• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I 

PENDAHULUAN 

 

1.1 Latar Belakang 

 

Tahun  2007  merupakan  akumulasi  tertinggi  kecelakaan  transportasi  nasional  dan terjadi pada semua moda transportasi baik darat, laut maupun udara. Data  dari  Kepolisan  mengindikasikan  terjadi  18,000  kecelakan  transportasi  pada  tahun  2008.  Sebuah  studi  yang  dilakukan  oleh  World  Health  Organization  (WHO)  di  4  (empat)  provinsi,  yaitu  Kalimantan  Barat,  Lampung,  Papua,  Gorontalo,    menunjukkan  bahwa  kecelakaan  transportasi  adalah  penyebab  kematian  terbesar  kedua  setelah  penyakit  tuberkolosis  (WHO,  2008).  Dampak  dari  kecelakaan  kecelakaan  yang  ada  antara  lain  Uni  Eropa  sejak  6  Juli  2007  hingga  kini,  melarang  seluruh  maskapai  Indonesia  dan  pesawat  maskapai  sejumlah  negara  lain  terbang  ke  wilayah  udaranya  karena  dinilai  tidak  aman  dan  anjuran  bagi  warga  Uni  Eropa  untuk  tidak  menggunakan  maskapai  penerbangan nasional. Di laut terjadi kecelakaan besar beruntun di tahun yang  sama,  sementara  itu  moda  kereta  api  dan  jalan  masih  memiliki  tingkat  kecelakaan  yang  tinggi.  Studi  dari  EINRIP  (East  Indonesia  National  Road 

Improvement Project) yang didanai oleh AusAID memperlihatkan bahwa tingkat 

kecelakaan  jalan  10  kali  lebih  tinggi  dibandingkan  tingkat  kecelakaan  jalan  di  Australia maupun Inggris (AusAid, 2008).  

 

Dampak  kecelakaan  transportasi  sangat  terasa  pada  perekonomian  nasional.  Sebagai contoh, kecelakaan pada moda jalan menyebabkan kerugian ekonomi  sekitar 2,7% dari Pendapatan Bruto Nasional (Pustral‐UGM, 2007) dan nilai ini  jauh  lebih  besar  dibandingkan  yang diperkirakan  oleh  Badan  Kesehatan Dunia  sebesar 1% hinnga 2% (WHO, 2004).  

(2)

Kondisi  menurunnya  kualitas  infrastruktur  dan  sarana  sektor  transportasi,  persaingan antar moda maupun sesama moda serta pertumbuhan permintaan  transportasi  tanpa  mengembangkan  sistem  manajemen  keselamatan  (SMK)  yang  memadai  merupakan  penyebab  terjadi  berbagai  kecelakaan  yang  seharusnya  dapat  dihindari.  Upaya  perbaikan  membutuhkan  kebijakan  komprehensif  dari  pemerintah.  Sementara  kebijakan  ini  serta  upaya‐upaya  program  penanggulangan  (counter  measures)  serta  target  perbaikan  membutuhkan informasi data kecelakaan yang akurat dan handal.  

 

Kenyataan  di  lapangaan  saat  ini,  data  kecelakaan  belum  dihimpun  oleh  pemerintah  dengan  baik  dan  masih  tersebar  secara  sektoral,  sehingga  menyulitkan  untuk  melakukan  kajian  terhadap  permasalahan  keselamatan  maupun  perumusan  kebijakan  dan  program  perbaikan  serta  rencana  pembangunan sistem keselamatan transportasi nasional. 

 

Seiring  dengan  meningkatnya  permintaan  akan  transportasi,  tingkat  kejadian  kecelakaan cenderung menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dimana  peluang  terjadinya  kecelakaan  secara  kuantitatif  dan  tingkat  keparahan  maupun  fatalitas  secara  kualitatif    juga    cenderung  meningkat.  Hubungan  antara  eksposur‐resiko‐konsekuensi  perlu  dipahami.  Demikian  pula  faktor  penyebab  kecelakaan  yaitu  antara  manusia  ‐  teknologi  angkutan  ‐lingkungan  prasarana  transportasi  juga  perlu  dipahami.  Di  Indonesia,  faktor  kesalahan  manusia mengambil peran terbesar di dalam penyebab kecelakaan transportasi  (sekitar  90%).  Walaupun  demikian  kontribusi  faktor‐faktor  lainnya  tetap  merupakan  penyebab  kecelakaan  yang  patut  dicermati.  Sebagai  contoh,  buruknya  prasarana  dan  sarana  transportasi  jalan  masih  memberikan  kontribusi sekitar 8% hingga 10%, sementara di negara maju hanya sekitar 2%  hingga 5%. 

(3)

Berbagai  masalah  ditemukan  diantaranya  permasalahan  institusional  dan  manajemen  dalam  penanganan  kejadian  kecelakaan.  Kurangnya  koordinasi  antar  instansi  yang  terkait,  belum  terwujudnya  sistem  informasi  kecelakaan  yang  dapat  digunakan  oleh  semua  sub  sektor  transportasi  dan  pemangku  kepentingan (stake holders) lainnya serta belum adanya koordinasi pendanaan  sistem keselamatan termasuk institusi penyelenggara asuransi. 

 

Departemen  Perhubungan  telah  mencanangkan  program  zero  accident  dan  diharapkan  dapat  meningkatkan  kinerja  keselamatan  seluruh  moda  transportasi.  

 

Dalam  Roadmap  peningkatan  keselamatan  transportasi  Departemen  Perhubungan,  beberapa  target  dari  rencana  tindak  dalam  transportasi  darat  (sebagai contoh) adalah : 

a. Pembangunan  Sistem  Informasi  Manajemen  bidang  keselamatan  transportasi darat 

b. Identifikasi  dan  perbaikan  DRK  (Daerah  Rawan  Kecelakaan)  /  LRK  (Lokasi  Rawan Kecelakaan) 

c. Audit Keselamatan Jalan   

Sementara  itu,  untuk  sub  sektor  Perhubungan  Udara,  Direktorat  Jendral  Perhubungan  melakukan  klasifikasi  maskapai  penerbangan  nasional  ke  dalam  tiga  level  dikaitkan  dengan  keselamatan  penerbangan.  Perusahaan  yang  dikategori  buruk  dimungkinkan  dilakukan  pelarangan  terbang  apabila  tidak  terdapat  upaya‐upaya  perbaikan  keselamatan  penerbangan,  bahkan  dicabut  ijin penerbangan secara permanen . 

 

Untuk moda kereta api (Undang Undang No 23 Tahun 2007) dan pelayaran atau  angkutan  di  perairan  (Undang  Undang  No  17  Tahun  2008)  telah  memiliki 

(4)

Undang‐Undang  baru  yang  diharapkan  dapat  meningkatkan  upaya‐upaya  keselamatan  transportasi.  Kelemahannya  adalah  belum  selesainya  peraturan  pemerintah dalam upaya mengefektifkan undang undang tersebut. 

 

Sistem  Informasi  kecelakaan  menjadi  tulang  punggung  untuk  mewujudkan  Sistem  Manajemen  Keselamatan  sektor  Transportasi  terkait  dengan  Rencana  Pembangunan  Jangka  Pendek,  Menengah  dan  Panjang  yang  akan  diusulkan  oleh Departemen Perhubungan sesuai dengan visi dan misi tiap‐tiap sub sektor  Perhubungan. 

 

1.2 Maksud dan Tujuan 

 

Maksud  dari  studi  ini  adalah  melakukan  kajian  dalam  rangka  penyempurnaan  sistem  informasi  dan  pelaporan  kecelakaan  untuk  semua  moda  transportasi,  baik  dari  sisi  kelengkapan  laporan,  kesesuaian  format,  kejelasan  sistem  pelaporan  maupun  tanggung  jawab  dan  klasifikasi  pelaporan  sesuai  dengan  tingkat otoritas pengguna. 

 

Tujuannya  adalah  sebagai  masukan  dalam  rangka  penyempurnaan  sistem  informasi  dan  pelaporan  kecelakaan  semua  moda  transportasi,  sehingga  pejabat,  instansi  maupun  para  pemangku  kepentingan  (stake  holders)  yang  berwenang  dapat  memperoleh  informasi  yang  akurat  dan  mudah  dimengerti  pada waktu yang tepat. 

 

1.3 Ruang Lingkup 

 

(5)

1. Inventarisasi  dan  identifikasi  atau  pemetaan  sistem  informasi  kecelakaan  transportasi  (darat,  kereta  api,  laut  dan  udara)  baik  di  pusat  maupun  di  daerah. 

2. Inventarisasi  struktur  serta  format  pelaporan  dan  data  kecelakaan  transportasi  saat  ini  pada  beberapa  daerah  atau  kota  tertentu  sebagai 

sampling. 

3. Evaluasi sistem informasi, struktur dan format pelaporan. 

4. Inventarisasi  karakteristik  dan  penyebab  kecelakaan  yang  paling  sering  terjadi  

5. Pengembangan  sistem  informasi  dan  sistem  pelaporan  data  kecelakaan  semua moda transportasi tetapi  tidak  melakukan pemasukan seluruh data  kecelakaan. 

(6)

BAB II

 

METODOLOGI PENELITIAN 

 

2.1. Bagan Alir Penelitian    Secara umum metodologi pelaksanaan studi ini, dapat digambarkan secara rinci  seperti Gambar 2.1. di bawah ini :    Gambar 2.1. Bagan Alir Metodologi Studi             

(7)

2.2. Metodologi Penelitian   

Gambar  2.1.  tersebut  memperlihatkan  bahwa  Studi  Sistem  Informasi  dan  Pelaporan  Data  Kecelakaan  Semua  Moda  Transportasi  ini  dibagi  kedalam  5  (lima) tahapan, yaitu: 

1. Level 1: Inputing data.  

Pada  tahapan  ini  adalah  pengumpulan  data‐data  kecelakaan  lalulintas  beserta  pedukungnya  seperti  data  arus  lalulintas  baik  di  darat,  jalan  rel,  udara dan laut,  data infrastruktur utama, pendukung dan lingkungan serta  pemetaan  digital.  Data‐data  yang  dikumpulkan  adalah  untuk  simulasi  pembentukan  data  base  dan  aplikasi  yang  menjadi  dasar  pembentukan  Sistem  Informasi  yang  lengkap.  Data‐data  yang  lengkap  selanjutnya  diisi  secara  berkesinambungan  oleh  direktorat  atau  instansi  terkait.  Data‐data  simulasi  dapat  diperoleh  melalui  data  sekunder  dan  data‐data  primer  dengan sampling pada beberapa kota yang mewakili tingkat dan klasifikasi  semua moda transportasi. 

  2. Level 2 : Data Base.  

Pada tingkatan ini hal‐hal yang dikerjakan adalah membangun suatu sistem 

data  base  kecelakaan  transportasi  dari  data‐data  yang  telah  di  dapat. 

Dimana  data‐data  tersebut  diberikan  suatu  kode‐kode  tertentu  sesuai  dengan kaidah data base, sehingga mempermudah untuk melakukan what 

if analysis di tingkatan selanjutnya. Coding ini dibutuhkan untuk informasi‐

informasi  yang  tidak  bersifat  continues  seperti  nominal  dan  kategori.  Contohnya  adalah  waktu  (subuh,  pagi,  siang,  sore  dan  malam),  jenis  kecelakaan  (samping‐samping,  depan‐belakang,  depan‐samping,  jatuh, 

terbakar,  tenggelam,  anjlok  dan  lain‐lain.  Jumlah 

(8)

kendaraan  ,  lebih  besar  dari  2  kendaraan,  kapal  kecil,  tanker,  pesawat  jet,  pesawat baling‐baling dan lain‐lain).  

 

3. Level 3 : Aplikasi.  

Dari data‐data yang dimasukkan sebagai suatu sistem data base kecelakaan  tersebut,  dengan  bantuan  perangkat  lunak  tertentu,  nantinya  data‐data  tersebut  dapat  dianalisis  dan  melakukan  agregasi  dengan  metode  tabulasi  silang  atau  rekapitulasi.  Pada  level  ini  aplikasi‐aplikasi  yang  dapat  dikeluarkan  antara  lain  adalah;  besaran  –  besaran  yang  mengindikasikan  tingkat kecelakaan, informasi lalulintas, pemodelan prediksi kecelakaan.    

4. Level 4 : Penyampaian GIS dan Tabulasi.  

Aplikasi‐aplikasi  yang  dikembangkan  pada  level  3  tersebut  di  atas,  dikembangkan  kedalam  suatu  sistem  inforamsi  yang  tersambung  secara  aktif  dengan  jaringan  internet,  sehingga  nantinya  user  dapat  berinteraksi  secara  langsung  dengan  server  data  base  untuk  mendapatkan  informasi  yang berupa tabulasi atau yang tersimpan pada peta digital. 

 

5. Level 5 : Tingkat otoritas user.  

Pada  tahapan  ini,  dilakukan  penentuan  hak  terklasifikasi  dari  si  pengguna  untuk  mengakses  informasi.  Dimana  tidak  semua  informasi  dapat  diakses  secara  penuh  terhadap  informasi‐informasi  yang  dapat  dihasilkan  oleh  aplikasi‐aplikasi yang tersimpan di dalam server.  

 

Pada tahap pertama, informasi diperoleh dengan cara survei di beberapa kota  dalam  bentuk  sampling  yang  dipilih  berdasarkan  keterwakilan  wilayah  Indonesia. Survei akan dilakukan pada semua moda transportasi (darat, kereta,  udara, dan laut). Wilayah Indonesia yang akan disurvei meliputi 4 pulau besar,  yaitu pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.  

(9)

Hasil  survei  kemudian  dikumpulkan  untuk  membangun  sistem  basis  data,  kemudian  dilanjutkan  dengan  tahapan‐tahapan  selanjutnya  sesuai  uraian  diatas. 

 

Informasi  yang  ditampilkan  dapat  menjadi  rujukan  bagi  user  yang  mengakses.  Dari  data  kecelakaan  seluruh  moda  transpotasi  dapat  diketahui  penyebab  kecelakaan yang paling banyak terjadi pada masing – masing moda. Penyebab  kecelakaan  yang  dapat  di  informasikan  tidak  hanya  penyebab  langsung  tetapi  juga penyebab tidak langsung hingga akar penyebabnya.  

 

Selain itu dari data kecelakaan dapat diinformasikan hal lain, seperti data angka  kematian  (fatality  rate,  mortality  rate,  accident  rate),  biaya  kerugian  yang  timbul  karena  kecelakaan,  biaya  kesehatan  yang  ditanggung  oleh  perusahaan  asuransi, dan lain – lain.  

 

Selain Departemen Perhubungan, informasi data kecelakaan tersebut juga akan  dapat  dimanfaatkan oleh instansi lain, antara lain:  

 

a) Depnakertrans,  mendapatkan  informasi  mengenai  jenis  kecelakaan  dan  penyebabnya  sehingga  dapat  menjadi  rujukan  mengenai  keterkaitan  dengan kesehatan dan keselamatan kerja (occupational health and safety)  dan dapat memperkirakan mobilitas dari pekerja.  

b) Depkes,  untuk  mendapatkan  informasi  mengenai  angka  kematian,  penyebab,  dan  tingkat  keparahannya.  Sehingga  dapat  memprediksi  angka  kematian  tahun  yang  akan  datang  dan  pemanfaatan  pelayanan  kesehatan  yang ada.  

c) Jamsostek  dan  Perusahaan  asuransi  lainnya,  mendapatkan  informasi  besarnya biaya kerugian baik langsung (kesehatan) maupun tidak langsung 

(10)

akibat  kecelakaan.  Sehingga  dapat  dijadikan  rujukan  dalam  menentukan  besarnya premi ataupun klaim yang akan diberikan. 

d) Perusahaan transportasi umum akan mendapatkan informasi tentang moda  transportasi  yang  paling  sering  digunakan  oleh  penumpang,  moda  transportasi  yang  sering  mengalami  kecelakaan.  Sehingga  dapat  dijadikan  rujukan dalam mengembangkan perusahaannya dan mengevaluasi program  keselamatan yang telah diterapkan. 

e) Masyarakat  luas  sebagai  upaya  pemberdayaan  mayarakat  untuk  upaya‐ upaya partisipasi masyarakat dalam program keselamatan transportasi   

Badan  Pusat  Statistik  (BPS)  akan  mendapatkan  informasi  lain  yang  saat  ini  belum  tersedia  di  BPS.  Sehingga  dapat  melengkapi  data  dan  mempermudah  masyarakat dalam mengakses data tersebut. 

 

2.3. Metodologi Survei Lapangan 

 

Survei  lapangan  yang  dimaksud  dilakukan  dengan  melakukan  kunjungan  ke  instansi  terkait  untuk  mengumpulkan  data‐data  yang  diperlukan  sehubungan  dengan studi ini. 

 

Tujuan 

Tujuan utama dari survei pengumpulan data primer ini yaitu: 

- Mengumpulkan  data  dan  informasi  tentang  sistem  investigasi  kecelakaan  yang dilakukan untuk semua moda transportasi 

- Mengumpulkan  data  dan  informasi  tentang  sistem  pelaporan  hasil 

investigasi yang dilakukan untuk semua moda transportasi 

- Mengumpulkan  data  dan  informasi  tentang  sistem  recording  atau 

pengarsipan  data  kecelakaan  yang  dilakukan  untuk  semua  moda  transportasi 

(11)

- Mengumpulkan  data  dan  informasi  program  untuk  mencegah  atau  menurunkan kecelakaan untuk semua moda transportasi 

- Mengumpulkan  data  dan  informasi  tentang  evaluasi  program  yang  telah 

diterapkan   

Lokasi Survei 

Survei  dilakukan  di  beberapa  kota  dalam  bentuk  sampling  yang  dipilih  berdasarkan  keterwakilan  wilayah  Indonesia.  Survei  sudah  dilakukan  pada  semua  moda  transportasi  (darat,  kereta,  udara,  dan  laut).  Wilayah  Indonesia  yang  sudah  disurvei  meliputi  4  pulau  besar,  yaitu  pulau  Jawa,  Sumatera,  Kalimantan dan Sulawesi. 

 

Instansi yang akan dikunjungi untuk mengumpulkan data dan informasi adalah:  1. Kepolisian, untuk mengetahui data kecelakaan di jalan  

2. Khusus  untuk  beberapa  kota  seperti  Palembang  dan  Banjarmasin,  pengamatan dilakukan untuk angkutan sungai dan penyeberangan 

3. Otoritas Pelabuhan untuk mengetahui data kecelakaan di Laut  4. Otoritas Bandara, untuk mengetahui data kecelakaan di Udara 

5. PT. Kereta Api Indonesia, untuk mengetahui data kecelakaan di jalan rel   6. Dinas  Perhubungan,  untuk  mengetahui  sistem  pengarsipan  dan  pelaporan 

data kecelakaaan untuk semua moda transportasi   

Dalam  kaitan  ini  kunjungan  dilakukan  ke  kota‐kota  Jakarta,  Bandung,  Palembang,  Banjarmasin,  Denpasar  dan  Makassar  untuk  pemetaan  permasalahan pencatatan data kecelakaan transportasi di lapangan. 

 

Formulir Check List 

Formulir Check List untuk studi sistem informasi dan pelaporan data kecelakaan  seluruh moda transportasi ini dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan jenis dan 

(12)

sifat instansi yang akan dikunkungi, yaitu:   

1. Formulir Check List untuk Umum 

Formulir  ini  ditujukan  untuk  instansi‐instansi  yang  secara  langsung  berkepentingan  dan  melakukan  pencatatan  terhadap  data  kecelakaan  transportasi, diantaranya  Kepolisian, Direktorat Jenderal Perhubungan, PT.  Jasa Raharja, Direktorat Jenderal Bina Marga, Komite Nasional Keselamatan  Transportasi  (KNKT),  Badan  Search  and  Rescue  Nasional  (Basarnas),  PT.  Kereta  Api  Indonesia  (KAI),  PT.  Angkasa  Pura,  PT.  Pelabuhan  Indonesia  (Pelindo), dan lainnya.  

 

Butir  butir  penting  yang  diteliti  sewaktu  melakukan  kunjungan  lapangan  adalah sebagai berikut: 

 

a. Berkaitan dengan pengumpulan data kecelakaan transportasi, meliputi : 

- Dari  sumber  mana  saja  instansi  ini  memproleh  data  kecelakaan 

transportasi? 

- Informasi/data  kecelakaan  transportasi  apa  saja  yang  didata  oleh  instansi ini? 

- Prosedur  apa  yang  dilakukan  instansi  ini  saat  menerima  laporan  kecelakaan transportasi? 

- Siapa  yang  berwenang  menerima  dan  menanggapi  laporan 

kecelakaan transportasi tersebut? 

- Apakah ada kerjasama dengan instansi lainnya dalam pengumpulan 

data kecelakaan transportasi?   

b. Berkaitan  dengan  penyimpanan  dan  pengelolaan  data  kecelakaan  transportasi, meliputi : 

(13)

- Apakah instansi ini  memiliki sistem dan program penyimpanan dan  pengelolaan data kecelakaan transportasi? 

- Apakah  sistem  penyimpanan  dan  pengelolaan  data  kecelakaan 

transportasi tersebut terkoneksi  dengan instansi lain? 

- Apakah  instansi  ini  melakukan  up‐dating  terhadap  data  kecelakaan  transportasi tersebut? 

- Apakah data kecelakaan transportasi ini dapat diakses oleh publik? 

 

c. Berkaitan dengan pelaporan data kecelakaan transportasi, diantara : 

- Apakah  instansi  ini  memiliki  standar  sistem  pelaporan  data 

kecelakaan transportasi? 

- Apakah  instansi  ini  ikut  berperan  dalam  menginvestigasi  suatu 

kecelakaan transportasi? 

- Bagaimana  koordinasi  dengan  instansi  lainnya  saat  melakukan 

investigasi bersama terhadap suatu kecelakaan transportasi? 

- Kepada  siapa  instansi  ini  melaporkan  data  kecelakaan  transportasi  maupun hasil investigasi tersebut? 

 

2. Formulir Chek List untuk Rumah Sakit 

Formulir  Check  List  untuk  kunjungan  ke  beberapa  rumah  sakit  seperti  RS  Koja  Jakarta,  RS  Hasan  Sadikin,  dan  RS  Wahidin  Sudirohusodo,  mempetanyakan hal – hal sebagai berikut: 

• Bagaimana  prosedur  jika  ada  pasien  korban  kecelakaan  transportasi  datang ke RS serta prosedur pada saat korban kecelakaan telah sembuh  dan akan keluar dari rumah sakit? 

• Apakah prosedur tersebut ada peraturan tertulis atau tidak? 

• Apakah  ada  form  yang  harus  diisi  pada  setiap  tahapan  dari  prosedur  tersebut? Terdapat berapa formulir? Setiap formulir terdiri dari berapa  rangkap? 

(14)

• Bagaimana sistem pelaporan dari korban kecelakaan pada semua moda  transportasi? 

• Bagaimana  rekapan  data  korban  kecelakaan  pada  semua  moda  transportasi dibuat?   • Bagaimana kaitannya dengan investigasi dari kepolisian atau KNKT?    3. Formulir Check List untuk Depnakertrans  Demikian juga formulir check list untuk Depnakertrans, tidak jauh berbeda  dengan formulir untuk rumah sakit. Kunjungan lapangan ke Depnakertrans  ini  dimaksudkan  untuk  memetakan  sistem  pencatatan  dan  pelaporan data  kecelakaan transportasi sebagai bagian dari kecelakaan tenaga kerja. Tetapi  dalam  formulir  check  list  untuk  melihat  kecelakaan  kerja  juga  melakukan  eksplorasi  tentang  investigasi  kecelakaan  yang  dilakukan,  siapa  yang  berwenang  untuk  melakukan,  tanggung  jawab  siapa,  dan  bagaimana  alur  pelaporan hasil investigasi tersebut.    2.4. Metodologi Pengembangan Arsitektur Basis Data    2.4.1. Pengertian Pengembangan Sistem Informasi   

Pengembangan  sistem  informasi  yang  berbasis  komputer  dapat  merupakan  tugas  kompleks  yang  membutuhkan  banyak  sumber  daya  dan  dapat  memakan  waktu  berbulan‐bulan  bahkan  bertahun‐tahun  untuk  menyelesaikannya.  Proses  pengembangan  sistem  melewati  beberapa  tahapan  dari  mulai  sistem  itu  direncanakan  sampai  dengan  sistem  tersebut  diterapkan,  dioperasikan  dan  dipelihara.  Bila  operasi  sistem yang sudah dikembangkan masih timbul kembali permasalahan‐ permasalahan  yang  kritis  serta  tidak  dapat  diatasi  dalam  tahap  pemeliharaan  sistem,  maka  perlu  dikembangkan  kembali  suatu  sistem 

(15)

untuk  mengatasinya  dan  proses  ini  kembali  ke  tahap  yang  pertama,  yaitu  tahap  perencanaan  sistem.  Siklus  ini  disebut  dengan  siklus  hidup  suatu  sistem  (systems  life  cycle).  Daur  atau  siklus  hidup  dari  pengembangan sistem merupakan suatu bentuk yang digunakan untuk  menggambarkan tahapan utama dan langkah‐langkah di dalam tahapan  tersebut dalam proses pengembangannya. 

 

Dari  sekian  banyak  siklus  pengembangan  sistem  menurut  beberapa  penulis  sejak  tahun  1970‐an,  diambil  salah  satu  yang  akan  menjadi  acuan  kita  mengenai  pengembangan  sistem  ini,  yaitu  menurut  John  Burch, Gary Grudnitski, Information Systems, Theory and Practice (New  York:  John  Wiley  &  Sons)  yang  menuliskan  tahapan  pengembangan  sistem sebagai berikut :    1. Kebijakan dan perencanaan sistem (system policy and planning).  2. Pengembangan sistem (system development)  a. Analisis sistem (system analysis)  b. Desain sistem secara umum (general system design)  c. Penilaian sistem (system evaluation)  d. Desain sistem terinci (detailed system design)  e. Implementasi sistem (system implementation) 

3. Manajemen  sistem  dan  operasi  (system  management  and 

(16)

  Gambar 2.2. Siklus Pengembangan Sistem Informasi 

 

Penjelasan singkat 

1. Kebijakan dan Perencanaan Sistem (System Policy and Planning).  Sebelum  suatu  sistem  informasi  dikembangkan,  umumnya  terlebih  dahulu  dimulai  dengan  adanya  suatu  kebijakan  dan  perencanaan  untuk  mengembangkan  sistem  itu.  tanpa  adanya  perencanaan  sistem yang baik, pengembangan sistem informasi tidak akan dapat  berjalan sesuai dengan yang diharapkan.  

 

Kebijakan  sistem  (Systems  Policy)  merupakan  landasan  dan  dukungan  dari  manajemen  puncak  untuk  membuat  perencanaan 

(17)

sistem.  Perencanaan  sistem  (systems  planning)  merupakan  pedoman untuk melakukan pengembangan sistem. Kebijakan untuk  mengembangkan  sistem  informasi  dilakukan  oleh  manajemen 

puncak  karena  manajemen  menginginkan  untuk  meraih 

kesempatan‐kesempatan  yang  ada  yang  tidak  dapat  diraih  oleh  sistem  yang  lama  atau  sistem  yang  lama  mempunyai  banyak  kelemahan‐kelemahan  yang  perlu  diperbaiki  (misalnya  untuk  meningkatkan  efektifitas  manajemen,  meningkatkan  produktivitas  atau meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada langganan).    

Partisipasi  dan  keterlibatan  manajemen  puncak  masih  diharapkan  untuk  keberhasilan  sistem  yang  akan  dikembangkan.  Untuk  itu  manajemen  puncak  dilengkapi  dengan  suatu  tim  penasehat  yang  disebut  dengan  komite  pengarah  (steering  commitee)  yang  umumnya  dibentuk  dari  wakil‐wakil  pimpinan  dari    masing‐masing  departemen  pemakai  sistem  seperti  misalnya  manajer‐manajer  departemen  atau  manajer‐manajer  divisi.  Seringkali  komite  ini  diketuai sendiri oleh direktur utama. Tugas komite ini adalah sebagai  berikut : 

 

- Mengkaji,  menyetujui  atau  membuat  rekomendasi  yang 

berhubungan dengan perencanaan sistem, proyek‐proyek sistem  serta pengadaan perangkat keras, perangkat lunak dan fasilitas‐ fasilitas lainnya. 

- Mengkoordinasi  pelaksanaan  proyek  sistem  sesuai  dengan 

rencananya. 

- Memonitor atau mengawasi kemajuan dari proyek sistem. 

- Menilai  kinerja  dari  fungsi‐fungsi  sistem  yang  telah 

(18)

- Memberikan  saran‐saran  dan  petunjuk‐petunjuk  terhadap  proyek  sistem  yang  sedang  dikembangkan,  terutama  yang  berhubungan  dengan  pencapaian  sasaran  sistem,  sasaran  perusahaan dan juga terhadap kendala‐kendala yang dihadapi.   

Setelah  manajemen  puncak  menetapkan  kebijakan  untuk  mengembangkan  sistem  informasi,  sebelum  sistem  ini  sendiri  dikembangkan,  maka  perlu  direncanakan  terlebih  dahulu  dengan  cermat.  Perencanaan  sistem  (systems  planning)  ini  menyangkut  estimasi  dari  kebutuhan‐kebutuhan  fisik,  tenaga  kerja  dan  dana  yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan sistem ini serta  untuk  mendukung  operasinya  setelah  diterapkan.  Perencanaan  sistem  dapat  terdiri  dari  perencanaan  jangka  pendek  (short‐range)  dan perencanaan jangka panjang (long‐range). 

 

Perencanaan  jangka  pendek  meliputi  periode  1  sampai  2  tahun.  Perencanaan  jangka  panjang  melingkupi  periode  sampai  dengan  5  tahun.  Karena  perkembangan  teknologi  komputer  yang  sangat  cepat,  maka  perencanaan  pengembangan  sistem  informasi  untuk  periode yang lebih dari 5 tahun sudah tidak tepat lagi. 

 

2. Pengembangan Sistem (System Development)  a. Analisis Sistem (System Analysis) 

Penelitian  atas  sistem  yang  telah  ada  dengan  tujuan  untuk  merancang system yang baru atau diperbarui 

b. Desain sistem secara umum (general system design) 

Tujuan  dari  desain  sistem  secara  umum  adalah  untuk  memberikan  gambaran  secara  umum  kepada  user  tentang  sistem yang baru. 

(19)

c. Penilaian sistem (system evaluation) 

Hasil  desain  sistem  secara  umum  tentunya  harus  menjadi 

pertimbangan  pihak  manajemen  apakah  melanjutkan 

pengembangan sistem yang baru berdasarkan gambaran desain  sistem secara umum atau menolak rancangan baru tersebut.  d. Desain sistem terinci (detailed system design) 

Dengan  memahami  sistem  yang  ada  dan  persyaratan‐ persyaratan  sistem  baru,  selanjutnya  adalah  penentuan  proses  dan  data  yang  diperlukan  oleh  sistem  baru.  Jika  sistem  itu  berbasis  komputer,  rancangan  harus  menyertakan  spesifikasi  jenis peralatan yang akan digunakan.  e. Implementasi sistem (system implementation)  Merupakan kegiatan memperoleh dan mengintegrasikan sumber  daya fisik dan konseptual yang menghasilkan suatu sistem yang  bekerja.   

3. Manajemen  Sistem  dan  Operasi  (System  Management  and 

Operation) 

Pemeliharaan  sistem  (systems  maintenance)  dilaksanakan  untuk  3  (tiga) alasan: 

 

1) Memperbaiki kesalahan 

Penggunaan  sistem  mengungkapkan  kesalahan  (bugs)  dalam  program atau kelemahan rancangan yang tidak terdeteksi dalam  pengujian sistem. Kesalahan‐kesalahan ini dapat diperbaiki.   

2) Menjaga kemutakhiran sistem 

Dengan  berlalunya  waktu,  terjadi  perubahan‐perubahan  dalam  lingkungan  sistem  yang  mengharuskan  modifikasi  dalam 

(20)

rancangan  atau  perangkat  lunak.  Contohnya,  pemerintah  mengubah rumus perhitungan pajak jaminan sosial. 

 

3) Meningkatkan sistem 

Saat  sistem  digunakan,  akan  ditemukan  cara‐cara  membuat  peningkatan  sistem.  Saran‐saran  ini  diteruskan  kepada  spesialis  informasi yang memodifikasi sistem sesuai saran tersebut.     Pada titik tertentu, modifikasi sistem akan menjadi sedemikian rupa,  sehingga lebih baik memulai dari awal. Lalu, siklus hidup sistem akan  terulang.    2.4.2. Pendekatan Pengembangan Sistem Informasi   

Terdapat  beberapa  pendekatan  untuk  mengembangkan  system  informasi, yaitu sebagai berikut ini: 

1. Pendekatan  klasik  lawan  pendekatan  terstruktur  (dipandang  dari  metodologi yang digunakan) 

Metodologi  pendekatan  klasik  mengembangkan  sistem  informasi  dengan  mengikuti  tahapan‐tahapan  dalam  systems  life  cycle.  Pendekatan  ini  menekankan  bahwa  pengembangan  sistem  akan  berhasil  bila  mengikuti  tahapan  di  systems  life  cycle.  Akan  tetapi  sayangnya,  dalam  praktek,  hal  ini  tidaklah  cukup,  karena  pendekatan  ini  tidak  memberikan  pedoman  lebih  lanjut  tentang  bagaimana  melakukan  tahapan‐tahapan  tersebut  dengan  rinci  karena  pendekatan  ini  tidak  dibekali  dengan  alat‐alat  dan  teknik‐ teknik yang memadai. Sedangkan pendekatan terstruktur yang baru  muncul  sekitar  awal  tahun  1970‐an  pada  dasarnya  mencoba  menyediakan  kepada  analis  sistem  tambahan  alat‐alat  dan  teknik‐

(21)

teknik untuk mengembangkan sistem disamping tetap mengikuti ide  dari systems life cycle.  

 

Karena sifat dari sistem informasi sekarang menjadi lebih kompleks,  pendekatan  klasik  tidak  cukup  digunakan  untuk  mengembangkan  suatu  sistem  informasi  yang  sukses  dan  akan  menimbulkan  beberapa  permasalahan.  Permasalahan‐permasalahan  yang  dapat  timbul di pendekatan klasik antara lain adalah sebagai berikut:   

a. Pengembangan perangkat lunak akan menjadi sulit 

Pendekatan  klasik  kurang  memberikan  alat‐alat  dan  teknik‐ teknik  di  dalam  mengembangkan  sistem  dan  sebagai  akibatnya  proses  pengembangan  perangkat  lunak  menjadi  tidak  terarah  dan sulit untuk dikerjakan oleh pemrogram. Lain halnya dengan  pendekatan  terstruktur  yang  memberikan  alat‐alat  seperti  diagram  arus  data  (data  flow  diagram),  kamus  data  (data 

dictionary),  tabel  keputusan  (decision  table),  diagram  IPO  dan 

bagan  terstruktur  (structured  chart)  dan  lain  sebagainya  yang  memungkinkan  pengembangan  perangkat  lunak  lebih  terarah  berdasarkan alat‐alat dan teknik‐teknik tersebut. 

 

b. Biaya  perawatan  atau  pemeliharaan  sistem  akan  menjadi  lebih  mahal 

Biaya  pengembangan  sistem  yang  termahal  adalah  terletak  di  tahap perawatannya. Mahalnya biaya perawatan di pendekatan  klasik  ini  disebabkan  karena  dokumentasi  sistem  yang  dikembangkan  kurang  lengkap  dan  kurang  terstruktur.  Dokumentasi ini merupakan hasil dari alat‐alat dan teknik‐teknik  yang  digunakan.  Karena  pendekatan  klasik  kurang  didukung 

(22)

dengan  alat‐alat  dan  teknik‐teknik,  maka  dokumentasi  menjadi  tidak lengkap dan walaupun ada tetapi strukturnya kurang jelas,  sehingga pada waktu pemeliharaan sistem menjadi kesulitan.    

c. Kemungkinan  kesalahan  sistem  besar  Pendekatan  klasik  tidak  menyediakan  kepada  analis  sistem  cara  untuk  melakukan  pengetesan sistem,  sehingga  kemungkinan  kesalahan‐kesalahan  sistem  akan  menjadi  lebih  besar.  Berbeda  dengan  pendekatan  terstruktur  yang  pengembangan  sistemnya  dilakukan  dalam  bentuk  modul‐modul  yang  terstruktur.  Modul‐modul  ini  akan  lebih  mudah  dites  secara  terpisah  dan  kemudian  pengetesan  dapat dilakukan pada integrasi semua modul untuk meyakinkan  bahwa  interaksi  antar  modul  telah  berfungsi  semestinya.  Pengetesan  sistem  sebelum  diterapkan  merupakan  hal  yang  kritis  karena  koreksi  kesalahan  sistem  setelah  diterapkan  akan  mengakibatkan  pengeluaran  biaya  yang  lebih  besar.  Beberapa  penelitian  menunjukkan  bahwa  sistem  yang  tidak  dites  selama  tahap  pengembangannya  merupakan  sumber  utama  dari  kesalahan‐kesalahan sistem. 

 

d. Keberhasilan sistem kurang terjamin 

Penekanan  dari  pendekatan  klasik  adalah  kerja  dari  personil‐ personil  pengembang  sistem,  bukan  pada  pemakai  sistem,  padahal  sekarang  sudah  disadari  bahwa  dukungan  dan  pemahaman  dari  pemakai  sistem  terhadap  sistem  yang  sedang  dikembangkan  merupakan  hal  yang  vital  untuk  keberhasilan  proyek  pengembangan  sistem  pada  akhirnya.  Salah  satu  kontribusi  utama  pendekatan  terstruktur  adalah  partisipasi  dan  dukungan dari pemakai sistem.  

(23)

Pendekatan  klasik  mengasumsikan  bahwa  analis  sistem  telah  mengerti  akan  kebutuhan‐kebutuhan  pemakai  sistem  dengan  jelas  dan  benar.  Pengalaman  telah  menunjukkan  bahwa  di  beberapa kasus,  kebutuhan‐kebutuhan pemakai sistem tidaklah  selalu jelas dan benar menurut analis sistem. Pendekatan klasik  kurang  melibatkan  pemakai  sistem  dalam  pengembangan  sistem,  maka  kebutuhan‐kebutuhan  pemakai  sistem  menjadi  kurang  sesuai  dengan  yang  diinginkan  dan  sebagai  akibatnya  sistem yang diterapkan menjadi kurang berhasil. 

 

e. Masalah dalam penerapan sistem 

Karena  kurangnya  keterlibatan  pemakai  sistem  dalam  tahapan  pengembangan  sistem,  maka  pemakai  sistem  hanya  akan  mengenal system yang baru pada tahap diterapkan saja. Sebagai  akibatnya pemakai system akan menjadi kaget dan tidak terbiasa  dengan  sistem  baru  yang  tiba‐tiba  dikenalkan.  Sebagai  akibat  lebih  lanjut,  pemakai  sistem  akan  menjadi  frustasi  karena  tidak  dapat mengoperasikan sistem dengan baik. 

 

2. Pendekatan  sepotong  lawan  pendekatan  sistem  (dipandang  dari  sasaran yang akan dicapai) 

Pendekatan sepotong (piecemeal approach) merupakan pendekatan  pengembangan sistem yang menekankan pada  suatu kegiatan atau  aplikasi  tertentu  saja.  Pada  pendekatan  ini,  kegiatan  atau  aplikasi  yang  dipilih,  dikembangkan  tanpa  memperhatikan  posisinya  di  sistem  informasi  atau  tanpa  memperhatikan  sasaran  keseluruhan  dari  organisasi.  Pendekatan  ini  hanya  memperhatikan  sasaran  dari  kegiatan atau aplikasi itu saja.  

(24)

Lain  halnya  dengan  pendekatan  sistem  (systems  approach)  yang  memperhatikan sistem informasi sebagai satu kesatuan terintegrasi  untuk  masing‐masing  kegiatan  atau  aplikasinya.  Pendekatan  sistem  ini  juga  menekankan  pada  pencapaian  sasaran  keseluruhan  dari  organisasi,  tidak  hanya  menekankan  pada  sasaran  dari  sistem  informasi itu saja. 

 

3. Pendekatan  bawah‐naik  lawan  pendekatan  atas‐turun  (dipandang  dari cara menentukan kebutuhan dari sistem) 

Pendekatan bawah ke atas (bottom‐up approach) dimulai dari level  bawah  organisasi,  yaitu  level  operasional  dimana  transaksi  dilakukan.  Pendekatan  ini  dimulai  dari  perumusan  kebutuhan‐ kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan  merumuskan  kebutuhan  informasi  berdasarkan  transaksi  tersebut.  Pendekatan  ini  juga  merupakan  ciri‐ciri  dari  pendekatan  klasik.  Pendekatan  bawah‐naik  bila  digunakan  pada  tahap  analisis  sistem  disebut  juga  dengan  istilah  data  analysis,  karena  yang  menjadi  tekanan  adalah  data  yang  akan  diolah  terlebih  dahulu,  informasi  yang akan dihasilkan menyusul mengikuti datanya.  

 

Pendekatan atas‐ke bawah (top‐down approach) sebaliknya dimulai  dari  level  atas  organisasi,  yaitu  level  perencanaan  strategi.  Pendekatan  ini  dimulai  dengan  mendefinisikan  sasaran  dan  kebijaksanaan  organisasi.  Langkah  selanjutnya  dari  pendekatan  ini  adalah  dilakukannya  analisis  kebutuhan  informasi.  Setelah  kebutuhan informasi ditentukan, maka proses turun ke pemrosesan  transaksi,  yaitu  penentuan  output,  input,  basis  data,  prosedur‐ prosedur  operasi  dan  kontrol.  Pendekatan  ini  juga  merupakan  ciri‐ ciri  dari  pendekatan  terstruktur.  Pendekatan  atas‐turun  bila 

(25)

digunakan  pada  tahap  analisis  sistem  disebut  juga  dengan  istilah  decision  analysis,  karena  yang  menjadi  tekanan  adalah  informasi  yang  dibutuhkan  untuk  pengambilan  keputusan  oleh  manajemen  terlebih  dahulu,  kemudian  data  yang  perlu  diolah  didefinisikan  menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.  

 

4. Pendekatan  sistem‐menyeluruh  lawan  pendekatan  moduler  (dipandang dari cara mengembangkannya) 

Pendekatan sistem‐menyeluruh (total‐system approach) merupakan  pendekatan  yang  mengembangkan  sistem  serentak  secara  menyeluruh.  Pendekatan  ini  kurang  mengena  untuk  sistem  yang  komplek,  karena  akan  menjadi  sulit  untuk  dikembangkan.  Pendekatan  ini  juga  merupakan  ciri‐ciri  dari  pendekatan  klasik.  Pendekatan moduler (modular approach) berusaha memecah sistem  yang  rumit  menjadi  beberapa  bagian  atau  modul  yang  sederhana,  sehingga sistem akan lebih mudah dipahami dan dikembangkan.    

Akibat  lebih  lanjut  adalah  sistem  akan  dapat  dikembangkan  tepat  pada waktu yang telah direncanakan, mudah dipahami oleh pemakai  sistem dan mudah untuk dipelihara. Pendekatan ini juga merupakan  ciri‐ciri dari pendekatan terstruktur. 

 

5. Pendekatan  lompatan‐jauh  lawan  pendekatan  berkembang  (dipandang dari teknologi yang akan digunakan  

Pendekatan  lompatan‐jauh  (great  loop  approach)  menerapkan  perubahan  menyeluruh  secara  serentak  menggunakan  teknologi  canggih. Perubahan ini banyak mengandung resiko, karena teknologi  komputer  begitu  cepat  berkembang  dan  untuk  tahun‐tahun  mendatang sudah menjadi usang. Pendekatan ini juga terlalu mahal, 

(26)

karena  memerlukan  investasi  seketika  untuk  semua  teknologi  yang  digunakan  dan  pendekatan  ini  juga  sulit  untuk  dikembangkan,  karena terlalu komplek.  

 

Pendekatan  berkembang  (evolutionary  approach)  menerapkan  teknologi  canggih  hanya  untuk  aplikasi‐aplikasi  yang  memerlukan  saja  pada  saat  itu  dan  akan  terus  dikembangkan  untuk  periode‐ periode  berikutnya  mengikuti  kebutuhannya  sesuai  dengan  perkembangan  teknologi  yang  ada.  Pendekatan  berkembang  menyebabkan  investasi  tidak  terlalu  mahal  dan  dapat  mengikuti  perkembangan  teknologi  yang  cepat,  sehingga  teknologi  yang  digunakan tidak cepat menjadi usang. 

 

2.4.3. Metodologi Pengembangan Sistem Informasi   

Metodologi adalah : 

Kesatuan  metode‐metode,  prosedur‐prosedur,  konsep‐konsep 

pekerjaan,  aturan‐aturan  dan  postulat‐postulat  yang  digunakan  oleh  suatu ilmu pengetahuan, seni atau disiplin lainnya. 

 

Metode adalah : 

Suatu  cara/teknik  yang  sistematik  untuk  mengerjakan  sesuatu.  Metodologi  pengembangan  sistem  yang  ada  biasanya  dibuat  atau  diusulkan oleh :  - Penulis buku  - Peneliti  - Konsultan  - Systems house  - Pengembang perangkat lunak (software) 

(27)

 

Metodologi Pengembangan Sistem diklasifikasikan menjadi 3 golongan,  yaitu : 

 

1. Functional  Decomposition  Methodologies  (Metodologi  Pemecahan  Fungsional) 

Metodologi ini menekankan pada pemecahan dari sistem ke dalam  subsistem‐subsistem  yang  lebih  kecil,  sehingga  akan  lebih  mudah  untuk  dipahami,  dirancang  dan  diterapkan.  Yang  termasuk  dalam  kelompok metodologi ini adalah : 

- HIPO (Hierarchy plus Input‐Process‐Output) 

- SR  (Stepwise  Refinement)  atau  ISR  (Iterative  Stepwise 

Refinement) 

- Information‐Hiding 

 

2. Data Oriented Methodologies (Metodologi Orientasi Data) 

Metodologi  ini  menekankan  pada  karakteristik  dari  data  yang  akan  diproses.  Metodologi  ini  dapat  dikelompokkan  kembali  ke  dalam  2  (dua) kelas, yaitu : 

 

a. Data‐flow oriented methodologies 

Metodologi  ini  secara  umum  didasarkan  pada  pemecahan  dari  system  kedalam  modulo‐modul  berdasarkan  dari  tipe  elemen  data  dan  tingkah‐laku  logika  modul  tersebut  di  dalam  sistem.  Dengan metodologi ini, sistem secara logika dapat digambarkan  secara  logika  dari  arus  data  dan  hubungan  antar  fungsinya  di  dalam modul‐modul disistem. Yang termasuk dalam metodologi  ini adalah 

(28)

- SADT (Structured Analisys and Design Techniques)  - Composite Design 

- SSAD (Structured Systems Analysis and Design) 

 

b. Data structure oriented methodologies 

Metodologi  ini  menekankan  struktur  dari  input  dan  output  di  sistem.  Struktur  ini  kemudian  akan  digunakan  sebagai  dasar  struktur  dari  sistemnya.  Hubungan  fungsi  antar  modul  atau  elemen‐elemen  sistem  kemudian  dijelaskan  dari  struktur  sistemnya. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :  - JSD (Jackson’s systems development)  - W/O (Warnier / Orr)    3. Prescriptive Methodologies  Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :  ™ ISDOS (Information Systems Design and Optimization System)  Kegunaannya  adalah  mengotomatisasi  proses  pengembangan  system informasi. ISDOS mempunyai 2 komponen : 

a) PSL 

Merupakan komponen utama dari ISDOS, yaitu suatu bahasa  untuk mencatat kebutuhan pemakai dalam bentuk machine‐

readable  form,  sehingga  output  yang  dihasilkannya  dapat 

dianalisis  oleh  PSA.  PSL  merupakan  bahasa  untuk  menggambarkan  sistemnya  dan  bukan  merupakan  bahasa  pemrograman prosedural. 

b) PSA 

Merupakan paket perangkat lunak yang mirip dengan kamus  data  (data  dictionary)  dan  digunakan  untuk  mengecek  data  yang  dimasukkan,  yang  disimpan  ,  yang  dianalisis  dan  yang 

(29)

dihasilkan  sebagai  output  laporan  dengan  pemanfaatan  DBMS dalam penyimpanan datanya. Kegunaan dan hasil dari  PSA adalah : 

- PSA  menganalisis  PSL  untuk  kesalahan‐kesalahan  sintak  dan  akan  menghasilkan  laporan‐laporan  dalam  bentuk 

data  dictionary,  function  dictionary  serta  analisis  dari 

hubungan‐hubungan proses.  

- Laporan  dalam  bentuk  grafik,  seperti  laporan  yang 

menggambarkan hubungan dari proses termasuk apakah  suatu  proses  merupakan  bagian  dari  porses  yang  lain  atau  suatu  proses  mempunyai  komponen  proses‐proses  lain.  

- PSA  akan  melakukan  analisis  jaringan  untuk  mengecek 

kelengkapan  dari  semua  hubungan  data  dan  proses‐ proses.  

- PSA  juga  akan  melakukan  analisis  dari  hubungan 

ketergantungan  waktu  dari  data  dan  analisis  dari  spesifikasi volume. 

 

™ PLEXSYS 

Kegunaannya  adalah  untuk  melakukan  transformasi  suatu  statemen  bahasa  komputer  tingkat  tinggi  ke  suatu  executable 

code  untuk  suatu  konfigurasi  perangkat  keras  yang  diinginkan. 

PLEXSYS  merupakan  tambahan  untuk  ISDOS.  Kalau  ISDOS  digunakan pada aspek penntuan kebutuhan, PLEXSYS digunakan  pada aspek penghasil kode program secara otomatis. 

     

(30)

™ PRIDE 

Merupakan  perangkat  lunak  terpadu  yang  baik  untuk  analisis/disain  sistem  terstruktur,  manajemen  data,  manajemen  proyek dan pendokumentasian. 

 

™ SDM/70 

Merupakan  suatu  perangkat  lunak  yang  berisi  kumpulan  metode,  estimasi,  dokumentasi  dan  petunjuk  administrasi  guna  membantu  pemakai  untuk  mengembangkan  dan  merawat  sistem yang efektif.  

 

™ SPECTRUM 

Perangkat lunak ini mempunyai beberapa versi untuk keperluan  yang  berbeda,  semacam  SPECTRUM‐1  untuk  life  cycle  konvensional,  SPECTRUM‐2  untuk  sistem  manajemen  proyek  terstruktur, SPECTRUM‐3 untuk on‐line interactive estimator.   

™ SRES  (Software  Requirement  Engineering  System)  dan  SREM  (Software Requirement Engineering Methodology)  

 

™ DBO  (Design  By  Objective),  PAD  (Program  Analysis  Diagram),  HOS (Higher Order Software), MSR (Meta Stepwise Refinement),  PDL (Program Design Language)    2.4.4. Alat dan Teknik Pengembangan Sistem Informasi    Untuk dapat melakukan langkah‐langkah sesuai dengan yang diberikan  oleh  metodologi  pengembangan  sistem  yang  terstruktur,  maka  dibutuhkan  alat  dan  teknik  untuk  melaksanakannya.  Alat‐alat  yang 

(31)

digunakan  dalam  suatu  metodologi  umumnya    berupa  suatu  gambar  atau  diagram  atau  grafik.  Selain  berbentuk  gambar,  alat‐alat  yang  digunakan juga ada yang tidak berupa gambar atau grafik (nongraphical 

tools),  seperti  misalnya  data  direktori,  structured  english,  pseudocode 

serta formulir‐formulir untuk mencatat dan menyajikan data.   

Alat‐alat  pengembangan  sistem  yang  berbentuk  grafik  diantaranya  adalah sebagai berikut ini : 

 

a. HIPO diagram 

Hierarchy plus Input‐Process‐Output, HIPO, adalah alat dokumentasi  program  yang  berbasis  pada  fungsi,  yaitu  tiap‐tiap  modul  di  dalam  sistem digambarkan oleh fungsi utamanya. 

 

b. Data flow diagram 

Digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau  sistem  baru  yang  akan  dikembangkan  secara  logika  tanpa  mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir  (misalnya  lewat  telpon,  surat  dan sebagainya) atau  lingkungan  fisik  dimana  data  tersebut  akan  disimpan  (misalnya  file  kartu,  microfile, 

harddisk, tape, diskette dan lain sebagainya). 

 

c. Structured chart 

Digunakan  untuk  mendefinisikan  dan  mengilustrasikan  organisasi  dari  system  informasi  secara  berjenjang  dalam  bentuk  modul  dan  submodul dengan menunjukkan hubungan elemen data dan elemen  kontrol  antara  hubungan  modulnya,  sehingga  memberikan  penjelasan lengkap dari sistem dipandang dari elemen data, elemen  kontrol, modul dan hubungan antar modulnya. 

(32)

d. SADT 

Structured Analysis and Design Technique, SADT, memandang suatu 

system terdiri dari dua hal : benda (obyek, dokumen atau data) dan  kejadian (kegiatan yang dilakukan oleh orang, mesin atau perangkat  lunak).  Menggunakan  dua  tipe  diagram  yaitu,  diagram  kegiatan  (activity  diagrams,  disebut  actigrams)  dan  diagram  data  (data  diagrams, disebut datagrams). 

 

e. Jackson’s diagram 

Jackson’s Systems Development, JSD, membangun suatu model dari 

dunia  nyata  (real  world)  yang  menyediakan  subyek‐subyek  permasalahan dari sistem. Disamping alat‐alat berbentuk grafik yang  digunakan  pada  suatu  metodologi  tertentu,  masih  terdapat  beberapa  alat  berbentuk  grafik  yang  sifatnya  umum,  yaitu  dapat  digunakan di semua metodologi yang ada. Alat‐alat ini berupa suatu  bagan yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :    1. Bagan untuk menggambarkan aktivitas (activity charting)  a. Bagan alir sistem (systems flowchart)  b. Bagan alir program (program flowchart) yang dapat berupa :  - bagan alir logika program (program logic flowchart) 

- bagan  alir  program  komputer  terinci  (detailed  computer 

program flowchart) 

c. Bagan alir kertas kerja (paperwork flowchart)  d. Bagan alir proses (process flowchart) 

e. Gantt chart 

2. Bagan untuk menggambarkan tataletak (layout charting) 

3. Bagan  untuk  menggambarkan  hubungan  personil  (personal 

(33)

a. Bagan distribusi kerja (working distribution chart)  b. Bagan organisasi (organization chart) 

 

Teknik‐teknik  dalam  pengembangan  sistem  yang  dapat  digunakan  antara lain sebagai berikut ini : 

 

a. Teknik  manajemen  proyek,  yaitu  CPM  (Critical  Path  Method)  dan  PERT (Program Evaluation and Review Technique) 

Teknik  ini  digunakan  untuk  penjadwalan  waktu  pelaksanaan  suatu  proyek. 

 

b. Teknik menemukan fakta (fact finding techniques) 

Yaitu  teknik  yang  dapat  digunakan  untuk  mengumpulkan  data  dan  menemukan  fakta‐fakta  dalam  kegiatan  mempelajari  sistem  yang  ada. Teknik‐teknik ini diantaranya adalah : 

- Wawancara (interview) 

Wawancara  memungkinkan  analis sistem  sebagai  pewawancara  (interviewer)  untuk  mengumpulkan  data  secara  tatap  muka  langsung dengan orang yang diwawancarai (interviewee). 

- Observasi (observation) 

Observasi  adalah  pengamatan  langsung  suatu  kegiatan  yang  sedang dilakukan yang mana pada waktu observasi analis sistem  dapat ikut juga berpartisispasi dengan orang‐orang yang sedang  melakukan suatu kegiatan tersebut. 

- Daftar pertanyaan (questionaires) 

Adalah  suatu  daftar  yang  berisi  dengan  pertanyaan‐pertanyaan  untuk  tujuan  khusus  yang  memungkinkan  analis  sistem  untuk  mengumpulkan  data  dan  pendapat  dari  responden‐responden  yang dipilih. 

(34)

- Pengumpulan sampel (sampling) 

Pengambilan  sampel  adalah  pemilihan  sejumlah  item  tertentu  dari seluruh item yang ada dengan tujuan mempelajari sebagian  item  tersebut  untuk  mewakili  seluruh  itemnya  dengan  pertimbangan biaya dan waktu yang terbatas.     c. Teknik analisis biaya/manfaat (cost‐effectiveness analysis atau cost‐ benefit analysis)  Teknik ini menilai dari sisi kelayakan ekonomis suatu pengembangan  sistem informasi.    d. Teknik untuk menjalankan rapat 

Selama  proses  pengembangan  sistem  dilakukan,  seringkali  rapat‐ rapat  diadakan  baik  oleh  tim  pengembangan  sistem  sendiri  atau  rapat antara tim pengembangan sistem dengan pemakai sistem dan  manajer, sehingga kemampuan analis sistem untuk memimpin atau  berpartisipasi  di  dalam  suatu  rapat  merupakan  hal  yang  penting  terhadap kesuksesan proyek pengembangan sistem. 

 

e. Teknik inspeksi/walkthrough 

Inspeksi  merupakan  kepentingan  dari  pemakai  sistem  dan  walkthrough  merupakan  kepentingan  dari  analis  sistem.  Analis  sistem  melakukan  walkthrough  untuk  maksud  supaya  dokumentasi  yang  akan  diserahkan  kepada  pemakai  sistem  secara  teknik  tidak  mengalami  kesalahan  dan  dapat  dilakukan  dengan  diverifikasi  terlebih  dahulu  oleh  analis  sistem  yang  lain.  Pemakai  sistem  melakukan  inspeksi  untuk  maksud  menilai  dokumentasi  yang  diserahkan  oleh  analis  sistem  secara  teknik  tidak  mengandung  kesalahan.  

(35)

Penyebab kegagalan pengembangan sistem :  - Kurangnya penyesuaian pengembangan sistem  - Kelalaian menetapkan kebutuhan pemakai dan melibatkan pemakai  sistem  - Kurang sempurnanya evaluasi kualitas analisis biaya  - Adanya kerusakan dan kesalahan rancangan 

- Penggunaan  teknologi  komputer  dan  perangkat  lunak  yang  tidak 

direncanakan dan pemasangan teknologi tidak sesuai  - Pengembangan sistem yang tidak dapat dipelihara  - Implementasi yang direncanakan dilaksanakan kurang baik    2.5. Definisi Kecelakaan Transportasi  2.5.1. Moda Jalan    

Definisi  kecelakaan  berdasarkan  Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  No.  43  tahun  1993  tentang  Prasarana  dan  Lalu  Lintas  Jalan,  pasal 93 sebagai berikut: 

 

Kecelakaan  lalu  lintas  adalah  suatu  peristiwa  di  jalan  yang  tidak  disangka  sangka  dan  tidak  disengaja  melibatkan  kendaraan  dengan  atau  tanpa  pemakai  jalan  lainnya,  mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. 

 

Walaupun demikian, perlu dicatat bahwa secara berjenjang dari faktor‐ faktor  penyebab  kecelakaan,  dapat  saja  kejadian  kecelakaan  lalu  lintas  dapat diperkirakan sebagai hubungan kausal sebab dan akibat. Sebagai  contoh,  akibat  tidak  dilakukan  pemeriksaan  rem  secara  berkala  pada  suatu  perusahaan  bus  angkutan  umum,  maka  dapat  diperkirakan 

(36)

konsekuensinya akan terjadi kegagalan pengereman (rem blong) akibat  tidak berfungsi alat rem bus tersebut. 

 

Demikian  juga  dengan  kondisi  “tidak  sengaja”  secara  berjenjang  dapat  diartikan  dengan  “sengaja”.  Sebagai  contoh,  pengemudi  di  bawah  pengaruh  alkohol  dan  psikotropika  seharusnya  mereka  tidak  boleh  mengemudikan  kendaraan  bermotor.  Apabila  tetap  melakukan  maka  konsekuensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas sangat tinggi sehingga  tindakan mereka merupakan tindakan sengaja dan dapat menyebabkan  kecelakaan lalu lintas.      2.5.2. Moda Kereta Api   

Definisi  kecelakaan  moda  kereta  api  sumber  dari  Departemen  Perhubungan adalah sebagai berikut : 

1. Kereta anjlok/terguling, dimana roda kereta api keluar dari rel.  2. Tabrakan  KA  dengan  KA,  yaitu  tabrakan  antara  dua  kereta  yang 

disebabkan oleh kelengahan operator. 

3. Tabrakan  KA  dengan  kendaraan,  yaitu  tabrakan  antara  kereta  api  dengan kendaraan pengguna jalan raya. 

4. Lain‐lain,  yaitu  kecelakaan  karena  ulah  seseorang  yang  tidak  bertanggung  jawab  atau  sebab‐sebab  lain  yang  menyebabkan  kecelakaan. 

 

Peristiwa  kecelakaan  menurut  PT.  KA,  dicatat  pada  laporan  PLH  (Peristiwa Luar Biasa Hebat). Dalam pelaporan kecelakaan KA dibedakan  dalam: 

(37)

2. Tabrakan KA dengan kendaraan  3. Anjlok 

4. Banjir/longsor  5. Lain – lain   

Hazard  yang  dimaksud  dalam  suatu  pengoperasian  kereta  api  adalah 

standar – standar yang harus ditaati oleh setiap pemangku kepentingan  (stakeholders)  yang  terkait  dengan  keselamatan  perjalanan  kereta  api.  Semakin tingginya deviasi atau toleransi yang diberikan terhadap suatu  komponen  yang  terkait  dalam  perjalanan  kereta  api  maka  dapat  menimbulkan suatu penyebab dan berakibat terjadi kecelakaan.  

 

Variabel  –  variabel  yang  menjadi  hazards  didalam  suatu  perjalanan  kereta api adalah : 

• Kecelakaan antar kereta api  • Derailment (anjlok) 

• Tidak  adanya  perlindungan  terhadap  personil  yang  bertugas  pada  sistem manajemen operasional perkeretaapian 

• Tabrakan dengan obyek lain di perlintasan sebidang jalan 

• Insiden  serius  yang  terjadi  pada  ruang  milik  jalan  rel  yang  menyebabkan  terjadinya  korban  manusia,  baik  meninggal  dunia  ataupun luka‐luka. 

 

Secara  internasional hanya tabrakan antara kereta api dan  anjolg yang  disebabkan karena kerusakan under carriage atau infrastruktur jalan rel  yang disebut kecelakaan kereta api murni. Sedangkan kecelakaan anjlog  akibat  bencana  alam  menabrak  orang  di  ruang  jalan  rel  (trepassing)  bukan  dikategorikan  kecelakaan  kereta  api.  Sedangkan  kecelakaan  di 

(38)

persilangan  sebidang  yang  tidak  membawa  korban  di  sisi  kereta  api  merupakan kecelakaan jalan.    2.5.3. Moda Udara    Kecelakaan transportasi udara didefinisikan sesuai dengan International  Civil Aviation Organization (ICAO) Annex 13 sebagai berikut :   1. Kejadian yang berhubungan dengan pengoperasian sebuah pesawat  terbang  yang  mengambil  tempat  antara  waktu  sesorang  memasuki  (boarding) pesawat terbang dengan tujuan melakukan penerbangan  (flight)  dan  hingga  semua  orang  telah  keluar  dari  pesawat  terbang  diakhir  penerbangan  (disembarked)  ,  dimana  terdapat  orang  yang  meninggal dunia atau luka‐luka serius, pesawat terbang mengalami  kerusakan  atau  terjadi  kegagalan  struktural  dan/atau  hilang  atau  benar‐benar tidak mungkin dapat dicari.  

2. Sedangkan  insiden  adalah  sebuah  kejadian  di  luar  dari  kecelakaan  yang  berhubungan  dengan  pengoperasian  pesawat  terbang  yang  berdampak  atau  kemungkinan  mempengaruhi  keselamatan  pengoperasian  pesawat  terbang,  sebagai  contoh  return  to  base  (RTB). 

 

Sekitar  80%  dari  seluruh  kecelakaan  penerbangan  terjadi  pada  waktu  sekitar  sebelum  atau  sesudah  tinggal  landas  (take  off)  atau  mendarat  (landing). Kecelakaan di tengah penerbangan (mid‐flight) sangat jarang  terjadi,  walaupun  tetap  dimungkinkan  seperti  disebabkan  bom  atau  kegagalan/kelelahan  struktural  pesawat  terbang.  Berdasarkan  data  tahun  1950  hingga  2006  yang  diteliti  oleh  ICAO,  2008  (2007  excellent 

year  of  aviation,  Geneva)  penyebab  kecelakaan  pesawat  terbang 

(39)

• Kesalahan pilot sebesar 53%  • Kesalahan Mekanikal sebesar 21%  • Cuaca sebesar 11%  • Kesalahan manusia diluar pilot sebesar 8%  • Sabotage sebesar 6%  • Dan lain lain sebesar 1 %   

Data  kecelakaan  penerbangan  tercatat  dengan  baik  dan  harus  terlaporkan  secara  internasional  dan  dihimpun  oleh  suatu  organisasi  yang berkedudukan di Geneva, Swis (Aicraft Crashes Recorded Office).     2.5.4. Moda Angkutan di Perairan     Suatu peristiwa yang terjadi di atas kapal atau melibatkan sebuah kapal  dimana hal‐hal tersebut di bawah ini terjadi :  a. Adanya korban jiwa atau cidera berat kepada manusia di atas kapal,  atau  adanya  orang  yang  hilang  atau  terjatuh  dari  kapal  atau  dari  salah satu sekoci (perahu penyelamat) kapal.  b. Menyebabkan korban jiwa, cidera berat, atau kerusakan material.  c. Hilangnya kapal atau diasumsikan hilang.  d. Kapal ditinggalkan.  e. Kerusakan akibat api, ledakan, cuaca, atau penyebab lain.  f. Kapal kandas.  g. Tubrukan. 

h. Tidak  dapat  dipergunakan/dijalankan  lebih  dari  12  jam,  atau  memerlukan bantuan khusus untuk mencapai pelabuhan . 

i. Menyebabkan bahaya yang signifikan terhadap lingkungan. 

(40)

k. Runtuh atau gagalnya alat angkat, alat akses, tutup palka, anjungan  atau  bangku  boatswain  atau  peralatan  yang  berhubungan  dengan  beban. 

l. Runtuhnya  cargo,  pergerakan  cargo  yang  tidak  dimaksudkan,  atau  ballast  sehingga  mengakibatkan  miringnya  kapal  mencapai  sudut  yang membahayakan. 

m. Terjatuhnya muatan keluar kapal. 

n. Tersangkutnya alat tangkap ikan sehingga menyebabkan kemiringan  kapal mencapai sudut yang membahayakan. 

o. Kejadian  yang  dapat  mengakibatkan  cidera  pada  manusia,  atau  membahayakan kesehatan dengan serius.    Yang dimaksud dengan cidera berat adalah:  a. Luka diluar yang terjadi pada jari jemari tangan maupun kaki.  b. Hilangnya anggota tubuh (kaki atau tangan).  c. Dislokasi bahu, pinggul, lutut atau siku.  d. Kehilangan penglihatan sementara atau permanen.  e. Tidak sadarkan diri atau memerlukan bantuan pernafasan   f. Memerlukan perawatan rumah sakit lebih dari 24 jam.   

Yang  dimaksud  dengan  gangguan  kesehatan  atau  cidera  serius  adalah  kejadian  diluar  cidera  berat  yang  menyebabkan  seseorang  yang  dipekerjakan  atau  berada  di  kapal  tidak  dapat  melaksanakan  aktivitas  lebih dari 3 hari berturut‐turut di luar hari terjadinya kecelakaan, kecuali  jika yang bersangkutan dianjurkan untuk beristirahat selama 3 hari atau  lebih.

 

 

 

(41)

Kondisi  di  atas  baik  berlaku  untuk  angkutan  di  laut  yang  dibina  oleh  Direktorat  Jendral  Perhubungan  Laut  maupun  angkutan  di  perairan  dalam  (inland  water),  yaitu  angkutan  penyeberangan,  di  sungai  dan  di  danau yang dibina oleh Direktorat Jendral Perhubungan Darat. 

(42)

BAB III

 

KONDISI EKSISTING PENCATATAN DATA KECELAKAAN TRANSPORTASI DI 

INDONESIA 

 

3.1. Transportasi Jalan  a. Pengumpulan dan Pencatatan Data Kecelakaan Transportasi  Pengumpulan dan pencatatan data kecelakaan transportasi saat ini dilakukan  oleh Kepolisian cq. Direktorat Lalulintas (Ditlantas Polri).  1. Sumber Data/Informasi 

Informasi  mengenai  kecelakaan  lalu  lintas  bersumber  dari  petugas  Kepolisian yang bertugas di lapangan. Data/informasi yang terdapat pada  Laporan Polisi meliputi :  • Hari, Tanggal dan Nama Penyidik yang membuat laporan Polisi  • Hari dan tanggal terjadinya kecelakaan  • Nama dan tempat kecelakaan  • Pokok‐pokok kecelakaan antara apa dengan apa  • Identitas pengemudi yang terlibat kecelakaan 

• Keadaan  jasmani  atau  rohani  pengemudi/pengendara  sebelum  terjadinya kecelakaan  • Keadaan jalan, cuaca di TKP (Tempat Kejadian Perkara)  • Ambar posisi kendaraan yang terlibat kecelakaan  • Identitas kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas  • Identitas saksi‐saksi  • Akibat tabrakan:  a. Korban manusia  b. Severitas korban (mati, luka atau tidak ada korban)  • Kerusakan benda/materi  • Kerugian yang diperkirakan dalam wujud uang 

(43)

• Keterangan asal mula terjadinya kecelakaan lalu lintas  • Kesimpulan sementara  • Barang bukti yang disita/ditahan  • Orang yang ditahan/ditangkap  • Sketsa Gambar    2. Bentuk dan Formulir Pencatatan Data Kecelakaan 

Bentuk  dan  formulir  pencatatan  data  kecelakaan  disebut  Laporan  Polisi  (LP)  yang  dicatat  oleh  petugas  Kepolisian  di  tingkat  Kepolisian  Resor  (Polres). Pihak Kepolisian juga memiliki laporan  yang lebih rinci. Laporan  ini  diadopsi  dari  formulir  MAAP  (Microcomputer  Accident  Analysis 

Package)  yang  diberi  nama  sebagai  3L  (Laporan  Kecelakaan  Lalu  Lintas 

atau  Sistem  Laporan  Laka  Lantas).  Di  dalam  perkembangnya  laporan  ini  menjadi  Sistem  Laporan  Lengkap  Kecelakaan  Lalu  Lintas  (SLKLL)  Polisi.  Tetapi  pelaksanaannya  belum  semua  Kepolisian  Daerah  (Polda)  di  provinsi‐provinsi Indonesia siap menggunakannya.  

 

3. Link dengan instansi lain 

Sistem pencatatan data yang ada saat belum memiliki link dengan instansi  lain  yang  terkait.  Tetapi  secara  internal  sudah  terdapat  sistem  untuk  pelaporan  dari  tingkat  Kepolisian  Resort  atau  Polres  (kabupaten  atau  kota) ke Kepolisian Daerah atau Polda (Provinsi) hingga ke Ditlantas Polri  di Jakarta. Selain itu data kecelakaan lalu lintas terhimpun pula bersama  dengan data‐data lainnya berkaitan dengan kegiatan kepolisian ke dalam  PIKNAS (Pusa informasi kriminal nasional) di Markas Besar Polri.    b. Penyimpanan dan Pengelolaan Data Kecelakaan Transportasi Jalan  1. Sistem dan Bentuk Penyimpanan Data Kecelakaan  Data kecelakaan disimpan dalam bentuk soft copy.  

(44)

2. Sistem Up‐dating Data 

Setiap terjadi perkembangan dibuatkan laporan lagi. Data kecelakaan di‐

update  sampai  30  hari  terkait  dengan  status  korban  kecelakaaan  sesuai 

dengan peraturan maupun standar yang ada. Walaupun demikian hingga  saat ini belum mampu dilakukan dengan baik. 

3. Sistem dan Bentuk Pengelolaan Data Kecelakaan 

    Data kecelakaan disimpan dalam bentuk soft copy. 

4. Sumber Daya Manusia (SDM) 

SDM  yang  mencatat,  memasukkan,  dan  mengelola  data  kecelakaan  adalah petugas kepolisian di unit kecelakaan, yang ada di setiap Polda dan  Polres.   

5. Link dengan Instansi Lain 

Data kecelakaan transportasi jalan tidak memiliki link dengan instansi lain.  Berbagai  instansi  yang  juga  mengharuskan  memiliki  informasi  dikarenan  dengan fungsi dan perannya adalah sebagai berikut: 

a.   Data  dari  perusahaan  insuransi.  Di  Indonesia  sumber  utama  didapat  dari  PT.  Jasa  Raharja  sebagai  pelaksana  dari  Undang  Undang  No  33  Tahun  1964  JO  PP  No.  17  tahun  1965  tentang  Dana  Pertanggungan  Wajib Kecelakaan Penumpang, dan Undang Undang No 34 tahun 1964  JO Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 1965 tentang Dana Kecelakaan  Lalu  Lintas  Jalan.  PT.  Jasa  Raharja  di  dalam  penyantunan  bersumberkan  informasi  dari  Laporan  Polisi  atau  LP  sehinga  seyogyanya akan memiliki jumlah informasi yang sama.  

 

Perbedaan  yang  timbul  saat  ini  disebabkan  karena:  Dari  sisi  PT.  Jasa  Raharja  adalha  perbedaan  definisi:  kecelakaan  tunggal  dan  korban  kecelakaan  yang  tidak  sesuai  dengan  peruntukan  kendaraan  seperti  penumpang  di  bak  terbuka  truk  tidak  mendapatkan  santunan,  santunan  diberikan  untuk  korban  luka  hingga  365  hari  sejauh 

(45)

mendapatkan  keterangan  dokter  dan  belum  melampaui  batas  maksimum  premi  pembayaran  serta  korban  dapat  dimungkinkan  mendapatkan  dua  kali  santunan  apabila  korban  luka  berat  kemudian  meninggal dunia.  

 

Disisi  kepolisian,  laporan  yang  tercatat  hanya  laporan  yang  dapat  diselesaikan  perkaranya  (SELRA)  baik  secara  pidana  (mengacu  ke  KUHAP)  maupun  pelanggaran  (UU  No.  14  tahun  1992).  Perkara  yang  dilakukan  secara  damai  tidak  tercatat  dan  batas  maksimum  pengawasan koban luka berat hingga 365 hari.  

 

Selain itu perusahaan ansuransi lainnya untuk mendapatkan informasi  kecelakaan  hanya  untuk  kendaraan  yang  memiliki  pelindungan  asuransi. 

 

Aksesibilitas Publik 

Saat ini membutuhkan ijin tertulis secara khusus untuk mendapatkannya  karena  di  dalam  LP  terkandung  informasi‐informasi  dan  identifikasi  yang  bukan untuk diketahui publik (restricted). 

 

c. Pelaporan Data Kecelakaan Transportasi Jalan  1. Sistem dan Bentuk Pelaporan Data Kecelakaan 

Sistem  pelaporan  data  kecelakaan  transportasi  jalan  adalah  dari  Polres  dikirim ke Polda, kemudian dikirim ke Pusat (Direktorat Lalu Lintas POLRI).  Aliran  data  dapat  dilihat  pada  Gambar  3.1.  Di  tingkat  pusat  data  berada  dalam  naungan  Sub  Bagian  Informasi  Lalu  Lintas,  Direktorat  Lalu  Lintas  Polri.  Di  tingkat  Polda  berada  di  Direktorat  Lalu  Lintas  Polda  atau  di  Puskodal  Polda.  Di  tingkat  Polres,  data  berada  di  Satuan  Lalu  Lintas  (Satlantas) Polres. 

Gambar

Gambar  3.2.  memperlihatkan  perbedaan  proses  tersebut,  yang  tentunya  membutuhkan  informasi  yang  berbeda.  Data  yang  akan  dikembangkan  oleh  Departemen  Perhubungan  adalah  sesuatu  yang  berkaitan  dengan  penyelidikan. Gambar 3.3. Contoh Fo
Tabel 3.1.  Contoh Tampilan Data Kecelakaan Transportasi Udara di Website 
Gambar 3.4. Contoh Data Kejadian Kecelakaan Kapal Tahun 2007 Kantor Adpel Palembang 
Gambar 4.2.  Laporan Seluruh Korban Meninggal Dunia akibat Kecelakaan yang  terjadi di Inggris    Tabel 4.1. Korban Meninggal Dunia akibat Kecelakaan yang Terjadi di Inggris         
+7

Referensi

Dokumen terkait

Maksud dari pasal tersebut adalah bahwa suatu negara kepulauan dapat menentukan alur laut dan rute penerbangan di atasnya, yang cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat

Pertumbuhan volume lalulintas pada ruas jalan tol cukup tinggi, yang apabila tidak dikendalikan, akan berakibat pada pengelolaan dan pengoperasian jalan tol, termasuk komponen

Pengumpulan data diperoleh untuk memperoleh data tahun awal berdiri rumah makan sesudah pengoperasian Jalan Tol Cipularang serta asal, tujuan dan maksud

Dalam upaya meningkatkan keselamatan jalan dengan mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas khususnya di jalan tol atau jalan bebas hambatan, penelitian dilakukan pada

Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data tentang gaya hidup mahasiswa terkait pola hidup, aktivitas serta minat mahasiswa di koridor jalan Babarsari dengan instrument

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada

Hasil penelitian berdasarkan analisis data diharapkan diperoleh pengaruh kinerja kontraktor terhadap capaian mutu kebijakan long segment preservasi jalan beserta

82 Tahun 1999 Angkutan di Perairan Pengaturan dan pengawasan tentang lalulintas kapal laut yang digunakan dalam rencana