https://e-journal.sdn195pinangmerah.com/index.php/jkb
e-ISSN : 2722-0052
p-ISSN : 2722-029X
J . K . B
Jurnal Kependidikan BetaraSitasi: Nabila, S. R., & Rachmasari, S. (2021). Identifikasi Miskonsepsi dan Kesulitan Siswa pada Materi Usaha dan Energi. Jurnal Kependidikan Betara, 2(1), 67-72.
Identifikasi Miskonsepsi dan Kesulitan Siswa pada Materi
Usaha dan Energi
Sheila Rohmatin Nabila*, Sekar Rachmasari2
Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5, Malang, 65145, Indonesia
*E-mail: [email protected]
1. Pendahuluan
Suatu ilmu yang sangat erat kaitannya dengan alam semesta ialah fisika yang didalamnya
mengandung ilmu mengenai teori, hukum, konsep dan fakta yang dikemukakan oleh banyak
ilmuwan terkemuka sesuai dengan apa yang telah diteliti (Rosuli et al., 2019). Dalam penelitian
(Pratama & Istiyono, 2015) fisika ialah ilmu pengetahuan yang mengajarkan berbagai gejala
yang terjadi di alam semesta ini.
Hakikat fisika adalah ilmu yang mempelajari berbagai macam gejalaReceived
November 2020
Revised
Desember 2020
Accepted for Publication
Januari 2020
Published
Januari 2020 Abstract
In physics learning, there are often misunderstanding or difficulty in understanding a material, one of which is work and energy. There are many students who have difficulty to solve a problem related to effort and energy. One of them is that students find it difficult to understand when a lot of energy is expended to move the train, so that someone can be said to be not doing business. Students assume that when doing an activity with energy, that person generates effort. The error was caused by the teacher's error in explaining to students, the language used by the teacher was not correct so that students had an understanding that deviated from the understanding that the teacher expected or the teacher intended, besides that it could be caused by students who had a limited initial understanding making it difficult to solve a problem. physics. The article was created to provide evidence that there are many misconceptions and difficulties of students in understanding the material of effort and energy so that educators are expected to emphasize understanding concepts to students.
Keywords: misconceptions, difficulties, work, energy
Abstrak
Dalam pembelajaran fisika tidak menutup kemungkinan terjadinya kesalahpahaman ataupun kesulitan dalam memahami suatu materi dimana sebagai contoh ialah materi usaha energi. Siswa sebagian besar kesulitan dalam menyelesaikan suatu problem terkait usaha dan energi. Salah satunya yaitu siswa sulit memahami ketika tidak sedikit energi yang dikeluarkan untuk menggerakkan kereta, maka seseorang tersebut dapat dikatakan tidak sedang melakukan usaha. Siswa beranggapan ketika melakukan suatu aktivitas dengan energi maka orang tersebut menghasilkan usaha. Kesalahan itu disebabkan karena kesalahan guru dalam memberi penjelasan kepada siswa, bahasa yang digunakan guru kurang tepat sehingga siswa memiliki pemahaman yang menyimpang dari pemahaman yang guru harapkan atau guru maksud, selain itu dapat disebabkan siswa yang memiliki pemahaman awal yang terbatas sehingga sulit dalam menyelesaikan suatu permasalahan fisika. Artikel dibuat untuk memberi bukti bahwa masih banyak miskonsepsi dan kesulitan siswa dalam memahami materi usaha dan energi sehingga para pendidik diharapkan dapat lebih menekankan pemahaman konsep kepada siswa.
68 yang diawali dengan suatu proses ilmiah berdasarka tindakan ilmiah (Bektiarso et al., 2014). Pembelajaran fisika sendiri memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan siswa sehingga siswa tidak hanya memiliki keterampilan (psikomotorik) dan pengetahuan (kognitif) tetapi diharapkan juga dapat memiliki pola pikir yang runtut dan kreatif (Pratama & Istiyono, 2015). Karena pada hakikatnya pembelajaran fisika mayoritas guru lebih memperhatikan hasil dari pada proses belajar siswa (paham tidaknya pada materi fisika) (Pratama & Istiyono, 2015). Nah dari beberapa pandangan mengenai fisika yang telah dipaparkan diatas dapat disimpulkan yaitu fisika ialah suatu ilmu yang didalamnya mempelajari banyak peristiwa atau kejadian alam yang banyak terjadi dan untuk penyajian materinya ditulis dalam bentuk rumusan matematis dan mudah dipahami maksudnya (Pratama & Istiyono, 2015)
Tetapi berdasarkan penelitian (Sirait, 2012) siswa masih banyak yang merasa fisika mata pelajaran yang sangat susah, dan tidak mudah menerapkan rumus ke dalam soal. Hingga saat ini, siswa bahkan telah menyadari bahwa fisika adalah mata pelajaran yang mengerikan, salah satunya karena ketika dalam kegiatan belajar fisika berlangsung, guru kurang mengikutsertakan siswa dan juga guru hanya menyuruh agar siswa mengingat rumus. Selain itu juga berdasarkan hasil penelitian dari berbagai sumber, pendapat beberapa siswa serta para guru pengajar fisika bahwa pelajaran fisika tidak begitu disukai oleh kebanyakan siswa, fisika sudah dianggap sebagai pelajaran yang sulit, banyak rumus sehingga minat belajar siswa terhadap fisika sangat rendah sehingga itulah yang juga dapat menimbulkan miskonsepsi terhadap beberapa materi pembelajaran fisika. Miskonsepsi merupakan suatu hal yang menyatakan pada beda pemahaman persepsi siswa dengan persepsi teori ilmiah yang dibuat oleh para ahli (Jubaedah et al., 2017). Miskonsepsi seringkali muncul dalam pelajaran fisika oleh karena itu menjadi pemicu kesulitan siswa dalam mengaitkan materi dan mengakibatkan timbulnya kesalahan dalam mempelajari fisika (Yolanda, 2017). Kesalahan dalam problem tersebut salah satunya dapat dipengaruhi dari kesalahpahaman konsep siswa atau diakibatkan oleh kesulitan yang siswa temui dalam proses pembelajaran. Kekeliruan dapat terjadi karena ketidaktahuan siswa terhadap konsep yang ada (Ismail et al., 2015). Permasalahan miskonsepsi atau kesalahpahaman dalam bidang fisika telah banyak dijelaskan oleh peneliti dalam berbagai kalangan, dimana dalam hal ini suatu bidang cabang ilmu pengetahuan alam yaitu fisika yang menjelaskan mengenai kejadian dalam hidup kita sehari-hari (Hidayati et al., 2016). Keterkaitan suatu konsep dengan konsep lain dalam fisika menjadi persyaratan utama dalam pemahaman konsep yang selanjutnya. Jadi berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa ketika konsep awal yang dimiliki oleh siswa salah maka di masa akan datang juga akan mengalami miskonsepi (kesalahan konsep) pada materi yang lain.
Berdasarkan hasil penelitian (Saheb, 2018) menyatakan sekitar 21,59% siswa kesulitan dan mengalami kesalahan konsep mengenai usaha dan energi. Berdasarkan hasil penelitian (Zafitri et al., 2018) juga menyatakan bahwa siswa salah konsep dalam materi usaha energi sehingga mengakibatkan miskonsepsi pada materi tersebut besar sekitaran 41,07%. Menurut Nugraha dalam (Maison et al., 2019), kebanyakan siswa sulit memahami materi usaha energi pada rincian materi usaha bernilai positif, bernilai negatif hingga jumlah total suatu usaha yang ditimbulkan oleh gaya yang konservatif-non konservatif sehingga menimbulkan miskonsepsi yang besar.
Dalam artikel ini akan dipaparkan beberapa miskonsepsi dan kesulitan yang ditemui siswa materi usaha-energi agar penguasaan konsep siswa lebih matang dan mengurangi kesalahan konsep yang rendah. Sebagian kesalahan konsep yang lumrah terjadi ialah siswa masih sulit ketika menghadapi persoalan terkait usaha pada gaya gravitasi, usaha benda agar mengalami perpindahan dan tentu masih banyak lagi (Muchoyimah et al., 2016). Agar tidak semakin banyak miskonsepsi serta berbagai kesulitan siswa pada materi usaha energi penulis membuat artikel ini, selain itu artikel ini juga dimaksudkan agar mengetahui kesalahan apasaja yang sering dijumpai oleh siswa dan pendidik dapat membenahi bagaimana cara mengajarkan materi ini dengan tepat sehingga tidak lagi menimbulkan miskonsepsi.
2. Hasil dan Pembahasan
2.1 Identifikasi Miskonsepsi
Miskonsepsi dapat diartikan sebagai kesalahpahaman yang bisa muncul selama proses pengajaran yang baru diberikan guru ke siswa atau karena pengajaran yang bertentangan dengan konsep ilmiah yang telah dikembangkan sejak lama (Mosik & Maulana, 2010). Ketika berinteraksi dengan lingkungan alam, miskonsepi atau kesalahan konsep bisa saja terjadi pada siswa (Tayubi, 2005). Miskonsepsi
69 memiliki makna yaitu kesalahpahaman yang terjadi pada suatu pembelajaran yang baru saja diberikan kepada siswa. Mikonsepsi ini tertu bersinggungan dengan kenyataan atau teori yang ada. Miskonsepsi juga dijelaskan oleh Van Den Berg pada tahun 1991 yaitu suatu pemahaman yang akan selalu yakin dengan pemahaman tersebut tetapi pemahaman tersebut salah. pemahaman siswa berbeda dengan pemahaman fisikawan maka dari itulah terjadi miskonsepsi yaitu hubungan yang tidak senada antara pemahman dengan konsep yang ada (Mosik & Maulana, 2010). Saat siswa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya maka akan timbul pemahaman yang dibuatnya sendiri karena pengalaman yang dialaminya sehingga dari itulah muncul miskonsepsi. Pengalaman tersebutlah yang membangun miskonsepsi padahal belum tentu pemahaman yang dibuatnya itu benar atau tidak sesuai dengan teori yang ada. Apabila dalam pikiran siswa sudah melekar pemahaman yang salah maka guru sendiri juga akan sulit merubahnya (Fariyani et al., 2015).
Dalam hasil penelitan (Sofianto & Irawati, 2020) menyatakan bahwa pemahaman siswa yang bersinggungan dengan teori ataupun konsep yang disebut miskonsepsi. Miskonsepsi dapat diukur menggunakan beberapa alat sehingga tahu bahwa siswa tersebut memang tidak paham materi atau hanya siswa salah teori. Salah satu cara mengobati banyaknya miskosnepsi yang terjadi yaitu mengkaji ulang pelajaran fisika yang banyak ditemui miskonsepsinya. Miskonsepsi di indonesia dapat disebabkan karena buku yang diperjualbelikan di pasaran selain itu juga tidak menutup kemungkinan pembelajaran yang guru pakai masih berpatokan pada hafal-menghafalkan konsep semata serta rumus matematisnya saja bukan berasal dari memahami konsep yang ada, sehingga dengan adanya buku di pasaran guru maupun siswa dapat menimbulkan miskonsepsi (Negoro et al., 2018). Miskonsepsi berbahaya karena dapat membuat siswa memiliki rasa (sense) kesalahan sehingga membuat mereka enggan belajar dan menimbulkan interferensi antara konsep yang diajarkan dengan benar dengan konsep yang siswa miliki yang dipelajari salah. Miskonsepsi bahkan dapat bernilai tetap selama tidak ada konsep lain yang menantang maka dari itu perlu dilakukan remediasi untuk siswa dan calon guru fisika.
Dapat dilakukan tiga cara agar tahu beberapa miskonsepsi dan pemahaman awal yang dimiliki siswa yaitu pertama dengan memberi siswa tes tertulis serta memintanya memberi alasan pada setiap jawaban siswa (tes diagnosis), kedua yaitu dengan melakukan wawancara secara klinis dan yang ketiga meminta siswa membuat peta konsep (Taufiq, 2012). Ada sebanyak lima miskonsepsi yang lumrah terjadi dalam fisika yaitu preconceived notions atau pemahaman konsep awal, nonscientific belief atau keyakinan non ilmiah, conceptual misunderstandings atau kesalahan konsep, Vernacular misconceptions atau kesalahan penggunaan bahasa sehingga apa yang guru maksud belum tentu siswa juga memikirkan maksud tersebut, factual misconceptions atau sesuai dengan fakta miskonsepsi (Nurulwati et al., 2014). Adapun sebagian dari miskonsepsinya yaitu siswa salah mendengar apa yang diucapkan guru (salah mendengar), perkembangan kognitif siswa dan cara guru mengajar. Kesalahan atau miskonsepsi yang dimiliki dalam suatu pengetahuan perlu diubah sesegera mungkin karena jika dibiarkan maka akan mempengaruhi pembelajaran konseptual yang lain (Diani et al., 2018). Mikonsepsi tentu akan mengganggu proses transfer pengetahuan baru antara guru dan siswa. Guru yang salah dalam memberikan pemahaman juga sangat mempengaruhi pemahaman konsep siswa sehingga akan terganggu kecapaian belajar siswa (Wahyudi & Maharta, 2013).
2.2. Miskonsepsi dan Kekeliruan dalam Memahami konsep Usaha dan Energi
Dalam materi fisika, usaha (𝑊) besarnya sama dengan gaya (𝐹) dikali jarak (𝑆) sehingga dapat dituliskan (𝑊 = 𝐹. 𝑆). Bila suatu gaya (𝐹) dikenakan pada suatu benda, dan benda tersebut tidak mengalami pergerakan dalam jarak tertentu (𝑆), maka dapat dikatakan tidak terdapat usaha (𝑊). Tetapi dalam hal ini beberapa siswa disini mengira bahwa mereka punya usaha (𝑊). Mereka percaya bahwa jika seseorang menggunakan energinya untuk melakukan suatu aktivitas, maka dapat menghasilkan suatu usaha dan pemikiran siswa ini melanggar prinsip fisika yang ada. Sebagian siswa menemui kesulitan dalam menafsirkan konsep kekekalan energi. Berdasarkan pengalaman hidup mereka, jika cukup lama mengendarai mobil atau motor, maka bensin mereka akan habis. Jika mereka bekerja keras, mereka akan kelelahan (Hasim & Ihsan, 2011).
Dalam konsep usaha, ketika gaya yang diterapkan tegak lurus terhadap arah gerakan benda, maka masih disebut usaha. Dalam konsep energi kinetik, terdapat kesalahpahaman bahwa ketika kecepatan sebuah benda dibuat berlipat ganda, maka energi kinetik juga menjadi dua kali lipatnya. Selain itu miskonsepsi yang lain yaitu siswa beranggapan bahwa jika suatu benda pada lintasan parabola, maka ketika berada di posisi tertinggi benda tersebut akan stasioner sehingga benda tersebut
70 tidak mempunyai energi kinetik dan semua energi yang dimiliki benda tersebut berbentuk energi potensial (Ermawati et al., 2019). Kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami materi energi kinetik adalah mereka tidak bisa menemukan secara tepat dalam membandingkan dua benda yang memiliki energi kinetik yang bergerak pada sebuah bidang yang datar (Rahmatina et al., 2018). Dalam konsep energi ditemui miskonsepsi bahwa siswa beranggapan benda tidak dapat memperoleh energi tanpa adanya gaya (Topalsan & Bayram, 2019). Siswa beranggapan bahwa semakin panjang jalur bergerak maka semakin banyak energi dari sistem (Semih et. al, 2015). Selain itu siswa juga mengalami kesalahpahaman dalam menentukan perbedaan antara energi kinetik dan energi mekanik (Dienyati et al., 2020).
Dalam hubungan antara usaha dan energi, diasumsikan bahwa usaha dibuat oleh gaya yang membuat benda bergerak sehingga perbedaan benda yang memiliki energi kinetik, yaitu kecepatan akhir ditambahkan ke kecepatan awal 𝑊 = 𝐹. 𝑠 = 𝛥𝐸𝐾 =
1
2𝑚 (𝑣2
2 + 𝑣
12 ). Hal ini jelas tidak
benar, karena perbedaan benda yang memiliki energi kinetik seharusnya kecepatan akhir dikurangi kecepatan awal, yaitu, 𝑊 = 𝐹. 𝑠 = 𝛥𝐸𝐾 = 1/2 𝑚 (𝑣22− 𝑣12 ) (Mustari et al., 2020). Sulit bagi
mahasiswa untuk menentukan sistem dan lingkungan dalam proses bisnis dan energi (Pramesti et al., 2020). Pemikiran ini salah karena siswa tidak mengerti bahwa arah gaya (F) yang diberikan selalu ketika tegak lurus terhadap arah perpindahan, sehingga usaha yang ditimbulkan oleh F bernilai 0 (nol) (Rivaldo et al., 2020).
2.3. Definisi Usaha dan Energi
Bagian materi dalam bidang mekanika yang dapat dikatakan kompleks ialah usaha & energi. Kompleks tidaknya materi usaha dan energi dapat ditinjau dari hubungan antara beberapa konsep yang ada (Sudarmini et al., 2015). Menurut penelitian Halliday et al. (2014), usaha (W) adalah salah satu jenis pentransferan energi pada benda melalui penghubung berupa gaya reaksi terhadap benda tersebut. Pentransferan energi ke materi adalah kerja yang bernilai positif (+), dan pentransferan energi dari materi adalah kerja yang bernilai negatif (-). Menurut Serway & Jewett, pada tahun 2018 jika F atau gaya searah dengan s (perpindahan), maka usahanya bertanda positif dan jika gaya (F) negatif, berarti gaya (f) berlawanan dengan s atau perpindahannya. Maka dapat disimpulkan bahwa gaya searah dengan gerak benda berarti gaya bekerja positif, sedangkan gaya berlawanan dengan arah gerak benda bertanda negatif (Maison et al., 2019).
Suatu usaha juga dapat bernilai nol jika perpindahannya (s) bernilai nol.contoh kasus jika seseorang memberikan suatu dorongan pada tembok dengan tenaga yang besar tetapi tembok yang diberikan dorongan itu tidak mengalami perubahan posisi maka dapat siartikan bahwa orang yang sedang memberikan dorongan pada tembok tersbut tidak sedang memberikan usaha meskipun banyak energi yang dikeluarkan. Jika orang tersebut melakukan suatu dorongan yang menyebabkan benda berpindah dari posisi awal maka orang tersebut barulah dapat dikatakan sedang melakukan usaha. Dalam pembahasan materi terkait usaha dan energi terdapat beberapa bagian subbab materi yang mendasar yaitu konsep usaha yang melakukan atau dilakukan oleh gaya, perkalian dot product (perkalian titik), energy kinetic, energy potensial, hukum kekekalan energy mekanik, gaya observatif dan non observatif (Mustofa et al., 2016). Dari hasil penelitian Halliday, suatu gaya dapat dikatakan konservatif jika usaha pada suatu partikel bergantung pada lintasan yang dilalui partikel tersebut.Berarti gaya non konservatif ialah jika usahanya pada suatu partikel tidak bergantung pada lintasannya. Sealin itu gaya non konservatif untuk kerja total nya bernilai nol. Contoh dari gaya konservatif ialah gaya berat untuk gravitasi dan gaya pegas sedangkan untuk contoh dari gaya non konservatif ialah gaya gesek kinetik (Maison et al., 2019).
3. Kesimpulan
Miskonsepsi ialah kesalahan konsep dimana kesalahan tersebut terjadi pada siswa yaitu dapat disebabkan karena siswa tidak dapat menghubungkan antara teaori yang sudah diajarkan oleh pendidik (salah memberikan konsep) dengan suatu kejadian yang lumrah terjadi pada suatu kehidupan kita sehari-hari, selain itu dapat disebabkan karena pada saat proses menjelaskan kalimat yang digunakan guru berbeda dengan kalimat yang dipahami versi siswa itu sendiri sehingga berbeda maksud. Miskonsepsi pada suatu pelajaran fisika bukan persoalan yang baru terjadi sehingga persoalan tersebut menjadi pemicu kesulitan siswa dalam belajar fisika. Kesalahan dalam problem tersebut salah satunya
71 dapat dipengaruhi dari kesalahpahaman konsep siswa atau diakibatkan oleh kesulitan yang siswa temui dalam proses pembelajaran. Dari beberapa miskonsepsi dan kesulitan dalam memahami materi usaha dan energi maka penulis dapat menyimpulkan bahwa siswa masih terbilang banyak yang kurang memahami materi usaha dan energi baik itu konseptual maupun dalam proses penghitungannya. Oleh karena itu sebagai seorang guru diharapkan dapat lebih menekankan pemahaman siswa baik secara konseptual maupun secara matematis untuk meminimalisir terjadinya miskonsepsi.
Daftar Rujukan
Bektiarso, S., Gani, A. A., Studi, P., Fisika, P., & Jember, U. (2014). Model Pembelajaran Generatif (Generative Learning) DiLengkapi Media Kartu Masalah Pada Pembelajaran Fisika Di SMA. Jurnal Pendidikan Fisika, 5, 399–403.
Diani, R., Latifah, S., Anggraeni, Y. M., & Fujiani, D. (2018). Physics Learning Based on Virtual Laboratory to Remediate Misconception in Fluid Material. Tadris: Jurnal Keguruan Dan Ilmu Tarbiyah, 3(2), 167. https://doi.org/10.24042/tadris.v3i2.3321
Dienyati, N. H., Werdhiana, I. K., & Wahyono, U. (2020). Analisis Pemahaman Konsep Siswa berdasarkan Multirepresentasi pada Materi Usaha dan Energi Kelas XI SMAN 1 Banawa Tengah. Jurnal Kreatif Online, 8(1), 74–84.
Ermawati, F. U., Anggrayni, S., & Isfara, L. (2019). Misconception profile of students in senior high school iv Sidoarjo East Java in work and energy concepts and the causes evaluated using Four-Tier Diagnostic Test. Journal of Physics: Conference Series, 1387(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1387/1/012062
Fariyani, Q., Rusilowati, A., & Sugianto. (2015). Pengembangan Four-Tier Diagnostic Test Untuk Mengungkap Miskonsepsi Fisika Siswa Sma Kelas X. Journal of Innovative Science Education, 4(2), 41–49.
Hasim, W., & Ihsan, N. (2011). Identifikasi Miskonsepsi Materi Usaha, Gaya dan Energi dengan Menggunakan CRI (Certainty of Response Index) pada Siswa Kelas VIII SMPN 1 Malangke Barat. Jspf, 7(1), 25–37.
Hidayati, F. N., Akhsan, H., & Syuhendri, ). (2016). Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas X Pada Materi Elastisitas dan Hukum Hooke di SMA Negeri 1 Indralaya. Jurnal Inovasi Dan Pembelajaran Fisika, 3(2), 1–9. http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jipf/article/view/3838 Ismail, I. I., Samsudin, A., Suhendi, E., & Kaniawati, I. (2015). Diagnostik Miskonsepsi Melalui Listrik
Dinamis Four Tier Test. Prosiding Simposium Nasional Inovasi Dan Pembelajaran Sains, 2015(June 2015), 381.
Jubaedah, D. S., Kaniawati, I., Suyana, I., Samsudin, A., & Suhendi, E. (2017). Pengembangan Tes Diagnostik Berformat Four-Tier untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Siswa pada Topik Usaha dan Energi. Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF2017, VI(October), SNF2017-RND-35-SNF2017-RND-40. https://doi.org/10.21009/03.SNF2017.01.RND.06
Maison, M., Lestari, N., & Widaningtyas, A. (2019). Identifikasi Miskonsepsi Siswa Pada Materi Usaha Dan Energi. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 6(1), 32. https://doi.org/10.29303/jppipa.v6i1.314 Mosik, & Maulana, P. (2010). Usaha Mengurangi Terjadinya Miskonsepsi Fisika Melalui Pembelajaran Dengan Pendekatan Konflik Kognitif. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 6(2), 98–103. https://doi.org/10.15294/jpfi.v6i2.1120
Muchoyimah, S., Kusairi, S., & Mufti, N. (2016). Identifikasi kesulitan siswa pada topik usaha dan energi. Pros. Semnas Pend IPA Pascasarjana UM, 1, 492–500.
Mustari, M., Anggereni, S., Sodikin, Fitria, & Yusandika, A. D. (2020). Identification of students’ misconceptions using the Certainty of Response Index (CRI) from work and energy material. Journal of Physics: Conference Series, 1572(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1572/1/012038
Mustofa, Z., Sutopo, & Mufti, N. (2016). Pemahaman Konsep Siswa SMA Tentang Usaha dan Energi Mekanik. Pros. Semnas Pend. IPA Pascasarjana UM, 520.
Negoro, R. A., Hidayah, H., Subali, B., & Rusilowati, A. (2018). Upaya Membangun Ketrampilan Berpikir Kritis Menggunakan Peta Konsep Untuk Mereduksi Miskonsepsi Fisika. Jurnal Pendidikan (Teori Dan Praktik), 3(1), 45. https://doi.org/10.26740/jp.v3n1.p45-51
Nurulwati, N., Veloo, A., & Ali, R. (2014). Suatu Tinjauan Tentang Jenis-Jenis Dan Penyebab Miskonsepsi Fisika. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 2(1), 87–95.
72 Pramesti, Y. S., Mahmudi, H., & Setyowidodo, I. (2020). Analyzing Students’ Understanding of
Work-Energy Concept. Journal of Physics: Conference Series, 1521(2), 022016. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1521/2/022016
Pratama, N. S., & Istiyono, E. (2015). Studi Pelaksanaan Pembelajaran Fisika Berbasis Higher Order Thinking (Hots) Pada Kelas X Di Sma Negeri Kota Yogyakarta. PROSIDING : Seminar Nasional
Fisika Dan Pendidikan Fisika, 6(2), 104–112.
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosfis1/article/view/7711/5687
Rahmatina, D. I., Sutopo, & Wartono. (2018). Identifikasi Kesulitan Siswa SMA pada Materi Usaha-Energi. Momentum: Physics Education Journal, 2(1), 15. https://doi.org/10.21067/mpej.v2i1.2370
Rivaldo, L., Taqwa, M. R. A., Zainuddin, A., & Faizah, R. (2020). Analysis of students’ difficulties about work and energy. Journal of Physics: Conference Series, 1567(3), 032088. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1567/3/032088
Rosuli, N., Koto, I., & Rohadi, N. (2019). Pembelajaran Remedial Terpadu dengan Menerapkan Model Pembelajaran Generatif untuk Mengubah Miskonsepsi Siswa Terhadap Konsep Usaha dan Energi. Jurnal Kumparan Fisika, 2(3), 185–192. https://doi.org/10.33369/jkf.2.3.185-192
Saheb, W. A. (2018). Identifikasi Miskonsepsi Materi Usaha Dan Energi Menggunakan CRI Pada Siswa SMA Di Bondowoso. Seminar Nasional Pendidikan Fisika 2018, 3, 6–13.
Semih et. al. (2015). 11th Grade Students’ Difficulties and Misconceptions about Energy and Momentum Concepts. International Journal on New Trends in Education and Their Implications, January, 13–21.
Sirait, R. (2012). Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Usaha dan Energi Kelas VIII MTS N-3 Medan. Jurnal Pendidikan Fisika, 1(1), 21– 26.
Sofianto, E. W. N., & Irawati, R. K. (2020). Upaya Meremediasi Konsep Fisika pada Materi Suhu dan Kalor. Southeast Asian Journal of Islamic Education, 2(2), 107–120. https://doi.org/10.21093/sajie.v2i2.2188
Sudarmini, Y., Kosim, & Hadiwijaya, A. . (2015). Pembelajaran Fisika Berbasis Inkuiri Terbimbing dengan Menggunakan LKS untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Ditinjau dari Sikap Ilmiah Siswa Madrasah Aliyah Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA), 1(1), 35–48.
Taufiq, M. (2012). Remediasi miskonsepsi mahasiswa calon guru fisika pada konsep gaya melalui penerapan model siklus belajar (Learning cycle) 5E. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1(2), 198– 203. https://doi.org/10.15294/jpii.v1i2.2139
Tayubi, Y. R. (2005). “Identifikasi Miskonsepsi pada Konsep-Konsep Fisika Menggunakan Certainty of Response Index (CRI).” Jurnal Mimbar Pendidikan, 3, 4–9.
Topalsan, A. K., & Bayram, H. (2019). Identifying Prospective Primary School Teachers’ Ontologically Categorized Misconceptions on the Topic of “Force and Motion.” Journal of Turkish Science Education, 16(1), 85–108. https://doi.org/10.12973/tused.10268a
Wahyudi, I., & Maharta, N. (2013). Pemahaman Konsep Dan Miskonsepsi Fisika Pada Guru Fisika Sma Rsbi Di Bandar Lampung. Jurnal Pendidikan MIPA Universitas Lampung, 14(1), 18–32. Yolanda, Y. (2017). Remediasi Miskonsepsi Kinematika Gerak Lurus dengan Pendekatan STAD.
Science and Physics Education Journal (SPEJ), 1(1), 39–48.
Zafitri, R. E., Fitriyanto, S., & Yahya, F. (2018). Pengembangan Tes Diagnostik Untuk Miskonsepsi Pada Materi Usaha Dan Energi Berbasis Adobe Flash Kelas Xi Di Ma Nw Samawa Sumbawa Besar Tahun Ajaran 2017/2018. Jurnal Inovasi Pembelajaran Fisika Dan Teknologi, 2(1), 34–41. https://doi.org/10.31227/osf.io/7wyx6