1 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan berbagai macam komoditas alam atau agrikultur. Sumber daya alam tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik, ditunjang dengan keunggulan geografi Negara Indonesia . Sektor agrikultur berperan penting dalam perekonomian Indonesia karena sektor agrikultur menjadi sektor kedua yang berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia,hal ini dapat dilihat dari kontribusinya yang cukup besar yaitu sekitar 13,27% pada triwulan I-2018 dan pada triwulan II-2018 berkontribusi sebesar 13,63% dilihat dari Struktur PDB (Produk Domestik Bruto) Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (Badan Pusat Statistik, 2018).
Perusahaan yang bergerak dibidang agrikultur memiliki karakteristik unik jika dibandingkan dengan perusahaan yang bergerak dibidang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aset yang dikuasai dan dikelola oleh perusahaan, dimana perusahan agrikultur mengelola aset biologis. Aset biologis merupakan tanaman dan hewan yang mengalami transformasi biologis (IAI, 2015).
Aset biologis akan tetap mengalami transformasi pertumbuhan bahkan setelah aset biologis menghasilkan output. Transformasi biologis terdiri atas proses pertumbuhan, degenerasi, produksi, dan prokreasi yang menyebabkan perubahan
secara kualitatif dan kuantitatif dalam pertumbuhan tanaman dan hewan tersebut. Aset biologis dapat menghasilkan aset baru yang terwujud dalam produk agrikultur atau berupa tambahan aset biologis dalam kelas yang sama. Dikarenakan adanya transformasi biologis tersebut, maka diperlukan pengukuran yang dapat menunjukkan nilai aset tersebut secara wajar sesuai dengan kesepakatan dan kontribusinya dalam menghasilkan aliran keuntungan ekonomis bagi perusahaan (Korompis, 2016).
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) pada tanggal 16 Desember 2015 mengesahkan peraturan terkait perlakuan akuntansi aset biologis yaitu Pernyataan Standar Akuntansi No. 69 (PSAK No. 69) yang merupakan pengapdosian penuh dari IAS 41 Agriculture (International Accounting Standard ) dan mulai berlaku efektif untuk periode tahun buku setelah 1 Januari 2018. PSAK 69 : Agrikultur memberikan pengaturan akuntansi yang meliputi pengakuan,pengukuran serta pengungkapan aktivitas agrikultur. Secara umum PSAK 69 mengatur bahwa aset biologis atau produk agrikultur diakui saat memenuhi beberapa kriteria yang sama dengan kriteria pengakuan aset. Aset tersebut diukur pada saat pengakuan awal dan pada setiap akhir periode pelaporan keuangan pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar aset diakui dalam laba rugi periode terjadinya. Pengecualian diberikan apabila nilai wajar tidak dapat diukur secara andal (IAI, 2015) .
Salah satu masalah atau kendala penting yang dihadapi oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang agrikultur terkait dengan implementasi Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan 69 (PSAK 69) mengharuskan banyak perusahaan atau entitas bisnis mengubah pengukuran serta pelaporan akuntansinya yang sebagian besar berdasarkan pada nilai historis (historical cost) menjadi pengukuran dan pelaporan berdasarkan nilai wajar (fair value). Penelitian Herbohn dan Herbohn (2006) menyatakan bahwa keuntungan dari aset kayu akibat dari perubahan nilai wajar dan hasil panen pertanian memiliki dampak yang lebih besar pada laporan laba/rugi. Huffman (2018) menyatakan bahwa informasi terkait laba perusahaan secara signifikan lebih relevan ketika perusahaan mengukur aset biologis yang dipertukarkan pada nilai wajar. Sugianingtyas dan Fitriasari (2015) juga menyatakan bahwa pengukuran aset biologis dengan menggunakan nilai wajar (fair value) dianggap memberikan informasi yang relevan dan andal, karena nilai wajar (fair value) pada pasar aktif dapat menggambarkan kondisi sekarang dari aset biologis tersebut.
Subjek yang dipilih pada penelitian ini adalah PT. Perkebunan Nusantara VI yang merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perkebunan di Indonesia, yang berkedudukan di Jambi . PT. Perkebunan Nusantara VI bergerak dalam bidang agrikultur dengan komoditi yang dimiliki berupa kelapa sawit, teh, karet, dan kopi. Peneliti tertarik melakukan penelitian di PT. Perkebunan Nusantara VI, karena perusahaan ini mengelola aset biologis dengan jenis komoditi yang berbeda-beda. Selain itu, sejak tahun PT. Perkebunan Nusantara VI juga mengembangkan usaha nya berupa hewan ternak jenis Sapi Bali menjadikan PT. Perkebunan Nusantara VI menjadi subjek yang menarik untuk di analisis perlakuan akuntansi aset biologisnya.
Areal PTPN VI yang berlokasi di Wilayah Jambi dan Sumatera Barat memiliki total areal perkebunan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1
Luas Areal Tanaman PT. Perkebunan Nusantara VI Jambi
Sumber : (Laporan Manajemen Perusahaan Konsolidasian (Audited), 2018)
Tabel 1.1 diatas menunjukkan luas areal perkebunan yang dikelola oleh perusahaan. Dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan luas areal perkebunan perusahaan dari 47.750,57 Ha di tahun 2017 menjadi 49.288,78 Ha di tahun 2018. Walaupun, secara keseluruhan luas areal perkebunan mengalami peningkatan, tetapi ada beberapa areal perekebunan yang berkurang. Hal ini disebabkan karena adanya transformasi pertumbuhan yang dialami tanaman yaitu adanya penambahan tanaman baru, mutasi tanaman yang belum menghasilkan menjadi tanaman menghasilkan, dan penghapusan areal tanaman yang sudah tidak produktif.
Uraian Tahun 2017 Tahun 2018
Luas Areal (Ha) Kebun Sendiri - Kelapa Sawit 29.199,07 28.835,01 - Teh 2.739,01 2.739,61 - Kopi 500,00 500,00 Sub Jumlah 32.438,08 32.074,62 PT. Bukit Kausar - Kelapa Sawit 5.248,49 5.001,16 PT. Alam Lestari Nusantara (ALN)
- Karet 6.959,00 6.952,00 PT. Mendahara Agrojaya Industry (PT. MAJI)
- Kelapa Sawit 3.105,00 5.261,00 JUMLAH 47.750,57 49.288,78
PT Perkebunan Nusantara VI pada awalnya tidak mengakui tersendiri adanya aset biologis berupa produk agrikultur melainkan dihitung menyatu dengan tanaman produktif mengakibatkan perusahaan tidak menyajikan jumlah aset nya secara tepat. PSAK 69 memiliki karakteristik yang lebih detail mengenai pengelompokan hingga pengukuran aset biologis sehingga dapat terlihat nilai aset dari yang sudah dipanen maupun yang masih melekat pada tanaman produktif.
Gambar 1.1
Penyajian Kembali Laporan Konsolidasian tanggal 31 Desember 2017
Sumber : (Laporan Tahunan PT. Perkebunan Nusantara VI, 2018)
Seperti yang terlihat Laporan Keuangan PT Perkebunan Nusantara VI tahun 2017 pada gambar 1.1 diatas, terdapat peningkatan total aset untuk tahun 2017 yang disajikan kembali sebesar 0,49%, salah satu penyebabnya yaitu adanya aset biologis
yang diakui sehingga aset yang dimiliki oleh PT Perkebunan Nusantara VI dapat diungkapkan secara lebih relevan.
Berdasarkan laporan keuangan PT. Perkebunan Nusantara VI Tahun 2018, perusahaan mengelola aset biologis dengan rincian nilai yang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.2
Rincian Aset Biologis PT. Perkebunan Nusantara VI Jambi
2017 2018
Disajikan sebagai aset lancar : TBS Rp 12.591.306.563 Rp 14.002.126.236 Daun Teh Rp 260.763.252 Rp 1.094.506.142 Getah Karet - Rp 423.168.393 Hewan Ternak Rp 381.638.579 Rp 176.948.485 Biji Kopi - Rp 18.732.135 Jumlah Aset Lancar
Rp
13.233.708.394 Rp 15.715.481.391 Disajikan sebagai aset tidak
lancar: Hewan Ternak Rp 19.374.116.353 Rp 11.899.183.999 JUMLAH Rp 23.614.665.390 Rp 27.614.665.390 Sumber : (Laporan Tahunan PT. Perkebunan Nusantara VI, 2018)
Tabel 1.2 diatas menunjukkan rincian aset biologis yang dikelola oleh PTPN VI. Aset biologis tersebut terdiri atas hewan ternak dan produk agrikultur dari tanaman produktif. Produk agrikultur terdiri atas Tandan Buah Segar (TBS), daun teh, biji kopi, dan getah karet yang tumbuh pada tanaman produktif sampai dengan saat untuk dipanen. Hewan ternak perusahan terdiri dari sapi bakalan dan dikembangbiakkan, yang masing-masing disajikan pada aset lancar dan tidak lancar.
Adanya perbedaan masalah mengenai penerapan PSAK 69 atas aset biologis di berbagai perusahaan menyebabkan PSAK 69 ini menarik untuk di analisis. Seperti pada penelitian Utomo dan Khumaidah (2014) mengungkapkan bahwa perusahaan mengukur aset biologis yang dimiliki berdasarkan nilai perolehan. Pratiwi (2017) mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan perlakuan akuntansi oleh entitas PTPN XII Kalisanen dengan PSAK 69. Penelitian Hidayat (2018) juga mengungkapkan bahwa hampir semua perusahaan sektor perkebunan yang terdaftar di BEI belum menggunakan metode nilai wajar untuk mengukur aset biologis tanaman perkebunan mereka.
Penelitian ini merujuk pada penelitian Pratiwi yang membahas analisis pelakuan akuntansi aset biologis berbasis PSAK 69 Agrikultur. Terdapat tiga perbedaan penelitian ini dengan penelitian Pratiwi (2017) .Pertama, yang menjadi subjek penelitian Pratiwi (2017) adalah PTPN XII Kalisanen, sedangkan penelitian ini memilih PTPN VI Jambi sebagai objek penelitiannya. Kedua, periode penelitian ini dilakukan pada tahun 2019 pada saat PSAK 69 sudah mulai efektif diberlakukan. Kedua, penelitian Pratiwi (2017) hanya melihat perlakuan akuntansi tanaman perkebunan berupa karet, sedangkan pada penelitian ini aset biologisnya tidak hanya tanaman perkebunan saja tetapi juga terdapat aset biologis berupa hewan ternak.
Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini diambil judul “Analisis Perlakuan Akuntansi Aset Biologis Berdasarkan PSAK 69 tentang Agrikultur pada PT. Perkebunan Nusantara VI Jambi”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana perlakuan akuntansi aset biologis pada PT. Perkebunan Nusantara VI Jambi ?
2. Apakah perlakuan akuntansi aset biologis pada PT. Perkebunan Nusantara VI Jambi telah sesuai dengan PSAK 69 tentang agrikultur ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini didasarkan pada rumusan masalah diatas adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi aset biologis pada PT.
Perkebunan Nusantara VI Jambi.
2. Untuk mengetahui apakah perlakuan akuntansi aset biologis pada PT. Perkebunan Nusantara VI Jambi telah sesuai dengan PSAK 69 tentang agrikultur.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak – pihak yang berkepentingan, sehingga manfaat dari penelitian ini antara lain :
1. Bagi Perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat kepada perusahaan sebagai bahan masukan mengenai pengakuan, pengukuran dan penyajian aset biologisnya.Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan baru khususnya mengenai akuntansi aset biologis pada industri perkebunan.
2. Bagi Peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan baru khususnya mengenai akuntansi aset biologis pada industri perkebunan
3. Bagi akademisi, hasil penelitian ini diharapkan akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang akuntansi aset biologis. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan referensi dalam penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan akuntansi perlakuan akuntansi aset biologis