Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM Sent

Teks penuh

(1)

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Sentra Gerabah Bumi Jaya Kampung Dukuh Ciruas , Serang,

Banten

“The Origin Product of Banten Province”

Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah UKM dan Koperasi

Dosen Pengampu: Bapak Zaid Nasser, S.IP,. ME

Disusun Oleh:

EDWIN RONALDO (NIM. 5553121723) MUHAMMAD IRHAM FADEL (NIM.5553121884)

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena,

atas berkat dan kehendak-Nyalah laporan hasil survei ini dapat selesai tepat pada

waktunya.

Dalam penulisan laporan ini penulis menemukan banyak kesulitan, terutama

keterbatasan mengenai penguasaan Ilmu Ekonomi Koperasi dan UMKM. Tetapi

berkat bimbingan yang diberikan oleh berbagai pihak akhirnya penulis pun dapat

menyelesaikan laporan penelitian sosial ini. Karena itu penulis turut mengucapkan

terima kasih kepada :

 Dosen Ekonomi Koperasi dan UMKM, Bapak Zaid Nasser, S.IP., ME., yang telah memberika izin untuk melakukan action research.

 Ayah dan Ibu penulis tersayang yang telah memberikan dukungan atau motivasi secara moral, spiritual, dan materil.

Penulis menyadarai bahwa laporan ini masih ditemukan banyak kekurangan.

Maka, kritik dan saran dirasakan sangat dibutuhkan untuk kemajuan penulis di

masa yang akan datang.

Penulis berharap, agar dengan adanya laporan penelitian, dapat berguna bagi

semua Mahasiswa yang mengikut Mata Kuliah Ilmu Ekonomi Koperasi dan UMKM.

Jakarta, 11 Juni 2013

(3)

DAFTAR ISI

9. Picture and More Information ... 10

(4)

1.

Abstract.

Di Indonesia akhir-akhir ini, banyak orang berminat untuk mengoleksi

benda-benda keramik asing maupun lokal, jika yang mengumpulkan

keramik tersebut adalah orang Indonesia kemunginan kecil untuk

diperdagangkan kembali, akan tetapi jika yang membeli adalah orang asing

terutama para kolektor keramik maka akan banyak bersenyalir

barang-barang keramik di seluruh negara terutama negara yang lebih menghargai

benda-benda keramik yang dianggap langka.

Sejarah mencatat perkembangan keramik di Banten sudah cukup maju

dan berkembang pesat. Tercatat hingga akhir tahun 1642, cukup bayak

keramik berbagai jenis yang dikirim dari Banten menuju Eropa. Di pelabuhan

karangantu yang dulu dikenal sebagai bandar Banten pada abad ke 17

pernah menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai. Perdagangan

rempah-rempah dan keramik ini termasuk perdagangan terbesar

dikepulauan Nusantara pada masa kesultanan, waktu itu hampir seluruh

kebutuhan keramik untuk daratan Eropa dipasok oleh Banten, karena

keramik kebanyakan yang ada berupa alat kebutuhan rumah tangga dan

keramik lain (Cina) berupa hisan yang berasal dinasti Cing dan Ming dengan

berwarna biru putih, keramik Cina pun dikirim melalui pelabuhan Banten.

Sisa kebudayaan masa lampau yang berupa keramik sampai kini masih bisa

disaksikan di rumah-rumah penduduk desa. Tetapi keramik asing yang sekarang lebih dikenal sebagai “barang antik” semakin langka, akibat

banyaknya pemburu barang antik mencari dan membeli dengan harga yang

cukup tinggi.

Sekarang ini, keramik Banten masih berkembang di Kampung Dukuh,

(5)

mempertahankan budaya membuat keramik khas Banten. Untuk itu, perlu

adanya usaha ekstra keras untuk membangkitkan kembali industri keramik

sebagai ciri khas Banten, dengan memulai membuat replika-replika keramik

masa lalu, yang diselaraskan dengan selera kebutuhan konsumen masa kini.

Sejauh ini, keramik Banten dapat di temukan di beberapa tempat, antara lain

di pasar Anyer, Ciruas, Bali dan Mancanegara. Karena harganya relatif

terjangkau oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Keramik khas Banten terbagi dalam dua klasifikasi, yaitu: yang

berbentuk wadah dan yang bukan wadah. Keramik berbentuk wadah sendiri

mempunyai subklasifikasi, yaitu pasu, piring persegi, piring bulat,

jambangan bulat, jambangan silinder, pot bunga, kendi, periuk, wajan dan

kuali. Sedangkan yang bukan wadah, biasanya berbentuk periuk. Hiasan

khas keramik Baten yang paling populer adalah motip tumpal bergerigi dan

ceplok dari teknik cap serta motip yang dihasilkan dengan teknik cubit.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh sejarahwan Banten, Drs. H. Halwany

Michrob M.Sc. (alm) di Situs Banten lama membuktikan, hanya ada dua

teknik menghias yang kerap dilakukan pengrajin keramik Banten, yaitu

teknik gores dan teknik tekan.

Di kampung Dukuh setiap orang mampu menghasilkan 10 - 20 gentong

sehari, bahan setengah jadi. Seperti yang dikerjakan oleh para wanita yang

sedang mengerjakan pembuatan gentong dirumahnya, produksi keramik

yang dihasilkan hampir di setiap rumah didesa Bumi Jaya bermacam macam

jenisnya antara lain; kendi, gentong, celengan, padasan (tempayan untuk air

sembahyang), pot bunga, dupa, pendaringan, keren (tempat masak), kuali,

(6)

Menelusuri lorong-lorong Perkampungan Desa Bumi Jaya, tidak jauh

dengan suasana kehidupan desa pesisir utara pulau jawa pada pada

umumnya para peduduknya, terkesan apa adanya, penuh keramahan.

2.

The Origin Product.

Tembikar adalah alat keramik yang dibuat oleh pengrajin. Tembikar

dibuat dengan membentuk tanah liat menjadi suatu obyek. Alat tembikar

yang paling dasar adalah tangan.

Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk

kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat-alat yang berguna

membantu kehidupan manusia. Gerabah diperkirakan telah ada sejak masa

pra sejarah, tepatnya setelah manusia hidup menetap dan mulai bercocok

tanam. Situs-situs arkeologi di indonesia, telah ditemukan banyak tembikar

yang berfungsi sebagai perkakas rumah tangga atau keperluan religius

seperti upacara dan penguburan. tembikar yang paling sederhana dibentuk

dengan hanya menggunkan tangan, yang berciri adonan kasar dan bagian

pecahannya dipenuhi oleh jejak-jejak tangan (sidik jari), selain itu bentuknya

kadang tidak simetris. selain dibuat dengan teknik tangan, tembikar yang

lebih modern dibuat dengan menggunakan tatap-batu dan roda putar. Macam–macam gerabah, yaitu: Piring, Kendi, Guci, Tempayan, Anglo, Kuali, Celengan, Pot, Gerabah hiasan, Kowi (Tempat Penggodogan Emas), Tungku

Batu Bara, Vas Bunga, Gentong antik, dsb.

Cara pembuatan:

a) Pengambilan tanah liat.

Tanah liat diambil dengan cara menggali secara langsung ke dalam

(7)

baik berwarna merah coklat atau putih kecoklatan. Tanah liat yang telah

digali kemudian dikumpulkan pada suatu tempat untuk proses

selanjutnya.

b) Persiapan tanah liat.

Tanah liat yang telah terkumpul disiram air hingga basah merata

kemudian didiamkan selama satu hingga dua hari. Setelah itu,

kemudian tanah liat digiling agar lebih rekat dan liat. Ada dua cara

penggilingan yaitu secara manual dan mekanis. Penggilingan manual

dilakukan dnegan cara menginjak-injak tanah liat hingga menjadi ulet

dan halus. Sedangkan secar mekanis dengan menggunakan mesin

giling. Hasil terbaik akan dihasilkan dengan menggunakan proses

giling manual.

c) Proses pembentukan.

Setelah melewati proses penggilingan, maka tanah liat siap dibentuk

sesuai dengan keinginan. Aneka bentuk dan disain depat dihasilkan

dari tanah liat. Seberapa banyak tanah liat dan berapa lama waktu yang

diperlukan tergantung pada seberapa besar gerabah yang akan

dihasilkan, bentuk dan disainnya. Perajin gerabah akan menggunakan

kedua tangan untuk membentuk tanah liat dan kedua kaki untuk

memutar alat pemutar (perbot). Kesamaan gerak dan konsentrasi sangat

diperlukan untuk dapat melakukannya. Alat-alat yang digunakan yaitu

alat pemutar (perbot), alat pemukul, batu bulat, kain kecil. Air juga

sangat diperlukan untuk membentuk gerabah dengan baik.

(8)

Setelah bentuk akhir telah terbentuk, maka diteruskan dengan

penjemuran. Sebelum dijemur di bawah terik matahari, gerabah yang

sudah agak mengeras dihaluskan dengan air dan kain kecil lalu dibatik

dengan batu api. Setalah itu baru dijemur hingga benar-benar kering.

Lamanya waktu penjemuran disesuaikan dengan cuaca dan panas

matahari.

e) Pembakaran.

Setalah gerabah menjadi keras dan benar-benar kering, kemudian

banyak gerabah dikumpulkan dalam suatu tempat atau tungku

pembakaran. Gerabah-gerabah tersebut kemudian dibakar selama

beberapa jam hingga benar-benar keras. Proses ini dilakukan agar

gerabah benar-benar keras dan tidak mudah pecah. Bahan bakar yang

digunakan untuk proses pembakaran adalah jerami kering, daun kelapa

kering ataupun kayu bakar.

f) Penyempurnaan.

Dalam proses penyempurnaan, gerabah jadi dapat dicat dengan cat

khusus atau diglasir sehingga terlihat indah dan menarik sehingga

bernilai jual tinggi.

3.

Weakness and Strength.

A. Weakness

1) Dibandingan dengan pengrajin keramik Plered, Purwakarta dan

Asongan Jogyakarta, daerah ini jauh tertinggal. Para pengrajin

disini belum mengenal glasir dan corak warna serta pembakaran

masih dilakukan secara tradisional. Bentuk barang yang

(9)

tahun ke tahun dari segi estetika tidak diperhatikan hingga

mutu/kulitas rendah, tidak menarik konsumen sebagai barang

hiasan. Padahal dalam peta bumi kebudayaan, daerah ini dikenal

sebagai penghasil keramik sejak jaman kesultanaan Banten. Tetapi

para pengrajin disini tidak terpengaruh terhadap membanjirnya

keramik asing yang datang dari Cina yang bermotif indah dan

menawan.

2) Sistem pemasaran produk yang kurang baik, karena keterbatasan

sumber daya modal.

3) Sistem pelatihan kerja dan keamanan kerja kurang memadai

dalam hal produksi.

4) Kurangnya intervensi pemerintah daerah untuk pengembangan

usaha gerabah ini.

5) Produksi masih bersifat musiman, dimana ada dana maka akan

berproduksi, namun sebaliknya jika tidak ada dana makan tidak

produksi. Hal ini disebabkan ketidakstabilan dana yang dimiliki,

untuk itu dibutuhkan koperasi sebagai pengelola dana.

6) Masih lemahnya wawasan masyarakat akan pentingnya koperasi.

7) Tidak sedikit para pengrajin didesa Bumi Jaya terjerat “Pengijon”

8) Bantuan Permodalan dari pemerintah tak kunjung terealisasi.

9) Diragukannya kemampuan pengrajin dalam memenuhi

permintaan pasar mancanegara yang begitu besar.

(10)

1) Di Desa Bumi Jaya, di kenal dari jaman dulu hingga sekarang dengan sebutan sebagai ‘desa gerabah’ karena karya seninya yang telah melalangbuana hampir ke seluruh pelosok Nusantara dan

negara Eropa. Tapi sedikit saja orang yang tahu, keramik yang

sering dijadikan interior maupun eksterior hotel-hotel kawasan

Anyer, Bali, dan beberapa perumahan elite di Jakarta, ternyata

keramik yang digunakan adalah hasil karya tangan-tangan

terampil Banten. Secara tidak sadar pula, ibu-ibu rumah tangga

yang selama ini akrab dengan gerabah dari tanah liat, yang selalu

di pakai untuk menyimpan beras atau mendinginkan air, ternyata

tidak jauh di buat dari lokasi mereka tinggal.

2) Merupakan satu satunya desa yang memiliki bahan produksi

terbaik dan hasil produksi yang amat baik.

3) Dalam jangka panjang produk ini merupakan sebuah Maha Karya

dengan ciri khas budaya daerah yang memiliki nilai seni yang

tinggi. Sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang tidak

terduga ketika produk itu dibutuhkan kolektor dimancanegara.

4) Hasil produksi gerabah bumi jaya ini digunakan oleh para

seniman bali, lalu para seniman tersebut memberikan sedikit

sentuhan dalam motif dan corak warna sehingga gerabah tersebut

memiliki daya beli yang tinggi dan harga yang fantastis.

5) Gerabah Desa Bumi Jaya Banten tembus pasar Eropa hingga

mengantongi omset Rp.600 juta per tahun.

4.

Distribution.

Masih terdapat kendala dalam jalur distribusi, dimana kondisi

(11)

yang diangkut pecah karena berbenturan saat diperjalanan. Jalur distribusi

yang buruk adalah jalur Ciruas- Tirtayasa dimana kondisi jalur

bergelombang dan berlubang sehingga barang hasil produksi sampai dalam

keadaan yang tidak utuh. Untuk itu diperlukan prinsip kehati-hatian dalam

proses pendistribusian.

Pendistribusian gerabah ini dipasarkan di wilayah Banten, Jakarta,

Yogyakarta, Kalimantan, Sumatra, dan Bali. Untuk dimancanegara gerabah

ini dipasarkan di Eropa, yaitu di Perancis dan Belanda. Menurut kami lokasi

gerabah Desa Bumi Jaya ini sangatlah strategis dimana letaknya di Ibu Kota

Provinsi Banten yaitu Serang, serta cukup dekat dengan DKI Jakarta, Bandara

Internasional Soekarno Hatta, dan Pelabuhan Merak. Hal tersebut sebetulnya

mempermudah dalam pendistribusian antar kota maupun antar Negara,

namu diperlukan perbaikan di jalur Ciruas-Tirtayasa provinsi Banten.

5.

Raw Material or Added Value.

Gerabah termasuk Added Value (barang jadi) karena barang yang sudah

melalui proses produksi dan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan.

6.

In Line or Out Line The Product.

Gerabah termasuk Out Line The Product, karena termasuk barang

tradisional yang memiliki pontensi yang sudah lama, namun belum

mengalami kemajuan.

(12)

Kompetitor dari Gerabah Desa Bumi Jaya Kampung Dukuh, Ciruas,

Serang, Banten yaitu: Plered, Purwakarta, Pundong (Bantul), dan Kasongan

Jogyakarta

8.

Competitive Value.

Nilai Kompetisi (Best Product) ,yaitu: Kuali/ Kowi (Penggodogan Emas),

dan Tungku Batu Bara.

 Kowi merupakan kuali yang digunakan untuk peleburan emas,

alumunium, kuningan, timah dll. Gambar dibawah ini adalah kowi

dengan diameter 7cm dan 14cm.

 Tungku Batu Bara digunakan untuk mengolah batu bara jenis non

karbonisasi (biasa), karena jenis yang tidak mengalamai karbonisasi

sebelum diproses menjadi Briket dan harganyapun lebih murah. Karena

zat terbangnya masih terkandung dalam Briket Batubara maka pada

penggunaannya lebih baik menggunakan tungku (bukan kompor)

sehingga akan menghasilkan pembakaran yang sempurna dimana

seluruh zat terbang yang muncul dari Briket akan habis terbakar oleh

lidah api dipermukaan tungku. Tungku ini umumnya digunakan untuk

industri kecil. Positifnya tungku ini jauh lebih aman terhadap alat

(13)

 Dua produk tersebut merupakan barang unggulan yang harganya amat terjangkau namun amat berguna yang merupakan penerapan teknologi

sederhana dalam pengolahan emas dan batubara. Dua produk tersebut

merupakan produk asli, dan Provinsi Banten sendiri merupakan

produsen tunggal kedua produk tersebut.

9.

Picture and More Information

(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

Sentra Gerabah Bumi Jaya Kampung Dukuh, Jalan Ciptayasa Km.6 Pasar Dukuh Desa Bumi Jaya Kec. Ciruas Kab. Serang Banten.

10.

More UMKM in Banten Province

(21)
(22)
(23)
(24)
(25)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...