180 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini berusaha melihat bagaimana konstruksi dalam film “Samin VS Semen” dan film “Sikep Samin Semen” bekerja. Konstruksi ini dilihat melalui konsep yang ada di dalam film dokumenter dan juga konsep dalam konflik kasus pendirian pabrik semen di Pati. Dalam konteks ini, media dipandang bukan hanya sebagai saluran yang bebas dan netral, namun juga sebagai subjek yang membentuk realitas. Film dokumenter sarat dengan bingkai dan konstruksi tentang realitas dari pihak-pihak yang terlibat dalam film, bahkan sejak awal dari penentuan ide/tema hingga film selesai. Film “Samin VS Semen” dan Film “Sikep Samin Semen” merupakan film yang sama-sama mengkonstruksi mengenai masyarakat Samin yang berkaitan dengan kasus pendirian pabrik semen di Pati, Jawa Tengah.
Dalam mengkonstruksikan realitas, media memanfaatkan tiga komponen, yaitu pemakaian simbol-simbol politik (language of politic), strategi pengemasan pesan (framing strategies), dan kesediaan media memberi tempat (agenda setting function). Oleh karena itu, media bukan hanya memilih fakta dan data yang akan diangkat, namun juga memilih aktor-aktor yang tampil dalam pemberitaan. Konsep tersebut juga berlaku pada film dokumenter. Film dokumenter adalah alat komunikasi pembentuk kenyataan (konstruksi) yang penting karena dokumenter selalu berpijak pada kenyataan dan memberikan sesuatu hal yang berharga dan perlu kita ketahui.
Analisis isi kualititatif digunakan untuk menganalisis bagaimana film dokumenter mengkonstruksikan masyarakat Samin sebagai masyarakat Adat di Indonesia yang saat ini sedang terlibat dengan pembangunan pabrik semen. Analisis tersebut dilakukan dengan cara mengurai film menjadi unit-unit kecil berupa adegan (scene) dan menganalisis shots tertentu agar memberikan gambaran sesuai unit kajian yang telah ditentukan sebelumnya. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut
181 Teknis
1. Unit kajian subyek film dokumenter yang terdiri dari pelaku cerita dan alur film. Masalah yang dijadikan subjek dari film dokumenter “Samin VS Semen” merupakan masalah sosial yang memang kerap diangkat oleh para film maker independen Indonesia. Masalah-masalah sosial tersebut biasanya mengenai kemiskinan, kekerasan, konflik, korupsi, dan kerusakan lingkungan. Film “Samin VS Semen” lebih berfokus pada penolakan pabrik semen dengan argumen kerusakan lingkungan jika didirikan pabrik semen. Sedangkan, film “Sikep Samin Semen” digolongkan dalam film dokumenter yang mengangkat mengenai pemanfaatan nama masyarakat adat untuk kepentingan tertentu.
Pemilihan pelaku cerita dalam kedua film ini sama-sama bertujuan untuk memperkuat argumen yang dibawa oleh masing-masing film. Film “Samin VS Semen” menampilkan ceritanya dari sudut pandang para aktivis dan warga penolak pembangunan pabrik semen, namun dalam film ini identitas mereka sebagai aktivis JMPPK tidak disebutkan secara tersurat. Sedangkan, film “Sikep Samin Semen” berusaha menampilkan sudut pandang dari orang-orang yang tidak setuju terhadap penggambaran Samin dalam film “Samin VS Semen”.
Kemudian, dari sisi alur cerita, Film Samin VS Semen lebih berfokus pada penolakan pabrik semen. Dari proporsi film yang ada, hanya sedikit yang bercerita tentang masyarakat Samin. Sedangkan, film Sikep Samin Semen memang fokus untuk menolak penggambaran Samin yang digambarkan pada film Samin VS Semen dengan menampilkan para tetua adat masyarakat Samin dan sedikit sekali penggambaran tentang masalah semen.
Kedua film mempunyai kesalahan dalam pembuatan judul film. Film Samin VS Semen mengenakan kata ‘Samin’ yang akan membuat orang berpresepsi bahwa masyarakat Samin membuat gerakan yang masif dalam menolak pembangunan pabrik semen, padahal masyarakat Samin yang tergambar dalam film tersebut hanya ditunjukkan dari pasangan Gunretno dan Gunarti yang juga tergabung dalam LSM JMPPK.
182 Selanjutnya, film Sikep Samin Semen pun mempunyai judul yang juga kurang tepat, terutama terletak pada kata ‘Semen’ karena film itu hanya sedikit membahas hal yang berkaitan dengan pembangunan pabrik semen dan lebih banyak menyerang tokoh Gunretno dan Gunarti dalam film “Samin VS Semen”.
Masyarakat Samin di dalam film Sikep Samin Semen lebih sering diucapkan dengan nama Sedulur Sikep dibandingkan menggunakan nama Samin itu sendiri. Berdasarkan konteks perkembangan Samin, nama Sedulur Sikep mempunyai konotasi yang lebih baik dibandingkan dengan nama Samin yang dikonottasikan pada masyarakat yang nyleneh, suka melawan, dan lain-lain. Selain itu, Film “Sikep Samin Semen” berusaha mengatakan bahwa penggunaan nama Samin oleh film “Samin VS Semen” digunakan untuk kepentingan tertentu, baik kepentingan pribadi atau golongan.
2. Sudut pandang film berdasar sudut pandang cerita dan latar belakang pembuat film.
Baik film Samin VS Semen maupun Sikep Samin Semen menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan apa yang terjadi. Kedua film menempatkan audiens sebagai penerima informasi, baik tentang masyarakat Samin maupun tentang pendirian pabrik semen di Pati. Kemudian, berdasar latar belakang film maker dan rumah produksi, film Samin VS Semen mempunyai kredibilitas yang terlihat lebih tinggi dibandingan dengan film Sikep Samin Semen. Data-data dari pembuat film Samin VS Semen mudah ditemukan sumbernya, sedangkan film “Sikep Samin Semen” sulit untuk dilacak informasinya.
3. Berdasarkan bentuk film dokumenter, metode film dokumenter, dan tujuan terhadap penonton
Film Sikep Samin Semen merupakan film sederhana dengan sudut pandang bahwa mereka menolak penggambaran semen pada film Samin VS Semen. Tujuan film mereka hanya menekankan pada klarifikasi tentang ajaran Samin dan cenderung berpikir positif terhadap pemerintah. Sedangkan film Samin VS Semen mempunyai teknis yang lebih kompleks dengan tujuan untuk mempropagandakan audiensnya. Jika dikaitkan dengan latar belakang film maker, jelas dari sisi teknis
183 VS Semen lebih unggul dari Sikep Samin Semen karena Dandhy Laksono mempunyai latar belakang sebagai film maker profesional. Argumen yang dibangun dalam Samin VS Semen pun terframing rapi layaknya logika yang digunakan dalam berita, mengingat latar belakang Dandhy Laksono yang merupakan seorang Jurnalis.
Peranan seorang pencipta film dokumenter inilah yang kemudian mempengaruhi hasil akhir dari film dokumenter untuk menyusun fakta dan peristiwa. Dengan memberikan penafsiran lewat penyusunan kata yang akhirnya memberikan makna bagi fakta-fakta tersebut bagi lingkungan. Film Samin VS Semen lebih mudah untuk diterima masyarakat karena secara teknis, ia jauh lebih unggul daripada film Sikep Samin Semen.
Film “Samin VS Semen” pun bersifat propagandist, dalam konteks ini untuk membuat penonton agar ikut bergerak menolak pembangunan pabrik semen di Rembang. Kepentingan yang diangkat adalah kepentingan masyarakat Rembang yang menolak pendirian pabrik semen. Sedangkan, film Sikep Samin Semen mempunyai bentuk yang lebih mirip dengan feature yang mengangkat sebuah potret dari komunitas Samin yang merasa tidak setuju dengan penggambaran Samin dalam film “Samin VS Semen”. Walaupun film Sikep Samin Semen cenderung memihak pemerintah, namun aspek-aspek propaganda dalam film ini tidak terlihat.
Substantive
Samin dalam film “Samin VS Semen” menolak secara tegas pembangunan pabrik semen di Pati. Hal ini tergambar dari visual dan pernyataan pada film yang berusaha membangun argumen dan alasan tentang penolakan pabrik semen. Alasan utama dari beberapa alasan yang dipaparkan adalah masalah ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka yang masih sangat bergantung pada alam. Dengan adanya pendirian pabrik semen yang akan merusak keseimbangan alam, mereka takut bahwa mereka akan kehilangan mata pencaharian sehari-hari.
Hal itupun sejalan dengan bagaimana penggambaran hubungan Samin dengan pabrik semen. Pabrik semen dalam film ini digambarkan sebagai pihak yang membuat masyarakat menjadi miskin, mempunyai pemikiran yang kapitalis,
184 bertindak dengan cara kekerasan, dan tidak menepati janji terhadap petani. Penggambaran itu pun serupa dengan penggambaran pemerintah dalam film ini. ketidakharmonisan hubungan Samin dengan pemerintah dalam kasus ini adalah adanya kekerasan dan tindakan represif yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat yang menolak semen.
Kemudian, film “Sikep Samin Semen” mempunyai posisi yang lebih netral dalam memandang pembangunan pabrik semen tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan pada scene awal yang mengatakan bahwa film tidak dibuat untuk mendukung maupun menolak pabrik semen. Samin dalam film Sikep Samin Semen tidak mempunyai alasan, -baik secara ekonomi, sosial dan budaya, serta lingkungan- untuk menolak maupun mendukung pendirian pabrik semen. Argumen yang terus diulang dalam film ini adalah mengenai ajaran mereka yang melarang untuk berdemo dan mengotak-atik barang milik orang lain.
Hal tersebut sejalan dengan penggambaran pabrik semen dalam film “Sikep Samin Semen” yang tidak begitu banyak dijelaskan dalam film. Hal berbeda ditemukan dalam hubungan Samin dengan pemerintah. Masyarakat Samin dalam film ini mempunyai pandangan yang lebih positif terhadap pemerintah. Ada beberapa penggambaran tentang bagaimana pemerintah sudah mulai memperbaiki dan memperhatikan nasib masyarakat Samin. Dalam film ini dinyatakan juga bahwa Samin harus membantu pemerintah, meskipun hak-hak mereka sebagai warga negara -seperti perlindungan, pengayoman, penghormatan, dan juga hal-hal yang bersifat administratif lainnya- belum dipenuhi.
Selain itu, kedua film juga berusaha menampilkan pihak lain untuk mendukung argumennya. Film “Samin VS Semen” menampilkan penggambaran dari pihak Nahdatul Ulama (NU), sedangkan “Sikep Samin Semen” menampilkan dari pihak aktivis. Hal ini bertujuan untuk menarik simpati dari khalayak umum.
Mengenai nilai-nilai ajaran masyarakat Samin, film “Samin VS Semen” lebih banyak menggambarkan tingkah laku atau perilaku masyarakat Samin secara umum, seperti Samin tidak memperbolehkan anak-anaknya untuk sekolah, hanya diperkenankan sebagai petani dan Samin dilarang menggunakan bahasa selain bagasa Jawa. Sedangkan, untuk nilai kekerabatan dan ketuhanan tidak banyak
185 ditampilkan dalam film. Samin yang ditampilkan pada film ini merupakan karakter Samin yang revolusioner.
Kemudian, pada film “Sikep Samin Semen” yang tidak banyak menggambarkan mengenai nilai kekerabatan dan ketuhanan, namun film ini banyak menyorot mengenai tingkah laku atau perilaku orang Samin seharusnya. Beda dengan film Samin VS Semen, film ini lebih menekankan bagaimana seorang Samin secara Individu harus berperilaku. Samin pada film ini lebih mengutamakan moralitas individu.
Selain itu, ada temuan menarik dari film “Sikep Samin Semen” ini, yaitu subyek yang banyak diserang oleh pada narasumber di film “Sikep Samin Semen” ini adalah sosok Gunarti dan Gunretno. Kedua orang tersebut digambarkan sebagai orang yang tidak disenangi oleh saudara-saudaranya sesama Samin. Ada empat tokoh yang langsung menyerang Gunretno maupun Gunarti secara pribadi, yaitu Mbah Toyo, mbah Ndoyo, Mbah Yoto dan juga. Sedangkan, hanya mbah Harjo Kardi yang langsung menyerang film maker Samin VS Semen. Ia menantang siapa yang membuat film tersebut, karena membuat ajaran Samin jadi tampak jelek.
Hal itu sesuai jika dihubungkan dengan penggambaran perilaku individu yang banyak ditampilkan. Film Sikep Samin lebih banyak mengkritik tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pasangan Gunretno dan Gunarti. Selain itu, film “Samin VS Semen” memang tidak menampilkan representasi dari warga Samin lain, kecuali pasangan suami-istri tersebut.
Kesimpulan dari analisis film tersebut menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Secara teoritis, film dokumenter dianggap selalu berurusan denga fakta-fakta, seperti manusia, tempat, dan peristiwa yang tidak dibuat. Para pembuat film dokumenter biasanya percaya bahwa mereka menciptakan dunia di dalam film seperti apa adanya. Kekuatan dokumenter memang terletak pada kekuatannya yang menempatkan realita dan aktualitas dalam level yang paling tinggi.
Kita dapat melihat bahwa kedua film tersebut melakukan konstruksi terhadap realitas di dalam film. Seorang film maker dokumenter seharusnya menampilkan fakta dan data secara utuh. Jika tidak, maka yang akan terjadi sama
186 halnya pada kasus Samin dalam pendirian pabrik semen ini. Samin sebagai masyarakat adat telah dimanfaatkan oleh kedua film tersebut untuk mengakomodir kepentingan mereka.
Pemanfaatan ini didukung oleh keadaan media massa di Indonesia yang kurang mewakili suara dari masyarakat adat. Jikapun ada, biasanya masyarakat adat ditampilkan sebagai objek yang eksotis untuk menarik pariwisata, dengan mengkomersialisasikan budaya data atau bahkan mereka meromatir cara hiudp adat. Dari sisi organisasi adatpun, mereka kurang memiliki sumber daya dan keahlian yang diperlukan untuk membangun fasilitas media mereka sendiri yang memungkinkan bagi mereka untuk dapat menggambarkan situasi dan mengekspresikan suara mereka sendiri.
Meski film “Samin VS Semen” tampak mengakomodir isu lingkungan yang harus dihadapi masyarakat Samin, namun ternyata tidak semua bagian masyarakat Samin pun ikut melakukan penolakan terhadap semen tersebut. Hal inilah yang sebenarnya tidak boleh terjadi pada film dokumenter. Film dokumenter hingga saat ini masih dianggap sebagai media yang paling kredibel untuk menyuarakan isu-isu kaum minoritas yang luput dari pemberitaan media massa arus utama.
Bagaimana jika seorang audiens hanya mengakses salah satu film? Tentu saja, film tersebut akan mempengaruhi perasaan dan logika mereka. Terlebih lagi, film dokumenter memang mempunyai maksud untuk membawa perubahan kepada audiens, merubah pemahaman mereka, sikap mereka, dan tindakan mereka. Padahal, kita tidak boleh lupa bahwa film merupakan hasil dari seorang film maker yang mempunyai tujuan dan kepentingan tertentu. Sebagai orang yang berada diluar proses kreatif tersebut, kita tidak tahu kepentingan siapa yang sebenarnya ingin diakomodasi oleh film maker tersebut.
Maka dari itu, dari segi praktis, dengan adanya kedua film tersebut, penonton sebaiknya berpikir kritis untuk tidak hanya menjadi penonton yang pasif, namun juga aktif. Penonton harus mengkonfirmasi ulang semua informasi yang mereka dapatkan dari media. Mereka harus menyadari bahwa media kerap digunakan kekuatannya untuk mengakomodasi suatu kepentingan tertentu. Kedua film ini merupakan sebuah bentuk pembelajaran bagi khalayak bahwa masyarakat
187 adat masih menjadi objek yang seksi untuk diangkat dalam sebuah konstruksi media.
Terakhir, dari kedua film diatas kita dapat menyimpulkan bahwa
1. Masyarakat Adat masih menjadi bahan menarik yang diangkat oleh film dokumenter Indonesia.
2. Kedua film mengkonstruksi realitas dengan memanfaatkan komponen strategi pengemasan pesan (framing strategies).
3. Film dokumenter dianggap sebagai media paling efektif untuk menyampaikan pesan karena mengandung aktualitas dan faktualitas disertai audio-visual.
4. Meski kedua film sesuai dengan karakteristik media massa pada umumnya, tetapi hal tersebut bertentangan dengan karakteristik film dokumenter itu sendiri. Dokumenter seharusnya menampilkan hal yang benar-benar terjadi, orang-orangnya tidak sedang memainkan suatu peran, dan berkisah tentang apa yang terjadi di dunia nyata.
5. Film “Samin VS Semen” dan “Sikep Samin Semen” menampilkan corak dari film dokumenter Indonesia kontemporer yang banyak menampilkan tema-tema yang berkaitan dengan kondisi Indonesia saat ini.
Kedua film mampu memberikan peringatan untuk para sineas film dokumenter agar mengembalikan essensi film dokumenter sebagai film yang menampilkan realitas apa adanya terutama yang menyangkut masyarakat adat. Masyarakat adat sebagai kaum yang masih menjadi minoritas di Indonesia seharunya lebih diakomodasi suara, pandangan, dan masalahnya melalui media massa. Oleh karena itu, organisasi media juga harus berbenah untuk menyeimbangkan liputan mereka agar tidak semakin memperkuat stereotipe yang ada, namun menyajikan sebuah kenyataan riil tentang masyarakat adat. Selain itu, para praktisi media pun diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang situasi dan hak masyarakat adat dalam tataran pembuat kebijakan dan masyarakat umum.
188 B. Saran
Penelitian ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat umum untuk berpikir kritis ketika menonton film dokumenter. Hal ini disebabkan bahwa informasi dari media pasti melalui proses penyaringan data (framing), sehingga kebenaran yang dipaparkan bukanlah kebenaran yang utuh. Peneliti berusaha mengajak dan mencoba memberikan kontribusi berupa pemikiran dan gagasan kepada para pembaca untuk menambah pengetahuan melalui riset-riset tentang konstruksi media massa, terutama media film dokumenter.
Melalui kedua film ini, kita dapat melihat bahwa masyarakat Adat masih menjadi objek yang menarik untuk diangkat oleh media, sehingga mereka kerap digunakan untuk suatu kepentingan tertentu. Hal ini mengakibatkan tidak jelasnya gambaran masyarakat Adat di Indonesia. Melalui analisis isi kualitatif ini, kita dapat melihat bahwa terjadi perbedaan sikap dari masyarakat adat Samin dalam memandang pembangunan pabrik semen di daerah sekitar tempat tinggal mereka.
Secara praktis, peneliti berharap film dokumenter Indonesia dapat benar-benar menampilkan konstruksi realitas sesuai dengan kenyataan dilapangan karena bagaimanapun media massa merupakan kepanjangan tangan dari masyarakat. Selain itu, media juga harus berhati-hati dalam memilih peristiwa yang akan direkam dan juga sumber informasi yang digunakan. Diharapkan selanjutnya, para sineas mampu menampilkan gambaran masyarakat adat secara lebih berimbang. Penelitian ini juga diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk berpikir kritis mengenai permasalahan konstruksi terhadap masyarakat adat di media massa Indonesia.