• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. proses evolusi kapasitas selaku insan manusia, tidak semestinya tumbuh sendiri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. proses evolusi kapasitas selaku insan manusia, tidak semestinya tumbuh sendiri"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Karakteristik anak yang sedang dalam pertumbuhan atau mengalami proses evolusi kapasitas selaku insan manusia, tidak semestinya tumbuh sendiri tanpa perlindungan. Anak membutuhkan orang tua/keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara selaku pembuat regulasi, pelaksana pemenuhan hak-hak anak, dan pengemban kewajiban negara1.

Kesadaran nasional atau justifikasi konstitusional melindungi anak sebagai urusan utama dalam berbangsa dan bernegara tertuang dalam Pasal 28B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD NRI Tahun 1945) yang menegaskan hak-hak konstitusional anak, yaitu setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, dan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi2.

Perlindungan dan pemenuhan hak anak sangat dibutuhkan karena seorang anak rentan untuk terlibat dalam perilaku-perilaku kenakalan. Ketika hal tersebut terjadi, maka seorang anak sebagai pelaku tindak pidana harus berhadapan dengan sistem peradilan pidana dan disebut dengan anak yang berkonflik dengan hukum.

Aliran modern dalam hukum pidana yang berkembang saat ini tidak menghendaki upaya pembalasan melalui pemberian sanksi pidana yang

1 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 1/PUU-VIII/2010 Perihal Pengujian Undang-Undang

Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tanggal 02 Februari 2011, hlm. 3.

(2)

menitikberatkan pada perbuatan pelaku, melainkan hukum pidana harus dipandang sebagai ultimum remidum yang berarti senjata pamungkas atau sarana terakhir yang digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan hukum3. Sejak Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (selanjutnya disebut UU SPPA) dinyatakan berlaku pada tanggal 30 Juli 2014 dan mencabut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, ada pengaturan secara tegas mengenai diversi, yaitu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar4. Ada perubahan paradigma dalam penanganan anak yang berkonflik

dengan hukum di dalam UU SPPA, yaitu ada peran dan tugas dari masyarakat, pemerintah, dan lembaga lain yang berkewajiban dan bertanggung jawab meningkatkan kesejahteraan anak serta memberikan pelindungan khusus, salah satunya melalui diversi5.

Diversi dilaksanakan berdasarkan pendekatan keadilan restoratif, yaitu penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari

3 Eddy O.S. Hiariej, 2014, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta,

hlm. 26-27.

4 Lihat Penjelasan Umum UU SPPA. 5 Lihat Penjelasan Umum UU SPPA.

(3)

penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan6.

Ketika UU SPPA telah berjalan selama satu tahun lebih pada awal 30 Juli 2015, sempat muncul persoalan dalam pelaksanaan diversi, yaitu belum adanya Peraturan Pemerintah mengenai pedoman pelaksanaan proses diversi, tata cara, dan koordinasi (PP Pedoman Diversi) sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 15 UU SPPA. Hal ini membuat aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait lainnya kebingungan karena ada kekosongan hukum di dalam pelaksanaan diversi, meskipun dalam praktik diversi telah dilaksanakan di beberapa daerah hukum.

Salah satu contoh pelaksanaan diversi dalam penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum yang dilakukan pada tahap penyidikan sebelum keluarnya PP Pedoman Diversi adalah dalam perkara pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh K (17 tahun), M (17 tahun) dan N (17 tahun) pada hari Senin tanggal 23 Februari 2015 di parkiran Hotel Hollyday, Pekanbaru. Para pelaku mengaku mengambil sepeda motor milik FC (17 tahun). Pihak Kepolisian Sektor Lima Puluh yang menangani perkara ini melakukan diversi terhadap para pelaku yang tergolong sebagai anak dengan dihadiri oleh dua orang pihak dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) dan korban disertai dengan pemberian ganti rugi dari para pelaku kepada korban7.

Sebenarnya ada persoalan hukum di dalam pelaksanaan diversi tersebut di atas, yaitu tidak didampinginya anak korban oleh orang tua dan/atau orang yang

6 Lihat Pasal 1 butir 6 UU SPPA.

7 Hukrim, 2015, “Tiga Gadis Usia Sekolah Curanmor, Upaya Diversi Berhasil”,

http://www.situsriau.com/read-6-17067-2015-03-06-tiga-gadis-usia-sekolah-curanmor-upaya-diversi-berhasil.html, diakses tanggal 11 Agustus 2015.

(4)

dipercaya, atau pekerja sosial pada saat proses diversi sebagaimana ketentuan Pasal 23 ayat (2) UU SPPA. Selanjutnya di dalam penjelasan Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 9 ayat (2) UU SPPA juga ditegaskan, dalam hal korban adalah anak, maka ada pelibatan orang tua atau walinya (keluarga anak korban) guna memberikan persetujuan dalam menentukan pilihan penyelesaian perkara pada musyawarah diversi. Hal ini tidak menjadi permasalahan pada saat itu, namun di kemudian hari bisa menjadi suatu permasalahan akibat dari ketidaktahuan penegak hukum dalam proses diversi karena belum (terlambat) terbitnya PP Pedoman Diversi.

Mengingat diversi wajib dilakukan pada setiap tingkat pemeriksaan dan telah dilakukan di beberapa daerah hukum sejak UU SPPA berlaku, maka kehadiran PP Pedoman Diversi sangat dibutuhkan oleh aparat penegak hukum guna menciptakan keseragaman dalam pelaksanaan diversi, khususnya bagi penyidik, penuntut umum dan hakim untuk mewujudkan kepastian hukum.

Pelaksanaan diversi dimulai dari penyidikan. Jika penyidik gagal melakukan diversi, maka penyidik wajib melanjutkan penyidikan dan melimpahkan berkas perkara ke penuntut umum dengan melampirkan berita acara upaya diversi dan laporan hasil penelitian kemasyarakatan. Penuntut umum juga wajib mengupayakan diversi setelah menerima berkas perkara dari penyidik. Dalam hal penuntut umum gagal melakukan diversi, maka wajib menyampaikan berita acara upaya diversi dan melimpahkan perkara ke pengadilan. Selanjutnya hakim yang telah ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri juga wajib

(5)

mengupayakan diversi. Dalam hal diversi tidak berhasil dilaksanakan, maka perkara dilanjutkan ke tahap persidangan8.

Berdasarkan Pasal 8 ayat (1) UU SPPA dinyatakan proses diversi dilakukan melalui musyawarah dengan melibatkan anak dan orang tua/walinya, korban dan/atau orang tua/walinya, Pembimbing Kemasyarakatan, dan Pekerja Sosial Profesional berdasarkan pendekatan keadilan restoratif. UU SPPA hanya memberikan ketentuan secara umum mengenai proses diversi, sehingga secara rinci langkah-langkah pelaksanaan diversi dikembalikan kepada penafsiran masing-masing aparat penegak hukum pada setiap tingkatan pemeriksaan.

Oleh karena itu, guna menyikapi hal tersebut aparat penegak hukum mengeluarkan aturan internal masing-masing. Hal tersebut dimulai dari Mahkamah Agung yang mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Anak (selanjutnya disebut PERMA Pedoman Diversi) yang ditetapkan pada tanggal 24 Juli 2014, kemudian diikuti oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dengan mengeluarkan Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor PER- 006/A/J.A/04/2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi pada Tingkat Penuntutan (selanjutnya disebut PERJA Pedoman Diversi) yang diundangkan pada tanggal 27 April 2015. Khusus untuk Kepolisan Negara Republik Indonesia, tidak ada mengeluarkan aturan internal terkait pelaksanaan diversi sehubungan dengan diundangkannya UU SPPA, karena sebelumnya telah mengeluarkan telegram Kabareskrim Polri Nomor: TR/1124/ IX/2006 dan Nomor:

(6)

TR/395/VI/2008 tentang Pelaksanaan Diversi dan Restorative Justice dalam Penanganan Kasus Anak Pelaku dan Pemenuhan Kepentingan Terbaik Anak dalam Kasus Anak Sebagai Pelaku, Korban atau Saksi.

Dengan adanya beberapa aturan internal dari masing-masing penegak hukum, maka dalam praktik dimungkinkan terjadi perbedaan dalam pelaksanaan proses diversi, tata cara, dan koordinasi pelaksanaan diversi mulai dari penyidik, penuntut umum, dan hakim. Hal ini terjadi tidak terlepas dari lambannya Pemerintah mengeluarkan PP Pedoman Diversi.

Menurut Tommy Albert Tobing9, selaku aktivis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, akibat dari lambannya Pemerintah menerbitkan peraturan pelaksanaan membuat aparat kepolisian, jaksa, dan hakim yang menangani diversi di lapangan justru terlihat kurang paham tentang arti diversi sebenarnya. Diversi hanya dimaknai secara sederhana yakni mempertemukan anak pelaku dengan anak korban atau keluarga masing-masing untuk kemudian berbicara.

Setelah 1 tahun lebih 1 bulan, barulah terbit Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak yang Belum Berumur 12 (dua belas) Tahun yang diundangkan pada tanggal 19 Agustus 2015 (PP Pedoman Diversi), namun kehadirannya yang terlambat dalam praktik dimungkinkan terdapat perbedaan dengan aturan internal masing-masing aparat penegak hukum mengenai diversi yang selama ini telah berjalan sejak UU SPPA berlaku.

9 ICJR, 2014, “Aparat Hukum Belum Paham Arti Diversi”,

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5475dd3e4d788/icjr--aparat-hukum-belum-paham-arti-diversi, diakses 11 Agustus 2015.

(7)

Mengingat pentingnya diversi sebagai suatu model baru dalam penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum dan adanya kewajiban bagi aparat penegak hukum pada setiap tingkat pemeriksaan untuk mengupayakan diversi, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pelaksanaan diversi di lapangan dengan mengambil tema penelitian tentang diversi dan merumuskan secara lebih rinci dalam judul tesis berikut ini :

Pelaksanaan Diversi dalam Penyelesaian Perkara Anak yang Berkonflik dengan Hukum di Jakarta Timur.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemasalahan tersebut di atas, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apa langkah-langkah yang dilakukan oleh penyidik, penuntut umum dan hakim dalam pelaksanaan diversi terhadap perkara anak yang berkonflik dengan hukum di Jakarta Timur?

2. Kendala apa saja yang dihadapi oleh penyidik, penuntut umum dan hakim dalam pelaksanaan diversi terhadap perkara anak yang berkonflik dengan hukum di Jakarta Timur?

3. Bagaimanakah seharusnya konsep diversi dalam perkara anak yang berkonflik dengan hukum ke depan (ius constituendum)?

(8)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti melalui penelitian ini ada tiga hal, yaitu :

1. Menggambarkan dan menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan oleh penyidik, penuntut umum dan hakim dalam pelaksanaan diversi terhadap perkara anak yang berkonflik dengan hukum di Jakarta Timur.

2. Menganalisis kendala yang dihadapi oleh penyidik, penuntut umum dan hakim dalam pelaksanaan diversi terhadap perkara anak yang berkonflik dengan hukum di Jakarta Timur.

3. Mengkaji konsep diversi dalam perkara anak yang berkonflik dengan hukum ke depan (ius constituendum).

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat (kegunaan) yang sebesar-besarnya, baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi pihak yang terkait, khususnya aparat penegak hukum mulai dari penyidik, penuntut umum dan hakim pada pelaksanaan diversi dalam penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum. Adapun penjelasan lebih lanjutnya sebagai berikut :

1. Kegunaan Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi (sumbangsih) yang sebesar-besarnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum acara pidana pada umumnya, khususnya pengembangan sistem peradilan pidana

(9)

anak yang terkait dengan pelaksanaan diversi dalam penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum.

2. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pihak yang berkepentingan (stake holders) pada pelaksanaan diversi dalam penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum, terutama bagi aparat penegak hukum, mulai dari penyidik, penuntut umum dan hakim di Jakarta Timur. Para pihak yang berkepentingan tersebut diharapkan dapat mengetahui dan memahami langkah-langkah secara terperinci pada pelaksanaan diversi dalam penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum. Para pihak yang berkepentingan tersebut diharapkan juga dapat semakin memaksimalkan pelaksanaan diversi sebagai suatu model baru penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengamatan peneliti pada lingkup Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, belum ada penelitian yang membahas mengenai pelaksanaan diversi dalam penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum di Jakarta Timur. Peneliti hanya menemukan penelitian sejenis pada lingkup strata I (penulisan hukum) di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti-peneliti lain sebelumnya dengan judul sejenis adalah sebagai berikut:

(10)

1. Pelaksanaan Diversi dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak oleh Aparat Penegak Hukum10.

Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu:

a. Bagaimana pelaksanaan diversi bagi anak pelaku tindak pidana oleh aparat penegak hukum?

b. Apakah yang menjadi hambatan aparat penegak hukum dalam pelaksanaan diversi bagi anak pelaku tindak pidana?

Adapun kesimpulannya yaitu:

a. Secara garis besar pelaksanaan diversi sudah sesuai dengan apa yang diamanatkan UU SPPA, tetapi belum memberikan penjelasan secara rinci mengenai pelaksanaan diversi.

b. Hambatan yang dialami oleh aparat penegak hukum adalah kurangnya kesiapan untuk melaksanakan amanat dari UU SPPA dan belum seluruh aparat penegak hukum menerima pelatihan khusus mengenai pelaksanaan diversi.

2. Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana dalam Proses Peradilan Anak Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Kasus Terhadap Penetapan Diversi dalam Peradilan Anak di Kabupaten Sleman)11.

10 Ardinita Pingki Nadiar, 2015, “Pelaksanaan Diversi dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun

2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak oleh Aparat Penegak Hukum”, Penulisan hukum, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

11 Median Rohma Bisri, 2015, “Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana dalam

Proses Peradilan Anak Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Kasus Terhadap Penetapan Diversi dalam Peradilan Anak di Kabupaten Sleman)”, Penulisan hukum, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

(11)

Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu:

a. Bagaimana mekanisme diversi terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana dalam praktik di lapangan pada tahap penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan persidangan berdasarkan UU SPPA (Studi Kasus Terhadap Penetapan Diversi dalam Peradilan Anak di Kab. Sleman) ? b. Apa saja hambatan-hambatan di dalam mekanisme diversi tahap

penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan persidangan (Studi Kasus Terhadap Penetapan Diversi dalam Peradilan Anak di Kab. Sleman) ? Adapun kesimpulannya yaitu:

a. Mekanisme diversi tingkat penyidikan ada 3 (tiga) bentuk, yaitu musyawarah Polisi, musyawarah Keluarga, dan musyawarah masyarakat. Pada tingkat penuntutan, mekanisme diversi dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum (sebagai mediator dan fasilitator), pelaku dan/atau keluarganya, Pembimbing Kemasyarakatan, BAPAS, Penasehat Hukum (jika ada), dan Pekerja Sosial Profesional. Pada tingkat pemeriksaan persidangan, diversi belum pernah ada, namun jika ada pelaksanannya sesuai dengan UU SPPA dan PERMA diversi. b. Hambatan pada tingkat penyidikan, dalam hal pihak korban tidak

terima perkara dilakukan diversi, dan meminta agar pelaku dipidana. Pada tingkat penuntutan, belum ada peraturan tentang tata cara pelaksanaan diversi pada tingkat penuntutan dan budaya hukum masyarakat belum paham dan menerima diversi sepenuhnya. Pada tingkat pemeriksaan persidangan, sangat sulit menerapkan diversi,

(12)

karena dengan gagalnya diversi pada tahap penyidikan dan penuntutan, para pihak sudah yakin untuk menyelesaikan perkara tersebut di Pengadilan.

Berdasarkan kedua penelitian tersebut di atas, peneliti menemukan beberapa perbedaan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, yaitu: a. Peneliti menggambarkan, menjelaskan, dan melihat kesesuaian

langkah-langkah yang dilakukan oleh penyidik, penuntut umum dan hakim dalam pelaksanaan diversi berdasarkan UU SPPA, PP Pedoman Diversi, PERMA Pedoman Diversi, dan PERJA Pedoman Diversi serta membahas juga perbedaan penanganan korban di dalam proses diversi antara orang dewasa dan anak sebagai korban.

b. Lokasi penelitian di Jakarta Timur berbeda dengan kedua penelitian tersebut di atas, sehingga dimungkinkan ada perbedaan, baik dari pelaksanaan diversi oleh penegak hukum pada setiap tingkat pemeriksaan di suatu daerah hukum, maupun dari faktor sosiologis terkait dengan kondisi sosial budaya masyarakat di perkotaan yang cenderung individualistik, ketimbang menggunakan musyawarah dalam menyelesaikan konflik.

c. Peneliti melanjutkan penelitian-penelitian sebelumnya dengan mengkaji konsep diversi dalam perkara anak yang berkonflik dengan hukum ke depan (ius constituendum).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini sangat penting untuk diteliti, sebab penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wu (2011) tentang bagaimana pengaruh efek

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ransum yang mengandung tepung daun ubi jalar ungu disuplementasi starpig dapat mengurangi lemak tubuh dan

Pengembangan media belajar komik animasi berbasis aplikasi ispring portable materi sifat-sifat cahaya untuk meningkatkan literasi Sains siswa kelas 4 di SD Islam

SNP g.125550A>T gen FTO bersifat polimorfik pada bangsa sapi potong Indonesia yang terdiri atas: sapi madura, sapi pesisir, sapi katingan, sapi PO, sapi pasundan,

Pada skor tertinggi dapat dilihat pada Tabel 2, siswa yang mendapatkan skor tertinggi yaitu pada frekuensi antara 19 – 20 sebanyak 4 siswa di kelas X-MIPA 3 yang menggunakan

Salah satu spesies ikan di Indonesia yang sudah dikenal termasuk ke dalam golongan hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah (Monopterus albus) dan ikan kerapu Lumpur

Alat Analisis : Regresi Linier Berganda Variabel Dependen : Keputusan Pembelian Variabel Independen : Produk, Harga, Promosi, Tempat, Partisipan, Proses, Bukti Fisik Variabel

Metode pembelajaran diskusi kelompok kecil dan self directed learning dapat diterapkan dalam rangka membantu mahasiswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam rangka