• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH ASSET GROWTH, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN EARNING PER SHARE TERHADAP BETA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI SKRIPSI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH ASSET GROWTH, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN EARNING PER SHARE TERHADAP BETA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI SKRIPSI."

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Oleh

NUR WAHYUNI MURIKA

NIM 105730542015

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

ii

SKRIPSI

Oleh

NUR WAHYUNI MURIKA

NIM 105730542015

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Rangka Menyelesaikan

Studi Pada Program Studi Strata Satu (S-1) Akuntansi

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MAKASSAR

(3)

iii

Motto

“Selagi masih berusaha, Tidak ada kata terlambat!!“

Persembahan

Karya ilmiah sederhana ini penulis persembahkan kepada:

1. Kepada Sang Pencipta Allah SWT, tanpa izin darinya semua tidak akan terlaksana dan terealisasikan.

2. Kepada kedua orang tuaku yang senang tiasa membimbingku dan mendoakan disetiap perjalanan hidupku, tidak ada kata yang mewakili betapa hebatnya mereka.

3. Kepada keluargaku dan orang-orang yang kusayangi yang tiada henti memberi semangat.

4. Teman-teman kelas AK 15 G dan sahabatku Gendu ( Amiva, Isna, Fita, Andini dan Nara) yang selalu memberikan motivasi, semangat dan bantuan.

5.

Segenap dosen dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan ilmu dan memberikan pelayanan yang baik selama masa perkuliahan.

(4)
(5)
(6)
(7)

vii Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahi puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW berserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Berupa nikmat yang tiada ternilai manakala penulis skripsi yang berjudul ”Pengaruh Asset Growth, Debt to Equity Ratio dan Earning Per Share Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan Manufaktur di BEI”.

Skripsi yang penulis buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan, tetapi berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik berupa material, doa, tenaga, informasi serta waktu, penulis dapat mengatasinya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, perkenankan penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga kepada:

1. Bapak Dr. H. Abd Rahman Rahim, SE., MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Maassar

2. Bapak Ismail Rasulong, SE, MM., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar..

3. Bapak Dr. Ismail Badollahi, SE., M. Si., Ak., CA., CSP., selaku Ketua Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

(8)

viii

5. Bapak Idil Rakhmat Susanto, SE., M.Ak selaku pembimbing II yang telah berkenan membantu selama dalam penyusunan skripsi hingga ujian skripsi.

6. Bapak/Ibu dan asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.

7. Segenap Staf dan Karyawan Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

8. Kedua orang tua penulis yang menjadi panutan dalam menjalani hidup ini, karena berkat doa dan restu serta dorongannya penulis memperoleh kekuatan kembali untuk menyelesaikan tugas-tugas yang di berikan dari akademik ini.

9. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi Angkatan 2015 yang selalu belajar bersama yang tidak sedikit bantuannya dan dorongannya dalam aktivitas penulis.

10. Terima kasih juga kepada Abang Riski Nanda Tanjung yang senantiasa memberikan motivasi dan dorongan untuk tidak menyerah menggapai tujuanku.

11. Terima kasih juga yang sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabat saya, orang-orang hebat yang selalu menyuruhku untuk semangat mengerjakan skripsi ada Alfatihah, Andini, Amiva, Isna dan Nara. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh

(9)

ix

utamanya kepada Almamater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar.

Billahi fii sabilil haq, fastabikul khairat, wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Makassar, 2021

(10)

x

Ratio dan Earning Per Share Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan Manufaktur di BEI, Skripsi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing Oleh Pembimbing I Bapak

Ansyarif Khalid dan Pembimbing II Bapak Idil Rakhmat Susanto.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis Pengaruh Asset Growth, Debt to Equity Ratio dan Earning Per Share terhadap beta saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Periode penelitian yang digunakan adalah tahun 2019. Sampel yang diperoleh berdasarkan pada teknik Purposive sampling dan diperoleh 19 perusahaan. Jenis data yang dipergunakan adalah data sekunder dan metode analisis data yang dipergunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Asseth Growth berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel beta saham sedangkan variabel Debt to Equity Ratio dan Earning Per Share berpengaruh negatif terhadap variabel beta saham.

(11)

xi

Ratio and Earning Per Share on stock Beta in manufacturing companies on the IDX), thesis of the Accounting study program at the Faculty of Economics and Business, Muhammadiyah University of Makassar. Supervised by Supervisior I Mr. Ansyarif Khalid and Mr. Idil Rakhmat Susanto.

This study aims to eximine the effect of Asset growth, Debt to equity and Earning per share on stock Beta in manufacturing componies listed on the indonesian stock exchange. The time period used was 2019. The sample obtained is based on purposive sampling technique and obtained 19 companies. The type of data used is secondary data and the data analysis method used is multiple linear regression. The result of this study indicate that the Asset growth variable has a positive and significant effect on the stock Beta variable, while the Debt to equity ratio and Earning per share variables have a negative effect on the stock Beta variable.

(12)

xii

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

SURAT PERNYATAAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... x

ABSTRACT ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penenlitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ` A. Landasan Teori ... 8

1. Investasi ... 8

2. Pasar Modal ... 9

3. Saham ... 11

4. Return dan Risiko ... 12

5. Beta ... 14

6. Asset Growth ... 20

(13)

xiii

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 37

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37

C. Defenisi Operasional Variabel dan Pengukuran ... 37

D. Populasi dan Sampel ... 39

E. Teknik Pengumpulan Data... 39

F. Teknik Analisis ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 44

1. Deskripsi Data Penelitian ... 44

2. Pengujian Asumsi Klasik ... 47

3. Hasil Pengujian Hipotesis ... 52

B. Pembahasan ... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 59

B. Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

LAMPIRAN ... 64

(14)

xiv

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 23

Tabel 4.1 Deskropsi Data Penelitian ... 46

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas ... 48

Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas ... 50

Tabel 4.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 51

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Hipotesis ... 52

(15)

xv

(16)

xvi

Lampiran 2 Hasil Olahan Regresi Berganda ... 67 Lampiran 3 Surat Izin Penelitian ... 71 Lampiran 4 Turnitin ... 72

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada era perekonomian sekarang salah satu kegiatan yang banyak dilakukan oleh sebagian perusahaan adalah kegiatan investasi. Semakin berkembangnya dunia bisnis maka berbagai tindakan dan upaya dilakukan oleh perusahaan agar bisnisnya dapat bertahan termasuk juga pada perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur (Chairiyah, 2013).

Investasi salah satu kegiatan yang penting dan perlu dalam sebuah perusahaan karena dapat membantu meningkatkan kinerja perusahaan dan mendukung berbagai kerjasama yang juga dapat membantu perusahaan dalam memperluas jaringan bisnisnya. Investasi pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan mengeluarkan dan menempatkan sejumlah dana selama jangka waktu tertentu dengan harapan dapat memperoleh penghasilan atau peningkatan di masa yang akan datang. Banyak cara yang dilakukan investor dalam melakukan investasi (Prakoso, 2016). Salah satunya yaitu dengan melakukan investasi dipasar modal. Pasar modal atau bursa efek merupakan suatu obyek penelitian yang menarik untuk diteliti. Pasar modal saat ini dipandang sebagai salah satu sarana efektif untuk mempercepat pembangunan suatu negara (Fahmi, 2015). Hal ini sejalan dengan fungsi pasar modal yaitu sebagai sarana pendanaan usaha juga sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal.

(18)

Saham adalah instrumen keuangan yang paling sering diperdagangkan di pasar modal juga salah satu jenis sekuritas yang cukup populer di pasar modal karena memiliki saham berarti memiliki perusahaan berdasarkan sesuai dengan besar kepemilikan yang dimiliki. Banyak investor sebelum melakukan investasi akan mengumpulkan berbagai informasi tentang perusahaan yang ingin dijadikan sebagai tempat berinvestasi. Investor memilih pada perusahaan mana mereka menanamkan uangnya, agar memperoleh keuntungan maksimal, sehingga perusahaan yang berprospek baik, sahamnya sangat diminati.

Bukan hanya dari sisi saham itu sendiri seorang investor tentunya mempertimbangkan risiko seperti apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Dalam penelitian ini penulis ingin menunjukkan bagaimana mengukur risiko dengan beta saham. Sehingga para investor lebih mendapatkan informasi yang lebih sebelum melakukan investasi. Saham salah satu sekuritas yang memberikan penghasilan yang tidak tetap bagi pemiliknya. Pemegang saham akan menerima penghasilan dalam bentuk deviden maupun perubahan harga saham seperti capital gains juga capital loss. Perusahaan yang berkembang dengan baik akan mempengaruhi nilai perusahaan yang semakin meningkat maka harga saham juga ikut meningkat. Jika saat harga saham meningkat setelah sewaktu investor membeli saham, maka ini yang dinamakan capital gains. Apabila harga saham turun sewaktu setelah investor membeli saham, ini yang disebut capital loss ( Suad, 1996:115 dalam Chairiyah, 2013).

Investasi pasar modal seharusnya memperlihatkan sekurang-kurangnya dua hal adalah tingkat pembelian yang diharapkan (expected

(19)

return) juga risiko yang dapat terjadi. Risiko yaitu kemungkinan perbedaan antara return aktual yang diterima dengan return yg diharapkan. Semakin besar kemungkian perbedaannya, berarti semakin besar risiko investasi tersebut. Agar investasi memberikan hasil yang efektif maka investor harus mampu menilai expected return juga risiko yang terdapat dalam investasi tersebut. Risiko investasi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu risiko sistematik (systematic risk) dan rIsiko tidak sistematik (unsystematic risk) . Risiko sistematik adalah risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan diverifikasi yaitu penyebaran risiko dengan menggunakan portofolio.

Dalam penelitian ini akan memfokuskan pada risiko yang pertama yaitu risiko sistematis atau biasa juga disebut sebagai beta pasar (market risk), karena fluktuasinya disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi semua perusahaan yang beroperasi. Risiko sistematis terjadi diluar perusahaan dan akan mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Dengan kata lain risiko ini diluar kendali para investor, sehingga otomatis risiko tersebut harus dihadapi. Oleh karena itu, diharapkan para investor pandai dalam membaca situasi, guna menyelamatkan dana yang ditanamkan serta mampu meminimalisasikan kerugian.

Salah Satu perusahaan manufaktur yang semakin berkembang dan diminati oleh para investor juga menjadi program pada pemerintahan yaitu bidang Property dan Real estate. Perusahaan ini merupakan salah satu sub sektor perusahaan jasa yang terdaftar sebagai perusahaan publik dalam sektor property,real estate, dan konstruksi di Bursa Efek Indonesia.

(20)

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang pernah meneliti tentang pengaruh variabel fundamental terhadap beta saham. Penelitian yang dilakukan oleh Priyanto (2017) Pengaruh Asset Growth, Leverage dan Earning Variability Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan Jakarta Islamic Indeks Di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan Asset Growth dan Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap beta saham sedangkan Earning Variability berpengaruh signifikan terhadap beta saham. Chariyah (2013) meneliti tentang pengaruh Asset Growth, Return On Equity, Total Asset Turnover dan Earning Per Share terhadap beta saham. Hasil penelitian menunjukan Asset Growth, Return On Equity mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap beta saham, Earning Per Share mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap beta saham, sedangkan Total Asset Turnover tidak berpengaruh terhadap beta saham.

Hasil dari beberapa penelitian ini menemui research gap yaitu perbedaan hasil penelitian atau hasil yang tidak konsisten, hal ini dapat terjadi karena perbedaan dalam pengukuran variabel dan populasi penelitian. Karena analisis beta saham salah satu informasi penting untuk seorang investor agar dapat mengetahui timbal balik dari dana yang dikeluarkannya. Oleh sebab itu penelitian ini akan menguji kembali variabel Asset Growth, Debt To Equity Ratio, dan Earning Per Share sebagai variabel independen yang mempengaruhi beta saham. Sehingga dapat membantu para investor dan perusahaan membantu memberikan informasi lebih bagaimana meminimalisir kerugian dimasa yang akan datang. untuk memperkirakan beta ada variabel-variabel yang dapat dipergunakan antara lain pertumbuhan aset dan likuiditas.

(21)

Variabel-variabel fundamental yang ingin diteliti adalah asset growth, Pertumbuhan aset atau asset growth didefenisikan sebagai perubahan aset per tahun. Asset growth dan risiko mempunyai hubungan yang positif dengan beta (Jogiyanto, 2010:391 dalam Chairiyah 2013). Dengan alasan semakin cepat tingkat atau laju pertumbuhannya menggunakan dana untuk membiayai kebutuhan pertumbuhannya berarti semakin besar dana yang digunakan dan menyebabkan tingginya risiko yang akan dihadapi. Debt to equity ratio yaitu ukuran kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajibannya, hal ini mencerminkan bahwa semakin tinggi debt to equity ratio akan menyebabkan meningkatnya nilai utang yang akan menyebabkan penurunan laba bersih yang pada akhirnya akan mengurangi laba yang diterima pemegang saham (Kusumo, RM Gian Ismoya, 2011 dalam Aditya, Isnurhadi 2013). Dan earning per share merupakan hal terpenting dalam analisa mengukur kinerja perusahaan, komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan adalah laba per lembar saham atau yang lebih dikenal sebagai earning per share. Semakin besar nilai earning per share menunjukkan perusahaan mampu memberikan laba yang lebih tinggi bagi investor. Hal ini tentu akan memperkecil risiko yang ditanggung oleh investor (Menurut Eduardus, 2001:241 dalam Chairiyah 2013).

Berdasarkan uraian di atas maka penulis mengambil judul “Pengaruh Asset Growth, Debt To Equity Ratio, dan Earnings Per Share Terhadap

(22)

B. Rumusan Masalah

Dari uraian dan penjelasan latar belakang di atas, penulis bermaksud untuk meneliti:

1. Apakah terdapat pengaruh antara asset growth terhadap beta saham pada perusahaan manufaktur di BEI ?

2. Apakah terdapat pengaruh antara debt to equity ratio terhadap beta saham pada perusahaan manufaktur di BEI ?

3. Apakah terdapat pengaruh antara earnings per share terhadap beta saham pada perusahaan manufaktur di BEI ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah asset growth berpengaruh terhadap beta saham pada perusahaan manufaktur di BEI.

2. Untuk mengetahui apakah debt to equity ratio berpangaruh terhadap beta saham pada perusahaan manufaktur di BEI.

3. Untuk mengetahui apakah earnings per share berpengaruh terhadap beta saham pada perusahaan manufaktur di BEI.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat teoritis

a. Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan bukti empiris mengenai ada tidaknya pengaruh asset growth, debt to equity ratio, earnings per share terhadap beta saham.

(23)

b. Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya.

2. Manfaat praktis

a. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu informasi tambahan yang bermanfaat sebagai pertimbangan bagi investor untuk membuat keputusan sebelum menanamkan modalnya pada suatu perusahaan.

b. Dari hasil penelitian ini juga diharapkan memberi informasi untuk investor dapat menilai level sensitivitas suatu saham dengan risiko saham terhadap tingkat resiko pasar.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Investasi

Investasi merupakan kegiatan dalam menanamkan modal dana dalam suatu bidang tertentu. Investasi dapat dilakukan melalui berbagai cara,salah satu diantaranya adalah investasi dalam bentuk saham. Pemodal atau investor dapat menanamkan kelebihan dananya dalam bentuk saham di pasar bursa (Mawardi, 2018). Lebih jauh ekonom asal Amerika Paul Krugman dan Mauric dalam Irham Fahmi (2015) mengatakan bahwa bagian output yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan swasta guna menghasilkan output pada masa mendatang bisa disebut sebagai investasi.

Menurut PSAK Nomor 13 dalam Standar Akuntansi Keuangan per 1 Oktober 2004 investasi adalah suatu aset yang digunakan oleh perusahaan untuk menumbuhkan kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga, royalti, deviden, dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau untuk manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan perdagangan, persediaan dan aset tetap bukan merupakan investasi. Menurut Jogiyanto (2010:7) dalam Chairiyah (2013) terdapat dua tipe investasi yaitu:

(25)

1) Investasi langsung, berupa pembelian langsung aset keuangan suatu perusahaan yang dapat dilakukan pada:

a. Pasar uang (money market), berupa aset yang mempunyai risiko gagal kecil, jatuh tempo pendek dengan tingkat cair yang tinggi seperti Treasury bill (T-bill).

b. Pasar modal (capital market), berupa surat-surat berharga pendapatan tetap (fixed-income securities) dan saham-saham (equity income).

c. Pasar turunan (deverative market), berupa opsi (option) dan futures contract.

2) Investasi Tidak Langsung

Investasi tidak langsung merupakan pembelian saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aset-aset keuangan dari perusahaan lain.

Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa investasi dilakukan guna meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Dan dengan dilakukannya kegiatan investasi ini dapat menghasilkan keuntungan dimasa mendatang bagi perusahaan.

2. Pasar Modal

Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas dengan risiko untung rugi (Jogiyanto, 2010:29 dalam Chairiyah 2013). Sekuritas yang dapat diperjualbelikan umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, misalkan seperti obligasi atau saham. Di pasar modal sendiri terdapat banyak media investasi

(26)

salah satunya saham. Saham dapat digunakan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) (www.idx.co.id).

Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pada hakekatnya harga saham merupakan penerimaan besarnya pengorbanan yang harus dilakukan oleh setiap investor untuk penyertaan dalam perusahaan. Jika pasar bursa efek ditutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price). Pasar Modal adalah tempat dimana berbagai pihak khususnya perusahaan menjual saham (stock) dan obligasi (bond) dengan tujuan dari hasil penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan dana atau untuk memperkuat modal perusahaan (Fahmi, 2012). Pasar modal juga merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, sera lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek (www.idx.co.id). Adapun menurut Irham (2011:34) pengertian pasar modal adalah sebuah pasar tempat dana-dana modal seperti ekuitas dan utang diperdagangkan.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa investasi juga dikenal dengan istilah penanaman modal. Konsep penanaman modal ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk yang sering dikampanyekan oleh pemerintah (government) dalam rangka menarik minat investor baik domestik maupun internasional. Untuk

(27)

penanaman modal dari luar negeri biasa disebut dengan Foreign Direct investment (FDI).

3. Saham

Saham adalah surat bukti kepemilikan bagian modal suatu perusahaan atau hak klaim atas laba atau aset perusahaan (Mishkin, Frederick S. 2008 dalam Aditya dan isnurhadi 2013). Menurut Irham (2015:81) saham merupakan salah satu instrument pasar modal yang paling banyak diminati investor. Karena mampu memberikan tingkat pengembalian yang menarik. Saham adalah kertas yang tercantum dengan jealas nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang telah dijelaskan kepada setap pemegang saham. Menurut Kasmir (2016:185) saham merupakan surat berharga yang bersifat kepemilikan. Artinya pemilik saham perusahaan, semakin besar saham yang dimilikinya maka semakin besar pula kekuasaanya diperusahaan tersebut.

Menurut Eduardus (2001:18) dalam Chairiyah (2013) saham merupakan surat bukti bahwa kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Ditinjau dari segi haknya saham dapat terdiri dari:

1) Saham Biasa, mewakili kepemilikan dalam perusahaan. Saham biasa adalah jenis saham yang tidak mempunyai hak-hak khusus (istimewa). Semua pemegang saham biasa mempunyai hak yang

(28)

sama baik dari segi hak suara maupun dari segi pembagian laba yang berupa dividen. Fungsi dari saham biasa adalah :

a. Sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan akan modal perusahaan.

b. Sebagai alat untuk menentukan pembagian modal.

c. Sebagai alat untuk mengadakan pembagian kombinasi perusahaan.

d. Sebagai alat untuk menguasai perusahaan.

2) Saham Preferen merupakan kombinasi antara bentuk utang dan modal sendiri. Saham preferen adalah jenis saham yang memperoleh hak-hak khusus karena dalam peristiwa likuidasi, pemegang saham preferen mempunyai hak setelah kreditor, tetapi sebelum pemegang saham biasa. Pemegang saham preferen juga berhak atas dividen yang tetap besarnya, berapapun keuntungan perusahaan.

Berdasarkan beberapa pengertian saham diatas dapat disimpulkan bahwa saham adalah tanda bukti penyertaan modal atau bukti kepemilikan atas suatu Perseroan Terbatas dalam rapat umum pemegang saham atau RUPS.

4. Return dan Risiko a. Return

Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya (Eduardus, 2001:47) dalam Chairiyah (2013).

(29)

b. Risiko

Dalam berinvestasi jika hanya menghitung return saja untuk suatu investasi tidaklah cukup, akan tetapi risiko invetasi juga perlu diperhitungkan. Menurut Jogiyanto (2010) mendefenisikan risiko sebagai variabilitas return terhadap return yang diharapkan. Menurut Eduardus (2010:189) risiko merupakan kemungkinan perbedaan return aktual yang diterima dengan return harapan. Semakin besar kemungkinan perbedaannya, berarti semakin besar risiko investasi tersebut. Menurut Irham (2015:102) risiko dapat diartikan sebagai bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya (future) dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan saat ini. Menurut Chairiyah (2013) sumber risiko investasi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: Risiko sistematik (Systematic risk) Risiko sistematis merupakan risiko yang mempengaruhi semua (banyak perusahaan), dan Risiko tidak sistematis (Unsystematic risk) Risiko tidak sistematis merupakan risiko yang mempengaruhi satu (sekelompok kecil) perusahaan. Seorang investor untuk menurunkan risiko yang akan diterimanya, maka mereka akan memilih untuk melakukan diversifikasi. Secara logika, semua pemodal akan melakukan hal yang sama apabila investasi yang mereka lakukan memiliki risiko yang cukup tinggi, dan oleh karena itu risiko yang hilang karena diversifikasi menjadi tidak relevan dalam perhitungan risiko.

(30)

Risiko sistematik menjadi perhatian dalam penelitian ini karena hanya risiko yang tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasilah yang relevan dalam perhitungan risiko. Menurut Lukas (1999:45) dalam Chairiyah (2013) risiko sistematis diukur dengan koefisisen beta yaitu koefisien yang menunjukkan kepekaan keuntungan suatu saham terhadap perubahan keuntungan saham secara rata-rata di pasar (indeks pasar).

Berdasarkan hasil pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa risiko dapat diartikan perbedaan dari hasil yang diharapkan dan yang akan diterjadi dimasa yang akan datang.

5. Beta

Satu cara untuk mengukur risiko sistematik suatu saham adalah dengan menggunakan beta, hal ini dikarenakan beta merupakan suatu pengukuran volatilitas return suatu sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar. Beta menunjukkan sensitivitas return sekuritas terhadap perubahan return pasar. Semakin tinggi beta suatu sekuritas maka makin sensitif sekuritas tersebut terhadap perubahan pasar. Beta suatu sekuritas dapat diukur dengan analisis estimasi menggunakan data historis. Beta yang diukur dengan data historis ini kemudian berguna untuk mengestimasi beta masa datang. Beta historis tersebut dapat dihitung dengan menggunakan data pasar (return sekuritas dengan return pasar), data akuntansi (laba perusahaan dengan laba indeks pasar), dan data fundamental (menggunakan variabel-variabel fundamental) (Chairiyah, 2013).

(31)

Dengan demikian beta saham dari masing-masing perusahaan berbeda-beda karena karakteristik dan kondisi fundamental yang berbeda-beda (unique risk). Oleh karena itu, tidak bisa seseorang langsung dapat menghitung berapa risiko di tiap-tiap saham dalam portofolio yang didiversifikasikannya secara terpisah tapi harus mengukur risiko pasarnya dan demikian akan diketahui tingkat kepekaan saham terhadap risiko pasar.

Berikut uraian yang menunjukkan beberapa karakteristik kepekaan beta saham yaitu β = 1 berarti perubahan return saham atau portofolio memiliki tingkat respon pergerakan yang sama dengan pergerakan return pasar. Sedangkan β > 1 menunjukkan bahwa kepekaan return saham tersebut lebih besar dari pergerakan return rata–rata pasar, hal ini sering disebut saham agresif. Sementara saham dengan β < 1 dinamakan saham defensif karena pergerakan return saham perusahaan tersebut lebih kecil daripada return pasar atau memiliki risiko dibawah rata–rata pasar (Jogiyanto, 2010:367). Dengan diversifikasi portofolio yang baik, risiko tergantung sebagian besar pada beta sekuritas pada portofolio tersebut. Investor yang cenderung tidak berani menanggung risiko yang tinggi lebih memilih saham yang memiliki beta yang rendah, begitu pula sebaliknya.

1) Pendekatan Beta Saham

Untuk mengukur risiko sistematik dapat digunakan ukuran beta. Menurut Jogiyanto (2010:379) beta dapat dihitung dengan menggunakan teknik regresi. Teknik regresi untuk mengestimasikan beta suatu sekuritas dapat dilakukan dengan menggunakan

(32)

return-return sekuritas sebagai variabel dependen dan return-return-return-return pasar sebagai variabel independen. Persamaan regresi yang digunakan untuk mengestimasi beta didasarkan pada:

a. Single Index Models

William Sharpe (1963) dalam Jogiyanto (2010) mengembangkan model disebut dengan model indeks tunggal (single-index model). Model indeks tunggal digunakan untuk menghitung return ekspektasian dan risiko portofolio. Dengan menggunakan data time series regresi linier antara rate of return saham sebagai variabel dependent dan rate of return portofolio pasar sebagai variabel independen dapat menunjukkan beta yang dicari. Maka return saham dan return pasar yang telah dihitung selanjutnya dipakai untuk menghitung beta masing-masing perusahaan dengan menggunakan regresi Ordinary Least Square (OLS) berdasarkan model indeks tunggal yang persamaanya dirumuskan sebagai berikut:

Rit = 𝛼𝑖 + 𝛽𝑖 Rmt + 𝑒𝑖 dalam hal ini:

Rit : Return saham perusahaan i pada periode ke t.

𝛼𝑖 : Nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independent

terhadap return pasar.

𝛽𝑖 : Beta untuk masing-masing perusahaan i.

Rmt : Tingkat return dari indeks pasar juga merupakan suatu

variabel acak.

𝑒𝑖 : Kesalahan residu, merupakan variabel acak dengan nilai

(33)

Teknik dengan menggunakan single index model ini dilakukan dengan meregresikan secara sederhana return pasar terhadap return saham. Beta menunjukkan kemiringan garis regresi dan α menunjukkan intersep dengan sumbu Ri. Semakin besar beta maka semakin curam kemiringan garis tersebut yang mana menunjukkan semakin besar risiko yang ditanggung investor. Dalam penelitian ini digunakan perhitungan beta dengan single index model. Hal ini dikarenakan single index model lebih sederhana dan lebih mudah pengaplikasiannya serta lebih mewakili kenyataan sesungguhnya.

b. Capital Asset Pricing Model

Bentuk dasar Capital Asset Pricing Model pertama kali dikembangkan secara terpisah oleh Sharpe (1964), Lintner (1965) dan Mossin (1969) dalam Jogiyanto (2010). Capital Asset Pricing model merupakan model yang memungkinkan untuk menentukan pengukur risiko, relevan dan bagaimana hubungan untuk risiko setiap aset apabila pasar modal dalam keadaan seimbang. Dalam model ini beta sebagai pengukur dalam faktor risiko. Return dan risiko disini dijelaskan hubungannya dengan security market line. Menurut Suad (2005) dalam Chairiyah (2013) rumus untuk security market line ini dapat dituliskan sebagai berikut : Ri = Rf + ( Rm – Rf ) βi.

Rumus ini dapat menjelaskan bahwa tingkat return dari suatu saham sama dengan tingkat bunga bebas risiko

(34)

ditambahkan dengan premi risiko. Security Market Line ini menunjukkan hubunga linear positif bahwa semakin besar beta saham maka semakin besar risiko sistematisnya dan semakin besar return yang diinginkan oeh investor (Elton dan Gruber dalam Jogiyanto, 2010). Model CAPM tidak digunakan dalam penelitian ini dikarenakan terdapat beberapa asumsi dalam penggunaan CAPM yang tidak sesuai dengan kenyataan misalkan seperti diijinkannya short sales, semua investor memiliki pengharapan yang seragam terhadap faktor-faktor input yang digunakan untuk keputusan portofolio, serta tidak adanya inflasi atau pasar modal dalam kondisi ekulibrium (Jogiyanto, 2010:488).

2) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Beta

Pengukuran beta tetap tidak akan terlepas dari faktor-faktor fundamental seperti pertumbuhan aset dan karakteristik-karakteristik perusahaan yang mempengaruhinya. Beaver berusaha mengembangkan penelitian Ball and Brown dengan menyajikan perhitungan beta sebagai ukuran risiko sistematis menggunakan variabel fundamental yaitu (Beaver, 1970 dalam Jogiyanto, 2010:389):

a. Dividend Payout

Dividend payout diukur sebagai dividen yang dibayarkan dibagi dengan laba yang tersedia untuk pemegang saham umum.

(35)

b. Asset Growth

Asset growth didefinisikan sebagai perubahan (tingkat pertumbuhan) tahunan dari total aset. Variabel ini diprediksi mempunyai hubungan positif dengan risiko sistematis. Hubungan ini tidak didukung dengan teori.

c. Leverage

Leverage didefinisikan sebagai nilai buku total utang dibagi dengan total aset.

d. Liquidity

Likuiditas diprediksi mempunyai hubungan yang negatif dengan risiko sistematis yaitu secara rasional diketahui bahwa semakin likuid perusahaan semakin kecil risikonya.

e. Asset Size

Asset size dipakai sebagai wakil pengukur (proxy) besarnya perusahaan. Perusahaan yang besar dianggap mempunyai risiko yag lebih kecil. Alasannya adalah karena perusaaan yang besar dianggap lebih mempunyai akses ke pasar modal, sehingga dianggap mempunyai risiko sistematis yang lebih kecil (Elton dan Gruber dalam Jogiyanto 2010).

f. Earning Variabiity

Variabilitas laba yang diukur dengan nilai deviasi standar dari PER.

g. Accounting Beta

Beta akuntansi diperoleh dari koefisien regresi dengan dependent variable perubahan laba akuntansi dan independent variable

(36)

adalah perubahan indeks pasar untuk laba akuntansi portofolio pasar.

Analisis rasio keuangan perusahaan biasanya merupakan langkah pertama dalam analisis keuangan. Rasio keuangan pada dasarnya disusun dengan menggabung-gabungkan angka-angka di dalam atau antara laporan laba-rugi dan laporan posisi keuangan. rasio-rasio keuangan tersebut digunakan untuk melihat prospek dan risiko perusahaan dimasa yang akan mendatang.

6. Asset Growth

Pertumbuhan aset atau asset growth didefinisikan sebagai perubahan tahunan dari aktiva total (Jogiyanto, 2010:391 dalam Chairiyah,2013). Menurut Weston dan Brigham (2004;475) dalam Poernawarman (2015) mengatakan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang cepat harus lebih banyak mengandalkan modal eksternal. Asset growth dan risiko mempunyai hubungan yang positif dengan beta. Penggunaan beta sebagai ukuran risiko saham dalam penelitian disebabkan karena beta sebagai ukuran risiko sistematis akan dapat dipakai untuk mengestimasi tingkat keuntungan yang diharapkan.

Menurut Jogiyanto (2014) asset growth merupakan tingkat pertumbuhan tahunan dari total aktiva. Tingkat pertumbuhan aktiva yang cepat mengindikasikan adanya ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan. Semakin besar ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan, semakin besar dana yang dibutuhkan. Semakin besar dana yang dibutuhkan, semakin besar laba yang ditahan oleh perusahaan dan

(37)

semakin kecil deviden yang dibagikan untuk para pemegang saham. Semakin besar ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan, semakin besar dana yang dibutuhkan, semakin besar risiko kegagalan ekspansi (pengembangan usaha).

Asset growth menunjukkan bahwa dimana merupakan aktiva operasional perusahaan. Dimana Manajer dalam bisnis perusahaan dengan memperhatikan pertumbuhan amat lebih menyukai untuk melakukan investasi pada pendapatan setelah pajak dan mengharapkan kinerja yang lebih baik dalam pertumbuhan perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan besar memiliki kemungkinan kegagalan dan kebangkrutan yang lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan kecil. Perusahaan besar diharapkan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya, tetap mampu bersaing dengan pasar dan mampu memberikan kemakmuran kepada pemegang saham. Semakin besar ukuran perusahaan, semakin kecil risiko perusahaan. (Christian H.M, dkk 2010). Tingkat pertumbuhan aktiva dihitung dengan proporsi perubahan aktiva dari satu periode ke periode berikutnya. Menurut Jogiyanto (2014) asset growth dapat dirumuskan:

𝑒 ( ) ( ) ( )

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan semakin besar aset diharapkan semakin besar juga perkembangan perusahaan dan dapat memberi investor return yang lebih besar seperti yang diharapkan. Dan semakin besar aset perusahaan maka semakin besar pula risiko yang dapat terjadi selama pengelolaan aset tersebut.

(38)

7. Debt To Equity Ratio

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio perbandingan antara total hutang dengan total modal sendiri. Semakin tinggi rasio DER menunjukkan semakin tinggi modal perusahaan yang dibiayai dari dana eksternal. DER menunjukan sumber pendanaan perusahaan antara sumber internal dan eksternal. DER memperlihatkan seberapa banyak sumber pendanaan untuk aktiva perusahaan yang bersumber dari dana internal maupun eksternal. Rasio ini dapat dicari dengan rumus :

𝑒 𝑖 𝑖

Debt to Equity Ratio menunjukkan perbandingan antara hutang dengan ekuitas. Bila perusahaan dapat mengatur kombinasi yang optimal antara pinjaman utang dan modal sendiri, maka perusahaan dapat memaksimalkan nilai perusahaan.

8. Earnings Per Share

Earning Per Share atau laba per lembar saham adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap lembar saham yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya. (Winur.h dan Sri.A, 2014). Rasio ini mengukur laba bersih yang diperoleh setiap lembar saham biasa. Rasio ini dapat dicari dengan rumus :

𝑖 𝑒 𝑒

Semakin besar nilai EPS menunjukkan perusahaan mampu memberikan laba yang lebih tinggi bagi investor. Semakin tinggi tingkat pengembalian saham maka akan semakin rendah risiko yang melekat

(39)

pada saham tersebut, sehingga risiko yang akan diterima oleh investor semakin rendah.

B. Penelitian Terdahulu

No. Nama Peneliti Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

1. Sondakh et al (2015). Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Return On Asset, Return On Equity Pengaruhnya Terhadap Harga Saham Pada Indeks LQ 45 di BEI Periode 2010-2014.

Metode Kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Return On Equity dan Return On Assets secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham. 2. Zeinora (2015). Pengaruh Debt To Equity Ratio, Return On Asset, Price book value dan Price Earning Ratio Terhadap Metode yang digunakan adalah analisis linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan semua variabel secara simultan memberikan pengaruh positif

(40)

Beta Saham Study Empiris Pada perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012. dan signifikan terhadap Beta. Secara parsial Debt To Equity Ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap risiko sistimatis (beta). 3. Kusuma (2016). Pengaruh Asset Growth, Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Total Asset Turnover Dan Earning Per Share terhadap Beta Saham Pada Perusahaan yang Masuk dalam Kelompok Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2013-Metode dengan pengujian menggunakan teknik analisis linear berganda. Faktor-faktor fundamental yang dipilih yaitu AG,

DER, ROE, TATO, EPS terbukti bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham pada perusahaan yang masuk dalam kelompok Jakarta Islamic Index

(41)

2015 (JII). Untuk uji signifikansi parsial hanya asset growth (AG) yang berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham 4. Sari et al (2017). Pengaruh rasio Current Ratio (CR), Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), dan Earning Per Share (EPS) terhadap Harga saham pada perusahaan sub sektor property dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-Metode Purposive Sampling, dengan menggunakan teknik analisis regresi linear berganda dengan bantuan program Microsoft Excel 2010 dan SPSS (Statistical

Package for the Social Science) versi 20.0 dengan metode stepwise. Hasil pengujian menunjukan bahwa variabel yang berpengaruh yaitu Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif signifikan, dan Return On Equity (ROE) berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham. Sedangkan

(42)

2015. variabel Current Ratio (CR) dan Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap harga saham. 5. Suryawan dan Wirajaya (2017). Pengaruh Current ratio, Debt to equity ratio dan Return on asset pada Harga saham. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi non partisipan dengan data sekunder. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil analisis ditemukan bahwa variabel Current ratio dan Debt to equity ratio tidak berpengaruh pada harga saham sedangkan variabel Return on assets berpengaruh positif pada harga saham. 6. Priyanto (2017). Pengaruh Asseth Growth, Leverage dan Earning Variability Metode menggunakan pengujian hipotesis. Asset growth tidak berpengaruh terhadap beta

(43)

Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan Jakarta Islamic Indeks di Bursa Efek Indonesia. saham, Leverage tidak berpengaruh terhadap beta saham dan Earning Variability berpengaruh terhadap beta saham. 7. Laraswati et al (2018). Pengaruh Faktor-Faktor Fundemental Current Ratio, Return On Asset, Return On Equity, Total Asset Turn Over, Debt To Equity Ratio, dan Asseth Growth Terhadap Beta Saham Syariah Di Bursa Efek Indonesia. Pengujian secara parsial. Asset growth tidak berpengaruh positif signifikan terhadap beta saham. mempunyai koefisien regresi negatif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap Beta.

(44)

(2018). Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS) dan Return On Assets (ROA) Terhadap Nilai Perusahaan Subsector Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia. asosiatif dengan teknik analisis linear berganda. menunjukan bahwa Debt to Equity Ratio dan Return On Assets berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Earning Per Share berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan Secara bersama-sama ketiga variabel independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan. 9. Sari dan Alteza (2019). Pengaruh Faktor Pundamental Terhadap Risiko Sistematik (Beta) Metode analisis data yang dipergunakan adalah regresi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa earning variability

(45)

Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2015-2017.

linear berganda. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Risiko Sistematis, debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap risiko sistematis, price to book value berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Risiko Sistematis, dan earning per share tidak berpengaruh terhadap Risiko Sistematis. 10. Musayyana et al (2019). Pengaruh Return On Assets, Earning Per Share, Ukuran Metode purposive sampling dan Metode regresi linear berganda. Dalam penelitian ini secara simultan dapat diperoleh

(46)

Perusahaan dan Debt to Equity Ratio Terhadap Nilai Perusahaan. kesimpulan bahwa variabel Return On Assets, Earning Per Share, ukuran perusahaan, dan Debt to Equity Ratio bersama-sama mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel tingkat nilai perusahaan. C. Kerangka Fikir

Pengaruh Asset Growth terhadap Beta Saham dapat diartikan semakin tinggi asset growth berarti peluang untuk mengadakan ekspansi perusahaan tersebut telah dimanfaatkan tentu dengan asumsi dalam mengadakan ekspansi telah dipertimbangkan dengan matang. Ekspansi akan dilakukan manakala dapat menaikan rate of return sehingga diprediksikan mempunyai hubungan positif dengan beta (Muljono, 2002:31 dalam Laraswati dewi,dkk 2018).

(47)

Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan aset yang cepat menggambarkan bahwa adanya ekspansi yang sedang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Jika ekspansi ini tidak berhasil, maka beban yang harus ditanggung oleh perusahaan akan meningkat. Apabila beban terlalu tinggi akan menyebabkan para investor menarik sahamnya karena turunnya harapan para pemodal serta menurunnya minat investor yang pada awalnya ingin menanamkan modal pada perusahaan tersebut. Hal ini menyebabkan perubahan terhadap return saham sehingga berakibat pada beta saham perusahaan Laraswati Dewi, Dkk 2018)

Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Beta Saham menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutangnya. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang investor. Maka dengan menggunakan rasio ini investor dapat mengetahui tingkat pengembalian modal atas investasi yang telah dilakukan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan Debt to Equity Ratio bertujuan agar harapan perusahaan dalam memperoleh keuntungan lebih besar dari biaya tetap yang harus dibayar. Jika keuntungan yang dimiliki perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan biaya tetap maka laba yang diperoleh menjadi berkurang serta akan mempengaruhi dividen yang diterima oleh investor. Prospek perusahaan yang semakin menurun akan menyebabkan berkurangnya harapan investor dalam berinvestasi, sehingga tingkat resiko yang akan ditanggung oleh perusahaan semakin besar (Laraswati,dkk 2018).

(48)

Pengaruh Earning per share (EPS) terhadap Beta Saham sebagai salah satu rasio market valuation yang menjadi dasar tujuan perusahaan dan juga sebagai pertimbangan calon investor dalam mengambil keputusan. Komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan adalah laba per lembar saham atau yang lebih dikenal sebagai earning per share. Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan (Chairiyah, 2013).

Berdasarkan kerangka teori yang telah dikemukakan sebelumnya, Penulis menggambarkan pemikiran sebagai berikut:

Gambar 2.1 Asset Growth ( X1 ) Debt To Equity Ratio ( X2 )

Earning Per Share ( X3 )

Beta Saham ( Y )

(49)

D. Hipotesis Penelitian a. Hipotesis 1

Asset growth merupakan pertumbuhan aset per tahun. Pertumbuhan aset yang tinggi akan menimbulkan fluktuasi earnings perusahaan, sehingga perusahaan dengan tingkat pertumbuhan aset yang tinggi mempunyai dividend payout yang rendah. Dengan demikian berarti pertumbuhan aset yang tinggi akan meningkatkan risiko (Kusuma 2016).

Berdasarkan penelitian Kusuma (2016) bahwa asset growth berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham. Dengan kata lain hubungan antara asset growth dengan beta adalah positif. Untuk itu dibuat hipotesis sebagai berikut:

H1 = Asset growth berpengaruh (X1) terhadap beta saham (X2).

b. Hipotesis 2

Salah satu keputusan yang harus diambil untuk memaksimalkan nilai perusahaan adalah keputusan pendanaan, dimana perusahaan akan menentukan struktur modal yang terbaik untuk mencapai tujuan perusahaan. Besarnya pengunaan dana eksternal maupun internal akan mempengaruhi nilai perusahaan (Sondakh,dkk 2015). Debt to Equity Ratio dapat memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan sehingga resiko tak terbayarkan suatu hutang perusahaan dapat dihitung demi menghindari kemungkinan buruk yang nantinya akan terjadi dikarenakan rasio ini adalah cerminan kemampuan perusahaan

(50)

membiayai aktivitasnya dengan pinjaman dana yang disediakan oleh pemegang saham Pioh,dkk (2018). Debt to equity ratio menunjukkan perbandingan antara hutang dengan modal sendiri. Semakin tinggi DER maka semain tinggi nilai beta (Kusuma, 2016).

Berdasarkan penelitian Laraswati,dkk (2018) bahwa bahwa Debt to Equity Ratio memiliki pengaruh yang signifikan terhadap beta saham dikarenakan semakin tinggi nilai Debt to Equity Ratio menggambarkan besarnya proporsi penggunaan utang dalam pembiayaan investasi. Semakin tinggi nilai Debt to Equity Ratio menggambarkan penggunaan utang yang besar sehingga beta saham akan meningkat, hal ini dikarenakan perusahaan beresiko tidak mampu membayar utang-utang tersebut. Penelitian yang sama pada Sondakh,dkk (2015) yang menunjukan bahwa DER berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan. Hal ini berarti bahwa kenaikan nilai DER dapat meningkatkan harga saham perusahaan secara signifikan. Begitupun hasil penelitian Pioh,dkk (2018) ditemukan bahwa variabel Debt to Equity Ratio dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan-perusahaan Consumer Goods Sub Sector Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI tahun 2013 – 2017. Debt to Equity Ratio atau DER adalah rasio keuangan utama dan digunakan untuk menilai posisi keuangan suatu perusahaan. Hasil penelitian yang sama juga ditunjukkan oleh Musayyana,dkk (2019) yang menyebutkan Debt to Equity Ratio berpengaruh Positif dan signifikan Terhadap variabel tingkat nilai perusahaan. Dengan kata lain semakin tinggi Debt to Equity Ratio maka semakin baik pula nilai perusahaan

(51)

tersebut. Berdasarkan temuan-temuan diatas maka dibuat hipotesis sebagai berikut:

H2 = Debt to equity ratio (X2) berpengaruh terhadap beta saham (Y).

c. Hipotesis 3

Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang digunakan untuk menggambarkan sejauh mana manajemen perusahaan mampu memberikan kesejahteraan kepada pemegang saham yang dihasilkan oleh laba bersih setelah pajak. Semakin besar nilai rasio ini maka akan semakin baik, yang berarti perusahaan mampu memberikan keuntungan dan kesejahteraan pemegang saham yang dihasilkan oleh laba bersih dari perusahaan tersebut (Heni Z.S dan Astrid Dita M.H 2017). Earning per share (EPS) merupakan rasio yang menggambarkan tingkat laba yang diperoleh oleh para pemegang saham, dimana tingkat laba (per lembar saham) menunjukkan kinerja perusahaan terutama dari kemampuan laba yang dikaitkan dengan pasar (Musayyana,dkk 2019).

Berdasarkan penelitian Heni Z.S dan Astrid Dita M.H (2017) bahwa Earning Per Share berpengaruh signifikan terhadap harga saham Hal ini menunjukan apabila nilai Earning Per Share tinggi menunjukan bahwa perusahaan memilki tingkat kemampuan menghasilkan laba bersih yang tinggi, sehingga berdampak positif bagi investor yaitu mampu memperoleh laba per lembar saham yang besar. Hal yang sama juga ditunjukkan dalam Penelitian Musayyana,dkk (2019) bahwa secara parsial dan simultan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap

(52)

variabel tingkat nilai perusahaan. Berdasarkan Penelitian diatas maka hipotesis yang diajukan dalam Penelitian ini sebagai berikut:

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah kegiatan pengumpulan data sekunder dan analisis data dengan tujuan untuk membuat deskriptif, gambaran secara sistematis, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta, serta hubungan yang fenomenal yang diselidiki dan metode penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu (Rachmatullah, 2017).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Galery Bursa Efek Indonesia (BEI) di Universitas Muhammadiyah Makassar Jl.Sultan Alauddin No. 259 Makassar. Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2020.

C. Defenisi Operasional Variabel

Dalam hal ini variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel Independen

Variabel independen merupakan variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain (Sarwana dan Martadiredja, 2008:107 dalam Laraswati, Dkk 2018) Variabel independen yang digunakan yaitu faktor fundamental yang diproksikan oleh Asset Growth, Debt to Equity Ratio, dan Earning Per Share.

(54)

a. Asset Growth: Rasio ini untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisinya di dalam industru dan dalam perkembangan ekonomi secara umum (Fahmi, 2013:137).

𝑒 ( ) ( ) ( )

b. Debt to Equity Ratio: Rasio ini menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang pada pihak luar (Pramono, 2015:6).

𝑒 𝑖 𝑖

c. Earning per share (EPS): Rasio ini untuk keuntungan yang diberikan kepada pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dipegangnya (Irham, 2012:70).

𝑖 𝑒 𝑒

2. Variabel Dependen

Variabel Dependen adalah variabel yang memberikan reaksi/respons jika dihubungkan dengan variabel bebas (Sarwana dan Martadiredja, 2008:107 dalam Laraswati, Dkk 2018). Beta saham merupakan hasil regresi antara return perusahaan yang dihitung dari perubahan harga saham perusahaan pada akhir bulan dengan return pasar yang dihitung dari perubahan IHSG setiap akhir bulan (Aruzzi dan Bandi, 2003:653 dalam Laraswati, Dkk 2018). Beta saham dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

(55)

Rit : Return saham perusahaan i pada periode ke t.

𝛼𝑖 : Nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independent

terhadap return pasar.

𝛽𝑖 : Beta untuk masing-masing perusahaan i.

Rmt : Tingkat return dari indeks pasar juga merupakan suatu

variabel acak.

𝑒𝑖 : Kesalahan residu, merupakan variabel acak dengan nilai

ekspektasi sama dengan nol atau E (ei =0).

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi dalam penelitian ini merupakan seluruh laporan keuangan yang berkaitan dengan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Pengambilan sampel dengan metode menggunakan Purposive Sampling pada keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

E. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik penentuan sampel dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, yaitu:

1. Perusahaan yang konsisten mempublikasikan Laporan keuangan dengan lengkap

2. Perusahaan yang tidak delisting selama periode pengamatan.

3. Perusahaan Manufaktur yang memiliki laporan keuangan tahunan yang lengkap pada tahun 2019.

4. Peneliti mengambil Perusahaan yang bergerak di bidang Manufaktur (property dan real estate).

(56)

F. Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2016:147) analisis data adalah kegiatan setelah data dari seluruh responden atau data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk hipotesis yang telah diajukan.

Analisis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan uji statistik berupa SPSS. Wijaya (2012:97) menjelaskan bahwa analisis regresi bertujuan menganalisis besarnya pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent).

Teknik analisa data merupakan suatu langkah yang paling menentukan dari suatu penelitian, karena analisa data berfungsi untuk menyimpulkan hasil penelitian.

1. Uji asumsi klasik

Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik antara persamaan regresi berganda yang digunakan. Terdapat empat asumsi klasik yang digunakan, yaitu:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah sampel yang digunakan mempunyai distribusi normal atau tidak. Dalam model regresi linier, asumsi ini ditunjukkan oleh nilai error yang berdistribusi normal. Model regresi yang baik adalah model regresi yang dimiliki distribusi normal atau mendekati normal, sehingga layak dilakukan pengujian

(57)

secara statistik. Pengujian normalitas data menggunakan Test of Normality Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan ada atau tidaknya korelasi antara variabel bebas. Jika terjadi kolerasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinierita. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. Jika terbukti ada multikolinieritas, sebaiknya salah satu independen yang ada dikeluarkan dari model, lalu pembuatan model regresi diuang kembali (Singgih Santoso, 2010:234). Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinieritas dapat dilihat dari besaran Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah mempunyai angka tolerance mendekati 1. Batas VIF adalah 10, jika nilai VIF dibawah 10, maka tidak terjadi gejala multikolinieritas (Gujarati, 2012:432).

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians atau residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Uji heteroskedastisitas penelitian ini dengan menggunakan metode scatterplots, dengan melihat grafik scatterplot antara standardized preduced value (ZPRED) dengan Studentized Residual (sresid). Ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan X adalah residual. Dasar pengambilan keputusan yaitu:

(58)

1) Jika ada pola tertentu , seperti titik-tituk yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyembpit), maka terjadi heteroskedastisitas.

2) Jika ada pola jelas,seperti titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

d. Uji Autokolerasi

Uji autokolerasi yang dilakukan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi linier ada kolerasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi kolerasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Tentu saja model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokolerasi (Singgih Santoso, 2012:241).

Pada prosedur pendeteksian masalah autokolerasi dapat digunakan uji run test. Runt test sebagai bagian dari statistik nonparametrik dapat digunakan untuk menguji apakah terdapat korelasi yang tinggi atau tidak Dasar pengambilan keputusan dalam uji runt test adalah:

1) Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05 maka terdapat gejala autokorelasi

2) Sebaliknya jika nilai Asymp. Sig. 92-tailed) > 0,05 maka tiak terdapat gejala autokorelasi.

e. Metode pengujian hipotetis

Dalam analisis data metode yang digunakan adalah metode statistic untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2011:6). Anlisis yang dilakukan

(59)

untuk menguji hipotesis adalah dengan metode regresi berganda dan proses analisis datanya menggunakan program computer SPSS.

1. Uji t (Uji Parsial)

Uji t (t-test) melakukan pengujian terhadap koefisien regresi secara parsial, pengujian ini dilakukan untuk mengetahui signifikansi peran secara parsial antara variabel independen terhadap variabel dependen dengan mengasumsikan bahwa variabel independen lain dianggap konstan. Menurut Sugiyono (2014:250), Menurut V Wiratna Sujarweni (2014:155) jika nilai > maka variabel independen

secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. dapat diperoleh dengan rumus:

= (α / 2 : n – k - 1)

(t-test) hasil perhitungan ini selanjutnya dibandingkan dengan t tabel dengan menggunakan tingkat kesalahan 0,05. Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) diterima jika nilai > atau nilai sig < α

2) ditolak jika nilai < atau nilai sig > α

Bila terjadi penerimaan Ho maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan, sedangkan bila ditolak artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan.

(60)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data Penelitian

Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan property and real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan kriteria tertentu seperti, perusahaan harus tergabung di BEI pada periode yang peneliti inginkan yaitu 2019, perusahaan tersebut secara periodik mengeluarkan laporan keuangan tiap tahunnya selama periode pengamatan, dan perusahaan yang memiliki kelengkapan data keuangan untuk menghitung variabel Rasio Asseth Growth (X1), Debt To Equity Ratio (X2), Earning per share (X3) terhadap Beta Saham (Y) Berdasarkan variabel yang ada dalam penelitian. Berikut tahap seleksi sampael dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 4.1

Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria

Perusahaan manufaktur yang terdaftar selama periode penelitian yaitu tahun 2019

193

Perusahaan yang tidak delisting selama periode pengamatan 183 Perusahaan manufaktur pada bidang property dan real estate

periode penelitian 2019

54 Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan dan

memiliki kelengkapan data variabel penelitian yang terkait

19

Jumlah sampel 19

(61)

Berdasarkan Tabel 4.1 pengambilan sampel secara purposive sampling diatas, sampel perusahaan yang memenuhi kriteria pertama yaitu perusahaan yang terdaftar selama periode penelitian berjumlah 193 perusahaan. Untuk kriteria kedua yang memenuhi kriteria delisting selama periode penelitian berjumlah 183 perusahaan. Perusahaan yang memenuhi kriteria ketiga yaitu perusahaan yang bergerak dibidang property dan real estate berjumlah 54 perusahaan, sedangkan untuk kriteria keempat yaitu memiliki kelengkapan data terkait variabel penelitian berjumlah 19 perusahaan. Dari hasil pembatasan sampel maka dapat diperoleh sampel penelitian yaitu 19 perusahaan yang dijelaskan dalam Tabel 4.2 dengan nama perusahaan sebagai berikut:

Tabel 4.2

Sampel Data Penelitian

No Nama Perusahaan Kode Perusahaan

1 Akasha Wira International Tbk ADES

2 Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk AISA

3 Tri Banyan Tirta Tbk ALTO

4 Bumi Teknokultura Unggul Tbk BTEK

5 Budi Starch & Sweetener Tbk BUDI

6 Wilmar Cahaya Indonesia Tbk CEKA

7 Delta Djakarta Tbk DLTA

(62)

9 Inti Agri Resources Tbk LIKP

10 Indofood Sukses Makmur tbk INDF

11 Magna Investama Mandiri Tbk MGNA

12 Multi Bintang Indonesia Tbk MLBI

13 Mayora Indah Tbk MYOR

14 Langgeng Makmur Industri Tbk LMPI

15 Chitose Internasional Tbk CINT

16 Sekar Laut Tbk SKLT

17 Sentar Top Tbk STTP

18 Ultra Jaya Milk Industry & Tranding Company Tbk

ULTJ

19 Gudang Garam Tbk GGRM

Tabel diatas merupakan data perusahaan manufaktur bidang Real eatate dan Property di BEI yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Untuk itu lebih jauh akan dijelaskan deskripsi penelitiannya, yaitu sebagai berikut:

Gambar

Gambar 4.1 Uji Heteroskedastisitas  ..............................................................
Gambar 2.1 Asset Growth ( X1 ) Debt To Equity Ratio ( X2 )
Tabel diatas merupakan data perusahaan manufaktur bidang Real  eatate  dan  Property  di  BEI  yang  menjadi  sampel  dalam  penelitian  ini

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Debt to Total Asset Ratio (DAR) dan Debt to Total Equity Ratio (DER) secara parsial dan simultan terhadap Earning Per

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh return on asset (ROA), earning per share (EPS), debt to equity ratio (DER), dan market value added (MVA) terhadap

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Earning Per Share (EPS), Debt to Equiti Ratio dan Retun On Asset (ROA) terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang

bebas yaitu Return On Asset, Debt to Equity Ratio, Total Asset Turn Over, Earning Per Share, Price Earning Ratio dan Current Ratio tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap

skripsi dengan judul “Pengaruh Debt to Equity Ratio, Return On Asset, Debt Ratio, dan Earning Per Share Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan LQ 45 di Bursa

Tujuan dari penelitian ini yaitu : (1) untuk menguji dan menganalisis pengaruh earning per share, debt to equity ratio, return on investment dan return on assets terhadap dividend

Penelitian i ini i digunakan i untuk menguji i pengaruh i Current Ratio, earning Per Share dan Debt To Equity Ratio terhadap Return On Asset. Semarang:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Earning Per Share, Price Earning Ratio, Return On Equity, Debt To Equity Ratio, Dan Market Value Added