P
ERKEMBANGAN
P
EREKONOMIAN
D
AERAH
P
ROVINSI
B
ENGKULU
PROVINSI BENGKULU
Penerbit :
Bank Indonesia Bengkulu Tim Ekonomi Moneter –
Kelompok Kajian, Statistik dan Survei Jl. A. Yani No.1
BENGKULU
i|á| UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t
Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil.
`|á| UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t
Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang negara Indonesia yang berkesinambungan.
a|Ät| fàÜtàxz|á bÜztÇ|átá| UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t
Nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi, manajemen dan pegawai untuk bertindak atau berperilaku yaitu Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas dan Kebersamaan.
i|á| ^tÇàÉÜ UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t UxÇz~âÄâ
Mewujudkan Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya melalui peningkatan perannya sebagai economic intelligence dan unit penelitian.
`|á| ^tÇàÉÜ UtÇ~ \ÇwÉÇxá|t UxÇz~âÄâ
KATA PENGANTAR
Penerbitan Perkembangan Perekonomian Daerah ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi mengenai keadaan ekonomi, moneter dan perbankan bagi pihak-pihak yang berkepentingan khususnya Pemerintah Daerah maupun instansi lainnya guna merumuskan suatu kebijakan. Perkembangan Perekonomian Daerah merupakan pengembangan dari Kajian Ekonomi Regional (KER) yang diterbitkan secara triwulanan dan tahunan.
Dalam kajian ini dibahas mengenai perkembangan perekonomian regional Provinsi Bengkulu, yang meliputi perkembangan kegiatan sektor riil dan perkembangan kegiatan sektor moneter perbankan, khususnya selama Triwulan II tahun 2009 dan membandingkannya dengan periode/kondisi laporan sebelumnya.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam kajian yang kami susun ini, oleh karena itu kritik serta saran dari pengguna/pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan terbitan berikutnya.
Akhirnya kami berharap, semoga terbitan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Bengkulu, Agustus 2009 BANK INDONESIA BENGKULU
Achmad Bunyamin
Deputi Pemimpin
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GRAFIK ... vii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH PROVINSI BENGKULU ... 4
BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL ... 7
1.1. PDRB SISI PENGGUNAAN ... 8
1.1.1. Konsumsi Daerah ... 8
1.1.2. Investasi Regional ... 13
1.1.3. Ekspor dan Impor Regional ... 14
1.2. PDRB SISI SEKTORAL ... 18
1.2.1. Sektor Pertanian ... 20
1.2.2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran ... 21
1.2.3. Sektor Jasa-Jasa ... 22
1.2.3. Sektor Bangunan ... 23
1.2.5. Sektor Listrik, Gas, dan Air ... 24
1.3. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ... 25
2.1. PERKEMBANGAN INFLASI... 27
2.2. FAKTOR PENDORONG INFLASI... 27
2.3. INFLASI MENURUT KELOMPOK BARANG/JASA ... 28
2.4. INFLASI PERIODE JANUARI – Juni 2009 ... 31
2.5. PERBANDINGAN INFLASI ANTAR KOTA DI SUMATERA ... 32
BAB III PERBANKAN ... 34
3.1. GAMBARAN UMUM ... 34
3.2. PERKEMBANGAN BANK UMUM ... 36
3.3. PERKEMBANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT ... 43
BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH ... 45
4.1. GAMBARAN SISI PENERIMAAN ... 45
4.2. GAMBARAN SISI PENGELUARAN ... 47
BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 49
5.1. ALIRAN UANG KARTAL (OUTFLOW-INFLOW) ... 49
5.2. PENYEDIAAN UANG KARTAL LAYAK EDAR ... 50
5.3. PENEMUAN UANG PALSU ... 51
5.4. PERKEMBANGAN KLIRING LOKAL ... 52
5.5. PERKEMBANGAN REAL TIME GROSS SETTLEMENT (RTGS) ... 53
BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH ... 55
6.1. PERKIRAAN EKONOMI... 55
6.2. PERKIRAAN INFLASI DAERAH ... 57
LAMPIRAN DATA PEREKONOMIAN DAN PERBANKAN ... 60
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. PDRB Berdasarkan Jenis Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku dan
Konstan ... 9
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor dan Impor Regional dalam pembentukan PDRB menurut Harga Berlaku Provinsi Bengkulu ... 15
Tabel 1.3. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut Jenis Barang di Provinsi Bengkulu ... 16
Tabel 1.4. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut Negara Pembeli di Provinsi Bengkulu ... 18
Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Bengkulu (q-t-q) Menurut Sektor ... 19
Tabel 1.6. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan dan Lapangan Usaha Provinsi Bengkulu... 19
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Menurut Kelompok Barang/jasa Kota Bengkulu (Tahunan, y-o-y) ... 28
Tabel 2.2. Sumbangan Beberapa Komoditas terhadap Inflasi Bengkulu ... 30
Tabel 3.1. Jaringan Kantor Pelayanan Bank Provinsi Bengkulu ... 36
Tabel 3.2. Perkembangan Aset Perbankan Provinsi Bengkulu ... 37
Tabel 3.3. Perkembangan Penghimpunan Dana Bank Umum Provinsi Bengkulu ... 39
Tabel 3.4. Perkembangan Kredit Perbankan Berdasarkan Jenis Penggunaan, Sektor Ekonomi dan Kelompok Bank di Provinsi Bengkulu ... 40
Tabel 3.5. Perkembangan Kredit Usaha Kecil di Provinsi Bengkulu ... 41
Tabel 3.6. Perkembangan Kredit UMKM Berdasarkan Jenis Penggunaan, Sektor Ekonomi di Provinsi Bengkulu ... 42
Tabel 3.7. Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Kredit UMKM di Provinsi Bengkulu ... 43
Tabel 3.8. Perkembangan Kegiatan Usaha BPR di Provinsi Bengkulu ... 44
Tabel 4.1. Sisi Penerimaan APBD Tahun 2009 Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu ... 45
Tabel 4.2. Sisi Pengeluaran APBD Tahun 2009 Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu ... 47
Tabel 5.2. Perkembangan Kliring dan Cek/Bilyet Giro Kosong Provinsi
Bengkulu ... 53
Tabel 5.3. Perkembangan Transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS)
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1. Perkembangan PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB (LPE, y-o-y)
Provinsi Bengkulu (harga konstan 2000) ... 7
Grafik 1.2. Konsumsi Rumah Tangga Menurut PDRB Harga Konstan dan Perkembangan Inflasi di Provinsi Bengkulu ... 9
Grafik 1.3. Konsumsi Listrik dan Perkembangan Kendaraan di Provinsi Bengkulu ... 10
Grafik 1.4. Dana Perorangan dan Kredit Konsumsi Perbankan di Provinsi Bengkulu ... 11
Grafik 1.5. Beberapa Hasil Survei di Provinsi bengkulu ... 12
Grafik 1.6. Konsumsi Pemerintah dan Lembaga Nirlaba Menurut PDRB Harga Konstan di Provinsi Bengkulu ... 13
Grafik 1.7. Perkembangan Dana Pemerintah di Bank Umum dan Belanja Pegawai Pemerintah Daerah di Provinsi Bengkulu ... 13
Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Investasi dan Konsumsi Semen di Provinsi Bengkulu ... 14
Grafik 1.9. Pertumbuhan Tahunan Ekspor Mancanegara Provinsi Bengkulu ... 17
Grafik 1.10. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Ekspor Bengkulu ... 17
Grafik 1.11. Indikator Sektor Pertanian Provinsi Bengkulu ... 20
Grafik 1.12. Arus Barang Pelabuhan Pulau Baai Berdasarkan Jenis Komoditas ... 22
Grafik 1.13. Indikator Sektor Jasa-Jasa di Provinsi Bengkulu ... 23
Grafik 1.14. Indikator Sektor Bangunan di Provinsi Bengkulu ... 24
Grafik 1.15. Indikator Sektor Listrik, Gas dan Air di Provinsi Bengkulu ... 25
Grafik 1.16. Perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani di Provinsi Bengkulu... 26
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi IHK Kota Bengkulu ... 27
Grafik 2.2. Indeks Harga Konsumen Kelompok Perumahan/Air/Listrik/Gas/Bahan Bakar (kiri) dan Kelompok Makanan Jadi/Minuman/Rokok/Tembakau (kanan) Kota Bengkulu ... 29
Grafik 2.3. Indeks Harga Konsumen Kelompok Bahan Makanan di Kota Bengkulu ... 29
Grafik 2.4. Sumbangan Inflasi Per Kelompok Barang/Jasa ... 31
Grafik 2.5. Realisasi Inflasi Tahun 2009 ... 32
Grafik 2.6. Inflasi Beberapa Kota di Sumatera ... 33
Grafik 3.2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit Bank Umum Provinsi
Bengkulu ... 35
Grafik 3.3. Distribusi Aktiva Bank Umum di Provinsi Bengkulu ... 37
Grafik 3.4. Perkembangan Net Interest Margin BPR Provinsi Bengkulu ... 44
Grafik 4.1. Pendapatan Daerah Dalam APBD Tahun 2009 Pemerintah Provinsi Bengkulu ... 46
Grafik 4.2. Perkembangan Kendaraan Bermotor di Provinsi Bengkulu ... 46
Grafik 4.3. Perkembangan Dana Milik Pemerintah Provinsi Bengkulu ... 48
Grafik 5.1. Perkembangan Inflow-Outflow Uang Kartal Provinsi Bengkulu ... 50
Grafik 5.2. Perkembangan Rasio PTTB terhadap Inflow Provinsi Bengkulu ... 51
Grafik 5.3. Perkembangan Jumlah Uang Palsu yang Ditemukan di Bengkulu... 52
Grafik 6.1. Perkembangan Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu ... 55
Grafik 6.2. Hasil Survei SEK dan SKDU di Provinsi Bengkulu ... 57
Grafik 6.3. Perkembangan Laju Inflasi Tahunan di Kota Bengkulu ... 58
Ringkasan Eksekutif
RINGKASAN EKSEKUTIF
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian Provinsi Bengkulu di triwulan II tahun 2009 berdasarkan data BPS
mengalami pertumbuhan yang signifikan, yaitu tumbuh sebesar 3,63% (q-t-q). Secara
tahunan (y-o-y), laju pertumbuhan tersebut mencapai 5,85%, lebih cepat dibanding
triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,40%
Meningkatnya laju perekonomian dari sisi permintaan terutama disebabkan karena
mulai tumbuhnya konsumsi secara umum dan dibantu dengan tumbuhnya investasi
daerah. Proporsi konsumsi rumah tangga sangat dominan dalam ekonomi Bengkulu yaitu
mengambil porsi sebesar 62,61%. Sementara itu dari sisi penawaran, sebagian besar
sektor ekonomi mengalami peningkatan pertumbuhan, hanya sektor bangunan dan
jas-jasa yang mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan ini. Sektor ekonomi
Provinsi Bengkulu hingga saat ini masih di dominasi oleh sektor pertanian,
perdagangan-hotel-restoran dan jasa-jasa.
INFLASI
Perkembangan inflasi Kota Bengkulu1
pada triwulan II tahun 2009 dipengaruhi
oleh relatif stabilnya harga-harga komoditas bahan makanan dan kondisi perekonomian
yang relatif stagnan. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penurunan inflasi yakni dari
10,03%(yoy) pada triwulan I 2009 menjadi 3,29%. Selain itu, inflasi Bengkulu terlihat
mulai berada dibawah inflasi nasional yang sebesar 3,65%(yoy).
Relatif rendahnya inflasi di triwulan ini terutama dikarenakan relatif stabilnya harga
komoditas di kelompok bahan makanan yang berbobot cukup besar. Beberapa komoditas
di kelompok ini yang berbobot cukup besar dan umumnya berefek besar terhadap inflasi
daerah mengalami gejala penurunan harga di triwulan ini. Sementara inflasi tahunan
mengalami penurunan cukup signifikan yang dipengaruhi oleh hilangnya dampak
kenaikan harga BBM di bulan Mei 2008.
1
Ringkasan Eksekutif
PERKEMBANGAN PERBANKAN
Kondisi perbankan umum di Provinsi Bengkulu pada triwulan II tahun 2009
menunjukkan beberapa perkembangan yang cukup baik. Hal ini diindikasikan oleh masih
tumbuhnya total asset, Dana Pihak Ketiga (DPK), penyaluran kredit dan meningkatnya
LDR. Total asset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit masing-masing meningkat
sebesar 8,08%, 0,27%, dan
9,87
% dibanding triwulan sebelumnya. Demikian pula LDR meningkat menjadi 114,38% dari sebelumnya 104,38%. Namun, NPL pada triwulankedua ini masih menunjukkan peningkatan dibanding triwulan sebelumnya yaitu
meningkat menjadi 1,88% dari sebelumnya 1,72%.
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
Berdasarkan data realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Pemerintah Provinsi Bengkulu terlihat realisasi di sisi pendapatan hingga triwulan I masih
cukup rendah. Jumlah pendapatan yang berhasil direalisasikan sebesar 22,70% dari
anggaran yang direncanakan atau berjumlah Rp228,64 miliar.
Komponen pendapatan yang terealisasi cukup baik di triwulan I adalah dana bagi
hasil sumber daya alam, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus. Realisasi dari jenis
pendapatan tersebut masing-masing sebesar 96,85%, 33,33% dan 30%. Sedangkan
realisasi dari pendapatan asli daerah terbilang belum optimal yaitu hanya 11,07% dari
anggaran atau baru mencapai Rp47 miliar.
Realisasi belanja Pemerintah Provinsi Bengkulu hingga triwulan I tahun ini terlihat
sangat rendah. Belanja pemerintah umumnya hanya diwarnai oleh belanja operasi berupa
belanja pegawai dan belanja barang. Sementara belanja modal terlihat minim realisasi.
Realisasi belanja operasi di triwulan I sebesar 11,06% atau mencapai Rp68,75 miliar.
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Aliran uang kartal Bank Indonesia Bengkulu kembali mengalami net cash outflow
setelah triwulan sebelumnya mengalami net cash inflow. Hal ini disebabkan oleh besarnya
peningkatkan jumlah penarikan oleh perbankan Bengkulu. Net cash ouflow pada triwulan
Ringkasan Eksekutif
Transaksi pembayaran dengan menggunakan kliring lokal mengalami kenaikan pada
triwulan II 2009 baik dilihat dari nominal maupun jumlah warkatnya dibanding triwulan I
2009. Perputaran kliring pada triwulan ini mengalami perbaikan yaitu mencapai
Rp501.101 juta atau meningkat 12,14%. Adapun rata-rata harian warkat yang
dikliringkan meningkat sebesar 0,66% atau menjadi 457 lembar.
Transaksi menggunakan sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) baik pemindahan
dana keluar, transaksi dana masuk, dan transaksi antar nasabah di dalam Provinsi
Bengkulu, seluruhnya meningkat baik dari segi nominal maupun jumlah warkat. Nominal
transaksi pemindahan dana keluar, transaksi dana masuk, dan transaksi antar nasabah di
dalam Provinsi Bengkulu masing-masing meningkat sebesar 6,88%, 15,10% dan 47,18%.
PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI
Perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan III tahun 2009 year on year
diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan walau lebih lambat dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan akan ditopang oleh perbaikan kinerja ekspor
Bengkulu seiring dengan membaiknya perekonomian dunia. Selain itu, diperkirakan akan
terjadi peningkatan konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah terutama karena
datangnya bulan puasa, perayaan Idul Fitri serta realisasi APDB yang hingga kini masih
rendah. Bank Indonesia Bengkulu memperkirakan perekonomian daerah secara tahunan
akan tumbuh di kisaran 4,19%.
Tekanan inflasi daerah di triwulan III tahun 2009 masih akan terjadi. Hal ini sejalan
dengan proyeksi Bank Indonesia Bengkulu yang memperkirakan inflasi di triwulan III tahun
2009 sebesar 3,27%. Bulan Ramadhan dan Idul Fitri sebagai faktor musiman yang memicu
Ringkasan Eksekutif
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH
PROVINSI BENGKULU
a. Inflasi dan PDRB
2008 2009
INDIKATOR 2007
Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II
MAKRO
IHK Kota Bengkulu 158,64 112,18 116,24 116,64 116,74 115,88 Laju Inflasi (y-o-y) 5,00 13,81 14,51 13,44 10,03 3,29 PDRB-Harga Konstan (miliar Rp) 7.009 1.835 1.868 1.840 1.886 1.981 - Pertanian 2.772 725 740 719 766 821 - Pertambangan & Penggalian 224 59 59 60 61 57 - Industri Pengolahan 286 73 76 74 74 76 - Listrik, Gas dan Air Bersih 31 8 8 9 9 9 - Bangunan 206 54 55 56 54 56 - Perdagangan, Hotel dan
Restoran
1.433 366 377 368 372 395 - Pengangkutan & Komunikasi 594 151 154 153 152 155 - Keuangan, Persewaan dan Jasa 325 84 85 85 86 88 - Jasa 1.138 315 314 316 312 325 Pertumbuhan PDRB (y-o-y, %) 6,16 4,16 3,66 4,98 4,06 7,95 Nilai Ekspor Nonmigas (USD
Juta) 1)
165 56 56 45 39 19 Volume Ekspor Nonmigas (ribu
ton)
1.068 315 245 285 244 183 Nilai Impor Nonmigas (USD Juta)
1)
2 - - - 0,122 0,263 Volume Impor Nonmigas (ribu
ton)
4 - - - -
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
b. Perbankan
2008 2009
INDIKATOR 2007
Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II
PERBANKAN Bank Umum
Total Aset (Triliun Rp) 4,56 5,31 5,97 5,82 5,93 6,41 DPK (Triliun Rp) 3,49 4,01 4,35 4,14 4,19 4,2 - Tabungan (Triliun Rp) 1,96 2,01 2,05 2,40 1,98 2,19 - Giro (Triliun Rp) 1,01 1,42 1,67 1,05 1,35 1,25 - Deposito (Triliun Rp) 0,52 0,58 0,63 0,69 0,86 0,75 Kredit (Triliun Rp) – Lokasi
Proyek 1)
3,41 4,30 4,70 5,29 5,30 5,49 - Modal Kerja 1,30 1,66 1,75 1,82 1,75 1,75 - Konsumsi 1,73 2,16 2,41 2,55 2,68 2,85 - Investasi 0,38 0,48 0,54 0,92 0,88 0,89 - LDR (%) 93,70 107,23 108,05 127,78 128,54 131,2 Kredit (triliun Rp) – Lokasi Kantor 2,97 3,71 4,10 4,25 4,38 4,81 - Modal Kerja 1,04 1,36 1,48 1,50 1,48 1,57 - Konsumsi 1,59 2,01 2,22 2,36 2,49 2,78 - Investasi 0,34 0,35 0,40 0,39 0,41 0,45 - LDR (%) 85,14 92,67 94,30 102,53 104,38 114,38
Kredit UMKM Bank Umum
Menurut Lokasi Proyek 1)
Kredit UMKM (Triliun Rp) 2,94 3,74 4,17 4,30 4,44 4,71 Kredit Mikro (Triliun Rp) 1,44 1,47 1,55 1,51 1,50 1,48 - Kredit Modal Kerja 0,23 0,30 0,34 0,36 0,36 0,37 - Kredit Investasi 0,03 0,03 0,04 0,04 0,03 0,05 - Kredit Konsumsi 1,18 1,14 1,17 1,11 1,10 1,10 Kredit Kecil (Triliun Rp) 0,99 1,61 1,94 2,11 2,27 2,53 - Kredit Modal Kerja 0,42 0,56 0,63 0,62 0,64 0,66 - Kredit Investasi 0,08 0,10 0,13 0,13 0,13 0,14 - Kredit Konsumsi 0,49 0,95 1,18 1,36 1,51 1,73 Kredit Menengah (Triliun Rp) 0,51 0,66 0,68 0,68 0,67 0,69 - Kredit Modal Kerja 0,36 0,44 0,43 0,44 0,42 0,44 - Kredit Investasi 0,11 0,17 0,20 0,19 0,19 0,21 - Kredit Konsumsi 0,04 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 NPL MKM gross (%) na na na na na na
BPR
Total Aset (Miliar Rp) 32 44 46 47 49 49 DPK (Miliar Rp) 19 23 27 27 29 29 - Tabungan (Miliar Rp) 10 12 13 13 14 14 - Deposito (Miliar Rp) 9 11 14 14 15 15 Kredit (Miliar Rp) – Lokasi
Proyek1)
87 84 18 17 18 19 - Modal Kerja 40 36 9 9 10 10 - Konsumsi 4 5 6 6 6 7 - Investasi 43 43 3 2 2 2 Kredit UMKM (Miliar Rp) 87 85 18 17 15 15 Rasio NPL Gross (%) na na na na na na Rasio NPL Net (%) na na na na na aa LDR 129,69 159,24 145,66 141,02 139,06 146,51
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
Nominal dalam jutaan Rp, volume dalam lembar kecuali disebutkan lain
2008 2009
INDIKATOR 2007
Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II
SISTEM PEMBAYARAN
Inflow (Triliun Rp) 0,70 0,02 0,11 0,26 0,31 0,02 Outflow (Triliun Rp) 1,87 0,79 0,39 0,52 0,22 0,64 Pemusnahan Uang (Triliun Rp) 0,29 0,02 0,06 0,09 0,03 0,008 Nominal Transaksi RTGS 60.421 283.057 14.914 16.825 11.898 13.522 Volume Transaksi RTGS 47.841 140.574 16.778 17.063 13.391 16.456 Rata-rata Harian Nominal
Transaksi RTGS
143 4.493 237 285 202 218 Rata-rata Harian Volume
Transaksi RTGS
192 2.231 266 289 227 265 Nominal Kliring Kredit 299.537 83.644 87.492 84.202 71.896 95.515 Volume Kliring Kredit 23.889 6.447 6.316 5.798 5.413 6.628 Rata-rata Harian Nominal
Kliring Kredit
13.615 3.802 3.977 3.827 3.268 4.342 Rata-rata Harian Volume
Kliring Kredit
1.086 293 287 264 246 301 Nominal Kliring Debet 1.163.954 399.186 412.162 380.109 374.948 405.587 Volume Kliring Debet 80.224 22.895 22.849 20.168 21.364 21.692 Rata-rata Harian Nominal
Kliring Debet
52.907 18.145 18.735 17.278 17.043 18.436 Rata-rata Harian Volume
Kliring Debet
3.647 1.041 1.039 917 971 986 Nominal Kliring Pengembalian 31.041 9.294 7.454 9.302 10.025 9.023 Volume Kliring Pengembalian 1.477 181 281 385 359 466 Rata-rata Harian Nominal
Kliring Pengembalian
1.411 422 339 423 456 410 Rata-rata Harian Volume
Kliring Pengembalian
67 8 13 18 16 21 Nominal Tolakan Cek/BG
Kosong
20.605 5.095 6.098 7.572 8.101 6.929 Volume Tolakan Cek/BG
Kosong
1.171 138 239 305 298 412 Rata-rata Harian Nominal
Cek/BG Kosong
937 232 277 344 368 315 Rata-rata Harian Volume
Cek/BG Kosong
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
BAB
1
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO
REGIONAL
Perekonomian Provinsi Bengkulu di triwulan II tahun 2009 berdasarkan data BPS
mengalami pertumbuhan yang signifikan, yaitu tumbuh sebesar 3,63% (q-t-q). Secara
tahunan (y-o-y), laju pertumbuhan tersebut mencapai 5,85%, lebih cepat dibanding
triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,40%.
Grafik 1.1. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Laju Pertumbuhan PDRB (LPE, y-o-y) Provinsi Bengkulu (harga konstan 2000) 3.69% 7.13% 6.73% 6.51% 7.03% 4.16% 3.66% 4.98% 3.40% 5.85%* 2.93% 4.03% 2.30% -2.76%
3.43% 1.42% 1.80%
-1.52% 1.88% 3.63%* 1,600,000 1,630,000 1,660,000 1,690,000 1,720,000 1,750,000 1,780,000 1,810,000 1,840,000 1,870,000 1,900,000 1,930,000 1,960,000 1,990,000
Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2
2007 2008 2009
-4% -2% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12%
PDRB (skala kiri) LPE (y-o-y; skala kanan) LPE (q-t-q; skala kanan)
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; *) angka perkiraan
Meningkatnya laju perekonomian dari sisi permintaan terutama disebabkan karena
mulai tumbuhnya konsumsi secara umum serta masih tumbuhnya ekspor daerah. Proporsi
konsumsi rumah tangga dan ekspor sangat dominan dalam ekonomi Bengkulu yaitu
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Sementara itu dari sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi mengalami peningkatan
pertumbuhan, hanya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan
pada triwulan ini. Sektor ekonomi Provinsi Bengkulu hingga saat ini masih di dominasi oleh
sektor pertanian, perdagangan-hotel-restoran dan jasa-jasa.
1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sisi Penggunaan
Sektor konsumsi masih menjadi tumpuan perekonomian Bengkulu terutama
konsumsi rumah tangga. Proporsi konsumsi terhadap PDRB pada triwulan II 2009
mencapai 79,19%, diikuti ekspor-impor dan investasi. Proporsi konsumsi tersebut
menurun dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 80,37%. Sementara
konsumsi rumah tangga memiliki proporsi 62,61% terhadap total PDRB.
1.1.1. Konsumsi Daerah
Pertumbuhan secara tahunan (y-o-y) di sisi konsumsi tertinggi dialami
oleh konsumsi lembaga nirlaba dan pemerintah. Pertumbuhan untuk
masing-masing konsumsi tersebut sebesar 20,74% dan 6,65%. Namun demikian
konsumsi rumah tangga tetap masih memiliki peran yang paling dominan.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di triwulan ini mulai mengalami
peningkatan, lebih baik dibandingkan dengan triwulan I 2009. Pertumbuhan
konsumsi rumah tangga secara tahunan di triwulan ini sebesar 6,15%
sementara triwulan sebelumnya hanya sebesar 5,54%. Adanya pertumbuhan
konsumsi rumah tangga ini didorong oleh membaiknya harga komoditas
perkebunan yang menjadi unggulan daerah seperti kelapa sawit. Selain itu
juga terbantu dengan mulai menurunnya tingkat inflasi daerah. Hal ini
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Tabel 1.1. PDRB Berdasarkan Jenis Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Q-II 2008 Q-II 2009 Jenis Penggunaan
Nilai Proporsi Nilai Proporsi
Pertum-buhan I. Atas Dasar Harga Berlaku
1. Konsumsi Rumah Tangga 2.154.576 59,27% 2.417.677 60,95% 12,21%
2. Konsumsi Lembaga Nirlaba 31.829 0,88% 54.215 1,37% 70,33%
3. Konsumsi Pemerintah 564.505 15,53% 583.989 14,72% 3,45% 4. Pembentuk Modal Tetap Domestik Bruto 320.091 8,80% 352.877 8,90% 10,24% 5. Perubahan stok (122.360) (3,37%) (110.520) (2,79%) (9,68%) 6. Ekspor 1.150.581 31,65% 1.086.651 27,40% (5,56%) 7. Impor (463.887) (12,76%) (418.389) (10,55%) (9,81%) PDRB 3.635.335 100% 3,966,500 100% 9,11%
II. Atas Dasar Harga Konstan
1. Konsumsi Rumah Tangga 1.145.530 62,43% 1.215.931 62,61% 6,15% 2. Konsumsi Lembaga Nirlaba 18.086 0,99% 21.838 1,12% 20,74% 3. Konsumsi Pemerintah 281.493 15,34% 300.206 15,46% 6,65% 4. Pembentuk Modal Tetap Domestik
Bruto 174.563 9,51% 191.496 9,86% 9,70%
5. Perubahan stok (41.667) (2,27%) (37.087) (1,91%) (10,99%)
6. Ekspor 569.879 31,06% 545.635 28,10% (4,25%)
7. Impor (313.115) (17,07%) (295.919) 15,24% (5,49%)
PDRB 1.834.769 100% 1.942.100 100% 5,85%
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, angka perkiraan
Grafik 1.2. Konsumsi Rumah Tangga Menurut PDRB Harga Konstan dan Perkembangan Inflasi di Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Konsumsi RT 1.47% 5.54% 6.15% 1,120,000 1,145,000 1,170,000 1,195,000 1,220,000
I II III IV I II 2008 2009 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% g(YOY)
Inflasi YOY (%)
-2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 20.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
2008 2009
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Peningkatan konsumsi terlihat pula dari pola konsumsi listrik rumah
tangga seperti pada grafik 1.3 dibawah. Konsumsi listrik rumah tangga di
triwulan ini terlihat sedikit lebih tinggi di banding triwulan sebelumnya yaitu
meningkat dari 63,08 juta kwh menjadi 64,01 juta kwh atau naik 2,43%.
Bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, peningkatan konsumsi
listrik tersebut mencapai 15,53%.
Jumlah kendaraan baru roda dua mulai mengalami penurunan
semenjak awal tahun 2009. Bila dibandingkan dengan kondisi pada awal
2009, pada akhir triwulan I 2009 jumlah kendaraan roda dua mengalami
penurunan hingga 4.15%. Trend peningkatan ini hanya dialami oleh jenis
kendaraan bus/truk.
Grafik 1.3. Konsumsi Listrik Rumah Tangga dan Perkembangan Kendaraan Milik Swasta di Provinsi Bengkulu
Konsumsi Listrik RT (juta Kwh)
40 45 50 55 60 65 70 75
1 2 3 4 1 2
2008 2009
Jumlah Kendaraan Baru
‐ 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000
6 7 8 9 10 11 12 1 2 3
2008 2009 ‐ 20 40 60 80 100 120 140 160 180
Roda 2 (kiri) Bus/Truk (kanan) Roda 4 (kanan)
Sumber : Dispenda Prov. dan PLN Bengkulu, diolah
Sementara itu, dana milik perorangan yang berada di bank umum di
Provinsi Bengkulu di triwulan ini menunjukkan pembalikan arah dibanding
triwulan I 2009. Peningkatan jumlah dana yang signifikan terjadi pada bulan
Juni 2009. Peningkatan dana milik perorangan pada triwulan II 2009 ini
terutama didorong oleh peningkatan jumlah giro milik perorangan.
Kecenderungan kenaikan dana perorangan di perbankan dapat
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
saving masyarakat bertambah. Di lain pihak hal ini dapat pula
mengindikasikan adanya kehati-hatian masyarakat dalam melakukan
konsumsi. Namun secara tahunan, dana milik perorangan pada triwulan II
2009 mengalami penurunan pertumbuhan dibandingkan triwulan I 2009,
yaitu menjadi 14,03% dari sebelumnya 16,08%.
Dari segi nominal, kredit konsumsi terus meningkat, namun memasuki
triwulan II 2009 mulai mengalami perlambatan pertumbuhan. Hal ini kembali
mengindikasikan adanya sikap menahan diri masyarakat dalam melakukan
konsumsi. Secara tahunan perlambatan pertumbuhan ini juga terekam,
triwulan II 2009 hanya tumbuh 38,66% sementara triwulan sebelumnya
42,55%. Kredit konsumsi tumbuh dari Rp2.006 miliar di triwulan II tahun
2008 menjadi Rp2.782 miliar di triwulan ini.
Grafik 1.4. Dana Perorangan dan Kredit Konsumsi Perbankan di Provinsi Bengkulu
DPK Perorangan 1,800,000 2,000,000 2,200,000 2,400,000 2,600,000 2,800,000 3,000,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2008 2009 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% g(YOY) Kredit Konsumsi 1,500,000 1,700,000 1,900,000 2,100,000 2,300,000 2,500,000 2,700,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2008 2009 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% gYOY
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum – KBI Bengkulu
Hasil survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia Bengkulu juga
menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat. Hal ini terlihat
dari kembali meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Peningkatan
ini dipicu oleh naiknya indeks kondisi ekonomi saat ini terutama terhadap
ketepatan waktu membeli barang dan ekspektasi ketersediaan lapangan
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
komoditas dan turunnya inflasi daerah serta adanya rencana perekrutan PNS
pada triwulan III 2009.
Grafik 1.5. Beberapa Hasil Survei di Provinsi Bengkulu
35.00 45.00 55.00 65.00 75.00 85.00 95.00 105.00
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 2006 2007 2008 2009
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)
Sumber : Survei Ekspektasi Konsumen, BI Bengkulu
Konsumsi pemerintah secara tahunan di triwulan laporan terlihat
mengalami pertumbuhan yang cukup baik, bahkan lebih tinggi dibandingkan
triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tahunan konsumsi pemerintah di
triwulan laporan mencapai 6,65% sementara triwulan sebelumnya 3,36%.
Sedangkan konsumsi yang dilakukan lembaga nirlaba di triwulan ini
mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 20,74%,
sementara triwulan sebelumnya tercatat sebesar 30,06%, sebagaimana
terlihat pada grafik 1.6. di bawah.
Pengeluaran untuk belanja pegawai, yang memiliki porsi sekitar 27%
terhadap total belanja daerah Pemerintah Provinsi Bengkulu, diperkirakan
mengalami peningkatan. Hal ini dipicu oleh adanya pencairan gaji ketiga
belas pada akhir triwulan II ini.
Sebaliknya pertumbuhan giro pemerintah yang ada di bank umum
terlihat semakin menurun. Giro pemerintah yang ada di bank umum di
triwulan II tahun 2008 sebesar Rp1.168 miliar sementara di triwulan ini
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Grafik 1.6. Konsumsi Pemerintah dan Lembaga Nirlaba Menurut PDRB Harga Konstan di Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Kons. Pemerintah 3.36% 6.65% 275,000 280,000 285,000 290,000 295,000 300,000 305,000
I II III IV I II
2008 2009 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% 9.00% 10.00% g( YOY)
Kons. Lemb. Nirlaba
30.06% 20.74% -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000
I II III IV I II
2008 2009 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% g(YOY)
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, angka perkiraan, diolah
Grafik 1.7. Perkembangan Dana Pemerintah di Bank Umum dan Belanja Pegawai Pemerintah Daerah di Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Giro Milik Pemerintah
12.50% -13.93% -22.95% 450,000 650,000 850,000 1,050,000 1,250,000 1,450,000
1 2 3 4 1 2
2008 2009 -25.00% -5.00% 15.00% 35.00% 55.00% 75.00% 95.00% g(YOY) Belanja Pegawai 200,000 220,000 240,000 260,000 280,000 300,000 320,000 340,000 360,000 380,000 400,000
I II III IV I
2008 2009 -2% 18% 38% 58% 78% 98% g( YOY)
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum – KBI Bengkulu dan Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, angka perkiraan, diolah
1.1.2. Investasi Regional
Data investasi regional yang tercatat di BPS sebagaimana terlihat dari
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) dan ditunjukkan pada
tabel 1.1. di triwulan laporan mengalami kenaikan sebesar 9,70%.
Sementara pada triwulan sebelumnya pertumbuhannya mencapai 10,35%.
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
merupakan investasi yang bersifat tambahan dan dilakukan oleh pelaku
ekonomi daerah setempat yang dapat berupa tambahan bangunan atau
peralatan untuk kegiatan usaha yang telah dijalaninya.
Peningkatan investasi juga dapat diprediksikan dengan melihat
kecenderungan kredit investasi yang disalurkan oleh perbankan dan volume
penjualan semen di Provinsi Bengkulu. Pada triwulan II 2009, kredit investasi
masih mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, walaupun mengalami
perlambatan. Sementara penjualan semen pun menunjukkan adanya tren
peningkatan.
Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Investasi dan Konsumsi Semen di Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Kredit Investasi 250,000 300,000 350,000 400,000 450,000 500,000 550,000 600,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2008 2009 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% g(YOY)
Kons. Semen (ton)
20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 55,000 60,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5
2008 2009 -20.00% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00% g(YOY)
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum – KBI Bengkulu dan Asosiasi Semen Indonesia, diolah
1.1.3. Ekspor dan Impor Regional
Menurut data BPS Provinsi Bengkulu, pada triwulan laporan terjadi
penurunan net-ekspor secara tahunan (y-o-y) sebesar -2,74%. Tren
perkembangan ekspor dan impor antar daerah/negara di triwulan laporan
dapat dilihat dari tabel 1.2. di bawah ini. Ekspor menurun dari Rp570.870
juta pada triwulan II tahun 2008 menjadi Rp545.635 juta, sedangkan impor
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor dan Impor Regional dalam pembentukan PDRB menurut Harga Konstan Provinsi Bengkulu
juta rupiah
2008 2009
Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2
Ekspor 570.870 569.879 578.057 530.229 516.569 545.635 Impor 313.014 313.115 312.954 301.649 294.940 295.919 Net Ekspor (Impor) 257.856 256.764 265.103 228.580 221.629 249.717
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; angka sementara
Sementara perkembangan ekspor daerah ke mancanegara berdasarkan
pemberitahuan ekspor barang diperkirakan akan masih menurun secara
tahunan, terutama dilihat dari nilai ekspornya. Tabel 1.3 di bawah
menggambarkan kegiatan perdagangan lintas negara dari dan ke Provinsi
Bengkulu yang dicatat berdasarkan data Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).
Dari tabel tersebut terlihat adanya penurunan nilai ekspor Provinsi
Bengkulu pada triwulan laporan secara tahunan1
. Penurunan nilai ekspor ini
dipicu terutama oleh penurunan ekspor komoditas karet dan lemak/minyak
hewan nabati dengan komoditas utama minyak sawit/CPO. Bila dicermati,
terjadi pergeseran porsi ekspor dimana di tahun sebelumnya ekspor
didominasi oleh karet dan CPO namun sejak triwulan IV tahun 2008 ekspor
lebih didominasi oleh karet dan batubara. Menurut hasil SKDU dan liaison
terungkap bahwa produsen CPO di Bengkulu saat ini lebih memilih untuk
memasarkan produknya ke pasar domestik dibandingkan pasar ekspor
karena hambatan jalur distribusi, ketidaksesuaian term of payment yang
diharapkan dan diberlakukannya pungutan eskpor (PE).
1
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Tabel 1.3. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut Jenis Barang di Provinsi Bengkulu
nilai dalam ribu dollar, volume dalam ton
2008 2009
Mata Dagangan Ket.
Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2*
Pro-porsi
Nilai 10.263 15.321 10.778 7.608 5.782 7.264 25,10% Lemak/minyak
hewan/nabati Volume 11.000 13.500 12.000 15.875 12.198 12.777
Nilai 290 475 704 333 218 836 2,89% Kakao dan produk
kakao Volume 150 250 300 150 100 413
Nilai 9.896 10.097 9.007 12.555 18.346 9.502 32,83% Bahan bakar mineral
Volume 311.403 276.801 200.589 252.221 159.822 241.081
Nilai 28.517 29.539 34.011 23.941 14.280 10.944 37,81% Karet dan barang dari
karet Volume 11.882 11.055 11.404 9.707 10.737 8.831
Nilai 73 275 1.262 132 224 396 1,37% Lainnya
Volume 3.013 12.842 20.925 6.778 8.485 11.372
Nilai 49.039 55.707 55.762 44.569 38.850 28.942 100% Total
Volume 337.448 314.448 245.218 284.731 244.475 274.473
Sumber : SEKDA Provinsi Bengkulu, BI Bengkulu; *) angka perkiraan
Penurunan nilai ekspor di triwulan laporan secara tahunan terlihat
sangat signifikan dan diperkirakan mencapai 48,05%. Penurunan ekspor
terjadi hampir di seluruh komoditas ekspor daerah terutama dialami
komoditas karet dan CPO yang masing-masing menurun sebesar 62,95%
dan 52,59%. Penurunan kinerja total ekspor triwulan II 2009 secara tahunan
terjadi baik dari sisi nilai maupun volume ekspor dengan nilai ekspor turun
lebih signifikan dibandingkan volume ekspor.
Pada grafik 1.10 di bawah terlihat pertumbuhan tahunan ekspor yang
terus menurun terjadi di seluruh mata dagangan ekspor utama daerah seperti
karet, CPO dan batubara. Bahkan pertumbuhan minus terjadi sejak triwulan
III tahun 2008. Jika dilihat ekspor secara kuantitas maka terlihat penurunan
pertumbuhan terjadi pada komoditas batubara dan karet. Namun memasuki
triwulan II 2009, batubara menunjukkan tren peningkatan volume ekspor,
sementara karet masih terus menurun. Volume ekspor CPO mulai menurun
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Grafik 1.9. Pertumbuhan Tahunan Ekspor Mancanegara Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Nilai Ekspor -70% -50% -30% -10% 10% 30% 50% 70% 90% 110% 130%
I II III IV I II
2008 2009 CPO Karet Batubara Volume Ekspor -75% -25% 25% 75% 125% 175%
I II III IV I II
2008 2009
CPO Karet Batubara
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum – KBI Bengkulu dan Asosiasi Semen Indonesia, diolah
Indikasi penurunan pertumbuhan ekspor diduga karena dipengaruhi
harga komoditas perkebunan dan pertambangan yang cenderung lebih
rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari grafik 1.10 di
bawah dimana harga komoditas karet dan batubara mengalami
kecenderungan menurun. Sedangkan CPO setelah mengalami perbaikan
harga, mulai merosot kembali di akhir triwulan II 2009. Di sisi lain,
pertumbuhan volume ekspor pada triwulan ini relatif stabil dan cenderung
meningkat kecuali untuk karet.
Grafik 1.10. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Ekspor Bengkulu
dalam US$/kg untuk karet, US$/metric ton untuk CPO & batubara
-200 400 600 800 1,000 1,200 Ap r
Ma Jun Jul Aug Sep Oc
t
No
v
Dec Jan Feb Mar Ap
r
Ma Jun Jul Aug Sep Oc
t
No
v
Dec Jan Feb Mar Ap
r
Ma Jun
2007 2008 2009
Karet CPO Batubara
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Bila melihat jumlah ekspor berdasarkan negara pembeli (Tabel 1.4),
Singapura merupakan negara dengan nilai pembelian terbesar diikuti oleh
Belgia dan Thailand. Nilai ekspor Provinsi Bengkulu ke tiga negara ini
mencapai US$15.662 ribu atau sekitar 81,17% dari nilai ekspor secara
keseluruhan. Sementara itu, pembelian dari Amerika Serikat terlihat terus
menurun sejak akhir 2008.
Tabel 1.4. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-Migas Utama Menurut
Negara Pembeli di Provinsi Bengkulu
nilai dalam ribu dollar, volume dalam ton
2008 2009
Negara Pembeli Ket.
Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2*
Nilai 10.202 7.840 8.977 9.398 2.787 1.048
Amerika Serikat
Volume 4.409 3.037 3.205 3.452 1.909 863 Nilai 2.732 1.035 465 438 7.390 4.612
Thailand
Volume 92.070 31.219 200 5.627 94.834 110.502
Nilai 14.990 18.338 19.227 14.966 10.362 6.119
Singapura
Volume 39.233 57.886 22.527 16.064 7.940 13.800 Nilai 3.146 5.341 1.730 3.349 4.911 1.275
Malaysia
Volume 83.250 120.583 34.741 64.538 27.467 27.978
Nilai 230 - 406 - - -
Hongkong
Volume 101 - 18.035 - - -
Nilai - 113 - - - -
Jerman
Volume - 40 - - - -
Nilai 11.516 17.101 12.136 7.612 6.027 4.931
Belgia
Volume 11.524 14.163 12.463 14.137 12.381 8.578 Nilai 6.223 5.939 12.821 8.806 7.373 1.311
Lainnya
Volume 106.861 87.520 154.047 180.913 46.811 21.260 Nilai 49.039 55.707 55.762 44.569 38.850 19.295
Total
Volume 337.448 314.448 245.218 284.731 191.342 182.982
Sumber : SEKDA Provinsi Bengkulu, BI Bengkulu; *) data hingga bulan Mei`
1.2. PDRB Sisi Sektoral
Secara sektoral, peningkatan pertumbuhan ekonomi secara tahunan (y-o-y)
terjadi pada sebagian besar sektor ekonomi. Sektor yang mengalami pertumbuhan
melambat dibanding triwulan sebelumnya yaitu sektor bangunan dan jasa-jasa
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
pertumbuhan sektor bangunan dan jasa-jasa kemungkinan dikarenakan sektor
tersebut masih berusaha untuk bangkit setelah diterpa krisis yang mengakibatkan
anjloknya tingkat konsumsi masyarakat. Sementara itu, sektor yang tumbuh cukup
tinggi di triwulan ini adalah sektor pertambangan dan penggalian yaitu sebesar
14,91% (y-o-y) dan sektor keuangan, persewaan dan jasa dengan pertumbuhan
sebesar 7,83% (y-o-y).
Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Bengkulu (y-o-y) Menurut Sektor
persen
Lapangan Usaha Trw-II
2008 Trw-III 2008 Trw-IV 2008 Trw-I 2009 Trw- II 2009 1. Pertanian
2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Air dan Gas 5. Bangunan
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Angkutan dan Komunikasi 8. Keuangan dan Persewaan 9. Jasa-jasa 2,16 5,22 3,19 7,01 8,39 2,13 2,99 3,96 11,65 4,05 4,79 0,74 6,73 6,10 -0,03 2,33 2,10 8,65 5,35 4,35 2,17 6,93 2,60 4,53 1,57 3,39 8,07 1,56 14,04 2,15 5,98 2,92 5,49 1,95 3,68 4,34 6,38 14,91 3,93 6,35 2,28 7,24 2,95 7,83 3,23
P D R B 4,16 3,66 4,98 3,40 5,85
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; angka sementara
Tabel 1.6. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan dan Lapangan Usaha
Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Q4-2008 Q1-2009 Q2-2009
Lapangan Usaha
Nilai Porsi Nilai Porsi Nilai Porsi
1. Pertanian 719.113 39,09 742.989 39,65 770.966 39,70
2. Pertambangan dan Penggalian 59.438 3,23 65.370 3,49 67.492 3,48
3. Industri Pengolahan 73.707 4,01 73.945 3,95 75.707 3,90
4. Listrik, Gas dan Air 8.551 0,47 8.624 0,46 8.789 0,45
5. Bangunan 56.094 3,05 53.972 2,88 55.927 2,88
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 367.928 20,00 378.558 20,20 392.433 20,21
7. Pengangkutan dan Komunikasi 153.296 8,33 152.113 8,12 155.492 8,01
8. Keuangan dan Persewaan 85.204 4,63 85.991 4,59 90.247 4,65
9. Jasa – jasa 316.126 17,19 312.479 16,67 325.046 16,74
PDRB 1.839.456 100,00 1.874.042 100,00 1.942.100 100,00
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Sedangkan struktur perekonomian Provinsi Bengkulu sebagaimana terlihat dari
tabel 1.6 di atas terlihat masih didominasi oleh sektor pertanian diikuti sektor
perdagangan-hotel-restoran dan sektor jasa-jasa. Kontribusi ketiga sektor ini
terhadap perekonomian Provinsi Bengkulu mencapai 76,6% di triwulan laporan.
Naik turunnya ketiga sektor tersebut akan sangat mempengaruhi kinerja
perekonomian Provinsi Bengkulu secara keseluruhan.
1.2.1. Sektor Pertanian
Sektor pertanian secara tahunan tumbuh lebih tinggi di triwulan ini,
yakni sebesar 6,38% sementara triwulan sebelumnya hanya sebesar 1,56%.
Relatif masih baiknya pertumbuhan sektor ini kemungkinan didorong oleh
musim panen yang jatuh di pertengahan triwulan serta harga jual komoditas
perkebunan yang mulai membaik.
Namun peningkatan pertumbuhan sektor pertanian tidak dibarengi
oleh peningkatan pertumbuhan kredit pertanian. Laju pertumbuhan kredit
pertanian dibandingkan periode yang sama tahun yang lalu turun dari 61,3%
pada triwulan I 2009 menjadi 39,9% pada triwulan ini. Hal ini diduga karena
adanya beberapa program revitalisasi perkebunan yang sudah dilaksanakan
di triwulan I 2009 dan dibiayai melalui dana perbankan.
Grafik 1.11. Indikator Sektor Pertanian Provinsi Bengkulu
Kredit Pertanian (Rp Juta)
30,000 80,000 130,000 180,000 230,000 280,000 330,000
4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2006 2007 2008 2009
-15% -5% 5% 15% 25% 35% 45% 55% 65% gYOY
Realisasi Ekspor Perkebunan (Ton)
-4000 1000 6000 11000 16000 21000 26000 31000 36000 41000
4 5 6 7 8 910 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 910 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 910 11 12 1 2 3 4 5
2006 2007 2008 2009
-60% 140% 340% 540% 740% 940% 1140% 1340% 1540% 1740% 1940% gYOY
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Sementara itu, persepsi pelaku usaha dari hasil SKDU menunjukkan
kondisi yang membaik, dimana sebagian besar responden menyatakan
bahwa realisasi usahanya di triwulan ini meningkat. Hal ini dialami oleh
responden SKDU terutama responden dari sektor pertanian dan sektor
perdagangan, perhotelan dan restoran. Adanya perbaikan dunia usaha ini
juga dikonfirmasi oleh hasil quick survey yang dilakukan oleh Bank Indonesia
(Lihat Boks 1. Hasil Quick Survey Dampak Krisis Ekonomi Global Terhadap
Kinerja UMKM Di Provinsi Bengkulu).
1.2.2. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran
Sektor perdagangan pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan
yang cukup tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu tumbuh 7,24%
(y-o-y), sedangkan triwulan I 2009 hanya 5,49%. Sektor perdagangan
memiliki peran yang cukup dominan dalam PDRB Provinsi Bengkulu dengan
porsi sebesar 20,21% yaitu kedua tertinggi setelah peran sektor pertanian.
Berdasarkan data bongkar muat, menunjukkan adanya peningkatan
volume bongkar muat, baik di pelabuhan maupun di bandara pada triwulan
ini. Kenaikan bongkar muat di pelabuhan mencapai 424.141 ton atau
meningkat 54,65% dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini dipicu oleh
kenaikan bongkar muat pupuk yang berasal dari dalam negeri. Komoditas
batubara mengambil porsi terbesar dari keseluruhan lalu lintas bongkar muat
di Pelabuhan Pulau Baai yaitu mencapai 66,25%. Sedangkan untuk bongkar
muat cargo dibandara, mengalami peningkatan sebesar 390 ton atau
meningkat 7,9% untuk cargo kedatangan dan 115 ton atau meningkat
5,9% untuk cargo keberangkatan.
Peningkatan kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran pada
triwulan ini juga dikonfirmasi oleh hasil liaison triwulan II 2009, yang
menunjukkan bahwa nilai tambah sektor perdagangan, hotel dan restoran
menunjukkan arah positif yang terutama didukung oleh meningkatnya
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
pada triwulan II 2009 cenderung stagnan (Lihat Boks 2. Hasil Liaison Triwulan
II 2009). Selain itu, berdasarkan hasil SKDU triwulan II 2009, dunia usaha
pada sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami peningkatan. Hal
ini terlihat dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang meningkat menjadi
1.28 dari triwulan sebelumnya yang hanya 0.00.
Grafik 1.12. Arus Barang Pelabuhan Pulau Baai Berdasarkan Jenis
Komoditas
dalam Ton
Cangkang (Ex-LN), 2.48% Alat Berat
(Im-DN), 0.04% CPO (Ex-DN),
4.67%
BBM (Im-DN), 14.72%
Semen (IM-DN), 8.08%
Batubara (Ex-LN/Ex-DN),
66.25% Aspal (Im-DN),
0.44% Beras, Gula, Garam, 0.53%
Pupuk (Im-DN), 2.43%
Karet (Ex-LN) 0.37%
Sumber : BPS Provinsi, diolah
1.2.3. Sektor Jasa - Jasa
Sektor jasa-jasa secara tahunan mengalami pertumbuhan yang mulai
melambat dimana pertumbuhan triwulan ini sebesar 3,23%, sementara
triwulan sebelumnya mencapai 4,34%. Porsi sektor ini terhadap ekonomi
daerah juga cukup besar yaitu mencapai 16,74%, sehingga sektor ini tetap
menjadi pendukung tumbuhnya ekonomi daerah.
Dilihat dari pembiayaan perbankan, secara tahunan terlihat adanya
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
triwulan sebelumnya yaitu dari -53,9% menjadi -59,1%. Secara quarter to
quarter, kredit sektor jasa-jasa juga mengalami kontraksi hingga 10,8%
dibanding triwulan sebelumnya. Kredit yang disalurkan perbankan daerah ke
sektor ini pada triwulan II 2009 mencapai Rp74.837 miliar.
Grafik 1.13. Indikator Sektor Jasa-jasa di Provinsi Bengkulu
-50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 400,000
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2006 2007 2008 2009
Kredit Sektor Jasa (juta Rp)
PDRB Sektor Jasa (juta Rp) Realisasi Sektor Jasa (Hasil SKDU)
(0.60) (0.40) (0.20)
-0.20 0.40 0.60 0.80 1.00
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2006 2007 2008 2009
Sumber : Bank Indonesia dan BPS Prov. Bengkulu, diolah
Sementara hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha di triwulan II tahun 2009
menunjukkan kondisi perbaikan dimana hasil saldo bersih tertimbang (SBT) di
triwulan ini naik menjadi 0.00 dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar
-0,36. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan
realisasi usahanya di triwulan ini cenderung stabil.
1.2.4. Sektor Bangunan
Laju pertumbuhan sektor bangunan secara tahunan mengalami
perlambatan dibanding triwulan sebelumnya yaitu hanya tumbuh sebesar
2,28% dengan porsi terhadap ekonomi daerah sebesar 2,88%. Dengan porsi
yang relatif kecil tersebut belum memberikan kontribusi signifikan bagi
ekonomi Bengkulu. Pertumbuhan sektor ini tergambar pula pada penyaluran
kredit konstruksi dengan laju pertumbuhan secara tahunan sebesar 8,94%
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
triwulan ini. Kredit perumahan di triwulan ini juga terlihat terus meningkat
setelah sempat mengalami penurunan drastis pada awal triwulan II 2009. Hal
ini terlihat pada grafik 11 di bawah.
Data konsumsi semen daerah di triwulan ini juga menunjukkan adanya
peningkatan. Pada triwulan II tahun 2008 konsumsi semen daerah sebanyak
126 ribu ton sementara hingga data Bulan Mei 2009, konsumsi semen di
Provinsi Bengkulu telah mencapai 82 ribu ton. Jika dilihat pertumbuhannya
terlihat adanya kecenderungan peningkatan konsumsi semen daerah.
Grafik 1.14. Indikator Sektor Bangunan di Provinsi Bengkulu
Kons. Semen (ton)
20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 55,000 60,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5
2008 2009 -20.00% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00% g(YOY)
Penyaluran Kredit (miliar Rp)
-50 100 150 200 250 300 350
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2007 2008 2009
Konstruksi
Perumahan
Sumber : Bank Indonesia dan Asosiasi Semen Indonesia, diolah
1.2.5. Sektor Listrik, Gas dan Air
Sektor listrik, gas dan air tercatat juga mengalami pertumbuhan
tahunan yang melambat di triwulan ini dibanding triwulan sebelumnya yaitu
sebesar 6,35%. Namun, pertumbuhan tersebut terbilang masih cukup tinggi
di antara sektor lainnya.
Data konsumsi listrik memperlihatkan adanya tren pembalikan arah
konsumsi listrik di triwulan ini dibanding triwulan sebelumnya yang
cenderung menurun. Pada akhir triwulan I 2009 konsumsi listrik hanya
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
mencapai 27.819 ribu kwh atau meningkat 6,41%. Peningkatan terutama
terjadi untuk konsumen rumah tangga. Sementara data kredit yang
disalurkan perbankan ke sektor ini di Provinsi Bengkulu mengalami sedikit
penurunan dibanding triwulan sebelumnya dari Rp319 juta menjadi Rp315
juta.
Grafik 1.15. Indikator Sektor Listrik, Gas dan Air di Provinsi Bengkulu
Konsumsi Listrik 200 205 210 215 220 225 230
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2007 2008 2009
22 23 24 25 26 27 28 29 30
Jml. Pelanggan (ribu orang, axis kiri)
Konsumsi (juta KWh, axis kanan)
Kredit Sektor Listrik, Gas, Air (juta Rp)
250 350 450 550 650 750 850 950 1,050 1,150
4 5 6 7 8 9
10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2006 2007 2008 2009
-100% -50% 0% 50% 100% 150% gYOY
Sumber : Bank Indonesia dan PLN Bengkulu, diolah
1.3. Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Indikator kesejahteraan petani sebagaimana tergambar melalui indikator nilai
tukar petani (NTP) di triwulan I sampai dengan bulan April 2009 cenderung
meningkat. Peningkatan NTP ini dapat menggambarkan bahwa secara relatif tingkat
kesejahteraan hidup petani semakin membaik. Dibanding triwulan sebelumnya,
terlihat adanya perubahan NTP dari 102,04 menjadi 103,65 atau naik 1,38%. Hal ini
dikarenakan adanya peningkatan indeks harga yang diterima petani terkait dengan
hasil produksinya. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh mulai membaiknya
Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Grafik 1.16. Perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani di Provinsi Bengkulu
113.53
119.03
109.06
110.04
102.04
102.24
103.65
95 105 115 125
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei
2008 2009
BOKS 1
DAMPAK KRISIS EKONOMI GLOBAL
TERHADAP KINERJA UMKM DI PROVINSI BENGKULU
Krisis keuangan global yang dipicu oleh krisis subprime mortgage di Amerika
Serikat memberikan dampak negatif terhadap kondisi ekonomi dan prospeknya di
berbagai negara termasuk Indonesia. Provinsi Bengkulu juga terkena imbas dari krisis ini
yang ditandai dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi di triwulan I tahun 2009 dari
4,98% di triwulan sebelumnya (yoy) menjadi 4,06%. Selain itu, krisis ini juga berdampak
pada menurunnya harga komoditas primer seperti kelapa sawit dan karet.
Menurunnya harga jual komoditas perkebunan yang merupakan komoditas
andalan daerah tersebut dikhawatirkan dapat menurunkan produktivitas sektor UMKM.
Sementara peran UMKM cukup penting kontribusinya dalam perekonomian. Menurut
data BPS (2007), secara nasional peran UMKM dari sisi penciptaan PDB memberikan
kontribusi sebesar 53,60% dan dari sisi penyerapan tenaga kerja memberikan kontribusi
mencapai 92,46%. Atas dasar itulah maka Bank Indonesia melakukan quick survey untuk
mengetahui bagaimana dampak krisis ekonomi global yang sedang terjadi terhadap
kinerja UMKM.
Survei dilakukan dengan metode purposive random sampling kepada 25 pelaku
usaha mikro, kecil dan menengah yang terdapat di Kota Bengkulu, Kab. Bengkulu Utara,
Kab. Rejang Lebong dan Kab. Bengkulu Selatan. Responden terbagi atas 4 sektor yaitu (1)
pertanian termasuk subsektor perkebunan, peternakan, perikanan; (2) industri
pengolahan; (3) perdagangan, hotel dan restoran; serta (4) pengangkutan dan
komunikasi. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai profil responden,
berikut ini adalah karakteristik dari UMKM yang menjadi responden :
96% responden telah beroperasi antara 4 tahun hingga lebih dari 10 tahun, hanya 4% yang baru beroperasi selama 1-3 tahun.
Responden sebagian besar tidak berbadan hukum (84%) atau merupakan perusahaan perseorangan, 8% merupakan koperasi dan sisanya 4% berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan CV.
pertahunnya.
52% responden melakukan penjualan kepada konsumen langsung, 36% responden melakukan penjualan produknya ke perusahaan lainnya dan 8% responden mengirimkan produknya untuk di ekspor ke luar negeri melalui pengumpul. Hanya 4% responden menjual produknya ke konsumen lainnya seperti koperasi.
Dalam melakukan pembiayaan usaha, 37% responden memperoleh pembiayaan dari modal sendiri dan dalam persentase yang sama melakukan pinjaman ke lembaga non-bank. Sebanyak 21% responden mendapatkan pembiayaan dari pinjaman bank, berikutnya 3% responden mendapatkan pembiayaan dari pinjaman saudara/teman/rentenir, dan sisanya mendapatkan pembiayaan dari sumber lainnya seperti dari PUAP Hibah Departemen Pertanian.
A. Persepsi Terhadap Krisis Ekonomi Global
Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa hampir seluruh responden mengetahui
adanya krisis ekonomi global. Dari responden yang telah mengetahui adanya krisis, 49%
menyatakan bahwa krisis telah dimulai sejak 4-6 bulan yang lalu, 38% menyatakan krisis
dimulai sejak 7-12 bulan yang lalu, dan sisanya menyatakan krisis telah dimulai lebih dari
satu tahun yang lalu.
Grafik 1. Periode Dimulainya Krisis Grafik 2. Rentang Waktu Krisis
4-6 Bulan Lalu 49%
7-12 Bulan Lalu 38%
> 1 Tahun Lalu 13%
1-2 Tahun Lagi 25%
> 2 Tahun Lagi 8%
1-6 Bulan Lagi 46% 7-12 Bulan
Lagi 21%
Sebagian besar responden juga menunjukkan optimisme yang cukup tinggi bahwa
krisis akan segera berakhir. Hal ini terlihat dari besarnya responden (46%) yang
tahun kedepan.
Selain itu dalam memandang krisis yang terjadi saat ini, 67% menyatakan bahwa
krisis yang terjadi saat ini memiliki dampak yang lebih kecil dibanding krisis yang terjadi di
tahun 1997. Sebanyak 29% responden menyatakan bahwa krisis saat ini lebih berdampak
dibanding krisis tahun 1997, dan sisanya menyatakan tidak tahu.
B. Dampak Krisis Ekonomi Global
Responden survei umumnya menyatakan telah terkena dampak krisis keuangan
global yang sedang terjadi. Hal ini terlihat dari 68% responden yang menyatakan terkena
dampak krisis. Responden yang tidak mengalami dampak krisis umumnya beralasan
bahwa harga produk mereka relatif masih stabil dan tidak mengalami penurunan yang
berarti. Selain itu, meskipun daya beli konsumen mereka mulai menurun namun
penjualan mereka masih ditolong dengan bertambahnya jumlah konsumen.
Bagi responden yang mengalami dampak krisis, besaran dampak krisis yang
mereka rasakan umumnya bersifat sedang dimana 65% responden yang terkena dampak
menyatakan hal tersebut. Sementara 20% responden mengalami dampak yang cukup
berat dan sisanya hanya berdampak ringan terhadap usaha responden.
Grafik 3. Terkena Dampak Krisis Grafik 4. Besarnya Dampak Krisis
Ya 68% Tidak
32%
15%
65%
20%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Ringan Sedang Berat
Dalam hal pembiayaan, akses responden dalam melakukan pinjaman ke
perbankan saat ini dibanding dengan saat dimulainya krisis (Agustus 2008) relatif tetap.
Sebanyak 52% responden menyatakan hal tersebut sedangkan 43% responden justru
ini mereka belum mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran kredit. Hanya 29%
responden yang menyatakan mengalami kendala pembayaran kredit.
Pengaruh krisis keuangan atas perolehan omzet dan keuntungan responden
umumnya berbeda. Terdapat responden yang melaporkan terjadinya kenaikan omzet dan
keuntungan pasca krisis namun tidak sedikit yang menyatakan adanya penurunan.
Namun jika dirata-ratakan, sebagaimana tabel di bawah, omzet dan keuntungan
responden mengalami penurunan. Omzet menurun 4% dari rata-rata Rp374.486.544
menjadi Rp359.498.544 sedangkan keuntungan menurun 18% dari rata-rata
Rp63.728.202 menjadi Rp52.267.162. Hal ini dikonfirmasi oleh uji Wilcoxon yang
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara omzet dan keuntungan UMKM
pada masa sebelum dan sesudah krisis. Penurunan omzet dan keuntungan umumnya
dialami oleh pengusaha yang bergerak di subsektor perkebunan yang disebabkan oleh
menurunnya harga komoditas kelapa sawit dan karet di saat krisis terjadi.
Tabel 1. Ringkasan Kondisi Keuangan, Kapasitas Produksi dan Tenaga Kerja Responden Sebelum dan Setelah Krisis
Rata-Rata
No. Keterangan
Sebelum Krisis Setelah Krisis
1. Omzet perbulan (Rp) 374.486.544 359.498.544
2. Keuntungan perbulan (Rp) 63.728.202 52.267.162
3. Kapasitas Produksi (%) 97 97
4. Jumlah Tenaga Kerja (orang) 16 19
Sebaliknya, rata-rata jumlah tenaga kerja yang digunakan responden pasca krisis
justru mengalami kenaikan. Jika sebelum krisis rata-rata tenaga kerja yang digunakan
berjumlah 16 orang maka setelah krisis meningkat menjadi 19 orang. Tercatat hanya satu
responden yang mengalami pengurangan tenaga kerja dikarenakan kontrak karyawan
yang tidak diperpanjang, sedangkan responden lainnya umumnya meningkat maupun
tetap. Adapun rata-rata kapasitas produksi responden sebelum maupun setelah krisis
adalah tetap yaitu sebesar 97%.
Pasca krisis, kondisi keuangan responden saat ini terbilang tetap. Sebanyak 48%
responden menyatakan bahwa kondisi keuangannya saat ini relatif tetap. Sedangkan
kondisi keuangan mereka saat ini justru semakin longgar.
C. Respon dan Ekspektasi
Respon yang dilakukan pelaku UMKM dalam menghadapi krisis keuangan yang
mereka hadapi umumnya adalah melakukan efisiensi dan mencari segmen pasar baru.
38% responden melakukan efisiensi usaha dan 28% responden berusaha meningkatkan
penjualan melalui pencarian pasar baru. Selain itu, para pelaku UMKM berusaha untuk
memaksimalkan produk yang dihasilkan dan meningkatkan servis penunjang. Responden
umumnya tidak mengambil respon pengurangan tenaga kerja sebagaimana terlihat
bahwa hanya 8% responden yang merencanakan pengurangan tenaga kerja dan
BOKS 2
Kegiatan Liaison selama Triwulan II-2009 dilakukan terhadap usaha di subsektor perdagangan besar & eceran dan subsektor perikanan. Dipilihnya subsektor perdagangan besar & eceran karena subsektor ini merupakan subsektor terbesar di Provinsi Bengkulu dengan sumbangan mencapai 18,7% dari produk regional domestik bruto (PDRB). Sedangkan subsektor perikanan juga merupakan subsektor yang cukup besar porsinya dalam pembentukan PDRB di daerah ini. Untuk memperoleh gambaran dimaksud maka dilakukan kunjungan wawancara terhadap enam pelaku usaha di di Kota Bengkulu, masing-masing 6 pelaku usaha di bidang perdagangan eceran (yaitu penjualan mobil, perdagangan eceran di pasar, penjualan barang elektronik dan penjualan barang farmasi di apotek) serta 2 pelaku usaha di bidang perikanan (penangkapan ikan di laut serta budidaya ikan). Ringkasan hasil liaison triwulan ini disajikan sebagai berikut :
Volume penjualan domestik pada triwulan ini secara umum mengalami penurunan, baik di subsektor perdagangan & eceran maupun di subsektor perikanan. Kondisi ini disebabkan oleh belum baiknya harga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit dan karet yang merupakan produk unggulan Bengkulu. Pada usaha penangkapan ikan penurunan penjualan ini juga akibat turunnya hasil tangkapan ikan dalam beberapa tahun ini. Proyeksi ke depan secara rata-rata harga jual akan membaik seiring dengan perkiraan ekonomi pada tahun depan akan membaik. Hanya pada usaha penangkapan ikan yang menyatakan penjualan masih akan mengalami penurunan sebagai akibat trend tangkapan ikan yang terus menurun.
Kondisi kapasitas usaha seluruh contacts saat ini secara rata-rata diperkirakan berada pada posisi 72%, cenderung menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi ini disebabkan oleh turunnya penjualan pada tahun ini.
Secara rata-rata ada penambahan investasi dibandingkan dengan tahun lalu. Investasi ini disumbangkan oleh perusahaan perdagangan otomotif dan perdagangan obat-obatan di apotek yaitu dalam bentuk perluasan lahan untuk bengkel body repair dan pembukaan cabang apotek. Tahun depan investasi diperkiran cenderung stagnan, hanya ada rencana untuk penambahan kapasitas tambak pada usaha budidaya perikanan.
Tingkat upah secara rata-rata pada subsektor perdagangan besar & eceran mengalami kenaikan moderat dibandingkan dengan tahun lalu, mengikuti kenaikan tingkat UMP. Sementara itu pada subsektor perikanan secara rata-rata justru mengalami penurunan disebabkan turunnya biaya bagi hasil sebagai dampak turunya hasil tangkapan ikan. Sementara itu proyeksi ke depan tingkat upah tidak akan mengalami kenaikan.
Rata-rata contacts menyatakan bahwa harga jual cenderung mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun lalu. Kenaikan ini terutama disumbang oleh usaha perdagangan akibat kenaikan harga jual produk yang terkait dengan fluktuasi nilai tukar rupiah seperti produk otomotif dan obat-obatan. Tahun depan secara umum diperkiran harga jual cenderung masih akan mengalami kenaikan. Margin usaha, secara rata-rata di subsektor perdagangan besar & eceran cenderung
Inflasi Daerah
BAB
2
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
2.1. Perkembangan Inflasi
Perkembangan inflasi Kota Bengkulu1
pada triwulan II tahun 2009
dipengaruhi oleh relatif stabilnya harga-harga komoditas bahan makanan dan
kondisi perekonomian yang relatif stagnan. Kondisi ini menyebabkan terjadinya
penurunan inflasi yakni dari 10,03%(yoy) pada triwulan I 2009 menjadi 3,29%.
Selain itu, inflasi Bengkulu terlihat mulai berada dibawah inflasi nasional yang
sebesar 3,65%(yoy).
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi IHK Kota Bengkulu
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30%
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
2005 2006 2007 2008 2009
Bengkulu (y-o-y) Nasional (y-o-y)
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
2.2. Faktor Pendorong Inflasi
Relatif rendahnya inflasi di triwulan ini terutama dikarenakan relatif stabilnya
harga komoditas di kelompok bahan makanan yang berbobot cukup besar.
Beberapa komoditas di kelompok ini yang berbobot cukup besar dan umumnya
1
Inflasi Daerah
berefek besar terhadap inflasi daerah seperti cabe merah dan minyak goreng
mengalami gejala penurunan harga di triwulan ini. Selain itu, beras dan beberapa
komoditas di subkelompok ikan segar terlihat stabil karena relatif cukupnya pasokan
barang serta kondisi cuaca yang cukup kondusif bagi nelayan untuk melaut.
Sementara inflasi tahunan mengalami penurunan cukup signifikan yang
dipengaruhi oleh hilangnya dampak kenaikan harga BBM di bulan Mei 2008. Pada
tanggal 24 Mei 2008 pemerintah memutuskan adanya kenaikan harga BBM dan
secara langsung mempengaruhi inflasi tahunan daerah.
2.3. Inflasi Menurut Kelompok Barang/Jasa
Pada tabel 2.1 di bawah terlihat seluruh kelompok barang/jasa mengalami
inflasi. Kelompok perumahan/air/listrik/gas/bahan bakar serta kelompok makanan
jadi/minuman/rokok/tembakau terlihat mengalami inflasi tertinggi dibanding
kelompok lainnya. Namun bila dibandingkan triwulan sebelumnya terlihat adanya
peningkatan inflasi untuk kelompok bahan makanan dan kelompok
pengangkutan/komunikasi/jasa keuangan.
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Menurut Kelompok Barang/Jasa Kota Bengkulu (Tahunan, y-o-y)
persen
Trw I-2009 Trw II-2009 Kelompok Barang/Jasa
IHK Inflasi IHK Inflasi
Bahan makanan 126,36 0,68 122,57 1,19
Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 126,63 18,1 127,18 7,47
Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 118,79 14,41 118,64 7,99
Sandang 116,62 7,26 115,79 7,24
Kesehatan 110,33 9,37 111,09 4,35
Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 107,29 7,51 107,31 6,83
Pengangkutan, Komunikasi dan Jasa Keuangan 100,15 1,03 100,17 2,86
Inflasi Umum 116,74 10,03 115,88 3,29
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
Kelompok perumahan/air/listrik/gas/bahan bakar mengalami inflasi ta