• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dan audit kepatuhan (compliance audit). Audit ini secara khusus mengungkap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dan audit kepatuhan (compliance audit). Audit ini secara khusus mengungkap"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Audit investigatif merupakan bagian manajemen kontrol yang pelaksanaannya termasuk dalam kegiatan internal audit selain audit keuangan dan audit kepatuhan (compliance audit). Audit ini secara khusus mengungkap kasus-kasus yang berindikasikan adanya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan hanya orang tertentu saja yang melakukan audit investigasi. Bagi seorang auditor investigatif tentu ada kriteria yang harus dimiliki dalam melakukan investigasinya.

Kemampuan adalah kecakapan, ketangkasan, bakat dan kesanggupan yang merupakan tenaga daya kekuatan untuk melakukan suatu perbuatan. Kemampuan auditor eksternal dalam mendeteksi fraud, bergantung pula pada kecanggihan pelaku fraud, frekuensi dari manipulasi, tingkat kolusi dan ukuran senioritas yang dilibatkan. Fraud dapat terungkap, bila ada kerja sama antara beberapa pihak yang terkait dengan entitas, seperti dewan direksi, pihak manajemen, akuntan publik dan internal auditor (Amiruddin dan Sri, 2012).

Sukron Mahmud (2010) meneliti tentang pengaruh kemampuan auditor terhadap efektifitas pelaksanaan prosedur audit investigatif. Hasil dari penelitian ini kemampuan berpengaruh terhadap pembuktian kecurangan.

(2)

Namun adakalanya ketidakmampuan auditor dalam membuktikan kecurangan (fraud) tersebut ada hubungan dengan keahliannya dibentuk oleh pengalaman yang relevan dengan kecurangan. Sebab terjadinya kecurangan itu sendiri jarang dan tidak semua auditor pernah mengalami kasus dalam menangani kecurangan, sehingga pengalaman auditor tidak banyak. Hal ini diperjelas oleh penelitian oleh Johnson et al. (1991) dan Jamal et al. yang menyatakan pengalaman saja tidak cukup dalam mendeteksi kecurangan kecuali jika pengalaman itu diperoleh dari industri yang sama atau melalui penugasan yang melibatkan kekeliruan atau kecurangan yang material.

Efektivitas adalah kemampuan dalam melaksanakan tugas secara tepat waktu yang memanfaatkan sumber daya dengan menggunakan sarana dan prasarana sehingga tujuan atau target yang akan dicapai menjadi jelas.

Prosedur Audit adalah urutan langkah yang harus ditempuh auditor saat melakukan audit dalam rangka memperoleh bukti. Jadi, prosedur audit akan memberikan petunjuk atau perintah kepada tim audit mengenai apa yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan audit (Sudarmo, dkk, 2009:70).

Peneliti Hylas dan Ashton (1982) meneliti efektivitas dari berbagai prosedur audit dalam mendeteksi tindakan kecurangan (fraud). Mereka melakukan studi empiris dengan 281 kesalahan yang memerlukan penyesuaian laporan keuangan terhadap 152 audit. Hasil dari penelitian tersebut dinyatakan bahwa prosedur review analitis dan diskusi dengan klien akan memberikan perkiraan persentase besarnya kesalahan yang terjadi.

(3)

Penelitian lain juga dilakukan oleh Wright dan Ashton (1989) yang meneliti tentang efektivitas dari metode pendeteksian tindakan kecurangan dari penyidikan terhadap klien. Berdasarkan tinjauan analisis dari sampel sebanyak 186 tindakan yang melibatkan 368 penyesuaian audit. Hasil dari penelitiannya ditemukan bahwa sekitar setengah dari kesalahan tersebut terjadi dan disinyalir dari adanya tiga prosedur terrcatat.

Moyes dan Baker (2003) juga melakukan penelitian terhadap praktisi auditor tentang efektivitas dari metode pendeteksian tindakan kecurangan terhadap 218 standar prosedur audit. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut mengindikasikan bahwa 56 dari 218 prosedur dianggap lebih efektif dalam mendeteksi kecurangan. Umumnya,prosedur yang paling efektif adalah mereka yang menghasilkan bukti-bukti tentang keberadaan dan/ atau kekuatan kontrol internal.

Kecurangan (fraud) merupakan suatu tindakan yang disengaja, yang tidak dapat terdeteksi oleh suatu pengauditan dapat memberi efek yang merugikan dan cacat bagi proses pelaporan keuangan (Tri,2008).

Kecurangan (fraud) sulit dtemukan dan diungkapkan secara tuntas dikarenakan sulitnya dalam mengidentifikasi dan membedakan antara ketidak hati-hatian (carelessness) dan kelemahan metode pencatatan (poor record keeping) dengan unsur perbuatan kecurangan itu sendiri.

Dorongan adanya perbuatan kecurangan, pada umumnya merupakan gabungan dari motivasi dan kesempatan. Timbulnya motivasi berawal dari kebutuhan ekonomi yang berlanjut menjadi keserakahan sedangkan lemahnya

(4)

pengendalian internal dari suatu lingkungan yang tidak lagi menghargai kejujuran akan menimbulkan kesempatan dalam melakukan kecurangan (fraud).

Sudarmo, dkk (2008:14) menyebutkan ada empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan (fraud), yang disebut juga dengan teori GONE, yaitu:

G = Greed (Keserakahan) O = Opportunity (Kesempatan) N = Need (Kebutuhan)

E = Exposure (Pengungkapan)

Berdasarkan dari penjelasan tersebut fenomena dari penelitian ini mengungkapkan kecurangan yang dilakukan oleh para pejabat negara dengan melakukan tindak korupsi. Contohnya saja kasus proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Hambalang, Bogor, Jawa Barat atau biasa disebut kasus Hambalang yang melibatkan melibatkan para petinggi partai Demokrat yaitu Anas Urbaningrum selaku ketua umum partai dan Menpora Andi Mallarangeng, Nazaruddin dan nama lainnya yang terseret baru-baru ini adalah Olly Dondokambey, mantan pimpinan Badan Anggaran DPR (www.politik.kompasiana.com , 5 Desember 2013 dan majalah Tempo English, 11-17 November 2013). Serta kasus SKK Migas yang melibatkan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yaitu Rudi Rubiandini

(5)

Dalam kasus-kasus tersebut adanya tindakan auditor investigatif sangat berperan penting dalam pengungkapan kasus korupsi. Sehingga upaya dalam pemberantasan kecurangan (fraud) baik itu KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) atau dalam bentuk apapun kecurangannya dapat cepat diatasi.

Untuk penelitian ini penulis melakukan di Kantor Akuntan Publik (KAP) dimana dalam pemeriksaan adakalanya BPK bekerjasama dengan KAP. Menurut BPK dalam buku Memori Masa Jabatan BPK RI 2004-2009 (2009) dijelaskan hubungan dengan KAP yang dilakukan oleh BPK dalam rangka penggunaan pemeriksa dan atau tenaga ahli dari luar BPK yang bekerja untuk dan atas nama BPK sesuai pasal 9 UU No.15 Tahun 2004 dan pasal 9 UU No.15 Tahun 2006 maupun penggunaannya untuk melakukan pemeriksaan keuangan Negara selain untuk dan atas nama BPK. Untuk itu BPK telah mengeluarkan keputusan BPK No.10/K/I-XIII.2/7/2008 tentang Persyaratan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang melakukan Pemeriksaan Keuangan Negara. Sampai dengan Desember 2013, jumlah KAP yang terdaftar di BPK adalah sebanyak 182 KAP dan telah dipublikasikan dalam website BPK.

BPK melakukan evaluasi atas pelaksanaan pemeriksaan akuntan pubik atas Laporan Keuangan (LK) BUMN, BUMD, dan BLU. Untuk itu, BPK telah menerbitkan Keputusan BPK No. 11/K/I-XIII.2/7/2008 tentang Petunjuk Teknis Evaluasi terhadap pelaksanaan pemeriksaan Akuntan Publik (AP) atas laporan keuangan.

(6)

Dalam prosesnya KAP hanya bertindak sebagai pelaksana, tidak sampai pada pemberi opini, karena biasanya di lembaga yang memberi tugas akan menempatkan pengawas yang nantinya mengawasi dan menjadi tempat rujukan hasil audit yang dilakukan oleh KAP. Jadi pada dasarnya BPK tetap yang akan menentukan opini berdasarkan kertas kerja dan temuan lapangan (Syukriy, 2008).

Berdasarkan dari uraian tersebut, maka penulis mengambil penelitian yang berjudul “Pengaruh Kemampuan Auditor Investigatif Terhadap Efektifitas Pelaksanaan Prosedur Audit Dalam Pembuktian Kecurangan (Fraud)” (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik Wilayah Jakarta Selatan).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kemampuan auditor investigatif berpengaruh terhadap efektifitas pelaksanaan prosedur audit dalam pembuktian kecurangan (fraud)? Dan apakah praktik audit investigatif pada KAP wilayah Jakarta Selatan telah sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) ?

(7)

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah kemampuan auditor investigatif berpengaruh terhadap efektifitas pelaksanaan prosedur audit investigatif dan untuk mengetahui apakah praktik audit investigatif pada KAP wilayah Jakarta Selatan telah sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Kantor Akuntan Publik

Penelitian ini diharapkan dapat menambah masukan dan motivasi bagi Kantor Akuntan Publik wilayah Jakarta Selatan dalam audit investigatif. 2. Bagi Penulis

Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dalam hal audit khususnya audit investigatif. Penelitian ini juga sebagai dorongan bagi penulis agar lebih memperdalam lagi ilmu audit dan memperdalam teori yang sudah didapat selama kuliah.

3. Bagi Pihak Lain

Untuk mahasiswa atau akademisi diharapkan penelitian ini bisa dijadikan sebagai referensi dan pedoman pada penelitian yang sejenis.

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Antara Persepsi terhadap Budaya Organisasi Dan Kepuasan Kerja Karyawan PT Barlow Tyrie Indonesia.. ADI HERDIYANTO

komorbid yang sering menyertai pada pasien PPJ yaitu penyakit jantung iskemik, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif menahun dan penurunan fungsi ginjal sedangkan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat kita simpulkan bahwa terdapat hubungan sangat lemah antara skor motivasi secara keseluruhan dengan hasil belajar mahasiswa.. Terdapat

bahwa guna pengendalian pendirian bangunan pada garis sempadan jaringan irigasi berdasarkan Pasal 60 ayat (6) Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Irigasi,

[r]

Buku ini terdiri dari lima bagian yang difokuskan pada 13 bab, membahas tentang konsep dasar keperawatan kesehatan jiwa, konsep holistik dalam keperawatan kesehatan jiwa, sumber

Oleh karena itu, perlu adanya pembentukan klaster industri pada olahan apel terutama pada produk keripik apel untuk meningkatkan daya saing UKM keripik apel di Kota

Secara psikologis, Pemilih Pemula memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang- orang tua pada umumnya.Pemilih Pemula cenderung kritis, mandiri, independen, anti