147 BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Di industri film Indonesia, sektor distribusi pelan-pelan semakin hilang dilindas oleh struktur pasar oligopoli karena dicampur dengan sektor eksibisi. Dengan kondisi seperti itu, dewasa ini produser film tidak mendapatkan dukungan dari distributor dan mengakibatkan posisi tawar menawar antara produser dengan eksibitor tidak seimbang. Ketidakhadiran distributor ini tentu sangat menjadi beban bagi produser yang dilimpahkan pekerjaan distributor untuk mendistribusikan dan mempromosikan filmnya yang tentu saja membutuhkan dana yang tinggi. Kondisi distribusi film di Indonesia yang timpang ini sama sekali tidak berpihak pada film-film independen. Film-film ini tidak punya ruang gerak untuk masuk dalam jaringan bioskop padahal pergerakan sidestream juga merupakan salah satu pendorong kemajuan perfilman nasional.
Yogyakarta merupakan salah satu kota yang gerak perfilmannya sangat kental pada ranah komunitas. Ratusan komunitas film hadir di Yogyakarta, namun sebagian besar berfokus pada produksi film saja. Sementara, permasalahan yang kerap muncul bukan lagi bagaimana mendapatkan dana untuk memproduksi film, melainkan ke manakah film akan didistribusikan agar dapat sampai ke penontonnya. Kerumitan distribusi film, baik di tingkat struktural maupun karena keterbatasan sumber daya filmmaker itu sendiri juga dihadapi komunitas Pabrik Film yang berbasis di Yogyakarta. Pabrik Film juga menyepakati pemahaman bahwa yang menjadi permasalahan utama dari film komunitas merupakan distribusi kepada audiens, sehingga pada awalnya mereka mendefinisikan diri sebagai komunitas yang bisa
148
mandiri: berproduksi, mendistribusikan filmnya sendiri, dan juga melakukan eksibisi. Namun, upaya Bioskop Mandiri ini gagal dan Pabrik Film pun akhirnya memilih untuk fokus di produksi film saja.
Pabrik Film dipilih sebagai objek penelitian karena beberapa alasan. Pertama, Pabrik Film merupakan sebuah komunitas film yang masih kokoh bertahan di kota Yogyakarta dimana saat ini banyak komunitas film lain di Yogyakarta yang eksistensinya timbul dan tenggelam tanpa signifikansi yang jelas. Kedua, Pabrik Film pernah melakukan suatu usaha distribusi film melalui program Bioskop Mandiri. Ketiga, kasus distribusi Pabrik Film ini menarik, dan belum pernah dialami oleh komunitas film lainnya di Yogyakarta.
Peneliti menggunakan metode penelitian studi kasus deskriptif karena metode ini memecahkan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau menuliskan keadaan subjek atau objek penelitian suatu lembaga, masyarakat, dan lain-lain. Penelitian ini berusaha menggambarkan dan menginterpretasi distribusi film independen yang dilakukan komunitas Pabrik Film. Studi kasus deskriptif dipilih karena akan memberikan gambaran-gambaran detail dan menyeluruh mengenai distribusi film yang dilakukan komunitas Pabrik Film. Peneliti mencoba mengkaji bagaimana konsep strategi distribusi film independen yang diterapkan dalam komunitas film Pabrik Film.
Peneliti merasakan kelebihan dan kekurangan dalam menggunakan metode studi kasus ini. Kelebihannya adalah memudahkan peneliti karena studi kasus memiliki batas, lingkup, dan pola pikir tersendiri untuk dapat menangkap realitas. Studi kasus juga bisa menangkap secara detail mengenai makna di balik kasus sehingga bermanfaat untuk memecahkan masalah spesifik seperti strategi distribusi pada Pabrik Film ini. Kekurangannya adalah isu validitas dan reliabilitas, karena penelitian jenis ini sangat bersifat subjektif. Kemudian, generalisasi dalam upaya teorisasi cukup sulit untuk
149
dilakukan karena penelitian jenis ini bersifat spesifik, dan kontemporer atau dapat sewaktu-waktu berubah sesuai pergerakan zaman.
Berbagai data mengenai Pabrik Film yang telah terkumpul selama penelitian berlangsung selanjutnya dianalisis oleh peneliti. Di bagian analisis, distribusi yang dilakukan Pabrik Film dibedah dari segi strategi format film, pemilihan jalur distribusi, promosi, dan evaluasi. Kemudian ditilik juga komponen-komponen kunci yang dijadikan dasar oleh Pabrik Film dalam melakukan distribusi, permasalahan-permasalahan distribusi yang muncul dan solusi yang dilakukan Pabrik Film. Hasilnya, dalam pengelolaan distribusi yang dilakukan Pabrik Film masih jauh dari hasil yang diinginkan oleh komunitas itu sendiri. Masih banyak kekurangan yang ada di setiap tahap strateginya, yang juga berpangkal pada sistem perfilman Indonesia yang masih timpang.
Pertama, pada strategi pemilihan format film Pabrik Film menggunakan kedua format baik fisik maupun digital sebagai jalan untuk mendistribusikan filmnya, bergantung pada jenis film dan rencana terhadap film tersebut. Pabrik Film menggunakan format film untuk mendistribusikan filmnya sesuai kebutuhan. Jika dalam jalur distribusi tersebut diwajibkan menggunakan format fisik, maka Pabrik Film akan melakukan distribusi dengan format fisik. Jika format digital diperbolehkan, maka Pabrik Film akan cenderung lebih memilih distribusi film mereka dengan format digital.
Kedua, untuk pemilihan jalur distribusi, komunitas ini cukup mengejar momen festival. Satu film yang mereka produksi biasanya dikirim ke beberapa festival. Selain sebagai jalur distribusi film, komunitas Pabrik Film juga mencari pengakuan dan prestis dari festival film. Namun, tak semuanya bergantung pada festival film saja. Selain festival, pemutaran-pemutaran kecil-kecilan sebagai wujud dari bioskop alternatif juga banyak menjadi opsi. Sayangnya pemutaran jenis ini kurang kontinyu.
150
Kemudian ketiga, untuk strategi promosi, beberapa langkah promosi yang dilakukan Pabrik Film tersebut antara lain promosi dengan poster, promosi di social media, membuat sneak peek untuk disebarkan kepada pers, datang untuk wawancara ke media-media, dan melakukan promosi ke komunitas-komunitas film lain. Setelah Biokop Mandiri bubar, promosi yang dilakukan Pabrik Film intuk film mereka (‘Manten Lanang’ dan ‘Ternyata’) sebagian besar dilakukan melalui social media atau dari mulut ke mulut yang berawal dari lingkungan pertemanan anggota-anggota Pabrik Film. Cara promosi digital ini cukup berhasil karena sasaran audiens mereka yang merupakan anak muda pun sangat marak menggunakan social media.
Keempat, evaluasi masih luput melakukan pertemuan yang membahas mengenai strategi-strategi distribusi yang telah dilakukan. Pos mana saja yang menuai keberhasilan, dan pos mana yang masih belum efektif dan sebab kurang efektifnya strategi tersebut. Tidak adanya wadah netral untuk berkumpul komunitas di Yogyakarta pun menjadi salah satu sebab. Sejatinya, komunitas film di Yogyakarta dapat mendiskusikan hal-hal terkait distribusi yang menjadi masalah bersama ini secara beriringan.
Beberapa komponen kunci yang mendasarkan Pabrik Film dalam strategi distribusi mereka antara lain makna film, sasaran audiens, keterlibatan pihak lain, finansial, dan peran produser. Makna film ini berkutat pada motif pembuat film saat merencanakan film ini, nilai dari film ini sendiri yang akan menentukan strategi distribusi mana yang pas dengan makna film tersebut. Untuk sasaran audiens, Pabrik Film mendasarkan strategi distribusinya untuk dapat secara ideal menyasar pada segmen audiens yang sesuai. Mengenai keterlibatan pihak lain, Pabrik Film tetap harus berkompromi mengenai strategi distribusi jika film tersebut mendapat bantuan dari pihak lain. Kemudian komponen finansial, Pabrik Film membuat strategi distribusi yang sesuai dengan budget komunitas. Terakhir, komponen peran produser, di mana
151
produser mempunyai semacam hak prerogatif untuk menentukan saluran distribusi filmnya.
Pabrik Film menghadapi banyak kendala dalam distribusi filmnya. Kendala-kendala tersebut antara lain: SDM, finansial, jalur yang sangat terbatas, kurangnya informasi, jaringan, dan kekacauan sistem yang ada. Antara kendala satu dan lainnya pada dasarnya saling bersangkut-paut, menjadikan kendala-kendala ini semakin menghalangi distribusi film mereka. Menanggapi berbagai kendala yang ada dalam mendistribusikan filmnya, Pabrik Film melakukan berbagai hal untuk dapat tetap bertahan hidup. Beberapa hal ini menjadi solusi sementara akan persoalan menyangkut distribusi film mereka. Beberapa dari solusi ini bukan sebagai solusi jangka panjang, karena hanya menjadi jalan alternatif yang secara memungkinkan dilakukan dalam menyikapi permasalahan distribusi ini. Beberapa solusi tersebut antara lain dengan merencanakan saluran distribusi film sejak awal, menghadiri festival-festival dan pemutaran, sembari menunggu proses distribusi mereka terus memproduksi film, dan untuk masalah dana mereka memiliki solusi dari Ruang Hampa Creative Artworks. Secara umum, tantangan dari distribusi film independen di Yogyakarta antara lain tantangan dari segi dana, manajemen, infrastruktur, hukum/etika, dan akses informasi.
Hingga kini, distribusi film independen masih belum menjadi fokus utama Pabrik Film dan juga komunitas film di Yogyakarta secara umum. Selain karena sistem yang ada menyulitkan, kurangnya inovasi dan kreativitas dari para filmmaker dan komunitas film ini pun membuat jalan yang ada semakin sempit. Komunitas film di Yogyakarta masih memiliki pemikiran utama untuk produksi saja. Pabrik Film belum secara matang memikirkan konsep distribusi mereka, ruang dan sistem distribusi mereka belum ditata secara jelas sehingga distribusi pun belum berjalan seperti yang diinginkan.
Permasalahan distribusi film memang tak hanya dirasakan oleh Pabrik Film saja, namun juga hampir seluruh komunitas film yang ada di Indonesia. Distribusi pada
152
film independen belum menjadi fokus utama dan tidak banyak didalami oleh para penggiat komunitas film, sehingga ada sangat banyak film independen potensial yang hanya menjadi seonggok file dalam lemari filmmaker-nya. Penggiat komunitas film perlu menggali lebih dalam mengenai promosi dan khususnya distribusi film agar film karya mereka dapat menggapai audiens yang tepat sasaran.
B. SARAN
B.1. Saran Praktis
Pabrik Film memerlukan manajemen dalam hal manajemen distribusi filmnya dan manajemen komunitas secara keseluruhan. Dalam temuan di lapangan, Pabrik Film masih belum memiliki manajemen, rekam jejak, dan evaluasi yang jelas sehingga akan menyulitkan bagi para calon peneliti lain dan bagi komunitas itu sendiri. Pabrik Film juga perlu mempelajari lebih mendalam dan lebih fokus mengenai distribusi film dan promosi film, terlebih mengenai distribusi dan promosi secara online. Mempererat hubungan dengan komunitas lain juga menjadi pekerjaan rumah untuk komunitas Pabrik Film, serta mengerahkan usaha mencari peluang kerjasama, baik dengan sponsor, pemerintah, atau badan lainnya.
B.2. Saran Akademis
Penelitian mengenai distribusi film masih jarang ditemui. Sebagian besar penelitian yang membahas mengenai film berkutat pada analisis semiotika ataupun mengenai manajemen produksi film. Setelah melakukan penelitian ini dan telah diketahui aktivitas yang dilakukan komunitas film dalam penyebaran filmnya, diharapkan peneliti lain dapat lebih menggali tentang distribusi film pada platform
153
online, yang menjadi masa depan distribusi film. Distribusi online akan menjadi ranah distribusi film yang akan digunakan dalam segala lini, baik dalam perfilman mainstream ataupun sidestream. Penelitian mengenai distribusi online pun akan memperkaya khazanah ilmu komunikasi terutama mengenai fenomena terkini seputar media baru dan perfilman.