• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panduan Perencanaan Pembangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Panduan Perencanaan Pembangunan"

Copied!
199
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

MEMANTAPKAN PEREKONOMIAN NASIONAL BAGI

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT YANG BERKEADILAN

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

(3)

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan

Pembangunan Nasional

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014: Memantapkan

Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

© Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan

Pembangunan Nasional, Republik Indonesia

Foto cover

: Pras Widjojo

Diterbitkan oleh:

(4)
(5)

mensejahterakan rakyat. Pimpinan daerah baik di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam

menyusun langkah-langkah dan strategi kebijakannya perlu saling berkoordinasi dan

bersinergi untuk mencapai perekonomian nasional yang semakin mantap.

Buku ini disusun sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan sinergi langkah-langkah

kebijakan, program dan kegiatan antara pemerintah pusat dan daerah. Buku ini berisikan

antara lain poin-poin utama kebijakan pemerintah pusat untuk tahun 2014, hasil evaluasi

paruh waktu RPJMN 2010-2014 dan kerangka pemantapan perekonomian nasional bagi

peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan beserta langkah-langkah bagi daerah

untuk mencapainya.

Saya berharap, buku ini dapat menjadi pegangan bagi segenap aparatur pemerintah daerah

dalam menyusun strategi dan langkah-langkah pembangunan di daerah. Melalui pemahaman

yang sama terhadap konsep dan faktor-faktor penentu untuk memantapkan perekonomian

nasional bagi peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan, segenap jajaran

Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemangku kepentingan lainnya dapat bersama-sama

menyamakan langkah untuk menyusun strategi yang lebih harmonis dan terintegrasi.

Dengan terbitnya Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014 ini, saya

menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang telah bekerja dengan

itikad dan dedikasi yang baik dalam menyusunnya.

Semoga Tuhan yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kemudahan dan bimbingan Nya

dalam setiap upaya kita untuk memantapkan perekonomian nasional, agar terjadi akselerasi

dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia demi peningkatan kesejahteraan rakyat

yang berkeadilan.

Jakarta, 23 April 2013

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

(6)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

i

RINGKASAN EKSEKUTIF

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan

penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan dan strategi pembangunan daerah untuk

mendukung

Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

yang Berkeadilan

. Oleh sebab itu, secara lebih spesifik tujuan dari disusunnya buku ini adalah

untuk memberikan panduan bagi daerah tentang: (i) kerangka pembangunan untuk mencapai

Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang

Berkeadilan; serta (ii) upaya dan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh daerah untuk

mendukung pencapaian tema pembangunan 2014.

Walaupun kondisi perekonomian dunia sepanjang tahun 2010-2012 dalam tekanan yang

cukup berat, kinerja perekonomian nasional terlihat masih terjaga baik dengan pertumbuhan

ekonomi berada pada tingkat yang cukup tinggi. Pada tahun 2012, pertumbuhan ekonomi

Indonesia mencapai 6,2 persen; sedangkan pada tahun 2011 pertumbuhannya mencapai 6,5

persen.

Di saat kondisi ekonomi global mulai pulih, perekonomian domestik harus tetap terjaga

dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. Selanjutnya,

ekspor dan investasi harus didorong untuk tumbuh tinggi, agar ekonomi nasional dapat

meningkat dengan lebih baik, terutama untuk terus mengembangkan sektor produktif padat

karya agar dapat memperluas kesempatan kerja. Hal ini sangat penting karena perluasan

kesempatan kerja akan dapat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat

terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya

untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan

persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah

(7)

ii

Buku Pegangan

Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan

pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu

pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor)

dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment).

Seiring dengan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, tantangan yang

dihadapi oleh kita bersama adalah meningkatkan pemahaman publik di kalangan Pemerintah,

dunia usaha dan masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah; tentang manfaat dan

peluang yang dapat diperoleh dengan pelaksanaan MEA 2015. Pembentukan MEA sebenarnya

dapat memberikan peluang bagi Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang, jasa,

investasi, pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. Di lain pihak, Bangsa Indonesia

harus bekerja keras untuk meningkatkan daya saing dan memperkuat ketahanan nasional agar

dapat bersaing dengan negara ASEAN lain.

Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah

pembangunan untuk mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN

2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis, Sejahtera dan Berkeadilan”. Adapun

langkah-langkah tersebut kemudian dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang

disusun setiap tahun. Pada tahun 2014, tema pembangunan nasional adalah “Memantapkan

Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan”. Dengan

demikian, secara menyeluruh tema RKP dari tahun 2010-2014 ditunjukkan pada Gambar

berikut.

Tema Pembangunan yang Tertuang Dalam RKP

Pelaksanaan Pembangunan Nasional sampai dengan paruh waktu RPJMN 2010-2014 telah

memberikan capaian yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2010 hingga 2012

masih dalam kisaran sasaran RPJMN (sekitar 6,3-6,8 persen per tahun, dengan peningkatan

bertahap mulai dari 5,5-5,6 persen pada tahun 2010 menjadi sekurang-kurangnya 7 persen

pada tahun 2014). Pada tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,2 persen, kemudian

berkembang lebih baik pada tahun 2011 menjadi 6,5 persen, lebih tinggi dari yang telah

ditargetkan. Pada tahun 2012, meskipun krisis keuangan Eropa memberikan tekanan yang

cukup kuat, perekonomian nasional pada tahun 2012 masih dapat tumbuh sebesar 6,2

persen.

2010 •Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat 2010

2011

•Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan Didukung oleh Pemantapan Tatakelola dan Sinergi Pusat dan Daerah

2011 2012

•Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

2012

2013 •Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2013

2014 3 3 3 4

(8)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

iii

Pertumbuhan ekonomi yang kokoh memberikan pengaruh positif terhadap penyerapan

tenaga kerja sehingga mampu menekan angka pengangguran. Rata-rata 1,39 persen angkatan

kerja mampu diserap setiap tahunnya, sehingga angka pengangguran dapat ditekan menjadi

6,14 persen pada tahun 2012, yang sebelumnya pada tahun 2010 mencapai 7,14 persen.

Sejalan dengan itu, tingkat kemiskinan juga berhasil diturunkan. Pelaksanaan Pembangunan

Daerah sampai dengan paruh waktu RPJMN 2010-2014 telah memberikan hasil capaian yang

cukup baik. Pencapaian target pembangunan dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi,

tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran. Untuk beberapa provinsi menunjukkan capaian

yang cukup baik, namun masih banyak provinsi yang perlu terus meningkatkan upaya dalam

mencapai target-target pembangunan tersebut.

Kemudian, di dalam Bab IV telah dijabarkan secara rinci kerangka dasar untuk memantapkan

perekonomian nasional bagi peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Kerangka

tersebut pada dasarnya terdiri dari tiga komponen, yaitu:

1.

Pemantapan perekonomian nasional, yang dititikberatkan pada aspek pendorong

pertumbuhan ekonomi (growth);

2.

Peningkatan stabilitas (stability),

yang terdiri dari aspek stabilitas ekonomi, sosial

dan politik;

3.

Pemerataan yang berkeadilan (equity),

yang memberikan kesempatan yang sama

kepada seluruh masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan dan

menikmati hasil pembangunan (inclusiveness).

Kerangka Dasar Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan

Rakyat yang Berkeadilan

Dalam Bab V dijelaskan secara rinci mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh

pemerintah daerah untuk bersama-sama dengan pemerintah pusat dalam mencapai target

pembangunan nasional tahun 2014, serta untuk mendorong sinergi pembangunan antar

PEMANTAPAN PEREKONOMIAN NASIONAL BAGI PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT YANG BERKEADILAN

Pertumbuhan Ekonomi (Growth)

Stabilitas (Stability)

Pemerataan yang Berkeadilan (Equity)

1

2

3

a. Sisi pengeluaran b. Sisi produksi

a. Ekonomi b. Sosial c. Politik

Inclusiveness:

(9)

iv

Buku Pegangan

Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

wilayah. Hal ini sangat penting karena efektivitas pembangunan akan tercipta jika ada

harmonisasi kebijakan dan program antara pusat dan daerah serta antar daerah. Sinergi

kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah dapat dilakukan sejak proses perencanaan

sampai dengan proses implementasinya. Oleh sebab itu, kesamaan langkah dan sinergi

kebijakan ini perlu dituangkan dalam:

1.

Sinergi antara dokumen perencanaan pembangunan pusat dan daerah (RPJPN dan

RPJPD, RPJMN dan RPJMD, RKP dan RKPD), terutama tahun 2014 merupakan tahun

terakhir pelaksanaan RPJMN 2010-2014;

2.

Sinergi dalam penetapan target pembangunan daerah, yang tentunya harus

mempertimbangkan kontribusi daerah dalam mencapai target pembangunan

nasional;

3.

Perkuatan koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah pada saat

implementasi kebijakan dan program untuk mencapai target pembangunan nasional

dan daerah yang diinginkan.

(10)
(11)
(12)

Mementapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

vii

Kata Sambutan

Ringkasan Eksekutif

i

Daftar Isi

vii

Daftar Tabel

ix

Daftar Gambar

x

Daftar Lampiran

xi

BAB I

Pendahuluan

1

1.1 Latar Belakang

2

1.1.1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global

2

1.1.2 Perkembangan Ekonomi Nasional

3

1.1.3 Perkembangan Regional dan Masyarakat Ekonomi ASEAN

(MEA) 2015

5

1.1.4 Pentingnya Pemantapan Ekonomi Nasional untuk

Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

7

1.2 Maksud dan Tujuan

8

BAB II

Kebijakan Pembangunan Nasional Tahun 2014

11

2.1 Sasaran Pembangunan Nasional

12

2.2 Arahan Presiden

13

2.3 Tema dan Prioritas RKP 2014

15

2.3.1 Tema Pembangunan

15

2.3.2 Prioritas Nasional Tahun 2014

16

2.4 Isu Strategis 2014

17

(13)

viii

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

BAB III

Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2010-2014

21

3.1 Evaluasi Pembangunan Prioritas Nasional

22

3.2 Evaluasi Pembangunan Daerah

42

3.2.1 Tingkat Pertumbuhan Ekonomi

42

3.2.2 Tingkat Kemiskinan

44

3.2.3 Tingkat Pengangguran

45

3.2.4 Isu Strategis dan Kebijakan Ekonomi Provinsi Tahun 2013

48

Boks 3.1 Hasil Survei PTSP di Daerah

60

Boks 3.2 Pemenang Penyelenggara PTSP Penanaman Modal

63

Boks 3.3 Unit Pelayanan Perdagangan (UPP) sebagai Unit Pelayanan Publik Satu

Pintu yang Efisien dan Handal

65

BAB IV

Kerangka Pemantapan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan

Rakyat yang Berkeadilan

69

4.1 Pemantapan Perekonomian Nasional

70

4.2 Peningkatan Stabilitas

74

4.3 Pemerataan yang Berkeadilan

77

Boks 4.1 Partisipasi Pemerintah Daerah Memegang Kunci Dalam Penurunan

Tingkat Kemiskinan (Success Story dari Provinsi Kepualauan Riau)

81

BAB V

Langkah-Langkah Daerah Bagi Pemantapan Perekonomian dan Peningkatan

Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

85

5.1 Pengantar

86

5.2 Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan Daerah

87

5.2.1 Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

87

5.2.2 Mendorong Stabilitas

96

5.2.3 Mendorong Pemerataan yang Berkeadilan

103

Boks 5.1 Penghargaan Primaniyarta Kepada Eksportir Pelopor Pasar Baru

118

Boks 5.2 Daerah yang Berhasil Mengurangi Tingkat Pengangguran

119

Boks 5.3 Daerah yang Berhasil Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan

120

BAB VI

Penutup

123

Daftar Pustaka

126

(14)
(15)
(16)
(17)

xii

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

Daftar Gambar Lampiran

Gambar 1

Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin,

2006-2012

128

Gambar 2

Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008-2012

130

Gambar 3

PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2011

130

Gambar 4

Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin per

Provinsi (September 2012)

131

Gambar 5

Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu

Orang)

132

Gambar 6

Tingkat Pengangguran Terbuka per Provinsi (%)

133

Gambar 7

Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat per Provinsi

133

Gambar 8

Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Provinsi Tahun 2010-2011

134

Gambar 9

Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional (Januari-September

2012)

134

Gambar 10

S

hare Realisasi PMDN per Provinsi Tahun 2011-2012 (%)

135

Gambar 11

Share Realisasi PMA per Provinsi Tahun 2011-2012 (%)

135

Gambar 12

Rasio Kerapatan Jalan (Km/Km

2

) Tahun 2012

136

Gambar 13

Rasio Kerapatan Jalan (Km/Unit) Tahun 2011

136

Gambar 14

Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%)

137

Gambar 15

Jumlah Bandara per Provinsi Tahun 2010

138

Gambar 16

Jumlah Penumpang Pesawat Udara per Provinsi Tahun 2011

138

Gambar 17

Tingkat Kinerja Pelabuhan Utama Indonesia

139

Gambar 18

Rasio Elektrifikasi Tahun 2012

139

Gambar 19

Kontribusi Kawasan per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun

2012

140

Gambar 20

Produksi Padi di Indonesia Tahun 2010-2012

140

Gambar 21

Konsumsi Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada

Tahun 2010-2014

140

Gambar 22

Produksi dan Konsumsi Beras (Ribu Ton) Tahun 2012

142

Gambar 23

Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Oleh

Penduduk Berusia 10 Tahun ke Atas Tahun 2011

143

(18)

Mementapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

xiii

Gambar 28

Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih

per Provinsi Tahun 2012

147

Gambar 29

Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2011

147

Gambar 30

Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan yang Mendapat Imunisasi Dasar

Lengkap Tahun 2012

148

Gambar 31

Persentase Bayi yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam

(KN1) Tahun 2011

148

Gambar 32

Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010

149

Gambar 33

Persentase Kehamilan Diperiksa Oleh Tenaga Kesehatan Tahun

2011

149

Gambar 34

Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2011

150

Gambar 35

Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non Perawatan Tahun 2012

150

Gambar 36

Rasio Tempat Tidur Rumah Sakit per 100.000 Penduduk Tahun 2012

151

Gambar 37

Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun

2008 dan 2012

151

Gambar 38

Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal

Tahun 2005-2011

152

Gambar 39

UMP Wilayah Sumatera

153

Gambar 40

UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara

153

Gambar 41

UMP Wilayah Kalimantan-Sulawesi

153

Gambar 42

UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua

153

Gambar 43

Pertumbuhan Produktivitas untuk Tiga Sektor Tahun 2006-2012

154

Gambar 44

PDRB per Tenaga Kerja Menurut Harga Konstan 2000 Tahun 2005

dan 2011 (Juta Rupiah/Pekerja)

154

Gambar 45

Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan (Agustus 2012)

155

Gambar 46

Persentase Pekerja Profesional/Semi

Skill

Terhadap Jumlah Pekerja

155

Gambar 47

Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per

Januari 2013)

156

Gambar 48

Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2011

158

Gambar 49

Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012

158

Gambar 50

Indeks Demokrasi Indonesia

160

Gambar 51

Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2011

160

Gambar 52

Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2011

161

Gambar 53

Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota

DPR, DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009

161

Gambar 54

Tingkat Partisipasi Politik Dalam Pemilu

162

Gambar 55

Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD

dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden

(19)
(20)
(21)
(22)

BA

B

I

(23)

2

Buku Pegangan

Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

1.1

Latar Belakang

1.1.1 Perkembangan

Kondisi Ekonomi

Global

Perekonomian dunia terlihat mulai membaik sejak kuartal ke-3

tahun 2012. Sumber utama pemulihan ekonomi dunia di tahun 2012

adalah adanya peningkatan aktivitas perekonomian di

negara-negara berkembang, dan pulihnya perekonomian Amerika Serikat

yang pada tahun 2012 pertumbuhannya mencapai 2,3 persen.

Kondisi keuangan global terlihat mulai stabil, sementara itu arus

modal masuk ke negara-negara berkembang terlihat tetap kuat.

Oleh sebab itu, pada tahun 2013 perkekonomian dunia diperkirakan

akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2012. IMF

memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 sebesar

3,5 persen dan pada tahun 2014 diperkirakan akan tumbuh sebesar

4,1 persen.

Tabel 1.1

Pertumbuhan Ekonomi dan Perdagangan Dunia

ISU STRATEGIS 2012 2013 2014

1. Pertumbuhan Ekonomi Dunia 3,2 3,5 4,1

a.Amerika Serikat 2,3 2,0 3,0

b.Kawasan Eropa -0,4 -0,2 1,0

c.Italia -2,1 -1,0 0,5

d.Spanyol -1,4 -1,5 0,8

e.Jepang -1,4 -1,5 0,8

f. Negara-Negara Berkembang 5,1 5,5 5,9

g.China 7,8 8,2 8,5

h.India 4,5 5,9 6,4

i. ASEAN-5 5,7 5,5 5,7

2. Volume Perdagangan Dunia (Barang dan Jasa) 2,8 3,8 5,5 Impor

a.Negara maju 1,2 2,2 4,1

b.Negara berkembang 6,1 6,5 7,8

Ekspor

a.Negara maju 2,1 2,8 4,5

b.Negara berkembang 3,6 5,5 6,9

Sumber: World Economic Outlook, IMF (Januari 2013)

Pertumbuhan ekonomi negara berkembang (emerging and

developing economies) diperkirakan akan kuat di tahun 2013 dan

2014. Salah satu penyebabnya adalah adanya kebijakan pemerintah

BAB I

(24)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

3

di negara berkembang yang cukup efektif sebagai stimulan dalam

mempertahankan

aktivitas

ekonominya

di

tengah

kondisi

perekonomian global yang kurang kondusif.

Namun demikian, risiko yang akan dihadapi oleh negara-negara

berkembang cukup besar. Kebergantungan negara berkembang

kepada permintaan eksternal dan ekspor komoditas cukup tinggi,

padahal harga komoditas di tahun 2013 dan 2014 diperkirakan akan

menurun; walaupun jika harganya naik, kenaikannya akan dalam

rentang yang sangat terbatas. Sementara itu, penerapan lebih lanjut

untuk kebijakan bersifat longgar di beberapa negara berkembang

akan semakin terbatas, bahkan keterbatasan sisi penawaran dan

ketidakpastian kebijakan (policy

unc

er

ta

inty)

akan menjadi salah

satu penghambat pertumbuhan ekonomi di negara berkembang

untuk tumbuh lebih tinggi (seperti Brazil dan India).

Oleh sebab itu, untuk menghindari proses pemulihan global yang

berisiko, maka negara-negara maju perlu konsisten dalam

penerapan kebijakannya, terutama yang terkait pada: (i) konsolidasi

fiskal yang berkelanjutan; serta (ii) reformasi sektor keuangan.

Sementara negara berkembang juga perlu lebih menyeimbangkan

sumber pertumbuhannya antara konsumsi domestik dengan

orientasi ekspor. Sebagai contoh, perekonomian China perlu lebih

didorong ke arah konsumsi domestik untuk mengurangi risiko

eksternal, dengan disertai upaya untuk membangun kembali ruang

kebijakan ekonominya. Sementara itu, di negara berkembang

lainnya seperti Timur Tengah dan Kawasan Afrika Utara kebijakan

yang diambil sebaiknya lebih mengutamakan untuk menjaga

stabilitas ekonominya dalam situasi kondisi internal dan eksternal

yang kurang menguntungkan.

1.1.2 Perkembangan

Ekonomi Nasional

Walaupun kondisi perekonomian dunia sepanjang tahun 2010-2012

dalam tekanan yang cukup berat, kinerja perekonomian nasional

terlihat masih terjaga baik dengan pertumbuhan ekonomi berada

pada tingkat yang cukup tinggi. Pada tahun 2012, pertumbuhan

ekonomi Indonesia mencapai 6,2 persen; sedangkan pada tahun

2011 pertumbuhannya mencapai 6,5 persen.

(25)

4

Buku Pegangan

Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

sektor

yang

memberikan

sumbangan

terbesar

terhadap

pertumbuhan ekonomi tahun 2012 adalah sektor industri

pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.

Tabel 1.2

Perkembangan Indikator Ekonomi dan Kesejahteraan

PENCAPAIAN 2010 2011 2012

1. Pertumbuhan PDB (%) 6,2 6,5 6,2

2. PDB per kapita (Ribu Rp) 26.786,8 30.424,4 33.339,0 3. Tingkat Kemiskinan (%) 13,11 12,36 11,66 4. Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 7,1 6,6 6,1 5. Neraca Pembayaran (USD Miliar) 30,3 11,9 0,2 a. Transaksi Berjalan (USD Miliar) 5,1 1,7 -24,2 b. Transaksi Modal (USD Miliar) 0,0 0,0 0,0 c. Transaksi Financial (USD Miliar) 26,6 13,5 24,9 d. Cadangan Devisa (Bulan Impor) 7,4 6,5 6,1

Sumber: BPS dan Bank Indonesia

Tabel 1.3

Sumbangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

PENCAPAIAN 2010 2011 2012

1. SISI PENGELUARAN

a. Konsumsi Rumah Tangga 2,7 2,7 2,9

b. Pengeluaran Pemerintah 0,0 0,3 0,1

c. Investasi (PMTB) 2,0 2,1 2,4

d. Ekspor (Barang dan Jasa) 6,5 6,3 1,0

e. Impor (Barang dan Jasa) 5,6 4,8 2,5

2. SISI PRODUKSI

a. Pertanian 0,4 0,4 0,5

b. Pertambangan dan Penggalian 0,3 0,1 0,1

c. Industri Pengolahan 1,2 1,6 1,5

d. Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,0 0,0 0,0

e. Bangunan 0,4 0,4 0,5

f. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1,5 1,6 1,4 g. Pengangkutan dan Komunikasi 1,2 1,0 1,0 h. Keuangan, Persewaan, Jasa Usaha 0,5 0,7 0,7

i. Jasa-jasa lainnya 0,6 0,6 0,5

Sumber: BPS dan Bank Indonesia

Kepercayaan investor yang tetap terjaga dengan baik, didukung oleh

tambahan likuiditas di pasar keuangan global yang bersumber dari

ekspansi moneter di negara-negara maju, telah menyebabkan

transaksi modal dan finansial mengalami surplus di sepanjang tahun

2012.

Dilain pihak, pertumbuhan permintaan dunia yang melambat dan

harga komoditas ekspor yang menurun tajam, di tengah permintaan

domestik yang masih kuat dan konsumsi BBM yang meningkat,

menyebabkan surplus neraca perdagangan nonmigas menyusut dan

(26)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

5

total neraca pembayaran sepanjang tahun 2012 masih dalam

kondisi surplus sebesar USD 0,2 miliar, walaupun besaran surplus ini

lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Defisit transaksi

berlajan yang diimbangi dengan surplus transaksi modal dan

finansial yang meningkat pesat telah menyebabkan cadangan devisa

dapat dipertahankan dalam tingkat relatif aman.

Peningkatan arus investasi asing masuk yang cukup tinggi telah

menjadi penopang neraca pembayaran selama tahun 2012, dan hal

ini tentunya seiring dengan kebijakan-kebijakan yang telah

dilakukan pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi dan usaha,

upaya pemerintah untuk melakukan konsolidasi fiskal dan

makroprudensial, serta kebijakan moneter dan nilai tukar yang

kondusif.

Di sisi kesejahteraan masyarakat, tingkat kemiskinan menunjukkan

penurunan, dimana pada tahun 2012 mencapai 11,66 persen.

Sementara itu, penyerapan tenaga kerja juga semakin baik yang

ditunjukkan dengan menurunnya tingkat pengagguran terbuka yang

mencapai 6,1 persen di tahun 2012.

1.1.3 Perkembangan

Regional dan

Masyarakat

Ekonomi ASEAN

(MEA) 2015

Pergeseran pusat kekuatan ekonomi terlihat dari menguatnya peran

Asia dalam satu dekade terakhir. Beberapa negara di Asia, seperti

Jepang dan Korea Selatan, telah lebih dulu maju dengan basis

perkembangan sektor industrinya. Selanjutnya, China dan India

menyusul sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi regional

dengan statusnya sebagai negara

emerging dengan populasi

terbesar dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sementara itu,

Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya juga mulai

menunjukkan kekuatannya sebagai penggerak roda perekonomian

regional, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terus melaju

serta besarnya jumlah penduduk yang menjadikannya sebagai

modal sosial yang besar maupun pasar yang potensial.

Sementara itu, pelaksanaan MEA 2015 memberikan konsekuensi

bagi Indonesia terhadap tingkat persaingan yang semakin terbuka

dan tajam, terutama dalam perdagangan barang dan jasa di

kawasan ASEAN. Pelaksanaan MEA 2015 telah didahului dengan

(27)

6

Buku Pegangan

Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan

ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar

regional bagi 500 juta penduduknya. Tujuan akhir MEA 2015 adalah

untuk menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan arus barang,

jasa, investasi, pekerja terampil dan arus modal yang lebih bebas,

mempunyai daya saing tinggi, dengan tingkat pembangunan

ekonomi yang merata, serta terintegrasi dalam ekonomi global.

Dengan semakin terbukanya pasar ASEAN bagi para negara

anggotanya, tingkat persaingan pun akan semakin tinggi. Di lain

pihak, peranan ekspor Indonesia di pasar ekspor ASEAN masih lebih

rendah dibandingkan negara Singapura, Thailand dan Malaysia;

dimana kontribusi ekspor Indonesia terhadap ekspor negara ASEAN

(untuk pasar ASEAN) baru mencapai 14,6 persen di tahun 2011,

sedangkan Singapura, Thailand dan Malaysia berturut-turut

memberikan sumbangan sebesar 44,2 persen; 19,4 persen; dan 18,8

persen.

Gambar 1

.1

Persentase Responden yang Mengetahui MEA Dilaksanakan Tahun 2015

Sumber: Benny dan Kamarulnizam, 2011 (diolah Bappenas)

Sementara itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap

399 responden di 5 (lima) kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta,

Surabaya, Medan, Makassar, dan Pontianak (Benny dan

Kamarulnizam, 2011), masyarakat Indonesia pada umumnya sudah

mengetahui adanya ASEAN. Namun demikian, secara rata-rata

hanya 39 persen responden yang mengetahui tentang MEA yang

akan dilaksanakan pada tahun 2015; 46 persen responden di

Makassar mengetahui bahwa MEA akan dilaksanakan tahun 2015;

36% 46% 31%

35% 44% 39%

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Jakarta

Makassar Medan Pontianak Surabaya Rata-rata

(28)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

7

sementara di Medan hanya 31 persen responden yang mengetahui

tentang MEA 2015.

Oleh sebab itu, tantangan terbesar bagi Indonesia dalam

menghadapi pembentukan MEA 2015 adalah meningkatkan

pemahaman publik di kalangan Pemerintah, dunia usaha dan

masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah; tentang manfaat

dan peluang yang dapat diperoleh dengan pelaksanaan MEA 2015.

Pembentukan MEA sebenarnya dapat memberikan peluang bagi

Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang, jasa,

investasi, pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. Di

lain pihak, Bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk

meningkatkan daya saing dan memperkuat ketahanan nasional agar

dapat siap bersaing dengan bangsa lain. Langkah ini hanya dapat

dilakukan dengan memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang

didukung struktur ekonomi yang kuat, pelaku ekonomi yang

berdaya saing tinggi, berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan

yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meratanya

pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Dengan

demikian, diharapkan Indonesia akan dapat menarik manfaat dari

integrasi ekonomi kawasan yang berdaya saing tinggi dan

terintegrasi dalam ekonomi global, sehingga pada gilirannya akan

memberikan manfaat ekonomi secara luas bagi seluruh rakyat

Indonesia.

1.1.4 Pentingnya

Pemantapan

Ekonomi Nasional

untuk

Meningkatkan

Kesejahteraan

Rakyat yang

Berkeadilan

Di saat kondisi ekonomi global mulai pulih, perekonomian domestik

harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh

dan daya saing yang lebih baik. Selanjutnya, ekspor dan investasi

harus didorong untuk tumbuh tinggi, agar ekonomi nasional dapat

meningkat

dengan

lebih

baik,

terutama

untuk

terus

mengembangkan sektor produktif padat karya agar dapat

memperluas kesempatan kerja. Hal ini sangat penting karena

perluasan kesempatan kerja akan dapat membantu peningkatan

kesejahteraan masyarakat.

Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar

(29)

8

Buku Pegangan

Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu

dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (

pro-growth

), kesempatan kerja (

pro-job

), pengentasan kemiskinan (

pro-poor)

dan pelestarian lingkungan hidup (

pro-environment

).

Untuk mencapai kondisi ini, sudah menjadi suatu keharusan bagi

Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan

bersaing dengan negara lain. Langkah ini dapat dilakukan dengan

meningkatkan daya saing bangsa, memperbaiki kinerja ekonomi

nasional

yang

didukung

struktur

ekonomi

yang

kuat,

mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di

seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan

wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Dengan demikian,

diharapkan kesenjangan antar wilayah dan kesenjangan antar

kelompok masyarakata secara bertahap dapat dikurangi.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014 yang

berjudul

“Memantapkan

Perekonomian

Nasional

Bagi

Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan“ ini disusun

dengan maksud agar seluruh jajaran Pemerintah Daerah di

Indonesia dapat bersama-sama dengan Pemerintah Pusat untuk

menyamakan langkah guna memantapkan perekonomian nasional

yang dapat mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat yang

berkeadilan.

Tujuan

Secara lebih spesifik tujuan dari disusunnya buku ini adalah untuk

memberikan panduan bagi daerah tentang:

1.

Kerangka pembangunan untuk mencapai Pemantapan

Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan

Rakyat yang Berkeadilan;

(30)

Foto: Dit. Penanggulangan Kemiskinan Bappenas F

F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F F

(31)
(32)

BAB II

KEBIJAKAN

PEMBANGUNAN

(33)

12

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

2.1 Sasaran Pembangunan Nasional

Sasaran

Visi Indonesia 2014 yang digariskan dalam RPJMN 2010-2014 adalah

“Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan

Berkeadilan” yang dijabarkan ke dalam 5 (lima) agenda

pembangunan yaitu: (i) Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan

Kesejahteraan Rakyat; (ii) Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan; (iii)

Penegakan

Pilar

Demokrasi;

(iv)

Penegakan

Hukum

dan

Pemberantasan Korupsi; dan (v) Pembangunan yang Inklusif dan

Berkeadilan. Sedangkan sasaran utama RPJMN 2010-2014 dibagi

dalam 3 (tiga) kelompok yaitu: (i) Sasaran Pembangunan Ekonomi

dan Kesejahteraan; (ii) Sasaran Perkuatan Demokrasi; dan (iii)

Sasaran Penegakan Hukum.

Sasaran pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat

diantaranya ditunjukkan oleh indikator pertumbuhan ekonomi,

inflasi, pengangguran dan kemiskinan. Percepatan pertumbuhan

ekonomi diharapkan mampu menurunkan tingkat pengangguran

dan kombinasi antara percepatan pertumbuhan dan berbagai

kebijakan

intervensi

pemerintah

diharapkan

mempercepat

penurunan tingkat kemiskinan. Pencapaian sasaran percepatan

pertumbuhan harus didukung oleh stabilitas ekonomi yang mantap

dengan tingkat inflasi yang rendah, yang memungkinkan nilai tukar

dan suku bunga yang kompetitif sehingga sektor riil dapat

bekembang dengan cepat dan sehat. Pada tahun 2014, sasaran

pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 6,4-6,9 persen, inflasi

sebesar 5,0 persen, tingkat pengangguran sebesar 5,6-6,0 persen

dan tingkat kemiskinan sebesar 8-10 persen.

Sasaran penguatan pembangunan demokrasi adalah membangun

dan semakin memantapkan sistem demokrasi Indonesia yang dapat

menghasilkan pemerintahan dan lembaga legislatif yang kredibel,

bermutu, efektif serta mampu menyelenggarakan amanah dan

tugas serta tanggung jawabnya secara baik, seimbang dengan

BAB II

(34)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

13

peningkatan kepatuhan terhadap pranata hukum. Sasaran

penguatan demokrasi ditunjukkan diantaranya oleh Indeks

Demokrasi Indonesia (IDI) yang pada tahun 2014 besarnya adalah

73.

Sasaran penegakan hukum adalah tercapainya suasana dan

kepastian keadilan melalui penegakan hukum dan terjaganya

ketertiban umum. Hal ini tercermin dari persepsi masyarakat

pencari keadilan untuk merasakan kenyamanan, kepastian, keadilan

dan keamanan dalam berinteraksi dan mendapat pelayanan dari

penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan). Sasaran penegakan

hukum diantaranya ditunjukkan oleh Indeks Persepsi Korupsi

Indonesia (IPK) yang pada tahun 2014, sasaran IPK adalah sebesar

4,5.

2.2 Arahan Presiden

Arahan

Arahan Presiden merupakan pedoman dalam penyusunan Rencana

Kerja Pemerintah, baik ditingkat pusat maupun di tingkat daerah.

Arahan tersebut meliputi arahan Presiden di berbagai kesempatan

yang merupakan respon terhadap permasalahan yang muncul.

Beberapa arahan Presiden dalam sidang kabinet yang dijadikan

sebagai panduan bagi penyusunan dokumen perencanaan adalah

sebagai berikut:

1.

Arahan Presiden Pada Sidang Kabinet 29 Januari 2013

Manfaatkan peluang dan beri dukungan regulasi yang

kondusif untuk pembangunan infrastruktur;

Prioritaskan pengentasan kemiskinan, khususnya

the

poorest of the poor;

Kontrol belanja: batasi pengeluaran yang tidak perlu; flat

belanja barang (tidak berarti kontraktif); tetap ekspansif

tetapi terkontrol;

Subsidi harus terkontrol; cegah inflasi karena inflasi

berbanding lurus dengan kemiskinan.

2.

Arahan Presiden pada Rapat Terbatas Kabinet Tanggal 21

Maret dan 28 Maret 2013

(35)

14

Buku Pegangan

Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

Direktif Presiden 2013 masih relevan di 2014;

RKP 2014 diarahkan untuk menutup target RPJMN terutama

yang terkait dengan kemiskinan dan pengangguran untuk

memenuhi sasaran RPJMN. Sedangkan target yang lain

dapat disesuaikan. Untuk itu, perlu dilakukan:

Penajaman 15 isu strategis.

Penguatan program penanggulangan kemiskinan dan

penurunan pengangguran.

Penyesuaian sasaran RPJMN dengan ketersediaan Pagu

Indikatif 2014.

Arahan Presiden tersebut menjadi pedoman dalam penyusunan

RKP 2014 yang kemudian diterjemahkan ke dalam 3 (tiga)

kelompok unsur-unsur pokok, sebagai berikut:

Pertama, yang terkait dengan pemantapan perekonomian nasional.

Hal-yal yang perlu mendapat perhatian yang terkait dengan

pemantapan perekonomian nasional adalah: (i)

Master

Pl

an

Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

(MP3EI); (ii) Surplus Beras 10 Juta ton 2014; (iii) Konversi Energi;

(iv)

L

ow Co

st

Emi

ssion Car (Green Car); dan (v) Percepatan

Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

Kedua, pentingnya peningkatan kesejahteraan rakyat yang

berkeadilan. Dalam hal ini, yang perlu menjadi perhatian adalah: (i)

Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan

Indonesia (MP3KI); (ii) Peningkatan Pelayanan Sanitasi dan Air

Bersih dalam rangka pencapaian MDGs; dan (iii) Pembangunan

Shelter Bencana.

(36)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

15

2.3 Tema dan Prioritas RKP 2014

2.3.1 Tema

Pembangunan

Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun

langkah-langkah

pembangunan

untuk

mencapai

sasaran

pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu

“Mewujudkan

Indonesia

yang

Demokratis,

Sejahtera

dan

Berkeadilan”. Adapun langkah-langkah tersebut dituangkan dalam

Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang disusun setiap tahun. Pada

tahun 2014, tema pembangunan nasional adalah “Memantapkan

Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

yang Berkeadilan”. Dengan demikian, secara menyeluruh tema RKP

dari tahun 2010-2014 ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1

Tema Pembangunan yang Tertuang Dalam RKP

Tema

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan

Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan dalam RKP 2014 dilandasi

oleh kondisi lingkungan strategis pembangunan tahun 2014, baik

secara internal maupun eksternal yang menuntut perlunya

penguatan ekonomi nasional.

Kebijakan penguatan ekonomi nasional mencakup upaya untuk: (i)

mendorong investasi dan ekspor; (ii) meningkatkan efektivitas

belanja negara; (iii) menjaga daya beli masyarakat; (iv) menjaga

stabilitas ekonomi, antara lain nilai tukar rupiah; (v) meningkatkan

pembangunan infrastruktur; dan (vi) menjaga stabilitas sosial

politik. Dengan kerja keras, pelaksanaan kebijakan ini diperkirakan

dapat mendorong perekonomian nasional tumbuh 6,4-6,9 persen

pada tahun 2014.

Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam Tema RKP tahun 2014

adalah sebagai berikut:

2010 •Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat 2010

2011

•Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan Didukung oleh Pemantapan Tatakelola dan Sinergi Pusat dan Daerah

2011

2012

•Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

2012

2013 •Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2013

2014 3 3 3

4

(37)

16

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

1.

Pemantapan Perekonomian Nasional

Mengupayakan tercapainya pertumbuhan ekonomi tinggi

dan berkelanjutan yang diiring oleh tingkat inflasi yang

terjaga; nilai tukar yang stabil dan kompetitif; neraca

pembayaran

yang

seimbang;

serta

fiskal

yang

berkelanjutan;

Meningkatkan

daya

saing

ekonomi

agar

mampu

memanfaatkan kesempatan dalam pertumbuhan ekonomi

global;

Mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif yaitu

intervensi pemerintah yang tepat memihak (affirmative)

kepada kelompok yang terpinggirkan, untuk memastikan

semua kelompok masyarakat memiliki kapasitas yang

memadai dan akses yang sama terhadap kesempatan

ekonomi yang muncul.

2.

Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

Membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia;

Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran;

Mitigasi bencana.

3.

Pemeliharaan Stabilitas Sosial dan Politik

Menjaga agar konflik sosial tidak terulang kembali;

Membaiknya kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi;

Memantapkan

penegakan

hukum,

pertahanan

dan

pelaksanaan Pemilu 2014.

2.3.2 Prioritas

Nasional Tahun

2014

Sebagai penjabaran RPJMN 2010-2014, pembangunan nasional

dalam RKP 2014 dituangkan ke dalam 11 Prioritas Nasional dan 3

Prioritas Lainnya, termasuk di dalamnya kemungkinan adanya

prakarsa-prakarsa baru yang terintegrasi dengan RPJMN dan RKP

untuk menanggapi situasi kekinian dan menjaga momentum positif

yang telah dicapai sebagai hasil pembangunan selama ini.

Prakarsa-prakarsa baru tersebut menunjukkan bahwa Indonesia selalu siap

dalam mengantisipasi dan merespon berbagai perkembangan yang

terjadi serta melakukan perubahan untuk mencapai kemajuan dan

hasil pembangunan yang lebih baik. Selanjutnya, 11 Proritas

(38)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

17

Gambar 2.2

Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014

Sumber: RKP 2014, Bappenas

2.4 Isu Strategis 2014

Isu Strategis

Isu strategis dalam RKP 2014 dimaksudkan untuk lebih

memfokuskan upaya pemerintah untuk hal-hal yang signifikan,

berdampak luas dan yang berfungsi sebagai pengungkit sehingga

penanganannya dapat tuntas. Isu strategis disusun dengan

berdasarkan kepada dua hal, yaitu: (i) Arahan Presiden; dan (ii)

Hasil Review paruh waktu RPJMN 2010-2014. Berikut ini adalah isu

strategis yang telah dikelompokkan berdasarkan Prioritas Nasional.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 1 - Reformasi

Birokrasi dan Tata Kelola,

adalah: Pemerintahan yang bersih dan

bebas KKN, Peningkatan kualitas pelayanan publik dan Peningkatan

Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Birokrasi.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 2 - Pendidikan,

adalah: Peningkatan akses pendidikan dasar dari keluarga miskin,

Pelaksanaan kurikulum baru pendidikan 2013/2014 secara

bertahap dan Pelaksanaan pendidikan menengah universal.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 3 - Kesehatan,

adalah: Penurunan dan pencegahan penyakit (HIV AIDS dan

Malaria) dan Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan KB yang

Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan

Kesehatan

Penanggulangan Kemiskinan Ketahanan Pangan

Infrastruktur

Iklim Investasi dan Iklim Usaha Energi

Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana

Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, & Pasca-konflik Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi

Bidang Politik, Hukum dan Keamanan

Bidang Perekonomian

(39)

18

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

merata.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 5 - Ketahanan

Pangan,

adalah: Kesejahteraan petani/nelayan dan Peningkatan

produksi perikanan.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 6 -

Infrastruktur,

adalah: Penyediaan infrastruktur dasar untuk

menunjang peningkatan kesejahteraan, Penyediaan infrastruktur

yang mengurangi kesenjangan antar wilayah, serta Penyediaan

infrastruktur untuk mendukung ketahanan pangan dan energi.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 7 - Iklim

Investasi dan Iklim Usaha,

adalah: Penurunan Biaya Logistik

Nasional dan Pengembangan fasilitas pendukung KEK yang telah

ditetapkan dan penetapan KEK baru.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 8 - Energi,

adalah: Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi serta

Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Peningkatan Kapasitas

Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 9 - Lingkungan

Hidup dan Pengelolaan Bencana, adalah: Pengendalian perubahan

iklim dan Peningkatan kualitas lingkungan.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional 10 - Daerah

Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Paska Konflik,

adalah:

Pembangunan Daerah Tertinggal serta Penguatan Diplomasi dan

Pembangunan Infrastruktur, hankam, serta fasilitas

Custom,

Immigration, Quarantine, Security (CIQS) kawasan perbatasan.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional Lainnya Bidang

Polhukam, adalah: Pembinaan masyarakat.

Isu Strategis untuk mendukung Prioritas Nasional Lainnya Bidang

Perekonomian,

adalah: Akselerasi industrialisasi dengan sasaran

pertumbuhan industri nonmigas serta Peningkatan Pemahaman

dan Kesiapan Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi

ASEAN (MEA) 2015.

(40)

143

Gambar 23

Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Oleh Penduduk

Berusia 10 Tahun ke Atas Tahun 2011

Gambar 24

Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2011

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Aceh

Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Kep. Babel Kep. Riau DKI Jakarta Jabar Jateng DIY Jatim Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluk Malut Papua Barat Papua

Tidak/Belum Sekolah Tidak Tamat SD SD+SMP SM+PT

8,38

25,63

26,68 16,31

17,74

5,25 Tidak/Belum Pernah Sekolah

Tidak Tamat SD

SD/sederajat

SMP/sederajat

SMA/sederajat

PT/sederajat Sumber: Susenas, BPS, 2011

Sumber: Susenas 2011

(41)
(42)

BAB III

EVALUASI PARUH

(43)

22

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

3.1 Evaluasi Pembangunan Prioritas Nasional

Evaluasi

Pelaksanaan

Prioritas Nasional

Pelaksanaan Pembangunan Prioritas Nasional sampai dengan paruh

waktu RPJMN 2010-2014 telah memberikan capaian yang cukup

baik. Di tengah ketidakpastian proses pemulihan kelesuan ekonomi

dunia sejak krisis global 2008, pembangunan ekonomi nasional

secara umum tetap menunjukkan kinerja yang menggembirakan.

Hal ini mengindikasikan fundamental ekonomi nasional yang

kokoh, meskipun dampak krisis sempat dirasakan pada tahun 2009

dengan terkoreksinya pertumbuhan ekonomi pada angka 4,63

persen (Tabel 3.1).

Tabel 3.1

P

ertumbuhan

P

DB dan Pertumbuhan

P

enyerapan Tenaga Kerja (

P

ersen)

No. LAPANGAN USAHA

PDB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja 1)

2009 2010 2011* 2012** CAGR 2009 2010 2011 2012 CAGR

1 Pertanian, Peternakan,

Kehutanan & Perikanan 3,96 3,01 3,37 3,97 2,57 0,68 -0,28 -5,22 -1,14 -1,68 2 Pertambangan & Penggalian 4,47 3,86 1,39 1,49 1,68 7,91 8,59 16,81 9,26 8,50 3 Industri Pengolahan 2,21 4,74 6,14 5,73 4,12 2,31 7,67 5,19 5,67 4,59 4 Listrik, Gas & Air Bersih 14,29 5,33 4,82 6,40 4,11 10,91 4,94 2,38 3,88 2,78 5 Konstruksi 7,07 6,95 6,65 7,50 5,23 0,88 1,93 13,35 7,13 5,48 6 Perdagangan, Hotel & Rest. 1,28 8,69 9,17 8,11 6,42 3,42 2,48 4,02 -1,03 1,35 7 Pengangkutan dan Komunikasi 15,85 13,41 10,70 9,98 8,40 -1,00 -8,16 -9,61 -1,59 -4,93 8 Keuangan, Real Estate

Jasa Perusahaan 5,21 5,67 6,84 7,15 4,87 1,82 17,01 51,39 1,10 15,68 9 Jasa-jasa 6,42 6,04 6,75 5,24 4,47 6,88 13,96 4,32 2,73 5,13

TOTAL 4,63 6,22 6,49 6,23 4,70 2,26 3,18 1,35 1,04 1,39

Sumber: Badan Pusat Statistik

Keterangan: * Angka Sementara, ** Angka Sangat Sementara 1)

SAKERNAS bulan Agustus

Pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2010 hingga 2012 masih dalam

kisaran sasaran RPJMN (sekitar 6,3-6,8 persen per tahun, dengan

peningkatan bertahap mulai dari 5,5-5,6 persen pada tahun 2010

menjadi sekurang-kurangnya 7 persen pada tahun 2014). Pada

BAB III

(44)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

23

tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,2 persen,

kemudian berkembang lebih baik pada tahun 2011 menjadi 6,5

persen, lebih tinggi dari yang telah ditargetkan. Pada tahun 2012,

meskipun krisis keuangan Eropa memberikan tekanan yang cukup

kuat, perekonomian nasional pada tahun 2012 masih dapat

tumbuh sebesar 6,2 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang kokoh memberikan pengaruh positif

terhadap penyerapan tenaga kerja sehingga mampu menekan

angka pengangguran. Rata-rata 1,39 persen angkatan kerja mampu

diserap setiap tahunnya, sehingga angka pengangguran dapat

ditekan menjadi 6,14 persen pada tahun 2012, yang pada tahun

2010 mencapai 7,14 persen. Sejalan dengan itu, tingkat kemiskinan

juga berhasil diturunkan. Persentase penduduk miskin pada tahun

2010 sebesar 13,3 persen dapat diturunkan menjadi 11,7 persen

pada tahun 2012. Pendapatan per kapita penduduk Indonesia pun

mengalami peningkatan cukup tajam, mencapai sekitar USD 3.352

tahun 2012, setelah sebelumnya mengalami krisis keuangan yang

berkembang menjadi krisis multidimensi yang cukup parah pada

tahun 1998 (Gambar 3.1).

Gambar 3.1

Pendapatan per kapita, Pertumbuhan PDB, Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

Dalam pengentasan kemiskinan, untuk memenuhi target tingkat

kemiskinan 8-10 persen pada tahun 2014, kebijakan pengentasan

kemiskinan yang disusun tidak hanya harus bersinergi antar sesama

-15 -10 -5 0 5 10 15 20 25

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 (%) (US$)

PN per kapita, metode Atlas (berlaku US$) Pertumbuhan PDB (%)

Tingkat Pengangguran (%) Tingkat Kemiskinan (%) Dampak krisis 1998

Dampak kenaikan BBM

Dampak krisis global Dampak kenaikan BBM

(45)

24

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

program-program pengentasan kemiskinan saja, namun selaras

pula dengan program kebijakan di luar kemiskinan, dengan harapan

dapat meminimalisir dampak kebijakan yang kontra produktif

terhadap penurunan kemiskinan. Jika terdapat kebijakan yang

dampaknya diperkirakan dapat menambah jumlah dan beban

penduduk miskin, misalnya seperti kenaikan BBM tahun 2005,

maka langkah kebijakan antisipatif yang efektif perlu disiapkan dan

dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Program pembangunan

yang sifatnya padat karya makin ditingkatkan secara merata untuk

dapat menyerap tenaga kerja secara optimal, dengan harapan

dapat meningkatkan pendapatan masyarakat miskin. Selain itu,

pengentasan kemiskinan dilakukan dengan meningkatkan dan

memperluas akses mereka terhadap kebutuhan dasar, yaitu

pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan.

Selama ini, pemerintah telah bertekad dan berupaya untuk

melaksanakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, yaitu

pembangunan ekonomi yang menjamin pemerataan (growth with

equity) yang mensyaratkan stabilitas dan dukungan negara yang

kuat. Upaya ini diwujudkan dengan menerapkan four track strategy

pembangunan, yang terdiri dari

pro-growth, pro-poor

dan pro-job

dilengkapi dengan

pro-environment untuk mengantisipasi dampak

perubahan iklim, yang dilaksanakan secara terintegrasi dan saling

bersinergi secara seimbang dan konsisten dengan melibatkan

masyarakat serta mengedepankan aspek pemerataan.

Pemerataan menjadi isu penting dalam pelaksanaan pembangunan

guna mengatasi melebarnya ketimpangan baik antar penduduk

maupun antar wilayah, karena pembangunan tidak hanya

bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi semata, namun

juga untuk menyejahterakan masyarakat yang termarjinalkan.

Dalam hal itu, perlindungan sosial akan terus ditingkatkan dan

dioptimalkan. Hal ini bukan hanya ditujukan untuk memenuhi

kewajiban konstitusional, namun juga dilandasi pertimbangan

untuk meningkatkan kualitas menuju SDM yang produktif, terdidik,

terampil dan sehat, karena sumber daya manusia yang berkualitas

merupakan

pelaku

sekaligus

key

enabler

dalam

proses

pembangunan.

(46)

Memantapkan Perekonomian Nasional Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan

25

pendidikan sebagai infrastruktur dasar akan ditingkatkan.

Pembangunan infrastruktur dasar ini dibarengi pula dengan

penyediaan tenaga kesehatan dan pendidikan yang memadai,

pembangunan sarana dan prasarana pertanian, serta pembenahan

tata kelola pemeliharaan aset-aset hasil pembangunan tersebut.

Guna meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat yang lebih merata,

pembangunan sektor pertanian dan UMKM akan mendapat porsi

perhatian yang lebih besar. Alih fungsi lahan pertanian

dikendalikan, pembangunan sarana dan prasarana pertanian lebih

dipercepat, terutama melalui pembangunan dan rehabilitasi

saluran irigasi sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan

kesejahteraan petani. Dengan makin bergairahnya kegiatan

pertanian, pencapaian target program swasembada pangan atau

ketahanan pangan nasional semakin cepat diwujudkan, sekaligus

dapat meningkatkan pemerataan pembangunan.

Upaya peningkatan kesejahteraan dengan berbagai program

pembangunan diupayakan tetap memperhatikan, menjaga dan

meningkatkan kualitas lingkungan hidup karena saat ini kualitas air,

udara, tanah dan lingkungan secara umum terus memburuk. Upaya

menjaga kualitas lingkungan diperlukan agar peningkatan

kesejahteraan dapat berjalan secara berkelanjutan dan tidak

diwarnai oleh dampak kerusakan lingkungan yang akan mengurangi

manfaat sosial dan ekonomi dari pembangunan. Untuk itu

pengarusutamaan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan

harus diterapkan pada semua proses dan tahapan pembangunan.

Keterpaduan, sinergi, fokus dan konsistensi merupakan kata kunci

keberhasilan pelaksanaan pembangunan mendatang dalam

mewujudkan target pembangunan, yaitu kesejahteraan rakyat yang

berkeadilan. Hal ini tidak dapat lagi dilakukan secara terkotak-kotak

hanya demi kepentingan pencapaian yang bersifat sektoral (ego

sektoral) atau dikotomi pusat daerah yang dapat mendistorsi

pencapaian target kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.

Pencapaian 14

Prioritas Nasional

Pencapaian 14 Prioritas Nasional hingga paruh waktu pelaksanaan

(47)

26

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2014

Prioritas Nasional 1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola

Pencapaian pembangunan Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola

masih perlu ditingkatkan. Beberapa target pembangunan yang

direncanakan masih belum terpenuhi, terutama pada pencapaian:

(i) Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemda,

dari target 60 persen pada tahun 2014 baru mencapai 16 persen

pada tahun 2012; (ii) Pelayanan publik di daerah, dari target skor

integritas sebesar 8,0 pada tahun 2014 baru mencapai 6,32 pada

tahun 2012; (iii) Kemudahan berusaha, dari target peringkat 75

pada tahun 2014 baru menempati peringkat 129 pada tahun 2012;

(iv) Efektifitas pemerintahan dari target skor 0,5 di tahun 2014 baru

mencapai skor -0,24 pada tahun 2011; dan (v) Akuntabilitas

kabupaten/kota baru mencapai 12,78 persen di tahun 2011 dari

target yang ditetapkan sebesar 60 persen di tahun 2014.

Dalam upaya pencapaian target RPJMN 2010-2014, tindak lanjut

yang akan dilaksanakan dengan dukungan daerah adalah: (i)

Peningkatan kapasitas auditor internal dan pengelola keuangan

pada instansi pusat dan daerah; (ii) Peningkatan pengelolaan barang

milik negara; (iii) Peningkatan kualitas e-

pro

c

urement;

(iv)

Pembenahan manajemen pelayanan, yang meliputi aspek

kelembagaan, tatalaksana, SDM dan pemanfaatan TIK, serta

pengembangan sistem nasional pengaduan pelayanan publik; (v)

Percepatan implementasi UU No. 25/2009 tentang Pelayanan

Publik; (vi) Peningkatan kualitas pembentukan regulasi baru melalui

penerapan reformasi regulasi di semua tingkatan, baik di pusat

maupun daerah; (vii) Penataan organisasi, melalui audit organisasi

dan ditindaklanjuti dengan penajaman fungsi dan struktur

organisasi birokrasi pemerintah pusat dan daerah; (viii) Peningkatan

profesionalisme SDM aparatur; (ix) Pemantapan penerapan sistem

manajemen kinerja instansi pemerintah pusat dan daerah; (x)

Peningkatan kapasitas implementasi reformasi birokrasi secara

nasional untuk mempercepat perluasan reformasi birokrasi di

daerah.

Prioritas Nasional 2: Pendidikan

Gambar

Gambar 23Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Oleh Penduduk
Tabel 3.4
Gambar 4Kerangka Pemerataan yang Berkeadilan.3
Gambar 4.4 Kerangka Peningkatan Kualitas SDM Melalui Pembangunan Pendidikan yang Berkualitas
+7

Referensi

Dokumen terkait

(MUSRENBANGDESA) adalah forum musyawarah tahunan yang dilaksanakan secara partisipatif oleh para pemangku kepentingan desa (pihak berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desa

PERSEPSI PEMANGKU KEPENTINGAN TERHADAP PROFESIONALITAS GURU PAUD Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu..

“Upaya ini tentunya perlu mendapatkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan daerah, sebagaimana hal tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 2

Sebelum menyusun rencana pelibatan pemangku kepentingan, langkah pertama adalah mengidentifikasi siapa pemangku kepentingan di seluruh tingkatan yang akan terkait dengan

Dokumen kebijakan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bertujuan untuk mengkomunikasikan kepada seluruh pemangku kepentingan tentang SPMI dan dijadikan landasan, arah

Dokumen Manual Mutu Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bertujuan untuk mengkomunikasikan kepada seluruh pemangku kepentingan tentang SPMI dan dijadikan

1) Kunjungan lapangan dilakukan di Provinsi dan atau Kabupaten/kota dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait rencana aksi pangan dan gizi. 2) Substansi kunjungan

melaksanakan koordinasi dan sosialisasi RPJMN 2020-2024 dengan Kementerian/Lembaga terkait, Pemerintah Daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam upaya