Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014
MEMANTAPKAN PEREKONOMIAN NASIONAL BAGI
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT YANG BERKEADILAN
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014: Memantapkan
Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
© Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional, Republik Indonesia
Foto cover
: Pras Widjojo
Diterbitkan oleh:
mensejahterakan rakyat. Pimpinan daerah baik di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam
menyusun langkah-langkah dan strategi kebijakannya perlu saling berkoordinasi dan
bersinergi untuk mencapai perekonomian nasional yang semakin mantap.
Buku ini disusun sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan sinergi langkah-langkah
kebijakan, program dan kegiatan antara pemerintah pusat dan daerah. Buku ini berisikan
antara lain poin-poin utama kebijakan pemerintah pusat untuk tahun 2014, hasil evaluasi
paruh waktu RPJMN 2010-2014 dan kerangka pemantapan perekonomian nasional bagi
peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan beserta langkah-langkah bagi daerah
untuk mencapainya.
Saya berharap, buku ini dapat menjadi pegangan bagi segenap aparatur pemerintah daerah
dalam menyusun strategi dan langkah-langkah pembangunan di daerah. Melalui pemahaman
yang sama terhadap konsep dan faktor-faktor penentu untuk memantapkan perekonomian
nasional bagi peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan, segenap jajaran
Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemangku kepentingan lainnya dapat bersama-sama
menyamakan langkah untuk menyusun strategi yang lebih harmonis dan terintegrasi.
Dengan terbitnya Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014 ini, saya
menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang telah bekerja dengan
itikad dan dedikasi yang baik dalam menyusunnya.
Semoga Tuhan yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kemudahan dan bimbingan Nya
dalam setiap upaya kita untuk memantapkan perekonomian nasional, agar terjadi akselerasi
dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia demi peningkatan kesejahteraan rakyat
yang berkeadilan.
Jakarta, 23 April 2013
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
i
RINGKASAN EKSEKUTIF
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan
penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan dan strategi pembangunan daerah untuk
mendukung
Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat
yang Berkeadilan
. Oleh sebab itu, secara lebih spesifik tujuan dari disusunnya buku ini adalah
untuk memberikan panduan bagi daerah tentang: (i) kerangka pembangunan untuk mencapai
Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang
Berkeadilan; serta (ii) upaya dan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh daerah untuk
mendukung pencapaian tema pembangunan 2014.
Walaupun kondisi perekonomian dunia sepanjang tahun 2010-2012 dalam tekanan yang
cukup berat, kinerja perekonomian nasional terlihat masih terjaga baik dengan pertumbuhan
ekonomi berada pada tingkat yang cukup tinggi. Pada tahun 2012, pertumbuhan ekonomi
Indonesia mencapai 6,2 persen; sedangkan pada tahun 2011 pertumbuhannya mencapai 6,5
persen.
Di saat kondisi ekonomi global mulai pulih, perekonomian domestik harus tetap terjaga
dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. Selanjutnya,
ekspor dan investasi harus didorong untuk tumbuh tinggi, agar ekonomi nasional dapat
meningkat dengan lebih baik, terutama untuk terus mengembangkan sektor produktif padat
karya agar dapat memperluas kesempatan kerja. Hal ini sangat penting karena perluasan
kesempatan kerja akan dapat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat
terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan
persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah
ii
Buku PeganganPerencanaan Pembangunan Daerah 2014
Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan
pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu
pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor)
dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment).
Seiring dengan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, tantangan yang
dihadapi oleh kita bersama adalah meningkatkan pemahaman publik di kalangan Pemerintah,
dunia usaha dan masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah; tentang manfaat dan
peluang yang dapat diperoleh dengan pelaksanaan MEA 2015. Pembentukan MEA sebenarnya
dapat memberikan peluang bagi Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang, jasa,
investasi, pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. Di lain pihak, Bangsa Indonesia
harus bekerja keras untuk meningkatkan daya saing dan memperkuat ketahanan nasional agar
dapat bersaing dengan negara ASEAN lain.
Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah
pembangunan untuk mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN
2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis, Sejahtera dan Berkeadilan”. Adapun
langkah-langkah tersebut kemudian dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang
disusun setiap tahun. Pada tahun 2014, tema pembangunan nasional adalah “Memantapkan
Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan”. Dengan
demikian, secara menyeluruh tema RKP dari tahun 2010-2014 ditunjukkan pada Gambar
berikut.
Tema Pembangunan yang Tertuang Dalam RKP
Pelaksanaan Pembangunan Nasional sampai dengan paruh waktu RPJMN 2010-2014 telah
memberikan capaian yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2010 hingga 2012
masih dalam kisaran sasaran RPJMN (sekitar 6,3-6,8 persen per tahun, dengan peningkatan
bertahap mulai dari 5,5-5,6 persen pada tahun 2010 menjadi sekurang-kurangnya 7 persen
pada tahun 2014). Pada tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,2 persen, kemudian
berkembang lebih baik pada tahun 2011 menjadi 6,5 persen, lebih tinggi dari yang telah
ditargetkan. Pada tahun 2012, meskipun krisis keuangan Eropa memberikan tekanan yang
cukup kuat, perekonomian nasional pada tahun 2012 masih dapat tumbuh sebesar 6,2
persen.
2010 •Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat 2010
2011
•Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan Didukung oleh Pemantapan Tatakelola dan Sinergi Pusat dan Daerah
2011 2012
•Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat
2012
2013 •Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2013
2014 3 3 3 4
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
iii
Pertumbuhan ekonomi yang kokoh memberikan pengaruh positif terhadap penyerapan
tenaga kerja sehingga mampu menekan angka pengangguran. Rata-rata 1,39 persen angkatan
kerja mampu diserap setiap tahunnya, sehingga angka pengangguran dapat ditekan menjadi
6,14 persen pada tahun 2012, yang sebelumnya pada tahun 2010 mencapai 7,14 persen.
Sejalan dengan itu, tingkat kemiskinan juga berhasil diturunkan. Pelaksanaan Pembangunan
Daerah sampai dengan paruh waktu RPJMN 2010-2014 telah memberikan hasil capaian yang
cukup baik. Pencapaian target pembangunan dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi,
tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran. Untuk beberapa provinsi menunjukkan capaian
yang cukup baik, namun masih banyak provinsi yang perlu terus meningkatkan upaya dalam
mencapai target-target pembangunan tersebut.
Kemudian, di dalam Bab IV telah dijabarkan secara rinci kerangka dasar untuk memantapkan
perekonomian nasional bagi peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Kerangka
tersebut pada dasarnya terdiri dari tiga komponen, yaitu:
1.
Pemantapan perekonomian nasional, yang dititikberatkan pada aspek pendorong
pertumbuhan ekonomi (growth);
2.
Peningkatan stabilitas (stability),
yang terdiri dari aspek stabilitas ekonomi, sosial
dan politik;
3.
Pemerataan yang berkeadilan (equity),
yang memberikan kesempatan yang sama
kepada seluruh masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan dan
menikmati hasil pembangunan (inclusiveness).
Kerangka Dasar Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan
Rakyat yang Berkeadilan
Dalam Bab V dijelaskan secara rinci mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh
pemerintah daerah untuk bersama-sama dengan pemerintah pusat dalam mencapai target
pembangunan nasional tahun 2014, serta untuk mendorong sinergi pembangunan antar
PEMANTAPAN PEREKONOMIAN NASIONAL BAGI PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT YANG BERKEADILAN
Pertumbuhan Ekonomi (Growth)
Stabilitas (Stability)
Pemerataan yang Berkeadilan (Equity)
1
2
3
a. Sisi pengeluaran b. Sisi produksi
a. Ekonomi b. Sosial c. Politik
Inclusiveness:
iv
Buku PeganganPerencanaan Pembangunan Daerah 2014
wilayah. Hal ini sangat penting karena efektivitas pembangunan akan tercipta jika ada
harmonisasi kebijakan dan program antara pusat dan daerah serta antar daerah. Sinergi
kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah dapat dilakukan sejak proses perencanaan
sampai dengan proses implementasinya. Oleh sebab itu, kesamaan langkah dan sinergi
kebijakan ini perlu dituangkan dalam:
1.
Sinergi antara dokumen perencanaan pembangunan pusat dan daerah (RPJPN dan
RPJPD, RPJMN dan RPJMD, RKP dan RKPD), terutama tahun 2014 merupakan tahun
terakhir pelaksanaan RPJMN 2010-2014;
2.
Sinergi dalam penetapan target pembangunan daerah, yang tentunya harus
mempertimbangkan kontribusi daerah dalam mencapai target pembangunan
nasional;
3.
Perkuatan koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah pada saat
implementasi kebijakan dan program untuk mencapai target pembangunan nasional
dan daerah yang diinginkan.
Mementapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
vii
Kata Sambutan
Ringkasan Eksekutif
i
Daftar Isi
vii
Daftar Tabel
ix
Daftar Gambar
x
Daftar Lampiran
xi
BAB I
Pendahuluan
1
1.1 Latar Belakang
2
1.1.1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global
2
1.1.2 Perkembangan Ekonomi Nasional
3
1.1.3 Perkembangan Regional dan Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) 2015
5
1.1.4 Pentingnya Pemantapan Ekonomi Nasional untuk
Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
7
1.2 Maksud dan Tujuan
8
BAB II
Kebijakan Pembangunan Nasional Tahun 2014
11
2.1 Sasaran Pembangunan Nasional
12
2.2 Arahan Presiden
13
2.3 Tema dan Prioritas RKP 2014
15
2.3.1 Tema Pembangunan
15
2.3.2 Prioritas Nasional Tahun 2014
16
2.4 Isu Strategis 2014
17
viii
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014BAB III
Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2010-2014
21
3.1 Evaluasi Pembangunan Prioritas Nasional
22
3.2 Evaluasi Pembangunan Daerah
42
3.2.1 Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
42
3.2.2 Tingkat Kemiskinan
44
3.2.3 Tingkat Pengangguran
45
3.2.4 Isu Strategis dan Kebijakan Ekonomi Provinsi Tahun 2013
48
Boks 3.1 Hasil Survei PTSP di Daerah
60
Boks 3.2 Pemenang Penyelenggara PTSP Penanaman Modal
63
Boks 3.3 Unit Pelayanan Perdagangan (UPP) sebagai Unit Pelayanan Publik Satu
Pintu yang Efisien dan Handal
65
BAB IV
Kerangka Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan
Rakyat yang Berkeadilan
69
4.1 Pemantapan Perekonomian Nasional
70
4.2 Peningkatan Stabilitas
74
4.3 Pemerataan yang Berkeadilan
77
Boks 4.1 Partisipasi Pemerintah Daerah Memegang Kunci Dalam Penurunan
Tingkat Kemiskinan (Success Story dari Provinsi Kepualauan Riau)
81
BAB V
Langkah-Langkah Daerah Bagi Pemantapan Perekonomian dan Peningkatan
Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
85
5.1 Pengantar
86
5.2 Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan Daerah
87
5.2.1 Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
87
5.2.2 Mendorong Stabilitas
96
5.2.3 Mendorong Pemerataan yang Berkeadilan
103
Boks 5.1 Penghargaan Primaniyarta Kepada Eksportir Pelopor Pasar Baru
118
Boks 5.2 Daerah yang Berhasil Mengurangi Tingkat Pengangguran
119
Boks 5.3 Daerah yang Berhasil Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan
120
BAB VI
Penutup
123
Daftar Pustaka
126
xii
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014Daftar Gambar Lampiran
Gambar 1
Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin,
2006-2012
128
Gambar 2
Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008-2012
130
Gambar 3
PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2011
130
Gambar 4
Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin per
Provinsi (September 2012)
131
Gambar 5
Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu
Orang)
132
Gambar 6
Tingkat Pengangguran Terbuka per Provinsi (%)
133
Gambar 7
Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat per Provinsi
133
Gambar 8
Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Provinsi Tahun 2010-2011
134
Gambar 9
Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional (Januari-September
2012)
134
Gambar 10
S
hare Realisasi PMDN per Provinsi Tahun 2011-2012 (%)
135
Gambar 11
Share Realisasi PMA per Provinsi Tahun 2011-2012 (%)
135
Gambar 12
Rasio Kerapatan Jalan (Km/Km
2) Tahun 2012
136
Gambar 13
Rasio Kerapatan Jalan (Km/Unit) Tahun 2011
136
Gambar 14
Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%)
137
Gambar 15
Jumlah Bandara per Provinsi Tahun 2010
138
Gambar 16
Jumlah Penumpang Pesawat Udara per Provinsi Tahun 2011
138
Gambar 17
Tingkat Kinerja Pelabuhan Utama Indonesia
139
Gambar 18
Rasio Elektrifikasi Tahun 2012
139
Gambar 19
Kontribusi Kawasan per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun
2012
140
Gambar 20
Produksi Padi di Indonesia Tahun 2010-2012
140
Gambar 21
Konsumsi Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada
Tahun 2010-2014
140
Gambar 22
Produksi dan Konsumsi Beras (Ribu Ton) Tahun 2012
142
Gambar 23
Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Oleh
Penduduk Berusia 10 Tahun ke Atas Tahun 2011
143
Mementapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
xiii
Gambar 28
Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih
per Provinsi Tahun 2012
147
Gambar 29
Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2011
147
Gambar 30
Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan yang Mendapat Imunisasi Dasar
Lengkap Tahun 2012
148
Gambar 31
Persentase Bayi yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam
(KN1) Tahun 2011
148
Gambar 32
Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010
149
Gambar 33
Persentase Kehamilan Diperiksa Oleh Tenaga Kesehatan Tahun
2011
149
Gambar 34
Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2011
150
Gambar 35
Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non Perawatan Tahun 2012
150
Gambar 36
Rasio Tempat Tidur Rumah Sakit per 100.000 Penduduk Tahun 2012
151
Gambar 37
Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun
2008 dan 2012
151
Gambar 38
Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal
Tahun 2005-2011
152
Gambar 39
UMP Wilayah Sumatera
153
Gambar 40
UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara
153
Gambar 41
UMP Wilayah Kalimantan-Sulawesi
153
Gambar 42
UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua
153
Gambar 43
Pertumbuhan Produktivitas untuk Tiga Sektor Tahun 2006-2012
154
Gambar 44
PDRB per Tenaga Kerja Menurut Harga Konstan 2000 Tahun 2005
dan 2011 (Juta Rupiah/Pekerja)
154
Gambar 45
Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan (Agustus 2012)
155
Gambar 46
Persentase Pekerja Profesional/Semi
Skill
Terhadap Jumlah Pekerja
155
Gambar 47
Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per
Januari 2013)
156
Gambar 48
Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2011
158
Gambar 49
Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012
158
Gambar 50
Indeks Demokrasi Indonesia
160
Gambar 51
Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2011
160
Gambar 52
Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2011
161
Gambar 53
Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota
DPR, DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
161
Gambar 54
Tingkat Partisipasi Politik Dalam Pemilu
162
Gambar 55
Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
BA
B
I
2
Buku PeganganPerencanaan Pembangunan Daerah 2014
1.1
Latar Belakang
1.1.1 Perkembangan
Kondisi Ekonomi
Global
Perekonomian dunia terlihat mulai membaik sejak kuartal ke-3
tahun 2012. Sumber utama pemulihan ekonomi dunia di tahun 2012
adalah adanya peningkatan aktivitas perekonomian di
negara-negara berkembang, dan pulihnya perekonomian Amerika Serikat
yang pada tahun 2012 pertumbuhannya mencapai 2,3 persen.
Kondisi keuangan global terlihat mulai stabil, sementara itu arus
modal masuk ke negara-negara berkembang terlihat tetap kuat.
Oleh sebab itu, pada tahun 2013 perkekonomian dunia diperkirakan
akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2012. IMF
memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 sebesar
3,5 persen dan pada tahun 2014 diperkirakan akan tumbuh sebesar
4,1 persen.
Tabel 1.1
Pertumbuhan Ekonomi dan Perdagangan Dunia
ISU STRATEGIS 2012 2013 2014
1. Pertumbuhan Ekonomi Dunia 3,2 3,5 4,1
a.Amerika Serikat 2,3 2,0 3,0
b.Kawasan Eropa -0,4 -0,2 1,0
c.Italia -2,1 -1,0 0,5
d.Spanyol -1,4 -1,5 0,8
e.Jepang -1,4 -1,5 0,8
f. Negara-Negara Berkembang 5,1 5,5 5,9
g.China 7,8 8,2 8,5
h.India 4,5 5,9 6,4
i. ASEAN-5 5,7 5,5 5,7
2. Volume Perdagangan Dunia (Barang dan Jasa) 2,8 3,8 5,5 Impor
a.Negara maju 1,2 2,2 4,1
b.Negara berkembang 6,1 6,5 7,8
Ekspor
a.Negara maju 2,1 2,8 4,5
b.Negara berkembang 3,6 5,5 6,9
Sumber: World Economic Outlook, IMF (Januari 2013)
Pertumbuhan ekonomi negara berkembang (emerging and
developing economies) diperkirakan akan kuat di tahun 2013 dan
2014. Salah satu penyebabnya adalah adanya kebijakan pemerintah
BAB I
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
3
di negara berkembang yang cukup efektif sebagai stimulan dalam
mempertahankan
aktivitas
ekonominya
di
tengah
kondisi
perekonomian global yang kurang kondusif.
Namun demikian, risiko yang akan dihadapi oleh negara-negara
berkembang cukup besar. Kebergantungan negara berkembang
kepada permintaan eksternal dan ekspor komoditas cukup tinggi,
padahal harga komoditas di tahun 2013 dan 2014 diperkirakan akan
menurun; walaupun jika harganya naik, kenaikannya akan dalam
rentang yang sangat terbatas. Sementara itu, penerapan lebih lanjut
untuk kebijakan bersifat longgar di beberapa negara berkembang
akan semakin terbatas, bahkan keterbatasan sisi penawaran dan
ketidakpastian kebijakan (policy
unc
er
ta
inty)
akan menjadi salah
satu penghambat pertumbuhan ekonomi di negara berkembang
untuk tumbuh lebih tinggi (seperti Brazil dan India).
Oleh sebab itu, untuk menghindari proses pemulihan global yang
berisiko, maka negara-negara maju perlu konsisten dalam
penerapan kebijakannya, terutama yang terkait pada: (i) konsolidasi
fiskal yang berkelanjutan; serta (ii) reformasi sektor keuangan.
Sementara negara berkembang juga perlu lebih menyeimbangkan
sumber pertumbuhannya antara konsumsi domestik dengan
orientasi ekspor. Sebagai contoh, perekonomian China perlu lebih
didorong ke arah konsumsi domestik untuk mengurangi risiko
eksternal, dengan disertai upaya untuk membangun kembali ruang
kebijakan ekonominya. Sementara itu, di negara berkembang
lainnya seperti Timur Tengah dan Kawasan Afrika Utara kebijakan
yang diambil sebaiknya lebih mengutamakan untuk menjaga
stabilitas ekonominya dalam situasi kondisi internal dan eksternal
yang kurang menguntungkan.
1.1.2 Perkembangan
Ekonomi Nasional
Walaupun kondisi perekonomian dunia sepanjang tahun 2010-2012
dalam tekanan yang cukup berat, kinerja perekonomian nasional
terlihat masih terjaga baik dengan pertumbuhan ekonomi berada
pada tingkat yang cukup tinggi. Pada tahun 2012, pertumbuhan
ekonomi Indonesia mencapai 6,2 persen; sedangkan pada tahun
2011 pertumbuhannya mencapai 6,5 persen.
4
Buku PeganganPerencanaan Pembangunan Daerah 2014
sektor
yang
memberikan
sumbangan
terbesar
terhadap
pertumbuhan ekonomi tahun 2012 adalah sektor industri
pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Tabel 1.2
Perkembangan Indikator Ekonomi dan Kesejahteraan
PENCAPAIAN 2010 2011 2012
1. Pertumbuhan PDB (%) 6,2 6,5 6,2
2. PDB per kapita (Ribu Rp) 26.786,8 30.424,4 33.339,0 3. Tingkat Kemiskinan (%) 13,11 12,36 11,66 4. Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 7,1 6,6 6,1 5. Neraca Pembayaran (USD Miliar) 30,3 11,9 0,2 a. Transaksi Berjalan (USD Miliar) 5,1 1,7 -24,2 b. Transaksi Modal (USD Miliar) 0,0 0,0 0,0 c. Transaksi Financial (USD Miliar) 26,6 13,5 24,9 d. Cadangan Devisa (Bulan Impor) 7,4 6,5 6,1
Sumber: BPS dan Bank Indonesia
Tabel 1.3
Sumbangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
PENCAPAIAN 2010 2011 2012
1. SISI PENGELUARAN
a. Konsumsi Rumah Tangga 2,7 2,7 2,9
b. Pengeluaran Pemerintah 0,0 0,3 0,1
c. Investasi (PMTB) 2,0 2,1 2,4
d. Ekspor (Barang dan Jasa) 6,5 6,3 1,0
e. Impor (Barang dan Jasa) 5,6 4,8 2,5
2. SISI PRODUKSI
a. Pertanian 0,4 0,4 0,5
b. Pertambangan dan Penggalian 0,3 0,1 0,1
c. Industri Pengolahan 1,2 1,6 1,5
d. Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,0 0,0 0,0
e. Bangunan 0,4 0,4 0,5
f. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1,5 1,6 1,4 g. Pengangkutan dan Komunikasi 1,2 1,0 1,0 h. Keuangan, Persewaan, Jasa Usaha 0,5 0,7 0,7
i. Jasa-jasa lainnya 0,6 0,6 0,5
Sumber: BPS dan Bank Indonesia
Kepercayaan investor yang tetap terjaga dengan baik, didukung oleh
tambahan likuiditas di pasar keuangan global yang bersumber dari
ekspansi moneter di negara-negara maju, telah menyebabkan
transaksi modal dan finansial mengalami surplus di sepanjang tahun
2012.
Dilain pihak, pertumbuhan permintaan dunia yang melambat dan
harga komoditas ekspor yang menurun tajam, di tengah permintaan
domestik yang masih kuat dan konsumsi BBM yang meningkat,
menyebabkan surplus neraca perdagangan nonmigas menyusut dan
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
5
total neraca pembayaran sepanjang tahun 2012 masih dalam
kondisi surplus sebesar USD 0,2 miliar, walaupun besaran surplus ini
lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Defisit transaksi
berlajan yang diimbangi dengan surplus transaksi modal dan
finansial yang meningkat pesat telah menyebabkan cadangan devisa
dapat dipertahankan dalam tingkat relatif aman.
Peningkatan arus investasi asing masuk yang cukup tinggi telah
menjadi penopang neraca pembayaran selama tahun 2012, dan hal
ini tentunya seiring dengan kebijakan-kebijakan yang telah
dilakukan pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi dan usaha,
upaya pemerintah untuk melakukan konsolidasi fiskal dan
makroprudensial, serta kebijakan moneter dan nilai tukar yang
kondusif.
Di sisi kesejahteraan masyarakat, tingkat kemiskinan menunjukkan
penurunan, dimana pada tahun 2012 mencapai 11,66 persen.
Sementara itu, penyerapan tenaga kerja juga semakin baik yang
ditunjukkan dengan menurunnya tingkat pengagguran terbuka yang
mencapai 6,1 persen di tahun 2012.
1.1.3 Perkembangan
Regional dan
Masyarakat
Ekonomi ASEAN
(MEA) 2015
Pergeseran pusat kekuatan ekonomi terlihat dari menguatnya peran
Asia dalam satu dekade terakhir. Beberapa negara di Asia, seperti
Jepang dan Korea Selatan, telah lebih dulu maju dengan basis
perkembangan sektor industrinya. Selanjutnya, China dan India
menyusul sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi regional
dengan statusnya sebagai negara
emerging dengan populasi
terbesar dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sementara itu,
Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya juga mulai
menunjukkan kekuatannya sebagai penggerak roda perekonomian
regional, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terus melaju
serta besarnya jumlah penduduk yang menjadikannya sebagai
modal sosial yang besar maupun pasar yang potensial.
Sementara itu, pelaksanaan MEA 2015 memberikan konsekuensi
bagi Indonesia terhadap tingkat persaingan yang semakin terbuka
dan tajam, terutama dalam perdagangan barang dan jasa di
kawasan ASEAN. Pelaksanaan MEA 2015 telah didahului dengan
6
Buku PeganganPerencanaan Pembangunan Daerah 2014
daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan
ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar
regional bagi 500 juta penduduknya. Tujuan akhir MEA 2015 adalah
untuk menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan arus barang,
jasa, investasi, pekerja terampil dan arus modal yang lebih bebas,
mempunyai daya saing tinggi, dengan tingkat pembangunan
ekonomi yang merata, serta terintegrasi dalam ekonomi global.
Dengan semakin terbukanya pasar ASEAN bagi para negara
anggotanya, tingkat persaingan pun akan semakin tinggi. Di lain
pihak, peranan ekspor Indonesia di pasar ekspor ASEAN masih lebih
rendah dibandingkan negara Singapura, Thailand dan Malaysia;
dimana kontribusi ekspor Indonesia terhadap ekspor negara ASEAN
(untuk pasar ASEAN) baru mencapai 14,6 persen di tahun 2011,
sedangkan Singapura, Thailand dan Malaysia berturut-turut
memberikan sumbangan sebesar 44,2 persen; 19,4 persen; dan 18,8
persen.
Gambar 1
.1
Persentase Responden yang Mengetahui MEA Dilaksanakan Tahun 2015
Sumber: Benny dan Kamarulnizam, 2011 (diolah Bappenas)
Sementara itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap
399 responden di 5 (lima) kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta,
Surabaya, Medan, Makassar, dan Pontianak (Benny dan
Kamarulnizam, 2011), masyarakat Indonesia pada umumnya sudah
mengetahui adanya ASEAN. Namun demikian, secara rata-rata
hanya 39 persen responden yang mengetahui tentang MEA yang
akan dilaksanakan pada tahun 2015; 46 persen responden di
Makassar mengetahui bahwa MEA akan dilaksanakan tahun 2015;
36% 46% 31%
35% 44% 39%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Jakarta
Makassar Medan Pontianak Surabaya Rata-rata
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
7
sementara di Medan hanya 31 persen responden yang mengetahui
tentang MEA 2015.
Oleh sebab itu, tantangan terbesar bagi Indonesia dalam
menghadapi pembentukan MEA 2015 adalah meningkatkan
pemahaman publik di kalangan Pemerintah, dunia usaha dan
masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah; tentang manfaat
dan peluang yang dapat diperoleh dengan pelaksanaan MEA 2015.
Pembentukan MEA sebenarnya dapat memberikan peluang bagi
Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang, jasa,
investasi, pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. Di
lain pihak, Bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk
meningkatkan daya saing dan memperkuat ketahanan nasional agar
dapat siap bersaing dengan bangsa lain. Langkah ini hanya dapat
dilakukan dengan memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang
didukung struktur ekonomi yang kuat, pelaku ekonomi yang
berdaya saing tinggi, berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan
yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meratanya
pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Dengan
demikian, diharapkan Indonesia akan dapat menarik manfaat dari
integrasi ekonomi kawasan yang berdaya saing tinggi dan
terintegrasi dalam ekonomi global, sehingga pada gilirannya akan
memberikan manfaat ekonomi secara luas bagi seluruh rakyat
Indonesia.
1.1.4 Pentingnya
Pemantapan
Ekonomi Nasional
untuk
Meningkatkan
Kesejahteraan
Rakyat yang
Berkeadilan
Di saat kondisi ekonomi global mulai pulih, perekonomian domestik
harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh
dan daya saing yang lebih baik. Selanjutnya, ekspor dan investasi
harus didorong untuk tumbuh tinggi, agar ekonomi nasional dapat
meningkat
dengan
lebih
baik,
terutama
untuk
terus
mengembangkan sektor produktif padat karya agar dapat
memperluas kesempatan kerja. Hal ini sangat penting karena
perluasan kesempatan kerja akan dapat membantu peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar
8
Buku PeganganPerencanaan Pembangunan Daerah 2014
pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu
dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (
pro-growth
), kesempatan kerja (
pro-job
), pengentasan kemiskinan (
pro-poor)
dan pelestarian lingkungan hidup (
pro-environment
).
Untuk mencapai kondisi ini, sudah menjadi suatu keharusan bagi
Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan
bersaing dengan negara lain. Langkah ini dapat dilakukan dengan
meningkatkan daya saing bangsa, memperbaiki kinerja ekonomi
nasional
yang
didukung
struktur
ekonomi
yang
kuat,
mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di
seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan
wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Dengan demikian,
diharapkan kesenjangan antar wilayah dan kesenjangan antar
kelompok masyarakata secara bertahap dapat dikurangi.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014 yang
berjudul
“Memantapkan
Perekonomian
Nasional
Bagi
Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan“ ini disusun
dengan maksud agar seluruh jajaran Pemerintah Daerah di
Indonesia dapat bersama-sama dengan Pemerintah Pusat untuk
menyamakan langkah guna memantapkan perekonomian nasional
yang dapat mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat yang
berkeadilan.
Tujuan
Secara lebih spesifik tujuan dari disusunnya buku ini adalah untuk
memberikan panduan bagi daerah tentang:
1.
Kerangka pembangunan untuk mencapai Pemantapan
Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan
Rakyat yang Berkeadilan;
Foto: Dit. Penanggulangan Kemiskinan Bappenas F
F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F
BAB II
KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN
12
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 20142.1 Sasaran Pembangunan Nasional
Sasaran
Visi Indonesia 2014 yang digariskan dalam RPJMN 2010-2014 adalah
“Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan
Berkeadilan” yang dijabarkan ke dalam 5 (lima) agenda
pembangunan yaitu: (i) Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan
Kesejahteraan Rakyat; (ii) Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan; (iii)
Penegakan
Pilar
Demokrasi;
(iv)
Penegakan
Hukum
dan
Pemberantasan Korupsi; dan (v) Pembangunan yang Inklusif dan
Berkeadilan. Sedangkan sasaran utama RPJMN 2010-2014 dibagi
dalam 3 (tiga) kelompok yaitu: (i) Sasaran Pembangunan Ekonomi
dan Kesejahteraan; (ii) Sasaran Perkuatan Demokrasi; dan (iii)
Sasaran Penegakan Hukum.
Sasaran pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat
diantaranya ditunjukkan oleh indikator pertumbuhan ekonomi,
inflasi, pengangguran dan kemiskinan. Percepatan pertumbuhan
ekonomi diharapkan mampu menurunkan tingkat pengangguran
dan kombinasi antara percepatan pertumbuhan dan berbagai
kebijakan
intervensi
pemerintah
diharapkan
mempercepat
penurunan tingkat kemiskinan. Pencapaian sasaran percepatan
pertumbuhan harus didukung oleh stabilitas ekonomi yang mantap
dengan tingkat inflasi yang rendah, yang memungkinkan nilai tukar
dan suku bunga yang kompetitif sehingga sektor riil dapat
bekembang dengan cepat dan sehat. Pada tahun 2014, sasaran
pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 6,4-6,9 persen, inflasi
sebesar 5,0 persen, tingkat pengangguran sebesar 5,6-6,0 persen
dan tingkat kemiskinan sebesar 8-10 persen.
Sasaran penguatan pembangunan demokrasi adalah membangun
dan semakin memantapkan sistem demokrasi Indonesia yang dapat
menghasilkan pemerintahan dan lembaga legislatif yang kredibel,
bermutu, efektif serta mampu menyelenggarakan amanah dan
tugas serta tanggung jawabnya secara baik, seimbang dengan
BAB II
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
13
peningkatan kepatuhan terhadap pranata hukum. Sasaran
penguatan demokrasi ditunjukkan diantaranya oleh Indeks
Demokrasi Indonesia (IDI) yang pada tahun 2014 besarnya adalah
73.
Sasaran penegakan hukum adalah tercapainya suasana dan
kepastian keadilan melalui penegakan hukum dan terjaganya
ketertiban umum. Hal ini tercermin dari persepsi masyarakat
pencari keadilan untuk merasakan kenyamanan, kepastian, keadilan
dan keamanan dalam berinteraksi dan mendapat pelayanan dari
penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan). Sasaran penegakan
hukum diantaranya ditunjukkan oleh Indeks Persepsi Korupsi
Indonesia (IPK) yang pada tahun 2014, sasaran IPK adalah sebesar
4,5.
2.2 Arahan Presiden
Arahan
Arahan Presiden merupakan pedoman dalam penyusunan Rencana
Kerja Pemerintah, baik ditingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Arahan tersebut meliputi arahan Presiden di berbagai kesempatan
yang merupakan respon terhadap permasalahan yang muncul.
Beberapa arahan Presiden dalam sidang kabinet yang dijadikan
sebagai panduan bagi penyusunan dokumen perencanaan adalah
sebagai berikut:
1.
Arahan Presiden Pada Sidang Kabinet 29 Januari 2013
Manfaatkan peluang dan beri dukungan regulasi yang
kondusif untuk pembangunan infrastruktur;
Prioritaskan pengentasan kemiskinan, khususnya
the
poorest of the poor;
Kontrol belanja: batasi pengeluaran yang tidak perlu; flat
belanja barang (tidak berarti kontraktif); tetap ekspansif
tetapi terkontrol;
Subsidi harus terkontrol; cegah inflasi karena inflasi
berbanding lurus dengan kemiskinan.
2.
Arahan Presiden pada Rapat Terbatas Kabinet Tanggal 21
Maret dan 28 Maret 2013
14
Buku PeganganPerencanaan Pembangunan Daerah 2014
Direktif Presiden 2013 masih relevan di 2014;
RKP 2014 diarahkan untuk menutup target RPJMN terutama
yang terkait dengan kemiskinan dan pengangguran untuk
memenuhi sasaran RPJMN. Sedangkan target yang lain
dapat disesuaikan. Untuk itu, perlu dilakukan:
Penajaman 15 isu strategis.
Penguatan program penanggulangan kemiskinan dan
penurunan pengangguran.
Penyesuaian sasaran RPJMN dengan ketersediaan Pagu
Indikatif 2014.
Arahan Presiden tersebut menjadi pedoman dalam penyusunan
RKP 2014 yang kemudian diterjemahkan ke dalam 3 (tiga)
kelompok unsur-unsur pokok, sebagai berikut:
Pertama, yang terkait dengan pemantapan perekonomian nasional.
Hal-yal yang perlu mendapat perhatian yang terkait dengan
pemantapan perekonomian nasional adalah: (i)
Master
Pl
an
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI); (ii) Surplus Beras 10 Juta ton 2014; (iii) Konversi Energi;
(iv)
L
ow Co
st
Emi
ssion Car (Green Car); dan (v) Percepatan
Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
Kedua, pentingnya peningkatan kesejahteraan rakyat yang
berkeadilan. Dalam hal ini, yang perlu menjadi perhatian adalah: (i)
Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan
Indonesia (MP3KI); (ii) Peningkatan Pelayanan Sanitasi dan Air
Bersih dalam rangka pencapaian MDGs; dan (iii) Pembangunan
Shelter Bencana.
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
15
2.3 Tema dan Prioritas RKP 2014
2.3.1 Tema
Pembangunan
Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun
langkah-langkah
pembangunan
untuk
mencapai
sasaran
pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu
“Mewujudkan
Indonesia
yang
Demokratis,
Sejahtera
dan
Berkeadilan”. Adapun langkah-langkah tersebut dituangkan dalam
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang disusun setiap tahun. Pada
tahun 2014, tema pembangunan nasional adalah “Memantapkan
Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat
yang Berkeadilan”. Dengan demikian, secara menyeluruh tema RKP
dari tahun 2010-2014 ditunjukkan pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1
Tema Pembangunan yang Tertuang Dalam RKP
Tema
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan
Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan dalam RKP 2014 dilandasi
oleh kondisi lingkungan strategis pembangunan tahun 2014, baik
secara internal maupun eksternal yang menuntut perlunya
penguatan ekonomi nasional.
Kebijakan penguatan ekonomi nasional mencakup upaya untuk: (i)
mendorong investasi dan ekspor; (ii) meningkatkan efektivitas
belanja negara; (iii) menjaga daya beli masyarakat; (iv) menjaga
stabilitas ekonomi, antara lain nilai tukar rupiah; (v) meningkatkan
pembangunan infrastruktur; dan (vi) menjaga stabilitas sosial
politik. Dengan kerja keras, pelaksanaan kebijakan ini diperkirakan
dapat mendorong perekonomian nasional tumbuh 6,4-6,9 persen
pada tahun 2014.
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam Tema RKP tahun 2014
adalah sebagai berikut:
2010 •Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat 2010
2011
•Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan Didukung oleh Pemantapan Tatakelola dan Sinergi Pusat dan Daerah
2011
2012
•Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat
2012
2013 •Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2013
2014 3 3 3
4
16
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 20141.
Pemantapan Perekonomian Nasional
Mengupayakan tercapainya pertumbuhan ekonomi tinggi
dan berkelanjutan yang diiring oleh tingkat inflasi yang
terjaga; nilai tukar yang stabil dan kompetitif; neraca
pembayaran
yang
seimbang;
serta
fiskal
yang
berkelanjutan;
Meningkatkan
daya
saing
ekonomi
agar
mampu
memanfaatkan kesempatan dalam pertumbuhan ekonomi
global;
Mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif yaitu
intervensi pemerintah yang tepat memihak (affirmative)
kepada kelompok yang terpinggirkan, untuk memastikan
semua kelompok masyarakat memiliki kapasitas yang
memadai dan akses yang sama terhadap kesempatan
ekonomi yang muncul.
2.
Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
Membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia;
Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran;
Mitigasi bencana.
3.
Pemeliharaan Stabilitas Sosial dan Politik
Menjaga agar konflik sosial tidak terulang kembali;
Membaiknya kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi;
Memantapkan
penegakan
hukum,
pertahanan
dan
pelaksanaan Pemilu 2014.
2.3.2 Prioritas
Nasional Tahun
2014
Sebagai penjabaran RPJMN 2010-2014, pembangunan nasional
dalam RKP 2014 dituangkan ke dalam 11 Prioritas Nasional dan 3
Prioritas Lainnya, termasuk di dalamnya kemungkinan adanya
prakarsa-prakarsa baru yang terintegrasi dengan RPJMN dan RKP
untuk menanggapi situasi kekinian dan menjaga momentum positif
yang telah dicapai sebagai hasil pembangunan selama ini.
Prakarsa-prakarsa baru tersebut menunjukkan bahwa Indonesia selalu siap
dalam mengantisipasi dan merespon berbagai perkembangan yang
terjadi serta melakukan perubahan untuk mencapai kemajuan dan
hasil pembangunan yang lebih baik. Selanjutnya, 11 Proritas
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
17
Gambar 2.2
Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014
Sumber: RKP 2014, Bappenas
2.4 Isu Strategis 2014
Isu Strategis
Isu strategis dalam RKP 2014 dimaksudkan untuk lebih
memfokuskan upaya pemerintah untuk hal-hal yang signifikan,
berdampak luas dan yang berfungsi sebagai pengungkit sehingga
penanganannya dapat tuntas. Isu strategis disusun dengan
berdasarkan kepada dua hal, yaitu: (i) Arahan Presiden; dan (ii)
Hasil Review paruh waktu RPJMN 2010-2014. Berikut ini adalah isu
strategis yang telah dikelompokkan berdasarkan Prioritas Nasional.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 1 - Reformasi
Birokrasi dan Tata Kelola,
adalah: Pemerintahan yang bersih dan
bebas KKN, Peningkatan kualitas pelayanan publik dan Peningkatan
Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Birokrasi.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 2 - Pendidikan,
adalah: Peningkatan akses pendidikan dasar dari keluarga miskin,
Pelaksanaan kurikulum baru pendidikan 2013/2014 secara
bertahap dan Pelaksanaan pendidikan menengah universal.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 3 - Kesehatan,
adalah: Penurunan dan pencegahan penyakit (HIV AIDS dan
Malaria) dan Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan KB yang
Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan
Kesehatan
Penanggulangan Kemiskinan Ketahanan Pangan
Infrastruktur
Iklim Investasi dan Iklim Usaha Energi
Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana
Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, & Pasca-konflik Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi
Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
Bidang Perekonomian
18
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014merata.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 5 - Ketahanan
Pangan,
adalah: Kesejahteraan petani/nelayan dan Peningkatan
produksi perikanan.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 6 -
Infrastruktur,
adalah: Penyediaan infrastruktur dasar untuk
menunjang peningkatan kesejahteraan, Penyediaan infrastruktur
yang mengurangi kesenjangan antar wilayah, serta Penyediaan
infrastruktur untuk mendukung ketahanan pangan dan energi.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 7 - Iklim
Investasi dan Iklim Usaha,
adalah: Penurunan Biaya Logistik
Nasional dan Pengembangan fasilitas pendukung KEK yang telah
ditetapkan dan penetapan KEK baru.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 8 - Energi,
adalah: Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi serta
Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Peningkatan Kapasitas
Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 9 - Lingkungan
Hidup dan Pengelolaan Bencana, adalah: Pengendalian perubahan
iklim dan Peningkatan kualitas lingkungan.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 10 - Daerah
Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Paska Konflik,
adalah:
Pembangunan Daerah Tertinggal serta Penguatan Diplomasi dan
Pembangunan Infrastruktur, hankam, serta fasilitas
Custom,
Immigration, Quarantine, Security (CIQS) kawasan perbatasan.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional Lainnya Bidang
Polhukam, adalah: Pembinaan masyarakat.
Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional Lainnya Bidang
Perekonomian,
adalah: Akselerasi industrialisasi dengan sasaran
pertumbuhan industri nonmigas serta Peningkatan Pemahaman
dan Kesiapan Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) 2015.
143
Gambar 23
Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Oleh Penduduk
Berusia 10 Tahun ke Atas Tahun 2011
Gambar 24
Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2011
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Aceh
Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Kep. Babel Kep. Riau DKI Jakarta Jabar Jateng DIY Jatim Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluk Malut Papua Barat Papua
Tidak/Belum Sekolah Tidak Tamat SD SD+SMP SM+PT
8,38
25,63
26,68 16,31
17,74
5,25 Tidak/Belum Pernah Sekolah
Tidak Tamat SD
SD/sederajat
SMP/sederajat
SMA/sederajat
PT/sederajat Sumber: Susenas, BPS, 2011
Sumber: Susenas 2011
BAB III
EVALUASI PARUH
22
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 20143.1 Evaluasi Pembangunan Prioritas Nasional
Evaluasi
Pelaksanaan
Prioritas Nasional
Pelaksanaan Pembangunan Prioritas Nasional sampai dengan paruh
waktu RPJMN 2010-2014 telah memberikan capaian yang cukup
baik. Di tengah ketidakpastian proses pemulihan kelesuan ekonomi
dunia sejak krisis global 2008, pembangunan ekonomi nasional
secara umum tetap menunjukkan kinerja yang menggembirakan.
Hal ini mengindikasikan fundamental ekonomi nasional yang
kokoh, meskipun dampak krisis sempat dirasakan pada tahun 2009
dengan terkoreksinya pertumbuhan ekonomi pada angka 4,63
persen (Tabel 3.1).
Tabel 3.1
P
ertumbuhan
P
DB dan Pertumbuhan
P
enyerapan Tenaga Kerja (
P
ersen)
No. LAPANGAN USAHA
PDB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000
Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja 1)
2009 2010 2011* 2012** CAGR 2009 2010 2011 2012 CAGR
1 Pertanian, Peternakan,
Kehutanan & Perikanan 3,96 3,01 3,37 3,97 2,57 0,68 -0,28 -5,22 -1,14 -1,68 2 Pertambangan & Penggalian 4,47 3,86 1,39 1,49 1,68 7,91 8,59 16,81 9,26 8,50 3 Industri Pengolahan 2,21 4,74 6,14 5,73 4,12 2,31 7,67 5,19 5,67 4,59 4 Listrik, Gas & Air Bersih 14,29 5,33 4,82 6,40 4,11 10,91 4,94 2,38 3,88 2,78 5 Konstruksi 7,07 6,95 6,65 7,50 5,23 0,88 1,93 13,35 7,13 5,48 6 Perdagangan, Hotel & Rest. 1,28 8,69 9,17 8,11 6,42 3,42 2,48 4,02 -1,03 1,35 7 Pengangkutan dan Komunikasi 15,85 13,41 10,70 9,98 8,40 -1,00 -8,16 -9,61 -1,59 -4,93 8 Keuangan, Real Estate
Jasa Perusahaan 5,21 5,67 6,84 7,15 4,87 1,82 17,01 51,39 1,10 15,68 9 Jasa-jasa 6,42 6,04 6,75 5,24 4,47 6,88 13,96 4,32 2,73 5,13
TOTAL 4,63 6,22 6,49 6,23 4,70 2,26 3,18 1,35 1,04 1,39
Sumber: Badan Pusat Statistik
Keterangan: * Angka Sementara, ** Angka Sangat Sementara 1)
SAKERNAS bulan Agustus
Pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2010 hingga 2012 masih dalam
kisaran sasaran RPJMN (sekitar 6,3-6,8 persen per tahun, dengan
peningkatan bertahap mulai dari 5,5-5,6 persen pada tahun 2010
menjadi sekurang-kurangnya 7 persen pada tahun 2014). Pada
BAB III
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan
23
tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,2 persen,
kemudian berkembang lebih baik pada tahun 2011 menjadi 6,5
persen, lebih tinggi dari yang telah ditargetkan. Pada tahun 2012,
meskipun krisis keuangan Eropa memberikan tekanan yang cukup
kuat, perekonomian nasional pada tahun 2012 masih dapat
tumbuh sebesar 6,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi yang kokoh memberikan pengaruh positif
terhadap penyerapan tenaga kerja sehingga mampu menekan
angka pengangguran. Rata-rata 1,39 persen angkatan kerja mampu
diserap setiap tahunnya, sehingga angka pengangguran dapat
ditekan menjadi 6,14 persen pada tahun 2012, yang pada tahun
2010 mencapai 7,14 persen. Sejalan dengan itu, tingkat kemiskinan
juga berhasil diturunkan. Persentase penduduk miskin pada tahun
2010 sebesar 13,3 persen dapat diturunkan menjadi 11,7 persen
pada tahun 2012. Pendapatan per kapita penduduk Indonesia pun
mengalami peningkatan cukup tajam, mencapai sekitar USD 3.352
tahun 2012, setelah sebelumnya mengalami krisis keuangan yang
berkembang menjadi krisis multidimensi yang cukup parah pada
tahun 1998 (Gambar 3.1).
Gambar 3.1
Pendapatan per kapita, Pertumbuhan PDB, Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Dalam pengentasan kemiskinan, untuk memenuhi target tingkat
kemiskinan 8-10 persen pada tahun 2014, kebijakan pengentasan
kemiskinan yang disusun tidak hanya harus bersinergi antar sesama
-15 -10 -5 0 5 10 15 20 25
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 (%) (US$)
PN per kapita, metode Atlas (berlaku US$) Pertumbuhan PDB (%)
Tingkat Pengangguran (%) Tingkat Kemiskinan (%) Dampak krisis 1998
Dampak kenaikan BBM
Dampak krisis global Dampak kenaikan BBM
24
Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014program-program pengentasan kemiskinan saja, namun selaras
pula dengan program kebijakan di luar kemiskinan, dengan harapan
dapat meminimalisir dampak kebijakan yang kontra produktif
terhadap penurunan kemiskinan. Jika terdapat kebijakan yang
dampaknya diperkirakan dapat menambah jumlah dan beban
penduduk miskin, misalnya seperti kenaikan BBM tahun 2005,
maka langkah kebijakan antisipatif yang efektif perlu disiapkan dan
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Program pembangunan
yang sifatnya padat karya makin ditingkatkan secara merata untuk
dapat menyerap tenaga kerja secara optimal, dengan harapan
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat miskin. Selain itu,
pengentasan kemiskinan dilakukan dengan meningkatkan dan
memperluas akses mereka terhadap kebutuhan dasar, yaitu
pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan.
Selama ini, pemerintah telah bertekad dan berupaya untuk
melaksanakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, yaitu
pembangunan ekonomi yang menjamin pemerataan (growth with
equity) yang mensyaratkan stabilitas dan dukungan negara yang
kuat. Upaya ini diwujudkan dengan menerapkan four track strategy
pembangunan, yang terdiri dari
pro-growth, pro-poor
dan pro-job
dilengkapi dengan
pro-environment untuk mengantisipasi dampak
perubahan iklim, yang dilaksanakan secara terintegrasi dan saling
bersinergi secara seimbang dan konsisten dengan melibatkan
masyarakat serta mengedepankan aspek pemerataan.
Pemerataan menjadi isu penting dalam pelaksanaan pembangunan
guna mengatasi melebarnya ketimpangan baik antar penduduk
maupun antar wilayah, karena pembangunan tidak hanya
bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi semata, namun
juga untuk menyejahterakan masyarakat yang termarjinalkan.
Dalam hal itu, perlindungan sosial akan terus ditingkatkan dan
dioptimalkan. Hal ini bukan hanya ditujukan untuk memenuhi
kewajiban konstitusional, namun juga dilandasi pertimbangan
untuk meningkatkan kualitas menuju SDM yang produktif, terdidik,
terampil dan sehat, karena sumber daya manusia yang berkualitas
merupakan
pelaku
sekaligus
key
enabler
dalam
proses
pembangunan.
Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan