JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
PENERAPAN PASAL 288 UU NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN
ANGKUTAN JALAN DALAM MENANGGULANGI PELANGGARAN LALU LINTAS DI KOTA MAKASSAR
NUR FITRIYANI
B11108326
Universitas Hasanuddin
Dibimbing Oleh
H. M. Imran Arief, S.H., M.S
Universitas Hasanuddin
Hj. Nur Azisa, S.H., M.H
ABSTRAK
Nur Fitriyani (B 111 08 326) Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin : Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar di bawah bimbingan M.Imran Arief selaku dosen pembimbing I dan Nur Azisa selaku dosen pembimbing II.
Penelitian ini dilakukan di dua tempat yaitu di Polrestabes Makassar dan pengadilan Negeri Makassar dengan melakukan wawancara dengan petugas serta membagikan daftar pertanyaaan kepada 50 orang pelanggar lalu lintas.
JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dianugrahi sebagai negara kepulauan yang terdiri atas beribu pulau, terletak memanjang digaris khatulistiwa, serta diantara dua benua dan dua samudera, mempunyai posisi dan peran yang sangat penting dan strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi. Pembangunan yang dilaksanakan Indonesia adalah pembangunan disegala bidang yang merupakan suatu bagian dari proses modernisasi untuk mencip0takan kesejahteraan dan ketentraman bagi masyarakat Indonesia. Lalu lintas merupakan salah satu sarana komunikasi masyarakat yang memegang peranan vital dalam memperlancar pembangunan yang kita laksanakan. Permasalahan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan yang berskala nasional yang berkembang seirama dengan perkembangan masyarakat.
Selama ini secara implisit muncul pendirian dan anggapan yang sangat menyesatkan dan mungkin juga berbahaya disebagian masyarakat bahwa melakukan pelanggaran lalu lintas itu tidak apa-apa dan boleh-boleh saja asal tidak ketahuan polisi, dan tidak perlu menaati rambu-rambu lalu lintas, kalau tidak ada polisis. Akibat pemikiran yang menyesatkan itu maka dengan sangat muda dijumpai berbagai pelanggaran lalu lintas seperti menerobos lampu merah, berkeendaraan melawan arus, dengan seenaknya memasuki jalan dan rambu/tanda dilarang masuk, memarkir kendaraan ditempat yang memiliki rambu-rambu dilarang parkir, dan lain-lainnya. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila telah ada kesadaran hukum masyarakat berlalu lintas.
Mengingat pentingnya ketertiban lalu lintas demi kelancaran dan keamanan para pengguna jalan pada umumnya, maka perlu terus diupayakan tumbuhnya semangat menaati aturan, semangat untuk menjaga ketertiban, dan menghormati hak orang lain dalam berlalu lintas. Selain itu, dengan langkah-langkah penegakan hukum oleh polri diharapkan akan tercipta keadaan tertib hukum dibidang lalu lintas dan angkutan jalan raya sehingga berbagai pelanggaran lalu linta dapat ditekan jumlahnya seminimal mungkin. Oleh karena itu penting pula kiranya bahwa kepolisian pun perlu meningkatkan kedisiplinan anggotanya. Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan penulis di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan yang sebagai berikut:
1. Apakah Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah efektif Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar ?
JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Efektivitas
Secara etimologi kata efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruh, kesannya); manjur atau mujarab (tentang obat); dapat membawa hasil; berhasil guna (tentang usaha atau tindakan); hal mulai berlakunya (tentang undang-undang, peraturan).
Efektivitas adalah perbandingan positif antara hasil yang dicapai dengan masukan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan tepat waktunya untuk mencapai tujuan atau sasaran yang ditetapkan.
Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan secara efektif atau tidak yaitu antara lain :
1. Kejelasan tujuan yang hendak dicapai 2. Kejelasan strategi pencapaian tujuan
3. Kejelasan analisa dan perumusan kebijaksanaan yang mantap 4. Perencanaan yang mantap
5. Penyusunan program yang mantap 6. Tersedianya sarana dan prasarana
7. Pelaksanaan yang secara efektif dan efisien
8. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik.
dilihat dari : faktor hukumya sendiri, faktor penegak hukum, faktor sarana dan prasarana, faktor masyarakat dan faktor kebudayaan.
Ketika kita ingin mengetahui sejauh mana efektivitas dari hukum, maka kita pertama-tama harus dapat mengukur sejauh mana aturan hukum itu ditaati. Tentu saja, jika suatu aturan hukum ditaati oleh sebagian besar target yang menjadi sasaran ketaatannya, kita dapat mengatakan bahwa aturan hukum yang bersangkutan adalah efektif. Namun demikian, sekalipun dapat dikatakan aturan yang ditaati itu efektif, tetapi kita tetap masih dapat mempertanyakannya lebih jauh derajat efektivitasnya. Sebagaiamana yang telah diuraikan sebelumnya, seseorang menaati atau tidak menaati suatu aturan hukum, tergantung pada kepentingannya. Dan itu ada bermacam-macam, diantaranya yang bersifat compliance, identification, internalization, dan masih banyak jenis kepentingan lain. Jika ketaatan sebagian besar masyarakat terhadap suatu aturan umum hanya karena kepentingan yang bersifat compliance atau hanya takut sanksi, maka derajat ketaatannya sangat rendah, karena membutuhkan pengawasan yang terus-menerus. Berbeda kalau ketaatannya berdasarkan kepentingan yang bersifat internalization, yang ketaatannya karena aturan hukum tersebut benar-benar cocok dengan nilai intrinsik yang dianutnya, maka derajat ketaatannya adalah yang tertinggi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dari suatu aturan hukum atau perundang-undangan adalah sebagai berikut :
a. Pengetahuan tentang susbstansi (isi) perundang-undangan. b. Cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut
c. Institusi yang terkait dengan ruang lingkup perundang-undangan di dalam masyarakat. d. Bagaiamana proses lahirnya suatu perundang-undangan, yang tidak boleh dilahirkan
Pada umumnya, faktor yang mempengaruhi efektivitas suatu perundang-undangan adalah profesional dan optimal pelaksanaan peran, wewenang dan fungsi dari para penegak hukum, baik didalam menjelaskan tugas yang dibebankan terhadap diri mereka maupun dalam menegakkan undangan tersebut, yang jelas bahwa seseorang menaati ketentuan perundang-undangan adalah karena terpenuhinya suatu kepentingannya (interest) oleh perundang-perundang-undangan tersebut.
B. Perbedaan Kejahatan dan Pelanggaran
Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak dijelaskan mengenai arti pelanggaran. Dalam KUHP menempatkan kejahatan didalam Buku II dan pelanggaran dalam Buku III, tetapi tidak ada penjelasan mengenai apa yang disebut kejahatan dan pelanggaran. Semuanya diserahkan kepada ilmu pengetahuan untuk memberikan dasarnya, tetapi tampaknya tidak ada sepenuhnya memuaskan. Pelanggaran dapat dibedakan dengan kejahatan melalui sanksi yang diberikan. Pelanggran adalah delik undang-undang yaitu perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui setelah ada undang-undang yang mengatur.
Kriteria lain yang diajukan, kejahatan ialah delik-delik yang melanggar kepentingan umum dan juga membahayakan secara konkret, sedangkan pelanggaran itu hanya membahayakan in abstracto saja. Secara kuantitatif pembuat undang-undang membedakan delik kejahatan dan pelanggaran itu :
1. Pasal 5 KUHP hanya berlaku bagi perbuatan-perbuatn yang merupakan kejahatan di Indonesia. Jika seorang Indonesia yang melakukan delik diluar negeri yang digolongkan sebagai delik pelanggaran di Indonesia, maka dipandang tidak perlu dituntut.
2. Percobaan dan membantu melakaukan delik pelnggaran tidak dipidana.
Apapun alasan pembenar antara kejahatan dan pelanggaran, yang pasti jenis pelanggran itu lebih ringan dari pada kejahatan. Hal ini dapat diketahui dari ancaman pidana pada pelanggran tidak ada yang diancam dengan pidana penjara, tetapi berupa pidana kurungan dan denda, sedangkan pada kejahatan lebih didominasi dengan ancaman piadana penjara. Dengan dibedakannya tindak pidana antara kejahatan dan pelanggran secara tajam dalam KUHP, terdapat konsekuensi berikutnya dalam hukum pidana materil antara lain sebagai berikut :
a. Dalam hal percobaan, yang dapat dipidana hanyalah terhadap percobaan melakukan kejahatan saja, dan tidak pada percobaan pelanggarn (Pasal 53 dan Pasal 54 KUHP) b. Mengenai pembantuan, yang dapat dipidana hanyalah pembantuan dalam hal
kejahatan, dan tidak dalam hal pelanggaran ( Pasal 56 KUHP)
c. Asas personaliteit hanya berlaku pada warga negara RI yang melakukan kejahatan (bukan pelanggaran) diluar wilayah hukum RI yang menurut hukum pidana negara asing tersebut adalah berupa perbuatan yang diancam pidana (Pasal 5 ayat 1 sub 2 KUHP)
d. Dalam hal melakukan pelanggaran, pengurus atau anggota pengurus atau para komisaris hanya dipidana apabila pelanggaran itu terejadi adalah atas sepengetahuan mereka (Pasal 59 KUHP), jika tidak, pengurus, anggota pengurus atau komisaris itu tidak dipidana. Hal ini tidak berlaku pada kejahatan.
e. Dalam ketentuan perihal syarat pengaduan bagi penuntutan pidana terhadap tindak pidana (aduan) hanya berlaku pada jenis kejahatan saja, dan tidak pada jenis pelanggaran.
f. Dalam hal tenggang waktu kadaluarsa hak negara untuk menuntut pidana dan menjalankan pidana pada pelanggaran relatif lebih pendek dari pada kejahatan (Pasal 78 dan Pasal 84 KUHP).
h. Dalam hal menjatuhkan pidana perampasan barang tertentu dalam pelanggaran-pelanggaran hanya dapat dilakukan jika dalam UU bagi pelanggran tersebut ditentukan dapat dirampas (Pasal 39 ayat 2).
i. Dalam ketentuan mengenai penyertaan dalam hal tindak pidana yang dilakukan dengan alat percetakan hanya berlaku bagi kejahatan-kejahatan saja (Pasal 61 dan Pasal 62 KUHP).
j. Dalam hal penadahan, benda objek penadahan haruslah diperoleh dari kejahatan saja, dan bukan pada pelanggran (Pasal 480 KUHP).
k. Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia hanya diberlakukan bagi setiap pegawai negeri yang diluar wilayah Indonesia melakukan kejahatan jabatan (Pasal 7 KUHP), dan bukan pelanggran jabatan.
C. Pelanggaran Lalu Lintas 1. Pengertian Lalu Lintas
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas lalu lintas, angkutan jalan, jaringan lalu lintas dan angkutan jalan, prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, kendaraan, pengemudi, pengguna jalan, serta pengelolaannya. Lalu lintas adalah gerak kendaraan dan orang di Ruang Lalu Lintas Jalan. Ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa jalan dan fasilitas pendukung.
Menurut Perinkins, Lalu lintas (traffic) adalah pertalian dengan angkutan dan harta benda di jalan dan meliputi perjalanan, gerak dari kendaraan penarikan benda-benda yang dapat bergerak, angkutan penumpang, arus pejalan kaki, dan ditambah dengan beberapa kegiatan yang berhubungan penggunaan jalan umum
2. Pengertian Pelanggaran Lalu Lintas
atau melanda. Sedangkan pelanggaran merupakan tindak pidana yang ancaman hukumannya lebih ringan dari pada kejahatan.
Pelanggaran lalu lintas adalah pelangaran-pelangaran yang khusus dilakukan oleh pengemudi kendaraan bermotor dijalan raya.
Pengertian mengenai pelanggran lalu lintas dapat disimak dalam brosur penyuluhan hukum VIII tentang pelaksanaan lalu lintas yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Badan Peradilan Umum Departemen Kehakiman edisi 1 Tahun 1993 yang selengkapnya berbunyi:
“ Pelanggaran lalu lintas adalah setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pemakai jalan baik
JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan dalam Wilayah Hukum Kota Makassar, dalam hal ini bertempat di Kantor Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Makassar dan di Pengadilan Negeri Makassar. Penelitian dilakukan di kantor Polrestabes Makassar khususnya di bagian Satlantas dengan pertimbangan bahwa Satlantas Polrestabes Makassar adalah instansi yang berwenang dan memiliki kompeten dalam memberikan keterangan-keterangan atau pun data-data yang sangat akurat dalam penelitian untuk penulisan skripsi ini. Di Pengadilan Negeri Makassar, penelitian bertujuan untuk mewawancarai Hakim dan para pelanggar pada hari jumat.
B. Jenis dan Sumber Data
Data yang terhimpun dari hasil penelitian ini, baik penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan, dapat digolongkan ke dalam dua jenis data yaitu :
1) Data primer adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan seperti peraturan perundang-undangan, karya tulis, dan buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini.
2) Data sekunder yakni data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait sehubungan dengan penulisan skripsi ini, pada lokasi penelitian.
C. Teknik Pengumpulan Data
1) Metode Penelitian Kepustakaan (library research) yakni penelitian yang dilakukan dengan membaca buku-buku, peraturan perundang-undangan, karya tulis, serta data-data yang didapatkan dari penulisan melalui media internet atau media lain yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.
2) Metode Penelitian Lapangan (field research) yakni penelitian yang dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yakni melalui wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan penulisan skripsi ini.
D. Teknik Analisa Data
Setelah penulis memperoleh data primer dan data sekunder seperti yang tersebut diatas, dianalisis secara kualitatif, kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif, yaitu menjelaskan menguraikan dan mengagambarkan permasalahan yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini untuk memperoleh sebuah kesimpulan.
JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
BAB IV PEMBAHASAN
A. Efektivitas Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dapat ditinjau dari dua aspek yaitu :
1. Efektivitas Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 dilihat dari Jumlah Pelanggar Lalu Lintas Per Tahun.
Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas dari suatu aturan hukum atau perundang-undangan, maka kita pertama-tama harus dapat mengukur sejauh mana aturan hukum itu ditaati. Tentu saja, jika suatu aturan hukum ditaati oleh sebagian besar target yang menjadi sasaran ketaatannya, kita dapat mengatakan bahwa aturan hukum yang bersangkutan adalah efektif.
Untuk mengetahui seberapa efektif penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009, penulis telah melakukan penelitian di Polrestabes Makassar dan Pengadilan Negeri Makassar. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh keterangan bahwa jumlah pelanggar lalu lintas dari januari 2010 – agustus 2012 di Polrestabes Makassar adalah sebanyak 23.840 kasus, dan di Pengadilan Negeri Makassar adalah sebanyak 30.571 kasus, terdapat perbedaan jumlah kasus karena data yang ada di Polrestabes merupakan data yang diperoleh dari penyetoran 12 polsek yaitu Polsek Tallo, Polsek Ujung Pandang, Polsek Mariso, Polsek Makassar, Polsek Mamajang, Polsek Manggala, Polsek Bontoala, Polsek Panakukkang, Polsek Biringkanaya, Polsek Rappocini, Polsek Tamalanrea, dan Polsek Tamalate. Sedangkan data yang ada di Pengadilan Negeri Makassar merupakan data dari Polrestabes Makassar, Polres Pelabuhan, Ditlantas Polda, dan PJR (Polisi Jalan Raya), dengan rincian sebagaimana terlihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 1 : Data Pelanggar Lalu Lintas di Polrestabes Makassar dari Tahun 2010-2012 Sumber : Data Primer Januari 2010-Agustus 2012.
Tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2010 terdapat pelanggaran sebanyak 8.548, pada tahun 2011 sebanyak 9.901 dan pada tahun 2012 sebanyak 5.391 hingga bulan Agustus. Jumlah pelanggar lalu lintas pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yaitu sebanyak 1.353. Jumlah total pelanggar lalu lintas dari januari 2010 – Agustus 2012 adalah sebanyak 23.840.
Tabel 2 : Data Pelanggar Lalu Lintas di Pengadilan Negeri Makassar dari Tahun 2010-2012
Tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2010 terdapat pelanggaran sebanyak 8.818, pada tahun 2011 sebanyak 12.919 dan pada tahun 2012 sebanyak 8.834 hingga bulan Agustus. Jumlah pelanggar lalu lintas pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yaitu sebanyak 4.101. Jumlah total pelanggar lalu lintas di Pengadilan Negeri Makassar dari Januari 2010 – Agustus 2012 adalah sebanyak 30.571.
Jenis pelanggaran ini terjadi karena pengemudi kendaraan bermotor sering mengabaikan peraturan dalam berlalu lintas dan adanya sikap apatis (acuh) serta Kebiasaan melanggar peraturan lalu lintas yang anggap biasa kemudian menjadi budaya melanggar peraturan. Salah satu contohnya yaitu ketika seseorang pengendara yang ingin menuju kesuatu tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediamannya, maka rata-rata pengendara tidak membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) atau Surat Ijin Mengemudi (SIM) atau tidak menggunakan helm. Faktor lain yang menjadi penyebab adalah faktor ketidakdisiplinan dan faktor lupa
2. Efektivitas Penerapan Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 dilihat dari Pemberian Sanksi Pidana Denda.
Untuk mengetahui kasus-kasus pelanggaran lalu lintas khususnya terhadap pelanggaran Pasal 288 UU Nomor 22 tahun 2009 yang diselesaikan melalui persidangan atau pemeriksaan cepat di Pengadilan Negeri Makassar, maka penulis melakukan penelitiaan dan memperoleh data sebagai berikut :
Tabel 3: Data Jumlah Denda Pelanggaran lalu Lintas di PN Makassar Tahun 2010
7. Juli 831 330 501 Rp.13.850.000
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 8.818 pelanggaran lalu lintas khususnya Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 yang diputus oleh Pengadilan Negeri Makassar, terdapat 3.597 yang mengikuti persidangan dan 5.221 yang tidak mengikuti persidangan (verstek/putusan tanpa hadir), jumlah total denda selama tahun 2010 adalah sebanyak Rp.115.362.000.
Table 4: Data Jumlah Denda Pelanggaran lalu Lintas di PN Makassar Tahun 2011
No. Bulan Jumlah
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 12.919 pelanggaran lalu lintas khususnya Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 yang diputus oleh Pengadilan Negeri Makassar, terdapat 5.739 yang mengikuti persidangan dan 7.180 yang tidak mengikuti persidangan (verstek/putusan tanpa hadir), jumlah total denda selama tahun 2011 adalah sebanyak Rp.620.364.000.
Table 5 :Data Jumlah Denda Pelanggaran lalu Lintas di PN Makassar Tahun 2012
kasus sidang (putusan
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 8.835 pelanggaran lalu lintas khususnya Pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 yang diputus oleh Pengadilan Negeri Makassar, terdapat 4.165 yang mengikuti persidangan dan 4.470 yang tidak mengikuti persidangan (verstek/putusan tanpa hadir), jumalh total denda dari Januari 2012- Agustus 2012 adalah sebanyak Rp.389.482.000.
Dari ke tiga tabel di atas, dapat dilihat bahwa jumlah kasus pelanggar lalu lintas dari Januari 2010 – Agustus 2012 di Pengadilan Negeri Makassar sebanyak 30.571 kasus. Jumlah Denda pelanggaran Lalu Lintas juga mengalami peningkatan. Kasus-kasus ini disidangkan dengan pemeriksaan cepat. Kasus-kasus yang diterima tersebut seluruhnya dijatuhi sanksi pidana denda tanpa ada satupun kasus yang divonis dengan pidana kurungan.
Dari segi efektivitas penjatuhan pidana denda terhadap pelanggar, terdapat 17 orang yang takut melakukan pelanggaran lalu lintas dan 33 orang yang tidak takut melakukan pelanggaran lalu lintas kembali. Alasanya bahwa sanksi denda mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain : 1. Pidana denda dapat dibayar atau ditangguhkan oleh pihak ketiga, sehingga pidana yang
dijatuhkan tidak secara langsung dirasakan oleh si pelanggar sendiri.
3. Pidana denda tidak menimbulkan stigma atau cap sebagai penjahat bagi pelanggar.
B. Peran Aparat Kepolisian Polrestabes Makassar dalam Menanggulangi Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Makassar.
1. Upaya Preventif
Upaya preventif (pencegahan) dimaksudkan sebagai usaha untuk mengadakan perubahan-perubahan yang bersifat positif terhadap kemungkinan terjadinya gangguan-gangguan dalam ketertiban dan keamana (stabilitas hukum).
Upaya preventif yang telah dilakukan oleh Kesatuan Lalu Lintas Polrestabes Makassar antara lain :
1. Penyuluhan tentang berlalu lintas
2. Polisi menyapa masyarakat yang dilaksanakan secara rutin tiap hari minggu di sekitar anjungan pantai losari Makassar.
3. Pelatihan berlalu lintas
Pelatihan ini ditujukan kepada seluruh tukang parker yang ada di kota Makassar. 4. Pelayanan pembuatan SIM
Pelayanan pembuatan SIM telah dilaksanakan dengan baik, misalnya saja pelayanan pembuatan SIM juga telah hadir di beberapa mall Makassar sehingga mempermudah warga dalam pengurusan SIM, seperti contoh mall panakukkang.
5. Pemasangan spanduk, baliho, pamphlet, dan penyebaran brosur
Hal ini dapat kita lihat disepanjang jalan di kota Makassar seperti anjuran untuk memakai helm standar.
6. Pemasangan rambu-rambu peringatan dengan bekerja sama dengan jasa raharja.
2. Upaya Represif
penanggulangan pelanggaran lalu lintas di kota Makassar yang bersifat preventif, maka perlu dilaksanakan upaya penangulangan yang bersifat represif. Upaya represif yang dilakukan adalah :
a. Penindakan dengan pemberian surat teguran atau lisan
Penindakan dengan teguran hanya diberikan kepada palanggar yang tidak terlalu fatal seperti mengendarai kendaraan dengan membawa anak atau diberikan bagi anak sekolah dibawah umur yang melakukan pelanggaran.
b. Penindakan dengan pemberian surat tilang
JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Penerapan pasal 288 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, belum efektif menanggulangi pelanggran lalu lintas di kota Makassar. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pelanggar lalu lintas yang mengalami peningkatan pada setiap tahunnya baik data di Polrestabes Makassar maupun di Pengadilan Negeri Makassar. Pelanggaran ini terjadi karena pengemudi kendaraan bermotor sering mengabaikan peraturan dalam berlalu lintas dan adanya sikap apatis (acuh) yang sudah menjadi kebiasaan.
2. Dari segi penjatuhan pidana denda terhadap pelaku pelanggaran lalu lintas ternyata belum efektif, karena masih banyak masyarakat yang tidak takut untuk melakukan pelanggaran lalu lintas kembali. Hal ini disebabkan : (1) Pidana denda dapat dibayar atau ditangguhkan oleh pihak ketiga, sehingga pidana yang dijatuhkan tidak secara langsung dirasakan oleh si pelanggar sendiri. (2) Bahwa pidana denda itu lebih menguntungkan bagi orang-orang yang mampu. (3) Pidana denda tidak menimbulkan stigma atau cap sebagai penjahat bagi pelanggar.
B. Saran
1. Untuk mengurangi tindak pidana pelanggaran lalu lintas di kota Makassar, diharapkan kepada aparat kepolisian menempatkan personilnya disegala sudut dan perempatan jalan di kota Makassar supaya pengendara tidak melakukan pelangaran lalu lintas.
2. Penanganan terhadap para pelanggar, memerlukan kemampuan dan ketrampilan professional. Oleh karena itu, maka para penegak hukum harus mempunyai pendidikan formal dengan taraf tertentu, serta pengetahuan dan pemahaman hukum yang cukup besar. Pengutamaan kekuatan fisik, bukanlah sikap professional di dalam menangani masalah-masalah lalu lintas.
3. Pendidikan bagi pengemudi, juga merupakan salah satu cara dalam menangani para pelanggar lalu lintas. Pada masyarakat lain di luar Indonesia, sekolah mengemudi merupakan suatu lembaga pendidikan yang tujuan utamanya adalah menghasilkan pengemudi-pengemudi yang cakap dan terampil di dalam mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Sekolah-sekolah tersebut dikelola oleh para ahli, yang tidak hanya melingkupi mereka yang biasa menangani masalah-masalah lalu lintas, akan tetapi kadang-kadang juga ada psikologinya maupun ahli ilmu-ilmu sosial lainnya. Di dalam sekolah pendidikan pengemudi tersebut, yang paling pokok adalah sikap dari instruktur. Instruktur harus mampu menciptakan suatu suasana dimana murid-muridnya dengan konsentrasi penuh menerima pelajarannya.
JURNAL ILMIAH ILMU HUKUM JURUSAN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
DAFTAR PUSTAKA
Alam, A.S. 2010. Pengantar Kriminologi. Makassar : Pustaka Refleksi.
Bentham, Jeremy. 2010. Teori Perundang-undangan (Prinsip-prinsip Legislasi, Hukum Perdata, dan Hukum Pidana). Bandung : Nuansa.
Ali, Achmad. 2009. Menguak Teori Hukum (legal theory) dan Teori Peradilan (Judiclalprudence). Jakarta : kencana Prenada Media Group.
Chazawi, Adami. 2007. Pelajaran Hukum Pidana I Bagian I. Jakarta : PT.Rajagrafindo Persada.
Djajoesman. 1996. Polisi dan Lalu Lintas (cetakan kedua). Jakarta: Bina Cipta.
Hamzah,Andi. 2008 .Asas-asas Hukum Pidana (edisi revisi 2008). Jakarta : PT Rineka Cipta.
Moeljatno. 1991. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia. Jakarta: Bina Aksara.
Prasetyo, Teguh. 2011. Hukum Pidana Edisi Revisi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Prodjodikoro, Wirjono. 2009. Asas-asas Hukum Pidinan di Indonesia. Bandung: PT.Refika Aditama.
Soekanto, Soerjono .2005. Sosiologi Suatu PengantarI. Jakarta :PT.Raja Grafindo Persada.
Subekti,R,R.Tijtrosoedibio. 2008. Kamus Hukum. Jakarta : Pradnya Paramita.
Perundang-undangan
Kitab Undang-undanng hukum Pidana
Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana ( UU No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Sumber Lain
Tri Rama K, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Agung Media Mulia,
M. Marwan & Jimmy P. 2009. Kamus Hukum. Surabaya : Reality Publisher.