APS Jalin Keakraban Anggota
Lewat Diklat dan Pameran
UNAIR NEWS – Bulan-bulan terakhir dalam semester gasal selalu diisi dengan penerimaan anggota baru sekaligus pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Airlangga, tak terkecuali dengan UKM Seni Fotografi. UKM yang memiliki nama lain APS (Airlangga Photography Society) ini baru saja mengadakan Diklat untuk angkatan baru pada tanggal 16 hingga 18 Desember 2016 lalu dan mengambil lokasi di Pantai Sowan, Tuban, Jawa Timur.
Diklat yang diselenggarakan selama tiga hari dua malam ini memiliki beberapa agenda, di antaranya adalah materi mengenai ilmu fotografi, hunting foto, diskusi/bedah foto, diskusi mengenai pameran angkatan baru, pemilihan ketua pameran, malam keakraban antara anggota baru dengan anggota aktif APS, mulai dari angkatan 2015, 2014, 2013, 2012, hingga alumni, serta pelantikan resmi anggota baru APS angkatan 2016.
Selain itu, anggota baru dituntut untuk menyelenggarakan pameran fotografi dengan peran ganda sebagai panitia sekaligus peserta. Namun, foto hasil hunting anggota baru akan diseleksi terlebih dahulu oleh anggota senior APS yang telah memiliki pengalaman di bidang fotografi. Tak sembarang foto bisa lolos, hanya karya-karya terbaiklah yang bisa dipajang di pameran tersebut.
“Secara keseluruhan Diklat ini oke, walaupun tentunya masih ada beberapa kekurangan,” tutur Maulana Adi Panggiri, Ketua umum APS tahun 2016.
Adi mengungkapkan, Diklat APS ini bertujuan untuk membentuk
chemistry antar anggota baru. Walaupun masih menemui anggota
baru yang lebih sering menutup diri, perlahan tapi pasti, para anggota akan menerima orang baru di sekelilingnya.
“Chemistry antar anggota baru sudah mulai terbentuk dengan baik. Mungkin emang butuh waktu buat mereka menerima orang-orang baru di sekelilingnya. Mereka sudah cukup kompak dan bisa diandalkan,” tandasnya.
Ke depan, Adi berharap, jumlah para anggota APS yang aktif maupun non-aktif yang mengikuti Diklat APS bertambah. “Karena Diklat ini adalah salah satu ajang temu kangen untuk anggota-anggota non-aktif dan sebagai inspirasi untuk para anggota-anggota. Memberi gambaran, seperti apa senior dan alumni APS yang sudah mapan di dunia fotografi,” ujarnya.
“Semoga di tahun 2017 lebih banyak anggota yang aktif dalam keorganisasian, lebih aktif dalam mengikuti lomba fotografi dan lebih kompak,” imbuhnya mengakhiri. (*)
Penulis : Nena Zakiah (Mahasiswi Ilmu Komunikasi, angkatan 2014)
Editor : Dilan Salsabila
Dekat dengan Tanah Air, UKM
Tapak Suci Gelar Latihan Alam
UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci, Universitas Airlangga, mengadakan diklat bagi para anggota baru pada Jumat-Minggu (16-18/12). Diklat bertajuk latihan alam kali ini dilaksanakan di Pusdiklat (Pusat Pendidikan dan Latihan) Hizbul Wathon, Dusun Sumbersuko, Desa Kertosari, Kecamatan Purwosari, Pasuruan.Para peserta diklat mayoritas adalah mahasiswa baru. Sebagian besar adalah mahasiswa baru UNAIR. Namun ada pula yang berasal dari luar instansi dan dari siswa SMA/SMK/sederajat di sekitar
Kampus C, UNAIR. Tema diklat kali ini yaitu Membangun Kader
yang Berkarakter Islam dan Bersinergi dalam UKM Tapak Suci yang Berkemajuan.
Output dari kegiatan ini nantinya adalah membentuk kader yang tidak hanya berkarakterkan Islam dan berkemajuan, namun juga bersinergi dengan UKM dan UNAIR.
Selain diisi dengan kegiatan yang dekat dengan alam, ada pemberian materi seputar keislaman, tapaksuci, Muhammadiyah, hingga manajemen organisasi. Tentu, hal tersebut sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan mulia yang telah tercermin dari tema yang melatarbelakangi acara.
Salah satu pemateri yang mengisi materi keorganisasian adalah Febryan Kiswanto, Presiden BEM UNAIR periode 2015. Sepanjang pemberian materi, Febryan menekankan bahwa dunia kampus tidak hanya masalah IPK, tetapi lebih dari itu.
“Apabila ingin memiliki banyak teman, menyelami beragam karakter orang, mencoba untuk berdamai dengan masalah, maka ikutilah beragam organisasi entah itu intra kampus maupun ekstra kampus. Karena sungguh merugi mereka yang hanya melalui rute monoton yaitu kuliah pulang kuliah pulang atau biasa disingkat kupu-kupu,” ujar Febryan.
Bagi Febrian, menjadi seorang aktivis organisasi adalah sebuah hiburan tersendiri untuk melawan kejenuhan rutinitas kuliah. Pada latihan alam ini juga dilangsungkan pelantikan anggota baru dan kenaikan tingkat setelah melalui rentetan ujian fisik dan mental seperti dalam sebuah perguruan pencak silat. Di tengah-tengah sambutannya, Elok Koestantono selaku pendekar sekaligus pelatih UKM Tapak Suci UNAIR mengatakan, esensi latihan alam sebenarnya adalah untuk lebih dekat dengan tanah air tercinta.
“Tidak menjadi sebuah keanehan bila kegiatan berjibaku dengan lumpur sangat ditekankan guna memaksa para peserta untuk
bercengkrama dengan tanah tumpah darah yang telah melahirkan mereka,” ujar Elok. (*)
Penulis : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok Editor : Binti Q. Masruroh
Anggota UKM Penalaran UNAIR
Sabet Juara Karya Tulis di
Makassar
UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa yang tergabung dalam anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran (UKM Penalaran) Universitas Airlangga berhasil menyabet juara I pada Lomba Karya Tulis Kemaritiman (LKTM) Tingkat Nasional tahun 2016 yang diadakan pihak Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Hasanuddin, Sabtu (10/12). Topik yang menjadi bahasan dalam kompetisi itu meliputi beberapa bidang yakni kelautan, pesisir, dan kajian umum kemaritiman.
Ketiga mahasiswa itu adalah Ditta Putri Kumalasari (Fakultas Sains dan Teknologi/2013), Maliya Izzatin (FST/2013) dan Ahmad Farid Ary (Fakultas Perikanan dan Kelautan/2012).
Dalam kompetisi tersebut, mereka mengusung makalah dengan judul “Semirefined Karaginan sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kota Tarakan, Kalimantan Utara”. Gagasan tersebut terinspirasi dari salah satu rekan mereka yang pernah mengusung bahasan tentang pemanfaatan rumput laut di daerah pesisir yang masih sederhana.
“Informasi itulah yang mendorong kami untuk mengupas masalah lebih dalam. Tantangan kemaritiman negara Indonesia sekarang
ini salah satunya adalah kemiskinan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia pesisir,” tutur Ditta.
“Setelah diadakan studi literatur, kami melihat bahwa harga karaginan di pasaran lebih tinggi dibanding rumput laut biasa. Diharapkan dari ide LKTM berupa program semirefined karaginan skala home industry ini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir untuk mendukung Indonesia sebagai poros maritim dunia,” imbuh Ditta.
Kompetisi LKTM itu diikuti oleh tim yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Pertanian Bogor, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Jambi.
Melihat banyaknya peserta yang mengikuti lomba ini tak menciutkan nyali mereka untuk bisa menyajikan materi dengan penampilan terbaik. “Kita tidak berpikir untuk jadi yang terbaik, tapi kita lakukan yang terbaik,” tutur Ditta ketika ditanya niatnya dalam mengikuti lomba ini.
Dalam kompetisi bidang pesisir, juara II diraih oleh tim Unhas, juara III tim Universitas Sriwijaya, dan juara favorit tim Institut Pertanian Bogor. (*)
Penulis: Disih Sugianti Editor: Defrina Sukma S
Atlet Denali: Berlatih di
Semeru, Berkawan dengan Hujan
UNAIR NEWS – Setelah menjalani latihan selama berbulan-bulan, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam UniversitasAirlangga yang tergabung dalam tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDEx), kembali menguji fisik dan mental dengan melakukan latihan yang ekstrim. Latihan dilakukan selama 14 hari sejak 20 November sampai 4 Desember di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Latihan fisik kali ini merupakan latihan kedua bagi atlet AIDEx. Dulunya, mereka berlatih selama delapan hari di Gunung Arjuno-Welirang. Pada latihan kedua ini, kelima calon atlet melatih beberapa teknik pendakian terutama sled atau menarik kereta luncur.
“Latihan kedua, di TNBTS ini wajib diiikuti atlet untuk mengukur hasil peningkatan latihan selama ini,” papar M. Faishal Tamimi selaku Ketua AIDEx. “Setiap atlet harus terbiasa dengan menarik beban,” ujar Rio, salah satu calon atlet.
Selama di TNBTS, keadaan cuaca menjadi salah satu tantangan bagi tim AIDEx. Cuaca di area pegunungan silih berganti. Kadang berkabut, hujan, panas, dan angin kencang.
Yasak, calon atlet lainnya yang pernah menggapai puncak Elbrus di Rusia mengatakan cuaca seperti ini tak sebanding dengan cuaca di Denali (6.190 mdpl) nanti, yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi longsor salju, atau terjatuh ke crevarse. Tantangannya, setiap atlet harus terbiasa dengan cuaca ekstrim, membangun semangat dan tetap fokus dengan target.
Para calon atlet AIDEx yang tengah berlatih di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Sumber: Istimewa)
Selama latihan di Semeru, kondisi cuaca tidak cukup bersahabat. Pada hari pertama di Semeru atau hari kesembilan mereka berada di TNBTS, gerimis turun di pagi hari, sedangkan siang hingga sore terjadi hujan.
“Hujan adalah teman. Setiap siang hingga sore hari selalu gerimis atau hujan karena saat ini intensitas hujan cukup tinggi,” tutur Roby, calon atlet yang juga ketua operasional AIDEx.
Akibatnya, lumut yang tumbuh subur di bebatuan sehingga para pendaki perlu ekstra hati-hati ketika melakukan summit attack di Mahameru, terutama ketika melewati Pos Watu Rajeng. Saat tim melakukan trail run melewati pos tersebut sempat terjadi longsor di kawasan yang sama.
Meski dihadapkan cuaca yang silih berganti, para atlet tetap melaksanakan summit attack ke Mahameru sebanyak enam kali sampai hari ke-13. Keesokan harinya, tim kembali pulang ke Surabaya. “Summit attack memang dilakukan berulang kali, untuk meningkatkan volume oksigen maksimal, ketahanan, manajemen
kegiatan, fisik, team building serta aklimatisasi di ketinggian 3.000 mdpl dan yang terpenting menempa mental para atlet,” tutur Rio.
Latihan ini merupakan bagian dari persiapan ekspedisi kelima
seven summits WANALA UNAIR yang akan dilaksanakan sekitar Mei
tahun 2017. Mereka akan mendaki Gunung McKinley atau Denali, puncak tertinggi di belahan bumi utara. Rencananya, tiga orang pendaki terpilih dari WANALA UNAIR akan mencoba menaklukkan gunung setinggi 20.237 kaki.
Ekspedisi seven summits merupakan serangkaian pendakian ke tujuh puncak gunung tertinggi di masing-masing benua. Empat dari tujuh puncak tertinggi telah dicapai oleh tim yakni Puncak Cartenz, Gunung Jaya Wijaya, Indonesia (1994), Puncak Kilimanjaro, Tanzania (2009), Puncak Elbrus, Rusia (2011), serta puncak Aconcagua, Argentina (2013). Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits mereka.
Penulis : Wahyu Nur Wahid Editor: Defrina Sukma S
Mendulang Prestasi Di Tengah
Skripsi
UNAIR NEWS – Pencapaian sebuah prestasi bagi seseorang tentunya tidak luput dari usaha yang keras. Untuk melakukannya pun harus dilandasi sikap yang disiplin. Kesibukan skripsi dan menjelang kelulusan, tidak lekas menjadi sebuah penghalang, Silvester Sili Teka, tak ragu menunjukkan prestasinya. Pada tanggal 1 Desember lalu, mahasiswa Fakutas Ilmu Sosial dan Politik ini kembali menorehkan prestasi di Kejuaraan Nasional
Terbuka Piala Gubernur Jatim 2016. Dalam kejuaraan yang berlangsung di DBL Arena dan diikuti oleh 800 orang peserta ini, Silvester berhasil meraih Juara 1 kategori under 54kg senior putra, serta mempersembahkan medali emas sebagai hadiah ulang tahun bagi UKM Taekwondo UNAIR yang kini memasuki tahun ke-34.
Atlet yang pernah dinobatkan sebagai “Atlet Terbaik Senior Putra” di Kejuaraan Nasional Piala Kapolres Semarang yang berlangsung pada 11-13 November lalu itu mengungkapkan, taekwondo itu sudah menjadi hobbinya sejak lama.
“Sebagai bagian dari keluarga UKM Taekwondo UNAIR, kontribusi terhadap UKM menjadi sangat penting. Dan prestasi yang saya raih adalah berkat dukungan dan motivasi dari teman-teman UKM,” jelasnya.
Bagi Silvester, poin penting yang perlu diingat bahwa keberhasilan meraih prestasi juga merupakan sebuah pilihan. Artinya, jika memilih untuk menjadi seseorang yang berhasil, tentu ada harga dan pengorbanan yang perlu dibayar.
“Seberapa besar pencapaian yang kita raih akan berbanding lurus dengan besar pengorbanan yang kita upayakan. Seperti kata pepatah cina kuno yang berbunyi pencapaian besar selalu diawali dengan sebuah langkah kecil,” terangnya.
Selain itu, Silvester juga mengungkapkan bahwa pemenang bukanlah yang berada di puncak tertinggi, bukan yang berteriak paling kencang, bukan pula yang tak pernah merasakan pahitnya kegagalan. Namun, banginya pemenang adalah yang tidak menyerah dan ketika terjatuh akan senantiasa bangkit.
“Latihan seberat apapun itu, kalau kita jalani dengan tekad yang kuat, hasil apapun yang kita terima merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi kita,” ujar Silvester. (*)
Penulis: Yosi Dwi Apriliani, Mahasiswa Ekonomi Islam FEB UNAIR
Editor: Nuri Hermawan
Mahasiswa Pascasarjana Pun
Bisa Berprestasi di UKM
Kampus
UNAIR NEWS – Ada yang menarik dalam gelaran Student Week yang dihelat oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Meja pada 12 November lalu. Seorang mahasiswi Sekolah Pascasarjana mengikuti pertandingan tenis meja “Rektor Cup” di kategori tunggal putri. Perempuan bernama Septin Mauludiyana itu pun berhasil meraih peringkat ketiga. Mahasiswi Prodi Imunologi itu membuktikan, para mahasiswa UNAIR dari berbagai jenjang bisa ikut dalam kegiatan UKM kampus dan berprestasi.
“Sejak kecil, saya memang suka tenis meja. Meski masih dalam tahap amatir. Beberapa waktu lalu, adik saya yang lagi kuliah di Fakultas Kedokteran memberi info tentang Student Week ini. Alhamdulillah, bisa ikut dan berprestasi,” ungkap dia.
Dia sendiri memiliki minat untuk ikut UKM Tenis Meja. Namun, selama ini dia berdomisili di Malang. Maka itu, keinginan untuk bergabung di UKM secara aktif itu masih menjadi pertimbangan baginya. Meski demikian, dia memastikan, jika pertandingan serupa dilaksanakan kembali, alumnus Fakultas K e d o k t e r a n H e w a n U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a i n i b a k a l berpartisipasi kembali.
Di tempat terpisah, Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana UNAIR Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, M.Kes, drh mengungkapkan, mahasiswa Pascasarjana memang selalu diberi ruang berkegiatan di kampus. Yang secara esensi, tidak berbeda dengan mahasiswa
S1 kebanyakan. “Kampus tidak mengkotak-kotakan. Apa yang diraih Septin adalah buktinya,” papar dia. (*)
Penulis: Rio F. Rachman Editor : Dilan Salsabila
Rahwana
dan
Rama
akan
bertarung di UNAIR
UNAIR NEWS – Rama akan segera merebut kembali sang istri,
Sinta yang diculik oleh Rahwana. Rama juga akan meminta bantuan Anoman untuk mengirimkan surat pada Sinta bahwa ia akan segera datang menjemputnya.
Cuplikan cerita di atas merupakan sinopsis dari pertunjukan Drama Kolosal di Pagelaran Airlangga Specta 2016 yang akan digelar pada tanggal 24 November 2016 di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) UNAIR. Dalam Pagelaran Spekta tersebut, perjuangan Rama merebut Sinta akan kembali disuguhkan dengan menarik. Menurut Ibrahim Baridwan selaku pemeran Rama, pemilihan cerita dalam pertunjukan tersebut terinspirasi dari Novel karya Sudjiwo Tedjo.
“Pertunjukannya berjudul Rahvayana, terinspirasi dari Novel Sudjiwo Tedjo yang berjudul Rahvayana. Tapi di sini mengisahkan kisah ramayana dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang rahwana,” ujar Ibrahim.
Dalam pemilihan pemeran di Pagelaran Drama Kolosal ini juga dilakukan casting. Setelah melalui casting pada 9 November lalu di Student Center (SC), terpilihlah 11 pemain terbaik yang akan berlaga. Skenario dan sutradara untuk pagelaran ini ialah Bryan Ahmad Affan Lubis, salah satu anggota UKM teater
UNAIR.
Pagelaran Specta 2016 ini merupakan persembahan akhir tahun untuk Dies Natalis UNAIR ke 62 yang digagas Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (FORKOM UNAIR) dan juga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNAIR. Pagelaran Airlangga Specta 2016 juga menampilkan bakat-bakat luar biasa dari mahasiswa UNAIR. Dalam rangkaian Airlangga Spekta 2016, selain pagelaran drama Rahvayana, akan ada juga Festival band, Pemilihan Duta UNAIR, dan Bazaar.
Jadi, jangan lewatkan acara Airlangga Spekta 2016 tanggal 24 November 2016 yang diadakan di Gedung ACC Kampus C UNAIR, mulai pukul 10.00 hingga selesai.
Penulis : Faridah Hari Editor : Nuri Hermawan
Jadikan
Dedikasi
Sebuah
Prestasi
UNAIR NEWS – Menjadi mahasiswa bukan hanya sebuah identitas semata, yang hanya dipandang dari sisi akademiknya saja. Akan tetapi sisi non akademik juga perlu menjadi perhatian. Bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo, bagi kedua mahasiswa ini adalah suatu permulaan. Silvester Sili Teka dan Nazyati Syafira belajar mengasah soft skill mereka dengan berorganisasi melalui UKM. Kehidupan berorganisasi di kampus nyatanya memiliki berbagai macam pandangan dan sorotan. Ada yang memandang bahwa dengan mengikuti kegiatan organisasi hanya akan menghambat nilai akademik. Namun, tidak sedikit
pula yang beranggapan bahwa dengan bergabung dalam organisasi kampus akan memberikan banyak sekali manfaat bagi dirinya, salah satunya dengan menjadi mahasiswa yang berprestasi di bidang non akademik.
Seperti yang dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNAIR ini, Silvester dengan kerja kerasnya di tengah kesibukan skripsi dan menjelang kelulusan, berhasil meraih juara 1 senior under 54kg putra dan dinobatkan menjadi “Atlet Terbaik Senior Putra” di Kejuaraan Nasional Piala Kapolres Semarang yang berlangsung pada 11-13 November lalu. “Saya merasa ingin lebih berkontribusi kepada UKM Taekwondo UNAIR dengan mempersembahkan sesuatu yang belum pernah saya berikan untuk UKM yaitu medali emas dan sebagai bonus penghargaan atlet terbaik itu,” ujar mahasiswa semester akhir tersebut.
Hal demikian dirasakan pula oleh Nazyati Syafira, mahasiswa Fakultas Vokasi ini juga meraih medali perak pada kejuaraan tersebut. Dia menyatakan bahwa sebenarnya niat untuk mengikuti kejuaraan sudah lama terbersit, latihan pun sudah dimulai sejak lama dan untuk kejuaraan ini memang benar-benar dipersiapkan. Sehingga membuahkan hasil yang memuaskan.
“Jangan berhenti berusaha dan berdoa karena tanpa keduanya semuanya sia-sia”, ungkap Syafira.
Prestasi non akademik yang diraih dan pengalaman organisasi dalam UKM, bagi Silvester bisa menjadi bekal soft skill ketika bersaing di dunia luar dan dapat menjadi nilai tambah jika dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya aktif dalam aktivitas perkuliahan saja. Faktor pengalaman mahasiswa dalam organisasi kampus juga sebagai salah satu faktor penting penunjang suksesnya mahasiswa kelak.
“Tekad dan kemauan kuat itu merupakan syarat mutlak bagi sebuah pencapaian. Dedikasikan dirimu, karena dedikasi selalu berbuah prestasi”, ujar Silvester. “Jadi, apa lagi yang kalian
tunggu? Ikuti organisasi kampus dan ukir prestasimu!,” pungkasnya.
Penulis: Yosi Dwi Apriliani Editor: Nuri Hermawan
Selama Dua Minggu, Atlet
Denali Summit Attack Enam
Kali ke Mahameru
UNAIR NEWS – Mendaki puncak tertinggi di belahan Bumi Utara bukanlah hal mustahil. Namun, fisik dan mental para atlet pendaki perlu dipersiapkan secara matang agar bisa meminimalisir risiko yang terjadi saat pendakian.
Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga atau Wanala UNAIR dijadwalkan akan berangkat dan mendaki Gunung Denali di Amerika Serikat pada medio tahun 2017. Kegiatan ini mereka namai Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDEx).
Ada banyak rangkaian persiapan fisik dan mental, salah satunya mereka akan menempa diri selama 15 hari di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS). Rencananya, kegiatan itu akan dilaksanakan pada tanggal 20 November (Minggu) sampai 4 Desember (Minggu). Selama pelatihan, mereka akan didampingi Huda, pendaki tujuh puncak tertinggi dunia dari organisasi Indonesia Expedition.
Selama pelatihan di TNBTS, mereka akan melatih teknik, mematangkan fisik, melatih endurance, membiasakan diri dengan
ketinggian, dan untuk membuat tim yang solid. TNBTS dipilih dengan alasan kesesuaian medan.
“Di Alaska, semuanya salju. Medannya hampir sama dengan pasir sehingga yang paling pas di Semeru untuk simulasi pendakian,” tutur Wahyu Nur Wahid yang bertindak selaku Sekretaris AIDEx. Wahyu melanjutkan, para atlet AIDEx membutuhkan dataran tinggi dan terbuka untuk berlatih. Meski tak setinggi Denali, TNBTS adalah tempat yang sesuai untuk melatih diri.
Pelatihan ini akan diikuti oleh ketujuh atlet ekspedisi, yakni B e r n a t Y o g i A b r i a n ( F a k u l t a s I l m u S o s i a l d a n I l m u Politik/2013), Gangga Pamadya Bagaskara (Fakultas Ekonomi dan Bisnis/2014), M. Faishal Tamimi (alumnus), M. Roby Yahya (Fakultas Perikanan dan Kelautan/2011), Syaifful Akbarudin (FISIP/2011), Septian Rio (FISIP/2013), dan Yasak (alumnus). Membangun tim, fisik, dan mental
Ada sepuluh jenis teknik latihan yang akan dilakukan oleh para atlet AIDEx. Mereka akan melakukan latihan beban, ketahanan fisik, manajemen kegiatan, kekompakan, aklimatisasi di ketinggian, kecepatan, moving together, self arrest, running
belay, dan sledding.
Pada hari pertama, tim berangkat menuju lokasi di Bromo dan berlatih menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu Bromo (aklimatisasi). Pada hari kedua, mereka akan mengasah teknik pendakian moving together dan self arrest.
“Self arrest merupakan teknik mountaineering. Dalam teknik ini, pendaki menjatuhkan diri, terpelosok, tergelincir di gunung es atau medan salju, dan pendaki tersebut melakukan penyelamatan diri dengan menggunakan ice axe serta kombinasi dari anggota tubuh seperti kaki, siku, lutut dan tangan. Jadi, latihan ini merupakan simulasi jatuh ke jurang,” terang Roby Yahya, Ketua AIDEx.
Pada hari ketiga, mereka akan fokus pada kegiatan running
belay dan sledding. Pada teknik running belay, para atlet
dilatih untuk mengenakan pengaman saat pendakian. Sebab, nantinya, atlet akan bergantian dalam mendaki gunung. Sedangkan, dalam latihan sledding, atlet akan kembali berlatih menarik ban truk seberat 15-20 kg.
Pada hari keempat, atlet akan fokus pada rescue dan speed
play. Teknik rescue harus dikuasai oleh setiap calon atlet,
karena hanya anggota tim sendiri yang dapat melakukan evakuasi saat pendakian. Sedangkan, speed play digunakan untuk melatih daya tahan calon atlet.
Selanjutnya, pada hari kelima, para atlet akan kembali mengulang teknik moving together, sledding serta loadcarry.
Loadcarry ini adalah berjalan jarak jauh disertai membawa
beban. Di hari keenam, atlet akan melakukan kombinasi
loadcarry beserta sledding dari Bromo menuju Ranu Pane yang
berjarak 16,3 kilometer.
“Hari ketujuh dilakukan recovery tubuh calon atlet, karena aktivitas aktivitas yang dilakukan butuh tenaga cukup banyak,” jelas Rio yang juga calon atlet AIDEx.
Pada hari kedelapan, tim akan melakukan trekking dan loadcarry menuju Kalimati disertai aklimatisasi suhu di ketinggian dan beristirahat. Pada jam 1 dini hari atau hari kesembilan, tim melakukan summit attack atau menuju puncak Mahameru dari Kalimati. Kemudian turun dan melakukan summit attack lagi sebanyak dua kali. Sore harinya tim melakukan speed play di lokasi Kalimati selama satu jam.
Pada hari kesepuluh, mereka kembali melakukan summit attack dari Kalimati ke Mahameru, sebaliknya. Setelah sampai ke Kalimati, mereka menuju Ranu Pani untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh hingga hari kesebelas.
Pada hari ke-12, tepatnya waktu setelah Magrib, tim kembali melakukan summit attack dari Ranu Pani ke Mahameru. Pada
summit attack yang rencananya akan berlangsung pada jam 19.00
hingga 07.00, setiap atlet diharuskan membawa beban seberat 10 kilogram.
Pada hari ke-13, tim kembali melakukan summit attack mulai pukul 19.00, sampai keesokan harinya. Pada hari terakhir, tim dijadwalkan pulang ke Surabaya.
“Summit attack memang dilakukan berulang kali, untuk meningkatkan volume oksigen maksimal, ketahanan, manajemen kegiatan, fisik, team building, serta aklimatisasi di ketinggian 3000 mdpl dan yang terpenting menempa mental para atlet,” tutur Rio. (*)
Penulis: Wahyu Nur Wahid (Sekretaris AIDEx) Editor: Defrina Sukma S
Mahasiswa UNAIR Menangkan
Film Inspirasi Terbaik
UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga tak henti-hentinya mengukir prestasi. Kali ini, prestasi membanggakan diraih oleh lima mahasiswa perwakilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi yang memperoleh penghargaan film inspirasi terbaik melalui Festival Film Pendek Pemuda Kreatif Indonesia 2016.
Film yang memperoleh penghargaan tersebut berjudul Setetes
Koin, bertemakan lingkungan dan mengambil setting di tiga
tempat yakni di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Festival film pendek diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga dengan mengangkat tema pemuda kreatif Indonesia menjawab tantangan global.
Lima mahasiswa UNAIR itu adalah Rizki Kurniawan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) selaku sutradara, Lafreenda Tialoka Mitadiar (FIB) sebagai talent, Adam Arif Makarim (FIB) sebagai editor, Nindita Naisella (FIB) sebagai art, dan Moch Ilham Prasetya (FST) sebagai talent.
Pemutaran film pendek berlangsung di XXI Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (1/11). Kepada reporter UNAIR
NEWS Rizki mengungkapkan, pada mulanya mengalami beberapa
kesulitan dalam mencari ide pembuatan film.
“Awalnya susah cari ide, terus deadline mepet banget yaitu tanggal 20 Oktober. Seminggu sebelum lomba kita bikin. Krunya juga apa adanya yang easy going pokoknya. Sempet bolos kuliah juga,” ungkap Rizki sambil tertawa.
Sang sutradara juga mengatakan, ketika ide cerita matang dan jadi, pra produksi hanya dilakukan sekali saja. Padahal sebelum syuting, mestinya pra produksi dilaksanakan berulang kali. Butuh sekitar tiga hari untuk melakukan proses produksi disebabkan lokasi yang dibutuhkan beraneka ragam.
Ditambah lagi, deadline pengumpulan film yang semakin mepet, sedangkan tim sinematografi harus berhadapan dengan proses editing yang membutuhkan waktu cukup lama.
“Waktu itu deadline sudah tinggal beberapa jam lagi. Tapi alhamdulillah jadi dan selesai,” ungkapnya.
Film yang telah selesai masa pengeditan dikirim ke alamat email perlombaan. Tanpa disangka-sangka, film yang dibuat dalam waktu cepat tersebut masuk ke dalam sepuluh finalis. “Sempat heran dan kaget, sih. Diundanglah kita ke Jakarta. Di sana film-film yang diputar adalah lima dari 10 finalis. Sempat pesimis karena lawannya ‘ngeri’. Tapi pas film awal diputar, wah senang banget bumper sinema diputar, tandanya film Setetes Koin lolos. Itu pertama kalinya seumur hidup nonton film sendiri di bioskop gede sekelas XXI. Maklum
biasanya nonton filmnya orang,” ucap Rizki bangga.
Untuk berhasil mendapat juara, tentu proses yang dilalui tidaklah mudah. Rizki juga menceritakan pengalamannya bersama kru yang bersembunyi dari pantauan satpam di Graha Amerta demi mendapatkan angle syuting yang bagus. Karena proses yang sangat merepotkan, Rizki dan kru nekat naik ke atas bangunan yang masih dalam tahap pembangunan tanpa mengantongi izin.
“Pas syuting, ember yang kita pakai jatuh dari rooftop gara-gara kena angin. Bayangkan saja kalau embernya ilang. Wassalam, kita nggak lanjut syuting. Tapi untungnya ketemu,” tutupnya. (*)