• Tidak ada hasil yang ditemukan

BANK INDONESIA SURAKARTA SEBAGAI PERKEMB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BANK INDONESIA SURAKARTA SEBAGAI PERKEMB"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BANK INDONESIA SURAKARTA SEBAGAI

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR POST MODERN DI

KOTA SURAKARTA

Bank merupakan sebuah tempat yang menjadi sebuah indikator penting adanya perkembangan dalam sebuah wilayah. Dalam perkembangan yang ada tersebut, biasanya bank akan mengikuti dari perkembangan sebuah wilayah yang ada, sehingga perkembangan wilayah bisa dikatakan selaras akan perkembangan bank yang ada di dalam wilayah tersebut.

Seperti halnya dicontohkan dalam sebuah bank milik pemerintah di Kota Surakarta, yaitu Bank Indonesia. Dimana keberadaan bank ini sangat mencerminkan adanya sebuah proses perkembangan Kota Surakarta dari waktu ke waktu. Bank Indonesia yang ada di wilayah Kota Surakarta ini terbagi atas dua buah massa bangunan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Satu bangunan beraliran neo klasik, satu bangunan beraliran post modern. Dari fasad yang terlihat kita pasti juga telah bisa membedakan manakah bangunan dari Bank Indonesia ini yang menggunakan aliran neo klasik, ataupun yang menggunakan aliran post modern.

(2)

Berbeda dengan bangunan Bank Indonesia yang baru (menggunakan aliran post modern), bangunan ini nampak lebih modern, memiliki fasad bangunan yang unik, pemakaian materual modern/ baru dalam pengaplikasiann pada fasad serta bentuknya yang sudah tidak

kaku lagi, memperjelas bahwa bangunan Bank Indonesia yang satu ini adala bangunan baru di kawasan Bank Indonesia Kota Surakarta. Berikut perbedaan dari fasad kedua massa bangunan.

Gambar 1 : Bangunan Bank Indonesia baru / post modern ( kanan) dan bangunan Bank Indonesia lama/ neo klasik ( kiri)

Dari gambar di atas terlihat jelas mengenai bentuk fasad bangunan dari dua buah bangunan Bank Indonesia yang berbeda. Perbedaan yang muncul tersebut menjadi daya tarik tersendiri oleh masyarakat di sekitarnya. Karena sejatinya adanya perbedaan tersebut akan saling memperkuat citra bangunan satu dengan yang lainnya.

(3)

karena sejatinya umur bangunan yang masih baru serta memiliki desain bangunan yang berbeda dengan bangunan yang lain di Kota Surakarta ini.

Arsitektur post modern adalah Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis. Atau bisa dikatakan juga bahwa arsitektur post modern adalah arsitektur yang mengusung paham percampuran antara tradisional dengan non-tradisional , gabungan setengah modern dengan setengah non - modern , perpaduan antar yang lama dengan yang baru. Mempunyai style yang hybrid ( perpaduan dua unsur ) dan bermuka dua ( double coding ).

Jika dilihat dari pengertiannya, maka secara singkat kita telah mengetahui beberapa penjelasan singkat akan arsitektur post modern, namun akan lebih mengerti dan memahami jika kita juga mengetahui akan ciri-ciri yang menjadi patokan sebuah arsitektur post modern. Ciri-ciri tersebut adalah ( Menurut Budi Sukada) :

 Komunikatif yang bersifat LOKAL atau POPULAR

 Membangkitkan kenangan HISTORIK

Sedangkan menurut Jencks, ciri-ciri arsitektur post modern adalah :

 Ideologi

 Gaya

 Ide- ide rancangan

(4)

 Double Coding of Style

Bangunan postmodern adalah bangunan yang memiliki dua gaya (style) yaitu memadukan arsitektur modern dengan

Ide/gagasan yang umum serta bersifat lebih umum dan tidak terikat dengan kaidah-kaidah tertentu, tetapi memiliki fleksibilitas yang beragam. Hal ini lebih baik daripada gagasan tunggal.

 Semiotic form

Penampilan bangunan lebih mudah difahami, karena bentuk-bentuk yang vertical yang menyiratkan makna-makna tertentu

 Tradion and Choice

Merupakan hal-hal yang tradisional dan penerapannya secara terpilih atau disesuaikan dengan maksud dan tujuan perancang.

 Artist / Client

Mengandung dua hal pokok yaitu bersifat seni (intern) dan bersifat umum (ekstern). Yang menjadi tuntutan perancangan sehingga mudah dipahami secara umum menyeluruh. Unsur-unsur dasar seperti: History , vernacular, Lokasi / Lokal dll.

(5)

Arsitek berlaku sebagai wakil penerjemah perancangan dan secara aktif berperan serta dalam perancangan

Dalam bangunan Bank Indonesia baru kita dapat melihat beberapa ciri arsitektur post modern yang terlihat dari bangunan tersebut. Ciri yang dapat kita amati adalah dalam hal “tradition and choice”. Hal yang dimaksudkan disini adalah, Bank Indonesia yang kebetulan berada di wilayah Kota Surakarta, di mana notabennya kota ini masih syarat akan budaya yang sangatlah kuat, maka unsur budaya tetap dimaksukkan oleh perancang, agar keselarasan antara moderenitas dan tradisi tetap terjaga. Terlihat dari bagian depan bangunan yang terlihat seperti akuarium. Desain ini mengadopsi bangunan Pendapa pada langgam arsitektur Jawa Kuno. Meski di sini terkesan tanpa fungsi, namun sang arsitek ingin menyelaraskan kemudian mengadopsi konsep arsitektur lama ke dalam langgam arsitektur modern. 'Pendapa' ini beserta lanskap, pada bagian depannya menjadi ruang publik dari sekedar fungsi privatnya. Dibangunnya area ini merupakan salah satu usaha memisahkan ruang publik dan fungsi bangunan sebagai bangunan Bank, adalah dengan dibuatnya satu bangunan transisi sebagai area masuk ke bangunan utama, yang pada filosofinya hampir sama dengan bangunan tradisional setempat, yaitu pendopo. Bangunan Pendopo ini di buat dengan material kaca modern, yang menyaratkan sisi modernitas sekaligus menjaga agar visual pandangan warga dari jalan raya dari arah Kantor Pos tidak terhalangi untuk menikmati bangunan eks De Javasche Bank.Selain hal

tersebut, di bangunan Bank Indonesia tersebut juga terdapat sebuah ornamen wayang. Wayang tersebut berupa wayang Beber berupa seni pahatan pada batu candi yang menempel di dinding gedung. Sehingga masyarakat yang melintas, bisa langsung melihat wayang tersebut. Pahatan wayang Beber bercerita tentang tugas Gubernur Bank Indonesia dan Deputi Gubernur dalam membuat kebijakan tentang keuangan dan perbankan.

(6)

kepada elistist and participative. Di mana dalam hal desain bangunan yang banyak menggunakan material kaca/ bening membuat bangunan tersebut tidak bersifat angkuh dengan lingkungan sekitar, (borjuis seperti pada arsitektur modern) namun bangunan tersebut terbangun juga sebagai ruang publik di Kota Surakarta yang keindahan arsitekturalnya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kota Surakarta. Selain untuk fungsi di atas, elemen kaca yang terdapat di fasad bangunan juga berfungsi sebagai elemen yang dipergunakan untuk pencahayaan alami pada bangunan tersebut. Sehingga unsur green building juga tercipta di dalam gedung Bank Indonesia tersebut.

Gambar 2 :

Penggunaan elemen kaca pada fasad Bank Indonesia serta desain bangunan yang mengadopsi nilai nilai arsitektur jawa, khususnya pendhapa.

Pembahasan berikutnya adalah mengenai gaya. Gaya memiliki pengertian yaitu suatu pemahaman bentuk , cara , rupa , dsb, yang khusus mengenai arsitektur post modern. Dalam ciri di arsitektur modern, gaya terbagi atas beberapa jenis, yaitu:

 Hybrid expression

Penampilan hasil gabungan antara unsur-unsur modern dengan :

(7)

- Metaphorical – Contextual

 Complexity

Hasil pengembangan ideology dan ciri-ciri postmodern yang mempengaruhi perancangan dasar sehingga menampilkan rancangan yang bersifat kompleks. Disini pengamat diajak mengamati, menikmati dan mendalami secara seksama.

 Variable Space with surprice

Perubahan nilai ruang yang tercipta akibat adanya kejutan-kejutan, misalnya : warna, detail elemen arsitektur, suasana interior, dll.

Campuran langgam yang saling berintergrasi secara kontinu untuk menciptakan unity.

 Semiotic

Arti yang hendak ditampilkan secara fungsi.

 Variable mixed aesthetic depending on context, expression on

content and semantic – appropiateness toward function

Gabungan unsure estetis dan fungsi-fungsi estetis serta tidak mengacaukan fungsi.

(8)

 Pro Hestorical reference

Menampilkan nilai-nilai histories pada setiap rancangan yang menegaskan ciri bangunan.

 Pro Humor

Mengandung nilai humoris sehingga pengamat diajak untuk lebih menikmatinya.

 Pro Symbolic

Menyiratkan simbol-simbol yang mempermudah arti dan yang dikehendaki perancang.

(9)

ornamen ini terletak di depan dari fasad bangunan, sehingga masyarakat yang melewatinya akan melihat unsur lokal yang tetap ada di bangunan modern tersebut.

Pembahasan berikutnya adalah mengenai ide-ide rancangan. Pengertian tentang ide-ide desain dalam arsitektur post modern adalah suatu gagasan perancangan yang mendasari arsitektur postmodern. Ide itu sendiri terbagi atas beberapa poin untuk mempermudah penggolongan bangunan tersebut masuk/ tidak dalam kategori aliran post modern. Poin-poin tersebut adalah :

 Contextual Urbanism and Rehabilitation

Kebutuhan akan suatu fasilitas yang berkaitan dengan suatu lingkungan urban

 Functional Mixing

Gabungan beberapa fungsi yang menjadi tuntutan dalam perancangan

 Mannerist and Baroque

Kecenderungan untuk menonjolkan diri

 All Phetorical Means

Semua bentuk-bentuk perancangan yang memilki arti

 Skew Space and Extensions

Pengembangan rancangan yang asymetris – dinamis, seimbang

 Ambiquity

Menampilkan cirri-ciri yang men ‘dua’ , berbeda tetapi masih unity dalam fungsi.

(10)

 Trends to Asymetical Symetry

Menampilkan bentuk-bentuk yang berkesan asymetris tetapi yang seimbang.

 Collage / Collision

Susunan menjadi karya.

Mengenai ciri dari post modern “ide-ide rancangan” terlihat juga di bangunan Bank Indonesia ini, yaitu pada poin Mannerist and Baroque. Mannerist and Baroque memiliki pengertian kecenderungan untuk menonjolkan diri. Seperti yang kita lihat, bangunan Bank Indonesia ini berbeda, baik dari segi material, desain bangunan, serta dimensi bangunan. Bangunan ini terlihat lebih menonjol dari bangunan komersial yang ada di sebelah kanan maupun kirinya. Di sebelah kanan bangunan, yaitu bangunan Bank Indonesia lama, yang masih menggunakan gaya arsitektur neo klasik. Sedangkan di sebelah kiri bangunan terdapat Kantor Pos Indonesia, yang desain bangunannya masih belum bisa menyaingi kemegahan dan keunikan dari bangunan Bank Indonesia ini. Itulah mengapa ciri Mannerist and Baroque masuk ke dalam salah satu ciri di bangunan ini.

(11)

Skew Space and Extensions menjadi ciri selanjutnya yang muncul di awal, namun di sini terlihat penyelarasan antara dua buah massa yang berbeda baik dari segi fasad, material, maupun aliran dari masing-masing bangunan tersebut.

(12)

ikatan batin dengan jenis pohon ini, dan tidak lupa ditambahkan satu pohon beringin baru di bangunan lama, untuk mengimbangi kedudukan jalan antara kedua site ini yang memperkuat poros sejarah Keraton Kesultanan dengan Benteng Vastenburg serta mewujudkan Kota Solo sebagaiCity Of Trees.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari ulasan serta deskripsi-deskripsi di atas adalah bahwa gedung baru Bank Indonesia Kota Surakarta adalah bangunan baru yang ada di kota Solo yang menggunakan paham aliran arsitektur post modern yang diterapkan pada bangunan publik.

ARSITEKTUR POST MODERN

TEORI ARSITEKTUR 2

MAULINA SUKMAWATIE BUDIHARJO

(13)

PRODI ARSITEKTUR

JURUSAN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Gambar

Gambar 1 : Bangunan Bank Indonesia baru / post modern ( kanan) dan bangunan Bank Indonesialama/ neo klasik ( kiri)
Gambar 2 :Penggunaan elemen kaca pada fasad Bank Indonesia serta desain bangunan yang mengadopsi
Gambar 5 : Bangunan Bank Indonesia baru terlihat paling menonjol dan berbeda dari segi ide, fasadserta desain dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya.

Referensi

Dokumen terkait

Tugas individu  Penilaian lisan  Penilaian unjuk kerja (keberanian untuk menyampai kan pendapat)  Penilaian tulisan  Penilaian sikap (pengamata n perilaku)  Penilaian

Acuan – acuan pendukung tersebut dapat berupa literatur penunjang, peta kegempaan, grafik dan tabel beton, serta standar – standar yang berlaku dalam perencanaan struktur

Yakup, MS dengan judul “Pengelolaan Hara dan Pemupukan Pada Budidaya Tanaman Jagung (Zea mays L.) Di Lahan Kering” telah diterima dan untuk dapat dipresentasikan pada Seminar

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui pengaruh secara simultan dan parsial insentif, budaya kerja, lingkungan kerja terhadap

4.3.3 Pengujian tarik pegas daun bekassesudahrekondisi Pengujian tarik ini dilakuakan untuk mengetahui sifat mekanik yaitu kekuatan yield dan kekuatan tarik maksimum dari

a) Memperoleh keyakinan memadai tentang apakah lapoan keuangna secara kseluruhan bebas dai kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan, dan

Pada hasil KLT, setelah dilakukan pemberiandengan uap amonia pada lampu UV 254 nm terdapat noda yang berfluoresensi kuning, pada lampu UV 366 nm berfloresensi

Pada Tabel II, terlihat hasil penetapan kadar sampel propanolol hidroklorida tablet merek dagang Propanolol HCl dengan metode luas daerah di bawah kurva dan diperoleh