• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI EKONOMI PETANI LAPISAN ATAS DALAM MENGAKUMULASI MODAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STRATEGI EKONOMI PETANI LAPISAN ATAS DALAM MENGAKUMULASI MODAL"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI EKONOMI PETANI LAPISAN ATAS

DALAM MENGAKUMULASI MODAL

(Studi Kasus di Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)

FAHROZI HARDI

DEPARTEMEN SAINS

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

(2)

ABSTRACT

The group of rich peasant, who has surplus income from agriculture, could invest the surplus in the business capital intensive, business that provides a relatively large income. Rich peasant have a large range of non-agricultural sources, which in turn gave establish the process of capital accumulation and investment of mutual support both agriculture and non agriculture among the rural elite. The process of capital accumulation rich peasant households in socio-economic field in daily life can be seen from the mechanism of surplus and investment of surplus farm households. The mechanism of surplus in this research saw the traditional land owners, modern land owners and entrepreneur land owners. This mechanism can be used as guidelines to explain the investment of surplus rice farming activities which the community predominantly livelihood is peasant. Furthermore the role of rich peasant in rural development are through resources and employment, technology transfer and institutional. From the rich peasant economic strategy in the accumulation of capital can be seen the type of rich peasant in the village.

Key words: rich peasant, the process of capital accumulation, the role of rich peasant in

(3)

RINGKASAN

FAHROZI HARDI. Strategi Ekonomi Petani Lapisan Atas Dalam Mengakumulasi Modal (Di bawah bimbingan SATYAWAN SUNITO).

Kritisi Tjondronegoro dan Wiradi (1984: 271) dari penjelasan mengenai keberhasilan suatu pembangunan (di daerah pedesaan) akan banyak bertumpu pada petani-petani maju yang bertindak sebagai pelaku pembangunan (agent of development), oleh karena merekalah yang menunjukkan daya tanggap (responsiveness) yang lebih besar terhadap semua inovasi dan perbaikan teknik serta merekalah yang lebih mudah didekati oleh dinas-dinas pemerintah. Tersirat di dalam anggapan itu suatu aci-acian bahwa petani maju akan menjadi teladan bagi petani-petani miskin yang diharapkan segera mengikuti teladan tersebut karena mereka bisa mengamati secara dekat. Inovasi diharapkan akan tersebar di segala penjuru dan ke segenap lapisan masyarakat desa. Pendekatan ini oleh Wertheim yang juga pengkritisi pembangunan tersebut disebut betting on the strong (Wertheim, 1964 dalam Tjondronegoro dan Wiradi, 1984: 271).

Sinaga dan White (1979) dalam Wiradi (1985: 47-48) menyatakan bahwa golongan petani luas yang mempunyai surplus pendapatan dari pertanian, mampu menginvestasikan surplusnya itu pada usaha-usaha padat modal tetapi yang memberikan pendapatan yang relatif besar (misalnya, alat-alat pengolahan hasil pertanian, berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya). Karenanya mereka mencari pekerjaan di luar pertanian yang padat tenaga kerja dan/atau modal kecil, tapi memberikan pendapatan yang relatif rendah, misalnya kerajinan tangan, bakul es, warung kecil dan sebagainya). Semua ini berarti bahwa petani luaslah yang lebih mempunyai jangkauan terhadap sumber besar non-pertanian, yang pada gilirannya melahirkan proses akumulasi modal dan investasi yang saling menunjang baik bidang pertanian maupun non-pertanian diantara golongan elite pedesaan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami proses akumulasi modal petani lapisan atas melalui mekanisme surplus dan investasi surplus pada kegiatan pertanian. Selain itu juga memahami peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan. Pada akhirnya akan memahami proses akumulasi modal dan peran petani lapisan atas menyebabkan strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal. Pendekatan penelitian kualitatif menggunakan studi riwayat hidup. Studi riwayat hidup atau tepatnya riwayat hidup individu adalah bahan keterangan tertulis mengenai pengalaman kehidupan individu-individu tertentu, sebagai warga dari suatu masyarakat yang sedang diteliti.

Pada penelitian ini, untuk proses akumulasi modal rumah tangga petani lapisan atas dalam bidang sosial ekonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari mekanisme surplus dan investasi surplus rumah tangga petani yakni petani pemilik lahan tradisional, petani pemilik lahan modern dan petani pemilik lahan Entrepreneur. Mekanisme ini dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan

(4)

investasi surplus kegiatan pertanian sawah di Desa Ciasmara yang mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani.

Hasil penelitian menunjukan bahwa H. Aw (90 Tahun) merupakan salah satu petani lapisan atas di desa yang memiliki akses yang sangat kuat dalam sektor pertanian terutama dalam hal kepemilikkan lahan pertanian yang dikuasainya. Sistem kontrak atau sewa lahan yang disewakan H. Aw dibayarkan setelah panen dan dicatat dalam buku catatan miliknya. Lahan yang dimiliki H. Aw seluas 100 Gedeng atau sekitar 17 hektar. Petani Penggarap lahan milik H. Aw biasanya merupakan orang yang berada disekitar lahan yang dimilikinya dan juga merupakan orang kepercayaan yang sudah bekerja relatif lama. Keseharian hidup yang sederhana dan tidak berpola konsumtif, alat-alat pekerjaan yang terpenuhi dengan baik dan bahan baku yang besar yang didapat rumah tangga petani Haji Aw maka dari hasil perdagangan atau pertukaran produk menghasilkan surplus yang besar. Surplus pada proses reproduksi semuanya digunakan kembali untuk membangun sektor pertanian dengan membeli lahan pertanian dan ternak kerbau. Proses diferensiasi yakni menyisihkan sebagian keuntungan untuk memberangkatkan pergi Haji ke Tanah Suci Mekkah kepada keluarganya.

H. At (58 Tahun) merupakan salah satu petani lapisan atas dalam bidang pendidikan di desa dan juga memiliki akses yang sangat kuat dalam sektor pertanian terutama dalam hal peran yang besar pada kelompok tani di desa selain kepemilikan lahan pertanian yang dikuasainya. Keseharian hidup yang sejahtera, alat-alat pekerjaan yang dapat terpenuhi dan bahan baku yang mencukupi di dapat rumah tangga petani H. At maka dari hasil perdagangan atau pertukaran produk menghasilkan surplus. Surplus pada reproduksi proses semuanya digunakan kembali untuk membangun sektor pertanian dengan menyiapkan alat-alat produksi. Proses diferensiasi yakni menyisihkan sebagian keuntungan untuk penyediaan sarana dan prasarana membangun kelompok tani. Pada akhirnya dapat menjadi akumulasi modal rumah tangga petani tersebut.

Haji Ong (47 Tahun) merupakan salah satu petani lapisan atas dalam di desa dan juga memiliki akses yang sangat kuat dalam sektor pertanian terutama dalam hal kepemilikan lahan pertanian di desa yang semuanya telah disewakan kepada penggarap dan sekarang beliau bekerja pada sektor non pertanian yakni berdagang bahan bangunan dengan mendirikan toko yang besar di desa. Keseharian hidup yang sangat modern dan melalui pembayaran sewa lahan dari petani penggarapnya yang didapat rumah tangga petani H. Ong maka dari hasil perdagangan atau pertukaran produk menghasilkan surplus. Surplus pada proses reproduksi sebagian dijadikan proses diferensiasi yakni rumah tangga petani menginvestasikan surplus dari sektor pertanian ke sektor non pertanian yakni berdagang toko bangunan yang akhirnya dapat menjadi akumulasi modal rumah tangga petani tersebut.

Selanjutnya lahan yang dimiliki H. Aw jumlah sangat luas dan semakin bertambah sampai saat penelitian berlangsung. Selain ada beberapa bagian yang sudah dibagikan kepada enam orang anaknya sisa lahan yang dimilikinya kini sebagian besar disewakan kepada petani penggarap. Petani penggarap yang menyewa lahan H. Aw menjalankan perjanjian sewa yakni setiap satu gedeng setara dengan 1.500 meter persegi lahan yang disewa maka setiap satu musim panen yakni sekitar lima bulan lamanya maupun lebih cepat sekitar empat bulan,

(5)

hasil panen sebesar 50 gedeng sama dengan 500 liter wajib diberikan kepada H. Aw sebagai biaya sewa lahan.

H. Ong yakni petani yang merubah halungan mata pencaharian yang utama yakni berdagang. Pada saat baru menikah H. Ong berprofesi sebagai petani. Namun hanya berperan sebagai atasan yang mempekerjakan beberapa petani untuk mengelola lahan pertaniannya seluas 15 gedeng sama dengan 2,5 hektar. H. Ong menyiapkan seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk kegiatan pertanian dan membayar pekerjanya dengan upah. Inilah kegiatan rutin sehari-hari ketika bertani. Dari hasil usaha berdagang yakni usaha toko bangunan kini usahanya semakin berkembang. H. Ong kini memiliki dua toko bangunan yang sangat besar. Pertama di Desa Ciasmara yang bernama “Toko Sempurna” yang memiliki dua orang pekerja laki-laki dan beliau sendiri sebagai pengelolanya. Kedua di dekat Pasar Leuwiliang yang baru berdiri sekitar dua bulanan. Toko tersebut bernama “Toko Sampurna Putra” yang memiliki tiga orang pekerja laki-laki, istri dan anak pertamanya sebagai pengelolanya.

Mengenai tanah pertaniannya yang di miliki pada saat penelitian berlangsung luasnya 17,5 gedeng atau hampir 3 hektar. Tanah yang beliau miliki disewakan kepada enam orang penggarap dimana masing-masing biaya sewa yang dikenakan sebesar 50 gedeng gabah kering panen dari setiap satu gedeng tanah yang disewakan. Jika dihitung keuntungan sewa tanah yang diperoleh H. Ong setiap musim panen yaitu 17,5 dikali 500 liter sama dengan 8.750 liter. Jika diuangkan 8.750 liter dikali 1.500 rupiah sama dengan 13.125.000 rupiah. Dari mata pencaharian ini maka H. Ong memberikan lapangan kerja kepada petani desa pada sektor pertanian dan membuka lapangan pekerjaan di sektor non pertanian yang dapat menyerap tenaga kerja. Selain itu juga dapat membiayai pendidikan anak dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Perilaku H. Aw dimata bapak Maj yakni rajin, ulet, dan sukses sehingga sejahtera. Rajin diartikan bahwa bertani cukup dikerjakan sendiri tanpa banyak melibat orang lain dalam mengelola lahan yang digarapnya. Ulet diartikan hasil dari pertanian tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau konsumtif tetapi sedikit-sedikit dibelanjakan untuk tanah sawah ke depan. Sukses diartikan dengan kehidupan pribadi yang cukup tidak macam-macam dan hanya untuk tani. Mulai beliau muda sampai tua tetap giat dalam bertani. Karena tiga perilaku tersebut maka H. Aw saat ini dapat menjadi sejahtera.

H. Aw merupakan orang yang giat dalam bekerja dan sangat sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. H. Aw orang yang sangat teliti dan tidak bisa dibohongi oleh orang lain yaitu penggarap tanahnya, tengkulak maupun penjual lahan pertanian. Menurut H. Aw dikutip H. Mdn bahwa “enakan tani selain tani tidak menguntungkan, tani tidak akan bangkrut atau sawah tidak akan hilang”. Menurut Bapak Maj sumberdaya manusia petani di desa masih sangat lemah sehingga harus dibimbing. Pembimbing mereka haruslah petani yang kreatif. H. At merupakan orang yang tepat dalam membimbing petani tersebut. H. At selain petani maju juga sangat berpendidikan yakni menjabat sebagai kepala sekolah menengah pertama di desa dan sering menfasilitasi kelompok tani tanpa bosan.

(6)

STRATEGI EKONOMI PETANI LAPISAN ATAS

DALAM MENGAKUMULASI MODAL

(Studi Kasus di Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)

Oleh Fahrozi Hardi

I34052671

SKRIPSI

Sebagai Syarat untuk Mendapatkan Gelar

Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SAINS

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

(7)

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN

MASYARAKAT Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun oleh:

Nama : Fahrozi Hardi

NRP : I34052671

Judul : Strategi Ekonomi Petani lapisan Atas Dalam

Mengakumulasi Modal

dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Satyawan Sunito NIP. 19630904 199002 2 001

Mengetahui,

Departemen Sains Komunikasi Dan Komunikasi Pengembangan Masyarakat Ketua

Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, MS NIP.19580827 198303 1 001

(8)

LEMBAR PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “STRATEGI EKONOMI PETANI LAPISAN ATAS DALAM MENGAKUMULASI MODAL” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, 31 Agustus 2009

FAHROZI HARDI I34052671

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 Juni 1986 dari ayah Muhammad Azwar Nasution dan ibu Intan Nurilam. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara.

Tahun 2005 penulis lulus dari SMAN 47 Jakarta dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Mahasiswa IPB (USMI). Penulis memilih Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi anggota Divisi Broadcasting pada Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (Himasiera) pada tahun 2007. Selain itu penulis menjadi asisten dosen matakuliah Sosiologi Umum selama dua semester: semester genap pada tahun 2007, semester gasal pada tahun 2008 dan juga menjadi asisten dosen matakuliah Perubahan Sosial semester gasal pada tahun 2008. Penulis mendapatkan bantuan beasiswa untuk mendanai biaya perkuliahan dari tiga sumber: Beasiswa Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada tahun 2007, Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) pada tahun 2008, dan Beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) pada tahun 2009.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Judul yang dipilih dalam skripsi ini adalah Strategi Ekonomi Petani Lapisan Atas Dalam Mengakumulasi Modal.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) memahami proses akumulasi modal rumah tangga petani lapisan atas; (2) memahami peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan; dan (3) memahami strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal. Penelitian ini dapat menjadi proses pembelajaran bagi peneliti dalam memahami fenomena sosial yang terjadi di lapangan. Demikian skripsi ini penulis sampaikan semoga bermanfaat.

Bogor, 31 Agustus 2009

Fahrozi Hardi

(11)

UCAPAN TERIMA KASIH

Selama penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak dukungan moril maupun materiil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Satyawan Sunito sebagai dosen pembimbing skripsi, yang telah memberi ilmu, bimbingan dan kebaikan kepada penulis selama proses penulisan skripsi hingga diselesaikannya penulisan skripsi ini.

2. Martua Sihaloho, SP., MSi. atas kesediaannya menjadi dosen penguji utama pada ujian skripsi penulis.

3. Ir. Siti Sugiah Mugniesyah, MS atas kesediaannya menjadi dosen penguji wakil departemen.

4. Keluarga penulis, Ayah, Ibu, dan kakak-kakakku, nenek, bunda, paci, sepupu tercinta yang telah memberi curahan kasih sayang, inspirasi hidup dan doa yang tulus selama penulis menimba ilmu sejak bangku sekolah hingga kuliah. “Ayah dan Ibu, saya lulus tepat pada waktunya”.

5. Kepala Desa Ciasmara Bapak Firmansyah dan jajaran khususnya Bapak Maji, Bapak Suhanda, Keluarga Besar Ibu Lilis dan Bapak Agah, Aa Asep. Terima kasih atas kesediannya berbagi informasi dan pengalaman dalam rangka penyelesaian penelitian skripsi ini.

6. Rekan satu bimbingan, Cici Wardini yang telah memberi semangat, saran, perhatian, dukungan dan kebersamaan sejak penulisan Studi Pustaka sampai dengan Skripsi.

7. Untuk sahabat-sahabatku di kampus khususnya Rio, Arya, Gilang, Fahri, Yudha, Reni, Avira, Wulan, Ewen, Anggi, Vidya, Anvina, Yayan, Furqon, Andi, dan Tamimi, yang telah memberi semangat dan bantuan yang diberikan dalam penyelesaian skripsi ini.

(12)

8. Teman-teman serumah di Wisma Taman Surga khususnya Harri, Mahe, Iqbal, Budi, Jesa, Bakuh, Anjar, Eko dan Rizky, atas kebersamaannya dalam suka dan duka selama di rumah dan dalam pembuatan penulisan skripsi ini.

9. Teman-teman serumah di Batosai Tengah khususnya Fahri, Yudha, Prama dan Fitrah. Terima kasih atas kesediaannya memberi tumpangan tempat tinggal selama penulis menyelesaikan pembuatan penulisan skripsi ini.

10.Praktikan matakuliah Sosiologi Umum Ex A19 tahun 2007 dan Ex B25 tahun 2008, yang telah memberi semangat, saran, perhatian, dukungan dan kebersamaan selama ini kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 11.Teman-teman di Departemen Sains KPM angkatan 42 yang selalu

bersama-sama membuat kenangan indah selama kuliah dan memberikan spirit dalam mengerjakan skripsi ini.

12.Teman-teman di Departemen Sains KPM angkatan 43 dan 44 sebagai adik kelas, yang telah memberi semangat, dukungan dan kebersamaan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

13.Seluruh dosen pengajar dan staf di Departemen Sains KPM, yang telah memberi segala pengetahuan, bakti dan kemudahan yang diberikan selama penyelesaian skripsi ini.

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Kegunaan Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Konsep Struktur Agraria: Dinamika Struktur Agraria Dulu dan Sekarang ... 4

2.2 Bidang Kegiatan Pertanian Sawah: Strategi Pemilik Lahan ... 10

2.3 Kaitan Faktor Penguasaan Tanah Terhadap Perubahan Struktur Masyarakat Pedesaan ... 12

2.4 Usahatani ... 15

2.5 Kerangka Pemikiran ... 16

2.6 Hipotesis Pengarah ... 18

2.7 Definisi Konseptual ... 18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 21

3.1 Pendekatan Penelitian ... 21

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 22

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 23

3.4 Teknik Analisis Data ... 24

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI ... 29

4.1 Keadaan Fisik dan Infrastruktur di Desa Ciasmara ... 29

4.2 Sumber-Sumber Agraria dan Sistem Pertanian Setempat ... 31

4.2.1 Ekologi dan Tata Guna Tanah di Desa Ciasmara ... 32

4.2.2 Struktur Agraria ... 37

4.2.3 Sistem Pertanian ... 38

4.3 Struktur Sosial Ekonomi dan Mata Pencaharian Penduduk Desa Ciasmara dalam Dimensi Demografi ... 45

(14)

4.3.2 Mata Pencaharian Non Petanian ... 51

4.3.3 Struktur Pendidikan ... 52

4.3.4 Kesehatan ... 55

4.4 Ikhtisar ... 57

BAB V PROSES AKUMULASI MODAL: RUMAH TANGGA PETANI LAPISAN ATAS... 62

5.1 Pemilik Lahan Tradisional... 63

5.2 Pemilik Lahan Modern ... 66

5.3 Pemilik Lahan Entrepreneur ... 68

5.4 Ikhtisar ... 70

BAB VI PERAN PETANI LAPISAN ATAS DI DALAM PEMBANGUNAN PEDESAAN ... 73

6.1 Sumberdaya dan Lapangan Kerja ... 73

6.2 Tranfer Teknologi ... 78

6.3 Ikhtisar ... 85

BAB VII STRATEGI EKONOMI PETANI LAPISAN ATAS DALAM MENGAKUMULASI MODAL: TIPE PETANI LAPISAN ATAS DI DESA ... 88

BAB VIII PENUTUP ... 93

8.1 Kesimpulan ... 93

8.2 Saran ... 94

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Kebutuhan Data dan Metode Pengumpulannya... 26

Tabel 2. Jenis Lahan di Desa Ciasmara Tahun 2008 ... 34

Tabel 3. Tata Guna Lahan Pertanian di Desa Ciasmara Tahun 2008 ... 37

Tabel 4. Petani di Desa Ciasmara Tahun 2008 Menurut Status ... 38

Tabel 5. Musim Tanam dan Panen Padi di Desa Ciasmara dalam Satu Tahun ... 43

Tabel 6. Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin di Desa Ciasmara Tahun 2007... 46

Tabel 7. Jumlah Penduduk di Desa Ciasmara Tahun 2008 Menurut Struktur Mata Pencaharian ... 50

Tabel 8. Jumlah Penduduk di Desa Ciasmara Tahun 2008 Menurut Tingkat Pendidikan ... 53

Tabel 9. Penghasilan Petani Lapisan Atas dari Tanah Sawah yang Disewakan di Desa Ciasmara ... 74

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Lingkup hubungan-hubungan agraria ... 4

Gambar 2. Kerangka Pemikiran ... 17

Gambar 3. Desa tempat penelitian berada di Barat Daya Kota Bogor ... 28

Gambar 4. Peta Desa Ciasmara ... 28

Gambar 5. Kantor Kepala Desa Ciasmara ... 29

Gambar 6. Ekologi Desa Ciasmara: Aliran Sungai Parabakti ... 35

Gambar 7. Ekologi sawah di Desa Ciasmara yang subur ... 35

Gambar 8. Karena ekologi Desa Ciasmara yang memiliki aliran sungai yang melimpah airnya maka banyak kolam-kolam perikanan air deras ... 36

Gambar 9. Bentangan areal persawahan di Desa Ciasmara yang sangat potensial ... 36

Gambar 10. Sebuah petak sawah di Desa Ciasmara sedang di bajak dengan mesin... 41

Gambar 11. Puskesmas Desa Ciasmara ... 57

Gambar 12. Toko bangunan H. Ong di Desa Ciasmara ... 77

Gambar 13. Rumah H. Aw yang sederhana ... 80

Gambar 14. Saung Cinta Tani ... 83

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Kritisi Tjondronegoro dan Wiradi (1984: 271) dari penjelasan mengenai keberhasilan suatu pembangunan (di daerah pedesaan) akan banyak bertumpu pada petani-petani maju yang bertindak sebagai pelaku pembangunan (agent of development), oleh karena merekalah yang menunjukkan daya tanggap (responsiveness) yang lebih besar terhadap semua inovasi dan perbaikan teknik serta merekalah yang lebih mudah didekati oleh dinas-dinas pemerintah. Tersirat di dalam anggapan itu suatu aci-acian bahwa petani maju akan menjadi teladan bagi petani-petani miskin yang diharapkan segera mengikuti teladan tersebut karena mereka bisa mengamati secara dekat.

Inovasi diharapkan akan tersebar di segala penjuru dan ke segenap lapisan masyarakat desa. Pendekatan ini oleh Wertheim yang juga pengkritisi pembangunan tersebut disebut betting on the strong (Wertheim, 1964 dalam Tjondronegoro dan Wiradi, 1984: 271). Pedekatan ini mengandaikan bahwa proses pertebaran pengetahuan dan kemajuan teknik berjalan secara bertahap, dan bahwa pelaku terbaik (the best agent) dari proses evolusioner ini adalah orang yang paling maju di masyarakat desa, biasanya berasal dari petani-petani kaya (well-to-do farmer) yang telah memperoleh cukup pendidikan dan mempunyai tanggapan baik berupa saran-saran perbaikan teknik produksi.

Sinaga dan White (1979) dalam Wiradi (1985: 47-48) menyatakan bahwa golongan petani luas yang mempunyai surplus pendapatan dari pertanian, mampu

(18)

menginvestasikan surplusnya itu pada usaha-usaha padat modal tetapi yang memberikan pendapatan yang relatif besar (misalnya, alat-alat pengolahan hasil pertanian, berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya). Karenanya mereka mencari pekerjaan di luar pertanian yang padat tenaga kerja dan/atau modal kecil, tapi memberikan pendapatan yang relatif rendah, misalnya kerajinan tangan, bakul es, warung kecil dan sebagainya). Semua ini berarti bahwa petani luaslah yang lebih mempunyai jangkauan terhadap sumber besar non-pertanian, yang pada gilirannya melahirkan proses akumulasi modal dan investasi yang saling menunjang baik bidang pertanian maupun non-pertanian diantara golongan elite pedesaan.

Berangkat dari latar belakang di atas, peneliti akan meneliti secara mendalam mengenai strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal kegiatan pertanian sawah.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan penjabaran di atas, maka perumusan masalah yang penting untuk diangkat dari penelitian ini ialah:

1. Bagaimana proses akumulasi modal petani lapisan atas melalui mekanisme dan investasi surplus pada kegiatan pertanian dan kegiatan non pertanian? 2. Bagaimana peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan? 3. Bagaimana strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi

(19)

1.3Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Memahami proses akumulasi modal petani lapisan atas melalui mekanisme dan investasi surplus pada kegiatan pertanian dan non pertanian.

2. Bagaimana peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan. 3. Bagaimana strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi

modal.

1.4Kegunaan Penelitian

1. Bagi mahasiswa, penelitian ini diharapkan dapat menjadi proses pembelajaran dalam memahami fenomena sosial mengenai strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal yang terjadi di lapangan dan berguna sebagai rujukan serta wawasan dalam menyusun penelitian di masa yang akan datang.

2. Bagi masyarakat, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi wacana bagi masyarakat luas dalam memahami strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal.

3. Bagi pemerintah, sebagai masukan dalam upaya bermitra dengan petani lapisan atas pada kegiatan pertanian sawah yang mampu menciptakan pertanian secara bekelanjutan dan bermanfaat bagi pertanian Indonesia.

(20)

Komunitas

Swasta

Sumber-sumber agraria

Pemerintah Keterangan:

hubungan teknis agraria (kerja) hubungan sosial agraria

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Konsep Struktur Agraria: Dinamika Struktur Agraria Dulu dan Sekarang

Secara kategoris, subyek agraria dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu komunitas (sebagai kesatuan dari unit-unit rumah tangga), pemerintah (sebagai representasi negara) dan swasta (private sector). Ketiga kategori sosial tersebut adalah pemanfaat sumber agraria, yang memiliki ikatan dengan sumber-sumber agraria melalui institusi penguasaan/pemilikan (tenure institution). Hubungan penguasaan/pemilikan/pemanfaatan seperti sumber-sumber agraria menunjuk pada dimensi sosial dalam hubungan-hubungan agraria. Hubungan penguasaan/pemilikan/pemanfaatan membawa implikasi terbentuknya ragam hubungan sosial, sekaligus interaksi sosial, antara ketiga kategori subyek agraria.1 Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Lingkup hubungan-hubungan agraria.

1

MT. Felix Sitorus. Lingkup Agraria dalam Menuju Keadilan Agraria: 70 Tahun Gunawan Wiradi. 2002. Bandung: Yayasan Akatiga.

(21)

Struktur agraria yang dapat dilihat ialah hubungan antara subyek dengan sumber-sumber agraria berkenaan dengan penguasaan lahan, pemilikan lahan dan pemanfaatan lahan. Menurut Sitorus (2002: 34-35) sumber-sumber agraria mencakup tanah, perairan, hutan, bahan tambang dan udara dalam bentangan wilayah. Sistem tenurial yang umum diterapkan petani jika dilihat dari segi penguasaan lahan ialah sistem bagi hasil (maro), sistem gadai, dan sistem sewa. Setiap sistem yang diterapkan memiliki latar belakang dan faktor yang berbeda-beda, tergantung kepada “kondisi” yang dialami oleh petani pemilik dan petani penggarap (tunakisma).

Mengenai pemilikkan tanah luas dan penyakapan menurut banyak pengamat disekitar abad ke-20, daerah Priangan menunjukkan suatu tuan tanah (penguasan tanah luas) yang luar biasa. Menurut Mindere Welvaart Onderzoek (MWO) dalam White dan Wiradi (1979: 17), kurang dari 6 persen dari pemilik tanah di Priangan telah menguasai hampir sepertiga dari seluruh tanah pertanian pada tahun 1905 (Haselman 1914: 37 dalam White dan Wiradi 1979: 17). Penimbunan penguasaan atas tanah-tanah luas oleh golongan tuan tanah ini tentunya bukannya melalui pemilikan, tetapi juga dengan cara penyewaan atau penggadaian yang memberikan suatu penguasaan de facto atas tanah. Mengenai angka-angka dalam MWO dalam White dan Wiradi (1979: 17) tentang proporsi pemilikan tanah yang telah menggadaikan tanah mereka, responden-responden MWO sendiri bersepakat bahwa jumlah sebenarnya adalah jauh di atas angka-angka tersebut. Pada tahun 1919, Meyer Ranneft dalam White dan Wiradi (1979: 17) menafsirkan bahwa sekitar sepertiga dari semua sawah kesikepan di Cirebon sudah tidak dikuasai lagi oleh pemiliknya, karena sudah digadaikan atau

(22)

disewakan untuk jangka waktu yang lama (Arsip Nasional 1974: 21 dalam White dan Wiradi 1979: 17).

Di daerah Sumedang, Garut, Cirebon dan Majalengka, golongan tuan tanah kebanyakan terdiri dari haji-haji, kepala-kepala desa dan tokoh-tokoh pribumi lainnya, sedangkan di Indramayu terdapat pula cukup banyak tuan-tuan tanah Tionghoa. Semua daerah tersebut di atas, penguasaan tanah-tanah luas dinyatakan meningkat selama periode 1880-1905 (MWO, Economie van de Desa, Preanger Regentschappen 1907: 13-18; Residentie Cirebon 1907: 13-14 dalam White dan Wiradi 1979: 17). Penyebab proses konsentrasi penguasaan tanah adalah semua sumber menghubungkannya dengan proses komersialisasi ekonomi pedesaan dan terutama dengan meningkatnya pinjaman uang, yang oleh Meyer Ranneft dilukiskan sebagai “suatu gejala khas dari masuknya lalu lintas uang ke dalam rumah tangga ekonomi petani, dan dari kekuasaan uang yang bagaikan setan” (Arsip Nasional 1974: 21 dalam White dan Wiradi 1979: 18).

Perlu dicatat bahwa timbulnya golongan pemilik tanah luas sebagai akibat komersialisasi tidak disertai oleh timbulnya suatu golongan petani luas. Menurut Ploegsma,

“Pemilikan tanah luas tentu tidak mengakibatkan usaha-usaha tani luas. Tanah-tanah yang dikuasai oleh golongan pemilik luas disewakan atau dibagi hasilkan kepada penggarap-penggarap lain; dengan demikian, dari segi ekonomi pertanian, pola usahatani kecil-kecilan tetap bertahan” (Ploegsma 1936: 61 dalam White dan Wiradi 1979: 18).

Nampaknya konsentrasi pemilikan bukanlah disertai oleh konsentrasi luas usahatani melainkan oleh suatu tingkat penyakapan yang tinggi dimana sejumlah besar petani bukan pemilik, yang masing-masing diberikan usahatani kecil atas dasar sewa atau bagi hasil. Pada permulaan abad ke-20, tingkat penyakapan di

(23)

daerah Priangan termasuk diantara yang tertinggi di Jawa, sedangkan di Cirebon sedikit dibawah rata-rata (Scheltema 1931: 271 dalam White dan Wiradi 1979: 18).

White dan Wiradi (1979: 19-20) menyatakan bahwa “bukanlah pola-pola penguasaan tanah merupakan hal yang statis yang tidak pernah berubah selama satu abad terakhir. Justru sebaliknya, perbandingan masa kini dan masa lalu menunjukan adanya suatu proses perubahan yang sangat dinamis, dan lagi bahwa masing-masing daerah mempunyai dinamika sendiri”. Namun demikian, agaknya penting untuk mengartikan bahwa pola-pola yang kelihatan sekarang, seperti variasi lokal dalam luas tanah bengkok, ketunakismaan, ketidakmerataan diantara pemilik tanah, timbulnya suatu golongan pemilik tanah luas, bertahannya pola usahtani kecil-kecilan berkat lembaga penyakapan, dan sebagainya. Semuanya merupakan akibat dari suatu proses dinamika yang telah dimulai pada zaman nenek moyang kita, sehingga benar-benar disebut sebagai warisan sejarah. Kegiatan sewa dan sakap ini berkembang dengan baik melalui instrumen kesepakatan antara pemilik tanah dan penggarap, umumnya penyewaan dan atau penyakapan didasarkan pada alasan ekonomi untuk meningkatkan usahanya.

Menurut Shanin (1971) dalam Subali (2005), terdapat empat karakteristik utama petani. Pertama, petani adalah pelaku ekonomi yang berpusat pada usaha milik keluarga. Kedua, menggantungkan kehidupan mereka kepada lahan. Bagi petani, lahan pertanian adalah segalanya. Lahan dijadikan sebagai sumber yang diandalkan untuk menghasilkan bahan pangan keluarga, harta benda yang lebih tinggi, dan ukuran terpenting bagi status sosial. Ketiga, petani memiliki budaya yang spesifik yang menekankan pemeliharaan tradisi dan konformitas serta

(24)

solidaritas sosial. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya keterbukaan petani berlahan luas untuk mempekerjakan petani yang tidak memiliki lahan atau berlahan sempit. Semua itu didorong oleh rasa solidaritas diantara sesama petani. Keempat, petani cenderung sebagai pihak yang tersubordinasi namun tidak dengan mudah ditaklukkan oleh kekuatan ekonomi, budaya dan politik eksternal yang mendominasi mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Husken (1998) di Desa Gondosari, Pati, Jawa Tengah dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan mengenai ciri-ciri petani di Indonesia pada saat ini. Menurut dia, ciri yang pertama adalah bahwa petani bermata pencaharian ganda, selain bertani mereka juga memiliki pekerjaan sampingan, seperti pedagang, buruh, supir. Melihat kenyataan dilapangan, pekerjaan sampingan tersebut ternyata merupakan pekerjaan pokoknya Ciri kedua, tanaman yang diproduksi petani ialah tanaman yang tidak berisiko tinggi, artinya teknologinya dapat dengan mudah dikuasai, misalnya tanaman talas, pisang, dan umbi-umbian. Pertimbangan lainnya ialah petani paham ke mana pasar bagi tanaman yang diusahakan serta menguntungkan secara ekonomi. Ciri ketiga, motif berusaha petani ialah mencari keuntungan yang dilakukan dengan mengintensifkan penggunaan lahan yang hasilnya akan dijual untuk mendapatkan uang tunai. Ciri keempat petani ialah bagian dari sistem politik yang lebih besar yang ditunjukkan oleh adanya partai-partai politik yang berpengaruh pada mereka juga terhadap kepemimpinan di desa. Adapun ciri yang terakhir adalah bahwa petani subsisten secara mutlak tidak ada, karena petani mempunyai hubungan yang kuat terhadap pasar tempat menjual hasil pertaniannya atau bahkan membeli barang di pasar untuk dijual di desanya dengan harapan memperoleh keuntungan.

(25)

Menurut Elizabeth (2007: 30) penerapan paradigma modernisasi yang mengutamakan prinsip efisiensi dalam pelaksanaan pembangunan pertanian menyebabkan terjadinya perubahan struktur sosial masyarakat petani di pedesaan. Berbagai proses pelaksanaan pembangunan, terutama industrialisasi, dalam jangka menengah dan panjang menyebabkan terjadinya perubahan struktur pemilikan lahan pertanian, pola hubungan kerja dan struktur kesempatan kerja, serta struktur pendapatan petani di pedesaan. Terkait dengan struktur pemilikan lahan, perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya: (1) petani lapisan atas; merupakan petani yang akses pada sumberdaya lahan, kapital, mampu merespon teknologi dan pasar dengan baik, serta memiliki peluang berproduksi yang berorientasi keuntungan; dan (2) petani lapisan bawah; sebagai golongan mayoritas di pedesaan yang merupakan petani yang relatif miskin (dari segi lahan dan kapital), hanya memiliki faktor produksi tenaga kerja. Untuk memenuhi kebutuhan berproduksi, kedua lapisan masyarakat petani tersebut terlibat dalam hubungan kerja yang kurang seimbang.

Sayogyo (2002: 133), bahwa …“Studi hubungan antara pola distribusi tanah dan distribusi pendapatan (diantara petani dan buruh tani pada khususnya) dalam Studi Dinamika Pedesaan SAE itu boleh dikata merupakan uji-ulang di banyak desa atas suatu temuan pokok dari studi desa kasus Yogyakarta, yang pernah dilakukan B.White sebelum tahun 1970. Hasil studi itu menemukan perbedaan strategi pola nafkah. Rumah tangga di lapisan bawah (petani gurem, buruh tani) berpola “aman dan selamatkan diri”, dilapisan di atasnya berpola “konsilidasi”, dan baru di lapisan paling atas (tanah cukup, juga peluang usaha di luar pertanian) berpola “akumulasi modal”.

(26)

2.2Bidang Kegiatan Pertanian Sawah: Strategi Pemilik Lahan

Sistem gadai hanya akan dilakukan pemilik sawah dalam keadaan yang sangat terpaksa. Tentang kontrak maro jika pemilik lahan adalah seorang ayah, maka kontrak maro dilakukan oleh seorang anak atas alasan-alasan hubungan kekerabatan, pertama untuk membantu rumah tangga ekonomi rumah tangga anak tersebut. Kedua adalah untuk mendidik anak dalam mengelola pekerjaan di sawah. Pada suatu hari dipertimbangkan sawah yang dipatronkan itu akan jatuh kepada anak tersebut sebagai warisan orang tua.

Penggunaan buruh tani dari sudut pandang pemilik sawah adalah akibat pasokan buruh yang melimpah, maka tingkat upah buruh sangat bersaing. Situasi seperti ini beserta tekanan moral pedesaan untuk membantu tetangga dan hidup rukun dengan tetangga mendorong pemilik lahan untuk tidak mencari tenaga buruh dari luar kampung sendiri. Kalau kita lama hidup dalam sebuah kampung akan terasa aneh jika terjadi seorang pemilik sawah menyewa buruh tani dari kampung lain. Hal yang serupa juga terjadi dengan persewaan kerbau untuk pekerjaan membajak dan menggaru, bahkan untuk sawah-sawah yang terletak di luar kampung sendiri, para pemilik lahan tetap akan mempekerjakan para buruh yang dibawa dari kampung sendiri.

Pada situasi melimpahnya buruh tani tunakisma yang mencari kerja di sawah dan meluasnya kemiskinan, pekerjaan berupah adalah semacam sesuatu yang diidam-idamkan dan memberi pekerjaan semacam itu kepada seseorang dapat dipandang sebagai sebuah kemurahan hati. Memberikan pekerjaan kepada tetangga adalah semacam pembayaran premi asuransi bagi keamanan hidup sang

(27)

pemilik lahan. Dengan berbuat demikian, mereka berharap buruh tani yang mereka tolong itu akan menolong mereka pula nanti jika bila diperlukan.

Masyarakat desa berpendapat bahwa hanya tetanggalah yang akan segera datang menolong mereka ketika mendapat kesusahan. Kerabat yang tinggal di kampung lain secara teknis susah untuk menolong, karena jarak tempat tinggal yang jauh. Di kampung-kampung sisi dimana lembaga formal tidak ada dalam sebagian besar orang bergantung kepada tetangga. Inilah alasan utama mengapa muncul situasi umum di pedesaan Cikalong, dan di Jawa umumnya, bahwa “The villagers place importance upon lending immediate assistance to people living nearby” (Jay 1969: 237 dalam Marzali 2003: 108).

Memberikan pekerjaan dengan upah kepada seorang buruh lepas sebagai satu kemurahan hati diberikan secara terbatas. Apabila tenaga kerja keluarga di rumah tidak cukup, maka bantuan tenaga dari luar dicari pertama dari kalangan kerabat dekat, yaitu anak menantu dan saudara yang tinggal di kampung yang sama. Selain itu dari kalangan tetangga dekat. Biasanya untuk pekerjaan-pekerjaan yang kecil seperti memacul waktu mempersiapkan lahan, caplak, dan menyiang, tenaga kerja dari kedua golongan ini sudah mencukupi. Hal ini juga nampaknya berlaku di tempat-tempat lain di Jawa (Marzali 2003: 108). Di luar kedua golongan di atas barulah tenaga buruh bebas diambil dari kalangan “orang lain”, yaitu orang sedesa yang bukan tetangga atau orang dari desa lain.

2.3 Kaitan Faktor Penguasaan Tanah Terhadap Perubahan Struktur Masyarakat Pedesaan

(28)

di Kendal Jawa Tengah untuk memahami kondisi pada zaman Orde Lama bahwa “perubahan sistem penguasaa tanah juga telah menyebabkan perubahan sistem produksi pertanian”. Sebelum tahun 1960, ada tiga jenis hak penguasaan tanah komunal, yaitu hak bengkok, hak banda desa, hak narawita, serta satu yang bersifat individual yaitu hak yasan. Saat itu, tanah yasan mencakup 76,7 persen dari total tanah di desa tersebut. Penerapan UUPA tahun 1960 menyebabkan konversi tanah yang semula berdasarkan hukum adat (komunal) menjadi hak milik.

Hak narawita, secara de facto sudah menjadi milik individual, sehingga penjualan tanah berkembang, peluang tunakisma untuk menggarap mengecil, dan mobilitas penguasaan cenderung sentrifugal atau terpolarisasi. Bersamaan dengan itu, sistem produksi yang semula dilandasi nilai-nilai tradisional digantikan oleh sistem produksi komersial. Organisasi produksi dari sebelumnya berupa pola-pola penyakapan seperti maro, merapat, merlimo, lebotan, bawon, dan mutu digantikan dengan pola dengan penyewaan, buruh lepas, panen tebasan, dan penggilingan padi mekanis. Temuan ini didukung oleh Hayami dan Kikuchi (1987) dalam Syahyuti (2001), yang menemukan bahwa “Kesamaan dampak revolusi hijau di Indonesia dan Filipina”. Tranformasi sistem sosial pedesaan ini juga didukung oleh Temple (1976) dalam Syahyuti (2001) melihat bahwa “Adanya evolusi desa Jawa dari desa komunal (1830-1870), dilanjutkan desa tradisional (1870-1959), dan terakhir desa komersial bersamaan dengan era revolusi hijau”.

Selanjutnya Amaluddin (1987) dalam Syahyuti (2001) melihat bahwa “Komersialisasi pertanian telah juga menyebabkan perubahan pola hubungan

(29)

antar lapisan petani”. Kondisi sebelum tahun 1960 dimana masyarakat terbagi atas tiga lapisan sosial, yaitu sarekat (pemegang hak bengkok), sikep ngajeng (pemegang hak narawita) dan sikep wingking (tunakisma) dilandasi hubungan “patron–klien”; berubah menjadi hubungan berdasarkan nilai-nilai komersial pola tuan tanah–buruh. “Melemahnya hubungan patron klien ini bersamaan dengan menurunnya tanggung jawab lembaga desa dalam menjamin subsistensi, melalui jaminan memperoleh pekerjaan dan distribusi” (Temple, 1976 dalam Syahyuti, 2001).

Soal agraria (soal tanah) adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makan manusia. Soal tanah adalah soal hidup, soal darah jang menghidupi segenap manusia (Tauchid, 1952: 3). Tanah merupakan faktor produksi utama dalam usaha perkebunan. Tanah diperlukan sebagai tempat tumbuh komoditi-komoditi yang akan diusahakan. Indonesia sebagai Negara Agraris, memiliki tanah subur yang sangat mendukung bagi berkembangnya usaha perkebunan maupun pertanian pada umumnya. Faktor tanah yang kaya inilah, disamping faktor tersedianya penduduk sebagai tenaga kerja, yang dahulu menarik kaum penjajah untuk menguasai tanah di Indonesia (Mubyarto, 1992: 107).

Penguasaan lahan atau tanah dan kepemilikan lahan atau tanah merupakan dua hal yang saling berkaitan. Menurut Wiradi (2008) bahwa konsep antara kepemilikan, dan pengusahaan tanah perlu dibedakan. Kata “pemilikan” menunjuk pada penguasaan formal. Hak milik atas tanah berkaitan dengan hak-hak yang dimiliki seseorang atas tanah, yakni hak-hak yang sah untuk menggunakannya, mengolahnya, menjualnya dan memanfaatkan bagian-bagian

(30)

tertentu dari permukaan tanah. Hal tersebut menyebabkan pemilikan atas tanah tidak hanya mengenai hak milik saja melainkan juga termasuk hak guna atas tanah yaitu suatu hak untuk memperoleh hasil dari tanah bukan miliknya dengan cara menyewa, menggarap dan lain sebagainya. Kemudian bagaimanakah keadaan diferensiasi luas pemilikan tanah? Ini harus diteliti dengan wawancara langsung dengan penduduk desa. Yang harus diperjelas ialah bukan “pemilikan tanah” dalam arti hak milik yang hanya tercatat dibuku resmi (Buku Letter C), melainkan luas tanah yang benar-benar dikuasai oleh masing-masing keluarga petani (Tjondronegoro dan Wiradi, 1984: 239).

Menurut Mubyarto (1992: 107) bahwa …”Tersedianya tanah ternyata tidak selalu diimbangi oleh tersedianya tenaga kerja. Tuntutan akan tenaga kerja telah menempatkan kebijaksanaan dalam distribusi pemanfaatan lahan kepada segenap warga desa. Prinsip ini merupakan kosekuensi atas tuntutan pada upaya memperoleh tenaga kerja dan untuk memperoleh ikatan penduduk dengan desanya”. Bagaimanakah cara pengusahaan tanah yang dimiliki masing-masing rumah tangga? Dengan tenaga buruh tani atau hanya tenaga keluarga sendiri? Kalau digarap orang lain, jenis kontrak penggarapnya bagaimana, sewa-menyewa atau bagi hasil? Dan bagaimanakah hubungan pemilik tanah dengan penggarapnya? (Tjondronegoro dan Wiradi, 1984: 239)

2.4Usahatani

Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu, alam, tenaga kerja, modal dan pengelola yang diusahakan oleh perseorangan ataupun sekumpulan orang untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi

(31)

kebutuhan konsumen (Soeharjo dan Patong, 1973). Strategi berasal dari kata Yunani Strategos dan Strategia, istilah strategi yang dipakai berarti pengetahuan dan seni menangani sumber-sumber yang tersedia dari suatu perusahaan (petani lapisan atas) untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang diinginkan. Strategi adalah alat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi adalah tindakan potensial yang membutuhkan keputusan manajemen tingkat atas dan sumberdaya perusahaan (petani lapisan atas) dalam jumlah yang besar. Petani lapisan atas merupakan petani yang akses pada sumberdaya lahan, kapital, mampu merespon teknologi dan pasar dengan baik, serta memiliki peluang berproduksi yang berorientasi keuntungan (Elizabeth, 2007: 30).

Pengelolaan atau manajemen usahatani adalah kemampuan petani dalam menentukan, mengorganisir dan mengkordinasikan faktor-faktor produksi yang dikuasai dengan sebaik mungkin sehingga mampu memberikan produksi pertanian yang diharapkan. Faktor-faktor produksi yang dikelola oleh petani adalah: lahan atau tanah garapan, alokasi penggunaan tenaga kerja, modal, dan kegiatan usahatani padi sawah.

Tenaga kerja dalam usahatani sangat diperlukan dan berpengaruh terhadap penyelesaian berbagai macam kegiatan produksi usahatani. Jenis tenaga kerja dibagi menjadi tiga yaitu: tenaga kerja manusia, hewan, dan mesin. Tenaga kerja yang menjadi faktor produksi dalam penelitian ini adalah tenaga kerja manusia. Modal adalah barang atau uang yang secara bersama-sama dengan faktor produksi lain digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa, yaitu produk pertanian. Sumber modal diperoleh dari; milik sendiri, pinjaman, kredit, hadiah, warisan, usaha lain atau kontrak sewa.

(32)

2.5Kerangka Pemikiran

Kajian utama diarahkan pada proses akumulasi modal petani lapisan atas. Proses akumulasi modal melalui mekanisme dan investasi surplus dari pemilik lahan tradisional, pemilik lahan modern dan pemilik lahan entrepreneur. Adapun fokus kajian peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan pada sumberdaya dan lapangan kerja, transfer teknologi dan kelembagaan. Kerangka pemikiran pada tujuan yang ingin dicapai secara sederhana diwujudkan pada Gambar 2.

(33)

Keterangan:

Mempengaruhi Berhubungan Gambar 2. Kerangka Pemikiran. 2.6Hipotesis Pengarah

Peran Petani Lapisan Atas di Pedesaan:

1. Sumberdaya dan Lapangan Kerja

2. Tranfer Teknologi 3. Kelembagaan

Strategi Ekonomi Petani Lapisan Atas dalam Mengakumulasi Modal: Tipe Petani Lapisan Atas di Desa Ciasmara

Proses Akumulasi Modal: 1. Pemilik Lahan Tradisional 2. Pemilik Lahan Modern 3. Pemilik Lahan Entrepreneur

(34)

Berdasarkan rangkaian konsep yang diutarakan serta wawasan peneliti terhadap subjek tineliti, beberapa pernyataan hipotesis yang mengarahkan peneliti menjawab pertanyaan penelitian disusun di bawah ini. Beberapa hipotesis pengarah itu adalah:

1. Proses akumulasi modal melalui mekanisme surplus dan investasi surplus berupa persediaan alat-alat produksi, reproduksi dan produksi, dan bidang sirkulasi atau pertukaran uang dari rumah tangga petani lapisan atas dimana surplus di sektor pertanian diinvestasikan ke sektor non pertanian. Proses akumulasi dan investasi yang saling menunjang dari sektor pertanian ke sektor non pertanian diantara petani lapisan atas di pedesaan maka terjadi akumulasi modal.

2. Petani lapisan atas memiliki peran di dalam pembangunan pedesaan. 3. Proses akumulasi modal dan peran petani lapisan atas dapat menjelaskan

strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal.

2.7Definisi Konseptual

1. Strategi adalah tindakan potensial yang membutuhkan keputusan manajemen tingkat atas dan sumberdaya perusahaan (petani lapisan atas) dalam jumlah yang besar. Selain itu, strategi mempengaruhi kemakmuran perusahaan (petani lapisan atas) dalam jangka panjang.

2. Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu, alam, tenaga kerja, modal dan pengelola yang diusahakan oleh perseorangan ataupun sekumpulan orang (petani lapisan atas) untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen (pasar).

(35)

3. Petani lapisan atas adalah petani yang akses pada sumberdaya lahan, kapital, mampu merespon teknologi dan pasar dengan baik, serta memiliki peluang berproduksi yang berorientasi keuntungan.

4. Rumah tangga adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik, dan biasanya tinggal bersama serta makan dari satu dapur.

5. Tanah adalah asal dan sumber makan manusia serta tempat tumbuh komoditi-komoditi yang akan diusahakan.

6. Modal adalah barang atau uang yang secara bersama-sama dengan faktor produksi lain digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa, yaitu produk pertanian.

7. Pemilik lahan tradisional adalah petani yang mempunyai lahan sawah yang luas menggunakan sistem pertanian yang masih sederhana.

8. Pemilik lahan modern adalah petani yang mempunyai lahan sawah yang luas menggunakan sistem pertanian yang maju.

9. Pemilik lahan entrepreneur adalah petani yang mempunyai lahan sawah yang luas dan juga memiliki profesi sebagai pedagang.

10.lapangan kerja adalah kegiatan seorang petani untuk dapat bekerja agar terpenuhinya kebutuhan hidup keluarga melalui pekerjaan di sektor pertanian maupun sektor non pertanian.

11.Tranfer teknologi adalah memberi penerapan ilmu pengetahuan sebagai solusi bagi masalah-masalah praktis.

(36)

12.Kelembagaan adalah kompleks peraturan-peraturan dan peran sosial yang mempengaruhi perilaku orang-orang di sekitar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan penting.

13.Akumulasi modal adalah penjumlahan dari seluruh aset atau kekayaan yang dimiliki rumah tangga petani dari sektor pertanian maupun sektor non pertanian.

14.Wirausahawan (Entrepreneur) didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru.

(37)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan rinci tentang suatu gejala sosial. Di mana peneliti hendak mengkaji realitas sosial yang menggambarkan bagaimana strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal. Kemudian menggambarkan strategi ekonomi petani lapisan atas dalam hal proses akumulasi modal dan peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan.

Pendekatan kualitatif menggunakan studi riwayat hidup. Studi riwayat hidup atau tepatnya riwayat hidup individu adalah bahan keterangan tertulis mengenai pengalaman kehidupan individu-individu tertentu, sebagai warga dari suatu masyarakat yang sedang diteliti (Koentjaraningrat, 1985: 158: Denzin, 1989: 10 dalam Sitorus, 1998: 28). “Melalui kisah kehidupan… “orang dapat terkomunikasi satu sama lain, melalui perantara sosiologi” (Bertaux, 1981: 44 dalam Sitorus 1998: 29). Dengan pernyataan itu Bertaux hendak menegaskan bahwa studi riwayat hidup individu dapat menjadi wahana yang efektif untuk mendapatkan pemahaman sosiologis tentang kehidupan sosial pada suatu masyarakat. Ini sesuai dengan asumsi pokok studi riwayat hidup, yaitu bahwa perilaku kehidupan manusia harus dipelajari dan dipahami dari perspektif individu-individu yang terlibat dalam kehidupan itu (Denzin, 1970: 220 dalam Sitorus 1998: 29). Dengan strategi tersebut, peneliti dapat lebih mudah untuk memahami permasalahan penelitian secara lebih mendalam dan menyeluruh. Sitorus (1998:

(38)

31) menyatakan ada dua jenis data riwayat hidup menurut sumbernya, yaitu: data terdokumentasi dan data tangan pertama. Dengan data terdokumentasi dimaksudkan adalah keseluruhan bahan tulisan atau bahan rekaman yang bersangkut-paut secara langsung maupun tidak langsung dengan riwayat kehidupan subyek. Sedangkan data tangan pertama adalah informasi langsung dari individu subyek tentang kisah kehidupannya, yang diperoleh melalui suatu wawancara mendalam.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan memfokuskan pada daerah pertanian sawah yang memiliki petani lapisan atas dalam hubungannya dengan strategi ekonomi dalam mengakumulasi modal. Pemilihan lokasi penelitian tersebut dilakukan secara purposive (sengaja) karena untuk mengkaji penelitian maka penelitian ini harus menemukan lokasi yang sesuai agar mendapatkan fakta-fakta sosial yang terdapat di lapangan dan fakta-fakta-fakta-fakta sosial tersebut diharapkan mampu menjawab realitas sosial yang ada. Kondisi kegiatan pertanian sawah di desa tersebut mempunyai petani lapisan atas yang cukup relevan dengan penelitian ini sehingga peneliti dapat melihat strategi ekonomi dalam mengakumulasi modal yang dilakukan petani lapisan atas di lokasi tersebut. Petani lapisan atas yang terdapat di desa ini adalah para pengusaha usahatani padi sawah yang padat modal dan kebanyakan mereka adalah para haji tuan tanah setempat.

Penelitian (dari proses penjajagan lapangan, menentukan tineliti, pelaksanaan penelitian hingga proses penulisan laporan penelitian) dilaksanakan

(39)

mulai Bulan Juni-Juli 2009. Di mana, dalam hal pengambilan data peneliti tinggal bersama tineliti subjek penelitian di lapangan dalam jangka waktu satu bulan. Proses ini dilakukan peneliti untuk dapat mengetahui kondisi demografis lokasi penelitian secara rinci, menggali strategi ekonomi yang mereka lakukan dengan studi riwayat hidup dan dalam rangka membangun hubungan sosial yang dekat antara peneliti dengan tineliti.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam pendekatan kualitatif dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi metodologi (kombinasi beberapa metode pengumpulan data), yaitu antara lain : wawancara mendalam (indepth interview), observasi lapang dan penelusuran dokumen atau literatur. Hal ini dilakukan peneliti agar dapat memperoleh kombinasi data yang akurat, sehingga dapat menjelaskan gejala sosial yang berkaitan dengan strategi ekonomi lapisan atas dalam mengakumulasi modal.

Wawancara mendalam dilakukan dengan tineliti yang dipilih secara sengaja, yaitu tineliti yang sesuai dan dianggap mampu menjelaskan berbagai realitas sosial yang berkaitan dengan penelitian ini. Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan tiga tokoh petani lapisan atas yang ada di desa tersebut yakni H. Aw, H. At dan H. Ong yang kemudian diteruskan dengan cek-silang. Cek-silang dilakukan dengan mewawancarai “pihak ketiga” yang menguasai topik yang akan diteliti. Pihak ketiga di antaranya kepala desa setempat, tokoh agama, dan buruh tani yang bekerja pada petani lapisan atas, hasilnya didapat berbagai informasi tentang pengakumulasian modal yang dilakukan petani lapisan atas tersebut.

(40)

Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer penelitian diperoleh dari tineliti, meliputi data mengenai (1) penjelasan proses akumulasi modal petani lapisan atas; (2) penjelasan peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan; (3) gambaran strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal. Adapun data sekunder merupakan data yang didapatkan dari dokumen-dokumen tertulis yang berupa tulisan ilmiah dan dokumen laporan yang diterbitkan oleh instansi yakni data monografi desa dan potensi desa.

3.4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dari pendekatan kualitatif dilakukan sejak awal pengumpulan data, di mana dalam melakukan pengumpulan data peneliti juga melakukan analisis data secara bersamaan. Cara menganalisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (1992) dalam Sitorus (1998: 59) meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun penjelasan mengenai tahapan tersebut dapat dilihat di bawah ini.

Tahap pertama, reduksi data dimaksudkan adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan data transformasi kasar yang muncul dari catatan-catatan yang tertulis dilapangan. Kemudian reduksi data tujuan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, mengeliminasi data-data yang tidak diperlukan dan mengorganisir data sedemikian sehingga didapatkan kesimpulan akhir (Sitorus, 1998: 60). Peneliti kemudian membagi data ke dalam beberapa fokus penelitian yang disesuaikan untuk menjawab perumusan masalah yang ada. Data yang terkait dengan proses akumulasi modal, peran petani

(41)

lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan, strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal dan gambaran umum desa dikelompokkan tersendiri. Tahap kedua penyajian, dimaksudkan sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Sitorus, 1998: 60). Data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk teks naratif maupun matriks yang menggambarkan proses akumulasi modal petani lapisan atas, kemudian peran petani lapisan atas di dalam pembangunan pedesaan dan strategi ekonomi petani lapisan atas dalam mengakumulasi modal. Hasilnya diharapkan dapat menjawab perumusan masalah yang telah ditetapkan.

Tahap ketiga, penarikan kesimpulan, yang dalam hal ini mencakup juga verifikasi atas kesimpulan itu. Kesimpulan-kesimpulan itu diverifikasi selama penelitian berlangsung dengan cara: (1) memikir ulang selama penelitian, (2) tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan, (3) peninjauan kembali dan tukar pikiran antar teman sejawat untuk mengembangkan “kesepakatan intersubyektif”, (4) upaya-upaya yang luas untuk mendapatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Makna-makna yang muncul dari data akan diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, yakni yang merupakan validitasnya (Sitorus, 1998: 61).

(42)

Tabel 1. Kebutuhan Data dan Metode Pengumpulannya

No. Informasi Sub-topik Metode

Pengumpulan Data

Sumber data 1. Ekologi desa 1. Jenis tanah, tata

tanah, luas lahan, tata guna lahan 2. Vegetasi flora-fauna 3. Sistem petanian 4. Sistem teknologi Analisa dokumen Observasi Wawancara

Data pemerintah desa Data dinas pertanian Dinas yang terkait

2. Sejarah desa Cerita sejarah desa Analisa dokumen

Wawancara mendalam Dokumen sejarah desa Aparat desa Tokoh desa 3. Struktur demografi 1. Jumlah penduduk

dan tingkat

kepadatan penduduk 2. Jumlah keluarga tani 3. Struktur penduduk berdasarkan umur dan perkerjaan 4. Struktur penguasaan lahan 5. Migrasi 6. Kematian dan kelahiran Analisa dokumen Wawancara Data demografi pemerintah desa Aparat desa

4. Infrastruktur Desa 1. Perumahan dan infrastruktur 2. Transportasi dan komunikasi 3. Pasar 4. Fasilitas listrik 5. Sistem pengairan Analisa dokumen Observasi Wawancara

Data pemerintah desa Aparat desa Dinas pertanian PLN Telkom 5. Struktur sosial masyarakat desa 1. Stratifikasi sosial: penguasaan lahan, kedudukan sosial. 2. Hubungan sosial: interaksi petani lapisan atas dengan petani bawah/buruh tani.

Analisa dokumen Observasi Wawancara

Data pemerintah desa Aparat desa

Tokoh desa

6. Kondisi rumah tangga petani lapisan atas

1. Perumahan petani lapisan atas: model bangunan, bahan bangunan, luas bangunan

2. Harta benda petani lapisan atas 3. Pendidikan anak

petani lapisan atas

Analisa dokumen Observasi Wawancara mendalam

Para petani lapisan atas dan keluarganya, Dinas kesehatan Puskesmas setempat

(43)

7. Pola nafkah rumah tangga petani lapisan atas

1. Ragam mata pencaharian 2. Pembagian kerja:

pembagian kerja antara orang tua dengan anak-anak; pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan 3. Pendapatan 4. Kebutuhan keluarga 5. Pola produksi 6. Pola konsumsi 7. Pola reproduksi 8. Kegiatan petani lapisan atas di pertanian dan di luar pertanian 9. Kegiatan rumah tangga petani lapisan atas 10. Penguasaan teknologi Wawancara mendalam Observasi Berperanserta

Petani lapisan atas dan keluarganya

8. Religi dan Kebudayaan

Keberadaan agama, adat-istiadat, norma-norma dan nilai-nilai di lingkungan petani lapisan atas

Wawancara mendalam Observasi

Petani lapisan atas Tokoh desa

(44)

Gambar 3. Desa tempat penelitian berada di Barat Daya Kota Bogor.

(45)

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI

4.1 Keadaan Fisik dan Infrastuktur di Desa Ciasmara

Desa Ciasmara adalah sebuah daerah yang terletak di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas wilayah 473,501 kilometer persegi. Desa Ciasmara merupakan desa induk sebelum dilakukannya pemecahan menjadi tiga desa yaitu: Desa Ciasihan, Desa Ciasmara, dan Desa Purwabakti. Menurut cerita masyarakat setempat dahulu, nama Ciasmara berasal dari kata cai dan asmara yang berarti air yang membawa kedamaian dan penuh cinta antar sesama. Desa Ciasmara memiliki tiga dusun, 11 rukun warga dan 29 rukun tetangga. Letak desa ini berada di antara 400 sampai dengan 600 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara antara 28 derajat Celcius sampai dengan 34 derajatCelcius.

(46)

Wilayah Desa Ciasmara di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ciasihan, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Purwabakti, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Cibunian.

Jarak pemerintahan desa dari Kecamatan Pamijahan sejauh 7 kilometer, jarak dari Ibukota Kabupaten Bogor sejauh 35 kilometer, dari Ibukota Propinsi Jawa Barat sejauh 350 kilometer, sedangkan jarak dari Ibukota Negara RI Jakarta sejauh 200 kilometer. Topografi wilayah Desa Ciasmara 60 persen berombak, 20 persen berombak sampai berbukit sedangkan 20 persen berbukit sampai bergunung.

Desa ini memiliki prasarana umum yang meliputi: prasarana pemerintahan desa, prasarana pengairan, alat transportasi, angkutan dan komunikasi, jalan dan jembatan, sarana perekonomian dan sosial budaya. Sarana fasilitas pemerintahan desa terdiri dari: satu buah balai desa, satu buah kantor desa, tanah kas desa berupa kantor desa seluas 791 meter persegi, kuburan 800 meter persegi, dan jalan desa 19.500 meter. Prasarana pengairan yang terdapat di desa ini berupa dua buah air terjun dan dua sungai. Adapun alat transportasi meliputi angkot 20 unit, ojeg 30 unit, dan sepeda 125 buah. Sedangkan prasarana angkutan dan komunikasi yang tersedia adalah empat kilometer jalan aspal, enam kilometer jalan diperkeras, masing-masing 10 kilometer jalan tanah, jalan umum yang dapat dilalui kendaraan roda empat dan jalan utama yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Selain itu, di desa ini juga terdapat jalan kabupaten sepanjang satu kilometer dan jalan desa sepanjang sembilan kilometer. Pada prasarana perekonomian, desa ini memiliki masing-masing sebuah KUD, pasar, dan bank yaitu BRI.

(47)

Desa Ciasmara pada saat ini sudah memiliki gedung pendidikan sekolah dari mulai sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah umum dan ditunjang dengan pendidikan kejar paket A, B, dan C, Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S), Pos Penyuluhan Pertanian (Posluhtan), serta sebuah gedung Puskesmas dan Posyandu dan adanya pasar desa, terminal angkutan Trans Parabakti Leuwiliang dalam rangka menunjang perekonomian di tingkat pedesaan, untuk jalan desa lebih kurang 12 kilometer dengan kondisi sebagian masih jalan tanah berbatu.

Untuk kegiatan keagamaan tersedia bangunan Masjid dan Musholla di tiap wilayah rukun tetangga atau rukun warga yang juga ditunjang dengan bangunan produk pesantren dengan kondisi yang masih sangat sederhana, selain itu tersedia juga potensi wisata alam yang berada di Kampung Cibeureum, walaupun sampai saat ini belum secara maksimal digali dan dikembangkan, dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan sumberdaya modal.

4.2 Sumber-Sumber Agraria dan Sistem Pertanian Setempat

Menurut Sitorus (2002: 34-35) sumber-sumber agraria mencakup tanah, perairan, hutan, bahan tambang dan udara dalam bentangan wilayah. Oleh karena itu dalam sub bab ini mendeskripsikan sumber-sumber agraria di wilayah Desa Ciasmara yang mencakup ekologi, hingga sistem pertanian yang didalamnya secara lengkap membahas tentang keadaan tanah, perairan, hutan, dan keadaan udara.

(48)

4.2.1 Ekologi dan Tata Guna Tanah di DesaCiasmara

Ekologi Desa Ciasmara sangat terkait dengan ekologi pegunungan dengan lingkungan pertaniannya yang demikian subur dan udara yang sejuk pada pagi maupun malam hari amatlah erat kaitannya dengan kehidupan penduduk lokal yang secara turun menurun. Hutan di daerah pegunungan mengelilingi areal persawahan (Lihat Gambar 9) masyarakat yang sangat luas sehingga indah dipandang mata. Pada daerah ini kita dapat melihat pula keindahan matahari terbit maupun terbenam ketika berada dibalik gunung atau bukit. Kegiatan petani dalam mengolah lahan pertanian setiap harinya pun membuat suasana desa yang alami. Kebiasaan anak-anak di desa dapat kita lihat disekitar pematang sawah yakni mencari belut di sawah dan ada juga yang pergi ke sungai untuk berenang dan mandi yang disertai dengan tawa dan canda diantara mereka.

Mengamati kesuburan di daerah ini kita bisa melihat bentang alam yang terdiri atas sawah-sawah yang subur (Lihat Gambar 7), perikanan darat, kolam-kolam perikanan air deras (Lihat Gambar 8), tegalan-tegalan yang hijau, bahkan beberapa petak hutan yang masih lebat di desa ini. Semenjak tiba di perbatasan Desa Ciasmara dengan Desa Ciasihan hingga di Kampung Pasir Tugu, kita akan memandang persawahan yang membentang luas.

Lingkungan persawahan menbentang dari utara di Kampung Jogjokan Hilir sampai di selatan batas desa yang seluruhnya mencapai 325 hektar. Tanaman padi menghiasi sebagian besar lahan sawah pada musim tanam sementara tanaman palawija terutama cabe hanya ditanam di beberapa petak sawah. Ada pula sawah yang ditanami kacang panjang serta bermacam jenis tanaman hortikultura yang lain, tetapi areal penanamannya tidaklah terlalu luas.

Gambar

Gambar 1. Lingkup hubungan-hubungan agraria.
Tabel 1. Kebutuhan Data dan Metode Pengumpulannya
Gambar 3. Desa tempat penelitian berada di Barat Daya Kota Bogor.
Gambar 5. Kantor Kepala Desa Ciasmara
+7

Referensi

Dokumen terkait

SPAM (Stupid pointless Annoying Message) yang berarti e-mail sampah atau email yang tidak kita butuhkan.,merupakan kata yang sering didengar.Sebenarnya email yang

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang

Pengamatan dilakukan terhadap pertum- buhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, panjang, dan lebar daun), umur tanaman, pro- duksi rajangan kering, kadar nikotin, dan un-

Keseluruhan bidang tugas tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan dalam bidang administrasi kependudukan dan pencatatan sipil kepada masyarakat serta penyajian

Begitu pula dengan hotel, sebagaimana kita ketahui bahwa hotel harus dapat menyajikan pelayanan kamar, makan minum serta pelayanan lainnya yang mana semua hal itu tidak terlepas

Formulir yang digunakan oleh Bell Captain untuk mencatat kegiatan Bellboy selama menangani barang tamu yang baru tiba, pindah kamar dan berangkat adalah.. Bellboy

Snack bar dapat dibuat dari berbagai macam bahan sehingga dapat untuk mengurangi impor yang tinggi maka perlu dimanfaatkan pangan lokal dengan menggunakan ubi

Oleh sebab itu, bentuk pelatihan tertentu harus diadakan untuk menjelaskan dan meyakinkan segala sesuatunya tenteng yielad management pada setiap orang/tugas Front Office