BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Berdasarkan hasil dari dari penelitian sebelumnya tentang sistem Waralaba baik dari perpustakaan danatau dari website penulis menemukan kajian sebagai berikut: No Nama peneliti Judul dan tahun - BAB II DEAN

27 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

(2)

No Nama

(3)

lakukan saat ini yaitu adanya tempat penelitian yang berbeda dan tentunya informan serta rumusan masalah yang berbeda, dan juga penelitian yang berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba.

B. Landasan Teori

2.1 Teori Mengikatnya Perjanjian

Kitab Undang-undang hokum perdata (Burgerlijk Wetboek) menyebutkan tentang perjanjian franchise atau waralaba. Kitab Undang-undang tersebut hanya menyebutkan tentang Perjanjian secara umum

Perjanjian (overeenkomst) merupakan hukum dasar dalam perjanjian. Perjanjian itu sendiri merupakan sumber terpenting dari perikatan (verbintenis) yang diatur dalam Buku III KUHPerdata. Pasal 1233 KUH Perdata menyatakan bahwa, “Tiap-tiap perikatan itu terjadi karena persetijuan atau karena Undang-undang”.

Defenisi perjanjian seperti terdapat pada Pasal 1313 KUH

Perdata yaitu: “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana

satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau

lebih”. Subekti memberikan pengertian perjanjian sebagai berikut: suatu

(4)

Sedangkan perikatan menurut Subekti, perikatan adalah: “Suatu

perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut suatu hal dari pihak yang lain, dan

pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu”7

Perikatan juga bisa lahir dari Undang-undang. Perbedaan diantara perikatan yang lahir dari perjanjian dengan perikatan yang lahir dari Undang-undang adalah perikatan yang lahir dari perjanjian ini memang dikehendaki oleh kedua belah pihak sedangkan perikatan yang lahir dari Undang-undang tidak berdasar atas inisiatif pihak-pihak yang bersangkutan.8

Sistem hukum Indonesia tentang perjanjian diatur dalam pasal-pasal buku III KUH Perdata tentang perikatan. J. Satrio menjelaskan, bahwa perjanjian dapat dibedakan menurut sifat perjanjiannya yaitu: a. Perjanjian Konsensuil, Perjanjian Konsensuil adalah perjanjian

dimana adanya kata sepakat antara para pihak saja, sudah cukup untuk timbulnya perjanjian.

b. Perjanjian Riil, Perjanjian Riil adalah perjanjian yang baru terjadi kalau barang yang menjadi pokok perjanjian telah diserahkan.

c. Perjanjian Formil, Adakalanya perjanjian yang konsensuil, adapula yang disaratkan oleh Undang Undang, di samping sepakat juga penuangan dalam suatu bentuk atau disertai formalitas tertentu.

2.2 Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian

7

Rachmadi Usman, Op.cit, hlm. 8

8

(5)

Perjanjian sebagai sumber perikatan maka sahnya perjanjian menjadi sangat penting bagi para pihak yang melakukan kegiatan perdagangan. Menurut Pasal 1320 KUH Perdata sahnya suatu perjanjian meliputi syarat subyektif dan syarat obyektif.9

Berdasarkan ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata, untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :

a. Sepakat mereka yang mengikatkandirinya. b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. c. Suatu hal tertentu.

d. Suatu sebab yang halal.

Untuk dua syarat yang pertama, dinamakan syarat subjektif, karena kedua syarat tersebut mengenai orang-orangnya atau subyek hukum yang melakukan perjanjian.Dua syarat yang terakhir dinamakan syarat objektif karena keduanya berkaitan dengan perjanjiannya itu sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu.

2.3 Asas-Asas Perjanjian (Kontrak)

Menurut Logeman, bahwa setiap peraturan hakekatnya dipengaruhi oleh dua unsur penting, yaitu;

a. Unsur rill, karena sifatnya yang konkrit, bersumber dari lingkungan dimana manusia itu hidup, seperti tradisi-tradisi atau nilai-nilai yang dibawa manusia sejak lahir dengan perbedaan jenis.

9

(6)

b. Unsur idiil, karena nilainya yang abstrak, bersumber dari lingkungan dimana manusia itu sendiri yang berupa sifat, pikiran dan perasaan.

Dalam hukum perjanjian dikenal juga tiga asas penting, yaitu asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme dan asas pacta sun servanda

a. Asas kebebasan berkontrak, adalah salah satu asas yang sangat penting dalam hukum perjanjian, kebebasan ini merupakan perwujudan dari kehendak bebas, pancaran hak asasi manusia. Salim HS menyatakan bahwa asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak.

b. Asas Konsensualisme, adalah bahwa suatu perikatan itu terjadi (ada) sejak saat terucapnya kata sepakat antara para pihak. Dengan kata lain perjanjian itu sudah sah apabila sudah sepakat mengenai hal-hal yang pokok dan tidaklah diperlukan suatu formalitas untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, mengadakan perjanjian dengan siapapun, menentukan isi perjanjian, pelaksanaan dan persyaratannya, menentukan bentuknya perjanjian yang tertulis atau tidak tertulis.

(7)

secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

d. Asas Itikad Baik sebagai unsur subyektif dapat dilihat dari pasal 531 KUHPerdata yang menyatakan bahwa kedudukan itu beretikad baik manakala yang memegangnya memperoleh kebendaan dengan cara memperoleh hak milik, dalam mana tak tahulah dia akan cacat cela yang terkandung di dalamnya.

2.4 Berakhirnya Perjanjian

Dijelaskan pada KUHPerdata yang mana terdapat pada Pasal 1381 KUHPerdata, perikatan-perikatan hapus (berakhir):10

a. Karena pembayaran;

b. karena penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan ataupenitipan;

c. karena pembaharuan utang

d. karena perjumpaan utang atau kompensasi; e. karena pembebasan utang;

f. karena musnahnya barang yang terutang; g. karena kebatalan atau pembatalan; h. karena berlakunya suatu syarat batal; i. karena lewatnya waktu.

2.5 Pengertian Waralaba (franchise)

10

(8)

Istilah waralaba (franchise) tidak dikenal dalam kepustakaan hukum Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi karena memang lembaga waralaba sejak awal tidak terdapat dalam budaya atau tradisi bisnis masyarakat Indonesia .namun, karena pengaruh globalisasi, maka

franchise masuk dalam tatanan hukum dan budaya masyarakat Indonesia. Istilah franchise selanjutnya menjadi istilah yang akrab dengan masyarakat, khususnya masyarakat bisnis Indonesia dan menarik perhatian banyak pihak untuk mendalaminya.

Kemudian istilah franchise dicoba di-Indonesiakan pertama kali oleh Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM).

Waralaba berasal dari kata “wara” (lebih atau istimewa) dan “laba”

(untung), sehingga waralaba berarti usaha yang memberikan laba lebih atau istimewa11

Sumardi dari sisi bisnis mendefinisikan sebagai “suatu metode pendistribusian barang dan jasa kepada mayarakat konsumen, yang dijual kepada pihak lain yang berminat.pemilik dari metode ini disebut

franchisor, sedangkan pembeli yang berhak menggunakan metode tersebut disebut franchisee”.

Dari sisi sitem usaha, menyebutkan waralaba adalah

“perdagangan atau jasa yang memiliki ciri khas yang berupa jenis produk

dan bentuk yang diusahakan, identitas perusahaan (logo, desain dan merek) bahkan termasuk dalam pakaian dan penampilan karyawan perusahaan, rencana pemasaran serta bantuan oprasional”.

11

(9)

Falsafah dalam waralaba adalah “Memindahkan keberhasilan

usaha satu lokasi ke lokasi lain, dengan pemilik atau pengelola yang berbeda. Menurut beberapa peneliti, studi tingkat keberhasilan bisnis waralaba rata-rata 93%. Banyak yang beranggapan waralaba merupakan konsep bisnis yang paling cepat bagi pembuatan usaha kecil12

2.6 Elemen-elemen Pokok

Pada dasarnya waralaba atau franchise mengandung elemen-elemen pokok sebagai berikut:13

a. Franchisor yaitu pihak pemilik/produsen dari barang atau jasa yang telah memiliki merek tertentu serta memberikan atau melisensikan hak eksekutif tertentu untuk pemasaran dari barang atau jasa itu. Menurut Peraturan Pemerintah RI No.42 tahun 2007 tentang Waralaba Pasal !ayat (2) menyatakan bahwa Pemberi Waralaba adalah orang perseorangan atau badan usaha yang memberikan hak untuk memanfaatkan dan/atau menggunakan waralaba yang dimilikinya kepada Penerima Waralaba.

b. Franchisee yaitu pihak yang menerima hak eksklusif itu dari

franchisor. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba Pasal 1 ayat (3) menyatakan bahwa Penerima Waralaba adalah orang perseorangan atau badan usaha yang diberikan hak oleh Pemberi Waralaba untuk memanfaatkan dan/atau menggunakan Waralaba yang dimiliki Pemberi Waralaba.

12

Waralaba, diakses pada tanggal 21, Oktober, 2018,http//www.wikipedia.com

13

(10)

c. Adanya penyerahan hak-hak secara eksklusif (dalam praktek meliputi berbagai macam hak milik intelektual/ hak milik perindustrian) dari

franchisor dan franchisee.

d. Adanya penetapan wilayah tertentu, franchise area dimana franchisee

diberikan hak untuk beroprasi di wilayah tertentu. Contoh: hanya diperbolehkan untuk di Pulau Jawa.

1) Adanya imbalan prestasi dari franchisee kepada franchisor yang berupa Initial Fee dan Royalties serta biaya-biaya lain yang disepakatioleh kedua belah pihak.

2) Adanya standar mutu yang ditetapkan oleh franchisor bagi

franchisee, serta supervise secara berkala dalam rangka mempertahankan mutu.

3) Adanya pelatihan awal, pelatihan yang bersifat berkesinambungan, yang diselenggarakan oleh franchisor guna peningkatan ketrampilan. 2.7 Jenis-jenis Waralaba

Ada dua jenis Waralaba yang berkembang di Indonesia, yaitu:14 1) Waralaba format bisnis

Yaitu seorang pemegang waralaba memperoleh hak untuk memasarkan dan menjual produk atau pelayanan dalam suatu wilayah atau lokasi spesifik, dengan menggunakan standar oprasional dan pemaasaran.

Contoh: restoran fast food, hotel, dan convance store.

14

(11)

2) Waralaba distribusi produk

Yaitu seorang pemegang waralaba memperoleh lisensi eksekutif untuk memasarkan produk dari satu perusahaan tinggi dalam sebuah lokasi spesifik.

Contoh: agen sepatu, pompa bensin, dan dealer sepeda motor.

Leon C. Meggison dan kawan-kawan membagi dua sistem

franchising, yaitu sebagai berikut:15

a. Product and Trademark Franchising (Waralaba Produk dan Merek Dagang)

Dalam format ini, franchisor memberikan kepada franchisee hak untuk menjual secara luas suatu produk atau brand tertentu.Dalam Product and trade-mark franchise (atau sering disebut product franchise), pemberi franchise menghasilkan produk dan penerima

franchise nebyediakan outlet untuk produk yang diberikan pemberi

franchise.

b. Business Format Franchising (Waralaba Format Bisnis)

Franchisor, memberikan franchisee hak untuk memasarkan suatu produk atau merek dagang tertentu serta menggunakan sistem oprasi lengkap dari franchisor. Format ini juga disebut operating sytem franchise, penerima franchise diberi license untuk melakukan usaha dengan menggunakan paket bisnis dan merek dagang yang telah dikembangkan oleh pemberi franchise.

15

(12)

Contohnya: McDonal’s.

Iman Stjahputra Tunggal (2005) mengkategorikan waralaba menjadi tiga tipe, antara lain:16

a. Product Franchising (Trade Name Franchising)

Dalam format ini, dealer diberi hak untuk mendistribusikan produk untuk pabrikan (manufacturer).Untuk hal tersebut, dealer (franchise penerima franchise) membayar fee untuk hak menjual kepada produsen (franchisor).Politik ini ditemukan tahun 1800, ketika Singer Corporation mendistribusikan produk mesin jahitnya. Praktik ini kemudian menjadi umum dalam bisnis pompa bensin (jaringan Excon Sunoco Texaco) dan industry otomotif (Chevrolet, Olds-mobile, Chrysler).

b. Manufacturing Franchising (Product Distribution Franchising). Sering digunakan industry minuman ringan (Pepsi, Coca cola).Dengan menggunakan sistem franchising ini, franchisor

memberikan kepada dealer (bottler) hak eksekutif memproduksi dan mendistribusikan produk di daerah tertentu.

c. Business Formatfranchise (Pure/ Comperhensive Franchising) Yaitu suatu pengaturan dimana franchisor menawarkan serangkaian jasa yang luas kepada franchisee, mencakup pemasaram, advertensi (iklan), perencanaan strategi, pelatihan produksi dari manual dan standar oprasi, pedoman pengendalian mutu, dan lain-lain. Tipe franchising ini adalah bentuk yang paling

16

(13)

popular dan mencakup kurang lebih 75% dari gerai franchise di Amerika Serikat.

Selain tiga tipe franchising diatas, Jackie Ambadar dan kawan-kawan menaambahkan satu tipe lagi, yaitu Franchiseing Pribadi. Ini adalah jenis franchising yang dimiliki dan dikembangkan oleh satu

orang, dan biasanya dengan „menjual‟ nama orang yang bersangkutan,

misalnya stockpoint milik KH. Abdulah Gymnastiar17. 2.8 Hal-hal Umum yang Diatur Perjanjian Waralaba

Perjanjian waralaba atau franchiseagreement harus dibuat secara tertulis, hal ini termuat dalam Pasal 4 ayat (1) PP No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba. Selain itu dalam Pasal 5 PP No. 42 Tahun 2007 juga menyebutkan, bahwa terdapat beberapa klausul yang harus termuat dalam perjanjian waralaba atau franchise, antara lain:18

a. Nama dan alamat para pihak. b. Jenis hak kekayaan intelektual. c. Kegiatan usaha.

d. Hak dan kewajiban para pihak.

e. Bantuan, fasilitas, bimbingan oprasional, pelatihan, dan pemasaran yang diberikan Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba. f. Wilayah uasaha.

g. Jangka waktu perjanjian.

17

Jackie Ambadar, Miranty Abidin & Yanti Isa, 2007, Membeli dan Menjual Franchise, jakarta; Yayasan Bima Karsa Mandiri, hlm. 26

18

(14)

h. Tata cara pembayaran imbalan.

i. Kepemilikan, perubahan kepemilikan, dan hak ahli waris. j. Penyelesaian sengketa.

k. Tata cara perpanjangan, pengakhiran, dan pemutusan perjanjian. Perjanjian waralaba dapat memuat klausula pemberian hak bagi penerima waralaba untuk menunjuk penerima waralaba lain. Penerima waralaba yang diberi hak untuk menunjuk prnrtima waralaba lain, harus memiliki dan melaksanakaan sendiri 1 (satu) tempat usaha waralaba Pemberi waralaba harus memberikan prospektus penawaran waralaba kepada calon penerima wralaba, pada saat melakukan penawaran, paling sedikit memuat:

1) Data identitas pemberi waralaba 2) Legalitas usaha pemberi waralaba 3) Sejarah kegiatan usahanya

4) Struktur organisasi pemberi waralaba 5) Laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir 6) Jumlah tempat usaha

7) Daftar penerima waralaba

8) Hak dan kewajiban pemberi waralaba dan penerima waralaba.

(15)

Oleh karena itu umumnya perjanjian waralaba di sertai perjanjian lain seperti:

1) Bentuk penerima waralaba

2) Pernyataan (recitals), sangat penting dan merupakan perkenalan dalam hubungan waralaba.

3) Jaminan Franchiseor memberikan hak kepada franchisee berupa: a) Hak untuk menggunakan sistem usaha franchisor pada lokasii,

jangka waktu, standar dan spesifikasi tertentu

b) hak untuk menggunakan nama dan merek dilokasi franchisor

sehubungan dengan usaha yang dikelola franchisor

4) Jangka waktu perjanjian 5) Wilayah tempat usaha 6) Perlengkapan usaha 7) Sumber daya manusia

8) Petunjuk pelaksanaan dari franchisor

9) Bantuan pelaksanaan dari franchisor

10) Perjanjian hutang pitutang

11) Pelaporan (jenis maupun jangka waktu pelaporan) 12) Pemeriksaan dari medis

13) Promosi yang perlu dilakukan.

(16)

Menurut Bambang N Rachmadi (2007), kontrak kerjasama

franchise, selain meliputi hal-hal umum yang menjamin kepentingan kedua belah pihak, juga dapat mencakup hal-hal spesifik sebagai berikut: a. Transfer of asset specificity, mencakup brand name, system yang

spesifik, dan peralatan khusus.

b. Managerial assistance, mecakup pemasaran dan promosi, serta pelatihan karyawan.

c. Standardized operation. Untuk menjamin mutu dan pelayanan yang sama, franchisor menentukan standar tertentu dalam kegiatan operasional gerai .hal ini berimplikasikan pada control dan pengawasan oleh franchisor.

d. Fee and royalty, yaitu jumlah tertntu yang harus dibayarkan oleh

franchisee kepada franchisor.

e. Franchisee hanya boleh mengoprasikan satu merk dagang (executive operation).

f. Jangka waktu kontrak.

2.10 Hak dan Kewajiban Pemberi Waralaba

(17)

Hak Pemberi Waralaba menurut Kepmen Perindustrian dan Perdagangan Nomor 159/MPR/Kep/1997 tanggal 20 juli 1997 adalah: a. Melakukan pengawasan jalannya waralaba.

b. Memperoleh laporan berkala atas jalannya usaha waralaba tersebut. c. Melaksanakan inspeksi pada usaha franchisee untuk memastikan

semua berjalan sebagaimana mestinya.

d. Sampai batas tertentu, mewajibkan franchisee dalam hal-hal tertentu membeli barang-barang tertentu dari franchisor.

e. Mewajibkan franchisee merahasiakan HaKI, penemuan, atau ciri khas usaha waralaba tersebut.

f. Mewajibkan franchisee untuk tidak melakukan kegiatan yang sejenis, serupa, atau apa saja yang bias menimbulkan persaingan usaha baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha waralaba tersebut.

g. Menerima pembayaran royalty fee.

h. Meminta dilakukannya pendaftaran atas franchise yang diberikan kepada franchisee

i. Jika franchise berakhir, franchisor berhak meminta kepada franchisee

untuk mengembalikan semua data, informasi maupun keterangan yang diperoleh franchisee selama masa pelaksanaan waralaba.

j. Jika franchise berakhir, franchisor berhak melarang kepada

(18)

maupun keterangan yang diperoleh franchisee selama masa pelaksanaan waralaba.

k. Jika franchise berakhir, franchisor berhak untuk mewajibkan

franchisee untuk melakukan kegiatan yang sejenis, serupa, atau apa saja yang bias menimbulkan persaingan usaha baik langsung maupun tidak langsung.

l. Pemberian franchise, kecuali yang bersifat eksekutif, tidak menghapuskan hak franchisor untuk tetep memanfaatkan, menggunakan, atau melaksanakan sendiri HaKI, penemuan, atau ciri khas waralaba tersebut.

Menurut Imam Sjahputra Tunggal, hak Pemberi Waralaba antara lain adalah sebagai berikut:19

a. Menerima setoran dari Penerima Waralaba. b. Menerima laporan secara berkala.

c. Memeriksa pembukuan Penerima Waralaba d. Memerikasa usaha Penerima Waralaba.

e. Memutuskan hubungan kemitraan karena pelanggaran oleh Penerima Waralaba.

f. Membeli kembali waralaba pada saat pemutusan hubungan kemitraan g. Membeli kembali waralaba pada saat dijual oleh penerima waralaba,.

Selain itu, pemberi waralaba juga memiliki kewajiban untuk mengimbangi hak-haknya. Kewajiban pemberi waralaba menurut Kepmen

19

(19)

Perindustrian dan Perdagangan No. 259/Kep/1997 tanggal 30 July 1997 adalah:

a) Memberikan segala macam informasi yang berhubungan dengan HaKI, penemuan, atau ciri khas waralaba, misalnya system manajemen usaha, cara penjualan atau cara penataan atau cara distribusi yang merupakan karakteristik waralaba, dalam rangka pelaksanaa waralaba yang diberikan tersebut.

b) Memberikan bantuan kepada franchisee berupa pembinaan, bimbingan, dan pealtihan kepada franchisee.

2.11 Hak dan Kewajiban Penerima Waralaba

Penerima waralaba diijinkan untuk bergabung kedalam perusahaan franchise, tentunya setelah dia membayar franchise fee dan bersedia membayar royalty. Seperti halnya franchisor, franchisee juga memiliki hak dan kewajiban yang tentu saja berbeda dengan franchisor. Hak Penerima Waralaba (franchisee) menurut Kepmen Perindustrian dan Perdagangan nomor 259/MPP/Kep/1997 tanggal 30 Juli 1997 adalah:

(20)

b. Memperoleh bantuan dari franchisor atas segala macam cara pemanfaatan dan penggunaan HaKI, penemuan, atau ciri khas waralaba misalnya system manajemen usaha, cara penjualan atau cara penataan atau cara distribusi yang merupakan karakteristik waralaba, dalam rangka pelaksanaan waralaba yang diberikan tersebut.

Kewajiban Pernerima Waralaba (franchisee) menurut Kepmen Perindustrian dan Perdagangan Nomer 259/MPP?Kep/1997 tanggal 20 Juli 1997 adalah:

a. Melaksanakan seluruh instruksi yang diberikan oleh franchisor

kepadanya guna melaksanakan HaKI, penemuan, atas ciri khas usaha waralaba tersebut.

b. Memberikan keleluasaan kepada franchisor untuk melakikan pengawasan dan inspeksi berkala maupun secara tiba-tiba guna memastikan bahwa franchisee telah melaksanakan waralaba yang digunakan dengan baik.

c. Memberikan laporan berkala ataupun laporan khusus atas permintaan franchisor.

d. Sampai batas tertentu, membeli membeli barang modal atau barang-barang tertentu dari franchisor.

(21)

f. Melaporkan segala pelanggaran HaKI, penemuan, atau ciri khas usaha waralaba tersebut yang terjadi dalam praktik.

g. Tidak memanfaatkan HaKI, penemuan, atau ciri khas usaha waralaba tersebut selain dengan tujuan melaksanakan waralaba yang diberikan.

h. Melakukan pendaftaran waralaba.

i. Tidak melakukan kegiatan yang sejenis, serupa, atau apa saja yang bias menimbulkan persaingan usaha, baik langsung maupun tidak langsung dengan waralaba tersebut.

j. Melakukan pembayaran royalty fee yang telah disepakati bersama. k. Jika waralaba berakhir, mengembalikan semua data , informasi

maupun keterangan yan diperoleh franchisee selama masa pelaksanaan waralaba.

l. Jika waralaba berakhir, tidak lagi memanfaatkan lebih lanjut semua data, informasi. Maupun keterangan yang diperoleh franchisee

selama pelaksanaan waralaba.

m. Jika waralaba berakhir, tidak lagi melakukan kegiatan yang sejenis, serupa, atau apa saja yang bias menimbulkan persaingan usaha baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha waralaba tersebut. 2.12 Perbedaan Waralaba dan Lisensi

(22)

merupakan sistem baru yang menyempurnakan mekanisme atau cara kerja sistem lama, termasuk di dalamnya license Franchise adalah hubungan kemitraan yang di dalamnya pemberi waralaba memberi hak penggunaan license, merek dagang saluran distribusi perusahaan kepada penerima franchise dengan disertai bantuan bimbingan manajemen.

Sedangkan lisensi adalah bentuk pemberian izin oleh pemilik lisensi kepada penerima lisensi untuk memanfaatkan atau menggunakan (bukan mengalihkan hak) suatu kekayaan intelektual yang dipunyai pemilik lisensi berdasarkan syarat tertentu dalam jangka waktu tertentu yang umumnya disertai imbalan berupa royalty20.

Imam Sjahputra Tunggal, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara kedua perjanjian tersebut21

a. Dalam franchise terdapat pengawasan pelaksanaan usaha, metode dan produksi, serta pemasokan kebutuhan untuk menunjang usaha penerima waralaba.

b. Pada lisensi yang terjadi hanyalah sekedar pemnberian izin penggunaan merek, teknologi dan know how, tanpa adanya pengawasaan yang terus menerus atas pelaksanaan usaha itu.

c. Dalam bisnis waralaba, kepemilikan badan usaha sepenuhnya ada pada penerima waralaba. Secara hokumpemberi waralaba penerima waralaba adalah dua badan usaha yang terpisah.

20

Bakti Trisnawati, SH, Hukum, 2006, Sari Kuliah Hukum Alih Teknologi, Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, hlm. 41

21

(23)

d. Dalam bisnis waralaba, selama kerja sama tersebut, pemneri waralaba melakukan pengendalian hasil dan kegiatan dalam kedudukannya sebagai pimpinan dalam kerja lama.

e. Dalam bisnis waralaba, selain kerja sama tersebut, pihak pemberi waralaba mengijinkan penerima waralaba menggunakan merek dagang danidentitas usaha milik pemberi waralaba dalam bidang usaha yang disepakati. Penggunaan identitas usaha tersebut akan menumbuhkan asosiasi pada masyarakat adanya kesamaan produk dan jasa dengan pemberi waralaba.

Disamping perbedaan-perbedaan mendasar seperti diuraikan di atas, terdapat pula beberapa kesamaan antara perjanjian lisensi dan waralaba, yaitu:22

a. Yang dipasarkan adalah produk-produk dengan merek dagang milik lisensi atau pemberi waralaba.

b. Melalui perjanjian lisensi atau waralaba, terjadi alih teknologi atau

know-how dari pemeri isensi atau pemberi waralaba kepada penerima lisensi penerima waralaba.

c. Hak atas merek dan hak paten atas know-how, tetap dimiliki oleh pemberi lisensi atau pemberi waralaba.

22

(24)

C. Hukum Waralaba di Indonesia

Dalam Undang Undang nomor 9 tahun 1995 tentang usaha kecil menyebutkan bahwa waralaba adalah salah satu pola kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah dan usaha besar23.Yang dimaksud kemitraan dalam Pasal 1 ayat 1 peraturan pemerintah nomor 44 tahun 1997 adalah kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah dan atau dengan usaha besar disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah dan atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan yaitu dengan maksud sesuai Pasal 7 ayat 1 yaitu untuk memperluas usahanya dengan cara memberi waralaba, memberikan kesempatan dan mendahulukan usaha kecil yang memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai penerima waralaba untuk usaha yang bersangkutan24.

Waralaba sebagai suatu bentuk perjanjian, tunduk pada ketentuan umum yang berlaku bagi sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Selain itu secara khusus, waralaba (franchise) di Indoneisa juga di atur dalam:

3.1 Kepmen Perindustrian dan Perdagangan Repunblik Indonesia Nomor 259/MPP?Kep/1997 tanggal 30 Juli 1997 tentang ketentuan dan tata cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba.

23

UU no 9 tahun 1995 tentang usaha kecil

24

(25)

3.2 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 12/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba.

3.3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2007 tanggal 23 Juli 2007 tentang Waralaba.

3.4 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 21/M-DAG/PER/8/2008 Tentang Penyelenggaraan Waralaba.

Peraturan Pemerintah (PP) No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan untuk menggantikan PP No. 16 Tahun 1997 menuai pro kontra dikalangan pengamat dan praktisi bisnis waralaba, sebab ada beberapa Pasal yang mengatur dengan tegas tentang waralaba di Indonesia. Di antaranya Pasal 3 yang mengharuskan setiap bisnis waralaba harus bias memenuhi syarat dan membuktikan profitabilitas dan keunikan usahanya, serta prototype usanya sudah berjalan dan sukses. Pasal 10 yang berisi pemberi waralaba (pewaralaba) dan penerima waralaba (terwaralaba) hurus mendaftarkan usahanya ke Departemen Perdagangan paling lambat satu tahun sejak PP No. 42 Tahun 2007 di berlakukan (23 JUli 2007) . bila tidak mendaftarkan maka dikenakan sanksi alternative berupa denda Rp 100.000.000.00 (seratus juta rupiah) atau pencabutan STPW (Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba)25.

Baru-baru ini Indonesia melakukan perubahan yang lebih lengkap untuk peraturan waralabanya setelah diluncurkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Permendag Nomor 31/M-DAG/PER/8/2008

25

(26)

Tentang Penyelenggarakan Waralaba. Peraturan Menteri Perdagangan ini adalah petunjuk pelaksanaan penerapan Peraturan Pemerintah PP) No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba. Dengan adanya Pemendag Nomor 21/M-DAG/PER/8/2008 ini maka sekarang usaha dengan sistem waralaba sudah mempunyai kriteria yang baku. Satt ini sistem usaha waralaba yang tidak sesuai dengan kriteria yang tercantum dalam pertuturan pemerintah tidak dapat lagi mempublikasikan usahanya sebagai usaha waralaba26.

26

(27)

D. Krangka Pemikiran

Waralaba yaitu hak khusus yang dimiliki orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti dapat dimanfaatkan dan/atau 5. Kepmen Perindustrian dan

Perdagangan Nomer

7. Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2007 tentang waralaba

1. Teori tentang perjnjian 2. Aspek-aspek kontrak 3. Aspek tentang waralaba 4. Aspek tentang HaKI

1. Praktik pelaksanaan Perjanjian Waralaba dianalisi antara lain menggunakan teori Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba serta Kepmen Perindustrian dan Perdagangan Nomor 259/MPR/Kep/1997 tanggal 20 juli 1997

2. Kendala yang dialami pada pelaksanaan Perjanjian Waralaba di analisis menggunakan metode wawancara kepada Narasumber pelaksanaan perjanjian usaha

waralaba di Rocket Chicken

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :