Evaluasi kebijakan
JKN:
Apakah diperlukan di
tahun 2017?
Laksono Trisnantoro
Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Tujuan penulisan paper
• Memahami mengenai Monitoring dan Evaluasi
kebijakan yang diapikasikan ke JKN
• Membahas mengenai relevansi Monitoring
dan Evaluasi Kebijakan JKN
• membahas rencana Monitoring dan Evaluasi
Kebijakan JKN di tahun 2017
Catatan:
PKMK UGM tidak “anti” JKN. Tahun 1997, menyusun
Siklus Kebijakan
Proses Kebijakan
Penetapan agenda
Perumusan Kebijakan
Pelaksanaan Kebijakan
Monitoring Pelaksanaan
Evaluasi Kebijakan
4
UU SJSJN: 2004 UU BPJS: 2011
Isi:
1. Mengapa JKN perlu dimonitor dan Dievaluasi?
2. Perspektif Monitoring dan Evaluasi: Apakah isu
pemerataan menjadi fokus monitoring dan evaluasi? Apa indikatornya?
3. Apakah ideologi menjadi kunci penting dalam evaluasi?
4. Tanpa Evaluasi Kebijakan: Risiko apa yang dihadapi JKN
dan BPJS
5. Pengumpulan Ide (brainstorming) untuk kemungkinan
perubahan kebijakan di masa mendatang.
6. Diskusi akhir:
Siapa yang menjadi evaluator kebijakan yang independen?
Bagian 1.
Mengapa kebijakan
JKN (UU SJSN dan UU
BPJS perlu dimonitor
dan dievaluasi?
A. Hal alamiah dalam Siklus Kebijakan
1A. Hal yang alamiah: Tidak ada
UU yang sempurna
Penetapan agenda
Perumusan Kebijakan
Pelaksanaan Kebijakan
Monitoring Pelaksanaan
Evaluasi Kebijakan
7
UU SJSJN: 2004 UU BPJS: 2011
Hal yang alamiah: Tidak ada UU
yang sempurna
Penetapan agenda Perumusan Kebijakan Pelaksanaan Kebijakan Monitoring Pelaksanaan Evaluasi Kebijakan 8UU SJSJN: 2004 UU BPJS: 2011
Evaluasi dan Monitoring
Kebijakan
• Monitoring : Pemantauan
terus menerus
• Evaluasi Formatif : Memberi
masukan mengenai bagaimana memperbaiki rancangan
kebijakan, pembagian tugas dan peran dalam implementasi kebijakan
• Evaluasi Sumatif : Memberi
masukan mengenai bagaimana kebijakan telah atau belum mencapai tujuannya
Model Evidence Based Policy Making
Cookson R. Evidence-based policy making in health care: what it is and
hat it is ’t. Jour al of Health “er i e
Research Policy. Vol 10 No 2 April 2005
Bukti Ilmiah
Nilai-nilai Kepercayaan
Pengalaman Bukti Anekdot
Opini
Model Evidence Based Policy Making
Cookson R. Evidence-based policy making in health care: what it is and
hat it is ’t. Jour al of Health “er i e
Research Policy. Vol 10 No 2 April 2005
Bukti Ilmiah
Nilai-nilai Kepercayaan
Pengalaman Bukti Anekdot
Opini
Hambatan: Politis, ekonomi, hukum, dan etika Keputusan
1B. Situasi saat ini
Antara lain:
a. Tantangan Pembiayaan
b. Perkembangan Supply-side;
c. Problem Klaim PBPU, dan potensi
melebarnya jurang pemisah antar daerah ( Desentralisasi dan Sentralisasi Jaminan
Kesehatan);
13
"Saya minta pemerintah pusat dan daerah bisa berbagi peran
dan tanggung jawab
berdasarkan semangat gotong royong. Namun, pembagian tugasnya harus jelas antara
pusat, daerah, dan BPJS
Kesehatan,” (Presiden Jokowi)
Pada 2015, pemerintah menanggung defisit anggaran BPJS Kesehatan Rp 10 T. Tahun ini, pemerintah harus menutup defisit BPJS Kesehatan yang hingga bulan September mencapai Rp 6,7 T. Hingga akhir tahun 2016, defisit anggaran BPJS Kesehatan diperkirakan Rp 7 T. (sumber : Kompas, 2016)
a. Tantangan pembiayaan di BPJS
APBN
BPJS Non-PBI Mandiri (PBPU)
Pelayanan Dasar/FKTP
Rujukan/FKT L
Non-PBI eks PT Askes dll
PB I
Prof. dr. Laksono Trisnantoro
Gambaran Masalah dipandang dari pemasukan BPJS
- BPJS Defisit - PBI
- PBPU merugikan...
Masih belum ada
pagar di dalam BPJS
yang single pool
APBN BPJ S Pajak Pendapatan Negara bukan Pajak Non-PBI Mandiri Pelayanan Primer: Pelayanan Rujukan Non-PBi PNS, Jamsostek dll dll
Kemenkes
Dana dari Masyarakat langsung
b. perkembangan Supply
Side (khusus RS)
RS di Indonesia terdiri dari rumah sakit publik dan rumah sakit privat
dengan jumlah total 2,591 buah. Pertumbuhan RS publik selama 5 tahun terakhir tidak sepesat pertumbuhan RS privat. Rata-rata pertumbuhan RS publik sebesar 3%, sedangkan RS privat sebesar 35%.
Publik, 1,405
Publik, 1,540 Publik, 1,562 Publik, 1,592 Publik, 1,607
Privat, 314
Privat, 543
Privat, 666
Privat, 870 Privat, 984
200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800
2012 2013 2014 2015 Updated (Dec 2016)
Berdasarkan kepemilikan, pertumbuhan RS swasta profit lebih agresif dibandingkan jenis RS lainnya. Rata-rata pertumbuhan sebesar 44%.
Sedangkan rata-rata pertumbuhan RS swasta non profit hanya sebesar 2%. RS publik milik Pemprov hanya sebesar 9%, dan RS lain pertumbuhannya tidak terlalu signifikan.
100 200 300 400 500 600 700 800 900 1,000
Pertumbuhan RS per Regional
Keterangan:
Region 1: DKI, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Banten Region 2: Sumbar, Riau, Sumsel, Lampung, Bali, NTB
Region 3: NAD, Sumut, Jambi, Bengkulu, Kepri, Kalbar, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, Gorontalo, Sulbar
Region 4: Kalteng, Kalsel
Region 5: Kep. Babel, NTT, Kaltim, Kaltara, Maluku, Malut, Papua Barat, Papua
200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600
2012 2013 2014 2015 Updated (Dec 2016)
Pertumbuhan RS per Regional
Region 1 Region 2 Region 3 Region 4 Region 5 Sebagian besar RS Kelas A dan B
Letak Kelas-Kelas RS
No Region A B C D Non
Class
Per Dec 2015
1 Region 1 39 208 442 240 355
2 Region 2 8 32 140 70 81
3 Region 3 8 78 213 86 189
4 Region 4 2 6 25 11 11
5 Region 5 2 16 67 67 65
Region 1: DKI, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Banten Region 2: Sumbar, Riau, Sumsel, Lampung, Bali, NTB
Region 3: NAD, Sumut, Jambi, Bengkulu, Kepri, Kalbar, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, Gorontalo, Sulbar
Region 4: Kalteng, Kalsel
Region 5: Kep. Babel, NTT, Kaltim, Maluku, Malut, Papua Barat, Papua
Mempengaruhi besaran klaim
Perkembangan Dokter Spesialis
dan Dokter Layanan Primer
• Belum ada data yang menunjukkan perubahan
signifikan dokter spesialis
• Penyebaran dokter spesialis oleh Kemenkes
masih tertunda
• Residen sudah mulai disebut sebagai pekerja
• Untuk DLP Pemerintah dan IDI tetap ada
konflik; Permasalahan di Gate Keeper terus berjalan
c.
Problem Klaim PBPU, dan
potensi melebarnya jurang
pemisah antar daerah (
Data dari Menteri Kesehatan
di Konas IAKMI di Makassar, 2016
Rasio Klam PBPU bermasalah karena adanya Adverse Selection dan yang sudah mendaftar kemudian menunggak PBPU: Di awal JKN: 2014 1300% PBPU: Di akhir tahun 2015: 284 %
PPU: DI bawah 100%
PBI: Paliing rendah
Catatan: Subsidi untuk masyarakat miskin dipakai
Situasi yang dihadapi JKN dalam
hal klaim dan premi
- BPJS Defisit
- PBPU merugikan...Dana
PBI, dipergunakan oleh PBPU
- Dana Pemda yang
terpencil ke BPJS pusat, dipergunakan oleh daerah lain. (Iuran sama, fasilitas jauh berbeda)
- Benefit Package terlalu
lebar
- ...
Masalah Inequity
d. Apakah sasaran 2019 dapat
tercapai?
• Sebuah Persepsi
Sasaran 1: BPJS Kesehatan beroperasi
dengan baik.
Mungkin tidak tercapai. Argumen:
• Data menunjukkan bahwa terjadi
defisit (mismatch) yang besar di BPJS selama 3 tahun pertama pelaksanaannya.
Sasaran 2: Seluruh penduduk Indonesia mendapat jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.
Sulit dicapai di tahun 2019
Argumen:
•Sampai dengan akhir tahun 2016,
peserta yang mendaftar adalah sekitar 170 juta. Masih kurang 80 juta.
•Disamping itu peserta Mandiri-PBPU
Sasaran 3. Paket Manfaat medis dan non-medis sudah sama , tidak ada perbedaan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Tidak akan tercapai
Argumen:
• Sampai sekarang belum ada kebijakan yang
menyatakan mengenai Paket Manfaat Dasar yang harus tersedia.
• Paket-manfaat yang menggunakan teknologi
canggih dan klaim besar-besar hanya dapat dimanfaatkan oleh penduduk di sekitar kota besar.
• Perkembangan Supply side sangat berbeda
Sasaran 4. Jumlah dan sebaran fasilitas pelayanan kesehatan (termasuk tenaga dan alat-alat) sudah memadai untuk menjamin
seluruh penduduk memenuhi kebutuhan medis mereka.
Tidak akan tercapai Argumen:
• Sampai pada tahun 2016, hasil monitoring mengenai
supply-side menunjukkan bahwa belum terjadi keseimbangan pelayanan kesehatan.
• Yang terjadi adalah justru kebalikannya. Terjadi pertumbuhan yang sangat kuat di Pulau Jawa.
Sasaran 5. Semua peraturan pelaksanaan telah disesuaikan secara berkala untuk menjamin kualitas yang memadai dengan
harga keekonomian yang layak
Sulit dicapai Argumen:
- Masih banyak perdebatan tentang harga keekonomian dengan provider
Sasaran 6. Paling sedikit 85% peserta menyatakan puas, baik dalam layanan di BPJS maupun dalam layanan di fasilitas kesehatan yang dikontrak BPJS.
Dapat tercapai Argumen
- Survei yang dilakukan oleh BPJS memberikan hal ini.
Sasaran 7. Paling sedikit 80% tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan menyatakan puas atau mendapat pembayaran yang layak dari BPJS.
Belum tentu dapat dicapai Argumen:
- Belum ada data mengenai hal ini. - Keluhan dokter dan RS semakin
sering
Sasaran 8. BPJS dikelola secara
terbuka efisien dan akuntabel.
Belum tentu dapat dicapai Argumen:
• Sampai sekarang masyarakat, Kementerian
Kesehatan dan Pemerintah
Propinsi/Kabupaten/Kota masih kesulitan mendapatkan data pelayanan dan data keuangan dari BPJS.
• Walaupun sudah ada kerjasama yang
Bagian 2:
• Perspektif Monitoring dan Evaluasi: Apakah isu pemerataan
menjadi fokus monitoring dan evaluasi?
Perspektif Monitoring dan Evaluasi
•
Kinerja
Operasional
•
Efisiensi
Isu Pemerataan dan Ketidak adilan
menonjol:
• Dana PBI tidak dipakai seluruhnya oleh mereka
yang miskin (Klain Rasio PBI 80%, PBPU di atas 250%)
• Dana Kompensasi tidak berjalan; Kebijakan pusat
belum ada.
• Dana PBI dari Pemda, di berbagai daerah sulit
tidak bisa dipakai sepenuhnya karena kesulitan Akses faskes dan SDM Kesehatan. Dana ini
Mengapa pemerataan perlu?
UUD:
Pasal 34 ayat 1: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Ayat 2: Negara mengembangkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan
UU SJSN
• UU SJSN menetapkan asuransi sosial dan
ekuitas sebagai prinsip penyelenggaraan JKN
• Iuran sesuai dengan besaran pendapatan
• UU SJSN menyatakan bahwa subsidi iuran JKN
Apa indikator pemerataan
pelayanan?
Misal,
• Perbaikan Rasio Klaim dan dana kapitasi antar Kelompok
• Perbaikan Rasio Klaim dan dana kapitasi antar kabupaten/kota
• Menurunnya kesenjangan supply side (jumlah
Bagian 3.
Apakah ideologi
menjadi kunci
penting dalam
evaluasi
Ideologi
• A set of doctrines or beliefs that form the basis of a political, economic, or other system
• Ideologi negara dan
partai politik
• Ideologi sektor kesehatan
• Ideologi dalam
kehidupan seorang manusia (budaya)
Ideologi Pasar
Input yang dibutuhkan firma Firm Product Market Household Production factors market Pengeluaran rupiah oleh rumah tanggaBarang dan jasa yang dibutuhkan Pemasukan rupiah dari produksi Pasokan input dari rumahtangga Penerimaan Pasokan Barang Biaya Produksi yang dibayar firma
Intervensi Pemerintah untuk
mengatasi kegagalan pasar
Input yang dibutuhkan firma Firm Product Market Household Production factors market Pengeluaran rupiah oleh rumah tangga
Barang dan jasa yang dibutuhkan Pemasukan rupiah dari produksi Pasokan input dari rumahtangga Penerimaan Pasokan Barang Biaya Produksi yang dibayar firma
Sistem JKN Subsidi pendirian dan penyelenggaraan faskes
Ideologi: Meningkatkan peran pemerintah dalam pembiayaan
Insentif para dokter
Dimana letak ideologi kebijakan
Jaminan Kesehatan Nasional?
SosialismeSosial Demokrat
Neoliberal
Ideologi Kiri Ideologi Kanan
Jaminan Kesehatan Nasional Nawacita
Ke arah pemerataan
Menggunakan lensa Ideologi pro-pemerataan
Regional 1
Debat Ideologis:
Siapa pengguna dana
pajak?
APBN BPJ S Pajak Pendapatan Negara bukan Pajak Non-PBI Mandiri Pelayanan Primer: Pelayanan Rujukan Non-PBi PNS, Jamsostek dll dllKemenkes
Dana dari Masyarakat langsung
47
BPJS menjadi lembaga yang mempunyai risiko semakin tinggi:
- Benefit Package besar
- Open-ended
- Penetapan premi PBPU pertimbangan politik
- Risiko ditanggung oleh BPJS dan pemerintah
- Potensi masyarakat diabaikan
Bagian 4. Risiko tanpa
Evaluasi Kebijakan di
tahun 2017
Pemerintah:
APBN BPJS Pendap atan dari Pajak Pendapatan Bukan dari Pajak
Non-PBI Mandiri (PBPU)
Pelayanan Dasar/FKTP Rujukan/FKT L 48 Non-PBI eks PT Askes (PPU)
Kemenkes
Out of pocket Kementerian Lain terkait Kesehatan PB I Pemda Asuransi Swasta 10%
Prof. dr. Laksono Trisnantoro
• Dana dari Pajak akan mengalir ke PBPU terus
• Pemberi Pelayanan Kesehatan kekurangan dana akibat
keterbatasan kemampuan BPJS
Kemampuan pajak yang rendah dipergunakan oleh PBPU: Gotong Royong terbalik
GDP
Tax
RevenueNon-Tax
-2,000,000.00 4,000,000.00 6,000,000.00 8,000,000.00 10,000,000.00 12,000,000.00 14,000,000.00
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 *) M il ia r R u p ia h Tahun
GDP Nasional (harga berlaku)
Penerimaan Pajak
Penerimaan Bukan Pajak
Hibah
Sumber: Indonesia dalam Angka 2015, BPS; UU APBN 2016
Potensi dana di masyarakat tidak dimanfaatkan oleh sektor kesehatan
GDP
Tax
RevenueNon-Tax
Pemburukan In-equity antar daerah karena tarif PBI daerah sama, faskes dan SDM jauh
berbeda
• Ada kemungkinan dana
iuran PBI oleh daerah tidak bisa dipergunakan kembali oleh daerah yang
bersangkutan
• Masuk ke BPJS dan
dipergunakan untuk daerah-daerah yang kekurangan dana
(khususnya Jawa, Regional 1)
• Tidak ada pelaksanaan
BPJS kekurangan dana terus
menerus
• Tidak ada batas atas
untuk RS
• Tidak ada batas untuk
benefit
• Tidak ada batas untuk
53
Benefit Package At Current
Inpatient Services
Tertiary/ Super specialty inpatient services Yes Secondary-level Inpatient hospital services Yes
Emergency Services Yes
Child Birth / Maternity/ Delivery Yes
Outpatient Services
Public health services, such as immunizations Yes Outpatient primary care contacts Yes
Outpatient specialist contacts Yes
Pharmaceuticals for outpatient services Yes
Clinical laboratory tests Yes
Diagnostic imaging for outpatient services Yes
Other services
Eyeglasses Yes
Dental care Yes
Mental health/behavioral Yes
Dialysis Yes
Home-care services No
Q: Evaluasi kebijakan JKN.
Apakah diperlukan di tahun 2017?
•
Ya…
• Secara alamiah dan menjawab kebutuhan
Poin Evaluasi Kebijakan
• Bagaimana menjamin Pemerataan Sistem
Kesehatan?
• Bagaimana menjamin mutu pelayanan kesehatan?
• Bagaimana meningkatkan pendanaan untuk sektor
kesehata (atura JKN e iki sesak napas )?
• Bagaimana keberlangsungan JKN dan BPJS?
• Apakah pencapaian UHC harus melalui BPJS semua
Bagian 5:
Pengumpulan Ide
(brainstorming)
untuk kemungkinan
perubahan
Berbagai Opsi Kebijakan terkait BPJS
1 BPJS tanpa PBPU kelas 1 dan kelas 2. Masyarakat
kaya mencari sendiri. Tidak bertumpu ke BPJS. Meninggalkan kebijakan Single Pool. Perlu
perubahan UU.
2 BPJS dengan PBPU, namun menaikkan Premi kelas 1
dan 2 dengan perhitungan aktuarial. Kelas III tetap sama, dengan tidak boleh naik kelas.
3 Untuk ketimpangan Geografis: Sistem BPJS tidak
Klaim Rasio Kapan Rasio Klaim PBPU bisa di bawah 100%?
PBPU: Di awal JKN: 2014 1300%
PBPU: Di akhir tahun 2015:
284 %
PPU: DI bawah 100%
Opsi 1:
• Me isahka iri Askes Komersial dari BPJS
• Skema askes komersial bisa dilakukan perusahaan
swasta
• Pola Premi berbeda (Regional)
• Membutuhkan aktuarial
- BPJS tanpa PBPU kelas 1 dan kelas 2.
- PBU kelas 3 menjadi kelas BPJS. Tidak boleh naik
kelas.
- Masyarakat kaya mencari sendiri. Tidak menjadi
anggota BPJS.
Opsi 2
BPJS tetap dengan PBPU.
Menaikkan Premi kelas 1 dan 2 dengan perhitungan aktuarial yang full-cost.
Kelas III tetap sama, dengan tidak boleh naik kelas
• Tetap Single Pool
• Kompartemenisasi tegas
• Tidak boleh ada dana yang cross-kelompok
• Premi Regional yang berbeda sesuai kondisi
daerah
BPJS
Opsi 3.
Untuk mengurangi ketimpangan Geografis: Sistem BPJS tidak diberlakukan di
propinsi-propinsi sulit
Perlu dilakukan kebijakan untuk penyeimbangan supply side dulu
Regional 1
Studi Monev Kebijakan JKN di tahun 2017: Produk Hukum apa yang perlu di ubah?
• UU SJSN dan UU BPJS
• Peraturan Pemerintah
• Peraturan Presiden
• Peraturan Menteri Kesehatan
• Peraturan BPJS
• …..
Kegiatan Hukum apa yang akan ditempuh?
- Yudisial Review ke MK.
- Legislative Review dan masuk ke Prolegnas. Tahun berapa?
Judicial review:
• upaya pengujian oleh MK terhadap berbagai
pasal dalm UU SJSN dan UUBPJS
• Harus ada yang memulai proses hukum ini
• Membutuhkan support akademi dan
Legislative review:
– DPR melakukan revisi terhadap UU SJSN
dan UU BPJS, karena pelaksanaannya tidak sesuai dengan tujuan, atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau sederajat.
– Membutuhkan naskah akademik yang baik
dengan bukti-bukti yang kuat. Bukti-bukti tersebut dapat berasal dari penelitian
Pertanyaan penutup:
• Siapa pelaku Evaluasi Kebijakan
yang independen?
• Apa tantangan tim independen?
Anggaran, kepercayaan, akses data, kecurigaan
• Bagaimana mengatasinya?
Siapa yang akan melakukan Monev Kebijakan?
Power besar Power sedang Power kecil Tidak ada
power
Kegiatan follow-up untuk Monev
JKN di tahun 2017
• Februari 2017 Tema
• Seminar dan Workshop: Stakeholders JKN dan Kemampuan Lobbying dalam proses kebijakan: Dimana peran Asosiasi Fasilitas Kesehatan dan Perhimpunan Profesi.
• Seminar: Ideologi dalam kebijakan JKN
• Workshop 1. Protokol Penelitian Monev JKN Maret 2017
• Seminar: Proses penyusunan UU SJSN dan UU BPJS: Telahan akademik dari peneliti asing.
• Seminar: Kerjasama Pusat dan Daerah dalam Jaminan Kesehatan dalam perspektif keadilan sosial
• Workshop 2. Protokol Penelitian Monev JKN dan Uji-coba.
Kwartal 2
April 2017
•Diskusi dan Workshop Hasil Uji-coba: Data monitoring tahun 2014 – triwulan 1 2017. (Presentasi Hasil Uji-coba Penelitian)
Mei 2017
•Seminar: Proses Revisi kebijakan yang memperhatikan mereka yang dipinggiran. Juni 2017:
•Seminar: Sentralisasi JKN dan Desentralisasi sektor kesehatan
Kuartal ke 3
Juli 2017
•Diskusi dan Workshop: Data monitoring tahun 2014 –
triwulan 2 2017. Agustus 2017
•Seminar: Kesiapan supply side di berbagai daerah
•Seminar: Kesiapan SDM kesehatan di berbagai daerah
September 2017
•Seminar: Conflict of Interest dalam Proses Monitoring
Kuartal ke 4
Oktober 2017
•Diskusi Monitoring: tahun 2014 – triwulan 3 2017.
•Pertemuan Nasional Jaringan Kebijakan Keehatan Indonesia:
•Apakah Kebijakan JKN dapat mencapai tujuan?
November 2017
•Workshop 3: Strategi Penyusunan Agenda Kebijakan ke berbagai
pihak: Eksekutif dan Yudikatif.
Semua kegiatan akan
dikomunikasikan melalui Web
• www.kebijakankesehatanindonesia.net