• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil

5.1.1. Komposisi Jenis dan Respon Jenis terhadap Daerah Peralihan

Jumlah total herpetofauna yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu 52 jenis. Amfibi yang ditemukan yaitu sebanyak 19 jenis yang terdiri dari 4 famili. Jumah jenis amfibi dari masing-masing famili yaitu famili Bufonidae (4 jenis), famili Microhylidae (3 jenis), famili Ranidae (9 jenis) dan famili Rhacophoridae (3 jenis). Semua jenis amfibi ini ditemukan di dalam jalur pengamatan. Sementara itu untuk reptil, jumlah jenis yang ditemukan sebanyak 33 jenis diantaranya 18 jenis ditemukan di dalam jalur pengamatan dan 15 jenis ditemukan di luar jalur pengamatan. Reptil yang ditemukan terdiri dari 12 famili, yaitu Boidae (1 jenis), Colubridae (15 jenis), Hydrophiidae (1 jenis), Varanidae (2 jenis), Lacertidae (1 jenis), Scincidae (1 jenis), Geckonidae (3 jenis), Agamidae (3 jenis), Crocodylidae (1 jenis), Geomydidae (2 jenis) dan Cheloniidae (3 jenis).

Komposisi jenis herpetofauna berbeda di setiap tipe habitat pengamatan. Pada daerah inti, hutan dataran rendah mempunyai jumlah jenis amfibi yang paling banyak yaitu 14 jenis kemudian kebun mempunyai 8 jenis dan yang paling sedikit yaitu hutan pantai yang hanya dijumpai 3 jenis. Sedangkan untuk reptil hutan dataran rendah dan hutan pantai mempunyai jumlah jenis yang sama yaitu 8 jenis dan kebun dijumpai 7 jenis. Pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ditemukan 11 jenis amfibi dan 5 jenis reptil. Hutan pantai pada jalur ini hanya ditemukan 1 jenis amfibi dan 2 jenis reptil, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah 5 jenis amfibi dan 2 jenis reptil dan hutan dataran rendah ditemukan 10 jenis amfibi dan 3 jenis reptil. Pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ditemukan 13 jenis amfibi dan 8 jenis reptil. Kebun pada jalur ini ditemukan 6 jenis amfibi dan 6 jenis reptil, daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ditemukan 2 jenis amfibi dan 2 jenis reptil dan hutan dataran rendah ditemukan 10 jenis amfibi dan 4 jenis reptil. Tabel berikut merupakan distribusi herpetofauna yang ditemukan di

(2)

Tabel 3 Distribusi Herpetofauna di Daerah Inti dan Daerah Peralihan di TWNC

Tipe Habitat

Total Inti Daerah Peralihan HP HDR KB DP HP-HDR DP KB-HDR HP DP HDR KB DP HDR Amfibi ∑ Famili 3 4 4 1 4 4 3 2 6 4 ∑ Jenis 3 14 8 1 5 10 6 3 10 19 ∑ Individu 7 75 12 1 7 61 10 3 32 208 Reptil ∑ Famili 4 4 4 2 2 3 5 2 3 6 ∑ Jenis 8 8 7 2 2 3 6 2 4 18 ∑ Individu 22 19 11 2 3 11 9 2 4 83 Keterangan: HP : Hutan Pantai

HDR : Hutan Dataran Rendah

KB : Kebun

DP : Daerah Peralihan

Jumlah individu seluruh jenis yang dijumpai adalah 310 individu. Jumlah tersebut terdiri dari 103 individu reptil yang dijumpai termasuk diantaranya 20 individu ditemukan di luar jalur pengamatan dan 208 individu amfibi yang semuanya ditemukan pada jalur pengamatan (Tabel 4). Famili yang mempunyai jumlah individu terbanyak pada amfibi yaitu famili Ranidae yang mempunyai jumlah 102 individu, kemudian famili Microhylidae dan famili Rhacophoridae mempunyai jumlah individu yang sama yaitu 42 individu, dan famili Bufonidae mempunyai jumlah individu yang paling sedikit yaitu 22 individu. Pada tingkat individu jenis, jenis Microhylla palmipes mempunyai jumlah individu yang paling banyak ditemukan yaitu 40 individu, sedangkan yang paling sedikit ditemukan yaitu Microhylla sp, Kaloula baleata, dan Rhacophorus appendiculatus yang hanya ditemukan 1 individu dari tiap jenis. Pada reptil, famili yang mempunyai jumlah individu terbanyak yaitu famili Scincidae. Famili ini mempunyai jumlah individu sebanyak 35 individu, padahal famili ini hanya mempunyai satu jenis yaitu Eutropis multifasciata. Sedangkan famili yang mempunyai jumlah individu paling sedikit terdiri dari 2 famili yaitu famili Boidae dan Crocodylidae yang masing-masing ditemukan 1 individu. Untuk tingkat individu, terdapat 17 jenis reptil yang hanya ditemukan 1 individu pada saat pengamatan. Jenis-jenis tersebut yaitu Python reticulatus, Aplopeltura boa, Elaphe flavolineata, Gonyosoma oxycephalum, Lycodon subcinctus, Boiga dendrophila, Psammodynastes pictus,

(3)

Draco volans, Gonocephalus camelianthinus, Crocodylus porossus, Cyclemys oldhamii, Chelonia mydas dan Lepidochelys olivacea.

(4)

Tabel 4 Jumlah Individu Herpetofauna yang Ditemukan pada Jalur di TWNC Famili Jenis

Tipe Habitat

Total Inti Daerah Peralihan HP HDR KB DP HP-HDR DP KB-HDR HP DP HDR KB DP HDR Amfibi Bufonidae Bufo melanostictus 0 0 0 0 1 0 1 0 0 2 Bufo biporcatus 2 2 0 0 2 4 0 0 0 10 Bufo quadriporcatus 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 Leptophryne borbonica 0 4 1 0 0 2 0 0 1 8 Microhylidae Microhylla palmipes 2 16 0 0 1 10 1 0 10 40 Microhylla sp 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 Kaloula baleata 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 Ranidae Rana chalconota 0 18 0 0 0 1 0 0 6 25 Rana nicobariensis 3 1 2 1 2 9 1 0 1 20 Rana picturata 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 Occidozyga sumatrana 0 5 0 0 0 8 3 0 1 17 Fejervarya limnocharis 0 12 2 0 0 3 0 2 4 23 Fejervarya cancrivora 0 0 1 0 0 0 3 0 0 4 Limnonectes macrodon 0 2 1 0 0 0 1 0 0 4 Limnonectes crybetus 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 Limnonectes blythii 0 2 3 0 0 0 0 0 0 5 Rhacophoridae Polypedates macrotis 0 1 0 0 0 14 0 0 3 18 Polypedates leucomystax 0 7 1 0 1 9 0 1 4 23 Rhacophorus appendiculatus 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1

(5)

Tabel 4 (lanjutan)

Famili Spesies

Tipe Habitat

Total Inti Daerah Peralihan HP HDR KB DP HP-HDR DP KB-HDR HP DP HDR KB DP HDR Reptil Colubridae Aplopeltura boa 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 Dendrelaphis caudolineatus 1 1 0 1 0 0 1 0 0 4 Dendrelaphis pictus 1 0 1 0 0 1 0 0 1 4 Lycodon subcinctus 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 Psammodynastes pulverulentus 0 1 1 0 0 0 0 0 1 3 Psammodynastes pictus 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 Ahaetulla prasina 0 0 3 0 0 0 0 0 0 3 Natrix trianguligera 0 3 0 0 0 0 1 0 0 4 Macropisthodon rhodomelas 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 Cerberus rynchops 3 0 0 0 0 0 0 0 0 3

Varanidae Varanus salvator 4 1 0 1 0 1 0 0 0 7

Lacertidae Takydromus sexlineatus 1 0 0 0 1 0 1 0 0 3

Scincidae Eutropis multifasciata 10 8 3 0 2 9 2 1 1 36

Geckonidae Hemydactylus frenatus 0 0 1 0 0 0 2 0 0 3

Cyrtodactylus cf fumosus 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2

Agamidae

Draco volans 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1

Draco melanopogon 0 0 0 0 0 0 2 1 0 3

(6)

Diantara jenis herpetofauna yang dijumpai pada lokasi pengamatan, terdapat jenis-jenis yang hanya ditemukan pada 1 tipe habitat. Jenis-jenis tersebut disebut jenis spesialis. Amfibi spesialis yang ditemukan di lokasi pengamatan berjumlah 8 jenis yang terdiri dari 7 jenis spesialis hutan dataran rendah dan 1 jenis spesialis kebun. Sedangkan untuk reptil, terdapat 9 jenis spesialis yang terdiri dari 2 jenis spesialis hutan pantai, 3 jenis spesialis hutan dataran rendah dan 4 jenis spesialis kebun (Tabel 5).

Tabel 5 Jenis-Jenis Herpetofauna Spesialis yang Dijumpai pada Lokasi Penelitian Tipe Habitat Amfibi Reptil

Hutan Pantai Psammodynastes pictus

Cerberus rynchops Hutan Dataran Rendah Microhylla sp Aplopeltura boa

Kaloula baleata Cyrtodactylus cf fumosus

Rana chalconota Gonocephalus camelianthinus

Rana picturata Limnonectes crybetus Polypedates macrotis Rhacophorus appendiculatus

Kebun Fejervarya cancrivora Lycodon subcinctus

Ahaetulla prasina Hemydactylus frenatus

Draco volans

Selain jenis spesialis, terdapat pula jenis yang ditemukan di beberapa tipe habitat yang disebut jenis generalis. Berikut ini merupakan jenis herpetofauna generalis yang ditemukan di lokasi penelitan (Tabel 6).

Tabel 6 Jenis-Jenis Herpetofauna Generalis yang Dijumpai pada Lokasi Penelitian Jenis Tipe Habitat Respon Terhadap Edge HP HDR KB DP HP-HDR DP KB-HDR Amfibi

Bufo melanostictus - - X X - Generalist Edge

Exploiter

Bufo biporcatus X X - X - Generalist Edge

Exploiter

Bufo quadriporcatus - X X - - Generalist Edge

Avoider

Leptophryne borbonica - X X - - Generalist Edge

Avoider

Microhylla palmipes X X X X - Generalist Edge

Exploiter

Rana nicobariensis X X X X - Generalist Edge

Exploiter

Occidozyga sumatrana - X X - X Generalist Edge

Exploiter

(7)

Jenis Tipe Habitat Respon Terhadap Edge HP HDR KB DP HP-HDR DP KB-HDR

Limnonectes macrodon - X X - - Generalist Edge

Avoider

Limnonectes blythii - X X - - Generalist Edge

Avoider

Polypedates leucomystax - X X X X Generalist Edge

Exploiter

Reptil

Dendrelaphis caudolineatus X X - - - Generalist Edge

Avoider

Dendrelaphis pictus X X X - - Generalist Edge

Avoider

Psammodynastes pulverulentus - X X - - Generalist Edge

Avoider

Natrix trianguligera - X X - - Generalist Edge

Avoider

Macropisthodon rhodomelas X X - - - Generalist Edge

Avoider

Varanus salvator X X - - - Generalist Edge

Avoider

Takydromus sexlineatus X - X X - Generalist Edge

Exploiter

Eutropis multifasciata X X X X X Generalist Edge

Exploiter

Draco melanopogon - X - X Generalist Edge

Exploiter Keterangan:

X : Dijumpai

Generalist Edge Avoider : Jenis yang menghindari daerah peralihan Generalist Edge Exploiter : Jenis yang menyukai daerah peralihan

Kurva pertambahan jenis herpetofauna yang ditemukan selama 12 minggu pengamatan dijelaskan pada Gambar 12. Jumlah jenis herpetofauna yg dijumpai tiap minggu pengamatan terus mengalami pertambahan. Untuk amfibi, memasuki minggu ke 10 mulai tidak terjadi penambahan jenis baru yang ditandai dengan kurva pertambahan jenis yang mulai mendatar, sedangkan untuk reptil, kemungkinan masih terjadi penambahan jenis baru yang ditemukan jika dilakukan penambahan usaha pencarian lebih lanjut. Kondisi ini ditandai dengan terus naiknya kurva pertambahan jenis. Usaha pencarian dilakukan oleh 2 orang untuk setiap pengamatan baik pada siang dan malam hari yang terdiri dari pengamat dan guide yang menemani dari pihak TWNC. Hasil perhitungan dengan Jackknife menunjukan bahwa kemungkinan jenis herpetofauna yang ada di lokasi tersebut masih bisa terus bertambah. Untuk jenis amfibi masih bisa bertambah antara 18,1 ≅ 18 sampai 27,5 ≅ 28 dengan standard deviasi 2,22 (selang kepercayaan 95%)

(8)

jenis reptil masih bisa bertambah 19,5 ≅ 20 sampai 27,9 ≅ 28 standar deviasi 2,22 (selang kepercayaan 95%) dan jumlah jenis yang ditemukan di satu jalur sebanyak 6 jenis.

Gambar 12 Kurva akumulasi jenis herpetofauna. 5.1.2. Indeks Keanekaragaman Jenis

Nilai keanekaragaman jenis yang dibandingkan yaitu keanekaragaman jenis pada jalur daerah peralihan yang terdiri dari daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Sedangkan yang kedua yaitu habitat daerah inti yang terdiri dari hutan pantai, hutan dataran rendah dan kebun.

(9)

Gambar 13 Indeks keanekaragaman jenis (H’) pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah.

Di jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah (Gambar 13), hutan dataran rendah mempunyai nilai keanekaragaman jenis amfibi tertinggi dengan nilai 2,04, diikuti daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah dengan nilai 1,55. Sedangkan hutan pantai mempunyai nilai keanekaragaman 0. Untuk reptil, ketiga habitat tersebut mempunyai nilai keanekaragaman yang hampir sama yaitu hutan pantai (0,69), daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah (0,64) dan hutan dataran rendah (0,60).

(10)

Di jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah (Gambar 14), daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah mempunyai nilai keanekaragaman jenis terendah baik amfibi maupun reptil dengan nilai 0,64 (amfibi) dan 0,69 (reptil). Nilai keanekaragaman jenis amfibi tertinggi terdapat pada hutan dataran rendah dengan nilai 1,96 sedangkan nilai keanekaragan jenis reptil tertinggi terdapat pada kebun dengan nilai 1,74.

Gambar 15 Indeks keanekaragaman jenis (H’) pada daerah inti di setiap tipe habitat.

Berdasarkan Gambar 15, daerah inti yang mempunyai keanekaragaman jenis amfibi tertinggi yaitu hutan dataran rendah dengan nilai 2,16, diikuti kebun dengan nilai 1,98 dan hutan pantai dengan keanekaragaman terendah dengan nilai 1,08. Pada reptil, kebun mempunyai nilai keanekaragaman tertinggi dengan nilai 1,80 sedangkan hutan dataran rendah mempunyai keanekaragaman yang terendah dengan nilai 1,59.

5.1.3. Indeks Kesamaan Jenis

Setiap kelompok amfibi dan reptil dibuat kesamaanya dengan menggunakan Ward`s Linkage Clustering berdasarkan habitatnya. Pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah terbagi menjadi tiga habitat yaitu hutan pantai, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta hutan dataran rendah. Jenis amfibi yang terdapat pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah mempunyai kesamaan lebih dekat dengan hutan pantai, dengan

(11)

nilai 77,95% dan kemudian keduanya bergabung dengan hutan dataran rendah dengan nilai 54,42%. Sedangkan jenis reptil pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah mempunyai kesamaan lebih dekat dengan hutan dataran rendah dengan nilai 91,55%, kemudian keduanya bergabung dengan hutan pantai dengan nilai 2,24% (Gambar 16).

(a) (b) Gambar 16 Dendrogram kesamaan jenis (a) amfibi dan (b) reptil pada jalur daerah

peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah.

Di jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, jenis amfibi pada pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah mempunyai kesamaan lebih dekat dengan hutan dataran rendah (60,94%), kemudian keduanya bergabung dengan hutan dataran rendah dengan nilai 27,35%. Sedangkan untuk jenis reptil pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah mempunyai kesamaan yang lebih dekat dengan kebun dengan nilai 83,36%, kemudian keduanya bergabung dengan hutan pantai dengan nilai 23,20% (Gambar 17). Tipe Habitat Ke sa m aa n HDR DP HP-HDR HP 54.42 69.61 84.81 100.00 Tipe Habitat Ke sa m aa n HDR DP HP-HDR HP 2.24 34.83 67.41 100.00

(12)

(a) (b) Gambar 17 Dendrogram kesamaan jenis (a) amfibi dan (b) reptil pada jalur daerah

peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah.

Berdasarkan Gambar 18, hutan dataran rendah mempunyai kesamaan jenis baik amfibi maupun reptil yang lebih dekat dengan hutan pantai daripada kebun. Pada amfibi, hutan pantai bergabung dengan hutan dataran rendah dengan nilai 52,51%, kemudian keduanya bergabung dengan kebun dengan nilai 44,01%. Untuk reptil, hutan pantai bergabung dengan hutan dataran rendah dengan nilai 87,93%, kemudian keduanya bergabung dengan kebun dengan nilai 64,73%.

(a) (b) Gambar 18 Dendrogram kesamaan jenis (a) amfibi dan (b) reptil pada daerah inti

di setiap tipe habitat. 5.1.4. Uji Beda Keanekaragaman Jenis

Perhitungan dengan menggunakan uji t diperlukan untuk melihat sejauh mana suatu komunitas jenis memiliki perbedaan atau persamaan dengan komunitas lain. Komunitas jenis amfibi dan reptil yang dibandingkan yaitu komunitas di daerah peralihan dengan daerah inti serta antar daerah inti.

Tipe Habitat K es am aan HDR DP KB-HDR KB 27.35 51.56 75.78 100.00 Tipe Habitat K es am aan HDR DP KB-HDR KB 23.20 48.80 74.40 100.00 Tipe Habitat K es am aan KB HDR HP 44.02 62.68 81.34 100.00 Tipe Habitat Ke sa m aa n KB HDR HP 64.73 76.49 88.24 100.00

(13)

Parameter yang dibandingkan yaitu indeks keanekaragaman jenis (H’) pada masing-masing habitat di setiap jalur pengamatan. Tabel berikut merupakan hasil perhitungan uji t antara daerah peralihan dengan daerah inti serta antar daerah inti (Tabel 7).

Tabel 7 Nilai t Hitung antar Tipe Habitat Habitat

HP HDR KB Amfibi Reptil Amfibi Reptil Amfibi Reptil

DP HP-HDR Amfibi *ns 3,73 s Reptil * ns 0,58 ns DP KB-HDR Amfibi * ns * ns Reptil 0 ns 0,43 ns HP Amfibi 3,93 s 0,78 ns Reptil 0,7 ns 0,13 ns HDR Amfibi 1,96 ns Reptil 0,6 ns Keterangan:

* : All values in column are identical ns : non significat

s : significant

Berdasarkan Tabel 7, terdapat 4 perbandingan keanekaragaman antar tipe habitat yang tidak menghasilkan nilai. Perbandingan tersebut terdapat pada hutan pantai dengan daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah baik amfibi maupun reptil, amfibi pada kebun dengan daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, serta amfibi pada hutan dataran rendah dengan daerah peralihan antara kebun dengan hutan daratan rendah. Semua uji menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antar habitat kecuali amfibi pada hutan dataran rendah dengan daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta amfibi pada hutan pantai dengan hutan dataran rendah.

5.1.5. Distribusi Spasial

Herpetofauna yang terdapat pada jalur antara hutan pantai dan hutan dataran rendah tersebar pada 4 jalur pengamatan yaitu Sekawat yang terdiri dari 2 jalur pengamatan dan Blambangan yang juga terdiri dari 2 jalur pengamatan. Sedangkan herpetofauna yang terdapat pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah tersebar pada 4 jalur yaitu 2 jalur di Penangkaran dan 2 jalur

(14)

Tanjung Mas. Distribusi herpetofauna pada jalur darah peralihan disajikan berikut ini (Tabel 8; Gambar 19-22 dan Gambar 25-28).

Tabel 8 Distribusi Herpetofauna pada Jalur Daerah Peralihan

Habitat Jalur Amfibi Reptil Total Jenis Individu Jenis Individu Jenis Individu

DP HP-HDR Sekawat I HP 0 0 1 1 1 1 DP 0 0 2 3 2 3 HDR 6 10 1 3 7 13 Sekawat II HP 0 0 1 1 1 1 DP 1 1 0 0 1 1 HDR 4 10 2 2 6 12 Blambangan I HP 1 1 0 0 1 1 DP 4 6 0 0 4 6 HDR 8 24 1 1 9 25 Blambangan II HP 0 0 0 0 0 0 DP 0 0 0 0 0 0 HDR 7 17 2 5 9 22 DP HP-HDR Tanjung Mas I KB 1 1 4 6 5 7 DP 0 0 0 0 0 0 HDR 5 12 2 2 7 14 Tanjung Mas II KB 3 6 1 1 4 7 DP 1 1 2 2 3 3 HDR 2 3 1 1 3 4 Penangkaran I KB 0 0 1 1 1 1 DP 1 2 0 0 1 2 HDR 8 17 1 1 9 18 Penangkaran II KB 3 3 1 1 4 4 DP 0 0 0 0 0 0 HDR 0 0 0 0 0 0

(15)
(16)
(17)
(18)
(19)

(a)

(b)

Gambar 23 Jumlah (a) amfibi dan (b) reptil yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah.

Jumlah total individu yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah yaitu 85 individu yang terdiri dari 69 individu dari 11 jenis amfibi dan 16 individu dari 5 jenis reptil (Gambar 23). Amfibi yang terdapat di hutan pantai pada jalur ini hanya 1 individu, sedangkan untuk reptil dijumpai 2 individu dari 2 jenis. Pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ditemukan 7 individu dari 5 jenis amfibi dan 3

(20)

individu dari 2 jenis reptil. Sedangkan hutan dataran rendah mempunyai jumlah individu terbanyak yaitu 72 individu yang terdiri dari 61 individu dari 10 jenis amfibi dan 11 individu dari 3 jenis reptil. Berdasarkan gambar 23 (a), daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah mempunyai jumlah jenis dan jumlah individu yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutan pantai, tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan hutan dataran rendah. Terlihat bahwa kelimpahan individu kecil pada hutan pantai (posisi 0-100 meter) dan bertambah pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah (100-200 meter), kemudian bertambah pada hutan dataran rendah (200-900 meter). Kelimpahan tertinggi terdapat pada posisi 500-600 meter. Sedangkan untuk reptil (Gambar 23 b), sebaran individu di ke tiga habitat cukup merata tiap 100 meter. Hanya saja hutan dataran rendah yang mempunyai jalur lebih panjang mempunyai kelimpahan dan jumlah jenis yang lebih tinggi di bandingkan dengan hutan pantai serta daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah.

Jumlah total individu yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah yaitu 60 individu yang terdiri dari 45 individu dari 13 jenis amfibi dan 15 individu dari 8 jenis reptil (Gambar 24). Amfibi yang terdapat di kebun pada jalur ini yaitu 10 individu dari 6 jenis, sedangkan untuk reptil dijumpai 9 individu dari 6 jenis. Pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ditemukan 3 individu dari 2 jenis amfibi dan 2 individu dari 2 jenis reptil. Sedangkan hutan dataran rendah mempunyai jumlah individu terbanyak yaitu 36 individu yang terdiri dari 32 individu dari 10 jenis amfibi dan 4 individu dari 4 jenis reptil. Berdasarkan gambar 24 (a), daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah (400-600 m) mempunyai jumlah individu dan jenis amfibi yang lebih rendah dibandingkan dengan kebun (0-400 m) dan hutan dataran rendah (600-900 m). Jumlah individu amfibi ketika mendekati daerah peralihan mengalami kenaikan. Hal itu terlihat pada jalur 300-400 m yang lebih tinggi dibandingkan pada jalur 0-300 m. Habitat hutan dataran rendah memiliki jumlah individu yang terbanyak diantara habitat kebun maupun daerah peralihan antara kebun dah hutan dataran rendah. Sedangkan untuk reptil (Gambar 24 b), jumlah individu dan jenis lebih banyak terdapat pada habitat kebun. Sedangkan daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah mempunyai jumlah jenis

(21)

dan individu paling rendah dibandingkan dengan habitat kebun dan hutan dataran rendah.

(a)

(b)

Gambar 24 Jumlah (a) amfibi dan (b) reptil yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah.

(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

Di jalur habitat inti, jumlah herpetofauna total yang ditemukan 146 individu yang terbagi kealam 3 habiat inti yaitu hutan pantai sebanyak 29 individu, hutan dataran rendah sebanyak 94 individu dan kebun sebanyak 23 individu. Distribusi herpetofauna pada jalur habitat inti disajikan sebagai berikut (Tabel 9; Gambar 29-40).

Tabel 9 Distribusi Herpetofauna pada Jalur Daerah Inti

Habitat Jalur Amfibi Reptil Total Jenis Individu Jenis Individu Jenis Individu

Hutan Pantai Sekawat 3 4 3 12 6 16 Seyleman 0 0 2 2 2 2 Blambangan 1 2 5 8 6 10 Belimbing 1 1 0 0 1 1 Jumlah Total 3 7 8 22 11 29 Hutan Dataran Rendah Duku Satu I 8 24 6 8 14 32 Duku Satu II 8 14 0 0 8 14 Way Seyleman I 5 26 4 5 9 31 Way Seyleman II 4 11 4 6 8 17 Jumlah Total 14 75 8 19 22 94 Kebun Pulau-Pulau I 2 2 2 2 4 4 Pulau-Pulau II 7 9 4 5 11 14 Penangkaran 0 0 3 3 3 3 Pengekahan 1 1 1 1 2 2 Jumlah Total 8 12 7 11 15 23

(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)

5.2 Pembahasan

5.2.1. Komposisi Jenis dan Respon Jenis terhadap Daerah Peralihan

Jumlah jenis herpetofauna yang ditemukan pada daerah peralihan baik daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ternyata lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah inti yang mengapitnya (hutan pantai, hutan dataran rendah dan kebun). Hal ini tidak sesuai dengan teori efek tepi yang menyatakan bahwa jumlah jenis dan kepadatan populasi dari beberapa jenis lebih besar di daerah peralihan daripada di komunitas yang mengapitnya (Odum 1993). Hal tersebut terjadi karena luasan daerah peralihan yang lebih sempit dibandingkan dengan daerah yang mengapitnya sehingga habitat tersebut hanya dapat menampung jenis yang lebih sedikit dibandingkan dengan daerah yang mengapitnya. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Schlaepfer and Gavin (2001) dan Lehtinen et al. (2003) yang menyatakan bahwa herpetofauna, terutama amfibi, umumnya lebih menyukai daerah inti karena mempunyai suhu yang lebih dingin, lebih lembab sehingga lebih kondusif untuk kelangsungan hidup khususnya selama periode kering. Hillers et al. (2008) juga menyatakan bahwa degradasi habitat akan membentuk suatu daerah peralihan sehingga menyebabkan berkurangnya serasah yang membuat penurunan populasi dari katak serasah. Sedangkan menurut penelitian Dawson and Hostetler (2008) tidak menemukan perbedaan nyata dalam komposisi dan kekayaan jenis pada daerah peralihan dan daerah inti. Menurut Urbina-Cardona et al. (2006) tutupan tajuk, tutupan serasah, kepadatan tumbuhan bawah, kedalaman serasah, dan variasi suhu yang mempengaruhi perbedaan komposisi dan kekayaan jenis herpetofauna antara daerah peralihan dan daerah inti.

Berbeda dengan satwa lain, beberapa herpetofauna merupakan satwa yang mempunyai habitat yang spesifik dengan kondisi iklim yang berbeda dengan iklim di daerah sekitarnya, atau dikenal dengan istilah mikrohabitat. Herpetofauna seperti ini disebut sebagai herpetofauna spesialis. Selain itu ada juga jenis herpetofauna generalis (hidup pada habitat yang umum, bahkan pada kondisi habitat yang tercemar). Dengan adanya perbedaan tersebut, membuat herpetofauna sangat baik jika digunakan sebagai bioindikator kesehatan

(40)

lingkungan. Mereka pada umumnya dianggap sebagai indikator biologi karena mereka tinggal pada habitat yang spesifik dan mempunyai kepekaan/ sensifitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Secara fisiologis, herpetofauna khususnya amfibi mempunyai telur dan kulit yang memiliki sifat permeabilitas, dimana air dan gas dapat keluar masuk dan dapat menyerap polutan/ bahan pencemar seperti bahan kimia beracun, dan unsur lain dari sekitar lingkungan (Stebbins and Cohen 1997). Suatu lingkungan yang masih baik tentu terdapat jenis-jenis herpetofauna spesialis yang biasa hidup pada kondisi yang tertentu masih alami. Jika terjadi kerusakan lingkungan maka jenis-jenis herpetofauna spesialis tersebut akan hilang dan akan tergantikan oleh jenis-jenis yang mampu bertahan terhadap lingkungan yang tercemar atau rusak.

Pada lokasi penelitian, amfibi spesialis yang ditemukan pada lokasi pengamatan berjumlah 8 jenis yang terdiri dari 7 jenis spesialis hutan dataran rendah yaitu Microhylla sp, Kaloula baleata, Rana chalconota, Rana picturata, Limnonectes crybetus, Polypedates macrotis dan Rhacophorus appendiculatus Satu jenis lagi yaitu Fejervarya cancrivora yang merupakan amfibi spesialis kebun. Menurut Iskandar (1998), jenis ini bukan hanya ditemukan di daerah kebun saja tetapi jenis ini merupakan jenis yang banyak ditemukan pada daerah terganggu. Pada hutan pantai tidak dijumpai amfibi spesialis karena air yang terdapat pada hutan pantai yaitu air asin sehingga tidak begitu baik untuk menunjang kehidupan amfibi. Menurut Iskandar (1998), tidak ada jenis katak yang tahan terhadap air asin dan air payau kecuali pada dua jenis katak salah satunya yaitu Fejervaria cancrivora. Jenis-jenis amfibi lain yang ditemukan di hutan pantai kebanyakan ditemukan pada tempat yang dekat dengan kubangan. Kubangan tersebut merupakan kubangan sementara yang sumber airnya berasal dari air hujan. Banyaknya jenis amfibi spesialis yang ditemukan pada hutan dataran rendah karena hutan dataran rendah lebih menunjang kehidupan bagi amfibi dibandingkan dengan habitat lainnya dengan mempunyai berbagai macam strata tajuk, sehingga sinar matahari yang sampai pada dasar hutan menjadi sedikit. Dengan keadaan ini hutan dataran rendah mempunyai kondisi dalam hutan (mikrohabitat) yang lebih dingin dan sejuk dibandingkan dengan habitat lainnya. Hal tersebut yang membuat amfibi lebih memilih pada hutan dataran rendah

(41)

karena kebanyakan jenis amfibi hidup di kawasan berhutan karena membutuhkan kelembaban yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan. Struktur vegetasi hutan merupakan salah satu bentuk pelindung yang digunakan oleh satwaliar untuk tempat penyesuaian terhadap perubahan suhu (thermal cover) (Alikodra 2002). Selain itu hutan dataran rendah mempunyai lebih banyak jenis vegetasi dibandingkan dengan habitat lain. Semakin tinggi keanekaragaman jenis vegetasi maka semakin tinggi pula keanekaragaman satwaliarnya (Odum 1993; Primack et al. 1998; Alikodra 2002).

Pada reptil, jenis spesialis yang ditemukan berjumlah 9 jenis yang terdiri dari 2 jenis spesialis hutan pantai yaitu Psammodynastes pictus dan Cerberus rynchops, 3 jenis spesialis hutan dataran rendah yaitu Aplopeltura boa, Cyrtodactylus cf fumosus dan Gonocephalus camelianthinus serta 4 jenis spesialis kebun yaitu Lycodon subcinctus, Ahaetulla prasina, Hemydactylus frenatus dan Draco volans. Banyaknya jenis spesialis pada habitat kebun karena kebanyakan jenis reptil lebih menyukai daerah yang tidak terlalu tertutup. Daerah terbuka diperlukan agar sinar matahari dapat masuk ke dasar. Banyak jenis reptil yang mengeksposekan sebagian besar tubuhnya dibawah terik sinar matahari pada waktu pagi dan siang hari. Sinar matahari diperlukan untuk membuat tubuh menjadi panas sehingga panas tersebut dapat digunakan menjalankan proses metabolisme pada reptil. Perilaku ini dikenal dengan istilah basking (berjemur), dan dilakukan kebanyakan oleh jenis kadal-kadalan (Cogger 1999).

Sedangkan pada jenis generalis (jenis yang ditemukan di beberapa tipe habitat) terbagi menjadi dua macam jika dilihat responnya terhadap daerah peralihan yaitu jenis generalist edge avoider dan jenis generalist edge exploiter. Amfibi yang termasuk ke dalam generalist edge avoider yaitu Bufo quadriporcatus, Leptophryne borbonica, Limnonectes macrodon dan Limnonectes blythii. Keempat jenis ini tidak ditemukan pada daerah peralihan, tetapi ditemukan pada daerah inti pada habitat hutan dataran rendah dan kebun. Sedangkan amfibi yang termasuk ke dalam generalist edge exploiter terdiri dari 7 jenis yaitu Bufo biporcatus, Bufo melanostictus, Microhylla palmipes, Polypedates leucomystax, Occidozyga sumatrana, Rana nicobariensis dan Fejervarya limnocharis. Diantara semua jenis amfibi generalis, terdapat 3 jenis yang mempunyai penyebaran paling

(42)

luas yaitu Microhylla palmipes, Polypedates leucomystax dan Rana nicobariensis. Ketiga jenis amfibi ini tersebar pada 4 dari 5 tipe habitat yang diteliti termasuk daerah peralihan. Polypedates leucomystax ditemukan pada kebun, hutan dataran rendah, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Sedangkan Microhylla palmipes dan Rana nicobariensis ditemukan pada seluruh habitat kecuali pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Ketiga jenis ini merupakan jenis yang umum dijumpai bahkan bisa hidup pada habitat terganggu di dekat hunian manusia. Selain itu ketiga jenis ini mempunyai penyebaran yang luas (Iskandar 1998).

Reptil yang tergolong ke dalam jenis generalist edge avoider terdiri dari 6 jenis yaitu Dendrelaphis caudolineatus, Dendrelaphis pictus, Psammodynastes pulverulentus, Natrix trianguligera, Macropisthodon rhodomelas dan Varanus salvator. Sedangkan reptil yang tergolong ke dalam jenis generalist edge exploiter terdiri dari 3 jenis yaitu Takydromus sexlineatus, Draco melanopogon dan Eutropis multifasciata. Eutropis multifasciata merupakan jenis reptil generalis yang mempunyai penyebaran paling luas. Jenis ini ditemukan pada semua tipe habitat yang diteliti termasuk daerah peralihan. Menurut Cox et al. (1998), Eutropis multifasciata merupakan jenis yang umum dijumpai dekat dengan hunian manusia dan hutan dataran rendah. Jenis ini tersebar luas mulai dari India Timur sampai Hainan dan Papua Nugini.

Jenis spesialis merupakan jenis yang lebih rentan mengalami kepunahan jika terjadi gangguan dan perubahan lingkungan dibandingkan dengan jenis generalis karena jenis spesialis hanya mampu hidup pada habitat spesifik, jika terjadi gangguan pada habitat tersebut maka jenis-jenis spesialis tidak mampu berpindah dan hidup di habitat yang baru. Sedangkan jenis generalis merupakan jenis yang mampu bertahan di berbagai tipe habitat karena jenis generalis biasanya mempunyai kemampuan adaptasi dan toleransi terhadap lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis spesialis. Jenis-jenis spesialis tersebut merupakan jenis yang harus menjadi prioritas dalam suatu pengelolaan karena kerentanannnya terhadap kepunahan jika terjadi gangguan. Menurut Lehtinen et al. (2003) yang melakukan penelitian pada amfibi dan reptil

(43)

Madagaskar menyatakan bahwa jenis yang ditemukan di pedalaman hutan, yang cenderung menghindari tepi lebih rentan terhadap kepunahan.

Pada (Gambar 11) kurva akumulasi jenis reptil dan amfibi, terlihat bahwa dari seluruh total jenis reptil dan amfibi yang ditemukan terus mengalami peningkatan jumlah jenis di setiap minggunya. Hal tersebut dikarenakan oleh penemuan jumlah reptil yang terus meningkat. Terus meningkatnya jumlah reptil pada kurva diduga disebabkan oleh sifat dan keberadaan reptil yang lebih sulit dijumpai dari pada amfibi, Reptil mempunyai mobilitas yang tinggi dibandingkan dengan amfibi sehingga selalu memungkinkan untuk menemukan jenis-jenis baru. Oleh karena itu dibutuhkan waktu penelitiannya yang lebih lama untuk mendapatkan kondisi kurva yang stabil atau mendatar. Menurut informasi dari masyarakat terdapat jenis-jenis reptil yang ada pada kawasan TWNC tetapi tidak ditemukan pada saat penelitian diantaranya yaitu labi-labi (Dogonia sublana), ular kobra (Naja sp), ular koros (Pytas korros), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), ular viper (Trimeresurus hageni), ular weling (Bungarus candidus) dan kadal perut hijau (Dasia olivacea). Sementara kurva akumulasi jenis amfibi dari tiap minggunya mengalami peningkatan dan diakhiri dengan kondisi stabil pada akhir minggu pengamatan. Hal tersebut dikarenakan oleh penemuan amfibi yang lebih mudah kita jumpai, namun hasil tersebut masih memungkinkan untuk menemukan jenis baru jika waktu penelitiannya dilakukan lebih lama.

Jumlah jenis amfibi yang ditemukan di TWNC dengan jumlah 19 jenis tergolong sedikit jika dibandingkan dengan penelitian lain yang ada di Sumatera. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan penelitian oleh Sudrajat (2001) sebanyak 26 jenis pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan dan Darmawan (2008) pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi sebanyak 37 jenis, Ul-Hasanah (2006) pada lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebanyak 44 jenis dan Kurniati (2007) pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat sebanyak 70 jenis. Tetapi jumlah jenis amfibi di TWNC lebih banyak dibandingkan dengan penelitian Widyananto (2009) yang menemukan 14 jenis amfibi pada kawasan Siberut Conservation Program (SCP), Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sedangkan untuk reptil di TWNC ditemukan 33 jenis reptil. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan

(44)

dengan Sudrajat (2001) pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan yakni sebanyak 27 jenis. Yusuf (2008) pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi sebanyak 31 jenis. Tetapi jumlah tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan Kurniati (2007) pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat sebanyak 38 jenis dan Endarwin (2006) pada lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebanyak 51 jenis.

Perbedaan jumlah jenis amfibi dan reptil yang ditemukan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti perbedaan usaha dalam pencarian, lama waktu penelitian dan cakupan wilayah penelitian baik dalam ketinggian maupun luasan area. Pada lokasi penelitian di TWNC ketinggian mulai dari 0-117 mdpl. Sementara penelitian yang dilakukan di daratan Sumatera umumnya dilakukan pada ketinggian yang bervariasi dan luasan yang berbeda, seperti penelitian Endarwin (2006) dan Ul-Hasanah (2006) yang dilakukan pada ketinggian 50 - 1200 mdpl. Penelitian Widyananto (2009) pada ketinggian 15-20 mdpl serta penelitian Darmawan (2008) dan Yusuf (2008) pada ketinggian 350-550 mdpl. Adanya perbedaan ketinggian ini membuat jenis-jenis herpetofauna yang ada pada daerah dataran tinggi tidak ditemukan pada penelitian ini.

Herpetofauna merupakan satwa poikiloterm sehingga tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri. Panas tubuh didapatkan dari lingkungan, sehingga lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan herpetofauna. Herpetofauna khususnya reptil biasanya mangeksposekan tubuhnya di bawah cahaya matahari dalam rangka meningkatkan temperatur badan mereka. Karena kebiasaan ini maka herpetofauna sangat peka terhadap radiasi sinar Ultra Violet (UV-B), jika terjadi peningkatan sinar UV-B maka akan membahayakan bagi kehidupan herpetofauna. Pengurangan lapisan ozon di atmosfer menyebabkan meningkatnya radiasi UV-B ke bumi. Sementara itu, tempat-tempat dengan ketinggian atau tempat dengan vegetasi jarang lebih rentan terhadap efek radiasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa radiasi UV-B ambient dapat membunuh beberapa telur amfibi, selain itu radiasi UV-B dapt menimbulkan kerentanan amfibi terhadap penyakit (Kusrini 2009).

Suhu dan kelembaban merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan herpetofauna. Pada lokasi pengamatan suhu udara yang diperoleh

(45)

berkisar 26° sampai 30°C. Jika dibandingkan dengan beberapa penelitian lainnya yang ada di Sumatera, suhu penelitian di TWNC tidak jauh berbeda, seperti penelitian Sudrajat (2001) di beberapa lokasi di Sumatera Selatan yaitu di Muara Banyuasin suhu berkisar antara 25° sampai 27°C, Lahat antara 23° sampai 25°C dan di Musi Rawas antara 24° sampai 27°C. Penelitian Endarwin (2006) dan Ul-Hasanah (2006) yang dilakukan di TNBBS mendapat kisaran suhu udara 19,46° sampai 25,77°C. Penelitian Darmawan (2006) dan Yusuf (2006) di lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi suhu berkisar antara 20° sampai 32°C dan Widyananto melakukan penelitian di SCP dengan suhu berkisar antara 23° sampai 29°C. Hal tersebut sesuai dengan Goin and Goin (1971) yang menyatakan bahwa katak memiliki toleransi suhu antara 3° sampai 41°C. van Hoeve (2003) yang menyatakan reptil hidup aktif pada suhu antara 20° sampai 40°C.

Kelembaban pada lokasi penelitian diperoleh berkisar antara 64% – 92%. Hal tersebut menunjukan kondisi tajuk yang lebih relatif terbuka dibandingkan dengan lokasi penelitian Endarwin (2006) dan Ul-Hasanah (2006) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sebesar 84%-99% dan Widyananto (2009) di SCP dengan kelembaban berkisar antara 81% – 85% . Namun bila dibandingkan dengan Sudrajat (2001) pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan yang memperoleh kelembaban 30% - 90%, Darmawan (2008) dan Yusuf (2008) pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi dengan kelembaban 36 – 83 %, kondisi tajuk di TWNC lebih tertutup. Kelembaban yang tinggi diperlukan bagi amfibi untuk mencegah kulitnya kekeringan (Iskandar 1988).

5.2.2. Indeks Keanekaragaman dan Kesamaan Jenis

Nilai keanekaragaman amfibi dan reptil berbeda pada setiap tipe habitat. Nilai keanekaragaman pada lokasi penelitian berkisar antara 0-2,18 untuk amfibi dan 0,6-1,8 untuk reptil. Nilai keanekaragaman tersebut tergolong rendah sampai sedang baik untuk amfibi maupun reptil. Pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah, nilai keanekaragaman reptil hampir sama pada setiap tipe habitat pada jalur ini Sedangkan untuk amfibi, nilai keanekaragaman jenis cenderung naik mulai dari pantai hingga hutan dataran rendah (Gambar 12),

(46)

hal tersebut diduga semakin kearah hutan dataran rendah semakin rapat tutupan tajuknya sehingga semakin lembab dan stabil habitatnya maka sesuai untuk menunjang kehidupan amfibi. Pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, nilai keanekaragaman jenis amfibi maupun reptil lebih rendah pada daerah peralihan daripada habitat inti yang mengapitnya. Rendahnya nilai keanekaragaman pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah diduga karena daerah tersebut merupakan ruang kosong yang bekas bukaan untuk kebun yang tidak ditanami oleh tanaman yang memisahkan daerah antara kebun dan hutan dataran rendah. Pada habitat inti, hutan pantai memiliki nilai keanekaragaman terendah baik amfibi maupun reptil, sedangkan nilai keanekaragaman tertinggi untuk amfibi yaitu hutan dataran rendah, sedangkan yang tertinggi untuk reptil yaitu kebun. Nilai keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas bukan hanya dipengaruhi oleh banyaknya jumlah jenis tetapi juga kelimpahan dari masing-masing jenis dalam suatu komunitas (Odum 1993). Menurut Krebs (1978), terdapat 6 faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis yaitu waktu, heterogenitas ruang, persaingan, lingkungan yang stabil, pemangsaan dan produktivitas.

Indeks kesamaan jenis menunjukkan seberapa besar hubungan antar komunitas di lokasi penelitian. Pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah, daerah peralihan mempunyai kesamaan jenis amfibi lebih dekat dengan hutan pantai karena meskipun hutan pantai hanya ditemukan 1 jenis yaitu Rana nicobariensis yang juga ditemukan di daerah peralihan dan di hutan dataran rendah, tetapi terdapat banyak jenis amfibi di hutan dataran rendah yang tidak ditemukan di daerah peralihan. Sedangkan reptil pada daerah peralihan mempunyai kesamaan yang lebih dekat dengan hutan dataran rendah karena ditemukan jenis yang sama yaitu Eutropis multifasciata. Pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, daerah peralihan mempunyai kesamaan jenis amfibi lebih dekat dengan hutan dataran rendah karena kedua jenis amfibi yang ditemukan di daerah peralihan yaitu Fejervarya limnocharis dan Polypedates leucomystax juga ditemukan di hutan dataran rendah, tetapi tidak ditemukan di kebun. Sedangkan untuk reptil, daerah peralihan mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan kebun karena 2 jenis reptil yang ditemukan di

(47)

daerah peralihan yaitu Eutropis multifasciata dan Draco melanpogon ditemukan juga pada kebun, tetapi hanya Eutropis multifasciata yang ditemukan pada hutan dataran rendah. Pada habitat inti, hutan pantai mempunyai kesamaan jenis baik amfibi dan reptil yang lebih dekat dengan hutan dataran rendah dibandingkan dengan kebun karena jenis yang pada hutan pantai mempunyai banyak jenis yang sama dengan hutan dataran rendah dibandingkan dengan kebun. Kesamaan jenis tersebut diduga disebabkan jarak yang tidak jauh antara hutan pantai dan hutan dataran rendah yang langsung terhubung. Sedangkan pada kebun dan hutan dataran rendah terdapat sedikit ruang kosong yang bekas bukaan untuk kebun yang tidak ditanami oleh tanaman. Selain itu struktur dan komposisi vegetasi pada hutan pantai lebih mirip dengan hutan dataran rendah dibandingkan dengan kebun. Hutan pantai dan hutan dataran rendah mempunyai karakteristik yang alami, sedangkan kebun merupakan habitat buatan manusia.

Berdasarkan uji statistik (Tabel 7) yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya perbedaan nyata antar habitat yang diuji, ternyata terdapat 4 uji perbandingan nilai keanekaragaman yang tidak menghasilkan nilai yaitu uji antara hutan pantai dengan daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah baik amfibi maupun reptil, amfibi pada kebun dengan daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, serta amfibi pada hutan dataran rendah dengan daerah peralihan antara kebun dengan hutan daratan rendah. Tidak adanya nilai yang muncul pada uji tersebut karena nilai rata-rata pada salah satu habitat yang diuji yaitu 0. Nilai tersebut menunjukkan bahwa jumlah jenis yang ditemukan pada jalur di habitat tersebut tidak lebih dari satu jenis sehingga nilai keanekaragaman jenisnya 0. Beda nyata nilai keanekaragaman jenis terlihat pada uji nilai keanekaragaman jenis amfibi pada hutan dataran rendah dengan daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta amfibi pada hutan pantai dengan hutan dataran rendah. Adanya beda nyata karena hutan dataran rendah mempunyai jumlah amfibi yang lebih banyak baik jumlah jenis maupun jumlah individu dibandingkan dengan hutan pantai maupun daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah. Sedangkan delapan uji lainnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata pada uji keanekaragaman jenis. Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis yang ditemukan tidak jauh berbeda antar

(48)

tipe habitat. Hal tersebut dikarenakan tiap habitat mempunyai letak yang bersebelahan dan luasan habitat yang diteliti tidak terlalu luas.

5.3.3. Distribusi Spasial

Jumlah individu seluruh jenis herpetofauna yang dijumpai adalah 310 individu dari 52 jenis. Habitat hutan dataran rendah merupakan habitat yang mempunyai jumlah individu maupun jenis terbanyak untuk amfibi. Jumlah tersebut terdiri dari 75 individu dari 14 jenis amfibi. Sedangkan reptil, mempunyai jumlah jenis dan jumlah individu terbanyak pada habitat hutan pantai dengan 22 individu dari 8 jenis reptil. Jika dilihat pada Gambar 22 dan 23, maka distribusi spasial amfibi berbeda dengan distribusi spasial pada reptil. Distribusi spasial pada amfibi cenderung mengelompok pada daerah tertentu, sedangkan pada reptil cenderung acak. Hal tersebut terjadi karena adanya genangan-genangan air yang terdapat pada jalur pengamatan. Banyak jenis amfibi yang selalu ditemukan pada atau dekat dengan air, seperti Occidozyga sumatrana, Bufo quadriporcatus, Bufo biporcatus, Polypedates macrotis dan Polypedates leucomystax. Hal tersebut sesuai dengan sifat amfibi yang hidup selalu berasosiasi dengan air untuk menjaga permukaan kulitnya agar tetap lembab (Iskandar 1998). Sedangkan untuk reptil penyebarannya cenderung acak karena reptil mempunyai mobilitas yang lebih tinggi sehingga mempunyai daerah jelajah yang lebih luas dibandingkan dengan amfibi. Perbedaan distribusi spasial jenis herpetofauna yang dijumpai pada lokasi penelitian berkaitan dengan kondisi setiap tipe habitat. Setiap tipe habitat yang ada memiliki karakteristik tersendiri yang dapat mendukung dan menunjang kebutuhan hidup herpetofauna, baik berupa cover untuk berlindung maupun kemudahan memperoleh satwa mangsa (Purbatrapsila 2009).

5.2.4. Status Jenis Herpetofauna

Dari 52 jenis herpetofauna yang dijumpai, terdapat beberapa jenis yang masuk kedalam daftar CITES, IUCN dan PP no: 7 tahun 1999. CITES (The Convention on Inernational Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) adalah suatu kesepakatan bersama tingkat internasional yang dicanangkan pada tahun 1973 dan mulai diaktifkan peraturan konvensinya pada tanggal 1 Juli

(49)

1975 dalam hal perdagangan internasional hidupan liar (flora dan fauna). Perjanjian ini dibentuk setelah adanya kerisauan akan semakin menurunnya populasi hidupan liar akibat adanya perdagangan internasional. Sedangkan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) merupakan suatu organisasi profesi tingkat dunia yang memantau keadaan populasi suatu jenis hidupan liar (flora dan fauna) dan banyak memberikan rekomendasi dalam hal penanganan terhadap suatu jenis hidupan liar yang hampir punah. Sedangkan PP no: 7 tahun 1999 merupakan peraturan pemerintah Republik Indonesia yang berisi jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Jenis amfibi yang ditemukan tidak ada satupun yang masuk ke dalam daftar CITES (2009) dan PP no: 7 tahun 1999. Sedangkan menurut kategori IUCN (2009), amfibi yang ditemukan termasuk kedalam kategori Vulnerable (VU), Near Threatened (NT) dan Least Concern (LC). Vulnerable diterapkan pada takson yang tidak termasuk dalam kategori Critically Endangered (CR) atau Endangered (EN) namun mengalami resiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat sehingga dapat digolongkan dalam Extinct in the wild (EW). Suatu taxon disebut Near Threatened setelah penilaian yang dilakukan tidak sesuai dengan criteria CE, E, atau VU pada masa sekarang tetapi lebih dekat untuk mengelompokkannya pada suatu kategori terancam di masa dekat mendatang. Sedangkan suatu taxon disebut Least Concern setelah penilaian yang dilakukan tidak sesuai dengan CE, E, atau VU dan NT pada masa sekarang. Pada kondisi kategori ini takson-takson tersebar luas dan melimpah (IUCN 2001). Terdapat 1 jenis amfibi yang termasuk ke dalam status VU yaitu Limnonectes macrodon. Status NT juga hanya terdapat 1 jenis amfibi yaitu Limnonectes blythii. Terdapat 4 jenis amfibi yang tidak termasuk kategori IUCN karena belum dievaluasi yaitu Microhylla palmipes, Microhylla sp, Rana nicobariensis dan Limnonectes crybetus. Sedangkan sisanya yang terdiri dari 13 jenis amfibi tergolong ke dalam status LC.

Dari 32 jenis reptil yang ditemukan terdapat 8 jenis yang masuk dalam kategori CITES. Tiga jenis yaitu Chelonia mydas, Eretmochelys imbricata dan Lepidochelys olivacea yang termasuk kedalam golongan penyu laut masuk ke dalam kategori Appendix I. Sedangkan 5 jenis lainnya yaitu Python reticulatus,

(50)

Varanus salvator, Varanus rudicolis, Crocodylus porossus dan Cuora amboinensis masuk ke dalam kategori Appendix II. Jenis yang termasuk kedalam Apendiks I yaitu jenis yang jumlahnya di alam sudah sangat sedikit dan dikhawatirkan akan punah. Perdagangan komersial untuk jenis-jenis yang termasuk kedalam Appendix I ini sama sekali tidak diperbolehkan. Sedangkan kategori Appendix II yaitu semua jenis kehidupan liar walau tidak dalam kondisi terancam dari kepunahan, tetapi mempunyai kemungkinan untuk terancam punah jika perdagangannnya tidak diatur (Soehartono dan Mardiastuti 2003). Diantara 32 jenis reptil, terdapat 4 jenis yang dilindungi menurut PP No:7 Tahun 1999, yaitu Chelonia mydas, Eretmochelys imbricata dan Lepidochelys olivacea dan Crocodylus porossus.

Terdapat 4 jenis reptil yang masuk ke kategori dalam IUCN (IUCN 2009). Reptil yang ditemukan termasuk kedalam kategori Vulnerable (VU), Endangered (EN) dan Critically Endangered (CR). Reptil yang masuk kategori VU terdapat 2 jenis yaitu Cuora amboinensis dan Lepidochelys olivacea. Chelonia mydas masuk ke dalam kategori ED dan Eretmochelys imbricata masuk ke dalam kategori CE. Endangered diterapkan pada takson yang tidak termasuk dalam kategori CR namun mengalami resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dan dimasukkan ke dalam kategori EW jika dalam waktu dekat tindakan perlindungan yang cukup berarti terhadap populasinya tidak dilakukan. Sedangkan kategori Critically Endangered diterapkan pada takson yang mengalami resiko kepunahan yang sangat ekstrim di alam dan dimasukkan ke dalam kategori EW jika dalam waktu dekat tindakan perlindungan yang cukup berarti terhadap populasinya tidak dilakukan (IUCN 2001).

Gambar

Tabel 3 Distribusi Herpetofauna di Daerah Inti dan Daerah Peralihan di TWNC
Tabel 4 Jumlah Individu Herpetofauna yang Ditemukan pada Jalur di TWNC  Famili Jenis
Tabel 5  Jenis-Jenis Herpetofauna Spesialis yang Dijumpai pada Lokasi Penelitian  Tipe Habitat  Amfibi  Reptil
Gambar 12 Kurva akumulasi  jenis herpetofauna.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas hidayat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul

Proses awal hingga akhir penelitian ini telah dilalui menggunakan model Support Vector Machine dengan metode kernel trick untuk memprediksi Forex menggunakan data arus

Pasal 106 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan Industri wajib berada di kawasan Industri, kecuali Industri

Namun pada percobaan ini, setelah menggunakan tempurung kelapa untuk melakukan pemanasan awal hingga mencapai self sustain combustion lalu diganti menggunakan bahan

Meskipun demikian gaya tumbukan ini mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap check dam, dimana check dam dapat mengalami pecah/retak akibat energi kinetis dari kecepatan

Bab 1 Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia # Tolong menolong merupakan kepribadian bangsa Indonesia yang telah hidup dan berkembang sejak dulu dan merupakan nilai-nilai