1 A. Latar Belakang
Persalinan pervaginal pasca seksio sesarea (Vaginal Birth After C-Section/VBAC) merupakan salah satu alternatif persalinan bagi maternal. Walau bagaimanapun, tahap keberhasilannya masih lagi diragui hingga sekarang. Laporan WHO tahun 2007 menunjukkan hanya 4 % maternal yang melakukan VBAC. Menurut NICE tahun 2004, tingkat keberhasilan VBAC adalah 72-76 %. Terdapat berbagai faktor yang dapat menyumbang kepada keberhasilan metode persalinan ini. VBAC belum banyak diterima sampai akhir tahun 1970an. Melihat peningkatan angka kejadian seksio sesarea oleh United States Public Health Service, melalui Consensus Development Conference on Cesarean Child Birth pada tahun 1980 menyatakan bahwa VBAC dengan insisi uterus transversal pada segmen bawah rahim adalah tindakan yang aman dan dapat diterima dalam rangka menurunkan angka kejadian seksio sesarea pada tahun 2000 menjadi 15% (Cunningham, 2001).
Pendapat yang paling sering muncul adalah orang yang pernah melakukan seksio harus seksio untuk selanjutnya. Juga banyak para ahli yang berpendapat bahwa melahirkan normal setelah pernah melakukan seksio sesarea sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan section adalah pilihan terbaik bagi ibu dan anak. Akhir-akhir ini Angka kejadian intervensi pada proses persalinan semakin tinggi. Angka Operasi Sesar yang harusnya kurang dari 15% (sesuai aturan WHO) ternyata tidak bisa di penuhi. Apalagi di Rumah Sakit-Rumah Sakit di kota besar atau kota metropolis. Salah satu RS di Jakarta saja angka operasi
Sesar bisa mencapai 75% bahkan 98%. Sungguh sangat disayangkan. Ketika kita bermain logika rasanya tidaklah mungkin sebuah persalinan selalu berakhir dengan Operasi Sesar. Bukankah Tuhan tidak menciptakan jendela di perut seorang wanita? Dia hanya menciptakan vagina dan itupun hanya satu saja. Artinya tubuh seorang wanita memang dirancang sempurna oleh-Nya untuk melahirkan secara normal alami bukan, karena ketidaktahuan para ibu di Indonesia maka mereka akhirnya dengan sukarela menerima intervensi-intervensi yang diberikan oleh pihak provider. Padahal mungkin bisa saja intervensi tersebut tidak perlu dialami oleh mereka jika mereka mau memberdayakan diri. Mau membuka wawasan dan mau lebih peduli akan bayinya (Wiknjosastro, 2002).
AKI dan AKB yang sangat tinggi di Indonesia ini diakibatkan oleh adanya komplikasi-komplikasi dalam persalinan, termasuk seksio sesarea. Menurut Bensons dan Pernolls, angka kematian ibu yang menjalani persalinan seksio sesarea adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup dan memiliki risiko kematian 25 kali lebih besar dibanding persalinan pervaginam
Pada tahun 2000 National Institute of Health dan American College of Obstetricans and Gynecologists mengeluarkan statemen, yang menganjurkan para ahli obstetri untuk mendukung "trial of labor" pada pasien-pasien yang telah mengalami seksio sesarea sebelumnya, dimana VBAC merupakan tindakan yang aman sebagai pengganti seksio sesarea ulangan (O'Grady JP, 1995, Caughey AB, Mann S, 2001).
Walau bagaimanapun, mulai tahun 2001 jumlah percobaan partus pervaginal telah berkurang dan menyumbang kepada peningkatan jumlah partus secara seksio sesarea ulang. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan para ibu hamil,
disertai berbagai pertimbangan dan diikuti pemeriksaan sebelum melahirkan, kini melahirkan normal setelah caesar (vaginal birth after caesar/VBAC) sudah banyak ditempuh para ibu. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan prasyarat melahirkan normal yang aman terpenuhi, misalnya jahitan sudah bagus, berat badan bayi bagus, letak plasenta normal dan posisi kepala bayi sudah di bawah/masuk panggul, hampir bisa dipastikan ibu bisa melahirkan VBAC (Handon Hestiantoro SpOG, 2010).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) terakhir tahun 2007 AKI Indonesia menurun menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup, meskipun demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia, diperoleh estimasi sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup.
Di Indonesia angka persalinan dengan secsio sesarea di dua belas rumah sakit pendidikan berkisar antara 2,1 % - 11,8 %. Di RS Sanglah Denpasar inseden seksio sesrea selama 10 tahun yaitu 8,60 % - 20,23 %, rata-rata per tahun 13,6%. Resiko terhadap bayi dilakukan seksio sesarea yaitu kematian dan gagal asi, gangguan paru, gangguan system pencernaan dan kekebalan tubuh, sedangkan resiko terhadap ibu yaitu infeksi nosokomial, troemboemboli, peritonitis dan sebagainya. Beberapa indikasi seksio sesarea dapat diuraikan sebagai berikut, cepalo pelvik disproportion (CPD), preeklamsia, ketuban pecah dini, janin besar, kelainan letak janin dan letak sungsang.
Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin adalah rumah sakit rujukan terbesar di provinsi Aceh, dengan penduduk mencapai 4.486.570 jiwa. Kota Banda Aceh dan sekitarnya terdapat rumah sakit pemerintah dan swasta sebanyak 11 unit rumah sakit, serta 11 unit puskesmas. Karena angka persalinan perabdominal
yang diijinkan di rumah sakit pendidikan adalah seperti yang diungkapkan diatas. Pada perslinan pevaginam di Rumah Sakit Zainoel Abidin di dapatkan persalinan normal merupakan insidensi terbanyak yaitu dengan presentase 84,95%, sedangkan VBAC hanya 2,25 % (Profil Kesehatan Rumah Sakit Zainoel Abidin).
Tahun lalu, setelah orang bersalin melalui SC maka pupus sudah harapan mereka untuk dapat melahirkan lagi dengan normal melalui vagina. Namun hari ini, hal tersebut berubah dan perubahan besar tersebut terjadi berkat perubahan dalam teknik bedah, sehingga VBAC sangatlah mungkin dilakukan dalam banyak kasus. Bahkan, 60-80% diperkirakan perempuan yang mencoba VBAC berakhir dengan sukses. Namun demikian, banyak rumah sakit yang tidak menawarkan bahkan tidak melayani VBAC karena mereka tidak memiliki staf atau sumber daya untuk menangani SC darurat. VBAC menjadi isu yang sangat penting dalam ilmu kedokteran khususnya dalam bidang obstetrik karena pro dan kontra akan tindakan ini. Baik dalam kalangan medis ataupun masyarakat umum selalu muncul pertanyaan, apakah VBAC aman bagi keselamatan ibu (Wiknjosastro, 2002).
VBAC atau melahirkan melalui vagina setelah mengalami operasi Sesar di persalinan sebelumnya, memang lebih ditekankan pada kasus-kasus operasi Sesar yang dilakukan atas indikasi yang sebenarnya tidak perlu artinya operasi SC yang dilasssskukan sebelumnya bukan karena alasan-alasan mutlak fisiologis seperti kelainan pangul (panggul sempit murni). Banyak wanita yang akhirnya memilih untuk mencoba melahirkan normal saat ini dan literatur serta penelitianpun sudah banyak yang sangat mendukung keputusan ini. Kebanyakan penelitian dan fasilitas kesehatan menemukan bahwa lebih dari 80% ibu yang
pernah mengalami kelahiran sesar sebelumnya adalah aman dan berhasil melahirkan secara normal di kehamilan berikutnya (Toth P.P, Jothivijayarani A, 2008).
Pada satu sisi mencatat lebih dari 80% kelahiran dengan VBAC berlangsung dengan lancar aman, dengan akhir yang membahagiakan. Malah ada yang memberikan testimoni, melahirkan lancar dengan VBAC dengan posisi bayi sungsang. Ada pula yang VBAC-nya lancar bahkan setelah mengalami 2 kali melahirkan secara caesar. Jarak antara kelahiran caesar dan VBAC pun beragam. Pada umumnya DSOG memberikan batasan 3 tahun bagi ibu yang melahirkan caesar baru bisa melahirkan lagi (itupun dengan kembali caesar). Namun kenyataannya sebagaimana testimoni dalam sebuah komunitas untuk memberdayakan ibu hamil, Gentle Birth untuk semua, tak jarang para pelaku VBAC ini begitu pendek jarak kelahirannya dengan kelahiran sebelumnya. Bahkan ada yang jarak antara anak caesar dengan adiknya yang normal hanya 18 bulan (Obstet Gynecol 2001).
Bagi ibu yang melahirkan dengan VBAC memiliki beberapa syarat, diantaranya indikasi operasi sebelumnya bukan karena panggul sempit, letak bayi kepala, proses penyembuhan luka operasi baik, perkiraan berat badan bayi tidak boleh lebih dari 4 Kg, bukan kehamilan kembar, dan belahan operasi cesar sebelumnya tidak tegak lurus (vertikal). Proses mengejan saat pembukaan lengkap hanya boleh 2x15 menit. Elastisitas otot perut dan bekas luka operasi cesar yang telah merapat juga menjadi hal yang dipertimbangkan. Melalui senam hamil yang rutin dilakukan ibu hamil maka dapat membantu ibu untuk mengejan dan mengatur napas lebih optimal, dan mempertahankan elastisitas otot perut saat kontraksi, sehingga ibu dapat melahirkan dengan VBAC (Santoso, 2010).
Di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013 terdapat 57 bidan diantaranya 34 orang bidan PNS dan 23 orang bidan PTT. Pendidikan bidan tersebut adalah 19 orang tamatan PPBA/DI, 32 orang tamatan D-III, dan 6 orang tamatan D-IV. Dari pendataan awal yang dilakukan di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar yang menjadi hasil wawancara kepada bidan yang berjumlah 10 orang, yaitu 6 orang bidan PTT dengan pengalaman kerja selama 6 tahun yang berpendidikan DIII, dan 4 orang bidan PNS dengan pengalaman kerja 12 tahun yang berpendidikan D1,dan informasi yang di dapatkan bidan tersebut rata-rata hanya pada saat mengikuti pelatihan, dan hanya 3 orang bidan yang mengetahui atau mengerti tentang VBAC, 3 orang tersebut tamatan D-III, sedangkan 7 orang bidan yang masih kurang mengetahui atau mengerti tentang VBAC, 3 orang tamatan PPBA dan 4 orang tamatan D-III yang dikarenakan oleh kurangnya informasi yang di dapat atau diterima oleh bidan.
Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti ingin mengetahui apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan bidan tentang VBAC di wilayah kerja Puskesmas. Dengan demikian yang diperoleh dari hasil survey, maka peneliti berkeinginan melakukan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013”
B. Rumusan Masalah
Dari uraian masalah dan data yang diperoleh, peneliti merumuskan masalah yang diteliti adalah “Apakah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013”.
C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum
Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013.
2. Tujuan khusus
a) Untuk mengetahui informasi terhadap pengetahuan bidan tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas.
b) Untuk mengetahui pengalaman kerja terhadap pengetahuan bidan tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas.
c) Untuk mengetahui pendidikan terhadap pengetahuan bidan tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Peneliti
Agar Bisa melakukan supervise kepada petugas kesehatan supaya berperan aktif dalam memberikan informasi yang benar seluas-luasnya kepada masyarakat mengenai persalinan VBAC.
2. Tempat Penelitian
Di harapkan penelitian ini dapat memberikan informasi pada istansi terkait mengenai persalinan VBAC.
3. Responden
Untuk lebih meningkatkan kinerja dalam mengupayakan tentang bagaimana mengenai persalinan VBAC.
4. Institusi Pendidikan
Sebagai informasi dan menambah perbendaharaan perpustakaan dan dijadikan pedoman bagi pengembangan proses belajar mengajar khususnya ketika mahasiswa berada di lapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian VBAC
VBAC (Vaginal Birth After C-Section) ialah proses persalinan per vaginam yang dilakukan terhadap pasien yang pernah mengalami seksio sesaria ada kehamilan sebelumnya atau pernah mengalami operasi pada dinding rahim (misalnya satu ataupun lebih miomektomi intramural). VBAC atau melahirkan melalui vagina setelah mengalami operasi Sesar di persalinan sebelumnya, memang lebih ditekankan pada kasus-kasus operasi Sesar yang dilakukan atas indikasi yang sebenarnya tidak perlu artinya operasi SC yang dilakukan sebelumnya bukan karena alasan-alasan mutlak fisiologis seperti kelainan pangul yaitu panggul sempit murni (Winkjosastro 2005).
VBAC menjadi isu yang sangat penting dalam ilmu kedokteran khususnya dalam bidang obstetrik karena pro dan kontra akan tindakan ini. Baik dalam kalangan medis ataupun masyarakat umum selalu m uncul pertanyaan, apakah VBAC aman bagi keselamatan ibu. Pendapat yang paling sering muncul adalah Orang yang pernah melakukan seksio harus seksio untuk selanjutnya. Juga banyak para ahli yang berpendapat bahawa melahirkan normal setelah pernah melakukan seksio sesarea sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan section adalah pilihan terbaik bagi ibu dan anak. Tahun lalu,setelah orang bersalin melalui SC maka pupus sudah harapan
mereka untuk dapat melahirkan lagi dengan normal melalui vagina (Winkjosastro 2005).
Namun hari ini, hal tersebut berubah dan perubahan besar tersebut terjadi berkat perubahan dalam teknik bedah, sehingga VBAC sangatlah mungkin dilakukan dalam banyak kasus. Bahkan, 60 sampai 80 persen diperkirakan perempuan yang mencoba VBAC berakhir dengan sukses. Namun demikian, banyak rumah sakit yang tidak menawarkan bahkan tidak melayani VBAC karena mereka tidak memiliki staf atau sumber daya untuk menangani SC darurat (O’Grady, 1995, Caughey, Mann , 2001).
VBAC belum banyak diterima sampai akhir tahun 1970an. Melihat peningkatan angka kejadian seksio sesarea oleh United States Public Health Service, melalui Consensus Development Conference on Cesarean Child Birth pada tahun 1980 menyatakan bahwa VBAC dengan insisi uterus transversal pada segmen bawah rahim adalah tindakan yang aman dan dapat diterima dalam rangka menurunkan angka kejadian seksio sesarea pada tahun 2000 menjadi 15% (Cunningham , 2001).
Pada tahun 1989 National Institute of Health dan American College of Obstetricans and Gynecologists mengeluarkan statemen, yang menganjurkan para ahli obstetri untuk mendukung "trial of labor" pada pasien-pasien yang telah mengalami seksio sesarea sebelumnya, dimana VBAC merupakan tindakan yang aman sebagai pengganti seksio sesarea ulangan (O'Grady , 1995, Caughey , Mann, 2001).
Walau bagaimanapun, mulai tahun 1996 jumlah percobaan partus pervaginal telah berkurang dan menyumbang kepada peningkatan jumlah partus secara seksio
sesarea ulang. Berbagai faktor medis dan nonmedis diperkirakan menjadi penumbang kepada penurunan jumlah percobaan partus pevaginam ini. Faktor-faktor ini sebenarnya masih belum difahami dengan jelas. Salah satu faktor yang paling sering dikemukan para ahli adalah resiko ruptur uteri. Pada tindakan percobaan partus pervaginal yang gagal, yaitu pada maternal yang harus melakukan seksio sesarea ulang didapati resiko komplikasi lebih tinggi berbanding VBAC dan partus secara seksio sesarea elektif (Cunningham,Gary dkk. 2006).
1. Indikasi VBAC
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun 1999 dan 2004 memberikan rekomendasi untuk menyeleksi pasien yang direncanakan untuk persalinan pervaginal pada bekas seksio sesarea.
Menurut Cunningham (2001) kriteria seleksinya adalah berikut :
a) Riwayat 1 atau 2 kali seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim b) Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik baik
c) Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain pada uterus
d) Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan monitoring, persalinan dan seksio sesarea emergensi
e) Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani seksio sesarea darurat Menurut Cunningham (2001) kriteria yang masih kontroversi adalah:
a) Parut uterus yang tidak diketahui
b) Parut uterus pada segmen bawah rahim vertical c) Kehamilan kembar
e) Kehamilan lewat waktu
f) Taksiran berat janin lebih dari 4000 gram
Indikasi seksio sesarea sebelumnya akan mempengaruhi keberhasilan VBAC. Maternal dengan penyakit CPD memberikan keberhasilan persalinan pervaginal sebesar 60 – 65 % manakala fetal distress memberikan keberhasilan sebesar 69 – 73% (Caughey, Mann, 2001). Keberhasilan VBAC ditentukan juga oleh keadaan dilatasi serviks pada waktu dilakukan seksio sesarea yang lalu. VBAC berhasil 67 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada saat pembukaan serviks kecil dari 5 cm, dan 73 % pada pembukaan 6 sampai 9 cm. Keberhasilan persalinan pervaginal menurun sampai 13 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada keadaan distosia pada kala II (Cunningham, 2001).
Keberhasilan VBAC ditentukan juga oleh keadaan dilatasi serviks pada waktu dilakukan seksio sesarea yang lalu. VBAC berhasil 67 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada saat pembukaan serviks kecil dari 5 cm, dan 73 % pada pembukaan 6 sampai 9 cm. Keberhasilan persalinan pervaginal menurun sampai 13 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada keadaan distosia pada kala II (Cunningham, 2001).
2. Kontraindikasi VBAC
Menurut (Caughey, Mann, 2001) kontra indikasi mutlak melakukan VBAC adalah :
b) Bekas seksio sesarea dengan insisi T c) Bekas ruptur uteri
d) Bekas komplikasi operasi seksio sesarea dengan laserasi serviks yang luas e) Bekas sayatan uterus lainnya di fundus uteri contohnya miomektomi f) Disproporsi sefalopelvik yang jelas
g) Pasien menolak persalinan pervaginal h) Panggul sempit
i) Ada komplikasi medis dan obstetrik yang merupakan kontra indikasi persalinan pervaginal
3. Prasyarat VBAC
Panduan dari American College of Obstetricians and Gynecologists pada tahun 1999 dan 2004 tentang VBAC atau yang juga dikenal dengan trial of scar memerlukan kehadiran seorang dokter ahli kebidanan, seorang ahli anastesi dan staf yang mempunyai keahlian dalam hal persalinan dengan seksio sesarea emergensi. Sebagai penunjangnya kamar operasi dan staf disiagakan, darah yang telah di-crossmatch disiapkan dan alat monitor denyut jantung janin manual ataupun elektronik harus tersedia (Caughey, Mann, 2001).
Pada kebanyakan senter merekomendasikan pada setiap unit persalinan yang melakukan VBAC harus tersedia tim yang siap untuk melakukan seksio sesarea emergensi dalam waktu 20 sampai 30 menit untuk antisipasi apabila terjadi fetal distress atau ruptur uteri (Jukelevics, 2000).
Faktor medis dan nonmedis diperkirakan menjadi penumbang kepada penurunan jumlah percobaan partus pevaginam ini. Faktor-faktor ini sebenarnya
masih belum difahami dengan jelas. Salah satu faktor yang paling sering dikemukan para ahli adalah resiko ruptur uteri. Pada tindakan percobaan partus pervaginal yang gagal, yaitu pada maternal yang harus melakukan seksio sesarea ulang didapati resiko komplikasi lebih tinggi berbanding VBAC dan partus secara seksio sesarea elektif. Faktor nonmedis termasuklah restriksi terhadap akses percobaan partus pervaginal. (Consensus Development Conference Statement, 2010).
4. Teknik Operasi Sebelumnya
Pasien bekas seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim transversal merupakan salah satu syarat dalam melakukan VBAC, dimana pasien dengan tipe insisi ini mempunyai resiko ruptur yang lebih rendah dari pada tipe insisi lainnya. Bekas seksio sesarae klasik, insisi T pada uterus dan komplikasi yang terjadi pada seksio sesarea yang lalu misalnya laserasi serviks yang luas merupakan kontraindikasi melakukan VBAC. (Toth, Jothivijayani, 1996, Cunningham, 2001). Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (2004), tiada perbedaan dalam mortalitas maternal dan perinatal pada insisi seksio sesarea transversalis atau longitudinalis.
5. Jumlah Seksio Sesarea Sebelumnya
VBAC tidak dilakukan pada pasien dengan insisi korporal sebelumnya maupun pada kasus yang pernah seksio sesarea dua kali berurutan atau lebih, sebab pada kasus tersebut diatas seksio sesarea elektif adalah lebih baik dibandingkan persalinan pervaginal (Flamm, 2000).
Menurut Spaan (2002) mendapatkan bahwa riwayat resikoseksio saserea yang lebih satu kali mempunyairesiko untuk seksio sesarea ulang lebih tinggi. Menurut Jamelle (2001) menyatakan diktum sekali seksio sesarea selalu seksio sesarea tidaklah selalu benar, tetapi beliau setuju dengan pernyataan bahwa setelah dua kali seksio sesarea selalu seksio sesarea pada kehamilan berikutnya, dimana diyakini bahwa komplikasi pada ibu dan anak lebih tinggi.
Resiko ruptur uteri meningkat dengan meningkatnya jumlah seksio sesarea sebelumnya. Pasien dengan seksio sesarea lebih dari satu kali mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya ruptur uteri. Ruptur uteri pada bekas seksio sesarea 2 kali adalah sebesar 1.8 – 3.7 %. Pasien dengan bekas seksio sesarea 2 kali mempunyai resiko ruptur uteri lima kali lebih besar dari bekas seksio sesarea satu kali (Caughey 1999, Cunningham, 2001).
Menurut Farmakides (2010) dalam Miller (2011) melaporkan 77 % dari pasien yang pernah seksio sesarea dua kali atau lebih yang diperbolehkan persalinan pervaginal dan berhasil dengan luaran bayi yang baik. Menurut Cunningham (2010), American College of Obstetricians and Gynecologists pada tahun 2005 telah memutuskan bahwa pasien dengan bekas seksio dua kali boleh menjalani persalinan pervaginal dengan pengawasan yang ketat.
Menurut Miller (2007) melaporkan bahwa insiden ruptur uteri terjadi 2 kali lebih sering pada VBAC dengan riwayat seksio sesarea 2 kali atau lebih. Pada penelitian ini, jumlah VBAC dengan riwayat seksio sesarea 1 kali adalah 83% manakala 2 kali atau lebih adalah 17 %.
Pada seksio sesarea insisi kulit pada dinding abdomen biasanya melalui sayatan horizontal, kadang-kadang pemotongan atas bawah yang disebut insisi kulit vertikal. Kemudian pemotongan dilanjutkan sampai ke uterus. Daerah uterus yang ditutupi oleh kandung kencing disebut segmen bawah rahim, hampir 90 % insisi uterus dilakukan di tempat ini berupa sayatan horizontal (seperti potongan bikini). Cara pemotongan uterus seperti ini disebut "Low Transverse Cesarean Section". Insisi uterus ini ditutup/jahit akan sembuh dalam 2 – 6 hari. Insisi uterus dapat juga dibuat dengan potongan vertikal yang dikenal dengan seksio sesarea klasik, irisan ini dilakukan pada otot uterus. Luka pada uterus dengan cara ini mungkin tidak dapat pulih seperti semula dan dapat terbuka lagi sepanjang kehamilan atau persalinan berikutnya (Hill, 2002).
Pemeriksaan USG trans abdominal pada kehamilan 37 minggu dapat mengetahui ketebalan segmen bawah rahim. Ketebalan segmen bawah rahim (SBR) 4,5 mm pada usia kehamilan 37 minggu adalah petanda parut yang sembuh sempurna. Parut yang tidak sembuh sempurna didapat jika ketebalan SBR < 3,5 mm. Oleh sebab itu pemeriksaan USG pada kehamilan 37 minggu dapat sebagai alat skrining dalam memilih cara persalinan bekas seksio sesarea. (Cheung, 2004).
Menurut Cunningham (2004) menyatakan bahwa penyembuhan luka seksio sesarea adalah suatu generasi dari fibromuskuler dan bukan pembentukan jaringan sikatrik.
Menurut Cunningham (2010), dasar dari keyakinan ini adalah dari hasil pemeriksaan histologi dari jaringan di daerah bekas sayatan seksio sesarea dan dari 2 tahap observasi yang pada prinsipnya :
a) Tidak tampaknya atau hampir tidak tampak adanya jaringan sikatrik pada uterus pada waktu dilakukan seksio sesarea ulangan.
b) Pada uterus yang diangkat, sering tidak kelihatan garis sikatrik atau hanya ditemukan suatu garis tipis pada permukaan luar dan dalam uterus tanpa ditemukannya sikatrik diantaranya.
Menurut Schmitz (2010) dalam Srinivas (2011) menyatakan bahwa kekuatan sikatrik pada uterus pada penyembuhan luka yang baik adalah lebih kuat dari miometrium itu sendiri. Hal ini telah dibuktikannya dengan memberikan regangan yang ditingkatkan dengan penambahan beban pada uterus bekas seksio sesarea (hewan percobaan).
Dari laporan-laporan klinis pada uterus gravid bekas seksio sesarea yang mengalami ruptura selalu terjadi pada jaringan otot miometrium sedangkan sikatriknya utuh. Yang mana hal ini menandakan bahwa jaringan sikatrik yang terbentuk relatif lebih kuat dari jaringan miometrium itu sendiri (Srinivas, 2007). Dua hal yang utama penyebab dari gangguan pembentukan jaringan sehingga menyebabkan lemahnya jaringan parut tersebut adalah :
a) Infeksi, bila terjadi infeksi akan mengganggu proses penyembuhan luka. b) Kesalahan teknik operasi (technical errors) seperti tidak tepatnya pertemuan
kedua sisi luka, jahitan luka yang terlalu kencang, spasing jahitan yang tidak beraturan, penyimpulan yang tidak tepat, dan lain-lain.
Menurut Schmitz (2001) dalam Srinivas (2007) menyatakan jahitan luka yang terlalu kencang dapat menyebabkan nekrosis jaringan sehingga merupakan penyebab timbulnya gangguan kekuatan sikatrik, hal ini lebih dominan dari pada infeksi ataupun technical error sebagai penyebab lemahnya sikatrik.
Pengetahuan tentang penyembuhan luka operasi, kekuatan jaringan sikatrik pada penyembuhan luka operasi yang baik dan pengetahuan tentang penyebab-penyebab yang dapat mengurangi kekuatan jaringan sikatrik pada bekas seksio sesarea, menjadi panduan apakah persalinan pervaginal pada bekas seksio sesarea dapat dilaksanakan atau tidak (Srinivas, 2007).
Pada sikatrik uterus yang tidak mempengaruhi aktivitas selama kontraksi uterus. Aktivitas uterus pada multipara dengan bekas seksio sesarea sama dengan multipara tanpa seksio sesarea yang menjalani persalinan pervaginal (Chua, Arulkumaran, 2010).
7. Indikasi Operasi Pada Seksio Sesarea Yang Lalu
Indikasi seksio sesarea sebelumnya akan mempengaruhi keberhasilan VBAC. Maternal dengan penyakit CPD memberikan keberhasilan persalinan pervaginal sebesar 60 – 65 % manakala fetal distress memberikan keberhasilan sebesar 69 – 73% (Caughey, Mann, 2001).
Keberhasilan VBAC ditentukan juga oleh keadaan dilatasi serviks pada waktu dilakukan seksio sesarea yang lalu. VBAC berhasil 67 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada saat pembukaan serviks kecil dari 5 cm, dan 73 % pada pembukaan 6 sampai 9 cm. Keberhasilan persalinan pervaginal menurun
sampai 13 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada keadaan distosia pada kala II (Cunningham, 2001).
Menurut Troyer (2002) pada penelitiannya mendapatkan keberhasilan penanganan VBAC boleh dihubungkan dengan indikasi seksio sesarea yang lalu. Hubungan indikasi seksio sesarea lalu dengan keberhasilan penangananVBAC yaitu :
a) Usia maternal
Usia ibu yang aman untuk melahirkan adalah sekitar 20 tahun sampai 35 tahun. Usia melahirkan dibawah 20 tahun dan di atas 35 tahun digolongkan resiko tinggi. Dari penelitian di dapatkan wanita yang berumur lebih dari 35 mempunyai angka resiko seksio sesarea yang lebih tinggi. Wanita yang berumur lebih dari 40 tahun dengan bekas seksio sesarea mempunyai resiko kegagalan untuk persalinan pervagianl lebih besar tiga kali dari pada wanita yang berumur kecil dari 40 tahun (Caughey, Man, 2001).
Menurut Weinstein (2001) dan Landon (2004) mendapatkan pada penelitian mereka bahwa faktor umur tidak bermakna secara statistik dalam mempengaruhi keberhasilan persalinan pervaginal pada bekas seksio sesarea.
b) Usia kehamilan saat seksio sesarea sebelumnya
Pada usia kehamilan < 37 minggu dan belum inpartu misalnya pada plesenta previa dimana segmen bawah rahim belum terbentuk sempurna kemungkinan insisi uterus tidak pada segen bawah rahim dan dapat
mengenai bagian korpus eteri yang mana keadaannya sama dengan insisi pada seksio sesarea klasik (Salzmann 2003).
c) Riwayat persalinan pervaginal
Riwayat persalinan pervaginal baik sebelum ataupun sesudah seksio sesarea mempengaruhi prognosis keberhasilan VBAC (Cunningham ,2001). Pasien dengan bekas seksio sesarea yang pernah menjalani persalinan pervaginal memiliki angka keberhasilan persalinan pervagianl yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa persalinan pervaginal (Caughey, Man, 2001).
Menurut Benedetti (2000) dalam Toth (2002), pada pasien bekas seksio sesarea yang sesudahnya pernah berhasil dengan persalinan pervaginal, makin berkurang kemungkinan ruptur uteri pada kehamilan dan persalinan yang akan datang. Walaupun demikian ancaman ruptur uteri tetap ada pada masa kehamilan maupun persalinan, oleh sebab itu pada setiap kasus bekas seksio sesarea harus juga diperhitungkan ruptur uteri pada kehamilan trimester ketiga terutama saat menjalani persalinan pervaginal. (Toth, 2002)
d) Keadaan serviks pada saat partus
Menurut Guleria dan Dhall (2004) menyatakan bahwa laju dilatasi serviks mempengaruhi keberhasilan penanganan VABC. Dari 100 pasien bekas seksio sesarea segmen bawah rahim di dapat 84% berhasil persalinan pervaginal sedangakn sisanya adalah seksio sesarea darurat. Gambaran laju
dilatasi serviks pada bekas seksio sesarea yang berhasil pervaginal pada fase laten rata-rata 0,88 cm/jam mana kala fase aktif 1,25 cm/jam.
Sebaliknya laju dilatasi serviks pada bekas seksio sesarea yang gagal pervaginal pada fase laten rata-rata 0,44 cm/jam dan fase aktif adalah 0,42 cm/jam. Induksi persalinan dengan misoprostol akan meningkatkan resiko ruptur uteri pada maternal dengan bekas seksio sesarea (Plaut, 2000). Dijumpai adanya 1 kasus ruptur uteri bekas seksio sesarea segmen bawah rahim tranversal selama dilakukan pematangan serviks dengan transvaginal misoprostol sebelum tindakan indukdi persalinan (Scott, 2002).
e) Keadaan selaput ketuban
Menurut Carrol (2001) dan Miller (2004) melaporkan pasien dengan pasien ketuban pacah dini pada usia kehamilan diatas 37 minggu dengan bekas seksio sesarea (56 kasus) proses persalinannya dapat pervaginal dengan menunggu terjadinya inpartu spontan dan di dapat angka keberhasilan yang tinggi yaitu 91 % dengan menghindari pemberian induksi persalinan dengan oksitosin, dengan rata-rata lama waktu antara ketuban pecah dini sampai terjadinya persalianan adalah 42,6 jam dengan keadaan ibu dan bayi baik.
8. Induksi VBAC
Penelitian untuk induksi persalinan dengan oksitosin pada pasien bekas seksio sesarea satu kali member kesimpulan bahwa persalinan dengan oksitosin meningkatkan kejadian rupture uteri pada wanita hamil dengan bekas seksio sesarea satu kali dibandingkan dengan partus spontan tanpa induksi. Secara
statistik tidak di dapatkan peningkatan yang bermakna kejadian ruptur uteri pada pasien yang melakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin. Namun pemakain oksitosin untuk drip akselerasi pada pasien bekas seksio sesarea harus diawasi secara ketat (Zelop, 2002). Menurut Scott (2001) tingkat keberhasilan pemberian oksitosin pada persalinan bekas seksio sesarea cukup tinggi yaitu 70% pada induksi persalinan dan 100% pada akselerasi persalinan.
a) Resiko terhadap maternal
Menurut Kirt (2004) dan Goldberg (2002) menyatakan resiko terhadap ibu yang melakukan persalinan pervaginal dibandingkan dengan seksio sesarea ulangan elektif pada bekas seksio sesarea adlah seperti berikut:
(1) Insiden demam lebih kecil secara bermakna pada persalinan pervaginal yang berhasil dibanding dengan seksio sesarea ulangan elektif.
(2) Pada persalinan pervaginal yang gagal yang dilanjutkan dengan seksio sesarea insiden demam lebih tinggi.
(3) Tidak banyak perbedaan insiden dehisensi uterus pada persalinan pervaginal disbanding dengan seksio sesarea elektif.
(4) Dehisensi atau rupture uteri setelah gaal persalinan pervaginal adalah 2,8 kali dari seksio sesarea elektif.
(5) Mortalitas ibu pada seksio sesarea ulangan elektif dan persalinan pervaginal sangat rendah.
(6) Kelompok persalinan pervaginal mempunyai rawat inap yang lebih singkat, penurunan insiden tranfusi darah pada pasca persalinan dan
penurunan insiden demam pasca persliana disbanding dengan seksio sesarea elektif
b) Resiko terhadap anak
Angka kematian perinatal dari hasil penelitian terhadap lebih dari 4,500 persalinan pervaginal adalah 1,4 % serta resiko kematian perinatal pada persalinan percobaan adalah 2,1 kali lebih besar dibanding seksio sesarea elektif namun jika berat badan janin <750 gram dan kelainan congenital berat tidak diperhitungkan maka angka kematian perinatal dari persalinan prvaginal tidak berbeda secara bermakna dari seksio sesarea ulangan elektif (Kirk, 2003).
Menurut Flamm (2002) melaporkan angka kematian perinatal adalah 7 per 1.000 kelahiran hidup pada persalinan pervaginal,angka ini tidak berbeda secara bermakna dari angka kematian perinatal dari rumah sakit yang ditelitinya yaitu 10 per 1.000 kelahiran hidup.
Menurut Caughey (2001) melaporkan 463 dari 478 (97%) dari bayi yang lahir pervaginal mempunyai skor Apgar pada 5 menit pertama adalah 8 atau lebih. Menurut McMohan (2002) bahwa skor Apgar bayi yang lahir tidak berbeda bermakna pada VBAC dibanding seksio sesarea ulangan elektif.
Menurut Flamm (2003) juga melaporkan morbiditas bayi yang lahir dengan seksio sesarea ulangan setelah gagal VBAC lebih tinggi dibandingkan dengan yang berhasil VBAC dan morbiditas bayi yang berhasil VBAC tidak berbeda bermakna dengan bayi yang lahir normal.
9. Komplikasi VBAC
Komplikasi paling berat yang dapat tejadi dalam melakukan persalinan pervagianal adalah ruptur uteri. Ruptur jaringan perut bekas seksio sesarea sering tersembunyi dan tidak menimbulkan gejala yang khas (Miller, 2003). Dilaporkan bahwa kejadian ruptur uteri pada bekas seksio sesarea insisi segmen bawah rahim lebih kecil dari 1 % (0,2 – 0,8 %).
Kejadian ruptur uteri pada persalinan pervaginal dengan riwayat insisi seksio sesarea korposal dilaporkan oleh Scott (2002) dan American College of Obstetricans and Gynecologist (2000) adalah sebesar 4 - 9%. Kejadian ruptur uteri selama partus percobaan pada bekas seksio sasarea sebanyak 0,8 % dan dehisensi 0,7 % (Martel,2005).
Apabila terjadi ruptur ete ri maka jania, tali pusat, plasenta atau bayi akan keluar dari robekan rahim dan masuk ke rongga abdomen. Hal ini akan menyebabkan perdarahan pada ibu, gawat janin dan kematian jani serta ibu. Kadang-kadang ahrus dilakukan histerektomi emergensi. Kasus ruptur uteri ini lebih sering terjadi pada seksio sesarea klasik dibandingkan dengan seksio sesarea pada segmen bawah rahim ( Hill, 2002).
Tanda yang paling sering di jumpai pada ruptur uteri adalah denyut jantung janin tak normal dengan deselerasi variabel yang lambat laun manjadi deselerasi lambat, bradiakardia, dan denyut jantung janin tidak terdeteksi. Gejala klinis tambahan adalah perdarahan pervaginal, nyeri abdomen, presentasi janin berubah dan terjadi hipovolemik pada ibu ( Miller,2005).
Menurut Caughey (2001) Tanda- tanda ruptur uteri adalah sebagai berikut :
a) Nyeri akut abdomen
b) Sensasi poping ( seperti akn pecah )
c) Teraba bagian-bagian janin diluar uterus pada pemeriksaan Leopold d) Deselerasi dan bradikardi pada denyut jantung janin
e) Presenting perutnya tinggi pada pemeriksaan pervaginal f) Perdarahan pervaginal
Pada wanita dengan bekas seksio sesarea klasik sebaiknya tidak dilakukan persalinan pervaginal karena resiko ruptur 2-10 kai dan kematian maternal dan perinatal 5-10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seksio sesarea pada segmen bawah rahim (Chua, Arunkumaran, 2004).
Menurut Landon (2004) komplikasi terhadap maternal termasuklah ruptur uteri, histerektomi, gangguan sistem tromboembolik, transfusi, endometritis, kematian maternal dan gangguan-gangguan lain.
B. Persalinan
Proses persalinan adalah proses alami yang seharusnya menjadi pengalaman yang positif bagi ibu dan keluarga. Tetapi ada kalanya proses kelahiran tidak dapat dilakukan secara normal atau melalui jalan lahir ibu karena beberapa hal. Salah satu cara yang semakin umum dilakukan jika proses persalinan secara normal tidak memungkinkan adalah dengan bedah caesar (caesarean-section atau C-section) yaitu dengan membuat insisi pada abdomen ibu untuk mengeluarkan bayi.
Asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan paska persalinan, hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Hal ini merupakan suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani komplikasi , mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Penyesuaian ini sangat penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Sebagian besar persalinan di Indonesia masih terjadi tingkat pelayanan kesehatan primer dengan penguasaan keterampilan dan pengetahuan petugas kesehtan di fasilitas pelayanan tersebut masih belum memadai.
Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tinggkat yang optimal (Sarwono Prawihardjo 2008).
C. Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rsa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telingan
(Notoatmodjo 2007). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Overt Behaviour).
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian pengetahuan manusia melalui telinga dan mata (Notoatmodjo, 2005).
Menurut pendekatan kontruktivistis, pengetahuan bukanlah fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap obyek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.
Menurut Notoatmodjo, (2003) pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Jadi pengetahuan adalah hasil dari tahu. Dengan demikian pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rogers dalam buku notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi tahapan pengetahuan dalam diri orang tersebut terjadi adalah sebagai berikut :
a) Knowledge (pengetahuan), yakni orang tersebut mengetahui dan memahami akan adanya sesuatu perubahan baru.
b) Persuasion (kepercayaan), yakni orang mulai percaya dan membentuk sikap terhadap perubahan tersebut.
c) Decision (keputusan), yakni orang mulai membuat suatu pilihan untuk mengadopsi atau menolak perubahan tersebut.
d) Implementation (pelaksanaan), yakni orang mulai menerapkan perubahan tersebut dalam dirinya.
e) Confirmation (penegasan), yakni orang tersebut mencari penegasan kembali terhadap perubahan yang telah diterapkannya, dan boleh merubah keputusannya apabila perubahan tersebut berlawanan dengan hal yang diinginkannya.
3. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan mempunyai enam tingkatan menurut Notoatmodjo (2005), yaitu:
a) Tahu
Tahu adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
Paham diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang mampu menjelaskan dengan benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c) Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.
d) Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu objek ke dalam komponen-komponen yang masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain, misalnya mengelompokkan dan membedakan.
e) Sintesis
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f) Evaluasi
Evaluasi adalah suatu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian tersebut berdasarkan suatu kriteria yang di tentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Menurut (Notoadmodjo, 2005) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentangisi materi yang ingin di ukur dari subjek atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur sesuai dengan tingkat-tingkat tersebut, seperti orang yang
pengetahuannya tinggi lebih sering memanfaatkan tenaga kesehatan sedangkan orang pengetahuannya rendah lebih sedikit yang memanfaatkan tenaga kesehatan. Pengetahuan baik : Bila > 75% jika jawaban benar
Pengetahuan cukup : Bila 60-75% jika jawaban benar Pengetahuan rendah: Bila <60% jika jawaban benar
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC a) Informasi
Menurut Notoatmodjo (2008) informasi merupakan fungsi penting untuk membantu mengurangi rasa cemas seseorang, bahwa semakin banyak informasi dapat memengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Menurut Raymond Mc.leod (2004) Informasi adalah data yang diolah dan dibentuk menjadi lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Informasi merupakan pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan keterangan atau pengetahuan. Maka dengan demikian sumber informasi adalah data. Data adalah kesatuan yang menggambarkan suatu kejadian atau kesatuan nyata.
Pengalaman kerja adalah pengetahuan atau keterampilan yang telah diketahui dan dikuasai seseorang yang akibat dari perbuatan atau pekerjaan yang telah dilakukan selama beberapa waktu tertentu (Trijoko, 2003).
Pengalaman seseorang dalam bekerja seharusnya dipandang sebagai sumberdaya potensial dalam mengelola perubahan dirinya. Secara rasional, pengalaman kerja pasti dapat dirasakan seseorang. Dari pengalamannya, seharusnya seseorang memperoleh modal atau bekal dalam melihat unsur-unsur penyebab keberhasilan dan kekurang-berhasilan dalam bekerja. Semakin bertambahnya usia seseorang maka pengetahuan tentang pekerjaan semakin meningkat dan cara memandang sesuatu juga semakin bijak.
Memang selayaknya dan seharusnya sebuah pengalaman kerja dibutuhkan sebagai salah satu syarat penting di dalam perekrutan tenaga kerja apalagi di perusahaan bonavite yang selalu dan harus mempertimbangkan kualitas hasil kerja seluruh karyawannya. Kadang saja dengan pengalaman kerja yang dimiliki minimal 2 (dua) tahun saja belum dapat menjadi ukuran kualitas pekerjaan seseorang, apalagi mereka yang belum pernah memiliki pengalaman kerja, belum pernah masuk dunia kerja, baru saja lulus kuliah (S1), tentu pengalaman mereka masih dangkal, dan tentunya juga mereka belum dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai di syaratkan pada sebuah lowongan kerja (Suryadi 2008)
Menurut Handoko (2005) ada beberapa faktor lain mungkin juga berpengaruh dalam kondisi – kondisi tertentu, tetapi adalah tidak mungkin
untuk menyatakan secara tepat semua faktor yang dicari dalam diri karyawan potensial . beberapa faktor tersebut adalah :
1) Latar belakang pribadi, mencakup pendidikan, kursus, latihan, bekerja. Untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan seseorang di waktu yang lalu.
2) Bakat dan minat, untuk memperkirakan minat dan kapasitas atau kemampuan seseorang.
3) Sikap dan kebutuhan (attitudes and needs) untuk meramalkan tanggung jawab dan wewenang seseorang.
4) Kemampuan – kemampuan analitis dan manipulatif untuk mempelajari kemampuan penilaian dan penganalisaan.
5) Keterampilan dan kemampuan tehnik, untuk menilai kemampuan dalam pelaksanaan aspek – aspek tehnik pekerjaan.
Menurut Foster (2001) ada beberapa hal juga untuk menentukan berpengalaman tidaknya seorang yang sekaligus sebagai indikator pengalaman kerja yaitu:
1) Lama waktu/ masa kerja yang dikatakan lama di atas 10 tahun. Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas – tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik.
2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Pengetahuan merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain yang dibutuhkan oleh karyawan. Pengetahuan juga mencakup
kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tugas atau pekerjaan.
3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan. Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek – aspek tehnik peralatan dan tehnik pekerjaan.
c) Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003)
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2002 )
Perkembangan pendidikan kebidanan di indonesia mengalami dinamika pasang surut sejalan dengan pekembangan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. Pendidikan kebidanan pernah ditutup selama 9 tahun, yaitu dari tahun 1976 – 1986. dan kemudian dibuka lagi dengan program bidan dan lulusan SPK. Pendidikan bidan yang pada awalnya dipersiapkan untuk menolong persalinan , kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, serta permasalahan
di bidang kesehatan. Hal ini mendorong untuk peningkatan pendidikan bidan ke arah pendidikan profesional sesuai dengan tuntutan pembangunan dibidang kesehatan dan tuntutan profesi.
Hampir semua bidan tingkat pendidikannya belum profesional. Bidan yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas lebih kurang 40-60% merasa tidak adekwat dalam melaksanakan keterampilan tehnik kebidanan. Pelatihan-pelatihan yang diterima bidan dirasa sangat kurang. Hal itu dilatar belakangi oleh tingkat pendidikan yang berbeda, yaitu dari lulusan SPK ditambah pendidikan Bidan selama 1 tahun (PPB A), Lulusan SLTP diambah pendidikan bidan selama 3 tahun (PPB C), dari lulusan akper ditambah pendidikan bidan selama 1 tahun yang dilanjutkan dengan post graduate training dan pendidikan akta IV masing – masing selama 3 bulan (PPB B). Yang terkhir dimaksudkan untuk menjadi tenaga pengajar pada institusi pendidikan penyelenggara PPB A dan C.
Mulai tahun 1996 mulai dibuka program pendidikan DIII kebidanan yang merupakan jalur profesional. Program ini terdiri dari 2 jalur yaitu jalur umum dari SMU (6 semester) dan jalur khusus dari tenaga bidan A, B, C (5 semester). Proses pendidikan di Indonesia masih belum adekwat. Hal ini disebabkan antara lain :
1. kurikulum yang dalam pelaksanaannya masih perlu disesuaikan dengan perkembangan dalam pembangunan kesehatan khususnya kebidanan. 2. tenaga pengajar. Dosen yang mengajar harus memiliki pendidikan
3. sarana dan pra sarana yang perlu ditingkatkan adalah laboratorium, simulasi kebidanan, perpustakaan dengan pengelolaan yang profesional serta laboratorium bahasa dan komputer.
4. lahan praktik, harus mampu memberikan kesempatan seluas – luasnya dan dapat memberikan bimbingan seoptimal mungkin dengan tenaga instruktur yang profesional dan role model yang dapat membantu pencapaian kompetensi (Depkes RI, (2003), Dasar dasar asuhan kebidanan, Jakarta). Faktor yang mempengaruhi pendidikan menurut Hasbullah (2001) adalah sebagai berikut :
1) Ideologi
Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan pendidikan.
2) Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
3) Sosial Budaya
Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya.
4) Perkembangan IPTEK
Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju. 5) Psikologi
Konseptual pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih bernilai.
5. Kerangka Teoritis
Berdasarkan teori yang telah diuraikan maka dapat dijabarkan kerangka teori tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Teoritis Menurut Notoatmodjo (2008) -Informasi Menurut Trijoko (2001) -Pengalaman kerja Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2001) -Pendidikan
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo,2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan idan tentang VBAC adalah Informasi, pengalaman kerja dan pendidikan.
Berdasarkan konsep pemikiran diatas,maka variabel penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gamabar 3. 1. Kerangka Konsep Penelitian Informasi
Pengalaman kerja Pengetahuan Bidan
Tentang VBAC
B . Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Variabel Dependen 1. Pengetahuan bidan tentang VBAC Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui bidan tentang VBAC. Membagikan kuesioner dengan kriteria : -Baik, jika > 75% -Cukup, jika 60-75% -Rendah jika, <60% Kuesioner -Baik -Cukup -Kurang Ordinal Variabel Independen 1. Informasi Informasi merupakan berita yang didapatkan bidan tentang segala sesuatu yang berhubungan tentang VBAC. Membagikan kuesioner Dengan kriteria : -Sering jika >50% -Jarang jika,< 50% Kuesioner -Sering -Jarang Ordinal 2. Pengalaman kerja Pengalaman kerja adalah lamanya waktu bidan setelah menyelesaikan pendidikan kebidanan. Membagikan kuesioner Dengan kriteria : -Lama jika, > 10 tahun -Sedang jika, 5-10 tahun -Baru jika, < 5 tahun Kusioner -Lama -Baru Ordinal
3. Pendidikan Pendidikan adalah seseorang yang telah lulus mengikuti studi kebidanan. Membagikan kuesioner Dengan kriteria : -Tinggi bila tamatan D-IV -Sedang bila tamatan, D-III -Kurang bila tamatan, D-I/PPBA Kuesioner -Tinggi -Sedang -Rendah Ordinal C. Hipotesa Penelitian
1. Ha : Ada pengaruh antara informasi terhadap Pengetahuan Bidan
tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013.
2. Ha : Ada pengaruh antara pengalaman kerja terhadap Pengetahuan Bidan tentang VBAC Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013.
3. Ha : Ada pengaruh antara pendidikan terhadap Pengetahuan Bidan tentang VBAC Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat Analitik dimana variabel penelitian berhubungan dengan hasil penelitian, yang di lakukan dengan desain crossectional, dimana variabel independen dan variabel dependen di teliti secara berhubungan.
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah jumlah seluruh responden yang ada pada tempat penelitian. Dalam penelitian ini populasinya adalah Bidan Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013 yang jumlah keseluruhannya adalah 57 orang bidan (28 Januari- 12 Juli Tahun 2013)
2. Sampel
Menurut Notoatmodjo (2002) sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yaitu seluruh populasi dijadikan sampel yaitu 57 orang bidan.
C. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
2. Waktu Penelitian
Penelitian telah di laksanakan pada tanggal 8 juli 2013 sampai dengan 12 juli 2013.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden melalui penyebaran kuesioner penelitian yang berhubungan dengan pengetahuan bidan terhadap VBAC dan penatalaksana.
2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013 dan berbagai revisi yang berhubungan dengan penelitian ini .
E. Pengolahan Data 1. Pengolahan data
Dalam proses pengolahan data terdapat langkah – langkah yang harus ditempuh, diantaranya (Hidayat, 2009).
a) Editing
Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan.
b) Coding
Adalah merupakan kegiatan pemberian kode numerik(angka)terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori.
c) Transfering
Dimana data yang diberi kode disusun secara berturut –turut dari responden pertama sampai responden terakhir untuk dimasukkan kedalam tabel.
d) Tabulating
Yaitu data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang telah diolah dan dipindahkan kedalam tabel untuk masing – masing tabel dan untuk masing – masing variabel.
F. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari setiap variabel (Notoadmodjo 2005). Pengkatagorian masing-masing variabel dependen dan independen dilakukan dengan menetukan mean / rata-rata (x) dengan menggunakan rumus yaitu:
̅= Ket:
̅ : nilai rata-rata
x : jumlah nilai responden n : jumlah responden
Setelah diolah, selanjutnya data yang telah dimasukkan kedalam table distribusi frekuensi ditentukan presentasi perolehan ( p ) untuk tiap-tiap kategori dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
P = Keterangan:
P : Persentase
fi : frekuensi yang teramati n : Populasi
2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat merupakan analisa hasil dari variabel bebas diduga mempunyai hubungan dengan variabel terikat. Analisa yang digunakan adalah hasil tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa dilakukan analisa statistik dengan uji Chi – square test (x) pada tingkat kemaknaan 95% ( p. Value < 0,05). Sehingga dapat diketahui perbedaan tidaknya yang bermakna secara statistik, dengan menggunakan program khusus SPSS for windows. Melalui perhitungan Chis – Square selanjutnya ditarik suatu kesimpulan, bila nilai P lebih kecil dari nilai α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang menunjukkan ada hubungan bermakna antara variabel terikat dengan variabel bebas.
Perhitungan yang digunakan pada uji Chi – Square untuk Program komputerisasi seperti program SPSS adalah sebagai berikut(Hartono, 2005) : a) Bila pada tabel contingensy 2x2 dijumpai nilai e (harapan) kurang dari
b) Bila pada tabel contigency 2x2 dan tidak dijumpai nilai e(harapan)kurang dari 5, maka hasil uji yang digunakan adalah contiuty correction.
c) Bila pada tabel 2x2 masih juga terdapat frekuensi(harapan) e kurang dari 5, maka dilakukan koreksi dengan menggunakan rumus yate’s correction continu.
d) Pada uji chi-square hanya digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan tiga variabel.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kecamatan Kuta Baro Merupakan salah satu daerah dengan ibu kota lambaro bileu yang terletak di kabupaten Aceh Besar dengan jumlah 47 Desa dan jumlah penduduk 4130 jiwa, yang dibagi kedalam 5 Mukim dengan luas 83.81Km2 (8,381 Ha).
Batasan Wilayah Kecamatan Kota Baro adalah sebagai berikut : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Darussalam
2. Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Krung Barona Jaya
3. Sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Blang Bintang dan kecamatan Mesjid Raya
4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ingin Jaya dan Blang Bintang. B. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan mulai dari tanggal 7 sampai dengan 18 Juli 2013 pada Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar sebagai berikut :
1. Analisa Univariat a. Pengetahuan
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No Pengetahuan Frekuensi %
1 Baik 15 26,3
2 Cukup 17 29,8
3 Kurang 25 43,9
Total 57 100
Sumber Data Primer diolah Tahun 2013
Berdasarkan tabel 5.1 diatas diketahui bahwa dari 57 responden yang pengetahuannya berada dalam kategori kurang sebanyak 25 orang (43,9%).
b. Informasi
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Informasi Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No Informasi Frekuensi %
1 Sering 21 36,8
2 Jarang 36 63,2
Total 57 100
Sumber Data Primer diolah Tahun 2013
Berdasarkan tabel 5.2 diatas diketahui bahwa dari 57 responden yang Informasinya berada dalam kategori jarang sebanyak 36 orang (63,2%).
c. Pengalaman Kerja
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pengalaman Kerja Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No Pengalaman Kerja Frekuensi %
1 Lama 36 63,2
2 Baru 21 36,8
Total 57 100
Sumber Data Primer diolah Tahun 2013
Berdasarkan tabel 5.3 diatas diketahui bahwa dari 57 responden pengalaman kerjanya berada dalam kategori lama sebanyak 36 orang (63,2%) .
d. Pendidikan
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pendidikan Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No Pendidikan Frekuensi %
1 Tinggi 11 19,3
2 Sedang 25 43,9
3 Rendah 21 36,8
Total 57 100
Sumber Data Primer diolah Tahun 2013
Berdasarkan 5.4 tabel diatas diketahui bahwa dari 57 responde n yang pendidikannya berada dalam kategori sedang sebanyak 25 orang (43,9%).
2. Analisa Bivariat
a. Hubungan Informasi dengan Pengetahuan VBAC Tabel 5.5
Hubungan Informasi Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Informasi Pengetahuan
Kurang Cukup Baik Total pvalue
f % f % f % F %
0,001 Sering 4 19.0 6 28.6 11 52,4 21 100
Jarang 21 58,3 11 30,6 4 11,1 36 100 Total 25 43,9 17 29,8 15 26,3 57 100 Sumber Data Primer diolah Tahun 2013
Berdasarkan tabel 5.5 diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang informasinya sering ternyata pengetahuan berada dalam kategori kurang sebanyak 21 orang (58,3%), yang Informasinya jarang ternyata pengetahuannya berada dalam kategori kurang sebanyak 21 orang (58,3%).
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh antara informasi terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar.
b. Hubungan Pengalaman Kerja dengan Pengetahuan VBAC Tabel 5.6
Hubungan Pegelaman Kerja Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Sumber Data Primer diolah Tahun 2013
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang Pengalaman kerjanya dalam katergori baru ternyata pengetahuannya berada dalam kategori
Pengalaman kerja
Pengetahuan
Kurang Cukup Baik Total Pvalue
f % f % f % F %
0,001
Baru 16 76,2 4 19,0 1 4,8 21 100
Lama 9 25,0 13 36,1 14 38,9 36 100 Total 25 43,9 17 29,8 15 26,3 57 100
kurang sebanyak 14 orang (38,9%), dari 21 responden yang pengalaman kerjanya lama ternyata 16 orang (76,2%) pengetahuannya kurang.
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh antara pengalaman kerja terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar.
c. Hubungan Pendidikan dengan Pengetahuan VBAC Tabel 5.7
Hubungan Pendidikan Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Sumber Data Sekunder diolah Tahun 2013
Berdasarkan tabel 5.7 diatas diketahui bahwa dari 25 responden yang pendidikan berada pada kategori sedang ternyata pengetahuannya juga rendah sebanyak 9 orang (36,0%), dari 21 responden yang pendidikannya sedang ternyata pengetahuannya berada dalam katergori kurang sebanyaak 14 orang (66,7).
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,019 berarti ada pengaruh antara pendidikan terhadap pengetahuan tentang VBAC.
C. Pembahasan
1. Pengaruh informasi terhadap pengetahuan VBAC
Pendidikan Pengetahuan
Kurang Cukup Baik Total pvalue
f % f % f % F % 0,019 Tinggi 2 18,2 2 18,2 7 63,6 11 100 Sedang 9 36,0 10 40,0 6 24,0 25 100 Rendah 14 66,7 5 23,8 2 9,5 21 100 Total 25 43,9 17 29,8 15 26,3 57 100
Berdasarkan tabel 5.5 diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang informasinya sering ternyata pengetahuan berada dalam kategori kurang sebanyak 21 orang (58,3%), yang Informasinya jarang ternyata pengetahuannya berada dalam kategori kurang sebanyak 21 orang (58,3%). Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh antara informasi terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar.
Penelitian ini sesuai dengan teori likehood (2005), Informasi mempunyai manfaat dan peranan yang sangat dominan dalam suatu organisasi/perusahaan. Tanpa adanya suatu informasi dalam suatu organisasi, para manajer tidak dapat bekerja dengan efisien dan efektif. Tanpa tersedianya informasi pun para manajer tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat dan mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Sehingga bisa dibilang bahwa informasi merupakan sebuah keterangan yang bermanfaat untuk para pengambil keputusan dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Menurut hasil penelitian Ningsing (2006), faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan kinerja tenaga kesehatan di Rumah Sakit Bunda Kasih jawa timur, mengatakan ada pengaruh antara informasi dengan perkembangan kinerja tenaga kesehatan dengan p value 0,000. Peneliti berasumsi bahwa pendapat yang dikemukakan di atas sesuai dengan kenyataan karena pada saat peneliti melakukan penelitian,peneliti menemukan bahwa ada pengaruh informasi terhadap pengetahuan tentang
VBAC dimana banyak informasi yang di dapatkan dari pelatihan, internet, buku, koran, majalah dll oleh bidan di puskesmas kuta baro aceh besar.. 2. Pengaruh Pengalaman kerja terhadap pengetahuan VBAC
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang Pengalaman kerjanya dalam katergori baru ternyata pengetahuannya berada dalam kategori kurang sebanyak 14 orang (38,9%), dari 13 responden yang pengalaman kerjanya lama ternyata 16 orang (76,2%) pengetahuannya kurang.
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh antara pengalaman kerja terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar.
Penelitian ini sesuai dengan teori Nugroho (2008). Pengalaman kerja adalah suatu kejadian yang didasari oleh aktivitas yang menjadi rutinitas sehari – hari dalam melaksanakan tugas
Menurut penelitian setiobudi (2011), faktor kinerja dalam skiil tenaga kesehatan di puskesmas malang, mengatakan bahwa pengelaman kerja dapat mempengaruhi skiil seseorang dalam berorganisasi maupun pelayanan dengan p value 0,03.
Peneliti berasumsi bahwa pendapat yang dikemukakan di atas sesuai dengan kenyataan karena pada saat peneliti melakukan penelitian,peneliti menemukan bahwa ada pengaruh pengalaman kerja terhadap pengetahuan tentang VBAC karena banyak tenaga kesehatan yang sudah lama bekerja di puskesmas kuta baro aceh besar mengetahui tentang persalinan VBAC itu sendiri yaitu