TUGAS AKHIR – SS 145561
PENGELOMPOKAN KECAMATAN BERDASARKAN
POTENSI PETERNAKAN DI KABUPATEN
TULUNGAGUNG
MOCH. HAICHAL FICRY
NRP 1313 030 080
Dosen Pembimbing
Dr. Wahyu Wibowo, S.Si, M.Si
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
JURUSAN STATISTIKA
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
PENGELOMPOKAN KECAMATAN BERDASARKAN
POTENSI PETERNAKAN DI KABUPATEN
TULUNGAGUNG
MOCH. HAICHAL FICRY
NRP 1313 030 080
Dosen Pembimbing
Dr. Wahyu Wibowo, S.Si., M.Si.
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
JURUSAN STATISTIKA
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
FINAL PROJECT – SS 145561
CLASSIFICATION OF SUBDISTRICT THE
POTENTIAL OF LIVESTOCK IN THE DISTRICT
TULUNGAGUNG
MOCH. HAICHAL FICRY
Student Reg No. 1313 030 080
Supervisor
Dr. Wahyu Wibowo, S.Si., M.Si.
DIPLOMA III STUDY PROGRAM
DEPARTMENT OF STATISTICS
Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
vii
PENGELOMPOKAN KECAMATAN BERDASARKAN POTENSI PETERNAKAN DI KABUPATEN
TULUNGAGUNG
Nama Mahasiswa
: Moch. Haichal Ficry
NRP
: 1313 030 080
Program Studi
: Diploma III
Jurusan
: Statistika FMIPA ITS
Dosen Pembimbing : Dr. Wahyu Wibowo, S.Si, M.Si
ABSTRAKKabupaten Tulungagung adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur tepatnya didaerah selatan atau pesisir laut selatan. Salah satu dari aliran kas keluar bank adalah jumlah pencairan kredit. Berdasarkan geografisnya kabupaten Tulungagung sangatlah memiliki potensi untuk bisa mengembangkan peternakannya. Mayoritas mata pencarian masyarakat Tulungagung adalah bercocok tanam dan rata-rata yang bercocok tanam. Metode statistik yang digunakan adalah analisis yang digunakan yaitu analisis klaster dengan metode ward’s. Data yang digunakan adalah data sekunder yang didapatkan dari Publikaasi BPS Kabupaten Tulungagung yaitu sektor peternakan dari 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung tahun 2015. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa Daerah seperti kecamatan Sumbergempol, Ngantru, dan Sendang merupakan kecamatan yang dominan terhadap ternak jenis sapi dan kambing. Sedangkan kecamatan Ngantru dan Karangrejo merupakan kecamatan yang dominan terhadap ternak unggas jenis ayam ras dan ayam pedaging.
Kata Kunci : Kabupaten Tulungaung,Klaster, Metode Ward’s, Peternakan
ix
CLASSIFICATION OF SUBDISTRICT THE POTENTIAL OF LIVESTOCK IN THE DISTRICT TULUNGAGUNG
Student Name
: Moch. Haichal Ficry
Student Reg No.
: 1313 030 080
Study Program
: Diploma III
Department
: Statistika FMIPA ITS
Supervisor
: Dr. Wahyu Wibowo, S.Si, M.Si
ABSTRACTTulungagung is one of the counties located in East Java province precisely coastal areas south or south. One of the flow of cash out of banks is the amount of loan disbursement. Based on the geographical Tulungagung is has the potential to be able to develop his ranch. The majority of Tulungagung livelihoods are farming and the average farm. The statistical method used is the analysis used is the cluster analysis with Ward's method. The data used are secondary data obtained from BPS Publikaasi Tulungagung that the livestock sector of the 19 districts in Tulungagung in 2015. Based on the results of the analysis conducted showed that a region such as districts Sumbergempol, Ngantru, and Spring is a district that is dominant over livestock types of cows and goats. While districts Ngantru and Karangrejo a district that is dominant over the type of poultry broilers and broiler.
xi
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir yang berjudul PENGELOMPOKAN KECAMATAN BERDASARKAN POTENSI PETERNAKAN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG. Proses penyusunan laporan tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Wahyu Wibowo, S.Si, M.Si selaku dosen pembimbing tugas akhir dan Ketua Jurusan Diploma tiga Statistika yang selalu sabar dalam memberikan bimbingan kepada penulis.
2. Ibu Dra. Destri Susilaningrum, M.Si dan Ibu Dra. Sri Mumpuni Retnaningsih, MT selaku dosen penguji tugas akhir yang telah memberikan saran, kritikan, dan masukkan demi kesempurnaan laporan serta memberikan ilmu kepada penulis.
3. Ibu Dr. Santi Wulan Purnami, S.Si, M.Si selaku dosen wali yang telah memberikan semangat dan dukungan dalam penulisan laporan tugas akhir.
4. Badan Pusat Statistik Kabupaten Tulungagung yang sudah menyediakan data untuk penelitian
5. Seluruh karyawan jurusan Statstika ITS yang membantu penulis dalam memberikan sarana prasarana mulai dari sebelum pelaksanaan tugas akhir hingga pembuatan laporan. 6. Seluruh Keluarga yang memberikan doa, bimbingan, dukungan, motivasi, semangat, kasih sayang serta kesabaran dalam mendidik baik secara materiil, moral, maupun spiritual.
7. Teman - teman mahasiswa Statistika ITS Angkatan 2013, keluarga sigma 24 yang selalu memberikan semangat dan dukungan.
xii segala suasana.
9. Lintang, Mas Jefry, Hilmi, Reza, Dimas, Irul, Galih, Ossa, Ninggar, Yeni, Endic, Sandro, Udin, Haris, Apri, Diarista, Desi, Indra, Akim, dan seluruh teman-teman seperjuangan saat menjalani proses perkuliahan di Surabaya.
10. Semua pihak yang belum dapat disebutkan yang telah membantu dalam penyelesaian laporan tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar laporan ini dapat mencapai kesempurnaan.
Surabaya, Januari 2017 Penulis
xiii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
TITLE PAGE... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan ... 3 1.4 Manfaat ... 4 1.5 Batasan Masalah ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Statistika Deskriptif ... 5
2.1.1 Median ... 5
2.1.2 Varian ... 5
2.1.3 Minimum dan Maksimum ... 6
2.2 Metode Pengelompokan (Cluster Analysis) ... 6
2.2.1 Jarak Euclidian ... 7
2.2.2 MetodeWard’s... 7
2.2.3 Pseudo F-Statistic... 8
2.2.4 Uji Mann Whitney... 9
2.3 Peternakan ... 10
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sumber Data ... 11
xiv
3.4 Diagram Alir Penelitian... 13 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Peternakan di Kabupaten Tulungagung... 15 4.1.1 Karakteristik Ternak Besar ... 15 4.1.2 Karakteristik Ternak Unggas ... 20 4.2Pengelompokan Kecamatan Berdasarkan Potensi Ternak
Besar... 30 4.3Pengelompokkan Kecamatan Berdasarkan Potensi Ternak
Unggas... 38 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan... 47 5.2 Saran... 48 DAFTAR PUSTAKA
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 Wilayah Kabupaten Tulungagung... 11
Gambar 3.2 Variabel Penelitian ... 13
Gambar 4.1 Karakteristik Ternak Besar dan Kecil ... 16
Gambar 4.2 Karakteristik Ternak Sapi ... 18
Gambar 4.3 Karakteristik Ternak Kambing... 19
Gambar 4.4 Karakteristik Ternak Domba... 20
Gambar 4.5 Karakteristik Ternak Unggas ... 21
Gambar 4.6 Karakteristik Ternak Burung Puyuh ... 23
Gambar 4.7 Karakteristik Ternak Burung Dara... 24
Gambar 4.8 Karakteristik Ternak Ayam Kampung ... 25
Gambar 4.9 Karakteristik Ternak Ayam Ras ... 26
Gambar 4.10 Karakteristik Ternak Ayam Pedaging ... 27
Gambar 4.11 Karakteristik Ternak Itik ... 28
Gambar 4.12 Karakteristik Ternak Mentok ... 29
Gambar 4.13 Dendogram Wilayah Ternak Besar dan Kecil.. 30
Gambar 4.14 Peta Penyebaran Kelompok Ternak Besar dan Kecil... 32
Gambar 4.15 Dendogram Wilayah Ternak Unggas... 37
xvii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Variabel Penelitian ... 12 Tabel 4.1 Pseudo-F Kelompok Ternak Besar dan Kecil ... 31 Tabel 4.2 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Sapi ... 33 Tabel 4.3 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Kambing ... 34 Tabel 4.4 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Domba ... 35 Tabel 4.5 Nilai Pseudo-F Kelompok Ternak Unggas ... 37 Tabel 4.6 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Burung Puyuh... 39 Tabel 4.7 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Burung Dara ... 40 Tabel 4.8 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Ayam Kampung ... 41 Tabel 4.9 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Ayam Pedaging ... 42 Tabel 4.10 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Ayam Ras ... 43 Tabel 4.11 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Itik ... 44 Tabel 4.12 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak Mentok ... 45
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 Data Jumlah Ternak Besar setiap Kecamatan di
Kabupaten Tulungagung ... 51 Lampiran 2 Data Jumlah Ternak Unggas setiap Kecamatan
di Kabupaten Tulungagung... 52 Lampiran 3 Jumlah Kuadrat Euclidien Antar Kecamatan
Ternak Besar dan Kecil... 54 Lampiran 4 Pengelompokan Ternak Besar Tiap Kecamatan 59 Lampiran 5 Tahapan Pengelompokan Ternak Besar dan
Kecil... 60 Lampiran 6 Output Minitab Uji Mann Whitney Ternak
Besar dan Kecil ... 61 Lampiran 7 Jumlah Kuadrat Euclidien Antar Kecamatan
Ternak Unggas ... 65 Lampiran 8 Pengelompokan Unggas Tiap Kecamatan... 71 Lampiran 9 Tahapan Pengelompokan Ternak Unggas ... 72 Lampiran 10 Output Minitab Uji Mann Whitney Ternak
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangKabupaten Tulungagung adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur tepatnya didaerah selatan atau pesisir laut selatan. Batas administratif wilayahnya utara berbatasan dengan kabupaten Kediri, barat berbatasan dengan kabupaten Trenggalek, selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia, dan Timur berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Tulungagung memiliki luas wilayah 1.055,65 km2 terbagi dalam 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan dengan sekitar lebih dari satu juta jiwa yang mendiami kabupaten ini, daerah yang memiliki wilayah terluas secara berurutan yaitu Kecamatan Tanggunggunung, Kecamatan Kalidawir, Kecamatan Sendang, dan Kecamatan Pagerwojo dengan kepadatan penduduk rata-rata 962 jiwa per km2. Wilayah ini terbentang luas mulai dataran
rendah, sedang hingga dataran tinggi dengan konfigurasi datar hingga perbukitan dan pegunungan (BPS, 2016).
Berdasarkan geografisnya kabupaten Tulungagung memiliki potensi untuk mengembangkan bidang peternakan. Mayoritas mata pencarian masyarakat Tulungagung adalah bercocok tanam dan rata-rata yang bercocok tanam juga memiliki ternak, potensi pertanian sendiri cukup besar yaitu sekitar 42,93% dari luas lahan Kabupaten Tulungagung. Sektor pertanian dan peternakan sanggatlah mendominasi di Kabupaten Tulungagung. Menurut publikasi data Badan Pusat Statistika tahun 2015 Produk Domestik Regional Bruto kabupaten Tulungagung dari sektor pertanian adalah yang terbesar dari sektor lainya yaitu 22,37%. Dilihat dari tujuh sektor pertanian yaitu tanaman pangan, tanaman holtikultura semusim, perkebunan semusim, tanaman holtikultura tahunan, perkebunan tahunan, peternakan, dan perikanan. Di tahun 2015 PDRB dari sektor peternakan memiliki nilai sebesar 6,12% atau sekitar Rp 1.110.410.170.000 yang berada dibawah sektor tanaman pangan sebesar 7,38% atau Rp 2.582.125.050.000
Menurut Iskandar L, 2009 Peternakan adalah segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan memelihara hewan ternak yang dapat diambil manfaatnya dari hewan tersebut guna memenuhi kebutuhan hidup. Peternakan digolongakan menjadi tiga jenis yaitu ternak besar, ternak kecil, dan ternak unggas. Kabupaten Tulungagung sendiri ternak di setiap kecamatannya sangatlah bervariatif hampir disemua kecamatan terdapat ternak kecil, besar, dan ungggas. Hal ini sangat disayangkan jika peternakan di Tulungagung masih belum mendominasi, menurut data BPS tahun 2016 PDRB dari sektor peternakan lima tahun terakhir masih relatif sama bahkan pada tahun 2014 sampai 2015 masih belum terjadi kenaikan yang signifikan. Padahal jika dilihat struktur geografis wilayah yang masih hijau sektor peternakan bisa menjadi andalan pendapatan daerah. Penelitian ini akan dilakukan analisis terhadap jumlah hasil potensi peternakan disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung.
Potensi peternakan di kabupaten Tulungagung sangat bervariatif, setiap wilayah memiliki ciri karakteristik jenis peternakan yang berbeda-beda, oleh karenanya sangatlah perlu diketahui jenis potensi hasil peternakan kecamatan mana yang memiliki potensi hasil ternaknya. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis klaster, Analisis klaster dilakukan untuk mengelompokkan objek-objek berdasarkan ukuran kesamaan atau ketidaksamaan yang bertujian untuk megidentifikasi objek memiliki karakteristik tertentu (Johnson dan Winchern,2007). Pemetaan kelompok kecamatan di Kabupaten Tulungagung dengan melihat sektor peternakan, yang terdiri dari ternak besar, ternak kecil, dan ternak unggas, dipilih karena subsektor memiliki peran terbesar dalam kegiatan perekonomian di Kabupaten Tulungagung. Sehingga nantinya dapat membantu pemerintah memberikan kebijakan terkait peternakan yang ada untuk bisa memberikan ciri disetiap kecamatannya khususnya sektor peternakan yang ada di kabupaten Tulungagung.
Penelitian tentang peternakan sudah banyak dilakukan seperti yang dilakukan Fanandri (2016) yang berjudul
3
“Pengelompokan Propinsi di Indonesia Berdasarkan Hasil Produksi Pertanian dan Peternakan untuk Medukung Ketahanan Pangan Nasional” hasilnya didapat 4 kelompok wilayah atau propinsi di Indonesia dengan perbedaan hasil produksi padi, jagung, kedelai, ketela pohon, telur, dan daging. Kelompok pertama adalah propinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah kelompok kedua adalah propinsi Jawa Barat kelompok ketiga adalah propinsi Lampung dan kelompok keempat adalah propinsi-propinsi sisanya. Penelitian yang lain dari Pratama (2015) tentang
“Pemetaan potensi sektor pertanian pangan kabupaten atau kota di Jawa Timur 2013” dengan analisis klaster metode ward’s, serta
Anshori (2015) yaitu mengenai pemetaan kecamatan di kabupaten Lamongan berdasarkan potensi sektor pertanian tahun 2013 menggunakan analisis klaster yang menyatakan berdasarkan analisinya didaerah Lamongan sektor peternakan yang mendominasi adalah ayam buras. Pemetaan peternakan disetiap kecamatan di kabupaten Tulungagung diharapkan bisa memberikan gambaran tentang kecamatan mana yang memiliki potensi hasil ternak yang tinggi, selanjutnya bisa dikembangkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas peternakan di Kabupaten Tulungagung.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas Kabupaten Tulungagung memiliki wilayah cukup luas dengan jumlah penduduk relatif sedikit, terdapat banyak sekali lahan yang dapat digunakan untuk beternak. Sektor peternakan merupakan sub sektor heterogen yang tersebar dihampir semua kecamatan. Oleh karenanya perlu diketahui bagaimana karekteristik dan pengelompokan kecamatan berdasarkan potensi peternakan di Kabupaten Tulungagung 1.3 Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengelompokan kecamatan berdasarkan potensi peternakan di Kabupaten Tulungagung.
1.4 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dapat mengetahui keunggulan wilayah setiap kecamatan dan memetakan potensi peternakan dari kecamatan di Kabupaten Tulungagung sehinga dapat menjadikan masukan bagi pemerintah untuk bisa mengembangkan sektor peternakan sesuai dengan potensi setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung. 1.5 Batasan Masalah
Batasan masalah dari penelitian ini adalah variabel dari sektor peternakan di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur tahun 2015. Data yang digunakan meliputi jumlah ternak besar, kecil, dan unggas.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Statistika DeskriptifStatistika deskriptif merupakan bagian statistika yang membahas tentang metode-metode untuk menyajikan data sehingga menarik dan informatif. Secara umum statistika deskriptif dapat diartikan sebagai metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Statistika deskriptif juga memberikan informasi hanya mengenai data yang dipunyai dan sama sekali tidak menarik inferensia atau kesimpulan apapun tentang gugus data induknya yang lebih besar (Walpole, 1998). 2.1.1 Median (Nilai Tengah)
Median adalah segugus data yang telah diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar atau terbesar sampai terkecil adalah pengamatan yang tepat di tengah-tengah bila banyaknya pengamatan itu ganjil, atau rata-rata kedua pengamatan yang ditengah bila banyaknya pengamatan genap (Walpole, 1998).
Rumus yang digunakan untuk menghitung median adalah. Untuk n ganjil:
= ( ) (2.1)
Untuk n genap:
= (2.2)
Keterangan:
adalah data pada urutan ke setelah diurutkan 2.1.2 Varian (Ragam)
Varians adalah ragam populasi atau contoh terhingga , , ,… (Walpole, 1998).
Rumus yang digunakan untuk menghitung varians adalah
(2.2)
(2.3)
2 2 1 ( ) n i xi x n (2.3) Keterangan : σ2= Varians = Nilai ke-i = Rata-rata n = Banyak data
2.1.3 Nilai Minimum dan Nilai Maksimum
Nilai maksimum adalah nilai yang memiliki tingkatan paling tinggi atau paling besar dari nilai lainnya. Nilai minimum adalah nilai yang memiliki tingkatan paling kecil atau paling rendah dari nilai lainnya (Walpole, 1998).
2.2 Metode Pengelompokan (Cluster Analysis)
Analisis kelompok merupakan suatu metode analisis untuk mengelompokkan objek-objek pengamatan menjadi beberapa kelompok sehingga akan diperoleh kelompok dimana objek-objeknya dalam satu kelompok mempunyai banyak persamaan sedangkan dengan anggota kelompok yang lain mempunyai banyak perbedaan (Johnson & Wichern, 2007). Pengelompokkan atau cluster yang baik adalah cluster yang menunjukkan ciri sebagai berikut
a.
Homogenitas (kesamaan) yang tinggi antar anggota dalam satu kelompokb.
Heterogenitas (perbedaan) yang tinggi antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.Secara umum terdapat dua metode pengelompokkan yaitu :
a.
Metode hierarchi yaitu hasil pengelompokkannyadisajikan secara hierarchi atau berjenjang dari n, (n-1) sampai satu kelompok.
b.
Metode non-hierarchi yaitu metode yang digunakan apabila banyaknya kelompok sudah diketahui, yang termasuk dalam metode ini adalah metode K-means.7
Untuk menyatakan suatu observasi atau variabel mempunyai sifat yang lebih dekat dengan observasi tertentu daripada dengan observasi yang lain digunakan fungsi yang disebut jarak (distance). Lima metode Hierarchical Clustering Methods yang digunakan untuk membentuk klaster adalah Metode pautan tunggal (singgle linkage), metode pautan lengkap (complete linkage), metode pautan rerataan average linkage, metode kuadrat jumlah kesalahan (ward’s), dan metode centroid (Johnson & Wichern, 2007).
2.2.1 Jarak Euclidian
Jarak euclidean berawal dari jarak minkowski dengan dua objek sehingga dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut. 2 1 ( , ) ( ) p i j ik jk k d x x x x (2.4) dimana i = 1,2,..., n dan j = 1,2,..., n ; i≠ j Keterangan : ( ,i j)
d x x = jarak antara dua objek i dan j ik
x
= nilai objek i pada variabel k jkx = nilai objek j pada variabel k (Johnson & Wichern, 2007)
2.2.2 MetodeWard’s
Pada metode ward’s jarak antara dua kelompok adalah
jumlah kuadrat antara dua kelompok untuk seluruh variabel. Metode ini mencoba meminimumkan varians dalam kelompok dan cenderung digunakan untuk melakukan kombinasi kelompok-kelompok dengan jumlah kecil. Jika cluster sebanyak K maka error sum of square (ESS) sebagai jumlahan dari ESSk atau
1 2 K
ESSESS ESS ESS sehingga untuk menghitung jarak antara dua cluster menggunakan metode ward’s dapat ditulis sebagai berikut.
' 1 ( ) ( ) N j j j ESS x x x x
(2.5) Dimana =xj = pengukuran multivariat terkait dengan item j
= rata-rata dari semua item (Johnson & Wichern, 2007). 2.2.3 Pseudo F-statistic
Metode yang digunakan untuk menentukan banyaknya kelompok yang optimum adalah Pseudo F-Statistik. Pseudo F tertinggi menunjukkan bahwa kelompok tersebut menunjukkan hasil yang optimal, dimana keragaman dalam kelompok sangat homogen sedangkan antar kelompok sangat heterogen. Berikut rumus yang digunakan untuk mencari Pseudo F. (Orpin & Kostylev, 2006) k n R k R F Pseudo 2 2 1 1 (2.6) Dimana
SST
SSW
SST
R
2
(2.7)
n i c j p k j ijkx
x
SST
1 1 1 2 (2.8)
n i c j p k jk ijkx
x
SSW
1 1 1 2 (2.9) Keterangan:SST = (Sum Square Total) Total jumlah dari kuadrat jarak sampel terhadap rata-rata keseluruhan
9
SSW = (Sum Square Within) Total jumlah dari kuadrat jarak sampel terhadap rata-rata kelompoknya
n = banyaknya sampel c = banyaknya variabel p = banyaknya kelompok
xijk = sampel ke-i pada variabel ke-j kelompok ke-k
j = rata-rata seluruh sampel pada variabel ke-j
jk = rata-rata sampel pada variabel ke-j dan kelompok ke-k
2.2.4 Uji Mann Whitney
Uji Mann Whitney merupakan pengujian untuk mengetahui apakah ada perbedaan nyata antara rata-rata dua populasi yang distribusinya sama, melalui dua sampel yang independen yang diambil dari kedua populasi.
Asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut
1. Data merupakan sampel acak hasil-hasil pengamatan X1,
X2, …, Xn dari populasi 1 dan sampel acak hasil-hasil
pengamatan lain Y1, Y2, …, Yndari populasi 2
2. Kedua sampel tidak saling mempengaruhi
3. Variabel yang diamati adalah variabel acak kontinyu 4. Skala pengukuran yang dipakai sekurang-kurangnya
ordinal
5. Fungsi-fungsi distribusi kedua populasi hanya berbeda dalam hal lokasi, yakni apabila keduanya sungguh berbeda Hipotesis
H0 : Kedua populasi yang diamati memiliki distribusi yang
identik
H1 : Kedua populasi yang diamati berbeda dalam hal lokasi
Daerah kritis Tolak H0jika T < Wα/2
Statistik Uji
(2.10) S = jumlah peringkat dari sampel populasi 1
(Daniel, 1989) 2 ) 1 ( 1 1 S n n T
2.3 Peternakan
Peternakan adalah segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan memelihara hewan ternak yang dapat diambil manfaatnya dari hewan tersebut guna memenuhi kebutuhan hidup. Peternakan di Indonesia dikelompokkan ke dalam tiga jenis yaitu
1. Ternak Besar
Ternak besar adalah peternakan yang diusahakan dengan memelihara hewan yang berukuran besar. Hewan yang digolongkan ternak besar, yaitu kuda, kerbau, dan sapi (lembu).
2. Ternak Kecil
Ternak kecil adalah peternakan yang diusahakan dengan memelihara hewan yang berukuran kecil. Hewan yang digolongkan ternak kecil, yaitu babi, kambing, domba (biri-biri), dan kelinci.
3. Ternak Unggas
Ternak unggas adalah peternakan yang diusahakan dengan memelihara hewan yang bersayap atau sebangsa burung. Hewan yang digolongkan ke dalam ternak unggas, yaitu ayam, itik (bebek), angsa, entog, dan burung puyuh (Iskandar L, 2009).
11
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sumber DataSumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari Publikasi BPS Kabupaten Tulungagung berdasarakan data Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung melalui perhitungan langsung jumlah ternak kelokasi setiap kecamatan, kelurahan, dan desa yang ada di Kabupaten Tulungagung. Variabel yang diambil yaitu sektor peternakan dari 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung tahun 2015.
3.2 Variabel Penelitian
Variabel yang diambil yaitu sektor peternakan di kabupaten Tulungagung dengan unit penelitian kecamatan di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur.
Tabel 3.1 Variabel Penelitian
Jenis Ternak Variabel Satuan
Ternak Besar dan Kecil
Jumlah ternak sapi ( X1) Ekor
Jumlah ternak kambing ( X2) Ekor
Jumlah ternak domba ( X3) Ekor
Ternak Unggas
Jumlah ternak burung puyuh ( X4) Ekor
Jumlah ternak burung dara ( X5) Ekor
Jumlah ternak ayam kampung ( X6) Ekor
Jumlah ternak ayam ras ( X7) Ekor
Jumlah ternak ayam pedaging ( X8) Ekor
Jumlah ternak itik ( X9) Ekor
Jumlah Ternak Mentok ( X10) Ekor
3.3 Langkah Analisis
Langkah analisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mengumpulkan data data jumlah peternakan setiap kecamatan di kabupaten Tulunggung tahun 2015.
2. Menganalisis karakteristik data jumlah peternakan di kabupaten Tulunggung tahun 2015.
3. Mengelompokkan kecamatan berdasarkan jumlah peternakan setiap kecamatan di kabupaten Tulungagung tahun 2015.
4. Menentukan Kelompok Terbaik 5. Menginterpretasikan hasil analisis.
6.
Menyimpulkan hasil analisis.13
3.4 Diagram Alir Penelitian
Berikut ini adalah diagram alir penelitian yang ditampilkan pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2 Diagram Alir Penelitian
Analisis Deskriptif Memasukkan Data Mulai Analisis Klaster Kesimpulan Menghitung Pseudo F
15
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas hasil pengolahan data pemetaan kecamatan berdasarkan potensi peternakan di Kabupaten Tulungagung. Pembahasan dimulai dengan melihat karakteristik data peternakan yang meliputi ternak besar dan ternak unggas disetiap kecamatanya kemudian akan dilakukan analisis klaster dengan metodeward’s.
4.1
Karakteristik Peternakan di Kabupaten Tulungagung Kabupaten Tulungagung memiliki 19 kecamatan dengan beragam karakteristik peternakan daerah yang berbeda-beda. Berikut adalah karakteristik data peternakan yang meliputi ternak besar dan ternak kecil disetiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung.4.1.1 Karakteristik Data Ternak Besar dan Kecil
Karakteristik data jumlah ternak besar dan kecil yang meliputi ternak sapi, kambing, dan domba setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung dapat dilihat pada Gambar 4.1. Karakteristik jumlah data ternak disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung. Persebaran jumlah ternak besar seperti sapi, kambing, dan domba yang berbeda antara kecamatan satu dengan kecamatan yang lain. Berdasarkan histogram dapat dilihat ternak sapi di kabupaten Tulungagung tahun 2015 berjumlah 104.824 ekor, rata-rata ternak 5.517,05 ekor.
G a m b a r 4 .1 K ara k te ri st ik T ern ak Be sa r d an K ec il
17
Populasi ternak sapi paling besar bearada di kecamatan Ngantru berjumlah 11.368 ekor sapi sedangkan yang paling sedikit berada di kecamatan Tulungagung berjumlah 307 ekor sapi. Jumlah ternak kambing merupakan jenis ternak besar yang memiliki jumlah terbanyak di Kabupaten Tulungagung yaitu sebesar 185.936 ekor, dengan rata-rata 9.786,11 ekor. Populasi ternak kambing paling besar berada di Kecamatan Ngunut berjumlah 18.598 ekor kambing, sedangkan paling kecil berada di kecamatan Tulungagung berjumlah 1.684 ekor kambing. Jumlah ternak domba di Kabupaten Tulungagung sebesar 5.183 ekor dengan rata-rata sebesar 272,79 ekor. Populasi ternak domba terbesar berada di Kecamatan Sendang berjumlah 1.187 ekor sedangakan paling kecil berada di kecamatan Tulungagung berjumlah 22 ekor domba. Setiap kecamatan memiliki hasil ternak yang berbeda-beda jumlahnya hal ini bisa dikarenakan faktor letak geografis setiap kecamatan yang berbeda pula. Persebaran populasi ternak sapi, kambing, dan domba di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung dapat dilihat pada pemetaan gambar 4.2, 4.3, dan 4.4.
Pemetaan ternak sapi menurut jumlah populasinya pada setiap kecamatan di kabupaten Tulungagung dapat dilihat pada Gambar 4.2
Gambar 4.2 Karakteristik Ternak Sapi
Berdasarkan Gambar 4.2 dapat dilihat persebaran ternak sapi di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan berbeda-beda jumlahnya. Kecamatan yang memiliki ternak sapi yang cukup besar jumlahnya berada di kecamatan Ngantru berjumlah 11.368 ekor, Kecamatan Sumbergempol berjumlah 10.842 ekor, dan Kecamatan Rejotangan berjumlah 9.655 ekor sapi sedangkan Jumlah ternak sapi yang jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tulungagung berjumlah 307 ekor sapi.
Pemetaan ternak kambing menurut jumlah populasinya pada setiap kecamatan di kabupaten Tulungagung dapat dilihat pada Gambar 4.3 ekor ekor ekor ekor ekor
19
Gambar 4.3 Karakteristik Ternak Kambing
Berdasarkan Gambar 4.3 dapat dilihat persebaran ternak kambing di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan berbeda-beda jumlahnya. Kecamatan yang memiliki ternak kambing paling tinggi jumlahnya berada di kecamatan Ngunut berjumlah 18.598 ekor, Kecamatan Kalidawir berjumlah 17.721 ekor, dan Kecamatan Rejotangan berjumlah 17.580 ekor kambing sedangkan Jumlah ternak kambing yang jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tulungagung berjumlah 1.684 ekor dan Kecamatan Kauman berjumlah 3.038 ekor kambing.
Pemetaan ternak domba menurut jumlah populasinya pada setiap kecamatan di kabupaten Tulungagung dapat dilihat pada Gambar 4.4 ekor ekor ekor ekor ekor
Gambar 4.4 Karakteristik Data Ternak Domba
Berdasarkan Gambar 4.4 dapat dilihat persebaran ternak domba di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan berbeda-beda jumlahnya. Kecamatan yang memiliki ternak domba paling tinggi jumlahnya berada dikecamatan Sendang berjumlah 1.187 ekor domba, sedangkan Jumlah ternak domba yang jumlahnya paling kecil berada di Kecamatan Tulungagung berjumlah 22 ekor domba.
4.1.2 Karakteristik Data Ternak Unggas
Karakteristik data Populasi jumlah ternak unggas meliputi Burung Puyuh, Burung Dara, Ayam Kampung, Ayam Ras, Ayam Pedagimg, Itik, dan Mentok setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung dapat dilihat pada gambar 4.5.
ekor ekor
ekor ekor
21 G a m b a r 4 .5 K ara k te ri st ik T ern ak U n g g as
Gambar 4.5 menunjukkan karakteristik jumlah data ternak unggas disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan histogram dapat dilihat jumlah ternak jenis unggas seperti burung puyuh, burung dara, ayam kampung, ayam ras, ayam pedaging, itik, dan mentok yang ada di Kabupaten Tulungagung tahun 2015. Populasi ternak burung puyuh paling besar bearada di kecamatan Rejotangan berjumlah 207.214 ekor sedangkan yang paling kecil berada di kecamatan Tanggunggunung berjumlah 850 ekor. Populasi ternak burung dara paling besar bearada di kecamatan Rejotangan berjumlah 3.044 ekor sedangkan yang paling kecil berada di kecamatan Tanggunggunung berjumlah 185 ekor. Populasi ternak ayam kampung paling besar bearada di kecamatan Rejotangan berjumlah 927.896 ekor sedangkan yang paling kecil berada di kecamatan Tulungagung berjumlah 32.261 ekor. Populasi ternak ayam ras dara paling besar bearada di kecamatan Rejotangan berjumlah 1.218.057 ekor sedangkan yang paling kecil berada di kecamatan Pagerwojo. Populasi ternak ayam pedaging paling besar bearada di kecamatan Ngantru berjumlah 747.500 ekor sedangkan yang paling kecil berada di kecamatan Tulungagung berjumlah 1.800 ekor. Populasi ternak itik paling besar bearada di kecamatan Pakel berjumlah 73.995 ekor sedangkan yang paling kecil berada di kecamatan Tanggunggunung berjumlah 556 ekor. Populasi ternak mentok paling besar bearada di kecamatan Bandung berjumlah 15.182 ekor sedangkan yang paling kecil berada di kecamatan Tanggunggunung berjumlah 698 ekor.
Setiap kecamatan memiliki hasil ternak unggas yang berbeda-beda. Persebaran populasi ternak unggas Burung Puyuh, Burung Dara, Ayam Kampung, Ayam Ras, Ayam Pedagimg, Itik, dan Mentok di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung dapat dilihat pada pemetaan Gambar 4.6, 4.7, 4.8, 4.9, 4.10, 4.11, dan 4.12.
23
Berikut adalah pemetaan ternak burung puyuh setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung.
Gambar 4.6 Karakteristik Ternak Burung Puyuh
Berdasarkan Gambar 4.6 dapat dilihat persebaran ternak unggas burung puyuh di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan berbeda-beda jumlahnya. Kecamatan yang memiliki ternak jenis burung puyuh paling tinggi jumlahnya berada dikecamatan Rejotangan berjumlah 207.214 ekor burung puyuh, sedangkan Jumlah ternak burung puyuh yang jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tanggunggunung berjumlah 850 ekor burung puyuh.
Berikut adalah pemetaan ternak burung dara setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung.
ekor ekor
ekor ekor ekor
Gambar 4.7 Karakteristik Ternak Burung Dara
Berdasarkan Gambar 4.7 dapat dilihat persebaran ternak burung dara di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan yang berbeda-beda jumlahnya. Kecamatan yang memiliki ternak burung dara paling tinggi jumlahnya berada di kecamatan Rejotangan berjumlah 3.044 ekor burung dara kemudian di kecamatan Boyolangu berjumlah 2.430 ekor burung dara, sedangkan Jumlah ternak burung dara yang jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tanggunggunung berjumlah 185 ekor burung dara dan kecamatan Sendang berjumlah 292 ekor burung dara.
Berikut adalah pemetaan ternak ayam kampung setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung.
ekor ekor ekor ekor
25
Gambar 4.8 Karakteristik Ternak Ayam Kampung
Berdasarkan Gambar 4.8 dapat dilihat persebaran ternak unggas jenis Ayam Kampung di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan yang berbeda-beda jumlahnya. Kecamatan yang memiliki ternak ayam kampung paling tinggi jumlahnya berada dikecamatan Rejotangan dengan 927.896 ekor ayam kampung, sedangkan Jumlah ternak ayam kampung yang jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tulungagung dengan 32.261 ekor ayam kampung dan kecamatan Karangrejo dengan 72.656 ekor ayam kampung.
Berikut adalah pemetaan ternak ayam ras setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung. ekor ekor ekor ekor ekor
Gambar 4.9 Karakteristik Ternak Ayam Ras
Berdasarkan Gambar 4.9 dapat dilihat persebaran ternak unggas jenis ayam ras di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan yang berbeda-beda. Kecamatan yang memiliki ternak ayam ras paling tinggi jumlahnya berada di kecamatan Rejotangan berjumlah 1.218.057 ekor ayam ras, sedangkan Jumlah ternak ayam ras yang jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tanggunggunung, Campurdarat, Pakel, Tulungagung, Gondang, Kauman, Pagerwojo, dan Sendang.
Berikut adalah pemetaan ternak ayam pedaging setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung.
ekor ekor
ekor ekor ekor
27
Gambar 4.10 Karakteristik Ternak Ayam Pedaging
Berdasarkan Gambar 4.10 dapat dilihat persebaran ternak unggas jenis ayam pedaging di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan yang berbeda-beda. Kecamatan yang memiliki ternak ayam pedaging paling tinggi jumlahnya berada dikecamatan Ngantru berjumlah 747.500 ekor ayam pedaging dan kecamatan Karangrejo berjumlah 524.565 ekor ayam pedaging, sedangkan Jumlah ternak ayam pedaging yang digolongkan jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tulungagung berjumlah 217 ekor ayam pedaging dan Kecamatan Kauman berjumlah 16.250 ekor ayam pedaging.
Berikut adalah pemetaan ternak itik setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung. ekor ekor ekor ekor ekor
Gambar 4.11 Karakteristik Ternak Itik
Berdasarkan Gambar 4.11 dapat dilihat persebaran ternak unggas jenis itik di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan yang berbeda-beda. Kecamatan yang memiliki ternak itik paling tinggi jumlahnya berada di kecamatan Pakel berjumlah 73.995 ekor itik, sedangkan Jumlah ternak itik yang digolongkan jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tanggunggunung, Pucanglaban, Tulungagung, Kedungwaru, Pagerwojo, dan Sendang.
Berikut adalah pemetaan ternak mentok setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung. ekor ekor ekor ekor ekor
29
Gambar 4.12 Karakteristik Ternak Mentok
Berdasarkan Gambar 4.12 dapat dilihat persebaran ternak unggas jenis mentok di Kabupaten Tulungagung setiap kecamatan yang berbeda-beda. Kecamatan yang memiliki ternak mentok paling tinggi jumlahnya berada di kecamatan Bandung berjumlah 15.182 ekor mentok, sedangkan Jumlah ternak mentok yang digolongkan jumlahnya kecil berada di Kecamatan Tanggunggunung, Pucanglaban, Tulungagung, Pagerwojo, dan Sendang. ekor ekor ekor ekor ekor
4.2
Pengelompokan Kecamatan Berdasarkan Potensi Ternak BesarPengelompokan ternak besar setiap kecamatan Kabupaten Tulungagung yang terbentuk merupakan gambaran karakteristik yang membentuk pola penyebaran. Pengelompokkan kecamatan
akan menggunakan metode ward’s dimana metode tersebut adalah
untuk meminimumkan varians dalam kelompok.
Pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada dendogram di Gambar 4.13
Gambar 4.13 Dendogram Kelompok Wilayah Ternak Besar dan Kecil Berdasarkan gambar 4.13 dapat diketahui dendogram pengelompokan wilayah kecamatan di Kabupaten Tulungagung
31
berdasarkan potensi ternak besar dan kecil. Untuk mengetahui jumlah klaster yang optimum berbeda satu klaster dengan klaster yang lain dalam melakukan pengelompokan harus memperhatikan manakah kelompok yang memiliki nilai Pseudo-F yang paling besar. Berikut adalah perhitungan nilai Pseudo-F yang telah dilakukan pada cluster yang beranggotakan 2 hingga 4 kelompok.
Tabel 4.1 Pseudo-F Kelompok Ternak Besar dan Kecil
Jumlah Kelompok Pseudo-F
2 Kelompok 25,4266
3 Kelompok 23,0249
4 Kelompok 35,9742
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui hasil perhitungan nilai Pseudo-F dari ketiga kelompok yang paling optimum. Nilai Pseudo F paling besar ditunjukkan pada claster yang beranggotakan 4 kelompok yaitu sebesar 35,9741. Sehingga jumlah kelompok yang paling optimum pada pengelompokan potensi ternak besar di Kabupaten Tulungagung adalah sebanyak 4 kelompok.
Berikut adalah peta tematik hasil pengelompokan potensi ternak besar dan kecil yang meliputi jenis ternak sapi, kambing, dan domba pada setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung.
Gambar 4.14 Peta Penyebaran Kelompok Ternak Besar dan Kecil Untuk mengetahui karakteristik setiap kelompok yang sudah terbentuk, peneliti mencari perbedaan setiap kelompok dengan menggunakan uji Man Whiteney dari setiap variabel dari kelompok yang terbentuk. Berikut adalah hasil uji Man Whiteney dari setiap kelompok yang terbentuk.
a. Pengujian Antar Kelompok untuk Ternak Sapi Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
33
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
atau P-value< α
Tabel 4.2 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak
Sapi
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 2
0,0127
Tolak H0 karena P-value
(0,0127) < 0,1 sehingga dapat disimpulkan nilai kelompok 1 tidak sama dengan kelompok 2
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 3
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 3
0,0127
Tolak H0 karena P-value
(0,0127) < 0,1, sehingga dapat disimpulkan nilai kelompok 1 tidak sama dengan kelompok 3
3 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 4
0,1388
Gagal tolak H0karena P-value
(0,1388) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
4 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 3
H1: Populasi kel 2 ≠
Populasi kel 3
0,3827
Gagal tolak H0karena P-value
(0,3827) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
5 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2 ≠
Populasi kel 4
0,1489
Gagal tolak H0karena P-value
(0,1489) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
6 Ho: Populasi kel 3 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 3 ≠
Populasi kel 4
0,1489
Gagal tolak H0karena P-value
(0,1489) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lain. Pada kelompok 1 dan 2 serta kelompok 1 dan 3 diperoleh keputusan Tolak H0sehingga
b. Pengujian Antar Kelompok untuk Ternak kambing Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 4 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
atau P-value< α
Tabel 4.3 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak
Kambing
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 2
0,0127
Tolak H0 karena P-value
(0,0127) < 0,1 sehingga dapat disimpulkan nilai kelompok 1 tidak sama dengan kelompok 2
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 3
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 3
0,0868
Tolak H0 karena P-value
(0,0868) < 0,1, sehingga dapat disimpulkan nilai kelompok 1 tidak sama dengan kelompok 3
3 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 4
0,0127
Tolak H0 karena P-value
(0,0127) < 0,1, sehingga dapat disimpulkan nilai kelompok 1 tidak sama dengan kelompok 4
4 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 3
H1: Populasi kel 2≠
Populasi kel 3
0,1489
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,1489) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
5 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2≠
Populasi kel 4
0,1489
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,1489) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
6 Ho: Populasi kel 3 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 3≠
Populasi kel 4
0,1489
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,1489) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lain. Pada kelompok 1 dan
35
2, kelompok 1 dan 3, serta kelompok 1 dan 4 diperoleh keputusan Tolak H0sehingga dapat disimpulkan dari kelompok ini memilik
perbedaan.
c. Pengujian antar kelompok untuk ternak domba Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 4 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
atau P-value< α
Tabel 4.4 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak
Domba
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 2
0,8763
Gagal tolak H0karena P-value
(0,8763) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 3
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 3
1,00
Tolak H0karena P-value (1,00)
> 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 4
0,4897
Gagal tolak H0karena P-value
(0,4897) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
4 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 3
H1: Populasi kel 2 ≠
Populasi kel 3
1,00
Gagal tolak H0karena P-value
(1,00) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
5 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2 ≠
Populasi kel 4
1,00
Gagal tolak H0karena P-value
(1,00) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
6 Ho: Populasi kel 3 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 3 ≠
Populasi kel 4
0,7728
Gagal tolak H0karena P-value
(0,1489) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
Berdasarkan pengujian pada Tabel 4.2, 4.3, dan 4.4 dapat dilihat keputusan yang diperoleh dari Uji Mann Whiteney kelompok 1 vs. 2 dan 1 vs. 3 pada jenis ternak sapi adalah tolak H0,kemudian juga pada jenis ternak kambing kelompok 1 vs. 2 , 1
vs. 3 , dan 1 vs. 4 juga diperoleh keputusan tolak H0sehingga pada
kelompok ini dapat disimpulkan jika data pertama yang diamati lebih besar dari data kedua yang diamati. Hal ini dapat diindikasikan jika kelompok 2 meliputi Kalidawir, Rejotangan, dan Ngunut serta kelompok 3 yang meliputi kecamatan Sumbergempol, Ngantru, dan Sendang merupakan kecamatan yang dominan terhadap ternak jenis sapi dan kambing. Pada kelompok 1 dan 4 dinilai dominan pada ternak domba karena pada semua kecamatan tersebut menyebar secara merata.
4.3
Pengelompokan Kecamatan Berdasarkan Potensi Ternak UnggasPengelompokan ternak unggas setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung yang terbentuk merupakan gambaran karakteristik yang membentuk pola penyebaran. Pengelompokkan kecamatan akan menggunakan metode ward’s dimana metode tersebut adalah untuk meminimumkan varians dalam kelompok.
Pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada dendogram di Gambar 4.15. Berdasarkan Gambar 4.15 dapat diketahui dendogram pengelompokan wilayah kecamatan di Kabupaten Tulungagung berdasarkan potensi ternak unggas. Untuk mengetahui jumlah cluster yang optimum berbeda satu cluster dengan cluster yang lain dalam melakukan pengelompokan harus memperhatikan manakah kelompok yang memiliki nilai Pseudo-F yang paling besar. Berikut adalah perhitungan nilai Pseudo-F yang telah dilakukan pada cluster yang beranggotakan 2 kelompok hingga 4 kelompok.
37
Gambar 4.15 Dendogram Wilayah Ternak Unggas
Untuk menentukan jumlah kelompok terbaik digunakan nilai Pseudo F yang hasilnya diberikan pada tabel berikut.
Tabel 4.5 Nilai Pseudo F Kelompok Ternak Unggas
Jumlah Kelompok Pseudo-F
2 Kelompok 41,0275
3 Kelompok 38,0996
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai Pseudo F paling besar ditunjukkan pada cluster yang beranggotakan 4 kelompok yaitu sebesar 52,7093. Sehingga jumlah kelompok yang paling optimum pada pengelompokan potensi ternak unggas di Kabupaten Tulungagung adalah sebanyak 4 kelompok. Berikut peta tematik hasil pengelompokan potensi dari ternak unggas
Gambar 4.16 Peta Penyebaran Kelompok Ternak Unggas
Berdasarkan Gambar 4.16 terbentuk empat kelompok yang terdiri dari Kelompok 1 meliputi kecamatan Besuki, Kalidawir, Pucanglaban, Ngunut, Sumbergempol, dan kedungwaru. Kelompok 2 meliputi Kecamatan Bandung, Pakel, Campurdarat, Tanggunggunung, Boyolangu, Tulungagung, Kauman, Gondang, Pagerwojo, dan Sendang. Kelompok 3 meliputi Kecamatan Rejotangan. Kemudian kelompok 4 meliputi Kecamatan Karangrejo dan Ngantru.
39
Untuk mengetahui karakteristik setiap kelompok yang sudah terbentuk, peneliti mencari perbedaan setiap kelompok dengan menggunakan uji Man Whiteney dari setiap variabel dari kelompok yang terbentuk. Berikut adalah hasil uji Man Whiteney dari setiap kelompok yang terbentuk.
a. Pengujian antar kelompok untuk ternak jenis burung puyuh
Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 5 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
atau P-value< α
Tabel 4.6 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak
Burung Puyuh
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 2
0,1158
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,1158) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 4
0,4047
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,4047) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2≠
Populasi kel 4
1,00
Gagal tolak H0 karena P-value
(1,00) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
Pada kelompok 3 karena hanya terdiri dari 1 wilayah maka kelompok ini diabaikan dalam pengujiannya. Adapun yang dilakukan pengujian hanya pada kelompok 1, 2, dan 4.
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lainnya baik kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 4.
b. Pengujian antar Kelompok untuk Ternak Jenis Burung Dara
Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 4 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
atau P-value< α
Tabel 4.7 Hasil Pengujian kelompok-kelompok yang terbentuk pada ternak
burung dara
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 2
0,4048
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,4048) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 4
0,6171
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,6171) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2≠
Populasi kel 4
0,9145
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,9145) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
Pada kelompok 3 karena hanya terdiri dari 1 wilayah maka kelompok ini diabaikan dalam pengujiannya. Adapun yang dilakukan pengujian hanya pada kelompok 1, 2, dan 4.
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat hasil pengujian antar kelompok yang diperoleh keputusan gagal tolak H0 .Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya.
c. Pengujian antar kelompok untuk ternak jenis ayam kampung
Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
41
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
atau P-value< α
Tabel 4.8 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak
Ayam Kampung
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 2
0,1752
Gagal tolak H0karena P-value
(0,1752) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 4
1,00
Gagal tolak H0karena P-value
(1,00) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2 ≠
Populasi kel 4
0,9145
Gagal tolak H0karena P-value
(0,9145) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
Pada kelompok 3 karena hanya terdiri dari 1 wilayah maka kelompok ini diabaikan dalam pengujiannya. Adapun yang dilakukan pengujian hanya pada kelompok 1, 2, dan 4.
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lainnya baik kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 4.
d. Pengujian antar Kelompok untuk Ternak jenis Ayam Pedaging
Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 4 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
Tabel 4.9 Hasil Pengujian kelompok-kelompok yang terbentuk pada ternak
Ayam Pedaging
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 2
0,4048
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,4048) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 4
0,6171
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,6171) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2≠
Populasi kel 4
0,0813
Tolak H0 karena P-value
(0,0813) > 0,1, ehingga dapat disimpulkan nilai kelompok 2 tidak sama dengan kelompok 4
Pada kelompok 3 karena hanya terdiri dari 1 wilayah maka kelompok ini diabaikan dalam pengujiannya. Adapun yang dilakukan pengujian hanya pada kelompok 1, 2, dan 4.
Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lain. Pada kelompok ke-2 dan ke-4 diperoleh keputusan Tolak H0 sehingga diindikasikan
dari kedua kelompok ini memilik perbedaan.
e. Pengujian antar Kelompok untuk Ternak Jenis Ayam Ras Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 4 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
43
Tabel 4.10 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak
Ayam Ras
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 2
0,1004
Gagal tolak H0karena P-value
(0,1004) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 4
0,6171
Gagal tolak H0karena P-value
(0,6171) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2 ≠
Populasi kel 4
0,0413
Tolak H0 karena P-value
(0,0413) > 0,1, ehingga dapat disimpulkan nilai kelompok 2 tidak sama dengan kelompok 4
Pada kelompok 3 karena hanya terdiri dari 1 wilayah maka kelompok ini diabaikan dalam pengujiannya. Adapun yang dilakukan pengujian hanya pada kelompok 1, 2, dan 4.
Berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lain. Pada kelompok 2 dan 4 diperoleh keputusan Tolak H0sehingga dapat disimpulkan dari
kedua kelompok ini memilik perbedaan.
f. Pengujian antar kelompok untuk ternak jenis itik Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 4 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
Tabel 4.11 Hasil Pengujian Kelompok-kelompok yang Terbentuk pada Ternak
Itik
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 2
0,9567
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,9567) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1≠
Populasi kel 4
0,6171
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,6171) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2≠
Populasi kel 4
0,7473
Gagal tolak H0 karena P-value
(0,7473) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
Pada kelompok 3 karena hanya terdiri dari 1 wilayah maka kelompok ini diabaikan dalam pengujiannya. Adapun yang dilakukan pengujian hanya pada kelompok 1, 2, dan 4.
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lainnya baik kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 4.
g. Pengujian Antar Kelompok untuk Ternak Jenis Mentok Hipotesis :
H0: Populasi kedua kelompok yang diamati identik
H1: Nilai-nilai kelompok ke-i tidak sama dengan dari kelompok
ke-j ; i = 1, 2, 3, 4 ; j = 1, 2, 3, 4
Taraf signifikan α = 10%
Daerah kritis : Tolak H0jika t t ,df
2
45
Tabel 4.12 Hasil Pengujian kelompok-kelompok yang terbentuk pada Ternak
Mentok
No. Hipotesis P-value Keputusan
1. Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 2
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 2
0,4159
Gagal tolak H0karena P-value
(0,4159) > 0,1 sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
2 Ho: Populasi kel 1 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 1 ≠
Populasi kel 4
0,6171
Gagal tolak H0karena P-value
(0,6171) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
3 Ho: Populasi kel 2 =
Populasi kel 4
H1: Populasi kel 2 ≠
Populasi kel 4
0,9145
Gagal tolak H0karena P-value
(0,9145) > 0,1, sehingga dapat
disimpulkan nilai kedua
kelompok adalah identik.
Pada kelompok 3 karena hanya terdiri dari 1 wilayah maka kelompok ini diabaikan dalam pengujiannya. Adapun yang dilakukan pengujian hanya pada kelompok 1, 2, dan 4.
Berdasarkan Tabel 4.12 dapat dilihat pengujian antar kelompok diperoleh keputusan gagal tolak H0 Hal ini dapat
diindikasikan jika pada kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki beda dengan kelompok yang lainnya baik kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 4.
Pengujian Mann Whitney dapat dilihat keputusan yang diperoleh dari Uji Mann Whiteney kelompok 2 vs. 4 pada jenis unggas ayam pedaging adalah tolak H0,kemudian juga pada ayam
ras pada kelompok 2 vs. 4 juga diperoleh keputusan tolak H0
sehingga pada kelompok ini dapat disimpulkan jika kelompok 2 tidak sama dengan kelompok 4. Hal ini dapat diindikasikan jika pada kelompok 4 meliputi kecamatan Ngantru dan Karangrejo merupakan kecamatan yang dominan terhadap ternak unggas jenis ayam ras dan ayam pedaging. Pada kelompok 1, 2, dan 3 dinilai dominan pada ternak unggas jenis burung puyuh, burung dara, ayam kampung, itik, dan mentok karena pada semua kecamatan tersebut menyebar secara merata.
47
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
KesimpulanKesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Kabupaten Tulungagung memiliki 19 kecamatan yang
memiliki potensi ternak yang berbeda-beda baik ternak besar maupun ternak unggas. Populasi ternak besar paling tinggi populasinya berada di kecamatan Ngantru, Ngunut, dan Sendang. Populasi paling kecil berada di kecamatan Tulungagung dan Ngunut. Populasi ternak unggas paling besar berada di kecamatan Rejotangan, Ngantru, Pakel, dan Bandung. Sedangkan populasi unggas paling kecil berada di kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung, dan Pagerwojo
2. Pengelompokan potensi ternak besar di Kabupaten Tulungagung yang meliputi ternak sapi, kambing, dan domba menggunakan analisis klaster terbentuk empat kelompok yang terdiri dari kelompok 2 meliputi Kalidawir, Rejotangan, dan Ngunut serta kelompok 3 yang meliputi kecamatan Sumbergempol, Ngantru, dan Sendang merupakan kecamatan yang dominan terhadap ternak jenis sapi dan kambing.
3. Pengelompokan potensi ternak unggas di Kabupaten Tulungagung yang meliputi ternak burung puyuh, burung dara, ayam kampung, ayam ras, ayam pedaging, itik, dan mentok menggunakan analisis klaster terbentuk empat kelompok yang terdiri dari kelompok 4 meliputi kecamatan Ngantru dan Karangrejo merupakan kecamatan yang dominan terhadap ternak unggas jenis ayam ras dan ayam pedaging.
5.2
SaranBerdasarkan hasil pengelompokan potensi hasil peternakan di Kabuten Tulungagung sangat perlu mendapat perhatian dan pengelolaan khusus dari pemerintah daerah terutama daerah yang memiliki potensi besar terhadap hasil ternaknya. Daerah seperti Kecamatan Kalidawir, Rejotangan, Ngunut, Sumbergempol, Ngantru dan Sendang merupakan kecamatan yang dominan pada ternak sapi dan kambing. Sedangkan ternak unggas Kecamatan Karangrejo, dan Ngantru merupakan kecamatan yang dominan pada ternak unggas ayam pedaging dan ayam ras. Sehingga sangat berpotensi jika dikembangkan potensi peternakannya dari setiap kecamatan yang ada melalui hasil ternak yang paling potensial. Selain itu pula diharapkan kabupaten Tulungagung bisa menjadi salah satu kabupaten swasembada hasil ternak terbesar di Indonesia bahkan dunia.