• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTAMBAHAN DIAMETER DAN TINGGI JATI (Tectona grandis) PADA UMUR 3 TAHUN DI KELURAHAN KARYA MERDEKA KECAMATAN SAMBOJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTAMBAHAN DIAMETER DAN TINGGI JATI (Tectona grandis) PADA UMUR 3 TAHUN DI KELURAHAN KARYA MERDEKA KECAMATAN SAMBOJA"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

PERTAMBAHAN DIAMETER DAN TINGGI JATI

(Tectona grandis)

PADA UMUR 3 TAHUN DI KELURAHAN KARYA MERDEKA

KECAMATAN SAMBOJA

Oleh :

AGUNG RAHMADI NIM. 090 500 001

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA 2012

(2)

PERTAMBAHAN DIAMETER DAN TINGGI JATI

(Tectona grandis)

PADA UMUR 3 TAHUN DI KELURAHAN KARYA MERDEKA

KECAMATAN SAMBOJA

Oleh :

AGUNG RAHMADI NIM. 090 500 001

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA 2012

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Karya Ilmiah : Pertambahan Diameter dan Tinggi Jati (Tectona

.Grandis) Pada Umur 3 Tahun di Kelurahan Karya

.Merdeka Kecamatan Samboja

Nama : Agung Rahmadi

NIM : 090 500 001

Program Studi : Manajemen Hutan

Jurusan : Manajemen Pertanian

Pembimbing

Ir. Rudy Nurhayadi, MP NIP. 19590111 198703 1 002

Penguji I,

Ir. Hasanudin, MP NIP.19630805 198903 1 005

Penguji II,

Ir. Herijanto Thamrin, MP NIP. 19621107 198903 1 015

Meyetujui

Ketua Program Studi Manajemen Hutan

Ir. M. Fadjeri, MP

NIP. 19610812 198803 1 003

Mengesahkan

Ketua Jurusan Manajemen Pertanian

Ir. Hasanudin, MP

(4)

ABSTRAK

AGUNG RAHMADI. Pertambahan Diameter dan Tinggi Jati (Tectona Grandis) Pada Umur 3 Tahun di Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja (di bawah bimbingan Rudy Nurhayadi)

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pertambahan diameter dan tinggi pohon jati (Tectona grandis) di Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja. Diharapkan dari penelititan ini bisa Hasil memberikan informasi pertambahan tumbuh jati (Tectona grandis) di lokasi tersebut dan sebagai bahan masukan untuk pengembangan tanaman jati (Tectona grandis) khususnya di daerah Kalimantan Timur

Pengamatan ini dilaksanakan di Km 35 Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara Propinsi Kalimantan Timur, Selama 1 bulan dari 25 Mei – 25 Juni 2012. Objek penelitian adalah tanaman jati. Data yang diambil meliputi diameter dan tinggi pada saat tanaman jati berumur 2 dan 3 tahun. Untuk tanaman jati yang berumur 2 tahun, data diameter dan tingginya merupakan data sekunder hasil penelititan tahun lalu sebanyak 100 pohon, sedangkan pada saat umur 3 tahun data data diameter dan tinggi diambil langsung di lapangan dengan menggunakan phiband dan hagameter dengan jumlah pohon sebanyak 96 pohon. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan statistik sederhana.

Berdasarkan hasil perhitungan pada tegakan jati (Tectona grandis) di Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja didapatkan riap diameter sebesar 2,00 cm dengan simpangan baku sebesar 1,04 cm dan koefisien variasi 52,31%. dan rata-rata riap tinggi 1,42 meter dengan simpangan baku 1,06 meter dan koefisien variasi 74,19%. dilihat dari nilai koefisien variasi riap pertahunnya masing-masing yaitu 53,31% dan 74,19%. Besarnya koefisien variasi riap diameter dan tinggi yang dihasilkan menunjukkan bahwa riap diameter dan tinggi tanaman Jati (Tectona grandis) di Kelurahan Karya Merdeka kecamatan samboja memiliki pertumbuhan diameter dan tinggi yang tidak seragam (variasinya sangat besar). Untuk mendapatkan hasil riap yang lebih seragam diperlukan kegiatan pemeliharaan tanaman, sehingga diharapkan akan dapat memperkecil koefisien variasi. Selain itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pohon jati (Tectona grandis) di Km 35 Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja.

(5)

RIWAYAT

HIDUP

Agung Rahmadi, lahir pada tanggal 23 Maret 1992, di Tumbang Samba, Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. Merupakan anak ke 2 (dua) dari 2 (bersaudara) dari pasangan Bapak Tertonadi dan Ibu Masni.

Memulai pendidikan pada tahun 1996 di Taman Kanak-Kanak PGRI Tumbang Samba lulus pada tahun 1997. Pendidikan dasar ditempuh di SDN 1 dari tahun 1997 hingga lulus pada tahun 2003. Pada tahun yang sama melanjutkan sekolah ke MTsN Katingan Tengah, lulus pada tahun 2006. Kemudian melanjutkan lagi ke SMAN 1 Katingan Tengah dan lulus pada tahun 2009.

Pada tahun 2009 melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri di Samarinda, yaitu Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan mengambil jurusan Manjemen Petanian Program Studi Manajemen Hutan. Selama kuliah penulis telah melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. ITCI Hutani Manunggal Estate Senoni Kabupaten .Kutai .Kartanegara Propinsi Kalimantan Timur mulai tanggal 12 Maret – 12 Mei 2012.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai seluruh alam jagat raya, yang telah melimpahkan rahmat-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini tepat pada waktu yang telah ditetapkan.

Penyelesaian karya ilmiah ini banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Ir. Rudy Nurhayadi, MP selaku dosen pembimbing karya ilmiah yang mengarahkan penulis mulai dari persiapan sampai penyusunan karya ilmiah. 2. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku penguji 1 dan ketua Jurusan Manajemen

Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. 3. Bapak Ir. Herijanto Thamrin, MP selaku penguji 2

4. Bapak Ir. M. Fadjeri, MP selaku KPS Manajemen Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda..

5. Safari, rekan mahasiswa Angkatan 2009 yang telah membantu selama penelitian.

6. Ibu Ir. Emi Malaysia, MP dan Bapak Ir. Noorhamsyah, MP atas masukan dan sarannya.

7. Rekan-rekan mahasiswa Angkatan 2008, Angkatan 2007 dan khususnya rekan-rekan mahasiswa Angkatan 2009 yang telah mendukung dan membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini.

Tidak lupa, penulis mengucapkan rasa cinta, haru, dan terima kasih teristimewa kepada kedua orang tua Bapak Tertonadi dan Ibu Masni serta saudari yang memberikan doa, materi, dan motivasi.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan karya ilmiah ini, harapan penulis karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Penulis Kampus Sei Keledang, Juli 2012

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR...

v

DAFTAR ISI...

vi

DAFTAR TABEL...

vii

DAFTAR GAMBAR...

viii

I. PENDAHULUAN... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA... 3

A. Gambaran Umum Jati (Tectona grandis)... 3

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan ... 8

C. Dasar-Dasar Pengukuran Diameter dan Tinggi... 11

D. Riap dan Pertumbuhan………... 13

III. METODE PENELITIAN... 14

A. Lokasi dan Tempat Penelitian... 14

B. Alat dan Bahan Penelitian... 14

C. Prosedur Penelitian... 15

D. Pengolahan Data... 17

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 19

A. Hasil... 19

B. Pembahasan... 22

V. KESIMPULAN DAN SARAN... 25

A. Kesimpulan... 25

B. Saran... 26

DAFTAR PUSTAKA... 27

(8)

DAFTAR TABEL

Nomor Tubuh Utama Halaman

1 Deskripsi Statistik Data Diameter Tahun 2011 dan 2012

Pohon Jati... 19 2 Deskripsi Statistik Data Tinggi Tahun 2011 dan 2012

Pohon Jati... 20 3 Perhitungan Rata-rata, Simpangan Baku dan Koefisien

Variasi hasil Pengukuran Dan Pertumbuhan Jati Tahun

2011 dan 2012... 21 4 5 6 7 8 9 10 11 Lampiran

Data Pengukuran dan Perhitungan Diameter (cm) Pohon Jati………... Data Pengukuran dan Perhitungan Tinggi (m) Pohon Jati… Distribusi Diameter Pohon Jati Tahun 2011……… Distribusi Diameter Pohon Jati Tahun 2012……… Distribusi Tinggi Tahun 2011………. Distribusi Tinggi Tahun 2012………. Distribusi Riap Diameter………. Distribusi Riap Tinggi……….……….

29 30 31 31 32 32 33 33

(9)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Tubuh Utama Halaman

1. Pengukuran Diameter dengan Phiband………... 15

2. Pengambilan Data Tinggi………... 16

3. Grafik Pengukuran Tahun 2011 dan Pengukuran Tahun

2012 Diameter Pohon Jati………... 19

4. Pengukuran Tahun 2011 dan Pengukuran Tahun 2012

Tinggi Pohon Jati ……… 20

Lampiran 5. 6. 7. 8.

Pengambilan Data Diameter Pohon Jati Umur 3 Tahun… Pengambilan Data Tinggi Pohon Jati Umur 3 Tahun……. Penomoran Pohon Jati Pada Tahun 2012……… Lokasi Penelitian di Km 35 Kelurahan Karya Merdeka…….

34 34

35 35

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

Kebutuhan kayu dewasa ini semakin mendesak, baik kayu untuk pertukangan atau bahan baku industri lainya. Meningkatnya kebutuhan kayu seiring dengan bertambahnya penduduk setiap tahun. Peningkatan kebutuhan ini harus diimbangi dengan tersedianya produksi kayu yang mencukupi dengan memperhatikan keseimbangan alam. Untuk mengatasi hal tersebut salah satu alternatif pemecahan masalahnya yaitu dengan pengembangan hutan tanaman.

Salah satu pohon yang dikembangkan sebagai hutan tanaman adalah pohon jati (Tectona grandis). Kayu jati merupakan kayu yang sudah lama terkenal terutama untuk bahan mebel. Jenis kayu ini mempunyai karakteristik baik untuk lapisan permukaan dan bersifat awet, sehinggga dapat dikategorikan kayu mewah. Oleh karena nilai ekonominya yang tinggi, maka penggunaanya selalu diusahakan mencapaikan tingkat maksimum. Dewasa ini di daerah Kalimantan sedang dikembangkan pohon jati (Tectona grandis) secara besar-besaran. Selain ekonomis tinggi, jati juga mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan jenis kayu lain (Sutopo, 1992)

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui riap dan pertumbuhan tinggi dan diameter, pohon jati (Tectona grandis) pada umur 3 tahun di Kilometer 35 Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara.

Hasil dari pengamatan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pertumbuhan jati (Tectona grandis) di lokasi tersebut dan sebagai bahan masukan untuk pengembangan jati (Tectona grandis) khususnya di daerah Kalimantan Timur.

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Tentang Jati (Tectona grandis)

Tanaman jati tumbuh sebagai tanaman monokultur, serta tumbuh di daerah yang mempunyai perbedaan musim basah dan kering yang tegas. Secara histori, nama tectona berasal dari bahasa portugis (Tectona) yang berarti tumbuhan yang mempunyai kualitas tinggi (Tini dan Amri, 2002).

1. Klasifikasi Tanaman jati

Menurut (Yana, 2002) dalam sistem klasifikasi, tanaman jati mempunyai penggolongan sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Sub-kelas : Dycotyledoneae Ordo : Verbenales Famili : Verbenaceae Genus : Tectona

Spesies : Tectona Grandis

Jati merupakan tanaman asli (endemik) di sebagian besar jazirah India, Myanmar, Thailand bagian barat, Cina, Indonesia sebagian Jawa, serta beberapa pulau kecil lainya di Indonesia, seperti Muna (Sulawesi Tenggara). Di luar daerah tersebut, tanaman jati merupakan tanaman asing eksotik (Tini dan Amri, 2002).

2. Daerah penyebaran jati (Tectona grandis)

Di benua Asia, terutama Asia Tenggara seperti Taiwan, India, Srilangka, di benua Afrika, Sudan, Kenya, Tasmania, Tangankiya, Uganda dan seterusnya. Di benua Australia dan Kepulauan Pasifik, Queensland,

(12)

Kepualan Fiji, Kepulauan Ryuku, Kepulauan Solomo serta Selandia Baru (Tini dan Amri, 2002)

3. Sifat-sifat morfologi tanaman

Jati merupakan pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 meter. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Warna kulit pohon kuning coklat keabu-abuan, pecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang dan lepas bersisik, memiliki tajuk yang yang tidak beraturan bercabang berpenampang empat persegi dan ranting- ranting kasar. Pada daun umumnya besar, bulat telur terbalik, behadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm, sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya.

4. Pembungaan

Tanaman jati memiliki bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting, jauh di puncak tajuk pohon. Tajuk mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, berukuran 8 mm. berumah satu, buah berbentuk bulat agak gepeng ukuranya 0,5 - 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh pembesaran kelopak bunga yang melambung menyerupai balon kecil.

(13)

5. Syarat tanah

Menurut Nuryadin (2008) dalam Janawati (2011), tanaman jati tidak terikat oleh satu jenis tanah tertentu, jati dapat tumbuh pada tanah alluvial maupun sedimen air. Jati lebih menyukai atau dapat tumbuh pada tanah Doorlented (tidak terlalu kering tetapi sebaiknya yang agak basah) dan memiliki aerasi yang baik.

6. Iklim

Menurut Nuryadin (2008) dalam Janawati (2011), iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1.300 m dpl

7. Manfaat dan kegunaan jati (Tectona grandis)

Kayu jati memiliki ciri khusus yang sangat unik. Hal ini pula yang membuat jati dijadikan kayu berkualitas tinggi. Permukaan kayu jati memiliki zat serupa minyak sehingga membuat kayu tampak indah tanpa harus divernis. Cukup diamplas, berbagai furniture maupun barang berbahan dasar kayu jati akan tampak indah. Terlebih, jika diletakkan di tempat beratap. Pohon jati dapat dikatakan sebagai salah satu pohon yang paling peka terhadap perubahan cuaca. Hal ini terbukti dengan pengguguran daun saat kemarau untuk mengurangi penguapan melalui daun sehingga persediaan air tidak cepat habis. Jati cocok tumbuh di area tanah agak basa yang memiliki pH 6-8, mengandung kapur yang cukup banyak, mengandung fosfor, dan tidak terlalu tergenang air.

Jati merupakan kayu yang sangat kokoh dan keras. Pengolahan kayu jati harus dilakukan dengan telaten. Bahkan, para pekerja Inggris kala itu

(14)

meminta upah lebih jika harus membuat barang berbahan jati. Tak jarang, kekerasan kayu jati mampu menghancurkan perkakas para pekerja. Kekokohan inilah yang membuat jati digunakan untuk membuat kapal laut VOC pada abad ke-17. Selain digunakan sebagai bahan baku kapal-kapal laut, kayu jati digunakan untuk membuat konstruksi berat. Misalnya, pembuatan rel kereta dan jembatan. Di lingkungan rumah tangga, kayu jati digunakan untuk membuat berbagai furniture dan konstruksi bangunan. Kayu jati dipilih karena memiliki ketahanan luar biasa dan tahan terhadap perubahan cuaca serta serangan rayap. Pohon jati boleh dikatakan sebagai kayu pertama yang tahan terhadap api atau tidak mudah terbakar. Hal ini terjadi karena jati memiliki kulit yang tebal. Tidak hanya kulit pohon, buah jati memiliki kulit tebal serta dilindungi tempurung cukup keras. Biji pohon jati tidak akan rusak saat terbakar karena hanya tempurungnya yang terbakar. Bila tempurung biji rusak, jati akan mudah bertunas saat hujan tiba.

Kegunaan pohon jati Selain kuat, juga memiliki banyak manfaat dari akar hingga daun, antara lain :

? Akar berguna sebagai pewarna. Sekitar abad ke-17, warga Sulawesi Selatan menggunakan akar jati untuk mewarnai anyaman. Warna yang dihasilkan adalah kuning dan kuning agak kecoklatan

? Pohon jati berguna untuk membuat berbagai konstruksi berat dan furniture. Selain itu, hasil seduhan kayu jati yang pahit dapat dijadikan sebagai penawar rasa sakit.

? Ranting pohon jati berguna sebagai bahan bakar kualitas satu yang menghasilkan panas sangat tinggi sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap.

(15)

? Daun muda yang diseduh maupun ditumbuk berguna sebagai penawar rasa sakit.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhui Pertumbuhan

Ruchaemi (2002), menyatakan tempat tumbuh berpengaruh pada kehidupan tumbuh-tumbuhan. Faktor-faktor tersebut adalah :

1. Syarat-syarat ekologi

Tempat tumbuh merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon atau tegakan. Tempat tumbuh (tapak) menurut Kramer (1984) dalam Ruchaemi (2002), yaitu semua faktor baik fisik maupun kimiawi yang sangat penting dan berpengaruh terhadap pertumbuhan.

Secara umum faktor pertubuhan ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor ekologi primer seperti air, cahaya matahari, radiasi. Dan faktor kimia/biotis. Untuk proses assimilasi yang paling penting adalah suhu, cahaya matahari, air dan CO2.

2. Cahaya dan radiasi

Asimilasi akan bertambah besar dengan bertambahnya sinar. Pohon-pohon toleran atau yang ternaungi menggunakan intensitas yang lebih kecil dibandingkan dengan pohon-pohon intoleran dalam memanfaatkan sinar untuk proses assimilasi. Hal ini berlaku pula untuk daun yang terlindung. Dengan berkurangnya penyinaran akan tercapai suatu titik dimana pada titik tersebut respirasi mulai lebih besar dari assimilasi. Batas titik ini disebut titik kompensasi. Keadaan tititk ini tergantung dari jenis pohon dan kedudukan daun dalam pohon.

3. Temperatur

Tumbuhan tingkat tinggi dapat memeungkinkan dengan tempetetur yang rendah melakukan proses assimilasi. Terdapat temperatur minimum

(16)

dan maksimum dimana tumbuhan dapat melakukan assimilasi. Temperatur minimum terletak antara 0-5, optimum antara 25-30 dan maksimum terletak antara 40-500C. dari kisaran temperatur tersebut maka jelaslah bahwa daerah tropis merupakan daerah yang paling optimum untuk pertumbuhan tanaman. Pada daerah yang mempunyai empat musim terutama pohon berdaun jarum masih dapat melaksanakan assimilasi pada temperatur 00C. 4. Air

Peranan air bagi makhluk hidup sangat penting sekali. Tanaman memerlukan air untuk bahan dasar dalam proses assimilasi serta proses lainya. Air juga berperan sebagai pengangkut dalam proses transpirasi. Menurut Assmann (1961) dalam Ruchaemi (2002), untuk menghasilkan satu gram bahan organis kering 200 -1000 gram air.

5. Karbondioksida (CO2)

Karbondioksida merupakan faktor yang sangat penting sebagai bahan dasar dalam proses assimilasi. Kadar CO2 dalam udara sangat bervariasi

akan tetapi rata-ratanya mencapai 0,03%. 6. Angin

Angin yang bertiup perlahan dapat menambah kecepatan proses assimilasi, sebaiknya angin yang sangat keras berakibat mempertinggi proses transpirasi. Pengaruh angin terhadap pertumbuhan tinggi terutama angin yang sangat keras dapat menghentikan/memperlambat pertumbuhan tinggi.

Sedangkan Soetrisno (1996), menyatakan tempat tumbuh berpengaruh pada kehidupan tumbuh-tumbuhan. Faktor-faktor tersebut adalah :

(17)

1. Faktor klimatis

Yaitu faktor-faktor yang berhubungan dangan keadaan atmosfer yang mempengaruhi kehidupan tanaman maupun semua faktor yang tidak berhubungan dengan atmosfer yang mempengaruhi keadaan tanaman seperti radiasi matahari, temperatur dan tinggi.

2. Faktor edafis

Yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan tanah, seperti tekstur dan struktur tanah, zat hara tanah, air tanah, keadaan tanah, serta bahan organik yang terkandung dalam tanah.

3. Faktor fisiografis

Yaitu faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi vegetasi hutan, seperti kelerengan, kedudukan terhadap laut dan pegunungan

4. Faktor biotis

Yaitu faktor-faktor tumbuhan dan hewan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan vegetasi hutan seperti organisme penyakit.

C. Dasar – Dasar pengukuran Diameter dan Tinggi

1. Pengukuran diameter

Diameter adalah panjang garis antara dua titik pada lingkaran yang melalui titik pusat tersebut.

Pengukuran diameter yang lazim dilakukan adalah diameter setinggi dada (diameter of breast hight = dbh) karena :

a) Merupakan bagian yang paling gampang dinilai dan diukur

b) Merupakan elemen pengukuran yang paling penting dan merupakan dasar untuk banyak perhitungan lain.

(18)

c) Sebagai dasar penentuan distribusi diameter batang yang merupakan hasil inventarisasi yang paling diperlukan.

Dalam pengukuran diameter diukur pada garis setnggi dada atau 130 cm di atas permukaan tanah untuk pohon tidak berbanir, sedangkan untuk pohon yang berbanir, yang dimaksud banir disini adalah pembesaran bagian bawah batang dekat dengan permukaan tanah yang disebabkan oleh adanya akar tunjang atau akar papan, pengukuran diameter dilakuakan 15 cm di atas banir. Alat ukur yang dapat mengukur diameter secara langsung yaitu phiband

2. Pengukuran tinggi

Ada dua besaran yang perlu diperhatikan dalam kontek pengukuran tinggi dan panjang (Suharlan dan Soediono, 1985) untuk dapat membedakanya, maka dicoba memberikan pengertian secara defentitif sebagai berikut :

a) Tinggi adalah jarak terpendek antara suatu titik dengan titik proyeksi pada bidang datar atau horizontal.

b) Panjang adalah jarak antara dua titik yang diukur menurut atau tidak menurut garis lurus.

Tinggi pohon dapat diukur jika pohon masih berdiri. Tapi sering ditentukan sesudah ditebang (ini lebih sukar ditentukan puncaknya dan pengukuranya pun tidak bisa lurus karena bercabang). Dalam hal pengukuran tinggi pada pohon yang telah ditebang harus diingat bahwa ini hanya benar jika pohon tersebut berdiri tegak lurus.

Menurut Suharlan dan Soediono (1985), kesalahan dalam pengukuran tinggi pohon berdasarkan sumber penyebabnya dapat dibedakan empat macam, yaitu :

(19)

?Kesalahan alat, sumber utamanya yaitu pada pembagian skala alat, tingkat ketelitian alat dan kedudukan alat pada waktu mengukur.

?Kesalahan si pengukur, kesalahan si pengukur pada saat penggunaan alat ukur.

?Faktor lingkungan, misalnya pada kondisi fisik lapangan, topografi, cuaca dan lain-lain.

?Kesalahan karena kedaan pohonnya, misalnya tajuk pohon terlalu besar dan lebar serta pohon dalam keadaan miring.

D. Riap dan pertumbuhan

Riap dipakai untuk menyatakan pertambahan dimensi (diameter, tinggi, luas bidang dasar, dan volume) pohon atau tegakan persatuan luas pada waktu tertentu (tahun). Ruchaemi (2002)

Ada tiga macam pendekatan perhitungan riap, yaitu :

?Riap rata-rata tahunan (MAI = Mean Annual Increment) merupakan hasil bagi antara produksi total dan umur yaitu difinisikan sebagai rataan riap dari seluruh pohon termasuk didalamnya pohon-pohon yang dijarangi atau riap tahunan yang dicapai oleh suatu tegakan pada umur tertentu. ?Riap tahunan berjalan (CAI = Current Annual Increment) merupakan

perbedaaan atau selisih antara besaran pertumbuhan satu pohon atau tegakan dalam kurun waktu tertentu.

?Riap tahunan periodik (PAI = Periodic Annual Increment) didefinisikan sebagai perbedaan besaran pertumbuhan antara permulaan dan akhir periode pengukuran. Umumnya riap tahunan berjalan merupakan nilai rataan riap tahunan periodik dalam periode tertentu.

(20)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Kilometer 35 (dari kota Balikpapan) Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara dan waktu yang diperlukan dalam penelitian ini satu bulan dari 25 Mei – 25 Juni 2012 meliputi orientasi lapangan dan pengambilan data, baik data primer yang diambil melalui pengukuran langsung maupun data sekunder hasil penelititan tahun lalu sebanyak 100 pohon.

B. Alat dan Bahan 1. Alat

a. Meteran, untuk mengukur jarak antara pohon dengan pengambilan data b. Haga meter, untuk mengukur tinggi pohon

c. Phiband, untuk mengukur diameter pohon d. Label plastik, untuk penandaan pohon e. Kamera, untuk dokumentasi.

f. Tali, untuk mengikat label penomoran pohon.

g. Alat tulis, untuk mencatat data dari pengukuran diameter dan tinggi pohon 2. Bahan

Bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah tanaman jati pada umur 3 tahun sebanyak 96 pohon (pengukuran terakhir) dengan jarak tanam 3 x 4 meter

C. Prosedur Penelitian

Adapun prosedur penelitian ini mempunyai urutan kerja sebagai berikut : 1) Orientasi lapangan

(21)

Orientasi lapangan dilakukan sebagai studi pendahuluan yang tujuanya untuk menentukan sistem kerja dalam penelitian, serta memperoleh gambaran yang jelas tentang situasi dan kondisi areal penelitian.

2) Studi literatur

Studi literatur dilakukan untuk memperoleh pemahaman terhadap obyek yang akan diamati

3) Persiapan alat

Persiapan alat yang akan digunakan dalam penelitian untuk pengambilan data di lapangan

4) Melakukan penandaan dan penomoran pohon

Kegiatan penandaan ini dilakukan agar tidak terjadi pengukuran ulang dan penomoran pahon dilakukan dengan label plastik.

5) Metode pengambilan data

a. Pengambilan data diameter alat digunakan phiband, Bagian bagiannya antara lain:

A : wadah pita B : penggulung C : skala D : pita E : pengait b. Pengambilan data tinggi, Gambar 1. Pengukuran Diameter dengan

(22)

alat untuk mengukur tinggi menggunakan hagameter. Pengukuran dengan alat ini adalah :

? Jika posisi pembidik dan pohon berada di lapangan datar, maka tinggi pohon adalah penjumlahan hasil bidiadlakan ke pangkal dan ujung pohon.

? Jika posisi bidik berada di atas posisi pohon, maka tinggi pohon adalah pengurangan penjumlahan hasil bidikan ke pangkal dan ujung pohon

? Jika posisi bidik berada di bawah posisi pohon maka tinggi pohon adalah pengurangan hasil bidikan ke atas ujung pohon dengan hasil bidikan ke pangkal pohon.

Rumus perhitungan mencari tinggi dengan alat hagameter adalah:

Dimana :

H Top = Tinggi puncak pohon H Base = Tinggi pangkal pohon Gambar 2. Pengukuran Tinggi dengan

……….Hagameter Keterangan : A = posisi si pengukur D = Jarak datar = sudut pengukuran …….H Top = sudut pengukuran …....H Base

(23)

D. Pengolahaan Data

Pengolahan data diameter dan tinggi dengan rumus berkelompok sebagai berikut :

1. Rata-rata (Mean),

Untuk mengetahui rata-rata (diameter/tinggi) digunakan rumus:

Keterangan :

x = rata-rata (diameter/tinggi)

? fx = jumlah (diameter/tinggi) berdasarkan frekuensi

? f = jumlah individu pengukuran

2. Simpangan Baku (Standart Deviation)

Simpangan baku merupakan suatu nilai untuk mengetahui penyimpangan nilai-nilai individu terhadap rata-rata diameter dan tinggi. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

Sd = simpangan baku

x = nilai tengah

x = rata-rata (diameter/tinggi)

? f = jumlah individu pengukuran

3. Koefisien Variasi

Menurut Becking (1981) dalam Mustaqim (2006) koefisien variasi yaitu persentase simpangan baku terhadap nilai rata-rata dan rumus dari koefisien variasi adalah sebagai berikut :

(24)

Keterangan :

CV = Koefisien Variasi

Sd = Simpangan Baku

x = rata-rata

dengan kriteria :

CV = 0 – 10 % (dikatakan kecil/ seragam) CV = 10 – 20 % (dikatakan sedang) CV = 20 – 30 % (dikatakan besar) CV = > 30 % (dikatakan sangat besar) 4. Pertambahan diameter dan tinggi

a. Pertambahan diameter Keterengan : di = pertambahan diameter d1 = pengukuran pertama d2 = pengukuran kedua b. Pertambahaan tinggi Keterangan : hi = pertambahan tingggi h1 = pengukuran pertama h2 = pengukuran kedua

(25)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Diameter

Dari hasil pengukuran di lapangan data sebaran frekuensi diameter yang dituangkan dalam bentuk grafik seperti terlihat di bawah ini :

Gambar 3. Grafik Pengukuran Tahun 2011 dan Pengukuran Tahun 2012 …………...Diameter Pohon Jati

Hasil perhitungan diameter rata-rata, simpangan baku dan koefisien variasi yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran 2011 dan 2012 seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Deskripsi Statistik Data Diameter Tahun 2011 dan 2012 Pohon Jati

Variabel 2011 Diameter (cm) 2012

Rata-rata 6,31 8,40

Simpangan Baku 1,51 1,69

(26)

2. Tinggi

Berdasarkan hasil pengukuran tinggi di lapanagan, penyebaran tinggi pohon jati pengukuran 2011 dan 2012 dapat digambarkan dalam bentuk grafik seperti di bawah ini :

Gambar 4. Pengukuran Tahun 2011 dan Pengukuran Tahun 2012 ……….Tinggi Pohon Jati

Hasil perhitungan diameter rata-rata, simpangan baku dan koefisien variasi yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran 2011 dan 2012 seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 2. Deskripsi Statistik Data Tinggi Tahun 2011 dan 2012 Pohon Jati

Variabel 2011 Tinggi (m) 2012

Rata-rata 7,43 8,78

Simpangan Baku 1,81 1,48

Koefisien Variasi (%) 19,26 17,14 3. Pertambahan tumbuh (riap)

Hasil perhitungan pertambahan tumbuh (riap) didapat dari pengurangan pengukuran pada tahun 2012 dengan pengukuran 2011, untuk lebih jelasnya

(27)

diskripsi nilai-nilai pertambahan tumbuh diameter dan tinggi dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 3. Perhitungan Rata-rata, Simpangan Baku dan Koefisien Variasi hasil Pengukuran Dan Pertumbuhan Jati Tahun 2011 dan 2012.

Variabel Diameter (cm) Tinggi (m) 2011 2012 Riap 2011 2012 Riap Rata-rata 6,31 8,40 2 7,43 8,78 1,42 Simpangan Baku 1,51 1,69 1,04 1,81 1,48 1,06 Koefisien Variasi (%) 24,00 20,06 52,31 19,26 17,14 74,19 B.

Pembahasan

1. Diameter

Penelitian diameter Jati (Tectona grandis) pada tahun 2011umur 2 tahun dilakukan sampel sebanyak 100 pohon dengan jarak tanam 3 4 meter. Dari pengukuran diameter tersebut, didapatkan data rata-rata diameter sebesar 6,31 cm dengan simpangan baku sebesar 1,50 cm dan koefisien variasi sebesar 24,00%. Dengan nilai terendah 1,50 cm dan nilai tertinggi 9,50 cm. Pada tahun 2012 dilakukan lagi pengukuran untuk mengetahui pertumbuhan diameter tanaman jati umur 3 tahun, berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan pada tahun 2012 umur 3 tahun dengan sampel 96 pohon, diketahui bahwa data rata-rata diameter sebesar 8,40 cm dengan simpangan baku sebesar 1,69 cm dan koefisien variasi sebesar 20,06 %. Dengan nilai terendah 4,20 cm dan nilai tertinggi 11,90 cm.

Dengan memperhatikan koefisien variasi dari pengukuran diameter 2011 dan pengukuran 2012 dapat diketahui koefisien variasi masing masing 24,00% dan 20,06%, ini menunjukkan adanya variasi yang beragam, atau adanaya kesenjangan yang besar dari diameter pohon yang terendah dengan yang tertinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Becking (1981)

(28)

dalam Mustaqim (2006) yang menyatakan bahwa koefisien variasi antara 20 – 30 % termasuk kriteria besar.

2. Tinggi

Untuk penelitian tinggi pohon Jati (Tectona grandis) pada tahun 2011 Umur 2 tahun dengan sampel 100 pohon, berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan data menunjukkan rata-rata tinggi sebesar 7,43 meter dengan simpangan baku sebesar 1,81 meter dan koefisien variasi sebesar 19,26 %. Dengan nilai terendah 3,10 meter dan nilai tertinnggi 12,50 meter. Sedangkan pengukuran pada tahun 2012 umur 3 tahun dengan banyak sampel 96 pohon, hasil pengukuran tinggi pohon jati didapatkan data rata-rata tinggi sebesar 8,78 meter, simpangan baku 1,48 meter dengan koefisien variasi 17,14 %. Dengan nilai terendah 5,00 meter dan nilai tertinnggi 12,70 meter.

Dengan memperhatikan koefisien variasi dari pengukuran tinggi 2011 dan pengukuran 2012 diketahui koefisien variasi masing masing 19,26 % dan 17,14 %, ini menunjukkan kesenjangannya termasuk dalam kategori sedang., atau cukup beragam dari tinggi pohon yang terendah dengan pohon yang tertinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Becking (1981) dalam Mustaqim (2006) yang menyatakan bahwa koefisien variasi antara 10 – 20 % termasuk kriteria sedang.

3. Pertambahan tumbuh (riap) diameter dan tinggi

Berdasarkan hasil perhitungan untuk riap rata-rata pada pengukuran pohon jati di Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja didapatkan rata-rata riap diameter sebesar 2,00 cm dengan simpangan baku sebesar 1,04 cm dan koefisien variasi 52,31%. dan rata-rata riap tinggi 1,42 meter dengan

(29)

simpangan baku 1,06 meter dengan koefisien variasi 74,19%. dilihat dari nilai koefisien variasi riap pertahunnya masing-masing yaitu 53,31% dan 74,19%. Besarnya koefisien variasi riap diameter dan tinggi yang dihasilkan menunjukkan bahwa riap diameter dan tinggi tanaman Jati (Tectona grandis) di Kelurahan Karya Merdeka kecamatan samboja memiliki pertumbuhan diameter dan tinggi yang tidak seragam (variasinya sangat besar). Hal ini sesuai dengan pendapat Becking (1981) dalam Mustaqim (2006) yang menyatakan bahwa koefisien variasi terletak > 30 % di kategori sangat besar.

Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan pohon jati ini walaupun dengan jenis dan umur yang sama, pertumbuhan tidak seragam. Ketidakseragaman ini diduga karena faktor fisiografis dan biotis hal ini terlihat di areal penelitian bahwa tanaman jati tumbuh di fisiografi yang berbeda ada yang datar, agak curam dan curam. Sedangkan faktor biotisnya terlihat ada beberapa pohon jati di tumbuhi gulma yang melilit batang.

Hal ini sesuai dengan pendapat Soetrisno (1996), pertumbuhaan tanaman banyak dipengaruhi oleh faktor klimatis, faktor fisiologis, faktor edafis dan faktor biotis.

Menurut Ruchaemi (2002), semakin baik keadaan tempat tumbuh untuk suatu jenis pohon maka akan semakin baik pula pertumbuhannya. Tergantung dari tempat tumbuh, dapat saja dalam suatu areal pertumbuhan, produksi massa kayu suatu jenis yang sama sangat berbeda walaupun umurnya sama.

(30)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil perhitungan, berdasarkan data analisis hasil, maka dapat disimpulkan:

1. Diameter rata-rata pohon jati (Tectona grandis) tahun 2011 sebesar 6,31 cm dengan simpangan baku sebesar 1,50 cm dan koefisien variasi sebesar 24,00%. Sedangkan pada tahun 2012 diameter rata-ratanya sebesar 8,40 cm dengan simpagan baku sebesar 1,69 cm dan koefisien variasi sebesar 20,06 %. Koefisien variasi dari pengukuran diameter 2011 dan pengukuran 2012 dapat diketahui koefisien variasi masing masing 24,00% dan 20,06%, ini menunjukkan adanya variasi yang beragam, atau adanaya kesenjangan yang besar dari diameter pohon yang terendah dengan yang tertinggi

2. Tinggi rata-rata pohon jati (Tectona grandis) tahun 2011 sebesar 7,43 meter dengan simpangan baku sebesar 1,81 meter dan koefisien variasi sebesar 19,26 %. Sedangkan pada tahun 2012 tinggi rata-ratanya sebesar 8,78 meter, simpangan baku 1,48 meter dengan koefisien variasi 17,14 %. Koefisien variasi dari pengukuran tinggi 2011 dan pengukuran 2012 diketahui koefisien variasi masing masing 19,26 % dan 17,14 %, ini menunjukkan kesenjangannya termasuk dalam kategori sedang., atau cukup beragam 3. Riap diameter pohon jati (Tectona grandis) rata-rata sebesar 2 cm/tahun

dengan simpangan baku sebesar 1,04 cm dan koefisien variasi 52,31%. Sedangkan untuk rata-rata riap tinggi sebesar 1,42 meter dengan simpangan baku 1,06 meter dan koefisien variasi 74,19%. koefisien variasi riap pertahunnya masing-masing yaitu 53,31% dan 74,19%. Besarnya koefisien variasi riap diameter dan tinggi yang dihasilkan menunjukkan bahwa riap

(31)

diameter dan tinggi tanaman Jati (Tectona grandis) di Kelurahan Karya Merdeka kecamatan samboja memiliki pertumbuhan diameter dan tinggi yang tidak seragam (variasinya sangat besar).

B. Saran

Untuk mendapatkan hasil riap yang lebih seragam diperlukan kegiatan pemeliharaan tanaman, sehingga diharapkan akan dapat memperkecil koefisien variasi. Selain itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pohon jati

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2012). Manfaat dan kegunaan pohon Jati (Tectona grandis).

http://wanabaktikawali.blogspot.com/2011/07/manfaat-dan-kegunaan-pohon-jati-tectona.html

Janawati, 2011. Studi Pengukuran Diameter dan Tinggi Jati (Tectona grandis) Umur 2 Tahun di KM 35 Kelurahan Karya Merdeka Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara. (Hasil Penelitian Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda).

Mustaqim, M. 2006. Riap Tahunan Berjalan Diameter dan Tinggi Tanaman Jati Super (Tectona grandis L.F) di HTI Percontohan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. (Hasil Penelitian Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda).

Nurhayadi R, dkk 2002. Diktat Statistik Dasar. Jurusan Pengelolaan Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Ruchaemi, A. 2002. Analisis Pertumbuhan dan hasil. Laboratorium Biometrika Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Samarinda. Soetrisno, 1996. Silvika. Bahan Kuliah Silvika Fakultas Kehutanaan Universitas

Mulawarman, Samarinda

Suharlan A dan Yon Soediono, 1973. Ilmu Ukur Kayu Faakultas Kehutanan Instiut Pertanian Bogor. Bogor

Sutopo, 1992. Peningkatan kualitas Pemanfaatan Kayu Jati Muda Untuk Mabel Sukarta.

Tini, N dan Amri K, 2002. Mengebunkan Jati Unggul. Pilihan Investasi Prospektif. Agro Media Pustaka. Jakarta

Widhana, S. 2001. Produktivitas Tanaman Reboisasi. http://library.forda-mof.org/libforda/data_pdf/888.pdf

(33)

Lampiran 1.

Tabel 4. Data Pengukuran dan Perhitungan Diameter (cm) Pohon Jati

No. Pohon Tahun Pengukuran Riap No.

Pohon Tahun Pengukuran Riap 2011 2012 2011 2012 1 8,10 10,40 2,30 51 4,40 5,50 1,10 2 7,90 9,00 1,10 52 3,90 4,80 0,90 3 6,95 10,30 3,35 53 3,80 5,00 1,20 4 7,45 11,90 4,45 54 5,50 7,20 1,70 5 7,70 10,90 3,20 55 5,50 7,30 1,80 6 7,05 10,20 3,15 56 9,40 10,60 1,20 7 6,40 9,30 2,90 57 6,00 7,70 1,70 8 6,80 9,50 2,70 58 7,50 8,80 1,30 9 5,55 7,70 2,15 59 5,20 6,80 1,60 10 6,10 7,88 1,78 60 8,45 9,20 0,75 11 4,05 mati 61 6,00 8,30 2,30 12 3,95 mati 62 1,50 7,00 5,50 13 5,00 6,10 1,10 63 6,60 8,30 1,70 14 3,40 4,40 1,00 64 7,50 11,80 4,30 15 4,30 5,30 1,00 65 6,80 10,00 3,20 16 4,95 6,00 1,05 66 5,85 7,30 1,45 17 4,70 5,90 1,20 67 5,55 6,40 0,85 18 4,70 mati 68 8,85 9,30 0,45 19 9,50 9,90 0,40 69 6,95 9,00 2,05 20 8,20 10,50 2,30 70 7,00 8,50 1,50 21 7,80 9,30 1,50 71 6,50 9,80 3,30 22 7,48 10,30 2,82 72 7,60 8,90 1,30 23 8,10 9,00 0,90 73 8,50 10,30 1,80 24 5,40 6,30 0,90 74 5,00 8,00 3,00 25 7,90 9,20 1,30 75 6,20 8,50 2,30 26 4,10 6,00 1,90 76 5,10 6,00 0,90 27 7,10 8,80 1,70 77 6,60 8,40 1,80 28 5,40 9,00 3,60 78 5,20 6,30 1,10 29 5,40 7,20 1,80 79 6,00 7,20 1,20 30 5,70 7,30 1,60 80 7,10 9,30 2,20 31 4,40 5,50 1,10 81 6,80 9,30 2,50 32 5,10 7,40 2,30 82 7,80 11,40 3,60 33 3,35 4,20 0,85 83 8,50 11,00 2,50 34 4,60 7,00 2,40 84 6,50 7,70 1,20 35 6,10 7,80 1,70 85 7,30 8,00 0,70 36 5,95 8,90 2,95 86 7,00 9,00 2,00 37 7,40 9,00 1,60 87 6,80 7,50 0,70 38 7,45 11,90 4,45 88 6,90 8,00 1,10 39 5,40 7,80 2,40 89 7,80 8,80 1,00 40 8,70 mati 90 8,20 9,10 0,90 41 6,65 9,90 3,25 91 5,80 7,50 1,70 42 5,90 9,70 3,80 92 6,20 8,00 1,80 43 7,60 8,20 0,60 93 6,90 8,20 1,30 44 6,45 8,80 2,35 94 5,60 8,00 2,40 45 4,60 7,80 3,20 95 6,50 8,10 1,60 46 6,25 8,00 1,75 96 6,90 9,30 2,40 47 5,30 7,90 2,60 97 6,70 8,40 1,70 48 3,30 6,00 2,70 98 6,00 8,20 2,20 49 3,55 5,10 1,55 99 8,10 11,20 3,10 50 7,15 8,20 1,05 100 7,90 10,00 2,10

(34)

Lampiran 2

Tabel 5. Data Pengukuran dan Perhitungan Tinggi (m) Pohon Jati

No. Pohon Tahun Pengukuran Riap No. Pohon Tahun Pengukuran Riap

2011 2012 2011 2012 1 10,00 11,00 1,00 51 6,50 7,00 0,50 2 8,00 10,50 2,50 52 6,50 7,00 0,50 3 9,00 9,50 0,50 53 5,50 5,90 0,40 4 7,40 9,50 2,10 54 5,50 7,00 1,50 5 8,40 10,10 1,70 55 7,50 7,50 0,00 6 8,00 10,40 2,40 56 10,00 12,00 2,00 7 7,60 9,90 2,30 57 6,50 8,00 1,50 8 7,70 9,50 1,80 58 11,00 11,00 0,00 9 6,50 7,00 0,50 59 6,00 8,00 2,00 10 6,90 8,00 1,10 60 12,50 12,70 0,20 11 5,60 mati 61 8,00 8,50 0,50 12 5,30 mati 62 6,40 6,80 0,40 13 5,80 7,50 1,70 63 7,50 8,10 0,60 14 3,60 6,50 2,90 64 11,50 11,50 0,00 15 5,90 6,00 0,10 65 9,50 9,50 0,00 16 5,50 7,60 2,10 66 9,50 9,60 0,10 17 5,00 8,00 3,00 67 7,00 7,70 0,70 18 5,00 mati 68 9,00 9,00 0,00 19 8,30 10,00 1,70 69 8,50 9,50 1,00 20 9,60 11,00 1,40 70 8,50 9,00 0,50 21 8,50 10,00 1,50 71 8,00 8,40 0,40 22 9,30 10,50 1,20 72 6,50 6,70 0,20 23 8,30 9,50 1,20 73 10,00 10,60 0,60 24 4,40 10,00 5,60 74 5,50 8,30 2,80 25 8,80 9,50 0,70 75 8,50 9,80 1,30 26 3,10 7,20 4,10 76 5,80 8,00 2,20 27 4,10 6,50 2,40 77 8,00 9,00 1,00 28 8,10 9,40 1,30 78 6,10 6,50 0,40 29 6,90 8,40 1,50 79 6,40 9,50 3,10 30 7,00 9,00 2,00 80 8,50 9,50 1,00 31 4,50 5,00 0,50 81 8,10 10,00 1,90 32 5,80 7,00 1,20 82 7,50 8,30 0,80 33 5,80 7,00 1,20 83 10,00 10,20 0,20 34 5,40 7,00 1,60 84 8,00 8,50 0,50 35 6,80 9,00 2,20 85 9,00 10,00 1,00 36 7,30 8,00 0,70 86 7,30 7,50 0,20 37 8,60 9,00 0,40 87 7,80 7,90 0,10 38 5,80 10,50 4,70 88 7,00 7,60 0,60 39 6,60 8,20 1,60 89 8,40 8,50 0,10 40 10,30 mati 90 6,80 6,90 0,10 41 8,10 10,50 2,40 91 5,50 8,70 3,20 42 6,60 7,40 0,80 92 7,20 8,50 1,30 43 7,70 8,50 0,80 93 7,10 7,50 0,40 44 6,40 9,00 2,60 94 7,30 8,20 0,90 45 5,40 7,50 2,10 95 8,00 8,40 0,40 46 6,30 7,40 1,10 96 8,10 9,00 0,90 47 6,10 7,70 1,60 97 8,00 9,10 1,10 48 5,00 8,00 3,00 98 7,30 8,80 1,50 49 4,30 5,50 1,20 99 10,00 10,10 0,10 50 5,80 7,00 1,20 100 8,50 9,60 1,10

(35)

Lampiran 3.

Tabel 6. Distribusi Diameter Pohon Jati Tahun 2011

Interval f x fkum fx (x-x) f(x-x)2 1,00 – 1,99 1 1,495 1 1,495 -4,810 23,136 2,00 – 2,99 0 2,495 1 0,00 -3,810 0,00 3,00 – 3,99 7 3,495 8 24,465 -2,810 55,273 4,00 – 4,99 10 4,495 18 44,950 -1,810 32,761 5,00 – 5,99 21 5,495 39 115,395 -0,810 13,778 6,00 – 6,99 27 6,495 66 175,365 0,190 0,975 7,00 – 7,99 22 7,495 88 164,890 1,190 31,154 8,00 – 8,99 10 8,495 98 84,950 2,190 47,961 9,00 – 9,99 2 9,495 100 18,990 3,190 20,352 ? 100 630,500 225,390

=

=

=

Tabel 7. Distribusi Diameter Pohon Jati Tahun 2012

Interval f x Fkum fx (x-x) f(x-x)2 4,00 – 4,99 3 4,495 3 13,485 -3,906 45,776 5,00 – 5,99 6 5,495 9 32,970 -2,906 50,678 6,00 – 6,99 9 6,495 18 58,455 -1,906 32,704 7,00 – 7,99 19 7,495 37 142,405 -0,906 15,604 8,00 – 8,99 23 8,495 60 195,385 0,096 0,202 9,00 – 9,99 20 9,495 80 189,900 1,094 23,926 10,00 - 10,99 10 10,495 90 104,950 2,094 43,838 11,00 - 11,99 6 11,495 96 68,970 3,094 57,428 ? 96 806,520 270,156

=

Sd

=

CV

=

(36)

Lampiran 4

Tabel 8. Distribusi Tinggi Tahun 2011

Interval F X Fkum Fx (x-x) f(x-x)2 3,00 – 3,99 2 3, 495 2 6,990 -3,930 30,890 4,00 – 4,99 4 4, 495 6 17,980 -2,930 34,340 5,00 – 5,99 19 5, 495 25 104,405 -1,930 70,773 6,00 – 6,99 18 6, 495 43 116,910 -0,930 15,568 7,00 – 7,99 17 7, 495 60 127,415 0,070 0,083 8,00 – 8,99 24 8, 495 84 203,880 1,070 27,478 9,00 – 9,99 7 9, 495 91 66,465 2,070 29,994 10,00 – 10,99 6 10, 495 97 62,970 3,070 56,549 11,00 – 11,99 2 11, 495 99 22,990 4,070 33,130 12,00 – 12,99 1 12, 495 100 12,495 5,070 25,705 ? 100 742,500 324,510

=

Sd

=

CV

=

Tabel 9. Distribusi Tinggi Tahun 2012

Interval F X Fkum Fx (x-x) f(x-x)2 5,00 – 5,99 3 5, 495 3 16,485 -3,281 32,300 6,00 – 6,99 7 6, 495 10 45,465 -2,281 36,429 7,00 – 7,99 21 7, 495 31 157,395 -1,281 34,474 8,00 – 8,99 22 8, 495 53 186,890 -0,281 1,740 9,00 – 9,99 23 9, 495 76 218,385 0,719 11,882 10,00 – 10,99 14 10, 495 90 146,930 1,719 41,357 11,00 – 11,99 4 11, 495 94 45,980 2,719 29,566 12,00 – 12,99 2 12, 495 96 24,990 3,719 27,658 ? 96 842,520 215,406

=

Sd

=

CV

=

%

(37)

Lampiran 5.

Tabel

10. Distribusi Riap Diameter

Interval F x fkum Fx (x-x) f(x-x)2 0,00 – 0,99 13 0, 495 13 6,435 -1,500 29,250 1,00 – 1,99 43 1, 495 56 64,285 -0,500 10,750 2,00 – 2,99 24 2, 495 80 59,880 0,500 6,000 3,00 – 3,99 12 3, 495 92 41,940 1,500 27,000 4,00 – 4,99 3 4, 495 95 13,485 2,500 18,750 5,00 – 5,99 1 5, 495 96 5,495 3,500 12,250 ? 96 191,520 104,000

=

=

=

Tabel 9. Distribusi Riap Diameter

Interval f X Fkum Fx (x-x) f(x-x)2 0,00 – 0,99 41 0, 495 41 20,295 -0,927 35,239 1,00 – 1,99 32 1, 495 73 47,840 -0,073 0,170 2,00 – 2,99 16 2, 495 89 39,920 1,073 18,418 3,00 – 3,99 4 3, 495 93 13,980 2,073 17,188 4,00 – 4,99 2 4, 495 95 8,990 3,073 18,886 5,00 – 5,00 1 5, 495 96 5,495 4,073 16,589 ? 96 136,520 106,490 =

= =

(38)

Lampiran 6.

Gambar 5. Pengambilan Data Diameter Pohon Jati Umur 3 Tahun

(39)

Lampiran 7.

Gambar 7. Penomoran Pohon Jati Pada Tahun 2012

Gambar

Gambar 3. Grafik Pengukuran Tahun 2011 dan Pengukuran Tahun 2012
Gambar 4.  Pengukuran Tahun 2011 dan Pengukuran Tahun 2012
Tabel 4.  Data Pengukuran dan Perhitungan Diameter (cm) Pohon Jati
Tabel 5.  Data Pengukuran dan Perhitungan Tinggi (m) Pohon Jati
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis varians diameter dan tinggi dari lima famili sampel jati umur 9 tahun. Keterangan: ns =

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Karakteristik Biome trik Pohon Jati ( Tectona grandis L.f.) Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit

Pertumbuhan tanaman pokok jati umur 3 tahun dan 12 tahun di hutan rakyat berbeda sangat nyata dengan pertumbuhan tanaman pokok jati pada umur yang sama di

Komponen kimia kayu trubusan jati unggul nusantara (Tectona Grandis Linn.f.) pada bagian pangkal, tengah dan ujung.. Hidden assets: Asia’s small holder wood

Identifikasi dilakukan pada tegakan jati klon unggul umur 5 tahun di hutan rakyat, dengan memfokuskan pengamatan pada bagian batang.. BAHAN

menunjukkan perbedaan rerata panjang trikoma ( abaksial ) daun jati ( Tectona grandis L.) pada umur 12 MST yang ditanam pada tanah pascatambang emas Bombana dengan

Hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan pangkal, tengah dan ujung terhadap Keteguhan tekan sejajar serat pada kayu jati (Tectona grandis L.F) disajikan pada

Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1 jenis hama yang ditemukan pada tanaman Jati Tectona grandis L.F di Udukama, adalah: rayap Neortemes tectonae, kutu putih pseudococcus sp dan