BAB I PENDAHULUAN. sebagai prinsip utama dalam hidup. Karakter kasundaan yang dimaksud adalah cageur

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia memiliki banyak ragam suku bangsa dan kebudayaan yang salahsatunya adalah etnis sunda. Sunda merupakan etnis yang berasal dari propinsi Jawa Barat yang kini masyarakatnya telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Menurut Maryati Sastrawijaya dalam Rouffaer (1905:16) kata Sunda berasal dari akar kata suddha dalam bahasa sanksekerta yang memiliki pengertian bersinar, terang, berkilau, putih (Maryati Sastrawijaya dalam Williams 1872:1128 dan Eringa

1949:289)1. Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter kasundaan sebagai prinsip utama dalam hidup. Karakter kasundaan yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas).

Orang Sunda mayoritas beragama Islam memiliki pandangan hidup yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya dan tetap dijalankan hingga saat ini tidak bertentangan dengan norma ajaran agama Islam. Orang Sunda melandasi hubungan antara sesama manusia dengan sikap “silih asih, silih asah, dan silih asuh”, yang memiliki arti harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban,

1

(2)

kerukunan, kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan. Pandangan hidup tersebut yang mempertahankan kebudayaan sunda dapat bertahan walaupun orang sunda telah banyak yang melakukan transmigrasi keluar dari Pulau Jawa. Berdasarkan hasil sensus penduduk Indonesia dari Badan Pusat Statistik 2011, etnis sunda merupakan etnis terbesar kedua di Indonesia yang masyarakatnya telah tersebar ke seluruh wilayah di Indonesia.

Penyebaran masyarakat Sunda ke Sumatera Utara pertama kali datang pada masa pemerintahan Belanda sekitar awal tahun 1900an sebagai kuli yang dipekerjakan di perusahan perkebunan Deli Matschapi2 yang didatangkan dari pulau Jawa3 yang pada waktu itu dilanda kemiskinan dan banyaknya pengangguran. (Irfas dalam Buiskool 2005:274-5). Sebagian kecil para kuli dari Jawa itu adalah orang Sunda. Setelah kontraknya habis, para kuli itu tidak kembali ke Jawa, namun tetap tinggal dan menetap di Sumatera Utara (Irfas dalam Hartono 2005:4334).

Kehidupan masyarakat Sunda di pulau Jawa yang terus memelihara kebudayaan upacara-upacara adat dan juga mempengaruhi untuk masyarakat Sunda

2

Deli Maatschappij adalah perusahaan budidaya tembakau deli yang didirikan Jacob Nienhuys dan Peter Wilhelm Janssen pada 1869. Pada abad ke-19, Deli Maatschappij mengeksploitasi lahan seluas 120.000 hektar. Aktivitas perusahaan ini mendorong banyak perusahaan sejenis dari Eropa membuka lahan di Tanah Deli. Kantor pusat Deli Maatschappij semula di Jalan Diponegoro (sekarang kantor gubernur Sumatera Utara) dan kemudian dipindahkan ke Jalan Tembakau Deli dekat pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura.

3

Para kuli yang dipekerjakan tak hanya berasal dari pulau Jawa, Deli Matschapij juga mengimpor kuli orang Cina dan orang India dari P. Penang dan Singapura. Ini dilakukan karena penduduk Sumatera (Melayu dan Batak) tidak tertarik dengan kerja perkebunan. Diperkirakan tiga ratus ribu orang Cina telah didatangkan ke Sumatera antara tahun 1870 s.d. 1930, dan dua puluh ribu orang Jawa didatangkan pada awal 1900-an (Buiskool 2005: 275).

4

Skripsi Departemen Etnomusikologi Studi Deskripsi Upacara Mapag Penganten Adat Sunda Di Kota Medan.

(3)

yang telah berpindah dari Tanah Sunda5 ke pulau Sumatera. Dalam tulisan ini penulis akan membatasi wilayah penelitian yang hanya melihat serta meneliti pada komunitas Sunda di Sumatera Utara, khususnya di kota Medan dalam konteks upacara perkawinan adat sunda. Etnis Sunda kaya akan kesenian tradisional baik dalam bidang musik yangterkenal dengan repertoar musik gamelan degung untuk iringan lagu-lagu khas Sunda yang dinyanyikan oleh seorang pesinden (penyanyi khas lagu-lagu sunda), selain itu etnis Sunda juga memiliki kesenian dalam bidang pewayangan yang terkenal dengan kesenian wayang golek yang merupakan pertunjukan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan kulit hewan, yang dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang biasa disebut dalang. Kesenian lain yang dimiliki etnis Sunda adalah seni tari tradisional. Ada berbagai jenis tari yang terkenal dalam etnis Sunda seperti tari topeng, tari jaipong dan tari merak. Tari merak inilah yang akan menjadi topik utama pembahasan penulis dalam penelitian ini.

Dari beberapa buku dan hasil sumber bacaan lainnya serta hasil dari wawancara dengan bapak Ade Herdiyat yang merupakan seorang tokoh seniman Sunda, penulis mendapatkan informasi bahwa tari merak merupakan salah satu tari kreasi baru yang diciptakan pada tahun 1950 an oleh seorang koreografer bernama Raden Tjetje Somantri yang telah mengalami perkembangan koreografi baru oleh

5

Tanah Sunda sebagai tempat asal orang Sunda yang sering disebut parahyangan (tempat para hyang atau

dewa) atau pasundaan ( pa-Sunda-an, tempat tinggal orang Sunda). Sekarang menempati wilayah administrative provinsi Jawa Barat, Provinsi Baten dan sebagian kecil wilayah DKI Jakarta.

(4)

Dra. Irawati Durban pada tahun 1965 dan terjadi revisi ulang gerakan pada tahun 1985 yang diajarkan kepada Romanita Santoso pada tahun 1993.

Tari merak ini dulunya merupakan sebuah tarian penyambutan selamat datang kepada seorang raja atau tamu yang dianggap penting lainnya yang dilakukan oleh minimal 2 penari dan beberapa orang penabur bunga yang dipertunjukan pada upacara-upacara adat tertentu.Namun seiring berjalannya waktu, tari merak sekarang ini telah menjadi tari penyambutan selamat datang terhadap rombongan pengantin pria ketika menuju pelaminan dalam upacara perkawinan adat sunda dan menjadi tari pertunjukan yang menjadi hiburan masyarakat umum.

Tari merak yang umumnya selalu ditarikan oleh seorang wanita yang menggunakan kostum tari yang seluruhnya dihiasi payet penuh warna-warna mencolok seperti merah, biru, hijau, kuning, emas, dan warna lainnya yang menggambarkan dari keindahan bulu dan keanggunan dari seekor burung merak jantan dan juga menggunakan hiasan kepala berbentuk kepala burung merak yang akan bergoyang mengikuti gerakan kepala sang penari, serta memakai kain yang dipakai seperti sayap ini menari menyambut kedatangan pihak pengantin pria.

Perlengkapan kostum tari merak terdiri dari beberapa bagian seperti : siger (hiasan kepala penari berbentuk kepala burung merak), susumping (hiasan telinga),

garuda mungkur (hiasan rambut), kemben (kain penutup dada), apok (kain penutup

leher dan bagian dada atas), sayap (kain yang dipakai menutupi tangan), sabuk (kain berbentuk tali pinggang), sampur merak (kain panjang yang diikatkan dipinggang

(5)

dan ditutupi oleh sabuk), rok (kain penutup bagian bawah), gelang (kain yang di ikatkan di pergelangan tangan), dan kilat bahu (kain yang diikatkan di bahu).

Pertunjukan tari merak yang menonjolkan unsur keindahan seni tari dari sebuah olah gerak tubuh yang digambarkan dalam bentuk gerakan-gerakan tingkah laku burung merak jantan yang pesolek yang akan melenggang, mengembangkan sayap, melenggak lenggokan pinggul, menggerakan leher kekanan dan kiri dengan bangga mempertontonkan keindahan bulu ekornya yang indah untuk menarik hati seekor burung merak betina dan berlomba-lomba untuk mencari pasangan.

Gerakan olah tubuh yang ada di dalam tarian merak dasarnya antara lain gerakan terbang, gerakan ukel, gerakan kepat rineka, gerakan nyawang, gerakan kokoreh, dan gerakan hormat. Perkembangan waktu membuat koreografi tari merak dapat ditambah dengan gerakan-gerakan kreasi baru namun tetap harus memelihara gerakan dasarnya.

Dalam pertunjukannya tari merak dapat di iringi oleh musik rekaman dalam sebuah kaset yang diputar dengan VCD/MP3 player atau dengan permainan repertoar instrumental musik khas Sunda yang dimainkan langsung oleh panayangan (pemain gamelan) menggunakan seperangkat gamelan degungyang terdiri dari bonang (15-18

gong-chime set), saron (metallaphone), jenglong (8 gong-chime set), goong, kendang

(double-sided barrel drum set) dan suling degung (end-blown flutes). Namun pada penelitian ini, penulis akan membahas dan menganalisis musik iringan tari secaralangsung oleh repertoar musik gamelandegung. Tjarmedi, seperti yang dikutip

(6)

Herdini, meyakini bahwa seni degung lahir sekitar abad ke-14, dimana Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran sebagai yang pertama menciptakannya (Ali R. Et. All dalam Herdini

1992:346). Ada pula pendapat lain berasal dari Atik Soepandi yang menyatakan bahwa gamelan degung berasal dari perkembangan goong renteng7 yang telah di rekonstruksi

kembali oleh Pak Idi yang merupakan seorang nayaga8, menjadi gamelan degung pada tahun 1920-an (Ali R. Et. All dalam Soepandi,1974:8).

Tari merak merupakan sebagai salah satu bagian pelengkap dan pendukung tak langsung dalam proses mapag pengantenpada upacara perkawinan adat Sunda. Meskipun tarian ini tidak ditampilkan, ritual mapag pengantenakan tetap bisa dilaksanakan karena mapag penganten merupakan salah satu ritual yang menjadi bagian dari seluruh rangkaian upacara perkawinan adat Masyarakat Sunda.

Tulisan ini akan membahas dan menjelaskan pertunjukan tari merak dalam konteks upacara perkawinan karena saat ini tarian ini lebih sering dilakukan dalam upacara perkawinan dibandingkan dengan upacara adat lainnya di kota Medan. Maka penulis akan menyimpulkan sedikit tentang perkawinan. Perkawinan merupakan salah suatu perbuatan mulia dan termasuk salah satu ibadah dalam ajaran agama Islam. Salah satunya perkawinan adat masyarakat Sunda. Perkawinan dalam adat Sunda memiliki serangkaian dan proses yang harus dilakukan, proses ini disebut

6

Dalam buku Mengungkap Nilai Tradisi pada Seni Pertunjukan Jawa Barat. Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional 2008.

7

Goong renteng berasal dari salah satu instrument berbentuk enam buah gong yang digantung pada

sederetan rancak atau rak. Ensambel goong renteng terdiri dari kobuang (gong-chimes), saron (metallophones), cecempres (metallophones), beri (goong-chimes), goong alit (goong yang berukuran kecil), dan goong gede (goong yang berukuran besar). Lihat Soepandi (1974), Heins (1977), dan Herdini (1992).

8

(7)

mapag penganten. Secara etimologi, kata mapag dalam bahasa Sunda berarti

menjemput atau menyambut dan penganten adalah orang yang akan melangsungkan perkawinan. Maka mapag penganten merupakan proses penyambutan kedatangan pengantin dan rombongan keluarganya. Rombongan yang disambut kedatangannya adalah pihak laki laki, karena upacara perkawinan adat Sunda umumnya dilakukan di kediaman pihak pengantin wanita.

Perkawinan adat Sunda yang dilandasi oleh ajaran agama Islam ini diawali dengan melakukan proses akad nikah dan mengucapkan Ijab Qabul9 yang biasa dilaksanakan dimesjid atau dirumah, tergantung dari kesepakatan pihak keluarga pengantin yang dipimpin oleh seorang tuan kadi dari KUA (Kantor Urusan Agama).

Prosesi pekawinan adat Sunda berlanjut dengan datangnya pihak pengantin pria dan rombongan keluarganya ke-kediaman pengantin wanita. Rombongan keluarga harus menunggu persiapan dari pihak keluarga pengantin wanita yang akan melakukan prosesi upacara mapag (menyambut).

Upacara mapag ini secara keseluruhan akan dipimpin oleh seorang penetua adat atau biasa disebut Ki Lengser. Ki Lengser juga bertugas untuk memberi tanda kepada para panayangan10 (pemain musik), penari merak, penabur bunga, punggawa (prajurit penjaga), dan pihak keluarga pengantin wanita yang akan menyambut kedatangan pengantin pria, selama upacara dilaksanakan.

9

Ijab Qabul merupakan susunan rangkaian kata yang akan di ucapkan oleh Orang tua atau wali dari pihak

pengantin wanita dengan cara menjabat tangan calon pengantin pria dan mengucapkan rangkaian kata tersebut untuk menikahkan anak nya (calon pengantin wanita) kepada calon pengantin pria.

10

(8)

Upacara ini dimulai dengan dimainkannya repertoar gendhing bubuka dan Ki

Lengser mempersilahkan para punggawa untuk mengawal pengantin pria dan

rombongannya. Proses berlanjut dengan berlangsungngya percakapan antara Ki

Lengser11dan ketua rombongan dari pihak pengantin pria lalu kemudian Ki Lengser mempersilahkan kepada para penari merak dan penabur bunga untuk menari menyambut kedatangan pengantin pria. Di depan rumah pihak pengantin wanita dan rombongan keluarga telah menanti, Ibu pengantin wanita akan mengalungkan bunga melati sebagai ucapan selamat datang kepada pengantin pria dan rombongan keluarganya.

Selanjutnya kedua mempelai akan melakukan ritual saweran12 yang

melambangkan kedua mempelai beserta keluarga berbagi rezeki dan kebahagiaan. Proses upacara berlanjut dengan melakukan ritual nincak endog (menginjak telur), pengantin pria akan menginjak sebutir telur yang kemudian pengantin wanita mencuci kaki pengantin pria sebagai tanda pengabdian istri kepada suami.

Selanjutnya kedua pengantin membakar harupat13 dan mencelupkannya kedalam kendi yang berisi air bunga yang kemudian dipecahkan sebagai tanda hilangnya segala sifat buruk dari kedua mempelai dan memecahkan masalah secara bersama sama dalam membina suatu keluarga.

11seorang tokoh perwayangan yang mengabdikan hidupnya untuk melayani umat manusia

12

Kata sawer berasal dari kata penyaweran, yang dalam bahasa Sunda berarti tempat jatuhnya air dari atap rumah atau ujung genting bagian bawah. Pendapat lain mengatakan bahwa kata sawer berasal dari tempat berlangsungnya ritual tersebut yakni di panyaweran (di teras atau halaman).

13

Harupat adalah batang lidi pohon enau. Ada satu ungkapan bahasa Sunda yang berbunyi: getas harupateun, yang berarti putus harapan. Masyarakat Sunda percaya dengan membakar harupat, maka

sifat putus asa (yang disimbolkan oleh harupat yang rapuh) dalam menjalani kehidupan rumah tangga akan hilang, dan untuk menghindari perceraian.

(9)

Setelah prosesi itu selesai, kedua mempelai melanjutkan ritual buka pintu. Buka

pintu adalah salah satu ritual yang bermakna pengantin pria akan memasuki rumah

dengan tatakrama dan sopan santun yang dimulai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain) dan salam. Dengan demikian maka sahlah pengantin pria menjadi pemimpin rumah tangga di keluarga barunya.Buka pintu ini merupakan ritual penutup dari serangkaian ritual upacara mapag penganten.

Upacara ritual mapag penganten di Sumatera Utara tetap bertahan karena semakin banyaknya orang Sunda yang tinggal dan menetap di Sumatera Utara, khusunya di Medan ini sebagai pendukung upacara yang terus melaksanakan ritual ini sampai sekarang. Sebagai usaha agar tetap menjaga dan melestarikan identitas ke-Sunda-annya di kota Medan, maka dibentuklah satu institusi adat yang dinamakan dengan nama Paguyuban Wargi Sunda yang didirikan pada tanggal 27 Juni 1936. Paguyuban inilah yang melayani dan melestarikan keberlanjutan tradisi Sunda di Medan termasuk terus memelihara dan menampilkan tari merak pada upacara adat perkawinan Sunda.

Paguyuban inilah yang menjadi wadah terbentuknya grup tari Sunda yang ada di kota Medan, namun karna berputarnya waktu dan pertumbuhan dari banyaknya sanggar tari di kota Medan, tari merak kini sudah bisa di tarikan oleh siapa saja, tidak harus dari grup Paguyuban itu sendiri.

Hal-hal tersebutlah yang menjadi perhatian penulis untuk lebih dalam melihat dan meneliti penyajian pertunjukan tari merak ini dalam suatu upacara adat perkawinan

(10)

masyarakat Sunda yang tetap dapat terus terpelihara meski berada dalam daerah perantauan di kota Medan. Semua hal yang meliputi tari, musik, perlengkapan serta persiapan yang dilakukan dalam penyajian serta komponen-komponen yang menjadi pendukung pertunjukan akan menjadi bahan penelitian penulis. Oleh karena itu penulis akan meneliti dan membahas tulisan ini untuk dijadikan skripsi dengan judul “Deskripsi Pertunjukan Tari Merak Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Adat

Sunda Di Kota Medan”.

1.2. Pokok Permasalahan

Hal hal yang menjadi pokok permasalahan oleh penulis, yaitu :

1. Bagaimana deskripsi pertunjukan tari merak pada upacara perkawinan masyarakat adat Sunda di kota Medan?

2. Apa saja perlengkapan dan pendukung pertunjukan tari merak dalam upacara perkawinan masyarakat adat Sunda di kota Medan ?

3. Bagaimana struktur musik dalam pertunjukan tari merak pada upacara masyarakat adat Sunda di kota Medan?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

(11)

1. Untuk mengetahui deskripsi pertunjukan tari merak dalam upacara perkawinan Masyarakat adat Sunda di kota Medan.

2. Untuk mengetahui perlengkapan dan pendukung pertunjukan tari merak dalam upacara perkawinan masyarakat adat Sunda di kota Medan.

3. Untuk mengetahui struktur musik dalam pertunjukan tari merak pada upacara masyarakat adat Sunda di kota Medan.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Adapun maanfaat dari penelitian si penulis ini adalah :

1. Sebagai media informasi bagi masyarakat Sunda dan masyarakat umum kota Medan akan kebudayaan Sunda di kota Medan.

2. Sebagai bahan referensi tambahan dan dokumentasi dalam disiplin Etnomuikologi yang berhubungan dengan tarian masyarakat adat sunda di kota Medan.

3. Sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Seni (S.Sn) di Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

(12)

1.4 Konsep dan Teori

1.4.1 Konsep

Koentjaraningrat (1980:207), menyebutkan bahwa konsep adalah suatu sistem pedoman hidup dan cita-cita yang akan dicapai oleh banyak individu dalam suatu masyarakat. Masing-masing suku bangsa mempunyai istilah dalam menyebut musik yang berbeda dengan suku lain. Dalam tulisan ini dikemukakan konsep-konsep yang berkaitan dengan judul skripsi “Deskripsi Pertunjukan Tari Merak Pada Upacara

Perkawinan Masyarakat Adat Sunda di Kota Medan”

Beberapa kata kunci yang menjadi permasalahan dalam konteks penelitian yang dikemukakan penulis adalah:

1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:258), deskripsi berarti pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci.

2. Seni pertunjukan merupakan tontonan bernilai seni drama, tari, musik yang disajikan sebagai pertunjukan di depan penonton (Sal Mugiarto, 1996:156). 3. Konsep tentang gerak tari mengacu pada aspek ruang, waktu, dan tenaga. Tari

ialah segala gerak yang berirama atau sebagai segala gerak yang dimaksudkan untuk menyatakan keindahan ataupun kedua-duanya (Tengku Luckman Sinar,

1996:5). Tari merak dalam tulisan ini adalah sebuah tarian tradisional dari Jawa

Barat yang gerakan gerakannya disimbolkan dari keanggunan seekor burung merak jantan yang memiliki keindahan sendiri dengan bulu ekornya yang

(13)

berwarna warni yang kini telah menjadi salah satu bagian dan dipertunjukan dalam upacara perkawinan masyarakat sunda.

4. Pengertian masyarakat dapat dipahami sebagai suatu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi dan bertingkah laku menurut suatu sistem adat tertentu yang bersifat kontinu, di mana setiap anggotanya terikat oleh satu rasa identitas bersama (Koentjaraninngrat, 1986:160).

1.4.2. Teori

Teori digunakan sebagai landasan berpikir untuk mengembangkan sekumpulan konsep dan pendekatan dalam menjawab permasalahan yang akandibahas dalam tulisan ini. Untuk itu penulis mencari dan mengambil beberapa teori yang dianggap relevan dan mendukung dalam tulisan ini.

Teori memiliki tujuh pengertian : (1) penerapan ilmu pengetahuan, (2) prinsip dasar atau penerapan ilmu pengatahuan, (3) abstrak pengetahuan yang antonim dengan praktik, (4) rancangan hipotesis untuk menangani berbagai fenomena, (5) hipotesis yang mengarahkan seseorang, (6) dalam matematika adalah teorema yang menghadirkan pandangan sistematik dari berbagai subjek, dan (7) ilmu pengetahuan tentang komposisi musik (Suhartono dalam Marckward, 1990:1302)14.

Untuk mengkaji pelestarian tari merak yang tetap berkembang di kota Medan, penulis menggunakan teori disfusi yang mengemukakan bahwa suatu kebudayaan dapat menyebar ke kebudayaan lain melalui kontak budaya. Berdasarkan teori tersebut,

14

(14)

kebudayaan Sunda yang ada di Medan termasuk kedalam teori disfusi stimulus, yaitu kebudayaan Sunda berinteraksi melalui serangkaian pertemuan dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada di Medan, seperti kebudayaan-kebudayaan Batak. Pertemuan kebudayaan-kebudayaan ini mempengaruhi pola hidup orang Sunda, yang juga berimplikasi pada pertunjukan tari merak dalam upacara perkawinan adat Sunda.

Untuk mengkaji pertunjukan tari merak, penulis juga menggunakan teori dari

Sal Mugiarto dalam Milton Siger (MSPI, 1996:164-165) yang menjelaskan bahwa

pertunjukan selalu memiliki : (1) waktu pertunjukan yang terbatas, (2) awal dan akhir, (3) acara kegiatan yang terorganisir, (4) sekelompok pemain, (5) sekelompok penonton, (6) tempat pertunjukan dan, (7) kesempatan untuk mempertunjukannya.

Untuk menggambarkan makna yang dimiliki pada pertunjukan tari merak Sunda, penulis menggunakan pendekatan yang dikatakan Soedarsono (1972:81-98) yang mengatakan bahwa tari adalah seni yang memiliki substansi dasar yaitu gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dimana gerakan itu memiliki hal-hal yang indah dan menggetarkan perasaan manusia, yang didalamnya mengandung maksud-maksud tertentu dan juga mengandung maksud-maksud simbolis yang sukar untuk dimengerti.

Untuk membahas musik iringan tari merak dan struktur melodi, penulis menggunakan teori weighted scale oleh William P. Malm (1979:9) bahwa terdapat 8 hal yang harus diperhatikan yaitu: (1) scale (tangga nada), (2) nada dasar, (3) range (wilayah nada), (4) frequency of notes (jumlah nada), (5) interval, (6) cadence patterns (pola-pola kadens), (7) formula melodi, (8) contour (kontur).

(15)

1.5 Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis memakai metode penelitian kualitatif yakni merupakan metodologi penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif yaitu rangkaian kegiatan atau proses menjaring data dan informan yang bersifat sewajarnya mengenai suatu masalah dalam kondisi aspek atau bidang kehidupan tertentu pada objeknya (Hadari dan Mimi Martini, 1994:176).

Ada dua hal yang esensial untuk melakukan aktivitas penelitian dalam disiplin etnomusikologi, yaitu kerja lapangan (field work) dan kerja laboraturium (desk work) (Bruno Nettl, 1964:62).

Untuk mendapatkan gambaran tentang musikal dalam tari merak, penulis melakukan pentraskripsian terhadap musik yang dipakai dalam pertunjukan tersebut. Transkripsi merupakan cara yang baik untuk dapat mempelajari aspek-aspek detail pada suatu musik dengan dua pendekatan: (1) menganalisa dan mendeskripsikan apa yang didengar, dan (2) mendeskripsikan apa yang dilihat dan menuliskannya di atas kertas dengan suatu cara penulisan tertentu (Netll, 1964:99-103). Transkripsi yang dilakukan oleh penulis yakni dengan cara merekam musik tari merak pada saat pertunjukan berlangsung, dan mengulang kembali serta menganalisis dalam proses kerja laboraturium.

(16)

1.5.1. Studi Kepustakaan

Sebagai pedoman untuk melakukan penelitian, penulis memulai dengan mencari

berbagai informasi awal melalui buku-buku, literatur, serta sumber bacaan lainnya tentang kebudayaan Sunda terutama tentang tari merak yang mendukung tentang dasar objek penelitian yang berguna untuk membantu memecahkan masalah dan melengkapi hal-hal yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Dari beberapa buku,skripsi sarjana, dan sumber bacaan lainnya maka penulis mendapatkan hal-hal dianggap penting seperti konsep, teori, dan metode penelitian yang dapat digunakan sebagai landasan dalam penelitian dan pembahasan tulisan ini.

1.5.2 Penelitian Lapangan

1.5.2.1. Observasi

Dalam proses penelitian lapangan, penulis melakukan observasi pengamatan

dan pengambilan data melalui perekaman audio dan visual secara langsung serta mencatat hal-hal yang penting dan berkaitan dengan objek penlitian dalam keseluruhan proses pertunjukan tari merak dalam konteks upacara perkawinan adat Sunda di kota Medan.

1.5.2.2 Wawancara

Proses kerja berlanjut dengan melakukan wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada beberapa narasumber. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara berfokus (focus interview) yakni memberikan pertanyaan yang berpusat

(17)

pada pokok permasalahan. Selain itu penulis juga melakukan teknik wawancara bebas

(free interview) yakni memberikan pertanyaan yang tidak berfokus pada pokok

permasalahan. Pertanyaan dilakukan dengan melihat kejadian yang berlangsung berguna untuk memperoleh data yang beraneka ragam namun tetap pada inti permasalahan yang dibahas dalam penelitian. Proses wawancara menggunakan

gadgetSamsung YP-G70 yang selanjutnya penulis melakukan pengulangan mendengarkan hasil wawancara yang berfungsi untuk mengambil point penting yang dibutuhkan dalam penelitian.

Penulis mewawancarai dan mengumpulkan data dari berbagai narasumber seperti penari, pemusik dan orang-orang yang terlibat langsung dalam pertunjukan tari merak Sunda. Seperti yang dikatakan oleh Koentjaraningrat (1997:163-164) bahwa terdapat dua jenis informan, yaitu informan pangkal dan informan pokok.

1.5.2.3 Perekaman

Perakaman audio-visual juga penulis lakukan selama pertunjukan berlangsung. Penulis menggunakan gadget Samsung YP-G70 serta bantuan team Wedding Video

Shooting yang menggunakan kamera video Panasonic serta kamera foto Canon. Proses

perekaman dimulai dari dengan merekam video selama pertunjukan tari merak berlangsung. Kemudian penulis melakukan kerja laboraturium untuk mendengarkan serta melihat kembali hasil rekaman untuk mendata dan mengambil data sesuai kebutuhan penelitian. Penulis juga menggunakan beberapa aplikasi pendukung untuk mendapatkan gambar dari hasil rekaman video.

(18)

1.5.3 Kerja Laboraturium

Semua data yang dikumpulkan dari hasil penelitian lapangan serta bahan literatur dari berbagai sumber studi kepustakaan yang telah didapatkan, selanjutnya penulis akan melakukan pembahasan, penganalisisan serta penyusunan tulisan yang dilakukan dalam tahap akhir kerja laboraturium. Semua hasil data akhir yang telah dikoreksi akan disusun secara sistematis dengan mengikuti kerangka penulisan yang benar.

1.6 Lokasi Penelitian

Pemilihan lokasi penelitian yang dilakukan penulis adalah di kota Medan yang salah satu contoh langkah awal penelitian pada suatu pertunjukan tari merak di Hotel Madani yang terletak di Jl. Sisingamangaraja Medan dalam acara resepsi perkawinan Rengga dan Anggita pada tanggal 21 September 2013 yang menjadikan tari merak sunda dalam bagian dari proses upacara perkawinan adat yang berlangsung.

Penulis dapat melihat langsung proses pertunjukan tari merak serta repertoar musik pengiring tari merak sunda yang penari dan pemusiknya juga merupakan mahasiswa dan mahasiswi serta alumni dari Departemen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara. Penulis juga melakukan Tanya jawab dengan bapak Ade Herdiyat

(19)

selaku pimpinan dari upacara adat mapag penganten dan selaku tokoh musisi tradisional Sunda pada acara tersebut. Untuk mendapatkan informasi tambahan data, penulis juga mencari informasi dari beberapa lokasi penelitian yang menyajikan pertunjukan tari merak sunda yang ada di kota Medan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :