Ga Naar Indië: M igrasi O rang Eropa Di H india Belanda 1931 — 1937 Anshari A l Hazm i ansharialhazm i@ yahoo.com Um i Listyaningsih listyaningsih_um i@ yahoo.com Abstract
The development of export-based economy in the D utch East Indies increased the rate of European migration to the colony. This rese arch aims to describe the migration and its relationship with Dutch East Indian economy during the period of Great Depre ssion and also whether there was another fac tor related to it. Numerical data about m igration and international trade were qualitatively analyzed while literature analysis was conducted on possible political or environmental factors. European migration to the Indies declined and r ose during the 1930s with Java as its m ain destination and some relationships were found between it and economic conditions. N o link was found from political or physical env ironment. This migration phenomenon was differe nt than those of the econom ic crises in late 1990s A sia and in the early 21st century.
Keywords: European m igration, exports, im ports, Great Depression, Dutch E ast Indies
Abstrak
Perkem bangan ekonom i ekspor di Hindia Belanda m eningka tkan m igrasi orang Eropa ke Hindia Belanda. Krisis ekonom i dunia Depresi Besar terjadi pada dekade 1930 -a n. Penelitia n ini bertujuan untuk m endeskripsikan pola m igrasi orang Eropa ke Hindia Belanda tahun 1931— 1937, m engide ntifikasi dan m enganalisis hubungan keadaan ekonom i Hindia Belanda terhadap m igrasi orang Eropa, serta m engidentifika si dan m enganalisis keberadaan faktor m igrasi selain ekonom i. Data m igrasi dan ekspor -im por Hindia Belanda dianalisis secara kualitatif seda ngkan keadaan politik dan lingkungan fisik diteliti m elalui kajia n literatur. M igrasi orang Eropa ke Hindia Belanda m engalam i penurunan da n kenaikan pada dekade 1930-an dengan tujuan utam a wilayah Jawa . Kondisi ekonom i H india Belanda berhubungan dengan m igrasi orang Eropa. Tidak ditem ukan kondisi politik atau lingkunga n fisik yang berpengaruh selam a periode penelitian. Kondisi m igrasi ini berbeda dengan yang terjadi pada m asa krisis ekonom i akhir abad ke -20 dan awal abad ke-21.
PENDAH ULUAN
Hindia Belanda (Nederlandsch-Indië,
selanjutnya disebut Hindia) m erupaka n koloni Belanda yang paling penting dalam sejarah kolonialnya. Perusahaan-perusa haan
Eropa berkem bang di Hindia untuk
m enangani produksi dan perdaganga n
berbagai m acam kom oditas perkebunan da n pertam bangan. M igrasi m asuknya orang Eropa ke H india kem udian berkem bang pada
abad ke-19 dan 20 seiring denga n
perkem bangan ekonom i dan pem erintahan Belanda di Hindia. (Kem perm an, 2002; va n Im hoff dan Beets, 2004; Bosm a, 2007) Sensus penduduk tahun 1930 m enunjukka n bahwa terdapat sekitar 240.000 orang Eropa di Hindia, baik yang lahir di Eropa m aupun di Hindia. (DLNH, 1933) Hindia m engalam i
pertum buhan ekspor terbesarnya pada
dekade 1920-an. (Booth, 1998) Nilai im por dan ekspor tertinggi terja di pada tahun 1920. Nilai keuntungan investasi di Hindia selam a periode 1919— 1938 lebih m enguntungka n dibandingkan denga n investasi dom estik di Eropa. (Buelens dan Frankem a, 2016) Akan tetapi, kondisi ekonom i Hindia tidak bernila i sam a untuk seluruh daerah di Hindia. (Clem ens, et al., 1992)
Sebuah krisis ekonom i dapa t
m em pengaruhi tingkat m igrasi, seperti
dijela skan dalam Lund dan Panda (2000) da n W right dan Black (2011). Keberadaan peristiwa ekonom i dunia yaitu Depresi Besa r pada era 1930-a n m em bawa pengaruh terhadap m igrasi (M acias, 1992; Boyd, 2002)
begitupun terhada p kondisi ekonom i,
dinam ika politik, serta keadaan sosia l dan kebija kan pendidikan. (Post, 1996; Booth, 2002; Suw ignyo, 2013) Bosm a (2007) m enjelaskan ba hwa perkem bangan ekonom i Hindia berpengaruh terhadap m igrasi orang Belanda ke Hindia.
Literatur m engenai kependudukan di Hindia yang tela h diterbitkan di antaranya adalah ole h Nitisastro (1970), M cDonald dalam Fox (1980), Boom gaard (1989), dan Gooszen (1999). Beberapa studi tentang populasi orang Eropa di H india sendiri tela h
dilakukan seperti oleh Beets, et al. (2002), van Im hoff dan Beets (2004), dan B osm a (2007; 2009). Penelitian yang selam a ini telah dilakukan beberapa telah m enganalisis kom posisi penduduk, keadaan ekonom i, hingga kebijaka n pem erintah Belanda dan Hindia yang dapa t m enjelaska n fenom ena dem ografi seperti perkem bangan jum la h penduduk dan jum lah m igrasi dari tahun ke
tahun nam un belum m enggam barkan
fenom ena m igrasi ke Hindia terkait denga n persebarannya dan kaitan keruangannya.
Fenom ena m igrasi itu sendiri dapa t
dipengaruhi ole h variasi kondisi faktor pendorong dan faktor penarik yang berbeda antaruang seperti yang dijelaskan oleh Lee (1966) dan Todaro dalam T odaro dan Sm ith (2012).
Bosm a (2007) m engide ntifikasi
m eningka tnya jum lah penda tang baru di Hindia dari Belanda yang bukan bagian dari
migration circuit pada tahapan kedua. Peningka tan terse but m erupakan bagian dari
m igrasi tahapan ketiga (1919— 1940)
m enurut Bosm a terkait denga n
perkem bangan ekonom i abad ke-20. M ereka bekerja di industri perkebuna n dan m inyak bum i atau profesi ja sa di antaranya seperti
guru dan dokter. Perhitungan Bosm a
m enunjukkan jum lah m igran baru dari Belanda m em uncak pada tahun 1920 yaitu sekitar 8.000 jiwa. A ngka tersebut m enurun m enjadi kurang dari 4.000 jiwa seiring krisis tahun 1922 nam un kem ba li na ik hingga m encapai angka 6.000 jiwa pada tahun 1929. Jum lah m igran baru kem ba li m enurun setelahnya hingga tahun 1932 dengan jum la h di bawah 2.000 jiwa seiring terja dinya Depresi Besar nam un kem bali naik pada tahun-tahun selanjutnya dalam deka de 1930-an. Bosm a (2007) m enyebutka n bahwa kondisi ekonom i yang buruk di Belanda saat itu m em buat banyak orang Eropa berm igrasi
ke Hindia. M ekipun begitu, jum la h
pendatang baru pada dekade 1930-an
m em iliki proporsi terhadap seluruh m igra n yang lebih renda h jika diba ndingka n denga n awal dekade 1920-an.
Penelitia n ini bertujuan untuk (1) m endeskripsikan pola perse baran m igrasi orang Eropa ke Hindia selam a tahun 1931— 1937; (2) m engidentifikasi da n m enganalisis hubungan dari keadaan ekonom i daerah-daerah di Hindia terha dap tingka t m igrasi orang Eropa ke daerah tersebut; dan (3) m encari dan m enganalisis keberadaan faktor
lain di luar kondisi ekonom i yang
berpengaruh terhadap tingka t m igrasi.
Penelitia n ini da pat m em berikan gam baran bagaim ana m igrasi kolonia l terjadi pada saat
krisis ekonom i terjadi dan sebaga i
perbandingannya dengan kondisi saat krisis yang lebih terkini. Periode yang diteliti juga berada sebelum Lee m encetuskan teorinya pada artikelnya ta hun 1966. Keberadaan fenom ena m igrasi, yang jika sesuai denga n teori tersebut, dapat m enunjukkan kesesuaia n penerapan teori Lee terhadap penelitia n m igrasi pada m asa lam pau.
M ETO DE PENELITIAN
Analisis kualitatif dilakukan terha dap data kuantita tif yang dilakukan berdasarka n pendekatan keruangan berupa perbandinga n kondisi m igrasi serta ka itan a ntara m igrasi dan ekonom i ekspor dan im por dari m asing-m asing unit analisis. Rentang waktu yang diteliti yaitu tahun 1931— 1937. Karena
keterbatasan da ta, data m igrasi yang
digunakan adalah data jum lah orang yang tiba di Hindia selam a periode 1931— 1937
berdasarkan resor dari Statistisc h
Jaaroverzicht van Nederlandsch-Indië
(Gam baran Um um Statistik Tahunan H india
Belanda, SJ) terbitan Central Kantoor voor
de Statistiek (Badan Pusat Statistik, CKS) Faktor-faktor ekonom i dia nalisis m elalui data nilai ekspor da n im por harga konsta n
untuk tahun 1931, diperoleh dari Changing
Economy of Indone sia (CEI) Volum e 12b (Clem ens, et al., 1992). CEI menyebutka n bahwa karena ting kat kerincian data pada sum ber, pencakupa n data harus dipersem pit.
Untuk Jawa, data nilai ekspor yang
disertaka n m encakup sekitar 81% sem entara untuk luar Jawa m encakup sekitar 89%. Sem ntara itu, pada nilai im por, untuk Jawa m encakup sekitar 58% sem entara untuk luar Jawa m encakup sekitar 62%. Perhitunga n harga konstan dilakukan berdasarkan da ta Indeks Harga Konsum en dari Internationa l Institute of Social History (IISH) yang pernah digunaka n dalam Gordon (2012). Sum ber m engenai faktor m igrasi seperti kondisi fisik atau kondisi politik selain dari kondisi ekonom i diperoleh m elalui kajia n literatur. Daerah penelitian ada lah H india Belanda dengan unit analisis sebagai berikut berdasarkan keberadaan resor da n geografi (Gam bar 1).
I. Sum atra bagian utara (Aceh, Tapanuli,
Sum atra Tim ur, Riau, Sum atra Barat)
II. Sum atra bagian selatan (Jam bi,
Palem bang, Bengkulu, Lam pung, Bangka dan Belitung)
III. Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Tim ur, Surakarta, Yogyakarta)
IV. Kalim antan (Kalim antan Barat,
Kalim antan Selata n dan Tim ur)
V. Tim ur Besar (M anado, Sulawesi,
M aluku, Tim or)
H ASIL DAN PEM BAH ASAN
Gam bar 2 Jum lah M igrasi Orang Eropa ke Hindia 1931— 1937
M igrasi orang Eropa se lam a periode analisis didom inasi oleh m igrasi ke Jawa (Gam bar 2) dengan jum lah m igrasi rata-rata m encakup 77,6% dari seluruh m igrasi orang Eropa ke Hindia. Tujua n m igrasi terbesar berikutnya adalah Sum atra bagian utara lalu diikuti oleh Sum atra bagian selatan. Tim ur Besar dan Kalim antan m erupakan dua unit analisis de ngan jum lah m igrasi paling sedikit
dengan m igrasi ke Kalim antan untuk
kebanyakan tahun le bih sedikit daripada m igrasi ke Tim ur Besar kecuali untuk tahun 1933 saat jum lah m igrasi ke Kalim antan m eningka t hingga m elam paui jum lah m igrasi ke Tim ur Besar yang m enurun.
Dom inasi m igrasi ke Jawa selam a periode pe nelitian dapat dika itkan denga n jum lah orang Eropa di Jawa itu sendiri. Sensus pe nduduk 1930 m enunjukkan bahwa terdapat 192.571 jiwa orang Eropa yang tinggal di Jawa yang m erupakan 80,1% dari keseluruhan jum lah orang Eropa di Hindia. (DLNH, 1993) Lingkar m igrasi Eropa dan Hindia seperti yang diidentifikasi ole h Bosm a (2007) yang m asih berlangsung pada periode pe nelitian dapat m enjadi penyeba b
m engapa tujuan m igra si didom inasi ole h Jawa— m igrasi terjadi lebih banyak untuk wilayah yang m em iliki populasi orang Eropa yang banyak. Hal serupa dapat pula terjadi di Sum atra bagian selatan. Rata -rata persentase jum lah m igrarsi Sum atra bagian selata n
(3,3%) ham pir bernilai sam a dengan
persentase orang Eropa yang tingga l di unit analisis tersebut pada sensus 1930 (3,2%). Lingkar m igrasi terjadi pula bagi pegawa i pem erintah beserta ke luarganya yang keluar dan m asuk ke Hindia setiap tahunnya seperti yang tertera di da ta SJ (Tabe l 1). Daerah di Jawa m erupakan tujuan utam a bagi orang Eropa yang bekerja bagi pem erinta h Hindia
dengan 80,0% orang Eropa pegawa i
pem erintah pada sensus 1930 bekerja di Jawa. (SJ 1937) Akan tetapi, m eskipun jum la h m igrasi dan jum la h orang Eropa di H india sam a-sam a didom inasi oleh Jawa, persentase m igrasinya m asih lebih rendah diba ndingka n dengan persenta se jum lah orang Eropa di Jawa pada sensus 1930.
Tabel 1 Jum lah Pegawai Pem erinta h Beserta Keluarganya yang Tiba di Hin dia 1931—
1937 (Jiwa) Tahun Orang dewasa Anak-anak Total 1931 5 758 1 747 7 505 1932 4 081 1 388 5 469 1933 3 887 1 447 5 334 1934 4 142 1 508 5 650 1935 5 696 2 010 7 706 1936 5 946 2 270 8 216 1937 5 726 2 062 7 788
(Sumbe r: diolah dari SJ 1932— 1938 )
Perbedaan antara persentase m igrasi dan jum lah orang Eropa juga ditem ukan di Sum atra bagian utara, Kalim antan, dan
Tim ur Besar. Dibandingkan denga n
persentase m igrasinya m asing-m asing,
Kalim antan dan Tim ur Besar m em iliki persentase orang Eropa pada sensus 1930 yang lebih banyak daripada persenta se m igrasinya. Sem entara itu, Sum atra bagian utara m em iliki persentase penduduk orang Eropa yang lebih sedikit ya itu kurang dari
separuh dari persentase m igrasinya.
Perbedaan ini dapat m enunjukka n adanya 0 2 50 0 5 00 0 7 50 0 1 0 0 0 0 1 2 5 0 0 1 5 0 0 0 1 7 5 0 0 2 0 0 0 0 2 2 5 0 0 1 9 31 1 9 32 1 9 33 1 9 34 1 9 35 1 9 36 1 9 37 Ji w a T ahun S um at ra b ag i an u ta ra S um at ra b ag i an se la t an Ja w a K a li m a n ta n T im u r B e sa r
faktor lain yang m em pengaruhi m igrasi orang Eropa ke Hindia selam a periode
analisis sela in dari migration circuit
Eropa-Hindia. Bosm a (2007) m enyebutka n
m engenai fase ketiga dari m igrasi orang Eropa ke Hindia yang dipengaruhi ole h perkem bangan ekonom i ekspor Hindia da n terjadi selam a tahun 1919— 1940.
(Sumbe r: diolah dari Clemens, et al., 1992 dan IISH, 2015)
Gam bar 3. Nilai (a) Ekspor (atas) dan (b) Im por (bawah) Hindia 1931— 1937
Ekonom i ekspor dan im por Hindia selam a periode ana lisis dipengaruhi ole h keadaan krisis dan pem ulihan dari peristiwa Depresi Besar. Total nilai ekspor suda h m engalam i penurunan sejak tahun 1928 dengan sedikit kenaikan pada tahun 1927 (2,9%). Penurunan terjadi sem akin besar pada beberapa tahun selanjutnya de nga n yang terbe sar terjadi pada tahun 1931. Penurunan tetap terjadi hingga tahun 1935 m eskipun terdapat pula sedikit peningkata n pada tahun 1934 (6,8%). Pada periode 1935— 1937, nilai ekspor m eningka t denga n tajam yaitu 19,2% pada tahun 1936 da n 78,2% pada tahun 1937. M ayoritas ekspor
berasal dari Jawa selam a 5 tahun awa l periode analisis sebelum kem udian ekspor dari Sum atra bagian utara m e lam paui niliai ekspor Jawa pada dua tahun terakhir analisis. Persebaran nilai im por di Hindia berbeda dengan nilai ekspor. Im por m enuju Sum atra bagian sela tan m em iliki jum la h terbanya k selam a periode ana lisis, le bih banya k daripada im por m enuju Jawa. Penurunan nilai im por m ulai terja di se jak tahun 1930 dan secara keseluruhan baru m eningka t kem bali pada tahun 1935. Kondisi yang berbeda juga ditem ukan antara nilai im por Kalim antan da n Tim ur Besar. Nilai ekspor Kalim antan lebih besar daripada Tim ur Besar sem entara untuk im por, nilai untuk T im ur Besar lebih besar daripada Kalim antan kecuali pada tahun terakhir yaitu 1937. Secara keseluruhan, im por Hindia bernila i lebih rendah dibandingkan dengan ekspornya. Nilai tertinggi untuk im por yaitu dari tahun 1937 (263 juta gulden) lebih renda h dibandingkan nilai terendah ekspor yaitu dari tahun 1935 (461 juta gulden).
Pengam atan kualitatif terha dap
perubahan jum la h m igrasi dan nilai ekspor dan im por (Gam bar 3) m enunjukkan bahwa hubungan ke terkaita n m igrasi dengan nila i ekspor dan im por tida k selalu terjadi di setia p unit analisis setia p tahun. Untuk m igrasi dan nilai ekspor, hubungan tam pak pada tahun-tahun berikut.
- Sum atra bagian utara: 1932— 1934 dan
1937
- Sum atra bagian selatan : 1932— 1937
- Jawa: 1932, 1934, dan 1937
- Kalim antan : 1932— 1934 dan 1937
- Tim ur Besar: 1932 da n 193 5.
Sem entara itu, untuk nila i im por, hubungan tam pak pada tahun-tahun berikut.
- Sum atra bagian utara: 1932— 1933 dan
1937
- Sum atra bagian selatan : 1932, 1934, dan
1936— 1937
- Jawa: 1932 dan 1936— 1937
- Kalim antan : 1932— 1935 da n 1937
G ambar 4. Perbandingan Perubahan Jumlah M igrasi dan N ilai Ekspor dan Impor (1 931=100,0)
Sum atra bagian utara m em iliki 4 kali kejadian hubungan untuk nilai ekspor dan 3 kali untuk nila i im por, denga n hubunga n tidak ditem uka n pada tahun 1934 (hanya untuk nilai im por), 1935, dan 1936. Kondisi untuk hubunga n nila i ekspor serupa denga n Kalim antan. Ekspor dan im por Sum atra bagian utara kebanya kan m erupakan nila i untuk daerah Sum atra Tim ur. Pertum buha n ekonom i perkebunan dan m inyak bum i di
Sum atra Tim ur pada abad ke-20
m enem patkan daerah tersebut seba gai sala h satu daerah pengekspor utam a di H india d an m erupakan daerah tem pat produksi karet terbesar di Hindia selam a periode analisis, dengan rata-rata produksi karet sekitar 33,1% dari total produksi di Hindia. (Clem ens, et al., 1992) Pada m asa Depresi Besar, harga karet m engalam i penurunan dan m encapai nila i terendahnya pada tahun 1932. (de W ilde da n M oll, 1936) Pem erintah Hindia segan untuk m em buat pem batasan ekspor dengan dasar bahwa penerapannya sulit bagi perkebuna n karet pribum i, yang pada tahun 1931— 1933
rata-rata berkontribusi 35,0% terhada p
ekspor karet Hindia. Pada tahun 1933, harga dan ekspor karet m ulai naik seiring denga n adanya perencanaan pem buatan regulasi pem batasan ekspor karet, yang akhirnya diputuskan pa da tahun 1934 dalam sebua h kesepakatan antara beberapa negara denga n kuota bagi Hindia m eningkat setiap tahun.
(Rother, 1935) Ekspor karet kem bali
m eningka t pada tahun 1934. Pada tahun 1935, nilai ekspor dan im por Sum atra bagian utara kem bali m enurun ketika ekspor karet dari perkebunan m ilik orang Eropa di H india juga m enurun. Hal ini disebabkan oleh kuota ekpor karet per bulan untuk perusa haan orang Eropa m enurun. Sulitnya pem batasan e kspor terhadap karet perkebunan pribum i seperti yang dise but da lam Rothe (1935) serta de
W ilde da n M oll (1936) diasum sika n
m erupakan penyebab diturunka nnya kuota ekspor karet oleh pem erintah Hindia pada tahun 1935. Ekspor karet pribum i seja k diberlakukannya pem batasan ekspor Tapi kondisi ini tida k m enyebabkan m igrasi ke Sum atra bagian utara m enurun pada tahun 1935. Ekspektasi dan persiapan untuk kuota ekspor karet yang m eningkat sete lah tahun 1934 diasum sika n m enyebabka n m igrasi ke Sum atra bagian utara pada tahun 1935 m asih m engalam i peningkatan m eskipun nila i ekspornya m enurun.
Kondisi ya ng terjadi di Sum atra bagian utara juga kurang lebih serupa denga n yang ditem ukan di Sum atra bagian sela tan.
Perbedaannya adalah daerah dom inasi
ekspor-im por yaitu Palem bang dan Bangka dan Belitung serta kom oditas utam anya selain karet yaitu m inyak bum i dan tim ah. Kenaikan jum lah m igrasi ke Sum atra bagian
selatan pa da tahun 1 933 terjadi bersam aan dengan naiknya jum lah ekspor m inyak bum i dari Palem bang, harga tim ah, dan harga karet pada tahun tersebut. Tapi, tingka t kenaika n yang relatif rendah dapat dipengaruhi ole h terdapatnya regulasi pem bata san ekspor tim ah kala itu. Harga kom oditas ekspor yang m enurun pada tahun 1935 m em buat nila i ekspor serta jum lah m igrasi juga m enurun m eskipun penuruna n pada nilai ekspor lebih sedikit daripada jum lah m igrasi denga n m eningka tnya kua ntitas kom oditas ekspor utam a (m inyak bum i dan tim ah) seperti yang ditunjukkan dalam data Clem ens, et al. (1992) yang dapat m engurangi tingka t
penuruna n nilai ekspor. Nilai ekspor
m eningka t pada tahun 1935 sem entara harga m inyak bum i, tim ah, dan karet m enurun. Kondisi ini juga m enjadi hal yang berbeda dengan ya ng terjadi di Sum atra ba gian utara ketika nilai dan harga kom oditas ekspor m enurun nam un m igrasi m asih naik.
Pengaruh dari migration circuit dan
penem patan pusat pem erintahan H india di Jawa dapat m enjadi faktor dari banyaknya m igrasi ke Jawa. Penelitian L indblad (1993) m enunjukkan bahwa pada tahun 1930, kebanyakan dari perusahaan (tida k hanya perdagangan dan keua ngan) di H india berpusat di Jawa. Lindbla d, et al. (2016), m enunjukkan bahwa perusahaan ekspor berbagai kom oditas tidak harus m em iliki kantor pusat di wilayah asal barang ekspor m eskipun ada pula perusahaan yang berpusa t di w ilayah luar Jawa. L indblad (2018)
m enyebutkan bahwa penem patan pusa t
perusahaan di Jawa, terutam a di daerah Batavia, m em udahkan perusahaan untuk berhubungan dengan pem erintah. Penuruna n m igrasi pada tahun 1935 terjadi bersam aan dengan penurunan nila i ekspor di dua unit analisis di Sum atra yang m enjadi penge kspor utam a di Hindia.
Hubungan antara jum lah m igrasi dan nilai e kspor di Kalim antan terjadi pada 4 tahun yang diteliti— tidak terjadi pada tahun 1935 dan 1936. Kondisi ini serupa denga n yang ditem ukan di Sum atra bagian utara. Kem iripan kom oditas ekspor utam a antara
kedua unit analisis, yaitu m inyak bum i dan karet, dapat m enja di pe nyebab kesam aan tersebut m eskipun persentase m igrasi dan nilai e kspor dari Sum atra ba gian utara yang relatif lebih tinggi daripada Kalim antan.
Kondisi ini juga dapat m enjelaska n
ketida kadaan hubungan jum lah m igrasi dan nilai ekspor pa da tahun 1935 yang serupa dengan yang ditem ukan di Sum atra bagian utara.
Clem ens, et al. (1992) m enyebutkan bahwa pengaruh perusahaan dan ekonom i orang Eropa sanga t kecil di w ilayah T im ur Besar. Hal ini da pat m enyebabkan sedikitnya hubungan yang ditem ukan antara jum la h m igrasi dan nila i ekspor Tim ur Besar serta bahwa m igrasi orang Eropa ke Tim ur Besar dapat tidak begitu terkait dengan kegiata n
ekonom i ekspor-im pornya. Data SJ
m enunjukkan bahwa kebanya kan dari orang Eropa yang berm igrasi ke Tim ur Besar m erupakan orang Jepang. Furnivall (1967) m enyebutkan bahwa kebanya kan orang
Jepang di H india bekerja di sektor
perdagangan sebagai pem ilik ata u pegawa i
toko. Hal tersebut dapat m enjelaska n
perubahan jum la h m igrasi ke Tim ur Besar
yang tidak berhubungan dengan nila i
ekspornya nam un m asih m em iliki pola yang serupa dengan peruba han jum lah m igrasi ke unit a nalisis lain yang berhubunga n denga n nilai e kspornya serta terjadinya hubunga n m igrasi dan nilai im por pada tahun 1933.
Total m igrasi orang Eropa ke Hindia pada tahun 1936 m engalam i penuruna n setelah m engalam i peningkata n seja k tahun 1933. Data SJ (Tabel 1) m enunjukkan bahwa penuruna n ini tidak berasal dari kelom pok pegawai pem erintah. Penurunan jum la h m igrasi juga terjadi di se luruh unit analisis kecuali Sum atra bagian selatan. Data SJ
m enunjukkan bahwa penurunan terjadi
utam anya pada orang Eropa non-Belanda (kecuali di Kalim antan). Nilai ekspor da n
im por Hindia dari tiap unit analisis
m eningka t pada tahun ini (kecuali im por Jawa).
Penurunan jum la h m igrasi tahun 1936 yang utam anya terjadi bagi orang Eropa non-Belanda dapat m engindika sika n sebab terjadinya penurunan tersebut. Pem erinta h Belanda pada tahun 1936 m em utuskan untuk berhenti m enggunakan standar em as bagi m ata uang Gulden se perti dijelaskan dalam van Zande n (1998). Belanda m enjadi sala h
satu negara terakhir di Eropa yang
m enerapkan kebija kan tersebut. Booth
(1998) m enjelaskan bahwa keputusa n
pem erintah Belanda untuk tetap
m enggunaka n standar em as m em buat m ata uang Gulde n m enjadi kuat sehingga barang-barang im por dari negara selain Belanda dapat dijual lebih m urah. Saat Belanda berhenti m enggunakan standar em as pada tahun 1936, diiringi denga n kebijaka n
proteksionis, data SJ m enunjukka n
persentase im por Belanda di H india
m eningka t paling besar dibandingkan denga n im por dari negara-negara lainnya. Hal ini dapat m enjadi penyebab penurunan m igrasi yang terjadi pada tahun 1936, dengan asum si bahwa kebanyakan m igran yang terpengaruh adalah pegawai perusahaan perdagangan. Hal ini juga da pat m enjela skan hubunga n yang terjadi pada tahun 1936 antara m igrasi dan nila i im por di Jawa. Di T im ur Besar, jum lah m igra si bahkan m asih m enurun pada tahun 1937 dengan kom posisi m igran yang kebanyakan adala h orang Jepang.
Ricklefs (1993) m enilai bahwa
nasionalism e Indone sia di Hindia tahun 1930-an tidak berkem bang banyak denga n pem bubaran diskusi dan pe nangka pan tokoh politik. Kondisi ini terjadi bersam aan dengan
sem akin lebarnya jarak sosial a ntara
m asyarakat Eropa dan pribum i di Hindia. Furnivall (1967) m enyebutka n bahwa jarak sosial dan ekonom i antara m asyarakat Eropa dan pribum i m enjadi sem akin tegas pada penghujung m asa kolonial diba ndingka n dengan pada awal abad ke-20. Tidak ditem uka n adanya pengaruh langsung dari kondisi politik terhadap m igrasi orang Eropa ke Hindia dengan pem erintah H india yang
berupaya untuk m em pertahankan status quo
situasi politik H india.
Peninjaua n terhadap kondisi
lingkungan fisik di Hindia pada saat itu tida k m enem ukan keterkaitannya denga n pola m igrasi orang Eropa. Seluruh resor yang m enjadi tem pat kedatangan m igran ke Hindia m erupakan pelabuhan karena perhubunga n laut m erupakan transportasi internasiona l utam a pada m asa itu. Resor utam anya terletak di pesisir tim ur Sum atra dan di sekitar daerah-daerah pengekspor utam a seperti Sum atra Tim ur, Palem bang, dan Bangka dan Belitung. Persebaran resor ini nam un tidak berkaitan denga n tingka t m igrasi orang Eropa, dengan m igrasi ke Jawa yang m endom inasi dengan hanya tiga resor. Sem entara itu, data SJ untuk tahun 1934— 1936 m encatat m engena i letusan kecil gunung-gunung berapi di Ja wa yang tam pa k tidak m em pengaruhi m igrasi ke w ilaya h tersebut. Pada bulan Desem ber 1935, sebua h gem pa bum i terjadi di perairan barat Sum atra
bagian utara. (Haagsche Courant, 1935)
Gem pa ini tam pak tidak berpengaruh
terhadap m igrasi ke Sum atra bagian utara m aupun selatan dengan m igrasi orang Belanda yang m eningkat pada tahun 1936.
K ESIM PULAN DAN SAR AN
Penelitia n ini m enunjukkan ba hwa jum lah m igrasi orang Eropa ke Hindia m engalam i penurunan pada awal de kade 1930-an sedangkan kenaika n terjadi pada pertengahan de kade 1930-an. Tujua n utam a
m igrasi ada lah wilayah Jawa yang
dipengaruhi oleh migration circuit
Eropa-Hindia. Sem entara itu, di wilayah lainnya,
migration circuit tam pak tidak berpengaru h terhadap pola m igrasi. Kondisi ekonom i daerah-daerah Hindia, terutam a aktivita s ekonom i orang Eropa, berhubungan denga n perubahan jum lah m igrasi orang Eropa ke
daerah tersebut. Jum lah m igrasi juga
dipengaruhi oleh kebija kan ekonom i
pem erintah yang terkait de ngan upaya pem uliha n ekonom i H india dari Depresi Besar. Kondisi ekonom i tam pak m asih m enjadi faktor utam a yang m enentukan pola m igrasi orang Eropa ke Hindia selam a periode pene litian. Peninjauan terhada p kondisi lingkungan fisik H india selam a
periode ini tida k m enem ukan adanya
hubungan dengan jum lah m igrasi.
Pem erintah Hindia tidak m enerapka n
kebija kan khusus yang m em batasi m asuknya m igrasi orang Eropa tertentu seperti pada kebija kan-kebijakan langsung pada krisis tahun 1990-a n dan 2008. Tapi beberapa kebija kan ekonom i da n kondisi ekonom i ekspor Hindia yang m elem ah dan kem udian pulih m em pengaruhi pola m igrasi. Penelitia n ini m asih m erupakan rintisan a wal m engena i m igrasi orang Eropa dan hubungan m igrasi dengan kondisi ekonom i di koloni-koloninya pada abad ke-20. Penelitian lebih lanjut m engenai kondisi m igrasi di H india pada tahun 1900— 1945 terutam a sebelum dan setelah periode analisis diperlukan untuk m elengkapi gam baran m igra si di H india.
DAFTAR PUSTAK A
Beets, G., et al. 2002. De Demografische
Geschiedenis van de Indische
Nederlanders. Den Haag: Nederlands Interdisc iplinair Dem ografisch Instituut.
Boom gaard, P. 1989. Children of the
colonial state: population grow th and economic development in Java 1795-1880. Am sterdam : Free University Press, Centre for Asian Studie s.
Booth, A. 1998. The Indonesian Economy in
the Nineteenth and Twentieth
Centuries. London: M acm illa n Press. Booth, A. 2002. Growth collapses in
Indonesia: A com parison of the 1930s
and the 1990s. Itinerario, 26(3/4), pp.
73-99.
Bosm a, U. 2007. Sailing through Suez from the South: The Em ergence of an Indies-D utch M igra tion Circuit,
1815-1940. The International Migration
Review, 41(2), pp. 511-536.
Bosm a, U. 2009. European colonial soldiers in the nineteenth century: their role in white globa l m igration and patterns of
colonial settlem ent. Journal of Global
History, 4(2), pp. 317-336.
Boyd, R. L. 2002. A "M igration of Despa ir": Unem ploym ent, the Search for W ork, and M igration to Farm s During the
Great Depression. Social Science
Quarterly, 83(2), pp. 554-567. Buelens, F. dan Frankem a, E. 2016.
Colonial adventures in tropical agriculture: new estim ates of returns to inve stm ent in the Netherlands
Indies, 1919–1938. Cliometrica,
10(2), pp. 197-224.
Centraal Kantoor voor de Statistiek. 1927—
1938. Statistisch Jaaroverzicht van
Nederlandsch-Indië. Batavia: Landsdrukkerij.
Clem ens, A., et al. 1992. Changing
Economy in Indonesia Volume 12b Regional P atte rns in Fore ign Trade 1911-1940. Am sterdam : Royal Tropical Institute.
Cribb, R. 2007. Historic al Atlas of
Indonesia. London: Routledge.
de W ilde, A. N. dan M oll, J. T. 1936. The
Netherlands Indies D uring the
Depression: A B rief Econom ic Survey. Am sterdam : J. M . M eulenhoff.
Departem ent van Landbouw, Nijverhe id en
Handel (DNL H). 1933. Volkstelling
1930 Deel VI Europeanen in Nederlandsch-Indië. Batavia: Departem ent van Lanbouw, Nijverhe id en Hande l.
Furnivall, J. S. 1967. Netherlands India: A Study of Plura l Econom y. Cam bridge : Cam bridge University Press.
GEBCO (General Bathym etric Chart of the
Oceans). 2015. The G EBCO _2014 G rid,
version 20150318. https://w w w .gebco.net
(D iakses tanggal 2 Januari 2018).
Gooszen, A. J. 1999. A Demographic
History of the Indonesian
Archipelago, 1880-1942. Leiden: KITLV Press.
Gordon, A. 2012. How Big was Indonesia’s ‘‘Real’’ Colonial Surplus in 1878–
1941? Journal of Contemporary Asia,
42(4), pp. 560-580.
Haagsche Courant. 30 Desem ber 1935. Eernstige aardbeving waargenom en. p. 3.
International Institute of Social History.
2015. CPI.
/cpi-netherlands2015.xls (Diakses tanggal 19 April 2016).
Kem perm an, J. 2002. Introduction. Dalam :
de Jong, L. The Collapse of A
Colonial Society: the Dutch in Indonesia During the Second World War. Leiden: KITLV Press.
Lee, E. S. 1966. A Theory of M igration.
Demography, 3(1), pp. 47-57. Lindblad, J. T. 1993. Ondernem en in
Nederlands-Indië c.l900-1940. BMGN,
108(4), pp. 669-710.
Lindblad, J. T. 2018. Colonial Busine ss
Indonesia Source, Data base and Analy tical Tools. Leiden: U niversite it Leiden.
Lindblad, J. T., et al. 2016. Colonial
Business in Indonesia Database. https://w ww.colonialbusinessindonesi a.nl/en/database-en/databa se (Diakses tangga l 18 Oktober 2018)
Lund, R. dan Panda, S. M . 2000. The Asian financial crisis, wom en's w ork and
forced m igration. Norsk Geografisk
Tidssk rift–Norwegian Journal of Geography, 54, pp. 128-133.
M acias, L. 1992. Mexican Immigration and
Repatriation during the Great Depression. Phoe nix: Arizona State University.
M addison, A. 1989. Dutch Inc om e in and
from Indonesia 1700-1938. Modern
Asian Studies, 23(4), pp. 645-670. M cDonald, P. 1980. An historical
perspective to popula tion grow th in Indonesia. Dalam : Fox, J. J., ed.
Indonesia: The Making of a Culture.
Canberra: Australian N ational University, pp. 84-88.
Nitisastro, W . 1970. Population Trends in
Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
Post, P. 1996. The form ation of the pribum i business elite in Indonesia, 1930s–
1940s. Bijdragen tot de Taal-, Land-
en Volkenkunde, 152(4), pp. 609-632.
Ricklefs, M . C . 1993. A History of M odern
Indonesia Since c. 1300. Stanford: Stanford University Press.
Rothe, C. 1935. Restriction of Rubber Production in Ne therlands-India.
Pacific Affairs, 8(1), pp. 66-80. Suwignyo, A. 2013. The Great Depression
and the changing trajectory of public education policy in Indone sia, 1930-42. Journal of Southeast Asian Studies, 44(3), pp. 465-489. Todaro, M . P. dan Sm ith, S. C. 2012.
Econom ic Developme nt, 11th Edition.
Harlow: Pearson Education.
van der Eng, P. 2002. Indonesia’s Grow th Perform ance in the 20th Century.
Dalam : M addison, A., et al. The Asian
Econom ies in the Twentieth Century.
Cheltenham : E dward Elgar, pp. 143-179.
van der Eng, P. 2010. The sources of long-term econom ic growth in Indonesia,
1880–2008. Explorations in Economic
History, 47, pp. 294-309. van Im hoff, E. dan Beets, G . 2004.
Education at hom e: the age-specific pattern of m igration be tween the Netherlands and the form er Dutch East Indies around 1930.
Demographic Researc h, 11, pp. 335-356.
van Zanden, J. L. dan M arks, D . 2012. An
Econom ic History of Indonesia 1800-2010. London: Routledge.
W right, K. dan Black, R. 2011. International M igration and the Downturn:
Assessing the Im pacts of the G lobal Financial D ownturn on M igration, Poverty and Hum an W ell-Being.
Journal of International Development, 23, pp. 555-564.