PENATALAKSANAAN EKSOSTOSIS LIANG TELINGA
Elvi Syahrina Fiorisa, Titiek H. AhadiahDep/SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo Surabaya
PENDAHULUAN
Eksostosis liang telinga adalah tonjolan tulang jinak dalam liang telingayang cenderung bilateral danmultipel. Berdasarkan histologi dan etiologi berbeda dengan osteoma liang telinga yang sifatnya soliter.1,2Eksostosis liang telinga
merupakan pertumbuhan tulang baru pada bagian tulang liang telinga yang menyempitkan liang telinga. Penyebab pasti eksostosis masih belum diketahui namun diperkirakan akibat inflamasi liang telinga yang merangsang pertumbuhan dan resorpsi tulang. Umumnya karena inflamasi yang lama yaituadanya paparan air dingin. Paparan air dingin yang berulang dan sering sebagai faktor yang memulai pertumbuhan tulang temporal ini.3,4
Di Southern California, 70 dari 11.000 pasien THT (0,64%) mengalami eksostosis disertai adanya keluhan. Prevalensi 74% eksostosis di daerah tersebut terjadi pada populasi peselancar yang berisiko lebih besar.Eksostosis liang telinga umumnya ditemukan secara tidak sengaja dan tanpa keluhan. Keluhan yang dapat timbul berupa rasa tertutup atau buntu jika 80% liang telinga telah tertutupoleh eksostosis ini.Keluhan umum lainnya berupa otitis eksterna rekurens, tulikonduksi, nyeri telinga, dan tinitus.Jika menimbulkan keluhan maka diperlukan perawatan berupa tindakan konservatif maupun pengangkatan secara bedah.1-3
Tujuan dari penulisan tinjauan pustaka ini adalah untuk membahas tentang penatalaksanaan eksostosis liang telinga.
1. EPIDEMIOLOGI
Umumnya eksostosis terjadi pada individu yang sering beraktivitas dengan air seperti pada peselancar, perenang, penyelam, kayakers, pelaut, nelayan, dan sebagainya.Eksostosis disebut juga sebagai surfer’s earoleh karena prevalensinya
yang meningkat pada peselancarsebesar 60-80%. Prevalensi yang hampir sama yaitu sebesar 70% ditemukan pada white-water kayaker. Pada para penyelam bebas atau breath-holddiverdidapatkan prevalensinya sebesar 87%.5,6Serta pada perenang
air dingin di Denmark didapatkan 90% mengalami eksostosis.Eksostosis pada penyelam bebas umumnya lebih ringan dibandingkan pada peselancar, namun lebih berat dibandingkan penyelam amatir SCUBA.1
Risikoterjadinya eksostosisyang tinggi jugabergantung pada durasi dan kekerapan beraktivitas pada olahraga air ini.Eksostosis jarang ditemukan pada mereka yang telah berselancar dibawah 5 tahun apalagi yang hanya sesekali saja. Sebaliknya mereka yang telah berselancar lebih dari 20 tahun hampir sebagian besarmengalami eksostosis.1,3,4Haruka Nakanishi pada tahun 2010
telah membuat suatu nilai surfing index dengan lamanya waktu berselancar dan kekerapan berselancar. Serta ada pula penelitian lain yang telah membuat perhitungan perkiraan bahwa setiap satu tahun berselancar dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami eksostosis sebesar 12%.5
Eksostosis jarang terjadi pada perempuan oleh karena lebih banyak dijumpai pada komunitas olah raga air yang lebih digemari laki-laki dibandingkan perempuan sebesar 4:1.5,7,,8Eksostosis
liang telinga bukan hanya fenomena yang terjadi pada masa kini saja, namun pernah dilaporkan terjadi pula pada populasi kuno hampir di seluruh dunia, antara lain pada Mesolithic Yugoslavians, imperial rome, pre-hispanic Canary Islands, dan pre-Colombian South America. Sebagian besar individu pada masa tersebut sering melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air.9,10
2. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Banyak penelitian yang mendukung bahwa eksostosis berhubungan dengan paparan air dingin yang berulang.Perkembangan terkini dikatakan bahwa paparan ini juga mengenai mereka baik profesional maupun sekedar rekreasi dengan aktivitas yang berhubungan dengan berenang, menyelam, berselancar, windsurfingmaupun kayak. Prevalensi eksostosis berbeda diantara berbagai macam olahraga air, yang dapat merupakan petunjuk sebagai etiologinya.1,5
Dua hal utama yang dapat menjelaskan etiologi dari eksostosis ini yaitu faktor genetik dan pengaruh lingkungan.Faktor genetik sebagai penyebab telah didukung oleh sebagian peneliti sejak abad ke-19. Namun penelitian terbaru telah banyak membuktikan bahwa selain faktor genetik, eksostosis kemungkinan dipicu juga oleh rangsangan kimia atau mekanik yang menimbulkan iritasi pada liang telinga. Faktor lingkungan yang dimaksud adalah pendinginan (minor frostbite)pada liang telinga yang dipicu oleh paparan air dingin, suhu udara yang rendah, dan udara dingin.3,4,9,10
Suhu lingkungan air diyakini mempengaruhi kemungkinan perkembangan eksostosis, yaitu air dingin memberi risiko yang lebih besar.2,4,5,11 Saunders mengutip dari suatu
penelitian yang membandingkan prevalensi eksostosis diantara peselancar di utara dan selatan New Zealand, dan diantara peselancar di musim panas saja dengan peselancar yang meneruskannya hingga sepanjang musim dingin, yang ternyata sangat mendukung hal ini.Bukti pendukung yang lebih kuat lagi adalah dari analisa suhu permukaan air dari breath-hold divers.1Serta dari penelitian
tentang perbandingan antara penyelam di utara dan selatan Jepang.5
Suhu permukaan air dan suhu udara umumnya berkaitan dengan terjadinya eksostosis. Sulit memastikan apakah paparan air dingin atau udara dingin yang berperan terhadap perkembangan eksostosis. Penelitian terbaru di pantai barat Amerika Serikat seperti yang dikutip oleh Saunders menyimpulkan bahwa faktor etiologi utama yang mungkin berperan adalah penguapan dingin oleh udara dingin. Penelitian ini memeriksa eksostosis pada sisi liang telinga dalam satu grup peselancar
pantai barat dan menemukan bahwapada telinga kanan dua kali lebih sering mengalami eksostosis dibandingkan telinga kiri.Hal tersebut disebabkan para peselancar kebanyakan mengayuh atau menghadap ke arah laut untuk menunggu datangnya ombak, dan berdasarkan geografis serta arah mata angin maka para peselancar pantai barat ini ternyata lebih mengarah kearah barat.Sesuai dengan arah angin sepanjang musim dingin yang lebih kearah utara sehingga telinga kanan peselancar yang lebih sering terpapar udara dibandingkan telinga kirinya, sehingga peneliti tersebut beranggapan bahwa perbedaan paparan udara dingin juga berperan terhadap perbedaan prevalensi eksostosis diantara kedua telinga dalam grup peselancar ini.1,2
Teori diatas juga sebagai penjelasan bahwa pada penyelam SCUBA berisiko lebih kecil terjadinya eksostosis dibandingkan olahraga air lainnya. Olahraga lain seperti berselancar, white-water kayaking dan breath-hold diving menghabiskan sebagian besar waktunya dengan kepalanya terendam berulang kali, menyebabkan siklus basah dan kering beberapa kali dengan akibat terjadi penguapan dingin. Penyelam SCUBA profesional cenderung terendam dalam waktu lama tanpa berselancar. Keadaan ini menyebabkan berkurangnya siklus yang terjadi sehingga penguapan dingin pun menjadi berkurang.1,6
Berdasarkan histologi, eksostosis tersusun atas lapisan konsentris yang multipel dari subperiosteal tulang, sehingga subperiosteal tulang yang tersusun dalam lapisan-lapisan oleh karena pertumbuhannya yang periodik menimbulkan gambaran yang khas yaitu onion skin.Patofisiologi perkembangannya masih belum jelas tetapi diperkirakan akibat siklus pendinginan berulang yang menimbulkan hiperemi reaktif dari kulit liang telinga. Bagian tulang liang telinga merupakan satu-satunya dari tubuh manusia yang kulitnya langsung melekat di periosteum. Keadaan hiperemi yang terjadi menyebabkan suatu reaksi periosteal dan merangsang terjadinya osteogenesis.Hal ini disebut juga sebagai refrigeration periostitis. Hipervaskularisasi yang terjadi merupakan ciri suatu diffuse idiopathic skeletal hyperostosis(DISH) yaitu kerangka tulang tampak menjadi hipertrofi.1,12,13
Gambar 1. Gambaran histologi Eksostosis13
Secara anatomi kulit pada bagian tulang liang telinga lebih tipis dibandingkan bagian fibrokartilago, dengan ketebalan sekitar 0,2 mm. Pada lapisan subkutan tidak memiliki kelenjar maupun folikel rambut. Sebelah posterior dari bagian tulang liang telinga berbatasan langsung dengan sel mastoid dan merupakan bagian yang paling tipis. Tipisnya kulit bagian tulang liang telinga ini memiliki implikasi klinis salah satunya adalah menyebabkan mudah terjadinya thermal irritation pada periosteum sehingga terbentuk eksostosis saat menyelam di air dingin.14
Douglas mengutip dari Harrison bahwa vasodilatasi reaktif setelah paparan air dingin pada liang telinga merupakan faktor penyebab terbentuknya eksostosis. Hipotesis yang selama ini diterima bahwa rangsangan mekanik seperti peningkatan vascular tension menimbulkan bentukan tulang baru, selama tekanan tersebut tidak mempengaruhi suplai darah dan drainase. Pemanjangan refleks vasodilatasi pada bagian dalam dari tulang liang telinga, akibat paparan air dingin saat berenang, menyebabkanpeningkatan vascular tension.13
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa deposisi tulang subperiosteal baru di berbagai bagian tubuh terjadi sebagai respon terhadap tekanan pada periosteum, episodic loadingpada periosteum yang meningkatkan produksi tulang baru, bendungan vena yang memicu produksi tulang baru, serta bendungan vena yang menimbulkan bentukan tulang baru yang berlapis-lapis. Hal ini mendukung teori yang disampaikan oleh Harrison tersebut.1,13
3. DIAGNOSIS
Eksostosis sangat bervariasi dalam ukuran dan gambaran klinisnya. Eksostosis dapat tampak sebagai dua atau lebih tonjolan tulang bulat yang berbeda pada liang telinga, sering hampir mendekati membran timpani.Tonjolan tulang bulat yang berbeda ini merupakan suatu hiperostosis tulang yang meluas pada liang telinga, jika ukuran tonjolan ini besar maka dapat menutupi membran timpani. Eksostosis liang telinga umumnya bilateral walaupun tidak selalu dan tidak selalu simetris pada gambaran klinisnya. Apabila meragukan dapat dilakukan palpasi secara lembut menggunakan probe yang tumpul untuk mengkonfirmasi tonjolan tulang tersebut.1,12
Prevalensi penonjolan eksostosis ini terutama pada bagian anteroinferior tulang liang telinga dimana tympanic ringyang paling tebal serta bagian superior dan posterior merupakan tympanic ring yang paling tipis sehingga eksostosis lebih jarang terjadi.12Eksostosis yang besar walaupun
tampak jelas menyempitkan liang telinga sering tidak menimbulkan keluhan. Namun pertumbuhan tulang yang semakin progresif akhirnya menyebabkan timbulnya keluhan. Awalnya eksostosis ini menyebabkan retensi air dalam liang telinga setelah berenang, yang lama kelamaan menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran, telinga menjadi tidak nyaman dan rasa terbuntu yang fluktuatif.5,12,15
Selain itu dengan semakin membesarnya eksostosis menimbulkan keluhan infeksi telinga luar yang terjadi secara berulang.Hal ini akibat meningkatnya kelembaban liang telinga dan menumpuknya debris sehingga timbul keluhan otitis eksterna rekurens, otore, dan otalgi. Pada stadium lanjut eksostosis menyebabkan oklusi penuh liang telinga sehingga menimbulkan otalgi dan tuli konduksi.5,12,15
Anamnesis mengenai pekerjaan, kebiasaan, daerah tempat tinggal, dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang merupakan modalitas menegakkan eksostosis agar penanganan yang tepat dapat dilakukan.Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan penala dan audiometri yang diperlukan untuk mengetahui jenis dan derajat
ketulian sehingga dapat dibandingkan perbaikan pendengaran sebelum dan sesudah operasi. Tomografi Computer mastoidjuga berperan dalam melihat ukuran eksostosis pada liang telinga, apakah tumbuh berdekatan dengan membran timpani atau tidak, juga dapat sebagai informasi
mengenai posisi temporomandibular jointterhadap liang telinga dan bagian descenden saraf fasialis terhadap tulang annulus sehingga dapat menentukan pendekatan yang dipilih untuk pengangkatan eksostosis.1,7
4. KLASIFIKASI
Belum ada literatur yang mendeskripsikan konfigurasi variasi dari eksostosis dalam menggambarkan oklusi liang telinga. Literatur yang pernah ada berupa persentasi oklusi dan tidak menggambarkan prevalensi variasi anatomi dan implikasi pembedahannya.12
Klasifikasi eksostosis menurut Ito dan Ikeda yang dikutip oleh Seres Triola, dikelompokkan menjadi beberapa derajat berdasarkan derajat obstruksi yang ditimbulkan pada liang telinga, yaitu derajat I obstruksi < 30%, derajat II obstruksi 30-59%, derajat III obstruksi 60-90%, derajat IV >90%.7
Gambar 2. A. Eksostosis telinga kiri B. Eksostosis telinga kanan12
A
B
Gambar 3. CT Scan tulang temporal potongan koronal Eksostosis telinga kiri yang telah dioperasi
dan telinga kanan yang belum12
Gambar 4. Klasifikasi Eksostosis A. Derajat I, B. Derajat II, C. Derajat III, D. Derajat IV7
Penelitian oleh Haruka Nakanishi et al, Ryan D. Moore et al, dan John W. House et al mengklasifikasikan eksostosis berdasarkan derajat obstruksi liang telinga oleh eksostosis yang juga terdiri dari 4 derajat yaitu derajat 0 (normal) tidak tampak eksostosis, derajat 1 (minimal) obstruksi terjadi kurang dari 1/3, derajat 2 (moderate) obstruksi terjadi 1/3 – 2/3 bagian, derajat 3 (severe) obstruksi yang terjadi lebih dari 2/3 bagian.2,5,11
Phillip Chang membuat sistem derajat eksostosis berdasarkan ukuran dan lokasi predominan dari eksostosis tersebut. Derajat 1 anterior eksostosis, derajat 2 antero-posterior eksostosis, derajat 3 posterior eksostosis. Klasifikasi ini sebagai cara yang berguna untuk tindakan pembedahan karena dapat lebih memperkirakan kesulitan dan hal-hal penting yang harus diperhatikan saat pembedahan.12
Tabel 1. Sistem GradingEksostosis12
5. DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding dari eksostosisliang telinga diantaranya osteoma, otitis eksterna kronis, stenosis liang telinga pasca operasi, dan penyakit kongenital. Osteoma memberikan tampilan klinis sebagai tonjolan tulang jinak umumnya tumbuh soliter, unilateral, ukuran lebih besar dari eksostosis, kulit yang melapisi tebal dan banyak pembuluh darah, serta bertangkai.
Osteoma berasal dari tympano-squamous atau tympano-mastoid suture line, dengan gambaran histologi berupa lamela tulang yang tidak teratur, banyak osteoblast dan sedikit osteosit serta terlihat gambaran bone marrow.7
6. TERAPI
Terapi eksostosis dapat berupa konservatif maupun pembedahan.Konservatif meliputi pencegahan dengan menghindari paparan lama terhadap air dan secara teratur menjaga kebersihan telinga. Berbagai teknik pembedahan telah dilaporkan namun semua teknik memiliki kejadian morbiditas dan risiko komplikasi masing-masing.1,11,12
6. 1 Konservatif
6. 1.1 Pencegahan
Jika eksostosis ditemukan secara tidak sengaja atau tanpa adanya keluhan dari liang telinga pasien sebelumnya maka tata laksana yang dilakukan adalah konservatif. Anamnesis yang teliti dan tajam dapat menemukan aktivitas penyebab yang berhubungan dengan kejadian eksostosis tersebut.
Jika aktivitas tersebut tidak teratur dilakukan lagi maka tata laksana yang ditekankan adalah penjelasan mengenai hasil pemeriksaan yang didapat dan kemungkinan eksostosis akan tetap Derajat 1 Derajat 2 Derajat 3 Derajat 4
berkembang secara pelan. Namun apabila aktivitas yang berhubungan dengan paparan air dingin tersebut masih berlangsung maka dapat meningkatkan kemungkinan eksostosis menjadi semakin membesar dan menimbulkan keluhan, sehinggapasien perlu mengetahui tentang cara mengatasinya.1,16
Pencegahan progresifitas eksostosis yang tanpa keluhan maupun dengan keluhan perlu dipertimbangkan penggunaan ear plug. Penggunaan ear plugtelah cukup banyak dilakukan dikalangan pecinta olahraga air sebagai pencegahan berkembangnya eksostosis. Cetakan ear plug tertentu secara nyata lebih baik digunakan pada pasien dengan eksostosis.
Faktor pemicu utama terjadinya otitis eksterna berulang oleh karena masuknya air ke dalam liang telinga dan salah satu pencegahannya dengan penggunaan ear plugini. Penggunaan ear plugjuga sebagai pelindung terjadinya rekurensi eksostosis pasca operasi.2,4,17
Penggunaanear plug ini memiliki keterbatasan bagi peselancar maupun pecinta olahraga air lainnya yaitu terganggunya pendengaran mereka. Bagi mereka pendengaran penting untuk kewaspadaan akan lingkungan sekitarnya dan ketika di dalam air. Sedangkan bagi sebagian penyelam, penggunaan ear plug menimbulkan gangguan penyamaan tekanan saat di kedalaman ketika menyelam sehingga mereka tidak merekomendasikan penggunaan ear plug saat menyelam.2,11,17
6.1.2 Medikamentosa
Pasien dengan eksostosis yang menimbulkan keluhan sering berobat karena masalah kebersihan liang telinganya terutama serumen obsturan di dalam dari eksostosisnya tersebut. Serumen yang terbentuk menganggu pendengaran, kenyamanan, dan juga sebagai faktor terjadinya otitis eksterna berulang.
Frekuensi pembersihan liang telinga secara teratur sangat bervariasi tiap individu. Pengobatan infeksi akut dengan pembersihan liang telinga secara mikroskopik dan pemberian tetes telinga antibiotik dan steroid.1,4,12,16
Penanganan medikamentosa disini adalah dalam hal mengatasi keluhan atau gejala yang diakibatkan adanya eksostosis ini bukan secara langsung terhadap eksostosisnya.7
6.2 Pembedahan
Intervensi pembedahan jarang dilakukan, biasanya diindikasikan pada pasien yang menderita otitis eksterna berulang oleh karena retensi serumen dan keratin yang berulang, nyeri telinga, serta adanya gangguan pendengaran yang dengan tata laksana konservatif terbukti tidak berhasil. Eksostosis yang sangat besartanpa adanya impaksi serumen atau infeksi tetap jarang menyebabkan penurunan pendengaran.
Pada pasien eksostosis dengan tuli konduktif perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya kelainan patologi sekunder seperti efusi telinga tengah, otoseklerosis, atau kelainan rantai osikula.1,4
Pada beberapa kasus memang perlu pembedahan eksostosis untuk menegakkan diagnosis dan perawatan lebih lanjut.Pada semua kasus eksostosis dengan tuli konduktif perlu dijelaskan bahwa kemungkinan pendengarannya tidak segera membaik setelah pembedahan dan diperlukan tindakan lebih lanjut untuk memperbaiki penurunan pendengarannya.Tujuan pembedahan adalah menghilangkan keluhan atau gejala dan mengurangi risiko komplikasi.1,4
Pembedahan eksostosis ada 2 pendekatan yaitu pendekatan permeatal atau transmeatal atau endaural dan pendekatan postaurikular atau retroaurikular. Anestesi yang digunakan bisa lokal maupun umum. Pembedahan permeatal digambarkan hanya sebagai pengeboran konservatif pada bagian anterior dari eksostosis untuk menghindari terkenanya saraf fasialis.
Pendekatan postaurikular secara umum dianjurkan untuk pengeboran eksostosis yang lebih radikal. Indikasi pendekatan postaurikular antara lain yaitu adanya total eksostosis tanpa adanya lumen atau ruang serta keahlian operator yang masih kurang karena dengan pendekatan ini landmarkmenjadi lebih baik dan lapangan operasi lebih luas.13,16
Beberapa literatur menggambarkan suatu teknik transeksi kanal, yaitu liang telinga terbagi menjadi 360 derajat dan semua jaringan lunak di bagian lateral dipindahkan dengan diretraksi ke depan. Hal ini memberikan lapangan operasi yang baik namun canalplastyharus dikerjakan kemudian, yaitu melebarkan bagian tulang liang telinga dari ukuran normalnya yang bertujuan mengurangi resiko stenosis pasca operasi oleh karena adanya jaringan parut yang terbentuk melingkar.1,13
Selain menggunakan bor, pendekatan permeatal juga dapat melalui pengangkatan tulang menggunakan palu dan osteotomeyang sangat tipis (1 mm).Penggunaan osteotomeuntuk mengangkat tulang relatif merupakan perkembangan baru bahkan yang terbaru menggunakan laser, tetapi penggunaan bor otologi kecepatan tinggi masih dilakukan pada kebanyakan rumah sakit.1,13,16
Selama pengeboran, flap kulit dan membran timpani dapat dilindungi dengan penggunaan alat yang sangat tipis untuk memotong, sehingga pilihan alat burr juga hal yang penting. Cutting burrlebih merusak integritas flap kulit tetapi diamond burr menimbulkan resiko terbakar dan menganggu vitalitas tulang jika irigasinya kurang sehingga proses penyembuhannya lambat. Nick Saunders menggunakan cutting burrdiameter 3 mm pada awal operasi kemudian dilanjutkan menggunakan diamond burrdiameter 2 mm.1
Pembedahan inimenjadi cukup penuh risiko pada beberapa kasus yang landmark pembedahannya sudah tidak ada, dengan tetap memperhatikan keadaan membran timpani hingga akhir tindakan pembedahan.
Penyimpangan terlalu ke depan menimbulkan risiko kerusakan temporomandibular joint, terlalu ke belakang bisa merusak sel-sel mastoid hingga saraf fasialis. Ada yang menggunakan monitoring saraf fasialis selama pembedahan eksostosis ini.1,13
Faktor lain yang penting diperhatikan dalam pembedahan adalah mempertahankan kulit liang telinga, karena hal ini penting untuk mengurangi penyembuhan yang lambat maupun terbentuknya stenosis jaringan lunak, sehingga diperlukan teknik pembedahan yang teliti.
Hampir tidak mungkin mengangkat kulit di permukaan sebelah dalam dari eksostosis sebelum dilakukan pengeboran.
Pengangkatan eksostosis ini dikerjakan satu demi satu, dibuang keluar bagian dalamnya sehingga tersisa bagian luar tulangnya yang dapat melindungi bagian kulit diatasnya.Bagian luar tulang yang tipis ini dapat rusak sehingga kulit liang telinga menjadi terlepas.1,15
Pengangkatan eksostosis dengan canalplasty tulang pun dapat menimbulkan komplikasi pembedahan. Pada keadaan ini pengangkatan tulang mulai dinding anterior dari liang telinga penting untuk tetap mempertahankan dan memperhatikan keadaan temporomandibular joint. Retakan kecil pada persendian ini dapat menimbulkan nyeri menahun maupun disfungsi yang cukup sulit untuk diatasi.
Persendian ini cenderung memiliki proyeksi posterior terbesar di sekitar pertengahan antara dinding superior dan inferior dari liang telinga sehingga pengangkatan tulang ini secara
umum lebih aman pada anterosuperior dan anteroinferior.1,15
Besarnya bagian tulang yang diangkat tergantung beberapa faktor yaitu pada pasien tua dengan eksostosis yang mengalami keluhan yang sudah tidak lagi ataupun hanya sesekali melakukan olahraga air, penatalaksanaannya berupa konservatif dan tanpa transeksi menyeluruh liang telinga.
Kemudian pada pasien yang kemungkinan terjadinya rekurensi besar dilakukan pendekatan yang lebih radikal, yaitu memperluas liang telinga sehingga memperlama waktu terjadinya rekurensi eksostosis yang menimbulkan keluhan. Keadaan lainnya yaitu pasien dengan risiko tinggi terjadinya trauma wajah perlu dipertimbangkan lebih konservatif untuk pengangkatan tulang bagian anterior, sehingga mengurangi risiko melemahnya dinding anterior liang telinga lebih jauh karena adanya pukulan di daerah mandibula yang dapat menyebabkan fraktur.1
7. KOMPLIKASI
Komplikasi yang pernah dilaporkan adalah penyembuhan yang lambat, perforasi membran timpani, rekurensi, stenosis liang telinga, disfungsi atau kerusakan temporomandibular junction, terbukanya hubungan ke air cellsmastoid, petrositis, facial nerve injury, dan sensorineural hearing loss.
Penyembuhan yang lambat tergantung pada pasien apakah selama masa penyembuhan menghindari kemasukan air dan tetap menjaga telinganya kering.
Salah satu kunci untuk menghindari penyembuhan yang lambat adalah mempertahankan kulit selama operasi dengan cermat.1,13,15
Angka kejadian komplikasi pasca pembedahan yang pernah dilaporkan sebesar 22%, sebagian besar sifatnya minor namun dengan komplikasi yang lebih serius juga telah cukup banyak terjadi, sehingga menjadi perhatian yang lebih bahwa pembedahan dilakukan hanya untuk kasus-kasus dengan keluhan dimana tata laksana konservatif sulit dikerjakan atau gagal.
Teknik operasi yang sangat teliti menjadi penting untuk meminimalisasi komplikasi, namun perawatan pasca operasi yang baik juga hal yang penting. Jika telah terjadi infeksi ataupun stenosis liang telinga harus dirawat secepatnya.1,15
RINGKASAN
Eksostosis liang telinga adalah tonjolan tulang jinak dalam liang telinga yang cenderung bilateral dan multipel. Umumnya terjadi pada peselancar, perenang, penyelam, kayakers, pelaut, nelayan, dan sebagainya. Eksostosis disebut juga sebagai surfer’s ear.
Etiologi pasti belum jelas kemungkinan adanya faktor genetik dan pengaruh lingkungan. Gambaran khas histologi eksostosis yaitu onion skin. Eksostosis sering tidak menimbulkan keluhan. Keluhan yang sering timbul yaitu otitis eksterna rekurens, otore, otalgi dan tuli konduksi.
Anamnesis mengenai pekerjaan, kebiasaan, daerah tempat tinggal, dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang merupakan modalitas menegakkan diagnosis eksostosis.
Klasifikasi eksostosis sebagian besar berdasarkan derajat obstruksi yang ditimbulkan pada liang telinga dan berguna untuk tindakan pembedahan. Diagnosis banding eksostosis yaitu osteoma, otitis eksterna kronis, stenosis liang telinga pasca operasi,
dan kongenital.
Terapi eksostosis dapat berupa konservatif maupun pembedahan. Pembedahan eksostosis ada 2 pendekatan yaitu permeatal atau transmeatal atau endaural dan pendekatan postaurikular atau retroaurikular.
Komplikasi berupa penyembuhan yang lambat, perforasi membran timpani, rekurensi, stenosis liang telinga, disfungsi atau kerusakan temporomandibular junction, terbukanya hubungan ke air cellsmastoid, petrositis, facial nerve injury, dan sensorineural hearing loss.
DAFTAR PUSTAKA
1. Saunders N. Exostoses of the external auditory canal – aetiology and management. Otorhinolaryngologist 2012;5(2): 86-90. Available from:http://www.theotorhinolaryngologist.co.u k/new/index.php?option=com_k2&view=item &task=download&id=283_8c3ea04aab00a68f 16bfdea04795cc52&Itemid=631. Accessed August 4, 2013.
2. Moore RD, Schuman TA, Scott TA, Mann SE, Davidson MA, Labadie RF. Exostoses of the external auditory canal in white-water kayakers. Laryngoscope 2010;120: 582-90. 3. Litu MLA, Mamun AA, Alam Z, Haque R,
Hanif A, Hossain A. Exostoses of the external auditory canal. Bangladesh J Otorhinolaryngol 2012;18(1): 91-5. Available from: http://www.banglajol.info/index.php/BJO/articl e/view/10428. Accessed August 4, 2013. 4. Wong BJF, Cervantes W, Doyle KJ,
Karamzadeh AM, Boys P, Brauel G, et al. Prevalence of external auditory canal exostoses in surfers. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1999;125: 969-72. Available from: http://archotol.jamanetwork.com/article.aspx?a rticleid=509759. Accessed Sept 8, 2013. 5. Nakanishi H, Tono T, Kawano H. Incidence of
external auditory canal exostoses in competitive surfers in Japan. Otolaryngol – Head and Neck Surg 2011;145: 80-5. Available from:http://oto.sagepub.com/content/145/1/80.l ong. Accessed August 12, 2013.
6. Azizi MH. Ear disorders in scuba divers. Int J of Occupational and Enviromental Med. 2011;2(1): 20-6. Available from: www.theijoem.com. Accessed August 5, 2013. 7. Triola S, Edward Y. Penatalaksanaan eksostosis liang telinga. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP dr. M. Djamil Padang. 2012. Available from: http://repository.unand.ac.id/18189/1/Penatalak
sanaan%20Eksostosis%20Liang%20Telinga% 20PDF.pdf. Accessed August 5, 2013. 8. Hurst WB. A review of 64 operations for
removal of exostoses of the external ear canal. Australian J of Oto-Laryngol2001. Available
from:http://the-medical-dictionary.com/exostoses_article_3.htm. Accessed August 9,2013.
9. Okumura MMM, Boyadjin CHC, Eggers S.An evaluation of auditory exostoses in 621 prehistoric human skulls from coastal Brazil. ENT-Ear, Nose & Throat J2007;86(6): 468-72. Available
from:http://www.academia.edu/249841/An_Ev aluation_of_Auditory_ExostosesIn_621_Prehi storic_Human_Skulls_From_Coastal_Brazil. Accessed August 5, 2013.
10. Radmilovic NM. Exostoses of the external auditory canal. 2010. Available from:http://www.doiserbia.nb.rs/img/doi/0350-0241/2010/0350024110601 37M. pdf. Accessed August 5, 2013.
11. House JW, Wilkinson EP. External auditory exostoses: evaluation and treatment. Otolaryngol – Head and Neck Surg 2008;138: 672-8. Available from: http://oto.sagepub.com/content/138/5/672.long .Accessed August 12, 2013.
12. Chang P. Exostoses of the ear-their cause, classification and cure. St Vincent’s Clinic Proceedings 2011;19(1): 8-13. Available from:http://www.clinic.stvincents.com.au/medi a_upload/files/FinalPDF Proceed ings.pdf. Accessed August 4, 2013.
13. Hetzler DG. Osteotome technique for removal of symptomatic ear canal exostoses. Laryngoscope 2007;117: 1-14. Available from: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1097/ML G.0b013e31802cbb12/pdf. Accessed August 12, 2013.
with surgical implication. 3rded. USA: Informa
Health Care; 2007.p. 33-9.
15. Timofeev I, Notkina N, Smith IM. Exostoses of the external auditory canal: a long-term follow-up study of surgical treatment. Clin. Otolaryngol 2004;29: 588-94. Available from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15 533142. Accessed August 4, 2013.
16. Mariezkurrena XA, Orte JCV, Arrioaga C, Guimera A. Surgical treatment of exostosis in the external auditory canal. Acta Otorinolaringol Esp2006;57(6): 257-61. Available from: http://www.biomedexperts.com/Abstract.bme/ 16872100/Surgical_treatment_of_exostosis_in _the_external_auditory_canal. Accessed August 12, 2013.
17. Srinivasan J, Reddy VM, Flanagan PM. Audiological implications of earplugs used for prevention of aural exostoses. Eur Arch Otorhinolaryngol 2012;269: 787-90. Available from:http://link.springer.com/article/10.1007% 2Fs00405-011-1730-8. Accessed August 12, 2013