i
PENGARUH ORIENTASI PASAR, INOVASI, PENGAMBILAN
RISIKO, DAN SIKAP PROAKTIF TERHADAP KINERJA
KEUANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
(
Studi empiris pada: Industri Kerajinan Skala Kecil dan
Menengah di Yogyakarta )
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi
Oleh :
Romi Agus Pratomo NIM 101324013
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2016
iv
PERSEMBAHAN
Kupersembahan Karya Ini Untuk
:
TUHAN YESUS KRISTUS JURU SELAMATKU
BAPAK NARMAN & IBU YULIANA
ADIKKU BAYU KRISTIANTO
SAHABAT-SAHABATKU YANG SANGAT AKU SAYANGI
VERONIKA WAHYU ANDRIYANI
ALMAMATERKU UNIVERSITAS SANATA DHARMA
v
MOTTO
"Marilah Kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberikan kelegaan kepadamu”
~Matius 11:28~
“sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok
mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”
~Matius 6 : 34
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan
kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan
yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir"
~Pengkhotbah 3:11~
“Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka
terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka
bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi”
~ Ernest Newman~
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 14 Januari 2016 Penulis
vii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Romi Agus Pratomo
Nomor Mahasiswa : 101324013
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
PENGARUH ORIENTASI PASAR, INOVASI, PENGAMBILAN RISIKO, DAN SIKAP PROAKTIF TERHADAP KINERJA KEUANGAN USAHA
MIKRO KECIL DAN MENENGAH
beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 14 Januari 2016
Yang menyatakan
viii
ABSTRAK
PENGARUH ORIENTASI PASAR, INOVASI, PENGAMBILAN RISIKO, DAN SIKAP PROAKTIF TERHADAP KINERJA KEUANGAN USAHA
MIKRO KECIL DAN MENENGAH
Romi Agus Pratomo Universitas Sanata Dharma
2015
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh orientasi pasar, inovasi, sikap proaktif, dan pengambilan risiko pada kinerja keuangan usaha kecil dan menengah di Daerah Kasongan, Krebet dan Kota Gede.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-April 2015. Populasi penelitian ini adalah seluruh usaha kecil dan menengah industri kerajinan di daerah Kasongan, Krebet dan Kota Gede. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 60 orang dan pengambilan sampel dilakukan secara random sampling. Data dikumpulkan dengan alat bantu kuesioner. Analisis data menggunakan uji regresi berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) orientasi pasar berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan usaha kecil menengah Daerah Kasongan, Krebet dan kota Gede (nilai sig.value 0,042 < 0,05); (2) inovasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan usaha kecil menengah Daerah Kasongan, Krebet dan Kota Gede (nilai sig.value 0,041 < 0,05); (3) pengambilan risiko berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan usaha kecil menengah Daerah Kasongan, Krebet dan Kota Gede (nilai sig.value 0,002 < 0,05); dan (4) sikap proaktif berpengaruh terhadap kinerja keuangan usaha kecil menengah Daerah Kasongan, Krebet dan Kota Gede (nilai sig.value 0,015 < 0,05).
Kata kunci : orientasi Pasar, inovasi, pengambilan risiko, sikap proaktif, dan kinerja keuangan
ix
ABSTRACT
THE EFFECT OF MARKET ORIENTATION, INNOVATION, RISK TAKING AND ATTITUDE TOWARDS PROACTIVE FINANCIAL PERFORMANCE OF MICRO SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES
Romi Agus Pratomo Universitas Sanata Dharma
2015
The aim of this study is to determine the effect of market orientation, innovation, proactive attitude, and risk taking in the financial performance of small and medium enterprises in the area Kasongan, Krebet and Kota Gede.
This type of research is a quantitative descriptive study. The research was conducted from March to April 2015. The population of the study were all small and medium enterprises in the craft industry in Kasongan, Krebet and Kota Gede. The samples were 60 people. The sampling was carried out by random sampling. Data were collected by questionnaires. Analysis of data using multiple regression test.
The results show that: (1) market orientation has significant effect on the financial performance of small and medium businesses in Kasongan area, Krebet and Kota Gede (sig.value 0.042 <0.05); (2) innovation has significant effect on the financial performance of local small and medium enterprises in kasongan, Krebet and Kota Gede (sig. value 0.041 <0.05); (3) risk taking has significant effect on the financial performance of small and medium businesses in Kasongan area, Krebet and Kota Gede (sig. value 0.002 <0.05); and (4) proactive attitude has significant effect on the financial performance of small and medium businesses in Kasongan area, Krebet and Kota Gede (sig. value 0.015 <0.05).
Key word: market orientation, innovation, risk taking, proactive attitude, financial performance
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas berkat, kasih, dan karunia-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul “Pengaruh Orientasi Pasar,
Inovasi, Pengambilan Risiko, dan Sikap Proaktif terhadap Kinerja Keuangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah”.
Skripsi ini di susun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi program sarjana pada pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi, Jurusan pendidikan ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan tidak terlepas dari bantuan, dukungan dan dorongan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, kepada:
1. Bapak Rohandi, Ph. D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti,M.Si.,M.Ed selaku Ketua program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi.
3. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo ,S.Pd.,M.Si selaku Dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu dengan penuh kesabaran.
4. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti,M.Si.,M.Ed selaku Dosen Pembimbing II yang dengan penuh ketelitian dalam memeriksa dalam penyusunan skripsi ini.
xi
5. Segenap Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma,yang telah mendidik dan membimbing saya selama kuliah. Terimakasih banyak atas ilmu yang telah diberikan, segala jasa tidak akan pernah saya lupakan.
6. Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Khususnya Pendidikan Ekonomi 2010 terimakasih atas kebersamaan selama kuliah.
7. Kedua orang tua saya Narman dan Yuliana T atas doa, dukungan,cinta kasih, dan segala kerja keras untuk membiayai penulis sehingga dapat memperoleh gelar sarjana. Dan kekasihku, terima kasih atas segala bantuan dan dukungannya. Adik terimakasih telah memberikan dukungan dan menemani dalam penulisan skripsi.
8. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi yang tidak dapat disebutkan satu persatu hingga terwujudnya skripsi ini.
Penulis berharap, semoga apa yang telah penulis susun dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Penulis menyadari bahwa skrisi ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Dengan rendah hati, penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kemajuan karya yang lebih baik dan semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Penulis, 14 Januari 2016
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kinerja Keuangan... 10
1. Pengertian Kinerja Keuangan ... 10
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan... 11
3. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ... 14
4. Aspek-Aspek Kinerja Keuangan ... 23
B. Orientasi Pasar ... 24
1. Pengertian Orientasi Pasar ... 24
2. Dimensi Orientasi Pasar ... 29
C. Inovasi ... 31
1. Pengertian Inovasi ... 31
2. Dimensi Inovasi ... 34
D. Pengambilan Risiko ... 36
1. Pengertian Pengambilan Risiko ... 36
2. Dimensi Pengambilan Risiko ... 38
E. Sikap Proaktif ... 38 1. Pengertian Proaktif ... 38 2. Dimensi Proaktif ... 40 F. Penelitian-Penelitia Sebelumnya ... 41 G. Kerangka Berfikir... 43 H. Kerangka Konsep ... 46 I. Hipotesis ... 47
xiii
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ... 48
B. Waktu dan Lokasi Penelitian... 48
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 49
D. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ... 49
E. Jenis Data dan Operasional Variabel ... 50
F. Teknik Pengujian Instrumen ... 53
G. Teknik Analisis Data ... 56
BAB IV GAMBARAN UMUM A. Desa Wisata Kasongan ... 62
1. Sejarah Desa Wisata Kasongan ... 62
2. Desa Wisata Kasongan ... 62
3. Lokasi Desa Wisata Kasongan ... 64
4. Perekonomian Desa Wisata Kasongan ... 64
5. Komoditi Desa Wisata Kasongan ... 65
6. Ekspor Desa Wisata Kasongan ... 65
B. Desa Wisata Krebet ... 66
1. Sejarah Desa Wisata Krebet ... 66
2. Desa Wisata Krebet ... 67
3. Lokasi Desa Wisata Krebet ... 67
4. Perekonomian Desa Wisata Krebet ... 67
5. Komoditi Desa Wisata Krebet ... 68
6. Ekspor Desa Wisata Krebet ... 69
C. Desa Wisata Kota Gede ... 69
1. Sejarah Desa Wisata Kota Gede ... 69
2. Desa Wisata Kota Gede ... 70
3. Lokasi Desa Wisata Kota Gede ... 70
4. Perekonomian Desa Wisata Kota Gede ... 70
5. Komoditi Desa Wisata Kota Gede ... 71
6. Ekspor Desa Wisata Kota Gede ... 72
BAB V HASIL TEMUAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 73
1. Karakteristik Responden ... 73
2. Deskripsi Data ... 75
B. Analisis Data dan Pembahasan ... 81
1. Uji Coba Instrumen ... 81
2. Uji Hipotesis ... 84
C. Pembahasan ... 93
1. Perngaruh Orientasi Pasar Terhadap Kinerja Keuangan ... 94
2. Pengaruh Inovasi Terhadap Kinerja Keuangan ... 97
3. Pengaruh Pengambilan Risiko terhadap Kinerja Keuangan ... 100
4. Pengaruh Sikap Proaktif terhadap Kinerja Keuangan ... 103
5. Pengaruh Orientasi Pasar, Inovasi, Pengambilan Risiko dan Sikap Proaktif Terhadap Kinerja Keuangan ... 106
xiv
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 109
B. Saran ... 113
C. Keterbatasan Penelitian ... 113
DAFTAR PUSTAKA ... 116
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Perbandingan Komposisi PDB Menurut Skala
Usaha Pada Tahun 2008-2012 Atas Dasar Harga Konstan
2000 (Milyar Rupiah) ... 17
Tabel 2 Produk Domestik Bruto (PDB) Rata-rata Menurut Skala Usaha Tahun 2008-2011 (Persen) ... 18
Tabel 3 Perkembangan Jumlah Unit Usaha Tahun 2008-2012 (Milyar Rupiah) ... 19
Tabel 4 Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Skala Usaha (Milyar Rupiah) ... 20
Tabel 5 Perkembangan Nilai Ekspor Non Migas Menurun Skala Usaha (Milyar Rupiah) ... 22
Tabel 6 Kisi-Kisi Instrumen ... 54
Tabel 7 Jenis Kelamin Responden ... 73
Tabel 8 Responden Berdasarkan Usia ... 74
Tabel 9 Pendidikan Responden ... 74
Tabel 10 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian ... 75
Tabel 11 Deskripsi Data Variabel Orientasi Pasar ... 76
Tabel 12 Kategori Variabel Orientasi Pasar ... 76
Tabel 13 Deskripsi Data Variabel Inovasi ... 77
Tabel 14 Kategori Variabel Inovasi ... 77
Tabel 15 Deskripsi Data Variabel Pengambilan Risiko ... 78
Tabel 16 Kategori Variabel Pengambilan Risiko ... 78
Tabel 17 Deskripsi Data Variabel Sikap Proaktif ... 79
Tabel 18 Kategori Variabel Sikap Proaktif ... 79
Tabel 19 Deskripsi Data Variabel Kinerja Keuangan... 80
Tabel 20 Kategori Variabel Kinerja Keuangan ... 80
Tabel 21 Hasil Uji Validitas Sampel Kecil (N=30) ... 81
Tabel 22 Hasil Uji Validitas Sampel Besar (N=60) ... 82
Tabel 23 Hasil Uji Reliabilitas Sampel Kecil ... 83
Tabel 24 Hasil Uji Reliabilitas Sampel Besar ... 83
Tabel 25 Ringkasan Hasil Uji Normalitas ... 84
Tabel 26 Hasil Uji Linieritas ... 85
Tabel 27 Hasil Uji Multikolinearitas ... 86
Tabel 28 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 87
Tabel 29 Hasil Pengujian Secara Partial ... 88
Tabel 30 Hasil Uji Determinasi ... 92
xvi
DAFTAR GAMBAR
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil Validitas dan Reliabilitas Sampel Kecil ... 120
Lampiran 2 Hasil Validitas dan Reliabilitas Sampel Besar ... 123
Lampiran 3 Hasil Uji Asumsi ... 126
Lampiran 4 Hasil Uji Regresi ... 128
Lampiran 5 Tabulasi Data ………..130
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah usaha kecil dan menengah (UKM) sebesar 55.206.444 unit pada tahun 2010, banyak perusahaan yang membuka usaha guna mendapatkan peruntungan ekonomi (Statistik UMKM, 2011). Semakin banyaknya perusahaan yang membuka usaha maka semakin banyak pesaing yang muncul dalam dunia bisnis. Munculnya persaingan dalam dunia bisnis merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Karna adanya persaingan, maka perusahaan-perusahaan dihadapkan pada berbagai peluang serta ancaman baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. Oleh karnanya setiap perusahaan dituntut untuk selalu mengerti dan memahami apa yang terjadi di pasar dan mensiasati apa yang menjadi keinginan konsumen saat sekarang dan masa mendatang, serta mampu membaca atau mensiasati berbagai macam perubahan yang akan terjadi dalam lingkungan bisnisnya sehingga mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Dengan demikian perusahaan-perusahaan harus berupaya untuk meminimalisasi kelemahan-kelemahan yang ada saat ini dan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki saat ini. Perusahaan dituntut untuk memilih dan menetapkan strategi atau berbagai macam cara yang dapat digunakan untuk menghadapi persaingan yang akan muncul.
Adanya tekanan dan persaingan yang begitu ketat, secara langsung dan tidak langsung sangat mempengaruhi kinerja organisasi perusahaan termasuk
2
pada industri kerajinan baik pada skala kecil maupun menengah. Perubahan yang begitu cepat dewasa ini, baik dalam hal teknologi, kebutuhan pelanggan dan siklus produk yang semakin pendek menyebabkan permasalahan serius bagi dunia usaha, tak terkecuali usaha kecil dan menengah.
Agar usaha kecil dan menengah (UKM) dapat bangkit dan berkembang serta dapat bersaing dengan usaha-usaha besar, dibuktikan suatu cara yang dapat meningkatkan kinerja usaha kecil dan menengah, misalnya dengan pemberian kredit lunak. Pemerintah memiliki peran penting dalam hal peningkatan kinerja usaha kecil dan menengah. Pemberian kredit lunak kepada pemilik usaha dapat digunakan untuk meningkatkan kapabilitas mereka dalam meningkatkan kinerja perusahaan, namun pemberian kredit oleh pemerintah masih kurang merata, karena banyaknya usaha kecil dan menengah yang ada di Indonesia. Kecenderungan pemberian kredit adalah pada pengusaha besar dan bukan pada pengusaha kecil dan menengah karena alasan kelemahan manajerial pemasaran.
Sebagian usaha kecil dan menengah (UKM) mempunyai berbagai macam kelemahan yang terkait dengan kemampuanya dalam menanggapi perubahan eksternal, seperti kurang tepatnya memilih lahan yang strategis, kurang cekatan dalam menentukan peluang usaha yang ada, kurangnya kreativitas dan inovasi dalam mengantisipasi berbagai tantangan sebagai akibat resesi ekonomi yang berkepanjangan. Di samping itu terdapat faktor internal sebagian usaha kecil dan menengah (UKM), kelemahan internal ini disebabkan oleh sumbar daya manusia (SDM) pengelola usaha kecil dan
3
menengah (UKM) kurang berkualitas atau kurang mampu mengantisipasi berbagai masalah yang sedang dihadapi (Sugiarto, 2008: 10-12).
Berbagai kekurangan yang ada diperlukan adanya perhatian khusus terhadap nasib dari keberadaan usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai penunjang ekonomi riil masyarakat. Persaingan usaha yang begitu ketat mengharuskan perusahaan mampu memiliki tekad untuk unggul bersaing. Bila perusahaan telah mampu bersaing maka perusahaan tersebut dapat bertahan lama.Persaingan dalam sebuah usaha dapat diperoleh dengan memperhatikan kepuasan pelanggan, kualitas dan kuantitas suatu produk. Kemajuan teknologi yang semakin tidak dapat dibendung, dapat membuat suatu produk perusahaan akan tambah berkembang. Dibutuhkan suatu cara agar sebuah persaingan usaha tidak tergusur oleh usaha-usaha besar, seperti orientasi pasar.
Menurut Kohli dan Jaworski (1990: 1-18) orientasi pasar merupakan budaya perusahaan yang bisa membawa perusahaan semakin berkembang yang disertai pada meningkatnya kenerja keuangan perusahaan. Never dan Settler (1990: 34-38) mendefinisikan Orientasi Pasar sebagai budaya organisasi yang paling efektif dan efisien untuk menciptakan berbagai perilaku yang dibutuhkan untuk menciptakan superior value bagi pembeli dan menghasilkan superior performan bagi perusahaan. Nerver dan Slater (1990: 34-38) mengemukakan temuan bahwa Orientasi Pasar berpengaruh positif terhadap kinerja Keuangan. Orientasi pada pesaing merupakan faktor paling dominan pengaruhnya terhadap kinerja keuangan dalam sebuah industri. Pesaingan dalam bisnis menuntut masing-masing perusahaan untuk mampu
4
mendatangkan konsumen atau pelanggan sebnayk-banyaknya. Guna dapat mendatangkan konsumen dalam jumlah yang banyak, pihak perusahaan harus memperhatikan strategi yang diterapkan perusahaan pesaing. Masing-masing perusahaan harus memiliki keunggulan yang lebih sari semua kegiatan yang dilakukan perusahaan pesaing untuk memenangkan persaingan bisnis.
Selain orientasi pasar, inovasi juga dapat dijadikan sebagai salah satu strategi dalam mencapai keunggulan bersaing (Wahyono, 2002: 28-30). Inovasi merupakan permintaan pasar sehingga produk inovasi merupakan salah satu produk yang dapat diunggulkan bagi perusahaan (Wahyono, 2002: 28-30). Pelanggan umumnya menginginkan produk–produk yang inovatif sesuai dengan keinginan mereka. Bagi perusahaan, keberhasilannya dalam melakukan inovasi berarti perusahaan tersebut selangkah lebih maju dibandingkan pesaingnya. Hal ini menuntut kepandaian perusahaan dalam mengenali selera pelanggannya sehingga inovasi yang dilakukannya pada akhirnya memang sesuai dengan keinginan pelanggannya. Inovasi harus benar-benar direncanakan dan dilakukan dengan cermat.
Sikap proaktif juga diperlukan perusahaan agar mampu bersaing dengan berbagai macam keunggulan yang ada saat ini, dengan pandangan-pandangan ke depan yang lebih maju dan berkembang serta dapat mensiasati berbagai macam produk yang mampu menarik atau lebih baru dan sekaligus memperkenalkan produk itu tersendiri dalam memproses persaingan ke depan atau yang akan datang (Lumpkin, 2000: 25-27).
5
Di sisi lain dunia bisnis kini mulai menganut pemikiran baru, yakni kewirausahaan disebut sebagai salah satu faktor untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi perusahaan yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Menurut Bygrave (Alma, 2004: 21), Entrepreneur is the person who
perceives an opportunity and creates an organization to persue it.
Berdasarkan definisi tersebut seorang wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.
Menurut Frees (2002: 276-280) orientasi kewirausahaan adalah kunci untuk meningkatkan kinerja pemasaran. Perusahaan yang pemimpinnya memiliki visi yang jelas dan berani untuk mengambil risiko mampu menciptakan kinerja yang baik. Sebuah hasil penemuannya menunjukkan bahwa perusahaan yang manajer puncaknya adalah wirausahawan ternyata lebih banyak yang kinerjanya rendah dibandingkan yang para manajer puncaknya bukan wirausahawan.
Tingginya tingkat persaingan usaha yang ada tidak hanya dirasakan oleh perusahaan-perusahaan besar tetapi juga dialami oleh perusahaan kecil dan menengah di Indonesia, seperti industri kerajinan yang ada di daerah Yogyakarta. Industri kerajinan di Yogyakarta mengalami pasang surut, ditambah dengan semakin menjamurnya berbagai macam usaha yang ada. Oleh karena itu usaha kecil menengah terutama di Yogyakarta, perlu suatu hal yang berbeda seperti orientasi pasar, inovasi, pengambilan risiko, dan sikap proaktif.
6
Keberadaan pengusaha mikro kecil dan menengah di Yogyakarta sendiri menjadi salah satu pilar utama penggerak perekonomian. Usaha yang mereka rintis banyak membantu pengentasan masalah kemiskinan dan pengangguran
.
Hanya saja, keterbatasan modal menjadi kendala bagi pengembangan usaha yang dijalankan, dibutuhkan perhatian khusus untuk mengatasi masalah Usaha kecil menengah yang banyak menyerap tenaga kerja tersebut. akan tetapi para usaha kecil menengah terus berusaha (http://economy.okezone.com/read/2012/09/18/320/691314/pengembangan-umkm-di-yogyakarta-terkendala-modal). Walau banyak masalah yang terjadi terhadap usaha kecil menengah, tetapi industri skala kecil mengengah kota Yogyakarta tetap memiliki penggemar.Semakin agresifnya pelaku pasar dalam merebut porsi pasar yang menyebabkan industri kecil dan menengah memandang perlu untuk menerapkan strategi produk inovatif yang bersaing disamping meningkatkan kepuasan pelanggan. Kasus yang terjadi pada usaha kecil dan menengah yang ada di Yogyakarta, dapat ditarik kesimpulan bahwa peneliti berpendapat ingin mengembangkan lebih lanjut penelitian menganai industri kecil dan menengah. Industri kecil dan menengah yang ingin dikembangkan oleh peneliti yaitu kawasan Kasongan, Krebet dan Kotagede. Ketiga kawasan tersebut adalah kawasan wisata yang memiliki banyak usaha kecil dan menengah. Apabila tempat wisata dikembangkan produknya maka semakin menambah pendapatan daerah yang tentunya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
7
Berdasarkan uraian tersebut peneliti melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Orientasi Pasar, Inovasi, Pengambilan Resiko, dan Sikap
Proaktif Terhadap Kinerja Keuangan Usaha Kecil dan Menengah” yang
menjadi subjek dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan muda dan kreatif yang bekerja di daerah Kasongan, Krebet dan Kota Gede.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja keuangan usaha mikro kecil dan menengah?
2. Bagaimana pengaruh inovasi terhadap kinerja keungan mikro kecil dan menengah?
3. Bagaimana pengaruh pengambilan risiko terhadap kinerja keuangan mikro kecil dan menengah?
4. Bagaimana pengaruh sikap proaktif terhadap kinerja keuangan mikro kecil dan menengah?
5. Bagaimana pengaruh orientasi pasar, inovasi, pengambilan risiko dan sikap proaktif terhadap kinerja keuangan mikro kecil dan menengah?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh orientasi pasar terhadap kinerja keuangan usaha mikro kecil dan menengah.
2. Untuk mengetahui pengaruh inovasi terhadap kinerja keuangan usaha mikro kecil dan menengah.
8
3. Untuk mengetahui pengaruh pengambilan risiko terhadap kinerja keuangan usaha mikro kecil dan menengah.
4. Untuk mengetahui pengaruh sikap proaktif terhadap kinerja keuangan usaha mikro kecil dan menengah.
5. Untuk mengetahui pengaruh orientasi pasar, inovatif, pengambilan risiko dan sikap proaktif terhadap kinerja keuangan usaha mikro kecil dan menengah.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini nantinya dapat memberikan informasi yang cukup berarti bagi pihak-pihak antara lain,
1. Bagi Pengusaha Kerajinan
Memberikan informasi dan bahan masukan bahwa kinerja keuangan itu harus didasari pada orientasi pasaran, inovasi, pengambilan risiko dan sikap proaktif.
2. Bagi Dinas Perekonomian
Memberi informasi tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan, sebagai bahan pembinaan bagi perusahaan kecil dan menengah.
3. Bagi peneliti
Memberikan informasi dan pengetahuan tentang orientasi pasar, orientasi kewirausahaan dan kinerja keuangan usaha mikro dan menengah. Sehingga dapat dijadijakan landasan utama dalam penelitian.
9 4. Bagi Universitas Sanata Dharma
Hasil penelitian ini dapat menambah referensi koleksi perpustakaan kampus Sanata Dharma Yogyakarta, yang berguna bagi para mahasiswa serta pihak-pihak yang membutuhkan terutama yang berhubungan dengan orientasi pasar, dan kinerja keuangan.
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kinerja Keuangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah 1. Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu (Hanafi,2003: 69). Konsep kinerja keuangan menurut Gitosudarmo dan Basri (2002: 275) adalah rangkaian aktivitas keuangan pada suatu periode tertentu yang dilaporkan dalam laporan keuangan diantaranya laporan laba rugi dan neraca.
Menurut Fahmi (2011: 2) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Menurut Sucipto (2003: 1) pengertian kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam menghasilkan laba. Sedangkan menurut IAI (2007: 58) kinerja keuangan adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan sumberdaya yang dimilikinya. Kinerja keuangan dapat disimpulkan sebagai usaha yang dilakukan dilakukan oleh perusahaan dalam menghasilkan laba. Yang dilaksanakan dalam suatu waktu atau periode tertentu.
11
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan
a. Orientasi Pasar
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan melalui proses, individu-individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dengan cara menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lain (Kotler, 2003: 9). Penelitian Pangeran (2012: 11) menyatakan orientasi pasar berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian, untuk meningkatkan kinerja keuangan organisasi bisnis harus berorientasi pada pasar
Hal tersebut dapat dilakukan dengan memahami pelanggan sehingga dapat menciptakan nilai yang unggul bagi pelanggan. Hal lain yang dapat dilakukan pebisnis adalah menilai keluaran pesaing, baik pesaing yang ada maupun pesaing yang potensial. Selain kedua hal di atas, perusahaan perlu melakukan koordinasi demi menciptakan keunggulan bagi pelanggan. Dengan demikian, aoabila perusahaan dapat memperhatikan ketiga hal diatas maka perusahaan dapat mengatasi pesaing dan mengambil hati pelanggan. Dengan demikian omzet penjualan dapat meningkat sehingga kinerja keuangan juga akan semakin baik.
b. Inovasi
Menurut Suryana (2008: 32), inovasi adalah kreativitas yang diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat diimplementasikan dan memberikan nilai tambah atas sumber daya yang dimiliki. Menurut
12
penelitian Widyanto (2001: 97) inovasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian, untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan harus kreatif.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara perusahaan memasuki pasar sebagai yang pertama kalinya dengan beraneka macam inovasi produk yang ada. Selanjutnya yang dapat dilakukan pebisnis adalah dapat mengolah berbagai macam produk dengan kreativitas yang ada. Selanjutnya yang dapat dilakukan pebisnis adalah mengembangkan sumber inovasi atau tempat aktivitas perusahaan melakukan proses pembuatan produk. Selain ketiga hal di atas perusahaan perlu meningkatkan investasi dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi dan sumber daya manusia yang semakin baik. Dengan demikian, apabila perusahaan memperhatikan ke empat hal di atas maka perusahaan dapat mengatasi kekurangan dalam mengembangkan produk baru serta perusahaan juga dapat semakin berkembang dalam persaingan yang ada. Dengan demikian jumlah penjualan juga akan semakin meningkat sehingga kinerja keuangan menjadi semakin baik.
c. Pengambilan Risiko
Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Berdasarkan hasil penelitian Warenda (2013: 15) pengambilan risiko berpengaruh
13
signifikan terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian, untuk meningkatkan kinerja keuangan pebisnis harus memiliki kemampuan dalam mengambil risiko.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga atas keputusan yang ada. Selanjutnya pebisnis juga dapat memikirkan hal-hal yang menjadi kerugian besar atas keputusan yang dibuatnya. Dengan demikian, apabila perusahaan memperhatikan kedua hal di atas maka perusahaan akan dapat mengatasi berbagai risiko yang timbul atas keputusan yang dibuat oleh produsen itu sendiri. Dengan begitu hasil penjualan semakin meningkat sehingga kinerja keuangan semakin baik.
d. Sikap Proaktif
Perilaku proaktif merupakan perilaku yang secara langsung dapat mengubah lingkungan sekitar mereka. Dimensi perilaku proaktif merupakan akar dari kebutuhan-kebutuhan individu untuk memanipulasi dan mengendalikan lingkungan. Selanjutnya, perbedaan individu mengarah pada kecenderungan orang untuk bertindak dengan mempengaruhi lingkungan mereka (Bateman & Crant, 1993: 69).
Sikap proaktif masuk ke dalam corporate social responsibility (Tunggal, 2008: 66). Menurut penelitian Kamaludin (2010, 117)
corporate social responsibility yang di dalamnya terdapat sikap
14
Dengan demikian, untuk meningkatkan kinerja keuangan pebisnis harus memiliki sikap proaktif.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara perusahaan menentukan tujuan kedepan dari kegiatan usaha. Selanjutnya perusahaan dapat meningkatkan frekuensi dalam memperkenalkan produk sendiri dibandingkan dengan pesaing. Selanjutnya perusahaan dapat menjalankan taktik dalam mendahului menciptakan produk dibandingkan pesaing. Selanjutnya perusahaan dapat memilih waktu yang tepat dan cepat dalam pengembangan produk. Selain keempat hal di atas perusahaan juga harus memiliki visi misi yang dapat mempengaruhi pasar yang ada. Dengan demikian, apabila perusahaan memperhatikan kelima hal di atas maka perusahaan dapat semakin berkembang dengan tujuan meningkatkan produksi. Dengan demikian produktivitas meningkat sehingga kinerja keuangan akan semakin membaik.
3. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
a. Pengertian Usaha Mikro Kecil dan Menengah
Menurut UU No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah, Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan
15
usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja, memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional (Iman dan Adi, 2009).
b. Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam Perekonomian Indonesia
Peran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam perekonomian Indonesia paling tidak dapat dilihat dari (Kementerian Koperasi dan UKM, 2005: 70):
16
1) Kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor.
2) Penyedia lapangan kerja yang terbesar.
3) Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat.
4) Pencipta pasar baru dan sumber inovasi.
5) Sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor.
Perekonomian nasional jika diukur dengan PDB telah pulih dari krisis ekonomi pada akhir tahun 2003. Secara umum peran usaha mikro dan kecil dalam PDB mengalami kenaikan dibanding sebelum krisis, bersamaan dengan merosotnya usaha menengah dan besar terutama pada puncak krisis ekonomi tahun 1998 dan 1999, namun kemudian tergeser kembali oleh usaha besar. Usaha kecil telah pulih dari krisis pada tahun 2001, dan usaha besar baru pulih dari krisis pada tahun 2003, sedang untuk usaha menengah pulih pada tahun 2004. Krisis ekonomi mengakibatkan Indonesia tertinggal 7 tahun dibandingkan negara lain dalam membangun daya saing perekonomian nasionalnya (www.depkop.go.id).
Perkembangan ekonomi nasional menunjukkan usaha kecil, menengah, dan besar terus mengalami peningkatan. Berikut tabel Pendapatan Domestik Bruto (PDB) menurut skala usaha pada tahun 2008-2012:
17 Tabel 1
Perbandingan Komposisi PDB Menurut Skala Usaha Pada Tahun 2008-2012 Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Milyar Rupiah)
No
Skala Usaha
Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012
Pertumbuhan 2008 - 2012 1 Usaha Mikro dan Kecil 872.834,00 906.570,80 958.181,60 1.022.544,60 1.085.086,30 24,32% 43,69% 43,4% 43,2% 43,01% 42,97% 2 Usaha Menengah 292.919,10 306.028,50 324.390,20 346.781.4 366.373,90 25,08% 14,66% 14,65% 14,63% 14,59% 14,51% 3 Usaha Besar 832.184,80 876.459,20 935.375,20 107.784,00 1.073.660,10 29,02% 41,65% 41,95% 42,17% 42,4% 42,52% Jumlah PDB 1.997.938,00 2.089.058,50 2.217.947,00 2.377.110,00 2.525.120,40 26,39% 100% 100% 100% 100%
Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, 2014.
Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa usaha mikro, kecil, menengah dan besar mengalami pertumbuhan tiap tahunnya. Pertumbuhan ekonomi tidak signifikan terjadi di tiap tahunnya, akan tetapi terus merangkak naik secara pasti. Pertumbuhan ekonomi untuk skala usaha mikro dan kecil tahun 2008-2012 mengalami ketidakstabilan, bahkan ditahun 2012 terjadi penurunan. Pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sampai 2012 mencapai 24,32%. Skala usaha menengah tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan, tetapi tidak mengalami penurunan pula pada tahun 2008 sampai 2012. Skala usaha menengah pada tahun tersebut mengalami pertumbuhan
18
ekonomi sebesar 25,08%. Skala usaha besar mengalami kenaikan paling tinggi di antara skala usaha lain pada tahun 2008-2012 yaitu 29,02%. Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2008-2012 mengalami pertumbuhan sebesar 26,39%. Berikut akan lebih dijabarkan rata-rata struktur PDB menurut skala usaha kecil tahun 2008-2011:
Tabel 2
Produk Domestik Bruto (PDB) Rata-rata Menurut Skala Usaha Tahun 2008-2011 (Persen)
No Lapangan Usaha Rata-rata 2008 - 2011
UK UM UB 1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 1,59% 61,66% 36,75% 2 Pertambangan 1,15% 2,26% 96,59% 3 Industri Pengolahan 10,69% 12,74% 76,57% 4
Listrik, Gas dan Air
Bersih 1,04% 6,38% 92,59% 5 Bangunan 6,65% 22,43% 70,92% 6 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 61,46% 28,57% 9,97% 7 Pengangkutan dan Komunikasi 10,24% 21,35% 68,41% 8 Keuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan 12,28% 47,43% 40,28%
9 Jasa-Jasa 59,83% 29,89% 10,28%
PDB 15,26% 20,47% 64,27%
PDB Non Migas 17,59% 23,48% 58,93% Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, 2014.
Berdasarkan tabel tersebut, rata-rata PDB menurut skala usaha tahun 2008-2011 untuk usaha kecil yaitu 15,26%, usaha menengah 20,47%, dan usaha besar 64,27%. Setiap lapangan usaha memiliki pertumbuhan dan tidak ada yang mengalami kekosongan, dalam hal
19
ini berbagai lapangan usaha masih dalam taraf aman tetapi perlu banyak bantuan agar tetap dapat maju dan berkembang.
Rata-rata PDB non migas untuk usaha kecil yaitu 17,59%, usaha menengah 23,48% dan usaha besar yaitu 58,93%. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya dirasakan pada Produk Domestik Bruto menurut skala usaha, akan tetapi jumlah unit usaha juga mengalami pertumbuhan, berikut tabel perkembangan jumlah unit usaha tahun 2008-2012:
Tabel 3
Perkembangan Jumlah Unit Usaha Tahun 2008-2012 (Milyar Rupiah)
No
Skala
Usaha Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012
Pertumbuhan 2008 - 2012 1 Usaha Mikro dan Kecil 51.369.895,00 52.723.414,00 54.072.813,00 55.162.164,00 56.485.594,00 9,96% 2 Usaha Menengah 39.717,00 41.336,00 42.008,00 44.280,00 48.997,00 23,37% 3 Usaha Besar 4.650,00 4.676,00 5.150,00 4.952,00 4.968,00 6,84% Jumlah 51.414.262,00 52.769.426,00 54.119.971,00 55.211.396,00 56.539.559,00 9,97%
Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, 2014. Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa jumlah unit usaha mengalami perkembangan di setiap tahunnya, terdapat beberapa tahun yang mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga membuat perkembangan jumlah unit usaha mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Usaha mikro dan kecil mengalami perkembangan sebesar
20
9,96% pada tahun 2008-2012. Usaha menengah mengalami perkembangan paling signifikan di antara skala usaha yang lain yaitu 23,37%. Perkembangan usaha besar mengalami perkembangan yang paling rendah di antara skala usaha lainnya yaitu 6,84% pada tahun 2008-2012. Selama tahun 2008 sampai 2012 jumlah unit usaha mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 9,97%. Penyerapan tenaga kerja menurut skala usaha mengalami kenaikan dalam pertumbuhan ekonomi, berikut disajikan dalam bentuk tabel:
Tabel 4
Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Skala Usaha (Milyar Rupiah)
No
Skala
Usaha Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012
Pertumbuhan 2008 - 2012 1 Usaha Mikro dan Kecil 91.330.209,00 93.481.192,00 95.498.269,00 98.877.789,00 104.395.487,00 14,31% 94,37% 94,53% 94,56% 94,52% 94,21% 2 Usaha Menengah 2.694.069,00 2.712.431,00 2.740.644,00 2.844.669,00 3.262.023,00 21,08% 2,78% 2,74% 2,71% 2,72% 2,94% 3 Usaha Besar 2.756.205,00 2.692.374,00 2.753.049,00 2.891.224,00 3.150.645,00 14,31% 2,85% 2,72% 2,73% 2,76% 2,84% Jumlah PDB 96.780.483,00 98.885.997,00 100.991.962,00 104.613.681,00 110.808.154,00 14,49% 100% 100% 100% 100% 100%
Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, 2014. Berdasarkan tabel tersebut terlihat peningkatan tahun 2008-2012 pada perkembangan penyerapan tenaga kerja menurut skala usaha.
21
Usaha mikro dan kecil mengalami peningkatan di setiap tahunnya, pada tahun 2011 menuju tahun 2012 terjadi peningkatan yang signifikan. Peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2012 membuat pertumbuhan ekonomi untuk usaha mikro dan kecil yaitu sebesar 14, 31%. Usaha menengah juga mengalami peningkatan pada setiap tahunnya, peningkatan tersebut tidak terlalu signifikan tetapi membuat pertumbuhan ekonomi merangkak naik dari tahun 2008-2012 sebesar 21,08%. Pertumbuhan ekonomi skala usaha besar pada tahun 2008 hingga 2010 mengalami pasang surut, dan terus merangkak naik pada tahun 2010-2012 sehingga mencapai angka pertumbuhan ekonomi sebesar 14,31%. Jumlah PDB untuk pertumbuhan ekonomi pada perkembangan penyerapan tenaga kerja menurut skala usaha tahun 2008-2012 sebesar 14,49%. Skala perkembangan nilai ekspor non migas menurun skala usaha, disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
22 Tabel 5
Perkembangan Nilai Ekspor Non Migas Menurun Skala Usaha (Milyar Rupiah)
No Skala
Usaha Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012
Pertumbuhan 2008 - 2012 1 Usaha Mikro dan Kecil 56.527.292,00 51.214.940,00 54.688.460,00 56.560.994,00 47.744.000,00 (15,54)% 5,74% 5,38% 4,92% 13,29% 4,03% 2 Usaha Menen gah 121.480.990,00 111.039.585,00 121.206.434,00 130.880.830,00 118.882.400,00 (2,14)% 12,35% 11,65% 10,89% 11,78% 10,03% 3 Usaha Besar 805.532.132,00 790.835.344,00 936.825.043,00 953.009.312,00 1.018.764.500,00 26,47% 81,9% 82,98% 84,19% 83,56% 85,94% Jumlah PDB 983.540.414,00 790.835.344,00 1.112.719.937,0 0 1.140.451.136,0 0 1.185.390.900,00 20,52% 100% 100% 100% 100% 100%
Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, 2014. Berdasarkan tabel tersebut perkembangan nilai ekspor non migas tidak stabil di setiap tahunnya. Usaha mikro dan kecil mengalami penurunan yang signifikan mulai tahun 2008 hingga 2010, yaitu 5,74% menjadi 4,92%. Di tahun 2011 usaha mikro dan kecil mengalami pertumbuhan yang cukup drastis mencapai 13,29%, akan tetapi pertumbuhan yang cukup drastis ditahun 2011 tidak membuat pertumbuhan ekonomi usaha mikro dan kecil mengalami peningkatan. Akan tetapi terjadi penurunan sebesar -15,54% pada tahun 2008-2011. Pertumbuhan ekonomi skala usaha menengah juga mengalami penurunan di setiap tahunnya, sehingga pada tahun 2008-2012 angka pertumbuhan ekonomi jatuh pada angka -2,14%. Berbeda dengan
23
skala usaha besar yang mengalami peningkatan yang teratur di setiap tahunnya, pertumbuhan ekonomi tahun 2008-2012 mencapai 26,47%. Jumlah PDB untuk pertumbuhan ekonomi pada perkembangan nilai ekspor non migas menurun skala usaha tahun 2008-2012 sebesar 20,52%.
4. Aspek-Aspek Kinerja Keuangan
Aspek-aspek kinerja keuangan menurutPorter (1980: 461): a. Pertumbuhan penjualan
Tingkat pertumbuhan suatu perusahaan dapat dilihat dari pertambahan volume dan peningkatan harga khususnya dalam hal penjualan karena penjualan merupakan suatu aktivitas yang umumnya dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan tujuan yang ingin dicapai yaitu tingkat laba yang diharapkan.
b. Profit
Laba atau keuntungan. Prinsip dasar yang biasanya dipakai adalah modal yang digunakan haruslah kembali penuh ditambah lagi dengan untung yang dicapai.
c. Aset
Sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas.
24 d. Pangsa
Penjualan perusahaan dibandingkan pasar keseluruhan normalnya lebih tinggi jika menghadapi persaingan sedikit.
B. Orientasi Pasar
1. Pengertian Orientasi Pasar
Menurut Kotler (Kotler, 2003: 9) pemasaran adalah suatu proses sosial dan melalui proses individu-individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dengan cara menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lain. Paradigma mengenai pemasaran mengalami beberapa tahap perkembangan, yaitu orientasi produksi, orientasi penjualan, orientasi pemasaran dan orientasi manusia dan tanggung jawab sosial.
Berbagai perubahan masyarakat yang cepat, kemajuan teknologi yang semakin maju dan rasa jenuh pelanggan, mengakibatkan orientasi pemasaran tidak dapat lagi memberikan pemecahan atau jawaban secara keseluruhan terhadap usaha-usaha untuk mencapai tujuan perusahaan. Guna mencapai tujuan perusahaan terlebih dahulu perusahaan perlu mementingkan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Perusahaan yang demikian ini menganut orientasi pasar yang menyatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan perusahaan terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pelanggan dan pemberian kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan yang di lakukan oleh
25
kompetitor. Jadi konsep pemasaran adalah suatu orientasi pada pelanggan yang didukung oleh pemasaran yang terpadu dan ditujukan untuk mencapai kepuasan yang semakin meningkat sebagai kunci tercapainya tujuan perusahaan.
Orientasi pasar merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan sejalan dengan meningkatnya persaingan global dan perubahan dalam kebutuhan pelanggan dimana perusahaan menyadari bahwa mereka harus selalu dekat dengan pasarnya. Orintasi pasar merupakan budaya bisnis dimana organisasi mempunyai komitmen untuk terus berkreasi dalam menciptakan nilai unggul bagi pelanggan. Narver dan Slate (1990: 21-22) mendefinisikan orientasi pasar sebagai budaya organisasi yang paling efektif dalam menciptakan perilaku penting untuk penciptaan nilai unggul bagi pembeli serta kinerja dalam bisnis. Sedangkan Uncles (2000: 1-3) mengartikan orientasi pasar sebagai suatu proses dan aktivitas yang berhubungan dengan penciptaan dan pemuasan pelanggan dengan cara terus menilai kebutuhan dan keinginan pelanggan. Penerapan orientasi pasar akan membawa peningkatan kinerja bagi perusahaan.
Narver dan Slater (1990: 21-22) menyatakan bahwa orientasi pasar terdiri dari tiga komponen yang tidak dapat terpisahkan yaitu orientasi pelanggan, orientasi pesaing, dan koordinasi interfungsional. Orientasi pelanggan dan orientasi pesaing termasuk semua aktivitasnya dilibatkan dalam memperoleh informasi tentang pembeli dan pesaing pada pasar yang dituju dan menyebarkan melalui bisnis, sedangkan koordinasi
26
interfungsional didasarkan pada informasi pelanggan serta pesaing dan terdiri dari usaha bisnis yang terkoordinasi.
Konsep orientasi pelanggan juga dapat diartikan sebagai pemahaman yang memadai tentang target beli pelanggan dengan tujuan agar dapat menciptakan nilai unggul bagi pembeli secara terus menerus. Pemahaman disini mencakup pemahaman terhadap seluruh rantai nilai pembeli, baik pada saat terkini maupun pada saat perkembangannya dimasa yang akan datang. Upaya ini dapat dicapai melalui proses pencarian informasi tentang pelanggan (Uncles, 2000: 1-3). Dengan adanya informasi tersebut maka perusahaan penjual akan memahamisiapa saja pelanggan potensialnya, baik pada saat ini maupun pada masa yang akan datang dan apa yang mereka inginkan untuk saat ini dan saat mendatang. Dari penjelasan ini maka dapat dipahami bahwa penerapan orientasi pasar memerlukan kemampuan perusahaan dalam mencari berbagai informasi pasar sehingga dapat dijadikan dasar bagi perusahaan untuk melakukan langkah atau strategi selanjutnya.
Sedangkan orientasi pesaing berarti bahwa perusahaan memahami kekuatan jangka pendek, kelemahan, kemampuan jangka panjang dan strategi dari para pesaing potensialnya (Never dan Slater, 1990: 22-24). Perusahaan yang berorientasi pesaing sering dilihat sebagai perusahaan yang mempunyai strategi dan memahami bagaimana cara memperoleh dan membagikan informasi mengenai pesaing, bagaimana merespon tindakan pesaing dan juga bagaimana manajemen puncak menanggapi strategi
27
pesaing (Jaworski dan Kohli, 1993: 55-57). Orientasi pada pesaing dapat dimisalkan bahwa tenaga penjualan akan berupaya untuk mengumpulkan informasi mengenai pesaing dan membagi informasi itu kepada fungsi– fungsi lain dalam perusahaan misalnya kepada divisi riset dan pengembangan produk atau mendiskusikan dengan pimpinan perusahaan bagaimana kekuatan pesaing dan strategi yang dikembangkan (Ferdinand, 2000: 18-20).
Nerver dan Slater (1990: 22-24) menyatakan bahwa koordinasi interfungsional merupakan kegunaan dari sumber daya perusahaan yang terkoordinasi dalam menciptakan kelebihan yang menjadi nilai unggul bagi pelanggan yang ditargetkan. Koordinasi interfungsional menunjuk pada aspek khusus dari struktur organisasi yang mempermudah komunikasi antar fungsi organisasi yang berbeda.
Koordinasi interfungsional didasarkan pada informasi pelanggan dan pesaing serta terdiri dari upaya penyelarasan bisnis, secara tipikal melibatkan lebih dari departemen pemasaran, untuk menciptakan nilai unggul bagi pelanggan. Koordinasi interfungsional dapat mempertinggi komunikasi dan pertukaran antara semua fungsi organisasi yang memperhatikan pelanggan dan pesaing, serta menginformasikan trend pasar yang terkini.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Akimova (1999: 1140-1141) membuktikan bahwa orientasi pasar memiliki pengaruh positif terhadap keunggulan bersaing. Perusahaan yang menerapkan orientasi pasar
28
memiliki kelebihan dalam hal pengetahuan pelanggan dan kelebihan ini dapat dijadikan sebagai sumber untuk menciptakan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Bharadwaj (1993: 92-94) juga menyatakan bahwa budaya perusahaan yang menekankan pada pentingnya perusahaan untuk memperhatikan pasar akan mengarah pada penguatan keunggulan bersaing perusahaan tersebut.
Orientasi pasar sangat efektif dalam mendapatkan dan mempertahankan keunggulan kompetitif, yang dimulai dengan perencanaan dan koordinasi dengan semua bagian yang ada dalam organisasi untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu orientasi pasar harus menekankan pentingnya analisis kebutuhan dan keinginan target pasar secara lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan pesaingnya dalam usaha untuk mencapai keunggulan bersaing. Penekanan orientasi pasar terhadap daya saing berdasarkan pada pengidentifikasian kebutuhan pelanggan sehingga setiap perusahaan dituntut untuk dapat menjawab kebutuhan yang diinginkan konsumen baik itu melalui penciptaan produk yang baru atau pengembangan dari produk yang sudah ada, agar dapat menciptakan superior value bagi konsumennya secara berkelanjutan dan dapat menjadi modal utama bagi perusahaan untuk dapat memenangkan persaingan.
Orientasi pasar yang merupakan budaya perusahaan yang menempatkan pasar sebagai kunci kelangsungan hidup perusahaan. Oleh karenanya dalam rangka mempertahankan tingkat pertumbuhan
29
perusahaan di tengah persaingan yang semakin kompleks, pasar harus dikelola dengan upaya–upaya yang sistematis, dengan cara menggali informasi dan mengenali kebutuhan pelanggan sehingga produk yang dihasilkan memberikan kepuasan bagi pelanggan. Disamping itu pasar harus didekati dengan cara menggali informasi mengenai karakteristik dan latar belakang pelanggan sehingga antisipasi terhadap pasar dapat dilakukan dengan cara proporsional. Utamanya pasar harus dilayani dengan baik bila perusahaan secara menyeluruh bersifat responsif terhadap tuntuntan pelanggan dan pesaing dalam pasar.
Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur orientasi pasar adalah orientasi pelanggan, orientasi pesaing, dan informasi pasar. Orientasi pelanggan adalah kemauan perusahaan untuk memahami kebutuhan dan keinginan para pelanggannya. Orientasi pesaing adalah kemauan perusahaan untuk memonitor strategi yang diterapkan para pesaingnya.Informasi pasar adalah upaya perusahaan untuk mencari informasi tentang kondisi pasar industri.
2. Dimensi Orientasi Pasar
Menurut Narver dan Slater (1990: 25) orientasi pasar sebagai kontruk dimensi tunggal (one dimention) terdiri dari 3 komponen perilaku, yakni orientasi pelanggan (customer orientation), orientasi pesaing
(competitor orientation) dan koordinasi antar fungsi intraperusahaan (interfunctional coordination) (Prakoso, 2005).
30
Menurut Menurut Narver dan Stater (1990: 26) orientasi pelanggan
(customer orientation), diartikan sebagai pemahaman yang memadai
terhadap pembeli sasaran. Sehingga superior value dapat diberikan secara terus menerus. Orientasi pesaing (competitor orientation) diartikan sebagai pemahaman akan kekuatan dan kelemahan jangka pendek serta kapabilitas dan strategi jangka panjang dari para pesaing yang ada maupun pesaing potensial. Orientasi pesaing mempunyai keterkaitan yang kuat dengan orientasi pelanggan dalam hal pengumpulan informasi (information
gathering) dan mencakup analisis menyeluruh terhadap kapabilitas
memuaskan pembeli sasaran yang lama (Prakoso, 2005: 25).
Koordinasi antar fungsi intra perusahaan (interfunctional coordination), koordinasi antar fungsi intra perusahaan merefleksikan pendayagunaan secara terkoordinasi dari seluruh sumber daya yang ada dalam perusahaan dalam rangka menciptakan superior value bagi pembeli sasaran, integrasi sumber daya perusahaan yang terkoordinasikan berhubungan erat dengan orientasi pelanggan dan pesaing dimana koordinasi ini dibangun verdasarkan informasi yang diperoleh dan melalui pendayagunaan sumber daya yang terkoordinasi, informasi-informasi tersebut disebarkan keseluruh bagian organisasi bersangkutan (Prakoso, 2005:30).
31
C. Inovasi
1. Pengertian Inovasi
Menurut Suryana (2008: 32), inovasi adalah kreativitas yang diterjemahkan menjaadi sesuatu yang dapat diimplementasikan dan memberikan nilai tambah atas sumber daya yang dimiliki. Sedangkan menurut Winardi (2008: 234), inovasi mnerupakan sesuatu hal yang baru, misalnya berupa sebuah ide baru, sebuah teori baru, sebuah hipotesis baru, sebuah gaya baru penulisan, atau cara melukis sebuah invensi (invention), atau sebuah metode baru untuk manajemen sebuah organisasi. Menurut Amabile (1996: 117-119) inovasi adalah konsep yang lebih luas yang membahas penerapan gagasan, produk atau proses yang baru. Inovasi juga didefinisikan sebagai penerapan yang berhasil dari gagasan kreatif perusahaan. Oleh karena itu perusahaan diharapkan membentuk pemikiran-pemikiran baru dalam menghadapi baik pesaing, pelanggan dan pasar yang ada.
Adanya kesamaan tampilan produk sejenis maupun sistem perusahaan sejenis dari pesaing merupakan faktor pendorong terjadinya inovasi. Biasanya produk pesaing itu muncul tanpa mengalami perubahan yang berarti bahkan cenderung statis. Selain inovasi produk, sistem dalam perusahaan juga memerlukan adanya inovasi. Inovasi merupakan sesuatu yang dapat dilihat sebagai kemajuan fungsional yang dapat membawa perusahaan selangkah lebih maju dibandingkan pesaing yakni apabila
32
memiliki suatu kelebihan yang dipandang sebagai nilai tambah bagi konsumen.
Pengembangan produk baru dan strategiyang lebih efektif, seringkali menjadi penentu keberhasilan suatu perusahaan. Akan tetapi tetapi ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Pengembangan produk baru memerlukan upaya, waktu dan kemampuan termasuk besarnya risiko dan biaya kegagalan. Cooper (2000: 38-39) menjelaskan bahwa keunggulan produk sangat penting dalam lingkaran pasar global yang sangat bersaing.
Wahyono (2002: 28-29) menjelaskan bahwa inovasi yang berkelanjutan dalam suatu perusahaan merupakan kebutuhan dasar yang pada gilirannya akan mengarah pada terciptanya keunggulan kompetitif. Secara konvensional, istilah inovasi dapat diartikan sebagai terobosan yang berkaitan dengan produk-produk baru. Namun seiring dengan perkembangan yang terjadi, pengertian inovasi juga mencakup penerapan gagasan atau proses baru. Inovasi juga dipandang sebagai mekanisme perusahaan dalam beradaptasi dengan lingkungannya yang dinamis. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis telah memaksa perusahaan untuk mampu menciptakan pemikiran baru, gagasan baru, dan menawarakan produk yang inovatif. Dengan demikian inovasi semakin memiliki arti penting bukan saja sebagai suatu alat untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan melainkan juga untuk unggul dalam persaingan.
33
Menurut Gatignon dan Xuerob (1997: 35-38), dalam melakukan inovasi produk ada 3 hal penting yang harus diperhatikan yaitu keunggulan produk, keunikan produk, serta biaya produk. Produk inovasi dapat gagal karena banyak alasan, kesalahan dalam menerapkan strategi menjadi sebab yang sering terjadi, sebab lainnya antara lain desain produk yang tidak inovatif, salah memperkirakan persaingan, masalahnya terletak pada desain atau biaya produksinya jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan. Tidak cepat bergerak juga dapat menimbulkan masalah, cepatnya laju pertumbuhan kebanyakan produk di pasaran menunjuk.
Penelitian Droge dan Vickrey (1994: 687-689) menemukan bahwa produk dijadikan sebagai salah satu sumber keunggulan dalam bersaing. Perusahaan yang mampu mendesain produknya sesuai keinginan pelanggan akan mampu bertahan ditengah persaingan karena produknya tetap diminati oleh pelanggan. Hasil penelitian yang sama juga dikemukakan oleh Bharadwaj (1993: 89-92) bahwa kemampuan perusahaan untuk terus melakukan inovasi terhadap produk-produknya akan menjaga produk tersebut agar tetap sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Produk inovasi pada dasarnya adalah untuk memenuhi permintaan pasar sehingga produk inovasi merupakan salah satu yang dapat digunakan sebagai keunggulan bersaing bagi perusahaan (Han et al., 1998: 35-37). Inovasi dapat dijadikan sebagai sumber dari keunggulan bersaing perusahaan. Beberapa indikator yang digunakan untuk menilai inovasi adalah daya kreatifitas, inovasi teknis, perubahan
34
desain, perubahan system distribusi, dan sistem administrasi pembayaran. Inovasi teknis adalah inovasi pada proses perusahaan dalam menghasilkan produk. Perubahan desain adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan produk sesuai keinginan pelanggan. Daya kreatifitas adalah kemampuan perusahaan untuk menciptakan atau mengembangkan ide atau kreasi yang baru. Perubahan sistem distribusi adalah upaya perusahan untuk mengembangakan sarana distibusi yang tepat. Sistem administrasi pembayaran adalah upaya perusahaan untuk membuat sistem pembayaran administrasi yang sesuai dengan keinginan pelanggan.
2. Dimensi Inovasi
Inovasi memiliki beberapa dimensi, yiatu: dimensi yaitu orientasi kepemimpinan perusahaan terhadap inovasi, tipe inovasi yang dilakukan, dan investasi yang dibutuhkan dalam inovasi. Dimensi inovasi yaitu sebagai berikut:
a. Orientasi Kepemimpinan (Leadership Orientation)
Dimensi ini mengindikasikan apakah perusahaan sebagai yang pertama kali memasuki pasar (first-to-the-market), perusahaan sebagai pemain kedua yang memasuki pasar (second-to-the-market) atau pemain yang terakhir (late-entrant) sebagai ciri imitator dalam aktivitas inovasi (Zahra dan Das, 1993: 35).
35 b. Tipe Inovasi (Types of Innovation)
Dimensi ini mengarah kepada suatu kombinasi inovasi manufakturing yaitu proses yang dilakukan dan produk yang dihasilkan perusahaan selama ini. Dalam penelitian ini inovasi tidak dihubungkan dengan aplikasi bisnis yang lain seperti teknologi informasi dan inovasi dalam desain organisasional. Fokus penelitian ini adalah pada inovasi proses dan produk, di mana kedua hal tersebut adalah penting dalam strategi bisnis perusahaan (Slack, 2001). Inovasi produk merupakan hasil dari penciptaan dan pengenalan produk secara radikal atau modifikasi produk yang telah ada.
c. Sumber Inovasi (Sources)
Dimensi ketiga ini menjelaskan secara spesifik tempat aktivitas inovasi tersebut dilakukan perusahaan, internal, eksternal, atau kedua-duanya (Mansfield: 1988). Inovasi dengan sumber dari dalam dimaksudkan bahwa perusahaan mempercayakan pada usaha bagian riset dan pengembangan untuk melakukan inovasi baik pada proses atau produk.
d. Tingkat Investasi (Investment Level)
Dimensi ini mencakup investasi baik keuangan, teknologi, dan investasi sumber daya manusia dalam hubungannya dengan aktivitas inovasi perusahaan (Thomson, 1989). Investasi keuangan meliputi pengeluaran untuk proyek riset dan pengembangan serta pembelian suatu inovasi pada produk yang telah dikembangkan di tempat lain.
36
D. Pengambilan Risiko
1. Pengertian Pengambilan Risiko
Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Menurut Arthur J. Keown (2000: 76), risiko adalah prospek suatu hasil yang tidak disukai (operasional sebagai deviasi standar). Rachmahana (2002: 132-137) mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam pengambilan risiko yaitu lingkungan organisasi (kelompok). Faktor yang berasal dari organisasi adalah kelompok, struktur, budaya, dan strategi (Suryana, 2003: 58).
Sesorang berani mengambil risiko dapat didefinisikan sebagai seseorang yang berorientasi pada peluang dalam ketidakpastian konteks pengambilan keputusan. Hambatan risiko merupakan faktor kunci yang membedakan perusahaan dengan jiwa wirausaha dan tidak. Fungsi utama dari tinggiya orientasi kewirausahaan adalah bagaimana melibatkan pengukuran risiko dan pengambilan risiko secara optimal.
Peranan berusaha juga sangat memegang peranan penting dalam kemampuan pimpinan, selain tingkat pendidikan dan kemampuan pengambilan risiko, karena dengan pengalaman berusaha yang tinggi maka kemampuan pimpinan untuk meliha keinginan konsumen pada suatu produk juga sangant tinggi (Hadjimanolis, 2000: 237-239). Sikap berwirausaha dan konsekuensi dari perilaku kepada inovasi sangat
37
dipengaruhi oleh latar belakang pimpinannya yang menyangkut pengalaman berusaha pimpinannya.
Kemampuan pimpinan akan sangat mempengaruhi sikap perusahaan dalam mempengaruhi sikap perusahaan dalam memperhatikan perusahaan pasar, menjadi responsif terhadap perusahaan, kebutuhan pasar, seringkali memerlukan dirancangnya produk baru untuk menyesuaikan dengan perubahan dan eksploitasi konsumen, sehingga tercipta keunggulan bersaing perusahaan.
Penelitian ini mengadopsi indikator variabel orientasi kewirausahaan, yaitu flexibel, proaktif, keberanian mengambil risiko, pengalaman berusaha, dan antisipatif. Mengambil risiko dapat didefinisikan sebagai seseorang yang berorientasi pada peluang dalam ketidakpastian konteks pengambilan keputusan. Flexibel adalah dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan. Proaktif adalah perusahaan dimana pemimpinanya mempunyai kemampuan untuk mengenali peluang dan komitmen untuk inovasi. Pengalaman berusaha adalah sikap berwirausaha dan konsekuensi dari perilaku kepada inovasi yang dipengaruhi oleh latar belakang pimpinannya yang menyangkut pengalaman berusaha pimpinannya. Antisipatif adalah kemampuan perusahaan dalam menanggulangi atau m engantisipasi terhadap segala perubahan.
38
2. Dimensi Pengambilan Risiko
Schiffman & Kanuk (2004: 90) mengatakan bahwa terdapat dua dimensi risiko, yakni konsekuensi dan ketidakpastian. Zikmund & Scott (1974: 65) mendefinisikan ketidakpastian sebagai perasaan konsumen akan adanya kemungkinan bahwa keputusan yang dibuatnya mendatangkan hasil yang tidak menyenangkan. Konsekuensi merupakan perkiraan konsumen tentang besar kerugian yang dialaminya bila keputusan yang dibuatnya mendatangkan hasil yang tidak menyenangkan. Kedua dimensi inilah yang menghasilkan persepsi terhadap risiko.
E. Sikap Proaktif
1. Pengertian Proaktif
Perilaku proaktif merupakan perilaku yang secara langsung dapat mengubah lingkungan sisekitar mereka. Dimensi perilaku proaktif merupakan akar dari kebutuhan-kebutuhan individu untuk memanipulasi dan mengendalikan lingkungan. Selanjutnya, perbedaan individu mengarah pada kecenderungan orang untuk bertindak dengan mempengaruhi lingkungan mereka (Bateman & Crant, 1993: 69).
Bateman dan Crant, mendefinisikan bentuk dasar kepribadian proaktif sebagai seseorang yang relatif tidak didesak oleh kekuatan situasional dan seseorang yang mempengaruhi perubahan lingkungan. Sehingga, orang yang sangat proaktif dapat mengenali peluang dan bertindak atas peluang tersebut, menunjukkan inisiatif dan gigih