6 A. Tinjauan Pustaka
1. Kelelahan Kerja a. Definisi Kelelahan
1) Kelelahan Umum
Kelelahan diakibatkan oleh penumpukan asam laktat di otot-otot dan di dalam aliran darah. Akibat dari penumpukan asam laktat salah satunya adalah terjadinya penurunan kerja otot-otot, kemungkinan syaraf tepi dan sentral sehingga tubuh mudah merasa lemas dan lelah. (Setyawati,2010).
Kelelahan mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan. Gejala seseorang yang mengalami kelelahan ditandai dengan kondisi yang cenderung untuk mengantuk, 4L (letih, lelah, lesu dan lemah), tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan. Penyebab kelelahan selain dari penumpukan asam laktat yaitu kurangnya asupan yang diperlukan oleh tubuh seperti karbohidrat dan oksigen (Budiono dkk, 2003).
2) Kelelahan Kerja
Lelah (fatigue) merupakan suatu keadaan fisik dan mental yang mengakibatkan terjadinya penurunan daya kerja dan berkurangnya ketahanan tubuh untuk bekerja. Kelelahan ini mengakibatkan seseorang kehilangan kemauan untuk bekerja dikarenakan kondisi psikologisnya. Lelah yang berat mengakibatkan seseorang berhenti untuk bekerja dikarenakan seseorang tersebut tidak mampu lagi meneruskan pekerjaannya. Pekerja yang mengalami lelah dan tetap meneruskan pekerjaannya dapat mempengaruhi kelancaran pekerjaan dan berdampak buruk terhadap kesehatan tubuhnya. (Suma’mur 2013).
Kelelahan kerja dapat dialami oleh tenaga kerja pada semua jenis pekerjaan, baik jenis pekerjaan yang ringan maupun berat. Kelelahan kerja dapat mengakibatkan menurunnya kinerja seseorang dan menambah tingkat kesalahan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kelelahan kerja akan meningkat seiring dengan semakin lamanya seseorang melakukan pekerjaan dan dapat menurun apabila beristirahat dengan cukup (Nurmianto, 2004).
b. Jenis dan Gejala Kelelahan 1) Jenis kelelahan
a) Kelelahan Otot
Kelelahan otot yaitu terjadinya penurunan kinerja otot-otot dikarenakan tekanan melalui fisik pada waktu tertentu. Gejala kelelahan otot ditandai dengan tremor atau rasa nyeri yang terjadi di otot dan menyebabkan melemahnya kemampuan tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dan meningkatkan kemungkinan terjadi kesalahan dalam melakukan tugasnya sehigga terjadi kecelakaan kerja (Budiono dkk, 2003).
Kelelahan fisiologis atau kelelahan otot yaitu kelelahan pada susunan saraf pusat atau perifer (otot yang sedang bekerja).Kelelahan ini disebabkan oleh otot atau fisik karena beban yang berat yang dapat menimbulkan rasa nyeri atau tremor pada otot (Suma’mur, 2013).
b) Kelelahan Umum
Kelelahan umum yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan gairah, susah berkonsentrasi dan lesu untuk melakukan aktivitas. Kelelahan umum disebabkan oleh keadaan persarafan sentral atau kondisi psikis-psikologis (Suma’mur, 2013).
2) Gejala Kelelahan Kerja
Gambaran mengenai gejala kelelahan (fatigue) secara subjektif dan objektif antara lain menurut Budiono dkk (2003) :
a) Perasaan lesu, ngantuk dan pusing b) Tidak/kurang mampu berkonsentrasi c) Berkurangnya tingkat kewaspadaan d) Presepsi yang buruk dan lambat
e) Tidak ada/ berkurangnya gairah untuk bekerja f) Menurunnya kinerja jasmani dan rohani
Semua gejala di atas terutama ditunjukan dalam wujud keluhan psikosomatis, dimana terjadi gangguan fungsional organ dalam tubuh atau sirkulasi yang merupakan wujud eksternal, akibat konflik psikologis dan kesulitan-kesulitan lainnya. Bentuk umum dari gejala ini adalah sebagai berikut :
a) Sakit kepala
b) Perasaan pusing/mabuk c) Sulit tidur
d) Detak jatung tidak normal e) Keluar keringat secara berlebih f) Masalah pencernaan
Sama halnya dengan kelelahan umum munculnya tanda-tanda kelelahan psikosomatis diatas berpengaruh pula pada waktu-waktu absen dari pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab ketidakhadiran di tempat kerja karena yang bersangkutan membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak.
c. Penyebab dan Faktor yang mempengaruhi Kelelahan Kerja : 1) Penyebab Kelelahan Kerja
Penyabab terjadinya kelelahan kerja menurut sutalaksana dkk (1995):
a) Faktor fisiologis yaitu akumulasi dasi substansi toksin (asam laktat) dalam darah, penurunan waktu reaksi.
b) Faktor psikologi yaitu konflik yang mengakibatkan stress yang berkepanjangan ditandai dengan menurunnya prestasi kerja, rasa lelah.
Kontraksi otot rangka yang lama dan kuat, dimana proses metabolisme tidak mampu lagi meneruskan supply energi yang dibutuhkan serta membuang sisa metabolisme, khususnya asam laktat. Jika asam laktat yang banyak terkumpul, otot akan kehilangan kemampuannya. Terbatasnya aliran darah pada otot (ketika berkontraksi), otot menekan pembuluh darah dan membawa oksigen sehingga menyebabkan terjadinya kelelahan (Budiono dkk, 2003).
2) Faktor yang mampengaruhi Kelelahan Keja a) Faktor dari dalam Individu ( Faktor Internal )
(1) Usia
Usia mempengaruhi ketahanan tubuh dan kapasitas kerja seseorang yang berakibat pada kelelahan. Salah satu indikator dari kapasitas kerja adalah kekuatan otot
seseorang. Semakin tua umur seseorang, maka semakin menurun kekuatan ototnya. Kekuatan otot yang dipengaruhi oleh umur akan berakibat pada kemampuan fisik tenaga kerja untuk melakukan pekerjaannya. Laki-laki maupun wanita pada umur sekitar 20 tahun merupakan puncak dari kekuatan otot seseorang, dan pada umur sekitar 50 – 60 tahun kekuatan otot mulai menurun sekitar 15 – 25% (Setyowati dkk,2013).
(2) Jenis Kelamin
Perbedaan secara fisik antara jenis kelamin wanita dan laki-laki terletak pada ukuran tubuh dan kekuatan ototnya. Kekuatan otot wanita relatif kurang jika dibandingkan dengan kekuatan otot laki-laki. Kekuatan otot ini akan mempengaruhi kemampuan kerja seseorang yang merupakan penentu dari terjadinya kelelahan. Permasalahan wanita lebih kompleks dibandingkan laki-laki, salah satunya adalah haid. Wanita yang sedang mengalami haid cenderung cepat lelah dibandingkan wanita yang tidak mengalami haid (Suma’mur, 2013).
(3) Status Gizi
Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu ciri kesehatan yang baik, sehingga tenaga kerja yang produktif terwujud. Status gizi merupakan salah satu penyebab
kelelahan. Seorang tenaga kerja dengan keadaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh yang lebih baik, begitu juga sebaliknya(Budiono, dkk, 2003). Pada keadaan gizi buruk, dengan beban kerja berat akan mengganggu kerja dan menurunkan efisiensi dan ketahanan tubuhsehingga mudah terjangkit penyakit sehingga mempercepat timbulnya kelelahan. Status gizi seseorang dapat diketahui melalui nilai IMT (Indeks Massa Tubuh). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi seseorang khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. IMT dihitung dengan rumus berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (Supariasa, 2012) (4) Kondisi Psikologis
Kelelahan psikologis timbul dalam perasaan orang yang bersangkutan dan terlihat dengan tingkah lakunya atau pendapat-pendapatnya yang tidak konsekuen lagi serta jiwanya yang labil dengan adanya perubahan walaupun sendiri dalam kondisi lingkungan atau kondisi tubuhnya. (5) Status Kesehatan
Status kesehatan mempengaruhi kelelahan dikarenakan kondisi tenaga kerja yang tidak dalam keadaan sehat dapat mempengaruhi terjadi kelelahan kerja. hal ini
juga dapat dilihat dari riwayat penyakit yang diderita oleh seseoorang. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan kelelahan:
(a) Penyakit jantung
Kerja fisik yang sangat berat merupakan kondisi yang sangat menegangkan yang harus dihadapi oleh sistem sirkulasi normal. Hal ini karena pada beberapa kondisi, aliran darah yang melalui otot dapat meningkat lebih dari 20 kali lipat. Kenaikan dari aliran darah ini juga dapat meningkatkan aktivitas jantung lebih dari normal. Kenaikan aliran darah ini salah satunya adalah dikarenakan berkurangnya O2 dalam jaringan otot (Guyton, 1997). Kekurangan O2 yang berkurang secara cepat memungkinkan terjadi metabolisme anaerobik dimana akan menghasilkan asam laktat yang mempercepat kelelahan (Santoso, 2004).
(b) Hipertensi.
Hipertensi adalah suatu penyakit dimana salah satu penyebabnya adalah karena tekanan tinggi pada arteri sehingga arteri kehilangan kelenturannya untuk mengembang dan menyempit sehingga terjadi penyumbatan dan mengganggu peredaran darah (Gunawan,2001). Terbatasnya aliran darah pada otot
(ketika berkontraksi), otot menekan pembuluh darah dan membawa O2 memungkinkan terjadinya kelelahan ( Gunawan, 2001).
(c) Penyakit ginjal
Pengaruh kerja terhadap faal ginjal terutama dihubungkan dengan pekerjaan yang perlu mengerahkan tenaga dan yang dilakukan dalam cuaca kerja panas. Kedua-duanya mengurangi peredaran darah ke ginjal dengan akibat gangguan penyediaan zat–zat yang diperlukan oleh ginjal (Suma’mur, 2009). b) Faktor dari luar Individu ( Faktor Eksternal )
(1) Kondisi Lingkungan tempat kerja
Lingkungan kerja yang buruk dapat mempengaruhi kelelahan seseorang. Lingkungan kerja yang panas (> 26,7○C) dan kebisingan (> 85 dB) merupakan beban tambahan tenaga kerja yang dapat mempengaruhi tingkat ketelitian atau konsentrasi seseorang dalam melakukan aktivitasnya dan dapat menyebabkan gangguan psikis seseorang misalnya susah tidur atau kurang istitiraha sehingga berdampak pada peningkatan kelelahan (Setyowati dkk, 2014).
Menurut Santosa (2012) faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja dibagi menjadi 3 :
(a) Faktor fisik yaitu faktor fisik yang ada di lingkungan kerja seperti : bising, getaran, pencahayaan, radiasi, dan tekanan panas.
(b) Faktor kimia, yaitu bahan baku atau pembantu yang prosesnya menggunkan bahan kimia seperti gas-gas berbahaya, larutan kimia, limbah, dal lain-lain.
(c) Faktor Biologi, yaitu faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah kesehatan atau penyakit akibat kerja, faktor-faktor tersebut dapa berada sendiri atau bersama-sama dengan faktor-faktor bahaya lainnya seperti : bakteri, virus, jamur, parasit, binatang, dan tanaman. (2) Beban Kerja fisik
Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungan dengan beban kerja. Mungkin diantara mereka lebih cocok untuk beban fisik, atau mental, atau sosial. Namun sebagai persamaan yang umum, mereka hanya mampu memikul beban pada suatu berat tertentu. Bahkan ada beban yang dirasa optimal bagi seseorang. Inilah maksud penempatan seorang tenaga kerja yang tepat padapekerjaan yang tepat. Derajat tepat suatu penempatan meliputi kecocokan, pengalaman, ketrampilan, motivasi dan lain sebagainya (Suma’mur, 2009).
Begitu juga dengan oksigen, bahwa setiap individu mempunyai keterbatasan maksimum untuk oksigen yang dikonsumsi. Semakin meningkatnya beban kerja, maka konsumsi oksigen akan meningkat secara proporsional sampai didapat kondisi maksimumnya. Beban kerja yang lebih tinggi yang tidak dapat dilaksanakan dalam kondisi aerobik, disebabkan oleh kandungan oksigen yang tidak mencukupi untuk suatu proses aerobik. Akibatnya adalah manifestasi rasa lelah yang ditandai dengan meningkatrnya kandungan asam laktat (Eko Nurmianto, 2004).
d. Pengukuran Kelelahan
Menurut setyawati (2010) ada beberapa pengukuran kelelahan kerja antara lain:
1) Reaction Timer L77 Lakassidaya
Uji waktu reaksi ternyata stimuli terhadap cahaya lebih signifikan daripada stimuli suara. Hal tersebut disebabkan karena stimuli suara lebih cepat diterima oleh reseptor daripada stimuli cahaya.
Hasil penelitian yang dilakukan Setyawati (2010) tingkat kelelahan diklasifikasikan berdasarkan waktu reaksi yang diukur dengan reaction timeryaitu:
(b) Kelelahan kerja ringan dengan waktu reaksi 240,0< x < 410,0 milidetik.
(c) Kelelahan kerja sedang dengan waktu reaksi 410,0< x < 580,0 milidetik.
(d) Kelelahan kerja berat dengan waktu reaksi > 580,0 milidetik. 2) Uji Finger-tanpping (uji ketuk jari)
Mengukur kecepatan maksimal mengetukkan jari tangan dalam suatu periode waktu tertentu.
3) UjiFlicker-fusion
Pengukuran terhadap kecepatan berkelipnya cahaya (lampu) yang secara bertahap ditingkatkan sampai kecepatan tertentu sehingga cahaya tampak berbaur sebagai cahaya yang kontinyu.
4) Skala Kelelahan Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Skala IFRC yang didesain untuk pekerja dengan budaya Jepang ini merupakan ngket yang mengandung tiga puluh macam perasaan kelelahan.
e. Pengendalian Kelelahan Kerja
Menurut Setyawati (2010) kelelahan dapat dikurangi melalui program penanggulangan kelelahan kerja dengan kegiatan promosi kesehatan, pencegahan kelelahan kerja, pengobatan kelelahan kerja dan rehabilitasi kelelahan kerja.
Promosi kesehatan dalam pelaksanaannya dapat bekerjasama dengan berbagai pihak misalnya departemen tenaga kerja, deprtemen kesehatan, departemen perindustrian dan pihak-pihak lain baik dalam pemerintahan maupun pihak-pihak swasta seperti media masa dan organisasi pekerja. Promosi kesehatan dalam program penanggulangan kelelahan ini dapat dilakukan dengan penyuluhan kepada tenga kerja atau pedagang. Materi penyuluhan tentang kelelahan kerja, faktor-faktor penyebabnya, dampak dan cara pencegahan terjadinya kelelahan (Setyawati, 2010).
2) Pencegahan Kelelahan Kerja
Pencegahan kelelahan dapat dilakukan dengan cara menciptakan suasana lingkungan kerja yang sehat, aman dan nyaman bagi tenaga kerja, tidak menciptakan dan menghindarkan stres buatan manusia (Budiono dkk, 2003).
3) Pengobatan Kelelahan Kerja
Pengobatan kelelahan kerja dapat dilakukan dengan meminum vitamin atau obat-obatan yang berfungsi untuk memulihkan tenaga seseorang, perbaikan lingkungan kerja, mengupayakan sikap kerja dan menggunakan alat kerja yang ergonomis, penyuluhan mental dan bimbingan mental (Setyawati, 2010).
4) Rehabilitasi Kelelahan kerja
Upaya rehabilitasi kelelahan dilakukan dengan melanjutkan tindakan dan pengobatan kelelahan kerja serta membangun semangat tenaga kerja (Setyawati, 2010).
2. Kebisingan
a. Definisi dan sumber Kesbisingan
Bunyi atau suara didengar sebagai rangsangan pada sel saraf pendengar dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan getaran dari sumber bunyi atau suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara atau penghantar lainya, dan manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki oleh karena mengganggu atau timbul diluar kemauan orang yang bersangkutan, maka bunyi-bunyian atau suara yang keberadaanya tidak dikehendaki (noise is unwanted sound). Dalam rangka perlindungan kesehatan tenaga kerja kebisingan diartikan sebagai semua suara/bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Suma’mur, 2009).
Menurut Dirjen PPM dan PL., DEPKES & KESSOS RI.Tahun (2000) sumber kebisingan dibedakan menjadi:
1) Bising Industri
Industri besar termasuk didalamnya pabrik, bengkel dan sejenisnya. Bising industri dapat dirasakan oleh karyawan maupun masyarakat disekitar industri.
2) Bising Rumah Tangga
Umumnya disebabkan oleh alat-alat rumah tangga dan tidak terlalu tinggi tingkat kebisingannya.
3) Bising Spesifik
Bising yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan khusus, misalnya pemasangan tiang pancang tol atau bangunan.
b. Jenis Kebisingan
Macam-macam Kebisingan yang sering dijumpai, yaitu (Suma’mur, 2009):
1) Kebisingan menetap berkelanjutan tanpa putus-putus dengan spektrum frekuensi yang lebar (steady state, wide band noise), misalnya bising mesin, kipas angin, dapur pijar, dan lain-lain. 2) Kebisingan menetap berkelanjutan dengan spektrum frekuensi
tipis (steady state, narrow band noise), misalnya: bising gergaji sirkuler, katup gas, dan lain-lain.
3) Kebisingan terputus-putus (intermittent noise), misalnya bising lalu-lintas, suara kapal terbang.
4) Kebisingan impulsive (impact or impulsive noise), misalnya seperti bising pukulan palu, tembakan bedil atau meriam, dan ledakan.
5) Kebisingan impulsive berulang, misalnya bising mesin tempa di perusahaan atau tempaan tiang pancang bangunan.
c. Dampak Kebisingan
1) Audiometi yaitu system atau alat yang digunakan untuk mengukur tingkat pendengaran manusia.
a) Trauma Accoustic
Adalah kerusakan pendengaran akibat suara yang sangat keras dalam waktu yang sangat singkat yang dapat megakibatkan patahnya tulang pendengaran dan sobeknya membran tymphani.
(1) Temporary Threshold shift ( TTS)/ tuli sementara.
Adalah tuli sementara akibat seseorang memasuki tempat yang bising. Seseorang dapat pulih kembali apabila tidak berada di tempat bising ± 16 jam.
(2) Permanent Therhold Shift (PTS)/ Tuli Permanen.
Penurunan tajam pendengaran akibat seseorang memasuki tempat bising yang melebihi NAB (terpapar) selama ± 5 jam.
2) Non Audiometri a) Kelelahan kerja
Lingkungan kerja yang buruk dapat mempengaruhi kelelahan seseorang. Lingkungan kerjayang bising (> 85 dB) merupakan beban tambahan tenaga kerja yang dapat mempengaruhi tingkat ketelitian atau konsentrasi seseorang dalam melakukan aktivitasnya dan dapat menyebabkan gangguan psikis seseorang misalnya susah tidur atau kurang istitiraha sehingga berdampak pada peningkatan kelelahan (Setyowati dkk, 2014).
Kebisingan menganggu perhatian yang perlu terus-menerus dicurahkan kepada kepada pelaksanaan pekerjaan dan juga pencapian hasil kerja yang sebaik-baiknya. Maka dari itu tenaga kerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap suatu proses produksi atau hasilnya dapat membuat kesalahan-kesalahan akibat dari terganggunya konsentrasi dan kurang fokusnya perhatian.
b) Meningkatkan tekanan darah
Kebisingan dapat menyebabkan detak jantung semakin cepat, meningkatkan tekanan darah dan penyempitan nadi yang menunjukkan adanya perubahan fungsi faal (Triyunita,2013)
d. Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan
Nilai Ambang Batas (NAB) adalah standart faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaannya sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Menurut Permenakertrans RI No. PER.13/MEN/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, NAB kebisingan adalah sebagai berikut:
Tabel 1.Nilai Ambang Batas Kebisingan
Waktu Pemaparan Per Hari Intensitas Kebisingan (dB) 8 4 2 1 30 15 7,5 3,75 1,88 0,94 Jam Menit 85 88 91 94 97 100 103 106 109 112 Bersambung
28,12 14,06 7,03 3,52 1,76 0,88 0,44 0,22 0,11 Detik 115 118 121 124 127 130 133 136 139 Sumber: Permenakertrans RI No. PER.13/MEN/2011 e. Pengukuran Kebisingan
Alat utama pengukuran kebisingan adalah sound level meter. Alat ini mengukur kebisingan diantara 30-130 dB dan frekuensi 20-20.000 Hz. Suatu sistem kalibrasi terdapat dalam suatu alat itu sendiri, kecuali untuk kalibrasi mikrofon diperlukan pengcheckan dengan kalibrasi tersendiri. Sebagai alat kalibrasi dapat dipakai pengeras suara yang kekuatan suaranya diatur oleh amplifier. Atau suatu piston phone dibuat untuk maksud kalibrasi tersebut, yang tergantung dari tekanan udara, sehingga perlu koreksi berdasarkan atas perbedaan barometer. Kalibrator dengan intensitas tinggi 125 dB lebih disukai, oleh karena alat pengukur intensitas kebisingan demikian mungkin dipakai untuk mengukur kebisingan yang intensitasnya tinggi.
Analisa frekuensi terhadap suatu kebisingan biasanya diperlukan dan hal ini dilakukan dengan meggunakan alat octave band analyzer, yang memiliki sejumlah saringan (filter) berdasar oktaf. Jika spektrumnya sangat curam dan kandungan frekuensinya berbeda banyak, dapat dipakai skala 1/3 oktaf.
Untuk analisis kebisingan lebih lanjut dapat dipakai narrow band analyzer ( alat analisis spektrum tipis )baik latar spektrumnya tetap misalnya 2-200 Hz atau melebar dengan lebih banyaknya frekuensi. Yang terakhir ini lebih disenangi di lapangan, mengingat komponen frekuensi kebisingan mungkin berbeda tergantung dari frekuensi sumber kebisingan antara lain bisingnya suara beraneka mesin yang dioperasikan dalam proses produksi.
Sound Level Meter digunakan untuk mengukur intensitas kebisingan yang ada di tempat kerja. Cara penggunaan alat adalah : 1) Hidupkan alat dengan menekan tombol power
2) Pilih frequency weighting dengan menekan tombol A/ C a) Weighting net work A
Respon manusia untuk tingkat suara yang rendah (human response for low levels), untuk kebisingan lingkungan, tempat kerja.
c) Respon manusia untuk tingkat suara yang tinggi (human response for high sound levels),untuk diagnosis kerusakan pada perangkat listrik, elektronik dan mekanik.
3) Pilih fast atauslow dengan menekan tombol F/ S
4) Tekan tombol “rec” untuk merekam hasil pengukuran. Tekan tombol “rec’ lagi untuk melihat nilai “max” atau nilai tetrtinggi saat pengukuran dilakukan. Tekan tombol “rec” lagi untuk ”min” atau nilai terendah saat pengukuran dilakukan. Untuk menghentikan perekaman,tekan tombol “rec” sampai indikator “rec” di layar hilang.
5) Mencatat hasil pengukuran. f. Pengendalian Kebisingan
Menurut Budiono dkk (2003) Pengendalian kebisingan dapat dilakukan dengan :
1) Pengendalian primer
a) Pengendalian secara Teknis
(1) Mengubah cara kerja dari yang menimbulkan bising menjadi berkurang suara yang menimbulkan bisingnya. (2) Menggunkan penyekat dinding dan langit-langit yang
kedap suara.
(3) Mengisolasi mesin-mesin yang menjadi sumber kebisingan. Meisn/alat didesain sedemikian hingga suara
bising tidak seluruhnya mengenai pekerja. Pemasangan kaca membuat pekerja dapat tetap bekerja.
(4) Subtitusi mesin yang bising dengan mesin yang kurang bising.
(5) Menggunkan fondasi mesin yang baik agar tidak ada sambungan yang goyang, dan mengganti bagian-bagian logam dengan karet.
(6) Modifikasi mesin atau proses.
(7) Merawat mesin dengan alat secara teratur dan periodik sehingga dapat mengurangi suara bising.
b) Pengendalian secara Administratif
(1) Pengadaan ruang control pada bagian tertentu misalnya : bagian diesel. Tenaga kerja di bagian tersebut hanya melihat dari ruang berkaca yang kedap suara dan sesekali memasuki ruang yang bising dalam waktu yang telah ditentukan dan menggunakan APD.
(2) Pengaturan jam Kerja disesuaikan NAB yang ada. c) Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Merupakan alternatif terakhir bila pengendalian yang lain tela dilakukan. tenaga kerja dilengkapi dengan sumbat telinga (ear plug) atau tutup telinga (ear muff) disesuaikan dengan jenis pekerjaan, kondisi dan penurunan intensitas kebisingan yang diharapkan.
2) Pengendalian Sekunder
a) Pengendalian secara Medis
Pemeriksaan audiometri sebaiknya dilakukan pada saat awal masuk kerja secara periodik, secara khusus pada akhir masa kerja.
b) Pengendalian Tersier
Dirujuk langsung ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis secara langsung.
3. Status Gizi
a. Definisi Status Gizi
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai konsidi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat di dalam tubuh. Status gizi dibagi menjadi 3 kategori yaitu status gizi kurang, normal dan gizi lebih (Almatsier,2009).
Setiap orang dalam siklus hidupnya selalu membutuhkan dan mengkonsumsi berbagai macam bahan makanan. Zat gizi yaitu zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi tadi, mempunyai nilai yang sangat penting ( tergantung dari macam-macam bahan makanannya). Manfaat zat makanan yaitu untuk :
1) Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan, terutama bagi mereka yang masih dalam masa pertumbuhan.
Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan yaitu sebagai pengganti sel-sel yang rusak sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menajda keseimbangan cairan dalam tubuh ). Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi.
Nilai yang sangat penting dari bahan makanan atau zat makanan bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik serta perolehan energi guna melakukan kegiatan sehari-hari seperti yang dikemukakan di atas tergantung dari keadaan dan macam-macam bahan makananya. Kadar zat makanan (gizi) pada setiap bahan makanan memang tidak sama, ada yang rendah adapula yang tinggi, karena itu dengan memperhatikan empat sehat lima sepurna yang selalu dianjurkan, setiap bahan makanan akan saling melengkapi zat makanan/gizinya yang selalu dibutuhkan tubuh manusia guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik serta energi yang cukup guna melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Zat makanan (gizi) yang diperlukan tubuh manusia ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan adapula yang berasal dari hewan.
Tabel 2.1 Kebutuhan Kalori tenaga kerja dalam 1 hari Jenis pekerjaan Tenaga kerja
Laki-laki Perempuan
Ringan 2400 kal 2000 kal
Sedang 2600 kal 2400 kal
Berat 3000 kal 2600 kal
Sumber : Budiono (2003) b. Faktor yang mempengaruhi status gizi
Kebutuhan gizi setiap orang berbeda satu sama lainya dan sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu:
1) Ukuran tubuh
Semakin besar ukuran tubuh seseorang , semakin besar pula kalori yang dibutuhkan meskipun jenis kelamin, usia dan aktivitas yang dilakukan sama.
2) Usia
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan msalah penting, karena selain mempunyai resiko-resiko penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan ideal. 3) Jenis kelamin
Laki-laki umumnya membutuhkan relatif lebih banyak kalori dibanding dengan wanita. Hal ini karena secara fisiologis laki-laki mempunyai lebih banyak otot dan juga lebih aktif, sehingga secara kodrati pria diciptakan untuk tampil lebih aktif
dan kuat dari pada wanita. Pria lebih sanggup melaksanakan pekerjaan yang lebih berat lainya seperti mengangkat karung beras di pasar atau pelabuhan. Sedangkan kegiatan wanita pada umumnya lebih banyak membutuhkan ketrampilan tangan.
4) Aktivitas pekerjaan yang dilakukan
Pekerjaan berat akan membutuhkan kalori dan protein lebih besar dari pada mereka yang bekerja sedang dan ringan. Besarnya kebutuhan kalori tergantung banyaknya otot yang dipergunakan untuk bekerja serta lamanya penggunaan otot tersebut. Disamping itu protein yang digunakan juga lebih tinggi dari normal. Karena harus mengganti jaringan baru yang lebih banyak dari pada keadaan biasa untuk mempertahankan agar tubuh dapat bekerja secara normal
5) Kondisi tubuh tertentu
Pada orang yang baru sembuh dari sakit akan membutuhkan lebih banyak kalori dan zat gizi lainya dari pada sebelum sakit. Penambahan zat gizi tersebut diperlukan untuk rehabilitas kembali sel tubuh yang rusak selam sakit.
6) Kondisi lingkungan
Pada musim hujan membutuhkan lebih banyak kalori dibanding dengan musim panas. Demikian pula pada tempat yang dingin lebih tinggi dari pada tempat 20 pada suhu panas. Dimana
tambahan kalori pada tempat dingin diperlukan untuk mempertahan suhu tubuh.
c. Dampak kekurangan gizi bagi tubuh
Konsumsi makan berpengaruh terhadap status gizi seseorang.Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.Status gizi kurang terjadi apabila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat esensial.Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan sehingga menimbulkan efek toksik atau membahayakan. Akibat gizi kurang pada proses tubuh bergantung pada zat-zat gizi apa yang kurang. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kuantitas dan kualitas) menyebabkan gangguan pada proses-proses seperti pertumbuhan tidak optimal, produksi tenaga kurang untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktivitas, pertahanan tubuh menurun, terganggunya fungsi otak dan perilaku yang tidak tenang. (Almatsier, 2009)
Gizi lebih dapat menyebabkam kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi yang dikonsumsi disimpan di dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan salah satu fsktor resiko dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi atau tekanan
darah tinggi, penyakit-penyakit diabetes, jantung koroner, hati dan kantung empedu (Almatsier,2009)
d. Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi tujuh penilaian yaitu:
1) Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan barbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Menurut Depkes RI (2009), antropometri merupakan metode yang paling sering digunakan dalam penilaian status gizi. Cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa berumur >18 tahun serta tidak dapat diterapkan pada wanita hamil.Metode ini menggunakan parameter berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).Melalui kedua parameter tersebut, dapat dilakukan penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Penilaian berdasarkan IMT adalah untuk mengetahui status gizi orang dewasa berusia 18 tahun atau lebih yaitu dengan pengukuran berat dan tinggi badan.
Dari perhitungan IMT, dilakukan penilaian status gizi dengan klasifikasi sebagai berikut :
Tabel 2.2. status gizi berdasarkan perhitungan indeks masa tubuh
IMT Status gizi Kategori
< 17.0 Gizi Kurang Kurus
18.5 – 24.9 Gizi Baik Normal
>25 Gizi Lebih Gemuk
Sumber : Depkes Depkes RI. Pedoman Kecukupan Gizi Pekerja Selama Bekerja. Direktorat Bina Kesehatan Kerja (2009).
2) Pemeriksaan Klinis
Metode ini sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat, metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jarinagn epitel seperti: kulit, rambut, mata dan mukosa oral.
3) Pemerikasaan Biokimia
Pemeriksaan laboratorium (biokimia), dilakaukan melalui pemeriksaan spesimen jaringan tubuh (darah, urin, tinja, hati dan otot) yang diuji secara 21 laboratoris terutama untuk mengetahui kadar hemoglobin, feritin, glukosa, dan kolesterol. Pemerikaan biokimia bertujuan mengetahui kekurangan gizi spesifik (Irianto, 2007)
4) Pemeriksaan Biofisik
Pemeriksaan dilakukan dengan melihat kemampuan fungsi serta perubahan struktur jaringan. Pemerikasaan biofisik
bertujuan mengetahui situasi tertentu, misalnya pada orang yang buta senta (Irianto, 2007)
5) Survei konsusmsi makanan
Survei konsusmsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi oleh individu. Pengumpilan data survai konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai makanan yang mengandung zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survai konsumsi makanan dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.
6) Statistik vital
Pemerikasaan dilakukan dengan menganalisis data kesehatan seperti angka kematian, angka kesakitan dan kematian akibat hal yang berhubungan dengan gizi. Pemeriksaan ini bertujuan menemukan indikator tidak langsung status gizi masyarakat
4. Hubungan Kebisingan dan Kelelahan Kerja
Suara dari lingkungan akan diterima daun telinga dan liang telinga yang merupakan bagian telinga luar. Semua bunyi yang mencapai telinga kita sebenarnya merupakan tenaga suatu gelombang suara. Selanjutnya gelombang suara akan menggetarkan gendang telinga (membrane tympani) yang merupakan selaput tipis dan transparan. Selanjutnya getaran-tersebut mulai sampai ke telinga tengah yang berisi
tulang-tulang pendengaran. Tulang tersebut antara lain tulang-tulang malleus, incus dan stapes.Sebagian tulang malleus melekat pada sisi dalam gendang telinga dan akan bergetar bila membran tympani bergetar. Tulang stapes berhubugan dengan selaput oval window (tingkat oval) yaitu telinga bagian dalam. Karena ketiga tulang pendengaran saling bersendi satu sama lain maka akan menjembatani getaran dari gendang telinga, memperkeras dan menyampaikan ke telinga dalam(Watson, 2002).
Suara yang terlalu bising dan berlangsung lama dapat menimbulkan stimulasi daerah di dekat area penerimaan pendengaran primer yang akan menyebabkan sensasi suara gemuruh dan berdenging (suma’mur,2009)
Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala. Hal ini disebabkan bising dapat merangsang situasi vestibular dalam telinga dalam yang akan menimbulkan efek pusing/vertigo. Perasaan mual, susah tidur dan sesak napas disebabkan oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ dan keseimbangan elektrolit. Melalui makanisme hormonal adrenalin, yang dapat meningkatkan frekuensi detak jantung dan tekanan darah.
Suara yang terlalu bising dan berlangsung lama dapat menimbulkan stimulasi daerah di dekat area penerimaan pendengaran primer yang akan menyebabkan sensasi suara gemuruh dan berdenging. Timbulnya sensasi suara ini akan menyebabkan pula stimulasi nucleus ventralateralis thalamus yang akan menimbulkan inhibisi implus dari
umparan otot (musclespindle) dengan kata lain akan menggerakkan atau menguatkan system inhibisi atau penghambat yang berada pada thalamus (Chusid, J. G, 1992).
Konsep kelelahan merupakan hasil penelitian terhadap manusia. Konsep tersebut menyatakan bahwa keadaan dan perasaan lelah adalah reaksi fungsional pusat kesadaran yaitu otak (cortex cerebri), yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonisis yaitu sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Sistem penghambat bekerja terhadap thalamus yang mampu menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan menyebabkan kecenderungan untuk tidur. Adapun sistem penggerak terdapat dalam formasio retikularis (formatio reticularis) yang dapat merangsang pusat vegetatif untuk konversi ergrotopis dari organ dalam tubuh ke arah kegiatan bekerja. Maka berdasarkan konsep tersebut, keadaan seseorang pada suatu saat sangat tergantung kepada hasil kerja antara dua sistem antagonistis yang dimaksud. Apabila sistem penghambat berada pada posisi lebih kuat daripada system penggerak, berarti seseorang berada dalam kondisi lelah. Sebaliknya, jika sistem penggerak lebih kuat dari sistem penghambat, maka seseorang berada dalam keadaan bugar untuk aktif dalam kegiatan termasuk bekerja. Konsep ini dapat dipakai untuk menerangkan peristiwa yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan. Misalnya pada peristiwa dimana seseorang yang lelah kemudian secara tiba-tiba kelelahannya hilang karena terjadi suatu peristiwa yang tidak diduga atau terjadi tegangan emosi. Dalam hal itu, sistem penggerak
tiba-tiba terangsang dan dapat menghilangkan pengaruh dari sistem penghambat. Demikian pula pada peristiwa monotoni, kelelahan terjadi karena kuatnya hambatan dari sistem penghambat, walaupun sebenarnya beban kerja tidak terlalu berat (Suma’mur, 2009).
5. Hubungan Status Gizi dengan Kelelahan Kerja
Manusia yang sehat dan mendapatkan makanan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya maka akan memiliki kemampuan yang maksimal dalam menjalani hidupnya. Kemampuan maksimal ini disebutkan kapasitas kerja orang dewasa. Namun apabila energi yang diperoleh dari makanan tidak cukup, maka orang akan bekerja dibawah kapasitas kerja seharusnya. Secara keseluruhan kandungan energi yang rendah dalam makanan akan membawa dampak berupa penurunan kegiatan otot, efisiensi kerja otot rendah dan lama waktu bekerja berkurang. Dengan adanya gangguan ini maka kapasitas kerja secara keseluruhan menjadi berkurang dan keadaan ini tentunya akan menyebabkan penurunan produktivitas kerja (Moehji, 2003).
Makanan yang mengandung glikogen mengalir dalam tubuh melalui peredaran darah. Setiap kontraksi dari otot selalu diikuti reaksi kimia (oksidasi glukosa) yang merubah glikogen tersebut menjadi tenaga, panas dan asam laktat (produk sisa). Dalam tubuh dikenal fase pemulihan yaitu suatu proses untuk merubah asam laktat menjadi glikogen kembali dengan adanya oksigen dari pernafasan sehingga memungkinkan otot-otot bisa bergerak secara kontinu dan keseimbangan kerja bisa dicapai dengan
baik apabila kerja fisiknya tidak terlalu berat. Pada dasarnya kelelahan terjadi karena terakumulasinya produk sisa dalam otot atau peredaran darah yang disebabkan tidak seimbangnya antara kerja dan proses pemulihan.
Daya tahan tubuh seseorang biasanya dipengaruhi dari gizi dan makanan yang didapat, dengan semua itu akan memberikan semangat kerja tiap karyawan untuk memacu prestasi sehingga produktivitas kerja karyawan akan tercapai. Kesehatan tenaga kerja dan produktivitas kerja erat kaitannya dengan tingkat atau keadaan gizi. Seseorang tenaga kerja dengan keadaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja yang lebih baik, begitu pula sebaliknya. Tenaga kerja memerlukan makanan yang bergizi untuk pemeliharaan tubuh, untuk perbaikan dari sel-sel dan jaringan, untuk pertumbuhan sampai masa tertentu dan untuk melakukan kegiatan termasuk pekerjaan. Seseorang tenaga kerja dengan keadaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh yang lebih baik, begitu pula sebaliknya pada tenaga kerja dengan keadaan gizi yang buruk dan dengan beban kerja yang berat akan mengganggu kerja dan mempercepat kelelahan (Budiono, dkk., 2003).
B. Kerangka Berpikir
Keteranangan :
= Diteliti
= Tidak Diteliti
C. Hipotetis
“Adanya pengaruh kebisingan dan status gizi terhadap kelelahan kerja”.
Faktor eksternal : 1. Beban Kerja 2. Kondisi lingkungan kerja 3. Sikap kerja 4. Shift kerja Faktor Internal : 1. Usia 2. Jenis kelamin 3. Masa kerja 4. Kondisi psikologis 5. Stress kerja 6. 1. Frekuensi makan 2. Jenis makanan Kelelahan kerja Status gizi Kecukupan energi Aktivitas fisik
Penimbunan asam laktat
Kebisingan
Stimulasi di area pendengaran
Reaksi fungsional dari pusat kesadaran
Sistem penghambat meningkat Penurunan kemampuan otot