderung bersikap skeptis terhadap pemimpin perempuan. Hal tersebut tercermin dalam persentase pemimpin perempuan yang masih jauh dibawah pemimpin laki-laki.

(5)

bersifat perintah). Dengan demikian pada prinsipnya siapapun jadi pemimpin laki-laki atau perempuan harus mampu mendeskripsikan dirinya dengan membangun harapan-harapan dan strategi untuk menunjukkan eksistensi dirinya seperti kewibawaan, wawasan, supel, perhatian, serta pintar menlobi, dan kalau perempuan tidak meninggalkan nilai-nilai keibuan sebagai wanita.

Jadi kepemimpinan perempuan diyakini tidak efektif dibanding kepemimpinan laki-laki. Tetapi pendapat tersebut cenderung membesar-besarkan sifat yang melekat pada perempuan. Padahal untuk menjadi eketivitas seorang pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh sifat feminim, tetapi karena kapasitas yang dimiliki dalam memimpin sebuah organisasi, bukan dilihat dari karaktristik gender sebagai perempuan. Pada era sekarang ini banyak pemimpin perempuan tidak terkecuali pada bidang pendidikan misalnya saja kepala sekolah. Tidaklah dibedakan prasyarat menjadi kepala sekolah berdasarkan jenis kelamin, bahwa siapa pun bisa menjadi pemimpin di lembaga pendidikan, baik laki-laki maupun perempuan, selama memenuhi kelayakan dan kriteria syarat menjadi kepala sekolah.

(6)

mereka ke dalam dunia kepemimpinan didasari atas keahlian profesional substantif sebagai edukator dan pada aspek-aspek emosional manajemen kerja sebagai agen-agen perubahan.

C. Feminisme Pimpinan Pendidikan Dalam Kancah Perpolitikan Bangsa

Ungkapan Simon de Beauvoir (1908-1986 M), "Representation of the world, like the world it self, is the work of men; they describe it from their own point of view, which they confuse with the absolute truth, yang merupakan hasil pemikiran untuk mengangkat kesetaraan gender (Arifullah, 2015; Suryanef, n.d.). Sekarang, kegelisahan semakin menguat tidak hanya dikalangan feminisme secara eksklusif, namun juga dilingkungan pendidikan, akademisi, politisi, sosiolog, atau bahkan agamawan yang nota bene dianggap sebagai konservator tradisi bias gender. Tidak hanya dikalangan perempuan, namun laki-laki juga mengalami dampak dari bias gender tersebut. Ketidak adilan tersebut berawal dari hegemoni pengetahuan yang mengkontruksi hubungan antara pengetahuan dengan kekuasaan atau hubungan antara pengetahuan dengan kepentingan dan praksis tertentu (Arifullah, 2015).

Kemungkinan besar keterlambatan itulah yang menyatakan kesadaran terhadap bias dan ketidak adilan gender. Jika ditelusuri, akar sejarah feminisme yang dilatar belakangi oleh sejarah Panjang preseden hegemoni laki-laki atas perempuan harusnya telah muncul jauh-jauh hari, mengingat preseden tersebut kemungkinan telah eksis seiring manusia di dunia. Dalam dunia perpolitikan, peran perempuan sangatlah minim. Oleh karena itu perlunya peningkatan keterwakilan perempuan di dalam perpolitikan bangsa dan menempati pos-pos penting dalam lembaga negara. Baik secara kuantitas maupun kualitas merupakan sebuah keharusan dalam rangka menciptakan kesetaraan dan keadilan antara kepemimpinan feminism dan maskulin untuk sama-sama berpartisipasi dalam proses perumusan kebijakan publik (Rafni, n.d.).

(7)

Putri. Naiknya Megawati Soekarno Putri pun tidak melalui pemilihan umum yang notabene kepercayaan masyarakat memilih presiden. Dilanjutkan pada pemilu tahun 2004, dengan calon presiden yakni Susilo Bambang Yudoyono rival dengan Megawati Soekarno Putri. Hasil pemilu menunjukkan presiden yang menang yakni Susilo Bambang Yudoyono. Jika dianalisis dari permasalahan tersebut, tingkat partisipasi masyarakat terhadap kepemimpinan feminisme bangsa, masyarakat Indonesia lebih memilih pemimpin yang maskulin atau yang sistem keoemimpinan yang dipegang oleh laki-laki.

Dilihat dari menteri pendidikan dari masa ke masa tidak ada satupun perempuan yang menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Mulai dipegang oleh bapak pendidikan pada tahun 1945 yakni Ki Hadjar Dewantara sampai tahun 2017 yakni Muhadjir Efendi. Padahal apabila menurut teori gaya kepemimpinan feminisme yang di teliti oleh loden, gaya kepemimpinan feminisme merupakan satu bentuk kepemimpinan aktif. Kepemimpinan semacam ini merupakan satu dari sebuah proses dimana pemimpin pengurus bagi orang lain, penanggung jawab aktivitas atay pembawa pengalaman (Ditaria, 2016). Dari analisis tersebut presiden RI belum tertarik terhadap gaya kepemimpinan feminisme di bidang pendidikan terlepas dari beberapa kabinet, pos-pos kementerian beberapa ada yang dipegang oleh kepemimpinan feminisme.

(8)

Kepemimpinan feminism pada perempuan berpotensi menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan kepemimpinan maskulin. Kepemimpinan feminism sering kali dilihat sebagai kepemimpinan maskulin. Perempuan dapat diterima sebagai seorang pemimpin apabila mampu mengembangkan karakteristik maskuli dalam kepemimpinanya. Selain itu, kepemimpinan perempuan yang dilegitimasi secara sosial hanyalah kepemimpinan dalam organisasi atau perkumpulam perempuan. Seperti perkumpulan mahasiswi, perawat dan sekolah-sekolah wanita dan lain-lain.

Sebagian besar peran pemimpin perempuan hanya dapat dujunjung tinggi pada suatu lingkup keorganisasian keperempuanan, sekolah maupun forum perempuan dan bidang-bidang yang khusus menangani masalah perempuan, sebagai contoh Badan Pemberdayaan Perempuan yang mana peran dan kedudukan perempuan lebih dipriorotaskan dalam hubungan keorganisasiannya atau organisasi-organisasi perempuan baik dari tingkat kecil hingga tingkat nasional.

Penutup

Pada prinsipnya tidak ada perbedaan signifikan kemampuan dalam kepemimpinan pendidikan antara laki-laki dan perempuan, hanya pada faktor kesempatan. Jika perempuan di Indonesia diberikan ruang dan kesempatan seluas-luasnya maka akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak kalah kuatnya dengan pemimpin-pemimpin perempuan di negara asing lainnya.

(9)

Daftar Rujukan

Arifullah, M. (2015). Hegemoni Epistimologi Tradisional Dalam Wacana Kritis Feminisme Kontemporer. Jurnal Ilmiah Kajian Gender, V(1), 41–59.

Ditaria. (2016). Analisis Gender, Peran Kepemimpinan Perempuan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bantul, 1–14.

Rafni, A. (n.d.). Kesetaraan Jender dalam Politik. Jurnal Ilmiah Kajian Gender, 144–171. Suryanef. (n.d.). Kebijakan Pendidikan Responsif Gender : Perluasan Akses Perempuan

Terhadap Pendidikan Menengah Di Sumatera Barat. Jurnal Ilmiah Kajian Gender, 205– 223.

Robbins, Stephen P., 1998, Organizational Behavior: Concepts, Controversiess, Application,

8th ed, Prentice-Hall International, Inc., New Jersey.

Danim, S. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik.

Jakarta: Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan sistem tanam dan dosis pupuk kandang sapi serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata

Dengan pengembangan sistem ini maka diharapkan sistem dapat menyediakan informasi mengenai perbandingan pembelian dan penjualan, pasar tertinggi, penerbit terlaris dan jenis

5. tindak lanjut atas evaluasi.. Pemenuhan kebijakan oleh Unit Kerja dengan mengacu pada. ketentuan peraturan perundang-undangan di

Bersesuaian dengan ojektif kajian, iaitu untuk mengenal pasti tahap penguasaan para pelajar dalam memahami dan menguasai frasa al-idhāfah ataupun frasa aneksi ini,

Segi kedua dalam studi hubungan antara struktur dan aktivitas dapat digunakan sebagai pola penalaran dalam rancangan molekul baru yang lebih efektif.. Penalaran ini

[r]

Hal ini juga menjadi faktor penghambat bagi advokat mendampingi klien dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kota Pekanbaru dikarenakan SDM advokatnya bukan

It is thus timely to promote sustainable production of gaharu as an important strategy for conserving natural gaharu tree species, thus the forest habitats, and