• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Etnobotani dan Etnofarmakologi Ba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Etnobotani dan Etnofarmakologi Ba"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN UJIAN TENGAH SEMESTER ETNOBOTANI DAN ETNOFARMAKOLOGI

Kajian Etnobotani dan Etnofarmakologi Bahan-Bahan Utama Jamu Gendong

Sebagai Obat Herbal Tradisional dari Etnik Jawa

Oleh:

Dicky Kurniawan

1400810003

Program Studi Bioteknologi dan Neurosains

Fakultas Ilmu Hayati

Universitas Surya

(2)

Kajian Etnobotani dan Etnofarmakologi Bahan-Bahan Utama Jamu

Gendong Sebagai Obat Herbal Tradisional dari Etnik Jawa

PENDAHULUAN

Jamu merupakan pengobatan herbal tradisional asli dari Indonesia, dengan ramuan alami yang diracik menggunakan bagian-bagian tumbuhan tanpa bahan kimia adiktif. Jamu identik dengan

uda a Ja a, istilah a erasal dari ahasa Ja a Ku o, aitu dja pi a g erarti pe e uha

dengan ramua o at atau doa da ajia , serta oesodo yang berarti kesehatan. Istilah jamu muncul sekitar abad ke- hi gga a g erujuk pada kata dja pi , seda gka kata oesodo telah jarang digunakan. Jamu telah dikenal sejak zaman nenek moyang sebelum ilmu pengobatan modern masuk ke Indonesia (Jamu Indonesia, 2016).

Jamu telah ada di Indonesia sejak sangat lama. Terdapat relief di candi Borobudur yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu dan Buddha pada abad ke-8, mendeskripsikan penggunaan jamu racikan alami untuk pemeliharaan kesehatan. Pada prasasti Madhawapura yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu Majapahit, dijabarkan tentang adanya profesi peracik jamu yang disebut

de ga istilah a araki . Ramuan jamu digunakan turun-temurun dan digunakan hingga saat ini untuk pengobatan seluruh kalangan masyarakat Indonesia (Jamu Indonesia, 2016).

Di zaman modern ini, telah banyak diproduksi berbagai macam obat dari pabrik farmasi karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, tidak jarang masyarakat lebih menggemari jamu tradisional yang dibuat secara langsung dari bahan dasar alaminya berupa berbagai bagian dari tanaman yang tersedia secara bervariasi dan melimpah di negeri ini. Tidak sedikit masyarakat yang masih berprofesi sebagai tukang jamu. Salah satu yang umum ditemukan adalah tukang jamu gendong tradisional yang umumnya dilakukan oleh kalangan perempuan (Wulandari dan Azrianingsih, 2014).

Jamu gendong tradisional dibuat secara langsung menggunakan berbagai bagian tumbuhan yang diperoleh dari alam. Bahan kimia tambahan seperti pengawet tidak ditambahkan dalam proses penyajiannya. Oleh karena itu, penjualannya pun harus dilakukan dalam jangka waktu hari di mana jamu tersebut dibuat. Tujuannya untuk menjaga kesegaran dan efektivitas jamu agar khasiatnya dapat dirasakan para konsumen. Ramuan herbal turun-temurun ini juga relatif aman jika dikonsumsi dengan takaran yang tepat Rofi’ah, . Hal-hal tersebut membuat jamu gendong tradisional menjadi salah satu tipe pengobatan herbal yang menarik untuk diteliti.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data jenis jamu gendong tradisional berserta bagian tanaman yang digunakan, khasiat kegunaannya berdasarkan wawancara dari perspektif informan, dan menjelaskan setiap jenis tanaman yang digunakan sebagai bahan utama jamu dari studi literatur etnobotani dan etnofarmakologi. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara secara langsung kepada informan dan studi literatur.

(3)

Figur 1 dan 2. Lokasi dilakukannya proses wawancara (sumber: Google Maps, 2016).

Informan dalam wawancara penelitian ini adalah Ibu Ruminah atau yang sering disapa Mbok Ru. Beliau merupakan penjual jamu gendong tradisional yang berasal dari daerah Bumiayu, kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Ibu Ruminah telah bekerja dibidang pengobatan jamu tradisonal selama 25 tahun. Ilmu pengobatan jamu tradisional dipelajari beliau dari temannya, saat sedang berada di kota Solo.

Figur 3. Ibu Ruminah (Mbok Ru) sedang menggendong jamu tradisional dagangannya.

(4)

Surakarta terletak di antara gunung Merapi, Merbabu, dan Lawu. Kota ini dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo dan dibelah oleh Kali Pepe (Rahajeng, 2007). Secara geografis, daerah Surakarta terletak di antara 110º4 ’ – º ’ BT dan 73 º 6’ – º ’ LS. Kota dengan luas wilayah 44km² ini berbatasan langsung dengan kabupaten Karanganyar, Boyolali, dan Sukoharjo. Terdapat 5 kecamatan yang ada di Surakarta (Pratiwi, 2009).

Figur 4. Peta administrasi daerah Solo (IT PN Surakarta, 2014).

Masyarakat Surakarta sangat kental dengan kebudayaan Jawa. Tata bahasa, etika, perilaku, dan adat istiadat Jawa masih sangat tertanam pada masyarakat asli Surakarta. Masyarakat setempat masih menanamkan ajaran leluhur yang terus diturunkan, seperti tepo seliro, yaitu penuh empati dan saling menghormati antar sesama makhluk hidup. Terdapat pula istilah mikul dhuwur mendhem jero, yaitu keharusan untuk tetap menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kita sebagai ciptaan Tuhan, di manapun kita berada (Pratiwi, 2009).

Mayoritas orang Surakarta berasal dari etnik Jawa. Beberapa karakteristik dan sirat penduduk Surakarta adalah sangat dipengaruhi kebudayaan dan kepercayaan Jawa, bertatakrama Jawa sangat kental, pelan, punya tujuan, bergerak, dan pasti, serta memiliki jiwa seni dan usaha (Pratiwi, 2009). Salah satu usaha yang terkenal dari Solo adalah berjualan jamu. Menurut Beers (2001), dalam bukunya

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara, terdapat 6 jenis jamu tradisional yang dibuat secara alami oleh informan. Keenam jenis jamu tersebut adalah jamu kunir asem, jamu sirih, jamu pahitan, jamu temulawak, jamu jahe, dan jamu beras kencur. Setiap jamu memiliki bahan dasar dan khasiat yang berbeda-beda. Bahan-bahan pembuatan jamu diperoleh dari daerah asal informan di Bumiayu atau dibeli di Pasar Ciputat, jika bahan dari kampungnya telah habis.

1. Jamu Kunir Asem

Figur 5. Jamu kunir asam atau kunyit asam (sumber: masakbagus.com, 2015).

Jamu kunir asem memiliki bahan utama rhizoma kunyit (Curcuma longa L. atau Curcuma domestica Valeton) dan buah asam jawa (Tamarindus indica L.). Menurut informan, jamu kunir asem bermanfaat untuk mencerahkan kulit, melancarkan dan mengurangi nyeri menstruasi, menghilangkan bau badan, mengobati batuk, antiradang, dan sebagai sumber serat. Jamu kunir asem banyak digemari dan dikonsumsi oleh kalangan perempuan.

Secara umum, proses pembuatan jamu kunir asem untuk ukuran botol besar adalah sebagai berikut (Utomo, 2015): rimpang kunyit yang telah dikupas (500 gram) dihaluskan hingga diperoleh sarinya dan kemudian disaring. Hasil penyaringan direbus hingga mendidih dalam 2 liter air dan ditambahkan dengan asam jawa (500 gram), gula merah (250 gram), dan garam secukupnya. Setelah didinginkan, jamu kunir asem siap disajikan.

(6)

Kunyit merupakan tumbuhan berbentuk semak yang termasuk dalam famili zingiberaceae. Daun kunyit berbentuk lanset memanjang dengan helaian sebanyak 3-8 buah. Tingginya sekitar 70cm. Rhizoma kunyit mengandung zat warna kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, dihidrokurkumin, desmetoksikurkumin, dan bisdesmetoksikurkumin. Minyak atsiri juga terkandung pada kunyit, seperti zingiberin, kurlon, kurkumol, atlanton, bisabolen, seskuifellandren, aril kurkumen, humuren, serta alfa dan beta tumeron yang memberikan aroma khas kunyit. Terdapat pula kandungan arabinosa, fruktosa, glukosa, pati, tanin, dammar, dan beberapa jenis mineral. Senyawa yang vital pada kunyit adalah kurkuminoid yang berkhasiat antihepatotoksik, antiedemik, analgesik, khususnya kurkumin yang memberikan efek antiinflamasi dan antioksidan (CCRC Farmasi UGM, 2014).

Bahan utama lainnya dalam jamu kunir asem adalah asam jawa. Asam jawa atau tamarin merupakan tumbuhan polong-polongan yang termasuk dalam famili fabaceae. Tinggi pohon dapat mencapai 24 meter dan memiliki bunga berwarna kuning pucat dan merah muda. Bagian yang sering dimanfaatkan dalam pengobatan adalah buahnya. Asam jawa mengandung senyawa fenolik seperti catenin, procyanidin B2, epicatechin, tartaric acid, mucilage, pektin, arabinosa, xilosa, galaktosa, glukosa, asam uronat dan triterpen. Nutrisi yang terkandung dalam asam jawa adalah karbohidrat, protein, serat, asam folat, niasin, asam pentatonat, tiamin, vitamin A, C, E, K, dan beberapa jenis mineral. Beberapa efek farmakologi yang diberikan dari konsumsi asam jawa adalah merelaksasikan otot polos, antipiretik, mengontrol berat badan, dan sebagai senyawa antimikroba (Kuru, 2014).

2. Jamu Sirih

Figur 8. Jamu sirih yang terbuat dari rebusan daun sirih (sumber: manfaat.co.id, 2015).

Seperti namanya, jamu sirih memiliki bahan utama tanaman sirih (Piper betle L.). Bagian yang digunakan adalah bagian daunnya. Cara membuatnya adalah dengan merebus beberapa helai daun sirih dalam air hingga mendidih dan tersisa volume takaran botol jamu. Air rebusan inilah yang dimanfaatkan sebagai jamu.

(7)

Figur 9. Daun tanaman sirih (sumber: Henriette Kress, 2001).

Sirih merupakan tumbuhan menjalar dan merambat yang termasuk dalam famili piperaceae. Daunnya berbentuk seperti jantung, meruncing, tumbuh berselang-seling, dan bertekstur agak kasar.

Bata g sirih er ar a oklat kehijaua da erkerut Rofi’ah, . Daun sirih mengandung senyawa fenol dan terpena yang menyebabkannya memiliki rasa aromatik tajam yang kuat. Tanaman jantan memiliki total konten fenol 3x lipat lebih banyak dan tiosianat 2x lebih banyak dibandingkan dengan tanaman betina. Kualitas daun sirih ditentukan dari senyawa fenol yang terkandung di dalamnya (Pradhan et al., 2013).

Beberapa senyawa fenol utama pada daun sirih adalah chavibetol, carvacrol, chavicol, camphene, dan candinene. Bermacam-macam senyawa lainnya juga terkandung yaitu pati, diastase, gula, tanin, alkaloid, komponen steroidal, dan minyak esensial yang utama, seperti safrole, allyl pyrocatechol monoacetate, eugenol, terpinen-4-ol, dan eugenyl acetate. Eugenol diidentifikasi merupakan senyawa antifungal yang terkandung dalam minyak daun sirih. Sterol merupakan senyawa bioaktif yang bertanggungjawab sebagai senyawa antibakteri. Antivitas antioksidan juga diperoleh karena kehadiran senyawa polifenol seperti chatecol dan allylpyrocatecol. Beberapa efek lain dari kandungan daun sirih berdasarkan penelitian adalah aktivitas hepatoptotektif, imunomodulator, antidiabetes, dan gastroprotektif (Pradhan et al., 2013).

3. Jamu Pahitan

(8)

Jamu ini memiliki rasa yang pahit saat diminum, sehingga disebut sebagai jamu pahitan atau paitan. Bahan utama jamu pahitan adalah daun sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) dan daun brotowali (Tinospora crispa L.). Khasiat yang diperoleh dari konsumsi jamu pahitan berdasarkan penuturan informan adalah menghilangkan jerawat, gatal-gatal, pegal-linu, mengobati diabetes dan asam urat. Jamu pahitan digemari oleh kalangan orang tua maupun remaja.

Jamu pahitan dibuat dengan merebus beberapa helai daun sambiloto dan daun brotowali yang telah dihaluskan, dalam air hingga mendidih. Proses perebusan dilakukan hingga diperoleh takaran volume berukuran 1 botol jamu. Jamu pahitan siap untuk dikonsumsi setelah telah dingin dan disaring air rebusannya. Varian bahan lain juga dapat ditambahkan, seperti bidara laut, babakan pule, adas, dan empon-emponan (Suharmiati, 2003).

Figur 11 dan 12. Daun sambiloto (sumber: homeremediess.com, 2015) dan daun brotowali (sumber: National Parks Board Singapore, 2013).

Sambiloto merupakan tumbuhan terna yang termasuk dalam famili acanthaceae. Tinggi tanaman sambiloto berkisar antara 35-95cm. Daunnya memanjang, berwarna hijau tua, dan sangat pahit rasanya. Bunga sambiloto berukuran kecil yang berwarna putih keunguan (Astuti dan Munawaroh, 1996). Daun sambiloto mengandung senyawa-senyawa alkana, keton, dan aldehid. Senyawa yang menyebabkan rasa pahit pada daun adalah andrographolide dan kalmeghin. Terkandung pula senyawa lakton lain berupa deoxyandrographolide, neoandrographolide dan 14-deoxy-11, 12-didehydroandrographolide, serta senyawa-senyawa flavonoid. Efek yang diberikan dari senyawa fitoaktif daun sambiloto berdasarkan penelitian adalah efek hepatoprotektif, antimikroba dan antiparasit, penurunan tekanan darah, antioksidan dan antiinflamasi, dan penurunan kadar gula darah (Akbar, 2011).

Tanaman brotowali merupakan bahan utama lainnya dalam jamu pahitan. Brotowali termasuk dalam famili menispermaceae, merupakan tanaman semak, memanjat, dan tahunan. Batangnya berkayu dengan permukaan berbenjol-benjol. Daun brotowali merupakan daun tunggal

(9)

4. Jamu Temulawak

Figur 13. Jamu temulawak (sumber: Trisan, 2015).

Jamu temulawak dibuat dari bahan dasar berupa rhizoma temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Menurut informan, jamu temulawak memiliki khasiat dalam meningkatkan nafsu makan. Oleh karena itu, jamu ini sering dikonsumsi oleh kalangan anak-anak. Secara umum, proses pembuatan jamu temulawak adalah dengan menumbuk rimpang temulawak hingga halus, merebus tumbukan dalam air hingga mendidih, lalu menyaring hasil rebusan tersebut. Air rebusan yang telah dingin, dimasukkan ke dalam botol jamu dan siap untuk dipergunakan. Untuk ukuran 1 botol jamu, dapat digunakan rimpang temulawak sekitar 100 gram (Astuti, 2013).

Figur 14. Rimpang temulawak (sumber: Agromedia, 2013).

(10)

Rimpang temulawak mengandung 48-59,64% pati (Warintek Ristekdikti, 2006). Senyawa utama dalam temulawak adalah curcuminoids (1-2%) dan minyak atsiri (3-12%). Curcuminoids yang terkandung adalah kurkumin, monodemethoxycurcumin, bisdesmethoxycurcumin serta diarylheptanoids fenolik dan nonfenolik lainnya. Minyak atsiri yang terkandung pada rimpang temulawak seperti sesquiterpenes (contohnya β-curcumene, ar-curcumene), xanthorrizol, dan sebagian kecil camphor. Senyawa xanthorrizol merupakan pemberi aroma khas pada temulawak. Senyawa-senyawa dalam temulawak tersebut memberikan beberapa efek farmakologi, seperti antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, antipenuaan, antikoagulasi, antimutagenik dan antikarsinogenik, hipolipidemik, hipokolesterolik, dan hepatoprotektif (European Medicines Agency, 2014).

5. Jamu Jahe

Figur 15. Jamu jahe yang berbahan dasar rimpang jahe (sumber: Medindia4u.com Pvt. Ltd, 2013). Jamu ini berbahan dasar rimpang (rhizoma) jahe (Zingiber officinale Roscoe). Menurut informan, jamu jahe memberikan efek dalam menghangatkan tubuh dan mengobati batuk. Jamu jahe juga dimanfaatkan sebagai pemanis dan bahan tambahan untuk jamu lainnya. Secara umum, proses pembuatan jamu jahe adalah dengan menumbuk rimpang jahe hingga halus, merebus tumbukan dalam air hingga mendidih, lalu menyaring hasil rebusan tersebut. Air rebusan yang telah dingin, dimasukkan ke dalam botol jamu dan siap untuk dipergunakan. Jahe yang umum digunakan sebagai bahan pembuatan jamu adalah jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) (Kaitu, 2013).

(11)

Jahe merupakan tanaman semak semusim yang termasuk ke dalam famili zingiberaceae. Batang jahe merupakan batang semu dengan warna hijau. Daunnya hijau berbentuk lanset, dengan ujung runcing dan pangkal tu pul. Terdapat u ga aje uk de ga e tuk ulir Rofi’ah, . Tinggi tanaman jahe berkisar 30cm hingga 1m. Bagian yang sering digunakan dalam pengobatan adalah rimpangnya. Pada umumnya, rimpang jahe berbentuk agak pipih dan terlihat gemuk dan berbuku-buku. Kulit rimpang jahe agak tebal dan mudah dikelupas (Kaitu, 2013).

Kandungan yang terdapat dalam jahe adalah pati, minyak atsiri, dan ekstrak senyawa yang larut dalam alkohol. Senyawa utama dalam rimpang jahe segar adalah senyawa gingerol yang merupakan senyawa fenolik keton. Senyawa gingerol pada jahe menyebabkan efek pedas saat dikonsumsi. Gingerol bersifat termolabil dan akan berubah menjadi senyawa shogaol yang lebih pedas dibanding gingerol, pada suhu tinggi. Kandungan gingerol jahe merah lebih tinggi dibanding dengan jenis jahe lainnya dalamnya. Aroma jahe dipengaruhi oleh minyak atsiri yang terkandung di dalamnya. Minyak atsiri yang utama dalam jahe adalah zingiberin (35%), kurkumin (18%), farnesen (10%), dan terdapat pula bisabolen dan - seskuifellandren dalam jumlah yang sedikit (Hernani dan Winarti, 2013).

Senyawa utama gingerol pada jahe segar telah teruji secara farmakologi dalam memberikan efek antitutif, antipiretik, antiinflamasi, analgesik, hipotensif, antitumor, antikanker, antioksidan, antifungal, dan melancarkan peredaran darah (Hernani dan Winarti, 2013). Efek lain yang diberikan dari konsumsi jahe adalah menurunkan kadar kolesterol (hipolipidemik), antimual, antiulcerogenik, dan antiviral oleh adanya kandungan - seskuifellandren terutama terhadap rhinovirus penyebab pilek (Malhotra dan Singh, 2003).

6. Jamu Beras Kencur

Figur 17. Jamu beras kencur (sumber: Trubus Online, 2015).

(12)

Secara umum, proses pembuatan jamu beras kencur (ukuran 1 botol jamu) adalah sebagai berikut (Andri, 2015): merendam beras putih (200 gram) yang telah disangrai dalam air mendidih selama 2 jam. Kencur dan jahe (masing-masing sebanyak 50 gram) disangrai dan disisihkan. Mencampur air rendaman beras, kencur, dan jahe dengan kapulaga (10 buah), kemukus (1/2 sendok teh) yang telah ditumbuk serta garam secukupnya. Air rendaman disaring lalu direbus dengan gula merah (300 gram) dan daun pandan (2 lembar). Air rebusan dicampur dengan gula secukupnya dalam air (hingga 1.500 mL) sampai merata dan kemudian disaring.

Figur 18 dan 19. Rhizoma kencur (sumber: Mohammed Anwarul Kabir Choudhury, 2016) dan beras putih dari padi (sumber: Naver Corp., 2011).

Kencur yang merupakan salah satu bahan utama jamu beras kencur, termasuk ke dalam famili zingiberaceae. Kencur adalah jenis tanaman empon-emponan dengan bunga yang mahkotanya berjumlah 4-12 buah. Rimpang/rhizoma kencur berwarna putih kekuningan pada bagian dalam dan berwarna coklat pada kulit luarnya Rofi’ah, . Rhizoma kencur mengandung minyak atsiri seperti ethyl-p-methoxycinnamate (31-77%), methylcinnamate (23.23%), carvone (11.13%), eukaliptol (9.59%) dan pentadekana (6.41%). Beberapa senyawa fitoaktif lainnya juga terkandung, seperti 3-carene, camphene, borneol, cineol, kaempferol, kaempferide, cinnamaldehyde, p-metho-xycinnamic acid, dan ethyl cinnamate. Beberapa efek farmakologi dari kandungan pada kencur telah diteliti, diantaranya bersifat relaksan terhadap otot polos dan pembuluh darah (Singh et al., 2013).

(13)

PENUTUP

Terdapat 6 jenis jamu segar yang dijual oleh informan di Permata Pamulang, yaitu jamu kunir asam dengan bahan utama rhizoma kunyit dan buah asam jawa, jamu sirih dengan bahan utama daun sirih, jamu pahitan dengan bahan utama daun sambiloto dan daun brotowali, jamu temulawak dengan bahan utama rhizoma temulawak, jamu jahe dengan bahan utama rhizoma jahe, dan jamu beras kencur dengan bahan utama rhizoma kencur dan air rendaman beras. Masing-masing jamu memiliki khasiat yang berbeda, namun secara sinkron memberikan efek untuk menyehatkan tubuh. Pengobatan herbal jamu gendong tradisional dari etnik Jawa di Solo ini masih tetap bertahan dan diminati oleh masyarakat dengan berbagai kalangan.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Ak ar, “hahid. . Andrographis paniculata: A Review of Pharmacological Activities and Clinical

Effe ts. Alternative Medicine Review 16 (1): 66-77.

A dri. . Ja u Beras Ke ur. [o li e]. Tersedia:

http://www.trubus-online.co.id/jamu-beras-Beers, Susan-Jane. 2001. Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing. Hong Kong: Perpiplus Editions Limited.

Bukhari. . Pe garuh Pe eria Pupuk Orga ik da Air Cu ia Beras terhadap Pertu uha da

Hasil Tanaman Terung (Solanum Melongena L. . Jurnal Sains Riset 3 (1): 1-8.

CCRC Farmasi UGM. 2014. Ku it Curcuma longa Li . . [o li e]. Tersedia: http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=345. Diakses 8 Oktober 2016.

Department of Biotechnology Ministry of Science & Technology Government of India. 2009. Biology of Rice. India.

Dweck, Anthony C. dan Jean-Pierre Ca i . t.t. A da ali Tinospora crispa) – A Re ie . [o li e]. Tersedia: http://www.dweckdata.com/published_papers/Tinospora_crispa.pdf. Diakses 8 Oktober 2016.

Europea Medi i es Age . . Assess e t Report o Curcuma zanthorrhiza Roxb. (C. xanthorrhiza D. Dietri h , Rhizo a. [o li e]. Tersedia: http://www.ema.europa.eu/docs/en_GB/document_library/Herbal_-_HMPC_assessment_rep ort/2014/05/WC500166364.pdf. Diakses 14 Oktober 2016.

Hazrulriza ati. . Chara terizatio a d Biologi al A ti ities of Tinospora crispa (Menispermaceae)

E tra t ith E phasis o Alkaloids. Disertasi. Pahang: Fakultas Industrial Sciences and Technology Universiti Malaysia Pahang.

Her a i da Christi a Wi arti. . Ka du ga Baha Aktif Jahe da Pe a faata a dala Bida g Kesehata . Status Teknologi Hasil Penelitian Jahe: 125-142.

Ja u I do esia. . “ejarah Ja u. [o li e]. Tersedia:

http://jamuindonesia.com/shop/index.php?route=news/article&news_id=15. Diakses 7 Oktober 2016.

Kaitu, Re Ag esia Matia da a. . Akti itas A ti akteri Fu gi E dofit Jahe Merah Zingiber officinale var. rubrum) terhadap Escherichia coli dan Streptococcus pyrogenes. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Teknobiologi UAJY.

(15)

Malhotra, “a ir da A rit Pal “i gh. . Medi i al Properties of Gi ger Zingiber officinale Ros . . Natural Product Radiance 2 (6): 296-301.

Oktora, Na da. . Klasifikasi da Morfologi Ta a a Te ula ak. [o li e]. Tersedia:

http://www.petanihebat.com/2013/12/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman.html. Diakses 14 Oktober 2016.

Pradha , D., K. A. “uri, D. K. Pradha , da P. Bis asro . . Golde Heart of the Nature: Piper betle

L. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry 1 (6): 147-167.

Pratiwi, Rani Putri. 2009. Graha Seni dan Budaya di Surakarta Sebagai Pengembangan Kompleks Taman Budaya Surakarta dengan Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular. Tugas Akhir. Surakarta: Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret.

Rahaje g, “ha ri a O. . “olo, The “pirit of Ja a. Makalah Ilmiah. Semarang: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

Rofi’ah, “iti Hafidatur. 2012 Etnobotani Tumbuhan Bahan Dasar Obat Tradisional (Jamu) di

Ke a ata U ulharjo da Pasar Beri gharjo Yog akarta. Skripsi. Malang: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim.

Singh, Chingakham B. et al. . Biologi al a d Che i al Properties of Kaempferia galanga L. – A

)i gi era eae Pla t. NeBIO 4 (4): 35-41.

Suharmiati. 2003. Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

Uto o, Ita. . Ja u Ku it Ase . [o li e]. Tersedia: http://masakbagus.com/jamu-kunyit-asem/. Diakses 7 Oktober 2016.

Warintek Ristekdikti. 2 . Te ula ak Curcuma xanthorrhiza Ro . . [o li e]. Tersedia: http://warintek.ristekdikti.go.id/pertanian/temulawak.pdf. Diakses 14 Oktober 2016.

Wulandari, Rahmy Ayu dan Rodiyati Azria i gsih. . Et o ota i Ja u Ge do g Berdasarka Persepsi Produsen Jamu Gendong di Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten

Mala g. Jurnal Biotropika 2 (4): 198-202.

Referensi

Dokumen terkait

Bahan untuk pengujian proksimat dan asam amino adalah ikan cempedik segar yang diperoleh dari nelayan penangkap ikan di Sungai Lenggang dan Ikan cempedik Goreng yang

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,