• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muvial teksturnya liat, dari LO jenis tanah Aluvial terdapat 9 contoh tanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Muvial teksturnya liat, dari LO jenis tanah Aluvial terdapat 9 contoh tanah"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat dan ciri tanah

Secara umum tekstur tanah adalah liat, dari 24 contoh tanah terdapat 18 contoh tanah bertekstur liat, 5 contoh tanah lernpung berliat dan 1 contoh tanah lempung. Jika dibedakan menurut jenis tanah, pada umumnya jenis tanah

Muvial teksturnya liat, dari LO jenis tanah Aluvial terdapat 9 contoh tanah bertekstur liat dan 1 contoh bertekstur lempung berliat. Begitu pula dengan jenis tanah Podsolik, dari 7 contoh tanah terdapat 6 bertekstur liat dan 1

bertekstur lempung. Sedangkan jenis tanah Latosol, dari 7 contoh tanah

terdapat 4 contoh bertekstur lempung berliat dan 3 contoh bertekstur liat. Kadar hara dan ciri kimia tanah hasil penelitian dari 24 lokasi tit&

contoh di Jawa Barat disajikan pada Tabel Lampiran 1. Sebagai acuan

penentuan sifat dan ciri kimia digunakan kriteria menurut Staf Pusat Penelitian

Tanah (1983).

Jenis tanah yang diteliti digolongkan menurut klasifikasi yang lama

termasuk jenis tanah Latosol, Aluvial dan Podsolik. Sedangkan menurut

klasifikasi yang baru digolongkan berturut-turut Inceptisol, Entisol dan Alfisol

atau Ultisol. Secara geografis tanah Aluvial berada di dataran rendah

sedangkan Latosol dan Podsolik berada pada dataran tinggi (bergelombang

sampai berbukit). Reaksi tanah ketiga jenis tanah pada umumnya bereaksi

masam (46%), agak masam (50%) dan netral (4%). Jika dibedakan menurut

jenis tanah, Aluvial dan Podsolik lebih banyak bersifat masam sampai agak

masam dan Latosol beragam dari masam sarnpai netral seperti disajikan dalam Tabel 6.

(2)

Tabel 6. 3umlah dan persentase jenis tanah berdasarkan kemasamannya pH tanah 0320)

Jenis tanah Masam Agak masam Netral Total . . . .. . . .. . .. . .. ... ... ... . .. . .. . .. . . .. . . .. . .. . . ... . .. . . .. . .. . , .. . .. . .. . . . .. . ... ... , .. , . . . .. . . .. . .. , . . . .. . . .. . .

Aluvial 5 (21) 5 (21) 0 (00) 10 (42) Latosol 2 (08) 4 (17) 1 (04) 07 (29)

Podsoiik 4 (17) 3 (12) 0 (00) 07 (29)

JuTumtah 11 (46) 12 (50) 1 (00) 24 (100)

Keterangan : angka dalam kurung persen, diluar kurung jumlah

Keragaman reaksi tanah tersebut disebabkan oleh perbedaan proses

pembentukan dan asal usul bahan induknya serta komposisi unsur-unsur kimia

dalam tanah.

Secara umum kadar bahan organik atau C-organik tanah rendah, dari 24

contoh tanah terdapat 17 contoh tanah (71%) rendah, 6 contoh tanah (25%)

sangat rendah dan 1 contoh tanah (4%) sedang. Sedangkan kadar N-total

dalam tanah pada umumnya sangat rendah,

dari

24 contoh tanah terdapat 19

(79%) contoh tanah sangat rendah, 4 (17%) contoh tanah rendah dan 1 (4%)

contoh tanah sedang. Kedua unsur ini sangat erat kaitannya dalam tanah, karena salah satu sumber N adalah bahan organik disamping bersumber dari hasil fksasi N dan pemupukan, sehingga bila suplai bahan organik ddam tanah terbatas, kadar N menjadi sangat rendah. Selain itu, NH4+ dan N03-

dalam tanah mudah hilang melalui penguapan, pencucian dan digunakan oleh

tanaman. Keadaan demikian ini, menyebabkan perlunya pemupukan nitrogen

(3)

Pada umumnya kadar P tersedia tanah sangat rendah, dari 24 contoh

tanah terdapat 23 (96%) contoh tanah sangat rendah dm hanya 1 (4%) contoh

tanah sedang. Sedangkan kadar K dalam tanah beragam, dari 24 contoh tanah

terdapat 9 (38%) contoh tanah sangat rendah, 8 (33%) contoh tanah rendah, 6

(25%) contoh tanah sedang dan hanya 1 (4%) contoh tanah tinggi. Kadar P

yang sangat rendah disebabkan oleh pemakian varietas unggd padi yang sangat

tanggap terhadap P dan sebagian lagi terfrksasi dalam tanah dalam bentuk tidak

tersedia. Hal ini menyebabkan perlunya pemupukan P dalam tanah sesuai

dengan kebutuhan tanaman. Unsur hara makro lainnya seperti Ca, Mg d m Na

berada pada kisaran sangat rendah, rendah, sedang,

tinggi

sampai sangat tinggi.

Selengkapnya disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Jumlah dan persentase contoh tanah berdasarkan kriteria PPT (1983) Sifat tanah Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat

rendah tinggi C-org ( O h ) 06 (25) N-total (%) 19 (79) P-Bray I (ppm) 23 (96) KTK (me/ 1 OOg) 00 (00) Ca (me/lOOg) 00 (00) Mg (me11 00g) 00 (00) K (rne/lOOg) 09 (3 8) Na (me/lOOg) 02 (08) KB (?4) 00 (00)

Keterangan : angka diluar kuruug adalah jumlah contoh

(4)

Kadar seng yang diukur dalam penelitian ini adalah banyaknya seng yang

tersedia dalam tanah, yang diekstraksi dengan DTPA 0.005 M dan bukan kadar

seng total dalam tanah. Rata-rata ketersediaan seng dalam tanah 2.65

+

1.50

ppm dengan selang 0.84 sampai 7.72 pprn selengkapnya disajikan pada Tabel

8. Jika dibedakan menurut jenis tanah, rata-rata kadar seng jenis tanah Aluvial,

Latosol dan Podsolik berturut-turut 1.87

+

0.85, 2.90

*

1.05 dan 3.52 _t 2.11

ppm. Selanjutnya, kadar seng tersedia dalam tanah digolongkan menjadi tiga

y a h i ; rendah (< 0.95 pprn), sedang (0.95-3.10 ppm) d m tinggi (23.10 ppm)

(Li dan Mahler, 1992). Sedangkan At-Jabri et. al. (1990) menggolongkan

kadar seng tersedia dalam tanah menjadi dua yakni; kahat Zn bila < 1 ppm dan

tidak kahat Zn bila > 1 ppm. Kriteria tersebut di atas belum dikaitkan dengan

kebutuhan tanaman, karena sejumlah faktor harus diperhitungkan.

TabeI 8. Rataan, kisaran dan kriteria kadar seng pada jenis tanah Aluvial,

Latosol dan Podsolik

.

Aluvial Latosol Podsolik

Jumlah n = 10 n = 7 n = 7

Kadar seng tanah (ppm) 1.8733.85 2.90*1.05 3.52352.11

Kisaran (ppm) 0.84-3.56 2.00-4.60 1.68-7.72

Kadar seng < 0.95 3 (30) 0 (00) 0 (00)

Kadar seng 0.96-3.1 0 6 (60) 5 (71) 3 (43)

Kadar seng > 3.10 1 (10) 2 (29) 4 (57)

Keterangan : angka diluar kunmg adalah jumlah contoh

angka dalam kurung adalah persentase

Berdasarkan kriteria Li dan Mahler (1992) dari 24 contoh tanah yang

(5)

dan tinggi 7 contoh tanah (30%). Sedangkan dengan kriteria Al-Jabri er. al. (1990) yang tergolong kahat Zn hanya 3 contoh tanah (12%) dan tidak kahat

Zn sebanyak 21 contoh tanah (88%). Hal

ini

berbeda dengan penelitian

Soepardi (1982) dan

AI

Jabri et. a/. (1990) yang sebelumnya menyebutkan

bahwa harnpir seluruh tanah-tanah yang diteliti tersebut tennasuk kahat Zn. Jika dibedakan berdasarkan jenis tanah, kadar seng pada jenis tanah Aluvial berada pada kisaran rendah 3 contoh tanah (30%), sedang 6 contoh

tanah (60%) dan tine 1 contoh tanah (10Y0). Jenis tanah Latosol berada pada

kisaran rendah tidak ada, sedang 5 contoh tanah (71%) dan tinggi 2 contoh tanah (29%). Sedangkan jenis tanah Podsoiik pada kisaran rendah tidak ada,

sedang 3 contoh tanah (43%) dan tinggi 4 contoh tanah (57%), seperti disajikan

dalam TabeI 8.

Keragaman kadar seng dan unsur hara lainnya dalam tanah yang diteliti,

tidak menunjukkan suatu pola tertentu sehingga sulit untuk dikelompokkan.

Tidak terdapat perubahan yang konsisten antara tanah

Aluvial,

Latosol dan

Podsolik yang berada pada berbagai topografi dan ketinggian. Korelasi beberapa sifat kimia tanah

Beberapa sifat dan ciri kimia tanah saling berkorelasi satu sama lain.

Koefisien korelasi dan analisis regresi terhadap sifat-sifat kimia tanah diperoleh

setelah terlebih dahulu dilakukan analisis korelasi dim diketahui nilai p secara

terpisah terhadap setiap jenis tanah dengan sifat-sifat kimianya. Hasil analisis

korelasi menunjukkan koefisien korelasi dan nilai p konsisten diantara ketiga

jenis tanah dengan sifat-sifat kimia tanah. Koefisien korelasi antara berbagai

sifat kimia tanah dari 24 contoh tanah disajikan dalam Tabel 9. Kadar seng

(6)

negatif dengan pH tanah, kadar P , Ca, Mg, K dan Na. Korelasi positif dengan C-organik menunjukkan bahwa peningkatan bahan organik dalarn tanah dapat menambah ketersediaan seng dalam tanah karena merupakan salah satu sumber

seng. Disamping itu bahan organik (humus) merupakan senyawa pengikat

Tabel 9 Korelasi antara seng (Zn) tanah dengan beberapa sifat kimia tanah

Sifat Kimia Koefisien Korelasi Nilai p (sig.) Selang Kepercayaan

Pearson dengan K z E g l i a a n Zn tanah

-

("/.) Alumunium (Al) C-organik Kalsium (Ca) Hidrogen @fl Kalium (K) Magnesium (Mg) Nitrogen @I-total) Natrium ma) Fosfor (P-Bray) pH tanah

Keterangan :

*

Nyata pada taraf P < 0 . 0 5

bagi seng (membentuk senyawa kompleks), sehingga kehilangan seng dapat dikurangi. Begitu pula dengan kadar N-total akan meningkat secara nyata

dengan penambahan bahan organik. Dengan meningkatnya kadar N total akan

meningkatkan pula ketersediaan seng tanah, sehingga keduanya juga berkorelasi positif. Korelasi positif antara ketersediaan seng dalam tanah

dengan kadar

Al

dan H menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar A1 dan H

semakin masam atau semakin rendah pH tanah dan semakin meningkat

konsentrasi seng yang tersedia. Haltersebut diperlihatkan juga oleh korelasi

(7)

erat dengan sifat kelanrtan seng dalam tanah. Unsur seng semakin tinggi

kelarutannya dengan makin rendahnya pH tanah (Blair, 1979) dan sebaliknya

menurun kelarutannya seratus kali setiap peningkatan satu satuan pH (IRRI,

197 1).

Korelasi negatif antara ketersediaan seng dengan kadar P, Ca, Mg, K dan

Na menunjukkan bahwa antara unsur tersebut bersifat antagonis. Jika

kandungan dan pemberian P, Ca, Ma, K dan Na tinggi &an menurunkan

ketersediaan seng. Hasil penelitian Arce et. al. (1992) menunjukkan bahwa

pemupukan atau pemberian fosfat yang tinggi dapat menurunkan ketersediaan

seng. Mekanisme yang mungkin terjadi: (1) interaksi negatif P dengan seng

dalam tanah, (2) pengenceran seng dalam jaringan tanaman akibat tanggapan

terhadap P, (3) penekanan serapan atau translokasi seng oleh penambahan P,

dan (4) gangguan P terhadap seng dalam proses metabolisme tanaman (Olsen,

1972). Begitu pula dengan peningkatan kadar

Ca,

Mg, K dan Na dalam tanah

dapat menurunkan kelarutan seng dalam tanah, hal tersebut bukan hanya oleh sifat antagonis dari unsur tersebut juga berkaitan erat dengan meningkatnya pH tanah. Pada tanah berkapur sering ditemukan kasus kekurangan seng karena pH tanah yang tinggi dan juga ion seng yang ada dalam tanah dijerap oleh

MgC03 atau CaC03, sehingga tidak dapat diserap tanaman.

Hubungan antara ketersediaan seng dalam tanah dengan unsur-unsur

kimia lainnya disajikan dalam bentuk model persamaan matematik sebagai berikut:

Zn tanah = 0.002 A1 + 0.253 C-org

+

1.005 Ca

-

0.071 H

-

0.158 K

(8)

Nilai

RZ

= 0.689 sedangkan nilai R~ yang disesuaikan (adjusted) = 0.450 artinya bahwa 45% dari variasi ketersediaan seng dapat dijelaskan dengan peubah-peubah kandungan Al, C-organik, Kadar Ca, H, K, Mg, Na, P dan pH

tanah. Sedangkan sisanya 55 % variasi ketersediaan seng dalam tanah tidak

dapat dijelaskan melalui peubah dan persamaan tersebut.

Tabel 10. Hubungan beberapa sifat kimia tanah dengan ketersediaan Zn

lX2 = 0.689 ;

R2

yang disesuaikan = 0.450

Konsentrasi senp daIam air

Konsentrasi seng dalam air dan pH air yang diambil dari

air

sungai, air

sumur dan air &urn (air hujan yang ditampung dan dimasak) di berbagai

lokasi disajikan pada Tabel 11. Konsentrasi seng ddam air minum, air s u m u

dan air irigasi dari daerah Neglasari dan Cikopomayak dengan jenis tanah Podsolik tidak terukur atau nol. Sedangkan kepekatan seng dalam air minum

(9)

(dari air hujan) dan air irigasi untuk daerah Lebakwangi dan Lebakkepuh

dengan jenis tanah Aluvial bervariasi. Pada air irigasi di daerah Lebakwangi

dan Lebakkepuh konsentrasi seng masing-masing 0.01 dan 0.03 ppm.

Konsentrasi seng air minum yang berasal d d air hujan yang belum dimasak

Tabel 11. Konsentrasi seng dan pH air pada berbagai sumber air dilokasi penelitian

No. J e ~ s Tanah Desa Asal w u l air PH Zn Ciri-ciri

1. Aluvial Lebakwangi Air minum (masak) 6.50 tr agak keruh

Air minum (mentah) 6.25 0.02 b e ~ n g

Air irigasi 6.10 0.01 agak kemh

Air minum (mentah) 5.60 0.04 bening

2. Alwial Lebakkepuh Air irigasi 5.80 0.03 keruh

Air minum (teh) 5.20 0.06 kuning

Air minum (mentah) 5.60 0.03 bening

3. Latosol Sinarmukti Air minum (mentah) 6.00 0.01 bening

Air mi- (mentah) 5.50 0.03 agak keruh

Air minum (mas&) 6.35 0.05 agak keruh

Air irigasi 5.30 0.08 keruh

4. Latosol Sukamenak Air minum (mentah) 5.70 0.08 bening

Air irigasi 6.20 0.12 keruh

Air minum (teh) 6.30 0.10 ~ ~ k l a t - k ~ ~ n g

Air minum (mentah) 6.35 0.10 bening

5. PodsoWr Neglasari Air minum (rnasak) 6.60 tr k n i n g

Air minum (mentah) 6.30 tr bening

Air minum (mentah) 6.00 tr b e ~ n g

6. Podsolik Cikopornayak Air minum (mentah) 5.30 tr bening

Air minum (rnasak) 5.00 u kuning-coklat

Air sumur 5.00 tr b e ~ n g

Air irigasi 5.70 tr keruh-kuning

Keterangan :Air minum dari Desa Lebakwangi dan Lebakkepuh berasal dari air hujan.

Air minum desa laimya dari air sumur.

(10)

masing-masing 0.02 pprn di Lebakwangi dan 0.03 pprn di Lebakkepuh. Setelah dimasak dan ditambahkan teh konsentrasi seng meningkat menjadi masing-

masing 0.04 pprn di Lebakwangi dan 0.06 pprn

d

i

Lebakkepuh. Peningkatan

konsentrasi seng terjadi sebagai akibat penambahan daun teh kedalam air minum.

Konsentrasi seng dalam air irigasi pada daerah Sinarmnkti dan

Sukamenak dengan jenis tanah Latosol masing-masing 0.08 dan 0.12 ppm.

Sedangkan air minum yang berasal dari sumur yang belum dimasak masing-

masing 0.02 pprn di Sinarmukti dan 0.09 pprn di Sukamenak. A i r rninum yang

sudah dimasak dan ditambahkan teh masing-masing 0.05 ppm di Sinannukti

dan 0.10 pprn Sukamenak.

Konsentrasi seng dalam air surnur dan air irigasi dari sungai diduga

berkaitan dengan tingkat kelarutan seng dalam air dan yang tercuci dari dalam

tanah. Menurut Mortvedt (1977) unsur rnikro mobilitasnya dalam tanah

rendah, jumlah yang tercuci dari tanah sedikit, sehingga sebagian besar masih

tetap berada pada daerah perakaran tanaman. Seng biasanya terdapat 5 bentuk

dalam tanah; dapat dipertukarkan (2%), bentuk terikat ( 8 6 % ) oleh karbonat, Fe

dan Mn oksida, bahan organik dan residu (Ma dan Lindsay, 1993).

Keadaan umum daerah ~enelitian

Sebanyak 6 contoh tanah dipilih dari 24 titik contoh tanah di Jawa Barat.

Keenarn contoh tanah tersebut mewakili masing-masing dua jenis tanah

Aluvial, Latosol dan Podsolik dan terletak pada enarn desa. Desa

Lebakkepuh dan Desa Lebakwangi mewakili jenis tanah Aluvial berada pada

Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Fropinsi Jawa Barat. Jarak dari kota

(11)

dan 7 k m dengan ketinggian 1-3 m dari permukaan laut (dpl). Bahan induk tanah berasal endapan liat fisiografi datar, sebagian besar penggunaan lahan

adalah sawah irigasi dan tadah hujan dengan luas wilayah Lebakkepuh 296.71

ha dan Lebakwangi 462.19 ha.

Desa Lebakkepuh termasuk kelompok desa miskin dan desa

Lebakwangi termasuk kelompok sangat miskin (Bappeda, 1992).

Pengelompokan tersebut didasarkan pada peubah potensi desa, fasilitas

perumahan dan lingkungan dan keadaaa penduduk. Jalan utama desa berupa

tanah dan baty fasilitas pendidikan sampai sekolah dasar (SD) dan hanya 2

b u d untuk masing-masing desa dengan kondisi bangunan rusak. J d a h

penduduk Desa Lebakkepuh 1 931 jiwa dan Lebakwangi 2 481 jiwa, tingkat

pendidikan masyarakat 87% sampai sekolah dasar. Transportasi antar kampung dilayani dengan kendaraan roda dua (ojek). Mata pencaharian utama penduduk

adalah buruh dan petani, Desa Lebakkepuh 80% tani dan 7% b u d dan Desa

Lebakwangi 66% tani dan 23% buruh

.

Tenaga kesehatan hanya dukun bayi

d m tidak ada fasilitas kesehatan dan pasar. Pada umumnya sumber air rninum

berasal dari tadah hujan, sehingga pada musim kemarau penduduk

memanfaatkan air surnur yang hambar @ayau) dan air yang disalurkan PDAM

seminggu sekali. Air sumur dan

air

irigasi dimanfaatkan masyarakat untuk

mandi, cuci dan kakus (MCK). Kondisi rumah sebagian berdinding bilik,

tanpa ventilasi, berlantai tanah d m beratap rumbia. Kedua desa ini menjadi

termasuk penerima inpres desa tertinggal (IDT) karena berbagai kondisi

tersebut

di

atas.

Desa S i n m u k t i dan Desa Sukamenak mewakili jenis tanah Latosol yang berada pada Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Propinsi Jawa Barat.

(12)

* >

Jarak dari kota Serang masing-masing 17 dan 19 lan dan dari kota kecamatan

masing-masing 5 dan 7 km dengan ketinggian 150-250 m dari permukaan laut

(dpl). Bahan induk tanah berasal dari

tuff

vulkan intermedier dengan fisiografi

bergelombang dan penggunaan lahan berupa lahan sawah, kebun d m ladang. Luas wifayah Desa Sinarmukti 352. I2 ha dan Desa Sukamenak 450.65 ha,

kedua desa tergolong dalam desa miskin (Bappeda, 1992). Jalan utama

menuju Desa Sinarmukti pada saat penelitian sedang diaspal sedangkan antar kampung berupa jalan tanah dan batu. Jalan utama menuju Desa Sukamenak dan antar kampung berupa jalan tanah dan batu. Transportasi dilayani dengan

kendaraan roda dua (ojek) setiap hari. Mata pencaharian penduduk sebagian

besar sebagai b u r - dan petani, Desa Sukamenak 31% tani dan 30% buruh

dan Desa Sinarmukti 43% tani

d m

36% buruh sisanya sebagai pedagang,

pegawai, guru, tukang

dan

lain-lain. Fasilitas pendidikan hanya sampai

sekolah dasar (SD) dan hanya terdapat 1 buah untuk setiap desa, tidak ada

fasilitas kesehatan dan pasar. Jenjang pendidikan masyarakat 8 1% sampai

tingkat sekolah dasar. Jumlah penduduk Desa Sinarmukti 1 744 jiwa d m

Sukamenak 2 377 jiwa.

Sumber air minurn pada umumnya berasal dari air sumur dengan

kedalaman 10-15 m, sebagian masyarakat telah memiliki tempat mandi, cuci

dan kakus (MCK) sendiri. Kondisi rumah sebagian telah berdinding tembok,

Iantai semen dan ada ventilasi. Desa Sinarmukti dan Desa Sukamenak pada

tahun 1994 tergolong dalam penerima inpres Desa (IDT).

Desa Neglasari dan Desa Cikopomayak mewakili jenis tanah Podsolik berada di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Jarak

(13)

masing 10 dan 5

km

dengan ketinggian 200-300

m

dari pemukaan laut (dpl). Bahan induk tanah batu liat dengan f i s i o g d i bukit lipatan. Penggunaan lahan

sebagian besar kebun dan ladang, sawah tadah hujan. Luas wilayah Desa

Neglasari 321.23 ha dan Desa Cikopomayak 356.45 ha. Desa Neglasari

tergolong desa miskin dan Desa Cikopomayak tergolong desa sedang

(Bappeda, 1992). Jalan utama menuju desa mas* berupa jalan tanah dan batu, transportasi dengan kendaraan roda dua setiap saat.

Fasilitas pendidikan sampai sekolah dasar, tidak ada fasilitas kesehatan

dan pasar. Mata pencaharian penduduk sebagai buruh 36%, tani 18%, dagang

23 O h , dan lain-lain. Tingkat pendidikan penduduk sebagian tidak sekolah 72 OA

di Desa Neglasari

dan

13% di Desa Cikopomayak dan sampai sekolah dasar

masing-masing 27% dan 58%. Sumber air minum berasal dari air sumur dan

sebagian rumah telah dilengkapi sarana mandi, cuci dan kakus (MCK). Kedua

desa ini termasuk kelompok penerima inpres desa tertinggal (IDT).

Keadaan Resvonden

Jumlah responden dalam penelitian ini 329

anak

sekolah dasar yang

berasal dari S SD yang tersebar di Desa Lebakkepuh (2 SD), Lebakwangi (2

SD), Sinarmukti (1 SD), Sukamenak ( I SD), Neglasari (1 SD) dan

Cikopomayak (1 SD). Jmdah murid sekolah dasar

dari

enam desa disajikan

dalam Tabel Lampiran 4. Responden terdiri dari anak laki-laki 161 (49%) dan

anak perempuan 168 (5 I%), dengan masing-masing sekolah Lebakkepuh 1 dan

Lebakkepuh 3 (Lebakkepuh), Lebakkepuh 2 dan Kosambidalam

(Lebakwangi), Cikopomayak 2 (Neglasari), Ckopomayak 4 (Cikopomayak), Tejarnari 2 (Sukamenak) dan Parungsentul (Sinarmukti) berturut-tunrt laki-

(14)

Rata-rata umur anak 9.68

*

2.08 tahun dengan selang 5.50 sampai 15.00

tahun. Rata-rata umur an& setiap sekolah Lebakkepuh 1 dan Lebakkepuh 3

(Lebakkepuh), Lebakkepuh 2 dan Kosambidalam (Lebakwangi), Cikopomayak

2 (Neglasari), Ckopomayak 4 (Cikopomayak), Tejamari 2 (Sukamenak) dan

Parungsentul (Sinarmukti) berturut-turut 9.8 112.27, 10.343234, 9.46t 1 36,

9.7632.27, 9.60S.02, 9.90H.35, 9.41f 1.94 d m 9.45k1.65 tahun,

selengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 5 dan 6.

Tinggi badan anak rata-rata 127.01 f 12.78 cm selang 100.00 sampai

157.00 cm dan

di

setiap desa terdapat perbedaan perturnbuhan tinggi anak.

Rata-rata tinggi anak di desa Lebakkepuh, Lebakwangi, Neglasari,

Cikopomayak, Sukamenak dan Sinarmukti secara berurutan 132.72 k 12.27,

127.76 k 11.85, 121.05 rfr 16.46, 127.69 f 12.26, 124.33 f 11.16 dan 127.43

+

11.27 cm. Rata-rata tinggi an& di Lebakkepuh lebih tinggi dari rata-rata tinggi

anak di desa lainnya. selengkapnya disajikan dalam Tabel Lampiran 7.

Sedangkan berat badan anak secara keseluruhan rata-rata 25.42

+-

6.96 kg

selang 13.50 sampai 54.00 kg dan di setiap desa berbeda. Rata-rata berat

badan anak di Desa Lebakkepuh, Lebakwangi, Neglasari, Cikopomayak,

Sukamenak dan Sinarmukti secara berurutan 28.52

+

7.64, 25.44

+

7.35, 24.1 1

_t 7.04, 26.08 f 6.72, 23.73 f 5.7 1 dan 24.76 f 6.05 kg. Rata-rata berat badan

anak di Desa Lebakkepuh lebih besar dari desa lainnya, selengkapnya

disajikan pada Tabel Lampiran 8

.

Rumah t a n v a r e s ~ o n d e n

Seluruh orang tua dari responden yang dijadikan objek penelitian,

diwawancara dengan bantuan kuiesioner. Hasil penelitian menunjukkan,

(15)

sekolah dasar, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi. Mayoritas pendidikan orang tua sampai level sekolah dasar 77%, SLTP 7 O/o, SLTA IYo, PT 0.5% dan tidak

sekolah 14.5%. Penduduk yang tidak sekolah terbanyak ditemukan di Desa

Neglasari (72%), sedangkan di Desa Lebakkepuh dan Lebakwangi lebih

banyak sampai sekolah dasar berturut-turut 96 % dan 87%, selengkapnya

disajikan pada Tabel Lampiran 9.

Umur orang tua responden rata-rata 41.22 f 7.67 tshun dengan selang 25

sampai 65 tahun (Tabel Lampiran 10). Sedangkan jurnlah anak setiap rumah

tangga rata-rata 4 f 2 anak dengan selitng 1 sampai 10 anak setiap keluarga

(Tabel Lampiran I I). Hal inimenunjukkan masih tingginya angka kelahiran

anak setiap nunah tangga dan berada di atas rata-rata nasional yalcni 3.9 anak

per keluarga. Sumber mata pencaharian orang tua adalah tani (47%), buruh

(27%), dagang (14%), karyawan atau pegawai (2%), dan sisanya sebagai

tukang kayu, nelayan, guru, montir, pensiunan, pandai besi serta tidak bekerja

(Tabel Lampiran 12). Penyakit yang sering menyerang keluarga adalah flu atau pilek dan demam serta batuk, disamping sebagian kecil terkena rematik, mag, muntaber atau disentri, gatal atau penyakit M i t , carnpak, cacar air dan tipes. Pengobatan sebagian besar pergi ke Puskesmas kecarnatan, berobat sendiri (obat warung), mantri dan dokter.

Pola konsumsi masyarakat pada umumnya makan 3 kali sehari, pagi

pukul 06.00-08.00, siang pukul 11.00-13.00 dan sore atau malam 17.00-19.00. Pada umutnnya pagi hari makan nasi goreng, siang makan nasi, sayur, dan

ikan, tahu atau ternpe, telur dan malam hari sama dengan makan siang. Asal

us& bahan pangan pada umumnya membeli dari pasar kecuali beras, sayuran dan buah-buahan juga diperoleh dari hasil sendiri. Penduduk memperoleh

(16)

beras rata-rata 43 % membeli beras dari pasar, 22 % hasil sendiri d m 32 %

beli dan hasil sendiri (Tabel Lampiran 13).

Status s e w anak

Status seng anak ditentukan dengan dua metode yaitu secara langsung

dengan menguji respon lidah (test kecap Smith) dan analisis konsentrasi seng

dalam rambut. Hasil pengujian respon lidah dengan test kecap Smith

menunjukkan, bahwa selunth responden yang dijadikan objek berada daiam

prevalensi defisiensi seng. Jika dikelompokkan berdasarkan golongan, maka

golongan 1 sebanyak 60 % dan goIongan 2 sebanyak 40 %. Golongan 1 adalah

golongan yang merniliki defisiensi seng yang terbunrk, sedangkan golongan 2

adalah golongan prevalensi defisiensi seng sedang. Di setiap sekolah dan desa,

persentase anak golongan 1 berbeda. SD Cikopomayak 4 (Cikopomayak), SD

Kosambidalam (Lebakwangi), SD Lebakkepuh 1 (Lebakkepuh), SD

Parungsentul (Sinarmukti), SD Cikopomayak I1 (Neglasari), SD Lebakkepuh 3

(Lebakkepuh), SD Tejamari 2 (Sukamenak) dan SD Lebakkepuh 2

(Lebakwangi) persentase an& golongan 1 berturut-turut 72.50, 69.23, 66.66,

60.97, 58.33, 56.25, 55.71, dan 46.66 %. Tes kecap Smith memiliki keunggulan karena dapat mengetahui dengan cepat prevalensi defisiensi seng

pada manusia, tetapi juga memiliki kelemahan karena jawaban obyek yang

diteliti kadang tidak akurat. Disamping itu, pengujian dengan test kecap Smith

adalah menguji respon lidah yang dipengaruhi oleh konsentrasi seng dalam

tubuh mengikuti pola harian (diurnal) d m menunjukkan status seng responden pada saat itu. Respon lidah &pat berubah beberapa jam setelah makan, karena

(17)

seng rnerupakan komponen dalam saliva gustin yang berperan penting dalam

pengecapan rasa (Martin et. al., 1987).

Tabel 12. Persentase anak sekolah berdasarkan test kecap Smith

Sekolah, Desa Jumlah Golongan 1 Golongan 2

n

YO

YO SD Lebakkepuh 1 Ds Lebakkepuh SD Lebakkepuh 3 Ds Lebakkepuh SD Kos.dalam Ds Lebakwangi SD Lebakkepuh 2 Ds Lebakwangi SD Cikopomayak 2 Ds Neglasari SD Cikopomayak 4 Ds Cikopmayak SD Tejamari 2 Ds Sukamenak SD Parungsentul Ds Sinarmukti

Konsentrasi seng dalam rambut adalah cara lainnya untuk mengetahui

status seng manusia pada waktu tertentu. Konsentrasi seng dalam rambut pada

saat teaentu bukan sebagai akibat pola rnakan beberapa jam yang lalu, tetapi

merupakan akumulasi dari pola konsumsi

dalam

jangka waktu tertentu.

Simpanan seng dalam rambut, relatif stabil dalam jangka waktu lebih dari I

minggu dan tidak langsung tersedia bagi tubuh bila diperlukan. Menurut Linder (1992) konsentrasi seng tertinggi terdapat pada jaringan penutup tennasuk rambut, W i t dan kuku, retina dan organ reproduksi pria.

Rata-rata konsentrasi seng dalam rambut pada seluruh lokasi penelitian

95.47

+

55.48 ppm dengan selang 20.00 sampai 522.50 ppm (Tabel Lampiran

(18)

berbeda. Anak-an& SD Lebakkepuh

I11

(Lebakkepuh) rata-rata 155.00

+

114.89 ppm dengan kisaran 35.00 sampai 522.50 ppm, S D Lebakkepuh I (Lebakkepuh) rata-rata 88.54

+

32.82 pprn dengan kisaran 35.00 sampai 175.00 ppm, SD Kosambidalam (Lebakwangi) rata-rata 65.77 f 20.91 pprn dengan

Tabel 13. Sebaran anak menurut konsentrasi seng dalam rambut berdasarkan sekolah

Jenis Tanah Sekolah/Desa Jlh Mini- Rataan Maksi- Koef. Standar

L?.?LImum._

wpm) mum Variasi Deviasi ..

Subtotal 56 35 126.52 522.50 74.95 94.82 Subtotal 86 25 95.78 290.00 47.57 45.56 Podsolik CKP 2/Neglasari 40 40 113.32 190.00 32.74 37.10 CKP 4/~ikopom~ak 36 35 85.00 165.00 40.71 34.60 Subtotal 76 35 99.91 190.00 38.47 38.43 Latosol TM 2/Sukamenak 70 30 83.07 205.00 44.25 36.76 PST/Si-ukti 41 20 65.37 150.00 42.81 27.98 Subtotal 111 20 76.53 205.00 45.37 34.72 Total 329 20 95.47 522.50 58.11 55.48

Keterangan: LK 1 = a& SD Lebakkepuh 1 CKP 2 = anak SD Cikopomayak 2

LK 3 = anak SD Lebakkepuh 3 CKP 4 = anak SD Cikopomayak 4 LK 2 = anak SD Lebakkepuhz TM 2 = anak SD Tejamari 2

(19)

kisaran 25.00 sampai 130.00 ppm, SD Lebakkepuh I1 (Lebakwangi) rata-rata

108.78

+

43.47 ppm dengan kisaran 25.00 sampai 290.00 ppm, SD

Cikopomayak II (Neglasari) rata-rata 113.32 f 37.10 ppm dengan kisaran 40.00

sampai 190.00 ppm, SD Cikopomayak IV (Cikopomayak) rata-rata 85.00

+

34.60 ppm dengan kisaran 35.00 sampai 165.00 pprn, SD Tejamari I1

(Sukamenak) rata-rata 83.07 f 36.76 pprn dengan kisaran 30.00 sampai 205.00

pprn dan SD Parungsentul (Sinannukti) rata-rata 65.37 f 27.98 pprn dengan

kisaran 20.00 sampai 150.00 ppm. Selengkapnya disajikan pada Tabel 13. Rata-rata konsentrasi seng dalam rambut anak-anak sekolah tertinggi berasal dari Desa Lebakkepuh dan terendah pada anak-anak sekolah berasal dari Desa Sinarmukti d m Desa Lebakwangi. Walaupun kadar seng dalam

tanah Aluvial dari Desa Lebakkepuh rendah dan kadar seng daIam tanah

Latosol dari Desa Sinarmukti tinggi, tetapi tidak berhubungan dengan konsentrasi seng dalam rambut mak.

Berdasarkan konsentrasi seng dalam rambut anak, status seng anak

dikelompokkan menjadi tiga yakni; defisiensi seng < 70 ppm, prevalensi

defisiensi seng 70-100 pprn dan non defisiensi seng (normal) > 100 ppm.

Persentase anak-anak sekolah dasar yang menderita defisiensi seng terbesar

pada anak-anak SD Kosambidalam sebanyak 61.54 %, menyusul anak-anak

SD Parungsentul sebanyak 58.54 %, anak-anak SD Cikopomayak 4 sebanyak

44.44 %, anak-anak SD Tejamari 2 sebanyak 35.71 % dan anak-anak SD

Lebakkepuh 1 sebanyak 29.17 %.

Secara keseluruhan persentase anak sekolah dasar yang menderita

defisiensi seng dan prevalensi defisiensi seng sangat besar. Persentase terbesar

(20)

Parungsentul sebanyak 87.8 1 YO, anak-anak SD Tejamari 2 sebanyak 8 I .4 1 %,

an&-an& SD Cikopomayak 4 sebanyak 66.66 O h dan anak-anak SD

Lebakkepuh 1 sebanyak 62.50 %.

Tabel 14. Rata-rata dan persentase konsentrasi seng berdasarkan asal

sekolah dan status seng rambut

Keterangan: SD Lkph 1 dan Lkph 3 dari Desa Lebakkepuh, SD Kdlm dm Lkph 2 dari Desa Lebakwangi, SD Clkp 2 (Desa Neglasari), SD Clkp 4 (Desa Cikopomayak), SD Tejm 2 (Desa Sukamenak) dan SD Pasentul (Desa Sinannukti)

Korelasi konsentrasi senp rambut dengan ueubah lainnya

Koefisien korelasi konsentrasi seng

dalam

rambut dengan peubah-peubah

lainnya, menunjukkan kekuatan hubungan linear antar dua peubah. Harga

koefisien korelasi pearson menunjukkan hubungan yang sangat kuat dari dua

peubah. Tanda positif atau negatif harga koefisien korelasi m e ~ p a k a n harga

kenaikan sebuah peubah diikuti dengan kenaikan atau penurunan peubah

(21)

dari koefisien korelasi. Beberapa peubah berkorelasi dengan konsentrasi seng

dalam rambut disajikan ddam Tabel 15.

Tabel 15. Korelasi konsentrasi seng dalam rambut dengan peubah lain

Selang kepercayaan

Peubah Koefisien koreIasi Nilai P (sig.) YO

...

s

....

J

Seng pangan 0.029 0.6008 39.92

Fitat 0.064 0.2453 75.47

Seng tanah

-

0.134* 0.0148 98.52

Seng tanaman 0.104 0.0597 94.03

Seng dalam air

-

0.091 0.1009 89.91

Seng dalam nasi 0.777 0.1594 84.06

pH air 0.115* 0.0377 96.23

Umur anak 0.107 0.0541 94.59

Umur orang tua 0.019 0.7213 27.87

Tinggi anak 0.112* 0.0419 95.81

Berat an& 0.129* 0.0187 98.13

Jumlah anak - 0.001 0.9814 1.86

Kon. protein 0.182** 0.0009 99.91

Pendi. orang tua

-

0.046 0.4100 59.00

Peke j. orang tua

-

0.014 0.7990 20.10

Kon. energi 0.120* 0.0290 97.10

Jenis Kelarnin - 0.116* 0.0350 96.50

Keterangan :

*

Nyata pada taraf P < 0.05

**

Sangat nyata pada taraf P < 0.01

Jenis kelamin anak. Jenis kelamin anak berhubungan dengan

konsentrasi seng dalam rarnbut anak. Rata-rata konsentrasi seng dalam rambut

(22)

ragam antara konsentrasi seng dalam rambut dengan jenis kelamin nyata pada

taraf PC0.05. Uji lanjut dengan Duncans juga menunjukkan bahwa antara

jenis kelamin berbeda nyata. Dari beberapa hasil penelitian sebelumnya

(Rahmasari et. al., 1996; Riyadi, 1992; Gibson, 1990) dengan menggunakan

indikator test kecap (rasa), serum darah dan konsentrasi seng dalam rambut,

semuanya menyhpulkan bahwa anak laki-laki selalu lebih tinekonsentrasi

sengnya. Hal tersebut disebabkan, s u u s biologi perempuan yang mengalami menstruasi setiap bulan sehingga kehilangan seng lebih tinggi dan juga faktor genetis. Selengkapnya pada Tabel Lampiran 16.

Pendidikan, pekerjaan dan urnur orang tua. Konsentrasi seng dalam

rambut tidak berhubungan dengan pendidikan orang tua pada t a d PK0.05.

Pendidikan orang tua secara tidak langsung berhubungan dengan pengetahuan

orang tua tentang gizi. Begitu pula pekerjaan orang tua tidak berhubungan

dengan konsenirasi seng dalam rambut anak, karena pekerjaan orang tua lebih

erat kaitannya dengan pendapatan clan daya beli masyarakat. Umur orang tua

juga tidak berhubungan nyata dengan konsentrasi seng dalam rambut anak seperti disajikan dalam Tabel 15.

Ketersediaan seng tanah. Konsentrasi seng dalam rambut anak

berhubungan negatif dengan kadar seng dalam tanah pada taraf P(0.05, koefisien korelasi antara keduanya -0.134. Hubungan antara kadar seng dalam

tanah berbanding terbalik dengan konsentrasi seng dalam rambut. Hal

ini

menunjukkan bahwa manusia tidak langsung berhubungan dengan kadar seng

dalam tanah, karena tinggi-rendahnya kadar seng dalam tanah lebih

berpengaruh terhadap kadar seng dalam pangan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar seng dalam tanah pada jenis tanah Aluvial 1.32

(23)

ppm, Podsolik 3.08 ppm dan Latosol 4.34 ppm, sedangkan konsentrasi seng

dalam rambut anak sebaliknya yaitu berturut-turut pada tanah Aluvial 109.47

ppm, Podsolik 98.30 ppm dan Latosol 76.53 ppm. Kadar seng &am tanah

yang semakin tinggi dapat berbahaya bagi tanaman, karena dapat meracuni

tanaman, sehingga korelasi antara kadar seng dalam tanah berbanding terbalik

dengan kadar seng dalam tanaman.

Seng dalam tanaman. Konsentrasi seng dalam rarnbut secara positif

berhubungan dengan kadar seng dalam tanaman. Walaupun hubungannya

tidak nyata pada taraf P(0.05, tetapi hal ini menunjukkan bahwa sayur-sayuran

yang dikonsumsi dapat meningkatkan konsentrasi seng. Hasil penelitian

Yuniarti et. al. (1996) menunjukkan bahwa penyebab kecilnya peranan sayuran sebagai sumber seng bagi tubuh adalah karena rendahnya ketersediaan biologi

yang berkisar 3.65 sampai 8.57 %. Hal tersebut disebabkan tingginya rasio fitat

dibanding Zn dalam bahan pangan yang dapat menekan penyerapan seng oleh

tubuh (Ferguson, 1993). Disamping itu, kadar seng dalam tanaman d m produlcnya relatif febih rendah dari pada produk hewani, sehingga untuk memenuhi kecukupan seng dari tanaman dan produknya perlu konsumsi yang lebih banyak.

Pangan dan nasi. Konsentrasi seng dalam rarnbut secara positif berhubungan dengan kadar seng dalam pangan dan nasi yang dikonsumsi anak-

anak, tetapi pengaruhnya

tidak

nyata pada taraf P<O.O5. Hal ini menunjukkan,

hanya sebagian kecil seng yang dapat dimanfaatkan dari bahan pangan dan nasi oleh tubuh. Oleh karena, ketersediaan biologi bahan pangan sangat bervariasi,

wtuk pangan berasal dari nabati berkisar 3.62-10.50 %, hewani 10.72-3 1.36

(24)

bahan pangan yang bisa dimanfaatkan tubuh dan hanya 31 % dari total seng dalam bahan hewani yang dapat dimanfaatkan tubuh.

Air minum. Konsentrasi seng daiam rambut berhubungan secara negatif dengan konsentrasi seng dalam air minum, tetapi pengaruhnya tidak nyata pada

taraf P(0.05. Konsentrasi seng yang tinggi dalam air bisa berbahaya bagi

tubuh, karena unsur seng bisa menjadi racun apabila dikonsumsi berlebihan.

Batas toleransi seng dalam air minum yang masih diperbolehkan adalah 1 ppm.

Selain itu wsw seng bersifat antagonis dengan Fe, Ca, Na, Mg, P, K, Co, Mo.

Oleh sebab itu, keterkaitan antara konsentrasi seng dalam rambut berbanding

terbalik dengan kadar seng dalam air. Pengaruh pH air terhadap konsentrasi

seng dalam rarnbut nyata pada taraf P<(0.05, hubungan antara keduanya bersifat

positif. Halini berarti penurunan pH air dapat menurunkan konsentrasi seng

dalam rambut, karena penurunan pH berarti meningkatkan kelarutan seng dalam air dan mengakibatkan keracunan pada manusia. Dengan demikian, pada

pH yang normal konsentrasi seng dalam air

akan

rendah dan tidak berbahaya

bagi manusia.

Tinggi dan berat badan anak. Konsentrasi seng dalam rambut

berhubungan secara positif dan nyata (P < 0.05) dengan tinggi dan berat badan

anak. Hal ini menunjukkan, pertumbuhan dan perkembangan anak sangat

ditentukan oleh ketersediaan seng dalam tubuh, karena seng adalah

metaloenzim dari berbagai enzim di dalam tubuh untuk keperluan perhunbuhan

dan perkembangan. Menurut Hambridge (1989); Prasad (1991); Ferguson et.

al. (1993) bahwa kekurangan seng dapat menekan pertumbuhan anak-an&,

berat badan turun, menurudcan deposisi lemak dalam jaringan, anoreksia,

(25)

(berat badan menurut tinggi badan) sering digunakan sebagai indikator status

gizi. Bila nilainya normal menunjukkan, status gizi anak cukup baik dan bila nilainya buruk, status gizi buruk dan konsentrasi seng dalam rambut rendah.

U m u r anak. Konsentrasi seng dalam rambut berkorelasi positif dengan

umur anak walaupun tidak nyata pada taraf P < 0.05. Anak-anak umur 0-12

bulan kecukupan seng 3 sampai 5 mg per

hari,

umur 1 sampai 9 tahun

kecukupan seng 10 mg per hari dan umur 10 sampai 60 tahun kecukupan seng

15 mg per hari. Seiring dengan makin dewasa anak kebutuhan seng dalam

tubuh semakin meningkat,

hal

tersebut sesuai tingkat pertumbuhan dan

perkembangan anak. Berdasarkan umur dan jenis kelamin an& konsentrasi

seng d d a m rambut yang tergolong defisiensi seng umur 6-7 tahun dengan jenis

kelamin laki-laki 4.86% dan wanita 5.47% umur 8-9 tahun dengan jenis

kelamin laki-laki 8.8 1% dan wanita 13.68% wnur 10-1 1 tahun dengan jenis

kelamin laki-laki 5.17% dan wanita 11.85%, umur 12-13 tahun dengan jenis

kelamin la&-laki 7.29% dan wanita 3.95% dan

umur

14-15 tahun dengan jenis

kelamin laki-laki 1.22% dan wanita 0.61%. Terlihat, bahwa anak-anak di bawah 10 tahun lebih banyak kekurangan seng khususnya an& wanita.

Jumlah anak. Konsentrasi seng dalam rambut menurun dengan semakin

banyak jumlah anak dalam satu keluarga. Hal tersebut ditunjukkan nilai

koefisien korelasi antar keduanya negatif, walaupun tidak nyata pada taraf Pe0.05. Jumlah anak yang semakin banyak menyebabkan penyediaan pangan

dalam keluarga harus semakin banyak. Bahan pangan menjadi rebutan, bila

kemampuan kepala keluarga terbatas dan an& menjadi kekurangan gizi. Rata-

rata jwnlah an& setiap keluarga 4 orang per keluarga responden, sedangkan

(26)

Tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi energi, protein, seng, kalsium,

fosfor, besi dan fitat serta vitamin per hari disajikan pada Tabel 16. Rata-rata

tingkat konsumsi energi, protein dan seng pada anak sekolah SD Lebakkepuh 3

Desa Lebakkepuh dan SD Cikopomayak 2 Desa Neglasari terlihat lebih tinggi

dari tingkat konsumsi energi, protein dm seng dari anak-anak sekolah lainnya.

Rata-rata tingkat konsumsi energi, protein dan seng pada anak sekolah di desa

tidak mengikuti pola perbedaan jenis tanah, tetapi mengikuti perubahan letak

geografi yakni aksebilitas kampung dengan pasar clan faktor lainnya. Pada

anak-anak sekolah SD Lebakkepuh 1 dan Kosambidalam di desa yang sama

yakni di Desa Lebakkepuh dan Lebakwangi, rata-rata tingkat konsumsi energi, protein dan seng berbeda antar anak sekolah SD. Rata-rata tingkat konsumsi protein, energi dan seng anak-anak SD Lebakkepuh 1 dan Lebakkepuh 2 lebih

rendah daripada anak SD Lebakkepuh 3 dan Kosambidalam, selengkapnya

pada Tabel Lampiran 17.

Secara nasional rata-rata tingkat konsumsi energi dan protein pada

masyarakat desa pada tahun 1994 berturut-turut 1 859 kkal dan 44.1 g, dan

pada tahun 1996 meningkat menjadi 2 040 kkal dan 53.76 g (WNPG, 1998).

Pada tahun 1997 pada saat penelitian ini berlangsung tingkat konsumsi energi

dan protein menurun dan dibawah angka rata-rata nasional yalcni 1 8 1 1 kkal dan 37.27 g. Musim kemarau yang berkepanjangan tahun 1997 dan terjadinya krisis ekonomi menyebabkan persediaan pangan dan tingkat konsurnsi masyarakat menurun. Pada saat penelitian bdan Nopember 1997 dilakukan,

kondisi masyarakat memprihatinkan karena sawah-sawah sudah 6 bulan tidak

(27)

terutama di desa Lebakwangi mereka mengeluhkan sulitnya memberikan pelajaran kepada anak-an& karena kehilangan konsentrasi dan malas.

Tabel 16. Tingkat konsumsi energi, protein, seng, Ca, P, Fe dan Fitat

orang per

hari

berdasarkan sekolahnya

kepuh 1 keph 3 kepuh2 dalam mayak2 mayak4 2 sentul

Keterangan :

*)

HasiI konversi pangan menggunakan DKBM

Konsentrasi seng dalam tubuh berkorelasi positif dan sangat nyata (P <

0.01) dengan konsumsi protein. Semsrkin tinggi tingkat konsumsi proteinnya

khususnya protein hewani, semakin tinggi kadar seng dalam tub&, dan

sebaliknya juga demikian. Protein adalah salah satu sumber utama seng di

dalam tub& karena memiliki kadar seng lebih tinggi dari bahan pangan lainnya

dan ketersediaan biologinya (daya guna)

dalam

tubuh

lebih besar yakni

mencapai 30 %. Protein juga merupakan unsur penting dalam metabolisme

penyerapan seng dalam tubuh melalui histidin, sistein dan metionin. Korelasi

positif juga terjadi antara konsentrasi seng dalam tubuh nyata P < 0.05 dengan

tingkat konsumsi energi. Peranan energi dalam tubuh sama pentingnya bagi tub& karena seluruh kegiatan metabolisme tubuh membutuhkan energi.

(28)

Jika dibandingkan angka kecukupan gizi menurut WNPG (1 998), tingkat

konsumsi energi sebagian besar anak-anak sekolah masih dibawah angka

kecukupan (Tabel Lampiran 18) yakni berkisar 68 sampai 95 %. Begitu pula

konsumsi protein an&-anak sekolah kecuali anak sekolah Lebakkepuh 3 Desa

Lebakkepuh masih dibawah angka kecukupan yakni berkisar 70 sampai 98 %.

Rata-rata tingkat konsumsi seng, Ca, P dan Fe anak-an& sekolah mas&

dibawah angka kecukupan. Untuk beberapa an& sekolah, tingkat konsumsi

Ca, P dan Fe yang lebih tinggi, hal ini mungkin menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya konsentrasi seng dalam tubuh. Oleh karena Ca, P dan Fe dapat menekan (antagonis) terhadap penyerapan dan pemanfaatan seng ddam tub&.

Status gizi. Pada umumnya status gizi anak baik di semua desa, tetapi

kasus KEP pernah terjadi pada beberapa anak sekolah Kosambidalam Desa Lebakwangi dan Desa Sinarmukti serta Desa Neglasari seperti diperlihatkan pada Tabel 17. Wdaupun, analisis ragam menunjukkan bahwa konsentrasi seng dalam rambut tidak dipengaruhi status gizi an&. Tetapi persentase an&

yang pemah KEP cukup tinggi pada anak sekolah di Tejamari 2

(Sukamenak), Cikopomayak 2 (Neglasari), Kosarnbidalam (Lebakwangi)

masing-masing 29,28 dan 27 %. Sedangkan kasus KEP berat ditemukan

di Desa Sukamenak dan Sinarmukti masing- masing 1 orang. Ternyata, bila

dikaitkan antara status gizi dengan status seng anak sebagian besar penderita

defisiensi seng terjadi pada Lebakwangi, Sukamenak clan Sinarmukti yang

pernah terjadi kasus KEP. Berbeda dengan anak-anak sekolah Cikopomayak 2

Desa Neglasari yang pemah mengalami KEP sebesar 28 %, temyata saat

(29)

70 ppm relatif lebih kecil yakni 7.50 5%. Hal ini, berhubungan erat dengan rata- rata tingkat konsumsi energi, protein, seng serta mineral lain yang lebih baik dari Desa Sukamenak, Sinarmukti dan Lebakwangi.

Tabel 17. Jumlah dan persentase an& sekolah berdasarkan status gizi

anak

Jumlah (n) 24 32 60 26 40 36 70 4 1

Normal (baik) 23(96) 32(100) SO(83) 18(69) 28(70) 32(89) SO(70) 33(80)

N+ Pexnah KEP 0 0 09(lS) 07(27) 11(28) 04(11) 19(29) 07(18)

KEP ringan 0 0 Ol(02) 0 0 0 0 0

KEP sedang OI(04) 0 0 Ol(04) Ol(02) 0 0 0

KEP berat 0 0 0 0 0 0 Ol(O1) Ol(02)

Keterangan: LKI clan LK3 dari Desa Lebakkepuh, LK2 dan KD dari Desa Lebalcwangi; CK2 dari Desa Neglasari; CK4 dari Desa Cikopomayak; TJ2 dari Desa Sukamenak; PS dari Desa Sinarmukti. Angka diluar kurung adalah jumlah; angka dalam kurung adalah persentase

Keterkaitan kandunpan senp tanah dengan ~ e u b a h lainnva

Keterkaitan antara kandungan seng dalam tanah dengan kadar seng pada

air, tanaman dan manusia diketahui melalui analisis Iintasan. Diagram lintasan

yang menunjukkan hubungan kausal peubah tanah, air, tanaman dan konsumsi

pangan serta peubah lainnya terhadap peubah kadar seng pada manusia

disajikan pada Gambar 6. Berdasarkan analisis lintasan dapat diketahui

(30)
(31)

pada manusia. Informasi mengenai hubungao kausal antar peubah diperjelas

dengan nilai koefisien lintasan dan koefisien determinasi dari setiap model.

Pengaruh pH air terhadap kandungan seng dalarn tanah memiliki nilai

koefisien lintas -0.592 (p 4 0.01), yang herd peningkatan pH air dapat

menurunkan ketersediaan seng dalam tanah. Walaupun demikian konstribusi

pH air terhadap ketersediaan seng dalam tanah hanya 19.4 % (R' terkoreksi

=0.349) d m sisanya dipengaruhi oleh faktor lain sebesar 80.6 %. Sesuai

dengan uraian hasil penelitian yang dikemukakan pada halaman 48-49 bahwa masih terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi ketersediaan seng dalam tanah.

Konstribusi kandungan seng dalam tanah dan pH air terhadap kadar seng

dalam air sebesar 35.2 % (R' terkoreksi = 0.579), dan sisanya 64.8 %

dipengaruhi oleh faktor luar. Pengaruh langsung dari kandungan seng dalam

tanah terhadap kadar seng dalam air dengan koefisien lintas

-

0.645 (p < 0.0 l),

artinya bahwa peningkatan kandungan seng tanah tidak meningkatkan secara

langsung kadar seng dalam air. Hal tersebut disebabkan kelarutan seng dalam

tanah sangat rendah dan tidak mobil serta lebih banyak ditemukan di

permukaan tanah.

Konstribusi kandungan seng dalam tanah, air dan faktor tingkat

pendidikan, pekerjaan dan jumlah anak terhadap kandungan seng dalam

tanaman 46.9 % (

R~

terkoreksi = 0.7 17), dan sisanya 53.1 % dipengaruhi oleh

faktor luar. Pengaruh langsung kadar seng dalam

air

terhadap kadar seng

dalam tanaman dengan koefisien lintas 0.364 (p < 0.01), ha1 ini menunjukkan

bahwa peningkatan kadar seng dalam air dapat meningkatkan kadar seng dalam tanaman.

(32)

Pengaruh kandungan seng dalam tanah terhadap kadar seng pada

manusia, secara tidak langsung melalui air, tanaman dan konsumsi pangan.

Tidak ada pengaruh langsung dari kandungan seng dalam tanah dengan kadar seng pada manusia. Konstribusi kandungan seng dalam tanah terhadap kadar seng pada manusia disajikan dalam Tabel 18

Tabel 18. Hasil analisis lintasan kandungan seng dalam tanah terhadap

kadar seng dalarn rambut (dalam koefisien lintasan).

Hubungan kadar seng tanah-rnanusia Koefisien Litasan

*)

melalui Pengaruh tidak langsung

...

Air 0.073

Tanaman

-

0.093

Tanaman

-

Konsumsi seng

-

0.023

Tanaman

-

Konsumsi protein

Air

-

Konsumsi seng

Air

-

Konsumsi protein

Air

-

Tanaman

Tanarnan

-

Konsumsi energi 0.155

Keterangan :

*)

dihitung dari diagram Iintasan

Konstribusi pengaruh tidak langsung kandungan seng dalam tanah berdasarkan analisis koefisien lintasan terhadap kadar seng manusia sangat

rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kadar seng pada manusia khususnya pada

anak-anak sangat sedikit dipengaruhi oleh kandungan seng dalam tanah.

Kecilnya konsbibusi

ini

disebabkan oleh kandungan seng dalam tanaman dan

produknya rendah serta ketersedian daya serap seng tanaman dalam tubuh rendah. Disamping itu, tingkat konsumsi pangan masyarakat masih rendah

(33)

(rata-rata dibawah angka kecukupan) dan sebagian pemenuhan konsumsi pangan berasd dari luar wilayah.

Secara urnurn pengaruh langsung dan tidak langsung peubah-peubah

dalam diagram lintasan pada Gambar 6, menunjukkan konstribusi peubah-

peubah bebas terhadap kadar seng pada manusia sangat rendah yaitu 5.7 %

(R'

terkoreksi = 0.11). Sebesar 94.3 % dipengaruhi oieh faktor diluar model

tersebut. Besarnya faktor luar yang mempengaruhi kadar seng pada manusia menunjukkan kompleksnya permasalahan pangan gizi masyarakat. Pendekatan multidisiplin ciiperlukan dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Percobaan rumah kaca

Hasil percobaan rumah kaca menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan

yakni cara pemberian dan dosis pupuk terhadap pertumbuhan Cjumlah

anakan

pada 7 Minggu Setelah Tanam (MST)) dan produksi (berat gabah kering giling) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Sedangkan jenis tanah berpengaruh

sangat nyata pada P < 0.0 1 terhadap jumlah anakan dan berat kering giling.

Selanjutnya dapat dilihat pada Tabel Lampiran 20. Rata-rata jurnlah anakan

pada Podsolik Cikopomayak (12) berbeda nyata dengan rata-rata jumlah

anakan pada jenis tanah lainnya, begitu pula rata-rata jumlah anakan pada jenis

tanah Aluvial Lebakwangi d m Latosol Sukamenak. Rata-rata jumlah anakan

pada jenis tanah Podsolik Neglasari (3) terkecil diantara rata-rata jumlah anakan pada jenis tanah lainnya.

Rata-rata berat gabah kering giling pada jenis tanah Podsolik

Cikopomayak (6.7 g) dan Aluvial Lebakwangi (6.4 g) tidak berbeda nyata

pada P < 0.05, tetapi berbeda nyata dengan rata-rata berat gabah kering giling

(34)

Sukamenak (4.9 g), Latosol Sinarmukti (4.6 g) dan Aluvid Lebakkepuh (3.2

g) tidak berbeda nyata, tetapi berbeda nyata dengan rata-rata berat gabah kering giling pada tanah lainnya. Rata-rata berat gabah kering giling pada tanah Podsolik Neglasari (3.2 g) terkecil diantara rata-rata berat gabah kering giling

pada jenis tan& lainnya. Hubungan antara jumlah anakan dengan berat gabah

kering giling terlihat erat, dimana semakin sedikit jumlah anakannya semakin

sedikit produksi gabah kering gilingnya. Hal tersebut disebabkan, j d a h anakan sangat rnenentukan jurnlah malai produktif yang menghasilkan gabah.

Kadar seng tanaman. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis tanah berpengaruh sangat nyata (PC 0.01) terhadap kadar seng dalam tanaman

seperti disajikan pada Tabel Lampiran 21. Sedangkan perlakuan cara

pemberian dan dosis pupuk seng serta interaksinya tidak berpengaruh terhadap

kadar seng tanaman. Secara

umum

kadar seng yang normal dalam jaringan

tanaman beragam antara 20 sarnpai 40 ppm (Knezak dan Ellis, 1980). Rata-rata kadar seng dalam tanaman berdasarkan jenis tanah berturut-turut untuk jenis

tanah Aluvial Lebakwangi, Aluvial Lebakkepuh, Latosol Sinarmukti, Latosol

Sukamenak, Podsolik Cikopomayak dan Podsolik Neglasari adalah 48.12

+-

14.7, 46.50

+

9.07, 41.75

+

11.18, 33.02 f 10.75, 31.75 f 10.95, dan 28.50 f 7.86 ppm.

Hasil uji lanjut dengan Duncans menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara jenis tanah. Terdapat perbedaan yang nyata antara jenis tanah Aluvial Lebakwangi dan Lebakkepuh dengan Latosol Sukamenak, Podsolik Neglasari dan Cikopomayak. Sedangkan antara Aluvial Lebakkepuh dengan Lebakwangi, antara Aluvial Lebakkepuh dengan Latosol Sinarmukti, antara

(35)

Podsolik Neglasari dengan cipokomayak dan Latosol Sukamenak tidak berbeda nyata.

Tabel f 9. Rataan kadar seng tanaman pada berbagai jenis tanah

No. Jenis tanah Rataan

. . . ,. . . .. . . .. . .. . . , . . . .. . . .. . . .. . . 1. Aluvial Lebakwangi 48.12 a 2. Aluvial Lebakkepuh 3. Latosol Sinarmukti 4. Latosol Sukarnenak 33.03 c 5. Podsolik Cikopomayak 6. Podsolik Neglasari

Catatan: angka yang sama tidak berbeda nyata pada taraf P< 0.05

Rata-rata kadar seng dalam tanaman sesuai dengan perlakuan addah

sebagai berikut: pada perlakuan A (kontrol), B (tanah 5 pprn), C (tanah 10

ppm), D (tanah 15 ppm), E (tanah 20 ppm), F (akar 2.5%), G (akar 5%), H

(daun 10 pprn sekali), I (daun 10 pprn dua kali), dan J (daun 10 pprn tiga kali)

berturut-turut 36.45

+

14.10, 37.61 f 13.04, 36.52 f 10.91, 36.87 _t 11.49,

38.54

+

14.55, 38.54 f 15.28, 39.58

+

13.66, 40.20 f 15.35, 38.13 f 12.05 dan

39.79 & 12.46 ppm. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara rataan kadar

seng dalam tanarnan karena pengaruh perlakuan.

Kadar seng dalam beras. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis

tanah dan pengaruh perlakuan cara pemberian dan dosis pupuk seng terhadap kadar seng pada beras berbeda sangat nyata pada taraf P<0.01. Sedangkan

(36)

Pengaruh cara pemberian pupuk melalui tanah, akar dan daun serta dosis

pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap kadar seng &am beras. Rata-rata

kadar seng beras pada perlakuan A (kontrol), B (tanah 5 ppm), F (akar 2.5O),

G (akar 5%), D (tanah 15 ppm), C (tanah I0 ppm), E (tanah 20 ppm), H (daun

10 pprn sekali), I (daun 10 pprn dua kali), dan J (daun 10 pprn tiga kali)

berturut-turut 41.04

+

15.03, 40.56 f 14.16, 37.17 f 7.51, 36.87

f

8.18, 34.79

+

10.47, 34.16 f 11.09, 33.75 f 12.26, 33.75 f 9.80, 32.29 f. 8.53 dan 31.04

+-

9.04 ppm. Selanjutnya, uji Duncan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara cara pemberian dan dosis pupuk terhadap kadar seng beras. Selengkapnya disajikan pada Tabel 21.

Tabel 2 1. Rata-rata kadar seng pada beras berdasarkan perlakuan

Nomor Perlakuan Rataan

1. A (kontrol) 41.04 a

2. B (tanah 5 ppm) 40.56 a

3. F (akar 2.5 %) 37.17 abc

4. G (akar 5 .OO/o) 36.87 abc

5. D (tanah 15 ppm) 34.79 abc 6. C (tanah 10 ppm) 34.17 bc

7. E (tanah 20 ppm) 33.75 c

8. H (daun 10 ppm sekali) 33.75 c

9. I (daun 10 pprn dua kali) 32.29 c

10. J (daun 10 ppm tiga kali) 31.04 c

(37)

Rata-rata kadar seng dalam beras semakin menurun dengan semakin

meningkatnya pemberian pupuk ZnS04 7 H 2 0 kedalam tanah, begitu pula

dengan perlakuan pemberian melalui akar dan daun. Tanpa pemberian pupuk

seng kedalam tanah, daun dan akar menunjukkan rataan kadar seng dalam beras

lebih tinggi, tetapi tidak berbeda nyata dengan beberapa perlakuan.

Pembahasan Umum

Hasil analisis sifat kimia tanah menunjukkan keragaman kadar unsur hara tanah khususnya konsentrasi seng dalam tanah, beberapa jenis tanah yang sama dan berasal dari bahan induk dan fisiografi yang sama tetapi kadar haranya

berbeda. Keragaman ini menunjukkan banyaknya faktor yang saling

mempengaruhi dan berhubungan antara sifat kimia dan kadar hara tanah.

Ketersediaan seng dalam tanah dipengaruhi oleh peubah-peubah bebas antara

lain pH, Al, H, C-org, N-total, Ca, Mg,

Na,

P dan K dengan nilai koefisien

determinasi

( R ~

) yang disesuaikan (adjusted) = 45 % yang berarti bahwa 45 %

variasi ketersediaan seng dalam tanah d i p e n g a d oleh peubah bebas tersebut.

Sisanya 55 % tidak dipengaruhi oleh peubah-peubah tersebut dan tidak bisa

dijelaskan melalui persamaan matematik tersebut. Sejumlah faktor lain seperti

redoks potensid tanah (Eh) dan mikroorganisrne yang tidak diukur,

kemungkinan besar mempengaruhi dinamika proses kimia-fisik maupun biologi ketersediaan seng dalam tanah.

Kompleknya keterkaitan antara unsw-unsur hara dalam tanah, membuat

.

setiap ruang dan tempat di dalarn tanah memiliki sifat fisik dan kimia yang

berbeda. f engambilan contoh tanah yang diharapkan dapat mewakili satu jenis

(38)

sebenamya. Hal ini yang menyebabkan te rjadinya perbedaan interpretasi dari

setiap hasil penelitian di satu desa atau jenis tanah yang sama. Hasii

penelitian sebelumnya oleh Soepardi (1982) dan A1 Jabri et. al. (1990) pada

wilayah yang sama kadar seng tanah tergolong kahat Zn, tetapi hasil penelitian

menunjukkan hasil yang berbeda. Hanya tiga contoh tanah yang menunjukkan

hasil yang sama. Perbedaan tersebut terjadi karena beberapa kemungkinan:(l)

tempat dan lokasi pengambilan contoh tanah tidak sama, (2) selama kurun

waktu 10 sampai 20 tahun terakhir terjadi proses penambahan atau

pengurangan hara dalam tanah, (3) proses dinamika yang terjadi dalam tanah

sebagai akibat perubahan agroekologi dan fisik-kimia-biologi tanah.

Konsentrasi seng dalam air, tidak mengikuti tin&

dan

rendahnya

konsentrasi seng dalam tanah. Pada tanah Podsolik yang memiliki ketersediaan

seng lebih tinggi dari tanah lainnya, konsentrasi seng dalam air tidak terukur.

Sebaliknya pada tanah Aluvial dan Latosol yang memiliki kadar seng tanah

lebih rendah tetapi konsentrasi seng dalam air antara 0.01 sampai 0.12 ppm.

Rendahnya konsentrasi seng dalam air berhubungan dengan sifat seng yang

tidak mobil sehingga sedikit yang larut dalam air dan asal usul sumber air.

Kebanyakan seng dalam tanah berbentuk terikat (86%) dan hanya sedikit (2%) yang dapat dipertukarkan (Ma dan Lindsay, 1993).

Tinggi dan rendahnya ketersediaan seng dalam tanah tidak selalu berhubungan dengan tanaman, karena penentuan batas kebutuhan tanaman

berbeda-beda tergantung dari jenis tanaman, varietas tanaman, dan jenis tanah.

Penetapan kriteria batas rendah, sedang dan tin& oleh Li d m Mahler (1992)

dan

Al

Jabri et. al. (1990) tidak bisa dijadikan dasar penetapan status seng

(39)

dan Subadiyasa (1988), mtuk menetapkan status seng dalam tanah digunakan batas kritis setiap tanaman yang sangat tergantung dari metode yang digunakan,

jenis tanaman dan jenis tanah. Ketersediaan seng di dalam tanah Aluvial

rendah tetapi secara kualitas masih mampu

untuk

mendukung pertumbuhan

tanaman seperti diperlihatkan dari hasil percobaan rumah kaca. Sementara

pada Latosol dan Podsolik yang memiliki ketersediaan seng lebih tinggi

ternyata tidak menjamin pertumbuhan tanaman lebih baik. Hal ini berarti

ketersediaan seng dalam tanah tidak mutlak menjadi penentu bagi pertumbuhan tanaman, masih terdapat sejumlah faktor yang saling mempengaruhi.

Pengaruh jenis tanah sangat nyata (P < 0.01) terhadap rata-rata jumlah

anakan, berat gabah kering giling, kadar seng dalam tanaman dan beras. Jenis

tanah Podsolik Cikopomayak menghasilkan rata-rata jumlah anakan dan berat gabah kering giling yang tertinggi dibandingkan jenis tanah lainnya. Sebaliknya tanah Podsolik Neglasari menghasilkan rata-rata jumlah anakan dan berat kering giling serta kadar seng dalam tanaman terkecil dibanding

jenis tanah lainnya dan kadar seng dalam beras yang tertinggi. Hal ini

menunjukkan, terdapat kecenderungan bila perhunbuhan dan produksinya lebih tinggi, maka distribusi seng dalam tanaman semakin luas dan konsentrasi seng

dalam tanaman dan beras kecil. Sedangkan bila pertumbuhan dan produksinya

lebih rendah maka distribusi seng dalam tanaman semakin terbatas dan terkonsentrasi pada beras.

Pengaruh pemberian pupuk dan tanpa pupuk pada percobaan rumah kaca menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anakan, berat kering giling, kadar seng

dalam tanaman dan kadar seng dalam beras tidak berbeda nyata. Ada

(40)

mampu mendukung tanman dan iidak membatasi perhunbuhan dan produksi gabah. Bahkan rata-rata kadar seng pada beras tanpa pemberian pupuk lebih tinggi dari perlakuan lainnya.

Pengaruh cara pemberian dan dosis pupuk seng terhadap rata-rata kadar

seng dalam beras nyata pada taraf P(0.05, tetapi perbedaan tersebut tidak

berhubungan dengan peningkatan dosis pupuk seng. Peningkatan dosis pupuk

seng yang diberikan melalui tanah, daun dan akar justru semakin menurunkan

kadar seng dalam beras. Efektivitas pemupukan seng dalam memperbaiki

kadar seng dalam tanaman clan beras rendah, sehingga dalarn penelitian ini

pemupukan seng tidak dapat di andalkan untuk meningkatkan kadar seng dalam

beras. Pemberian pupuk seng melalui akar tanaman terlihat tidak berbeda

nyata dengan pemberian pupuk seng melalui tanah, sehingga dismankan agar

pemberian pupuk seng sebaiknya meldui akar tanaman. Cara tersebut dinilai

lebih efisien dan efektif.

Korelasi dari berbagai peubah terhadap konsentrasi seng ddarn rambut menunjukkan ada yang bersifat positif dan negatif. Beberapa peubah berkorelasi positif antara lain: umur, tinggi dan berat an& protein, energi,

seng pangan, fitat, seng tanaman, seng nasi, pH,

umur

orang tua. Berkorelasi

negatif dengan konsentrasi seng dalam rambut yakni jenis kelamin, jurnlah

anak, seng tanah dan seng dalam air. Diantara peubah tersebut yang

berkorelasi positif dan sangat nyata P < 0.01 terhadap konsentrasi seng rambut

yakni konsumsi protein, sedangkan yang berkorelasi positif d m negatif' serta

nyata P < 0.05 terhadap konsentrasi seng rambut yakni tinggi, jenis kelamin

Gambar

Tabel 6.  3umlah dan persentase jenis tanah berdasarkan kemasamannya  pH tanah 0320)
Tabel 7.  Jumlah  dan  persentase contoh tanah berdasarkan kriteria PPT (1983)
Tabel  9  Korelasi antara seng (Zn) tanah dengan beberapa sifat kimia tanah
Tabel  10.  Hubungan beberapa sifat kimia tanah dengan ketersediaan Zn
+7

Referensi

Dokumen terkait

Laju penetrasi formula II lebih rendah dibandingkan formula I dapat disebabkan karena pH sediaan formula II lebih besar dari pada pKa natrium diklofenak (pKa=4),

Hal ini untuk mengidentikasi rute/jalur emergency access yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dari sipengambil keputusan (atau komandannya situasi

Kompensasi sangat penting untuk menunjang kinerja karyawan dalam meningkatkan hasil kerja yang optimal, karena kompensasi merupakan salah satu aspek yang paling sensitif

Kondisi suhu ( lihat Gambar 9) dan kelembaban ( lihat Gambar 8) di dalam ruang inkubasi relatif stabil pada nilai set poin (suhu 25 °C dan kelembaban 75 %) meski suhu

dengan bahan pengikat gelatin lebih baik daripada tablet hisap yang dibuat dengan. bahan pengikat

[r]

efektifnya fungsi Terminal Kartasura yang pertama adalah kesesuaian lokasi, lalu untuk prioritas. yang kedua ada 3 faktor, yaitu aksesibilitas, kondisi internal terminal,

Mengadakan Tindakan Perbaikan Tindakan perbaikan yang dilakukan dalam pengawasan peredaran produk pangan (makanan kaleng) oleh BBPOM di Kota Pekanbaru dilakukan dengan