• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

56 4.1 Data Umum Perusahaan

PT. X merupakan perusahaan manufaktur komersial yang mengolah bijih plastik. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini adalah kemasan tube, botol, peralatan otomotif dan kemasan plastik. Kemasan tube merupakan produk yang tinggi permintaan untuk di perusahaan ini. Berdiri sejak tahun 1993 di Jalan Berbek Industri V/10 Sidoarjo 61256 Jawa Timur, merupakan perusahaan kecil yang memproduksi kemasan plastik.

Untuk pengembangan perusahaan maka pada tahun 2009 pabrik ini membangun pabrik di Jl. Jababeka XVII B Blok U No. 19 L-M Cikarang Utara , Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dengan tujuan untuk mendekatkan diri ke customer.

Lebih dari 20 tahun yang lalu PT. X. sebagai produsen kemasan plastik yang telah membangun teknologi yang bermutu serta mandiri dalam meningkatkan kemampuannya. Itulah sebabnya didalam mewujudkan keinginannya beberapa upaya khusus telah dilakukan oleh manajemen dan masih berlanjut sampai saat ini.

(2)

Berawal dari kerjasama dengan perusahaan induk pada tahun 1996,

PT. X. mengembangkan produksi kemasan plastik, peralatan kesehatan,

peralatan otomotif dan ikut serta dalam inovasi untuk customer. Dan untuk

meningkatkan teknologi pengolahan plastik terutama dalam hal desain,

proses serta mutu, maka pada tahun 2003 membentuk departemen inovasi

yang diberi nama Inovation and Mold Center Department sehingga terjadi

kerjasama antara customer untuk mengembangkan inovasi produk.

Pada tahun 2002 PT. X. mendapatkan pengakuan pangsa pasar di

dunia internasional dengan diraihnya sertifikat ISO 9000 untuk sistem

manajemen kualitas dan pada tahun 2013 mendapatkan sertifikat BRC

mengenai keamanan dalam penanganan kemasan makanan dan kosmetik.

Dan untuk setiap tahunnya PT. X. mendapatkan serfitikat kelayakan dari

customer global.

Pada saat ini perusahaan mengoperasikan empat pabrik plastik

dibawah naungan perusahaan induk untuk memproduksi sekaligus

memberikan inovasi produk plastic untuk dalam negeri dan luar negeri.

4.2 Produk Kemasan Plastik

Pada penulisan Tugas Akhir ini penulis memilih meneliti Tube Pond’s

(3)

Gambar 4.1 Tube Pond’s all varians 24x100gr

Tube Pond’s 24x100gr terdapat printing dan menggunakan sleeve

(badan tube warna putih). Untuk mengenai capnya menggunakan cap snap.

Gambar 4.2 Surface Print dan Cap Snap

Varian Tube Pond’s 24x100gr yang akan dipilih adalah varian Tube

Pond’s WB Pinkish FF 24x100gr berdasarkan permintaan produksi di PT. X

(4)

Gambar 4.3 Tube Pond’s WB Pinkish FF 24x100gr

4.3 Tahapan Proses Produksi Produk Kemasan Plastik

Berikut proses produksi yang terjadi pada produk plastic dengan

diagram SIPOC untuk mengidentifikasi CTQ (Critical to Quality)

pelanggan :

Gambar 4.4 Diagram SIPOC

Suppliers Inputs Process Customers

 Bagian produksi

 Gudang raw material

 Operator produksi Step 1: Persiapan komposisi material Outputs Step 2: Material ditampung di penampung otomatis Step 3: Proses pembuatan sleeve (badan tube) Step 4: Proses Printing dengan metode offset dan screen  Tube Reject  Tube Pass on  QA/QC inspection  Bagian Produksi  Bagian gudang sementara Step 5: Proses decorationde ngan metode hot stamping atau lablleing  Tube reject  Regrind  Virgin Material

 Setting suhu barell

 Setting kecepatan putaran barell

 Setting tekanan udara blowbin

 Setting posisi kern-duse

Step 6: Proses Heading dengan metode compression mold dalam bentuk round dan oval Step 7: Proses Capping memasang cap snap atau ulir Step 8: Proses Finishing Step 9: QA inspection sampling atau 100%  In Line Clearance  Production Report

(5)

4.4 Proses produksi di line finishing di PT. X

Gambar 4.5 Tahapan Proses Finishing

Tahapan produksi di line proses finishing adalah sebagai berikut :

1. Operator mengambil bahan dari proses mesin sebelum finishing.

2. Operator menyemprot secara manual udara anti statik ke arah tube agar debu dan kontaminasi hilang.

3. Asisten operator menutupi tube dengan plastik layer.

4. Operator QC inline mengecek dengan metode sampling, untuk mengecek debu yang ada di produk

5. Marking QC pass dan Delivery

Dalam proses produksi tube terdiri dari beberapa rangkaian proses

baik yang dilakukan oleh mesin maupun oleh manusia (operator). Pada

Tugas Akhir ini penulis hanya menjelaskan rangkaian proses di Line

Finishing. Proses Finishing adalah proses yang terjadi setelah melalui proses

(6)

dijelaskan pada BAB 2. Berikut ini adalah gambar rangkaian proses

finishing good secara umum yaitu sebelum dilakukan improvement :

Gambar 4.6 Rangkain Proses di line finishing

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa tube yang setelah diproses

di mesin capping akan diseleksi oleh selector dan oleh selector tube yang

telah dipacking di karton diteruskan secara manual atau dibawa manual

meneju ke area finishing untuk disemprot agar tube tidak kotor dalam.

Kotor dalam adalah salah satu penyumbang reject terbesar di proses ini.

Peringkat defect ini menempati urutan pertama setiap bulannya dalam

laporan five big losse defect. Selain itu defect kotor juga penyumbang

(7)

Gambar 4.7 Alur tube dari mesin capping menuju line finishing

Proses terakhir dari sebuah manufaktur atau industri

kemasan plastik tube adalah finishing, seperti terlihat pada gambar

rangkaian proses diatas, 5 tahap proses harus terlaksana dengan sempurna

agar dapat dihasilkan tube yang berkualitas siap diisi dengan liquid atau

cairan kimia yang sudah siap pakai.

1. Transfer product to area finishing adalah tube yang telah selesai dari

proses pemasangan cap diteruskan secara manual atau selector

membawa tube yang dikemas di kardus dibawa ke area finishing.

B lo w in g a n d V a c uu m

(8)

2. Blowing and vacuum tube from kotor dalam adalah proses operator

menyemprot secara manual udara ke arah tube agar debu dan

kontaminasi hilang.

3. Wrapping adalah proses pemberian layer plastik di atas kemasan tube

plastik. Proses ini bertujuan agar tube tidak terkontaminasi oleh

serbuk karton dari tutup kardus embalage.

4. Inspection by QC adalah proses dimana tube yang telah selesai

disemprot lalu diinspeksi dan dicek ulang 100% oleh Pengontrol

Kualitas (QC) untuk menghindari kelolosan produk yang keluar dari

spesifikasi.

5. Marking QC pass adalah proses penempelan tanda pass oleh QC yang

selanjutnya dikirim ke warehouse untuk proses pengiriman ke

customer.

4.5 Pengumpulan Data Produksi sebelum perbaikan

Data produksi sebelum perbaikan di line finishing untuk varian tube Pond’s

(9)

Ta be l 4.1 P roduk si m esin B lowing and V ac uum s ebe lum pe rba ikan v aria n t ube P ond’s W B P inki sh F F 24x100gr (pc s)

(10)

Data diatas pada tabel 4.1 merupakan data produksi pada bulan

Januari – Oktober 2014 yang pada bulan tersebut belum dilakukan

improvement. Data tersebut di ambil dari SAP dan monthly report dari

sebuah mesin pada minggu yang ditentukan. Dari tabel diatas dapat dilihat

Output, Netto, Reject dan Defect Reject Berikut merupakan data reject yang

sudah dikelompokan sesuai jenis reject.

Data defect reject pada tabel 4.1 menunjukan bahwa kotor dalam,

Scratch, warna cap, cap pecah dan header cacat menjadi five big losse.

Peringkat teratas untuk penyumbang reject terbanyak adalah kotor dalam

dengan jumlah reject terbanyak yaitu 572167 buah.

4.6 Pengumpulan Data Produksi sesudah perbaikan

Data produksi sesudah perbaikan yaitu dimana mesin yang

diinvestasikan sudah berjalan untuk menggantikan proses manual di line

finishing. Pengambilan data ini sebagai pertimbangan atas perbaikan

keseluruhan yang di lakukan dalam pelaksanaan peningkatan produktifitas

output netto, secara khusus produktifitas di line finishing.

Setelah pelaksanaan improvement dan dilakukan analisa tes produksi

pertama, apabila hasil produksi tidak mengindikasikan peningkatan

produktifitas yang berarti, maka improvement ini dianggap gagal. Pada saat

uji bulan pertama ini team berkesinambungan terhadap mesin blowing and

vacuum selama kurun waktu kurang lebih 5 minggu sampai hasilnya layak

(11)

memvalidasinya secara permanen. Pada bulan ini menunjukan kenaikan

produktivitas dari sebelum improvement.

Data produktifitas ini juga digunakan sebagai pembuktian atas hasil

perbaikan. Dengan melihat ini akan terlihat mengenai hal kenaikan ataupun

penurunan nilai dari bulan sebelum dan bulan sesudah perbaikan Berikut

data produksi sebelum perbaikan di line finishing untuk varian tube Pond’s

WB Pinkish FF 24x100gr bulan Januari – Februari 2015 di halaman

selanjutnya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2 Produksi sesudah perbaikan mesin Blowing and Vacuum varian tube Pond’s WB Pinkish FF 24x100gr (pcs)

2015 Januari Februari Jumlah

Rata-Rata Persentase Gross 1.683.593 1.385.219 3.068.812 1.534.406 Netto 1.658.900 1.375.050 3.033.950 1.516.975 Reject 24.693 10.169 34.862 17.431 1.14% kotor dalam 13.828 5.695 19.523 9.761 55.90% Scratch 7.902 3.254 11.156 5.578 32.3% warna cap 988 407 1.394 697 3.80% cap pecah 790 325 1.116 558 3.10% Header cacat 691 285 976 488 2.90% cap terbalik 296 122 418 209 1.10% penyok 198 81 279 139 0.90%

(12)

Data diatas pada tabel 4.2 merupakan data produksi pada bulan

Januari 2015 yang pada bulan tersebut sudah dilakukan improvement atau

dengan kata lain bahwa mesin dan supporting sudah diinvestasikan.

Data defect reject pada tabel 4.2 menunjukan bahwa kotor dalam,

Scratch, warna cap, cap pecah dan header cacat masih menjadi five big losse

di bulan ini. Peringkat teratas untuk penyumbang reject terbanyak adalah

kotor dalam dengan jumlah reject terbanyak yaitu 34862 buah.

4.7 Pengumpulan Data Produk Cacat Atribut

Pengambilan sampel ini diambil selama bulan Januari – Oktober 2014 dimana tiap awal jalan atau change over produk tube Pond’s WB Pinkish FF

24x100gr. Berikut data produk cacat yang diperoleh:

Tabel 4.3 Data produk cacat atribut pada bulan Januari – Oktober 2015 mesin Blowing and Vacuum varian tube Pond’s WB Pinkish FF 24x100gr

No. Jumlah Sample Jumlah Produk Cacat No. Jumlah Sample Jumlah Produk Cacat 1 50 11 11 50 16 2 50 8 12 50 9 3 50 7 13 50 7 4 50 9 14 50 8 5 50 6 15 50 10 6 50 10 16 50 9 7 50 13 17 50 8 8 50 10 18 50 13 9 50 9 19 50 11 10 50 13 20 50 12

(13)

No. Jumlah Sample Jumlah Produk Cacat No. Jumlah Sample Jumlah Produk Cacat 21 50 7 31 50 11 22 50 8 32 50 12 23 50 10 33 50 9 24 50 13 34 50 8 25 50 14 35 50 13 26 50 16 36 50 5 27 50 5 37 50 12 28 50 4 38 50 7 29 50 8 39 50 8 30 50 13 40 50 14

4.8 Data Penyebab Cacat

4.8.1 Brainstorming Faktor Penyebab Cacat Produk

Berdasarkan data hasil produksi yang didapat dari hasil

brainstorming dengan pihak operator dan kepala seksi tentang

klasifikasi cacat produk di area Finishing adalah sebagai berikut :

1.1 Kotor dalam , yang disebabkan oleh :

a. Kardus Embalage

Keadaan aktual yang ada karton dari supplyer terdapat

serpihan kardus bekas potongan pola kardus sehingga

(14)

b. Manusia (operator)

Operator tidak menggunakan sarung tangan saat bekerja.

Keadaaan ini terjadi pada saat operator selesai seting mesin

sehingga tangan terkontaminasi oli dan debu. Dari keadaan

seperti ini operator ikut serta dalam inspeksi produk sehingga

dari tangan operator yang terkontaminasi memegang produk.

Produk kemungkinan terkontaminasi dengan kotoran tangan

operator.

c. Lingkungan (area)

Area proses finishing masih terbuka tanpa adanya ruang

khusus. Bagian dalam tube kotor debu dari lingkungan sekitar.

Area finishing belum dipisahkan dari warehouse sehingga

dimungkinkan debu masuk kedalam tube.

1.2 Scratch, yang disebabkan oleh :

a. Conveyor

Scratch terjadi pada saat tube atau secara khusus permukaan

luar tube yang terdiri dari layout dekorasi bergesekan dengan

permukaan konveyor yang terbuat dari karet maupun roll besi

dan nilon.

b. Loading and Unloading Pusher

Tube bergesekan dengan star wheel saat didorong piston

loading dan unloading. Piston yang berkecepatan tinggi dan

(15)

1.3 Problem cap, yang disebabkan oleh :

a. Warna Cap

Warna cap yang berbeda dengan spesifikasi yang diinginkan.

Hal ini terjadi karena terkontaminasi benda asing, yaitu material

plastik yang bukan dari jenis yang dipakai sehingga tidak bisa

homogen dan dari masterbatch yang berbeda jenis (misalnya

material HDPE tercampur PP akibat pada waktu pencucian

mesin giling tidak bersih)

b. Cap pecah

Cap yang sudah deformasi yang membuat tampilan tidak

bagus. Cap pecah akibat dari terguncangnya saat delivery

maupun handling. Selain itu dikarenakan piston penekan cap ke

arah tube mempunyai tekanan yang terlalu besar.

1.4 Header cacat, yang disebabkan oleh :

a. Mandrel

Mandrel yang mempunyai sisi luar yang tajam membuat

permukaan header cacat. Mandrel adalah penyangga tube pada

saat proses capping

4.8.2 Hubungan Hasil Brainstorming dengan Klasifikasi dan Faktor Penyebab Cacat

Berikut digambarkan hubungan hasil brainstorming dengan

(16)

area Finishing dan faktor penyebab cacat akan dijelaskan di halaman

berikut :

Tabel 4.4 hubungan hasil brainstorming tentang klasifikasi cacat produk dan

faktor penyebab cacat

No. Jenis Cacat

Faktor Penyebab Cacat

Packaging Material Man Power Machine (Part/Tools) Environ ment Additional Component 1 Kotor dalam 2 Scratch

(appearance not ok) 

3

Problem Cap

(warna cap) 

4

Problem Cap (cap

pecah) 

5 Problem Header

4.8.3 Matriks Prioritas

Berikut penilaian menggunakan Matriks Prioritas agar dapat

diketahui faktor penyebab cacat berada di dalam proses produksi yang

(17)

Tabel 4.5 Matriks Proritas

No. Jenis Cacat

Faktor Penyebab Cacat

Packaging Material Man Power Machine (Part/Tools) Environ ment Additional Component 1 Kotor dalam 2 1 3 2 0 2 Scratch

(appearance not ok) 0 0 3 0 0

3

Problem Cap

(warna cap) 0 0 0 0 3

4

Problem Cap (cap

pecah) 0 0 3 0 0 5 Problem Header 0 0 3 0 0 Nilai hubungan : 0 = Tidak berhubungan 1= Sedikit berhubungan 2= Cukup berhubungan 3=Besar hubungannya

Dilihat dari matriks prioritas atas hubungan penyebab cacat

tersebut yang paling besar menyebabkan cacat adalah dikarenakan

karena adanya masalah pada proses Proses Extruder. Berikut Urutan

(18)

Tabel 4.6 Urutan Presentase Matriks Prioritas

No. Jenis Cacat Nilai Hubungan Persentase

1 Kotor dalam 8 35%

2 Scratch (appearance not ok) 5 22%

3 Problem Cap (warna cap) 3 13%

4 Problem Cap (cap pecah) 3 13%

5 Problem Header 4 17%

TOTAL 23 100%

Diketahui bahwa defect yang paling dominan adalah defect

Kotor dalam, maka penulis mempersempit penyebab defect berikut

pembahasan tentang 4M (Mesin , Manusia, Material, Metode) dan

Lingkungan untuk permasalahan defect Kotor dalam :

3.1 Mesin

- Permasalahannya mesin tidak dibersihkan secara berkala

o Kondisi mesin dengan proses masih sangat manual dan tidak

terawat yang jarang dibersihkan dari debu sekitar. Operator

jarang membersihkan karena akan membuat downtime pada

laporan produksinya.

o Selain itu udara yang dipakai belum terbebas secara baik dari

oli, hal itu dikarenakan compressor belum dilengkapi filter

oli. Hal ini juga berpotensi debu menempel dan melekat pada

oli.

3.2 Manusia :

- Permasalahannya operator tidak menjalankan SOP dengan baik

(19)

o Hal itu disebabkan karena operator terlalu sibuk sehingga

sering menunda pekerjaan dan dikejar waktu produksi

sehingga pada saat memegang produk tube tidak

menggunakan sarung tangan.

o Operator tidak mengontrol kelayakan part secara berkala

karena pembagian tugas yang belum jelas dan part pengganti

belum ada.

3.3 Material :

- Material Supply yaitu box (kardus) masih mengandung serpihan

kardus bekas proses cutting dari supplyer.

3.4 Metode:

- Permasalahannya prosedur perawatan mesin kurang lengkap,

waktu perawatan relative lama dan perlu menghentikan produksi

selama perawatan

- Tidak ada Work Instruction untuk perawatan mesin

- Pengenalan contoh cacat kurang lengkap

3.5 Lingkungan :

- Permasalahannya ruangan kurang bersih karena belum dipartisi

dengan area warehouse dan area mesin yang lain. Pendingin

udara juga masih menggunakan pendingin yang biasa belum

(20)

4.8.4 5W + 1H untuk proporsi cacat terbesar yaitu kotor dalam What : Tingginya persentase reject yang mayoritas

disebabkan adanya kotor dalam atau kotor dalam.

When : Penelitian yang difokuskan bulan Januari – Oktober

2014 sebagai data sebelum perbaikan dan bulan

Januari-Februari 2015 sebagai data sesudah

perbaikan.

Where : Masalah ini terjadi pada proses produksi secara

khusus diarea finishing.

Who : Adanya material lain atau asing yang

mengkontaminasi tube.

Why : Berikut penyebab terjadinya cacat kotor dalam atau

bintik hitam :

a. Lingkungan

Area finishing masih terbuka atau belum

dipisahakan dengan area lain warehouse dan

mesin lain. Sehingga berpotensi terkena debu atau

material lain dari lingkungan sekitar.

b. Mesin

Mesin yang digunakan masih manual, udara yang

dipakai belum bersih selain itu operator

memegang produk tube sehingga berpotensi

(21)

How : Varian tube Pond’s WB Pinkish FF 24x100gr 7.65%

dari total cacat adalah cacat kotor dalam atau bintik

hitam

4.8.5 Jadwal Tindakan Perbaikan Kualitas Cacat Dominan

Dari hasil brainstorming diketahui penyebab cacat dan tindakan

yang harus dilakukan untuk perbaikan, maka untuk memudahkan

pengerjaan tindakan agar sesuai target perusahaan membuat timeline

yang disesuaikan dengan prioritas pengerjaan perbaikan untuk cacat

kotor dalam sebagai berikut :

Gambar

Gambar 4.1 Tube Pond’s all varians 24x100gr
Gambar 4.3 Tube Pond’s WB Pinkish FF 24x100gr
Gambar 4.5 Tahapan Proses Finishing
Gambar 4.6 Rangkain Proses di line finishing
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan oleh Robiah (2015) yang mengenai Kesulitan-kesulitan Calon Guru dalam Penguasaan Keterampilan Dasar Mengajar Pada Mata Kuliah Pengajaran Mikro

Gambar 5: Grafik Hasil Titik Pencocokan Citra Bawah laut dengan Koreksi Gamma dan Histogram Equalization Dari 50 buah tersebut diuji dengan algoritma SIFT tanpa peningkatan

Ogg Vorbis encoder secara normal tidak berdasarkan pada bit rate saja, namun juga berdasarkan pada faktor kualitas yang besarnya berkisar antara '-1' (terendah) hingga '10'

Semakin tinggi keuntungan yang di peroleh menunjukkan perusahaan memiliki persediaan kas yang cukup sehingga perusahaan memiliki kemampuaan untuk membagikan laba

Telah menetapkan rencana tindakan asuhan kebidanan bayi baru lahir pada Ny”A” dengan hipotermi sedang di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa tahun

Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan bukti empiris mengenai pengaruh dewan direksi, komisaris independen, dan komite lingkungan terhadap pengungkapan emisi karbon

pengamatan pasang surut pada lokasi Pantai Tirtayasa yang terdekat dengan lokasi Pantai Tanjung Pasir yang akan digunakan dalam penelitian ini.. Grafik Pasang

Penelitian eksperimen yaitu penelitian yang didalamnya melibatkan manipulasi pada kondisi subjek yang di teliti, dengan adanya pengontrolan ketat pada faktor- faktor luar