1
EFEKTIVITAS PSIKOTERAPI INTERPERSONAL AREA TRANSISI
PERAN UNTUK MENURUNKAN DEPRESI PADA NARAPIDANA
DI RUMAH TAHANAN KELAS I SURAKARTA
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata II pada Jurusan Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi
Oleh:
DWI WIJAYANTI, S.Psi T100135009
PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2019
2
HALAMAN PERSETUJUAN
EFEKTIVITAS PSIKOTERAPI INTERPERSONAL AREA TRANSISI PERAN UNTUK MENURUNKAN DEPRESI PADA NARAPIDANA DI
RUMAH TAHANAN KELAS I SURAKARTA
PUBLIKASI ILMIAH
Oleh:
Dwi Wijayanti, S.Psi T100135009
Telah diperiksa dan disetujui oleh:
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Dr. Nisa Rachmah N. A, M.Si., Psikolog W.S. Hertinjung, S.Psi., M.Psi., Psikolog
HALAMAN PERSETUJUAN
3
HALAMAN PENGESAHAN
EFEKTIVITAS PSIKOTERAPI INTERPERSONALAREA TRANSISI PERAN UNTUK MENURUNKAN DEPRESI PADA NARAPIDANA DI
RUMAH TAHANAN KELAS I SURAKARTA
Oleh:
Dwi Wijayanti, S.Psi T100135009 Penguji Tamu
Dr. Lisnawati Ruhaena, M.Si., Psikolog Pembimbing Utama
Dr. Nisa Rachmah Nur Anganthi, M.Si., Psikolog Pembimbing Pendamping
Wisnu Sri Hertinjung, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Surakarta, 20 Februari 2019 Program Studi Magister Psikologi Profesi
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta \
Mengetahui,
Dekan Fakultas Psikologi Kaprodi Magister Psikologi Profesi
usatyo Yuwono, M.Si., Psikolog Dr. Lisnawati Ruhaena, M.Si., Psikolog
4
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam publikasi ilmiah ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas, maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.
Surakarta, 2 Maret 2019 Penulis,
Dwi Wijayanti, S.Psi T100135009
1
EFEKTIVITAS PSIKOTERAPI INTERPERSONAL AREA TRANSISI PERAN UNTUK MENURUNKAN DEPRESI PADA NARAPIDANA
DI RUMAH TAHANAN KELAS I SURAKARTA Abstrak
Narapidana merupakan kelompok beresiko mengalami permasalahan psikologis berupa depresi dengan gejala seperti perasaan sedih, tertekan, merasa bersalah, sulit tidur, nafsu makan berkurang, menarik diri, pesimis dan mudah emosi yang dikarenakan ketidakmampuan narapidana melakukan penyesuaian diri atas transisi perannya sekarang. Sebuah intervensi alternatif untuk menurunkan depresi yaitu Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran. Penelitian ini bertujuan mengetahui Efektivitas Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran dalam menurunkan depresi pada narapidana. Metode penelitian menggunakan kuasi eksperimen. Subjek penelitian sebanyak 12 narapidana non residivis, memiliki depresi pada kategori sedang, berat dan ekstrem yang telah diukur menggunakan skala Burn Depression Checklist (BDC). Intervensi Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran terdiri dari 5 sesi yaitu pre-session, initial session, middle session, relaxation dan termination. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan secara signifikan antara pre-test, post-test dan follow up sebelum diberikan intervensi dan setelah diberikan intervensi. Berdasarkan uji statistik non parametrik Friedman Test melalui nilai mean rank diketahui nilai mean pre-test lebih tinggi dibandingkan post-test dan follow up dengan Chi Square sebesar 24.000 dan Asymp. Sig sebesar 0.000 (p<0,05), mean pre test sebesar 3.00; post test 2.00 dan follow up 1.00. Uji Mann Whitney U Test post-test pada dua kelompok hasilnya menunjukkan bahwa Z sebesar -2.255 dengan Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0.024 (p<0,05), dengan Mean Rank sebesar 9.25 untuk KE dan 15.75 untuk KK. Oleh karena itu, ada perbedaan tingkat depresi antara kelompok yang diberi intervensi (KE) dengan kelompok yang tidak diberikan intervensi (KK). Tingkat depresi KE yang diberikan intervensi lebih rendah daripada tingkat depresi KK yang tidak diberikan intervensi, sehingga dapat disimpulkan bahwa Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran efektif dalam menurunkan depresi pada narapidana di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta.
Kata kunci: Psikoterapi Interpesonal, depresi, narapidana, penelitian eksperimen Abstract
Prisoners are a group at risk of experiencing psychological problems in the form of depression with symptoms such as feeling sad, depressed, feeling guilty, difficulty sleeping, reduced appetite, withdrawal, pessimism and emotional ease due to the inability of prisoners to adjust to the transition of their current roles. An alternative intervention to reduce depression is the Interpersonal Psychotherapy Role Transition Area. This study aims to determine the effectiveness of Interpersonal Psychotherapy Role Transition Area in reducing depression in prisoners. The research method used quasi experiments. The subjects of the study
2
were 12 non-recidivist inmates, who had depression in the moderate, severe and extreme categories that had been measured using the scale of the Burn Depression Checklist (BDC). Intervention Interpersonal Psychotherapy Role Transition Area consists of 5 sessions, namely pre-session, initial session, middle session, relaxation and termination. The results showed that there were significant differences between pre-test, post-test and follow-up before intervention was given and after intervention. Based on the non-parametric statistical test Friedman Test through the mean rank value it is known that the mean pre-test is higher than the post-test and follow-up with Chi Square of 24,000 and Asymp. Sig is 0.000 (p <0.05), the mean pre test is 3.00; post test 2.00 and follow up 1.00. Mann Whitney U test The post-test test in the two groups of results shows that Z is -2.255 with Asymp. Sig (2-tailed) of 0.024 (p <0.05), with Mean Rank of 9.25 for KE and 15.75 for KK. Therefore, there was a difference in the level of depression between the groups given the intervention (KE) and the group not given the intervention (KK). The level of depression that was given intervention was lower than the level of depression of the KK who was not given an intervention, so it can be concluded that the Interpersonal Psychotherapy Role Transition Area was effective in reducing depression in prisoners in Surakarta Class I Prison.
Keywords: Interpersonal psychotherapy, depression, inmates, intervention, experimental research
1. PENDAHULUAN
Kriminalitas merupakan masalah sensitif yang menyangkut masalah peraturan sosial, segi-segi moral, etika dalam masyarakat dan aturan-aturan dalam agama. Pembahasan mengenai kriminalitas di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pembahasan rumah tahanan sebagai salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam menekan angka kriminalitas. Hal ini mengingat rumah tahanan sebagai institusi tempat pemenjaraan para narapidana atas tindak kriminal yang dilakukan sebagai salah satu sanksi dalam kurun waktu tertentu. Menurut UU No 12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan, pengertian terpidana adalah seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Menurut Wilson (2005), narapidana adalah manusia bermasalah yang dipisahkan dari masyarakat untuk dibina agar dapat bermasyarakat dengan lebih baik. Hukuman pidana bagi seorang pelanggar hukum sebenarnya bukan suatu perbuatan balas dendam oleh negara, melainkan sebagai imbangan atas tindak pidana yang telah dilakukannya sehingga akan menghasilkan kesadaran pelanggar hukum tersebut melalui pemberian pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan.
3
Kenyataannya pemberian pembinaan yang diupayakan belum mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan narapidana.
Menjadi narapidana adalah stressor kehidupan yang berat. Perasaan sedih setelah menerima hukuman serta berbagai hal-hal lain seperti rasa malu, rasa bersalah, hilangnya kebebasan, sanksi ekonomi, sanksi sosial dan kehidupan dalam penjara yang penuh tekanan dapat memperburuk serta mengintensifkan stressor sebelumnya. Kehidupan di dalam Rumah Tahanan juga membuat para narapidana mengalami kehilangan keluarga yang kemudian berdampak pada hilangnya dukungan sosial yang sebelumnya pernah mereka terima. Selain itu, menghilangkan kebebasan dan kemerdekaan narapidana, kebebasan berinteraksi dengan lingkungan yang luas yang dulu pernah mereka rasakan dan sangat memungkinkan mereka kehilangan rasa aman ketika mereka berada di lingkungan baru (Hutapea, 2011). Keadaan tersebut bukan saja mempengaruhi penyesuaian fisik tetapi juga psikologis narapidana (Gussak, 2009).
Wawancara awal dengan Kepala Subseksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan bertujuan mengetahui permasalahan-permasalahan psikologis yang dialami narapidana di Rutan Kelas I Surakarta bahwa permasalahan psikologis ada pada narapidana yang beliau ketahui meliputi stress, cemas dan depresi. Untuk mendapatkan gambaran pasti permasalahan psikologis narapidana di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta dilakukan screening awal menggunakan DASS (Depression Anxiety Stres Scale) dengan tujuan mendapatkan gambaran pasti permasalahan psikologis terhadap 80 narapidana di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta. Diperoleh hasil sebagai berikut 47,5% narapidana (38 Orang) mengalami depresi, 32,5% narapidana (26 orang) mengalami cemas dan 20% narapidana (16 orang) mengalami stress.
Setelah mendapatkan hasil screening menggunakan skala DASS (Depression Anxiety Stres Scale), dilakukan penelusuran data lebih dalam melalui wawancara terhadap narapidana. Hasil wawancara kepada narapidana dapat disimpulkan bahwa berada di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta narapidana mengeluhkan dirinya sering melamun, tidak terdapat tempat untuk berkeluh kesah, merasa tertekan, sering menyendiri, menyesal, kecewa terhadap diri
4
sendiri, putus asa, tidak memiliki gairah dalam beraktivitas, sulit tidur, tidak nafsu makan, rawat diri kurang, merasa hancur, terdapat keinginan untuk mati, sulit beradaptasi, terkekang, mudah emosi dan tubuh mudah terasa lelah. Keluhan-keluhan tersebut diatas dapat dimaknai sebagai bentuk dari gejala-gejala depresi. Adapun sebab gejala-gejala depresi muncul akibat dari ketidakmampuan narapidana menerima perubahan peran yang ada pada dirinya yaitu semula warga biasa kemudian sekarang berubah menjadi warga binaan atau narapidana.
Menurut Kaplan & Sadock (2010) depresi yaitu sebuah gangguan mood dimana suasana perasaan yang meresap dan menetap yang dialami secara internal mempengaruhi perilaku seseorang dan persepsinya terhadap dunia. Suasana perasaan tertekan (depreesed mood) dapat menjadi suatu diagnosis penyakit atau sebagai sebuah gejala atau respon dari kondisi penyakit dan stress terhadap lingkungan.Sejalan dengan hasil pengambilan data awal yang dilakukan peneliti ditemukan pula studi-studi tentang pemenjaraan menunjukkan prevalensi terjadinya gangguan depresi pada narapidana lebih tinggi 10-15% dibanding dengan populasi pada umumnya (Gunter dkk, 2008). Depresi sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja dan pada periode kapan saja. Akan tetapi, narapidana merupakan populasi yang rentan terhadap timbulnya kejadian depresi.
Farkhan (2016) dalam penelitiannya juga mengungkapkan permasalahan psikologis seperti depresi, kecemasan, menarik diri dari lingkungan sosial pada narapidana selama menjalani hukuman di Rumah Tahanan merupakan dampak dari ketidakmampuan narapidana mengalami perubahan perannya sekarang yang disandang. Sebab berada di Lembaga Pemasyarakatan dimana hak-hak yang semakin terbatas, perolehan label penjahat yang melekat pada dirinya serta hidup terpisah dari keluarga dan hidup bersama narapidana lain. Berbagai intervensi untuk mengatasi depresi antara lain yaitu menurut Halgin dan Whitbourne (2010) dapat berupa intervensi biologis, psikologis dan sosiokultural. Intervensi biologis menggunakan obat antidepresan, litium dan terapi elektrokonvusif (ECT), intervensi psikologis menggunakan pendekatan perilaku (behavior), pendekatan kognitif (cognitive), pendekatan interpersonal, yang masing-masing di dalamnya
5
mengajarkan ketrampilan tertentu, sedangkan intervensi sosiokultural dapat melibatkan pasangan atau keluarga.
Aubach dan Ho (2012) menjelaskan sampai saat ini CBT (Cognitive Behavior Therapy) adalah intervensi non pharmacologic paling banyak digunakan untuk mengatasi depresi. Akan tetapi CBT memiliki kekurangan yaitu keterbatasan dalam menangani kasus yang terkait interpersonal. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa erat kaitannya dan ada timbal balik antara hubungan interpersonal dengan gejala depresi. Salah satu intervensi baru dan terbukti efektif untuk menangani kasus depresi yaitu Psikoterapi Interpersonal. Depresi mungkin memiliki berbagai macam penyebab, namun trigger dari kemunculan episode-episode depresif yang dialami klien mengakibatkan adanya gangguan attachment dengan figur-figur yang menurut klien significant atau hambatan dalam menjalankan peran tertentu (Corsini & Wedding, 2011). Psikoterapi Interpersonal merupakan sebuah intervensi yang berfokus pada hubungan interpersonal Area Transisi Peran dengan tujuan menghilangkan gejala depresi dan meningkatkan fungsi interpersonal klien.
Merujuk pada dasar berpikir di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Apakah psikoterapi interpersonal area transisi peran efektif menurunkan depresi pada narapidana? Berdasarkan rumusan masalah tersebut peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul ”Efektivitas Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran Efektif Menurunkan Depresi Pada Narapidana Di Rumah Tahanan kelas I Surakarta.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan variabel depresi dan Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran. Depresi adalah kondisi gangguan suasana hati yang ditandai dengan hilangnya kegembiraan, menurunnya minat dalam aktivitas, sulit tidur, kehilangan selera makan, menarik diri, sedih berkepanjangan, ketidakmampuan mengambil keputusan, merasa tidak berharga, bahkan adanya keinginan bunuh diri. Pengukuran depresi menggunakan Burn Depression Cheklist (BDC) yang telah diadaptasi dan terdiri dari 25 kategori simptom yang menggambarkan manifestasi depresi. Semakin tinggi nilai total yang diperoleh berarti semakin
6
berat depresinya, sebaliknya semakin rendah nilai totalnya semakin ringan depresinya. Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran suatu intervensi dalam psikologi untuk mengatasidepresi dengan memfokuskan pada hubungan interpersonal terkait pada permasalahan ketidakmampuan menghadapi perubahan peran sekarang yang dianggap sebagai sumber pemicu depresi tersebut. Intervensi ini terdiri dari 5 sesi dan akan berlangsung selama 2 hari. Setiap sesi akan berlangsung selama sekitar 45-90 menit. Adapun sesi-sesi tersebut yaitu pre-session, initial pre-session, middle pre-session, relaxsation dan termination. Modul intervensi yang digunakan peneliti yaitu modifikasi dari modul umum Psikoterapi Interpersonal yang merujuk pada buku “Interpersonal Psychotherapy for Depression” dari Weissman dan Klerman (2015). Modifikasi yang dilakukan peneliti antara lain memfokuskan area permasalahan Transisi Peran sebagai sasaran intervensi penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi eksperimen terhadap 12 orang subjek dengan karakteristik tertentu. Penentuan karakteristik ini dilakukan dengan pertimbangan agar subjek penelitian bersifat homogen. kriteria insklusi subjek penelitian yaitu Narapidana laki-laki, non residivis, bukan tepidana kasus narkoba; Masa hukuman lebih dari 1 tahun dan maksimal 5 tahun; Pendidikan minimal SMP (hal ini dimaksudkan untuk mengontrol kemampuan individu dalam menerima materi); Memiliki skor atau tingkat depresi pada kategori sedang maupun berat berdasar pengukuran Burn Depression Cheklist (BDC); Memiliki komitmen mengikuti intervensi sampai selesai, dibuktikan mengisi lembar informed consent yang peneliti sediakan. Adapun alat pengumpulan data yang digunakan meliputi skala Burn Depression Cheklist (BDC), observasi dan wawancara merupakan sebagai data pendukung. Kemudian analisis data yang digunakan analisis kuantitatif dengan teknik statistik non parametrik menggunakan perangkat lunak SPSS 16 for windows. Analisis data tersebut untuk membandingkan hasil skor pre-test, post-test dan follow up menggunakan K Related Samples Test uji Friedman Test dan untuk menguji efektifitas dari Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran untuk menurunkan depresi pada narapidana di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta menggunakan uji Mann-Whitney
7
U Test. Data observasi dan wawancara digunakan untuk analisis kualitatif yang sifatnya pendukung.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif dan kualitatif dapat dikatakan intervensi Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran efektif menurunkan tingkat depresi pada subjek. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut: Uji perbedaan pre test, post test dan follow up pada Kelompok Eksperiman. Hasil menunjukkan Friedman Test dengan Chi Square sebesar 24.000 dan Asymp. Sig sebesar 0.000 (p<0,05), Mean pre test sebesar 3.00; post test 2.00 dan follow up 1.00. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan antara pre test, post test dan follow up sebelum diberikan intervensi dan setelah diberikan intervensi. Berdasarkan nilai mean rank, diketahui nilai mean pre test, lebih tinggi dibandingkan post test dan follow up. Adapun nilai post test dan follow up terjadi penurunan 1.00 artinya antara post test dengan follow up relatif ada perubahan yang signifikan.
Uji perbedaan pre test, post test dan follow up pada Kelompok Kontrol. Hasil menunjukkan Friedman Test dengan Chi Square sebesar 17.167 dan Asymp. Sig sebesar 0.143 (p<0.05), Mean pre test sebesar 1.08; post test 2.07 dan follow up 2.75. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan antara pre test, post test dan follow up. Berdasarkan nilai mean rank, diketahui nilai mean pre test, lebih rendah dibandingkan post test dan follow up. Nilai post test dan follow up terjadi peningkatan yang artinya antara post test dengan follow up ada perubahan yang signifikan.
Sementara hasil komparasi antara kelompok eksperimen dan kontrol sebagai berikut: Uji perbedaan post test Kelompok Eksperimen (KE) dan Kelompok Kontrol (KK). Hasil menunjukkan bahwa Z sebesar -2.255 dengan Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0.024 (p<0,05), dengan Mean Rank sebesar 9.25 untuk KE dan 15.75 untuk KK. Dengan demikian, ada perbedaan tingkat depresi antara kelompok yang diberi intervensi (KE) dengan kelompok yang tidak diberikan intervensi (KK). Tingkat depresi KE yang diberikan intervensi lebih
8
rendah daripada tingkat depresi KK yang tidak diberikan intervensi. Uji perbedaan follow up Kelompok Eksperiman (KE) dan Kelompok Kontrol (KK). Hasil menunjukkan bahwa Z sebesar -4.074 dengan Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0.000 (p<0,05), dengan Mean Rank sebesar 6.62 untuk KE dan 16.38 untuk KK. Dengan demkian, ada perbedaan antara kelompok yang diberikan intervensi (KE) dengan kelompok yang tidak diberikan intervensi (KK).
Selama pelaksanaan intervensi perilaku-perilaku yang tampak dari para subjek yaitu terlihat mayoritas subjek mampu fokus dan memperhatikan terapis. Hal ini terlihat dari beberapa subjek bertanya terhadap terapis mengenai hal-hal yang belum dipahami subjek terkait dengan materi yang disampaikan, pandangan matanya fokus menyimak dengan sikap tubuh yang tegak menghadap ke depan dan sesekali tampak memainkan alat tulis yang dipegangnya sehingga dapat diinterpretasikan bahwa subjek tertarik dengan materi yang disampaikan. Ketika penugasan masing-masing subjek segera mengerjakan sesuai dengan arahan terapis, disisi lain tampak subjek RF terdiam sejenak, raut wajahnya sedikit murung ketika disuruh menuliskan peran lama dan peran baru. Pada subjek IR tampak terlihat sedang kesal sempat memprotes pertanyaan yang dianggap mengungkit-ungkit masa lalunya, namun setelah dijelaskan oleh terapis subjek dapat menerimanya walaupun dengan ekspresi yang diam dan masih sedikit kesal. Selanjutnya hasil wawancara terhadap subjek-subjek diketahui bahwa intervensi yang diberikan memberikan manfaat. Manfaat tersebut meliputi adanya perubahan secara kognitif, afektif dan sosial terhadap kondisi yang dialami dari sebelum mengikuti intervensi. Ketiga perubahan tersebut ditunjukkan melalui cara pandang negatif misalnya sering tegang, minder, mudah marah, mudah tersinggung, tidak tenang, merasa takut bertemu dengan keluarga, saudara atau teman-temannya karena merasa bersalah, kurang bersosialisasi namun setelah mengikuti intervensi cara pandang subjek terhadap situasi yang terjadi dan yang akan datang sudah mulai berubah ke arah positif, yaitu mulai percaya diri, rileks, mengontrol emosi, membuat keputusan dengan pertimbangan yang matang, siap menghadapi risiko, berani menjalin relasi sosial dan lebih optimis menghadapi segala situasi.
9 3.2 Pembahasan
Narapidana adalah manusia bermasalah yang dipisahkan dari masyarakat untuk dibina agar dapat bermasyarakat dengan lebih baik. Kenyataannya pemberian pembinaan yang diupayakan belum mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan narapidana. Menjadi narapidana adalah stressor kehidupan yang berat. Berada di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta narapidana mengeluhkan dirinya sering melamun, tidak terdapat tempat untuk berkeluh kesah, merasa tertekan, sering menyendiri, menyesal, kecewa terhadap diri sendiri, putus asa, tidak memiliki gairah dalam beraktivitas, sulit tidur, tidak nafsu makan, rawat diri kurang, merasa hancur, terdapat keinginan untuk mati, sulit beradaptasi, terkekang, mudah emosi dan tubuh mudah terasa lelah. Keluhan-keluhan tersebut diatas dapat dimaknai sebagai bentuk dari gejala-gejala depresi. Hal ini sejalan dengan pendapat Gussak (2009) bahwa keadaan yang dialami narapidana bukan saja memperngaruhi penyesuaian fisik tetapi juga psikologis narapidana. Gunter, dkk (2008) menambahkan studi-studi tentang pemenjaraan menunjukkan prevalensi terjadinya gangguan depresi pada narapidana sebesar 10-15% dibanding dengan populasi pada umumnya.
Sebab gejala-gejala depresi muncul akibat dari ketidakmampuan narapidana menerima transisi peran yang ada pada dirinya yaitu semula warga biasa kemudian sekarang berubah menjadi warga binaan atau narapidana. Kondisi tersebut sesuai dengan penelitian Farkhan (2016) bahwa permasalahan psikologis seperti depresi, kecemasan, menarik diri dari lingkungan sosial merupakan dampak dari ketidakmampuan narapidana mengalami transisi perannya sekarang. Corsini & Wedding (2011) menambahkan bahwa depresi mungkin memiliki berbagai macam penyebab, namun trigger dari kemunculan episode-episode depresif yang dialami klien mengakibatkan adanya gangguan attachment dengan figur-figur yang menurut klien significant atau hambatan dalam menjalankan peran tertentu. Beberapa peritiwa yang dapat dikategorikan sebagai transisi peran yaitu pertama situasional role transition meliputi kehilangan pekerjaan, dipenjara, promosi perpindahan ke daerah baru serta lainnya, kedua relationship role transition meliputi pernikahan, perceraian, kemunculan keluarga tiri serta lainnya
10
(Verdeli & Weissman, 2011). Sesuai dengan pendapat ahli di atas pada penelitian ini transisi peran yang dialami oleh narapidana temasuk dalam situasional role transition berupa semula warga biasa lalu menyandang status narapidana sehingga menjadi warga binaan, sedangkan yang termasuk dalam relationship role transition berupa terpisahkan dari keluarga terkadang menyebabkan perceraian dan permasalahan hubungan interpersonal.
Salah satu pertimbangan dalam menurunkan depresi pada subjek yaitu pemberian intervensi Psikoterapi Interpersonal Area Transisi peran. Pertimbangan yang diambil sesuai dengan pendapat Verdeli & Weissman (2011) bahwa untuk mengoptomalkan jalannya terapi, satu atau dua area ditentukan sebagai target terapi. Terapis tidak pelu menangani seluruh area permasalahan interpersonal klien untuk mengurangi depresi. Mengembangkan kemampuan subjek untuk menguasai satu area permasalahan interpersonal dapat mentransfer pemahaman tersebut ke dalam area-area lainnya. Keberhasilan intervensi ini secara keseluruhan melalui proses sesi demi sesi yang merupakan suatu serangkaian. Proses inrevensi Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran dapat disimpulkan yaitu subjek dibantu terapis mendefinisikan ulang peran lama dan peran barunya dengan cara yang realistis, lalu subjek menerima komponen emosional dari hilangnya peran lama dan mengemukakan tantangan yang menurut subjek akan dialaminya dari peran barunya. Selain itu, subjek juga dibantu untuk mengekspresikan semua perasaannya berkaitan dengan perubahan yang terjadi dan subjek dapat mengembangkan kemampuan dan sikap terhadap tantangan yang mungkin akan dihadapi dalam peran baru serta membentuk jaringan dukungan sosial untuk membantu klien dalam menjalankan peran barunya.
Beberapa teknik terapi yang telah diterapkan seperti psikoedukasi, identifikasi emosi dan relaksasi dirasakan subjek sebagai hal yang sangat membantu mereka mengatasi gejala depresinya akibar dari perubahan peran yang disandang. Identifikasi emosi dan relaksasi sebagai teknik yang diminati, dapat membantu subjek dalam mengurangi sensasi fisik yang dirasakan. Psikoedukasi dan identifikasi merupakan hal yang dirasa subjek sangat membantu mereka mendapatkan pengetahuan dan pemahaman agar tidak muncul depresi dan berani
11
menghadapi perubahan peran sosial. Melalui intervensi Psikoterapi Interpersonal subjek mampu memahami transisi peran dirinya dengan lingkungan sosialnya sekarang serta tidak mengalami gejala depresi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kondisi atau situasi yang akan dihadapi selama menjadi narapidana dan kelak ketika sudah keluar dari Rumah Tahanan Kelas I Surakarta. Intervensi Psikoterapi Interpersonal Area Perubahan Peran berhasil karena terapis dan subjek bekerja sama memfasilitasi rasa penerimaan terhadap hilangnya peran lama dan membantu narapidana memandang peran barunya dengan persepsi yang lebih positif sehingga dapat menurunkan gejala depresi pada narapidana di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta. Selain itu, subjek juga menjadi lebih siap dan percaya diri ketika menghadapi berbagai situasi sosial yang selama ini mereka khawatirkan.
4. PENUTUP
Hasil analisis data menunjukkan Interpersonal Psikoterapi Area Transisi Peran efektif untuk menurunkan depresi padasubjek. Dapat dilihat dari hasil uji hipotesis menggunakan Friedman Test yang menunjukkan terdapat perbedaan secara signifikan tingkat depresi antara kelompok yang diberikan intervensi dengan kelompok yang tidak diberikan intervensi. Sedangkan dari hasil uji hipotesis menggunakan Mann Whitney U Test menunjukkan depresi subjek penelitian pada kelompok eksperimen (KE) lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (KK). Tidak ada lagi subjek yang mengalami depresi ekstrem, sehinggadapat diartikan bahwa kelompok eksperimen (KE) mengalami perubahan setelah diberikannya intervensi Interpersonal Psikoterapi Area Transisi Peran.
Penurunan skor depresi secara keseluruhan terjadi melalui serangkaian sesi-sesi pada inrevensi PsikoterapiInterpersonal Area Transisi Peran yaitu subjek diajak oleh terapis untuk mendefinisikan ulang peran lama dan peran barunya dengan cara yang realistis, lalu menerima komponen emosional dari hilangnya peran lama dan mengemukakan tantangan yang menurut klien akan dialaminya dari peran barunya. Selain itu, subjek juga dibantu untuk mengekspresikan semua perasaannya berkaitan dengan perubahan yang terjadi dan subjek dapat mengembangkan kemampuan dan sikap terhadap tantangan yang mungkin akan
12
dihadapi dalam peran baru serta membentuk jaringan dukungan sosial untuk membantu klien dalam menjalankan peran barunya. Melalui intervensi Psikoterapi Interpersonal Area Transisi Peran memfasilitasi rasa penerimaan terhadap hilangnya peran lama dan membantu narapidana memandang peran barunya dengan persepsi yang lebih positif sehingga dapat menurunkan depresi pada narapidana di Rumah Tahanan Kelas I Surakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, L. R., Atkinson, R. C., Smith, E. E., danBem, D. J. (2010). Pengantar Psikologi Jilid II. Tangerang: Interkasara.
Auerbach, R. P., & Ho. R. (2012). A Cognitive-Interpersonal Model of Adolescent Depression: The Impact of Family Conflict and Depressogenic Cognitive Styles. Journal of Clinical Child &Adolescent Psychology. 41, 792-802.
Auerbach, R.P., Ho, M.H.R., & Kim, J.C. (2014). Identifying cognitive and interpersonal predictors of adolescent depression. Journal of Abnormal Child Psychology, 42(6), 913-924.
Ayuningdyah Sekararum.2012. Interpersonal Psikoterapi Meningkatkan Keterampilan Sosial Pada Mahasiswa Universitas Indonesia Yang Mengalami Distres Psikologis.
Beck, A. T. (1985).Causes and Treatment Philadelphia : University of Pennsylvania Press.
Beck. 2006. Depression: Causes and Treatment. Philadelphia: University Of Pennysylvania Press.
Bowlby, J. (1969). Attachment and loss (Vol 1). London: Hogarth Press.
Brunstein-Klomek, A., Zalsman, G., & Mufson, L. 2007. Interpersonal psychotherapy for depressed adolescents (IPT-A). Israel Journal of Psychiatry and Related Sciences.
Corsini, J. R., & Wedding, D. 2011. Current Psychotherapies. Edisi 9. Cenange Learning.
Davison. 2009. Psikologi Abnormal. Jakarta: Rajawali Pers.
Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. 1993. Departemen Kesehatan, Jakarta, Indonesia.
13
Davey, G. (2008). Psychopathology: Research, Assessment, and Treatment in Clinical Psychology. United Kingdom: Blackwell Publishing.
Frank, E., Kupfer, D., & Perel, J. M. (1989). Early recurrence in unipolar depression. Archives of General Psychiatry, 46, 397-400.
Foley, S. H., Rounsaville, B. J., Weissman, M. M., Sholomskas, D., & Chevron, E. S. (1990). Individual versus conjoint interpersonal psychotherapy for depressed patients with marital disputes. International Journal of Family Psychiatry, 7, 10.
Gussak, D. 2009. The Arts In Psychoterapy Comparing The Effectiveness Of Art Therapy On Depression And Locus Of Control Of Male And Female Inmates.The Arts In Psychoterapy.
Gunter. 2008. Frequency Of Mental and Addictive Dissoders Among 320 Men and Women Entering The Lowa Prison System. Journal Of American Academic Psychiatric.
Goldberg, J. (2013). Depression: Recognizing the Physical Symptoms. http://www.webmd. com/depression/physical-symptoms.
Hawari, D. (2006). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Edisi ke-2.Jakarta: BalaiPenerbit FKUI.
Hutapea, B. 2011. Terpenjara dan bahagia?:psychologocal well-being pada narapidan ditinjau dari karakteristik kepribadian.Proceeding PESAT Universitas Gunadarma.
Ika Nurfitriani. 2012. Interpersonal Psikoterapi Untuk Meningkatkan Self Esteem Pada Mahasiswa Universitas Indonesia Yang Mengalami Distress Psikologis. Tesis. Tidak Diterbitkan.
Kaplan & Saddock. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis.Tangerang: Bina Rupa Aksara
Klomek, B. A., Zalsman, G., & Mufson, L. (2007). Interpersonal Psychotherapy for Depressed Adolescent. Psychiatric Relat Sci.
Klerman, G. L., Budman, S., Berwick, D., Weissman, M. M., Damico-White, J., Demby, A., & Feldstein, M. (1987). Efficacy of a brief psychosocial intervention for symptoms of stress and distress among patients in primary care. Medical Care, 25, 1078-1088.
14
Klerman, G. L., DiMascio, A., Weissman, M. M., Prusoff, B. A., & Paykel, E. S. (1974). Treatment of depression by drugs and psychotherapy. American Journal of Psychiatry, 131, 186-191.
Klerman, G. L., Weissman, M. M., Rounsaville, B. J., & Chevron, E. S. (1987). Interpersonal psychotherapy of depression. New York: Basic Books.
Lailil, M. N. 2012. Hubungan antara Konsep Diri dengan Depresi pada Santri yang Menjadi Pengurus Pondok Pesantren (Studi di Pondok Pesantren Putri Al-Lathifiyyah I Tambak Beras Jombang). Skripsi.Tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Lubis, A. 2009. Sindrom Depresif Pada Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Medan.
McLean, S. C. (2003). Factors which Could Influence the Development of Adolescent Depression. Thesis. University of South Afrika.
Maslim, R. 2002. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.Jakarta: Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.
National Institutes of Mental Health (NIMH). (2011). Depression. http://www.nimh.nih.gov/studies/index.cfm.
Nevid, J.S., Rathus, S.A., dan Greene, B. (2005). Psikologi Abnormal. Jakarta : Erlangga.
Noviza.2014. Efektivitas Psikoterapi Interpersonal Menurunkan Depresi Pada Remaja Putri Dengan Orang Tua Yang Bercerai. Jurnal Intervensi Psikologi Vol 6 No 1.
Oltmanns dan Emery.2013. Psikologi Abnormal. Pustaka Belajar: Yogyakarta.
Purwandari, E & Hertinjung. 2007. Screening Depresi Narapidana Lapas Sragen.
Pearlin, L. I., & Lieberman, M. A. (1979). Social sources of emotional distress. In R. Simmons (Ed.), Research in community and mental health. Greenwich, CT: JAI Press.
Rafaeli, A. K., & Markowitz, J. C. (2011). Interpersonal psychotherapy (IPT) for PTSD: A case study. American Journal of Psychotherapy.
Robertson, M., Rushton, P., & Wurm, C. (2008). Interpersonal psychotherapy: An overview. Psychotherapy in Australia.
15
Santrock, J. W. (2002).Life - Span Develompment (Perkembangan Sepanjang Hidup). Jilid I, Jakarta: Erlangga.
Sloane, R. B., Staples, F. R., & Schneider, L. S. (1985). Interpersonal therapy versus nortriptyline fordepression in the elderly. In G. D. Burrows, T. R. Norman, & L. Dennerstein (Eds.), Clinicaland pharmacological studies in psychiatric disorders. Biographical psychiatry: new prospects. London: John Libbey.
Spanier, G. B. (1976). Measuring dyadic adjustment: New scales for assessing the quality of marriage and similar dyads. Journal of Marriage and Family Living, 38, 15-25.
Sullivan, H. S. (1953). The interpersonal theory of psychiatry. New York: Norton.
Stuart & Sundeen. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 4. Jakarta: EGC.
Sue, M., et.al. 2013. Nursing Outcome Clasification. Pengukuran Outcomes Kesehatan Edisi 5. Else V Ieperi. Philadelphia.
Tanti, R. 2007. Stress dan Kehidupan Penghuni Lembaga Pemasyarakatan. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum Vol 1. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan
Taylor, S. E. (2009). Health Psychology. New York : Mc.Graw-Hill.
Undang-Undang No 12/1995 Tentang Pemasyarakatan. http://www.kemenkuham.go.id
Verdeli, H., & Weissman, M. M. (2011). Interpersonal psychotherapy. Pacific Grove, CA: Brooks/Cole, Cengage Learning.
Weissman, M. M., Markowitz, J. C., & Klerman, G. L. (2007). Clinician’s quick guide to interpersonal psychotherapy. New York: Oxford University Press, Inc.