BAB I
PENDAHULUAN A.Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran
pokok dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada tingkat
sekolah dasar. IPA mengkaji tentang manusia dan gejala alam yang ada di
sekitarnya. Pembelajaran IPA tidak terbatas pada penerimaan informasi atau
materi tentang konsep yang ada, namun berupa proses mencari tahu dan
menemukan suatu informasi baru. Sulistyorini (2007: 39) menyatakan bahwa
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa
fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu
proses penemuan. IPA diharapkan dapat menjadi wadah bagi siswa untuk
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar dalam penerapannya dikehidupan
sehari-hari.
Pembelajaran IPA tidak hanya mengutamakan ketercapaian
pengetahuan semata, namun juga berperan dalam pembentukan sikap siswa.
Trianto (2010: 143) menyatakan bahwa pembelajaran IPA ditekankan pada
pendekatan proses, sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta,
membangun konsep-konsep, teori-teori, dan sikap ilmiah siswa itu sendiri.
Sikap ilmiah dalam pembelajaran IPA diantaranya yaitu sikap kerjasama,
ingin tahu, bertanggungjawab, dan kedisiplinan diri.
Proses penemuan dalam IPA dilakukan melalui penerapan metode
dan ekperimen diposisikan pada suatu kelompok, yang mendorong
terbentuknya kerjasama dalam belajar.Kerjasama dalam proses pembelajaran
dapat mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan siswa
secara optimal. Abdulsyani (2012: 156) menjelaskan bahwa kerjasama adalah
suatu bentuk proses sosial yang di dalamnya terdapat aktivitas tertentu dan
ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan
saling memahami terhadap aktivitas masing-masing.Siswa melalui kerjasama
dapat berbagi pengetahuan dan saling membantu dalam mengatasi kesulitan
belajar yang dialami, sehingga pemahaman terhadap materi menjadi
meningkat dan prestasi belajar yang diperoleh lebih optimal.
Permasalahan yang sering muncul dalam pelaksanaan pembelajaran
IPA di Sekolah Dasar yaitu belum diterapkannya metode ilmiah seperti
observasi dan eksperimen dengan optimal, sehingga sikap ilmiah siswa belum
terbentuk. Kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru dan siswa hanya
menerima materi melalui metode ceramah, yang menyebabkan kurangnya
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dalam
mengikuti pembelajaran cenderung hanya duduk, mendengarkan, mencatat,
dan mengerjakan, sehingga pembelajaran terkesan monoton dan siswa cepat
merasa bosan. Siswa yang merasa bosan akan bermain sendiri dan
konsentrasi terhadap pelajaran menurun, pemahaman materi menjadi kurang,
dan prestasi belajarnya menjadi rendah.
Hasil observasi yang dilakukan di kelas III SD Negeri 1 Pageraji pada
Permasalahan tersebut dapat dilihat ketika pelaksanaan pembelajaran, siswa
masih banyak yang kebingungan dan sulit dikondisikan ketika dilakukan
pembentukan kelompok. Siswa yang pintar mengerjakan tugasnya sendiri,
tidak bekerjasama, dan tidak mengundang siswa yang lain untuk
berpartisipasi. Beberapa siswa bahkan sibuk bermain sendiri dan tidak
membantu mengerjakan tugas. Rendahnya kerjasama tersebut berimbas pada
rendahnya prestasi belajar siswa, karena dalam proses pembelajaran hanya
beberapa siswa saja yang benar-benar memperhatikan dan memahami materi
yang disampaikan oleh guru.
Selain melakukan observasi juga dilakukan wawancara dengan guru
kelas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa kerjasama siswa dalam
pembelajaran memang masih sangat kurang dan siswa masih banyak yang
mengalami kesulitan dalam memahami materi, sehingga prestasi belajar yang
diperoleh menjadi rendah. Dilihat dari nilai ulangan siswa kelas III SD Negeri
1 Pageraji pada mata pelajaran IPA materi gerak benda tahun pelajaran
2015/2016 dari 36 siswa, sebanyak 20 siswa mendapatkan nilai di bawah
KKM yang telah ditetapkan yaitu 72. Apabila dipersentasekan dengan jumlah
seluruh siswa dalam satu kelas, maka hanya 40% siswa yang tuntas belajar
dan sebanyak 60% siswa di kelas tersebut tidak tuntas belajar.
Permasalahan yang muncul di Kelas III SD Negeri 1 Pageraji
khususnya pada pelaksanaan pembelajaran IPA, disebabkan karena beberapa
faktor. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru kelas, faktor
IPA diantaranya yaitu pelaksanaan pembelajaran yang masih didominasi
metode ceramah dan penugasan, sehingga siswa tidak terbiasa untuk bekerja
dalam kelompok. Siswa ketika dilibatkan dalam sebuah kelompok dan
menerapkan metode observasi atau eksperimen, suasana kelas menjadi tidak
kondusif. Siswa kelas III pada dasarnya memang lebih menyukai bekerja
secara individu daripada bekerjasama dalam kelompok. Sikap individual
siswa tersebut sangat dominan, sehingga sulit untuk diterapkan metode
pembelajaran yang menggunakan pendekatan kelompok.
Melihat permasalahan yang terdapat di kelas III dalam pembelajaran
IPA, peneliti dan guru sepakat untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) dengan menerapkan teknik token economy. Purwanta (2015: 148)
menyatakan bahwa teknik token economy merupakan suatu teknik modifikasi
perilaku dengan cara memberikan satu kepingan (atau satu tanda, satu isyarat)
sesegera mungkin setiap kali setelah perilaku sasaran muncul. Pemilihan
teknik token economy didasarkan pada permasalahan utama di kelas III terkait
sikap siswa yaitu rendahnya kerjasama dalam kegiatan pembelajaran, yang
berimbas pada rendahnya prestasi belajar yang diperoleh. Teknik token
economy menekankan pada pemberian reward yang bertujuan untuk
memunculkan perilaku yang diinginkan, maupun menghilangkan perilaku
yang tidak diinginkan.
Mata pelajaran IPA menjadi pilihan dalam penelitian ini karena IPA
merupakan mata pelajaran yang menekankan pada pendekatan proses
siswa. Sebagaimana Kurikulum 2013, pada KTSP juga terdapat intruksi
pembelajaran terpadu yaitu dalam Permendiknas nomor 22 tahun 2006, dalam
struktur KTSP pembelajaran pada Kelas I sampai Kelas III SD dilaksanakan
melalui pendekatan tematik, namun dalam pelaksanaan praktik pembelajaran
di Kelas III SD Negeri 1 Pageraji masih menggunakan pendekatan mata
pelajaran. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru kelas, alasan masih
menggunakan pendekatan mata pelajaran pada praktiknya yaitu karena bahan
ajar yang tersedia masih menggunakan pendekatan mata pelajaran dan jadwal
yang digunakan juga menggunakan pendekatan mata pelajaran. Hal ini
bertujuan untuk mempermudah siswa dalam belajar, dan mempermudah
orang tua memantau siswa dalam belajar dirumah. Materi gerak benda
menjadi pilihan dalam penelitian ini karena pada semester genap, materi
tersebut merupakan materi yang sebagian besar pelaksanaannya dilakukan
melalui percobaan dan pengamatan yang memerlukan adanya kerjasama antar
siswa dan aktivitas yang melibatkan siswa secara langsung dalam kelompok.
Siswa diharapkan dapat membiasakan diri untuk saling bekerjasama dan
berbagi pengetahuan sehingga berdampak pula pada meningkatnya prestasi
belajar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah
1. Bagaimana penerapan teknik token economy dapat meningkatkan sikap
kerjasama siswa pada mata pelajaran IPA materi gerak benda Kelas III SD
Negeri 1 Pageraji?
2. Bagaimana penerapan teknik token economy dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi gerak benda Kelas III SD
Negeri 1 Pageraji?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu sebagai berikut:
1. Meningkatkan sikap kerjasama siswa pada mata pelajaran IPA materi
gerak benda melalui penerapan teknik token economy di Kelas III SD
Negeri 1 Pageraji.
2. Meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi gerak
benda melalui penerapan teknik token economy di Kelas III SD Negeri 1
Pageraji.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu:
1. Manfaat Teoretis
a. Secara teoretis penelitian ini dapat memberikan sumbangan pada
pembelajaran IPA terutama pada peningkatan sikap kerjasama dan
prestasi belajar siswa melalui penerapan teknik token economy.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar IPA menjadi berkurang
sehingga prestasi belajar meningkat, dan kerjasama yang baik antar
siswa dapat terjalin.
b. Bagi Guru
Menambah pengetahuan tentang penerapan teknik yang bervariasi,
sampai pada penggunaan model pembelajaran yang sesuai sehingga
kegiatan belajar mengajar menjadi lebih interaktif.
c. Bagi Sekolah
Memberikan masukan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan
dan kualitas pembelajaran IPA di sekolah.
d. Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengalaman mengenai cara mengelola kelas
dalam pelaksanaan pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas