• Tidak ada hasil yang ditemukan

P U T U S A N No. 783 K/Pid/2007 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G memeriksa perkara pidana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "P U T U S A N No. 783 K/Pid/2007 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G memeriksa perkara pidana"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

P U T U S A N No. 783 K/Pid/2007

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara pidana (anak/HAM/Tipikor) dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara Terdakwa :

Nama : BUDI PURWO UTOMO, SH. Bin SUGITO

JOEWONO ;

tempat lahir : Kediri ;

umur/tanggal lahir : 31 Tahun/4 Maret 1974 ;

jenis kelamin : Laki-laki ;

kebangsaan : Indonesia/Jawa ;

tempat tinggal : RT.02 RW.01, Desa Turus Kecamatan

Gampengrejo, Kabupaten Kediri ;

agama : Islam ;

pekerjaan : Tani ;

yang diajukan dimuka persidangan Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri karena didakwa :

Bahwa terdakwa Budi Purwo Utomo, SH. Bin Sugito Joewono pada hari dan tanggal yang sudah tidak dapat diingat lagi dengan pasti akan tetapi sekitar bulan Agustus 2004 atau pada suatu waktu setidak-tidaknya di dalam Tahun 2004 di rumah Jumidi Ds. Jabang, Kec. Kras, Kab. Kediri atau di suatu tempat setidak-tidaknya masih menjadi daerah hukum Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, terdakwa melakukan, menyuruh lakukan dan turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja melakukan sertifikasi tanpa ijin dalam hal melakukan pembenihan jagung varietas Bisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) UU RI No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman di mana perbuatan tersebut terdakwa lakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

− Pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut di atas terdakwa telah

menyuruh saksi Jumidi untuk menjadi koordinator penanaman benih jagung varietas unggul dengan memberikan/menyerahkan benih jagung jenis inhibrida jantan kurang lebih sebanyak 4 (empat) kilogram dan benih jagung jenis inhibrida betina kurang lebih sebanyak 11 (sebelas) kilogram untuk ditanam guna menghasilkan benih jagung varietas hibrida, yang dilakukan dengan cara saksi Jumidi mengkoordinir beberapa petani diantaranya saksi Kusen Bin Danuri di atas lahan seluas 250 Ru, saksi Dawam Bin Danuri di atas lahan seluas 80 Ru dan saksi Slamet Riyadi Bin

(2)

Tukiran di atas lahan seluas 80 Ru untuk memproduksi benih jagung varietas Bisi dengan cara menyediakan benih jagung induk jantan dan induk betina kepada para petani tersebut di atas yang awalnya berasal dari terdakwa, untuk ditanam dilahannya masing-masing dengan cara/teknik penanaman yaitu satu baris tanaman jagung jenis jantan dan empat baris jenis tanaman jagung betina, dan apabila pada saat masa bunga maka bunga pada tanaman jagung betina dicabut dan terjadi perkawinan silang selanjutnya setelah masa proses penyerbukan, tanaman jagung jenis jantan dibabat, hasil dari pembenihan dari para petani dengan cara-cara tersebut di atas dijanjikan akan dibeli oleh terdakwa melalui saksi Jumidi selaku Koordinator lapangan dengan harga Rp.1.500,- (seribu lima ratus rupiah) per-kilogram glondong basahnya, padahal cara pembenihan jagung dengan cara/teknik tersebut adalah milik PT. Benih Inti Subur Intani (BISI) yang telah mendapatkan hak Patent, dan sewaktu terdakwa menyuruh lakukan pembenihan jagung kepada para petani melalui saksi Jumidi tersebut tidak ada ijin dari Pejabat yang berwenang".

Perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 61 ayat (1) huruf b UU RI NO : 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman.

Mahkamah Agung tersebut ;

Membaca tuntutan pidana Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Kediri tanggal 4 Januari 2006 sebagai berikut :

1. Menyatakan terdakwa Budi Purwo Utomo, SH. Bin Sugito Joewono terbukti

secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Turut serta dengan sengaja melakukan sertifikasi tanpa ijin sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman sebagaimana dalam dakwaan.

2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama : 6

(enam) Bulan.

3. Menyatakan Barang Bukti berupa : Foto-foto lahan tanaman jagung milik

petani tetap terlampir dalam berkas perkara.

4. Menetapkan supaya terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar

Rp.1000,- (seribu rupiah).

Membaca putusan Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri No.

516/PID.B/2005/PN.Kdi. tanggal 2 Pebruari 2006 yang amar lengkapnya sebagai berikut :

(3)

− Menyatakan terdakwa BUDI PURWO UTOMO, SH. Bin SUGITO JOEWONO telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : Turut serta dengan sengaja melakukan Sertifikasi Tanpa Ijin.

− Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama : 6

(enam) bulan.

− Menetapkan terdakwa tidak perlu menjalani pidana tersebut kecuali apabila

dalam masa percobaan selama 1 (satu) tahun, terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana lain.

− Menyatakan barang bukti berupa : foto-foto lahan tanaman jagung milik

petani tetap terlampir dalam berkas perkara.

− Menetapkan supaya Terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar

Rp.1.000,- ( seribu rupiah ).

Membaca putusan Pengadilan Tinggi No.180/PID/2006/PT.SBY tanggal 16 Agustus 2006 yang amar lengkapnya sebagai berikut :

− Menerima permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum dan dari

Terdakwa tersebut di atas ;

− Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri tanggal 2

Pebruari 2006 No.516/Pid.B/2005/PN.Kdi. yang dimohonkan banding tersebut ;

− Membebankan Terdakwa untuk membayar biaya perkara dalam kedua

tingkat peradilan yang dalam tingkat banding ditetapkan sebesar Rp.2000,- (dua ribu rupiah) ;

Mengingat akan akta tentang permohonan kasasi No.

11/2006/516/Pid.B/2005/PN.Kdi. yang dibuat oleh Panitera pada Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri yang menerangkan, bahwa pada tanggal 27 Nopember 2006 Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Kediri mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut ;

Mengingat pula akan akta tentang permohonan kasasi No. 11/2006/516/Pid.B/2005/PN.Kdi. yang dibuat oleh Panitera pada Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri yang menerangkan, bahwa pada tanggal 27 Nopember 2006 Terdakwa mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut ;

Memperhatikan memori kasasi tanggal 5 Desember 2006 dari Jaksa/Penuntut Umum sebagai Pemohon Kasasi yang diterima di kepaniteraan Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri pada tanggal 7 Desember 2006 ;

(4)

Memperhatikan pula memori kasasi tanggal 9 Desember 2006 dari kuasa Terdakwa yang diajukan untuk dan atas nama terdakwa juga sebagai Pemohon Kasasi tersebut berdasarkan surat kuasa khusus bertanggal 26 Nopember 2006, memori kasasi mana telah diterima di kepaniteraan Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri pada tanggal 11 Desember 2006 ;

Membaca surat-surat yang bersangkutan ;

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Tinggi tersebut telah diberitahukan kepada Jaksa/Penuntut Umum pada tanggal 14 Nopember 2006 dan Jaksa/Penuntut Umum mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 27 Nopember 2006 serta memori kasasinya telah diterima di kepaniteraan Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri pada tanggal 7 Desember 2006 dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima ;

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Tinggi tersebut telah diberitahukan kepada terdakwa pada tanggal 14 Nopember 2006 dan Terdakwa mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 27 Nopember 2006 serta memori kasasinya telah diterima di kepaniteraan Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri pada tanggal 11 Desember 2006 dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima ;

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Jaksa/Penuntut Umum dan Terdakwa pada pokoknya sebagai berikut :

Alasan-alasan Jaksa/Penuntut Umum :

1. Bahwa Penuntut Umum sependapat dengan hasil pembuktian serta uraian

unsur sebagaimana yang telah diuraikan oleh Majelis Hakim yang menyidangkan perkara atas nama Terdakwa Budi Purwo Utomo pada Pengadilan tingkat pertama ;

2. Bahwa berdasarkan uraian tersebut seharusnya Majelis hakim sependapat

pula dengan tuntutan Penuntut Umum dengan mempertimbangkan bahwa tuntutan Penuntut Umum sudah sesuai dengan rasa keadilan dalam masyarakat, karena tuntutan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa penuntut umum mempunyai pedoman menggunakan putusan Majelis Hakim terdahulu sebagai Yurisprudensi bagi tolok ukur dalam menentukan tuntutan ;

(5)

3. Bahwa Majelis Hakim terdahulu telah menyatakan Jumidi Bin Karsomin bersalah melakukan tindak pidana melakukan Sertifikasi tanpa ijin, dimana putusan atas nama terdakwa Jumidi Bin Karsomin yang notabene masih berkaitan dengan perkara terdakwa Budi Purwo Utomo dimana terpidana Jumidi Bin Karsomin adalah orang yang melakukan tindak pidana yang sama dengan terdakwa karena atas perintah/petunjuk terdakwa dan telah diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri kabupaten Kediri dan dinyatakan bersalah serta dipidana selama 1 (satu) bulan penjara ;

4. Bahwa putusan yang menghukum selama satu bulan kepada orang yang

turut serta melakukan perbuatan pidana dan pelaku utama hanya diputus percobaan bagi kami sungguh suatu hal yang kurang memenuhi rasa keadilan karena hal tersebut hanya akan membuat suatu kesenjangan dan menimbulkan disparitas putusan, sehingga sejak awal penuntut umum telah menghindari disparitas dalam penuntutan ;

5. Bahwa dengan putusan yang terlalu ringan bagi terdakwa dapat

menimbulkan efek kriminogen bagi pelaku tindak pidana yang sama karena hal tersebut dilakukan oleh terdakwa maupun pelaku-pelaku yang lain, untuk mendapatkan suatu keuntungan dan dapat menimbulkan suatu efek jangka panjang menimbulkan kerugian negara karena bisa merusak pendistribusian penjualan bibit tanaman khususnya benih jagung secara liar tanpa ada jaminan mutu.

Dengan demikian Hakim Majelis Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri telah salah melakukan :

Tidak menerapkan atau menetapkan, peraturan hukum tidak

sebagaimana mestinya yakni dalam hal penjatuhan pidana yang kurang memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat.

Alasan-alasan Terdakwa :

I. Keberatan Pertama :

1. Bahwa dalam perkara Nomor: 516/Pid.B/2005/PN.Kdi a-quo surat

dakwaan Jaksa Penuntut Umum menguraian/mendalilkan bahwa "Terdakwa telah melakukan pembenihan jagung dengan cara/teknik milik PT.BISI yang telah mendapatkan hak paten..." (Vide Surat Dakwaan No.Reg.Perkara : PDM-800/KDIRI/0705 hal. 1 baris ke-28) ;

2. Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, maka adalah tidak tepat atau

keliru apabila Pemohon Kasasi/Terdakwa didakwa melakukan tindak pidana sertifikasi tanpa ijin sebagaimana diatur dalam pasal 55 Ayat

(6)

(1) Ke-1 KUHP Jo. Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budi Daya Tanaman ;

3. Bahwa terhadap dakwaan Jaksa Penuntut Umum a-quo, Pemohon

Kasasi/Terdakwa pada tanggal 27 September 2005 telah melakukan eksepsi/keberatan yang pada pokoknya menyatakan bahwa perkara paten adalah masuk dalam Kompetensi Absolut Pengadilan Niaga, maka dari itu Pengadilan yang berwenang menerima, memeriksa dan memutus perkara a-quo sesuai dengan Kompetensi Absolutnya adalah Pengadilan Niaga sebagaimana ditentukan dalam pasal 117 ayat 1 Undang-undang No.14 Tahun 2001 tentang Paten yang berbunyi "Jika suatu paten kepada pihak lain selain dari yang berhak berdasarkan pasal 10, pasal 11 dan pasal 12 pihak yang berhak atas paten tersebut dapat menggugat kepada Pengadilan Niaga " ;

4. Bahwa akan tetapi, Judex Factie dalam Putusan Selanya tertanggal

11 Oktober 2005 menyatakan menolak eksepsi/keberatan Pemohon Kasasi/Terdakwa ;

5. Bahwa seharusnya Judex Factie menerima keberatan dari Pemohon

Kasasi/Terdakwa dan menyatakan dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak dapat diterima NO (Niet Onvantkelijkverklaard), karena jelas Jaksa Penuntut Umum mendakwa Pemohon Kasasi/Terdakwa telah melakukan pelanggaran hak Paten ;

6. Bahwa berdasarkan hal tersebut kiranya dapat menjadi alasan bagi

Pemohon Kasasi/Terdakwa untuk mengajukan Permohonan Kasasi, bahwa Judex Factie telah salah dalam menerapkan hukumnya ;

II. Keberatan Kedua :

Bahwa Judex Factie telah menerapkan hukum tidak sebagaimana mestinya atau ada hukum yang tidak diterapkan. Judex Factie telah salah dalam mengartikan/memahami uraian unsur Sertifikasi tanpa Ijin dalam Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budi Daya Tanaman. Dan oleh karena itu salah pula terhadap penerapannya ke dalam kasus a-quo, sebagaimana ternyata berikut ini :

1. Bahwa Judex Factie yang telah menjatuhkan pidana 6 (enam) bulan

dalam masa percobaan 1 (satu) tahun karena Pemohon Kasasi/Terdakwa terbukti melakukan penangkaran benih jagung atau memproduksi benih jagung hibrida yang berkerjasama dengan saksi Jumidi, saksi Khusen, saksi Dawam dan saksi Slamet tersebut tanpa mendaftarkan terlebih dahulu kepada PT. BISI adalah merupakan

(7)

bagian dari kegiatan Sertifikasi Tanpa Ijin (Vide : Putusan Pengadilan Negeri Kab. Kediri Nomor : 516/Pid.B/2005/PN. Kdi hal. 34) ;

2. Bahwa dengan demikian Judex Factie telah

mengartikan/menyimpulkan bahwa penangkaran benih jagung atau memproduksi benih jagung tanpa ijin PT. BISI adalah merupakan bagian dari kegiatan Sertifikasi Tanpa Ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budi Daya Tanaman ;

3. Bahwa sesungguhnya pengertian Judex Factie mengenai Sertifikasi

Tanpa Ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budi Daya Tanaman yang demikian tersebut adalah salah ;

4. Bahwa ada beberapa hal jika kita menyatakan Pemohon

Kasasi/Terdakwa telah melakukan kegiatan Sertifikasi, yaitu:

− Benarkah Pemohon Kasasi/Terdakwa berniat menerbitkan

Sertifikat benih tanaman ?

− Benarkah Pemohon Kasasi/Terdakwa telah melakukan berbagai

upaya untuk mewujudkan niatnya menerbitkan Sertifikat benih tanaman, seperti misalnya mencetak formulir pendaftaran untuk memperoleh Sertifikasi, blanko sertifikat yang dimaksud, mencetak label benih tanaman dsb ?

− Benarkah Pemohon Kasasi/Terdakwa telah menyediakan atau

sekurang-kurangnya berupaya menyediakan semua perangkat yang dibutuhkan guna melakukan pemeriksaan dan pengujian atas benih-benih tanaman yang dimohonkan kepadanya oleh para Pemohon Sertifikat untuk diterbitkannya Sertifikat benih yang dimaksud ?

− Mengenai apakah dan siapakah yang berhak mengeluarkan ijin

yang dimaksud ?

Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dijawab dengan "Ya", maka boleh jadi Pemohon Kasasi/Terdakwa memang telah melakukan kegiatan Sertifikasi Tanpa Ijin. Padahal Judex Factie membuktikan bahwa Pemohon Kasasi/Terdakwa tidak melakukan hal-hal demikian itu ;

5. Bahwa Pengertian Sertifikasi yang benar adalah proses pemberian

sertifikat benih tanaman setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan serta memenuhi semua persyaratan untuk diedarkan

(8)

(Vide : pasal 1 poin 6 Undang-Undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman). Jadi dari pengertian Sertifikasi dalam pasal 1 poin 6 Undang-Undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman) tersebut unsur pokok dan terpenting dari Sertifikasi itu sendiri adalah pemberian Sertifikat benih tanaman. Adapaun pemberian Sertifikat benih tanaman tersebut setelah dilakukan atau didahului dengan beberapa tahapan diantaranya adalah :

a. Pemeriksaan ;

Pemeriksaan dalam penjelasan pasal 13 ayat 2 Undang-Undang No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman maupun dalam pasal 33 bagian kedua mengenai Sertifikasi Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995 tentang Pembenihan Tanaman, tahapan pemeriksaan dilaksanakan terhadap :

1. Kebenaran benih induk atau pohon sumber ;

2. Petanaman dan pertanaman ;

3. Isolasi tanaman agar tidak terjadi persilangan liar ;

4. Alat panen dan pengolahan lahan ;

5. Tercampurnya benih.

b. Pengujian

Adapun tahapan pengujian laboratorium dalam penjelasan pasal 13 poin 2 Undang-Undang No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman maupun dalam bagian kedua mengenai Sertifikasi pasal 33 Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995 tentang Pembenihan Tanaman adalah untuk menguji mutu benih yang meliputi mutu genetik, fisiologis dan fisik ;

c. Pengawasan

Pengawasan pemasangan label. Disini yang dimaksud label adalah keterangan teknis yang diberikan pada benih yang sudah dikemas yang akan diedarkan dan memuat antara lain : tempat asal benih, jenis dan varietas tanaman, kelas benih, data hasil uji laboratorium serta akhir masa edar benih.

Sedangkan pengawasan pemasangan label dalam pasal 35 Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995 tentang Pembenihan Tanaman adalah dilakukan oleh instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri dalam hal ini adalah instansi yang tugas dan fungsinya berkaitan dengan sertifikasi benih.

(9)

6. Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi yakni : saksi Sugian, Saksi Hadi Winarno, saksi Suryo dan saksi Triono Hardianto telah terbukti bahwa saksi-saksi tidak tahu atau melihat Pemohon Kasasi/Terdakwa melakukan kegiatan pemeriksaan, pengujian laboratorium dan pemasangan label serta pengeluaran sertifikat benih tanaman jagung. Sedangkan menurut saksi Jumidi, saksi Khusen, saksi Dawam dan saksi Slamet telah menerangkan bahwa Pemohon Kasasi/Terdakwa tidak pernah melakukan kegiatan pemeriksaan, pengujian laboratorium dan pemasangan label serta pengeluaran sertifikat benih tanaman jagung-tanaman jagung;

Oleh karena itu, Penasihat Hukum Pemohon Kasasi/Terdakwa yakin, yang dilakukan Pemohon Kasasi/Terdakwa memang bukan dalam konteks melakukan sertifikasi yang meliputi proses kegiatan pemeriksaan, pengujian laboratorium dan pemasangan label serta pengeluaran sertifikat benih. Di mana tahapan dari ruang lingkup tersebut harus dipenuhi Terdakwa untuk dapat dikatakan sebagai melakukan sertifikasi.

7. Bahwa dalam pasal 14 ayat 1 Undang-Undang No.12 Tahun 1992

tentang Sistem Budidaya Tanaman maupun dalam pasal 35 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995 tentang Pembenihan Tanaman, Sertifikasi dilakukan oleh Pemerintah dan dapat pula dilakukan oleh perorangan atau badan hukum berdasarkan ijin ;

8. Bahwa dalam pasal 35 ayat 4 Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun

1995 tentang Pembenihan Tanaman disebutkan pula bahwa pemberian ijin oleh Menteri kepada perorangan atau badan hukum untuk melakukan sertifikasi haruslah memenuhi persyaratan :

a. Memiliki tenaga yang terampil : yaitu sumber daya manusia yang

mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan kegiatan dalam proses sertifikasi atau pengujian laboratorium dan pengawasan pemasangan label.

b. Memiliki sarana pemeriksaan dan pengujian yang diperlukan :

yaitu sarana yang memadai berupa laboratorium yang lengkap dengan peralatannnya.

9. Bahwa berdasarkan keterangan saksi yang terbukti di persidangan

yakni saksi Jumidi, saksi Khusen, saksi Dawam dan saksi Slamet menerangkan tidak pernah disuruh oleh Pemohon Kasasi/Terdakwa ataupun melakukan sendiri proses sertifikasi atau pengujian

(10)

laboratorium guna menguji mutu genetika, fisiologi dan fisik jagung. Bahwa selain itu saksi Jumidi, saksi Khusen, saksi Dawam dan saksi

Slamet menerangkan tidak pernah disuruh oleh Pemohon

Kasasi/Terdakwa ataupun melakukan sendiri pemasangan label serta mencetak sertifikat benih ;

10. Bahwa selain itu ijin sebagaimana dimaksud pasal 14 ayat 1 Undang-Undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman maupun dalam pasal 35 ayat 2 Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995 tentang Pembenihan Tanaman adalah jika seseorang melakukan usaha sertifikasi tanaman. Sedangkan terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pemohon Kasasi/Terdakwa dalam perkara ini berdasarkan keterangan saksi Sugian, saksi Hadi Winarno, saksi Suryo dan saksi Triono Hardianto, saksi Jumidi, saksi Khusen, saksi Dawam dan saksi Slamet telah terbukti tidak melakukan kegiatan sertifikasi tanaman. Oleh karena itu, Kami Penasihat Hukum Pemohon Kasasi/Terdakwa berpendapat unsur "Tanpa Ijin" haruslah dinyatakan tidak terbukti ;

11. Bahwa berdasarkan Keterangan Ahli M. Najih di persidangan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Sertifikasi tanpa ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman adalah Badan Hukum atau Perseorangan yang tidak mempunyai kewenangan (ijin Menteri) telah mengeluarkan sertifikat benih tanaman. Sedangkan jika seseorang hanya menanam jagung saja tidak bisa dikatakan melakukan kegiatan sertifikasi tanpa ijin ;

12. Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Pengertian Sertifikasi Tanpa Ijin adalah dalam Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman adalah serangkaian kegiatan oleh Badan Hukum atau Perseorangan yang tidak mempunyai kewenangan (ijin Menteri) telah mengeluarkan sertifikat benih tanaman.

Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi dan keterangan ahli maka telah dapat dibuktikan bahwa kegiatan Pemohon Kasasi/Terdakwa yang hanya menanam jagung adalah tidak termasuk melakukan sertifikasi tanpa ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 Ayat (1) huruf b UU RI No. 12 tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman.

(11)

1. Bahwa dalam putusan Pengadilan Negeri Kab. Kediri Nomor : 516/Pid.B/2005/PN. Kdi tanggal 2 Pebruari 2005 telah menyinggung mengenai hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dari PT. BISI, sebagaimana dalam pertimbangan hukum Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kab. Kediri dalam halaman 33 yang isinya menyatakan sebagai berikut : "Menimbang bahwa hasil persilangan tanaman jagung FS 4 dan FS 9 menghasilkan jagung HIBRIDA BISI 2 yang merupakan jenis jagung unggul yang telah memperoleh sertifikasi dari Departemen Pertanian dan varietas tanaman jagungnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian/Pemerintah untuk diedarkan dan karenanya juga mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (Hak PVT) sesuai UU No. 29 Tahun 2000" ;

2. Bahwa pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kediri a-quo

adalah jelas menyesatkan dan sama sekali tidak berdasarkan fakta di persidangan. Sebagaimana telah dibuktikan dalam pemeriksaan perkara ini, yakni menurut saksi Sugian, saksi Hadi Winarno, saksi Suryo dan saksi Triono Hardianto menerangkan bahwa belum pernah melakukan tes laboratorium maupun penelitian secara genetis terhadap jagung yang ditanam oleh petani yakni : Jumidi, Khusen, Dawam dan Slamet dan mengenai Hak Perlindungan Varietas Tanaman (Hak PVT) saksi-saksi menyatakan saat ini PT. BISI belum mempunyainya. Sedangkan saksi Jumidi, saksi Khusen, saksi Dawam dan saksi Slamet menerangkan bahwa tidak tahu mengenai jenis jagung yang mereka tanam serta belum pernah melakukan tes laboratorium maupun penelitian secara genetis terhadap jagung yang mereka tanam dan mengenai Hak Perlindungan Varietas Tanaman (Hak PVT) saksi-saksi menyatakan tidak tahu. Oleh karenanya vonis Mejelis Hakim Pengadilan Negeri Kediri yang menyatakan terdakwa telah terbukti menanam jagung Fs 4 dan Fs 9 telah mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman adalah vonis yang sesat ;

3. Bahwa terhadap vonis tersebut pertanyaan kuasa hukum terdakwa

atas adalah, Pertama : dari manakah Hakim tahu bahwa jenis jagung yang ditanam oleh petani yakni : Jumidi, Khusen, Dawam dan Slamet adalah jagung Fs 4 dan Fs 9 milik PT. BISI, padahal menurut saksi-saksi belum pernah ada tes laboratorium maupun penelitian secara genetis terhadap jagung yang ditanam oleh petani yang hasilnya menunjukkan tanaman jagung tersebut adalah jenis Fs 4 dan Fs 9

(12)

milik PT BISI. Kedua : dari manakah dasar putusan Hakim yang menyatakan bahwa jagung Fs 4 dan Fs 9 telah mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (Hak PVT), padahal saksi Sugian, saksi Hadi Winarno, saksi Suryo dan saksi Triono Hardianto menyatakan saat ini PT. BISI belum mempunyai Hak Perlindungan Varietas Tanaman (Hak PVT). Sedangkan saksi Jumidi, saksi Khusen, saksi Dawam dan saksi Slamet menyatakan tidak tahu ;

4. Bahwa dalam perkara a-quo pelanggaran yang paling mungkin

didakwakan kepada Pemohon Kasasi/Terdakwa Budi Purwo Utomo adalah pelanggaran terhadap hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) yang dimiliki oleh PT. BISI yang dilindungi berdasarkan UU No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, namun sebelum memutuskan adanya pelanggaran hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) tersebut terlebih dahulu harus dibuktikan kepemilikan hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) berdasarkan tanda bukti hak Perlindungan varietas Tanaman (PVT) yang diterbitkan oleh Departemen Pertanian c.q Kantor Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), selain itu juga harus diuraikan dan dibuktikan dalam proses pengadilan tentang bagian mana dari hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) yang dilanggar oleh Pemohon Kasasi/T erdakwa ;

5. Bahwa dalam perkara a-quo jelas Judex Factie tidak menggunakan

UU No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman sebagai dasar untuk memutuskan adanya pelanggaran tersebut, akan tetapi Judex Factie menggunakan UU RI No. 12 tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman khususnya pasal 61 Ayat (1) huruf b tentang Sertifikasi Tanpa Ijin, yang justru merupakan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Pemohon Kasasi/Terdakwa ;

Menimbang, bahwa atas alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :

mengenai alasan-alasan Pemohon Kasasi I/Terdakwa :

bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat dibenarkan karena Judex Facti tidak salah dalam menerapkan hukum ;

mengenai alasan-alasan Pemohon Kasasi II/Jaksa Penuntut Umum :

bahwa alasan-alasan tersebut juga tidak dapat dibenarkan karena Judex Facti tidak salah dalam menerapkan hukum dan berat ringannya hukuman tidak tunduk pada kasasi ;

(13)

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata, putusan judex facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi dari Jaksa/Penuntut Umum dan Terdakwa tersebut harus ditolak ;

Menimbang, bahwa oleh karena Pemohon Kasasi/Terdakwa dipidana, maka harus dibebani untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini ;

Memperhatikan Undang-Undang No.4 tahun 2004, Undang-Undang No.8 tahun 1981 dan Undang-Undang No.14 tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2004 dan peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan ;

M E N G A D I L I

Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Kediri dan Terdakwa : BUDI PURWO UTOMO, SH. Bin SUGITO JOEWONO tersebut ;

Membebankan Pemohon Kasasi Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp.2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah) ;

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Selasa tanggal 29 Mei 2007 oleh DR. Harifin A. Tumpa, SH.,MH., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, I Made Tara, SH. dan Prof. DR. H. Muchsin, SH., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim anggota tersebut, dan dibantu oleh Edward Harris Sinaga, SH.,MH., Panitera Pengganti dan tidak dihadiri oleh Pemohon kasasi : Jaksa/Penuntut Umum dan Terdakwa.

Anggota-Anggota, Ketua,

ttd./I Made Tara, SH. ttd./DR. Harifin A. Tumpa, SH.,MH. ttd./Prof. DR. H. Muchsin, SH.

Panitera Pengganti :

ttd./Edward Harris Sinaga, SH.,MH. Untuk Salinan :

MAHKAMAH AGUNG RI a.n. Panitera,

Plt. Panitera Muda Perkara Pidana,

ZAROF RICAR, SH.,S.Sos.,M.Hum.

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa putusan Pengadilan Negeri Tarutung yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi, yang “tidak memutus” dan dalam pertimbangannya hanya memper- timbangkan secara sumir dan

Oleh karena itu Pengadilan Tinggi sependapat dengan pertimbangan Hakim Tingkat Pertama dalam putusannya bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah

• L/C adalah tidak termasuk dalam surat berharga dan bukan alat pembayaran, sehingga tidak dikenal dengan istilah ”didiskonto”. • Terdakwa Ir ISHAK menerima dana

sependapat dengan Hakim Pengadilan Tingkat pertama dalam putusannya, bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan

- Bahwa pada saat terdakwa kerada ditempat parkiran terdakwa melihat korban dan temannya keluar ruangan mengantar bubur keruangan rumah sakit, lalu dicegah oleh terdakwa

Bahwa untuk meyakinkan Majelis Hakim, Tergugat I menyampaikan referensi Yudisprudensi Tetap Perkara Kepailitan di mana “boedel pailit digugat oleh yang bukan

Pada awalnya terdakwa I dan terdakwa II datang ke rumah korban dengan maksud minta diberikan barang-barang dengan alasan akan dijual kembali di Girian dan

-Bahwa keberatan dari Terdakwa/Penasihat Hukum dalam point.2 juga menurut Hemat Majelis Hakim Tinggi Tindak pidana Korupsi tidak punya legal reasoning yang cukup kuat,