• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelaksanaan pembangunan di daerah, dalam kerangka pelaksanaan otonomi daerah masih merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Artinya dalam pelaksanaan pembangunan di daerah yang bersifat makro harus tetap berpedoman pada kebijakan umum pembangunan nasional, sedang prioritas pembangunan di setiap daerah lebih dititik beratkan pada konsep bottom-up planning yang berpedoman pada kebutuhan daerah kota atau kabupaten. Oleh karenanya perencanaan yang matang dan terpadu serta selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat dalam pelaksanaan pembangunan di daerah mutlak diperlukan.

Pada sisi lain, dalam rangka mewujudkan Good Governance khususnya pada aspek akuntabilitas dan transparansi maka setiap perencanaan yang disusun harus disertai dengan indikator-indikator keberhasilan yang bersifat terukur dan dapat diketahui oleh semua elemen dalam pembangunan termasuk masyarakat (stake holder). Berbagai indikator keberhasilan, khususnya dibidang sosial budaya sangat bermanfaat dari sisi perencanaan dalam menentukan arah pembangunan pada tahun-tahun mendatang. Hal ini terutama untuk meningkatkan penajaman kebijakan yang akan diambil oleh Pemerintah Daerah.

Perencanaan yang matang sangat dibutuhkan dalam melakukan pembangunan karena pembangunan merupakan pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, tanggung jawab dan biaya. Oleh sebab itu apabila pembangunan tidak dapat dilaksanakan atau dilanjutkan sebagaimana mestinya, maka akan mendatangkan kerugian yang besar dari segi materi, tenaga, waktu, tanggung jawab dan kepercayaan dari masyarakat sehingga berimbas terhadap kurangnya kewibawaan dan kredibilitas pemerintah daerah di mata publik. Berdasarkan hal tersebut, maka perencanaan pembangunan daerah harus diupayakan semaksimal mungkin dengan segenap daya dan upaya yang dimiliki oleh pemerintah daerah dalam penyelenggaraan perencanaan pembangunan daerah.

(2)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 2

Dalam rangka perencanaan, pemantauan dan penentuan sasaran serta pengukuran keberhasilan suatu tahapan pembangunan diperlukan tidak saja data ekonomi tetapi juga data sosial budaya yang diharapkan mampu menggambarkan fenomena yang terjadi. Lebih jauh lagi setiap data dapat digunakan sebagai acuan atau gambaran suatu keadaan. Masing-masing data merupakan indikator akan suatu hal tertentu ataupun beberapa hal secara bersama. Dengan demikian, untuk mengamati perkembangan atau evaluasi suatu kegiatan dapat dianalisa dari perubahan indikator yang terkait. Keterbandingan tahapan capaian pembangunan dapat pula dicerminkan oleh indikator-indikator tersebut sehingga pada gilirannya gambaran secara menyeluruh tentang capaian suatu tahapan pembangunan dapat diperoleh.

Tujuan pembangunan di bidang sosial budaya adalah terwujudnya kesejahteraan rakyat yang ditandai dengan meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat serta memberikan perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut telah dilaksanakan berbagai kebijakan dan program pembangunan sosial budaya yang meliputi bidang kependudukan dan keluarga berencana, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, kebudayaan dan pariwisata, dan keagamaan.

Kemunculan konsep pembangunan sosial merupakan refleksi atas evaluasi terhadap jalannya pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi dinilai menyisakan distorsi masalah sosial seperti kemiskinan. Era industrialisasi telah mendorong kemajuan kapitalisme yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi sehingga aspek-aspek sosial terabaikan. Seiring dengan kemajuan kapitalisme, meningkat pula tekanan masalah sosial sehingga menyadarkan pentingnya konsep pembangunan yang tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia dari aspek fisik, tetapi juga merespon masalah pembangunan yang terdistorsi. Pembangunan terdistorsi dianggap sebagai residu pembangunan yang muncul karena paradigma yang salah tentang konsep pembangunan yang tidak lagi berorientasi pada kesejahteraan dan pemerataan. Oleh karena itu, konsep pembangunan sosial hadir untuk melengkapi proses pembangunan ekonomi.

Pembangunan ekonomi yang berjalan selama ini pada kenyataannya lebih terfokus pada pembangunan fisik seperti pertumbuhan ekonomi dan pembangunan

(3)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 3

gedung dan sarana prasarana lainnya, sementara pemerataan hasil pembangunan dan pemeliharaan kualitas lingkungan kurang diperhatikan. Hal tersebut menyebabkan proses pembangunan justru menciptakan jarak yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin, serta mengancam keberlangsungan lingkungan.

Penduduk atau masyarakat sebagai sumber daya manusia (SDM) merupakan pusat kegiatan yaitu pelaku pembangunan dan sekaligus sasaran pembangunan. Oleh karenanya, penduduk juga merupakan makhluk hidup yang saling berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungan sekitar dan keadaan tersebut dapat direkam kedalam aktivitas sosial dan budaya yang dapat mencerminkan keadaan dan situasi wilayah.

Pembangunan sosial dari sudut pandang sosiologi mensyaratkan bahwa pembangunan bukan hanya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi meningkatkan kualitas kehidupan sosial-budaya. Bertolak dari pentingnya pembangunan sosial budaya serta indikator-indikator penting dibidang sosial budaya ini, sehingga dirasa perlu untuk menyusun sebuah publikasi berupa profil sosial budaya Kota Banjarbaru Tahun 2015. Dalam rangka mendukung penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2016-2020, publikasi ini memuat data-data sosial budaya dalam rentang tahun 2012 - 2014 yang ada di Kota Banjarbaru.

Sejalan dengan kemajuan teknologi, pencapaian dari kegiatan pembangunan di berbagai bidang termasuk pembangunan sosial budaya dapat diketahui dengan pemetaan data spasial. Pemetaan data spasial diperlukan untuk mengetahui sebaran, posisi, dan kondisi suatu profil sosial budaya secara akurat dalam suatu wilayah. Selanjutnya dapat diketahui proporsi jumlah sarana sosial budaya dengan kebutuhan yang diperlukan oleh penduduk berdasarkan indikator tertentu dalam sudut pandang kewilayahan dan tingkat kepadatan penduduk dalam suatu kawasan.

1.2 Maksud dan Tujuan Penulisan

Secara umum tujuan pelaksanaan kegiatan penyusunan Profil Sosial Budaya Kota Banjarbaru adalah untuk memonitor hasil pembangunan yang telah dicapai pada tahun 2014 dan sebagai bahan evaluasi secara umum terhadap program kegiatan dibidang sosial budaya. Disamping itu hal ini dimaksudkan agar perencanaan dan

(4)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 4

penyusunan program pembangunan yang dilakukan dengan tetap mengacu pada pola-pola yang ada dan telah terintegrasi dengan baik.

Adapun secara khusus sasaran dari penyusunan Profil dan Pemetaan Sosial Budaya Kota Banjarbaru Tahun 2015 adalah sebagai berikut :

1. Menyajikan gambaran keadaan sosial budaya masyarakat Kota Banjarbaru secara lebih konkrit di bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, keagamaan, kesenian, kebudayaan, kependudukan dan keluarga berencana, kepemudaan dan olahraga, serta organisasi dan pemerintahan.

2. Menyajikan profil sosial budaya dalam bentuk pemetaan data spasial digital dengan menggunakan software ArcGis untuk mengetahui sebaran, posisi, dan kondisinya secara akurat.

3. Dapat menjadi pedoman bagi perencanaan, penentuan kebijakan, pelaksanaan

hingga monitoring dan evaluasi program atau kegiatan pembangunan di Kota Banjarbaru.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup bahasan adalah kondisi sosial budaya dalam berbagai aspek antara lain kependudukan dan keluarga berencana, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial,

kebudayaan dan pariwisata, serta profil keagamaan. Ruang lingkup penyusunan Profil Sosial Budaya meliputi kondisi sosial budaya yang ada di Kota Banjarbaru.

1.4 Metodologi

Penyusunan profil ini mempergunakan metode kuantitatif statistik yaitu mengkaji dari berbagai aspek dengan dukungan data, informasi dan kajian yang sudah ada, dipadukan dengan data yang diperoleh langsung dari lapangan.

Data dan informasi yang diperoleh baik berupa hasil survei maupun hasil inventarisasi data sekunder lainnya selanjutnya akan diolah dan disajikan dalam bentuk profil sosial budaya sehingga dapat diketahui berbagai indikator dan kondisi sosial budaya yang di Kota Banjarbaru. Selain metode kuantitatif statistik, juga digunakan metode pemetaan infrastruktur yang dapat memberikan informasi mengenali letak,

(5)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 5

posisi, dan sebaran infrastruktur sosial budaya di Kota Banjarbaru dalam bentuk system pemetaan berbasis GIS (Geographical Information System).

1.5 Sistematika Penulisan

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya Kota Banjarbaru Tahun 2015 ini disusun menjadi beberapa bagian dalam bentuk bab-bab yaitu :

BAB I : Pendahuluan yang memuat latar belakang, maksud dan tujuan, ruang lingkup, metodologi dan sistematika penyajian.

BAB II : Gambaran umum Kota Banjarbaru baik mengenai kondisi wilayah maupun pemerintahan

BAB III : Kependudukan dan Keluarga Berencana, yang memuat data antara lain mengenai penduduk berdasarkan kelurahan, jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan sex ratio, sarana dan prasarana dan petugas KB, serta jumlah peserta KB aktif dan KB baru.

BAB IV : Profil Pendidikan, yang antara lain menampilkan data jumlah sekolah, guru, murid serta jumlah perguruan tinggi negeri dan swasta dan angka partisipasi sekolah.

BAB V : Profil Kesehatan, yang memberikan gambaran tentang data-data seperti jumlah fasilitas kesehatan, jumlah dokter, jumlah tenaga kesehatan, sepuluh besar penyakit di RSUD Banjarbaru serta jumlah pasien.

BAB VI : Profil Kesejahteraan Sosial meliputi tahapan keluarga sejahtera menurut BKKBN, serta jumlah rumah tangga sasaran BPS hasil pendataan.

BAB VII : Profil kebudayaan dan pariwisata seperti organisasi kesenian, objek wisata dan tempat bersejarah.

BAB VIII : Profil keagamaan yang memuat tempat peribadatan, calon jemaah haji, jumlah perkawinan, cerai talak, rujuk serta jenis perkara yang diterima dan diselesaikan pengadilan agama di Kota Banjarbaru.

BAB IX : Profil keamanan dan ketertiban lingkungan yaitu memuat banyaknya peristiwa kejahatan dan tindak kejahatan yang dilaporkan dan diselesaikan, ketertiban

(6)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 6

BAB X :

masyarakat dan lingkungan yang meliputi gangguan kamtibmas yang ditangani satpol PP, serta jumlah pos kamling di Kota Banjarbaru.

Pemetaan Profil Infrastruktur Sosial Budaya Kota Banjarbaru, yaitu memetakan sebaran infrastruktur Sosial Budaya yang terdiri dari sektor Pendidikan, Kesehatan, Keagamaan, dan lain-lain.

(7)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 7

BAB II

GAMBARAN UMUM KOTA BANJARBARU

2.1. Kondisi Wilayah Kota Banjarbaru

Secara geografis Kota Banjarbaru merupakan wilayah yang strategis karena terletak diantara dua kabupaten/kota yaitu sebagai penghubung antara Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar (Martapura) dengan jarak 35 km dari Banjarmasin dan 2 km dari Martapura. Disamping itu Kota Banjarbaru juga memiliki akses jalan trans Kalimantan yaitu di sekitar simpang empat Liang Anggang yang menghubungkan Banjarmasin – Kotabaru dan Banjarmasin – Hulu Sungai hingga ke Propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, juga akses terhadap jalan lingkar selatan Liang Anggang dan Pelabuhan Laut Trisakti sebagai gerbang jalur transportasi laut, dan lingkar utara yang menghubungkan Banjarbaru – Barito Kuala, serta akses Bandar Udara Syamsudin Noor sebagai jalur transportasi udara di Kalimantan Selatan.

Secara astronomi, Kota Banjarbaru terletak antara 03° 22’ 55” sampai dengan 03° 36’ 22” Lintang Selatan serta 114° 40’ 35” sampai dengan 114° 54’ 51” Bujur Timur, dengan batas administrasi sebagai berikut :

• Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kec. Martapura Kabupaten Banjar; • Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah; • Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Karang Intan Kabupaten

Banjar;

• Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. Sejak ditetapkan menjadi wilayah kota otonom pada tahun 1999 melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kota Banjarbaru, luas wilayah Kota Banjarbaru adalah 371,3 km2 yang terdiri dari 5 (lima) kecamatan. Lima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Banjarbaru Utara, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kecamatan Cempaka, Kecamatan Landasan Ulin, dan Kecamatan Liang Anggang. Luas wilayah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Banjarbaru dapat dilihat sebagaimana tersaji pada tabel 2.1 di bawah ini.

(8)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 8

Tabel 2.1

Luas wilayah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Banjarbaru

NO. KOTA BANJARBARU LUAS

KECAMATAN KELURAHAN Ha %

1. Landasan Ulin Landasan Ulin Timur 1.876,00 5,05

Guntung Payung 1.525,00 4,11

Syamsuddin Noor 1.867,00 5,03

Guntung Manggis 3.974,00 10,70

LANDASAN ULIN 9.242,00 24,89

2. Liang Anggang Landasan Ulin Barat 1.615,00 4,35

Landasan Ulin Selatan 2.635,00 7,10

Landasan Ulin Tengah 2.386,00 6,42

Landasan Ulin Utara 1.950,00 5,25

LIANG ANGGANG 8.586,00 23,12 3 Cempaka Palam 1.475,00 3,97 Bangkal 2.980,00 8,02 Sungai Tiung 2.150,00 5,79 Cempaka 8.065,00 21,72 CEMPAKA 14.670,00 39,50

4. Banjarbaru Utara Loktabat Utara 1.424,00 3,83

Mentaos 162,00 0,44

Komet 244,00 0,66

Sungai Ulin 614,00 1,65

BANJARBARU UTARA 2.444,00 6,58

5. Banjarbaru Selatan Loktabat Selatan 858,00 2,31

Kemuning 361,00 0,97

Guntung Paikat 247,00 0,67

Sungai Besar 730,00 1,97

BANJARBARU SELATAN 2.196,00 5,91

TOTAL KESELURUHAN 37.138,00 100,00

(9)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 9

Kota Banjarbaru berada pada ketinggian 0 – 500 m dari permukaan laut, dengan ketinggian 0-7 m (33,49%), 7-25 m (48,46%), 25-100 m (15,15%), 100-250 m (2,55%) dan 250-500 m (0,35%). Klasifikasi kelerengan Kota Banjarbaru adalah kelerengan 0-2% mencakup 59,35 persen luas wilayah, kelerengan 2-8% mencakup 25,78 persen wilayah, kelerengan 8-15% mencakup 12,08 persen wilayah. Klasifikasi kedalaman efektif tanah terbagi dalam empat kelas yaitu kedalaman <30 cm, 30-60 cm, 60-90 cm dan >90 cm. Kota Banjarbaru mempunyai kedalaman efektif lebih dari 90 cm, dimana jenis-jenis tanaman tahunan akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Berdasarkan peta Geologi, batuan di Kota Banjarbaru terdiri dari Alluvium (Qha) 48,44 persen, Martapura (Qpm) 37,71 persen; Binuang (Tob) 3,64 persen; Formasi Kerawaian (Kak) 2,26 persen; Formasi Pitap 3,47 persen. Berdasarkan peta skala 1 : 50.000 yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Tanah Bogor tahun 1974, di wilayah Kota Banjarbaru terdapat 3 (tiga) kelompok jenis tanah yaitu podsolik (63,82%), Lithosol (6,36%) dan Organosol (29,82%).

Suhu udara di Kota Banjarbaru dan sekitarnya berkisar antara 21,6oC sampai

dengan 34,0oC. Suhu udara maksimum tertinggi terjadi pada pada bulan September dan Oktober (35,8oC) dan suhu minimum terendah terjadi pada bulan Juli (20,0oC). Selain itu, sebagai daerah tropis maka kelembaban udara relatif tinggi dengan rata-rata berkisar antara 74,5% sampai dengan 94,6%. Rata-rata curah hujan di Kota Banjarbaru dan sekitarnya pada tahun 2012 tercatat 212,58 mm. Rata-rata tekanan udara di Kota Banjarbaru berkisar antara 1.010,40 mb sampai dengan 1.014,20. Rata kecepatan angin sekitar 3,9 knots.

2.2. Pemerintahan Kota Banjarbaru

Pada tanggal 20 April 1999 dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999, Kota Banjarbaru resmi menjadi sebuah kota dalam wilayah adminstrasi Propinsi

Kalimantan Selatan. Berdasarkan SK Gubernur KDH Provinsi Kalimantan Selatan tanggal 29 Mei No 10/Pem-570-3-3 pada saat itu wilayah Banjarbaru hanya meliputi 7 (tujuh)

desa. Dalam perjalanannya, wilayah Kota Banjarbaru mengalami perkembangan yaitu terdiri atas 3 kecamatan dengan 12 kelurahan. Kemudian pada tahun 2004 berdasarkan Perda No 2 Tahun 2004 tanggal 26 Pebruari 2004 terbentuklah 5 kelurahan baru dan

(10)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 10

dengan Perda No 3 Tahun 2007 kembali dibentuk 3 kelurahan baru sehingga secara keseluruhan terdapat 20 kelurahan. Berikutnya dengan Perda No 4 Tahun 2007 wilayah Kota Banjarbaru terbagi menjadi 5 kecamatan.

a. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi Pemerintah Daerah Kota Banjarbaru dalam bentuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dibuat atas dasar hukum Peraturan Daerah yaitu :

1. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Banjarbaru

2. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru No 11 tahun 2008 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2008 Nomor 11 Seri D Nomor Seri 5) sebagai mana telah diubah dalam Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru (Dalam Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2011 Nomor 20) 3. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru No 12 Tahun 2008 tentang Pembentukan,

Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2008 Nomor 12 Seri D Nomor Seri 6) sebagaimana telah diubah dengan dengan Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2011 Nomor 21).

4. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 13 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan dalam Wilayah Kota Banjarbaru. 5. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 5 tahun 2010 tentang Pembentukan,

Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Pengurus Korps Pegawai Negeri Sipil Republik Indonesia Kota Banjarbaru.

6. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pembentukan, Organisasi Tata Kerja Dinas Perumahan, Tata Ruang dan Pengawasan Bangunan Kota Banjarbaru.

(11)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 11

7. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2013 Nomor 6);

Adapun daftar kelembagaan perangkat daerah Pemerintahan Kota Banjarbaru sebagaimana disajikan pada Tabel 2.2 di bawah ini :

Tabel 2.2

Daftar Kelembagaan Perangkat Daerah Pemerintah Kota Banjarbaru Tahun 2014

I. SEKRETARIAT DAERAH

1. Asisten Tata Pemerintahan

1.1. Bagian Pemerintahan

1.2. Bagian Hukum dan Perundang-undangan 1.3. Bagian Organisasi

1.4. Bagian Pertanahan

2. Asisten Perekonomian dan Pembangunan

2.1. Bagian Perekonomian 2.2. Bagian Pembangunan 2.3. Bagian Kesejahteraan Rakyat

3. Asisten Administrasi Umum

3.1. Bagian Umum 3.2. Bagian Keuangan

3.3. Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol 3.4. Bagian Pengadaan Barang dan Jasa

II. SEKRETARIAT DPRD KOTA BANJARBARU

1. Bagian Umum 2. Bagian Keuangan

3. Bagian Rapat, Risalah dan Pengkajian Hukum 4. Bagian Hubungan Masyarakat

III. LEMBAGA TEKNIS DAERAH

1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 2. Inspektorat

3. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah 4. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik

5. Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana 6. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal

7. Badan Lingkungan Hidup

8. Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah

(12)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 12

10.RSUD Kota Banjarbaru

11.Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat

IV. DINAS-DINAS

1. Dinas Pendidikan 2. Dinas Kesehatan

3. Dinas Sosial dan Tenaga Kerja

4. Dinas Kependudukan dan Pencacatatan Sipil 5. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi 6. Dinas Pekerjaan Umum

7. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga 8. Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan

9. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan & Energi 10.Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah 11.Dinas Kebersihan dan Pertamanan

12.Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah 13.Dinas Perumahan, Tata Ruang dan Pengawasan Bangunan

V. KECAMATAN

1. Kecamatan Landasan Ulin 2. Kecamatan Liang Anggang 3. Kecamatan Cempaka

4. Kecamatan Banjarbaru Utara 5. Kecamatan Banjarbaru Selatan

VI. KELURAHAN

1. Kelurahan Landasan Ulin Timur 2. Kelurahan Guntung Payung 3. Kelurahan Syamsudin Noor 4. Kelurahan Guntung Manggis 5. Kelurahan Landasan Ulin Tengah 6. Kelurahan Landasan Ulin Utara 7. Kelurahan Landasan Ulin Barat 8. Kelurahan Landasan Ulin Selatan 9. Kelurahan Palam

10. Kelurahan Bangkal 11. Kelurahan Sungai Tiung 12. Kelurahan Cempaka 13. Kelurahan Loktabat Utara 14. Kelurahan Mentaos 15. Kelurahan Komet

16. Kelurahan Sungai Ulin 17. Kelurahan Loktabat Selatan 18. Kelurahan Kemuning 19. Kelurahan Guntung paikat 20. Kelurahan Sungai Besar

(13)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 13 VII. UNIT PELAYANAN TERPADU

1. Puskesmas Banjarbaru Utara 2. Puskesmas Banjarbaru Kota 3. Puskesmas Sungai Besar 4. Puskesmas Sungai Ulin

5. Puskesmas Rawat Inap Cempaka 6. Puskesmas Landasan Ulin 7. Puskesmas Guntung Payung 8. Puskesmas Liang Anggang

VIII UNIT PELAKSANA TEKNIS 1. Pasar Benih Ikan

2. Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura 3. Balai Penyuluhan Pertanian

4. Pengelola Pasar 5. TK/SD SBI

6. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) 7. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 8. Sekolah Menengah Atas (SMA) 9. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 10. Pemadam Kebakaran

11. Pengelola Pergudangan 12. Instalasi Farmasi

13. Pengujian Kendaraan Bermotor Sumber : Bagian Tata Pemerintahan Setdako Banjarbaru

b. Visi dan Misi Kota Banjarbaru

Visi merupakan gambaran ideal dan terukur mengenai arah yang akan dituju (point of arrival) di masa yang akan datang. Visi Kota Banjarbaru 2011 – 2015 sebagai berikut:

“Mandiri Dan Terdepan Dalam Pelayanan”

Visi tersebut mengandung pengertian bahwa kondisi Kota Banjarbaru yang ingin diwujudkan dalam lima tahun mendatang adalah Banjarbaru yang terdepan karena pelayanan aparatur publiknya dalam pelayanan pendidikan, pelayanan ekonomi (jasa, industri dan perdagangan), pelayanan pemukiman serta pelayanan pemerintahan.

Dengan terdepannya Banjarbaru dalam pelayanan publiknya, maka akan menimbulkan multieffect bagi pembangunan daerah, terutama dari sisi ekonomi. Selain

itu, diharapkan dalam lima tahun ke depan Kota Banjarbaru menjadi pusat investasi di Kalimantan Selatan.

(14)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 14

Misi adalah suatu mandat yang diemban oleh suatu organisasi. Untuk mewujudkan visi tersebut diatas, maka misi pembangunan daerah tahun 2011-2015 adalah :

”Mewujudkan Banjarbaru yang Berdaya Saing dan Sejahtera”

Berdaya Saing mengandung makna terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia,

peningkatan pelayanan kemasyarakatan, pemerintahan dan pembangunan yang dilakukan secara rasional dan obyektif dengan mempertimbangan aspek keterbukaan, partisipasi publik dan kesamaan sehingga menjamin adanya partisipasi masyarakat, transparansi, akuntabel sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku.

Sejahtera mengandung makna dalam lima tahun ke depan akan terjadi peningkatan

kesejahteraan masyarakat, yang diindikasikan dengan meningkatnya pendapatan perkapita penduduk Banjarbaru yang berdampak pula pada menurunnya angka kemiskinan, serta peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai guna mendukung pertumbuhan ekonomi di Banjarbaru.

c. Tujuan dan Sasaran Kota Banjarbaru

Berdasarkan rumusan Visi dan Misi dan mengacu serta selaras dengan arahan

tehnis operasional dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2009-2014 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi

Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015, maka tujuan pembangunan daerah untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan 5 (lima) tahun ke depan adalah :

1. Meningkatkan masyarakat atau SDM yang berkualitas 2. Menumbuh-kembangkan ekonomi daerah

3. Membangun Lingkungan yang sehat dan dinamis 4. Mewujudkan Pemerintahan yang baik

d. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan

Strategi adalah langkah-langkah berisikan program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi, yang dirumuskan dengan kriteria yang mencakup : (a) hubungan yang rasional antara visi dan misi dengan prioritas program kepala daerah terpilih, b) hubungan yang

(15)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 15

kuat antara analisis daerah dengan isu-isu strategis, (c) pernyataan yang umum guna memandu pengembangan program pembangunan tahunan selama lima tahun, dan (d) dikembangkan dalam suatu pemetaan strategi daerah. Strategi diperlukan untuk memperjelas arah pengembangan program prioritas kepala daerah.

Secara umum, strategi kebijakan pembangunan Kota Banjarbaru Tahun 2011– 2015, dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaaan pembangunan adalah : 1. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat;

2. Percepatan pembangunan daerah dengan mengembangkan ekonomi lokal;

3. Pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur sosial dasar, ekonomi, serta perhubungan; dan

4. Peningkatan infrastruktur administrasi kelembagaan pemerintah, hukum, dan keamanan.

Adapun arah kebijakan pembangunan Kota Banjarbaru menitikberatkan pada upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka percepatan pembangunan diperlukan adanya strategi daerah yang kemudian akan ditetapkan menjadi arah

kebijakan pembangunan selama 5 (lima) tahun ke depan. Arah Kebijakan pembangunan Kota Banjarbaru merupakan derivasi dari arah kebijakan pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan (RPJM Provinsi) dengan mempertimbangkan potensi dan

kearifan lokal masyarakat Kota Banjarbaru.

Secara garis besar, arah kebijakan umum pembangunan Kota Banjarbaru periode tahun 2011-2015 adalah :

1. Peningkatkan mutu pendidikan 2. Pengentasan kemiskinan 3. Pelayanan kesehatan

4. Peningkatan kesempatan berusaha/iklim usaha 5. Peningkatan mutu infrastruktur sebagai kota jasa 6. Penataan lingkungan

(16)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 16

2.3. Lambang Daerah Kota Banjarbaru a. Arti dan Makna Lambang

1. Bentuk bingkai seperti perisai menggambarkan sebagai alat pelindung dalam

mencapai cita-cita luhur Bangsa Indonesia (Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia) dan Pembangunan Nasional ber dasarkan Pancasila dan UUD 45.

2. Bintang bersudut lima adalah Pancasila sebagai dasar falsafah dan pandangan hidup

Bangsa Indonesia.

3. Tulisan BANJARBARU adalah nama Kota Banjarbaru.

4. Petak/Kotak yang terdapat pada pilar kiri dan kanan masing-masing berjumlah

11 (sebelas) buah. Pilar dan petak menggambarkan tanggal dan bulan serta tahun

berdirinya Kota Administratif Banjarbaru, yaitu tanggal 11 dan bulan November Sedangkan jumlah petak pada pilar kiri dan kanan adalah 22 menggambarkan tahun berdirinya Kota Administratif Banjarbaru, yaitu 1975 (1+9+7+5=22).

5. Pilar kiri dan kanan juga menggambarkan Kota Banjarbaru sebagai jalur masuk

(transportasi) ke Kalimantan Selatan. Sebagaimana terdapatnya Bandar Udara Syamsuddin Noor di Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru.

6. Alat Linggangan adalah menggambarkan Pendulangan Intan Tradisional Cempaka

yang terdapat di Kecamatan Cempaka serta merupakan obyek wisata budaya dan sejarah di Kota Banjarbaru.

7. Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat (sebagai obyek

wisata, sejarah, dan budaya) yang diapit rumah menggambarkan Kota

Administratif Banjarbaru sebagai Pusat Pemerintahan dan Pusat Pemukiman.

8. Buku adalah menggambarkan Banjarbaru sebagai kota pelajar dan pusat pendidikan,

dan terdapatnya prasarana dan sarana penunjang pendidikan yang memadai dari berbagai disiplin ilmu.

9. Roda (gir) menggambarkan roda industri dan perdagangan, karena

di Kota Administratif Banjarbaru sangat potensial menjadi daerah industri dan perdagangan.

10. Pita berwarna hijau yang bertuliskan motto Kota Administratif Banjarbaru sebagai

pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat industri, dan pusat pemukiman, merupakan daerah/ wilayah yang indah, aman, dan nyaman untuk mencapai kesejahteraan.

(17)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 17

b. Motto

Motto Gawi Sabarataan yang menjadi tulisan sarat makna pada lambang Kota Banjarbaru berarti :

1. Ditinjau dari aspek kerukunan dan persatuan, Gawi Sabarataan menggambarkan suatu kegiatan yang dilaksanakan secara besama-sama (pemerintah dan masyarakat) dimana setiap unsur menyadari tugas dan tanggung jawab masing-masing.

2. Ditinjau dari aspek masa depan, Gawi Sabarataan secara operasional dapat memacu motivasi mencapai masa depan yang lebih baik.

3. Ditinjau dari etos kerja, Gawi Sabarataan menjadi inspirasi masyarakat Banjarbaru untuk bekerja/ berkarya sesuai dengan tugas pokok dan peran masing-masing.

4. Pernyataan tekad dan semangat seluruh lapisan masyarakat beserta pemerintah untuk membangun dengan potensi yang ada dalam rangka mewujudkan kehidupan adil, makmur, dan sejahtera dibawah lindungan dan ridho Tuhan Yang Maha Esa. 5. Ditinjau dari segi ajaran agama, manusia adalah pemegang amanat Tuhan sebagai

penguasa yang harus memakmurkan bumi dan menjaga kelestariannya sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing.

c. Warna Lambang

Warna yang digunakan, terdiri dari 5 (lima) warna utama: 1. Warna kuning: menggambarkan keluhuran, dan keagungan. 2. Warna putih : menggambarkan kesucian.

3. Warna cokelat : menggambarkan keilmuan, keulamaan, keteguhan dan ketangguhan. 4. Warna hijau : menggambarkan kesuburan, kehijauan, dan kerezekian.

(18)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 18

BAB III

KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA

3.1 Kependudukan

Dari hasil sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2010, jumlah penduduk Kota Banjarbaru adalah sebanyak 199.627 jiwa. Berdasarkan proyeksi, jumlah penduduk Kota Banjarbaru terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi setiap tahunnya. Perkembangan jumlah penduduk dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 berdasarkan hasil proyeksi yang telah dilakukan dapat dilihat sebagaimana pada tabel 3.1a, 3.1b, dan 3.1c di bawah ini.

Tabel 3.1a

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Sex Ratio Menurut Kecamatan Se- Kota Banjarbaru Tahun 2012

Kecamatan Jenis kelamin Jumlah Sex Ratio Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) (5) Landasan Ulin 28.421 26.862 55.283 105,80 Liang Anggang 19.122 18.094 37.216 105,68 Cempaka 15.618 14.625 30.243 106,79 Banjarbaru Utara 23.377 22.554 45.931 103,65 Banjarbaru Selatan 23.206 22.408 45.614 103,56 Kota Banjarbaru 109.744 104.543 214.287 104,97

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS 2012

Tabel 3.1b

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Sex Ratio Menurut Kecamatan Se- Kota Banjarbaru Tahun 2013

Kecamatan Jenis kelamin Jumlah Sex Ratio Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) (5) Landasan Ulin 29.186 27.560 56.746 105,75 Liang Anggang 19.670 18.602 38.272 106,50 Cempaka 16.037 14.999 31.036 104,75 Banjarbaru Utara 24.047 23.167 47.214 101,50 Banjarbaru Selatan 23.879 23.021 46.900 104.25 Kota Banjarbaru 112.819 107.349 220.168 104.55

(19)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 19

Tabel 3.1c

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Sex Ratio Menurut Kecamatan Se- Kota Banjarbaru Tahun 2014

Kecamatan Jenis kelamin Jumlah Sex Ratio Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) (5) Landasan Ulin 30.246 18.503 58.749 106 Liang Anggang 20.381 19.310 39.691 106 Cempaka 16.622 15.453 32.075 108 Banjarbaru Utara 24.833 23.831 48.664 104 Banjarbaru Selatan 24.648 23.673 48.321 105 Kota Banjarbaru 116.730 110.770 227.500 105

Sumber : Proyeksi Penduduk BPS 2014

Sampai dengan tahun 2014, bila dilihat dari data per kecamatan maka penduduk yang terbanyak di Kecamatan Landasan Ulin yaitu sebesar 58.749 jiwa, kemudian kecamatan Banjarbaru Utara dan Banjarbaru Selatan masing-masing sebanyak 48.664 jiwa dan 48.321 jiwa, disusul kemudian Kecamatan Liang Anggang sebanyak 39.691 jiwa. Sementara yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah kecamatan Cempaka yaitu sekitar 32.075 jiwa.

Sex Ratio atau yang lebih dikenal dengan rasio jenis kelamin adalah perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan. Apabila rasio jenis kelamin lebih besar dari seratus berarti jumlah laki-laki lebih besar dari jumlah perempuan, begitu sebaliknya apabila ratio jenis kelamin kurang dari seratus maka artinya jumlah penduduk perempuan lebih besar dari pada jumlah penduduk laki-laki. Pada tahun 2014, sex ratio di Kota Banjarbaru tercatat 105 yang berarti penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan yang artinya setiap 100 perempuan berbanding dengan 105 penduduk laki-laki.

Selain tiap Kecamatan, jumlah penduduk Kota Banjarbaru juga dapat dilihat dari jumlah pada masing-masing Kelurahan dan disamping itu juga bisa dilihat kepadatan per kilometer persegi baik penduduk maupun rumah tangga. Berikut disajikan data jumlah dan kepadatan penduduk pada tiap kelurahan selama 3 (tiga) tahun dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 sebagaimana tabel-tabel di bawah ini.

(20)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 20

Tabel 3.2a

Jumlah Penduduk, Kepadatan Penduduk dan Rumah Tangga Menurut Kelurahan Tahun 2012

Kecamatan Kelurahan Penduduk Jumlah Kepadatan / Km

2

Penduduk Rumah Tangga

(1) (2) (3) (4) (5)

01. Landasan Ulin Landasan Ulin Timur 15. 217 811 218

Guntung Payung 6. 948 456 124

Syamsudin Noor 11. 685 626 170

Guntung Manggis 21. 433 539 153

02. Liang Anggang Landasan Ulin Tengah 9. 943 417 85

Landasan Ulin Utara 14. 330 735 202

Landasan Ulin Barat 6. 812 422 111

Landasan Ulin Selatan 6. 131 233 66

03. Cempaka Palam 3. 311 224 60

Bangkal 4. 504 151 40

Sungai Tiung 8. 529 397 103

Cempaka 13. 899 172 44

04. Banjarbaru Utara Loktabat Utara 18. 864 1 325 378

Mentaos 10. 119 6 246 1 790

Komet 4. 313 1 768 675

Sungai Ulin 12. 635 2 058 583

05. Banjarbaru Selatan Loktabat Selatan 8. 985 1 047 285

Kemuning 9. 128 2 529 664

Guntung Paikat 8. 570 3 470 1 030

Sungai Besar 18. 931 2 593 873

KOTA BANJARBARU 214. 287 577 161

(21)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 21

Tabel 3.2b

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk dan Rumah Tangga Menurut Kelurahan Tahun 2013

Kecamatan Kelurahan Penduduk Jumlah Kepadatan / Km

2

Penduduk Rumah Tangga

(1) (2) (3) (4) (5)

01. Landasan Ulin Landasan Ulin Timur 15 .734 839 228

Guntung Payung 7.096 465 125

Syamsudin Noor 12.024 644 174

Guntung Manggis 21.892 551 155

02. Liang Anggang Landasan Ulin Tengah 10.225 429 85

Landasan Ulin Utara 14.737 756 209

Landasan Ulin Barat 7.005 434 113

Landasan Ulin Selatan 6 .305 239 67

03. Cempaka Palam 3 .398 230 61

Bangkal 4.622 155 40

Sungai Tiung 8.753 407 104

Cempaka 14.263 177 46

04. Banjarbaru Utara Loktabat Utara 19.391 1.362 393

Mentaos 10.402 6.421 1.849

Komet 4.433 1.817 769

Sungai Ulin 12.988 2.115 588

05. Banjarbaru Selatan Loktabat Selatan 9.237 1.077 288

Kemuning 9.386 2.600 678

Guntung Paikat 8.812 3.568 1.065

Sungai Besar 19.465 2.666 910

KOTA BANJARBARU 220.168 593 166

(22)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 22

Tabel 3.2c

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk dan Rumah Tangga Menurut Kelurahan Tahun 2014

Kecamatan Kelurahan Penduduk Jumlah Kepadatan/Km2

Penduduk Rumah Tangga

(1) (2) (3) (4) (5)

01. Landasan Ulin Landasan Ulin Timur 16.171 862 234

Guntung Payung 7.383 484 130

Syamsudin Noor 12.418 665 180

Guntung Manggis 22.777 573 161

02. Liang Anggang Landasan Ulin Tengah 10.605 444 88

Landasan Ulin Utara 15.282 784 217

Landasan Ulin Barat 7.265 450 117

Landasan Ulin Selatan 6.538 248 70

03. Cempaka Palam 3.511 238 63

Bangkal 4.776 160 41

Sungai Tiung 9.045 421 107

Cempaka 14.743 183 48

04. Banjarbaru Utara Loktabat Utara 19.986 1.404 405

Mentaos 10.721 6.618 1.906

Komet 4.569 1.873 792

Sungai Ulin 13.388 2.180 606

05. Banjarbaru Selatan Loktabat Selatan 9.518 1.109 297

Kemuning 9.671 2.679 699

Guntung Paikat 9.078 3.675 1.098

Sungai Besar 20.054 2.747 938

KOTA BANJARBARU 227.500 613 171

Sumber : BPS Kota Banjarbaru (Data Proyeksi Penduduk)

Kalau dilihat pada tiap wilayah Kelurahan, jumlah penduduk terbanyak berdasarkan hasil proyeksi pada tahun 2014 adalah Kelurahan Guntung Manggis yaitu 22.777 jiwa sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit ada di Kelurahan Palam yaitu hanya 3.511 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk per km2 dapat dilihat dengan

membandingkan jumlah penduduk di suatu wilayah dengan luas wilayahnya. Kepadatan penduduk tertinggi ada di Kelurahan Mentaos yaitu mencapai 6.618 jiwa per km2 dan

1.906 rumah tangga per km2, sedangkan kepadatan penduduk terendah adalah di

(23)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 23

3.2 Keluarga Berencana

Laju pertumbuhan penduduk sangat dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor yaitu kelahiran, kematian, pindah dan datang. Salah satu upaya mengendalikan pertumbuhan penduduk yang tinggi adalah dengan pengaturan jumlah kelahiran melalui program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan pemerintah secara nasional dan di Kota Banjarbaru menjadi tanggung jawab Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB.

Keberhasilan Keluarga Berencana tidak lepas dari sarana dan prasarana berupa klinik KB, jumlah tenaga medis maupun petugas KB itu sendiri seperti tenaga penyuluh lapangan KB baik di kecamatan maupun di kelurahan. Melalui tenaga medis dan petugas PKB/PLKB ini semua kegiatan KB dapat berjalan mulai dari pendataan, pelayanan KB, pembagian alat kontrasepsi sampai pencapaian target KB Baru dan KB Aktif dapat dilaksanakan.

Dalam kurun waktu antara tahun 2012 – 2014, jumlah sarana berupa Klinik KB tidak mengalami perubahan yaitu sebanyak 18 Klinik KB, sedangkan tenaga yang mendukung program KB jumlahnya sedikit bervariasi sebagaimana dapat terlihat dari tabel 3.3a – 3.3c dibawah ini.

Tabel 3.3a

Jumlah Klinik KB, Tenaga Medis dan Petugas KB Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2012

Kecamatan Klinik KB Tenaga Medis PKB Plus PKB/PLKB Tenaga

(1) (2) (3) (4) (5) 1. Landasan Ulin 5 15 1 7 2. Liang Anggang 2 17 1 4 3. Cempaka 2 4 1 6 4. Banjarbaru Utara 6 31 1 5 5. Banjarbaru Selatan 3 20 1 5 Jumlah 18 87 5 27

(24)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 24

Tabel 3.3b

Jumlah Klinik KB, Tenaga Medis dan Petugas KB Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2013

Kecamatan Klinik KB Tenaga Medis Pengawas PLKB PKB/PLKB Tenaga

(1) (2) (3) (4) (5) 1. Landasan Ulin 5 14 1 7 2. Liang Anggang 2 17 1 4 3. Cempaka 2 4 1 6 4. Banjarbaru Utara 6 23 1 6 5. Banjarbaru Selatan 3 13 1 5 Jumlah 18 71 5 25

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB

Tabel 3.3c

Jumlah Klinik KB, Tenaga Medis dan Petugas KB Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2014

Kecamatan Klinik KB Tenaga Medis Pengawas PLKB PKB/PLKB Tenaga

(1) (2) (3) (4) (5) 1. Landasan Ulin 5 7 1 7 2. Liang Anggang 2 4 1 3 3. Cempaka 2 3 1 6 4. Banjarbaru Utara 6 10 1 6 5. Banjarbaru Selatan 3 4 1 5 Jumlah 18 28 5 27

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB

Jumlah akseptor KB aktif menurut pemakaian alat kontrasepsi untuk setiap kecamatan dalam kurun waktu tahun 2012-2014 dapat dilihat sebagaiman yang disajikan pada tabel 3.4a – 3.4c di bawah ini. Dari tabel-tabel tersebut dapat diketahui bahwa jumlah akseptor KB aktif selalu mengalami peningkatan dari jumlah akseptor KB sebanyak 29.595 orang pada tahun 2012 meningkat menjadi sebanyak 30.596 orang pada tahun 2014.

(25)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 25

Tabel 3.4a

Jumlah Akseptor Keluarga Berencana Aktif Menurut Pemakaian Alat/Cara Kontrasepsi Tahun 2012

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan & KB

Tabel 3.4b

Jumlah Akseptor Keluarga Berencana Aktif

Menurut Pemakaian Alat/Cara Kontrasepsi Per Kecamatan Tahun 2013

Alat/Cara Kontrasepsi

Kecamatan

Jumlah Landasan

Ulin Anggang Liang Cempaka Banjarbaru Utara Banjarbaru Selatan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) IUD 316 87 64 368 339 1.174 MOP 15 9 19 14 22 79 MOW 219 69 40 175 242 745 Implant 399 342 390 246 345 1.722 Suntikan 3.567 2.270 2.180 2.425 2.132 12.574 PIL 3.220 2.363 1.992 2.456 2.353 12.384 Kondom 189 261 86 252 240 1.040 Jumlah 7.937 5.401 4.771 5.936 5.673 29.718

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB Kota Banjarbaru

Alat/Cara Kontrasepsi Kecamatan Jumlah Landasan Ulin Liang Anggang Cempaka Banjarbaru Utara Banjarbaru Selatan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) IUD 307 104 55 362 306 1.134 MOP 17 9 21 15 17 79 MOW 217 71 40 178 238 744 Implant 353 504 328 261 306 1.752 Suntikan 3.398 2.215 2.040 2.428 2.108 12.189 PIL 3.181 2.239 2.141 2.573 2.431 12.565 Kondom 189 421 52 238 232 1.132 Jumlah 7.662 5.563 4.677 6.055 5.638 29.595

(26)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 26

Tabel 3.4c

Jumlah Akseptor Keluarga Berencana Aktif

Menurut Pemakaian Alat/Cara Kontrasepsi Per Kecamatan Tahun 2014

Alat/Cara Kontrasepsi

Kecamatan

Jumlah Landasan

Ulin Anggang Liang Cempaka Banjarbaru Utara Banjarbaru Selatan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) IUD 330 94 54 364 354 1.196 MOP 12 9 10 15 24 70 MOW 225 70 41 153 243 732 Implant 450 396 327 273 340 1.786 Suntikan 3.784 2.433 2.364 2.547 2.183 13.311 PIL 3.324 2.471 1.772 2.471 2.387 12.425 Kondom 203 311 50 264 248 1.076 Jumlah 8.328 5.784 4.618 6.087 5.779 30.596

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB Kota Banjarbaru

Bila dilihat jumlah akseptor berdasarkan alat kontrasepsi yang digunakan, maka hampir disemua kecamatan yang terbanyak adalah menggunakan alat kontrasepsi suntikan, kecuali Kecamatan Landasan Ulin lebih banyak pil dari menggunakan suntikan. Kedua alat kontrasepsi ini paling banyak digunakan mungkin karena harganya yang murah dan praktis untuk digunakan.

(27)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 27

BAB IV

PROFIL PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan kita yang berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting.

Pendidikan juga merupakan salah satu aspek penting bagi pembangunan suatu bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pembangunan negara-negara maju adalah tersedianya penduduk yang terdidik dalam jumlah dan tingkat yang memadai.

Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan tidak hanya di lingkungan sekolah, tapi juga berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pemerintah berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana, sedangkan masyarakat berkewajiban untuk memanfaatkan dan memeliharanya.

4.1 Sarana dan Prasarana Pendidikan

Sarana dan prasarana pendidikan yang ada di Kota Banjarbaru dalam kurun waktu 2012-2014 baik sekolah negeri maupun swasta dapat dilihat dari Tabel 4.1a – 4.1c di bawah ini. Pada semua jenjang pendidikan, jumlah sarana dan prasarana pendidikan mengalami peningkatan sebagai berikut : jumlah TK meningkat dari 90 buah menjadi 132 buah, jumlah SD/MI meningkat dari 85 buah menjadi 87 buah, jumlah SMP/MTs meningkat dari 26 buah menjadi 33 buah, dan jumlah SMU/MA/SMK meningkat dari 31 buah menjadi 32 buah.

(28)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 28

Tabel 4.1a

Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta Menurut Tingkatan Dirinci Per Kecamatan Tahun 2012

Kecamatan TK SD/MIN SLTP/MTs SMU/MA SMK

N S N S N S N S N S (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 1. Landasan Ulin - 20 14 2 3 1 - - - 2 2. Liang Anggang 1 11 5 3 3 5 1 5 - - 3. Cempaka - 6 16 5 3 2 2 2 1 - 4. Banjarbaru Utara 1 27 17 4 3 3 1 3 1 4 5. Banjarbaru Selatan 2 22 16 3 2 1 1 2 2 4 Jumlah 4 86 68 17 14 12 5 12 4 10

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Catatan : N=Negeri S=Swasta

Tabel 4.1b

Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta Menurut Tingkatan Dirinci Per Kecamatan Tahun 2013

Kecamatan TK SD/MIN SLTP/MTs SMU/MA SMK

N S N S N S N S N S (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 1. Landasan Ulin - 17 14 1 3 1 - - - 1 2. Liang Anggang 12 6 1 3 7 1 5 1 - 3. Cempaka - 9 16 5 3 3 2 2 1 - 4. Banjarbaru Utara 1 23 18 5 3 2 1 3 1 6 5. Banjarbaru Selatan 1 25 9 3 2 4 1 2 2 5 Jumlah 2 86 63 15 14 17 5 12 5 12

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Catatan : N=Negeri S=Swasta

Tabel 4.1c

Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta Menurut Tingkatan Dirinci Per Kecamatan Tahun 2014

Kecamatan TK SD/MIN SLTP/MTs SMU/MA SMK

N S N S N S N S N S (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 1. Landasan Ulin 1 30 15 2 3 1 - - - 1 2. Liang Anggang 2 18 7 4 3 7 1 5 1 - 3. Cempaka 1 12 16 5 3 3 2 2 1 - 4. Banjarbaru Utara 1 35 17 5 3 4 1 3 1 3 5. Banjarbaru Selatan 1 31 12 4 2 4 1 2 2 6 Jumlah 6 126 67 20 14 19 5 12 5 10

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Catatan : N=Negeri S=Swasta

(29)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 29

Berdasarkan Peraturan Walikota Banjarbaru Nomor : 23 Tahun 2015, nomenklatur Sekolah Dasar Negeri disesuaikan antara nama sekolah dengan nama wilayah Kelurahan dimana sekolah tersebut berada. Berikut disampaikan daftar nama-nama sekolah dasar yang sudah disesuaikan sebagaimana tersaji pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2

Nama-nama Sekolah Dasar Negeri

Berdasarkan Perwali Kota Banjarbaru Nomor 23 Tahun 2015

No. Nama Sekolah Alamat Kelurahan Kecamatan

(1) (2) (3) (4) (5)

1. SDN 1 Bangkal Jl. Mistar Cokrokusumo, Bangkal Bangkal Cempaka

2. SDN 2 Bangkal Jl. Mistar Cokrokusumo, Bangkal Bangkal Cempaka

3. SDN 3 Bangkal Jl. Mistar Cokrokusumo, Bangkal Bangkal Cempaka

4. SDN 1 Cempaka Jl. Mistar Cokrokusumo, Cempaka Cempaka Cempaka

5. SDN 2 Cempaka Jl. Gunung Kupang, Cempaka Cempaka Cempaka

6. SDN 3 Cempaka Jl. Mistar Cokrokusumo, Cempaka Cempaka Cempaka

7. SDN 4 Cempaka Jl. Mistar Cokrokusumo, Cempaka Cempaka Cempaka

8. SDN 5 Cempaka Jl. Batu Ampar Cempaka Cempaka

9. SDN 6 Cempaka Jl. UPT Cempaka Cempaka Cempaka

10. SDN 1 Palam Jl. Purnawirawan, Palam Palam Cempaka

11. SDN 2 Palam Jl. Purnawirawan, Palam Palam Cempaka

12. SDN 3 Palam Jl. Purnawirawan, Palam Palam Cempaka

13. SDN 1 Sungai Tiung Jl. Mistar Cokrokusumo, Sei Tiung Sungai Tiung Cempaka

14. SDN 2 Sungai Tiung Jl. Mistar Cokrokusumo, Sei Tiung Sungai Tiung Cempaka

15. SDN 3 Sungai Tiung Jl. Transpol, Sungai Tiung Sungai Tiung Cempaka

16. SDN 1 Guntung Payung Jl. Bina Putra Gt. Payung Guntung Payung Landasan Ulin

17. SDN 2 Guntung Payung Jl. Sapta Marga, Gt. Payung Guntung Payung Landasan Ulin

18. SDN 3 Guntung Payung Jl. Guntung Damar, Landasan Ulin Guntung Payung Landasan Ulin

19. SDN 1 Guntung Manggis Jl. A. Yani Km. 31 Gt. Payung Guntung Manggis Landasan Ulin

20. SDN 2 Guntung Manggis Jl. Purnawirawan, Gt. Manggis Guntung Manggis Landasan Ulin

21. SDN 3 Guntung Manggis Jl. Sungai Salak Guntung Manggis Landasan Ulin

22. SDN 4 Guntung Manggis Jl. A. Yani Km. 31 Gt. Payung Guntung Manggis Landasan Ulin

23. SDN 5 Guntung Manggis Guntung Manggis Guntung Manggis Landasan Ulin

24. SLB Negeri Guntung Manggis Guntung Manggis Landasan Ulin

25. SDN 1 Sungai Ulin Jl. A. Yani Km. 35 Banjarbaru Sungai Ulin Banjarbaru Selatan

26. SDN 2 Sungai Ulin Jl. P.M. Noor Banjarbaru Sungai Ulin Banjarbaru Selatan

27. SDN 3 Sungai Ulin Jl. P. M. Noor Banjarbaru Sungai Ulin Banjarbaru Selatan

(30)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 30

29. SDN 5 Sungai Ulin Jl. P. M. Noor Banjarbaru Sungai Ulin Banjarbaru Selatan

30. SDN 1 Sungai Besar Jl. Beringin Banjarbaru Sungai Besar Banjarbaru Selatan

31. SDN 2 Sungai Besar Jl. Intan Sari Banjarbaru Sungai Besar Banjarbaru Selatan

32. SDN 3 Sungai Besar Jl. Sagitarius Banjarbaru Sungai Besar Banjarbaru Selatan

33. SDN 4 Sungai Besar Komplek Kelapa Gading Sei Besar Sungai Besar Banjarbaru Selatan

34. SDN 5 Sungai Besar Komplek Banua Permai Sei Besar Sungai Besar Banjarbaru Selatan

35. SDN 1 Kemuning Jl. Guntung Paikat Kel. Bjb Kemuning Banjarbaru Selatan

36. SDN 2 Kemuning Jl. Kartika, Gt. Lua Banjarbaru Kemuning Banjarbaru Selatan

37. SDN 3 Kemuning Jl. Kartika, Gt. Lua Banjarbaru Kemuning Banjarbaru Selatan

38. SDN 1 Loktabat Selatan Jl. Sidodadi Banjarbaru Loktabat Selatan Banjarbaru Selatan

39. SDN 2 Lokatabat Selatan Jl. R.O. Ulin Kel Loktabat Selatan Loktabat Selatan Banjarbaru Selatan

40. SDN 1 Guntung Paikat Jl. Karamunting No. 6 Banjarbaru Guntung Paikat Banjarbaru Selatan

41. SDN 2 Guntung Paikat Jl. Rambai Timur Kel. Bjb Guntung Paikat Banjarbaru Selatan

42. SDN 1 Komet Jl. Panglima Batur Kel. Banjarbaru Komet Banjarbaru Utara

43. SDN 2 Komet Jl. Mawar No. 2 Banjarbaru Komet Banjarbaru Utara

44. SDN 3 Komet Jl. Panglima Batur Kel. Banjarbaru Komet Banjarbaru Utara

45. SDN 4 komet Jl. Melati Kel. Banjarbaru Komet Banjarbaru Utara

46. SDN 5 Komet Jl. Cengkeh Kel. Banjarbaru Komet Banjarbaru Utara

47. SDN 1 Mentaos Jl. R.P. Soeprapto Kel. Banjarbaru Mentaos Banjarbaru Utara

48. SDN 2 Mentaos Jl. Pinus II Kel. Banjarbaru Mentaos Banjarbaru Utara

49. SDN 1 Loktabat Utara Jl. A. Yani Km. 32,5 Banjarbaru Loktabat Utara Banjarbaru Utara

50. SDN 2 Loktabat Utara Jl. Megaria Banjarbaru Loktabat Utara Banjarbaru Utara

51. SDN 3 Loktabat Utara Jl. Guntung Jingah Banjarbaru Loktabat Utara Banjarbaru Utara

52. SDN 4 Loktabat Utara Jl. Nilam II Komplek Amaco Bjb Loktabat Utara Banjarbaru Utara

53. SDN 5 Loktabat Utara Loktabat Utara Loktabat Utara Banjarbaru Utara

54. SDN 1 Land. Ulin Timur Jl. Peramuan Landasan Ulin Landasan Ulin Timur Landasan Ulin 55. SDN 2 Land. Ulin Timur Jl. Garuda Landasan Ulin Landasan Ulin Timur Landasan Ulin 56. SDN 3 Land. Ulin Timur Komp. Berlina Jaya, L. Ulin Timur Landasan Ulin Timur Landasan Ulin

57. SDN 1 Syamsudin Noor Jl. A. Yani Km. 24,5 Landasan Ulin Syamsudin Noor Landasan Ulin

58. SDN 2 Syamsudi Noor Jl. Angkasa Landasan Ulin Syamsudin Noor Landasan Ulin

59. SDN 3 Syamsudi Noor Jl. Golf Syamsudin Noor Landasan Ulin

60. SDN 4 Syamsuddin Noor Jl. Kasturi, Landasan Ulin Syamsudin Noor Landasan Ulin

61. SDN 5 Syamsuddin Noor Jl. Golf Syamsudin Noor Landasan Ulin

62. SDN 1 Land. Ulin Barat Jl. A. Yani Km. 21 landasan Ulin Landasan Ulin Barat Liang Anggang 63. SDN 2 Land. Ulin Barat Jl. A. Yani Km. 20 Landasan Ulin Landasan Ulin Barat Liang Anggang 64. SDN 1 Land. Ulin Utara Jl. Sukamara Landasan Ulin Landasan Ulin Utara Liang Anggang 65. SDN 2 Land. Ulin Utara Landasan Ulin Utara Landasan Ulin Utara Liang Anggang 66. SDN 1 Land. Ulin Tengah Jl. A. Yani Km. 22,5 Landasan Ulin Landasan Ulin Tengah Liang Anggang 67. SDN 2 Land. Ulin Selatan Jl. Pembataan Landasan Ulin Landasan Ulin Selatan Liang Anggang

(31)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 31

Selain sarana dan prasarana sekolah yang mendukung kegiatan pendidikan, maka untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar agar berjalan dengan baik maka diperlukan guru dan murid. Seiring dengan meningkatnya jumlah sarana dan prasarana pendidikan, jumlah guru yang tercatat di Kota Banjarbaru juga mengalami peningkatan dalam kurun tahun 2012-2014 sebagaimana yang terlihat dari table 4.3a – 4.3c di bawah ini. Dari semua jenjang pendidikan, jumlah guru meningkat cukup pesat dari 3.801 orang menjadi 5.267 orang. Sedangkan jumlah murid meningkat dari 49.896 orang menjadi 56.859 orang.

Tabel 4.3a

Jumlah Guru dan Murid Negeri dan Swasta Dirinci Per Tingkat Pendidikan Tahun 2012

Tingkat Pendidikan Sekolah Guru Sekolah Murid Sekolah

N S N S N S (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1. TK 4 86 50 518 284 5.747 2. SD/MIN 68 17 1.157 295 20.839 3.981 3. SLTP/MTS 14 12 532 243 6.829 3.146 4. SMU/MA 5 12 221 285 2.688 2.071 5. SMK 4 10 242 258 2.230 2.081 Jumlah 95 137 2.202 1.599 32.870 17.026

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru

Catatan : N=Negeri S=Swasta

Tabel 4.3b

Jumlah Guru dan Murid Negeri dan Swasta Dirinci per Tingkat Pendidikan Tahun 2013

Tingkat Pendidikan Sekolah Guru Sekolah Murid Sekolah

N S N S N S (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1. TK 2 86 41 621 247 4.693 2. SD/MIN 63 15 1.146 349 21.665 4.557 3. SLTP/MTS 14 17 486 302 7.257 3.990 4. SMU/MA 5 12 218 257 2.609 2.090 5. SMK 5 12 227 236 1.927 1.902 Jumlah 89 142 2.118 1.765 33.705 17.232

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru

(32)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 32

Tabel 4.3c

Jumlah Guru dan Murid Negeri dan Swasta Dirinci per Tingkat Pendidikan Tahun 2014

Tingkat Pendidikan Sekolah Guru Sekolah Murid Sekolah

N S N S N S (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1. TK 6 126 56 1.133 326 7.319 2. SD/MIN 67 22 1.481 363 23.344 5.124 3. SLTP/MTS 14 19 636 379 7.756 4.078 4. SMU/MA 5 12 304 252 2.948 1.855 5. SMK 5 10 363 300 2.682 1.427 Jumlah 97 189 2.840 2.427 37.056 19.803

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru

Catatan : N=Negeri S=Swasta

Selain jenjang pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah di Kota Banjarbaru juga banyak terdapat Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta sebagaimana yang tersaji dalam table 4.4 di bawah ini. Jumlah perguruan tinggi negeri di Kota Banjarbaru pada tahun 2014 sebanyak 2 buah yang terdiri dari 7 fakultas dan 6 jurusan, sedangkan jumlah perguruan tinggi swasta sebanyak 9 perguruan tinggi.

Tabel 4.4

Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Yang Terdapat Di Kota Banjarbaru Tahun 2014

No Status Universitas/Fakultas

(1) (2) (3)

1 Negeri 1 Universitas Lambung Mangkurat

- Fakultas Kedokteran - Fakultas Perikanan - Fakultas Pertanian - Fakultas Kehutanan - Fakultas Teknik

- FKIP ( Jurusan Olah Raga & DII PGSD) - Fakultas MIPA

2 Politeknik Kesehatan Banjarmasin

- Jurusan Keperawatan Banjarbaru - Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru - Jurusan Analisis Kesehatan Banjarbaru

- Jurusan Kesehatan Gigi Banjarbaru

- Jurusan Kebidanan

(33)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 33 2 Swasta 1 Universitas Ahmad Yani (UVAYA) Banjarmasin

2 Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Banjarmasin

3 Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Banjarmasin 4 Akademi Teknik Pembangunan Nasional (ATPN) Banjarbaru 5 Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) 6 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Falah Banjarbaru 7 Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Cahaya Bangsa Bjm 8 Akademi Kebidanan (Akbid) Banjarbaru

9 Akbid Banua Bina Husada Banjarbaru

Sumber : BPS Kota Banjarbaru

Sarana penunjang lain dalam proses pendidikan yaitu tersedianya perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah daerah. Perpustakaan ini merupakan wahana bagi masyarakat umum maupun pelajar dan mahasiswa untuk memperoleh bahan bacaan yang bermutu. Selain itu, sebagai tempat menimba ilmu dan tambahan pengetahuan dan pelajaran diluar pendidikan formal. Pada tabel 4.5 berikut disajikan data mengenai jumlah pengunjung dan anggota perpustakaan daerah di Kota Banjarbaru setiap tahun dari tahun 2012-2014.

Tabel 4.5

Jumlah Pengunjung dan Anggota Perpustakaan Daerah Setiap Tahun, Tahun 2012 - 2014

Tahun Pengunjung Anggota Jumlah

(1) (2) (3) (4)

2012 26.140 1.471 27.611

2013 22.618 1.282 23.900

2014 22.258 1.631 23.889

Sumber : Kantor Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru

Berdasarkan tabel diatas, jumlah pengunjung dan anggota perpusatkaan dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu dari 27.611 orang menjadi 23.889 orang. Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan penurunan ini, antara lain tersedianya armada perpustakaan keliling dan mudahnya mengakses perpustakaan digital pada media internet.

(34)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 34

4.2 Angka Partisipasi Sekolah

Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai maka diharapkan tingkat partisipasi pendidikan masyarakat selalu meningkat. Salah satu indikator yang dapat mengukur tentang partisipasi sekolah adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).

APS adalah menggambarkan proporsi penduduk kelompok umur sekolah yang masih bersekolah, sementara APK merupakan perbandingan antara penduduk yang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu tanpa memperhatikan usianya dengan jumlah penduduk pada usia jenjang pendidikan masing-masing. Sedangkan APM menunjukkan proporsi anak sekolah pada satu kelompok umur tertentu yang bersekolah pada tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya. Perkembangan capaian APS, APK, dan APM untuk seluruh jenjang usia pendidikan dalam kurun Tahun 2012-2014 dapat dilihat pada tabel 4.6.

Perkembangan APS di Kota Banjarbaru dalam kurun tahun 2012 – 2014 khusus untuk pendidikan sekolah dasar cukup menjadikan perhatian yang serius dari semua pihak, dimana sebelumnya pada tahun 2012 dan 2013, anak usia 7-12 tahun telah bersekolah semua dengan capaian APS 100%, namun pada 2014 terjadi penurunan dimana ada anak yang tidak bersekolah dengan capaian APS 99,09%. Hal yang sama terjadi pada anak usia 13-15 tahun, dimana capaian APS turun dari 98,10% pada tahun 2012 menjadi 97,62% pada tahun 2014. Namun demikian, ada sisi yang cukup menggembirakan bahwa untuk anak usia 16-18 tahun capaian APS mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari 70,32% pada tahun 2012 menjadi 85,33% pada tahun 2014. Hal ini menunjukan kesadaran yang cukup baik dari para orang tua untuk memberikan bekal pendidikan setinggi mungkin kepada anak-anak mereka.

Kalau mencermati angka APK Kota Banjarbaru dalam kurun tahun 2012-2014 untuk anak usia SD (7-12 tahun) terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, dimana capaian APK sebesar 102,06 pada tahun 2012 meningkat menjadi 112,81 pada tahun 2014. Angka ini diperoleh dengan mempersentasekan jumlah murid SD terhadap jumlah penduduk berumur 7-12 tahun. APK SD masih berada di atas 100 ini mengindikasikan bahwa ada anak yang berusia diluar dari usia pendidikan SD (7-12 tahun), yang masih mengenyam

(35)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 35

pendidikan SD, yaitu anak yang berusia kurang dari 7 tahun atau lebih dari 12 tahun masih bersekolah dijenjang SD. Jika dibandingkan dengan APS terlihat bahwa APK di Kota Banjarbaru pada jenjang pendidikan SD ternyata lebih tinggi dibanding APS, hal ini mengindikasikan bahwa ada penduduk luar daerah kota Banjarbaru yang bersekolah di Banjarbaru.

Untuk anak usia 13-15 tahun, capaian APK mengalami penurunan dari 94,55% pada tahun 2012 turun menjadi 87,81%, demikian juga untuk capaian APK anak usia 16-18 tahun yang mengalami penurunan dari 90,23% pada tahun 2012 turun menjadi 77,83 pada tahun 2014. Hal ini salah satunya menunjukkan bahwa ada anak usia SMP dan SMU yang melanjutkan pendidikannya diluar Kota Banjarbaru.

Tabel 4.6

Angka Partisipasi Sekolah (APS),Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Murni (APM) Kota Banjarbaru

Tahun 2012-2014

Tingkat Pendidikan

TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2013 APS APK APM APS APK APM APS APK APM

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

SD (7-12) 100,00 102,06 92,21 100,00 111,85 99,38 99,09 112,81 99,09

SMP (13-15) 98,10 94,55 70,67 96,81 84,79 75,62 97,62 87,81 76,93

SMU (16-18) 70,32 90,23 59,04 77,46 77,77 62,31 85,33 77,83 65,32 Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru

APM merupakan salah satu tolok ukur yang digunakan MDGs dalam mengukur pencapaian dibidang pendidikan. APM adalah mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu, yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD untuk penduduk usia 7-12 tahun, SMP untuk penduduk usia 13-15 tahun, dan SMA untuk penduduk usia 16-18 tahun. Dilihat pada Tabel 4.5 diatas capaian angka APM Kota Banjarbaru tahun 2013 untuk tingkat SD mengalami peningkatan dari 92,21 pada tahun 2012 menjadi 99,09 pada tahun 2014. Demikian juga untuk tingkat SMP dan SMU, dimana capaian angka APM pada tahun 2012 sebesar 70,67 dan 59,04 meningkat menjadi 76,93 dan 65,32 pada tahun 2014.

(36)

Profil dan Pemetaan Sosial Budaya KOTA BANJARBARU 2015 36

BAB V

PROFIL KESEHATAN

Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya dari seluruh komponen bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah.

5.1 Fasilitas dan Tenaga Kesehatan

Pembangunan kesehatan mutlak menjadi perhatian pemerintah utamanya berupa pemenuhan sarana dan prasarana serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Selain itu, tidak kalah pentingnya pembangunan SDM kesehatan dalam rangka optimalisasi pelayanan kepada masyarakat di bidang kesehatan. SDM kesehatan adalah komponen kunci untuk menggerakkan pembangunan kesehatan. SDM Kesehatan berperan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan. Dalam rentang waktu tahun 2012 – 2014 jumlah fasilitas kesehatan pada tiap Kecamatan dapat dilihat sebagaimana disajikan dalam tabel 5.1 berikut ini.

Tabel 5.1

Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Kecamatan Di Kota Banjarbaru Tahun 2012-2014

Kecamatan Rumah Sakit Puskesmas T.T Puskesmas Non T.T Puskesmas Pembantu Polindes Puskesdes Posyandu

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1. Landasan Ulin 2 - 1 4 - 3 38 2. Liang Anggang 0 - 2 2 1 4 28 3. Cempaka 0 1 - 4 3 4 28 4. Banjarbaru Utara 4 - 2 2 1 2 33 5. Banjarbaru Selatan 0 - 2 2 - 2 28 Jumlah 6 1 7 14 5 15 155

Referensi

Dokumen terkait

Konsentrasi K+ dlm larutan tanah merupakan indeks ketersediaan kalium, karena difusi K+ ke arah permukaan akar berlangsung dalam larutan tanah dan kecepatan difusi tgt pada

bahwa dengan telah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler

Pseudomonas cepacia S2 mampu menggunakan ABS sebagai sumber karbon utama dan dapat tumbuh pada kondisi asam, sehingga biakan tersebut berpotensi untuk dapat

Strategi brand placement atau product placement adalah strategi kegiatan penempatan nama merek, produk, kemasan produk, lambang atau logo tertentu dalam sebuah

asiaticum dengan menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) dan analisis defisiensi unsur hara dengan teknik AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer) yang bertujuan

Setelah dilakukan serangkaian anailisis statistika pada data pesepsi ten- tang tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan konsumen terhadap produk obat sakit kepala ayng beredar

Melalui observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran IPA kelas VIII di SMP Negeri 8 Ciamis, diperoleh keterangan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran IPA masih