BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Tempat Penelitian
Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang merupakan salah satu pusat rujukan yankes bagi masyarakat yang tidak hanya melaksanakan upaya kesehatan perorangan, tetapi juga berorientasi pada kesehatan masyarakat baik secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Tujuan dari BKPM adalah meningkatkan status kesehatan paru dan pernafasan bagi masyarakat melalui upaya penanggulangan penyakit paru dan pernafasan secara menyeluruh. Adapun visi BKPM adalah menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan paru dan pernafasan yang profesional bagi masyarakat. Misi BKPM, 1) Melaksanakan pelayanan kesehatan paru dan pernafasan yang bermutu dan terjangkau oleh seluruh masyarakat, 2) Meningkatkan profesionalisme, dedikasi, dan loyalitas serta kesejahteraan, 3) Menggerakkan peran serta masyarakat untuk melaksanakan pembangunan kesehatan paru dan pernafasan secara terpadu dan berintegrasi dengan lintas sektor.
Sesuai dengan Perda Propinsi Jawa Tengah No. 1 tahun 2002, BKPM Semarang merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah dengan tugas pokok 1) Melaksanakan sebagian tugas teknis Dinas Kesehatan, 2) Melaksanakan kebijakan teknis operasional pencegahan dan pengobatan penyakit paru.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, BKPM mempunyai fungsi sebagai berikut 1) Pelaksanaan penyusunan rencana teknis operasional pencegahan dan pengobatan penyakit paru. 2) Pengkajian dan analisis teknis. 3) Pelaksana kebijakan teknis pencegahan dan pengobatan penyakait paru, 4) Pelaksanaan upaya rujukan pengobatan penyakit paru, 5) Pelaksanaan perawatan penderita penyakit paru, 6) Pelaksanaan pelayanan , dan (Profil BKPM Semarang, 2007).
2. Analisis Univariat
a. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur, jumlah anggota keluarga, pendidikan dan pekerjaan.
Tabel 4.1
Data Demografi dan Karakteristik Responden di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang (n = 43)
Variabel Means Mode Std.
Deviation Minimum Maksimum Umur Jumlah anggota keluarga 35,16 4,04 42 3 11,077 1,488 20 1 58 8
Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan umur rata-rata 35,16 dengan jumlah anggota keluarga terbanyak 3 (tiga) anggota keluarga.
Tabel 4.2
Data Demografi dan Karakteristik Responden di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang (n = 43)
Variabel f % Tingkat Pendidikan: SD SMP SMA Sarjana Pekerjaan : Tdk Bekerja Petani Wiraswasta Pegawai Swasta 9 9 21 4 12 1 21 9 20,9 % 20,9 % 48,8 % 9,4 % 27,9 % 2,3 % 48,8 % 20,9 %
Berdasarkan tabel 4.2 , tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA dengan prosentase 48,8 % dan pekerjaannya sebagai wiraswasta dengan prosentase 48,8 %.
b. Pengetahuan Responden tentang Praktik Pencegahan Penularan TB Paru
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan tingkat pengetahuan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang (n = 43)
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa sebagian besar responden berpengetahuan cukup dengan prosentase 53,5 %.
c. Sikap Responden tentang Praktik Pencegahan Penularan TB Paru Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang (n = 43)
Sesuai tabel 4.4. diketahui masih ada sebagian responden yang memiliki sikap negatif sebesar 53,5 %.
Pengetahuan f % Baik 17 39,5 % Cukup 23 53,5 % Kurang 3 7,0 % Total 43 100 % Sikap f % Positif Negatif 20 23 46,5 % 53,5 % Total 43 100 %
d. Praktik Responden tentang Pencegahan Penularan TB Paru Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Responden dalam praktik pencegahan penularan TB paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM)
Semarang (n = 43)
Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan hasil masih ada sejumlah responden yang melakukan praktik pencegahan penularan TB paru dengan buruk sebesar 48,8.
3. Analisis Bivariat
a. Hubungan antara Pengetahuan dan Praktik Pencegahan Penularan TB Paru
Tabel 4.6
Hubungan pengetahuan dan praktik pencegahan penularan TB paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang (n = 43)
Variabel r p
Pengetahuan dengan Praktik 0,317 0,038
Hasil uji statistik Pearson Product Moment diperoleh p value = 0,038 < (0.05), berarti Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan penderita TB Paru terhadap praktik pencegahan penularan penyakit TB Paru dengan koefisien korelasi 0,317.
Praktik f %
Baik 22 51,2 %
Buruk 21 48,8 %
b. Hubungan antara Sikap dan Praktik Pencegahan Penularan TB Paru Tabel 4.7
Hubungan sikap dan praktik pencegahan penularan TB paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang (n = 43)
Variabel r p
Sikap dengan Praktik 0,322 0,035
Hasil uji statistik Pearson Product Moment diperoleh p value = 0,035 < (0.05), berarti Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antarasikap penderita TBParu terhadap praktik pencegahan penularan penyakit TB Paru dengan koefisien korelasi 0,322.
B. Pembahasan
Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian, kemudian membandingkan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian tentang perilaku penderita TB paru dalam upaya pencegahan penularan TB paru di BKPM Semarang.
1. Karakteristik responden
a. Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Karakteristik responden berdasarkan umur terhadap 43 orang responden yang diteliti diperoleh usia responden terendah adalah usia 20 tahun dan usia tertinggi 58 tahun. Bertambahnya umur seseorang akan menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Ada empat perubahan fisik yang terjadi, yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru (Supradi, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan rata – rata usia responden adalah 35 tahun. Dalam tahap perkembangan, usia 35 tahun adalah dalam tahap dewasa dengan tingkat kematangan fisik, mental dan intelektualnya, sehingga lebih mudah dalam menerima informasi. Sesuai dengan kategori umur, yang praktiknya baik adalah pada kelompok dewasa dengan usia diatas 40 tahun.
Notoadmodjo (2003) mengatakan, usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang, semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia dewasa beberapa kemampuan intelektual mengalami kemunduran sementara beberapa lainnya meningkat. Kecerdasan kristal adalah kumpulan informasi dan juga kemampuan verbal seseorang meningkat pada usia dewasa, sebaliknya kecerdasan cair yaitu kemampuan seseorang untuk bernalar secara abstrak mulai mengalami penurunan. Usia dewasa adalah waktu pada saat seseorang mencapai puncak dari kemampuan intelektualnya (King, 2010).
Sesuai dengan penelitian Aditama (2007) yang menyatakan bahwa dinegara berkembang mayoritas penderita TB paru adalah usia dibawah 50 tahun, sedangkan dinegara maju prevalensi TB sangat rendah pada mereka yang dibawah 50 tahun namun masih tinggi pada golongan usia lebih tua. Syafrizal dalam Aditama (2007) melaporkan bahwa di RS Persahabatan penderita TB paru yang paling banyak adalah usia produktif kerja yaitu kelompok usia 15 sampai 40 tahun.
b. Pendidikan
Hasil penelitian di BKPM Semarang menunjukkan sebagian besar pendidikan responden adalah SMA dengan prosentase 48,8 %. Berdasarkan hasil crosstabs bahwa responden dengan pendidikan SMA praktiknya lebih baik. Pendidikan menunjukkan kualitas sumber daya manusia yang akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas manusia
itu sendiri. Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi – potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai – nilai yang ada di masyarakat (Ichsan, 2003).
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan seseorang diantaranya tentang hal – hal yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya tentang penyakit tuberkulosis, sehingga dengan pengetahuan yang baik maka seseorang akan berperilaku hidup yang sehat.
Penelitian terkait dengan pendidikan dilakukan oleh Prihadi (2009) di Temanggung dengan hasil tingkat pendidikan memiliki hubungan bermakna terhadap perilaku pencegahan TB paru. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Zuliana (2009), bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya mengenai kesehatan, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan berupaya memiliki perilaku hidup yang sehat.
Penelitian lain yang mendukung dilakukan oleh Wahyuni (2008) tentang Pengaruh pendidikan terhadap perilaku pencegahan penularan Tuberculosis. Didapatkan hasil ada pengaruh atau hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku pencegahan penularan penyakit TB Paru (p=0.000). Hasil tersebut juga menunjukkan ada perbedaan perilaku diantara jenjang pendidikan. Hal ini sesuai dengan penelitian Soewasti (1997) yang menyatakan bahwa keterbatasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan serta upaya pencegahan penyakit.
c. Pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor resiko yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja dilingkungan yang berdebu,
paparan partikel debu akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya penyakit saluran pernafasan dan khususnya TB paru.
Jenis pekerjaan dalam penelitian ini tidak dapat dideskripsikan dengan lebih rinci. Penelitian yang menjelaskan variabel pekerjaan yang berhubungan dengan perilaku pencegahan TB paru dikemukakan oleh Jaiz Prihadi (2009) yaitu responden yang memiliki perilaku mencegah yang baik kebanyakan dari responden yang memiliki pekerjaan dibandingkan dengan yang tidak bekerja. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zuliana (2009) yang mengemukakan bahwa pekerjaan akan mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan, selain itu pekerjaan seseorang akan mencerminkan sedikit banyaknya informasi yang diterima, diantaranya terkait informasi tentang pelayanan kesehatan.
d. Jumlah Anggota Keluarga
Sesuai hasil penelitian jumlah anggota keluarga rata-rata 4,04 dengan frekuensi terbanyak 3 anggota keluarga. Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, terutama TB akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain (Notoatmodjo, 2003).
Hal ini sesuai dengan penelitian Suhardi (2006) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara padat huni dengan terjadinya kejadian TB paru pada balita, dimana risiko terjadinya TB paru pada balita yang menempati rumah padat penghuni lebih besar dibandingkan dengan balita tidak menempati rumah padat penghuni.
Kepadatan penghuni merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB (Depkes RI, 2006). Rumah atau ruangan yang terlalu sempit atau terlalu banyak penghuninya akan menyebabkan penularan penyakit saluran pernafasan misalnya TB paru akan mudah terjadi diantara penghuni rumah. Rumah yang terlalu sempit menyebabkan perpindahan (penularan) bibit penyakit dari manusia yang satu ke manusia yang lain akan lebih mudah terjadi (Notoatmojo, 2003).
2. Pengetahuan penderita TB paru tentang praktik pencegahan penularan TB Paru
Karakteristik responden berdasarkan pengetahuan pasien tentang TB Paru terhadap 43 orang responden yang diteliti, mayoritas responden berpengetahuan cukup dengan jumlah 23 orang responden (53,5 %), berpengetahuan baik dengan jumlah 17 orang responden (39,5 %) dan berpengetahuan kurang dengan jumlah 3 orang responden (7 %).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Fitriani, 2011). Makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi dan makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.
Informasi memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tapi jika mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar, maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru (Notoadmodjo, 2007)
Hasil penelitian lainnya yang sesuai menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang penyakit TB baik, namun persepsi sebagian masyarakat bahwa penyakit yang dialaminya adalah batuk biasa, ternyata berpengaruh pada munculnya sikap kurang peduli dari masyarakat terhadap akibat yang dapat ditimbulkan oleh penyakit TB Paru. Perilaku dan
kesadaran sebagian masyarakat untuk memeriksakan dahak dan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan masih kurang (Media, 2011).
3. Sikap penderita TB paru tentang praktik pencegahan penularan TB Paru
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap pasien tentang pencegahan penyakit menular tuberkulosis di BKPM Semarang terdapat 23 responden (53,5 %) bersikap negatif, terdapat 20 (46,5 %) yang bersikap positif.
Hal ini sesuai dengan teori faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi, pengaruh orang lain, kebudayan, media massa, lembaga pendidikan agama, faktor emosional. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Pengaruh kebudayaan, tanpa didasari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah. kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakat, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu – individu di masyarakat. Media massa, dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyektif cenderung dipengaruhui oleh sikap penulisanya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya (Azwar, 2002).
Faktor lain yang mencerminkan sikap negatif terhadap pencegahan tuberkulosis, adalah pelaksanaan kontrol yang tidak rutin, hal ini sesuai keterangan dari petugas bagian TB bahwa tidak semua pasien TB melakukan kunjungan ulang untuk mengambil obat lanjutan. Pengambilan obat dilakukan oleh PMO. Sehingga penderita TB paru kurang mendapat informasi secara berkesinambungan yang berdampak pada munculnya sikap negatif.
Penelitian yang sesuai dilakukan oleh Nur Djannah (2009) dengan judul hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan penularan TBC pada mahasiswa di asrama Manokwari Sleman Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan salah satu faktor yang mempengaruhi sikap seseorang ialah pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki akan memberikan kontribusi terhadap terbentuknya sikap yang baik. Pembentukan sikap tidak dapat dilepaskan dari adanya faktor-faktor yang mempengaruhi seperti pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, serta faktor emosional dari individu.
4. Praktik penderita TB paru dalam pencegahan penularan TB paru
Hasil pengumpulan data mengenai praktik pencegahan penularan penyakit tuberkulosis dengan menggunakan kuesioner kepada pasien tuberkulosis didapatkan sebagaian besar responden yaitu 22 (51,2 %) yang mempunyai melakukan praktik pencegahan dengan baik dan sebagian lain 21 (48,8 %) responden melakukan praktik pencegahan buruk.
Praktik merupakan hal yang dilakukan oleh seseorang terkait dengan kesehatan (penyakitnya), cara peningkatan kesehatan, cara memperoleh pengobatan yang tepat dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain.
Menurut Notoatmodjo (2007) faktor yang mempengaruhi pembentukan praktik, salah satunya pemberian informasi yang didapatkan dari petugas kesehatan (pendidikan kesehatan) dan ada beberapa faktor penunjang yang mempengaruhi, diantaranya pendidikan, dan pekerjaan.
Penelitian yang sesuai terkait praktik pencegahan penularan TB paru dilakukan oleh Suharyo (2013) dengan judul determinan penyakit
tuberkulosis di pedesaan. Hasil penelitian adalah Sebagian besar penderita TB paru di daerah pedesaan berpendidikan menengah, dalam masa usia produktif, dan dalam kategori kurang mampu dari sisi ekonomi. Tempat tinggal sebagian besar penderita TB paru di daerah pedesaan belum memenuhi kriteria rumah sehat baik dari sisi kepadatan hunian, pencahayaan, ventilasi, serta kelembaban. Pengetahuan dari hampir semua penderita TB paru sudah cukup baik, namun masih ada sebagian yang masih berperilaku buruk yaitu tidak menutup mulut saat batuk. Peran tokoh masyarakat di pedesaan belum dapat menunjang program pencegahan dan penanggulangan penyakit TB paru. Peran petugas kesehatan (koordinator TB paru) masih terbatas dalam melaksanakan tindakan pengobatan, penyuluhan, dan juga belum melaksanakan pencarian kasus baru secara aktif.
5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien TB Paru Terhadap Praktik pencegahan penularan penyakit TB Paru
Hubungan pengetahuan dengan praktik menunjukkan adanya hubungan, tapi tidak erat dengan r 0.317 dan berpola positif artinya semakin tinggi pengetahuannya semakin positif perilakunya. Hasil uji statistik didapatkan ada pengaruh atau hubungan antara pengetahuan dengan pencegahan penularan penyakit TB Paru (p=0.038). Hal ini sesuai teori (Green 1980) bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari orang atau masyarakat yang bersangkutan.
Notoadmodjo (2002) mengatakan, dengan adanya pengetahuan manusia dapat menjawab permasalahan dan memecahkan masalah yang dihadapi. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik dan tinggi, maka ia akan mampu untuk berfikir lebih kritis dalam memahami segala sesuatu. Karena seseorang dalam menentukan sikap dan perilaku yang utuh selain ditentukan oleh pengetahuan, juga dipengaruhi oleh pikiran, keyakinan dan emosi yang memegang peranan penting (Notoadmodjo,
2010). Berdasarkan hasil crosstabs menunjukkan bahwa kategori pengetahuan perpola positif, yaitu semakin baik pengetahuan akan semakin baik pula praktiknya.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hosiem dalam Habibah (2013) mengatakan, sebagian responden memiliki pengetahuan tinggi tentang penyakit Tuberkulosis paru. Pengetahuan merupakan faktor yang paling dominan dengan tindakan pencegahan penularan TB Paru pada keluarga. Pengetahuan bisa didapatkan dari dari penyuluhan, media cetak dan elektronik yang berguna untuk mencegah meningkatnya penderita Tuberkulosis.
Hasil penelitian lain yang sesuai, penelitian Ghea (2011) mengatakan, dari lima variabel independen, empat variabel yang mempunyai hubungan yang bermakna dengan tindakan pencegahan TB paru yaitu pengetahuan, sikap, ventilasi dan pencahayaan.
6. Hubungan Sikap Pasien TB Paru Terhadap Praktik pencegahan penularan penyakit TB Paru
Hasil uji statistik Pearson Product Moment diperoleh p value = 0,035 < (0.05), berarti Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara sikap penderita TB Paru terhadap praktik pencegahan penularan penyakit TB Paru dengan koefisien korelasi 0,322.
Berdasarkan hasil diatas, praktik penderita TB paru dalam pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di BKPM Semarang sebagian besar responden 22 (51,2 %) yang melakukan praktik dengan baik dan 21 (48,8 %) responden praktik pencegahannya buruk. Masih munculnya praktik buruk penderita dalam pencegahan dapat disebabkan antara lain informasi yang di dapatkan oleh penderita kurang. Menurut keterangan bagian TB BKPM Semarang, pasien tidak selalu datang sendiri untuk pengambilan obat lanjutan, namun PMO yang datang ke BKPM untuk mengambil obat. Hal ini menunjukkan kurangnya motivasi beberapa penderita TB paru untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
berdampak kurangnya informasi yang dapat diberikan oleh petugas kepada penderita TB.
Widayatun (2009) mengemukakan perilaku timbul dari sikap, penelitian yang mempertanyakan bagaimana konsistensi kedua hal itu satu sama lainya. Bahwa perilaku konsisten dengan sikap hanya dalam kondisi tertentu. Sikap ini tidaklah sama dengan perilaku, dan perilaku tidaklah selalu mencermikan sikap seseorang, sebab seringkali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Penelitian ini menjelaskan bahwa penderita suatu penyakit menular memegang peranan penting dalam semua level pencegahan penyakit. Dalam pencegahan primer penderita dapat merubah gaya hidup yang dapat mencegah penyakit. Hal penting yang mempengaruhi kesehatan adalah perilaku pencegahan penyakit dan perilaku pemulihan kesehatan. Perilaku pencegahan penyakit pada keluarga dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap.
Dalam penelitian ini sikap dengan praktik menunjukkan adanya hubungan dengan r 0.322 dan berpola positif artinya semakin positif sikapnya semakin baik praktiknya. Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan antara sikap dengan pencegahan penularan penyakit TB Paru (p=0.035). Hasil crosstabs menunjukkan hubungan positif antara sikap dan praktik. Semakin positif sikap seseorang semakin baik praktiknya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang memperlihatkan adanya indikasi hubungan antara sikap dan praktik (Azwar, 2010).
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskeriptif analitik dengan menggunakan data primer dari BKPM Semarang. Dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan penelitian. Beberapa keterbatasan penelitian yang ada adalah sebagai berikut :
1. Teknik samplingnya secara acidental sehingga populasi tidak seluruhnya memperoleh kesempatan yang sama menjadi responden.
2. Karakteristik responden heterogen sehingga pengetahuan, sikap, dan kemampuan dalam praktik pencegahan bervariasi sehingga tidak bisa menggambarkan hasil pada kelompok tertentu.
3. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perilaku pencegahan, antara lain persepsi, norma, dan kepercayaan tidak dapat di kontrol.