Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 ii ISSN No. 0216-2083
MEDIA FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
Penasehat : Direktur Politeknik Kementrian Kesehatan Makassar Penanggung Jawab : Ketua Jurusan Farmasi Poltekkes Kementrian
Kesehatan Makassar Dewan Redaksi
Ketua : Drs. Jumain, M.Kes, Apt.
Wakil Ketua : Ronny Horax, S.Si.,M.Sc.,PhD. Muhammad saud, SH, S.Farm, M.Kes. Drs. H. Tahir Ahmad, Apt.
Drs. H. Ismail Ibrahim, Apt. Drs. Rusli, Sp.FRS.,Apt. Redaksi Pelaksana
Ketua : Rusdiaman, S.Si.,M.Si.,Apt.
Wakil Ketua : Drs. H. Asyhari Asyikin, S.Farm., M.Kes. Sekretaris : DR. Hj. Nurisyah, M.Si.,Apt.
Bendahara : Tajuddin Abdullah, ST.,M.Kes. Anggota : Dra. Hiany Salim, M.MKes., Apt.
Dra. Betty J.Liyono, M,MKes.,S.Si. Djuniasti Karim, S.Si., M.Si., Apt. Sultan, S.Farm., M.MKes.
Harbiah, ST., M.Si.
Humas : Mispari, SH., S.Farm., M.Kes. Rusdiaman, S.Si., M.Si.,Apt. Raimundus Chaliks, S.Si Arisanty, S.Si.,Apt.
Sirkulasi : Ahmad Murad, S.Sos.
Hendra Stevani, S.Si., Apt
Alamat Redaksi : Jurusan Farmasi Politeknik Kementrian Kesehatan RI Makassar
Jl. Baji Gau No. 10 Makassar Telp. +62411-854021
Fax. +62411-830883
e-mail : [email protected]
Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 iv
DAFTAR ISI
MEDIA FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR…… ii
EDITORIAL ……….……… iii
DAFTAR ISI ……….………... iv
1. EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BETADINE SALEP TERHADAP PENCEGAHAN FLEBITIS TEMPAT PEMASANGAN INFUS INTRAVENA DI RSU DAERAH MASSENREPULU ENREKANG 2010. Oleh Baharuddin K. ………
1
2. KEBUTUHAN DASAR IBU PADA MASA NIFAS. Oleh Fitria Hasanuddin. 11 3. GAMBARAN STATUS GIZI KURANG PADA USIA 6 – 24 BULAN DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS LAYANG KELURAHAN LAYANG KECAMATAN BONTOALA KOTAMAKASSAR. Oleh Hj. Nuraeni Jalil,
Sumarny Mappeboki ………...
15
4. GAMBARAN ASUPAN MAKANAN PADA PENDERITA PRE EKLAMSIA RAWAT JALAN PADA IBU HAMIL DI BPRSUD SALEWANGANG MAROS. Oleh Sumarny Mappeboki ………..………
40
5. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEMAMPUAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN GANGGUAN JIWA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANGASA MAKASSAR. Oleh Hj.
Rosita Ganggeng...
51
6. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INSOMNIA PADA LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA GAU MABAJI KABUPATEN GOWA. Oleh Sri Angriani……….
65
7. FACTORS OF HEALTH CARE CONSUMER BEHAVIOR WHICH RELATED TO DECISION FOR USING ANTENATAL CARE IN PUBLICH HEALTH CENTRE OF MAKALE TANA TORAJA 2010. Oleh
Marhama, Jenny R., Nurhayani, M Yusran A. ………
79
8. DISFUNGSI SEL BETA PANKREAS DAN HIPERGLIKEMIA PADA PASIEN SKIZOFRENIA YANG MENGGUNAKAN HALOPERIDOL DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH DADI PROVINSI SULAWESI SELATAN. Oleh Rahmawati ……….
87
9. HUBUNGAN ANTARA USIA TERHADAP PENDARAHAN POST PARTUM DI RSIA SITI FATIMAH MAKASSAR TAHUN 2010. Oleh
Masykuria ………
97
10. GAMBARAN PENAMPILAN KERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT NENE MALLOMO KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG Oleh Matnawati Ridwan ………..
Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 v 11. TINGKAT PENGGUNAAN OBAT DIARE DI PUSKESMAS
ANGGERAJA KABUPATEN ENREKANG. Oleh Zulfiah M. ………. 122
12. TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP
PENGGUNAAN OBAT DALAM TINDAKAN SWAMEDIKASIDI DESA PARINDINGAN KECAMATAN GANDANG BATU SILLANAN KABUPATEN TANA TORAJA. Oleh Rina Asriana ………
128
13. UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE OLEH MASYARAKAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN AWANGPONE KABUPATEN BONE. Oleh Sitti Aminah….
139
14. FAKTOR PRESIPITASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN. Oleh Hj. Purnama Rauf ……….
151
15. DAYA HAMBAT PERASAN TIGA VARIETAS RIMPANG KUNYIT PUTIH TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus. Oleh Sesilia
R Pakadang ……….
162
16. UJI DAYA HAMBAT INFUS DAUN RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli. Oleh Rusdiaman ……..
167
17. UJI DAYA HAMBAT DAUN BELUNTAS (Pluchea indica (L). Less.) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli. Oleh Rusdiaman …………
Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 162
DAYA HAMBAT PERASAN TIGA VARIETAS RIMPANG KUNYIT
PUTIH TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus
*)Sesilia Rante Pakadang*)Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Makassar
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya hambat perasan tiga varietas Rimpang Kunyit Putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode difusi menggunakan paper disc. Hasil yang diperoleh memperlihatkan zona hambatan dengan diameter yang berbeda-beda untuk setiap varietas perasan Rimpang Kunyit Putih. Diameter hambatan rata-rata yang dihasilkan oleh perasan tiga varietas Rimpang Kunyit Putih dengan konsentrasi 100% pada varietas 1 adalah 12 mm, varietas 2 adalah 11 mm, varietas 3 adalah 11 mm serta pembanding kontrol positif amoksisilin konsentrasi 20 ppm adalah 11,3 mm. Hasil yang diperoleh dianilisis secara statistik dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menunjukkan perbedaan efek yang signifikan antara larutan kontrol negatif dengan perasan tiga varietas Rimpang Kunyit Putih dengan konsentrasi 100% (Fh > Ft pada taraf α=0,05 dan taraf α=0,01). Kemudian dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf α=0,05 dan α=0,01 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata antara masing-masing varietas dan kontrol positif. Ini menunjukkan bahwa ketiga varietas Rimpang Kunyit Putih memiliki efek yang sama. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa perasan tiga varietas Rimpang Kunyit Putih memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Kata kunci : Daya Hambat, Varietas Rimpang Kunyit Putih, Staphylococcus aureus
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Bagi penduduk Indonesia, keberadaan tanaman obat tradisional bukan merupakan hal yang baru. Sebab selain bahan bakunya tersedia di negara kita, cara menggunakan tanaman obat tradisional tersebut sudah diajarkan secara turun temurun seperti dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, rebusan, atau racikan (Santosa dan Didik, 2000).
Penggunaan obat tradisional dengan memanfaatkan tanaman berkhasiat obat semakin meningkat. Penggunaan tanaman obat yang dikenal sebagai obat tradisional merupakan salah satu jawaban untuk mengatasi masalah masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan kesehatan karena obat tradisional lebih murah,
mudah diperoleh dan efek samping relatif kecil. Selain itu juga, adanya trend masyarakat untuk menggunakan bahan - bahan alami ( gerakan Back to
Nature) yang menyadari efek samping
dari obat kimia, mendorong masyarakat awam, masyarakat kelas menengah ke atas dan terdidik untuk menggunakan obat tradisional.
Kunyit putih adalah salah satu tanaman yang cukup dikenal di kalangan masyarakat, terutama masyarakat pengguna obat tradisional. Kunyit putih juga terdiri dari tiga varietas. Kandungan zat ketiga tanaman tersebut dimungkinkan memiliki sifat sebagai antimikroba. Dapat menyembuhkan penyakit kulit (Widiyastuti, 2004).
Bakteri Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab
Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 163 penyakit kulit seperti bisul, dermatitis
atau peradangan pada kulit dan mukosa. Staphylococcus aureus erat sekali hubungannya dengan manusia dan hewan lainnya terutama pada bagian kulit, hidung, dan tenggorokan (Santosa dan Didik, 2000; Buckle, 2009).
Untuk mengatasi peradangan kulit akibat infeksi masyarakat sering menggunakan kunyit putih. Kebiasaan masyarakat dalam mengolah kunyit putih untuk mengobati bengkak, memar, bisul dengan cara mencuci bersih rimpang yang segar, lalu ditumbuk sampai halus. Jika menggunakan rimpang kering ditambahkan sedikit air. Hasilnya ditempelkan pada bagian tubuh yang memar atau bengkak lalu dibalut (Dalimartha, 2007).
Kunyit putih yang ditemukan di pasaran ada beberapa jenis atau varitas. Secara umum masyarakat menggunakan ketiga varitas yang sering dijumpai yaitu
Curcuma zedoaria, Curcuma mangga, Kaempferia rotunda. Sehubungan dengan hal tersebut, maka akan dilakukan penelitian mengenai pengujian daya hambat perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih terhadap pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah berapa besar daya hambat perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih terhadap pertumbuhan Staphylococcus
aureus?
C. Tujuan Penelitian
Untuk menentukan besarnya daya hambat perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen di laboratorium B. Sampel Penelitian
Sampel berupa tiga varietas Rimpang Kunyit putih (Curcuma
zedoaria, Curcuma mangga, Kaempferia rotunda) yang diambil
dari Maros Provinsi Sulawesi Selatan. C. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Makassar. D. Prosedur Kerja
1. Pengambilan dan Pengolahan Sampel
a. Pengambilan sampel berupa tiga varietas Rimpang Kunyit putih (Curcuma zedoaria, Curcuma mangga, Kaempferia rotunda ) diambil dari Maros
Provinsi Sulawesi Selatan. b. Pengolahan sampel Rimpang
Kunyit putih yang telah dibersihkan dari kotoran yang melekat pada kulitnya, kemudian dipotong-potong kecil dan dimasukkan ke dalam juicer yang diperoleh hasil perasan dengan konsentrasi 100%.
c. Pembuatan Perasan Rimpang Kunyit Putih
Masing-masing varietas Rimpang Kunyit putih ditimbang dengan bobot 300 gram diperas menggunakan alat Juice Extractor dan diperoleh hasil perasan dengan konsentrasi 100 % kemudian dimasukkan ke dalam vial. Varietas 1 merupakan perasan Kunyit putih (Curcuma
zedoaria) diperoleh hasil perasan 40 ml. Varietas 2 merupakan perasan Kunyit putih (Kaempferia rotunda) diperoleh hasil perasan 20 ml. Dan varietas 3 merupakan perasan Kunyit putih (Curcuma
Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 164
mangga) diperoleh hasil perasan 45 ml.
d. Pembuatan Kontrol Positif Ditimbang seksama serbuk tablet yang setara dengan 500 mg amoxicillin. Kemudian dicukupkan volumenya dengan aquadest sampai 100 ml ke dalam labu ukur 100 ml (konsentrasi 5000 ppm). Dari larutan tersebut diambil sebanyak 10 ml lalu diencerkan dengan aquadest hingga 100 ml (konsentrasi 500 ppm). Dari pengenceran kadar tersebut diambil lagi sebanyak 2 ml dan diencerkan lagi hingga 50 ml menjadi konsentrasi 20 ppm. 2. Pengujian Daya Hambat Perasan
Tiga Varietas Rimpang Kunyit Putih
Disiapkan medium NA steril, didinginkan hingga suhu sekitar
45oC kemudian dituang secara aseptis ke dalam cawan petri sebanyak 20 ml dan dibiarkan memadat. Dioleskan biakan bakteri uji dipermukaan media hingga merata. Paper disc steril direndam dalam 3 sampel uji (perasan rimpang kunyit putih). Tiap cawan petri diisi lima paper disc yang mengandung sampel uji. Disc 1 mengandung varietas 1 dengan konsentrasi 100%, disc 2 mengandung varietas 2 dengan konsentrasi 100% sebanyak ± 5 tetes. Disc 3 mengandung varietas 3 dengan konsentrasi 100%. Sedangkan disc 4 mengandung aquadest sebagai kontrol negatif disc 5 mengandung larutan amoksisillin sebagai kontrol positif. Kemudian cawan petri tersebut diinkubasikan pada suhu 37oC selama 1 x 24 jam.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Tabel 1 Data hasil pengukuran diameter hambatan perasan tiga varietas Rimpang Kunyit Putih (dilakukan dengan mistar dalam satuan millimeter)
Replikasi
Kelompok perlakuan / Diameter Zona Hambatan dalam Satuan Millimeter (mm)
Kontrol (-) Kontrol (+) Varietas 1 Varietas 2 Varietas 3
I 0 11 12 12 11
II 0 12 12 11 12
III 0 11 12 10 10
Total 0 34 36 33 33
Rata-Rata 0 11,3 12 11 11
Sumber data : data primer 2011 B. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya hambat perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih terhadap pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus, dengan melihat
zona hambatan pada setiap konsentrasi sampel yang diujikan. Penyarian zat aktif dari tiga varietas Rimpang Kunyit putih dilakukan dalam bentuk perasan dengan menggunakan juicer.
Perasan ketiga varietas Rimpang Kunyit putih dibuat masing-masing dengan konsentrasi 100% sampel. Masing-masing sampel, pembanding kontrol positif yaitu amoksisillin dengan konsentrasi 20 ppm memperlihatkan adanya zona hambatan disekitar pencadang. Hal ini membuktikan bahwa perasan ketiga varietas Rimpang Kunyit putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 165
Staphylococcus aureus. Zona hambatan yang terlihat berwarna putih bening dengan diameter yang berbeda untuk setiap varietas dan kontrol positif, sedangkan pada kontrol negatif tidak terdapat zona hambatan disekitar paper disc. Lingkaran berwarna putih bening pada sekitar paper disc disebabkan oleh adanya proses difusi dari perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dari bakteri
Staphylococcus aureus.
Rata-rata diameter hambatan pada konsentrasi varietas 1 yaitu 12 mm, sedangkan konsentrasi varietas 2 yaitu 11 mm dan varietas 3 yaitu 11 mm. Walaupun perbedaan diameter hambatannya tidak terlalu besar, namun tetap memperlihatkan perbedaan antara paper disc yang diberi ketiga varietas perasan Rimpang Kunyit putih tersebut dengan paper disc yang diberi dengan kontrol negatif.
Berdasarkan perhitungan statistik, nilai hitung (Fh = 166,095) lebih besar daripada nilai tabel (Ft = 3,48) pada taraf α = 0,05 dan (Ft = 5,99) pada taraf α = 0,01. Hal ini menunjukkan perbedaan yang signifikan antara perlakuan/pemberian perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih dengan perlakuan/pemberian kontrol negatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih mempunyai efek menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bisul.
Hasil statistik diperoleh perbedaan bermakna antara pemberian perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih dan kontrol negatif, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk melihat perbedaan antar perlakuan dan teryata menunjukkan bahwa setiap konsentrasi varietas tidak memiliki perbedaan yang berarti satu sama lain.
Hasil Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menunjukkan perbedaan nyata
pada taraf (α = 0,05) antara pemberian perasan Rimpang Kunyit putih varietas 1 (100%), varietas 2 (100%), varietas 3 (100%), kontrol positif (20 ppm) dengan kontrol negatif. Uji Beda Nyata Terkecil pada taraf (α = 0,05) juga memperlihatkan hasil yang tidak berbeda nyata (non signifikan) antara perasan Rimpang Kunyit putih varietas 1, varietas 2, varietas 3 dengan kontrol positif. Begitu juga pada taraf (α = 0,01) menunjukkan hasil Uji Beda Nyata Terkecil yang sama pada taraf (α = 0,05).
Dari hasil Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menunjukkan tidak beda nyata antara ketiga varietas Rimpang Kunyit putih tersebut. Ini menunjukkan bahwa ketiga varietas tersebut memiliki efektivitas yang sama. Dari hasil uji tersebut di atas maka diperoleh data bahwa perasan tiga varietas Rimpang Kunyit putih memiliki zona hambatan terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus dan tidak berbeda nyata dengan
zona hambat kontrol positif (20 ppm), sehingga dapat dimanfaatkan dalam pengobatan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus aureus.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa :
Diameter hambatan rata-rata yang dihasilkan oleh Perasan Rimpang Kunyit putih dengan konsentrasi 100 % pada Varietas 1 (Curcuma
zedoaria) adalah 12 mm, Varietas 2
(Kaempferia rotunda) adalah 11 mm, Varietas 3 (Curcuma mangga) adalah 11 mm serta pembanding kontol positif amoksisilin pada konsentrasi 20 ppm adalah 11,3 mm.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut
Media farmasi vol. IX. No. 15, November 2011 166 tentang identifikasi kandungan kimia
dari tiga varietas Rimpang Kunyit putih yang berkhasiat menghambat pertumbuhan bakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007, Amoxicillin,
http://www.blogdokter.net/ diakses
tanggal 04 Februari 2011
Anonim, 2010, Kaempferia rotunda,
http://www.plantamor.com/ diakses
tanggal 06 Februari 2011
Buckle, K.A., dkk, 2009, Ilmu Pangan, Penerbit Universitas Indonesia UI-Press, Jakarta
Dalimartha, S., 2003, Atlas Tumbuhan Obat
Indonesia, Trubus Agriwidya, Jakarta
Dalimartha, S., 2007, Atlas Tumbuhan Obat
Indonesia Jilid 3, Trubus Agriwidya,
Jakarta
Djide, N.M. dan Sartini, 2005, Mikrobiologi
dan Parasitologi Dasar,
Laboratorium Mikrobiologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Makassar
Entjang, I., 2003, Mikrobiologi dan
Parasitologi Untuk Akademi
Keperawatan dan sekolah Tenaga kesehatan yang Sederajat, Penerbit
PT Citra Aditya bakti, Bandung , halm 118
Fath, 2008, Obat Manjur Bisul Tradisional, Antibiotik, dan Salep Bisul,
http://fath102.wordpress.com/
diakses tanggal 04 Februari 2011 Lay, B.W., 1994, Analisis Mikrobiologi di
Laboratorium, PT. Raja Grafindo,
Jakarta
Mausert, O., 1994, Tanaman Untuk Kesehatan, Dahara Prize, Semarang
Novi, 2010, Farmasi dan Obat Kimia,
http://cbmcare.com/ diakses tanggal
03 Februari 2011
Pangkalan Ide, 2011, Health Secret of
Turmeric (Kunyit), PT Elex Media
Komputindo, Jakarta
Pratiwi, T.S., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Penerbit Erlangga, Jakarta
Raina, 2011, Ensiklopedi Tanaman Obat
Untuk Kesehatan, Absolut, Yogyakarta
Ramdani, D., 2008, Kunyit Putih Untuk Kanker,
http://asep4212.wordpress.com/,
diakses tanggal 16 Februari 2011 Santosa, D. dan Didik G., 2000, Ramuan
Tradisional Untuk Penyakit Kulit,
Penebar Swadaya, Jakarta, halm 43-44 Syukur, C., 2004, Temu Putih Tanaman
Obat Antikanker, Penebar Swadaya,
Jakarta
Tjay, H.T., dan Rahardja, K., 2007,
Obat-Obat Penting, Edisi Keenam,
Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Kompas – Gramedia, Jakarta, halm 70
Wibisono, S., 2009, Penyebab Bisul dan Cara Mengobatinya,
http://umum.kompasiana.com/
diakses tanggal 04 Februari 2011 Windono, 2002, Temu Putih (Curcuma
zedoaria Rosc),
http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/