• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RANCANGAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANGAN PERATURAN

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /PERMEN-KP/2017

TENTANG

TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMANFAATAN BENDA BERHARGA ASAL MUATAN KAPAL YANG TENGGELAM OLEH PEMERINTAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016

tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal mengatur Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam

merupakan bidang usaha yang dilarang

diusahakan sebagai kegiatan penanaman modal;

b. bahwa berdasarkan hasil rapat pleno PANNAS

BMKT pada tanggal 14 September 2015 perlumenetapkan dasar hukum untuk melakukan pengangkatan dan pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam oleh Pemerintah;

c. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana

dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam oleh Pemerintah;

Mengingat : 1. Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2015

tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 111) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2017 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 5);

2. Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016

tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan

Bidang Usaha yang Terbuka dengan

(2)

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 97);

3. Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2007

tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 2009 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2007 tentang Panitia

Nasional Pengangkatan Dan

PemanfaatanBenda Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam;

Memutuskan : PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMANFAATAN BENDA

BERHARGA ASAL MUATAN KAPAL YANG

TENGGELAM OLEH PEMERINTAH. BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam, yang selanjutnya

disebut BMKT, adalah benda berharga yang memiliki nilai sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan ekonomi yang tenggelam di wilayah perairan Indonesia, zona ekonomi eksklusif Indonesia dan landas kontinen Indonesia, paling singkat berumur 50 (lima puluh) tahun. [sumber dari Keppres Nomor 19 Tahun 2007]

2. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang

kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 2

Peraturan Menteri ini bertujuan untuk mengatur kegiatan survei, pengangkatan dan pemanfaatan BMKT.

BAB II PELAKSANA

Pasal 3

(1) BMKT merupakan benda yang dikuasai Negara Kesatuan Republik

(3)

(2) Pemerintah Pusat menetapkan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam yang selanjutnya disebut PANNAS BMKT, berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2009.

(3) Pengelolaan BMKT sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan

dengan tahapan:

a. survei;

b. pengangkatan; dan

c. pemanfaatan.

Pasal 4

(1) Dalam rangka survei dan pengangkatan BMKT sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a dan huruf b PANNAS BMKT membentuk Tim Kerja Pengangkatan dengan keputusan Menteri selaku Ketua PANNAS BMKT.

(2) Tim Kerja Pengangkatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri

atas:

a. Kementerian Kelautan dan Perikanan;

b.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;

c. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut; dan

d.Kepolisian Air dan Udara.

(3) Untuk kelancaran pelaksanaan survei dan pengangkatan BMKT, Tim

Kerja Pengangkatan dapat dibantu oleh tenaga ahli.

(4) Dalam hal lokasi pengangkatan BMKT berada di wilayah kewenangan

pemerintah provinsi, PANNAS BMKT menyampaikan pemberitahuan kepada gubernur dan dapat melibatkan pemerintah provinsi dalam proses pengangkatan BMKT.

(5) Tim Kerja Pengangkatan sebagaimana dimaksud pada (2) mempunyai

tugas:

a.melakukan survei BMKT;

b.melaporkan hasil survei kepada PANNAS BMKT; dan

c. meminta persetujuan pengangkatan kepada PANNAS BMKT.

(6) Tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditentukan setelah

Tim Kerja Pengangkatan mendapatkan rekomendasi pengangkatan oleh PANNAS BMKT.

(4)

BAB III SURVEI

Pasal 5

(1) Survei BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) huruf a

merupakan kegiatan identifikasi BMKT.

(2) Identifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan

cara:

a.penyelaman;

b.dokumentasi lokasi kapal, sebaran muatannya, dan kondisi

ekosistem di sekitarnya; dan

c. pengambilan sampel BMKT.

(3) Sampel BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berupa

bagian kapal dan/atau muatannya yang dianggap penting untuk penentuan pengangkatan dengan jumlah maksimal sebanyak 10 (sepuluh) buah.

Pasal 6

(1) Laporan hasil survei sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (5)

huruf b disampaikan Tim Kerja Pengangkatan kepada PANNAS BMKT.

(2) Laporan hasil survei sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat

hasil identifikasi dan usulan rencana pengangkatan BMKT.

(3) Hasil identifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari:

a. gambaran lokasi secara umum;

b. kondisi geologis

c. batimetri;

d. kondisi ekosistem di sekitar dan di lokasi BMKT;

e. kondisi fisik BMKT.

(4) Usulan rencana pengangkatan BMKT sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) paling sedikit memuat:

a. lokasi pengangkatan;

b. analisis keselamatan kerja;

c. personil dan tanggung jawab;

d. metode dan tata cara yang akan digunakan;

e. peralatan yang akan digunakan;

f. jangka waktu;

g. pembiayaan; dan/atau

h. rencana pemindahan dan penyimpanan.

(5) Berdasarkan laporan hasil survei sebagaimana dimaksud pada ayat

(2) PANNAS BMKT memberikan persetujuan atau penolakan pengangkatan BMKT dengan mempertimbangkan kerusakan ekosistem, keamanan, nilai penting, dan kondisi fisik BMKT.

(5)

(6) Persetujuan atau penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dituangkan dalam berita acara.

(7) Pertimbangan kerusakan ekosistem, keamanan, nilai penting, dan

kondisi fisik BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam Peraturan Menteri ini

Pasal 7

Dalam hal PANNAS BMKT menyetujui pengangkatan maka Tim Kerja Pengangkatan:

a.melaksanakan pengangkatan BMKT; dan

b.melaporkan hasil pengangkatan kepada PANNAS BMKT.

BAB IV PENGANGKATAN

Pasal 8

Pengangkatan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a berupa kegiatan:

a. pengambilan BMKT dari bawah air;

b. penanganan BMKT; dan

c. pemindahan BMKT.

Pasal 9

(1) Pengambilan BMKT dari bawah air sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 9 huruf a dilakukan Tim Kerja Pengangkatan dilaksanakan dengan tahapan:

a. persiapan sarana dan prasarana pengambilan BMKT, paling sedikit

meliputi: 1. kapal; 2. crane; 3. air lift; 4. lifting ballon; 5. keranjang; 6. alat selam;

7. grid frame; dan

8. alat keselamatan.

b. penentuan area kerja, melalui penempatan paling sedikit 4 (empat)

titik buoy;

c. dokumentasi;

d. pengambilan BMKT.

(2) Pengambilan BMKT dari bawah air sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) wajib memperhatikan:

(6)

b. keutuhan fisik BMKT; dan

c. kelestarian ekosistem sekitar BMKT.

Pasal 10

(1) Dokumentasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c

dilakukan pada saat sebelum pengambilan, pada saat pengambilan, dan setelah pengambilan BMKT.

(2) Dokumentasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling

sedikit dengan cara:

a. penggambaran kapal dan sebaran temuan, pencatatan, pemotretan

dan video; dan

b. pemetaan ekosistem/biota di sekitar BMKT, dan kualitas air.

(3) Dokumentasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan

mencatat area pengambilan BMKT berdasarkan grid dan kode baseline.

Pasal 11

(1)Penanganan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b

dilaksanakan di atas kapal.

(2)Penanganan BMKT di atas kapal sebagaimana dimaksud dalam pada

ayat (1) meliputi tahapan:

a.pembersihan BMKT;

b.pemberian label; dan

c. penempatan BMKT dalam wadah yang lembab dan/atau direndam

dengan air laut.

(3)Pembersihan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a

merupakan upaya pembersihan BMKT dengan mengunakan air laut yang dipompa tanpa mengubah kondisi fisik BMKT.

(4)Label sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b paling sedikit

memuat informasi area kerja, grid, jenis, dan jumlah BMKT. Pasal 12

(1) Pemindahan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf c

dilaksanakan setelah penanganan BMKT di atas kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.

(2) Pemindahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dari

atas kapal ke tempat penyimpanan sementara atau warehouse BMKT.

(3) Pemindahan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan

dengan cara pengepakan BMKT supaya tidak berbenturan.

(4) Dalam hal BMKT berada di tempat penyimpanan sementara

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pemindahan ke warehouse

(7)

(5) Pemindahan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memperhatikan:

a.jumlah dan jenis BMKT yang dimuat dalam database;

b.keamanan selama pengangkutan; dan

c. alat angkut yang digunakan dan dokumen jalan dari PANNAS

BMKT.

(6) Pemindahan BMKT dari atas kapal ke tempat penyimpanan sementara

atau warehouse BMKT dilaksanakan oleh Tim Kerja kepada Direktorat Jenderal sebagai pengelola warehouse wajib dituangkan dalam Berita Acara Pemindahan BMKT.

Pasal 13

(1) Setelah BMKT dipindahkan ke dalam warehouse BMKT, Pengelola

Warehouse melakukan:

a. desalinasi;

b. pemeriksaan ulang;

c. penghitungan ulang;

d. pencatatan ulang; dan

e. penyimpanan BMKT.

(2) Desalinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a wajib

memperhatikan:

a. material penyusun BMKT;

b. derajat keasaman air desalinasi; dan

c. sirkulasi air desalinasi.

(3) Pemeriksaan ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,

penghitungan ulang BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dan pencatatan ulang BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan melalui tahapan:

a.pemberian label hasil pemeriksaan ulang, penghitungan ulang, dan

pencantatan ulang;

b.pendokumentasian jumlah, jenis, kondisi, dan/atau kerusakan

BMKT;

c. pembuatan Berita Acara Pemeriksaan dan Penghitungan Ulang

BMKT; dan

d.penyimpanan BMKT di tempat yang telah ditentukan.

(4) Penyimpanan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e

wajib memperhatikan:

a.jarak penempatan BMKT;

b.suhu;

c. jenis alat penyimpanan;

d.identitas BMKT; dan

(8)

Pasal 14

(1) Pelaksanaan desalinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat

(2) terhadap BMKT dengan material organik dilakukan secara terpisah dengan BMKT dengan material non-organik.

(2) Pelaksanaan Desalinasi BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dihentikan apabila derajat keasaman air desalinasi telah mencapai pH 7.

Pasal 15

Tim Kerja wajib melaksanakan rehabilitasi terhadap kerusakan ekosistem akibat pengangkatan BMKT.

BAB V PEMANFAATAN

Pasal 16

Pemanfaatan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c, untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pariwisata.

Pasal 17

(1)BMKT yang diangkat selanjutnya ditetapkan sebagai BMN.

(2)Tata cara penetapan status penggunaan BMN sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.

(3)BMKT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dimanfaatkan oleh

kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang mengajukan penetapan status penggunaan.

BAB VI PENGAWASAN

Pasal 18

(1)Pengawasan dilaksanakan pada saat survei dan pengangkatan BMKT.

(2)Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi

pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.

(3)Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh

direktur jenderal yang membidangi pengawasan dan dapat bekerja sama dengan K/L terkait dan Pemda sesuai dengan kewenangannya.

(4)Ketentuan lebih lanjut tata cara pengawasan diatur dalam peraturan

(9)

BAB VII

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 19

BMKT yang sudah diangkat dan menjadi milik negara pemanfaatannya digunakan untuk kepentingan pariwisata dan pendidikan.

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 20

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

(10)

KRITERIA PERTIMBANGAN PENGANGKATAN BMKT OLEH PEMERINTAH

No Kriteria Definisi Bobot Skor Nilai

(bobot × skor) Keterangan

1 Kerusakan ekosistem Dampak pengangkatan terhadap ekosistem di sekitar BMKT 20 1 20 Ekosistem rusak (>50%)

2 40 Sebagian ekosistem rusak (20 - 50%)

3 60 Tidak merusak/ekosistem minim (<20%)

2 Kemudahan Pengambilan BMKT

Pengambilan dari dasar laut

10 1 10 Dalam dan/atau sebagian besar terpendam dalam sedimen dasar laut,

dan memerlukan peralatan berat untuk menjangkaunya/tidak mudah (>60%)

2 20 terjangkau, dan sebagian terpendam dalam seabed/cukup mudah (30 -

60%)

3 30 Dangkal, dan sebagian besar BMKT terjangkau dipermukaan dan tanpa

memerlukan alat berat untuk mengangkat/mudah (<30%) 3 Nilai penting BMKT Keterkaitan dengan sejarah/politik/ kedaulatan

40 1 40 Seluruh BMKT tidak berkaitan langsung dengan

sejarah/politik/kedaulatan Indonesia/nilai barang kurang penting

2 80 Sebagian BMKT tidak berkaitan langsung dengan

sejarah/politik/kedaulatan Indonesia/nilai barang cukup/sebagian penting

NOMOR /PERMEN-KP/2017 TENTANG

TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMANFAATAN BENDA BERHARGA ASAL MUATAN KAPAL YANG TENGGELAM OLEH PEMERINTAH

(11)

Indonesia/Nilai Barang

3 120 Seluruh BMKT berkaitan langsung dengan sejarah/bagi Indonesia/nilai

barang penting 4 Kondisi fisik

BMKT

Keutuhan fisik BMKT

30 1 30 Kondisi fisik BMKT tidak utuh (<20%)

2 60 Kondisi fisik BMKT sebagian utuh (20 - 60%)

3 90 Kondisi fisik BMKT utuh (>60%)

Keterangan:

Berdasarkan kriteria pertimbangan, maka terhadap BMKT diberikan:

1. persetujuan pengangkatan:

a. apabila mendapatkan nilai total 300;

b. apabila mendapatkan nilai total diantara 200 dan 300 dan nilai penting BMKT 2 atau 3; atau

2. penolakan pengangkatan:

a. apabila mendapatkan nilai total diantara 200 dan 300 dan nilai penting BMKT 1;

b. apabila nilai total tidak lebih dari 200.

Referensi

Dokumen terkait

Mengenai tindak pidana ringan, dalam Pasal 205 ayat (1) KUHAP, dikatakan bahwa yang diperiksa menurut acara pemeriksaan tindak pidana ringan ialah perkara yang diancam

Atrium kiri juga dapat memodulasi pengisian ventrikel kiri melalui tiga komponen yang merupakan fungsi atrium kiri yaitu: (1) sebagai reservoar atau penampungan selama

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang return saham JII (Jakarta Islamic Index) sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi investor akan

Pasca produksi merupakan salah satu tahap dari proses pembuatan film. Tahap ini dilakukan setelah tahap produksi film selesai dilakukan. Pada tahap ini terdapat beberapa

Dari pemaparan tersebut mengenai toleransi dan juga Banser sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai bagaimana peran Banser

Sehati Gas dalam hal pengarsipan dan pencatatan penjualan dan produksi tabung.Sistem pengarsipan dan pencatatan sebelumnya menggunakan sistem manual sehingga

Berdasarkan dari latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti “ Hubungan Antara Pengetahuan, Status Gizi dan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Fe dengan

OCBC and/or its related and affiliated corporations may at any time make markets in the securities/instruments mentioned in this publication and together with