• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

(3)

KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA

KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA:

1. 

Komunikasi Efektif Pemerintah dengan Keluarga

2. 

Komunikasi Efektif Sekolah dengan Keluarga

3. 

Keyakinan dan Prinsip Pendidikan Keluarga

(4)

KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA

(5)

KOMUNIKASI EFEKTIF PEMERINTAH DENGAN KELUARGA

Pendidikan keluarga

BUKAN

urusan pribadi,

karena mempunyai dampak sosial pada

(6)

KOMUNIKASI EFEKTIF PEMERINTAH DENGAN KELUARGA

Anak dan keluarga

dipengaruhi oleh

berbagai aspek

dalam ekosistem

pendidikan.

Med ia massa

Tempat Kerja Ortu

Pemerintah Daerah

Keyakinan & Ideologi

Sekolah Tetangga Rumah Anak Kakak-Adik Ortu Keagamaan Anak Teman sebaya Orang Dewasa Sekolah Anak Guru

Teman Sebaya Teman Sebaya Anak Orang Dewasa

(7)

KOMUNIKASI EFEKTIF PEMERINTAH DENGAN KELUARGA

Proses pendidikan di keluarga seperti siklus,

memengaruhi lintas generasi dan meliputi persiapan

membina keluarga di masa depan.

(8)

KOMUNIKASI EFEKTIF PEMERINTAH DENGAN KELUARGA

Faktor keluarga memberikan pengaruh sangat besar pada

prestasi anak, terutama untuk mengurangi kesenjangan di

usia dini.

Faktor yang Memengaruhi Anak

Guru$dan$Sekolah$ Kondisi$Sosial1Emosional$ Nutrisi$dan$Makanan$ Pengalaman$dan$ Ak:vitas$Bersama$ KELUARGA KELUARGA KELUARGA SEKOLAH

(9)

KOMUNIKASI EFEKTIF PEMERINTAH DENGAN KELUARGA

Jenis intervensi dan cara memastikan keikutsertaan perlu

disesuaikan dengan kondisi dan konteks pada kelompok

masyarakat, terutama yang terpinggirkan.

ORANGTUA TUNGGAL

(10)

KOMUNIKASI EFEKTIF PEMERINTAH DENGAN KELUARGA

Dengan prinsip penguatan pelaku dalam ekosistem, setiap

kebijakan dan program dalam pendidikan dan kebudayaan,

secara langsung maupun tidak langsung, berkaitan dengan

pendidikan keluarga.

UJIAN

NASIONAL

Gerakan

PENUMBUHAN

BUDI PEKERTI

PROGRAM

INDONESIA

PINTAR

KELUARGA

(11)

KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA

(12)

KOMUNIKASI EFEKTIF SEKOLAH DENGAN KELUARGA

Orangtua berperan dan terlibat aktif sebagai bentuk

tanggung jawab kepada komunitas dan seluruh siswa,

(13)

KOMUNIKASI EFEKTIF SEKOLAH DENGAN KELUARGA

Orangtua perlu dipandang

sebagai sumber daya

penting dalam seluruh

proses perencanaan,

pengajaran, dan assesmen.

(14)

KOMUNIKASI EFEKTIF SEKOLAH DENGAN KELUARGA

Proses dan dampak pelibatan keluarga di sekolah harus

direncanakan secara sistematis melalui berbagai kanal dan

strategi sesuai kondisi dan minat orangtua dan sekolah.

Hubungan dengan

GURU KELAS

DAN GURU BP

Hubungan dengan

PETUGAS PUSKESMAS

WEBSITE

PELATIHAN

ORANGTUA

(15)

KOMUNIKASI EFEKTIF SEKOLAH DENGAN KELUARGA

Sekolah perlu sadar bahwa tingkat dan bentuk keterlibatan

orangtua dan keluarga akan berbeda, sesuai kondisi

(16)

KOMUNIKASI EFEKTIF SEKOLAH DENGAN KELUARGA

Salah satu tugas utama sekolah dan guru adalah mengenal

keunikan masing-masing komunitas. Sekolah juga menjadi

simpul masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

(17)

KOMUNIKASI EFEKTIF SEKOLAH DENGAN KELUARGA

Sekolah melakukan refleksi berkelanjutan pada seluruh

program dan praktik yang mendukung atau menghambat

keterlibatan keluarga.

RELAWAN

KELAS

PEKERJAAN

RUMAH

PELATIHAN

ORANGTUA

MENGANTAR

SEKOLAH

(18)

KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA

(19)

Keyakinan dan prinsip pendidikan keluarga

Kemampuan mendidik dan berinteraksi keluarga

tidak hanya berdasar insting, tapi perlu dilatih.

Menghilangkan stigma dan budaya menyalahkan, butuh

dukungan adalah hal yang wajar.

(20)

Proses belajar berfokus pada upaya preventif sebelum

mulainya masalah dengan memahami tahap perkembangan

anak, perkembangan keluarga, dan faktor-faktor risiko.

(21)

Orangtua datang ke proses belajar dengan memiliki

pengalaman mengasuh dan pengetahuan berharga

mengenai anak yang bisa dikontribusikan.

(22)

Proses belajar dan pendidikan keluarga yang baik dimulai

sedini mungkin dan harus berkelanjutan, lewat dukungan

sosial dan kolaborasi dengan keluarga lain dan pihak luar.

(23)

Mengasah dan membangun kedekatan tidak hanya antara

anak dengan orangtua, namun juga dengan anggota lain,

misalnya saudara serta kakek dan nenek.

(24)

Proses perubahan perlu digerakkan oleh komunitas

dengan melibatkan jumlah yang CUKUP dengan mengejar

titik penyebaran gerakan.

(25)

KOMUNIKASI EFEKTIF KELUARGA

KOMUNIKASI EFEKTIF DAN DISIPLIN POSITIF

DALAM KELUARGA

(26)

KOMUNIKASI EFEKTIF & disiplin positif DALAM KELUARGA

Seluruh anggota keluarga memiliki sudut pandang POSITIF

dalam berkomunikasi dan memahami perilaku anak.

(27)

Orangtua memiliki tujuan pengasuhan

dengan aspirasi yang tinggi dan

mendorong anak untuk MANDIRI.

(28)

Tiap anggota keluarga

menghargai bahwa tiap individu

memiliki disposisi positif dan

MOTIVASI INTERNAL yang

merupakan faktor terpenting dan

paling efektif dalam mencapai

tujuan pengasuhan

(29)

DATA KELUARGAKITA.COM

TENTANG HUBUNGAN ANAK DAN ORANGTUA

54% orangtua mengaku stres dalam menghadapi anak

39% orangtua meremehkan kemampuan anak dalam

melakukan sesuatu yang sesuai tahap perkembangannya

47% orangtua khawatir terlalu memanjakan anak

70% anak mengaku tidak memiliki peraturan di rumah

62% anak mengaku pernah dipukul atau dicubit orangtua

atau guru

(30)

MENGELOLA EMOSI ORANGTUA

Emosi adalah bagian tidak terpisahkan dari hubungan dalam keluarga.

Pastikan kita memilih kemampuan mengekspresikan emosi dengan

baik.

Sering kali orangtua sulit menangani emosi karena faktor pada dirinya,

bukan pada anak. Orangtua berespons pada kebutuhannya, bukan

berespons pada kebutuhan dan pengalaman belajar untuk anak.

Anak akan meniru cara orangtua mengekspresikan emosi. Pilih waktu

dan tempat yang kondusif untuk menghadapi anak saat ada tekanan

emosi.

Emosi negatif yang tidak ditangani atau disalurkan dengan tepat dapat

memulai ‘lingkaran kemarahan’ kepada anak, diri sendiri, bahkan

kepada emosi itu sendiri. Akibatnya, emosi tidak terkendali dan

berulang, ancaman dan hukuman makin berat.

(31)

Saat Anak Marah

 

Dengarkan dengan penuh perhatian dan seluruh tubuh. Lakukan kontak mata dan sentuh anak dengan lembut.

Beri tanggapan dalam satu kata, bukan nasihat panjang, agar anak bebas berekspresi. “Oh, begitu.” atau “Hmmm..”

1

2

Berikan nama perasaan yang dialami anak. “Aku tahu rasanya kayak ada gunung meletus gitu di dada. Nggak enak, ya?”

3

4

Sebut tingkah laku anak, lalu kaitkan dengan emosinya. “Kamu tendang-tendang karena marah, ya?

Beri anak waktu untuk

mengekspresikan emosinya. Tapi tetap tegas untuk tidak

melanggar kesepakatan bersama.

6

Bila kita emosi,

pisahkan diri dengan tenang. Katakan kita perlu waktu untuk tenangkan diri.

Saat kita sudah tenang, lakukan kontak fisik dengan anak. Bila ia menolak, mendekatlah secara fisik.

7

Bahas tingkah laku lain yang bisa dilakukan saat ia mengalami emosi yang sama. “Kalau lagi kesal,

daripada capek teriak-teriak, kamu bisa bilang kamu nggak suka.”

Setelah marah reda, lakukan langkah menyelesaikan konflik bersama anak.

9

5

“Kamu boleh nangis keras dulu, tapi tidak merusak dan robek-robek buku .”   8 keluar gakita.com ©  2 01 5  

(32)

KOMUNIKASI EFEKTIF

&

TIDAK EFEKTIF

Berkomunikasi dilakukan setiap hari, setiap saat,

serta banyak cara untuk melakukannya. Pilih cara

yang efektif dan mendukung Disiplin Positif.

NASIHAT

REFLEKSI PENGALAMAN

INTEROGASI

MENOLAK/MENGALIHKAN PERASAAN

PERINTAH

MENYATAKAN OBSERVASI

MENUNJUKKAN EMPATI

PILIHAN

Makanya tas diperiksa tiap mau berangkat, jangan malas.

Kok, bekalnya nggak dimakan? Kenyang?

Kenapa? Nggak suka? Ibu lihat kotak bekal makanan kamu isinya masih agak banyak.

Masa, sih, kamu capek?

'Kan cuma gitu doang. Kok, ngantuk. Mandi sekarang!

Aku juga dulu pernah ketinggalan PR, takut banget waktu ditanya guru. Akhirnya, aku selalu

periksa ulang tas sebelum berangkat.

Ngantuk, ya, rasanya habis pulang sekolah? Apa yang paling bikin lelah hari ini? Kita akan berangkat ke rumah nenek 1 jam lagi, mau selesaikan baca dulu baru mandi

atau mandi dulu baru lanjut baca?

KOMUNIKASI TIDAK EFEKTIF

KOMUNIKASI EFEKTIF

keluar gakita.com ©  2 01 5  

(33)

REWARD/HaDIAH

DUKUNGAN

Dijanjikan sebelum perilaku,

untuk mengontrol/memanipulasi anak Pujian global, melabeli anak

(walau positif)

Anak fokus pada faktor menyenangkan di luar dirinya (eksternal)

Jumlah/reaksi diukur dan ditetapkan orangtua

Diberikan hanya pada saat anak sukses.

Spontan, mengekspresikan perasaan orangtua

Spesifik, fokus pada perilaku & usaha Menumbuhkan kenikmatan dari dalam,

berhubungan dgn diri anak (internal) Reaksi disesuaikan dengan tingkat

antusiasme anak.

Diberikan di berbagai situasi, termasuk saat kesulitan.

VS

(34)

Cara Baik Memberikan Konsekuensi dan

Perbedaannya dengan Hukuman

1

2

4

Adik menumpahkan air di sofa.

Berhubungan dengan kesalahan

Mengeringkan sofa (Konsekuensi) VS Tidak boleh menonton TV

(Hukuman)

Memberikan pengalaman

belajar

Mengajarkan anak mandiri dan belajar memperbaiki VS Meminta

anak berdiri terus agar kapok (Hukuman)

Masuk akal

Mengeringkan sofa dengan alat bantu dan target realistis (Konsekuensi) VS Menjaga sofa sampai kering di terik matahari

(Hukuman)

Menjaga harga diri anak

Tidak mempermalukan anak dengan menceritakan kesalahannya pada

orang lain (Konsekuensi) VS

Mengancam dan membentak sesudah kejadian (Hukuman)

3

(35)

BIJAK memuji anak

Spontan

(dalam berbagai situasi)

"Kelihatannya PR-nya sulit, tapi kamu tekun sekali mengerjakannya." "Wah, aku suka gambar ini karena

warnanya bergradasi, dan yang kecil-kecil diwarnain juga."

Spesifik

TIDAK ADA PESAN “TERSEMBUNYI”

(sebab dan situasinya jelas untuk anak)

Tulus

Kakak hari ini selesai mandi cepat dan

tidak terlambat, gimana caranya? "Terima kasih, ya, kamu menolong bukakan pintu!"

Bukan untuk “Memanipulasi”

"Kita saling bantu, ya, tolong ambilkan tas ibu."

Puji usahanya, bukan hasilnya

"Wah, Ibu lihat tadi kamu mencoba ambil sendiri airnya.

Tumpah sedikit tidak apa."

Fokus pada Kepuasan Internal (Diri Sendiri)

"Kamu rapi sekali mengatur mainannya.

Enak ya, jadi gampang carinya nanti kalau mau cari pasangannya" KOMUNIKASI EFEKTIF & disiplin positif DALAM KELUARGA

(36)

5 CARA BAIK

KRITIK

ANAK

Kritik menjadi pengalaman belajar yang

efektif bila disampaikan dengan cara yang

tepat pada anak. Disiplin

Positif

mendukung kritik yang berdampak positif.

Sampaikan spesifik kesalahannya, bukan pada pribadi anak.

"Mainanmu berantakan," bukan "Malas banget, sih, kamu."

Dengarkan dan terima perasaan anak.

”Setelah kecapekan main, berat, ya, masih harus merapikan mainan."

Gunakan "Seandainya ..." atau "Ibu berharap ..." untuk menunjukkan efek positif.

"Seandainya kamu merapikan mainanmu setiap habis main, pasti lebih gampang carinya pas mau dipakai lagi."

Fokus pada perilaku dan situasi yang bisa diubah, bukan kesalahan.

"Kita bisa cari dan pakai kotak sepatu bekas untuk menyimpan balok," bukan "Kamu selalu menghilangkan pasangan balok."

Bantu anak memahami: kesalahan harus diakui, bukan dihindari;

bisa diperbaiki, bukan menetap; berguna untuk belajar, bukan merugikan.

"Mama dan Bude dulu juga sering berdebat pas mainan hilang. Terus, dihias kotak mainannya. Karena bagus, jadi senang merapikan.

Sekarang masih ada tuh mainannya yang disimpan."

(37)

RESTITUSI

Melakukan upaya rehabilitasi: mengganti/memperbaiki benda/situasi

Contoh: Mengelem buku kakak yang dirobek

Membuat resolusi: berjanji dan membuat rencana untuk mencegah

kesalahan terulang kembali

Contoh: Lain kali, bagaimana cara memegangnya agar bukunya terjaga?

Melakukan rekonsiliasi: Menyatakan maaf lewat perbuatan dan atau

kata-kata dengan sukarela (hanya setelah melakukan langkah 1 dan 2)

Contoh: Memeluk kakak, membuat buku cerita untuk kakak, atau

menulis kartu maaf.

 

Proses mengajarkan anak untuk memperbaiki kesalahan

pada orang lain:

 

(38)

PANDUAN MEMBUAT KESEPAKATAN BERSAMA ANAK

Dibuat dengan KETERLIBATAN semua anggota keluarga. Hasil

diskusi dan negosiasi.  

Fokus hanya pada hal yang dianggap PENTING oleh semua

anggota keluarga. Pastikan alasannya dapat dijelaskan anak.

 

Hanya SEDIKIT. Anak harus mampu mengingat dan melaksanakannya

dengan konsisten.  

Menyebutkan NILAI yang dijunjung keluarga. Anak memahami

tanggungjawab sebagai anggota kelompok dan kebutuhan orang lain.

Dinyatakan dengan POSITIF. Menggambarkan apa yang harus dilakukan, bukan apa yang dilarang.

Menjelaskan KONSEKUENSI bila kesepakatan dilanggar.

Menyebutkan juga peran/bantuan yang dilakukan anak dan orangtua.

Dibuat TERTULIS di area yang mudah dilihat dan dijangkau anak. Ajak anak membuat visualisasinya.

Perlu DITINJAU ULANG bila masalah muncul beberapa kali atau

setelah periode tertentu. Memberi contoh refleksi yang baik pada anak.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

(39)

TERIMA KASIH

keluargakita.com ©  2015  

Twitter: @KeluargaKitaID | Facebook: Keluargakitaid | Instagram: @keluargakitaid  

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan kesimpulan: Kesatu, Penggunaan mediasi dalam menangani perkara perceraian di Pengadilan Agama Sukoharjo selama tahun

Syarat yang penting bagi suatu mikroorganisme untuk menjadi probiotik rongga mulut adalah kemampuan untuk melekat dan berkolonisasi pada permukaan di dalam rongga mulutb. Sekitar

Dengan demikian, dalam proses kegiatan belajar menjadi terhambat karena kondisi kelas yang kurang kondusif untuk pembelajaran Sosiologi karena para siswa cenderung

Infusa rimpang jahe gajah tidak mempunyai aktivitas sebagai pengawet pada sampel tahu (suhu kamar) tetapi bisa digunakan sebagai pengawet pada sampel daging ayam

Hasil pengujian pengontrolan peralatan melalui penjadwalan tanpa menggunakan koneksi internet melalui PC ....

Pinker (1994) argues that children‘s acquisitions of a normal language (phonology) emerge steadily at the early age up to six which is compromised from then until

Demokrasi merupakan salah satu topik yang mendapat tempat dalam ilmu hubungan internasional karena proses demokratisasi sangat memakan waktu panjang, dan ini

Secara umum Aset Tetap adalah harta berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap atau dibangun sendiri yang harus memenuhi kriteria yaitu tidak dimaksudkan untuk