P
ERKEMBANGAN
P
EREKONOMIAN
D
AERAH
P
ROVINSI
B
ENGKULU
PROVINSI BENGKULU
Penerbit :
Bank Indonesia Bengkulu Tim Ekonomi Moneter –
Kelompok Kajian, Statistik dan Survei Jl. A. Yani No.1
BENGKULU
i|á| UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t
Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil.
`|á| UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t
Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang negara Indonesia yang berkesinambungan.
a|Ät| fàÜtàxz|á bÜztÇ|átá| UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t
Nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi, manajemen dan pegawai untuk bertindak atau berperilaku yaitu Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas dan Kebersamaan.
i|á| ^tÇàÉÜ UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t UxÇz~âÄâ
Mewujudkan Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya melalui peningkatan
perannya sebagai economic intelligence dan unit penelitian.
`|á| ^tÇàÉÜ UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t UxÇz~âÄâ
KATA PENGANTAR
Penerbitan Perkembangan Perekonomian Daerah ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi mengenai keadaan ekonomi, moneter dan perbankan bagi pihak-pihak yang berkepentingan khususnya Pemerintah Daerah maupun instansi lainnya guna merumuskan suatu kebijakan. Perkembangan Perekonomian Daerah merupakan pengembangan dari Kajian Ekonomi Regional (KER) yang diterbitkan secara triwulanan dan tahunan.
Dalam kajian ini dibahas mengenai perkembangan perekonomian regional Provinsi Bengkulu, yang meliputi perkembangan kegiatan sektor riil dan perkembangan kegiatan sektor moneter perbankan, khususnya selama Triwulan IV tahun 2008 dan membandingkannya dengan periode/kondisi laporan sebelumnya.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam kajian yang kami susun ini, oleh karena itu kritik serta saran dari pengguna/pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan terbitan berikutnya.
Akhirnya kami berharap, semoga terbitan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Bengkulu, Februari 2009 BANK INDONESIA BENGKULU
Syarifuddin Bassara Pemimpin
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GRAFIK ... vi
RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH PROVINSI BENGKULU ... 4
BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL ... 6
1.1. PDRB SISI PENGGUNAAN ... 7
1.1.1. Konsumsi Daerah ... 7
1.1.2. Investasi Regional ... 10
1.1.3. Ekspor dan Impor Regional ... 11
1.2. PDRB SISI SEKTORAL ... 14
1.2.1. Sektor Pertanian ... 16
1.2.2. Sektor Listrik, Gas dan Air ... 17
1.2.3. Sektor Jasa-Jasa ... 18
1.2.4. Sektor Bangunan ... 18
1.3. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN... 20
BOKS 1 Perkembangan Dunia Usaha Bengkulu Di Masa Krisis Keuangan Global BOKS 2 Dampak Krisis Global Terhadap Ketenagakerjaan Bengkulu BAB II PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH ... 22
2.1. PERKEMBANGAN INFLASI ... 22
2.3. INFLASI MENURUT KELOMPOK BARANG/JASA ... 23
2.4. INFLASI PERIODE JANUARI – DESEMBER 2008 ... 26
2.5. PERBANDINGAN INFLASI ANTAR KOTA DI SUMATERA ... 27
BAB III PERBANKAN ... 29
3.1. GAMBARAN UMUM ... 29
3.2. PERKEMBANGAN BANK UMUM ... 31
3.3. PERKEMBANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT ... 37
BOKS 3 Dampak Krisis Global Terhadap Kinerja Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/S) Di Provinsi Bengkulu BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH ... 39
4.1. GAMBARAN SISI PENERIMAAN ... 39
4.2. GAMBARAN SISI PENGELUARAN ... 41
4.3. GAMBARAN REALISASI APBD 2008 ... 42
BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 44
5.1. ALIRAN UANG KARTAL (OUTFLOW-INFLOW) ... 44
5.2. PENYEDIAAN UANG KARTAL LAYAK EDAR ... 45
5.3. PENEMUAN UANG PALSU ... 46
5.4. PERKEMBANGAN KLIRING LOKAL ... 47
BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH ... 49
6.1. PERKIRAAN EKONOMI ... 49
BOKS 4 Refleksi Perekonomian 2008 Dan Koordinasi Menghadapi Tantangan
2009
LAMPIRAN DATA PEREKONOMIAN DAN PERBANKAN ... 53
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. PDRB Berdasarkan Jenis Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku
dan Konstan ... 7
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor dan Impor Regional dalam pembentukan PDRB menurut Harga Berlaku Provinsi Bengkulu ... 11
Tabel 1.3. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut Jenis Barang di Provinsi Bengkulu ... 12
Tabel 1.4. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut Negara Pembeli di Provinsi Bengkulu ... 14
Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Bengkulu (q-t-q) Menurut Sektor ... 15
Tabel 1.6. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan dan Lapangan Usaha Provinsi Bengkulu... 16
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Menurut Kelompok Barang/jasa Kota Bengkulu (Tahunan, y-o-y) ... 23
Tabel 2.2. Sumbangan Beberapa Komoditas terhadap Inflasi Bengkulu ... 24
Tabel 2.3. Perbandingan Inflasi Bengkulu Tahun 2006-2008 ... 27
Tabel 3.1. Jaringan Kantor Pelayanan Bank Provinsi Bengkulu ... 31
Tabel 3.2. Perkembangan Aset Perbankan Provinsi Bengkulu ... 32
Tabel 3.3. Perkembangan Penghimpunan Dana Bank Umum Provinsi Bengkulu ... 33
Tabel 3.4. Perkembangan Kredit Perbankan Berdasarkan Jenis Penggunaan, Sektor Ekonomi dan Kelompok Bank di Provinsi Bengkulu ... 35
Tabel 3.5. Perkembangan Kredit Usaha Kecil di Provinsi Bengkulu ... 35
Tabel 3.6. Perkembangan Kredit UMKM Berdasarkan Jenis Penggunaan, Sektor Ekonomi di Provinsi Bengkulu ... 36
Tabel 3.7. Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Kredit UMKM di Provinsi Bengkulu ... 37
Tabel 3.8. Perkembangan Kegiatan Usaha BPR di Provinsi Bengkulu ... 38
Tabel 4.1. Potensi Kendaraan Bermotor di Provinsi Bengkulu periode Januari - Desember 2008 ... 40
Tabel 4.2. Realisasi Upah/gaji Pemda Dirinci menurut Kabupaten/Kota... 41
Tabel 4.3. Realisasi APBD Provinsi Bengkulu ... 43
Tabel 5.1. Perkembangan Inflow-Outflow Uang Kartal Provinsi Bengkulu ... 44
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1. Perkembangan PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB (LPE, y-o-y)
Provinsi Bengkulu (harga konstan 2000) ... 6
Grafik 1.2. Perkembangan Kredit Konsumsi di Provinsi Bengkulu ... 8
Grafik 1.3. Beberapa Hasil Survei di Provinsi bengkulu ... 9
Grafik 1.4. Perkiraan Pengeluaran Upah/Gaji Pegawai Negeri dan Saldo Giro Pemerintah Provinsi Bengkulu ... 10
Grafik 1.5. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Realisasi Investasi Responden SKDU ... 11
Grafik 1.6. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Ekspor Bengkulu ... 13
Grafik 1.7. Indikator Sektor Pertanian Provinsi Bengkulu ... 16
Grafik 1.8. Indikator Sektor Listrik, Gas dan Air di Provinsi Bengkulu ... 17
Grafik 1.9. Indikator Sektor Jasa-Jasa di Provinsi Bengkulu ... 18
Grafik 1.10. Indikator Sektor Bangunan di Provinsi Bengkulu ... 19
Grafik 1.11. Perubahan Bulanan Nilai Tukar Petani di Provinsi Bengkulu... 20
Grafik 1.12. Tingkat Pengangguran di Provinsi Bengkulu ... 21
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi IHK Kota Bengkulu ... 22
Grafik 2.2. Hasil Pantauan Harga Beberapa Komoditas di Kota Bengkulu ... 25
Grafik 2.3. Sumbangan Inflasi Per Kelompok Barang/Jasa ... 26
Grafik 2.4. Realisasi Inflasi Tahun 2008 ... 27
Grafik 2.5. Inflasi Beberapa Kota di Sumatera ... 28
Grafik 3.1. Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Non-Performing Loan (NPL) Perbankan Provinsi Bengkulu... 29
Grafik 3.2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit Bank Umum Provinsi Bengkulu ... 30
Grafik 3.3. Distribusi Aktiva Bank Umum di Provinsi Bengkulu ... 32
Grafik 3.4. Perkembangan Net Interest Margin BPR Provinsi Bengkulu ... 38
Grafik 4.1. Rekapitulasi Pendapatan Daerah pada Masing-Masing Wilayah Tahun 2008 ... 39
Grafik 4.2. Dana Milik Pemerintah di Perbankan Daerah ... 41
Grafik 4.3. Dana Milik Pemerintah Provinsi Bengkulu ... 42
Grafik 5.1. Perkembangan Inflow-Outflow Uang Kartal Provinsi Bengkulu ... 45
Grafik 5.2. Perkembangan Rasio PTTB terhadap Inflow Provinsi Bengkulu ... 46
Grafik 5.3. Perkembangan Jumlah Uang Palsu yang Ditemukan di Bengkulu... 46
Grafik 6.1. Hasil Survei SEK dan SKDU di Provinsi Bengkulu ... 50
Ringkasan Eksekutif
RINGKASAN EKSEKUTIF
RINGKASAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu secara tahunan mengalami
peningkatan pada triwulan IV 2008, yaitu sebesar 5,27% (y-o-y), meningkat dibanding
triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,44%. Meningkatnya laju perekonomian di sisi
permintaan terutama disebabkan karena adanya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan
indikator investasi. Sedangkan konsumsi masyarakat mengalami perlambatan jika
dibandingkan laju pertumbuhan triwulan III.
Sementara di sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi masih mengalami
pertumbuhan di triwulan ini. Pertumbuhan yang cukup tinggi terutama dialami oleh sektor
jasa-jasa, listrik-gas-air dan pertanian. Sektor-sektor tersebut masing-masing tumbuh
sebesar 8,07%, 6,92% dan 6,73%.
RINGKASAN INFLASI
Inflasi Kota Bengkulu secara tahunan menurun dibanding triwulan sebelumnya, yakni
dari 14,51% menjadi 13,44% (y-o-y). Menurunnya inflasi di triwulan laporan dipengaruhi
oleh adanya keputusan pemerintah untuk menurunkan harga BBM. Pemerintah
memutuskan untuk menurunkan harga BBM sebanyak 2 kali di bulan Desember yaitu dari
Rp6.000/liter menjadi Rp5.500/liter dan kemudian diturunkan kembali menjadi
Rp5.000/liter. Pengaruh penurunan tersebut menyebabkan terjadinya deflasi di bulan
Desember sebesar 0,09% yang terutama terjadi di kelompok transpor, komunikasi dan
jasa keuangan.
Sedangkan kelompok bahan makanan dan kelompok makanan
jadi-minuman-rokok-tembakau terlihat mengalami inflasi di triwulan ini. Masing-masing kelompok mengalami
Ringkasan Eksekutif
RINGKASAN PERKEMBANGAN PERBANKAN
Perkembangan perbankan khususnya bank umum di Provinsi Bengkulu
menunjukkan adanya penurunan dibanding triwulan sebelumnya. Hal ini terlihat pada
indikator seperti total aset dan DPK yang mengalami penurunan masing-masing sebesar
2,43% dan 4,82%. Sementara kredit masih tumbuh sebesar 3,48%, serta LDR dan NPL
membaik masing-masing menjadi sebesar 102,53% dan 1,52%.
RINGKASAN PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
Dari hasil rekapitulasi pendapatan daerah, total pendapatan daerah pada tahun
2008 mencapai Rp4.933,37 miliar. Dari sepuluh pemerintah daerah, Provinsi Bengkulu dan
Kabupaten Bengkulu Utara memperoleh pendapatan terbesar. Realisasi upah atau gaji
pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah di Provinsi Bengkulu pada triwulan
IV tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp302,38 miliar. Pengeluaran gaji tersebut
meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Realisasi APBD Provinsi Bengkulu hingga akhir
2008 mencapai 82,84% dari dana yang dianggarkan.
RINGKASAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Aliran uang kartal di Bank Indonesia Bengkulu masih mengalami net cash outflow,
namun menurun dibanding triwulan sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya peningkatan
jumlah uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia dari setoran perbankan daerah (cash
inflow) yang sangat signifikan, sementara jumlah uang kartal yang keluar dari Bank
Indonesia (cash outflow) juga meningkat namun relatif lebih kecil. Sedangkan transaksi
non-kas dengan menggunakan kliring juga menurun dibanding triwulan sebelumnya.
Dimana rata-rata perputaran nominal kliring harian menurun 0,77% dari Rp7.931 juta
menjadi Rp7.870 juta.
PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI
Perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan I tahun 2009 diperkirakan akan
mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut
Ringkasan Eksekutif
musim panen di sisi penawaran. Sementara di sisi permintaan didorong oleh perbaikan
konsumsi masyarakat dan pemerintah. Bank Indonesia Bengkulu memperkirakan
perekonomian daerah akan tumbuh di kisaran 5,05% (y-o-y).
Sedangkan tekanan inflasi daerah di triwulan I tahun 2009 diperkirakan akan
mengalami penurunan. Hal ini sejalan dengan keputusan pemerintah untuk menurunkan
harga BBM. Keputusan ini diikuti dengan menurunnya tarif transportasi baik untuk dalam
kota maupun antar kota. Meski demikian, beberapa harga komoditas seperti beras dan
minyak goreng terindikasi meningkat di awal tahun. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan
untuk menaikkan harga pembelian gabah oleh pemerintah serta adanya shock di
komoditas minyak goreng. Namun besarnya pengaruh kenaikan harga di komoditas
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH
PROVINSI BENGKULU
a. Inflasi dan PDRB
2008 INDIKATOR 2007
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
MAKRO
IHK Kota Bengkulu 158,64 165,13 112,18 116,24 116.64
Laju Inflasi (y-o-y) 5,00 7,84 13,81 14,51 13,44
PDRB-Harga Konstan (miliar Rp) 7.009 1.811 1.836 1.864 1.845
- Pertanian 2.772 735 734 743 729
- Pengangkutan & Komunikasi 594 149 151 155 154
- Keuangan, Persewaan dan Jasa 325 83 83 85 85
- Jasa 1.138 300 315 314 316
Pertumbuhan PDRB (y-o-y, %) 6,16 6,92 4,24 3,44 5,27
Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) 1) 49 49 56 56 36
Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 340 338 315 245 258
Nilai Impor Nonmigas (USD Juta) 1)
-Total Aset (Triliun Rp) 4,56 4,79 5,31 5,97 5,82
DPK (Triliun Rp) 3,49 3,72 4,01 4,35 4,14
- Tabungan (Triliun Rp) 1,96 1,75 2,01 2,05 2,40
- Giro (Triliun Rp) 1,01 1,42 1,42 1,67 1,05
- Deposito (Triliun Rp) 0,52 0,55 0,58 0,63 0,69
Kredit (Triliun Rp) – Lokasi Proyek 1) 3,41 3,50 4,30 4,70 4,76
- Modal Kerja 1,30 1,41 1,66 1,74 1,73
- Konsumsi 1,73 1,90 2,16 2,42 2,49
- Investasi 0,38 0,35 0,48 0,54 0,54
- LDR (%) 93,70 94,09 107,23 108,05 114,97
Kredit (triliun Rp) – Lokasi Kantor 2,97 3,18 3,71 4,10 4,25
- Modal Kerja 1,04 1,13 1,36 1,48 1,50
- Konsumsi 1,59 1,75 2,01 2,22 2,36
- Investasi 0,34 0,30 0,35 0,40 0,39
- LDR (%) 85,14 85,34 92,67 94,30 102,53
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
2008 INDIKATOR 2007
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV
PERBANKAN
Kredit UMKM Bank Umum Menurut Lokasi Proyek 1)
Kredit UMKM (Triliun Rp) 2,94 3,22 3,74 4,17 4,27
Kredit Mikro (Triliun Rp) 1,44 1,48 1,47 1,55 1,51
- Kredit Modal Kerja 0,23 0,26 0,30 0,34 0,36
- Kredit Investasi 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04
- Kredit Konsumsi 1,18 1,19 1,14 1,17 1,11
Kredit Kecil (Triliun Rp) 0,99 1,20 1,61 1,94 2,08
- Kredit Modal Kerja 0,42 0,47 0,56 0,63 0,64
- Kredit Investasi 0,08 0,07 0,10 0,13 0,13
- Kredit Konsumsi 0,49 0,66 0,95 1,18 1,31
Kredit Menengah (Triliun Rp) 0,51 0,54 0,66 0,68 0,68
- Kredit Modal Kerja 0,36 0,37 0,44 0,43 0,43
- Kredit Investasi 0,11 0,12 0,17 0,20 0,20
- Kredit Konsumsi 0,04 0,05 0,05 0,05 0,05
NPL MKM gross (%) Na na na na Na
BPR
Total Aset (Miliar Rp) 32 40 44 46 46
DPK (Miliar Rp) 19 21 23 27 27
- Tabungan (Miliar Rp) 10 11 12 13 13
- Deposito (Miliar Rp) 9 10 11 14 14
Kredit (Miliar Rp) – Lokasi Proyek1) 87 52 84 18 17
- Modal Kerja 40 27 36 9 10
- Konsumsi 4 4 5 6 6
- Investasi 43 21 43 3 1
Kredit UMKM (Miliar Rp) 87 52 85 18 17
Rasio NPL Gross (%) na na na na na
Rasio NPL Net (%) na na na na na
LDR 129,69 136,63 159,24 145,66 141,02
1) data sampai dengan November 2008
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
BAB
1
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO
REGIONAL
Perekonomian Provinsi Bengkulu di triwulan IV tahun 2008 mengalami peningkatan.
Secara tahunan (y-o-y), laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27%, meningkat dibanding
triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,44%.
Meningkatnya laju perekonomian di sisi permintaan terutama disebabkan karena
adanya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan indikator investasi. Sementara konsumsi
masyarakat mengalami perlambatan jika dibandingkan laju pertumbuhan triwulan III. Di
sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi masih mengalami pertumbuhan di triwulan
ini. Pertumbuhan yang cukup tinggi terutama dialami oleh sektor jasa-jasa, listrik-gas-air
dan pertanian.
Grafik 1.1. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Laju Pertumbuhan PDRB (LPE, y-o-y) Provinsi Bengkulu (harga konstan 2000) PDRB (skala kiri) LPE (y-o-y; skala kanan) LPE (q-t-q; skala kanan)
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sisi Penggunaan
Perekonomian Provinsi Bengkulu dari sisi penggunaan masih bertumpu pada
sektor konsumsi. Proporsi konsumsi terhadap PDRB mencapai 81,63%, diikuti
ekspor-impor dan investasi. Proporsi konsumsi tersebut meningkat dibanding
triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 79,97%.
1.1.1. Konsumsi Daerah
Pertumbuhan secara tahunan (y-o-y) di sisi konsumsi tertinggi dialami
oleh konsumsi pemerintah dan lembaga nirlaba. Pertumbuhan untuk
masing-masing konsumsi tersebut sebesar 7,62% dan 5,90%. Namun demikian
konsumsi rumah tangga masih memiliki proporsi terbesar.
Tabel 1.1. PDRB Berdasarkan Jenis Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Q-IV 2007 Q-IV 2008 Jenis Penggunaan
Nilai Proporsi Nilai Proporsi
Pertum-buhan I. Atas Dasar Harga Berlaku
1. Konsumsi Rumah Tangga
2. Konsumsi Lembaga Nirlaba
3. Konsumsi Pemerintah
4. Pembentuk Modal Tetap Domestik Bruto
5. Perubahan stok II. Atas Dasar Harga Konstan
1. Konsumsi Rumah Tangga
2. Konsumsi Lembaga Nirlaba
3. Konsumsi Pemerintah
4. Pembentuk Modal Tetap Domestik Bruto
5. Perubahan stok
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, angka sementara
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di triwulan ini terlihat mulai
melambat dan tidak setinggi triwulan sebelumnya. Jika di triwulan
sebelumnya pertumbuhan mencapai 5,59% maka di triwulan ini melambat
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
hingga triwulan ini yang diduga terjadi karena adanya krisis keuangan global
dan diikuti dengan menurunnya harga komoditas perkebunan yang menjadi
unggulan daerah seperti karet dan kelapa sawit.
Hasil liaison (lihat Boks 1. Perkembangan Dunia Usaha Bengkulu di
Masa Krisis Keuangan Global) yang dilakukan Bank Indonesia Bengkulu
kepada beberapa perusahaan multifinance pada triwulan IV menunjukkan
adanya penurunan penjualan secara signifikan di triwulan ini. Menurut
perusahaan tersebut hal ini terjadi sejak adanya penurunan harga kelapa
sawit dan karet. Bahkan beberapa pelanggan yang melakukan kredit sepeda
motor ke perusahaan tersebut diantaranya mengalami gagal bayar.
Grafik 1.2. Perkembangan Kredit Konsumsi di Provinsi Bengkulu (juta Rp)
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum – KBI Bengkulu
Di sisi lain, kredit yang disalurkan perbankan daerah untuk kegiatan
konsumsi terlihat mulai mengalami penurunan pertumbuhan di triwulan ini.
Hal ini terlihat dari grafik 1.2 di atas dimana pertumbuhan kredit secara
tahunan menurun dari 54% di triwulan III menjadi 48% di triwulan ini.
Perbankan daerah diketahui mulai selektif dalam menyetujui pemberian
kredit dimana kredit diberikan hanya untuk bidang usaha yang sangat
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Grafik 1.3. Beberapa Hasil Survei di Provinsi Bengkulu
35.00 45.00 55.00 65.00 75.00 85.00 95.00 105.00
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2006 2007 2008
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)
Sumber : Survei Ekspektasi Konsumen, BI Bengkulu
Sebaliknya hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia Bengkulu
menunjukkan mulai adanya peningkatan kepercayaan masyarakat. Hal ini
terlihat dari meningkatnya indeks keyakinan konsumen (IKK). Peningkatan ini
dipicu oleh naiknya indeks ekspektasi konsumen dimana responden memiliki
ekspektasi adanya perbaikan penghasilan dan lapangan kerja 6 bulan yang
akan datang. Hal ini kemungkinan dipicu oleh rencana pemerintah untuk
menaikkan gaji PNS dan kebijakan penurunan harga BBM yang mereka yakini
akan membawa dampak membaiknya kondisi ekonomi secara umum.
Konsumsi pemerintah secara tahunan di triwulan laporan terlihat
mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Pertumbuhan konsumsi
pemerintah di triwulan laporan mencapai 7,62% sementara triwulan
sebelumnya 5,74%. Dilihat dari pengeluaran pemerintah daerah terkait
dengan belanja pegawai, yang memiliki porsi 27% terhadap total belanja
daerah Pemerintah Provinsi Bengkulu, juga terlihat meningkat. Kenaikan
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
akhir tahun 2008. Hal ini terlihat dari menurunnya giro milik pemerintah
yang tersimpan di perbankan daerah (grafik 1.4. di bawah).
Grafik 1.4. Perkiraan Pengeluaran Upah/Gaji Pegawai Negeri dan Saldo Giro Pemerintah Provinsi Bengkulu
juta rupiah Perkiraan Belanja Pegawai APBD (axis kiri)
Giro Pemerintah di Perbankan Daerah (axis kanan)
Sumber : BPS Prov. Bengkulu dan Lap. Bulanan Bank Umum – KBI Bengkulu
1.1.2. Investasi Regional
Data investasi regional yang tercatat di BPS sebagaimana terlihat dari
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) dan ditunjukkan pada
tabel 1.1. di triwulan laporan mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu
sebesar 15,40%. Sementara pada triwulan sebelumnya pertumbuhannya
hanya sebesar 6,0%. Pencatatan BPS ini merupakan investasi yang bersifat
tambahan dan dilakukan oleh pelaku ekonomi daerah setempat yang dapat
berupa tambahan bangunan atau peralatan untuk kegiatan usaha yang telah
dijalaninya.
Sebaliknya, Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan
oleh Bank Indonesia Bengkulu di triwulan IV 2008 menunjukkan hasil yang
berbeda. Saldo bersih tertimbang (SBT)1
atas realisasi investasi yang dilakukan
responden menunjukkan penurunan dimana triwulan sebelumnya SBT
1
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
sebesar 0,11 menjadi -0,47. Hal ini menunjukkan lebih sedikitnya responden
yang menambah jumlah realisasi investasinya.
Grafik 1.5. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Realisasi Investasi Responden SKDU
Sumber : Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), BI Bengkulu
1.1.3. Ekspor dan Impor Regional
Menurut data BPS Provinsi Bengkulu, pada triwulan laporan terjadi
penurunan net-ekspor secara tahunan (y-o-y) sebesar 22,07%. Tren
perkembangan ekspor dan impor antar daerah/negara di triwulan laporan
dapat dilihat dari tabel 1.2. di bawah ini. Ekspor turun dari Rp557.040 juta
pada triwulan IV tahun 2007 menjadi Rp499.229 juta, sedangkan impor juga
menurun dari Rp336.482 juta menjadi Rp288.648 juta.
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor dan Impor Regional dalam pembentukan PDRB menurut Harga Konstan Provinsi Bengkulu
Net Ekspor (Impor) 220.558 257.826 261.613 270.217 210.581
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Sementara perkembangan ekspor daerah ke mancanegara berdasarkan
pemberitahuan ekspor barang diperkirakan akan menurun secara tahunan.
Tabel 1.3 di bawah menggambarkan kegiatan perdagangan lintas negara
dari dan ke Provinsi Bengkulu yang dicatat berdasarkan data Pemberitahuan
Ekspor Barang (PEB). Dari tabel tersebut terlihat adanya penurunan ekspor
daerah ini pada triwulan laporan secara tahunan2
. Penurunan nilai ekspor
yang cukup besar terjadi pada komoditas lemak/minyak hewan nabati
dengan komoditas utama minyak sawit/CPO.
Tabel 1.3. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut Jenis Barang di Provinsi Bengkulu
nilai dalam ribu dollar, volume dalam ton
2007 2008 Mata Dagangan Ket.
Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4*
Pro-porsi
Nilai 14.403 10.263 15.321 10.778 8.305 17,13%
Lemak/minyak
hewan/nabati Volume 18.250 11.000 13.500 12.000 17.525
Nilai 220 290 475 704 113 0,23%
Kakao dan produk
kakao Volume 122 150 250 300 50
Nilai 9.562 9.896 10.097 9.007 14.615 30,15%
Bahan bakar
mineral Volume 305.677 311.403 276.801 200.589 287.033
Nilai 24.874 28.517 29.539 34.011 25.239 52,07%
Karet dan barang
dari karet Volume 11.864 11.882 11.055 11.404 10.185
Nilai 95 73 275 1.262 197 0,42%
Lainnya
Volume 4.459 3.013 12.842 20.925 10.262
Nilai 49.154 49.039 55.707 55.762 48.469 100%
Total
Volume 340.372 337.448 314.448 245.218 325.055
Sumber : SEKDA Provinsi Bengkulu, BI Bengkulu; *) angka perkiraan
Penurunan nilai ekspor di triwulan laporan secara tahunan diperkirakan
sebesar 1,39%, dimana terutama didorong oleh menurunnya ekspor CPO
yang mencapai 42%. Sedangkan ekspor batubara dan karet diperkirakan
akan meningkat. Dimana ekspor karet diperkirakan meningkat 1,47%
sementara batubara meningkat hingga 53%.
Penurunan ekspor diperkirakan masih terjadi pada triwulan mendatang,
ini terkait dengan adanya krisis keuangan global. Selain itu adanya
2
Berhubung data Desember 2008 belum tersedia, data triwulan IV dihitung dengan asumsi realisasi ekspor Bulan Desember sama dengan Bulan November. Hal ini dengan perkiraan realisasi ekspor
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
permasalahan hukum terkait dengan kegiatan penambangan batubara yang
dialami dua perusahaan tambang batubara di Bengkulu diperkirakan dapat
mempengaruhi ekspor batubara daerah. Permasalahan hukum yang dialami
oleh perusahaan tersebut adalah dugaan tidak adanya izin penambangan
(illegal mining). Sehingga perusahaan tersebut tidak dapat melakukan
penambangan kembali sebagaimana biasanya. Adapun dari hasil liaison (lihat
boks 1) yang dilakukan Bank Indonesia kepada perusahaan pengolahan karet
di Bengkulu terungkap bahwa ekspor yang dilakukan di triwulan ini relatif
stabil karena kontrak ekspor telah dilakukan sebelum krisis dilakukan.
Sementara untuk triwulan selanjutnya perusahaan masih ragu akan
kelanjutan ekspor karena kontrak ekspor yang diterima mengalami
penurunan yang cukup signifikan.
Grafik 1.6. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Ekspor Bengkulu
Sumber : DSM Bank Indonesia dan Bloomberg, diolah
Penurunan ekspor karena adanya gejala krisis keuangan global yang
berdampak pada menurunnya harga komoditas perkebunan dan
pertambangan. Sebagaimana terlihat pada grafik 1.6 di atas trend
penurunan harga dialami oleh komoditas utama daerah seperti CPO, karet
dan batubara. Secara triwulanan, harga batubara menurun 34% dari US$104
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
menjadi US$174/kg. Dan untuk komoditas CPO harga turun 38% dari
US$681 menjadi US$440/metrik ton.
Bila dilihat dari negara pembeli (tabel 1.4 di bawah), Singapura
merupakan negara dengan nilai pembelian terbesar diikuti oleh Belgia dan
Amerika Serikat. Nilai ekspor Provinsi Bengkulu ke tiga negara ini mencapai
US$24.845 ribu atau sekitar 68% dari nilai ekspor secara keseluruhan.
Tabel 1.4. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut Negara Pembeli di Provinsi Bengkulu
nilai dalam ribu dollar, volume dalam ton
2007 2008 Negara Pembeli Ket.
Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4*
Volume 19.198 11.524 14.163 12.463 9.227
Nilai 5.463 6.223 5.939 12.821 8.805
Lainnya
Volume 116.844 106.861 87.520 154.047 180.912
Nilai 49.154 49.039 55.707 55.762 36.400 Total
Volume 340.372 337.448 314.448 245.218 258.365
Sumber : SEKDA Provinsi Bengkulu, BI Bengkulu; *) data hingga bulan November
1.2. PDRB Sisi Sektoral
Secara sektoral, peningkatan pertumbuhan ekonomi secara tahunan (y-o-y)
terjadi pada sebagian besar sektor ekonomi. Dimana laju pertumbuhan ekonomi
yang tertinggi dibanding sektor lain di triwulan ini terjadi di sektor jasa-jasa,
listrik-gas-air dan pertanian. Sektor-sektor tersebut masing-masing tumbuh sebesar 8,07%,
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Bengkulu (y-o-y) Menurut Sektor
persen
Lapangan Usaha Trw-I
2008
2. Pertambangan dan Penggalian
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Air dan Gas
5. Bangunan
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran
7. Angkutan dan Komunikasi
8. Keuangan dan Persewaan
9. Jasa-jasa
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; angka sementara
Sedangkan struktur perekonomian Provinsi Bengkulu sebagaimana terlihat dari
tabel 1.6 di bawah terlihat masih didominasi oleh sektor pertanian diikuti sektor
perdagangan-hotel-restoran dan sektor jasa-jasa. Kontribusi ketiga sektor ini
terhadap perekonomian Provinsi Bengkulu mencapai 76,31% di triwulan laporan.
Dengan demikian naik turunnya ketiga sektor tersebut akan sangat mempengaruhi
kinerja perekonomian Provinsi Bengkulu secara keseluruhan.
Tabel 1.6. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan dan Lapangan Usaha Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Q2-2008 Q3-2008 Q4-2008 Lapangan Usaha
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 357.590 19,47 369.055 19,80 362.871 19,67
7. Pengangkutan dan Komunikasi 151.268 8,24 155.023 8,32 154.016 8,35
8. Keuangan dan Persewaan 83.694 4,56 84.868 4,55 85.204 4,62
9. Jasa – jasa 314.864 17,14 313.655 16,82 316.126 17,14
PDRB 1.836.154 100,00 1.863.958 100,00 1.844.571 100,00
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
1.2.1. Sektor Pertanian
Sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi di
triwulan ini, yakni sebesar 6,73%, tumbuh cukup tinggi dibanding triwulan
sebelumnya yang tercatat sebesar 4,48%. Pertumbuhan di triwulan ini
kemungkinan didorong oleh adanya musim panen serta harga jual yang
mulai membaik untuk komoditas perkebunan.
Sementara persepsi pelaku usaha hasil SKDU menunjukkan kondisi
yang berbeda, dimana umumnya responden menyatakan bahwa realisasi
usahanya di triwulan ini menunjukkan adanya penurunan. Sebanyak 34%
responden menyatakan bahwa realisasi usaha mereka mengalami
penurunan. Penurunan ini terutama dialami responden dari subsektor
perternakan dan tanaman pangan.
Hal tersebut juga terjadi di sektor perbankan dimana laju pertumbuhan
tahunan kredit pertanian terlihat menurun cukup signifikan. Laju
pertumbuhan menurun dari 18% di triwulan sebelumnya menjadi 5% di
triwulan ini. Hal ini diduga karena adanya kebijakan perbankan daerah untuk
lebih selektif dalam melakukan persetujuan pemberian kredit.
Grafik 1.7. Indikator Sektor Pertanian Provinsi Bengkulu
Kredit Pertanian (Rp Juta)
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
1.2.2. Sektor Listrik, Gas dan Air
Sektor listrik, gas dan air tercatat masih mengalami pertumbuhan
tahunan yang cukup tinggi di triwulan ini dibanding triwulan sebelumnya
yaitu sebesar 6,92%. Namun porsi sektor ini terhadap ekonomi daerah masih
cukup kecil yaitu hanya sebesar 0,46%.
Dilihat dari data konsumsi listrik, terlihat bahwa konsumsi listrik di
triwulan ini mengalami sedikit peningkatan dibanding triwulan sebelumnya.
Begitu juga dengan jumlah pelanggan yang terdaftar di PLN. Pada bulan
November jumlah pelanggan sebanyak 221.010 sedangkan di bulan
September sebesar 219.455 atau meningkat 0,7%. Sementara konsumsi di
periode yang sama meningkat 1,13% dari 26.617 ribu Kwh menjadi 26.920
ribu Kwh. Peningkatan tertinggi terutama terjadi untuk konsumen rumah
tangga dimana terjadi peningkatan konsumsi listrik hingga 7%. Sementara
data kredit yang disalurkan perbankan ke sektor ini di Provinsi Bengkulu
mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya dari Rp324 juta
menjadi Rp302 juta.
Grafik 1.8. Indikator Sektor Listrik, Gas dan Air di Provinsi Bengkulu
Konsumsi Listrik
Jml. Pelanggan (ribu orang, axis kiri) Konsumsi (juta KWh, axis kanan)
Kredit Sektor Listrik, Gas, Air (juta Rp)
250
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
1.2.3. Sektor Jasa - Jasa
Sektor jasa-jasa secara tahunan mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu
sebesar 8,07%, sedikit lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang
mencapai 8,65%. Porsi sektor ini terhadap ekonomi daerah juga cukup besar
yaitu mencapai 17,14%, sehingga sektor ini tetap menjadi pendukung
tumbuhnya ekonomi daerah.
Dilihat dari pembiayaan perbankan, maka terlihat adanya penurunan
kredit di triwulan ini untuk sektor jasa-jasa. Kredit yang disalurkan perbankan
daerah ke sektor ini pada bulan Desember 2008 mencapai Rp331 miliar,
turun sebesar 4% dibanding triwulan sebelumnya. Penurunan terutama
dialami untuk kredit kepada jasa sosial yaitusebesar 4%.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha di triwulan IV tahun 2008 juga
menunjukkan kondisi yang sama dimana terjadi penurunan realisasi usaha.
Hal ini terlihat dari menurunnya hasil saldo bersih tertimbang (SBT) dimana
SBT triwulan ini sebesar -0,40.
Grafik 1.9. Indikator Sektor Jasa-jasa di Provinsi Bengkulu
-Kredit Sektor Jasa (juta Rp) PDRB Sektor Jasa (juta Rp)
Realisasi Sektor Jasa (Hasil SKDU)
(0.40)
Sumber : Bank Indonesia dan BPS Prov. Bengkulu, diolah
1.2.4. Sektor Bangunan
Laju pertumbuhan sektor bangunan secara tahunan mengalami
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
ekonomi daerah sebesar 3,04%. Dengan porsi yang relatif kecil tersebut
belum memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi Bengkulu.
Grafik 1.10. Indikator Sektor Bangunan di Provinsi Bengkulu
Konsumsi Semen (ton)
Sumber : Bank Indonesia dan Asosiasi Semen Indonesia, diolah
Adanya perlambatan di sektor bangunan ini tergambar pula pada
penyaluran kredit konstruksi. Meski kredit perumahan yang disalurkan
perbankan naik namun kredit untuk konstruksi yang dapat menggambarkan
sisi supply terlihat menurun. Di triwulan laporan kredit perbankan yang
disalurkan untuk sektor konstruksi sebesar Rp137.868 juta, sementara di
triwulan sebelumnya sebesar Rp175.406 juta atau menurun 21%.
Namun secara tahunan, data konsumsi semen daerah sepanjang tahun
ini menunjukkan kondisi sebaliknya dimana konsumsi sudah melampaui
jumlah di tahun 2007. Pada periode Januari hingga Desember 2007
konsumsi semen daerah sebanyak 371 ribu ton sementara tahun ini sudah
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
1.3. Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Indikator kesejahteraan petani sebagaimana tergambar melalui indikator nilai
tukar petani (NTP) di triwulan IV sampai dengan bulan November 2008 terlihat terus
menurun. Penurunan NTP ini dapat menggambarkan bahwa secara relatif tingkat
kesejahteraan hidup petani semakin rendah. Dibanding triwulan sebelumnya, terlihat
adanya perubahan NTP 110,04 menjadi 99,06 atau turun 10%. Hal ini dikarenakan
adanya penurunan indeks harga yang diterima petani terkait dengan hasil
produksinya, sementara indeks harga yang dibayar petani semakin meningkat.
Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh masih relatif rendahnya harga
komoditas perkebunan utama seperti karet dan kelapa sawit.
Grafik 1.11. Perubahan Bulanan Nilai Tukar Petani di Provinsi Bengkulu
110.04
99.06 109.06
119.03
113.53
95 105 115 125
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
2008
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; diolah
Sedangkan data jumlah pengangguran di bulan Agustus 2008 terlihat
mengalami peningkatan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Jumlah
angkatan kerja yang tidak bekerja di bulan tersebut meningkat dari 38 ribu orang
menjadi 40 ribu orang. Sehingga tingkat pengangguran terbuka meningkat menjadi
4,90% (grafik 1.12). Hal ini juga disebabkan karena meningkatnya jumlah angkatan
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
diperkirakan dapat meningkat. Hal ini karena timbulnya krisis keuangan global yang
juga akan berpengaruh terhadap kondisi usaha dan tenaga kerja di Bengkulu.
Menurut informasi yang diperoleh indikasi peningkatan pemutusan hubungan kerja
di tahun mendatang akan meningkat dan berujung pada peningkatan jumlah
pengangguran. (lihat Boks 2. Dampak Krisis Global Terhadap Ketenagakerjaan
Bengkulu)
Grafik 1.12. Tingkat Pengangguran di Provinsi Bengkulu
30.00 32.00 34.00 36.00 38.00 40.00 42.00 44.00 46.00 48.00 50.00
Agus-2006 Agus-2007 Agus-2008
3.00% 3.50% 4.00% 4.50% 5.00% 5.50% 6.00% 6.50%
Jumlah pengangguran (ribu org, kiri) % (kanan)
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; diolah
Adapun sektor yang menjadi lapangan kerja utama di daerah ini masih di
sektor pertanian kemudian perdagangan dan jasa kemasyarakatan. Dimana
persentase angkatan kerja yang bekerja di sektor tersebut masing-masing sebesar
60%, 14% dan 13%. Sebagian besar angkatan kerja juga bekerja di kegiatan formal
seperti berusaha sendiri maupun menjadi buruh/karyawan dengan persentase
BOKS 1 DIMASA KRISIS KEUANGAN GLOBAL
Seiring dengan semakin berlarutnya krisis keuangan global yang dipicu oleh
kejatuhan ekonomi Amerika Serikat, tekanan-tekanan terhadap perekonomian
berbagai negara di dunia terus menguat. Tekanan ini tak luput terjadi juga pada
Indonesia, meskipun secara umum Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang
cukup kuat. Lesunya perekonomian dunia mengakibatkan menurunnya
permintaan berbagai komoditas pasar sehingga mengakibatkan harga berbagai
komoditas pun ikut terseret turun. Jatuhnya harga beberapa komoditas yang
menjadi unggulan Indonesia telah mengakibatkan tekanan yang kuat pada
perekonomian daerah, terutama pada daerah yang memiliki basis utama
komoditas alam. Berikut ini tren harga beberapa komoditas dunia.
Sumber : Bloomberg
Sumber : Bloomberg
Komoditas karet, kelapa sawit dan batubara merupakan andalan ekspor
Propinsi Bengkulu. Oleh karena itu, jatuhnya komoditas tersebut dikhawatirkan
1
Merupakan rangkuman hasil Liaison yang dilakukan KBI Bengkulu pada triwulan IV 2008 pada
terhadap industri pengolahan dan perilaku konsumsi masyarakat Bengkulu.
Hasil liaison yang dilakukan oleh Bank Indonesia Bengkulu terhadap pelaku
leasing dan retail menunjukkan adanya penurunan penjualan domestik pada triwulan IV dibandingkan tahun lalu. Omset penjualan pada tahun 2008, terutama
perusahaan pembiayaan, mengalami penurunan. Penurunan ini terkait dengan
turunnya harga komoditas sawit dan karet yang berdampak pada pendapatan
masyarakat sehingga membuat permintaan masyarakat terhadap barang-barang
yang ditawarkan oleh perusahaan pembiayaan juga mengalami penurunan.
Sementara hasil liaison yang dilakukan pada industri pengolahan karet
menunjukkan penjualan industri pengolahan yang menghasilkan produk berupa
karet SIR-20 secara kumulatif masih menunjukkan keadaan yang lebih baik
dibandingkan dengan tahun 2007. Hal ini terjadi akibat pencapaian penjualan
kumulatif selama Januari – September 2008 yang rata-rata mencapai 2.000
ton/bulan, sementara tahun 2007 lalu hanya tercatat 1.600 ton/bulan. Namun,
dalam bulan Oktober-November rata-rata penjualan turun menjadi hanya 1.400
ton/bulan. Itupun terbantu dengan adanya sistem kontrak penjualan short term
(1-6 bulan) atau long term (1 tahun). Turunnya penjualan ekspor ini merupakan
dampak dari krisis ekonomi global dan terjadinya kesulitan dalam memperoleh
bahan baku di Bengkulu. Mengenai kesulitan bahan baku, sebenarnya masalah ini
terkait dengan rendahnya harga karet sehingga petani enggan untuk mengambil
getah karet.
Kapasitas usaha baik pada industri pengolahan maupun usaha retail dan
leasing mengalami penurunan. Rendahnya kapasitas usaha ini menyebabkan
terjadinya penutupan dua unit showroom perusahaan leasing Bengkulu. Pada
industri pengolahan, utilisasi pabrik pengolahan hanya berkisar antara 55%
dimana kapasitas produksi yang biasanya beroperasi pada kisaran 2.000 – 2.500
ton/bulan kini hanya dapat berproduksi 1.100 ton/bulan. Hal ini disebabkan
rendahnya produksi karena perusahaan kesulitan bahan baku dari petani.
Sebagai antisipasi rendahnya permintaan, tingkat persediaan pada industri
pengolahan karet menjadi tergolong rendah. Disamping itu, kelangkaan bahan
baku juga mempengaruhi tingkat persediaan. Hal yang serupa juga terjadi pada
industri leasing, namun di sisi lain ditemukan pelaku industri leasing yang secara
individual melaporkan adanya kenaikan jumlah persediaan dikarenakan banyaknya
kendaraan yang ditarik oleh perusahaan akibat pembayarannya yang tergolong
liaison melaporkan adanya kenaikan biaya dibandingkan dengan kondisi tahun lalu yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM dan listrik pada tahun 2008. Namun,
untuk perusahaan yang menggunakan BBM industri, pada triwulan IV 2008 biaya
BBM cenderung turun seiring dengan turunnya harga minyak dunia. Peningkatan
biaya tenaga kerja juga terjadi tahun 2008 sebagai konsekuensi dari peningkatan
upah minimum maupun adanya beberapa penambahan jumlah tenaga kerja.
Harga jual pada perusahaan leasing pada tahun 2008 rata-rata mengalami
kenaikan. Oleh karena itu, meskipun kondisi kurang menggembirakan namun
margin usaha 2008 pada perusahaan leasing, secara rata-rata tidak mengalami
perubahan. Untuk tahun depan diprediksikan harga jual masih akan mengalami
kenaikan, akibat kondisi ekonomi yang belum menentu. Sedangkan pada industri
pengolahan karet, harga jual karet olahan pada awal tahun 2008 sampai dengan
triwulan III mengalami kenaikan sebesar 35% yaitu U$D 2,7/kg. Namun, pada
triwulan IV, harga mengalami penurunan yang cukup signifikan sekitar 45 % yaitu
U$D 1,5/kg yang mengakibatkan margin usaha industri pengolahan karet pada
triwulan terakhir 2008 ini cenderung menurun dibandingkan dengan kondisi
normal. Untuk tahun 2009, diperkirakan harga akan cenderung tetap, bila melihat
kondisi ekonomi saat ini.
Seluruh contact liaison yang bergerak pada usaha pembiayaan memberikan
kesan pesimisme untuk permintaan atau penjualan tahun depan. Ketidakpastian
kondisi ekonomi tahun depan akibat krisis global diperkirakan akan menekan
permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa yang ditawarkan. Industri
pengolahan karet pun memperkirakan penjualan tahun depan cenderung akan
mengalami penurunan karena pada 2009 kontrak-kontrak penjualan baru penuh
dengan ketidakpastian. Apabila kondisi ekonomi dunia pada tahun depan masih
belum membaik, maka hal tersebut dapat menekan jumlah permintaan ekspor
secara nyata dan puluhan karyawan terancam akan dirumahkan.
Berbagai kondisi yang kurang menggembirakan ini ditanggapi oleh para
BOKS 2
DAMPAK KRISIS GLOBAL
TERHADAP KETENAGAKERJAAN BENGKULU
Propinsi Bengkulu mulai merasakan dampak nyata dari krisis keuangan
global yang melanda dunia. Propinsi Bengkulu yang mengandalkan komoditas
pertanian dan pertambangan sebagai komoditas ekspornya, cukup terpukul
dengan anjloknya harga komoditas pertanian dan pertambangan dunia akibat
lemahnya permintaan pasar.
Hasil dari beberapa survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap
dunia usaha menunjukkan penurunan kinerja perusahaan akibat rendahnya
permintaan komoditas tersebut. Penurunan ini berimbas pada sektor
ketenagakerjaan di Bengkulu. Hingga akhir tahun 2008 setidaknya terdapat tiga
perusahaan yang terpaksa menutup usahanya, ketiga perusahaan ini bergerak di
industri pengolahan karet dan perdagangan pertanian. Berdasarkan survei,
perusahaan tertentu juga mulai mengindikasikan kemungkinan pengambilan
keputusan untuk merumahkan karyawannya bila kondisi ekonomi dunia pada
tahun 2009 masih juga belum membaik.
Informasi dari Dinas Ketenagakerjaan Propinsi Bengkulu memperkuat
perkiraan adanya dampak nyata krisis keuangan global terhadap ketenagakerjaan
di Propinsi Bengkulu. Sepanjang tahun 2008, jumlah kasus PHK mengalami
peningkatan yaitu terjadi 79 kasus PHK dimana 9 kasus terjadi hanya di bulan
Desember 2008. Sementara itu pada tahun 2007 hanya terjadi 25 kasus PHK.
Kasus PHK ini sebagian besar melibatkan perusahaan-perusahaan yang bergerak di
bidang perkebunan dan pertambangan. Selain itu, terdapat indikasi adanya
sejumlah karyawan yang akan dirumahkan oleh perusahaan yang bergerak di
bidang pertambangan pada awal tahun 2009.
Dengan demikian, dampak krisis ekonomi global semakin nyata merambah
ke tingkat masyarakat. Oleh karena itu diperlukan segera langkah strategis dari
Inflasi Daerah
BAB
2
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
2.1. Perkembangan Inflasi
Perkembangan inflasi Kota Bengkulu1
pada triwulan IV tahun 2008
dipengaruhi oleh adanya keputusan pemerintah untuk menurunkan harga BBM.
Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga BBM sebanyak 2 kali di bulan
Desember yaitu dari Rp6.000/liter menjadi Rp5.500/liter dan kemudian diturunkan
kembali menjadi Rp5.000/liter. Pengaruh penurunan tersebut menyebabkan
terjadinya deflasi di bulan Desember sebesar 0,09% yang terutama terjadi di
kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan. Kondisi ini menyebabkan inflasi
tahunan menurun dibanding triwulan sebelumnya, yakni dari 14,51% menjadi
13,44%.
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi IHK Kota Bengkulu
14.51%
13.81%
7.84%
13.44%
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30%
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2003 2004 2005 2006 2007 2008
Bengkulu (y-o-y)
Nasional (y-o-y)
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
1
Inflasi Daerah
2.2. Faktor Pendorong Inflasi
Laju inflasi di triwulan ini dapat diredam oleh keputusan pemerintah untuk
menurunkan harga BBM sebanyak dua kali di bulan Desember. Faktor-faktor
tersebut mendorong Kota Bengkulu mengalami deflasi pada bulan tersebut yaitu
sebesar 0,09%.
Sedangkan, sebagai pendorong inflasi di triwulan ini adalah adanya inflasi
dari kelompok bahan makanan. Hal ini terutama disebabkan adanya seasonal factor
yaitu untuk komoditas cabe merah serta pengaruh cuaca yang kurang baik di bulan
Desember dan menyebabkan kenaikan harga untuk komoditas ikan segar.
2.3. Inflasi Menurut Kelompok Barang/Jasa
Pada tabel 2.1 di bawah terlihat seluruh kelompok barang/jasa mengalami
inflasi. Kelompok bahan makanan dan kelompok makanan
jadi-minuman-rokok-tembakau terlihat mengalami inflasi tertinggi dibanding kelompok lainnya.
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Menurut Kelompok Barang/Jasa Kota Bengkulu (Tahunan, y-o-y)
persen
Trw III-2008 Trw IV-2008 Kelompok Barang/Jasa
IHK Inflasi IHK Inflasi
Bahan makanan
Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga
Pengangkutan, Komunikasi dan Jasa Keuangan
124,95
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
Kelompok bahan makanan mengalami inflasi tahunan (y-o-y) sebesar
19,19%. Inflasi atas kelompok ini terutama terjadi untuk subkelompok
Inflasi Daerah
masing-masing mengalami inflasi sebesar 48,18%, 47,12% dan 39,41%. Sementara
inflasi tahunan (y-o-y) yang terjadi di kelompok makanan
jadi-minuman-rokok-tembakau sebesar 17,54% didorong oleh subkelompok makanan jadi yang
mengalami inflasi sebesar 25,70%.
Tabel 2.2. Sumbangan Beberapa Komoditas terhadap Inflasi Bengkulu
persen
No. Komoditas Inflasi Sumb. Komoditas Deflasi Sumb.
1. Cabe Merah 23,61 0,39 Bensin -12,90 -0,55
2. Kentang 21,59 0,07 Daging Ayam Ras -9,36 -0,18
3. Bayam 22,70 0,06 Telur Ayam Ras -8,72 -0,10
4. Emas Perhiasan 4,02 0,06 Tomat Buah -15,43 -0,05
5. Beras 0,96 0,05 Daging Sapi -6,23 -0,05
6. Ikan Dencis 13,76 0,05 Minyak Goreng -2,39 -0,04
7. Jeruk 15,54 0,05 Udang Basah -4,48 -0,02
8. Ikan Tongkol 7,28 0,05 Seng -4,48 -0,02
9. Kangkung 11,11 0,03 Angkutan Udara -2,11 -0,01
10. Ikan Mas 8,06 0,03 Batu Bata -1,58 -0,01
Total sumbangan 0,84 Total sumbangan (1,03) Komoditas lain (0,93) Komoditas lain 0,94
Inflasi Umum (0,09) Inflasi Umum (0,09)
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; diolah
Dilihat sumbangan inflasi pada akhir bulan Desember menurut komoditas
sebagaimana terlihat di tabel 2.2 di atas, terlihat 10 komoditas penyumbang inflasi
terbesar seperti cabe merah, kentang dan bayam. Beberapa komoditas lain yang
juga mengalami kenaikan harga diantaranya cabe rawit, tempoyak, bumbu
penyedap rasa, susu bubuk, susu bayi, susu balita, beberapa jenis kerupuk dan
komoditas ikan segar seperti mujair, kakap merah, selar dan bawal. Meningkatnya
inflasi untuk beberapa komoditas ikan segar tersebut karena kondisi cuaca yang
kurang baik di akhir triwulan ini berupa hujan dan gelombang tinggi di perairan
Bengkulu sehingga menghalangi nelayan untuk melaut. Naiknya harga ikan laut
Inflasi Daerah
Sedangkan dilihat dari hasil pantauan harga komoditas beras, minyak
goreng, tepung terigu dan kacang kedelai yang dilakukan secara mingguan oleh
Bulog Divisi Regional Bengkulu terlihat adanya trend kenaikan harga beras dan
minyak goreng di triwulan ini. Harga beras meningkat dari sekitar Rp5.500/kg di
triwulan III menjadi di kisaran harga Rp5.600/kg di triwulan ini. Sedangkan minyak
goreng yang sempat turun menjadi Rp6.500/kg kembali naik di harga Rp7.000/kg.
Grafik 2.2. Hasil Pantauan Harga Beberapa Komoditas di Kota Bengkulu
5,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
6,000
Sumber : Bulog Divre Bengkulu
Sementara dilihat dari sumbangan inflasi per kelompok secara bulanan
(m-t-m), sumbangan terbesar berasal dari kelompok transpor-komunikasi-jasa
keuangan dan kelompok bahan makanan. Kelompok transpor menyumbang deflasi
yang cukup besar di bulan Desember yaitu 0,55% dengan tingkat deflasi bulanan
2,82%. Sebaliknya kelompok bahan makanan menyumbang inflasi cukup besar di
bulan ini sebesar 0.42% dengan tingkat inflasi bulanan mencapai 1,64%.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya faktor penyesuaian harga BBM oleh
pemerintah sebanyak dua kali di bulan tersebut menyebabkan deflasi yang cukup
signifikan di bulan Desember. Pada subkelompok tersebut deflasi disumbangkan
Inflasi Daerah
Adapun kelompok lainnya yang juga mengalami deflasi cukup besar adalah
kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Kelompok ini menyumbang
deflasi sebesar 0,05%. Deflasi di kelompok ini disumbangkan oleh subkelompok
biaya tempat tinggal yang didorong oleh menurunnya harga bahan bangunan
seperti batu bata, semen, seng, besi beton, paku dan kayu lapis.
Grafik 2.3. Sumbangan Inflasi Per Kelompok Barang/Jasa
persen
Perumahan, Air, Listrik, Gas, Bahan
Bakar 5% Sandang
5% Kesehatan
0%
Pendidikan, Rekreasi, Olahraga
0%
Transpor, Komunikasi, Jasa
Keuangan 49%
Makanan Jadi, Minuman, Rokok,
Tembakau 3%
Bahan Makanan 38%
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
2.4. Inflasi Periode Januari – Desember 2008
Terjadinya deflasi di Bengkulu diakhir triwulan ini mendorong turunnya
pencapaian inflasi selama tahun 2008. Inflasi Bengkulu secara tahunan di triwulan ini
adalah sebesar 13,44% menurun dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar
14,51%. Pencapaian inflasi ini masih lebih rendah dibanding proyeksi Bank Indonesia
Bengkulu sebelumnya yang memperkirakan pencapaian inflasi sebesar 15%. Namun
Inflasi Daerah
Grafik 2.4. Realisasi Inflasi Tahun 2008
14.51%
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
2008
Bengkulu y-o-y Bengkulu y-t-d
Nasional y-o-y Nasional y-t-d
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; diolah
Pencapaian inflasi tahun 2008 ini merupakan inflasi tertinggi dalam tiga
tahun terakhir. Pada tahun 2007 inflasi Bengkulu cukup rendah yaitu sebesar 5%,
sedangkan inflasi di tahun 2006 sebesar 6,52%.
Tabel 2.3. Perbandingan Inflasi Bengkulu Tahun 2006-2008
persen
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; diolah
2.5. Perbandingan Inflasi Antar Kota di Sumatera
Inflasi di Bengkulu dibanding beberapa kota besar lainnya di Pulau Sumatera
di bulan Desember ini relatif cukup rendah. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di kota
Banda Aceh dengan inflasi sebesar 1,06% dan terendah di kota Batam yang
mengalami deflasi 0,14%. Dari 11 kota besar tersebut (grafik 2.4.), 6 kota
Inflasi Daerah
Grafik 2.5. Inflasi Beberapa Kota di Sumatera
-0.20% 0.00% 0.20% 0.40% 0.60% 0.80% 1.00% 1.20%
Banda Aceh
Pangk
al Pi
nang
Meda
n
Pada
ng
Pale
mba
ng
Bandar Lam
pung
Pekanba
ru
Bengku lu
Jam bi
Tanj
ung
Pinang Batam
Perbankan Daerah
BAB
3
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
3.1. Gambaran Umum
Kondisi bank umum di Provinsi Bengkulu pada triwulan IV tahun 2008
menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan. Hal ini terlihat
dari beberapa indikator perbankan yang mengalami penurunan kinerja
dibanding triwulan sebelumnya seperti total aset bank umum dan total Dana
Pihak Ketiga (DPK). Namun demikian Non-performing Loan (NPL) dan Loan to
Deposit Ratio (LDR), masih mengalami perbaikan dan kredit masih tumbuh walau jauh lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Grafik 3.1. Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Non Performing Loan (NPL) Perbankan Provinsi Bengkulu
S
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum – Bank Indonesia Bengkulu
Penyaluran kredit mengalami perlambatan dengan hanya tumbuh sebesar
3,48%, sementara pada triwulan III yang mencapai 10,4%. Hal ini disebabkan
oleh tingginya suku bunga pinjaman perbankan tiga bulan terakhir. Selain itu,
Perbankan Daerah
pihak perbankan juga masih bersikap sangat hati-hati dalam memberikan
kredit, sebagai imbas dari keringnya likuiditas dan krisis global.
Sementara itu, penghimpunan DPK mengalami penurunan 4,82%
dibanding triwulan sebelumnya. Kondisi ini ditambah dengan masih
tumbuhnya kredit perbankan menyebabkan terjadinya kenaikan LDR menjadi
sebesar 102.53% dari sebelumnya 94,30%. Peningkatan LDR ini juga disertai
dengan membaiknya kualitas kredit yang ditandai dengan terjadinya
penurunan NPL dari 1,72% menjadi 1,52%.
Grafik 3.2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit Bank
Umum Provinsi Bengkulu
juta rupiah
S
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum – Bank Indonesia Bengkulu
Dilihat dari sisi penggunaan kredit, kredit yang dikucurkan perbankan
55,49% masih dalam bentuk kredit konsumsi. Sedangkan, sektor yang memiliki
porsi terbesar dalam penyaluran kredit perbankan di Propinsi Bengkulu adalah
sektor lain-lain, yaitu sebesar 55,90% dari total kredit.
Kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di wilayah Provinsi Bengkulu
menunjukkan kondisi yang tidak berbeda dengan bank umum. Penurunan DPK
dan penyaluran kredit BPR menurunkan tingkat LDR menjadi 141,02% dari
sebelumnya 145,67%. 400,000
900,000 1,400,000 1,900,000 2,400,000 2,900,000 3,400,000 3,900,000 4,400,000 4,900,000
Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4
2006 2007 2008
Perbankan Daerah
3.2. Perkembangan Bank Umum
a. Kelembagaan
Secara kelembagaan, pada triwulan laporan terdapat penambahan
jaringan kantor perbankan di Provinsi Bengkulu yaitu 2 Kantor Cabang
Pembantu, 1 kantor Kas, 1 Payment Point, dan 11 ATM. Jumlah bank
umum yang beroperasi di wilayah kerja Bank Indonesia Bengkulu sebanyak
14 bank yang terdiri dari 1 Bank Pembangunan Daerah (BPD), 4 Bank
Pemerintah dan 9 Bank Swasta dengan 2 diantaranya merupakan bank
syariah. Jaringan kantor pelayanan bank di Provinsi Bengkulu tertera pada
tabel 3.1 dibawah.
Tabel 3.1. Jaringan Kantor Pelayanan Bank Provinsi Bengkulu
KP KC KCP KK Unit PP ATM
Kota Bengkulu 1 14 11 11 10 3 47
Bengkulu Selatan - 2 4 1 7 1 3
Bengkulu Utara - 2 7 3 8 1 3
Rejang Lebong - 2 8 4 5 1 10
Lebong - - 2 1 2 - 1
Kepahiang - - 2 1 2 - 3
Kaur - - 1 1 4 - 1
Seluma - - 2 2 3 - 2
Muko-Muko - 1 5 2 4 - 2
Jumlah 1 21 42 26 45 6 72
Sumber : Bank Indonesia Bengkulu; Data hingga Desember 2008
b. Perkembangan Aset
Aset perbankan di Provinsi Bengkulu pada triwulan laporan
mengalami penurunan sebesar 2,43% atau sebesar Rp 144.677 juta, dari
Rp 5.965.144 juta menjadi Rp 5.820.467 juta. Penurunan aset perbankan
tersebut terutama didorong oleh penurunan aset salah satu bank
pemerintah hingga mencapai 16,24% dan diikuti oleh penurunan tipis aset
bank swasta sebesar 2,07%. Namun, bank pemerintah lainnya masih dapat
menunjukkan peningkatan asset sebesar 10,78% atau Rp 260.832 juta.
Jumlah aset perbankan di propinsi Bengkulu sebagian besar masih dikuasai
oleh bank-bank pemerintah dengan porsi mencapai 79.77% dari total aset
Perbankan Daerah
Tabel 3.2. Perkembangan Aset Perbankan Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali disebutkan lain
2007 2008
Pemerintah 3.628.798 4.015.556 4.223.522 4.762.512 4.642.736 79,84% -2,51%
Bank Swasta 928.467 776.477 1.095.404 1.202.632 1.177.731 20,16% -2,07%
Bank Umum
(Total) 4.557.265 4.792.033 5.318.926 5.965.144 5.820.467 100% -2.43%
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum – Bank Indonesia Bengkulu
Grafik 3.3. Distribusi Aktiva Bank Umum di Provinsi Bengkulu
Bengkulu Le bong, Kep ahiang
dan Lebo ng 10% Kodya Bengkulu
69 %
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum – Bank Indonesia Bengkulu
Dari grafik 3.3. terlihat bahwa wilayah penyebaran aktiva bank umum
masih terpusat di wilayah Kota Bengkulu yang pada triwulan ini memiliki
porsi sebesar (69%), diikuti Kabupaten Bengkulu Selatan, Seluma dan Kaur
(12%), Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang dan Lebong (10%), dan
Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko-Muko (9%).
Sementara dari kualitas aset terutama kredit yang diberikan,
mengalami perbaikan di triwulan ini. Pangsa kredit bermasalah (Non
Performing Loan/NPL) mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya dari 1,72% menjadi 1,52% dari total kredit atau sebesar
Rp6.084 juta. Besaran NPL di atas tergolong cukup baik, karena risiko tidak
tertagihnya kredit yang disalurkan oleh perbankan semakin menurun dan
telah memenuhi ketentuan Bank Indonesia yang mensyaratkan besaran NPL
Perbankan Daerah
c. Perkembangan Dana Masyarakat
Dana pihak ketiga (DPK) yang berada di perbankan Provinsi Bengkulu
pada triwulan laporan mengalami penurunan sebesar 4,82% menjadi
Rp4.143.308 juta. Giro memberi sumbangan terbesar pada penurunan
tersebut dengan penurunan yang cukup tinggi yaitu 37,09%. Sedangkan
deposito dan tabungan tetap mengalami peningkatan masing-masing
sebesar 8,60% dan 17,34%. Dilihat dari data historis, pada setiap triwulan
IV jumlah giro di bank selalu mengalami penurunan. Penurunan jumlah giro
ini ditengarai karena banyaknya realisasi proyek pemerintah diakhir tahun
yang membutuhkan penarikan dana.
DPK perbankan di Provinsi Bengkulu masih terkonsentrasi di
bank-bank pemerintah yaitu mencapai 81,13%. Sedangkan bila dilihat dari
komposisi DPK, tabungan dan giro masing-masing memiliki porsi sebesar
58,03% dan 25,37%, sehingga keduanya memiliki porsi 83,40% dari total
DPK. Sisanya, yaitu sebesar 16,60% berupa deposito.
Tabel 3.3. Perkembangan Penghimpunan Dana Bank Umum
Provinsi Bengkulu
juta rupiah
2007 2008 Pert.
Keterangan
Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 q-t-q
Bank Umum
(Total) 3.491.443 3.721.883 4.007.111 4.353.340 4.143.308 -4,82%
Giro 1.006.404 1.422.055 1.417.687 1.671.002 1.051.260 -37,09%
Tabungan 1.963.901 1.753.320 2.004.808 2.049.485 2.404.310 17,31%
Deposito 521.138 546.508 584.616 633.253 687.738 8,6%
Bank
Pemerintah 2.827.739 3.031.210 3.309.676 3.597.583 3.361.500 -6.56%
Giro 913.302 1.298.936 1.314.825 1.566.739 969.407 -38,13%
Tabungan 1.526.630 1.339.380 1.580.491 1.589.430 1.930.745 21,47%
Deposito 387.807 392.894 414.36 441.414 461.348 4,52%
Bank Swasta 663.704 690.673 697.435 755.757 781.808 3,45%
Giro 93.102 123.119 102.682 104.263 81.853 21,49%
Tabungan 437.271 413.94 424.317 459.655 473.565 3,03%
Deposito 133.331 153.614 170.256 191.839 226.390 18,01%
Perbankan Daerah
Terkait dengan struktur kepemilikan dana, dana perorangan masih
mendominasi DPK perbankan. Porsi kepemilikannya mencapai 67,77% dari
keseluruhan DPK, diikuti dana milik Pemerintah baik Pusat maupun Daerah
yang mencapai 18,73%. Sisanya dimiliki oleh BUMN, BUMD, Perusahaan
Swasta, dan pemilik lainnya.
Berdasarkan komposisi DPK terlihat bahwa sebagian besar dana yang
tersimpan di perbankan merupakan dana-dana jangka pendek. Dana
jangka pendek tergolong murah, namun mengandung potensi risiko
likuiditas sehingga perbankan perlu memiliki pengelolaan likuiditas yang
baik agar dapat menjamin kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban
yang jatuh tempo.
Melihat kedua fakta struktur dan komposisi DPK di atas, maka
perbankan cenderung menyalurkan kreditnya dalam kredit berjangka waktu
pendek seperti kredit konsumsi maupun kredit modal kerja dibandingkan
kredit investasi yang berjangka waktu panjang.
d. Perkembangan Penyaluran Kredit
Penyaluran kredit pada triwulan IV meningkat sebesar 3,48% atau
sebesar Rp 143.049 juta dibanding triwulan sebelumnya. Kredit konsumsi
masih mendominasi penyaluran kredit perbankan dengan porsi mencapai
55,9% dari keseluruhan kredit. Kredit jenis konsumsi tumbuh paling pesat
di triwulan ini yaitu mencapai 6,14% diikuti kredit modal kerja yang
tumbuh 0.71%. Sementara, kredit investasi mengalami penurunan sebesar
0,98%. Namun secara umum, perkembangan kredit di triwulan IV tidak
sebaik triwulan sebelumnya yang mencapai 5,41%.
Secara sektoral, kredit sektor pertanian tercatat mengalami
pertumbuhan paling tinggi di triwulan laporan, yaitu 8,96% diikuti dengan
kredit sektor lainnya dan sektor perdagangan, masing-masing sebesar
6,10% dan 5,89%. Setelah sektor lain-lain (konsumsi), penyaluran kredit
Perbankan Daerah
Tabel 3.4. Perkembangan Kredit Perbankan Berdasarkan Jenis
Penggunaan, Sektor Ekonomi dan Kelompok Bank di Provinsi Bengkulu
juta rupiah (kecuali persentase pertumbuhan)
2007 2008 Pertumbuhan
Keterangan
Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Rp. %
Jenis
Penggunaan 2.972.779 3.176.154 3.713.536 4.104.992 4.248.041 143.049 3,48% Modal Kerja 1.041.788 1.126.643 1.358.269 1.484.838 1.495.381 10.543 0,71%
Investasi 337.023 303.483 348.787 399.329 395.396 -3.933 -0,98% Konsumsi 1.593.968 1.746.028 2.006.480 2.220.825 2.357.264 136.439 6,14%
Sektor Ekonomi 2.972.779 3.176.154 3.713.536 4.104.992 4.248.041 143.049 3,48%
Pertanian 226.141 187.791 212.29 218.511 238.083 19.572 8,96%
Pertambangan 9.166 11.114 11.501 36.128 33.077 -3.051 -8,44% Perindustrian 95.43 97.481 141.28 168.708 158.019 -10.689 -6,34% Listrik, Air, Gas 330 308 300 324 302 -22 -6,79%
Konstruksi 103.064 116.491 150.782 175.406 137.868 -37.538 -21,4% Perdagangan 646.992 689.565 809.643 895.887 948.61 52.723 5,89%
Pengangkutan 26.395 27.211 29.715 29.175 27.207 -1.968 -6,75% Jasa dunia usaha 139.706 105.356 145.434 173.048 167.613 -5.435 -3,14% Jasa sosial 120.136 182.204 182.983 169.740 162.764 -236.565 -4,11%
Lain-lain 1.605.419 1.758.633 2.028.978 2.238.065 2.374.498 153.673 6,10%
Kelompok Bank 2.972.779 3.176.154 3.713.536 4.104.992 4.248.041 143.049 3,48%
Bank Pemerintah 2.325.103 2.483.464 2.911.709 3.246.951 3.383.124 136.173 4,19% Bank Swasta 647.676 692.69 801.827 858.041 864.917 6.876 0,80%
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum – Bank Indonesia Bengkulu
Meskipun total kredit pada triwulan laporan mengalami pertumbuhan
tipis, Kredit Usaha Kecil (KUK) mengalami hal yang sebaliknya yaitu terjadi
penurunan sebasar 4,54% atau dari Rp989.301 juta menjadi Rp944.392
juta. Kondisi ini mendorong penurunan proporsi KUK terhadap kredit yang
sedianya 24,10% pada triwulan lalu menjadi 22.23%.
Tabel 3.5. Perkembangan Kredit Usaha Kecil di Bengkulu
juta rupiah (kecuali persentase pertumbuhan)
2007 2008 Pertumbuhan
Keterangan
Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Rp. %
KUK 719.289 780.559 880.29 989.301 944392 -44.909 -0.0454
Total Kredit 2.972.779 3.176.154 3.713.536 4.104.992 4.248.041 143.049 3,48%
Proporsi (%) 24,20% 24,58% 23,71% 24,10% 22,23% -0,019%