BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menganalisis hasil produk terjemahan teks tertulis dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif yang akan meneliti teks verbal yang berbentuk tulisan pada tingkatan frasa, klausa, dan kalimat dalam novel Warrior of The Light karangan Paulo Coelho yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Eddie Riyadi Laggut-Terre.
Peneliti memilih metode pendekatan deskriptif kualitatif karena data yang di kaji merupakan data kualitatif pada tingkatan frasa, klausa, dan kalimat. Selanjutnya data tersebut disesuaikan dengan masalah tujuan penelitian ini. Untuk mendapatkan penelitian yang maksimal maka peneliti melakukan beberapa langkah antara lain membaca, menyimak, dan mengidentifikasi, serta mengklasifikasikan data tersebut kedalam beberapa teknik penerjemahan untuk mendapatkan tatanan mikro suatu terjemahan. Kemudian temuan dalam teknik penerjemahan tersebut akan dijadikan sandaran dalam menentukan metode penerjemahan (tatanan makro).
Light ke dalam bahasa Indonesia, 2) Menganalisis metode penerjemahan yang
diterapkan dalam menerjemahkan teks novel Warrior of The Light ke dalam bahasa Indonesia, 3) Menilai kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan dalam menerjemahkan teks novel Warrior of The Light ke dalam bahasa Indonesia.
3.2 Teknik Pengambilan Sampel
Berkenaan dengan teknik pengambilan sampel, Nasution (2003: 53) mengatakan bahwa “Mutu penelitian tidak selalu ditentukan oleh besarnya
sampel, akan tetapi oleh kokohnya dasar-dasar teorinya, oleh desain penelitiannya, serta mutu pelaksanaan dan pengolahannya”. Atas dasar tersebut maka peneliti menentukan teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling.
Purposive sampling adalah salah satu teknik pengambilan sampel yang paling banyak digunakan dalam penelitian. Purposive sampling merupakan proses pengambilan sampel secara sengaja, maksudnya adalah peneliti menentukan sendiri karena ada pertimbangan tertentu seperti jumlah populasi data, waktu yang dibutuhkan, dan keterbatasan kemampuan.
halaman. Untuk mendapatkan persentase yang mendekati dan yang paling ideal, maka peneliti mengambil kelipatan sepuluh pada tiap-tiap halaman novel tersebut, sehingga didapatkanlah 14 halaman sebagai sample. 14 halaman adalah 11% dari 133 halaman (populasi). Maka sampel penelitian ini sudah ideal.
3.3 Data dan Sumber Data
3.3.1 Data
Data yang dianalisis dalam penelitian ini dibatasi pada tataran frasa, klausa, dan kalimat yang terdapat dalam teks novel Warrior of The Light. Yang bertujuan untuk mengungkap teknik penerjemahan, metode penerjemahan, dan kualitas penerjemahan dari segi keberterimaan terjemahan yang digunakan oleh Eddie Riyadi Laggut-Terre dalam menerjemahkan novel Warrior of The Light kedalam bahasa Indonesia.
3.3.2 Sumber Data
2012 oleh Eddie Riyadi Langgut-Terre, terdiri dari 149 halaman, deterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama 2012. Novel Warrior of the Light terdiri dari 133 halaman.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menerapkan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Studi dokumenter (documentary study). Studi dokumenter merupakan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen. Dokumen dalam penelitian ini adalah dokumen tertulis yang diterapkan untuk mengumpulkan data yang terkait dengan teknik penerjemahan, metode penerjemahan, dan kualitas terjemahan dari segi keberterimaan terjemahan dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran.
Dalam penelitian ini hanya diambil 14 halaman dengan alasan sebagai berikut: pertama, karena novel tersebut tidak memiliki bab dan sub-bab namun merupakan suatu cerita yang berkesinambungan, sehingga peneliti hanya mengambil batasan berupa halaman. Kedua, keberhasilan suatu penelitian tidak selalu ditentukan dari banyaknya sampel yang digunakan, hal senada dikatakan oleh Nasution (2003: 53) “Mutu penelitian tidak selalu ditentukan oleh besarnya
Terre, dengan demikian maka bobot dan kualitas terjemahan tersebut relative sama dan stabil. beranjak dari alasan-alasan tersebut maka sampling data yang diambil sudah mewakili keseluruhan populasi.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Taylor, (1975: 79) adalah sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Dengan demikan definisi tersebut dapat disederhanakan bahwa analisis data merupkan suatu proses mengurutkan data ke dalam pola dan kategori sehingga dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data.
Teknik analisis data yang dilakukan untuk merumuskan hipotesis kerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi teknik penerjemahan yang diterapkan dalam menerjemahkan novel Warrior of The Light berdasarkan teori Molina & Albir.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Bab IV ini memaparkan tentang tiga bagian utama penelitian. Bagian pertama adalah pemaparan data tentang teknik penerjemahan yang diterapakan dalam menerjemahkan frasa, klausa dan kalimat pada novel warrior of the light ke dalam bahasa Indonesia. Bagian kedua adalah pemaparan data tentang metode penerjemahan yang diterapakan dalam menerjemahkan frasa, klausa dan kalimat pada novel warrior of the light ke dalam bahasa Indonesia. Bagian yang terakhir adalah pemaparan data tentang kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.
Alasan yang mendasari pemaparan data tentang teknik terlebih dahulu adalah karena teknik penerjemahan merupakan suatu tatanan mikro dalam sebuah penerjemahan, sehingga akan sangat mudah untuk mengetahui metode dan kualitas terjemahan dari segi keberterimaaan pesan. Penyajian data tersebut akan dilakukan secara sistematis sehingga diharapkan mampu memberikan pemaparan data tentang teknik, metode dan kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan secara jelas dan mudah di mengerti.
merupakan cerita yang tidak memiliki bab dan sub-bab, sehingga peneliti harus mengambil sampel sebagai data penelitian.
4.1 Teknik Penerjemahan
Penelitian ini mengidentifikasi data yang diterjemahkan dengan menggunakan satu teknik penerjemahan, dua teknik penerjemahan (kuplet), tiga teknik penerjemahan (triplet). Dari 180 data yang dianalisis, peneliti menemukan 123 data yang di terjemahkan dengan menerapkan teknik tunggal, 55 data yang di terjemahkan dengan menerapkan teknik kuplet, dan terdapat 2 data yang diterjemahkan dengan menerapkan teknik triplet.
4.1.1 Teknik Tunggal
Tabel 4.1 : Teknik Penerjemahan Tunggal
No Jenis Teknik Tunggal Jumlah
1 Harfiah 103
2 Amplifikasi Linguistik 15
3 Padanan Lazim 5
Jumlah 123
Dari ke 3 teknik penerjemahan tersebut, tampak bahwa teknik penerjemahan harfiah mendominasi, yaitu sebanyak 103 data, kemudian teknik penerjemahan amplifikasi linguistik sebanyak 15 data, dan yang terakhir adalah teknik penerjemahan amplifikasi linguistik sebanyak 5 data. Berikutnya uraian dari ke 3 teknik penerjemahan di atas akan di paparkan di bawah ini:
4.1.1.1 Teknik Harfiah
Penerjemahan harfiah merupakan terjemahan kata per kata, seperti yang di katakana oleh Hurtado Albir: 2001 “ Literal translations is to translate a word or
an expression word for word”. Yang di maksud oleh Molina dan Albir dengan
penerjemahan kata per kata adalah menerjemahkan kata demi kata berdasarkan fungsi dan maknanya dalam tataran sebuah kalimat tanpa mengurangi dan menambahkan penjelasan apapun.
002 003 004 005 008 011 012 013 015 018 025 026 028 029
Teknik harfiah tersebut merupakan teknik yang paling dominan dalam menerjemahkan prasa, klausa dan kalimat terhadap novel warrior of the light,
005 His companions say Sahabat-sahabatnya berkata
008 That is why Itulah sebabnya
4.1.1.2 Teknik Amplifikasi Linguistik
Penerjemahan amplifikasi linguistik adalah Teknik penerjemahan yang menambahkan detail informasi yang tidak terdapat dalam teks bahasa sumber. Penambahan dalam teknik ini hanya informasi yang digunakan untuk membantu penyampaian pesan atau pemahaman pembaca. Penambahan ini tidak boleh mengubah pesan yang ada dalam teks bahasa sumber.
BSu : There are many Indonesian in London.
BSa : Banyak warga negara Indonesia di kota London.
Kata Indonesian diterjemahkan menjadi warga Negara Indonesia hal ini bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih akurat, namun dengan tidak mengubah unsur makna dalam bahasa sumber.
Peneliti menemukan sebanyak 15 data dengan menggunakan teknik penerjemahan amplifikasi linguistic dalam menerjemahkan novel warrior of the light dengan contoh sebagai berikut:
009 020 031 044 045 075 076 091 101 102 105 162 165 169 176
Teknik amplifikasi linguistik merupakan teknik terbesar kedua dalam penerjemahan tunggal terhadap prasa, klausa dan kalimat pada novel warrior of the light, seperti contoh berikut ini:
No Bahasa Sumber Bahasa Sasaran
009 at sunset Ketika senja tiba
031 However long that may take Seberapa pun lamanya pengajaran itu berlangsung
044 When the warrior watches a sunset and feels no joy
Bila tak ada suka cita sedikit pun ketika dia memandang matahari tenggelam 075 He too lost heart and courage Dia pun pernah merasa putus asa dan
kehilanagan keberanian
Kelima contoh kalimat diatas menunjukkan bahwa terdapat penambahan informasi yang bertujuan untuk memberikan serta memperjelas detail informasi terhadap suatu kalimat. contoh kalimat bernomor 009 at sunset diterjemahkan dengan ketika senja tiba, terdapat penambahan kata tiba pada penerjemahannya, padahal tidak terdapat padanan kata tiba pada bahasa sumber. Inilah peranan kongkrit teknik penerjemahan amplifikasi linguistik.
4.1.1.3 Teknik Padanan Lazim
Teknik padanan lazim merupakan penerjemahkan istilah dalam bahasa sumber dengan istilah yang sudah lazim dalam bahasa sasaran. Istilah dalam bahasa sumber tersebut umumnya berdasarkan kamus atau ungkapan sehari-hari yang digunakan oleh suatu komunitas pembaca.
Dalam penelitian terhadap teknik padanan lazim ini peneliti menemukan bahwa terdapat 5 data dengan menggunakan teknik padanan lazim, dengan nomor data sebagai berikut:
Teknik padanan lazim merupakan teknik paling sedikit dalam penerjemahan tunggal terhadap prasa, klausa dan kalimat pada novel warrior of the light, seperti contoh data berikut ini:
No Bahasa Sumber Bahasa Sasaran
006 'He's so lucky! Beruntungnya dia 103 Lonely old people Tua jompo yang merana 104 Drunks in the gutter Ada pemebuk yang ketagihan
131 He thinks Demikian pikirnya
161 The world is a mirror Dunia adalah sebuah cerminan
Data diatas menunjukkan penerjemahkan istilah dalam bahasa sumber dengan istilah yang sudah lazim dalam bahasa sasaran. Istilah dalam bahasa sumber tersebut umumnya berdasarkan kamus atau ungkapan sehari-hari. Seperti contoh He is so lucky diterjemahkan menjadi beruntungnya dia, seharusnya diterjemahkan dengan dia sangat beruntung, namun hal ini tidak dilakukan oleh penerjemah karena penerjemah ingin lebih dekat dengan ungkapan sehari-hari yang digunakan oleh masyatrakat kita.
4.1.2 Teknik Penerjemahan Kuplet
penerjemahan dengan perpaduan antara teknik reduksi + harfiah, 11 teknik perpaduan antara amplifikasi linguistik + harfiah, 14 teknik penerjemahan dengan perpaduan antara harfiah + padanan lazim, 6 teknik perpaduan antara transposisi + harfiah, 1 teknik perpaduan antara amplifikasi linguistik + adaptasi, 1 teknik perpaduan antara harfiah + adaptasi, 2 teknik perpaduan antara padanan lazim + amplifikasi linguistik.
Tabel 4.2 : Teknik Penerjemahan Kuplet
No Jenis Teknik Kuplet Jumlah
1 Reduksi + Harfiah 18
2 Harfiah + Padanan Lazim 14
3 Amplifikasi Linguistik + Harfiah 11
4 Transposisi + Harfiah 6
5 Padanan Lazim + Amplifikasi Linguistik 2
6 Amplifikasi Linguistik + Adaptasi 1
7 Harfiah + Adaptasi 1
4.1.2.1 Teknik Reduksi + Harfiah
Terdapat 18 teknik penerjemah kuplet dengan perpaduan antara teknik reduksi dan harfiah. Dengan data sebagai berikut:
001 014 017 022 024 041 049 053 055 062 065 098 109 112 148 151 157 180
Data dengan penerapan antara teknik Reduksi + Harfiah adalah seperti contoh berikut ini:
NO BSu BSa
lazimnya diterjemahkan dengan seorang. Kemudian penerjemahan harfiah sama dengan penjelasan sebelumnya.
4.1.2.2 Teknik Harfiah + Padanan Lazim
Terdapat 14 data yang menggunakan teknik kuplet dengan perpaduan antara teknik harfiah dan padanan lazim. Dengan data bernomor sebagai berikut:
010 021 039 074 080 083 086 094 113 125 137 164 166 173
kneels and gives thanks for the Protective Cloak surrounding him diterjemahkan
dengan Dia berlutut dan memanjatkan ucapan syukur kepada jubbah pelindung yang telah melingkupinya. Kutipan surrounding him diterjemahkan dengan yang telah melingkupinya merupakan makna yang lazim dalam konteks budaya Indonesia, sehingga penerjemah lebih memilih makna tersebut.
4.1.2.3 Teknik Amplisikasi Linguistik + Harfiah
Terdapat 11 data yang terkait dengan teknik tersebut. Pada dasarnya penggunaan teknik amplifikasi linguistik merupakan kebalikan dari teknik reduksi. Teknik amplifikasi bertujuan untuk memberikan keterangan/informasi yang lebih akurat, walaupun tidak terdapat dalam bahasa sumber. Berikut ini data yang terkait dengan kombinasi teknik penerjemahan amplifikasi linguistik + harfiah:
007 019 027 054 066 077 079 085 092 133 147
tujuan dan hanya satu
054 But is not used by it Namun tidak dimanfaatkan oleh kesendirian itu
066 The warrior of the light does not always have faith
Kesatria cahaya tidak selalu mempunyai keyakinan yang teguh
Beberapa kutipan di atas seperti data nomor 007: 'And the warrior diterjemahkan dengan Dan memang, sang kesatria. Kutipan diatas menunjukkan bahwa penerjemah menambahkan prasa dan memang, padahal dalam bahasa sumber tidak kita temukan prasa tersebut.
4.1.2.4 Teknik Transposisi + Harfiah
Teknik transposisi merupakan teknik dengan melakukan perubahan kategori gramatikal atau dengan melakukan pergeseran kategori, struktur dan unit. Terdapat 6 teknik penerjemahan kuplet yang menggabungkan antara teknik penerjemahan transposisi dan harfiah. Berikut ini data yang terkait dengan teknik tersebut:
016 035 067 111 138 150
NO BSu BSa
138 He never meets people who ask him to fight battles thet are not
Contoh terjemahan diatas And he makes sure diterjemahkan dengan Dan dia tak lupa, dari terjemahan ini sangat jelas terlihat bahwa terdapat perubahan
kategori, struktur dan gramatikal dalam menerjemahkan kutipan tersebut.
4.1.2.5 Teknik Padanan Lazim + Amplifikasi Linguistik
Terdapat 2 teknik penerjemahan dengan menggunakan perpaduan antara teknik padanan lazim dengan amplifikasi linguistik. Dengan data bernomor:
088 144
NO BSu BSa 088 His heart satisfied, that faith still
burns in his soul
Hatinya pun tenang dan puas, dia juga memastikan imannya
senantiasa menyala-nyala dalam jiwanya
144 And who want him to ease their anxieties in some way
Dan berharap dia akan meredakan kacemasan mereka
kutipan his heart satisfied diterjemahkan dengan hatinya pun tenang merupakan suatu terjemahan dengan menggunakan teknik padanan lazim.
4.1.2.6 Teknik Amplifikasi + Harfiah
Hanya terdapat 1 teknik kuplet yang menggunakan penggabungan antara teknik amplifikasi dan harfiah, dengan data bernomor : 058. Contoh data penerapan teknik amplifikasi + harfiah adalah:
NO BSu BSa
058 And avoids acting without thinking
Dan menjauhkan diri dari sikap gegabah
4.1.2.7 Teknik Harfiah + Adaptasi
Hanya terdapat 1 teknik penerjemahan dengan menggunakan perpaduan antara teknik harfiah dan adaptasi. Data tersebut adalah data bernomor: 070. Berikut ini data yang terkait dengan teknik penerjemahan harfiah + adaptasi:
NO BSu BSa
070 But his heart remains silent Tetapi hatinya tetap diam seribu bahasa
Teknik perpaduan diatas tidah akan merubah makna yang yang di inginkan oleh penerjemah karena seperti yang peneliti jelaskan di atas bahwa penghilangan tidak dimaksudkan untuk mengurangi makna pada bahasa sasaran.
4.1.3 Teknik Penerjemahan Triplet
Tabel 4.3 : Teknik Penerjemahan Triplet
No Jenis Teknik Kuplet Jumlah 1 Harfiah + Padanan Lazim + Transposisi 1
2 Amplifikasi Linguistik + Padanan Lazim + Harfiah 1 Jumlah 2
Peneliti hanya menemukan 2 teknik penerjemahan triplet denagn varian yang berbeda.
4.1.3.1 Teknik Harfiah + Padanan Lazim + Transposisi
Teknik triplet ini memadukan antara teknik harfiah + padanan lazim + transposisi. Ditemukan 1 teknik penerjemahan tersebut dengan data nomor: 038. Berikut ini contoh data yang ditemukan:
NO BSu BSa
038 The warrior is not discouraged by this
Sang kesatria tidak gentar oleh hasutan demikian
Kalimat di atas menerapkan 3 teknik penerjemahan yaitu harfiah + padanan lazim + transposisi. Prasa is not discouraged diterjemahkan dengan tidak gentar. Kata discourage memang sangat lazim digunakan untuk menerjemahkan
konteks kalimat tersebut. Kemudian prasa by this diterjemahkan dengan oleh hasutan demikian merupakan pergeseran kategori, struktur dan unit. Dan prasa the
4.1.3.2 Teknik Amplifikasi Linguistik + Padanan Lazim + Harfiah
Peneliti hanya menemukan 1 teknik penerjemahan triplet dengan perpaduan teknik amplifikasi linguistik + padanan lazim + harfiah. Data tersebut bernomor: 146. Berikut ini data contoh data teknik triplet tersebut:
NO BSu BSa
146 He smiles and makes it clear to them that he love them
Dia hanya tersenyum dan meyakinkan mereka bahwa memang dia mengasihi mereka
Kalimat di atas menerapkan 3 teknik penerjemahan sekaligus yaitu amplifikasi linguistik + padanan lazim + harfiah. Prasa he smiles diterjemahkan dengan dia hanya tersenyum, penerjemah menambahkan kata hanya yang tujuannnya untuk memberikan informasi yang lebih detail tentang suatu kejadian. Kemudian makes it clear diterjemahkan dengan dan meyakinkan, teknik ini merupakan padanan yang paling lazim digunakan di Indonesia. Kemudian teknik yang terakhir adalah harfiah.
4.2 Metode Penerjemahan
Tabel 4.4 : Frekuensi Teknik Penerjemahan
No Teknik Penerjemahan Tunggal Kuplet Triplet Jumlah
1 Harfiah 103 50 2 155
2 Amplifikasi Linguistik 15 14 1 30
3 Padanan Lazim 5 16 2 23
4 Transposisi - 6 1 7
5 Adaptasi - 2 - 2
6 Reduksi - 18 - 18
Berdasarkan tabel di atas dapat kita simpulkan bahwa teknik harfiah menduduki peringkat tertinggi yaitu sebanyak 155 data, amplifikasi linguistik 30 data, padanan lazim 23 data, transposisi 7 data, adaptasi 2 data, dan reduksi 18 data. Berikutnya data tentang teknik penerjemahan tersebut akan di proses untuk mendapatkan kecenderungan metode penerjemahan menurut Newmak dengan menggunakan diagram V. Tabel 4.5 : Daftar Teknik yang Berorientasi pada Bahasa Sumber No Jenis Teknik Jumlah Persentase 1 Harfiah 155 66%
Tabel 4.6 : Daftar Teknik yang Berorientasi pada Bahasa Sasaran
No Jenis Teknik Jumlah Persentase
1 Amplifikasi Linguistik 30 13%
2 Padanan Lazim 23 10%
3 Reduksi 18 8%
4 Transposisi 7 3%
5 Adaptasi 2 1%
Jumlah 80 34%
Tabel di atas menunjukkan bahwa teknik yang berorientasi pada bahasa sumber lebih mendominasi yaitu sebanyak 155 data atau 66%, sedangkan teknik yang berorientasi pada bahasa sasaran sebanyak 80 data atau 34%. Maka dapat di ambil kesimpulan bahwa metode penerjemahan yang di gunakan dalam menerjemahkan novel warrior of the light adalah metode yang menekankan pada bahasa sumber.
4.3 Kualitas Terjemahan dari Segi Keberterimaan Pesan
juga di kuatkan oleh (Larson, 1984:15) Pilihan kata yang terlalu setia dengan bahasa sumbernya akan mengakibatkan terjemahan terdengar asing.
Peneliti hanya membagi kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan ke dalam 2 kategori yaitu adequate dan acceptable. Hal ini berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Munday. Menurut Munday suatu terjemahan dikatakan berterima jika penerjemah dalam proses penerjemahannya berorientasi pada bahasa sasaran dan konteks budaya sasaran. Jika sebaliknya maka tentu tejemahan tersebut akan kurang berterima.
Tabel 4.7 : Daftar Teknik yang Berorientasi pada Bahasa Sasaran No Jenis Teknik Jumlah Persentase Orientasi
1 Amplifikasi Linguistik 30 13% BSa 2 Padanan Lazim 23 10% BSa 3 Reduksi 18 8% BSa 4 Transposisi 7 3% BSa 5 Adaptasi 2 1% BSa
Jumlah 80 34%
Tabel 4.8 : Daftar Teknik yang Berorientasi pada Bahasa Sumber
No Jenis Teknik Jumlah Persentase Orientasi
1 Harfiah 155 66% BSu
Dari penjelasan tabel kecenderungan diatas terlihat bahwa terdapat 5 penerjemahan yang memiliki kecenderungan pada BSa yaitu: amplifikasi linguistik, padanan lazim, reduksi, transposisi, dan adaptasi dengan jumlah total 80 data atau 34%. Berikutnya hanya terdapat 1 penerjemahan yang memiliki kecenderungan pada BSa yaitu harfiah sebanayak 155 data atau 66%. Jika di lihat dari segi presentase jumlah kecenderungan penerjemahan, maka akan terlihat dominasi kecenderungan penerjemahan pada BSu yaitu sebanyak 155 data atau 66%.
Diagram 4.9 : Kualitas Terjemahan dari Segi Keberterimaan Pesan
Diagram di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persentase yang tidak terlalu signifikan, namun tetap dapat ditarik kesimpulan terhadap kualitas keberterimaan pesan, maka untuk mengambil kesimpulan terakhir, perlu mengacu pada (Munday, 2001) yang menyatakan bahwa jika norma yang diikuti merupakan budaya dan BSu maka terjemahannya akan menjadi adequate, sementara jika terjemahannya mengikuti norma budaya dan Bsa maka terjemahannya akan berterima (acceptable). Dari teori tersebut dapat kita simpulkan bahwa terjemahan novel Warrior of the light adalah adequate, hal ini karena data presentase kecenderungan BSu lebih dominan, yaitu sebanyak 155 data atau 66%, sedangkan kecenderungan terhadap BSa hanya 80 data atau 34%.
BAB V PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dibahas tentang teknik, motode, dan kualitas terjemahan dari segi keberterimaan secara berurutan. Pembahasan pertama ialah tentang penerapan teknik penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah novel warrior of the light. Bagian Kedua membahas tentang motode penerjemahan yang
diterapkan, dan yang terakhir ialah pembahasan terhadap kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan.
5.1 Teknik Penerjemahan
harfiah + padanan lazim + transposisi sebanyak 1 data, dan teknik amplifikasi linguistik + padanan lazim + harfiah sebanyak 1 data.
Penelitian ini menemukan bahwa teknik penerjemahan harfiah mendominasi teknik penerapan yang digunakan, hal ini dilakukan karena tidak terdapatnya konteks budaya asing yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran sehingga hanya perlu untuk menyesuaikan dengan susunan kata ke dalam bahasa sasaran tanpa harus melakukan penambahan dan pengurangan informasi, seperti contoh berikut ini: On battlefields that he does not know di terjemahkan dengan di medan tempur yang tidak dia ketahui, kalimat tersebut tidak mengandung unsur budaya
sehingga penerjemah tidak dituntut untuk menambah dan mengurangi unsur informasi lainnya.
Teknik penerjamahan amplifikasi linguistik merupakan teknik dengan jumlah terbanyak kedua yaitu sebesar 30 data. Hal ini wajar karena penelitian ini mengkaji tentang novel, dan dalam menerjamahkan novel tersebut memang diperlukan penambahan-penambahan informasi, hal ini bertujuan untuk memudahkan pembaca bahasa sasaran dalam memahami maksud dan tujuan dari konteks bahasa sumber, seperti contoh kalimat berikut ini: innocent people imprisoned diterjemahkan dengan orang-orang berdosa dijebloskan begitu saja
ke penjara. Contoh kalimat tersebut sangat jelas bahwa terdapat penambahan
Kemudian teknik yang paling sedikit adalah teknik adaptasi, hal ini wajar karena novel merupakan karya sastra, sehingga tidak memuat banyak istilah-istilah ilmiah. Berbeda halnya dengan buku-buku ilmiah seperti bidang kedokteran, biologi, fisika dll, karena dalam buku tersebut terdapat banyak istilah-istilah yang harus diadaptasi dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran.
5.2 Metode Penerjemahan
Berdasarkan data yang dipaparkan pada bab IV bahwa terdapat 5 teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran yaitu teknik amplifikasi linguistic, teknik padanan lazim, teknik reduksi, teknik transposisi, teknik adaptasi. Kemudian hanya terdapat 1 teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber yaitu teknik harfiah. Secara keseluruhan penggunaan metode penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran sebanyak 80 data atau 34%, kemudian penggunaan yang berorientasi pada bahasa sumber sebanyak 155 data atau 66%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerjemah novel warrior of the light lebih berorientasi pada penggunaan metode yang berorientasi pada bahasa sumber.
5.3 Kualitas Terjemahan dari Segi Keberterimaan
Terjemahan yang berkualitas tentunya dapat diterima dan sesuai dengan dengan kaidah yang dianaut dalam bahasa sasaran, dan juga harus mengetahui target pembaca sebelum menerjemahkan sebuah teks, misalnya penerjemahan untuk target anak-anak akan berbeda dengan penerjemahan untuk orang dewasa.
Keberterimaan pesan merupakan suatu kewajaran terjemahan berdasarkan norma budaya dan bahasa sasaran. Teori yang digunakan dalam menganalisis keberterimaan pesan ini adalah (Munday, 2001) menyatakan bahwa jika norma yang diikuti merupakan budaya dan BSu maka terjemahannya akan menjadi (adequate), sementara jika terjemahannya mengikuti norma budaya dan Bsa maka terjemahannya akan berterima (acceptable). Hal senada juga di kuatkan oleh (Larson, 1984:15) Pilihan kata yang terlalu setia dengan bahasa sumbernya akan mengakibatkan terjemahan terdengar asing.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Analisis terhadap teknik penerjemahan menggunakan teori Molina dan Albir. Metode penerjemahan menggunakan diagram V oleh Newmark. Analisis terhadap kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan menggunakan teori Munday.
Berdasarkan analisis dan pembahasan mengenai Teknik penerjemahan, Metode penerjemahan dan kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan terhadap novel Warrior of the light, maka peneliti menyimpulkan bahwa:
1. Teknik Penerjemahan
Teknik penerjemahan yang paling dominan digunakan dalam menerjemahkan novel ini adalah teknik harfiah dan teknik penerjemahan yang paling sedikit diterapkan adalah teknik adaptasi, hal ini wajar karena objek penerjemahan ini bukanlah tulisan ilmiah seperti ilmu kedokteran, biologi, kimia, dll, namun sebuah karya sastra.
2. Metode Penerjemahan
Dalam penelitian ini ditemukan 1 teknik penerjemahan yang berorientasi pada BSu yaitu teknik harfiah dengan 155 atau (66%) data. Sedangkan penerjemahan yang mengacu pada BSa terdapat 5 teknik penerjemahan yaitu: teknik amplifikasi linguistik sebanyak 30 atau (13%) data, teknik padanan lazim sebanyak 23 atau (10%) data, teknik reduksi sebanyak 18 atau (8%) data, teknik transposisi berjumlah 7 atau (3%) data, teknik adaptasi sebanyak 2 atau (1%).
Dari data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa metode penerjemahan yang diterapkan dalam menerjemahkan novel Warrior of the light adalah metode penekanan pada bahasa sumber (source language emphasis).
3. Kualitas terjemahan dari segi keberterimaan pesan
kualitas penerjemahan dari segi keberterimaan dalam menerjemahkan novel warrior of the light adalah adequate.
6.2 Saran
Berdasarkan analisis dan simpulan di atas, peneliti memberikan beberapa saran dan sekaligus untuk penelitian lebih lanjut:
a. Penerjemahan teks novel hendaknya mampu memilih teknik yang dapat menjelaskan pesan utama yang terdapat dalam teks tersebut dengan sangat jelas. Karena pembaca novel tersebut berasal dari latar belakang pendidikan, budaya, ekonomi yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan teknik amplifikasi linguistik, adaptasi dan deskripsi. b. Penggunaan teknik harfiah juga perlu menjadi pertimbangan dalam
menerjemahkan karya sastra novel. Memang teknik ini mudah diterapkan namun belum tentu dapat membuat pesan tersampaikan dengan baik dan tepat. Untuk itu perlu seorang penerjemah menerapkan teknik yang lebih menitik beratkan pada BSa seperti: deskripsi ,amplifikasi linguistik dll. c. Agar kualitas penerjemahan terutama dari segi keberterimaan lebih baik